Anda di halaman 1dari 27

SKENARIO 3

BLOK MUSKULOSKELETAL
NYERI PANGGUL KARENA JATUH


Disusun oleh:
KELOMPOK A-2

KETUA : INTAN NURUL HIKMAH (1102011128)
SEKRETARIS : ADINDA AMALIA SHOLEHA (1102013007)
ANGGOTA : ABIYYA FARAH PUTRI (1102013003)
ADELIA PUTRI SABRINA (1102013005)
ADELINA ANNISA PERMATA (1102013006)
ADITYA NUGRAHA ARTAR (1102013008)
LALU REZA ALDIRA AKBAR (1102010147)
ADIYATY YUNITA P.P. (1102011008)
ANDRIANA WIJAYA (1102011027)
ADITYA WICAKSONO (1102012007)

UNIVERSITAS YARSI
Jl. Let. Jend. Suprapto. Cempaka Putih, Jakarta Pusat. DKI Jakarta. Indonesia. 10510. Telepon:
+62 21 4206675.
2
SKENARIO 3
NYERI PANGGUL KARENA JATUH
Seorang perempuan berusia 60 tahun datang ke UGD Rumah Sakit dengan keluhan nyeri
pinggul kanannya setelah terbentur lantai kamar mandi karena jatuh. Sejak terjatuh yang
dirasakan tidak mampu berdiri karena rasa nyeri yang sangat pada pinggul kanannya. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sakit berat, merintih kesakitan, compos mentis.
Tekanan darah 140/90 mmHg, denyut nadi 104x/menit, frekwensi napas 24x/menit. Terdapat
hematom pada art. coxae dextra, posisi tungkai atas kanan sedikit flexi, abduksi, dan exorotasi.
Ditemukan krepitasi tulang dan nyeri tekan juga pemendekan extremitas. Gerakan terbatas
karena nyeri. Neurovaskular distal baik. Pada pemeriksaan radiologis didapatkan fraktur femoris
tertutup. Dokter menyarankan untuk dilakukan operasi.


















3
A. Kata-kata sulit
1. Komposmentis : Keadaan sadar
2. Hematom : Penggumpalan darah yang terlokasi
3. Krepitasi : Suara yang dihasilkan oleh gesekan segmen tulang
4. Neurovaskulardistal: Persyarafan dan perdarahan tepi
5. Fraktur tertutup : Fraktur yang tidak kontak dengan luar




















4
B. Pertanyaan
1. Bagaimana hubungan usia dengan fraktur?
2. Mengapa terjadi pemendekan ekstremitas?
3. Bagaimana perbandingan pria dan wanita saat terjadi fraktur?
4. Mengapa bisa terjadi hematom?
5. Mengapa tekanan darah pasien pada saat jatuh bisa tinggi?
6. Mengapa hematom terjadi pada sendi coxae padahal fraktur terjadi di collum femur?
7. Fraktur femur bisa terjadi dimana saja?
8. Apa pertolongan pertama saat terjadinya fraktur dan apa terapi non kooperatif?
9. Kenapa fraktur terjadinya di collum bukan di bagian lain?
10. Apa saja pemeriksaan penunjang yang lain?

C. Jawaban
1. Osteoprogenitor bertambah aktif, sedangkan osteoblas menghasilkan sedikit osteosit
2. Karena ada pergeseran tulang akibat fraktur sehingga otot menarik tulang sesuai lokasi
terjadinya fraktur
3. Wanita yang menopause lebih beresiko karena estrogennya menurun sehingga pertumbuhan
tulang menurun
4. Karena terjadi penggumpalan darah yang disebabkan oleh trauma
5. Karena menahan nyeri
6. Karena trauma terjadi pada bagian sendi coxae
7. Collum, caput, articulatio, corpus, condilus
8. Di kompres air dingin, bidai, balut, anti nyeri (analgetik), di rujuk ke dokter spesialis ortopedi
9. Karena posisi terjatuhnya bertumpu pada pinggul
10. Rontgen, MRI

5
D. Hipotesa
Usia merupakan faktor utama terjadinya fraktur femur, jenis kelamin, hormonal, tumor,
densitas tulang juga memperngaruhi. Posisi jatuh bertumpu pada bagian pinggul sehingga terjadi
fraktur collum femur ditandai pemendeka tungkai kaki atas. Fraktur dapat menyebabkan adanya
hematom pada articulatio disertai nyeri dan sedikit meningkatnya tekanan darah. Pemeriksaan
radiologi menunjukan adanya discontinu pada femur. Pada pertolongan pertama dapat dilakukan
kompres air dingin/es, balut bidai, pemberian analgetik, setelah itu dirujuk ke dokter spesialis
ortopediuntuk dilakukan pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut.




















6
E. Sasaran Belajar
LI1. Memahami dan Menjelaskan Articulatio Coxae
LO1.1. Makroskopis
LO1.2. Mikroskopis
LI2. Memahami dan Menjelaskan Fraktur
LO2.1. Definisi Fraktur
LO2.2. Etiologi Fraktur
LO2.3. Klasifikasi Fraktur
LI3. Memahami dan Menjelaskan Fraktur Femur
LO3.1. Definisi Fraktur Femur
LO3.2. Etiologi Fraktur Femur
LO3.3. Klasifikasi Fraktur Femur
LO3.4. Manifestasi Klinis Fraktur Femur
LO3.5. Pemeriksaan Penunjang Fraktur Femur
LO3.6. Penatalaksanaan Fraktur Femur
LO3.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding Fraktur Femur
LO3.8. Komplikasi Fraktur Femur









7
LI 1. Memahami dan Menjelaskan Articulatio Coxae

LO1.1. Makroskopis

Articulatio coxae berada diantara caput femoris dan acetabulum.Jenis sendinya berupa
Enarthrosis Spheroidea. Penguat dari sendi tersebut adalah tulang rawan pada facies lunata.
Articulatio ini dibungkus oleh capsula articularis yang terdiri dari jaringan ikat fibrosa. Ia
berjalan dari pinggir acetabulum menyebar ke latero-inferior mengelilingi collum femoris dan
akhirnya melekat pada linea intertrochanterica bagian depan dan pertengahan bagian posterior
collum femoris (11 jari diatas crista intertrhrocanterica). Bagian lateral dan distal colum femoris
adalah di luar capsula articularis.
Ligamen- ligamen pada sendi ini ialah:
1) Ligamentum iliofemorale yang berfungsi mempertahankan art. Coxae tetap
ekstensi, menghambat rotasi femur, mencegah batang badan berputar ke
belakang pada waktu berdiri sehingga mengurangi kebutuhan kontraksi otot
untuk mempertahankan posisi tegak.
2) Ligamentum ischiofemorale yang berfungsi mencegah rotasi interna.
3) Ligamentum pubofemorale berfungsi mencegah abduksi, ekstensi, dan rotasi
externa. Selain itu diperkuat juga oleh Ligamentum transversum acetabuli dan
Ligamentum capitisfemoris. Bagian bolong disebut zona orbicularis.

Gerakan pada pinggul sangatlah luas, terdiri dari fleksi, ekstensi, adduksi, abduksi,
sirkumdiksi, dan rotasi. Panjang leher femur dan tubuh tulang tersebut memiliki efek besar
dalam mengubah sudut gerakan fleksi, ekstensi, adduksi, dan abduksi sebagian ke dalam gerakan
berputar di sendi. Jadi ketika paha melakukan fleksi maupun ekstensi, kepala femur, berputar di
dalam acetabulum hanya dengan sedikit meluncur ke sana kemari. Kemiringan dari leher femur
juga mempengaruhi gerakan adduksi dan abduksi. Sedangkan rotasi pada paha terjadi karena
adanya gerakan meluncur / gliding dari kepala femur terhadap acetabulum.

Articulatio coxae termasuk articulatio inferioris liberi.
Tulang : antara caput humeri dan acetabulum
Jenis sendi : Spheroidea
Penguat sendi :
Terdapat tulang rawan pada facies lunata
Terdapat kelenjar havers pada acetabuli
Ligamentum iliofemorale : untuk mempertahankan art.coxae
tetap ekstensi, menghambat rotasi femur dan mencegah
batang badan berputar kebelakang pada saat berdiri,
mengurangi kebutuhan kontraksi otot saat posisi tegak
Ligamentum ishciofemoralis : mencegah rotasi interna
8
Ligamentum pubofemorale : mencegah abduksi, ekstensi dan
rotasi externa.
Ligamnetum transversum acetabuli dan ligamnetum
capitisfemoris
Capsula articularis dari lingkar acetabulum ke linea
intertrochanterica dan crista intertrochanterica.



http://www.tk.de/rochelexikon/pics/s02240.006-3.jpg
Pada femur atau tulang paha terdiri dari bagian kepala dan leher pada bagian proksimal
dan dua condylus pada bagian distal. Kepala tulang paha akan membentuk sendi pada pinggul.
Bagian proksimal lainnya yaitu trochanter major dan trochanter minor menjadi tempat perlekatan
otot.Pada bagian proksimal posterior terdapat tuberositas glutea yakni permukaan kasar tempat
melekatnya otot gluteus maximus.Di dekatnya terdapat bagian linea aspera, tempat melekatnya
otot biceps femoris.

9
Salah satu fungsi penting kepala tulang paha adalah tempat produksi sel darah merah
pada sumsum tulangnya. Pada ujung distal tulang paha terdapat condylus yang akan membuat
sendi condylar bersama lutut.Terdapat dua condylus yakni condylus medialis dan condylus
lateralis. Di antara kedua condylus terdapat jeda yang disebut fossa intercondylaris.



LO1.2. Mikroskopis
Tulang adalah jaringan yang tersusun oleh sel dan didominasi oleh matrix kolagen
ekstraselular (type I collagen) yang disebut sebagai osteoid. Osteoid ini termineralisasi
oleh deposit kalsium hydroxyapatite, sehingga tulang menjadi kaku dan kuat.

Tulang panjang memiliki 2 struktur, yaitu tulang kompakta dan tulang spongiosa.
Tulang kompakta merupakan tulang padat, yang terdiri atas serat kolagen yang
tersimpan dalam lapisan lapisan tipis yang disebut lamel. Sedangkan untuk tulang
spongiosa terdiri atas daerah yang saling berhubungan seperti anyaman dan tidak padat.
Celah-celah diantaranya diisi oleh sumsum tulang. Ruang diantara trabekula berisi
sumsum tulang merah. Pada trabekula yang tebal dapat terlihat osteon.
10

http://media.opencurriculum.org/articles_manual/ck12_biology/the-skeletal-system/5.png
Gambar. Pembagian daerah tulang
Tulang terdiri atas dua bagian yakni, diaphysis dan epiphysis. Diaphyisis lebih
banyak disusun oleh tulang kompakta, sedangkan bagian epiphysis lebih banyak disusun
oleh tulang spongiosa karena dapat melakukan pemanjangan (pertumbuhan).

Gambar. Struktur Tulang
11
Gambar. Tulang Kompakta
Tulang kompakta memiliki lamellae yang tersusun dalam tiga gambaran umum yakni :
1. Lamelae sirkumfleksia sejajar terjadap permukan bebas periosteum dan endosteum.
2. System Havers (osteon) sejajar terhadap sumbuh sejajar tulang kompakta. Lapisan
lamellar 4-20 tersusun secara konsentris disekitar ruang vascular.
3. System intersisial adalah susunan tidak teratur dari lamel lamel, secara garis besar
membentuk segitiga dan segiempat.
Pada tulang kompakta juga terdapat kanal Havers, kanal Volkman, lacuna dan kanalikuli.

Gambar. Tulang Spongiosa
Sel-sel pada tulang spongiosa adalah :
a. Osteoblast
Osteoblast berperan dalam kalsifikasi, mensintesis dan menjadi perantara
mineralisasi osteoid. Osteoblast dapat mensekresi matriks organk tulang dengan bantuan
vit.C. Osteoblast ditemukan dalam satu lapisan pada permukaan jaringan tulang sebagai
sel berbentuk kuboid atau silindris pendek yang saling berhubungan melalui tonjolan-
tonjolan pendek. Gambaran mikroskopisnya adalah sitoplasma biru, banyak apparatus
golgi, alkali phosphate ,dll.
Osteoclast
12

http://o.quizlet.com/i/Hi0RxO1ygDFZRIxUNtyAFg_m.jpg
b. Osteosit
Osteosit merupakan komponen sel utama dalam jaringan tulang. Mempunyai
peranan penting dalam pembentukan matriks tulang dengan cara membantu pemberian
nutrisi pada tulang yang disalurkan melalui kanalikuli. Osteosit berada di dalam lacuna
dan dapat berhubungan dengan osteosit lain dengan gap junction.


http://www.ouhsc.edu/histology/Glass%20slides/69_04.jpg

c. Osteoclast
Osteoclast adalah sel fagosit yang mempunyai kemampuan mengikis tulang dan
merupakan bagian yang penting. Osteoclast mampu memperbaiki tulang bersama
osteoblast. Osteoclast ini berasal dari deretan sel monosit makrofag. Aktifitas osteoclast
akan meningkat dengan adanya hormone parathyroid dan dapat dihambar oleh
calcitonin.


http://www.ouhsc.edu/histology/Glass%20slides/69_05.jpg

d. Sel osteoprogenitor
13
Osteoprogenitor merupakan sel induk tulang. Osteoprogenitor berperan sebagai bone
repair dan pembentukan callus. Osteoprogenitor mempunyai sifat multipoten yaitu bisa
berdiferensiasi menjadi osteoblast, fibroblast, chondroblast, dan sel lemak.

Tulang membentuk formasi endoskeleton yang kaku dan kuat dimana otot-otot skeletal
menempel sehingga memungkinkan terjadinya pergerakan. Tulang juga berperan dalam
penyimpanan dan homeostasis kalsium. Kebanyakan tulang memiliki lapisan luar tulang
kompak yang kaku dan padat. Tulang dan kartilago merupakan jaringan penyokong
sebagai bagian dari jaringan pengikat tetapi keduanya memiliki perbedaan pokok antara
lain :
a. Tulang memiliki system kanalikuler yang menembus seluruh substansi tulang.
b. Tulang memiliki jaringan pembuluh darah untuk nutrisi sel-sel tulang.
c. Tulang hanya dapat tumbuh secara aposisi .
d. Substansi interseluler tulang selalu mengalami pengapuran.

Articulatio coxae merupakan sendi diartrosis. Pada jenis sendi ini permukaan
sendi dari tulang ditutupi tulang rawan hialin yang dibungkus dalam simpai sendi. Simpai
sendi ini terdiri atas lapis fibrosa luar dari jaringan ikat padat yang menyatu dengan
periosteum tulang. Lapis dalamnya adalah lapisan sinovial. Jaringan ikat pada sinovial
langsung berhubungan dengan cairan sinovial dalam rongga sendi.
Pada permukaan atau di dekatnya ditemukan sel mirip fibroblas yang
menghasilkan kolagen, proteoglikan,dan komponen lain dari interstitium; sel makrofag
yang membersihkan debris akibat aus dari sendi. Bisa terdapat limfosit pada lapisan yang
lebih dalam.
Pendarahan sampai ujung os femur pada Art.Coxae dibentuk oleh tiga kelompok besar:
Cincin arteri Ekstracapsuler yang berada pada dasar collum femoris. Terdiri dari arteri
circumleksa femoral medialis dan arteri circumfleksa femoral lateralis yang menjalar
secara anterio maupun posterior.
Percabangan dari cincin arteri ascenden menjalar ke atas yang berada pada permukaan
collum femoris sepanjang linea intertrochanterica.
Arteri pada Ligamentum teres dan pembuluh darah metafisial inferior bergabung
membentuk pembuluh darah epifisial. Sehingga terbentuknya pembuluh cincin kedua
sebagai pemasok darah pada caput femori
Pada fraktur collum femoris sering terjadi terganggunya aliran darah ke caput femori. Pembuluh
darah Retinacular superior dan pembuluh epifisial merupakan sumber terpenting untuk suplai
darah. Pada fraktur terbuka dapat menyebabkan kerusakan jaringan sekitarnya termasuk
pembuluh darah dan sinovial.
14






LI2. Memahami dan Menjelaskan Fraktur
LO2.1. Definisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa (trauma)
LO2.2. Etiologi Fraktur
Etiologi dari fraktur menurut Price dan Wilson (2006) ada 3 yaitu:

1. Cidera atau benturan
2. Fraktur patologik
Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi lemah oleh
karena tumor, kanker dan osteoporosis.
3. Fraktur beban
15
Fraktur beban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah
tingkat aktivitas mereka, seperti baru di terima dalam angkatan bersenjata atau orang-
orang yang baru mulai latihan lari

LO 2.3. Klasifikasi Fraktur
Fraktur dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Berdasarkan hubungan dengan udara bebas
1. Fraktur tertutup: tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar atau bagian
eksternal tubuh.
2. Fraktur terbuka: terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya
perlukaan di kulit. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat, yaitu :

Derajat Luka Fraktur
I < 2 cm, Keruskan jaringan lunak sedikit,
tidak ada tanda luka remuk. Kontaminasi
minimal
Sederhana, dislokasi ringan
minimal
II > 2 cm , kontusi oto di sekitarnya Dislokasi fragmen jelas
III Luka lebar, hilangnya jaringan
disekitarnya
Kominutif, segmental,
fragmen tulang ada yang
hilang


b. Komplit dan tidak komplit
1. Fraktur complete : Bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang.
2. Fraktur incomplete : Bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang
3. Hairline fracture : Patah retak rambut
4. Buckle fracture/ Torus fracture : Bila terjadi lipatan dari korteks dengan kompresi tulang
spongiosa di bawahnya. Biasanya pada distal radius
anak-anak.

5. Greenstick fracture : Fraktur tidak sempurna, korteks tulangnya sebagian
masih utuh, demikian juga periosteumnya. Sering terjadi
pada anak-anak. Fraktur ini akan segera sembuh dan
segera mengalami remodelling ke bentuk fungsi normal.

16


c. Sudut patah
1. Fraktur transversal : Garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang
tulang. Pada fraktur semacam ini, segmen-segmen tulang
yang patah direposisi/ direduksi kembali ke tempatnya
semula.
2. Farktur oblik : Garis patahnya membentuk sudut. Fraktur ini tidak stabil
dan sulit diperbaiki.
3. Fraktur spira : Akibat trauma rotasi. Garis patah tulang membentuk
spiral. Fraktur cenderung cepat sembuh.
d. Jumlah garis patah
1. Fraktur kominutif : Garis patah lebih dari 1 dan saling berhubungan.
2. Fraktur segmental : Garis patah lebih dari 1 tetapi tidak saling berhubungan.
3. Fraktur multiple : Garis patah lebih dari 1 tetapi pada tulang yang berlainan.
e. Trauma
1. Fraktur kompresi : 2 tulang menumbuk tulang ke-3 yang berada diantaranya.
2. Fraktur avulse : Trauma tarikan, suatu fragmen tulang pada tempat insersi
tendon ataupun ligamen.
3. Fraktur spiral

f. Bergeser dan tidak bergeser
1. Fraktur undisplaced : Garis patah komplit tetapi ke-2 fragmen tidak bergeser,
periosteumnya masih utuh.
2. Fraktur displaced : Terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga
disebut lokasi fragmen.

Terbagi atas:
- Dislokasi ad longitudinal cum contractionum: pergeseran searah sumbu dan overlapping.
- Dislokasi ad axim: pergeseran yang membentuk sudut.
- Dislokasi ad latus: pergeseran di mana kedua fragmen saling menjauh.


17
LI 3 Memahami dan Menjelaskan Fraktur Femur

LO3.1. Definisi Fraktur Femur
Fraktur kolum femur adalah fraktur intrakapsuler yg terjadi di femur proximal pd daerah
yg berawal dari distal permukaan artikuler caput femur hingga berakhir di proximal daerah
intertrochanter

LO3.2. Etiologi Fraktur Femur

a. Trauma langsung : Benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat tersebut,
misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah
trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras.
b. Trauma tidak langsung : Tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area
benturan, misalnya disebabkan oleh gerakan eksorotasi yang
mendadak dari tungkai bawah. Karena kepala femur terikat kuat
dengan ligamen didalam asetabulum oleh ligamen iliofemoral dan
kapsul sendi,mengakibatkan fraktur di daerah kolum femur.
c. Fraktur patologis : fraktur yang disebabkan trauma yamg minimal atau tanpa trauma.
Contoh fraktur patologis: Osteoporosis, infeksi tulang dan tumor
tulang. Fraktur kolum femur sering tejadi pada wanita yang
disebabkan oleh kerapuhan tulangakibat kombinasi proses penuaan
dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur dapat berupa fraktur
subkapital, transervikal dan basal, yang kesemuannya terletak
didalam simpai sendi panggul atau intrakapsular, fraktur
intertrochanter dan sub trochanter terletak ekstra kapsuler.
d. Adanya tekanan varus atau valgus

LO3.3. Klasifikasi Fraktur Femoris
Klasifikasi fraktur kolum femur berdasarkan:
Lokasi anatomi,dibagi menjadi:
Fraktur intrakapsular, fraktur ini terjadi di kapsul sendi pinggul
a. Fraktur kapital : fraktur pada kaput femur
b. Fraktur subkapital : fraktur yang terletak di bawah kaput femur
c. Fraktur transervikal : fraktur pada kolum femur
Fraktur ekstrakapsular, fraktur yang terjadi di luar kapsul sendi pinggul
a. Fraktur sepanjang trokanter mayor dan minor
b. Fraktur intertrokanter
c. Fraktur subtrokanter
18
Fraktur kolum femur termasuk fraktur intrakapsular yang terjadi pada bagian proksimal femur,
yang termasuk kolum femur adalah mulai dari bagian distal permukaan kaput femoris sampai dengan
bagian proksimal dari intertrokanter.

Pada pemeriksaan fisik, fraktur kolum femur dengan pergeseran akan menyebabkan deformitas
yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal sedangkan pada fraktur tanpa pergeseran deformitas tidak
jelas terlihat. Tanpa memperhatikan jumlah pergeseran fraktur yang terjadi, kebanyakan pasien akan
mengeluhkan nyeri bila mendapat pembebanan, nyeri tekan di inguinal dan nyeri bila pinggul digerakkan.
Standar pemeriksaan radiologi untuk fraktur kolum femur adalah rontgen pinggul dan pelvis
anteroposterior dan cross-table lateral. Klasifikasi fraktur kolum femur menurut Gardens adalah sebagai
berikut :
a. Grade I : Fraktur inkomplit ( abduksi dan terimpaksi)
b. Grade II : Fraktur lengkap tanpa pergeseran
c. Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian (varus malaligment)
d. Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen yang
bersinggungan

Klasifikasi Pauwels untuk fraktur kolum femur juga sering digunakan. Klasifikasi ini
berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang horizontal pada posisi tegak.
a. Tipe I : garis fraktur membentuk sudut 30 dengan bidang horizontal pada posisi tegak
b. Tipe II : garis fraktur membentuk sudut 30-50 dengan bidang horizontal pada posisi tegak
c. Tipe III: garis fraktur membentuk sudut >50 dengan bidang horizontal pada posisi tegak

19
LO3.4. Manifestasi Klinis Fraktur Femur
Fraktur collum femoris merupakan fraktur yang paling sering terjadi terutama pada usia
lanjut karena jatuh. Fraktur tersebut tidak sembuh dengan mudah sehingga menyebabkan
penurunan suplai darah pada caput femoris. Terjadi syok hebat dan pada fraktur tertutup, dan fat
emboli sering ditemukan. Kaki berotasi keluar, memendek dan deformitas. Paha membengkak
dan memar. Patah pada daerah ini menimbulkan pendarahan yang cukup banyak. Penderita
biasanya tidak hanya nyeri bahkan tidak bisa bangun. Hal ini terjadi karena ketidakstabilan
fraktur.
Manifestasi klinik fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekka
deformitas, krepitus pembengkakan local dan perubahan warna. Nyeri terus menerus dan
bertambah beratnya sampai fragmen tulang di imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur
yang merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
a) Setelah terjadi fraktur, bagian bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak
secara tidak alamiah. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan
deformitas yang bisa diketahui dengan ekstermitas normal.
Terjadi pemendekan tulang karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat
fraktur.
b) Saat ekstermitas diperiksa teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus akibat gesekan antara fragmen
satu dgn yang lainnya.
c) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit yang terjadi sebagai akibat trauma
dan perdarahan yang mengikuti fraktur

LO3.5. Pemeriksaan Penunjang Fraktur Collum Femoris
a. Sinar X
Pemeriksaan dengan sinar-X harus dilakukan. Pemeriksaan sinar X terdiri dari :
1. Dua pandangan. Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X
tunggal dan sekurang-kurangnya harus dilakukan dua sudut pandang (anterior-
posterior dan lateral).
2. Dua sendi. Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat emngalami fraktur dan
angulasi. Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang yang lain juga
patah, atau suatu sendi mengalami dislokasi. Sendi-sendi di atas dan di bawah
fraktur keduanya harus disertakan pada foto sinar X.
3. Dua tungkai. Pada sinar-X tulang anak-anak, epifisis yang normal dapat
mengacaukan diagnosis fraktur. Foto tungkai yang tidak cidera dapat bermanfaat.
Dua cidera kekuatan yang hebat sering menyebabkan cidera pada lebih dari
singkat. Karena itu bila ada fraktur pada calcaneus atau femur, perlu juga diambil
foto sinar-X pada tulang belakang.
20
4. Dua kesempatan. Segera setelah cidera suatu fraktur (misalnya pada skafoid
carpal) mungkins ulit dilihat. Kalau ragi-ragu sebagai akibat resorpbsi tulang,
pemeriksaan lebih jauh 10-14 hari kemudian dapat menegakkan diagnosis.
b. Pencitraan khusus
Kadang-kadang fraktur atau keseluruhan fraktur tidak nyata pada sinar x biasa.
Tomografi mungkin berguna untuk lesi spinal atau fraktur condylus tibia, ct dan MRI mungkin
merupakan satu-satunya cara untuk menunjukkan apakah fraktur vertebrae mengancam akan
menekan medula spinalis. Sesungguhnya potret transeksional snagat penting untuk visualisasi.
Fraktur secara tepat pada tempat yang sukar misalnya calcaneus atau acetabulum, dan potret
rekonstruksi 3 dimensi bahkan lebih baik. Scanning radioisotop berguna untuk mendiagnosis
fraktur tekanan yang dicurigai atau fraktur bergeser yang lain.













Intracapsular Fracture Intertrochanteric Fracture

21

Subtrokchanteric fracture
LO3.6. Penatalaksanaan Fraktur Collum Femoris
Pada prinsipnya penangganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi dan pengembalian
fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
a. Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulangpada kesejajarannya dan rotasi
anatomis. Metode dalam reduksi adalah reduksi tertutup, traksi dan reduksi terbuka,
yang masing-masing di pilih bergantung sifat fraktur
1. Reduksi tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke
posisinya (ujung-ujung saling behubungan) dengan manipulasi dan traksi
manual.
2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi.
Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
3. Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang direduksi.
Alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan
logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam
posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
b. Imobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang harus di imobilisasi atau
di pertahankan dalam posisi dan kesejajaranyang benar sampai terjadi penyatuan.
Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal atau inernal.
1. Fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan
teknik gips atau fiksator eksternal.
2. Fiksasi internal dapat dilakukan implan logam yang berperan sebagai bidai
inerna untuk mengimobilisasi fraktur. Pada fraktur femur imobilisasi di
butuhkan sesuai lokasi fraktur yaitu intrakapsuler 24 minggu, intra trohanterik
10-12 minggu, batang 18 minggu dan supra kondiler 12-15 minggu.
c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, segala upaya diarahkan pada
penyembuhan tulang dan jaringan lunak, yaitu ;
(1) Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
22
(2) Meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan
(3) Memantau status neurologi.
(4) Mengontrol kecemasan dan nyeri
(5) Latihan isometrik dan setting otot
(6) Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
(7) Kembali keaktivitas secara bertahap.

LO3.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding Fraktur Femur

1. Anamnesa (Ada tidaknya trauma)
Dilakukan anamnesa untuk mendapatkan riwayat mekanisme terjadinya cidera,
posisi tubuh saat berlangsungnya trauma, riwayat fraktur sebelumnya, pekerjaan, obat-
obatan yang dikomsumsi, merokok, riwayat alergi, riwayat osteoporosis serta riwayat
penyakit lainnya.
Bila tidak ada riwayat trauma berarti fraktur yang terjadi adalah fraktur patologis.
Jika terjadi trauma, harus diperinci jenis, berat-ringannya trauma, arah trauma, dan posisi
penderita atau ekstrimitas yang bersangkutan (mekanisme trauma).Pada penderita muda
ditemukan riwayat mengalami kecelakaan berat namun pada penderita usia tua biasanya
hanya dengan trauma ringan sudah dapat menyebabkan fraktur collum femur. Penderita
tidak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada pada panggul. Posisi panggul dalam
keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya pemendekakan dari tungkai yang
cedera
Terdapat tiga situasi dimana fraktur leher femur dapat terlewatkan;
Fraktur-tekanan : Pasien manula dengan nyeri pinggul yang tak
diketahui mungkin mengalami fraktur-tekanan; pemeriksaan sinar X hasilnya
normal tetapi scan tulang akan memperlihatkan lesi panas.
Fraktur yang terimpaksi : Garis awal fraktur tak terlihat, tetapi bentuk kaput
femoris dan leher berubah; selalu bandingkan kedua sisi.
Fraktur yang tidak nyeri : Pasien yang berada di tempat tidur dapat
mengalami fraktur diam.

2. Pemeriksaan Umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum, misalnya : shock pada fraktur multiple,
fraktur pelvis, serta tanda-tanda fraktur terbuka terinfeksi.
3. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik, fraktur kolum femur dengan pergeseran akan
menyebabkan deformitas yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal sedangkan pada
fraktur tanpa pergeseran deformitas tidak jelas terlihat. Tanpa memperhatikan jumlah
23
pergeseran fraktur yang terjadi, kebanyakan pasienakan mengeluhkan nyeri bila
mendapat pembebanan, nyeri tekan di inguinal dan nyeri bila pinggul digerakkan.
a. Inspeksi (look)
b. Palpasi (feel)
c. Gerakan (moving)

A. Inspeksi / look
Pada pemeriksaan fisik mula-mula dilakukan inspeksi dan terlihat adanya
asimetris pada kontur atau postur, pembengkakan, dan perubahan warna local. Pasien
merasa kesakitan, mencoba melindungi anggota badannya yang patah, terdapat
pembengkakan, perubahan bentuk berupa bengkok, terputar, pemendekan, dan juga
terdapat gerakan yang tidak normal. Adanya luka kulit, laserasi atau abrasi, dan
perubahan warna di bagian distal luka meningkatkan kecurigaan adanya fraktur terbuka.
Pasien diinstruksikan untuk menggerakkan bagian distal lesi, bandingkan dengan sisi
yang sehat.

B. Palpasi / feel
Nyeri yang secara subyektif dinyatakan dalam anamnesis, didapat juga secara
objektif pada palpasi. Nyeri itu berupa nyeri tekan yang sifatnya sirkuler dan nyeri tekan
sumbu pada waktu menekan atau menarik dengan hati-hati anggota badan yang patah
searah dengan sumbunya. Keempat sifat nyeri ini didapatkan pada lokalisasi yang tepat
sama.
Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan
palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan
dibawah cedera, daerah yang mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi. Neurovaskularisasi
yang perlu diperhatikan pada bagian distal fraktur diantaranya, pulsasi arteri, warna kulit,
pengembalian cairan kapiler (capillary refill test), sensibilitas.

Palpasi harus dilakukan di sekitar lesi untuk melihat apakah ada nyeri tekan,
gerakan abnormal, kontinuitas tulang, dan krepitasi. Juga untuk mengetahui status
vaskuler di bagian distal lesi. Keadaan vaskuler ini dapat diperoleh dengan memeriksa
warna kulit dan suhu di distal fraktur. Pada tes gerakan, yang digerakkan adalah
sendinya. Jika ada keluhan, mungkin sudah terjadi perluasan fraktur.

C. Gerakan / moving
Gerakan antar fragmen harus dihindari pada pemeriksaan karena menimbulkan
nyeri dan mengakibatkan cedera jaringan. Pemeriksaan gerak persendian secara aktif
termasuk dalam pemeriksaan rutin fraktur. Gerakan sendi terbatas karena nyeri, akibat
fungsi terganggu (Loss of function)



24
DIAGNOSIS BANDING
a. Osteitis Pubis
Osteitis pubis adalah peradangan simfisis pubis dan sekitarnya insersi otot. Osteitis
pubis biasanya dialami oleh atlet. Gejala yang muncul dari pubis osteitis dapat hampir
semua keluhan tentang pangkal paha atau perut bagian bawah serta perbedaan
panjang kaki.

http://www.orthoclinic.com.sg/wp-content/uploads/2013/10/osteitis_pubis.jpg

b. SlippedCapital Femoral Epiphysis
Slipped capital femoral epiphysis adalah ketidakstabilan growth plate (lempeng
pertumbuhan) femoralis proksimal. Ada pemisahan epiphysis femoralis proksimal
melalui pelat pertumbuhan sehingga menyebabkan selipan terjadi diatas epifisis.


25

http://www.orthopediatrics.com/binary/org/ORTHOPEDIATRICS/images/hipimages/child_hip_slipped_c
fe_anatomy05.jpg

http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00052
c. Snapping Hip Syndrome
Snapping Hip Syndrome atau Iliopsoas Tendinitis adalah suatu kondisi dimana Anda
mendengar suara derik atau merasakan sensasi gertak di pinggul ketika sedang
berjalan, berlari, bangun dari kursi, atau mengayunkan kaki. Gertakan pinggul terjadi
akibat hasil dari kekakuan otot dan tendon di sekitar pinggul. Orang-orang yang
terlibat dalam olahraga lebih mungkin untuk mengalami patah pinggul. Penari dan
Atlet muda lebih rentan memiliki patah pinggul.


http://www.caringmedical.com/wp-content/uploads/2013/11/Snapping_Hip_syndrome.jpg
26
LO3.8. Komplikasi Fraktur Collum Femoris
Komplikasi awal
o Syok: Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan
darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan eksternal
kejaringan yang rusak.
o Sindrom emboli lemak: Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk
kedalam pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari
tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres pasien
akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak
dalam aliran darah.
o Sindrom kompartemen: merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan
dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa
disebabkan karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang
membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gips atau balutan yang menjerat
ataupun peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan
sehubungan dengan berbagai masalah (misal : iskemi, cidera remuk). Sindrom
ini dapat ditangani dengan fascioctomi untuk tindakan operatif dan hindari
elevasi.
o Trombo-emboli: obtruksi pembuluh darah karena tirah baring yang terlalu lama.
Misalnya dengan di traksi di tempat tidur yang lama.
o Infeksi: pada fraktur terbuka akibat kontaminasi luka, dan dapat terjadi setelah
tindakan operasi.
o Osteonekrosis (avakular): tulang kehilangan suplai darah untuk waktu yang lama
(jaringan tulang mati dan nekrotik)
o Osteoatritis: terjadi karena faktor umur dan bisa juga karena terlalu gemuk
o Koksavara: berkurangnya sudut leher femur.
o Anggota gerak memendek (ektrimitas).

Komplikasi lambat
o Delayed union: proses penyembuhan tulang yang berjalan dalam waktu yang
lebih lama dari perkiraan (tidak sembuh setelah 3-5 bulan).
o Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 6-9 bulan.
o Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu
semestinya, namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.
o Kekakuan pada sendi.
o Refraktur: terjadi apabila mobilisasi dilakukan sebelum terbentuk union yang
solid.

27

DAFTAR PUSTAKA
Apley, A.G., dan Solomon, L. 1995. Buku ajar ortopedi dan fraktur sistem apley. Alih bahasa; fr.
Edi Nugroho. Jakarta: Widya medika
Eroschenko,Victor P. 2002.Atlas histologi diFiore edisi 11.Jakarta: EGC.
Sjamsuhidjat R,Wim de J. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Simbardjo, Djoko. 2008. Fraktur Batang Femur dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta:
FKUI.
http://emedicine.medscape.com/article/91596-overview Diakses pada tanggal 25 September
2014 pukul 20:06 WIB
http://emedicine.medscape.com/article/87420-overview Diakses pada tanggal 25 September
2014 pukul 20:45 WIB
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00052 Diakses pada tanggal 25 September 2014
pukul 20:36 WIB
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00363 Diakses pada tanggal 25 September 2014
pukul 20:52WIB