Anda di halaman 1dari 6

DM 10512065

NAMA : DEDE MULYAMAN


NIM : 10512065
1. SIMULASI DENGAN MENGGUNAKAN PARAMETER YANG MENDEKATI IDEAL
Lamda ukur
(nm)
Lebar celah
(nm)
Lebar pada
0.5 puncak
(nm)
Absorptivitas
maksimum
Panjang jalan
sinar (cm)
Stray light tak
terserap
300 10 100 1 1 0.000%
%KESALAHAN = 0,0008%
Penjelasan: Berdasarkan simulasi dengan menggunakan parameter yang mendekati ideal maka pada keadaan
ini hukum Lambert-Beer berlaku. Karena pada saat panjang gelombang 300nm, lebar celah 10nm, absoptivitas
maksimum 1, panjang jalan sinar 1cm dan stray light tak terserap 0,000% serta lebar pada setengah puncaknya
100nm diperlihatkan melalui kurva kalibrasi dengan nilai derajat korelasi (R
2
)=1,000, %kesalahannya =0,0008%
selain itu titik biru yang merupakan hasil pengukuran absorbans pada kurva kalibrasi itu dilewati oleh garis biru
dan berimpit pada garis merah yang menandakan hukum Lambert-Beer berlaku dan tidak ada penyimpangan
Hukum Lambert-Beer sebab garis yang dibentuk antara absosbans terhadap konsentrasi bentuknya linier dari
data tersebut sangat jelas bahwa hukum Lambert-Beer berlaku atau tidak terdapat penyimpangan terhadap
hukum Lambert-Beer.
2. SIMULASI KEDUA DENGAN MELAKUKAN PERUBAHAN TERHADAP STRAY LIGHT
Lamda ukur
(nm)
Lebar celah
(nm)
Lebar pada
0.5 puncak
(nm)
Absorptivitas
maksimum
Panjang
jalan sinar
(cm)
Stray light
tak terserap
300 10 100 1 1 0.500%
DM 10512065
%Kesalalahan = 1,8539%
Lamda ukur
(nm)
Lebar celah
(nm)
Lebar pada
0.5 puncak
(nm)
Absorptivitas
maksimum
Panjang
jalan sinar
(cm)
Stray light
tak terserap
300 10 100 1 1 1,000%
%Kesalahan= 3,0617%
PENJELASAN : Pada simulasi ini tepatnya pada perubahan nilai stray light tak terserap diubah ubah dan
nilai parameter lain nilainya tetap seperti yang terlihat pada tabel dan aluran grafik di atas. Dengan
memperlakukan penambahan nilai sinar sesatan / stray light maka secara bertahap dari 0,001-1,000%
(di atas hanya menampilkan penambahan 2 sinar sesatan yaitu pada 0,500% dan 1,000%) baik kurva
kalibrasi antara absorbans terhadap konsentrasi maupun kurva %Kesalahan itu semuanya mengalami
perubahan secara bertahap. Dari kurva kalibrasi terlihat jelas bahwa semakin bertambahnya nilai sinar
sesatan maka grafik yang diperolehpun mengalami ketidak-linieran pada batas atas dan batas bawah
sehingga titik-titik biru yng menandakan hasil pengukuran absorbans tidak berimpit dengan garis
merah serta garis biru yang berarti bahwa terdapat suatu penyimpangan terhadap hukum Lambert-
Beer. Penyimpangan tersebut juga dapat diperjelas oleh nilai derajat korelasi (R
2
) yang semakin kecil
persentasenya seiring dengan bertambahnya nilai sinar sesatan dan persen kesalahannyapun cukup
besar yakni 1,8539-3,0617%. Dengan meningkatnya persen kesalahan maka akan semakin besar pula
penyimpangan terhadap hukum Lambert-Beer. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai sinar
sesatan tanpa diikuti perubahan nilai parameter lain (nilai parameter lain dalam keadaan ideal) maka
penyimpangan Hukum Lambert-Beer akan berlaku.
3. SIMULASI PADA KEADAAN IDEAL DENGAN PENURUNAN DAN PENAIKKAN PANJANG GELOMBANG
DM 10512065
a. Penurunan Panjang Gelombang
Lamda
ukur
(nm)
Lebar celah
(nm)
Lebar pada
0.5 puncak
(nm)
Absorptivitas
maksimum
Panjang
jalan sinar
(cm)
Stray light
tak terserap
200 10 100 1 1 0,000%
%Kesalahannya = 0,0025%
b. Penaikkan Panjang Gelombang
Lamda
ukur
(nm)
Lebar celah
(nm)
Lebar pada
0.5 puncak
(nm)
Absorptivitas
maksimum
Panjang
jalan sinar
(cm)
Stray light
tak terserap
400 10 100 1 1 0,000%
%Kesalahan : 0,00252%
PENJELASAN: Pada simulasi ini dilakukan dalam keadaan ideal namun panjang gelombang yang diukur
diturunkan dan dinaikkan dari 200nm hingga 400nm. Dari kedua grafik tersebut terlihat bahwa semakin
dinaikkan dan diturunkan panjang gelombang yang diukur maka tidak terjadi penyimpangan terhadap
Hukum Lambert-Beer karena dilihat dari kurva kalibrasi yang tetap linier. Semakin tinggi panjang
gelombangnya maka energi yang diserap oleh suatu materi akan semkin kecil dan apabila panjang
gelombangnya diturunkan maka energi yang diserap oleh materi akan besar hal tersebut terlihat pada
kurva fungsi instrumentsi dan panjang gelombang. Persen kesalahannyapun hampir mirip antara yang
panjang gelombangnya dinaikan dan yang panjang gelombangnya diturunkan. Disisi lain, ketika sinar
DM 10512065
sesatan dinaikan sedangkan panjang gelombangnya dinaik turunkan secara bergantian, maka timbul
suatu penyimpangan Hukum Lmbert-Beer. Jadi dalam hal ini yang menjadi masalahnya adalah ketika
sinar sesatan mengalami kenaikan maka akan terjadi penyimpangan terhadap hukum Lambert-Beer
tersebut.
4. SIMULASI TERHADAP PENAIKAN LEBAR CELAH
a. Penaikkan lebar celah yang diikuti penaikan dan penurunan lamda ukur dengan sinar sesatan
0,000%
Lamda
ukur
(nm)
Lebar celah
(nm)
Lebar pada
0.5 puncak
(nm)
Absorptivitas
maksimum
Panjang
jalan sinar
(cm)
Stray light
tak terserap
400 100 100 1 1 0,000%
%kesalahan : 3,3645%
Lamda
ukur
(nm)
Lebar celah
(nm)
Lebar pada
0.5 puncak
(nm)
Absorptivitas
maksimum
Panjang
jalan sinar
(cm)
Stray light
tak terserap
200 100 100 1 1 0,000%
%kesalahan : 0,4946%
PENJELASAN : simulasi ini menyebabkan meningkatnya persen kesalahan walaupun sinar sesatannya
dibuat 0,000%. Hal tersebut dikarenakan pada panjang gelombang yang sangat besar maka intensitas
cahaya yang ditransimikan tidak akan teradsorpsi secara kesluruhan begutupun ketika panjang
gelombangnya dibuat kecil sekali namun pada panjang gelombang yang kecil, itu masih terdapat suatu
energi besar yang diserap suatu materi sehingga persen kesalahannya pun tidak terlalu besar.
DM 10512065
b. Penaikkan lebar celah yang diikuti penaikan dan penurunan lamda ukur dengan sinar sesatan
1,000%
Lamda
ukur
(nm)
Lebar celah
(nm)
Lebar pada
0.5 puncak
(nm)
Absorptivitas
maksimum
Panjang
jalan sinar
(cm)
Stray light
tak terserap
200 100 100 1 1 1,000%
%Kesalahan: 0,8816%
Lamda
ukur
(nm)
Lebar celah
(nm)
Lebar pada
0.5 puncak
(nm)
Absorptivitas
maksimum
Panjang
jalan sinar
(cm)
Stray light
tak terserap
200 100 100 1 1 1,000%
%kesalahan: 4,5459%
PENJELASAN: pada simulasi yang telah dihasilkan pada kurva seperti di atas yaitu dapat disimpulkn
bahwa semakin besar panjang gelombang yang diberikan dengan lebar celah yang besar serta
sinar sesatan yang besar pula maka akan menyebabkan kurva antara absorbans terhadap
konsentrasi tidak linier pada daerah atas dan daerah bawah yang artinya tidak seluruhnya sinar
yang diserap diabsorpsi dengan baik sehingga dapat menyebabkan penyimpangan hukum Lamber-
DM 10512065
Beer. Slain itu, semakin besar absorptivitas maksimum maka %kesalahan yang terjadipun akan
smakin kecil.