Anda di halaman 1dari 39

Pelaksanaan Kerja Praktek

7

BAB III
PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK

3.1 Tinjauan Umum Perusahaan
PT. PERTAMINA PERSERO Rantau merupakan salah satu Badan Usaha Milik
Negara di bidang pertambangan minyak dan gas (MIGAS). Lapangan minyak Rantau
secara geografis terletak pada garis lintang 04
o
21N dan garis bujur 98
o
05E, kira-kira 110
km di sebelah barat laut kota Medan. Luas lapangan kurang lebih 12 km2 dengan panjang
kurang lebih 7.5 km berarah barat laut-tenggara dan lebar kurang lebih 2 km berarah timur
laut-barat daya. Secara regional terletak pada Tamiang Deep, dimana sebelah timurnya
terdapat Yang Besar High, termasuk ke dalam jalur antiklin Serang Kuala Dalam-
Rantau. Elemen tektonik yang berkembang karena pengaruh kompresi Sumatra yang
berarah N 20-25 E dan kompresi Andaman yang berarah N 40-45 W, sehingga pola
utama perlipatan berarah barat laut-tenggara dan dipotong oleh patahan-patahannormal
berarah barat daya-timur laut.
Lithologi di lapangan ini merupakan perselingan antara batupasir dengan shale,
dimana di endapkan pada lingkungan laut dangkal diselingi inter deltaic dan deltaic bar
termasuk dalam F. Keutapang, dengan ketebalan rata-rata3-6m. lapisan produktif dari
shallow zone strukturini dapat ditemukan mulai kedalaman 250 490 m.


Pelaksanaan Kerja Praktek



Lapangan rantau pertama kali ditemukan oleh BPM (Royal Dutch-Shell) pada tahun
1928, melalui pemboran sumur R-1 dan sampai saat ini sudah di bor sekitar 563 sumur.
Produksi minyak dari struktur rantau banyak di peroleh dari lapisan dangkal (shallow
zone). Dari delapan sumur yang berproduksi dari lapisan dangkal, menyumbangkan
produksi lebih dari 1200 bopd.
Shallow Zone di Struktur Rantau terdiri dari 5 zone, yaitu 400, 420, 430, 440 dan
460. Total cadangan minyak terambil Shallow Zone berdasarkan buku Perkiraan Sisa
Cadangan Minyak Pertamina (Persero) DOH NAD-Sumbagut status 1 januari 2005 yang
dibuat oleh Keteknikan Reservoir Eksploitasi ada 9.128 MMSTB. Cadangan minyak
tersebut akan dicoba untuk dieksploitasi dengan membuka titik serap baru di daerah yang
masih belum terkuras dengan cara pemboran baru ataupun kerja ulang (wok over) pada
sumur-sumur eksisting. Penekanan strategi pengembangan untuk shallow zone adalah
dengan melakukan kerja ulang (work over), karena spasi antar sumur pengganti, yaitu
apabila sumur eksisting sudah tidak lagi memungkinkan untuk dilakukan kerja ulang yang
disebabkan oleh problem mekanis.
Berdasarkan perkiraan dari segi reservoir engineering maupun production
engineering, Shallow Zone dapat diproduksikan selama 10 tahun dengan produksi
kumulatip 3.027 MMSTB atau rata-rata 829,49 BOPD. Perhitungan keekonomian selama
umur proyek 10 tahun dengan biaya investasi MM US$ 9,735 dapat dihasilkan NPV MM
US$ 12,854, ROR 89,41%, PI 2,32 dan POT 1,12 tahun. Dengan demikian Proyek
8


Pelaksanaan Kerja Praktek



Pengembangan Shallow Zone Struktur Rantau PT. Pertamina (Persero) DOH NAD-
Sumbagut layak untuk dilaksanakan.

3.2 Tinjauan Lapangan Rantau
Secara umum daerah kajian terletak di dalam Cekungan Sumatera Utara. Cekungan
ini adalah salah satu dari tiga cekungan busur belakang (back arch) yang terletak disebelah
Timur Laut Bukit Barisan, Sumatera. Batasbatas Cekungan Sumatera Utara dan elemen-
elemen tektonik regional yang ditemukan dan juga memperlihatkan posisi lokasi daerah
penelitian didalam kerangka Peta Tektonik Cekungan Sumatera Utara, dimana merupakan
cekungan rekah tarik yang terbentuk pada Akhir Paleogen, dan secara fisiografis terletak
antara paparan Malaka disebelah Timur dan Pegunungan Barisan di sebelah Barat. Di
sebelah selatan cekungan ini dibatasi oleh lengkungan Asahan, sedangkan kearah utara
membuka dan berangsur-angsur menjadi cekungan laut Andaman yang merupakan pusat
pemekaran Samudra. Evolusi tektonik dimulai dengan terbentuknya Horst dan Graben
yang berarah utara-selatan sepanjang tepi Sunda Microplate.
Pengangkatan pada awal Miosen Tengah akibat terbukanya laut Andaman
mengakibatkan terjadinya pengangkatan pada tepi cekungan dan terjadinya reaktivasi dari
struktur-struktur Horst dan Graben menjadi sesar-sesar mendatar aktif. Periode
selanjutnya pada Miosen Akhir, yaitu berperannya pengaruhh kompresi regional sumatera
9


Pelaksanaan Kerja Praktek



yang berarah relative timurlaut-baratdaya, dan pada periode ini merupakan awal dari
pengangkatan Bukit Barisan. Periode tersebut menerus hingga Plio-Plistosen yan
mengakibatkan terbentuknya struktur-struktur perlipatan berarah baratlaut tenggara dan
sesar-sesar naik yang relative sejajar dengan pola perlipatan tersebut.
Adanya reaktivasi dari struktur-struktur Horst dan Graben pada batuan dasar
dan aktifnya sesar mendatar Sumatera serta gaya kompresi akibat pemekaran laut Andaman
juga sangat berpengaruh dalam membentuk pola struktur dan terakumulasinya hydrocarbon
di Cekungan Sumatera Utara.
Lapangan Rantau secara regional terletak pada dalaman Tamiang sebelah timur dan
sisi barat Yang Besar High, serta termasuk kedalam jalur antiklin Serang Kuala dalam
rantau yang merupakan salah satu elemen dari unsure tektonik yang ada di cekungan ini
dan jalur antiklin tersebut berarah barat laut tenggara. Jika dilihat dari arah dan jenis dari
elemen-elemen tektonik yang ada berupa perlipatan dan patahan yang umumnya
memperlihatkan pola arah dengan kisaran barat laut tenggara, maka diperkirakan
penyebab terbentuknya elemen-elementektonik tersebut karena pengaruh dari adanya
Kompresi Sumatera yang berarah N 20 25 E dan Kompresi Andaman yang berarah N
40 45 W.
Secara statigrfi Cekungan Sumatera Utara mulai terbentuk pada awal Tersier.
Selama zaman tersebut cekungan Sumatera Utara berupa laut dengan Sedimentsi aktif.
10


Pelaksanaan Kerja Praktek



Lapangan minyak Rantau secara geografis terletak pada garis lintang 04
0
21 N dan garis
bujur 98
0
05 E, kira-kira 110 km di sebelah Barat Laut kota Medan dan 45 km sebelah
Barat Laut kota Pangkalan Brandan. Luas lapangan minyak Rantau kurang lebih 13 km
2

dengan panjang 7.5 km ber arah Barat Laut Tenggara dan lebar 2 km ber-arah Timur
Laut Barat Daya. Lapisan penghasil paling dangkal adalah zone C1 dan yang paling
dalam adalah zone 1040.
Lapangan minyak Rantau pertama kali ditemukan oleh BPM (Royal Dutch-Shell)
pada tahun 1929 melalui pemboran R-1. Produksi minyak pertama kali dilakukan pada
zone yang dangkal, kemudian didalamkan lagi untuk memproduksikan zone yang lebih
dalam. Pada tahun 1942 sudah dib or 159 sumur oleh BPM, kemudian 13 sumur di bor
Jepang, baru tahun 1953 lapangan Rantau di kuasai oleh Pemerintah dan ditangani
Pertamina mulai 31 Desember 1957, dimana jumlah sumur sudah mencapai 175 sumur.
Pemboran mulai diaktifkan lagi tahun 1966-2004 sudah dibor sebanyak 388 sumur
diantaranya dibor oleh JAPEX sebanyak 77 sumur (P-283 sampai P-360) yang digunakan
untuk proyek Secondary Recovery pada lapisan 600, 640 dan 660. Jadi total sumur di
struktur ini adalah 563 sumur.
Formasi produktif di Struktur ini adalah F. Keutapang merupakan perselingan
batupasir dan shale yang mempunyai ketebalan bervariasi antara 2 20 m, dengan total
lapisan produktif 60 lapisan. Cadangan minyak awal pasti 729,427.68 Mstb dengan
11


Pelaksanaan Kerja Praktek



pengambilan maksimum 291,249.33 Mstb dan total produksi kumulatif sampai Desember
2004 adalah 249,440.95 Mstb, jadi sisa cadangan pasti adalah 41,808.37 Mstb (status 1
Januari 2005).
Cadangan gas assosiasi adalah 634,945.98 MMscf, pengambilan maksimum
291,249.33 Mstb dan total produksi kumulatif sampai Desember 2004 adalah 249,440.95
Mstb, jadi sisa cadangan pasti adalah 109,832.01 MMscf (status 1 Januari 2005). Peluang
pengembangan shallow zone di Struktur ini masih terbuka mengingat sisa cadangan yang
ada masih cukup besar, diantaranya melalui workover maupun infill drilling menggantikan
sumur-sumur tua yang mempunyai kendala mekanis, pengembangan, aplikasi logging C/O
dan Cased Hole Resistivity untuk mendapatkan bypassed oil.
3.3 Struktur Organisasi PERTAMINA EP ASSET 1 FIELD RANTAU
Dalam suatu kegiatan pengelolaan lapangan minyak dan gas bumi tentu saja ada suatu
struktur organisasi yang terdiri dari orang-orang yang bertanggung jawab terhadap
keberhasilan proyek tersebut.Struktur organisasi di bawah merupakan struktur organisasi
untuk suatu proyek pemboran lapangan migas.




12


Pelaksanaan Kerja Praktek











3.3.1
Struktur Organisasi

3.4 Health Safety Environment (HSE)
HSE adalah departemen di pertamina yang menangani keselamatan kerja serta
permasalahan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah produksi perminyakan. Yang
dimaksud keselamatan kerja yaitu memastikan bahwa setiap personil yang masuk ke
dalam lapangan sudah memakai semua alat pelindung diri. Yang berkaitan dengan
lingkungan, HSE melakukan pengolahan limbah produksi seperti limbah air formasi dan
gas yang tidak terpakai dan berpotensi mencemari lingkungan.Setelah dilakukan
pengolahan, air diinjeksikan kedalam formasi atau dibuang setelah diolah di Instalasi

13


Pelaksanaan Kerja Praktek



Pengolahan Air Limbah. Sedangkan gas yang tidakdipakai dibakar dikarenakan gas yang
tidak dibakar akan mengakibatkan pencemaran udara, akibat besarnya H
2
S yang terlepas
tanpa di bakar akan turun pada malam hari siapun yang mengisap akan mengalami
gangguan pernapasan bahkan akan mengakibatkan kematian. HSE juga bertanggung jawab
atas segala kecelakaan yang terjadi di lapangan,sehingga HSE banyak melakukan training
kecelakaan kerja untuk meminimalisir kerugian yang terjadi lapangan.

HSE aspek kesehatan, keselamatan kerja dan lindungan lingkungan dari potensi
bahaya akibat kegiatan operasi. Melalui penerapan kebijakan HSE bahaya-bahaya tersebut
dapat dicegah, dikurangi, diminimalisir atau bahkan dinihilkan atau zero accident.
Salah satu bentuk pelaksanaan HSE adalah mewujudkan kondisi operasi yang berwawasan
lingkungan sesuai prinsip managemen lingkungan dengan dilakukan dengan cara:
1. Pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai peraturan perundangan
2. Pemakaian energi sumber daya secara efisien dan penerapan proses industri bersih
3. Zero discharge
4. Good housekeeping

Untuk itulah PT. Pertamina EP membangun instalasi pengelolaan limbah, sehingga
lingkungan disekitar daerah operasi tetap terjaga. Dalam aspek pengendalian pencemaran
air, PT Pertamina EP menginjeksikan ulang keseluruhan air terproduksi untuk pressure
14


Pelaksanaan Kerja Praktek



maintanance kedalam tanah sehingga mengeliminasi potensi beban terhadap air
permukaan. Dengan demikian membantu mengurangi beban lingkungan. Dalam hal
pengendalian pencemaran udara PT. Pertamina EP telah mereduksi flaring dilapangan
salah satunya dengan menyiapkan dan mengoperasikan fasilitas penyaluran gas ke
konsumen. Selain mengurangi flaring Pertamina EP juga mengurangi venti atau pelepasan
gas CO
2
yang dipisahkan dari gas yang diproduksi. Dengan mereduksi venti Pertamina EP
mengurangi efek rumah kaca yang bisa ditimbulkan dari gas CO
2
tersebut. Gas CO
2

tersebut dimanfaatkan oleh konsumen, sehingga memiliki nilai keekonomian. Dengan
mengurangi flaring dan venti maka PT Pertamina EP telah mengurangi efek gas rumah
kaca, pengurangan efek tersebut nilainya setara dengan menanam ratusan juta pohon
rindang.

Sebagai bagian dari masyarakat, perusahaan menyadari tanggung jawab sosialnya
untuk mengembangkan masyarakat disekitar daerah operasi, khususnya didalam bidang
ekonomi, sosial dan budaya. Tanggungjawab ini diwujudkan melalui kegiatan corporate
social responsibility. Ini merupakan komitmen PT. Pertamina EP agar konsidi masyarakat
disekitarnya menjadi kondusif, sehingga mampu menanggapi perubahan dalam kehidupan
bermasyarakat terutama pasca kegiatan pertambangan.

15


Pelaksanaan Kerja Praktek



Pada PT Pertamina EP Asset 1 Field Rantau, sesuai dengan standar dan prosedur
keselamatan yang ada di PT Pertamina EP Asset 1 Field Rantau maka untuk wilayah
Rantau juga memiliki peraturan HSE yang patut dipatuhi oleh setiap pekerja untuk
menjaga keselamatan dan jam kerja, diantaranya
1. Pimpinan tertinggi, seluruh Pekerja dan Mitra Kerja PT Pertamina EP Asset 1 Field
Rantau, selalu berkomitmen dan berupaya untuk selalu menerapkan Aspek QHSSE
di dalam setiap kegiatan. Yang diwujudkan dalam:
a. Kebijakan QHSSE PT Pertamina EP Asset 1 Field Rantau
b. Visi Misi dan Tata Nilai
c. Business Goals
d. Sertifikasi ISO 9001:2008, ISO 14000:2004 dan OHSAS 18001:2007
e. PROPER
f. ISRS 7
g. Operational Excellence Fundamental
2. Keadaan darurat yang mungkin terjadi di wilayah PT. Pertaina EP Asset 1 Field
Rantau antara lain: Kebakaran, Ledakan, Pencemaran Lingkungan< bencana
Alama dan Kerusuhan.
3. Pada saat anda di lokasi, melaporlah kepada Security/Pengawas lokasi, mengisi
buku tamu dan meninggalkan tanda pengenal. Pada saat meningglakan lokasi,
pastikan tanda pengenal/kartu tamu/Hea Count Badge anda telah diambil dari
16


Pelaksanaan Kerja Praktek



papan akses kontrol yang tersedia dilokasi kerja. Jika anda melakukan perkerjaan
dilokasi, dilaran memasuki wilayah kerja PT Pertamina EP Asset 1 Field Rantau
tanpa membawa surat ijin masuk area yang dikeluarkan oleh fungsi layanan operasi
field Rantau.
4. Rambu/tanda peringatan keselamatan telah dipasang disemua daerah operasi untuk
dipatuhi. Ada 5 jenis rambu yang terdapat di Pertamina EP Asset 1 Field Rantau,
yaitu:
a. Larangan dengan warna dasar merah
b. Perhatian/Waspada dengan warna dasar kuning
c. Zone aman dengan warna dasar hijau
d. Wajib ditaati dengan warna dasar biru
e. Informasi umum dengan warna dasar putih
5. Gunakan peralatan pelindung diri yang sesuai pada waktu melakukan pekerjaan
dan atau memasuki daerah operasi seperti stasiun pengumpul/Stasiun kompresor,
Pusat Pengumpul Produksi (PPP), Rig Pemboran dan Perawatan Sumur, Power
Plant, Perbengkelan, WTP, Lokasi Sumur dan Lokasi Tangki Pengumpul Minyak.
6. Pada saat anda berada di wilayah kerja PT Pertamina EP asset 1 Field Rantau, anda
DILARANG :
a. Membawa dan menyalakan korek api atau bahan yang dapat menimbulkan api
di area stasiun pengumpul/stasiun kompresor, pusat pengumpul produksi
17


Pelaksanaan Kerja Praktek



(PPP), Rig pemboran dan perawatan sumur, lokasi sumur dan tangki
pegngumpul minyak.
b. Mengoprasikan handphone (HP) di daerah yang terdapat potensi gas seperti :
Lokasi rig pemboran dan perawatan sumur, sumur yang mengandung gas atau
tangki penampung minyak.
c. Mengambil gambar/poto tanpa seijin security/pengawas lokasi setempat
(pastikan blitz telah dimatikan).
d. Menimbulkan pencemaran lingkungan.
7. Pada saat anda berada di wilayah kerja PT Pertamina EP asset 1 Field Rantau,
TANYAKAN :
a. Yang harus dilakukan pada saat terjadi keadaan darurat.
b. Letak peralatan penanggulangan pertama pada saat terjadi keadaan darurat.
c. Nomor dan alat komunikasi yang tersedia dan yang dapat digunakan pada saat
terjadi keadaan darurat.
d. Rute menuju tempat berkumpul yang aman (Muster Point).
8. Patuhi aturan berkendara yang ada di PT Pertamina EP asset 1 Field Rantau, antara
lain :
a. Kecepatan kendaraan komplek perumahan, pekerjaan, perbengkelan,
perkantoran maksimum 35 km/jam, di daerah operasi maksimum 60 km/jam, di
jalan raya maksimum 80 km/jam.
18


Pelaksanaan Kerja Praktek



b. Yang tidak berwenang dilarang mengendarai mobil perusahaan (kewenangan
ditandai dengan adanya SIM perusahaan).
c. Apabila anda mengendarai kendaraan roda empat maupun roda dua, agar
menggunakan alat pelindung diri (antara lain safety belt untuk roda empat dan
helm standar untuk roda dua).
9. Laporkan melalui PEKA dan intervensi pekerjaan yang mengabaikan aspek
QHSSE.
10. Pastikan seluruh pekerjaan selalu dilengkapi SIKA dan JSA, serta telah dilakukan
sosialisasinya kepada setiap pekerja.

3.5 PO (Production Operation)
Kegiatan di operasi produksi ini adalah mengoperasikan stasiun pengumpul kemudian
mengecek sumur produksi, memeriksa tekanan sumur yang berproduksi, mengecek tekanan
dan frekuensi ESP dan memastikan bahwa produksi field terhitung secara jelas ke PPP
(Pusat Pengumpul Produksi). PPP inilah tempat berkumpulnya produksi sebelum dikirim
ke Pangkalan Susu.Sistem pengumpul adalah cara-cara pengumpulan sistem fluida sebelum
ke stasiun pengumpul. Berikut adalah beberapa cara sistem pengumpul:
1. Individual flowline
2. Trunk line & flowline
18
19


Pelaksanaan Kerja Praktek



3. Trunk line & branch
4. Well head separator
Stasiun pengumpul atau yang biasa disebut dengan Block Station, merupakan suatu
tempat terjadinya pemisahan fluida pertama kali setelah fluida diangkat dan dialirkan
melalui flowline dari sumur. Didalamnya terdapat peralatan produksi yang berfungsi untuk
melakukan pekerjaan pengarahan, pemisahan, penampungan, pengukuran dan pegaliran
fluida produksi.
Flowline adalah pipa penyalur minyak dan gas bumi yang mengalirkan fluida dari
sumur menuju fasilitas produksi. Panjang flowline bisa puluhan meter, ratusan meter atau
bahkan terkadang ada flowline dengan panjang kiloan meter. Adapun syarat flowline
adalah:
Permukaannya harus halus
Tahan terhadap korosi
Tahan terhadap tekanan tinggi
Tahan terhadap perubahan temperatur
Mudah untuk dibelokkan
Manifold adalah kelompok atau sekumpulan katup/valve yang dideretkan untuk mengatur
aliran masuk ke tangki yang diinginkan.
20


Pelaksanaan Kerja Praktek



Separator adalah sebuah bejana bertekanan yang mempunyai fungsi utama:
1. Untuk memisahkan fluida sumur menjadi komponen gas dan cairan. Jenis ini
disebut dengan separator 2 fasa
2. Untuk memisahkan fluida sumur menjadi komponen gas, minyak, dan air. Separator
jenis ini disebut separator 3 fasa.
Berdasarkan bentuknya separator dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
Horizontal separator
Vertical separator
Spherical separator
Berdasarkan fungsinya atau jenis penggunaannya, separator dapat dibedakan atas:
1. Gas scrubber
Jenis ini dirancang untuk memisahkan butir cairan yang maish terikut gas hasil
pemisahan tingkat pertama
2. Free water knock out (FWKO)
Jenis ini digunakan untuk memisahkan air dengan minyak

3.6 WOWS (Work Over Well Service)
Pada kegiatan WOWS ini dijelakan mengenai Artificial lift, Pump shop, Sonolog,
Dynagraph, Squeeze cementing dan Perforation job. Artificial lift adalah metode untuk
21


Pelaksanaan Kerja Praktek



mengangkat minyak bumi, karena tekanan reservoirnya tidak cukup tinggi untuk
mendorong minyak sampai keatas. Artificial lift dilakukan dengan 4 jenis peralatan, yaitu
Electrical Submersible Pump (ESP), merupakan pompa listrik yang ditanam
didalam sumur
Gas Lift Unit, pada prinsipnya adalah mencampurkan gas ke dalam sistem
fluida agar berat minyak menjadi lebih ringan sehingga mendapat gaya dorong
keatasdan mengalir sampai ke permukaan
Hydraulic Pump Unit, merupakan pengangkatan fluida dengan dibantu oleh
bidang yang lain
Sucker Rod Pump (SRP) Unit, merupakan pompa electrical mechanical yang
dipasang dipermukaan yang umum disebut Sucker Rod Pumping dan juga
Beam Pump menggunakan prinsip katup searah atau check valve pompa ini
akan mengangkat fluida formasi ke permukaan

3.6.1 Sucker Rod Pump (SRP)
Sucker rod pump (SRP) merupakan salah satu metoda artificial lift dengan
memanfaatkan sumber tenaga yang berupa listrik atau gas dari prime mover untuk
menggerakkan pompa sehingga fluida pada formasi dapat naik ke permukaan.
Keuntungan penggunaan sucker rod pump adalah :
22


Pelaksanaan Kerja Praktek



1. Efisien dan mudah dalam pengoperasian di lapangan
2. Masih bisa digunakan untuk mengangkat fluida pada sumur yang
mengandung pasir
3. Dapat dipakai pada sumur bengkok (directional)
4. Dapat digunakan untuk sumur yang memiliki tekanan rendah
5. Fleksibel karena kecepatan pompa dan stroke length dapat disesuaikan
6. Dapat digunakan pada berbagai ukuran tubing
7. Dapat menggunakan gas atau listrik sebagai sumber tenaga penggerak

Adapun bagian-bagian dari surface equipment sucker rod pump adalah:
1. Prime Mover
Fungsi dari prime mover adalah mengalirkan sumber tenaga yang dapat menggerakkan
pompa sehinga fluida dapat naik ke permukaan
2. Gear reducer
Merupakan rangkaian roda gigi yang berfungsi untuk mengurangi kecepatan prime mover.
3. V-Belt
Merupakan sabuk untuk memindahkan gerak dari prime mover ke gear reducer.
4. Crank
Fungsinya menghubungkan crank shaft pada gear reducer dengan counter weight untuk
mengatur stroke length dengan mengubah posisi dari pitman bearing
23


Pelaksanaan Kerja Praktek



5. Counter weight
Berfungsi sebagai menyeimbangkan gerakan saat upstroke dan downstroke dengan cara
menyimpan tenaga prime mover pada saat down stroke dimana tenaga yang diperlukan
minimum dan mengeluarkan tenaga pada saat upstroke sehingga terjadi perataan
pembebanan.
6. Pitman
Fungsinya untuk menghubungkan pitman bearing dengan walking beam yang berfungsi
mengubah gerak putar menjadi gerak naik turun.
7. Walking beam
Fungsinya untuk meneruskan gerak naik turun yang dihasilkan oleh rangkaian pitman-
counter weight-crank ke rangkaian yang ada di dalam sumur melalui polished rod.
8. Carrier bar
Fungsinya sebagai tempat bergantungnya polished rod dan rangkaian sucker rod yang ada
di dalam sumur.
9. Polished Rod
Merupakan bagian teratas dari rangkaian rod yang muncul di permukaan dan berfungsi
menghubungkan antara rangkaian rod di dalam sumur dengan peralatan-peralatan
dipermukaan.
10. Stuffing box
24


Pelaksanaan Kerja Praktek



Merupakan tempat kedudukan polished rod sehingga polished rod dapat naik turun dengan
bebas dan berfungsi untuk mengisolasi sumur dan mencegah agar fluida tidak ikut keluar
waktu naik turunnya polished rod.
11. Sampson Post
Sebagai penyangga walking beam.
12. Briddle
Tempat menggantungkan carrier bar.
13. Flow Tee
Untuk mengalirkan fluida ke flowline.
14. Flow line
Fungsinya sebagai tempat mengalirnya fluida hasil pemompaan.
Subsurface Equipment
Peralatan bawah permukaan berfungsi sebagai pompa untuk mengangkat fluida pada
formasi ke permukaan. Bagian peralatan bawah permukaan sebagai berikut :
1. Working Barrel
Merupakan tempat dimana plunger dapat bergerak naik turun dan berfungsi sebagai
tempat menampung fluida sebelum fluida diangkat plunger pada saat upstroke
2. Plunger
Merupakan bagian dari pompa yang terdapat di dalam working barrel yang
berfungsi untuk mengangkat fluida dari reservoir ke permukaan .
25


Pelaksanaan Kerja Praktek



3. Travelling Valve
Merupakan katup yang berada di bawah plunger yang bergerak sesuai dengan
pergerakan plunger, dimana posisinya akan terbuka pada saat downstroke sehingga
fluida dapat masuk ke dalam plunger. Posisinya akan tertutup pada saat upstroke
sehingga dapat menahan fluida yang sudah masuk ke dalam plunger agar tidak
keluar.
4. Standing Valve
Merupakan katup yang berada pada bagian bawah working barrel dimana posisinya
akan terbuka pada saat upstroke sehingga fluida dari dalam sumur dapat masuk ke
dalam working barrel. Posisinya akan tertutup pada saat downstroke sehingga
menahan fluida yang sudah masuk ke dalam working barrel agar tidak keluar.
5. Sucker rod
Merupakan batang besi yang menjadi tempat bergantungnya plunger dan berfungsi
meneruskan gerak naik turun dari surface equipment ke unit pompa di bawah
permukaan
6. Seating nipple
Merupakan tempat dudukan dari standing valve sehingga standing valve tidak
terlepas pada saat upstroke atau downstroke.
7. Tubing
26


Pelaksanaan Kerja Praktek



Berfungsi mengalirkan fluida dari dasar sumur ke permukaan dimana fluida
mengalir melalui ruang antar sucker rod dan tubing

Prinsip kerja dari sucker rod pump:
a. Pada saat downstroke dimana plunger bergerak turun ke bawah sehingga posisi
traveling valve semakin mendekati standing valve. Hal ini mengakibatkan tekanan
pada ruang antara traveling valve dan standing valve lebih besar dibandingkan
tekanan di atas traveling valve dan di bawah standing valve sehingga ball pada
traveling valve akan terdorong ke atas (traveling valve terbuka) sedangkan ball
pada standing valve akan turun ke bawah (standing valve tertutup). Dengan
demikian fluida yang ada pada ruang antara traveling valve dan standing valve
akan masuk ke dalam plunger.

Pada saat upstroke dimana plunger bergerak naik ke atas sehingga posisi traveling
valve semakin menjauh dari standing valve. Hal ini mengakibatkan tekanan di atas
traveling valve semakin besar dan ball pada traveling valve akan terdorong ke bawah
(traveling valve tertutup). Dengan demikian fluida tidak bisa keluar dari plunger dan ikut
terangkat ke atas menuju tubing. Dikarenakan tekanan pada ruang antara traveling valve
dan standing valve lebih kecil dibandingkan tekanan di bawah standing valve maka ball
pada standing valve akan naik ke atas (standing valve terbuka) didorong oleh fluida yang
27


Pelaksanaan Kerja Praktek



ada di dalam sumur sehingga fluida tersebut mengisi ruang antara traveling valve dan
standing valve.

3.6.2 Electrical Submersible Pump (ESP)
Susunan pompa ESP yaitu : (dari subsurface ke surface)
motor protector intake (gas separator) pompa tubing check valve
tubing bleeder valve tubing wellhead
Protector merupakan komponen yang paling rapuh. Fungsinya sebagai conector dan
melindungi motor. Motor tidak boleh terkena fluida selain pelumas. Pelumas untuk
mendinginkan dan jika ada air tidak langsung kena. Protektor ini dibagi menjadi 2 tipe
yaitu lapirin dan positive seal.
Intake (gas separator) merupakan tempat masuknya gas. Intake dibagi menjadi
beberapa tipe, tipe yang digunakan di Rantau adalah rotary karena yang paling sesuai
dengan gas.
Check valve merupakan valve satu arah dimana memiliki fungsi untuk menahan sand
agar pasirtidak masuk ke pompa.
Bleeder valve merupakan semacam silinder kosong/bolong yang memiliki pembatas di
bawahnya yang fungsinya agar fluida tidak menyembur saat rangkain dicabut.


28


Pelaksanaan Kerja Praktek



3.6.3 Gas Lift
Gas Lift adalah salah satu bentuk sistem pengangkatan buatan (artificial lift) yang
lazim digunakan untuk memproduksikan fluida dari sumur-sumur minyak bumi. Sistem ini
bekerja dengan cara menginjeksikan gas bertekanan tinggi kedalam annulus (ruang antara
tubing dan casing), dan kemudian kedalam tubing produksi sehingga mengakibatkan
berkurangnya berat kolom fluida dalam tubing. Sehingga tekanan reservoir mampu
mangalirkan fluida dari lubang sumur menuju fasilitas produksi dipermukaan.
Syarat utama dari sistem ini adalah ketersediaan gas bertekanan tinggi yang digunakan
untuk proses aerasi fluida dalam lubang sumur. Gas bertekanan tinggi tersebut dapat
berasal dari sumur gas yang masih memiliki tekanan tinggi, atau dari sistem kompresi gas
dengan menggunakan kompresor:
a. Conventional
Yaitu, gas lift mandrel yang apabila rusak harus dicabut semua rangkaiannya.
b. Retriviables
Yaitu, gas lift mandrel yang apabila rusak tidak perlu mencabut rangkaian dengan
menggunakan wireline untuk mengambil alat yang rusak.
Gas lift valves menggunakan gas nitrogen, untuk menentukan gas lift valves yang akan
digunakan diperlukan design yang akan menentukan program yang akan dibuat.

29


Pelaksanaan Kerja Praktek



3.6.4 Sonolog
Sonolog adalah kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan media gas Nitrogen
dengan tujuan untuk mengetahui tinggi level fluida yang terdapat di dalam pompa.
Kegiatan sonolog ini baik dilakukan agar pompa esp yang telah kita pasang dapat berkerja
secara maksimal dan sesuai dengan banyaknya fluida yang terkandung. Data yang harus
ada dalam pengaplikasian sonolog adalah perforation depth dan setting pompa depth.Besar
tekanan nitrogen yang ditembakkan kedalam sumur harus minimal lebih besar 200psi
daripda tekanan sumur.
Cara kerja :
1. Tutup valve produksi, buka valve menuju alat sonolog
2. Pasang alat sonolognya yang bagian ada microfonnya terlebih dahulu
3. Apabila sudah tidak ada gas yang keluar, baru pasang gas gun
4. Dengan menggunakan software di computer,alat siap untuk dihidupkan (
Nitrogen yang ada ditembakkan)
5. Baca hasil yang didapat
Hasil yang didapat ada kegiatan sonolog tersebut adalah:
1. Panjang joint
2. Fluid level
3. Pump intake pressure
30


Pelaksanaan Kerja Praktek



4. Submergent (pompa yang terendam)
Pengukuran sonolog ini dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu dengan manual dan
digital. Dimana manual menggunakan alat yang disebut dengan echometer, sedangkan
digital menggunakan software. Dari masing-masing manual maupun digital memliki
kekurangan dan kelebihan.
Manual
Kelebihan : Dengan pembacaan manual, dapat mengukur ukuran tubing
dengan lebih teliti sehingga didapatkan nilai panjang joint yang
lebih akurat
Kekurangan : Pencatatan fluid levelnya kurang akurat, sebab foam yang
lumayan padat maka akan dianggap sebagai fluid levelnya
Digital
Kelebihan : Dapat menentukan nilai fluid level dengan tepat sebab dalam
pembacaan digital ditujukkan foam-foam yang terdapat dalam
tubing dan juga batas fluid levelnya
Kekurangan : Pembacaan ukuran joint kurang tepat sebab, pada alat digital
diambil rata-rata tubing, bukan sesuai dengan panjang jointnya



31


Pelaksanaan Kerja Praktek



3.6.5 Dynagraph
Dynagraph merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui kerusakan di dalam
pompa dan juga gejala di dalam surface. Pada pengecekan kondisi ball on sheet terdapat
dua indikator yaitu :
Travelling Valve (TV / dudukan ball sebelah atas)
Jika gambar grafik tidak lurus pada bagian ini maka menunjukan ada masalah pada
bagian atas dudukan ball TV. Kalau ada masalah pada bagian TV maka dapat
dihilangkan dengan cara meningkatkan nilai SPM.
Standing Valve (SV / dudukan ball disebalah bawah)
Jika gambar grafik tidak lurus pada bagian ini maka menunjukan ada masalah pada
bagian bawah dudukan ball SV. Jika masalah muncul di SV, maka tahapan pertama
yang dilakukan adalah dengan dikejut (menaruh ball ke SV sekencang mungkin
diharapkan kotoran di SV dapat hilang) setelah dikejut maka dilakuak uji hasil
sumur kembali / dynograph kembali. Apabila setelah tahap pertama masih tetap
hasil yang didapatkan kurang baik, maka perlu dilakukan treatment terhadap sumur
dan ballnya dengan menggunakan rig.
Masalah yang umumnya muncul di Travelling Valve dan Standing Valve antara lain
seperti sand, lumpur, dan ball yang sudah tidak rata lagi permukaannya.

32


Pelaksanaan Kerja Praktek



3.6.6 Squeeze Cementing
Squeeze cementing pada kali ini bertujuan untuk pindah lapisan (KUPL) pada
sumur P-389. Pada proses cementing, biasanya dimasukan juga slurry dan air bantalan. Air
bantalan ini bertujuan agar menghemat pemakaian semen. Proses cementing umumnya
berlangsung selama jam namun proses pengeringan semen bisa berlangsung hingga 12
jam. Dengan thickening time 3 jam. Pada squeeze cemting kali ni berat semen yang
digunakan 15,8ppg dan SG 1,9. Tahapan dalam proses cementing :
Chemical dicampur dengan air kemudian diaduk hingga rata
Setelah capuran tersebut rata lalu dimasukan semen
Berat semen ditimbang hingga 15.8 ppg
Setelah beratnya mencapai 15.8 ppg, kemudian semen dipompakan ke dalam sumur
o Sebelum dipompakan sumur disirkulasikan terlebih dahulu selama 2-3
jam, gunanya untuk memastikan kondisi lubang bor bersih dari lumpur
dan kotoran lainnya.
o Lalu mengeluarkan rangkaian tubing. Pada sumur ini rangkain tubing
yang dikeluarkan sebanya 6 stand (1 stand = 2 joint). ukuran tubing yang
umumnya dipakai 3
1
/
2
, 2
7
/
8
, 2
3
/
8

o Sirkulasi terbalik (dengan mengalirkan air asin dari annulus yang
nantinya akan keluar lagi melalui drill pipe)
33


Pelaksanaan Kerja Praktek



Proses cementing kali ini akan menutup zona perforasi di 490 m sehingga semen
dipompakan hingga kedalamn 490 m saja
Setelah semua semen dimasukkan lalu rangkaian dicabut (dalam kondisi di bawah
semen masih basah)
Untuk memastikan semen telah menutup zona perforasi maka semen ditekan dengan
pompa cementing selama 5 jam, dan ditunggu kering hingga 12 jam
Setelah 12 jam, dicek kembali apakah top of cement sudah sesuai dengan yang
diinginkan atau belum
Chemical agent yang digunakan :
- Dispersant
- Retarder
- Fluid loss control
- Bonding agent
- Antifoam (defoamer)
3.6.7 Perforation Job
Setelah dilakukan squeeze cementing di sumur P-389 pada lapisan bawah, maka
dilakukanlah perforasi untuk membuka lapisan diatasnya. Pada sumur P-389 akan
dilakukan perforasi pada kedalaman 455,1 meter. Akan dilakukan perforasi sepanjang 6
meter (atas 2m, tengah kosong 1m, bawah 3m) . Jumlah peluru yang akan ditembakan
34


Pelaksanaan Kerja Praktek



berjumlah 200 peluru dengan 12 spf. Penentuan 200 peluru tersebut dari interval perforasi
dibagi dengan loading choke.
Tahapan perforasi adalah:
1. Masukkan peluru ke dalam jaket
2. Masukan peluru dan jaket tersebut ke dalam loading tube
3. Loading tube tersebut dimasukkan ke dalam rumahnya
4. Kemudian masukkan ke dalam sumur
5. Diledakkan di kedalaman yang diinginkan

3.7 PE (Petroleum Engineering)
Pada bagian PE ini dibagi menjadi 3 bagian diantaranya adalah produksi, reservoir
dan operasi. Pada bagian PE mengunjungi rig pengeboran. Rig pemboran yang dikunjungi
adalah:
1. RNT-A / P-429 Skytop
2. RNT-INJ / P-430 CWKT 210B




35


Pelaksanaan Kerja Praktek



RNT-A / P-429 Skytop
Pada rig pemboran sumur ini dilakukan dengan directional drilling Z-600 dengan bit
8. MD depth= 304m , inklinasi= 20 , bit depth= 74,7m , TVD= 298,98m. Untuk target
yang dicapai TD sebesar 646m dan inklinasi 30. Sampai hari ini masih terhenti pada
kedalaman 304m karena ada masalah pada MWD (Measured While Drilling).

MWD : merupakan hal terpenting dalam directional drilling (mata dalam directional
drilling). Memiliki rangkaian: baterai dirmot (directional modul) finnet sleeve
pulser.

Pulser untuk memberikan data diferensial tekanan. Mengirimkan data ke atas
(transdusser). Alat ini bergerak naik turun yang nanti akan ditangkap dalam bentuk pulse di
alat SAI. SAI merupakan safe area interface yang mana berfungsi untuk menangkap data
dari pulser. Dirmod dibagi menjadi 2 macam yaitu accelorometer (untuk mengetahui
inklinasi) dan magnetometer (untuk mengetahui arah azimuth / barat utara timur selatan).

Rangkaian mud motor : bit mud motor float sub landing sub monel
stabilizer. Mud motor digunakan ketika pemboran berarah, selain itu dengan adanya mud
motor maka kita tidak perlu memutar string sebab bit sudah berjalan dengan sendirinya.
35


Pelaksanaan Kerja Praktek



Untuk itu perlu dilakukan survey per 30 m atau 100 ft. Float sub untuk meletakkan float
bleeder. Landing sub digunakan untuk meletakan dudukan MWD.

RNT-INJ / P-430 CWKT 210B
Pada sumur P-430 ini merupakan vertical well ; sumur baru namun untuk sumur
eksploitasi (jadi data yang dipakai berdasarkan data sumur sekitar yang berdekatan).
MD depth 281,86m , bit depth 268,31m. Target depth 630m. Pada sumur di Rantau ini
memilik 2 formasi yaitu formasi ketapang dan serella. Lapisan Serella ini lebih reaktif
terhadap air, maka dari itu digunakan lumpur OBM. Untuk lumpur OBM ini
digunakan bahan utama SF 05 (Saraline Fluid). Karena lumpur OBM ini sulit untuk
bereaksi dengan air maka sebelum dibuang, lumpur OBM ini perlu diolah lagi ke
penampungan supaya bisa dipakai lagi ke sumur lainnya. Data yang akan didapatkan
antara lain,
- Data unit (MLU)
Ada banyak sensor yang diletakkan di sekitar area pemboran semua sensor yang
ada ini akan membawa keseluruhan data ke pusat data yaitu MLU. Di data MLU
ini ada banyak sensor seperti ada di rig floor (pencatat pergerakan travelling
depth), di tangki lumpur (mengetahui kapasitas lumpur), untuk mengetahui jenis
gas yang dibawa (dengan menggunakan gas stramatograph).
36


Pelaksanaan Kerja Praktek



- Cutting dryer
OBM sifatnya polutan sehingga perlu menggunakan cutting dryer untuk
memisahkan antara kandungan cutting dan OBM. Hasil yang didapatkan dari
cutting dryer ada yang berupa padatan dan fluida (yaitu OBM itu). Hasil OBM
itu sendiri nanti akan digunakan lagi dalam proses lumpur di tempat lainnya
tapi tentunya setelah mendapatkan beberapa treatment khusus. Hasil dari
cutting dryer yang berupa cutting (diproses lagi yaitu dengan dikeringkan) jika
masih menghasilkan OBM, maka OBM akan dimanfaatkan untuk keperluan
lainnya. Namun jika hanya berupa padatan maka kandungan solid ini sisanya
akan dibuang.

3.8 Sistem Komponen Rig
Rig merupakan peralatan utama pada tahap pemboran, didalam sebuah rig ada 5
komponen utama pemboran. Yaitu:
Circulating system adalah komponen yang berfungsi menyediakan lumpur dan
mengangkat serpihan pemboran atau cutting dari dalam sumur ke permukaan. Sistem
sirkulasi: tangki lumpur pompa pake mud pump discharge line stand pipe rotary
house kelly rangkaian pipa keluar dari bit mengalir ke annulus mengalir ke
shale shacker degaser desander desilter
37


Pelaksanaan Kerja Praktek



Sistem tangki:
1. Sand trap
2. Shattering pit
3. Intermediet tank
4. Active tank






Gambar 3.5.1
Sistem Sirkulasi

38


Pelaksanaan Kerja Praktek



Hoisting system adalah komponen utama pada rig yang berfungsi menyediakan
fasilitas untuk mengangkat, menahan dan menurunkan peralatan rotary dan perlengkapan
bawah permukaan lainnya dari dalam sumur atau keluar sumur
Hoisting system: drum drawworks drilling line crown block travelling
block link elevator





Gambar 3.5.2
Hoisting System

Dua jenis kegiatan rutin yang sering menggunakan peralatan hoisting sistem pada saat
operasi pemboran adalah :
1. Melaksanakan penyambungan rangkaian string (making connection)
Melaksanakan penyambungan berhubungan dengan proses penambahan
39


Pelaksanaan Kerja Praktek



sambungan baru pada drillpipe untuk penembusan yang makin dalam.
2. Melasanakan trip (making trip)
Melakukan trip berhubungan dengan proses pencabutan drillstring dari lubang
bor untuk mengganti kombinasi dari peralatan bawah tanah (Bottom Hole
Assembly) dan kemudian menurunkan kembali ke dalam sumur pemboran.
Trip biasanya dilakukan untuk mengganti bit yang sudah mulai tumpul.
Rotating system adalah peralatan yang digunakan untuk menstransmisikan putaran
meja putar ke bit atau mata bor
Rotary system: rotary table master bushing kelly bushing kelly swivel
Swivel
Swivel merupakan titik penghubung antara circulating system dan rotating sytem.
Disamping itu juga sebagai penutup fluida dan menahan putaran




40


Pelaksanaan Kerja Praktek







Gambar 3.5.3
Swivel

1. Kelly
Kelly adalah rangkaian pipa yang pertama di bawah swivel. Bentuk potongan dari
Kelly dapat berupa segi empat atau persegi enam sehingga akan mempermudah
rotary table untuk memutar rangkaian di bawahnya. Torsi ditransmisikan ke Kelly
melalui Kelly bushing yang terletak di dalam master bushing dari rotary table. Kelly
harus dipertahankan tetap setegak mungkin.



41


Pelaksanaan Kerja Praktek








Gambar 3.5.4
Kelly

2. Rotary Table
Peralatan yang berfungsi memutar dan dipakai untuk menggantung drill string yang
memutar bit di dasar sumur




42


Pelaksanaan Kerja Praktek







Gambar 3.5.5
Rotary Table






Gambar 3.5.6
Rotating System

43


Pelaksanaan Kerja Praktek



1. BOP (Blow Out Preventer) System adalah komponen yang digunakan untuk
mengontrol tekanan, untuk mencegah sembur liar atau kick akibat aliran fluida formasi
yang tidak terkendali dari lubang bor ke permukaan
BOP sistem: accumulator annular pipe RAM blind RAM BPM (back
pressure manifold) HCR (hydraulic choke remote)





Gambar 3.5.7
Accumulator
Power System adalah sebagian dari daya listrik yang tersedia pada rig yang digunakan
oleh hoisting dan circulation system.
Power system:
1. Electrical motor
2. Mekanikal (mesin)
44