Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Setiap tahun penderita diabetes semakin meningkat. Penyakit diabetes merupakan
salah satu penyakit yang mengancam banyak orang. Menurut Tjahjadi (2002), diabetes
merupakan The silent killer. Komplikasi diabetes ada bermacam-macam. Salah satu
komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetes luka Infeksi Kaki Diabetik (IKD).
Infeksi Kaki Diabetik merupakan infeksi yang terjadi di daerah ekstremitas bawah, karena
mengalami mati rasa di daerah tersebut, sehingga perderita tidak menyadari luka di
kakinya. (Nabyl, 2009). Menurut Black & Hawks (2005), lebih dari 40% orang dengan
IKD kemungkinan harus diamputasi dan 5% hingga 10% karena infeksi yang terjadi di
sekitar area yang di amputasi.
Menurut survey yang dilakukan oleh World Health Organisation (WHO), Indonesia
menempati urutan keempat dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah
India, Cina, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2003 angka kejadian diabetes mellitus
sebanyak 194 juta orang, tahun 2005 meningkat menjadi 200 juta orang, tahun 2010
meningkat lagi menjadi 210 juta orang, dan diperkirakan pada tahun 2025 jumlah pasien
diabetes menjadi 34 juta orang. (Wild, at al. 2004)
Data penderita diabetes yang terdapat pada Puskesmas Bangetayu (tempat pertama
dilakukan penelitian), peneliti mendapatkan data pada tahun 2010 berjumlah 235 orang
dan meningkat pada tahun 2011 menjadi 267 orang. Sedangkan pada tempat penelitian
kedua di Puskesmas Genuk, peneliti hanya bisa mendapat data bahwa terjadi peningkatan
penderita diabetes sekitar 10% dibanding tahun lalu. Banyak penderita DM yang di rawat
di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Dalam hal ini, kelompok tertarik membahas
jurnal mengenai pengobatan diabetes dengan komplikasi IKD mengunakan madu
sehingga diharapkan dapat di aplikasikan dalam tindakan keperawatan perawatan luka di
Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta.

B. TUJUAN
Memberikan informasi kepada perawat di RS Dr. Moewardi Surakarta tentang
tindakan keperawatan untuk mempercepat proses penyembuhan luka diabetes.



2

C. MANFAAT
Memberikan gambaran artikel/jurnal tindakan keperawatan dengan penggunaan madu
untuk mempercepat proses penyembuhan pada penderita DM dengan IKD setelah
dilakukan perawatan luka.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini terdiri dari 3 BAB yang sistematis disusun sebagai berikut :
1. BAB 1 Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan,
sistematika penulisan.
2. BAB 2 Tinjauan Pustaka, terdiri dari metodologi penelitian dan pembahasan.
3. BAB 3 Penutup, terdiri dari implikasi, kesimpulan dan saran.

























3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasy experiment dengan kelompok
pembanding (control time series design). Populasi diambil di area kerja Puskesmas
Bangetayu dan Genuk Semarang yang dilakukan pada bulan September 2011 hingga
Februari 2012
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita dengan diagnosa Diabetes
Mellitus dengan komplikasi IKD (khususnya grade kurang dari 2). Dalam jurnal ini tidak
disebutkan sampel tipe Diabetes Mellitus. Penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok
sampel yaitu kelompok perlakuan (eksperiment) sejumlah 7 penderita dengan jumlah
wanita sebanyak 4 penderita dan laki-laki sebanyak 3 penderita dan kelompok
pembanding (control) sejumlah 7 penderita dengan jumlah wanita sebanyak 3 penderita
dan laki-laki sebanyak 4 penderita. Dalam penelitian ini tidak dijelaskan untuk kriteria
inklusi dan eksklusinya.
B. PEMBAHASAN
Penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diberi perlakuan dengan
menggunakan NaCl dan madu alami dengan kandungan air kurang dari 18%. Sedangkan
untuk kelompok control adalah diberi perlakuan dengan menggunakan NaCl 0,9%.
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan skor luka
selama 6 bulan (bulan September 2011- Februari 2012). Dalam penelitian ini tidak
dijelaskan cara perawatan luka dan kategori skor luka. Distribusi frekuensi responden
berdasarkan hasil GDS pada pasien diabetes diketahui bahwa sebelum dilakukan
intervensi sebanyak 13 responden memiliki GDS >200 gr/dL dan terdapat 1 responden
memiliki GDS >200 gr/dL sedangakan hasil GDS setelah dilakukan intervensi sebanyak
10 responden memiliki GDS >200 dan sebanyak 3 responden memiliki GDS < 200.
Berdasarkan hasil uji bivariate didapatkan nilai ratarata pembanding kelompok
control sebesar 13,7 sedangkan nilai rata-rata kelompok perlakuan sebesar 9,16 dengan
nilai p=0,008 (p<0,05). Kelompok control atau pembanding adalah kelompok yang
menggunakan metode NaCl, sedangkan kelompok perlakuan atau eksperimen
menggunakan metode madu dan NaCl.
Kelompok eksperimen adalah kelompok yang menggunakan madu alami dengan
kandungan air kurang dari 18% dan NaCl, karena menurut peneliti NaCl memiliki sifat
4

isotonis sehingga aman untuk membersihkan luka dan madu alami memiliki sifat yang
dapat menumbuhkan granulasi jaringan yang baik, serta menimbulkan efek lembab.
Untuk mengetahui apakah madu yang digunakan alami atau tidak dan apakah
kandungan airnya dibawah 18% harus dilakukan uji laboratorium. Dalam penelitian ini
peneliti menggunakan jenis madu yang resmi yang kandungan telah teruji 17%. Factor
yang mempengaruhi kesembuhan luka tergantung derajat atau grade dari luka itu sendiri.
Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa pada hari ke 7 semua responden memiliki
perubahan luka yang baik di antaranya adanya jaringan granulasi baru, tidak ada
peradangan atau reaksi inflamasi dan luka mengering. Tetapi pada kelompok pembanding
tidak ada perubahan diantaranya granulasi sangat lambat, banyak jaringan mati dan masih
adanya reaksi inflamasi ditandai dengan adanya warna kemerahan pada luka.
Menurut Pitoyo (2013), penyembuhan luka dengan menggunakan madu lebih efektif
dibanding dengan menggunakan NaCl. Hasil penelitian Pitoyo (2013) adalah karakteristik
luka pada kelompok madu, luka tampak lebih moist bila dibanding dengan kelompok
minyak zaitun, bioplacenton dan NaCl ketika dibuka pada saat dilakukan rawat luka.
Menurut Bangroo et al., 2001 (dalam Pitoyo, 2013), sifat madu yang mempunyai
viskositas tinggi dan merupakan cairan hiperosmolar memungkinkan tidak ada koloni
dalam kata lain sifat ini juga bias dikatakan sebagai barrier atau penghalang dan mencegah
pertumbuhan bakteri. Kandungan madu yang ikut berperan diantaranya hydrogen
peroksida (H
2
O
2
). Hydrogen peroksida adalah antibakteri dan agen pembersih/cleaning
agent memungkinkan luka tidak terkontaminasi dengan bakteri. Kandungan antibakteri
lainnya adalah methylglyoxal dan senyawa fitokimia lainnya. Senyawa fitokimia juga
berperan sebagai antiinflamasi, merangsang jaringan granulasi dan antioksidan.
NaCl merupakan cairan fisiologis dan merupakan cairan isotonis bagi jaringan
tubuh, tidak mempunyai dampak kerusakan bagi jaringan tubuh tetapi NaCl tidak
mempunyai efek antiseptic bagi luka (Carville, 2012). Peran cairan ini untuk
membersihkan luka pada saat luka dibersihkan. NaCl merupakan agen pembersih yang
efektif ketika diberikan di area luka dengan pembersihan yang adekuat untuk agitasi,
membersihkan lapisan debris dan devitalisasi jaringan yang mungkin tempat
mengumpulnya bakteri (Bryant & Nix, 2007).
Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Januarsih dan Atik (2007) didapatkan hasil
adanya efek penyembuhan luka dengan nilai signifikansi 0,008 yang berarti terdapat
pengaruh yang signifikan terhadap penyembuhan luka dengan madu.


5

BAB III
PENUTUP

A. IMPLIKASI
1. Perawat
Setelah dibahas dalam penelitian ini, metode perawatan luka dengan
menggunakan madu pada pasien DM dapat diterapkan di RS Dr. Moewardi Surakarta
karena metode tersebut sangat mudah dan praktis dilakukan. Hal ini dapat diterapkan
di RS RS Dr. Moewardi Surakarta dengan cara memberikan pelatihan atau sosialisasi
kepada perawat tentang perawatan luka diabetes.
2. Pasien
Pada pasien DM, perawatan luka dengan menggunakan madu ditambah NaCl
ternyata mempunyai efek lebih cepat dalam proses penyembuhan luka dibanding
hanya dengan menggunakan NaCl.
B. KESIMPULAN
Madu memberikan cara lain bahwa perawat dapat menggunakannya untuk
mempercepat proses penyembuhan luka DM. Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat
diterapkan di RS Dr. Moewardi Surakarta.
C. SARAN
Madu merupakan cara yang praktis dan mudah di dapat. Selain itu, madu mempunyai
keefektifan untuk mempercepat proses penyembuhan luka DM. Oleh karena itu, RS Dr.
Moewardi Surakarta dapat mengaplikasikan metode penggunaan madu untuk mengurangi
morbiditas pada pasien DM dengan IKD.











DAFTAR PUSTAKA
6


Bangroo, A.K., Khatri, R., Chauchan, S. 2005. Honey Dressing In Pediatric Burns. J
Indian Assoc Pediatr Surg : 10 : 172-5.
Black, J.M & Hawks, J.H. 2005. Medical Surgical Nursing Clinical Management for
Positive Outcomes : Seventh Edition. Philadelpia : Mosby.
Bryant, R.A & Nix, D.P. 2007. Acute and Chronic Wounds Current Management Conceps
(3
rd
ed). St. Louis Missoury : Mosby Elsevier.
Carville, K. 2012. Wound Care Manual (6
th
ed.). Osborne Park : Silver Chain Foundation.
Januarsih & Atik. 2008. Perbandingan Penyembuhan Luka Terbuka Menggunaka Balutan
Madu atau Balutan Normal Saline-Povidone Iodine. Jurnal Keperawatan
Indonesian, Volume 12. No. 1. Jakarta : FKUI.
Nabyl, R.A. 2009. Cara Mudah Mencegah dan Mengatasi Diabetes Mellitus. Yogyakarta
: Aulia Publishing.
Pitoyo. 2013. Efektivitas Perawatan Luka Bakar Derajat Dua Dalam antara
Menggunakan Madu dan Minyak Zaitun pada Punggung Tikus Galur Wistar.
Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Tjahjadi, V. 2002. Mengenal, Mencegah, Mengatasi Silent Killer : Diabetes. Semarang :
Pustaka Widyamara.