Anda di halaman 1dari 16

Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan berkelanjutan yang


mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan cara
menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam untuk menopangnya.
Belum hilang rasanya duka akibat bencana alam banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah
Surakarta dan sekitarnya hingga Gresik Jawa Timur, kembali banjir menerpa semesta alam
Ngawi. Madiun, Tuban Jawa Timur. Banyak pengangkut kebutuhan pokok harus terhenti akibat
jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Hal ini tentunya semakin menambah kerugian
baik materiil maupun immaterial. Pendek kata, berulangnya bencana alam ini menunjukkan alam
ini sudah rusak.
Setidaknya ada dua hal yang ditengarai menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan, yaitu
laju pertumbuhan penduduk yang relatif cepat dan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan
tehnologi.








Pertumbuhan penduduk yang relatif cepat berimplikasi pada ketersediaan lahan yang cukup
untuk menopang tuntutan kesejahteraan hidup. Sementara lahan yang tersedia bersifat tetap dan
tidak bisa bertambah sehingga menambah beban lingkungan hidup.
Daya dukung alam ternyata semakin tidak seimbang dengan laju tuntutan pemenuhan kebutuhan
hidup penduduk. Atas dasar inilah, eksploitasi sistematis terhadap lingkungan secara terus
menerus dilakukan dengan berbagai cara dan dalih.
Jumlah manusia yang memerlukan tanah, air dan udara di bumi ini untuk hidup pada tahun 1991
sudah berjumlah 5,2 miliar. Jumlah manusia penghuni planet bumi pada tahun 1998 berjumlah
6,8 miliar. Pada tahun 2000 membengkak menjadi 7 miliar. Kalau pertumbuhan penduduk tetap
dipertahankan seperti sekarang, menurut Paul R. Ehrlich, 900 tahun lagi (tahun 2900) akan ada
satu biliun (delapan belas nol di belakang 1) orang di atas planet bumi ini atau 1700 orang
permeter persegi. Kalau jumlah ini diteruskan sampai 2000 atau 3000 tahun kemudian, berat
jumlah orang yang ada sudah melebihi berat bumi itu sendiri.
Sementara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebenarnya diharapkan dapat
memberi kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia ternyata juga harus dibayar amat mahal,
oleh karena dampaknya yang negatif terhadap kelestarian lingkungan. Pertumbuhan industri,
sebagai hasil rekayasa ilmu pengetahuan dan tehnologi dibanyak negara maju terbukti telah
membuat erosi tanah dan pencemaran limbah pada tanah pertanian yang menyebabkan terjadinya
proses penggaraman (solinizasi) atau penggurunan (desertifikasi) pada lahan produktif.
Menurut Clarence J Glicken, penguasaan alam melalui ilmu pengetahuan lebih banyak
bersumber pada falsafah modern yang dikemukakan oleh Frances Bacon, Descartes dan Leibnitz.
Bacon mengemukakan dalam karyanya the New Atlantic bahwa ilmu pengetahuan harus
dikembangkan secara aktif dan menganjurkan penemuan baru untuk merubah dan menguasai
alam sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan manusia.
Descartes dalam the Discourse of Method berpendapat bahwa pengetahuan adalah kunci
keberhasilan atau kemajuan manusia. Manusia perlu mengetahui tentang api, air, tanah, angkasa
luar agar dapat menjadi tua dan pengatur alam. Begitu pula Leibnitz, pada permulaan abad ke-19
Masehi pandangan tersebut di atas mulai mendapat kritik dan tantangan. Pada akhir abad ke-19
masehi banyak sekali padangan lain yang dikemukakan. Ini dapat dibaca dalam buku Charles
Darwin, The Origin of the Species (1859), buku George Perkin Marsh Man and Nature (1864),
buku Charles Dickens Hard Times (1854).
Maka, proses perencanaan dan pengambilan kebijakan oleh lembaga-lembaga negara yang
berkenaan dengan persoalan teknologi dan lingkungan hidup menuntut adanya pemahaman yang
komprehensif dari aktor pengambil kebijakan mengenai masalah terkait.
Pemahaman ini berangkat dari pengetahuan secara akademis dan diperkuat oleh data-data
lapangan sehingga dapat menghasilkan skala kebijakan yang berbasis kerakyatan secara umum
dan ekologi secara khusus.
Kebijakan yang dapat dilakukan adalah kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan yang
berkenaan dengan upaya pendayagunaan sumber daya alam dengan tetap mempertahankan
aspek-aspek pemeliharaan dan pelestarian lingkungan.
Pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan berkelanjutan yang
mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan cara
menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam untuk menopangnya.
Komisi dunia untuk lingkungan dan pembangunan mendefinisikan pembangunan berkelanjutan
sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak
pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.
Tujuan pembangunan berkelanjutan yang bermutu adalah tercapainya standar kesejahteraan
hidup manusia dunia akhirat yang layak, cukup sandang, pangan, papan, pendidikan bagi anak-
anaknya, kesehatan yang baik, lapangan kerja yang diperlukan, keamanan dan kebebasan
berpolitik, kebebasan dari ketakutan dan tindak kekerasan, dan kebebasan untuk menggunakan
hak-haknya sebagai warga negara. Taraf kesejahteraan ini diusahakan dicapai dengan menjaga
kelestarian lingkungan alam serta tetap tersediannya sumber daya yang diperlukan.

Surya, Saturday, 22 March 2008

Implementasi pembangunan berwawasan lingkungan adalah dengan reboisasi, menanam seribu
pohon dan gerakan bersih lingkungan tampaknya mengalami kendala yang berarti. Artinya, tidak
seimbangnya antara yang ditanam dan yang dieksploitasi menjadi salah satu penyebabnya.
Peraturan perudang-udangan pun tidak mampu mencegah kerusakan lingkungan ini.
Misalnya, UU No. 4 Tahun 1984 yang telah diratifikasi dengan UU No. 23 Tahun 1997 Tentang
Lingkungan Hidup. UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, UU No. 5 Tahun 1990 Tentang
Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem pun tidak mampu menangkap cukong kayu kelas
kakap. UU ini hanya mampu menangkap dan mengadili pekerja dan mandor kecil pembalakan
liar.
Sedangkan Maftuchah Yusuf (2000), mengemukakan empat hal pokok dalam upaya
penyelamatan lingkungan. Pertama, konservasi untuk kelangsungan hidup bio-fisik. Kedua,
perdamaian dan keadilan (pemerataan) untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari dalam hidup
bersama.
Ketiga, pembangunan ekonomi yang tepat, yang memperhitungkan keharusan konservasi bagi
kelangsungan hidup bio-fisik dan harus adanya perdamaian dan pemerataan (keadilan) dalam
melaksanakan hidup bersama. Keempat, demokrasi yang memberikan kesempatan kepada semua
orang untuk turut berpartisipasi dalam melaksanakan kekuasaan, kebijaksanaan dan pengambilan
keputusan dalam meningkatkan mutu kehidupan bangsa.
Jika hal-hal tersebut di atas tidak segera ditindaklanjuti dan dilaksanakan dengan segera dengan
menangkap, mengadili dan menghukum seberat-beratnya pembalak liar maka tidak lama lagi
bumi akan musnah. Kemusnahan bumi juga berarti kematian bagi penduduk bumi termasuk di
dalamnya manusia.

Benni Setiawan
Peneliti pada Yayasan Nuasa Sejahtera
Diposkan oleh Benni Setiawan di Sabtu, Maret 22, 2008


Diaksese tgl 9 Maret 2012, jam16.57
http://bennisetiawan.blogspot.com/2008/03/pembangunan-berwawasan-lingkungan.html
























Pembangunan Berwawasan Lingkungan
Oleh: Agustina Rukhmindani Trisrini, S.IP. Peneliti RIVER Yogyakarta.
Pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu opsi pemecah jalan buntu kemiskinan dan
keterbelakangan masyarakat merupakan bagian dari proses panjang pembangunan. Upaya
pemberdayaan ekonomi ini diharapkan bisa mencakup konsep pembangunan berkelanjutan yang
mengisyaratkan adanya garansi bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat di masa yang akan
datang. Dalam garansi kehidupannya masyarakat lintas generasi berhak sepenuhnya untuk bisa
terus menerus menikmati hasil-hasil dari pemberdayaan tanpa mengurangi kualitas sekaligus
kuantitas sumber daya yang dimiliki selama ini.
Berbicara tentang pembangunan berkelanjutan (sustainable development), di masa depan arah
dan cara pembangunan yang mana mencakup pemberdayaan ekonomi akan semakin banyak
menuntut dan atau dipengaruhi oleh pertimbangan lingkungan hidup. Terkandung arti bahwa
pembangunan harus mendorong adanya alih teknologi yang lebih ramah lingkungan. Teknologi
sebagai sarana pembangunan sedapat mungkin meminimalisir penyebab kerusakan-kerusakan
lingkungan yang termasuk di dalamnya sumber daya alam dan sumber daya manusia itu sendiri.
Lebih penting lagi bahwa hasil-hasil pembangunan harus berdasar pada prinsip pemerataan dan
keadilan, dimana sungguh menjadikan masyarakat sebagai sentral pembangunan yang akan
menikmati manfaat dari pemberdayaan tersebut. Bukan sebaliknya hanya disinyalir sebagai
bagian dari upaya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja dan akhirnya mengorbankan
masyarakat dan lingkungan.
Namun tidak dapat dielakkan bahwa pemberdayaan ekonomi akan memunculkan keprihatinan
dan perhatian terhadap aspek-aspek kemerosotan fungsi nilai-nilai sumber daya alam dan
manusia yang disinyalir sebagai akibat adanya ketidakselarasan, keserasian dan keseimbangan
dalam proses pemberdayaan ekonomi. Ketersediaan sumber daya alam terbatas dan tidak merata,
baik dalam jumlah maupun dalam kualitas, sedangkan permintaan akan sumber daya alam
tersebut makin meningkat sebagai akibat meningkatnya kegiatan pembangunan untuk memenuhi
kebutuhan penduduk yang makin meningkat pula dan beragam. Dipihak lain daya dukung
lingkungan hidup dapat terganggu dan daya tampung lingkungan hidup dapat menurun.
Keprihatinan dan perhatian terhadap aspek-aspek sumber daya sebagai daya dukung lingkungan
hidup dalam pembangunan ekonomi ini tidak hanya berkembang di Indonesia saja, tetapi dapat
dikatakan merata di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh dua hal, pertama karena kemerosotan
keadaan dan mutu lingkungan secara global dan kedua, kesadaran mengenai keterkaitan antara
lingkungan dan pembangunan sehingga mau tidak mau lingkungan hidup harus mendapat
perhatian cukup. Bahkan beberapa waktu lalu keprihatinan persoalan lingkungan akibat
pemanasan global mendapat porsi khusus dalam koferensi negara-negara dunia yang
dilaksanakan di Bali. Kesempatan tersebut diyakini telah menghasilkan kebijakan untuk semakin
memperhatikan langkah-langkah pembangunan yang bersendikan keberpihakan pada lingkungan
hidup.
Dengan semakin terbatasnya sumber daya alam baik dari segi kualitas maupun kuantitas maka
pemanfaatan sumber daya alam tersebut harus dilakukan secara bijaksana dan terencana dengan
baik sehingga dapat menjamin kelestarian lingkungan hidup. Oleh karena itu pembangunan yang
ramah lingkungan atau bisa disebut pembangunan berwawasan lingkungan sudah sepatutnya
dipikirkan lebih lanjut oleh setiap komponen bangsa. Lebih jauh pembangunan berwawasan
lingkungan merupakan upaya sadar dan berencana dalam pembangunan sekaligus pengelolaan
sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan.
Kunci pembangunan berwawasan lingkungan adalah AMDAL (Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan). AMDAL memunyai maksud sebagai alat untuk merencanakan tindakan preventif
terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin akan ditimbulkan oleh suatu aktivitas
pembangunan yang sedang direncanakan. Di Indonesia, AMDAL tertera dalam Undang-undang
nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan pelaksanaannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 1999. Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau
kegiatan (pembangunan) yang memungkinkan dapat menimbulkan dampak besar dan penting
terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan sekaligus
sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.
Dengan dasar tersebut yang akan bertanggung jawab penuh terhadap kerusakan yang mungkin
terjadi akibat suatu proses pembangunan adalah pemilik atau pemrakarsa proyek pembangunan
yang bersangkutan dengan sepenuhnya membiayai dan menyeleanggarakan AMDAL.
Berbagai upaya dalam pengendalian dampak lingkungan akan berjalan dengan baik apabila
tersusun dan terencana dengan baik pula, melalui tahapan proses pembangunan dengan
melibatkan berbagai unsur masyarakat. Hal ini selaras pula dengan salah satu prinsip
pemberdayaan ekonomi yang mensyaratkan adanya unsur partisipatif dari masyarakat.
Pemberdayaan ekonomi dalam pembangunan harus sesuai dengan nilai dan kondisi sosial
budaya yang mendukungnya. Namun ironisnya, masyarakat sebagai penerima dampak negatif
dari sebuah proyek pembangunan itu sendiri, sering kali acuh tak acuh atau seolah-olah tak mau
tahu terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Padahal dalam pembuatan AMDAL,
wajib melibatkan pihak masyarakat dan pihak-pihak terkait sebagai pemberi masukan dan saran
dalam mengidentifikasi dampak.
Pentingnya melibatkan peran serta masyarakat yang berdasarkan pula pada unsur-unsur nilai
lingkungan sosio-budayanya sudah disyarakatkan pula dalam Bab VI Peraturan Pemerintah
No.27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Menurut peraturan ini,
rencana usaha atau kegiatan wajib AMDAL harus diumumkan kepada masyarakat sebelum
pemrakarsa menyusun AMDAL, dan warga masyarakat yang berkepentingan berhak
mengajukan saran, pendapat, dan tanggapan tentang rencana usaha atau kegiatan tersebut. Pada
tahun 2000 Pemerintah RI pernah mengeluarkan Surat Keputusan Kepala Bapedal Nomor 08
Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL
yang mengatur proses keterlibatan masyarakat secara lebih rinci. Masyarakat berhak tahu tentang
perubahan lingkungannya, karena masyarakat terdiri dari berbagai orang yang memiliki beragam
informasi, data, dan pengetahuan. Masyarakat harus sadar bahwa mereka memiliki pengetahuan
yang jauh lebih baik tentang wilayahnya daripada sekumpulan tenaga ahli yang akan menggarap
wilayahnya. Sehingga nantinya proyek pemberdayaan yang dijalankan sungguh sesuai dengan
nilai-nilai dan kearifan lokal. Bahkan bisa merangkum aset-aset budaya daerah untuk dapat
dikenalkan sebagai bagian dari hasil proses pemberdayaan masyarakat disamping pemberdayaan
yang fokus pada sektor ekonomi saja. Dengan kata lain pemberdayaan ekonomi yang partisipatif
akan mengangkat nilai sektor-sektor lain dari unsur budaya masyarakat setempat.
Ditulis oleh riveryogya
Februari 27, 2008 pada 11:01 am



http://riveryogya.wordpress.com/2008/02/27/pembangunan-berwawasan-lingkungan/

































PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

Di posting oleh Syafrudin 30 April 2008, 1.39 AM

Membangun merupakan kata kunci bagi seluruh lapisan struktural antara pemerintah,
swasta dan partisipasi masyarakat. Prinsip pembangunan berwawasan lingkungan
adalah pendayagunaan sumber daya alam sebagai pokok kemakmuran rakyat
dilakukan secara terencana, bertanggungjawab, dan sesuai daya dukungnya dengan
mengutamakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta memperhatikan kelestarian
fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan berkelanjutan
(sustainable development).
Konsep pembangunan ini bertujuan membangun kualitas SDM (Sumber Daya
Manusia) yang mampu menyelaraskan tanggung jawab moral dengan strategi
pembangunan berwawasan lingkungan. Hal ini perlu ditegaskan mengingat adanya
kecenderungan gaya hidup konsumerisme, hingga bergesernya potensi fisik alami
manusia (nature of human physical potention) akibat meluasnya pemanfaatan perangkat
teknologi (dependent on technological instruments) dalam proses pembangunan itu
berlangsung.
Konsep pembangunan yang ramah lingkungan ini bersifat ekonomis, karena
dapat menghasilkan keuntungan lebih besar dengan modal yang lebih kecil yang
bersifat bekelanjutan (sustainable). Baik dari segi lingkungan biogeofisik-kimiakarena
tidak terjadi kerusakanmaupun sosial-ekonomi dan budaya.
Problem pembangunan yang hanya bertumpu pada satu aspek menyebabkan
keterbelakangan dan kemiskinan menjadi suatu hal yang anakronistis, yang
memperdebatkan the gap between poor and rich tentang perbedaan urgensi environmental
priorities. Karena itu, strategi pembangunan yang konseptual harus meletakkan konsep
pembangunan dengan unsur SDM yang integral dan bermoral.
Kompleksitas pembangunan melahirkan aneka pro dan kontra. Artinya,
kolaborasi dampak pembangunan biasanya melahirkan dua temperamen. Pertama,
pembangunan akan menghasilkan output yang bersifat positif, yang secara langsung
maupun tidak langsung berpengaruh pada perubahan kualitas hidup. Kedua, akan
menimbulkan pula dampak negatif yang tidak menguntungkan seperti berdirinya
industri kimia. Di satu sisi bermanfaat untuk menunjang kualitas hidup manusia,
namun limbah industri tersebut menjadi problema bagi lingkungan hidup.
Peristiwa mengerikan dari tragedi Bhopal, India (3 Desember 1984), yakni
bocornya gas beracun pabrik pestisida milik Union Carbide, menjadi pelajaran bagi kita
semua. Di mana, secara mengerikan telah menyebabkan kematian sekitar 2.800 nyawa
manusia. Korban lain yang harus menderita cacat seumur hidup karena kerusakan
mata atau paru-paru mencapai lebih dari 150.000 orang.
Sementara itu, penyakit Minamata juga siap menyerang warga masyarakat di
sekitar lokasi pertambangan atau pabrik dengan lepasnya berton-ton air raksa (mercury)
dalam proses pendulangan emas. Penyakit Minamata telah menjadi salah satu contoh
penyakit mengerikan akibat pencemaran mercury dari pabrik asetaldehida di Teluk
Minamata Jepang. Penyakit Minamata ini mengakibatkan gangguan sistem saraf pusat
(central nervous system), gangguan penglihatan dan pendengaran, gangguan fungsi
ginjal dan kesuburan kandungan, membahayakan otak janin dan menimbulkan
gangguan sistem saluran pencernaan (gastrointestinal).
Pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia telah dinyatakan dalam berbagai
kemauan politik (goodwill) pemerintah berupa berbagai kebijakan, program dan
kegiatan. Tetapi karena adanya keterbatasan sumber dana dan hambatan sosial-politik,
kultural, dan sumber daya lainnya, maka pengelolaan lingkungan hidup menjadi
sangat marginal. Faktor yang memengaruhi marginalisasi pengelolaan lingkungan
hidup adalah kerumitan masalah lingkungan dan penegakan hukumnya.
Faktor pertama, berupa kerumitan masalah lingkungan di Indonesia dicirikan
oleh jumlah penduduk yang tinggi, dengan penyebaran yang tidak merata. Adanya
tingkat kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan, membuat sebagian besar
penduduk sulit memahami konsep pelestarian lingkungan hidup.
Faktor kedua, disebabkan kurangnya koordinasi dan integrasi pengelolaan
lingkungan hiduptujuan dan sasaran program pembangunan nasional, baik antara
daerah, dunia usaha maupun masyarakat luas.
Faktor ketiga, adalah terbatasnya mandat kelembagaan. Apabila masalah
pengelolaan lingkungan hidup belum diinternalisasikan di semua bidang, maka
masalah kerusakan atau pencemaran lingkungan hidup akan terus timbul. Untuk
mengatasinya, masalah mandat lembaga lingkungan perlu dipertegas dengan
kewenangan penuh dari pemerintah yang didukung alokasi dan SDM yang memadai
serta struktur organisasi yang solid.

Revolusi industri
Tuwarek Narkime, tetua adat suku Amungme, Papua, dalam buku Merana di Tengah
Kelimpahan (Elsam, 1998), merintih dalam kepedihan: Saya selalu bertanya pada
Tuhan, dalam pikiran dan doa saya setiap hari. Mengapa Tuhan menciptakan gunung
dan salju yang indah di daerah Amungme? Freeport, ABRI, dan orang luar datang
mengambilnya, sementara kami menderita. Ditangkap, dibunuh tanpa alasan. Saya
benar-benar marah pada Tuhan, mengapa Dia menempatkan segala gunung indah dan
barang tambang itu di sini.
Harus diakui bahwa revolusi industri telah mengubah kehidupan sosial-budaya
mereka secara total, karena tanah ulayatnya menjadi kawasan pembuangan limbah
tailing (ampas logam jadi) sisa pengolahan pabrik konsentrat PT Freeport Indonesia
yang kerap dibuang ke laut atau ke sungai sesuai konsep Submarine Tailings Disposal
(STD).
Sejak Grasberg ditambang, overburden (batuan penutup bijih tambang yang dibuang)
sudah mencapai 0,8 miliar ton. Sementara limbah tailing mencapai 220.000 ton sehari
dibuang ke Sungai Ajkwa. Endapan halus tailing bahkan sampai ke kawasan estuari,
menumpuk di hutan bakau dan membentuk delta baru. Kawasan Grasberg pada
ketinggian 4.200 m merupakan daerah penambangan tembaga, emas, dan perak
terbesar di dunia.
Penggalian bijih dan pengupasan batuan penutupnya mengakibatkan terbentuknya
lubang bekas tambang mencapai 410 ha dan kedalaman 1.300 meter. Batuan penutup
ditimbun di sekitar lubang tambang terbuka di Lembah Carstenz, Grasberg Barat, dan
Danau Wanagon. Dari total bijih yang diolah, hanya 3% yang bisa menjadi konsentrat
tembaga, emas, dan perak. Sisanya (97%) dibuang kembali ke alam dalam bentuk tailing
yang dialirkan dari dataran tinggi melalui sistem sungai AghawagonOtomonaAjkwa.
Overburdenyang akan mencapai sekitar 2,675 miliar ton di akhir masa
penambangandan limbah tailing yang jumlahnya luar biasa inilah yang menimbulkan
dampak terhadap lingkungan hidup berupa perubahan habitat flora sub-alpina,
geoteknik, geokimia, dan geomorfologi. Adapun pengendapan limbah tailing di DPA
menimbulkan dampak berupa perubahan flora terestrial, biota aquatik, kualitas air, dan
geokimia; termasuk senyawa sulfida logam dari batuan limbah seperti FeS2, jika
bereaksi dengan oksigen di udara dan air dapat teroksidasi menjadi sulfat (air asam
batuan).
Berbagai kondisi di lapangan menunjukkan kerusakan hutan dan perubahan fungsi
danau atau sungai yang parah dan memprihatinkan. Secara kasat mata, dari darat, laut
dan udara, endapan limbah tailing terlihat di mana-mana. Kondisi ini menyebabkan
meningkatnya kekeruhan air di daerah estuari, membuat biota air yang menyukai air
jernih punah, termasuk perubahan total kehidupan sosial-budaya masyarakat setempat.




http://dinazhar.multiply.com/journal/item/8/Pembangunan_Berwawasan_Lingkungan



















UNSUR-UNSUR LINGKUNGAN
1 . U n s u r a b i o t i k
Abiotik berasal dari kata
A dan biotic. A ar t i nya t i dak, b i o t i c a r t i n y a b e r s i f a t hidup. Jadi abiotik berarti tidak
hidup.Komponen- komponen ekol ogi abi ot i k meliputi air, udara, dan tanah.
A . A i r

Air yang berada di permukaan bumitergenang sebagai rawa, sungai, waduk,maupun laut. Air yang berada di
dalam bumi sebagai air tanah. Air tanah keluarke per mukaan bumi s ebagai mat a ai r , atau
dapat karena dipompa dan ditimba. Air juga ada di dalam tubuh manusia, didalam tubuh makhluk hidup
hewan, dan tumbuhan.
b . U d a r a
Akibat semakin bertambahnya industri dan kendaraan bermotor, saat ini udaradi kota-kota besar semakin
tercemar. Pencemaran itu berasal dari asap pabrik, asapkendar aan ber mot or , l i mbah i ndus t r i
dan r umah t angga ( s ampah) . Mengi ngat pentingnya udara bagi kehidupan maka
udara harus dijaga agar tetap bersih dantidak tercemar. Caranya adalah dengan menanam banyak
pohon (terutama di kota-k o t a b e s a r ) , m e n g g u n a k a n m e s i n i n d u s t r i
m a u p u n k e n d a r a a n y a n g r a m a h lingkungan serta pengelolaan limbah (sampah)
yang baik.Udara yang menyelubungi bumi kita ini terdiri atas gas-gas. Gas-gas tersebutadalah
Nitrogen (78%), Oksigen 21 (%), Argon (0,9%), Karbondioksida (0,03%), donKripton, Neon, Xenon, Hidrogen,
Helium, don Ozon sebesar 0,07%. Gas-gas tersebut juga sangat berguna bagi manusia. Di antara banyak gas,
maka gas yang vital untukkehidupan adalah Oksigen.
c . T a n a h
Tanah merupakan batuan yang sudah lapuk bercampur dengan sisa makhlukhidup, air, dan udara. Tanah
merupakan lapisan bagian atas bumi tempat tumbuhnyatanaman. Tanah mempunyai banyak fungsi dalam
ekologi antara lain sebagai tempathidup organisme. Tanah sangat penting bagi kehidupan. Tanah yang subur
menjaditempat tumbuhnya tanaman pangan bagi manusia ataupun hewan. Tanah
juga


2 . U n s u r B i o t i k
Unsur biotik adalah segala sesuatu yang terdapat di sekitar kita yang berwujudmakhluk hidup (organisme).
Misalnya hewan dan tumbuhan.Kelompok ekologi biotik meliputi bermacam-macam jenis dan spesies
makhlukhidup. Ekosistem biotik dibedakan menjadi dua yaitu produsen dan konsumen.
a . P r o d u s e n
Makhl uk hi dup yang di kel ompokkan menj adi gol ongan pr odus en di s ebut
autotrof
, adalah kelompok produsen yang mampu membuat makanan untuk dirinyas endi r i . Tanaman hi j au
mer upakan kel ompok pr odus en pada ekos i s t em dar at . Tanaman hijau
membuat makanan sendiri dengan bantuan sinar matahari. Olehkarena itu, sinar matahari
sangat dibutuhkan oleh tanaman hijau.
b . K o n s u m e n
Kel ompok ekos i s t em dal am kl as i f i kas i kons umen s er i ng di s ebut
het er ot r of ,
adalah organisme yang memakan organisme lain baik sesama organisme konsumenmaupun organisme
produsen. Beberapa jenis kelompok organisme konsumen yangtergantung pada jenis makanannya,
seperti:1)Konsumen primer (herbivora), memakan l angsung tanaman atau jenis
produsenlain.2 ) K o n s u me n s e k u n d e r ( k a r n i v o r a ) , me ma k a n k o n s u me n
p r i me r . 3 ) K o n s u m e n t e r s i e r ( k o n s u m e n t i n g k a t
t i n g g i ) , h a n y a m e m a k a n b i n a t a n g pemakan binatang.4) Pemakan
s egal a ( omni vor a) , memakan t anaman dan bi nat ang. 5)Pemakan si sa
(detrivora), memakan bagian-bagian organi sme yang telah matidan mengubahnya
menjadi partikel-partikel organik, contohnya semut, cacing,rayap dan sebagainya.
3. Uns ur Sos i al dan Budaya
Manusia adalah sebagai bagian dari unsur-unsur ekosistem yang tidak mungkindapat dipisahkan.
Oleh karena itu, sepertih a l n y a d e n g a n o r g a n i s m e
l a i n n y a , kel angs ungan hi dup manus i a t er gant ung pula pada kelestarian
ekosistemnya. P e n g a r u h m a n u s i a t e r h a d a p l i n g - k u n g a n a d a
t i g a , y a i t u p e r u s a k a n l i ngkungan, pel es t ar i an l i ngkungan,
danperbaikan lingkungan.
Lingkungan sangat penting bagi kehidupan umat manusia. Banyak manfaat yang
dapat di pet i k, ant ar a l ai n s ebagai s umber daya al am unt uk
mendukungkehidupan manusia, contohnya keberadaan tumbuhan dan hewan.
1 . T u m b u h a n
I ndones i a t er mas uk negar a yang memi l i ki keka yaan dan
keanekar agamans u mb e r d a y a ( t e r u t a ma s u mb e r d a y a h a y a t i )
t e r t i n g g i d i d u n i a . J e n i s t u mb u h - tumbuhan sebanyak 25000 jenis atau kira-kira
10% dari flora di dunia. Persebaran jenis-jenis tumbuhan berada pada kawasan hutan tropis
basah yang merupakanhut an pr i mer yang mas i h menut upi wi l ayah dar at an
I ndones i a ki r a- ki r a 63 %. Persebaran tumbuhan di Indonesia dipengaruhi oleh faktor geografi, yaitu
kondisitanah dan iklim. Wilayah Indonesia mempunyai dua paparan atau dangkalan, yaitudangkalan Sunda di
Indonesia bagian barat dan dangkalan Sahul di Indonesia bagiantimur.Tumbuhan jenis rotan terdapat di
kawasan Indonesia bagian barat. Tumbuhanmeranti yang berupa pohon besar dan jenisnya ada sekitar 335
macam. Tumbuhanini hanya terdapat di Indonesia bagian barat. Pohon ini mendominasi dan
merupakantumbuhan utama di hutan-hutan primer Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan.Pulau
Jawa kurang lebih memiliki 50 jenis kayu yang berkualitas tinggi sedangkanuntuk Indonesia secara
keseluruhan terdapat kurang lebih 4000 jenis.Di dalam hutan terdapat sumber daya hayati yang dapat
dimanfaatkan untukkepentingan hidup manusia. Sumberdaya hayati hutan meliputi karbohidrat,
zatpewarna, zat pengawet, obat-obatan dan sebagainya.
2 . H e w a n
Di Indonesia hidup kurang lebih 220.000 jenis hewan (200.000 jenis serangga),4.000 jenis ikan, 2.000 jenis
burung, 1.000 jenis reptil dan amfibia. Atas dasar paparanSunda dan Sahul jenis hewan pun ikut terbagi dua
kelompok dan dipisahkan olehgaris Wallace.Wilayah Indonesia barat (Paparan Sunda) banyak memiliki jenis
mamalia dan burung, kira-kira ada 70% merupakan penghuni daratan dengan hutan primernya.Sumber daya
hewani laut mempunyai potensi kurang lebih 40 juta ton pertahuntetapi yang dimanfaatkan
baru 20%, yaitu meliputi ikan, udang, kerang. Ikan lautkira-kira ada 2000 jenis dan yang mempunyai
nilai ekonomis hanya sekitar 40 jenis


42
IPS SMP/MTs Kelas VIII
Beberapa bentuk kerusakan lingkungan, antara lain kerusakan lingkungan lahan(tanah dan tumbuhan),
kerusakan lingkungan air, dan kerusakan lingkungan udara.
KERUSAKAN LI NGKUNGAN HI DUP
1. Ker us akan L i ngkungan Lahan
B e b e r a p a h a l y a n g m e n y e b a b k a n r u s a k n y a l i n g k u n g a n
l a h a n h i n g g a mengakibatkan lahan kritis, antara lain adanya:
Penebangan hutan oleh masyarakat petani untuk memperoleh lahan pertanian bar u.
Penebangan hutan yang dilakukanpara pengusaha tanpa memerhati -kan t ebang
pi l i h, ber aki bat hut an m e n j a d i l a h a n g u n d u l , h e w a n banyak yang
mati. Akibat lainnyaadalah akan mengakibatkan tanahl o n g s o r d a n b a n j i r
p a d a w a k t u musim penghujan, karena air sudaht i dak di t ampung l agi di
kawas anhutan dan akan langsung mengalirdi daerah permukaan. Pada waktumusim kemarau
kesulitan air baikuntuk air rumah tangga, pertanian,maupun industri.

2. Ker us akan L i ngkungan Ai r
Hal utama yang menyebabkan kerusakan lingkungan air adalah pembuanganlimbah yang mengakibatkan
pencemaran air.
CKerusakan Lingkungan Hidup
Limbah cair pabrik masuk ke sungai.

3. Ker us akan L i ngkungan Udar a
H a l u t a m a y a n g m e n y e b a b k a n k e r u s a k a n l i n g k u n g a n
u d a r a a d a l a h p e m b u a n g a n l i m b a h g a s m e s i n
y a n g m e n g a k i b a t k a n p e n c e m a r a n u d a r a . Contohnya di kota-kota besar,
Kawasan JABOTABEK (Jakarta, Bogor, Tangerang,dan Bekas i ) , Semar ang, Sur abaya, dan lain-
lainnya.Tujuan pembangunan di samping membentuk manusia Indonesia seutuhnya juga
mengatasi dan menjaga agar sumber daya alam dan lingkungan tetap lestari.Un t u k i t u
ma s y a r a k a t h a r u s ( 1 ) me n j a g a a g a r t i d a k me r u s a k l i n g k u n g a n ,
( 2 ) memelihara dan mengembangkan agar sebagai sumberdaya alam tetap tersedia, (3)daya guna dan
hasil guna harus dilihat dalam batas-batas yang optimal, (4) tidakm e n g u r a n g i
k e m a m p u a n d a n k e l e s t a r i a n s u m b e r a l a m l a i n , d a n ( 5 )
p i l i h a n penggunaan sumberdaya alam guna persiapan di masa depan.

CARA PELESTARI AN LI NGKUNGAN
1. Rehabi l i t as i Lahan Kr i t i s
a . R e h a b i l i t a s i l a h a n k r i t i s d i l a k u k a n d e n g a n c a r a
p e n g e l o l a a n d a n p e n g o l a h a n t a n a h , s i s t e m i r i g a s i , pol a t anam,
pember ant as an hamad a n g u l m a , p e n c e m a r a n a i r d a n s e b a g a i n y a .
Un t u k d a e r a h r a wa n erosi terutama di daerah bantaransungai, lereng pegunungan,
dilaku-kan dengan cara penanaman dengant e r a s e r i n g , t a n a ma n p e n g u a t d a n pol a
t anam dar i l ahan t er buka ke lahan model kontur. b.Rehabilitasi lahan hutan karena
pola ladang berpindah dilakukan dengan caramemberi pengarahan tentang kerugian ladang
berpindah kepada para peladang.Penertiban kawasan hutan, sosialisasi aturan, larangan dan sanksi, kepada
seluruhmasyarakat, baik para pengusaha yang memiliki hak penebangan hutan maupunmasyarakat tradisional
yang hidup di dekat hutan.
2. Mencegah Pencemar an Ai r
a . M e l i n d u n g i t a t a a i r d e n g a n c a r a r e h a b i l i t a s i h u t a n
l i n d u n g , p e n c e g a h a n kerusakan hutan, perluasan hutan, mencegah erosi untuk daerah yang
hujannyatinggi, pengawetan tanah. Melindungi sungai dari pencemaran limbah buanganrumah tangga, industri.
Membuat peresapan air hujan untuk daerah yang padatper muki mannya. b . Me n g a w a s i
s i s t e m p e m b u a n g a n l i m b a h k e l a u t , s i s t e m p e n a n g k a p a n
i k a n dengan racun, dan perlindungan karang laut. Contohnya di sepanjang pantaiutara Jawa, Sekitar
Krakatau, Selat Malaka Kepulauan Mentawai.
3. Mencegah Pencemar an Udar a
T e r u t a m a k a w a s a n i n d u s t r i d a n kota-kota besar di Jawa, Sumatera
danKalimantan, telah dilakukan pengawasantingkat pencemaran pabrik, dan kendara-an bermotor. Di Jakarta pada
tahun 2005telah diberlakukan pelarangan merokokd i t e m p a t u m u m , y a n g
m e l a n g g a r sanksinya sangat keras, yaitu dapat di-d e n d a h i n g g a R p 5 0 j u t a
r u p i a h a t a u hukuman kurungan hingga enam bulan.Demikian pula kendaraan bermotor yang banyak
mengeluarkan asap juga dilarangdi beberapa tempat tertentu di perkota-a n . H a l i t u
s e m u a d i l a k u k a n a g a r l i n g k u n g a n h i d u p k i t a t i d a k
s e ma k i n rusak.Tujuan pembangunan berwawasan lingkungan adalah agar masyarakat
yangmemanfaatkan sumber daya alam tidak merusak lingkungan. Untuk itu
dalampengel ol aan s umber daya al am per l u memer hat i kan keadaan
l i ngkungan agar ekosistem lingkungan tidak terganggu. Sumber daya alam merupakan
penopangk e h i d u p a n p e n d u d u k y a n g p e r l u d i j a g a
k e l e s t a r i a n n y a , k a r e n a k e b u t u h a n pemenuhan tersebut akan terus berlanjut.
Untuk melakukan pembangunan denganmemanfaatkan dan mengelola sumber daya alam
maka perlu ilmu pengetahuandan teknologi yang tidak merusak ekosistem.

Tujuan Pembangunan Berwawasan Lingkungan
Agar terjaga kelestariannya maka pemerintah dan masyarakat perlu antara lain:
Menjaga kawasan tangkapan hujan, yaitu lereng pegunungan harus tetap banyakpohon-
pohonnya.
Apabila lereng pegunungan menjadi kawasan permukiman, harus banyak
dibuatsumur-sumur resapan air.
P e l a r a n g a n p e m b u a n g a n a i r l i m b a h , l a n g s u n g k e s u n g a i , k e
d a l a m s u m u r peresapan ataupun ke laut. Sebelum air limbah dibuang harus
diolah lebihdahul u. Ai r t i nj a pun di buang dal am s umur r es apan yang
menggunakanperlapisan ijuk dan pasir.
Reboisasi

HAKIKAT PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN
Hakikat atau pokok-pokok arahan kebijaksanaan di bidang sumber alam danlingkungan hidup
dalam pembangunan berwawasan lingkungan sebagai berikut.
1 . I n v e n t a r i s a s i s u m b e r d a y a a l a m .
2 . P e ma n f a a t a n t e k n o l o g i y a n g me ma d a i .
3 . Me n i l a i d a mp a k t e r h a d a p l i n g k u n g a n h i d u p .
4 . R e h a b i l i t a s i s u m b e r d a y a a l a m .
5. Pendayagunaan wi l ayah dengan t i dak mer us ak l i ngkungan hi dup.


CI RI - CI RI PEMBANGUNAN BERWAWASAN LI NGKUNGAN
Kebijaksanaan Pembangunan dengan Wawasan Lingkungan meliputi:
1 . M e m b e r i k a n k e m u n g k i n a n b a g i s e t i a p w a r g a u n t u k
m e n e n t u k a n p i l i h a n berbagai ragam hidup, tidak hanya sekadar meningkatkan taraf hidup
berupamateri maupun hanya meningkatkan mutu taraf hidup.
2 . P e m b a n g u n a n b e r w a w a s a n l i n g k u n g a n t i d a k h a n y a
s e k a d a r m e n y a n g k u t pengendalian perubahan sumber daya alam secara fisik saja
3.Berkaitan erat dengan pengaturan ekonomi dan sosial bagi warga maupun
bagilembaga
4.Melakukan langkah-langkah yang dapat menimbulkan peri laku berperan
sertamasyarakat secara luas dalam pembinaan etika lingkungan, sehingga terciptakeadaan yang
selaras dan serasi dengan wawasan lingkungan hidup
5.Mencegah adanya akibat sampingan yang akan merugi kan masyarakat
6 . P e m b a n g u n a n d i h a r a p k a n m e m p e r o l e h h a s i l
y a n g o p t i m u m d a n b e r - kesinambungan dalam usaha peningkatan
kesejahteraan rakyat.
http://www.scribd.com/doc/34826071/15/ETujuan-Pembangunan-Berwawasan-Lingkungan