Anda di halaman 1dari 24

1

SKENARIO IV

Pasien perempuan, usia 27 tahun datang ke bagian bedah mulut dengan
keluhan bengkak di bawah dagu dan sakit sejak 2 hari yang lalu. Awalnya pasien
mengeluh sakit gigi 33, beberapa hari kemudian timbul bengkak di bawah dagu
dan terus membesar. Riwayat pembengkakan sering dikeluhkan pasien dan
biasanya pasien mengobati sendiri dengan membeli obat di warung. Pasien
memiliki tekanan darah sistol 180 mmHg dan diastol 100 mmHg. Dari
pemeriksaan intraoral, terdapat sisa akar gigi 33, kemerahan di gusi regio 33,
lidah tidak terangkat, palpasi lunak, sakit, diffuse, dan terdapat fluktuasi.
Pemeriksaan ekstra oral tampak dagu seperti ganda warna kemerahan, diffuse,
sakit dan tidak ada fluktuasi. Pasien minta secepatnya giginya dicabut karena
kesakitan, tetapi dokter gigi menyarankan konsul dulu ke dokter jantung baru
dilakukan ekstraksi gigi 33.

STEP 1
1. Regio middle jugularis sinistra : bagian tengah sebelah procesus
jugularis dan sedikit ke sinister foramen jugularis sebelah kiri
2. Infeksi odontogen : rusaknya jaringan keras gigi dan
penyangga gigi berupa infeksi primer atau sekunder karena bakteri
patogen flora normal rongga mulut yang berubah menjadi patogne
3. Insisi : pembuatan jalan keluar nanah
secara bedah dengan tujuan untuk mencegah perluasan abses di jalan lain
4. Submental : di bawah os mentalis di mandibula
yang dibatasi oleh :
Lateral = m. Digastricus
Superior = m. Mylohyoid
Bawah = kulit
5. Fluktuasi : Cairan yang teraba dalam
pembengkakan

2

STEP 2
1. Apakah hubungan antara sisa akar pada gigi 33 dengan gejala dari pasien?
2. Apakah diagnosa pada skenario?
3. Mengapa obat yang dibeli oleh pasien tidak menimbulkan efek?
4. Mengapa dokter gigi menyarankan pasien agar konsul dulu sebelum
melakukan perawatan?
5. Bagaimana penatalaksanaan hipertensi?
6. Bagaimana penatalaksanaan infeksi odontogen?

STEP 3
1. Gangren radiks merupakan port the entru mikroorganisme penyebab
infeksi denrtoalveolar karena pulpanya sudah terbuka dan gigi sudah
nekrosis
Sehingga gangren radiks dapat menimbulkan inflamasi sehingga daya
tahan tubuh pasien menurun. Yang mempengaruhi penyebaran dari infeksi
tersebut adalah viulensii, anatomi yang terlibat. Ketika daya tahan tubuh
pasien menurun, penyebaran infeksi akan lebih cepat dan meluas ke
periapikal lalu menuju ke periosteum. Ketika sudah mencapai periosteum
penyebarannya akan lebih cepat meluas dan menuju ke daerah leher
dikarenakan pus sedang mencari jalan keluar.
Tidak terdapat pus di intra oral disebabkan oleh pus tidak mencari jalan
keluar melalui daerah intra oral, melainkan melalui daerah lain.
2. Diagnosakasuspadaskenarioadalah
submukus abses di regio submental disertai gingival abses dan
pembengkakan ekstraoral
Setelah menembus korteks dan periosteum tulang labial/bukal pus yang
berasal dari infeksi periapikal masuk ke dalam jaringan lunak di bawah
permukaan mukosa di daerah vestibulum. Keadaan ini rasa sakit sudah
agak mereda dibandingkan dengan subperiosteal
absces.Jikaabsesinimenyebabkanvestibulum di sekitarnyabengkakmaka di
sebut vestibular abses. Apabila pembengkakanhanyamelibatkan gingiva di
3

sekitar gigi, maka disebut sebagai gingival abses. Submental space in
biasanya terlibat oleh karena infeksi dari gigi-gigi rahang bawah di mana
gigi tersebut cukup panjang sehingga dapat menyebabkan perforasi tulang
di bawah perlekatan musculus mentalis. Pus yang keluar selanjutnya
menuju kepinggiran inferior mandibular dan masuk ke dalam submental
space.
Namun ada kemungkinan daerah faringel terlibat sebab pus sudah
menjalar ke bagian leher.
Kemungkinan diagnosa yang lain adalah phlegmon
Serta selulitis
3. Pasein hanya mengobati gejalanya saja tanpa menghilangkan faktor
penyebabnya sehingga obat yang dibeli oleh pasien hanya akan
mengurangi rasa sakit tanpa menghilangkan penyakitnya.
4. Hipertensi berat merupakan kontraindikasi dari perawatan bedah sehingga
harus dikonsulkan terlebih dahulu. Pasien dianjurkan konsul ke spesialis
jantung karema ada kemungkinan pada pasien hipertensi berat ada
kegagalan jantung.
5. Konsul ke dokter jantung
Penundaan perawatan
Apabila pasien merasa cemas dapat diberikan obat anti cemas
6. Prinsip dari perawatan infeksi adalah
- Merujuk ke spesialis apabila ada penyakit sistemik
- Mempertahankan daya tahan tubuh pasien
- Drainase melalui insisi dan juga punctie (untuk mengambil sampel darah
guna mengetahui medikasi yang cocok sesuai dengan jenis mikroba)
- Menghilangkan sumber infeksi
- Medikasi (baik sebelum maupun sesudah perawatan)
- Evaluasi



4

STEP 4
















STEP 5
1. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami, dan menjelaskan patogenesis
infeksi odontogen
2. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami, dan menjelaskan macam-
macam infeksi odontogen
3. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami, dan menjelaskan diagnosa
dari kasus di skenario
4. Mahasiswa mampu mengetahui, memahami, dan menjelaskanrencana
perawatan dan penatalaksanaan yang sesuai dengan skenario





ETIOLOGI
INFEKSI ODONTOGEN
PENJALARAN GEJALA
DIAGNOSIS
PERAWATAN
HIPERTENSI
5


STEP 7

1. Patogenesis Infeksi Odontogen
Dalam penyebaran menjadi abses, diketahui bahwa bakteri memiliki
beberapa sifat yang menyebabkan abses itu sendiri. Pada awalnya bakteri
menginvasi jaringan yang terkena kemudian bakteri melepaskan zat berupa
leukotoksin yang berfungsi untuk pertahanan tubuhnya sekaligus
menghancurkan imun tubuh penderita. Tubuh penderita sendiri juga
mempunyai pertahanan untuk melawan invasi bakteri yaitu berupa pertahanan
humoral dan selular. Pertahanan inilah yang dapat mengakibatkan degradasi
atau matinya bakteri yang terserang. Namun bakteri masih memiliki
pertahanan terakhir sekaligus juga menghancurkan imun tubuh yaitu terletak
pada dinding sel bakteri. Pada dinding sel bakteri yang telah mati akan
mengaktivasi enzim lipopolisakarida. Enzim inilah yang juga dapat merusak
pertahanan tubuh dari penderita. Hasil degradasi jaringan normal maupun
bakteri inilah yang nantinya menumpuk dan menjadi suatu abses.








6

Infeksi odontogenik dapat berasal dari tiga jalur, yaitu (1) jalur
periapikal, sebagai hasil dari nekrosis pulpa dan invasi bakteri ke jaringan
periapikal; (2) jalur periodontal, sebagai hasil dari inokulasi bakteri pada
periodontal poket; dan (3) jalur perikoronal, yang terjadi akibat
terperangkapnya makanan di bawah operkulum tetapi hal ini terjadi hanya
pada gigi yang tidak/belum dapat tumbuh sempuna.
Yang paling sering terjadi melalui jalur periapikal, biasanya
dimulai dari permukaan gigi yaitu adanya karies gigi yang sudah mendekati
ruang pulpa, kemudian akan berlanjut menjadi pulpitis dan akhirnya akan
terjadi kematian pulpa gigi (nekrosispulpa). Infeksi odontogen dapat terjadi
secara local atau meluas secara cepat. Adanya gigi yang nekrosis
menyebabkan bakteri bias menembus masuk ruang pulpa sampai apeks gigi.
Foramen apikalis dentis pada pulpa tidak bias mendrainase pulpa yang
terinfeksi. Selanjutnya proses infeksi tersebut menyebar progresif keruangan
atau jaringan lain yang dekat dengan struktur gigi yang nekrosis tersebut
Infeksi periapikal dapat menyebar ke jaringan jaringan lain mengikuti
pola patofisiologi yang beragam yang pada dasarnya dipengaruhi oleh:
jumlah dan virulensi mikroorganisme, resistensi dari host, dan struktur
anatomi dari daerah yang terlibat.





1.1. Virulensibakteri
Virulensibakteri yang tinggi mampu menyebabkan bakteri
tersebut bergerak secara leluasa ke segala arah. Enzim-enzim yang
7

dikeluarkan oleh bakteri akan mampu menghancurkan jaringan di
sekitarnya, sehingga akan menyebar melewati daerah termudah.

1.2. Resistensi host
Ketahananjaringansekitar yang tidak baik menyebabkan
jaringan menjadi rapuh dan mudah dirusak oleh bakteri. Ketahanan
jaringan ini berupa kekuatan system imun kita untuk melawan infeksi
bakteri.
1.3. Struktur anatomi
Struktur anatomi terutama spasia-spasia akan mempengaruhi
arah penyebaran pus. Hal ini karena spasia-spasia yang ada pada daerah
fasial saling berhubungan satu sama lain sehingga arahnya akan
dipengaruhi dari lokasi asal mula abses. Selain itu bentukan atomi
tulang dan gigi juga akan mempengaruhi arah penyebaran abses.

1.4. Gravitasi
Gravitasi akan mempengaruhi arah penyebaran abses. Hal ini
dikarenakan abses akan mencari jalan keluar yang paling mudah dan
sesuai dengan hukum gravitasi. Oleh karena itu abses pada daerah
maksilla mungkin bias menyebar kearah region mandibula. Sedangkan
abses pada daerah mandibula, akan sulit ditemui menyebar hingga
region maksilla, kecuali ada factor khusus lainnya.

Infeksi odontogen dapat menyebar melalui jaringan ikat
(perkontinuitatum), hematogen dan limfogen. Yang paling sering terjadi
adalah penjalaran melalui kontinuitas jaringan dan spasia jaringan. Pus
terbentuk di tulang cancellous dan tersebar ke berbagai arah yang memiliki
resistensi jaringan paling buruk. Penyebaran pus ke arah bukal, lingual, atau
palatal tergantung pada posisi gigi dalam lengkung gigi, ketebalan tulang, dan
jarak perjalanan pus
8

Infeksi pada periapikal gigi akan menembus korteks tulang dan masuk
ke dalam jaringan lunak yang meliputinya melewati tulang dengan ketebalan
paling rendah.
2. Macam-macam Infeksi Odontogen
Infeksi Odontogen dibagi menjadi dua kelompok bagian yaitu pada rahang
atas dan pada rahang bawah.

2.1. Infeksi Odontogen Rahang Atas
2.1.1. Canine spaces
Fosa kanina sering merupakan tempat infeksi yang bersal dari gigi
rahang atas pada regio ini terdapat jaringan ikat dan lemak, serta
memudahkan terjadinya akumulasi cairan jaringan. Gejala klinis
ditandai dengan pembengkakan pada muka, kehilangan sulkus
nasolabialis dan edema pelupuk mata bawah sehingga tampak
tertutup. Bibir atas bengkak, seluruh muka terasa sakit disertai kulit
yang tegang berwarna merah.









Gambar 2.5 :
a. Ilustrasi abses Fossa kanina b. Tampakan klinis Abses Fossa
kanina

2.1.2. Buccal spaces
9

Spasium bukal berada diantara m. masseter ,m.
pterigoidus interna dan m. Businator. Berisi jaringan lemak yang
meluas ke atas ke dalam diantara otot pengunyah, menutupi fosa
retrozogomatik dan spasium infratemporal. Abses dapat berasal
dari gigi molar kedua atau ketiga rahang atas masuk ke dalam
spasium bukal.








A B
Gambar 2.6 :
a. Ilustrasi gambar memperlihatkan penyebaran abses lateral ke
muskulus buccinator
b. Tampakan Klinis
Gejala klinis abses ini terbentuk di bawah mukosa
bukaldan menonjol ke arah rongga mulut. Pada perabaan tidak jelas
ada proses supuratif, fluktuasi negatif dan gigi penyebab kadang-
kadang tidak jelas. Masa infeksi/pus dapat turun ke spasium
terdekat lainnya. Pada pemeriksaan estraoral tampak
pembengkakan difus, tidak jelas pada perabaan.

2.1.3. Infratemporal spaces
Terletak di posterior dari maksila, lateral dari proc.
Pterigoideus, inferior dari dasar tengkorak, dan profundus dari
temporal space. Berisi nervus dan pembuluh darah. Infeksi berasaal
dari gigi molar III maksila. Gejala infeksi berupa tidak adanya
10

pembengkakan wajah dan kadang terdapat trismus bila infeksi telah
menyebar.





















Keterangan :
a. Abses Submukosa
b. Abses bukal
c. Abses submandibular
d. Abses perimandibular
e. Abses subkutan
f. Sinusitis maksilaris

11

2.1.4. Abses Submukosa (Submucous Abscess)
Disebut submukosa karena memang dikarenakan pus
terletak dibawah lapisan mukosa,. Ada 4 huruf a yang tertera
pada gambar, kesemuanya merupakan abses submukosa, namun
untuk yang terletak di palatal, disebut sebagai Abses Palatal
(Palatal Abscess). Yang terletak tepat dibawah lidah dan diatas
(superior dari) perlekatan otot Mylohyoid disebut abses Sublingual
(Sublingual Abscess). Yang terletak di sebelah bukal gigi disebut
dengan Abses vestibular, kadangkala sering terjadi salah diagnosa
karena letak dan secara klinis terlihat seperti Abses Bukal (Buccal
Space Abscess).
Akan tetapi akan mudah dibedakan ketika kita melihat
arah pergerakan polanya, jika jalur pergerakan pusnya adalah
superior dari perlekatan otot masseter (rahang atas) dan inferior
dari perlekatan otot maseter (rahang bawah), maka kondisi ini
disebut Abses Bukal, namun jika jalur pergerakan pusnya adalah
inferior dari perlekatan otot maseter (rahang atas) dan superior dari
perlekatan otot maseter (rahang bawah), maka kondisi ini disebut
Abses Vestibular.

2.1.5. Abses Bukal (Buccal Space Abscess)
Abses Bukal (Buccal Space Abscess) dan Abses
Vestibular kadang terlihat membingungkan keadaan klinisnya,
akan tetapi akan mudah dibedakan ketika kita melihat arah
pergerakan polanya, jika jalur pergerakan pusnya adalah superior
dari perlekatan otot masseter (rahang atas) dan inferior dari
perlekatan otot maseter (rahang bawah), maka kondisi ini disebut
Abses Bukal, namun jika jalur pergerakan pusnya adalah inferior
dari perlekatan otot maseter (rahang atas) dan superior dari
perlekatan otot maseter (rahang bawah), maka kondisi ini disebut
Abses Vestibular.
12


2.1.6. Sinusitis Maksilaris
Sebenarnya ini merupakan sebuah kelanjutan infeksi
yang lumayan ekstrim, karena letak akar palatal gigi molar
biasanya berdekatan dengan dasar sinus maksilaris, maka jika
terjadi infeksi pada periapikal akar palatal gigi molar, jika tidak
tertangani dari awal, maka penjalran infeksi dimungkinkan akan
berlanjut ke rongga sinus maksilaris dan menyebabkan kondisi
sinusitis.

2.2. Infeksi Odontogen Rahang Bawah
2.2.1. Abses spasium submasseter
Infeksi pada spasium ini berasal dari gigi molar tiga
rahang bawah, berjalan melalui permukaan lateral ramus ke atas
spasium ini. Abses pasium submasseter berjalan ke bawah dan ke
depan diantara insersi otot masseter bagian superfisialis dan bagian
dalam. Spasium ini berupa suatu celah sempit yang berjalan dari
tepi depan ramus antara origo m.masseter bagian tengah dan
permukaan tulang. Keatas dan belakang antara origo m.masseter
bagian tengah dan bagian dalam. Disebelah belakang dipisahkan
dari parotis oleh lapisan tipis lembar fibromuskular.
Gejala klinis dapat berupa sakit berdenyut diregio ramus
mansibula bagian dalam, pembengkakan jaringan lunak muka
disertai trismus yang berjalan cepat, toksik dan delirium. Bagian
posterior ramus mempunyai daerah tegangan besar dan sakit pada
penekanan.





13












Gambar Abses Spasium Submasetter

2.2.2. Abses spasium submandibular
Spasium ini terletak dibagian bawah m.mylohioid yang
memisahkannya dari spasium sublingual. Lokasi ini di bawah dan
medial bagian belakang mandibula. Dibatasi oleh m.hiooglosus dan
m.digastrikus dan bagian posterior oleh m.pterigoid eksternus.
Berisi kelenjar ludah submandibula yang meluas ke dalam spasium
sublingual. Juga berisi kelenjar limfe submaksila. Pada bagian luar
ditutup oleh fasia superfisial yang tipis dan ditembus oleh arteri
submaksilaris eksterna.
Infeksi pada spasium ini dapat berasal dari abses
dentoalveolar, abses periodontal dan perikoronitis yang berasal dari
gigi premolar atau molar mandibula.






14


Gambar Abses Spasium Submandibular

2.2.3. Abses Periapikal.
Abses periapikal sering disebut dengan sebutan abses
dentoalveolar. Dimana abses periapikal ini terjadi di daerah
periapikal gigi yang sudah mengalami nekrosis atau kematian.
Mikroba penyebab infeksi umumnya berasal dari pulpa gigi, tetapi
tidak menutup kemungkinan bahwa bakteri tersebut berasal dari
sistemik (bakteriemia).
Gejala klinis pada abses periapikal akut yaitu : sakit yang
hebat, pembengkakan menyebar kemerah-merahan, pembesaran
kelenjar limfe, gigi terasa memanjang, dan sensitif terhadap
sentuhan. Pada pemeriksaan intraoral didapatkan gusi disekitar gigi
kemerahan tetapi pada lipatan mukobukal masih dalam batas-batas
normal. Pus yang berada diperiapikal dalam perkembangannya
akan keluar menembus tulang dengan arah yang bervariasi
tergantung dalamnya akar gigi atau panjang dari gigi tersebut dan
kondisi lokal disekitar gigi.
Pada umumnya pus akan berjalan ke sisi yang terdekat.
Pada regio molar perforasi tulang dapat terjadi di atas atau di
bawah perlekatan muskulus bucinator dan akhirnya pus dapat
keluar ke ekstra oral atau ke arah kulit. Jika pus mengarah ke
tulang alveolar maka pus akan sampai di bawah periosteum dan
timbul keadaan periostitis, dan apabila terjadi supuratif di bawah
periosteum terbentuklah abses subperiosteal.

2.2.4. Abses Subperiosteal
Abses ini jika dilihat pada pemeriksaan ekstra oral yaitu
terjadi pembengkakan, warna kulit sedikit merah pada daerah gigi
penyebab. Penderita biasanya merasakan sakit yang hebat,
15

berdenyut dan tidak terlokalisir. Saat abses ini terjadi di rahang
bawah, maka sakit yang dirasakan oleh penderita dapat menyebar
sampai ke sendi rahang dan juga telinga. Dimana pada sebagian
kasus disertai dengan subfebris sampai febris dengan keadaan
umum yang kurang baik.
Abses subperiosteal pada rahang bawah yang disebabkan
oleh gigi premolar ataupun molar, pembengkakannya dapat meluas
dari pipi sampai pinggir mandibula, tetapi masih bisa diraba. Gigi
yang menjadi sumber penyebab jika disentuh atau ditekan akan
sensitif. Kelenjar limfe submaksila pada umumnya membesar, sakit
pada perabaan dan terkadang sakit pada saat leher digerakkan.
Pemeriksaan intra oral diketahui tampak sedikit pembengkakan
yang landai, agak sakit pada palpasi, fluktuasi negatif, dan lipatan
mukobukal hanya sedikit terhapus.

2.2.5. Abses Submukus
Abses submukus biasanya disebut dengan abses
vestibular, yang mana merupakan kelanjutan dari abses
subperiosteal. Pus yang telah sampai dan menembus periosteum,
berlanjut dan berkumpul di bawah mukosa. Pada pemeriksaan
ekstra oral, didapatkan pembengkakan yang kadang disertai dengan
demam, terjadi pembengkakan kelenjar limfe submandibula yang
sakit saat dilakukannya palpasi. Sedangkan pada pemeriksaan intra
oral didapatkan lipatan mukobukal terangkat, pada palpasi lunak,
dan fluktuasi positif.

2.2.6. Abses Spasium Bukal
Abses ini terletak di antara muskulus bucinator dan kulit
superfisial fasial. Muskulus bucinator terletak superior sepanjang
maksila dari premolar dan terletak di inferior bagian permukaan
16

lateral mandibula. Hasil pemeriksaan ekstra oral pada abses ini
yaitu berupa pembengkakan difus, tidak jelas pada perabaan.

2.2.7. Abses Spasium Submandibula
Pada abses spasium submandibula dibagian superiornya
terdapat spasium sublingual, dimana antara spasium sublingual
dengan spasium submandibula dibatasi oleh muskulus
mylohyoideus. Bagian anteromedialnya dibatasi oleh muskulus
digastrikus anterior dan pada posteromedialnya dibatasi oleh
muskulus digastrikus posterior serta muskulus stilohyoid. Bagian
posteriornya dibatasi oleh muskulus pterigoid eksternus.
Sedangkan bagian inferiornya atau dasarnya dibentuk
oleh milohyoid dan muskulus hyoglosus. Infeksi pada spasium ini
seringkali disebabkan oleh infeksi yang berasal dari gigi molar dan
premolar mandibula yang menembus ke arah lingual. Dimana
faktor yang menentukan penyebaran dari infeksi ke spasium
sublingual atau spasium submandibula ditentukan oleh perlekatan
muskulus milohyoid pada linggir milohyoid permukaan medial
mandibula.
Apabila infeksi menembus di atas linggir ini, maka akan
mengenai spasium sublingual dan apabila di bawahnya maka akan
mengenai spasium submandibula. Pada pemeriksaan ekstra oral
akan terlihat pembengkakan di regio submandibula disudut rahang,
meluas ke arah leher, berwarna kemerah-merahan. Dimana jika
sudah jelas terdapat pus maka fluktuasi akan positif dan terasa
begitu jelas apabila platisma telah tertembus. Sedangkan pada
pemeriksaan intra oral, tidak akan tampak pembengkakan keculi
pada kasus lanjut.

2.2.8. Abses Spasium Sublingual
17

Abses ini terletak di atas muskulus milohyoid, dimana
bagian medialnya dibatasi oleh muskulus genioglosus, dan daerah
lateral dibatasi oleh prosesus alveolaris mandibula. Pada
pemeriksaan intra oral yaitu didapatkan pembengkakan dasar mulut
dan lidah terangkat, bergeser ke sisi yang normal, dan kelenjar
sublingual akan tampak menonjol karena terdesak oleh akumulasi
pus dibawahnya. Sedangkan pada pemeriksaan ekstra oral tidak
didapatkan pembengkakan, meskipun kadang terdapat
pembengkakan tetapi kecil.

2.2.9. Abses Spasium Submental
Abses spasium submental ini dikarenakan oleh infeksi
gigi anterior ataupun premolar mandibula. Dimana spasium ini
dibatasi oleh muskulus milohyoid pada bagian superiornya dan
pada bagian inferiornya dibatasi oleh kulit. Pada pemeriksaan intra
oral tidak didapatkan pembengkakan, tetapi kadang gingiva yang
berada disekitar gigi penyebab akan tampak lebih merah daripada
jaringan sekitarnya. Sedangkan pada pemeriksaan ekstra oral
didapatkan selulitis pada regio submental, dimana saat tahap akhir
akan terjadi supuratif yang mengakibatkan fluktuasi positif.

2.2.10. Abses Spasium Parafaringeal
Abses ini pada bagian luar dibatasi oleh muskulus
pterigoid interna dan sebelah dalam oleh muskulus konstriktor.
Disebelah belakang dibatasi oleh glandula parotis, muskulus
prevertebalis dan prosesus stiloideus serta struktur yang berasal
dari prosesus ini. Dibelakang spasium ini terdapat arteri karotis,
vena jugularis, dan nervus vagus, serta struktur saraf spinal,
glosofaringeal, simpatetik, hipoglosal, dan kelenjar limfe.
Penyebab dari abses ini umumnya karena molar tiga rahang bawah.
18

Gejala klinis pada abses ini umumnya penderita
mengeluhkan sakit hebat pada tenggorokan, dan sangat sakit pada
waktu menelan. Dimana sakitnya menyebar sampai ke telinga, serta
kadang-kadang disertai tanda-tanda sepsis. Akibat trismus otot-otot
pengunyahan maka sangat sulit pada pemeriksaan intra oral,
sehingga diagnosa dan perawatan terhambat. Dalam kasus ini dapat
dicoba pemakaian anestesi untuk membantu supaya mulut dapat
terbuka.

3. Diagnosa
Pada skenario, disebutkan pemeriksaan intra oral pada gusi adalah
palpasi lunak, diffuse, dan tidak terdapat fluktuasi. Pada ekstra oral dagu
seperti ganda, diffuse dan tidak ada fluktuasi. Pada leher terdapat fluktuasi
dan supurasi juga disertai adanya fistula pada regio midle jugularis sinistra.
Kasus ini merupakan suatu perjalanan penyakit yang diawali dengan abses
kemudian berkembang menjadi selulitis kemudian mengalami proses
pertahanan tubuh untuk melokalisir infeksi tersebut menjadi suatu abses lagi.
Sehingga diagnosa pada skenario ini adalah abses. Untuk mengetahui lokasi
absesnya dimana, kita harus tahu anatomi perlekatan otot dan spasia yang
terlibat. Pada skenario tidak disebutkan jelas tentang lokasinya, namun kita
bisa melihat dari rencana perawatannya yaitu insisi di bagian submental serta
bukti adanya fistula di daerah midle jugularis sinistra semakin menguatkan
bahwa diagnosa pada kasus di skenario dalah abses submental.
4. Rencana Perawatan
4.1. Drainase
4.1.1. Drainase melalui jalan insisi
Perawatan pada abses pada prinsipnya adalah insisi dan drainase.
Insisi adalah pembuatan jalan keluar nanah secara bedah (dengan
scapel). Insisi drainase merupakan tindakan membuang materi
purulent yang toksik, memudahkan suplai darah yang
19

mengandung antibiotik dan elemen pertahanan tubuh serta
meningkatkan kadar oksigen di daerah infeksi.
Drainase adalah tindakan eksplorasi pada fascial space yang
terlibat untuk mengeluarkan nanah dari dalam jaringan, biasanya
dengan menggunakan hemostat. Prinsip berikut ini harus
digunakan bila memungkinkan pada saat melakukan insisi dan
drainase adalah sebagai berikut:
a. Melakukan insisi pada kulit dan mukosa yang sehat. Insisi
yang ditempatkan pada sisi fluktuasi maksimum di mana
jaringannya nekrotik atau mulai perforasi dapat
menyebabkan kerutan, jaringan parut yang tidak estetis.
b. Tempatkan insisi pada daerah yang dapat diterima secara
estetis, seperti di bawah bayangan rahang atau pada lipatan
kulit alami
c. Apabila memungkinkan tempatkan insisi pada posisi yang
bebas agar drainase sesuai dengan gravitasi.
d. Lakukan pemotongan tumpul, dengan clamp bedah rapat
atau jari, sampai ke jaringan paling bawah dan jalajahi
seluruh bagian kavitas abses dengan perlahan-lahan
sehingga daerah kompartemen pus terganggu dan dapat
diekskavasi. Perluas pemotongan ke akar gigi yang
bertanggung jawab terhadap infeksi
e. Tempatkan drain (lateks steril atau catheter) dan stabilkan
dengan jahitan.
f. Pertimbangkan penggunaan drain tembus bilateral, infeksi
ruang submandibula.
g. Jangan tinggalkan drain pada tempatnya lebih dari waktu
yang ditentukan; lepaskan drain apabila drainase sudah
minimal. Adanya drain dapat mengeluarkan eksudat dan
dapat menjadi pintu gerbang masuknya bakteri penyerbu
sekunder.
20

h. Bersihkan tepi luka setiap hari dalam keadaan steril untuk
membersihkan bekuan darah dan debris.
Teknik insisi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut (Peterson,
2003).
1. Aplikasi larutan antiseptik sebelum insisi.
2. Anestesi dilakukan pada daerah sekitar drainase abses yang
akan dilakukan dengan anestesi infiltrasi.
3. Untuk mencegah penyebaran mikroba ke jaringan sekitarnya
maka direncanakan insisi :
Menghindari duktus (Wharton, Stensen) dan pembuluh
darah besar.
Drainase yang cukup, maka insisi dilakukan pada bagian
superfisial pada titik terendah akumulasi untuk
menghindari sakit dan pengeluaran pus sesuai gravitasi.
Jika memungkinkan insisi dilakukan pada daerah yang
baik secara estetik, jika memungkinkan dilakukan secara
intraoral.
Insisi dan drainase abses harus dilakukan pada saat yang
tepat, saat fluktuasi positif.
4. Drainase abses diawali dengan hemostat dimasukkan ke
dalam rongga abses dengan ujung tertutup, lakukan eksplorasi
kemudian dikeluarkan dengan unjung terbuka. Bersamaan
dengan eksplorasi, dilakukan pijatan lunak untuk
mempermudah pengeluaran pus.
5. Penembatan drain karet di dalam rongga abses dan distabilasi
dengan jahitan pada salah satu tepi insisi untuk menjaga insisi
menutup dan drainase.
6. Pencabutan gigi penyebab secepatnya.

4.1.2. Punctie
21

Punctie (biasa diartikan tusukan) adalah prosedur medis dimana jarum
digunakan untuk membuat rongga yang bertujuan mengeluarkan darah
, cairan atau jaringan dari tubuh untuk pemeriksaan pada setiap
kelainan pada sel atau jaringan. Tindakan pungsi bertujuan bertujuan
untuk menegakkan diagnosis sekaligus untuk maksud terapi juga
untuk mengurangi pus yang ada, sehingga pada saat insisi nanah tidak
terlalu banyak mengalir ke luar (menghindari terjadinya aspirasi).

Teknik Pungsi
Sebuah tusukan dilakukan dengan jarum atau trocar (kanul
memotong atau menusuk). Tempat masuk menusuk kulit.
Instrumen yang digunakan harus dinyatakan steril, setelah
pemeriksaan klinis,pasien mungkin bisa dilakukan sinar-X.
Kulit didesinfeksi, dalam anestesi local/umum.
Sampel yang diambilkemudianakandiperiksahistologis (biopsi)
atauditempatkan di laboratoriumdiagnostik.
Eksplorasitusukanuntukmendirikanataumengkonfirmasikan
diagnosis.

Beberpa klinisi menyarankan, jika drainase melalui saluran akar tidak
dapat dihentikan, kavitas akses dapat dibiarkan terbuka untuk drainase lebih
lanjut, nasihatkan pasien berkumur dengan salin hangat selama tiga menit
setiap jam. Bila perlu beri resep analgetik dan antibiotik. Membiarkan gigi
terbuka untuk drainase, akan mengurangi kemungkinan rasa sakit dan
pembengkakan yang berlanjut (Grossman, 1988, Bence, 1990).
Penatalaksanaan kasus-kasus dengan pembengkakan paling baik
ditangani dengan drainase, saluran akar harus dibersihkan dengan baik. Jika
drainase melalui saluran akar tidak mencukupi, maka dilakukan insisi pada
jaringan yang lunak dan berfluktuasi. Saluran akar harus dibiarkan terbuka dan
22

lakukan debridemen, kemudian beri pasta kalsium hidroksida dan tutup
tambalan sementara. Sebaiknya diberi resep antibiotik dan analgetik
(Grossman, 1988; Walton and Torabinejad, 2002).
4.2. Operasi drainase
4.2.1. Pemberian antibiotika tanpa drainase pus tidak akan menyelesaikan
masalah penyakit abses
4.2.2. memulai terapi antibiotika tanpa pewarnaan gram dan kultur akan
menyebabkan kesalahan dalam mengidentifikasi organisme penyebab
penyakit infeksi odontogen
4.2.3. penting untuk mengalirkan semua ruang primer apalagi bila pada
pemeriksaan, ruang sekunder potensial terinfeksi juga
4.2.4. CT scan dapat membantu mengidentifikasi ruang-ruang yang
terkena infeksi
4.2.5. Foto rontgen panoramik dapat membantu identifikasi bila diduga
gigi terlibat infeksi
4.2.6. Abses canine, sublingual dan vestibular didrainase intraoral
4.2.7. Abses ruang masseterik, pterygomandibular, dan pharyngea lateral
bisa didrainase dengan kombinasi intraoral dan ekstraoral
4.2.8. Abses ruang temporal, submandibular, submental, retropharyngeal,
dan buccal disarankan diincisi ekstraoral dan didrainase.
4.3. Medikamentosa
4.3.1. rehidrasi (karena kemungkinan pasien menderita dehidrasi adalah
sangat besar)
4.3.2. merawat pasien yang memiliki faktor predisposisi terkena infeksi
(contohnya Diabetes Mellitus)
4.3.3. mengoreksi gangguan atau kelainan elektrolit
4.3.4. memberikan analgetika dan merawat infeksi dasar bila pasien
menderita trismus, pembengkakan atau rasa sakit di mulut.
4.4. Identifikasi bakteri penyebab
23

4.4.1. diharapkan penyebabnya adalah alpha-hemolytic Streptococcus
dan bakteri anaerob lainnya
4.4.2. kultur harus dilakukan pada semua pasien melalui incisi dan
drainase dan uji sensitivitas dilakukan bila pasien tidak kunjung
membaik (kemungkinan resisten terhadap antibiotika)
4.4.3. Hasil aspirasi dari abses bisa dikirim untuk kultur dan uji
sensitivitas jika incisi dan drainase terlambat dilakukan

4.5. Menyeleksi terapi antibotika yang tepat
4.5.1. penicillin parenteral
4.5.2. metronidazole dikombinasikan dengan penicillin bisa dipakai pada
infeksi yang berat
4.5.3. Clindamycin untuk pasien yang alergi penicillin
4.5.4. Cephalosporins (cephalosporins generasi pertama)
4.5.5. antibiotika jangan diganti selama incisi dan drainase pada kasus
infeksi odontogen yang signifikan
4.5.6. jika mediastinal dicurigai terkena infeksi harus dilakukan CT scan
thorax segera dan konsultasi kepada dokter bedah thorax
kardiovaskular
4.5.7. ekstraksi gigi penyebab akan menyembuhkan infeksi odontogen








24

DAFTAR PUSTAKA

Karasutisna, Tis dkk. 2001.Buku Ajar Ilmu Bedah Mulut. Infeksi Odontogenik.
Bandung: FKG Universitas Padjadjaran.
Pedersen, Gordon W, D.D.S, M.S.D. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut.
Jakarta: EGC.
Karasutisna,Tis. 2001. Infeksi Odontogenik. Bandung : Bagian BM FKG
Universitas Padjajaran.
Oral Surgery, Fragiskos Fragiskos D, Germany, Springer