Anda di halaman 1dari 22

SOP PEMERIKSAAN LAPANG PANDANG PADA MATA

Definisi:
Pemeriksaan lapang pandang merupakan pemeriksaan pada keluasan pandang klien
terhadap aspek lateral, medial, superior, dan inferior penglihatan.
Alat:
Buku catatan
Prosedur:
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada klien
2. Anjurkan klien untuk berdiri, pemeriksa berdiri sekitar 2,5 meter didepan klien, usahakan
tinggi mata sejajar antara klien dan pemeriksa
3. Tutup mata yang tidak diperiksa
4. Anjurkan klien untuk melihat mata pemeriksa dengan menggunakan mata yang akan
diperiksa. Perawat juga mefokuskan pandanganpada klien
5. Tempatkan jari pemeriksa pada bagian depan tepat diantara klien dan perawa
6. Perlahan gerakan tangan kea rah lateral, kemudian ke tengah kembali, lalu gerakkan kea
rah medial, ke tengah kembali, kearah superior dan inferior
7. Anjurkan klien untuk memberi isyarat dengan lisan apabila ia tidak dapat melihat jari
pemeriksa ketika digerakkan
8. Catat area yang tidak dapat diidentifikasi oleh klien
9. Lakukan pemeriksaan yang sama pada mata yang lain

Pemeriksaan Visus Mata

Tidak semua orang mempunyai visus yang sama. Visus dipergunakan untuk menentukan
penggunaan kacamata. Visus penderita bukan saja memberi pengertian tentang optiknya (kaca
mata) tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu memberi keterangan tentang baik buruknya
fungsi mata secara keseluruhan.
Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan fungsi mata. Gangguan penglihatan memerlukan
pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata yang mengakibatkan turunnya visus. Visus
perlu dicatat pada setiap mata yang memberikan keluhan mata.
Pemeriksaan visus dapat dilakukan dengan menggunakan Optotype Snellen, kartu Cincin
Landolt, kartu uji E, dan kartu uji Sheridan/Gardiner. Optotype Snellen terdiri atas sederetan
huruf dengan ukuran yang berbeda dan bertingkat serta disusun dalam baris mendatar. Huruf
yang teratas adalah yang besar, makin ke bawah makin kecil. Penderita membaca Optotype
Snellen dari jarak 6 m, karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan beristirahat
atau tanpa akomodasi. Pembacaan mula-mula dilakukan oleh mata kanan dengan terlebih dahulu
menutup mata kiri. Lalu dilakukan secara bergantian. Tajam penglihatan dinyatakan dalam
pecahan. Pembilang menunjukkan jarak pasien dengan kartu, sedangkan penyebut adalah jarak
pasien yang penglihatannya masih normal bisa membaca baris yang sama pada kartu. Dengan
demikian dapat ditulis rumus:
V =D/d
Keterangan:
V = ketajaman penglihatan (visus)
d = jarak yang dilihat oleh penderita
D = jarak yang dapat dilihat oleh mata normal
Pada tabel di bawah ini terlihat visus yang dinyatakan dalam sistem desimal, Snellen dalam
meter dan kaki.
1. Data Penggolongan Visus dalam Desimal
2. Data Penggolongan Visus
Dengan Optotype Snellen dapat ditentukan tajam penglihatan atau kemampuan melihat
seseorang, seperti :
1. Bila visus 6/6 maka berarti ia dapat melihat huruf pada jarak 6 meter, yang oleh orang
normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter.
2. Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris yang menunjukkan angka 30, berarti
tajam penglihatan pasien adalah 6/30.
3. Bila pasien hanya dapat membaca huruf pada baris yang menunjukkan angka 50, berarti
tajam penglihatan pasien adalah 6/50.
4. Bila visus adalah 6/60 berarti ia hanya dapat terlihat pada jarak 6 meter yang oleh orang
normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 60 meter.
5. Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen maka dilakukan uji
hitung jari. Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter.
6. Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pada
jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam 3/60. Dengan pengujian ini tajam penglihatan
hanya dapat dinilai sampai 1/60, yang berarti hanya dapat menghitung jari pada jarak 1
meter.
7. Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan visus pasien yang lebih buruk
daripada 1/60. Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 1
meter, berarti visus adalah 1/300.
8. Kadang-kadang mata hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan tidak dapat melihat
lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai tajam penglihatan 1/~. Orang normal dapat
melihat adanya sinar pada jarak tidak berhingga.
9. Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar maka dikatakan
penglihatannya adalah 0 (nol) atau buta total. Visus dan penglihatan kurang dibagi dalam
tujuh kategori. Adapun penggolongannya adalah sebagai berikut:


1. Penglihatan normal

Pada keadaan ini penglihatan mata adalah normal dan sehat.

1. Penglihatan hampir normal

Tidak menimbulkan masalah yang gawat, akan tetapi perlu diketahui penyebabnya. Mungkin
suatu penyakit masih dapat diperbaiki.

1. Low vision sedang

Dengan kacamata kuat atau kaca pembesar masih dapat membaca dengan cepat.

1. Low vision berat

Masih mungkin orientasi dan mobilitas umum akan tetapi mendapat kesukaran pada lalu lintas
dan melihat nomor mobil. Untuk membaca diperlukan lensa pembesar kuat. Membaca menjadi
lambat.

1. Low vision nyata

Bertambahnya masalah orientasi dan mobilisasi. Diperlukan tongkat putih untuk mengenal
lingkungan. Hanya minat yang kuat masih mungkin membaca dengan kaca pembesar, umumnya
memerlukan Braille, radio, pustaka kaset.
Hampir buta
Penglihatan kurang dari 4 kaki untuk menghitung jari. Penglihatan tidak bermanfaat, kecuali
pada keadaan tertentu. Harus mempergunakan alat nonvisual.
Buta total
Tidak mengenal rangsangan sinar sama sekali. Seluruhnya tergantung pada alat indera lainnya
atau tidak mata. Di bawah ini ditunjukkan tabel penggolongan keadaan tajam penglihatan
normal, tajam penglihatan kurang (low vision) dan tajam penglihatan dalam keadaan buta.

SOP PEMERIKSAAN VISUS
Definisi :
Prosedur ini digunakan untuk mengukur ketajaman penglihatan individu. Prosedur Pemeriksaan
Mata ini dilakukan dengan menggunakan Kartu Snellen dan Pinhole.

Alat :
1. Kartu snellen
2. Buku pencatat

Tahap I. Pengamatan:
Pemeriksa memegang senter perhatikan:
1. Posisi bolamata: apakah ada juling
2. Konjungtiva: ada pterigium atau tidak
3. Kornea: ada parut atau tidak
4. Lensa: jernih atau keruh/ warna putih

Tahap II. Pemeriksaan Tajam Penglihatan Tanpa Pinhole:
1. Pemeriksaan dilakukan di pekarangan rumah (tempat yang cukup terang), responden
tidak boleh menentang sinar matahari.
2. Gantungkan kartu Snellen atau kartu E yang sejajar mata responden dengan jarak 6 meter
(sesuai pedoman tali).
3. Pemeriksaan dimulai dengan mata kanan.
4. Mata kiri responden ditutup dengan telapak tangannya tanpa menekan bolamata.
5. Responden disuruh baca huruf dari kiri-ke kanan setiap baris kartu Snellen atau
memperagakan posisi huruf E pada kartu E dimulai baris teratas atau huruf yang paling
besar sampai huruf terkecil (baris yang tertera angka 20/20).
6. Penglihatan normal bila responden dapat membaca sampai huruf terkecil (20/20).
7. Bila dalam baris tersebut responden dapat membaca huruf atau memperagakan posisi
huruf E KURANG dari setengah baris maka yang dicatat ialah baris yang tertera angka
di atasnya.
8. Bila dalam baris tersebut responden dapat membaca huruf atau memperagakan posisi
huruf E SETENGAH baris atau LEBIH dari setengah baris maka yang dicatat ialah baris
yang tertera angka tersebut. Pemeriksaan Tajam Penglihatan dengan HITUNG JARI:
9. Bila responden belum dapat melihat huruf teratas atau terbesar dari kartu Snellen atau
kartu E maka mulai HITUNG JARI pada jarak 3 meter (tulis 03/060).
10. Hitung jari 3 meter belum bisa terlihat maka maju 2 meter (tulis 02/060), bila belum
terlihat maju 1 meter (tulis 01/060).
11. Bila belum juga terlihat maka lakukan GOYANGAN TANGAN pada jarak 1 meter (tulis
01/300).
12. Goyangan tangan belum terlihat maka senter mata responden dan tanyakan apakah
responden dapat melihat SINAR SENTER (tulis 01/888).
13. Bila tidak dapat melihat sinar disebut BUTA TOTAL (tulis 00/000).

Tahap III, Pemeriksaan Tajam Penglihatan dengan PINHOLE:
1. Bila responden tidak dapat melanjutkan lagi bacaan huruf di kartu Snellen atau kartu E
atau hitung jari maka pada mata tersebut dipasang PINHOLE.
2. Hasil pemeriksaan pinhole ditulis dalam kotak dengan pinhole. Cara penulisan huruf
yang terbaca sama dengan cara pemeriksaan tanpa pinhole.
3. Dengan pinhole responden dapat melanjutkan bacaannya sampai baris paling bawah
(normal, 20/20) berarti responden tersebut GANGGUAN REFRAKSI.
4. Dengan pinhole responden dapat melanjutkan bacaannya tetapi tidak sampai baris normal
(20/20) pada usia anak sampai dewasa berarti responden tersebut GANGGUAN
REFRAKSI dengan mata malas.
5. Bila dengan pinhole responden tidak dapat melanjutkan bacaan huruf atau memperagakan
posisi huruf E maka disebut KATARAK.

SOP Pemeriksaan Refleks Pupil
Definisi :
Pupil merupakan tempat masuknya cahaya ke dalam bola mata.
Jalur refleks cahaya :
Rangsangan yang di terima oleh neuron afferent sel ganglion retina diteruskan
ke area pretektal, nukleus Edinger Westphal. Saraf Parasimpatis keluar bersama dengan nervus
okulomotorius menuju ganglion siliaris dan terus ke m.spinter pupil.
Cara Pemeriksaan :
1. Mata pasien fiksasi pada jarak tertentu
2. Berikan objek yang bisa di lihat dan dikenali ( Gambar atau benda )
3. Sumber cahaya haruslah terang dan mudah di manipulasi
4. Observasi general pupil : bentuk, ukuran, lokasi, warna iris, kelainan bawaan , dan
kelainan lain.
5. Rangsangan cahaya diberikan 2-5 detik.
Keterangan :
1. Refleks pupil langsung ( Unconsensual)
Respon pupil langsung di nilai ketika diberikan cahaya yang terang , pupil akan konstriksi (
mengecil ). Dilakukan pada masing-masing mata
1. Refleks pupil tidak langsung ( consensual )
Dinilai bila cahaya diberikan pada salah satu mata , maka fellow eye akan memberikan respon
yang sama . Observasi dengansumber cahaya lain yang lebih redup
1. Isokoria fisiologis
Dapat ditemukan pada 20% populasi perbedaan ke 2 pupil < 1mm.
1. Abnormal pupil
Apabila ditemukan pupil yang :
Anisokoria (beda , 1mm dianggap fisiologis)
Kecil atau besar dari normal (3-4 mm)

Pemeriksaan Oftalmoskopi

Definisi :
Suatu teknik pemeriksaan yang digunakan untuk melihat adnya kelainan pada fundus
okuli. Pada pemeriksaan ini cahaya yang berasal dari alat oftalmoskop akan memberikan reflex
pada fundus dan akan tampak gambaran yang ada.
Sebelum pemeriksaan dilakukan, pupil dibuat dilatasi kecuali bila terdapat keadaan
sebagai berikut :
1. Bilik mata dangkal
2. Kerusakan pupil (terjadi trauma)
3. Glukoma dengan sudut sempit
Alat :
1. Oftalmoskop
2. Dilator (tropicamide / midriacyl 0,5%-1%)
Persiapan klien :
1. Beri klien penjelasan tentang teknik pemeriksaa
2. Bila klien dating sendiri atau dengan mengendarai kendaraan sendiri, informasikan
bahwa obat yang diteteskan akan berdampak silau karena pupil mata midriasis

Persiapan lingkungan :
Klien ditempatkan pada kamar yang gelap

Prosedur :
1. Gelapkan ruangan, nyalakan lampu oftalmoskop dan putar piringan lensanya sampai
pemeriksa melihat pancaran cahaya putih dan lebar. Arahkan cahaya tersebut pada
punggung tangan pemeriksa untuk mengecek tipe cahayanya, intensitas cahaya yang
diinginkan dan kekuatan batere pada oftalmokop
2. Putarlah piringan lensa hingga dioptri 0 (dioptri merupakan satuan untuk mengukur
kekuatan lensa dan mengkonvergensikan atau mengdivergensikan cahaya). Pada dioptri
ini lensa tidak mengkonvergensikan atau mengdivergensikan cahaya. Letakkan jari
telunjuk pemeriksa pada pinggir piringan lensa agar anda dapat memutar piringan
tersebut untuk mengfokuskan lensa ketika pemeriksamemeriksa fundus okuli
3. Ingat. Pegang alat oftalmoskop dengan tangan kanan pemeriksa untuk memeriksa mata
kanan pasien, begitu juga pada sisi sebaliknya. Tindakan ini akan menjaga tangan
pemeriksa agar tidak membentur hidung pasien dan memberi pemeriksa mobilitas yang
lebih besar serta jarak pemeriksa yang lebih dekat untuk melihat fundus dengan jelas.
Awalnya mungkin anda akan mengalami kesulitan dalam menggunakan mata yang tidak
dominan, tetapi kesulitan ini akan semakin berkurang dengan latihan
4. Pegang oftalmoskop kuat-kuat hingga menempel permukaan medial orbita anda dengan
bagian tangkainya sedikit dimiringkan kea rah lateral pada sudut sekitar 20 dari bidang
vertical. Pastikan agar anda dapat melihat dengan jelas lewat aperture. Minta pasien
untuk memandang sedikit ke atas dan diatas bahu anda langsung pada sebuah titik
terdapat tembok.
5. Tempatkan diri anda pada jarak sekitar 15 inci (sekitar38 cm) dari tubuh pasien dan
dengan sudut 15 disebelah lateral dari garis pandang pasien. Arahkan pancaran cahaya
oftalmoskop pada pupil pasien dan cari kilauan cahaya orange pada pupiltersebut- yang
merupakan pantulan (refleksi cahaya merah) perhatikan setiap kekeeruhan yang
menganggu pantulan cahaya merah ini.
6. Kini tepatkan ibu jari tangan pemeriksa yang lain pada alis mata pasien (teknik akan
membuat pemerisaan anda lebih mantap tetapi tidak selalu harus dilakukan). Dengan
menjaga agar pancaran cahaya terus terfokus pada pantulan cahaya merah, gerakkan
oftalmoskop kedalam dengan sudut 15 kea rah pupil sampai anda sangat dekat dengan
pupil dan hamper menyentuh bulu mata pasien.
Coba untuk mempertahankan kedua mata anda agar tetap terbuka dan rileks seperti jika anda
menatap tempat jauh karena tindakan ini akan mengurangi kekaburan yang berfluktuasi pada saat
kedua mata anda mencoba berakomodasi
Anda mungkin perlu mengurangi intensitas pancaran cahayanya untuk membuat
pemeriksaan anda tersa lebih nyaman bagi pasien, menghindari hippus (spasme pupil) dan
memperbaiki hasil pengamatan anda.


SOP Uji Ishihara
Definisi :
Ishihara merupakan tes yang digunakan untuk menguji adanya kelainan mengenali warna (buta
warna) pada klien. Tes ini digunakan untuk mengetahui cacat warna merah dan hijau akibat
kerusakan retina (sel bipolar-badan ganglion genikulatum lateral)
Ishihara berbentuk gambar-gambar pseudoisokromatik yang disusun titik dengan
kepadatan warna berbeda sehingga orang normal dapat mengenal gambar yang dibentuk oleh
titik-titik tersebut
Alat :
Gambar ishihara
Persiapan klien :
Berikan penjelasan pada klien tentang prosedur pelaksanaan/ teknik pemeriksaan

Persiapkan lingkungan:
Atur pencahayaan (tidak menyilaukan mata klien)
Prosedur :
1. Klien diminta melihat kartu dan menentukan gambar yang dilihat, misalnya angka 25
2. Klien iminta menyebukan gambar tesebut dalam waktu 3-10 detik bila lebih terdapat
kelaian buta warna

SOP Pemeriksaan Tonometri Schiotz
Definisi:
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengethui tekanan bola mata (tekanan intraocular) meningkat
atau rendah. Alat ini diberi beban dan diletakkan pada permukaan korne dan akan menekan bola
mata ke dalam. Adanya tekanan tonometri ii akan mendapatkan perlawanan tekanan yang ada
dalam bola mata. Pemeriksaan ini dilakukan pada pederita yang dicurigai menderita glaucoma,
klien pra dan pasca bedah mata. Pemeriksaan ini tidak dilakukan ada klien yangmengalami luka
pada kornea.
Tonometri yang akan digunakan pada klien harus steril untuk mencegah terjadinya infeksi.
Beban yang digunakan pada tonometri schiotz adalah 5,5 gr, 7,5 gr, 10 gr, dan 15 gr. Gunakan
beban terkecil dahulu mulai dari 5,5 gr. Jika hasil skala pengukuran dengan beban 5,5 gr adaah
1-3, ganti beban dengan 7,5 dan seterusnya.
Alat:
1. Tonometri schiotz
2. Analgesic tetes mata
3. Kapas bersih dalam kom

Persiapan klien :
1. Menjelaskan maksud dan tujuan pada klien
2. Penderita diminta untuk berbaring
Persiapan lingkungan
Persiapkan sketsel dan atur pencahayaan
Prosedur :
1. Bersihkan mata klien dengan kapas bersih
2. Teteskan pantocaine 2-3 tetes, tunggu 5menit (sampai klien tidak merasakan pedas di
mata)
3. Atur kalibrasi tonometri
4. Minta klien melihat satu titik diatas (lngit-langit ruangan) ata u minta klien meletakkan
ibu jari di atas mata (letakkan jarak ibu jari sejauhnya dari mata)
5. Letakkan tonometridiatas permukaaan kornea, jangan ditekan lalu perhatikan skala yang
tertera pada alat (0-5)
6. Konfersikan hasil nilai dari skala dengan table untuk mengetahui TIO (tekanan
intraocular), bila hasil lebih tinggi dari 20 mmHg, klien dicurigai menderita glaucoma
dan bila lebih dari 25 mmHg, klien sudah menderita gloukoma.

Contoh pembacaan:
Bila hasil pengukuran tertera pada angka 5 denagn beban yang digunakan 5,5 gram, ini berarti
TIO adalah 5/5,5. Perhatikan table konversi hasil 5 dengan beban 5,5 adalah 17

Tabel Kalibrasi Pengukuran Tonometri Schiotz
Dikutip dari Sidarta Ilyas, 2006
Zeiger Ausschlag Scale reading Augendruck-Pressure, mmHg
Tonometerstiftewitch-Pluger load
5.5 gram 7,5 gram 10 gram 15 gram
0,0 41,5 59,5 81,5 127,5
0,5 37,8 54,2 75,1 117,9
1,0 34,5 49,8 69,3 109,3
1,5 31,6 45,8 64,0 101,4
2,0 29,0 42,1 59,1 94,3
2,5 26,6 38,8 54,7 88,0
3,0 24,4 35,8 50,6 81,8
3,5 22,4 33,0 46,9 76,2
4,0 20,6 30,4 43,4 71,0
4,5 18,9 28,0 40,2 66,2
5,0 17,3 25,8 37,2 61,8
5,5 15,9 23,8 34,4 57,6
6,0 14,6 21,9 31,8 53,6
6,5 13,4 20,1 29,4 49,9
7,0 12,2 18,5 27,2 46,5
7,5 11,2 17,0 25,1 43,2
8,0 10,2 15,6 23,1 40,2
8,5 9,4 14,3 21,3 38,1
9,0 8,5 13,1 19,6 34,6
9,5 7,8 12,0 18,0 32,0
10,0 7,1 10,9 16,5 29,6
10,5 6,5 10,0 15,1 27,4
11,0 5,9 9,0 13,8 25,3
11,5 5,3 8,3 12,6 23,3
12,0 4,9 7,5 11,5 21,4
12,5 4,4 6,8 10,5 19,7
13,0 4,0 6,2 9,5 18,1
13,5 5,6 8,6 16,5
14,0 5,0 7,8 15,1
14,5 4,5 7,1 13,7
15,0 4,0 6,4 12,6
15,5 5,8 11,4
16,0 5,2 10,4
16,5 4,7 9,4
17,0 4,2 8,5
17,5 7,7
18,0 6,9
18,5 6,2
19,0 5,6
19,5 4,9
20.0 4,5

SOP Pemeriksaan dengan lampu cela (Biomikroskopi)
Definisi :
Lampu cela terdiri atas mikroskop dan sebuah sumber cahaya khusus, digunakan untuk
memeriksa penyakit atau kelainan pada kelopak mata atau bola mata, sehingga bisa didiagnosis
dan diobati lebih baik. Berkat penyinaran yang baik, dan pembesaran yang kuat maka daerah
yang diperiksa dapat dilihat jelas (misalnya kreatitis dendrite, benda asing dikornea, tumor iris).

Peralatan dan bahan :
Lampu celah
Prosedur :
1. Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
2. Pasien dan pemeriksa duduk berhadapan
3. Dagu pasien ditempatkan pada sandaran dan dahinya disandarkan pada ranhka lampu
cela.
4. Pemeriksa mengamati mata pasien melalui mikroskop
5. Gerakkan focus mikroskop dan cahanya kedepan atau kebelakang, kelopak mata, kornea,
bilik mata depan dan iris dapat diteliti dengan mudah dan cepat

SOP GONIOSKOPI

Definisi :
Merupakan cara untuk melihat langsung sudut bilik mata depan dengan memakai lensa dn
cermin khusus. Pemeriksaan ini dikerjakan pada semua kasus dugaan gloukoma, untuk
mengetahui tahapan tumor yang menyerang iris dan untuk memeriksa benda asing disudut bilik
mata depan.

Peralatan dan bahan :
1. Larutan anasthesi local
2. Gonio lensa

Prosedur :
1. Jelaskan prosedur pada pasien
2. Tetesi mata pasien dengan larutan anasthesi tropical
3. Posisikan pasien duduk di depan lampu celah
4. Pasang gonio lensa pada mata
5. Dengan cermin khusus dan dengan pembesaran, sudut bilik mata depan dan iris dapat
dipantau
6. Putar cermin sehingga bagian-bagian sudut dan sekelilingnya dapat diperiksa

Hasil pemeriksaan :
Pada umumnya (juga pada kasus glaucoma menahun) struktur bilik mata depan bisa dilihat jelas
pada sudut yang sangat sempit, tetapi tekanan intarokularnya normal, penderita mempunyai
resiko tinggi terjadinya glaucoma sudut tertutup bila pupil melebar baik spontan maupun karena
obat-obatan.

SOP Uji schirmer

Definisi:
Uji yang digunakan untuk mengukur secara kasar kuantitas air mata di dalam kantong
konjungtiva.

Indikasi:
Semua penderita dengan keluhan mata kering atau iritasi menahun.

Persiapan alat dan bahan:
- Kertas Schirmer ukuran 5 x 35 mm

Persiapan pasien:
- Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien

Prosedur:
- Menyiapkan alat dan bahan
- Menyiapkan pasien dengan meminta pasien untuk berbaring
- Ujung kertas filter dibengkokkan
- Menyelipkan ujing kertas filter yang telah dibengkokkan ke dalam kantong konjungtiva di
dekat sudut mata dalam
- Meminta pasien memejamkan mata
- Biarkan selama 5 menit

Evaluasi:
- Dalam waktu 5 menit kertas filter akan terbasahi oleh air mata sepanjang 10 mm
- Jika hasil pemeriksaan yang dilakukan berulang-ulang kurang dari 10 mm, maka jelas
bahwa produksi air mata kurang dari semestinya.


SOP UJI FLOURESENS PADA KORNEA MATA

Definisi:
Uji flouresens merupakan uji untuk mengetahui adanya kerusakan pada kornea mata. Uji ini
menggunakan strep flouresens yang ditempelkan pada permukaan mata/kornea. Zat yang ada
pada strep ini berubah warna jika dalam keadaan alkali. Kornea yang mengalami kerusakan akan
berubah warna menjadi hijau kekuningan karena kornea bersifat basa.uji ini biasanya dilakukan
pada penderita yang mengalami trauma mata akibat zat kimia dan ulkus kornea.

Alat:
1. Flouresens strep.
2. Obat tetes anestesi (pantocaine 1%).
3. Aquades/cairan garam fisiologis.
4. Kapas basah dalam kom.
5. Spuit.
6. Lampu senter.
7. Handuk.

Persiapan klien:
1. Menjelaskan maksud dan tujuan dari pemeriksaan.
2. Klien didudukkan dengan posisi kepala mengadah dan bersandar pada kursi/terbaring di
atas tempat tidur.

Persiapan lingkungan:
1. Mengatur pencahayaan.
2. Menjaga privasi klien.

Prosedur:
1. Bersihkan mata penderita dengan kapas basah.
2. Eltakkan handuk di pundak sebagai pengalas.
3. Teteskan anestesi pantocaine. Efek dari flouresens ini adalh nyeri, tunggu 3-5 menit.
4. Basahi strep flouresens dengan aquades/ cairan garam fisiologis.
5. Buka kelopak mata inferior, tempelkan pad pada forniks inferior, dan minta pasien untuk
memejamkan mata selama 5-20 detik.
6. Ambil flouresens strep dan bilas dengna aquades/garam fisiologis dengan menggunakan
spuit secara perlahan-lahan hingga bersih (tidak ada patokan berapa cc cairan yang
digunakan unutk irigasi, lakukan irigasi sampai bersih dan tidak terdapat bekas warna
flouresens yang tampak pada kornea).
7. Periksa kornea dengan lampu senter.
8. Bila terdapat erosi, akan terlihat warna hijau kekuningan. Zat warna ini akan menghilang
sendiri dalam waktu 30 menit.

Evaluasi:
- Jika tidak ada cacat epitel kornea, maka lapisan zat warna akan tersebar rata melapisi
kornea.
- Bila permukaan kornea cacat, daerah tersebut menyerap lebih banyak fluoresein sehingga
berwarna hijau tua.
- Di dalam status perlu dicatat dan dibuat sketsanya sehingga bisa dipakai sebagai
pembanding di kemudian hari untuk melihat kemajuan penyembuhannya.










SOP Persepsi Cahaya dan Persepsi Warna

Jika ada pemeriksaan fundus terhalangi oleh media yang keruh, uji fungsi retina secara kasar
dapat dilakukan dengan merangsang macula memakai cahaya atau hanya dengan uji persepsi
cahaya dan persepsi warna.

1. 1. Uji Fungsi Makula

Definisi:
Prosedur yang dilakukan untuk melihat apakah makula berfungsi dengan baik atau tidak.

Persiapan alat dan bahan:
- Senter
Persiapan pasien:
- Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
Prosedur:
- Menyiapkan alat dan bahan
- Menyiapkan pasien dengan meminta pasien untuk duduk dan memejamkan mata
- Memijat bola mata secara lembut dengan menggunakan ujung lampu senter yang menyala
- Menanyakan serta meminta menggambarkan apa yang dilihatnya.

Evaluasi:
Jika makula berfungsi dengan baik, penderita akan melihat area sentral dikelilingi pmbuluh-
pembuluh darah retina. Sebaliknya jika fungsi makula kurang baik maka area sentral akan
berwarna gelap, bukan merah, dan tidak terlihat pembuluh darah retina. Pengujin ini memiliki
dua kelemahan yaitu sifatya sangat subjektif dan beberapa penderita sulit memahami.

1. 2. Persepsi Warna dan Proyeksi Cahaya

Definisi:
Tindakan yang dilakukan untuk menili apakah retin masih berfungsi atau tidak.
Persiapan alat dan bahan:
- Perban
- Sumber cahaya warna merah dan putih

Persiapan pasien:
- Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
Prosedur:
- Menyiapkan alat dan bahan
- Menyiapkan pasien dengan meminta pasien untuk duduk
- Salah satu mata pasien ditutup dengan perban, kemudian ditutup lagi dengan tangan pasiel
sendiri agar betul-betul tidak ada cahaya yang masuk
- Menyuruh pasien untuk melihat lurus ke depan denga mata yang tidak ditutup
- Seberkas cahaya ditempatkan di empat kuadran berbeda-beda dan meminta pasien untuk
membedakan antara cahaya merah dan cahaya putih
Evaluasi:
Jika semua pertanyaan dijawab dengan benar, bisa dipastikan retina berfungsi normal.

sop Mengukur Tajam Potensial
Definisi:
Tindakan yang dilakukan untuk mengukur kemampuan visual (visual potential). Jika ada
kekeruhan kornea, atau kekeruhan media refraksi lainnya, dan juga ada penyakit makula atau
penyakit saraf optic, maka kemampuan visualnya diragukan.
Persiapan alat dan bahan:
- Sinar laser (Interferometri Laser)
- Kartu Snellen
Persiapan pasien:
- Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
Prosedur:
- Menyiapkan alat dan bahan
- Menyiapkan pasien dengan meminta pasien untuk duduk
- Digunakan dua jenis pola bayangan yang berbeda:
1) Interferometri laser
Prosedur:
- Menggunakan sinar laser untuk menghasilkan interferensi jumbai-jumbai atau kisi-kisi
(fringers or grating) yang oleh pasien dilihat sebagai seri garis-garis sejajar.
- Dengan diciutkannya lebar garis-garis dan jarak antara garis-garis secara progresif. Suatu
titik akhir akan dicapai jika pasien tidak dapat lagi membedakan garis-garis ini.

2) Pengukuran tajam potensial
Definisi:
Bayangan terkecil yang masih bisa dilihat kemudian dikaitkan dengan pengukuran ketajaman
dengan Snellen untuk memastikan kemampuan tajam penglihatan mata ini.
Prosedur:
- Pasien dinilai seperti biasa sesuai dengan kemampuanya menentukan baris-baris huruf yang
dibaca.

Evaluasi:
Walaupun kedua cara ini merupakan sarana yang bisa dipercaya untuk mengukur tajam
penglihatan, bisa saja terjadi kesalahan positif atau kesalahan negative tergantung jenis
penyakitnya. Jadi alat ini bisa membantu, tetapi tidak bisa dipercaya sepenuhnya untuk
menentukan kemmpuuan tajam penglihatan mata dengan kekeruhan media refraksi.
Eksoftalmometri

Definisi:
Alat untuk mengukur derajat proyeksi anterior mata. Ini adalah suatu metode yang cermat untuk
mendiagnosis, lebih-lebih untuk mengikuti perkembangan eksoftalmus pasien.
Persiapan alat dan bahan:
- Eksoftalmometer
- Cermin
Persiapan pasien:
- Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
Prosedur:
- Menyiapkan alat dan bahan
- Menyiapkan pasien dengan meminta pasien untuk berdiri menyandar pada dinding dan
menatap mata pemeriksa
- Kedua bagian eksoftalmometer yang cekung ditempatkan pada tepi lateral orbita dan
kemudian skala dibaca dan dicatat
- Hasil pemeriksaan harus tetap sama pada pemeriksaan berturut-turut bila diinginkan
kecermatan pemeriksaan
- Pemeriksa melihat kornea mata kanan pasien melalui cermin
- Mata kanan pasien memfiksasi ke mata kiri pemeriksa. Kedudukan kornea secara
bersamaan dapat langsung dilihat dalam cermin dan dapat dibaca langsung pada skala dalam
millimeter. Selanjutnya mata kiri diperiksa dengan cara yang sama, mata kiri pasien memfiksasi
pada mata kanan pemeriksa.
- Kedua pembacaan dan derajat eksoftalmus dicatat dalam millimeter.

Hasil Pemeriksaan Normal dan Abnormal
Nilai penonjolan mata normal 12-20 mm. Biasanya sama untuk kedua mata dan
menyatakan jarak anterior kornea dengan tepi lateral orbita. Apabila didiagnosis eksoftalmus
(nilai pembacaan lebih dari 20 mm) harus dicari sebab-sebabnya misalnya penyakit tiroid atau
tumor orbita. Pemeriksaan eksoftalmometri berkala sangat membantu pengamatan perjalanan
penyakit.