Anda di halaman 1dari 19

Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 1

BAB I
PENDAHULUAN
Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cidera. Trauma abdomen
adalah keadaan pada abdomen baik bagian dalam ataupun luar yang disebabkan oleh luka
atau cidera. Trauma tumpul abdomen yaitu trauma abdomen tanpa penetrasi ke dalam
rongga peritoneum, dapat diakibatkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselarasi,
kompresi, atau sabuk pengaman. Trauma tumpul abdomen sering kali ditemui pada unit
gawat darurat. Sebanyak 75% kasus trauma tumpul abdomen adalah sebagai akibat dari
kecelakaan lalu lintas, baik itu kendaraan dengan kendaraan maupun kendaraan dengan
pejalan kaki. Sedangkan trauma abdomen akibat pukulan sebanyak 15% dan jatuh
sebanyak 9%. Selebihnya adalah sebagai akibat dari child abuse dan domestic violence.
Pasien dengan trauma tumpul abdomen memerlukan penatalaksanaan yang cepat
dan efisien. Pada trauma ganda, abdomen merupakan bagian yang tersering mengalami
cedera. Seorang pasien yang terlibat kecelakaan serius harus dianggap cedera abdominal
sampai terbukti lain.
Sampai saat ini cedera abdomen yang luput dari diagnosis masih merupakan
penyebab kematian yang dapat dicegah (preventable death) pada penderita dengan
dengan trauma batang tubuh (trunk). Kurangnya data mengenai riwayat kesehatan pasien,
kronologis kejadian, luka atau trauma lain yang dapat mengalihkan perhatian, dan
perubahan status mental sebagai akibat dari cedera kepala atau intoksikasi, membuat
trauma tumpul abdomen sulit untuk didiagnosis dan ditatalaksana. Pasien dengan trauma
tumpul abdomen biasanya datang dengan cedera abdominal dan extraabdominal yang
memerlukan perawatan lanjut yang rumit.




Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 2

BAB II
SKENARIO
Laki-laki 30 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri perut setelah jatuh dari
tangga, semakin lama perut makin sakit. Kesadaran Composmentis allert, tekanan darah
90/70 mmhg, nadi 125 kali/menit, pernapasan 28-30 kali/menit.
Anamnesa Tambahan
Kronologis kejadian (kejadian dimana, kapan terjadinya, bagaimana posisinya)
Sifat, letak dan ada atau tidaknya perpindahan nyeri
Riwayat muntah, Riwayat penurunan kesadaran
Pemeriksaan fisik tambahan
Tanda-tanda syok, tanda-tanda anemis,
pemeriksaan generalisata
Pemeriksaan Abdomen : Inspeksi ada tidaknya luka lecet, perdarahan bawah kulit,
grey turner sign, cullen sign indikasi perdarahan retroperitoneal, distensi
dinding perut pneumoperitonium, dilatasi gastric, ileus, inspeksi pergerakan
pernapasan perut. Auskultasi ada tidaknya bising usus, menurun sampai hilang
bising usus, palpasi defence muscular, nyeri tekan lihat lokasinya. Perkusi redup
pada hati yang menghilang. Shifthing dullness ( tanda asites).
Rencana Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : Darah lengkap, urinalisis, elektrolit serum, ureum kreatinin, serum
enzim lipase amylase, tes fungsi hati
Pemeriksaan radiologi :
Foto polos abdomnen 3 posisi, USG atau CT scan
Diagnosa sementara : Trauma tumpul abdomen
Penatalaksanaan : ABCD, pasang NGT, kateter, konsul ke spesialis bedah, monitoring
TTV, kesadaran, tanda-tanda syok, rencana pembedahan (laparotomi) jika diperlukan.


Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 3

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 DEFINISI
Trauma tumpul adalah cedera atau perlukaan pada abdomen tanpa penetrasi ke
dalam rongga peritoneum, dapat diakibatkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselarasi
(perlambatan), atau kompresi.
Benturan pada trauma tumpul abdomen dapat menimbulkan cedera pada organ
berongga berupa perforasi atau pada organ padat berupa perdarahan.
3.2 ANATOMI
Abdomen dibagi dalam sembilan regio oleh dua garis vertikal, dan dua garis
horizontal. Masing-masing garis vertikal melalui pertengahan antara spina iliaca anterior
superior dan symphisis pubis.
Organ dalam rongga abdomen dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Organ Intraperitoneal : hati, limpa, lambung, usus, vesika velea,
b. Organ retroperitoneal : ginjal, ureter pankreas








Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 4

Regio Abdomen

3.3 PATOFISIOLOGI
Mekanisme terjadinya trauma pada trauma tumpul disebabkan adanya deselerasi
cepat dan adanya organ-organ yang tidak mempunyai kelenturan (noncomplient organ)
seperti hati, limpa, pankreas, dan ginjal. Kerusakan intra abdominal sekunder untuk
kekuatan tumpul pada abdomen secara umum dapat dijelaskan dengan 3 mekanisme,
yaitu :
1. Saat pengurangan kecepatan menyebabkan perbedaan gerak di antara struktur.
2. Isi intra-abdominal hancur di antara dinding abdomen anterior dan columna
vertebra atau tulang toraks posterior. Hal ini dapat menyebabkan remuk, biasanya organ
padat (spleen, hati, ginjal) terancam.
3. Gaya kompresi eksternal yang menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomen
yang tiba-tiba dan mencapai puncaknya pada ruptur organ berongga
Patofisiologi yang terjadi berhubungan dengan terjadinya trauma abdomen adalah
1. Terjadi perpindahan cairan berhubungan dengan kerusakan pada jaringan,
kehilangan darah dan shock.
Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 5

2. Perubahan metabolic dimediasi oleh CNS dan system makroendokrin,
mikroendokrin.
3. Terjadi masalah koagulasi atau pembekuan dihubungkan dengan perdarahan massif
dan transfuse multiple
4. Inflamasi, infeksi dan pembentukan formasi disebabkan oleh sekresi saluran
pencernaan dan bakteri ke peritoneum
5. Perubahan nutrisi dan elektrolit yang terjadi karena akibat kerusakan integritas
rongga saluran pencernaan.
Berdasaran jenis organ yang cedera dapat dibagi dua :
1. Pada organ padat seperti hepar dan limpa dengan gejala utama perdarahan.
2. Pada organ berongga seperti usus dan saluran empedu dengan gejala utama adalah
peritonitis

3.4 ANAMNESA DAN PEMERIKSAAN FISIK
Intial assesment
Trauma tumpul abdomen akan muncul dalam manifestasi yang sangat bervariasi,
mulai dari pasien dengan vital sign normal dan keluhan minor hingga pasien dengan
shock berat. Bisa saja pasien datang dengan gejala awal yang ringan walaupun
sebenarnya terdapat cedera intraabdominal yang parah. Jika didapati bukti cedera
extraabdominal, harus dicurigai adanya cedera intraabdominal, walaupun hemodinamik
pasien stabil dan tidak ada keluhan abdominal. Pada pasien dengan hemodinamik yang
tidak stabil, resusitasi dan penilaian harus dilakukan segera. Pemeriksaan fisik abdomen
harus dilakukan secara teliti dan sistematis, dengan urutan inspeksi, auskultasi, perkusi,
dan palpasi. Penemuannya positif dan negatif harus dicatat dengan teliti dalam rekam
medik.
Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 6

Anamnesis mengandung data kunci yang dapat mengarahkan diagnosis gawat
abdomen. Riwayat trauma sangat penting untuk menilai penderita yang cedera dalam
tabrakan kendaraan bermotor meliputi :kejadian apa, dimana, kapan terjadinya dan
perkiraan arah dari datangnya ruda paksa tersebut. Sifat, letak dan perpindahan nyeri
merupakan gejala yang penting. Demikian juga muntah, kelainan defekasi dan sembelit.
Adanya syok, nyeri tekan, defans muskular, dan perut kembung harus diperhatikan
sebagai gejala dan tanda penting. Sifat nyeri, cara timbulnya dan perjalanan selanjutnya
sangat penting untuk menegakkan diagnosis.Pada pemeriksaan fisik, perlu diperhatikan
kondisi umum, wajah, denyut nadi, pernapasan, suhu badan, dan sikap baring pasien,
sebelum melakukan pemeriksaan abdomen. Gejala dan tanda dehidrasi, perdarahan, syok,
dan infeksi atau sepsis juga perlu diperhatikan.
Pemeriksaan fisik pada pasien trauma tumpul abdomen harus dilakukan secara
sistematik meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi.
Pada inspeksi, perlu diperhatikan :
Adanya luka lecet di dinding perut, hal ini dapat memberikan petunjuk adanya
kemungkinan kerusakan organ di bawahnya.Adanya perdarahan di bawah kulit, dapat
memberikan petunjuk perkiraan organ-organ apa saja yang dapat mengalami trauma di
bawahnya. Ekimosis pada flank (Grey Turner Sign) atau umbilicus (Cullen Sign)
merupakan indikasi perdarahan retroperitoneal, tetapi hal ini biasanya lambat dalam
beberapa jam sampai hari. Adanya distensi pada dinding perut merupakan tanda penting
karena kemungkinan adanya pneumoperitonium, dilatasi gastric, atau ileus akibat iritasi
peritoneal. Pergerakan pernafasan perut, bila terjadi pergerakan pernafasan perut yang
tertinggal maka kemungkinan adanya peritonitis.
Pada auskultasi, perlu diperhatikan :
Ditentukan apakah bising usus ada atau tidak, pada robekan (perforasi) usus
bising usus selalu menurun, bahkan kebanyakan menghilang sama sekali.
Adanya bunyi usus pada auskultasi toraks kemungkinan menunjukkan adanya trauma
diafragma.
Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 7

Pada palpasi, perlu diperhatikan :
Adanya defence muscular menunjukkan adanya kekakuan pada otot-otot dinding
perut abdomen akibat peritonitis.Ada tidaknya nyeri tekan, lokasi dari nyeri tekan ini
dapat menunjukkan organ-organ yang mengalami trauma atau adanya peritonitis.

Pada perkusi, perlu diperhatikan :
Redup hati yang menghilang menunjukkan adanya udara bebas dalam rongga
perut yang berarti terdapatnya robekan (perforasi) dari organ-organ usus.
Nyeri ketok seluruh dinding perut menunjukkan adanya tanda-tanda peritonitis umum.
Adanya Shifting dullness menunjukkan adanya cairan bebas dalam rongga
perut, berarti kemungkinan besar terdapat perdarahan dalam rongga perut.
Pemeriksaan rektal toucher dilakukan untuk mencari adanya penetrasi tulang akibat
fraktur pelvis, dan tinja harus dievaluasi untuk gross atau occult blood. Evaluasi tonus
rektal penting untuk menentukan status neurology pasien dan palpasi high-riding prostate
mengarah pada trauma salurah kemih.
3.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Studi Laboratorium
Blood typing
Pada pasien trauma harus dilakukan pengecekan golongan darah dan cross-match,
sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu diperlukan transfusi, terlebih pada pasien dengan
perdarahan yang mengancam jiwa.
Hematocrit/Darah lengkap Serial
Hematocrit dapat berguna sebagai dasar penilaian pada pasien trauma abdomen, terlabih
untuk jika diukur secara berkala untuk melihat perdarah yang terus berlangsung.

Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 8

Hitung leukosit
Pada trauma tumpul abdomen akut, hitung leukosit tidak spesifik. Ephinefrin yang
dilepaskan tibuh pada saat trauma dapat menyebabkan demarginasi dan dapat
meningkatkan jumlah leukosit mencapai 12000-20000/mm
3
dengan pergeseran ke kir
yang moderat.
Enzim pankreas
Kadar amilase dan lipase dalam serum tidak terlalu memiliki arti penting untuk
menunjang diagnostik. Kadar amilase dan lipase yang normal dalam serum tidak dapt
menyingkirkan kecurigaan adanay trauma pankreas. Peningkatan mungkin mengarah
pada cedera pankreas, tapi juga mungkin dari cedera abdomen non pankreas. Jika ada
kecurigaan cedera pankreas, masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, misal CT scan.
Tes fungsi hati
Cedera hepar bisa meningkatkan kadar transaminase dalam serum, akan tetapi
peningkatan ini tidak akan terjadi pada konstitusi minor. Pasien denagn komorbid seperti
pada pasien dengan alcohol induced liver disease bisa memiliki kadar transaminase yang
abnormal
Urinalisis
Gross hematuri mengarah pada adanya cedera ginjal serius dan membutuhkan investigai
yang lebih lanjut. Diperlukan juga pemeriksaan terhadap adanya hematuri mikro yang
dapat mengindikasikan cedra serius. Oleh karena itu, penting dialakukan pemeriksaan
mikroskopik atau urinalisis dipstick pada semua pasien trayma tumpul abdomen. Adanya
nyeri abdomen dan hematuri memiliki tingkat sensitifitas 64% dan 94% spesifik untuk
cedera intraabdominal yang telah dibuktilkan melalui CT scan.
B. Studi Diagnostik Khusus
A. Radiologi
Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 9

Tes radiologi dapat menyampaikan informasi penting untuk penatalaksanaan pasien
trauma tumpul abdomen. Pemeriksaan radiologi diindikasikan pada pasien stabil, jika
dari pemeriksaan fisik dan lab tidak bisa disimpulkan diagnosik.
Pasien yang tidak kooperatif, dapat mengganggu hasil tes radiologi dan dapat beresiko
mengalami cedera spinal. Penyebab dari pasien yang tidak koopertatif ini harus
dievaluasi, misalnya karena hipoksia atau cedera otak. Demi kelancaran, pasien tersebut
dapat dipertimbangkan untuk diberi sedatif.
Rontgen foto abdomen 3 posisi (telentang, setengah tegak dan lateral dekubitus) berguna
untuk melihat adanya udara bebas di bawah diafragma ataupun udara di luar lumen di
retroperitoneum, yang kalau ada pada keduanya menjadi petunjuk untuk dilakukannya
laparotomi. Hilangnya bayangan psoas menunjukkan adanya kemungkinan cedera
retroperitoneal. Foto polos abdomen memiliki kegunaan yang terbatas, dan sudah
digantikan oleh CT-scan dan USG
B. Computed Tomography ( CT-scan )
CT-scan mampu memberikan informasi yang berhubungan dengan cedera organ tertentu
dan tingkat keparahannya, dan juga dapat mendiagnosis cedera retroperitoneum dan
organ panggul yang sukar diakses melalui pemeriksaan fisik maupun DPL. Kotraindikasi
relatif terhadap penggunaan CT meliputi penundaan karena menunggu scanner, pendrita
yang tidak kooperatif, dan alergi terhdap bahan kontras.
Keuntungan CT-scan :
1. non invasive
2. mendeteksi cedera organ dan potensial untuk penatalaksanaan non operatif cedera
hepar dan lien
3. mendeteksi adanya perdarahan dan mengetahui dimana sumber perdarahan
4. retroperitoneum dan columna vetebra dapat dilihat
5. imaging tambahan dapat dilakukan jika diperlukan
Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 10

Kelemahan CT-scan
1. kurang sensitif untuk cedera pankreas, diafragma, usus, dan mesenterium
2. diperlukan kontras intra vena
3. mahal
4. tidak bisa dilakukan pada pasien yang tidak stabil


Gambar 1. Blunt abdominal trauma with
splenic injury and hemoperitoneum

Gambar 2. Blunt abdominal trauma with
liver laceration
C. Ultrasound
Ultrasound digunakan untuk mendeteksi adanya darah intraperitonum setelah terjadi
trauma tumpul. USG difokuskan pada daerah intraperitoneal dimana sering didapati
akumulasi darah, yaitu pada
1. kuadran kanan atas abdomen (Morison's space antara liver ginjal kanan)
2. kuadran kiri ats abdomen (perisplenic dan perirenal kiri)
3. Suprapubic region (area perivesical)
4. Subxyphoid region (pericardiumhepatorenal space)
Daerah anechoic karena adanya darah dapat terlihat paling jelas jika dibandingkan
dengan organ padat di sekitarnya. Banyak penelitian retrospektif menyatakan manfaat
Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 11

USG pada pasien dengan hemodinamik yang stabil atau tidak stabil untuk mendeteksi
adanya perdarahan intraperitoneal. Beberapa RCT menunjukkan penggunaan FAST
untuk diagnostik akan menghasil pasien dengan hasil perawatan yang lebih baik.
Keuntungan USG :
1. portabel
2. dapat dilaksanakan dengan cepat
3. tingkat sesitifitas sebesar 65-95% dalam mendeteksi paling sedikit 100 ml cairan
intraperitoneal.
4. spesifik untuk hemoperitoneum
5. tanpa radiasi atau kotras
6. mudah dilakuakn pemeriksaan serial jika diperlukan
7. tekniknya mudah dipelajari
8. non invasif
9. lebih murah dibandingkan CT-scan atau peritoneal lavage
Kelemahan USG
1. cedera parenkim padat, retroperitoneum, atau diafragma tidak bisa dilihat dengan
baik
2. kualitas gambar akan dipengaruhi pada pasien yang tidak kooperatif, obesitas,
adanya gas usus, dan udara subkutan
3. darah tidak bisa dibedakan dari ascites
4. tidak sensitif untuk mendeteksi cedera usus.

Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 12


Gambar 3. Morison pouch normal (tidak
ada cairan bebas)

Gambar 4. Cairan bebas di Morison
pouc
Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 13


Diagnostic peritoneal lavage
DPL diindikasikan untuk trauma tumpul pada (1) pasien dengan trauma tulang belakang,
(2) dengan trauma multiple dan syok yang tidak diketahui, (3) Pasien intoksikasi yang
mengarah pada trauma abdomen, (4) Pasien lemah dengan kemungkinan trauma abdomen,
(5) pasien dengan potensial trauma intra-abdominal yang akan menjalani anestesi dalam
waktu lama untuk prosedur yang lain. Kontraindikasi absolut untuk DPL yaitu pasien
membutuhkan laparotomi. Kontraindikasi relatif meliputi kegemukan, riwayat
pembedahan abdomen yang multipel, dan kehamilan.

3.6 EVALUASI PRIMER DAN PENATALAKSANAAN
Algoritma Prosedur Pemeriksaan pada Trauma Tumpul Abdomen



Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 14

Initial resuscitation dan penatalaksanaan pasien trauma berdasarkan pada protokol
Advanced Trauma Life Support. Penilaian awal (Primary survey) mengikuti pola ABCDE,
yaitu Airway, Breathing, Circulation, Disability (status neurologis), dan Exposure.
a. Airway, dengan Kontrol Tulang BelakangMembuka jalan napas menggunakan teknik
head tilt chin lift atau menengadahkan kepala dan mengangkat dagu, periksa adakah
benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya jalan napas. Muntahan, makanan,
darah atau benda asing lainnya.
b. Breathing, dengan Ventilasi Yang AdekuatMemeriksa pernapasan dengan menggunakan
cara lihat-dengar-rasakan tidak lebih dari 10 detik untuk memastikan apakah ada napas
atau tidak, Selanjutnya lakukan pemeriksaan status respirasi korban (kecepatan, ritme dan
adekuat tidaknya pernapasan).
c. Circulation,dengan Kontrol Perdarahan Hebat.Jika pernapasan korban tersengal-sengal
dan tidak adekuat, maka bantuan napas dapat dilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda
sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio kompresi dada dan bantuan napas
dalam RJP adalah 15 : 2 (15 kali kompresi dada dan 2 kali bantuan napas
Pada penderita hipotensi, secepatnya perlu menentukan apakah ada cidera abdomen
dan apakah itu penyebab hipotensinya. Penderita yang normal hemodinamisnya tanpa
tanda-tanda peritonitis dapa dilakukan evaluasi yang lebih teliti untuk menentukan cedera
spesifik yang ada atau adakah tanda tanda peritonitis ata perdarahan terjadi sekama
observasi.
A. Pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil
Pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil, penatalaksanaan bergantung pada ada
tidaknya perdarahan intraperitoneal. Pemeriksaan difokuskan pada USG abdomen atau
DPL untuk membuat keputusan.
Walaupun ada banyak penelitian retrospektif dan beberapa penelitian prespektif
mendukung penggunaan USG sebagai alat untuk skrening trauma, beberapa ahli masih
mempertanyakan USG pada penatalaksanaan trauma. Mereka menekankan pada tingkat
sensitifitas dan adanya kemungkinan hasil negatif pada penggunaan USG untuk
mendeteksi cedera intraperitoneal. Walaupun demikian kebanyakan trauma center
memakai Focused Assesment with Sonography for Trauma (FAST) untuk mengevaluasi
Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 15

pasien yang tidak stabil. FAST dilakukan secepatnya setelah primary survey, atau ketika
kliknisi bekerja secara paralel, biasanya dilakukana bersamaan dengan primary survey,
sebagai bagian dari C (Circulation) pada ABC.
Jika tersedia USG, sangat disarankan penggunaan FAST pada semua pasien dengan trauma
tumpul abdomen. Jika hasil FAST jelek, misalnya kualitas gambar yang tidak bagus, maka
selanjutnya perlu dilakukan DPL. Jika USG dan DPL menunjukkan adanya
hemoperitoneum, maka diperlukan laparotomi emergensi. Hemoperitoneum pada pasien
yang tidak stabil secara klinis, tanpa cedera lain yang terlihat, juga mengindikasikan untuk
dilakukan laparotomi. Jika melalui USG dan DPL tidak didapati adanya hemoperitoneum,
harus dilakukan investigasi lebih lanjut terhadap lokasi perdarahan. Pada penatalaksanaan
pasien tidak stabil dengan fraktur pelvis mayor, harus diingat bahwa USG tidak bisa
membedakan hemoperitoneum dan uroperitoneum
X-ray dada harus dilakukan sebagai bagian dari initial evalutiaon karena dapat
menunjukkan adanya perdarah pada cavum thorax. Radiography antero-posterior pelvis
bisa menunjukkan adanya fraktur pelvis yang membutuhkan stabilisasi segera dan
kemungkinan dilakukan angiography untuk mengkontrol perdarahan.

B. Pasien dengan hemodinamik yang stabil
Penilaian klinis pada pasien trauma tumpul abdomen dengan kondisi sadar dan bebas dari
intoksikasi, pemeriksaan abdomen saja biasanya akurat tapi tetap tidak sempurna. Satu
penelitian prospective observational terhadap pasien dengan hemodinamik stabil, tanpa
trauma external dan dengan pemeriksaan abdomen yang normal, ternyata setelah
dibuktikan melalui CT-scan ditemukan sebanyak 7,1% kasus abnormalitas.
USG dan CT sering digunakan untuk mengevaluasi pasien trauma tumpul abdomen yang
stabil. Jika pada USG awal tidak terdetekdi adanya perdarahan intraperitoneal, maka perlu
dilakukan pemeriksaan fisik, USG, dan CT secara serial. Pemeriksaan fisik serial
dilakukan jika hasil pemeriksaan dapat dipercaya, misal pada pasien dengan sensoris
normal, dan cedera yang mengganggu. Penelitian prospective observational terhadap 547
pasien menunjukkan USG kedua (FAST) yang dilakukan selama 24 jam dari trauma,
meningkatkan sensitifitas terhadap cedra intraabdominal,
Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 16

Jika USG awal mendeteksi adanya darah di intraperitoneal, maka kemudian dilakukan CT
scan untuk memperoleh gambaran cedera intraabdominal dan menaksir jumlah
hemoperitoneum. Keputusan apakah diperlukan laparotomy segera atau hanya terapi non
operatif tergantung pada cedera yang terdetaksi dan status klinis pasien. CT abdominal
harus dilakukan pada semua pasien dengan hemodinamik stabil, tapi tidak untuk pasien
dengan perubahan sensoris dan status mental karena cedera kepala tertutup, intoksikasi
obat dan alkohol, atau cedera lain yang mengganggu.
Terapi Pembedahan
Indikasi laparotomi pada pasien dengan trauma abdomen meliputi tanda-tanda
peritonitis, perdarahan atau syok yang tidak terkontrol, kemunduran klinis selama
observasi, dan adanya hemoperitonium setelah pemeriksaan FAST dan DPL. Ketika
indikasi laparotomi, diberikan antibiotik spektrum luas. Insisi midline biasanya menjadi
pilihan. Saat abdomen dibuka, kontrol perdarahan dilakukan dengan memindahkan darah
dan bekuan darah, membalut semua 4 kuadran, dan mengklem semua struktur vaskuler.
Kerusakan pada lubang berongga dijahit. Setelah kerusakan intra-abdomen teratasi dan
perdarahan terkontrol dengan pembalutan, eksplorasi abdomen dengan teliti kemudian
dilihat untuk evaluasi seluruh isi abdomen.
Setelah trauma intra-abdomen terkontrol, retroperitonium dan pelvis harus
diinspeksi. Jangan memeriksa hematom pelvis. Penggunaan fiksasi eksternal fraktur pelvis
untuk mengurangi atau menghentikan kehilangan darah pada daerah ini. Setelah sumber
perdarahan dihentikan, selanjutnya menstabilkan pasien dengan resusitasi cairan dan
pemberian suasana hangat. Setelah tindakan lengkap, melihat pemeriksaan laparotomy
dengan teliti dengan mengatasi seluruh struktur kerusakan.
Follow-Up
Perlu dilakukan observasi pasien, monitoring vital sign, dan mengulangi
pemeriksaan fisik. Peningkatan temperature atau respirasi menunjukkan adanya perforasi
viscus atau pembentukan abses. Nadi dan tekanan darah dapat berubah dengan adanya
sepsis atau perdarahan intra-abdomen. Perkembangan peritonitis berdasar pada
pemeriksaan fisik yang mengindikasikan untuk intervensi bedah.

Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 17

BAB III
KESIMPULAN
Pada kecurigaan terjadinya trauma tumpul abdomen harus dilakukan pemeriksaan
yang menyeluruh dan observasi yang berulang-ulang. Merupakan hal yang sulit untuk
menduga apa yang terjadi pada organ-organ intra abdominal karena tidak bisa terlihat dari
luar, dengan gejala yang bisa timbul dalam waktu yang cukup lama dan gejala yang timbul
bisa minimal sedangkan kerusakan organ-organnya cukup parah.
Didapatkan infomasi riwayat trauma yang adekuat pada daerah perut. Dari
anamnesis didapatkan nyeri pada perut. Dari pemeriksaan fisik didapatkan waspada
terhadap tanda tanda syok yaitu tekanan darah menurun, nadi cepat, nafas cepat.
Kemungkinan penyebab syok dapat diketahui dari pemeriksaan status lokalis region
abdomen.
Tindakan penyelamatan life support harus segera diberikan, meskipun terjadinya
trauma tumpul abdomen masih menjadi kecurigaan. Penatalaksanaan harus secepatnya
dilakukan jika telah terbukti adanya trauma tumpul abdomen dengan kegawatan,
mengingat banyaknya organ-organ penting yang terdapat di intra abdominal. Komplikasi
yang sering terjadi pada trauma tumpul abdomen adalah peritonitis. Kematian pada trauma
tumpul abdomen disebabkan karena sepsis dan perdarahan. Pilihan terapi pada pasien ini
adalah dilakukan laparotomi segera karena sudah tejadi komplikasi dari trauma tumpul
abdomen yaitu peritonitis yang merupakan akut abdomen.









Laporan SkenarioTrauma Tumpul Abdomen Halaman 18

DAFTAR PUSTAKA
American College of Surgeon. 2004. Advanced Trauma Life Support. Terjemahan
IKABI (Ikatan Ahli Bedah Indonesia). First Impression :USA
Jong, Wim de. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2 . EGC : Jakarta
King, Maurice . 2002. Bedah Primer Trauma. EGC : Jakarta
Marijata. 2006. Pengantar Dasar Bedah Klinis. Unit Pelayanan Kampus fakultas
Kedokteran Universitas Gajah Mada : Yogyakarta
Richard A Hodin, MD. 2007. General Approach to Blunt Abdominal Trauma in Adult.
UpToDate
Sabiston, David C. 1994. Buku Ajar Bedah Bagian 1. EGC : Jakarta
Sandy Craig, MD. 2006. Abdominal Blunt Trauma. E-Medicin