Anda di halaman 1dari 69
Halaman 0 dari 69

Daftar Isi

1 PENDAHULUAN

7

1.1 Latar Belakang

7

1.2 Maksud

8

1.3 Tujuan

8

1.4 Sasaran

8

1.5 Ruang Lingkup

8

1.6 Landasan Hukum

9

2 DISAIN SISTEM INFORMASI KESEHATAN

2.1 Pengertian Sistem Informasi Kesehatan

KESEHATAN 2.1 Pengertian Sistem Informasi Kesehatan 2.2 Peran Sistem Informasi Kesehatan Dalam Sistem Kesehatan

2.2 Peran Sistem Informasi Kesehatan Dalam Sistem Kesehatan

2.3 Model Pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia

2.4 Model Sistem Informasi Kesehatan Nasional

2.5 Implementasi Model Sistem Informasi Kesehatan Nasional

2.6 SIKDA Generik

3 PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN

3.1 Tanggung Jawab Pemerintah dalam Menentukan Kebijakan Sistem Informasi Kesehatan

3.2 Tugas dan Tanggung Jawab Pemangku Kepentingan Bidang Kesehatan

3.3 Tugas dan Tanggung Jawab Pemangku Kepentingan Selain Bidang Kesehatan yang Terkait

3.4 Organisasi

3.4.1 Penyelenggara Tingkat Pusat

3.4.2 Penyelenggara Tingkat Provinsi

3.4.3 Penyelenggara Tingkat Kabupaten/Kota

3.4.4 Penyelenggara Tingkat Fasilitas Pelayanan Kesehatan

3.4.4 Penyelenggara Tingkat Fasilitas Pelayanan Kesehatan 4 INDIKATOR 4.1 Penyusunan dan Penetapan Indikator Kesehatan

4 INDIKATOR

4.1 Penyusunan dan Penetapan Indikator Kesehatan

4.2 Indikator Kesehatan Nasional

5 SUMBER DATA

12

12

12

13

14

16

17

18

18

18

19

21

21

21

21

22

23

23

23

29

5.1 Jenis Sumber Data

29

5.2 Kewenangan Menetapkan Data Sasaran

30

5.3 Laporan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

30

6 PENGUMPULAN, PENGELOLAAN DAN PENANGANAN GANGGUAN DATA

38

6.1

Pengumpulan Data

38

6.1.1 Standar Data

38

6.1.2 Petugas Data

38

6.1.3 Kualitas Data

38

6.2

Pengolahan Data

39

6.2.1

Keamanan Data dan Kerahasiaan Data

39

6.2.2 Pengamanan SIK

41

6.2.3 Penyimpanan Data

42

6.3 Penanganan Gangguan

43

6.4 Interoperabilitas

45

6.5 Format Pengiriman Data ke Bank Data Kesehatan Nasional

45

7 PENYAJIAN, DISEMINASI DAN PEMANFAATAN DATA DAN INFORMASI

49

7.1 Penyajian Data dan Informasi 49 7.2 Diseminasi 51 7.3 Pemanfaatan 51 8 SUMBER DAYA
7.1 Penyajian Data dan Informasi
49
7.2 Diseminasi
51
7.3 Pemanfaatan
51
8 SUMBER DAYA
53
8.1 Pendanaan
53
8.2 Sumber Daya Manusia
54
8.2.1 Kompetensi Pengelola SIK
54
8.2.2 Jenis Jengelola SIK dan Fungsinya
55
8.3
Infrastruktur
57
8.3.1 Infrastruktur Pengelolaan SIK Manual
57
8.3.2 Infrastruktur Pengelolaan SIK Komputerisasi
57
9 IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI KESEHATAN KOMPUTERISASI
61
9.1 Perencanaan
61
9.2 Analisis dan Dokumentasi Kebutuhan Sistem
62
9.3 Analisis Perangkat Keras, Jaringan dan Infrastruktur
62
9.4 Analisis Software Aplikasi
63
9.5 Pengadaan
64
9.6 Implementasi
64
9.7 Pelatihan
65
9.8 Pendampingan
66
9.9 Penjaminanan
66

9.10 Pemeliharaan Pasca Implementasi

66

10 PEMBINAAN, PEMANTAUAN, DAN EVALUASI

67

11 PENUTUP

68

Daftar Istilah

Puskesmas Unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
Puskesmas
Unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Bidan
Seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah terregistrasi sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bidan dapat menjalankan praktik mandiri dan/atau bekerja di fasilitas pelayanan
kesehatan (tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan
kesehatan baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat)
Bidan Desa
bidan yang ditempatkan dan bertugas di desa, mempunyai wilayah kerja satu sampai
dua desa, dan dalam melaksanakan tugas pelayanan medis baik di dalam maupun di
luar jam kerjanya bidan harus bertanggung jawab langsung kepada Kepala Puskemas.
Perawat Desa/Perawat
Perkesmas
Perawat yang ditempatkan di desa dan bertanggung jawab mengelola
penyelenggaraan perkesmas di desa binaan, mempunyai wilayah kerja satu sampai
dua desa, dan dalam melaksanakan tugasnya baik di dalam maupun di luar jam kerja
Perawat Desa/Perawat Perkesmas harus bertanggung jawab langsung kepada Kepala
Puskesmas.
Perawat Desa/Perawat Perkesmas bertugas mengelola penyelenggaraan perkesmas
dan melaksanakan asuhan keperawatan untuk individu, keluarga, atau kelompok
masyarakat di wilayah desa binaan terutama yang mempunyai masalah rawan
kesehatan, resiko tinggi atau mempunyai masalah kesehatan masyarakat prioritas di
wilayahnya. Dalam melakukan asuhan keperawatan perawat dapat melakukan upaya
pencegahan, promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pemberdayaan pasien dan
klien, perawatan komplementer, melakukan tindakan medis sesuai kewenangannya
dan pemulihan kesehatan, serta melaksanakan tindakan kegawatdaruratan maupun
tugas pemerintah.
Pos Kesehatan Desa
(Poskesdes)
Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam
rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa.
Poskesdes dapat dikatakan sebagai sarana kesehatan yang merupakan pertemuan
antara upaya-upaya masyarakat dan dukungan pemerintah. Pelayanannya meliputi
upaya-upaya promotif, preventif, dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan
(bidan desa / perawat desa / perkesmas) dengan melibatkan kader atau tenaga
sukarela Iainnya.
Rumah sakit
institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat
darurat. Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan
karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan
kesehatan, kemajuan teknologi dan kehidupan sosial ekonimo masyarakat yang harus
tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh
masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Laboratorium
Kesehatan
Sarana kesehatan yang melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian
terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahkan bukan berasal dari manusia
untuk penentuan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatan atau faktor
yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan masyarakat.
Jenis laboratorium kesehatan berdasarkan pelayanan yaitu laboratorium klinik dan
laboratorium kesehatan masyarakat. Laboratorium kesehatan dapat diselenggarakan
oleh pemerintah maupun swasta, dapat berupa laboratorium yang mandiri atau
terintegrasi di dalam sarana pelayanan kesehatan lainnya.
Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota
tempat penerimaan, penyimpanan, pendistribusian dan pemeliharaan barang
persediaan berupa obat, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan lainnya (seperti
DDT, pompa, pipa, perbekalan KB, sepeda motor/sepeda roda dua, susu bubuk, dll)
yang tujuannya akan digunakan untuk melaksanakan program kesehatan di
kabupaten/kota yang bersangkutan.
Apotek sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker (PP no. 51 tahun 2009
Apotek
sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker
(PP no. 51 tahun 2009 pasal 1 ayat 13). Yang dimaksud praktek kefarmasian tersebut
meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas
resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan
obat tradisional.
Laboratorium
Radiologi
Sarana kesehatan yang melaksanakan pemeriksaan, analisa, menguraikan,
mengidentifikasi tubuh pasien menggunakan pancaran atau radiasi gelombang, baik
gelombang elektromagnetik maupun gelombang mekanik. Pada awalnya frekuensi
yang dipakai berbentuk sinar-x (x-ray) namun kemajuan teknologi modern memakai
pemindaian (scanning) gelombang sangat tinggi (ultrasonic) seperti ultrasonography
(USG) dan juga MRI (magnetic resonance imaging).
Klinik/Praktik Dokter
Fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar dan/atau spesialistik,
diselenggarakan oleh lebih dari satu jenis tenaga kesehatan dan dipimpin oleh seorang
tenaga medis (dokter, dokter spesialis, dolkter gigi atau dokter gigi spesialis)
Bidan Praktik Mandiri
Praktik bidan swasta perorangan. Bidan yang menjalankan praktik mandiri harus
berpendidikan minimal Diploma III Kebidanan dan wajib memiliki SIPB
Praktik Mandiri
Perawat/Swasta
Seorang Perawat yang mempunyai izin praktek dan memberikan pelayanan asuhan
keperawatan bagi pasien atau klien yang memerlukan bantuan pelayanan
keperawatan baik individu, keluarga, ataupun kelompok yang dapat dilakukan di
tempat praktik perawat, di rumah pasien/klien (home care) atau di institusi lingkungan
tempat kelompok (panti, Tempat kerja, sekolah, dll)
Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota
adalah unit organisasi pemerintah daerah Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab
dalam bidang kesehatan di wilayah kabupaten/kota tersebut.
Dinas Kesehatan
Provinsi
adalah unit organisasi pemerintah daerah Provinsi yang bertanggungjawab dalam
bidang kesehatan di wilayah provinsinya.
Fasilitas pelayanan
kesehatan lain
adalah fasilitas/sarana yang memberikan pelayanan kesehatan antara lain fasilitas
kesehatan komplementer-alternatif, RB, Pengobatan Tradisional, Balai Pengobatan.
Dataset minimal
Data minimal yang diperlukan pada proses penilaian klinis dari pasien di suatu
layanan kesehatan. Proses ini memberikan penilaian yang komprehensif dan
membantu petugas kesehatan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan tersebut.
Bank Data Kesehatan
Nasional
Suatu sistem komputer untuk mengarsipkan dan menganalisis data kesehatan yang
dikumpulkan dari pelayanan kesehatan serta unit yang terkait dengan kesehatan pada
tingkat nasional. Melalui sistem ini manajer kesehatan dapat melakukan kueri
kompleks dan analisis (contohnya penambangan data, data mining) terhadap informasi
tersebut tanpa membebani sistem yang operasional.
Inkonsistensi
Ketidaktaatasasan, Ketidakserasian
Anomali
ketidaknormalan; penyimpangan atau keanehan yang terjadi atau dengan kata lain
tidak seperti biasanya
Privasi
Disebut juga kerahasiaan pribadi adalah kemampuan satu atau sekelompok individu
untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk
mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. Privasi kadang dihubungkan dengan
anonimitas walaupun anonimitas terutama lebih dihargai oleh orang yang dikenal
publik. Privasi dapat dianggap sebagai suatu aspek dari keamanan.
Hak ases
Hak yang diberikan kepada user untuk mengakses sistem. Hak akses adalah hal yang
paling mendasar dalam bidang sekuriti. Dalam strategi sekuriti, setiap objek dalam
sistem (user, administrator, software, sistem itu sendiri, dsb) harus diberikan hak akses
yang berguna untuk menunjang fungsi kerja dari objek tersebut.
Antivirus
sebuah jenis perangkat lunak yang digunakan untuk mengamankan, mendeteksi, dan
menghapus virus komputer dari sistem komputer. Antivirus disebut juga Virus Protection Software. Aplikasi ini dapat
menghapus virus komputer dari sistem komputer. Antivirus disebut juga Virus
Protection Software. Aplikasi ini dapat menentukan apakah sebuah sistem komputer
telah terinfeksi dengan sebuah virus atau tidak. Umumnya, perangkat lunak ini berjalan
di latar belakang (background) dan melakukan pemindaian terhadap semua berkas
yang diakses (dibuka, dimodifikasi, atau ketika disimpan).
Firewall
Firewall adalah sebuah sistem atau grup sistem yang menjalankan kontrol akses
keamanan diantara jaringan internal yang aman dan jaringan yang untrusted seperti
internet.Firewall didesain untuk mengijinkan trusted data atau data yang dipercaya
lewat, menolak layanan yang mudah diserang, mencegah jaringan internal dari
serangan luar yang bisa menembus firewall setiap waktu.
Hack
Upaya membobol sesuatu baik itu program, aplikasi, sistem komputer dll.
Hacker
Seseorang dengan kemampuan hack yang suka menjelajahi secara rinci
sistem,program, dan memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan sebagian besar
pengguna komputer yang awam. Hacker merupakan pengguna Internet yang memiliki
pemahaman mendalam dari sistem internal, komputer dan jaringan komputer
khususnya.
Enkripsi
proses mengamankan suatu informasi dengan membuat informasi tersebut tidak dapat
dibaca tanpa bantuan pengetahuan khusus. Dikarenakan enkripsi telah digunakan
untuk mengamankan komunikasi di berbagai negara, hanya organisasi-organisasi
tertentu dan individu yang memiliki kepentingan yang sangat mendesak akan
kerahasiaan yang menggunakan enkripsi.
Identity (ID)
Suatu kode yang mengukuhkan keberadaan seseorang atau organisasi.
Server
Sebuah sistem komputer yang menyediakan jenis layanan tertentu dalam sebuah
jaringan komputer. Server didukung dengan prosesor yang bersifat scalable dan RAM
yang besar, juga dilengkapi dengan sistem operasi khusus, yang disebut sebagai
sistem operasi jaringan.
Helpdesk
Semacam tim support yang membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan
pemecahan masalah computer maupun jaringannya.
Troubleshooting
Sebuah proses yang memungkinkan seorang user untuk menemukan permasalahan
pada sebuah jaringan komputer.
UPS
Kependekan dari Uninteruptable Power System yaitu batere dengan inverter yang
berfungsi sebagai penstabil tegangan dan penanggung daya untuk beberapa waktu
saat padam listrik.
Restore
Proses pengembalian data dalam sistem komputer.
HTML
Kependekan dari Hypertext Markup Language yaitu sebuah jenis teks dokumen
khusus yang digunakan oleh Web browser untuk mempresentasikan teks dan gambar.
Processor
sebuah IC yang mengontrol keseluruhan jalannya sebuah sistem komputer dan
digunakan sebagai pusat atau otak dari komputer yang berfungsi untuk melakukan
perhitungan dan menjalankan tugas.
Spreadsheet
tabel informasi/data berbentuk kotak dengan baris dan kolom yang berisi
penghitungan-penghitungan yang digunakan untuk melakukan analisa komparatif.
Rekam medis
adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksanaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada
pasien. Rekam medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas atau secara
elektronik.
Pranata Komputer
Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara
penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan di bidang teknologi
informasi berbasis komputer, antara lain sistem analis, programmer, operator data
entry/komputer, teknisi komputer, administrator jaringan, administrator database, dan
 

perancang web

Statistisi

Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan statistik pada instansi pemerintah.

Arsiparis

Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan kearsipan.

Pustakawan

Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan kepustakawan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi instansi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya.

Pemangku

Suatu unit/organisasi yang terkait dengan pelaksanaan/pengembangan SIK. Terdiri dari pemangku kepentingan SIK bidang Kesehatan dan selain bidang kesehatan

kepentingan SIK

dari pemangku kepentingan SIK bidang Kesehatan dan selain bidang kesehatan kepentingan SIK Halaman 6 dari 69

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem Informasi Kesehatan (SIK) sebagai bagian penting dari manajemen kesehatan terus berkembang selaras dengan perkembangan organisasi. Dengan adanya perubahan sistem kesehatan mengakibatkan terjadinya perubahan pada SIK, namun sayangnya perubahan sistem kesehatan di lapangan tidak secepat dengan yang diperkirakan oleh para pengambil keputusan. Hal ini tampak nyata ketika sistem kesehatan berubah dari sentralisasi ke desentralisasi, SIK tidak berfungsi sebagaimana layaknya. SIK yang selama ini telah dikembangkan, (meskipun masih terfragmentasi) secara Nasional tidak berfungsi, alur laporan dari pelayanan kesehatan ke jenjang administrasi kabupaten/kota hingga ke pusat banyak yang terhambat.

kabupaten/kota hingga ke pusat banyak yang terhambat. SIK membantu dalam proses pengambilan keputusan untuk (a)

SIK membantu dalam proses pengambilan keputusan untuk (a) pelaksanaan pelayanan kesehatan sehari-hari, (b) intervensi cepat dalam penanggulangan masalah kesehatan, dan (c) untuk mendukung manajemen kesehatan di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat terutama dalam penyusunan rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

SIK yang baik adalah sistem informasi yang mampu menghasilkan data/informasi yang akurat dan tepat waktu. Pada saat ini dengan kemajuan Teknologi Komunikasi Informasi (TIK) yang pesat mewujudkan SIK yang baik menjadi hal yang mungkin, tentunya dengan mengaplikasikan kaidah-kaidah informasi seperti melaksanakan prosedur secara konsisten dan rutin, menyediakan sumber-daya yang memadai dan memperoleh dukungan/komitmen pimpinan dalam pengembangan, pemanfatan data/informasi yang dihasilkan.

SIK telah digunakan untuk mendukung kegiatan pelayanan kesehatan sehari-hari yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, terutama dalam penanganan pasien dan intervensi penanggulangan masalah kesehatan. Sebaliknya dalam hal manajemen kesehatan di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat, SIK belum banyak berperan karena belum menghasilkan data/informasi yang akurat dan tepat waktu.

Sejak diberlakukannya sistem desentralisasi, SIK di Indonesia berkembang dengan cepat terutama dalam hal pemanfaatan TIK di dalam proses kerja. Banyak institusi pelayanan seperti RS, Puskesmas dan Dinas Kesehatan Daerah mengembangkan sistem informasi yang berbasis komputer, baik dibangun oleh tim SIKDA (in-house development) ataupun bekerjasama dengan provider IT” swasta. Modernisasi dengan penyerapan TIK sangat membantu dalam penyempurnaan SIK di daerah.

TIK sangat membantu dalam penyempurnaan SIK di daerah. Pada saat ini terdapat berbagai sistem informasi yang

Pada saat ini terdapat berbagai sistem informasi yang dibangun oleh berbagai pengelola SIK di daerah dengan format data yang berbeda-beda, sehingga mempersulit untuk menghimpunnya dalam Bank Data Kesehatan Nasional. Oleh karena itu diperlukan suatu pedoman yang dapat mengatur dan menyeragamkan berbagai karakteristik SIK dan master data yang berbeda tersebut, sehingga dapat mempermudah dalam proses integrasi dan komunikasi data ke Bank Data Kesehatan Nasional.

1.2

Maksud

Pedoman Sistem Informasi Kesehatan (Pedoman SIK) adalah suatu dokumen yang berisi aturan berupa norma, standar, kriteria, dan prosedur yang digunakan sebagai acuan dalam pengembangan SIK, yang mencakup acuan untuk pemerintah dalam pengelolaan dan pengembangan SIK skala Nasional dan fasilitasi pengembangan SIK daerah, acuan untuk pemerintah daerah provinsi dalam pengelolaan SIK skala provinsi, acuan untuk pemerintah daerah kabupaten/kota dalam pengelolaan SIK skala kabupaten/kota dan acuan untuk fasilitas pelayanan kesehatan dalam pengelolaan SIK.

Dengan adanya Pedoman SIK ini, diharapkan semua pengelola SIK di Indonesia dapat memodifikasi sistem yang dikembangkannya, sehingga sesuai dengan karakteristik teknis dan standar substansi yang tertuang dalam Pedoman ini.

1.3 Tujuan Tujuan Pedoman SIK adalah:  memberikan acuan dalam penyelenggaraan SIK;  memberikan kesamaan
1.3 Tujuan
Tujuan Pedoman SIK adalah:
 memberikan acuan dalam penyelenggaraan SIK;
 memberikan kesamaan pola pikir atau persepsi dan langkah dalam penyelenggaraan
SIK;
 menciptakan sinergi antar unit kerja (pemangku kepentingan) yang terlibat dalam
penyelenggaraan SIK; dan
 mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan yang efektif dan efisien.
1.4 Sasaran
Sasaran Pedoman SIK adalah semua pemangku kepentingan yang terkait dengan SIK baik
sebagai sumber data, pengelola data, maupun pengguna data. Pedoman SIK ini mengatur
pengelolaan dan pengembangan SIK skala Nasional, pengelolaan SIK skala provinsi,
pengelolaan SIK skala kabupaten/kota, dan pengelolaan SIK skala unit pelayanan
kesehatan.
1.5
Ruang Lingkup
Lingkup isi Pedoman SIK ini mencakup:
1. Disain Sistem Informasi Kesehatan

2. Pengelolaan SIK

3. Indikator

4. Sumber Data

5. Pengumpulan, Pengolahan dan Penanganan Gangguan Data

6. Penyajian, Diseminasi dan Pemanfaatan Data dan Informasi

7. Sumber Daya

8. Implementasi Sistem Informasi Kesehatan Komputerisasi

9. Pembinaan, Pemantauan dan Evaluasi

1.6 Landasan Hukum

Landasan hukum sebagai pijakan dalam penyelenggaraan SIK adalah sebagai berikut:

1. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomo4 4431);

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);

3. Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

4438);

4. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4674);

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4674); 5. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan

5. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843);

6. Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846);

7. Undang-undangan Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

8. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);

9. Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 161, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5080)

10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang

11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 209, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4027);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

4090);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4124);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat

(Lembaran Negara Tahun 2007 Republik Indonesia Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4693);

Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Informasi

dan Teknologi Elektronik (Lembaran Negara Tahun

Republik Indonesia Nomor

16. Peraturan Pemerintah Nomor

,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

);

17. Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government

18. Peraturan Kepala Arsip Nasional RI Nomor 06 Tahun 2005 tentang Petunjuk teknis, Perlindungan, Pengamanan dan Penyelamatan Dokumen/Arsip Vital Negara;

19. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 41/PER/Men.Kominfo/11/2007 tentang Panduan Umum Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional;

20. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1109/Menkes/PER/IX/2007 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer-Alternatif di fasilitas Pelayanan Kesehatan

21. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis;

22. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 741/Menkes/SK/IX/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;

Menteri Kesehatan Nomor Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan
Menteri
Kesehatan
Nomor
Menggunakan
Obat
Generik
di
Fasilitas
Pelayanan

23. Peraturan

Kewajiban

Pemerintah

HK.02.02/Menkes/068/I/2010

tentang

Kesehatan

24. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 148/Menkes/Per/IX/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat;

25. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 411/Menkes/PER/III/2010 tentang Laboratorium Klinik

26. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan;

27. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan;

28. Peraturan Menteri Kesehatan Noomor 1501/Menkes/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan

29. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 028/Menkes/Per/I/2011 tentang Klinik;

30. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 574/Menkes/SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010;

Menteri Kesehatan Nomor 574/Menkes/SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010;

31. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 41 Tahun 2001 tentang Pengawasan Represif Kebijakan Daerah;

32. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 511/Menkes/SK/V/2002 tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan SIK Nasional (SIKNAS);

33. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang Petunjuk teknis Pelaksanaan Pengembangan Sistem Informasi Daerah (SIKDA);

34. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 09/Kep/M.PAN/2002 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis dan Angka Kreditnya;

35. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 132/Kep/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya;

36. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 364/Menkes/SK/III/2003 tentang Laboratorium Kesehatan;

37. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 279/Menkes/SK/IV/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perawatan Kesehatan Masyarakat di Indonesia;

38. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 837/Menkes/SK/VII/2007 tentang Pengembangan SIKNAS Online;

39.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.00.SJ.SK.VI.1111 Tahun 2007 tentang Penunjukan Petugas Pengelolaan SIKNAS Online;

40. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 267/Menkes/SK/III/2008 tentang Petunjuk Teknis Pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah;

41. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 374/Menkes/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional;

42. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 442/Menkes/SK/VI/2009 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji Indonesia;

43. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 908/Menkes/SK/VII/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Keperawatan Keluarga;

44. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 021/Menkes/SK/I/2011 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014;

45. Keputusan Bersama Kepala Badan Pusat Statistik dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 003/KS/2003 Nomor 25 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Statistisi dan Angka Kreditnya;

Jabatan Fungsional Statistisi dan Angka Kreditnya; 46. Keputusan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 291 tahun

46. Keputusan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 291 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Formasi Jabatan Fungsional Pranata Komputer;

Nomor 291 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Formasi Jabatan Fungsional Pranata Komputer; Halaman 11 dari 69

2

DISAIN SISTEM INFORMASI KESEHATAN

2.1 Pengertian Sistem Informasi Kesehatan

Pengambilan keputusan akan lebih mudah jika semua informasi yang dibutuhkan sudah tersedia. Untuk tujuan itu, suatu sistem informasi perlu dibangun dengan mengorganisir berbagai data yang telah dikumpulkan secara sistematik, memproses data menjadi informasi yang berguna. Sistem informasi atau sistem informasi manajemen pada hakekatnya adalah serangkaian prosedur dan integrasinya dengan perangkat dan manusia untuk menghasilkan data/informasi untuk manajemen. Sistem informasi merupakan tatanan yang melibatkan manusia, peralatan, dan prosedur untuk menghasilkan data dan informasi yang digunakan untuk pengambilan keputusan.

dan informasi yang digunakan untuk pengambilan keputusan . SIK adalah suatu sistem yang menyediakan dukungan informasi

SIK adalah suatu sistem yang menyediakan dukungan informasi bagi proses pengambilan keputusan di setiap jenjang administrasi kesehatan, baik di tingkat unit pelaksana upaya kesehatan, di tingkat kabupaten/kota, di tingkat provinsi, maupun di tingkat pusat.

Dalam pengembangan dan penguatan SIK harus memperhatikan prinsip-prinsip:

1. Keamanan dan kerahasiaan data SIK harus dapat menjamin keamanan dan kerahasiaan data.

2. Standarisasi Standarisasi SIK khusus dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dibahas dalam petunjuk teknis ini

3. Integrasi SIK harus dapat mengintegrasikan berbagai macam sumber data, termasuk pula dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

4. Keterwakilan Data dan informasi yang dikumpulkan harus dapat ditelusuri lebih dalam secara individual dan agregat sehingga dapat menggambarkan perbedaan gender, status sosial ekonomi, dan wilayah geografi.

5. Kemudahan akses Data dan informasi yang tersedia oleh SIK harus mudah diakses oleh semua pihak sesuai hak dan kewenangannya.

6. Pemanfaatan teknologi informasi komunikasi (platform elektronik) Sistem informasi yang dikembangkan akan berbasis data disaggregate atau individu dari fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga sistem berbasis elektronik sangat dibutuhkan.

sehingga sistem berbasis elektronik sangat dibutuhkan. 7. Etika, integritas dan kualitas . 2.2 Peran Sistem

7. Etika, integritas dan kualitas.

2.2 Peran Sistem Informasi Kesehatan Dalam Sistem Kesehatan

Menurut World Health Organization (WHO) dalam buku “Design and Implementaiton of Health Information System” (2000) bahwa suatu sistem informasi kesehatan tidak dapat berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari suatu sistem kesehatan. Sistem informasi kesehatan yang efektif memberikan dukungan informasi bagi proses pengambilan keputusan semua jenjang. Sistem informasi harus dijadikan sebagai alat yang efektif bagi manajemen.

WHO juga menyebutkan bahwa SIK merupakan salah satu dari 6 “building blocks” atau komponen utama dalam suatu sistem kesehatan. Enam komponen Sistem kesehatan tersebut adalah:

1 Service Delivery / Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan

2

Medical products, vacines, and technologies / Produk Medis, Vaksin, dan Teknologi Kesehatan

3 Health Workforce / Tenaga Medis

4 Health System Financing / Sistem Pembiayaan Kesehatan

5 Health Information System / Sistem Informasi Kesehatan

6 Leadership and Governance / Kepemimpinan dan Pemerintahan

SIK disebut sebagai salah satu dari 7 komponen yang mendukung suatu sistem kesehatan, dimana sistem kesehatan tidak bisa berfungsi tanpa satu dari komponen tersebut. SIK bukan saja berperan dalam memastikan data mengenai kasus kesehatan dilaporkan tetapi juga mempunyai potensi untuk membantu dalam meningkatkan efisiensi dan transparansi proses kerja.

Sistem Kesehatan Nasional terdiri dari dari tujuh subsistem, yaitu :1. Upaya kesehatan, 2. Penelitian dan pengembangan kesehatan, 3. Pembiayaan kesehatan, 4. Sumber daya manusia kesehatan, 5. Sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, 6. Manajemen, informasi, dan regulasi kesehatan, dan 7. Pemberdayaan masyarakat.

dan regulasi kesehatan, dan 7. Pemberdayaan masyarakat. Dalam Sistem Kesehatan Nasional, SIK merupakan bagian dari

Dalam Sistem Kesehatan Nasional, SIK merupakan bagian dari sub sistem manajemen, informasi dan regulasi kesehatan. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan, informasi kesehatan dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. Dengan subsistem manajemen, informasi dan regulasi kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat mendukung penyelenggaraan keenam subsistem lain dalam sistem kesehatan nasional sebagai satu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

2.3 Model Pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia

Pada saat ini di Indonesia terdapat 3 (tiga) model pengelolaan SIK, yaitu :

a. Pengelolaan SIK Manual, dimana pengelolaan informasi di fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan secara manual atau paper based melalui proses pencatatan pada buku register, kartu, formulir-formulir khusus, mulai dari proses pendaftaran sampai dengan pembuatan laporan. Hal ini terjadi oleh karena adanya keterbatasan infrastruktur, dana, dan lokasi tempat pelayanan kesehatan itu berada. Pengelolaan secara manual selain tidak efisien juga menghambat dalam proses pengambilan keputusan manajemen dan proses pelaporan. b. Pengelolaan SIK Komputerisasi Offline, pada jenis ini pengelolaan informasi di pelayanan kesehatan sebagian besar/seluruhnya sudah dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer, baik itu dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Manajemen (SIM) maupun dengan aplikasi perkantoran elektronik biasa, namun masih belum didukung oleh jaringan internet online ke dinas kesehatan kabupaten/kota dan provinsi/bank data kesehatan nasional. c. Pengelolaan SIK Komputerisasi Online, pada jenis ini pengelolaan informasi di pelayanan kesehatan sebagian besar/seluruhnya sudah dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer, dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Manajemen dan sudah terhubung secara online melalui jaringan internet ke dinas kesehatan kabupaten/kota dan provinsi/bank data kesehatan nasional untuk memudahkan dalam komunikasi dan sinkronisasi data.

dan provinsi/bank data kesehatan nasional untuk memudahkan dalam komunikasi dan sinkronisasi data. Halaman 13 dari 69

2.4 Model Sistem Informasi Kesehatan Nasional

SIK Nasional yang diharapkan adalah SIK Terintegrasi yaitu sistem informasi yang menyediakan mekanisme saling hubung antar sub sistem informasi dengan berbagai cara yang sesuai dengan yang dibutuhkan, sehingga data dari satu sistem secara rutin dapat melintas, menuju atau diambil oleh satu atau lebih sistem yang lain. Hal ini melingkupi sistem secara teknis (sistem yang bisa berkomunikasi antar satu sama lain) dan konten (data set yang sama). Aliran informasi antar sistem sangat bermanfaat bila data dalam file suatu sistem diperlukan juga oleh sistem yang lainnya, atau output suatu sistem menjadi input bagi sistem lainnya. Bentuk fisik dari SIK Terintegrasi adalah sebuah aplikasi sistem informasi yang dihubungkan dengan aplikasi lain (aplikasi sistem informasi puskesmas, sistem informasi rumah sakit, dan aplikasi lainnya) sehingga secara interoperable terjadi pertukaran data antar aplikasi.

Dengan SIK Terintegrasi, data entri hanya perlu dilakukan satu kali sehingga data yang sama akan disimpan secara elektronik dan bisa dikirim dan diolah. SIK Terintegrasi yang berbasis elektronik adalah strategi pengembangan yang akan diadopsi untuk meringankan beban pencatatan dan pelaporan petugas kesehatan di lapangan.

pencatatan dan pelaporan petugas kesehatan di lapangan. Dalam rangka mewujudkan SIK Terintegrasi, dikembangkan model

Dalam rangka mewujudkan SIK Terintegrasi, dikembangkan model SIK Nasional yang menggantikan sistem yang saat ini masih diterapkan di Indonesia. Model ini memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tetapi tetap dapat menampung SIK Manual untuk fasilitas kesehatan yang masih mempunyai keterbatasan infrastruktur (seperti pasokan listrik dan peralatan komputer serta jaringan internet). Kedepan semua pemangku kepentingan SIK bisa bergerak menuju ke arah SIK Komputerisasi dimana proses pencatatan, penyimpanan dan diseminasi informasi bisa lebih efisien dan efektif serta keakuratan data dapat ditingkatkan.

dan diseminasi informasi bisa lebih efisien dan efektif serta keakuratan data dapat ditingkatkan. Halaman 14 dari
Fasilitas pelayanan kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta wajib menyampaikan laporan sesuai standar dataset

Fasilitas pelayanan kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta wajib menyampaikan laporan sesuai standar dataset minimal dan jadwal yang telah ditentukan.

Fasilitas pelayanan kesehatan yang masih memakai sistem manual akan melakukan pencatatan, penyimpanan dan pelaporan berbasis kertas. Laporan dikirimkan dalam bentuk hardcopy (kertas) berupa data rekapan/agregat ke dinas kesehatan kabupaten/kota.

Fasilitas pelayanan kesehatan dengan komputerisasi offline, laporan dikirim dalam bentuk softcopy berupa data individual ke dinas kesehatan kabupaten/kota.

Fasilitas pelayanan kesehatan dengan komputerisasi online, data individual langsung dikirim ke Bank Data Kesehatan Nasional dalam format yang telah ditentukan.

Petugas kesehatan di lapangan (bidan desa, perawat desa/perawat perkesmas, posyandu, polindes) melapor kepada puskesmas yang membinanya, berupa data rekapan/agregat sesuai jadwal yang telah ditentukan. Selanjutnya akan dikembangkan program mobile health (mHealth) dengan teknologi informasi dan komunikasi sehingga data individual dapat langsung masuk ke Bank Data Kesehatan Nasional.

dapat langsung masuk ke Bank Data Kesehatan Nasional. Di dinas kesehatan kabupaten/kota, laporan hardcopy dari

Di dinas kesehatan kabupaten/kota, laporan hardcopy dari semua fasilitas pelayanan kesehatan (kecuali milik pemerintah provinsi dan pemerintah pusat) akan dientri ke dalam aplikasi SIKDA generik. Laporan softcopy yang diterima, akan diimpor ke dalam aplikasi SIKDA Generik selanjutnya semua bentuk laporan diunggah ke Bank Data Kesehatan Nasional.

Dinas kesehatan provinsi melakukan hal yang sama dengan dinas kesehatan kabupaten/kota untuk laporan dari unit pelayanan kesehatan milik Provinsi.

Informasi yang bersumber dari luar fasilitas kesehatan (misalnya kependudukan) akan diambil dari sumber yang terkait (contohnya BPS) dan dimasukkan ke dalam Bank Data Kesehatan Nasional. Semua pemangku kepentingan yang membutuhkan informasi kesehatan dapat mengakses informasi yang diperlukan dari bank Data Kesehatan Nasional melalui website Kemenkes.

2.5 Implementasi Model Sistem Informasi Kesehatan Nasional

Implementasi model SIK Nasional akan dilakukan secara bertahap :

model SIK Nasional akan dilakukan secara bertahap : 1. Tahap 1 – Pengembangan fasilitas Bank Data

1. Tahap 1 Pengembangan fasilitas Bank Data Kesehatan Nasional dan platform (dashboard) diseminasi informasi. Bank Data Kesehatan Nasional menyimpan data kesehatan individu (data disaggregat), data survei, sensus, penelitian dan data lintas sektor. Platform desiminasi informasi akan berperan sebagai pintu utama akses data kesehatan dimana semua pemangku kepentingan dan pemakai data kesehatan bisa mengakses secara online dari mana saja dan melakukan ”data mining” atau pembuatan laporan secara fleksibel dan terkomputerisasi. Pelaksana tahap ini adalah Pusdatin Kemenkes.

2. Tahap 2 Implementasi SIK komputerisasi di semua komponen sistem kesehatan (puskesmas, RS, dinkes kabupaten/kota/provinsi). Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengalokasikan dana dan melaksanakan implementasi ini secara bertahap.

3. Tahap 3 Pengembangan dan Implementasi mHealth untuk petugas kesehatan di lapangan. Melihat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dan memiliki banyak lokasi terpencil, mHealth perlu dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, pelaporan, dan pembelajaran.

4.

Tahap

telemedicine, distance learning, dll.

4

-

Pengembangan

dan

Implementasi

e-Health

lainnya,

termasuk

2.6 SIKDA Generik

Sistem Kesehatan Daerah (SIKDA) Generik ini adalah upaya dari Kemenkes dalam menerapkan standarisasi Sistem Informasi Kesehatan, sehingga dapat tersedia data dan informasi kesehatan yang akurat, tepat dan cepat, dengan mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengambilan keputusan/kebijakan dalam bidang kesehatan di Kabupaten/Kota, Provinsi dan Kementerian Kesehatan. SIKDA Generik merupakan aplikasi elektronik yang dirancang untuk mampu menjembatani komunikasi data antar komponen dalam sistem kesehatan nasional yang meliputi puskesmas, rumah sakit, dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi, dan Kementerian Kesehatan. SIKDA Generik terdiri dari 3 aplikasi sistem informasi elektronik yaitu Sistem Informasi Manajemen Puskesmas, Sistem Informasi Manajemen Dinas Kesehatan, dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. SIKDA Generik ini akan didistribusikan kepada seluruh fasilitas kesehatan dalam rangka pengembangan SIK komputerisasi.

akan didistribusikan kepada seluruh fasilitas kesehatan dalam rangka pengembangan SIK komputerisasi. Halaman 17 dari 69
akan didistribusikan kepada seluruh fasilitas kesehatan dalam rangka pengembangan SIK komputerisasi. Halaman 17 dari 69

3

PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN

3.1 Tanggung Jawab Pemerintah dalam Menentukan Kebijakan Sistem Informasi Kesehatan

Pemerintah mempunyai tanggungjawab untuk menetapkan strategi pengembangan dan pengelolaan SIK. Semua pemangku kepentingan SIK mempunyai kewajiban untuk mengikuti penetapan dan kebijakan yang ditentukan serta mempunyai peran untuk memperkuat SIK di Indonesia.

Koordinasi lintas sektor merupakan hal yang penting karena SIK bukan hanya tanggung jawab bidang kesehatan tetapi juga bidang lain yang terkait di setiap jenjang. Di tingkat provinsi/kabupaten/kota, pelaksanaan SIK juga harus didukung oleh suatu kebijakan yang memperkuatnya sebagai pijakan pelaksanaan bagi pengelola SIK di daerah. Setiap daerah (provinsi dan kabupaten/kota) membuat peraturan daerah mengenai SIK yang sejalan dengan SIK Nasional. Selain itu Kepala fasilitas pelayanan kesehatan juga dapat mengeluarkan keputusan terkait SIK sesuai wilayah kerjanya, untuk memastikan pelaksanaan operasional.

Pemangku Tugas dan Tanggung Jawab Kepentingan Unit Data dan Informasi - Mengatur kebijakan SIK skala
Pemangku
Tugas dan Tanggung Jawab
Kepentingan
Unit Data dan
Informasi
-
Mengatur kebijakan SIK skala nasional
-
-
Memfasilitasi SIK skala provinsi
-

3.2 Tugas dan Tanggung Jawab Pemangku Kepentingan Bidang Kesehatan

Penyelenggaraan SIK di tingkat pusat, tingkat provinsi, tingkat kabupaten/kota dan pelayanan kesehatan, masing-masing mempunyai tugas dan tanggung jawab, sebagai berikut :

Tingkatan

Manajemen

Kesehatan

Kementerian

Kesehatan

Mengelola, mengembangkan, memfasilitasi, membina, memonitor dan melakukan evaluasi SIK skala Nasional

Melaksanakan dan mengevaluasi inisiatif penguatan Road map SIK

dan mengevaluasi inisiatif penguatan Road map SIK - Mengkoordinasikan kebutuhan dan penyediaan data kesehatan

- Mengkoordinasikan kebutuhan dan penyediaan data kesehatan dengan lintas program dan lintas sektor

- Bersama-sama dengan lintas program melakukan intervensi khusus pada wilayah dengan keterbatasan tenaga, biaya, dan infrastruktur

Unit Program

- Memberi dukungan, masukan dan evaluasi terhadap inisiatif penguatan Road map SIK

- Memberi masukan mengenai kebutuhan data kesehatan

- Memanfaatkan data kesehatan untuk pengambilan keputusan

- Melaksanakan penelitian yang mendukung pengembangan SIK (khusus unit yang menangani penelitian/Badan Litbangkes)

- Bersama-sama dengan lintas program lain melakukan intervensi khusus pada wilayah dengan keterbatasan tenaga, biaya, dan infrastruktur

SKPD Penyelenggara Urusan Kesehatan di Provinsi UPTD Data dan Informasi - Mengatur kebijakan SIK skala
SKPD
Penyelenggara
Urusan Kesehatan di
Provinsi
UPTD Data dan
Informasi
- Mengatur kebijakan SIK skala provinsi
- Mengelola mengembangkan, memfasilitasi,
membina, memonitor dan melakukan evaluasi SIK
skala provinsi
- Mengkoordinasi dan memfasilitasi SIK skala
kabupaten/kota
- Melaksanakan dan mengevaluasi inisiatif penguatan
Road map SIK
- Memanfaatkan data kesehatan untuk pengambilan
keputusan
- Mengkoordinasikan kebutuhan dan penyediaan data
dengan lintas program dan sektor
- Memastikan tersedianya/terlapornya data yang
diperlukan oleh Bank Data Kesehatan Nasional
SKPD
Penyelenggara
Urusan Kesehatan di
Kabupaten/Kota
UPTD Data dan
Informasi
-
Mengatur kebijakan SIK skala kabupaten/kota
-
Mengelola, mengembangkan, memfasilitasi,
membina, memonitor dan melakukan evaluasi SIK
skala kabupaten/kota
-
Melaksanakan dan mengevaluasi inisiatif penguatan
Road map SIK
-
Memanfaatkan data kesehatan untuk pengambilan
keputusan
-
Mengkoordinasikan kebutuhan dan penyediaan data
dengan lintas program dan sektor
-
Memastikan tersedianya/terlapornya data yang
diperlukan oleh Bank Data Kesehatan Nasional
Unit Pelayanan
Kesehatan
Tim Pengelola
SIK dan TIK
-
Mengelola SIK di instansinya secara rutin sesuai
dengan pedoman SIK dan petunjuk teknis
- Puskesmas
(prasarana/insta
-
- Rumah Sakit
lasi Sistem
Melaksanakan dan mengevaluasi inisiatif penguatan
road map SIK
- Fasilitas
Pelayanan
Kesehatan
lainnya milik
Pemerintah
Informasi dan
Komunikasi atau
Tim pengelola
Sistem
Informasi
-
Koordinasi lintas program dan sektor dalam hal
kebutuhan dan penyediaan data
-
Memanfaatkan data kesehatan untuk pengambilan
keputusan
-
- Fasilitas
Pelayanan
Kesehatan milik
Swasta
Manajemen RS)
Mengkoordinasikan kebutuhan dan penyediaan data
dengan lintas program dan sektor
-
Menyediakan dan melaporkan data yang diperlukan
oleh Bank Data Kesehatan Nasional

3.3 Tugas dan Tanggung Jawab Pemangku Kepentingan Selain Bidang Kesehatan yang Terkait

Tugas dan tanggung jawab pemangku kepentingan selain bidang kesehatan dalam penyelenggaraan SIK, yaitu:

Jenis Sektor

Pemangku Kepentingan

Tugas dan Tanggung Jawab

Kependudukan

- Kementerian Dalam Negeri

- Memberi dukungan, masukan dan evaluasi inisiatif penguatan road map SIK

- Badan Kependudukan dan Kluarga Berencana (BKKBN)

- Pemda Provinsi

- Memberikan data kependudukan seperti kelahiran, kematian untuk

- BKKBN Provinsi

- Pemda Kabupaten/kota dimasukkan ke dalam Bank Data Kesehatan Nasional Statistik - Badan Pusat Statistik
- Pemda Kabupaten/kota
dimasukkan ke dalam Bank Data
Kesehatan Nasional
Statistik
- Badan Pusat Statistik RI
- BPS Provinsi
- BPS Kabupaten/Kota
- Memberi dukungan, masukan
dan evaluasi inisiatif penguatan
road map SIK
- Memberikan data kesehatan
yang dihasilkan dari survey dan
sensus kependudukan
- Sebagai pengguna Bank Data
Kesehatan Nasional
Komunikasi dan
informatika
- Kementerian Komunikasi dan
Informatika
- Dinas Komunikasi dan
Informatika Provinsi
- Memberi dukungan, masukan
dan evaluasi inisiatif penguatan
road map SIK
-
- Dinas Komunikasi dan
Informatika Kabupten/kota
Memberikan dukungan teknis
dalam upaya mengkoneksikan
dan mengkomputerisasikan
semua fasilitas kesehatan
termasuk dinas
provinsi/kabupaten/kota
Perencanaan
pembangunan
- Badan Perencanaan dan
Pembangunan Nasional
-
- Pemda Provinsi
Memberi dukungan, masukan
dan evaluasi inisiatif penguatan
road map SIK
- Pemda Kabupaten/Kota
-
Sebagai pengguna Bank Data
Kesehatan Nasional
Tenaga kerja
- Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi
-
- Dinas ketenagakerjaan
Provinsi
Memberi dukungan, masukan
dan evaluasi inisiatif penguatan
road map SIK
-
- Dinas Ketenagakerjaan
Kabupaten/Kota
Memberikan data
ketenagakerjaan
-
Sebagai pengguna Bank Data
Kesehatan Nasional
Lingkungan hidup
- Kementerian Lingkungan Hidup
-
Memberi dukungan, masukan
dan evaluasi inisiatif penguatan
road map SIK
-
Memberikan data lingkungan
hidup
- Sebagai pengguna Bank Data
Kesehatan Nasional
Akademisi
- Perguruan Tinggi
- Memberi dukungan, masukan
dan evaluasi inisiatif penguatan
road map SIK
- Memberikan data hasil penelitian
kesehatan
- Sebagai pengguna Bank Data
Kesehatan Nasional
Profesi
- Organisasi Profesi
- Memberi dukungan, masukan
dan evaluasi inisiatif penguatan
road map SIK
- Sebagai pengguna Bank Data
Kesehatan Nasional

Asuransi

-

Institusi Asuransi

- Memberi dukungan, masukan dan evaluasi inisiatif penguatan road map SIK

 

- Sebagai pengguna Bank Data Kesehatan Nasional

3.4 Organisasi

Pengelolaan SIK merupakan suatu hal yang penting dan tidak mudah sehingga memerlukan unit khusus yang fokus dan kompeten. Pengelolaan SIK diselenggarakan oleh semua tingkatkan manajemen kesehatan di pusat maupun daerah dan melibatkan semua pemangku kepentingan (bidang kesehatan dan selain bidang kesehatan). Berikut ini diuraikan organisasi penyelenggara di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota dan pelayanan kesehatan.

pusat, provinsi, kabupaten/kota dan pelayanan kesehatan. 3.4.1 Penyelenggara Tingkat Pusat Penyelenggara SIK di pusat

3.4.1

Penyelenggara Tingkat Pusat

Penyelenggara SIK di pusat dikoordinasikan dan difasilitasi oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan sebagai pusat jaringan SIK Nasional. Dalam rangka memperkuat koordinasi SIK Nasional dibentuk Dewan SIK Nasional. Dewan SIK Nasional terdiri atas semua pemangku kepentingan dan terdiri dari komite ahli, tim perumus, dan kelompok kerja. Tugas dan mekanisme kerja Dewan SIK Nasional akan ditentukan kemudian.

3.4.2

Penyelenggara Tingkat Provinsi

Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No 267/Menkes/SK/III/2008 tentang petunjuk teknis pengorganisasian dinas kesehatan daerah, organisasi yang menangani data dan informasi di dinas kesehatan provinsi seyogyanya dibentuk UPT Dinas (UPTD).

Dalam rangka penyelenggaraan SIK di tingkat Provinsi perlu dibentuk Tim SIKDA. Tim SIKDA terdiri dari:

Penanggung jawab: Kepala Dinas Kesehatan Provinsi

 Penanggung jawab : Kepala Dinas Kesehatan Provinsi  Koordinator : Pejabat Eselon III yang bertanggung

Koordinator: Pejabat Eselon III yang bertanggung jawab terhadap data dan informasi

Sekretaris: Pejabat Eselon IV yang bertanggung jawab terhadap data dan informasi

Anggota: Semua pemangku kepentingan di tingkat provinsi

3.4.3 Penyelenggara Tingkat Kabupaten/Kota

Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No 267/Menkes/SK/III/2008 tentang petunjuk teknis pengorganisasian dinas kesehatan daerah, organisasi yang menangani data dan informasi di dinas kesehatan kabupaten/kota seyogyanya dibentuk UPT Dinas (UPTD).

Dalam rangka penyelenggaraan SIK di tingkat Kabupaten/Kota perlu juga dibentuk Tim SIKDA. Tim SIKDA terdiri dari:

Penanggung jawab: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Koordinator: Pejabat Eselon III yang bertanggung jawab terhadap data dan informasi

Sekretaris: Pejabat Eselon IV yang bertanggung jawab terhadap data dan informasi

Anggota: Semua pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/kota

3.4.4

Penyelenggara Tingkat Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat dasar, rujukan dan jaringannya baik milik pemerintah dan swasta, harus memiliki unit/tim yang menangani SIK. Untuk di pelayanan kesehatan tingkat dasar dibentuk tim pengelola SIK/data yang terdiri dari staf dengan kompetensi pengelolaan SIK dan TIK. Di rumah sakit di bentuk unit yang menangani sistem informasi dan komunikasi seperti yang diamanatkan dalam UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

informasi dan komunikasi seperti yang diamanatkan dalam UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Halaman

4

INDIKATOR

4.1 Penyusunan dan Penetapan Indikator Kesehatan

Indikator kesehatan merupakan variabel untuk membantu mengukur perubahan-perubahan (khususnya bila perubahan itu tidak dapat diukur secara langsung) terhadap derajat kesehatan, masalah kesehatan, sumber daya kesehatan, dan kinerja upaya kesehatan, serta yang terkait dengan kesehatan.

Indikator kesehatan harus memenuhi persyaratan indikator secara umum yaitu : Simple (Sederhana), Measurable (Dapat diukur), Attributable (Bermanfaat), Reliable (Dapat dipercaya), dan Timely (Tepat waktu).

Hal lain yang harus diperhatikan dalam penentuan indikator adalah:

yang harus diperhatikan dalam penentuan indikator adalah: 1. Indikator dihasilkan dari data yang tersedia dan

1. Indikator dihasilkan dari data yang tersedia dan berkualitas

2. Dipilih dengan memperhatikan masukan dari para ahli (expert input/judgement) dan

melalui proses yang partisipatif

3. Didesain untuk dapat disebarluaskan kepada berbagai pihak yang bervariasi (yang terkait)

4. Menggambarkan kondisi pada berbagai wilayah geografis

Bentuk-bentuk indikator yaitu angka absolute, angka rata-rata (mean, median, modus), persentase/proporsi, rasio, rate, dan angka komposit atau indeks.

Penetapan indikator kesehatan memperhatikan hal-hal berikut:

- Penetapan indikator kesehatan nasional mengacu pada indikator kesehatan global

- Penetapan indikator kesehatan provinsi/kabupaten/kota mengacu pada indikator kesehatan nasional

- Penetapan indikator kesehatan nasional melalui pertimbangan Tim SIK Nasional

- Penetapan indikator kesehatan provinsi/kabupaten/kota melalui pertimbangan Tim SIKDA

4.2 Indikator Kesehatan Nasional

4.2 Indikator Kesehatan Nasional

Indikator kesehatan nasional meliputi indikator kesehatan yang disepakati global dan indikator kesehatan yang disepakati nasional. Berikut ini adalah daftar indikator kesehatan nasional yang terdapat pada dokumen tujuan pembangunan millennium (MDGs), indicator kesehatan global dan RPJMN 2010-2014.

No

Indikator

Keterangan

Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)*

 

1

Prevalensi balita dengan berat badan rendah / kekurangan gizi

Children aged <5 years underweight (%)

 

2

Angka Kematian Balita per 1.000 kelahiran hidup

Under-five mortality rate (probability of dying by age 5 per 1000 live births)

 

3

Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 kelahiran hidup

   

4

Persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak

Measles immunization coverage among 1-year-olds (%)

 

5

Angka Kematian Ibu per 100.000 kelahiran Hidup

Mortality

ratio

(per

100

000

live

 

births)

6 Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan terlatih Births attended by skilled health personnel (%)
6
Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga
kesehatan terlatih
Births
attended
by
skilled
health
personnel (%)
7
Angka pemakaian kontrasepsi /CPR bagi
perempuan menikah usia 15-49, semua cara
Contraceptive prevalence (%)
8
Angka kelahiran remaja (perempuan usia
15-19 tahun) per 1.000 perempuan usia 15-19
Tahun
Adolescent fertility rate (per 1000
girls aged 15–19 years)
9
Cakupan pelayanan Antenatal (sedikit nya
satu kali kunjungan dan empat kali kunjungan)
Antenatal care coverage (%): at
least 1 visit and at least 4 visits
10
Unmet Need (kebutuhan keluarga berencana
/KB yang tidak terpenuhi)
Unmet need for family planning (%)
11
Prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total populasi
Prevalence of HIV among adults
aged 15–49 years (%)
12
Proporsi jumlah penduduk usia 15-24 tahun
(laki-laki dan perempuan) yang memiliki
pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS
Males aged 15–24 years with
comprehensive correct knowledge
of HIV/AIDS (%)
Females aged 15–24 years with
comprehensive correct knowledge
of HIV/AIDS (%)
13
Proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang
memiliki akses pada obat-obatan anti retroviral
Antiretroviral therapy coverage
among people with advanced HIV
infection (%)
14
Angka kejadian Malaria (per 1.000 penduduk)
Malaria mortality rate (per 100 000
population)
15
Proporsi anak balita yang tidur dengan
kelambu berinsektisida
Children aged <5 years sleeping
under insecticide-treated nets (%)
16
Proporsi anak balita dengan demam yang
menerima pengobatan dengan anti malaria (%)
Children aged <5 years with fever
who received treatment with any
antimalarial (%)
17
Angka kematian Tuberkulosis pada orang HIV-
negatif (per 100 000 penduduk)
Tuberculosis mortality rate among
HIV-negative people (per 100 000
population)
18
Penduduk yang menggunakan sumber air
minum berkualitas (%)
Population using improved drinking-
water sources (%)
19
Penduduk yang menggunakan sanitasi yang
baik (%)
Population
using
improved
sanitation (%)
No
Indikator
Keterangan
Indikator Kesehatan Global (Global Health Indicator)*
Angka Harapan Hidup (Life expectancy and mortality)
Angka Harapan Hidup (tahun)
Life expectancy at birth (years)
Angka lahir hidup (per 1000 kelahiran)
Stillbirth rate (per 1000 total births)
Angka kematian neonatal (per 1000 kelahiran
hidup)
Neonatal mortality rate (per 1000
live births)
Angka kematian bayi (per 1000 kelahiran hidup)
Infant mortality rate (probability of
dying by age 1 per 1000 live births)
Angka kematian balita (kemungkinan mati
sampai usia 5 tahun per 1000 kelahiran hidup)
Under-five mortality rate (probability
of dying by age 5 per 1000 live
births)
Angka Kematian orang dewasa (15-60 tahun
per 1000 penduduk)
Adult mortality rate (probability of
dying between 15 and 60 years per
1000 population)
Penyebab khusus kesakitan dan kematian (Cause-specific mortality and morbidity)
Angka kematian ibu (per 100.000 kelahiran
hidup)
Maternal mortality ratio (per 100 000
live births)
Mortality
Angka kematian dengan penyebab khusus
Cause-specific mortality rate (per
100 000 population)
Angka kematian berdasarkan kelompok umur
menurut penyebab
Age-standardized mortality rates by
cause (per 100 000 population)
Angka distribusi tahun hidup yang hilang oleh
sebab-sebab yang lain (%)
Distribution of years of life lost by
broader causes (%)
Distribusi penyebab kematian pada balita (%) Distribution of causes of death among children aged <5
Distribusi penyebab kematian pada balita (%)
Distribution of causes of death
among children aged <5 years (%)
Prevalensi TB (per 100.000 penduduk)
Prevalence of tuberculosis (per 100
Morbidity
000
population)
Insidens TB (per 100.000 penduduk)
Incidence of tuberculosis (per 100
000
population per year)
Prevalensi HIV pada orang dewasa umur 15-49
tahun (%)
Prevalence of HIV among adults
aged 15–49 years (%)
Penyakit Menular Terpilih (Selected infectious diseases)
Cakupan Pelayanan Kesehatan (Health service coverage)
Cakupan Kunjungan ibu hamil
Antenatal care coverage (%)
Persalinan ditolong tenaga kesehatan terlatih
(%)
Births
attended
by
skilled
health
personnel (%)
Kelahiran dengan caesar(%)
Births by caesarean section (%)
Persentase neonatal dengan ibu yang
diimunisasi TT
Neonates protected at birth against
neonatal tetanus (%)
Cakupan imunisasi dasar lengkap (%)
Immunization
coverage
among
1-
year-olds (%)
Cakupan anak 6-59 bulan menerima vit A (%)
Children aged 6–59 months who
received vitamin A supplementation
(%)
Cakupan balita yang tidur dengan
kelambu berinsektisida
Children aged <5 years sleeping
under insecticide-treated nets (%)
Cakupan balita demam yang diberi anti malaria
(%)
Children aged <5 years with fever
who received treatment with any
antimalarial (%)
Cakupan balita demam dengan gejala ISPA
diobati di fasilitas kesehatan
Children aged <5 years with ARI
symptoms taken to a health facility
(%)
Cakupan balita dengan diare menerima oralit
(%)
Children aged <5 years with
diarrhoea receiving ORT (ORS
and/or RHF) (%)
Unmet need pada keluarga berencana (%)
Unmet need for family planning (%)
Prevalensi kb (%)
Contraceptive prevalence (%)
Cakupan terapi ARV pada wanita hamil
terinfeksi HIV untuk PMTCT (%)
Antiretroviral therapy coverage
among HIV-infected pregnant
women for PMTCT (%)
Cakupan terapi ARV pada penderita HIV tingkat
lanjut (%)
Antiretroviral therapy coverage
among people with advanced HIV
infection (%)
CDR TB (%)
Case-detection rate for all forms of
tuberculosis (%)
Angka kesembuhan TB BTA+ (%)
Smear-positive tuberculosis
treatment-success rate (%)
Faktor Risiko (Risk Factors)
Penduduk menggunakan sumber air minum
berkualitas
Population using improved drinking-
water sources (%)
Penduduk menggunakan jamban sehat
Population
using
improved
sanitation (%)
Penduduk menggunakan bahan bakar padat
Population using solid fuels (%)
Berat Badan Lahir Rendah
Low-birth-weight newborns (%)
Bayi mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan
pertama
Infants exclusively breastfed for the
first 6 months of life (%)
Persentase balita pendek
Children aged <5 years stunted (%)
Persentase balita gizi kurang
Children aged <5 years underweight
(%)
Persentase balita gizi lebih
Children aged <5 years overweight
(%)
Persentase orang >=20 tahun mengalami
obesitas
Adults
aged
≥20
years
who
are
obese (%)
Persentase orang >=15 th mengkonsumsi
Alcohol consumption among adults
alkohol aged ≥15 years (litres of pure alcohol per person per year) Persentase penduduk >=15
alkohol
aged ≥15 years (litres of pure
alcohol per person per year)
Persentase penduduk >=15 tahun yang
merokok
Prevalence of smoking any tobacco
product among adults aged ≥15
years (%)
Prevalensi pengguna tembakau pada usia 13-
15 tahun
Prevalence of current tobacco use
among adolescents aged 13–15
years (%)
Prevalensi pengguna kondom pada usia 15-49
selama seks risiko tinggi
Prevalence of condom use by adults
aged 15–49 years during higher-risk
sex (%)
Persentase penduduk usia 15-24 tahun
mempunyai pengetahuan konprehensif tentang
HIV
Population aged 15–24 years with
comprehensive correct knowledge
of HIV/AIDS (%)
Tenaga kesehatan, infrastruktur dan obat-obatan penting
medicines)
(Health
workforce, infrastructure
and essential
Rasio jumlah dokter (per 10.000 penduduk)
Number of physicians and density
(per 10 000 population)
Health
workforce
Rasio jumlah bidan (per 10.000 penduduk)
Number of nursing and midwifery
personnel and density (per 10 000
population)
Rasio jumlah dokter gigi (per 10.000 penduduk)
Number of dentistry personnel and
density (per 10 000 population)
Rasio jumlah apoteker (per 10.000 penduduk)
Number
of
pharmaceutical
personnel and density (per 10 000
population)
Rasio jumlah tenaga kesehatan lingkungan dan
kesehatan masyarakat (per 10.000 penduduk)
Number of environment and public
health workers and density (per 10
000 population)
Rasio jumlah tenaga kesehatan masyarakat
(per 10.000 penduduk)
Number of
community health
workers and density (per 10 000
population)
Jumlah tempat tidur rumah sakit (per 10.000
penduduk)
Hospital
beds
(per
10
000
Infrastructure
population)
Jumlah unit radiologi (per 10.000 penduduk)
Radiotherapy units (per 1 000 000
population)
Rata-rata ketersediaan obat generik tertentu di
pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta
(%)
Median availability of selected
generic medicines in public and
private sectors (%)
Essential
medicines
Rata-rata rasio harga konsumen dari obat
generik tertentu di pelayanan kesehatan
pemerintah dan swasta
Median consumer price ratio of
selected generic medicines in public
and private sectors
Pengeluaran Kesehatan (Health expenditure)
Persentase Total pengeluaran untuk kesehatan
dari produk domestik bruto
Total expenditure on health as a
percentage of gross domestic
product
Health
expenditure
ratios
Persentase Pengeluaran Pemerintah bidang
kesehatan dari total belanja pada bidang
kesehatan
General government expenditure on
health as a percentage of total
expenditure on health
Persentase Pengeluaran Pribadi untuk bidang
kesehatan dari total belanja pada kesehatan
Private expenditure on health as a
percentage of total expenditure on
health
Persentase keseluruhan pengeluaran
Pemerintah untuk bidang kesehatan dari total
pengeluaran pemerintah
General government expenditure on
health as a percentage of total
government expenditure
Persentase Sumber daya eksternal untuk
bidang kesehatan dari total belanja pada bidang
kesehatan
External resources for health as a
percentage of total expenditure on
health
Persentase pengeluaran Jaminan sosial bidang
kesehatan dari seluruh pengeluaran pemerintah
bidang kesehatan
Social security expenditure on
health as a percentage of general
government expenditure on health
Persentase pengeluaran yang dibayar sediri
dari pengeluaran swasta di bidang kesehatan
Out-of-pocket expenditure as a
percentage of private expenditure
on health
Persentase asuransi swasta dari pengeluaran swasta di bidang kesehatan Private prepaid plans as a percentage
Persentase asuransi swasta dari pengeluaran
swasta di bidang kesehatan
Private
prepaid
plans
as
a
percentage
of
private
expenditure
on health
Total Pengeluaran per kapita di bidang
kesehatan pada kurs rata-rata
(US $)
Per capita total expenditure on
health at average exchange rate
(US$)
Per capita
health
expenditures
Total Pengeluaran per kapita di bidang
kesehatan (PPP int. $)
Per capita total expenditure on
health (PPP int. $)
Belanja pemerintah Per kapita di bidang
kesehatan dengan kurs rata-rata (US $)
Per capita government expenditure
on health at average exchange rate
(US$)
Belanja pemerintah per kapita di bidang
kesehatan (PPP int. $)
Per capita government expenditure
on health (PPP int. $)
Ketidakadilan di bidang kesehatan (Health inequities)
Persentase kelahiran yang dibantu oleh tenaga
kesehatan terampil (%)
Births
attended
by
skilled
health
personnel (%)
Cakupan imunisasi campak pada anak usia 1
tahun (%)
Measles immunization coverage
among 1-year-olds (%)
tingkat Kematian balita (kemungkinan mati pada
usia 5 per 1000 kelahiran hidup)
Under-five mortality rate (probability
of dying by age 5 per 1000 live
births)
Statistik demografi dan sosial ekonomi (Demographic and socioeconomic statistics)
Jumlah populasi (dalam ribuan)
Population – total (000s)
Usia rata-rata Penduduk (tahun)
Population – median age (years)
Persentase penduduk yang berusia di bawah
15 tahun (%)
Population – aged under 15 (%)
Persentase penduduk yang berusia di atas 60
tahun (%)
Population – aged over 60 (%)
Persentase tingkat pertumbuhan penduduk
tahunan (%)
Annual population growth rate (%)
Persentase Penduduk yang tinggal di daerah
perkotaan (%)
Population living in urban areas (%)
cakupan catatan sipil
(%) dari kelahiran
dan penyebab kematian
Civil registration coverage (%) of
births and causes of death
Jumlah angka kesuburan (per perempuan)
Total fertility rate (per woman)
Angka kesuburan remaja (per 1000 perempuan
usia 15-19 tahun)
Adolescent fertility rate (per 1000
girls aged 15–19 years)
Angka melek huruf orang dewasa (%)
Adult literacy rate (%)
Angka partisipasi pendidikan dasar (%)
Net primary school enrolment rate
(%)
Pendapatan nasional bruto per kapita (PPP int.
$)
Gross national income per capita
(PPP int. $)
Penduduk yang berpedapatan < $ 1 per hari
(PPP int. $) A (%)
Population living on <$1 (PPP int. $)
a day (%)
*World Health Statistic, 2011
No
Indikator
Keterangan
RPJMN 2010-2014
Kesehatan Masyarakat
1
Persentase Ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih
(cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (PN))
Kementerian Kesehatan
2
Persentase Ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal (cakupan
kunjungan kehamilan ke empat (K4))
Kementerian Kesehatan
3
Persentase fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan KB
sesuai standar
Kementerian Kesehatan
4
Cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1)
Kementerian Kesehatan
5
Cakupan oelayanan kesehatan bayi
Kementerian Kesehatan
6
Cakupan pelayanan kesehatan balita
Kementerian Kesehatan
7
Persentase bayi usia 0-11 bulan yang mendapat imunisasi dasar lengkap
Kementerian Kesehatan
8
Jumlah puskesmas yang mendapatkan bantuan operasional kesehatan dan
menyelenggarakan lokakarya mini untuk menunjang pencapaian Standar
Pelayanan Minimal (SPM)
Kementerian Kesehatan
9 Persentase penduduk yang memiliki akses terhadap air minum berkualitas Kementerian Kesehatan 10 Persentase kualitas
9
Persentase penduduk yang memiliki akses terhadap air minum berkualitas
Kementerian Kesehatan
10
Persentase kualitas air minum yang memenuhi syarat
Kementerian Kesehatan
11
Persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat
Kementerian Kesehatan
12
Jumlah kawasan dan desa yang terfasilitasi pembangunan air minum
Kementerian Pekerjaan
Umum
13
Jumlah kawasan dan desa yang terfasilitasi pembangunan sanitasi (air
limbah, persampahan dan drainase)
Kementerian Pekerjaan
Umum
Sarana Kesehatan
14
Jumlah kota di Indonesia yang memiliki RS standar kelas dunia (world class)
Kementerian Kesehatan
Obat
15
Persentase ketersediaan obat dan vaksin
Kementerian Kesehatan
Asuransi Kesehatan Nasional
16
Persentase penduduk (termasuk seluruh penduduk miskin) yang memiliki
jaminan kesehatan
Kementerian Kesehatan
17
Persentase RS yang melayani pasien penduduk miskin peserta program
Jamkesmas
Kementerian Kesehatan
18
Jumlah puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi
penduduk miskin
Kementerian Kesehatan
19
Tingkat kesiapan badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan Dewan
Jaminan Sosial Nasional (DJSN) pusat maupun daerah untuk melaksanakan
jaminan sosial
Kementerian Koordinator
Kesejahteraan Rakyat
Keluarga Berencana
20
Jumlah klinik KB pemerintah dan swasta yang melayani KB
BKKBN
21
Jumlah klinik KB pemerintah dan swasta yang mendapat dukungan sarana
prasarana
BKKBN
Pengendalian Penyakit Menular
22
Prevalensi kasus HIV
Kementerian Kesehatan
23
Jumlah kasus TB per 100.000 penduduk
Kementerian Kesehatan
24
Persentase kasus baru TBParu (BTA positif) yang ditemukan
Kementerian Kesehatan
25
Persentase kasus baru TBParu (BTA positif) yang disembuhkan
Kementerian Kesehatan
26
Persentase penduduk 15 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV
dan AIDS
Kementerian Kesehatan
27
Angka penemuan kasus malaria per 1.000 penduduk
Kementerian Kesehatan
Indikator kesehatan tidak terbatas hanya pada indikator tersebut di atas, indikator kesehatan
dapat berkembang sesuai kebutuhan, baik nasional maupun lokal. Keterangan lebih rinci
mengenai indikator kesehatan merujuk pada dokumen acuan yang terkait.

5

SUMBER DATA

Data adalah bukti nyata yang menggambarkan kondisi atau fakta yang sebenarnya di lapangan atau di masyarakat. Informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian sehingga akan berguna untuk pengambilan keputusan.

Data dapat dikumpulkan dengan berbagai macam cara, yaitu: (1) metode rutin, dan (2) metode non-rutin. Pengumpulan data secara rutin dilakukan untuk data yang berasal dari fasilitas kesehatan. Data ini dikumpulkan atas dasar catatan atau rekam medik pasien/klien baik yang berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan maupun yang dilayani di luar gedung fasilitas pelayanan kesehatan. Pengumpulan data secara rutin umumnya dilakukan oleh petugas kesehatan. Akan tetapi pengumpulan data secara rutin juga dapat dilakukan oleh masyarakat (kader kesehatan). Bentuk lain dari pengumpulan data secara rutin adalah registrasi vital. Adapun pengumpulan data secara non-rutin umumnya dilakukan melalui survei, sensus, evaluasi cepat (kuantitatif atau kualitatif), dan studi-studi khusus/penelitian. Intervensi kesehatan tidak efektif dan tidak tepat sasaran tanpa informasi dan data yang akurat dan tepat waktu.

tanpa informasi dan data yang akurat dan tepat waktu. 5.1 Jenis Sumber Data Sumber data kesehatan

5.1 Jenis Sumber Data

Sumber data kesehatan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang bersumber dari fasilitas dan masyarakat

1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Sumber data kesehatan yang berasal dari fasilitas terdiri dari :

a. Fasilitas kesehatan Data di fasilitas kesehatan didapatkan dari format pencatatan dan pelaporan yang telah ditetapkan. Data di fasiltas kesehatan mencakup data kegiatan dan data sumber daya. Fasilitas kesehatan melingkupi fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta seperti praktek swasta, Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, UPT kesehatan lain, dll.

b. Fasilitas selain kesehatan. Fasilitas selain kesehatan yang dimaksud di sini antara lain : BPS, Dinas Pendidikan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, dll.

selain kesehatan yang dimaksud di sini antara lain : BPS, Dinas Pendidikan, Dinas Kependudukan dan Catatan

2. Masyarakat Data yang bersumber dari masyarakat biasanya digunakan untuk mengevaluasi dampak (derajat kesehatan, lingkungan sehat, perilaku sehat, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan). Data ini dapat dikumpulkan melalui kajian cepat (rapid asessment) seperti observasi, wawancara dan diskusi kelompok terfokus (FGD) dan Survei seperti Riskesdas, SKRT, Susenas, SDKI, sistem registrasi penduduk dan lain- lain. Data berbasis masyarakat dapat menangkap informasi tentang latar belakang sosial budaya masyarakat, harapan, perilaku, dan lain-lain secara lebih lengkap.

Kedua sumber data tersebut berfungsi saling melengkapi.

5.2 Kewenangan Menetapkan Data Sasaran

Data sasaran digunakan sebagai pembanding dalam menilai kinerja dan perencanaan di bidang kesehatan. Data sasaran biasanya adalah data kependudukan dan digunakan sebagai denominator untuk penghitungan suatu indikator. Data sasaran juga merupakan data yang digunakan untuk melakukan perencanaan program kesehatan dalam kurun waktu tertentu. Berikut ini merupakan data sasaran dan instansi yang menetapkannya.

No Data Instansi 1 Data Wilayah Kementerian Dalam Negeri 2 Jumlah Penduduk (termasuk jumlah Penduduk
No
Data
Instansi
1
Data Wilayah
Kementerian Dalam Negeri
2
Jumlah Penduduk (termasuk jumlah
Penduduk menurut umur)
Kementerian Dalam Negeri, BPS
3
Jumlah Batita
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
4
Jumlah Balita
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
5
Jumlah Anak Balita
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
6
Jumlah Anak Pra Sekolah
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
7
Jumlah Anak Kelas I SD
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, Dinas Pendidikan
8
Jumlah Anak Kelas VI SD
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, Dinas Pendidikan
9
Jumlah Anak Sekolah (SD)
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, Dinas Pendidikan
10
Jumlah Usia Remaja
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
11
Jumlah WUS
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
12
Jumlah WUS Imunisasi
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
13
Jumlah Penduduk Usia Produktif
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
14
Jumlah Penduduk (Prasenil/prausila)
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
15
Jumlah Penduduk Usia Lanjut
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
16
Jumlah Usia Lanjut Risiko Tinggi
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
17
Jumlah Ibu Hamil
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
18
Jumlah Ibu Bersalin
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
19
Jumlah Ibu Nifas
Kemkes, Dinkes kab/prov(berdasarkan
data penduduk BPS)
20
Jumlah Ibu Menyusui
Kemkes, Dinkes kab/prov (berdasarkan
data penduduk BPS)
21
Jumlah Jemaah Haji
Kemenag, Kemkes, Dinkes kab/kota

5.3 Laporan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Berikut ini jenis-jenis laporan yang harus dilaporkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu:

1.

Puskesmas

Pelaporan yang dilakukan oleh Puskesmas sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan, jenis laporan yang dibuat oleh Puskesmas yaitu :

1. Laporan Individual

a) Laporan Individual Register Kunjungan Pasien

b) Laporan Individual Register Pelayanan Obat

c) Laporan Individual Register KIA/KB

d) Laporan Individual Register Posyandu

e) Laporan Individual Register Surveilans

f) Laporan Individual Register Gizi

Register Surveilans f) Laporan Individual Register Gizi g) Laporan Individual Register PHBS h) Laporan Individual

g) Laporan Individual Register PHBS

h) Laporan Individual Register Promosi Kesehatan

i) Laporan Individual Register Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan

j) Laporan Individual Ketenagaan

k) Laporan Individual Register Pembinaan dan pelayanan kesehatan anak pra sekolah dan usia sekolah di TK, SD/MI

l) Laporan Individual Register Pembinaan dan pelayanan kesehatan usia lanjut

m) Laporan Individual Register Pelaksanaan Kunjungan Rumah

n) Laporan Individual Register Pembinaan Kader

o) Laporan KLB Keracunan Pangan

p) Laporan KLB Penyakit (sesuai dengan Permenkes No. 1501/Menkes/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan)

q) Laporan Peresepan Obat Generik

r) Laporan Individual Register Jemaah Haji Indonesia

2. Laporan Aggregat

Register Jemaah Haji Indonesia 2. Laporan Aggregat a) Laporan Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Darurat

a) Laporan Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Darurat

b) Laporan 10 Besar Penyakit Rawat Jalan dan Rawat Darurat

c) Laporan Kegiatan Pelayanan Penunjang (Laboratorium dan Radiologi)

d) Laporan Kegiatan Pelayanan Obat

e) Laporan Kunjungan Peserta Jamkesmas

f) Laporan Kegiatan Pelayanan Rawat Inap (untuk Puskesmas dengan tempat perawatan inap)

g) Laporan Keuangan

h) Laporan Jumlah Tenaga Kesehatan

i) Laporan Sarana dan Alat Puskesmas

j) Laporan Pelaksanaan Program Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (menular langsung, bersumber binatang, tidak menular)

k) Laporan pelayanan kesehatan ibu

l) Laporan pelayanan kesehatan anak

m) Laporan pelayanan KB

n) Laporan Gizi

o)

p)

q)

r)

s)

t)

u)

Laporan Imunisasi

Laporan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)

Laporan Promosi Kesehatan (Penyuluhan Kesehatan)

Laporan Penggunaan Obat

Laporan Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan

Laporan Upaya Kesehatan Sekolah

Laporan Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah di TK, SD/MI

Laporan Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut

Laporan Pelaksanaan Kunjungan Rumah

Laporan Program Kesehatan Anak dan Remaja/Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) pada sekolah di Desa binaannya

Laporan Pelaksanaan Program Desa Siaga

v)

w)

x)

y)

z)

aa)

ä)

cc)

dd)

ee)

cc)

Program Desa Siaga v) w) x) y) z) aa) ä) cc) dd) ee) cc) Laporan Pelaksanaan

Laporan Pelaksanaan TOGA

Laporan Pembinaan Kader

Laporan Kasus Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Laporan Kegiatan Perokok

Laporan Pengobatan Tradisional

Laporan Pengobatan Komplementer-alternatif

Laporan Pembinaan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia

Laporan Puskesmas sudah meliputi data dari Puskesmas Keliling, Puskesmas Pembantu dan UKBM (Poskesdes, Posyandu, UKBM lainnya)

2. Bidan Desa

Pelaporan yang dilakukan oleh Bidan Desa sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan, jenis laporan Bidan Desa yaitu:

1. Laporan Individual

a) Laporan Register Pasien

b) Laporan Pelayanan Pasien

a) Laporan Register Pasien b) Laporan Pelayanan Pasien c) Laporan Pelayanan Obat d) Laporan Register KIA/KB

c) Laporan Pelayanan Obat

d) Laporan Register KIA/KB

e) Laporan Register Posyandu

f) Laporan Register Surveilans

g) Laporan Register Gizi

2. Laporan Aggregat

a) Laporan KIA/KB, yang terdiri dari :

i. Laporan pelayanan antenatal, pelayanan persalinan, dan perawatan nifas.

ii. Laporan pelayanan KB, Imunisasi, dan Kegawatdaruratan KIA/KB

iii. Laporan pendeteksian Bumil Risti/komplikasi

iv. Laporan pendeteksian dan penanggulangan ibu hamil kekurangan energi kronis (Bumil KEK)

v. Laporan kematian ibu, bayi dan anak balita

b) Laporan Pembinaan dan Kemitraan dengan Dukun Paraji

c)

Laporan Pelaksanaan Kegiatan Posyandu

d) Laporan Gizi

e) Laporan Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit

f) Laporan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)

g) Laporan Promosi Kesehatan (Penyuluhan Kesehatan) Program KIA/KB dan Kesehatan

h) Laporan Penggunaan Obat

i) Laporan Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan

j) Laporan Pelaksanaan Kunjungan Rumah

k) Laporan Pembinaan Kader

3. Perawat Desa / Perawat Perkesmas

Laporan Pembinaan Kader 3. Perawat Desa / Perawat Perkesmas Pelaporan yang dilakukan oleh Perawat Desa/Perawat Perkesmas

Pelaporan yang dilakukan oleh Perawat Desa/Perawat Perkesmas sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan, jenis laporan Perawat Desa/Perawat Perkesmas yaitu:

1.

Laporan Individual

a) Laporan Register Pasien

b) Laporan Pelayanan Pasien

c) Laporan Pelayanan Obat dan Tindakan Khusus

d) Laporan Register Case Finding dan Rujukan

e) Laporan Register Pelayanan Interdisiplin/Kolaborasi

2. Laporan Aggregat

a) Laporan Kegiatan Pembinaan Keluarga

i. Laporan Pemetaan Masalah Kesehatan Keluarga

ii. Laporan Kegiatan Pembinaan Keluarga/Kunjungan Rumah

iii. Laporan Hasil Pembinaan Keluarga

b) Laporan Pembinaan Dan Kemitraan Dengan Dukun Paraji

i. Laporan Profil Kelompok Binaan Perkesmas

ii. Laporan Skrining Kesehatan Kelompok dan Rujukan

ii. Laporan Skrining Kesehatan Kelompok dan Rujukan iii. Laporan Kegiatan Intervensi Kelompok iv. Laporan

iii. Laporan Kegiatan Intervensi Kelompok

iv. Laporan Kegiatan Pemberdayaan Kelompok

v. Laporan Hasil Pembinaan Kelompok

c) Laporan Kegiatan Desa Binaan Perkesmas

i. Laporan Sarana dan Prasarana Pendukung Kegiatan Perkesmas

ii. Laporan Survey Mawas Diri

iii. Laporan Musyawarah Masyarakat Desa

iv. Laporan Pelatihan Kader

v. Laporan Pembinaan dan Supervisi Kader

vi. Laporan Penggerakan Masyarakat Desa

vii. Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan

viii. Laporan Hasil Kegiatan Daerah Binaan Perkesmas

4. Rumah Sakit

Pelaporan yang dilakukan oleh Rumah Sakit sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan, jenis laporan yang dibuat oleh rumah sakit yaitu:

1.

2.

5.

Laporan Individual

a) Laporan Individual Pelayanan Pasien

b) Laporan Individual Pelayanan Obat

c) Laporan Individual Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Haji

Laporan Aggregat

a) Laporan Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Darurat

b) Laporan 10 Besar Penyakit Rawat Jalan dan Rawat Darurat

c) Laporan Kegiatan Pelayanan Penunjang (Laboratorium dan Radiologi)

d) Laporan Kegiatan Pelayanan Obat

e) Laporan Kunjungan Peserta Jamkesmas f) Laporan Kegiatan Pelayanan Rawat Inap (untuk Puskesmas dengan tempat
e) Laporan Kunjungan Peserta Jamkesmas
f) Laporan Kegiatan Pelayanan Rawat Inap (untuk Puskesmas dengan tempat
perawatan inap)
g) Laporan Keuangan
h) Laporan Jumlah Tenaga Kesehatan
i) Laporan Sarana dan Alat Rumah Sakit
j)
Laporan KIA/KB
k) Laporan Gizi
l) Laporan Imunisasi
m) Laporan Promosi Kesehatan
n) Laporan Penggunaan Obat
o) Laporan Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut
p) Laporan Kasus Kekerasan pada Perempuan dan Anak
q) Laporan Kesehatan Jiwa
r) Laporan Kesehatan Gigi dan Mulut
s) Laporan Pelayanan Khusus
t) Laporan Jenis Kunjungan
u) Laporan Pengobatan Tradisional
v) Laporan Pengobatan Komplementer-alternatif
w) Laporan Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Jemaah Haji
Laboratorium Kesehatan

Pelaporan yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan sesuai dengan format dan standar

dataset minimal yang telah ditetapkan. kesehatan yaitu:

dibuat oleh laboratorium

Jenis laporan yang

a) Laporan Kegiatan Laboratorium Kesehatan

b) Laporan Hasil Pemeriksaan Pasien

c) Laporan Hasil Pemantapan Mutu

d) Laporan Profil Laboratorium Kesehatan

e) Laporan Tenaga Kesehatan

f) Laporan Sarana dan Alat

6. Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota dan Provinsi

Pelaporan yang dilakukan oleh Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan. Jenis laporan yang dibuat oleh Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yaitu:

a) Laporan Barang Farmasi Masuk

b) Laporan Barang Farmasi Keluar

c) Laporan Barang Farmasi Rusak/Kadaluwarsa

d) Laporan Jumlah Stok Barang Farmasi

e) Laporan Fast Moving/Slow Moving Barang farmasi

f) Laporan Tenaga Farmasi

7. Apotek

Pelaporan yang dilakukan oleh Apotek sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan. Jenis laporan yang dibuat oleh Apotek yaitu:

ditetapkan. Jenis laporan yang dibuat oleh Apotek yaitu: a) Laporan Pelayanan Obat pasien b) Laporan Profil

a) Laporan Pelayanan Obat pasien

b) Laporan Profil Apotek

c) Laporan Tenaga Apotek

d) Laporan Sarana dan Alat

e) Laporan Mutasi Obat

f) Laporan Obat Rusak/Kadaluwarsa

g) Laporan Penggunaan Obat golongan narkotik/psikotropik

8.

Klinik/Praktik Dokter

Pelaporan yang dilakukan oleh Klinik/Praktik Dokter sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan. Jenis laporan yang dibuat oleh Klinik/Praktik Dokter yaitu:

a) Laporan Kunjungan/Pelayanan Pasien

b) Laporan Kasus Penyakit

c) Laporan Resep Pasien

d) Laporan Profil Klinik/Praktik Dokter

Laporan Resep Pasien d) Laporan Profil Klinik/Praktik Dokter e) Laporan Tenaga Medis f) Laporan Sarana dan

e) Laporan Tenaga Medis

f) Laporan Sarana dan Alat

9. Bidan Praktik Mandiri

Pelaporan yang dilakukan oleh Bidan Praktik Mandiri sesuai dengan format dan standar

dataset minimal yang telah ditetapkan. Jenis laporan yang dibuat oleh Bidan Praktik Mandiri yaitu:

a) Laporan Pelayanan Pasien

b) Laporan Bulanan KIA/KB

c) Laporan Gizi

d) Laporan Imunisasi

e) Laporan Resep Obat Pasien

f) Laporan Profil Bidan

Perawat Praktik Mandiri / Praktik Swasta

Pelaporan yang dilakukan oleh Perawat Praktik Mandiri/Praktik Swasta sesuai dengan

format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan. Jenis laporan yang dibuat oleh Perawat Praktik Mandiri/Praktik Swasta yaitu:

a) Laporan Kunjungan/Pelayanan Pasien atau Klien

b) Laporan Kasus/Masalah Kesehatan Pasien atau Klien

c) Laporan Profil Perawat

d) Laporan Profil Tempat Praktik Perawat Termasuk Sarana Prasarana Pendukung

e) Laporan Intervensi dan Kegiatan Penanganan Kasus

f) Laporan Kolaborasi Interdisiplin dan Rujukan Kasus

g) Laporan Kegiatan Sesuai Program Pemerintah (imunisasi, MTBS, perbaikan gizi balita) 10. Dinas Kesehatan
g) Laporan Kegiatan Sesuai Program Pemerintah (imunisasi, MTBS, perbaikan gizi
balita)
10.
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Pelaporan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan format dan
standar dataset minimal yang telah ditetapkan. Jenis laporan yang dibuat oleh oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota yaitu:
1.
Laporan Individu
a) Sesuai dengan laporan individu dari fasilitas pelayanan kesehatan
b) Laporan Individual Ketenagaan
2.
Laporan Agregat
a) Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan di kabupaten/kota
b) Profil Kesehatan Kabupaten/Kota
c) Laporan Ketenagaan
d) Laporan Keuangan
e) Laporan Sarana dan Prasarana
f) Laporan Indikator Kinerja
g) Lapoan lain terkait program
h) Laporan agregat dari fasilitas pelayanan kesehatan
11.
Dinas Kesehatan Provinsi

Pelaporan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan. Jenis laporan yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Provinsi yaitu:

1. Laporan Individu

a) Sesuai dengan laporan individu dari fasilitas pelayanan kesehatan

b) Laporan Individual Ketenagaan

2. Laporan Agregat

a) Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Provinsi

b) Profil Kesehatan Provinsi

c) Laporan Ketenagaan

d)

Laporan Keuangan

e) Laporan Sarana dan Prasarana

f) Laporan Indikator Kinerja

g) Lapoan Lain Terkait Program

h) Laporan Agregat dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan

12. Unit Pelayanan Teknis Dinas / Pusat

Pelaporan yang dilakukan oleh Unit Pelayanan Teknis Dinas/Pusat (UPT Dinas/Pusat) sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan. Jenis laporan yang dilaporkan yaitu:

a)

b)

c)

d)

e)

f)

g)

Secara

Laporan Kegiatan Pelayanan Kesehatan

Profil UPT Dinas/Pusat

Laporan Ketenagaan

laporan pelayanan kesehatan dan ketenagaan
laporan
pelayanan
kesehatan
dan
ketenagaan

Laporan Keuangan

Laporan Sarana dan Prasarana

Laporan Indikator Kinerja

Laporan lain terkait program

bertahap,

dilaporkan

secara

individual.

13. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lain

Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lain diantaranya SP3T, praktik perorangan pengobatan komplementer-alternatif, praktik berkelompok pengobatan komplementer-alternatif, griya kesehatan tradisional (klinik akupuntur, klinik herbal, klinik patah tulang), klinik kesehatan di kementerian/lembaga, klinik kesehatan di perusahaan dan fasilitas pelayanan kesehatan lain. Pelaporan yang dilakukan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lain sesuai dengan format dan standar dataset minimal yang telah ditetapkan. Jenis laporan yang dilaporkan yaitu:

a)

b)

c)

d)

e)

f)

g)

Secara

a) b) c) d) e) f) g) Secara secara Laporan Pelayanan kesehatan Profil Pelayanan

secara

Laporan Pelayanan kesehatan

Profil Pelayanan Kesehatan

Laporan Ketenagaan

Laporan Keuangan

Laporan Sarana dan Prasarana

Laporan Indikator Kinerja

Laporan lain terkait program

bertahap,

laporan

pelayanan

kesehatan

dan

ketenagaan

dilaporkan

individual.

6

PENGELOLAAN DATA

6.1 Pengumpulan Data

6.1.1 Standar Data

Standar data merupakan dataset minimal yang harus ada pada suatu sistem informasi sehingga dapat menghasilkan keseragaman informasi dari berbagai sistem informasi yang ada. Oleh karena itu, semua sistem informasi kesehatan di Indonesia harus menggunakan dataset dan kode standar yang telah ditetapkan agar data dari sistem yang sudah dikembangkan dapat dikirim dan diintegrasikan dengan Bank Data Kesehatan Nasional. Dataset minimal untuk masing-masing fasilitas kesehatan akan dibahas pada petunjuk teknis.

6.1.2 Petugas Data Hal yang saat ini sering dibicarakan sehubungan dengan pengelolaan SIK adalah mengenai
6.1.2
Petugas Data
Hal yang saat ini sering dibicarakan sehubungan dengan pengelolaan SIK adalah mengenai
kebijakan penambahan tenaga khusus pengelola SIK pada fasilitas kesehatan baik itu yang
masih manual maupun komputerisasi. Dapat pula memberdayakan tenaga medis yang
bertugas memberikan pelayanan dan mencatat data di dalam SIK manual (berbasis kertas)
untuk menjadi tenaga pengelola SIK, karena tenaga medis yang memberikan pelayanan
lebih tahu data yang harus dicatat dengan akurat. Bila proses pencatatan bisa diintegrasikan
dengan proses kerja (khususnya melalui pemanfaatan TIK), hal ini tidak akan menjadi beban
dan dapat membantu dalam pengambilan keputusan. Diupayakan dibentuk tim pengelola
SIK/data yang terdiri dari staf dengan kompetensi pengelolaan SIK dan TIK
Dalam proses implementasi SIK komputerisasi, waktu transisi dari sistem manual ke sistem
komputerisasi menambah beban karena sistem manual dan sistem komputer harus
dijalankan secara bersamaan. Maka disarankan proses transisi harus pendek dan migrasi
ke sistem komputerisasi penuh harus disegerakan agar beban data entri ganda ini tidak
diperpanjang. Setelah transisi selesai, sistem manual harus segera dihentikan apabila sudah
dikonfirmasi bahwa sistem komputerisasi sudah berjalan dengan bagus. Ini sering menjadi
risiko tinggi di dalam proses implementasi dimana petugas medis diharuskan memakai 2
sistem (dan kerja ganda) dalam jangka waktu yang terlalu lama sehingga mereka akhirnya
meninggalkan sistem komputerisasi baru dan tetap memakai sistem manual. Rekomendasi
untuk waktu transisi adalah maksimal 1 bulan.
6.1.3
Kualitas Data

Prinsip kualitas data berhubungan dengan kelengkapan, keakuratan, konsistensi dan ketepatan waktu. Data yang berkualitas harus dapat diandalkan (reliable) dan bermanfaat. Agar data dapat diandalkan harus tepat waktu (up to date) dan relevan. Data akan bermanfaat apabila sesuai dengan keadaan yang sebenarnya (Objektif), mewakili objek yang diteliti/diamati (Representatif) dan mengandung sedikit kesalahan (minimum error).

Hal ini menjadi tanggungjawab semua petugas data entri, pengelola data dan kepala fasilitas pelayanan untuk memastikan bahwa data yang tercatat di dalam SIK berkualitas tinggi.

Untuk memastikan bahwa kualitas data tersebut valid, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan Quality Assurance. Quality assurance adalah proses pemeriksaan dan pengumpulan informasi mengenai data pada sumber data untuk menemukan inkonsistensi dan anomali lainnya dan melakukan pembersihan data aktivitas

untuk meningkatkan kualitas data. Misal semua pencatat harus melakukan pengecekan sebelum data di entri/dicatat.

Langkah kedua adalah dengan melakukan Quality Control, yaitu proses pengawasan dan pemeriksaan terhadap kualitas data yang dihasilkan dari suatu aplikasi sistem. Kegiatan ini dilakukan setelah proses validasi data, misalnya dengan dengan cara verifikasi data secara rutin terhadap laporan yang dihasilkan, dimana bila terdapat kesalahan, harus segera diinformasikan kepada petugas entri data untuk diperbaiki.

Indikator data yang berkualitas,

Akurat: data yang tersimpan nilainya benar (nama cocok dengan alamatnya);

Konsisten: nilai sebuah field data akan sama semua dalam berbagai berkas (field produk A dengan kode 123, akan selalu sama kodenya di setiap berkas lain);

Tidak Redundan: tidak boleh ada data yang sama disimpan di tempat yang berbeda dalam satu system;

yang sama disimpan di tempat yang berbeda dalam satu system;  Lengkap: tidak ada nilai atribut

Lengkap: tidak ada nilai atribut salah yang diberikan dalam sistem

Survey Kualitas Data Survey adalah metoda pengumpulan data melalui instrumen (kuesioner dan wawancara) yang bisa merekam tangapan-tanggapan responden dalam sebuah sampel penelitian. Dalam survei ada 5 tahap yangharus dilakukan, yaitu:

Tahap pertama terdiri dari: mengembangkan hipotesis, memutuskan jenis survei (Surat, wawancara, telepon), menulis pertanyaan survey, menentukan kategori respons, mendesain lay out.

Tahap kedua: merencanakan penyimpanan data dan melakukan pilot test.

Tahap ketiga: menentukan target populasi, menentukan batasan sampel, menentukan jumlah sampel dan memilih sampel.

Tahap keempat merupakan tahapan penting yaitu: menentukan lokasi responden, melakukan wawancara dan merekam data secara hati-hati.

Tahap kelima: memasukkan data ke dalam komputer, melakukan cek ulang data dan melakukan analisis statistik.

Tahap keenam: menjelaskan metode dan temuan dalam laporan, mempresentasikan temuan pada publik untuk mendapatkan evaluasi.

temuan pada publik untuk mendapatkan evaluasi. Keenam tahapan dalam survei itu harus dilakukan

Keenam tahapan dalam survei itu harus dilakukan untukmemperoleh data yang akurat. Untuk menjaga kualitas data yang dihasilkan harus dilakukan pencatatan sesuai dengan form yang disediakan dan data yang telah dicatat dicek kebenarannya. Untuk yang menggunakan system terkomputerisasi data harus dientri sesuai dengan form yang disediakan, sebelum data disimpan harus dicek ulang validitasnya. Dan bila menggunakan data bersumber dari hasil survey, perlu dipertimbangkan apakah yang mengeluarkan data tersebut dapat dipercaya atau tidak.

6.2 Pengolahan Data

6.2.1 Keamanan Data dan Kerahasiaan Data

Keamanan merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk berjalannya SIK secara berkesinambungan, terutama data maupun informasi yang menyangkut data pasien yang sangat sensitif dan pribadi. Semua pengelola SIK harus memberi perhatian khusus terhadap praktik-praktik yang dapat mengganggu keberlangsungan SIK. Untuk dapat menangani serta meningkatkan keamanan sistem maka kemampuan teknis para pengelola SIK nya harus ditingkatkan. Para pengelola SIK harus menjamin keamanan, baik dari segi keamanan fisik maupun keamanan sistem.

Keamanan SIK dapat diklasifikasikan menjadi empat yaitu:

1. Keamanan yang bersifat fisik; termasuk akses orang ke gedung peralatan dan media yang digunakan.

2. Keamanan yang berhubungan dengan orang (personel)

3. Keamanan dari data dan media serta teknik komunikasi

4. Keamanan dalam operasional; adanya prosedur yang digunakan untuk mengatur dan mengelola sistem.

Melihat dari klasifikasi diatas maka kita perlu untuk memperhatikan aspek-aspek dari keamanan sistem yang meliputi:

1. Privasi Pasien Privasi ini bertujuan untuk menjaga data maupun informasi dari orang yang tidak berhak mengakses data, lebih kearah data-data yang bersifat privat. Kerahasian berhubungan dengan data maupun informasi yang diberikan kepada pihak lain untuk keperluan tertentu dan hanya diperbolehkan digunakan untuk keperluan tertentu tersebut, dengan kata lain data maupun informasi harus dapat diproteksi dalam penggunaannya dan penyebarannya.

dapat diproteksi dalam penggunaannya dan penyebarannya.  Manual o o o Petugas yang berhak mengakses data

Manual

o

o

o

Petugas yang berhak mengakses data pasien mengikut kebijakan yang berhak akses

Penyimpanan data pasien harus di dalam ruangan yang terkunci dan tidak semua orang bisa mengakses

Data pasien tidak boleh dibawa oleh yang tidak berhak

Elektronik

o

o

o

Hak akses ke dalam sistem yang memiliki informasi pasien mengikut kebijakan yang berhak akses

Harus di siapkan antivirus dan firewall supaya sistem penyimpanan data pasien tidak bisa di hack

Pengiriman secara elektronik nama pasien harus dienkripsi

Di dalam model SIK yang berbasis komputerisasi, data yang bisa mengidentifikasikan pasien seperti:

data yang bisa mengidentifikasikan pasien seperti:  Nama  Alamat (alamat jalan, bukan Desa atau

Nama

Alamat (alamat jalan, bukan Desa atau Kabupaten)

Nama keluarga

Hanya bisa disimpan di dalam fasilitas pelayanan saja. Data ini tidak boleh dikirim bersama data lain yang dilaporkan ke Bank Data Kesehatan Nasional dalam sistem pelaporan disaggregat atau individu.

2. Kontrol Akses Merupakan cara pengaturan akses terhadap data maupun informasi berhubungan dengan masalah keaslian dan juga privasi, biasanya dengan menggunakan kombinasi user id/password ataupun dengan metode lainnya.

3. Ganguan Keamanan Lainnya Berbagai gangguan yang mungkin menjadi ancaman bagi SIK dan juga data yang tersimpan, antara lain:

Bencana - Berbagai bencana alam seperti banjir, gempa, kebakaran, dan lain lain.

Sabotase - Dapat terjadi selama tahap implementasi ketika pengguna diperkenalkan dengan sistem baru maupun ketika sistem telah berjalan. Alasan untuk sabotase bisa beragam, mulai dari ketidaksukaan/penolakan pada sistem sampai pada perlindungan kepentingan sendiri.

Kondisi fisik dan infrastruktur - Kerusakan juga bisa terjadi pada peralatan TI karena penyimpanan fisik dan lingkungan operasi. Komputer dan perangkat lain harus beroperasi dalam lingkungan yang aman seperti jauh dari sinar matahari langsung, menghindari kelembaban yang berlebihan (seperti kebocoran pipa) dan sering dibersihkan dari debu.

Hacker/Peretas Sistem - Hacker dengan niat jahat dapat membahayakan sistem komputer dari jarak jauh melalui konektivitas internet dan sistem jaringanp erangkat lunak.

Software Berbahaya - Virus, Trojan Horse dan Worm adalah perangkat lunak berbahaya yang paling umum yang menimbulkan risiko potensial terhadap sistem dan data. Risiko ini sering tersembunyi dan berjalan di latar belakang sistem komputer tanpa disadari si pengguna. Hal dapat berpotensi menghapus total sistem aplikasi komputer dan data.

menghapus total sistem aplikasi komputer dan data. 6.2.2 Pengamanan SIK Berikut adalah hal-hal yang dapat

6.2.2

Pengamanan SIK

Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk antisipasi terhadap ancaman-ancaman yang mungkin terjadi :

1.

Antivirus dan Firewall Pemasangan antivirus pada komputer merupakan langkah utama yang harus dilakukan untuk pertahanan. Personil TI yang bertugas menjaga sistem harus memastikan bahwa semua komputer memiliki perangkat lunak antivirus dan yang rutin diperbarui secara online dengan file definisi virus yang terbaru. Untuk manajer TI yang menangani jaringan menengah sampai besar seperti di rumah sakit, pemutakhiran antivirus dapat dilakukan secara terpusat dan dikendalikan secara otomatis oleh sistem. Firewall jaringan merupakan unsur penting lainnya untuk pencegahan terhadap akses yang tidak sah dari luar. Hal ini sangat penting karena jaringan yang terhubung ke internet yang selalu rentan terhadap ancaman. Sebuah jaringan profesional yang berpengalaman dengan keamanan jaringan memerlukan pemeliharaan dan update terus menerus pada kebijakan keamanan jaringan fasilitas kesehatan itu.

jaringan memerlukan pemeliharaan dan update terus menerus pada kebijakan keamanan jaringan fasilitas kesehatan itu.

Keamanan Fisik Pengamanan perangkat IT secara tradisional dapat dilakukan melalui pemasangan kunci dan pintu. Selain itu penempatan petugas penjaga kemanan diperlukan untuk mencegah terjadinya pencurian. Semua peralatan komputer yang berharga harus disimpan dalam ruangan dan akses ke ruangan tersebut harus diawasi. Perangkat TI bergerak/mobile yang rentan terhadap pencurian harus ditandai dan dijaga ketat.

2.

3.

Sistem dan Akses Data Pengendalian Sistem dan akses data dapat dilakukan melalui penentuan hak akses pengguna terhadap sistem. Hak akses harus diberikan kepada pengguna yang berbeda sesuai dengan kebutuhan yang berbeda. Misalnya, seorang staf di bagian keuangan tidak boleh diberikan akses terhadap catatan medis dari pasien, yang boleh mendapatkan akses hanya oleh staf klinis. Hak-hak akses harus ditentukan oleh ID login individu dan ID unik pengguna dan password. Staf juga harus dididik tentang pentingnya menjaga ID login dan password rahasia untuk mencegah pencurian identitas.

Sistem juga harus dilengkapi dengan fasilitas pencatatan otomatis setiap pengguna yang mengakses sistem, sehingga bila terjadi kesalahan dapat ditelusuri dengan mudah. Selain itu langkah lainnya adalah dengan meminta kepada pengguna untuk mengubah password secara berkala untuk menjaga keamanan sistem. Untuk sistem manual, data yang disimpan di dalam map dan kertas harus diamankan dan tidak bisa diakses oleh orang yang tidak berkepentingan. Map/berkas pasien hanya dapat diakses oleh petugas medis yang telah ditentukan.

4.

Pengamanan Fisik, Hardware (Perangkat Keras) & Software Pengamanan terhadap perangkat keras dan aplikasi sistem dapat dilakukan dengan cara menghindari penggunaan perangkat data eksternal seperti USB/Flashdisk, yang beresiko dalam memasukkan virus kedalam sistem yang akan merusak data. Manajer IT disarankan untuk melepas semua perangkat penghubung perangkat data eksternal sehingga dapat menghindari pemasangan aplikasi software yang tidak diperlukan yang dapat menimbulkan ancaman terhadap keamanan jaringan secara keseluruhan. Hal ini seharusnya menjadi kebijakan fasilitas kesehatan dimana tidak boleh ada software tambahan seperti game atau musik / video diinstal ke komputer di tempat kerja.

atau musik / video diinstal ke komputer di tempat kerja. Selain itu, persyaratan TI harus tercermin

Selain itu, persyaratan TI harus tercermin dalam perencanaan ruangan. Beberapa aturan dasar yang harus diterapkan seperti tidak menempatkan pipa air di atas ruang komputer server dan lokasi jauh dari jendela dan harus ada AC dalam ruangan harus diterapkan.

6.2.3

Penyimpanan Data

Data storage adalah suatu tempat/alat dimana data-data disimpan, dimana kumpulan berbagai data tersimpan secara terorganisir berdasarkan subjek-subjek utama (misal pasien, penyakit), terintegrasi (dibangun dengan menggabungkan data yang berbeda), menyediakan informasi dari segi perspektif historis, dan nonvolatile dimana setiap kali ada perubahan data akan ditampung setiap waktu dalam mendukung proses pembuatan keputusan.

Tanggungjawab semua pemangku kepentingan adalah untuk memastikan semua data disimpan secara teratur dan bisa diakses kapan saja.

Penyimpanan data kesehatan secara manual adalah berbasis kertas. Untuk tempat penyimpanan data harus ditempat yang aman dari gangguan secara fisik, misal, harus disimpan di dalam lemari atau kamar yang terkunci, dimana hanya orang yang berwenang saja yang bisa mengakses.

dimana hanya orang yang berwenang saja yang bisa mengakses.  Arsip data kesehatan berbasis kertas harus

Arsip data kesehatan berbasis kertas harus disimpan sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan lebih dari itu dapat dimusnahkan.

Pada saat peralihan dari manual ke komputerisasi suatu institusi, data kesehatan yang diarsip menggunakan kertas dan selain itu data kesehatan dientrikan menggunakan komputer disimpan dalam storage.

Rekam medis wajib disimpan sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 2 (dua) tahun terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat untuk sarana pelayanan kesehatan non rumah sakit, dan 5 (lima) tahun untuk pasien rawat inap terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat atau dipulangkan, rekam medis dapat dimusnahkan setelah batas waktu dilampaui (Kepmenkes Nomor 269/Menkes/Per/III/2008).

Dalam Peraturan Kepala Arsip Nasional RI Nomor 06 Tahun 2005 tentang Petunjuk teknis, Perlindungan, Pengamanan dan Penyelamatan Dokumen/Arsip Vital Negara disebutkan bahwa rekam medis merupakan arsip vital. Arsip vital harus memperoleh perlindungan khusus terutama dari kemungkinan musnah, hilang atau rusak yang diakibatkan oleh bencana.

Untuk institusi yang sudah komputerisasi tempat penyimpanan data kesehatan berada pada server. Dan bila institusi yang sudah menggunakan sistem yang lebih canggih, data di simpan pada tempat penyimpanan yang mempunyai sistem terkomputersisasi tersendiri. Data kesehatan terkomputerisasi yang disimpan di dalam server harus menyala dan bisa diakses hingga 10 tahun. Dan harus diingat pada waktu pembelian tempat penyimpanan data, dipastikan kapasitasnya cukup untuk menampung data selama 10 tahun.

Selain itu, data harus diarsip (masih disimpan dan belum dihapuskan) di dalam tempat penyimpanan data offline (seperti CD, DVD), backup data harus dijalankan setiap hari pada akhir hari kerja. Detail lengkap mengenai Backup sistem terdapat di dalam sub bab di bawah.

6.3 Penanganan Gangguan

terdapat di dalam sub bab di bawah. 6.3 Penanganan Gangguan 1. Helpdesk dan Troubleshooting Tahap ini

1. Helpdesk dan Troubleshooting

Tahap ini merupakan langkah lanjutan setelah tahap implementasi. Helpdesk dan troubleshoting mendukung petugas pengelola data dalam mengatasi masalah. Dalam hal ini helpdesk dan troubleshooting dibagi berdasarkan cara pengelolaan data yaitu manual transisi, dan komputerisasi.

Pengelolaan data secara manual yaitu dengan mengisi formulir pencatatan berbasis kertas sesuai dengan definisi operasional yang telah ditetapkan. Kendala yang biasa dihadapi oleh petugas yang mengisi formulir pencatatan secara manual yaitu petugas kurang memahami definis operasional sehingga terjadi kesalahan penulisan data pada formulir pencatatannya.

Pengelolaan data secara transisi proses pencatatan dilakukan secara manual dan komputerisasi. Kendala yang dihadapi oleh petugas pengisi formulir pencatatan antara lain kurangnya pemahaman terhadap definisi operasional pada saat pengisian secara manual, terjadi kesalahan entry, dan kurang paham terhadap aplikasi yang digunakan. Untuk menyelesaikan kendala ini petugas pengisi/pengentry menghubungi konsultan (petugas pengelola SIK kabupaten/kota) melalui alat komunikasi.

Sedangkan pengelolaan data secara komputerisasi proses pencatatan dilakukan dengan menggunakan aplikasi baik yang belum maupun yang sudah tersambung dengan konektivitas. Kendala yang biasa dihadapi oleh petugas antara lain kerusakan pada hardware, sistem yang mengalami gangguan, dll.

pada hardware, sistem yang mengalami gangguan, dll. Untuk mengatasi permasalahan diatas petugas yang mengisi

Untuk mengatasi permasalahan diatas petugas yang mengisi formulir pencatatan bisa melakukan konsultasi dengan konsultan (petugas pengelola SIK kabupaten/kota yang memiliki pengetahuan dan minat tinggi tentang SIK, komputer dan jaringannya). Konsultasi ini bisa menggunakan alat komunikasi seperti telepon, telepon internal, faxmile, handphone, dan email. Atau jika permasalahan yang dihadapi lebih sulit, maka konsultan harus mendatangi Puskesmas tersebut agar kendala bisa teratasi. Dan petugas bisa melakukan proses pengisian formulir pencatatan kembali baik secara manual maupun komputerisasi.

2. Pemeriksaan Proses Kerja

Pemeriksaan proses kerja ini dilakukan untuk memastikan bahwa petugas pengisi/pengentry formulir pencatatan pelaporan, menjalankan proses kerjanya dengan baik tanpa ada hambatan. Pemeriksaan proses kerja ini juga merupakan salah satu strategi untuk mengatasi resistensi petugas yang mengisi aplikasi yang masih menggunakan sistem transisi maupun sudah komputerisasi. Penggunaan aplikasi pada sistem transisi maupun

komputerisasi ini merupakan metode kerja baru, biasanya petugas cenderung mudah menyerah ketika mereka menghadapi hambatan pada saat menjalankan aplikasi tersebut. Dikhawatirkan mereka akan kembali ke sistem manual yang lebih nyaman jika mereka menemukan masalah dengan sistem (yang berkaitan dengan baik hardware, jaringan atau perangkat lunak aplikasi).

Semua upaya harus diambil untuk menjamin bahwa situasi ini tidak terjadi. Salah satu metode yang digunakan adalah konsultan (pengelola SIK kabupaten/kota) untuk melakukan pemeriksaan proses kerja para petugas. Tujuan dari tugas ini adalah untuk memastikan bahwa petugas melakukan pekerjaan mereka dengan sistem dengan manfaat yang maksimal. Para konsultan (pengelola SIK kabupaten/kota) harus mengunjungi pengelola data secara rutin untuk memeriksa proses pekerjaan mereka dan menjelaskan kepada mereka langkah kerja yang tepat atau cara untuk memaksimalkan manfaat dari sistem tersebut. Upaya ini harus terus dilakukan secara rutin sampai sistem menjadi pilihan budaya kerja (berkelanjutan menggunakan sistem manual).

budaya kerja (berkelanjutan menggunakan sistem manual). Sedangkan pemeriksaan proses kerja pada sistem manual hanya

Sedangkan pemeriksaan proses kerja pada sistem manual hanya dilakukan dengan memeriksa kebenaran dan kelengkapan angka yang telah diisi pada formulir pencatatan disesuaikan dengan definisi operasional yang telah ditetapkan. Waktu pemeriksaan proses kerja secara manual sebaiknya 2 kali sebelum dilakukan pelaporan.

Pemeriksaan proses kerja pada sistem transisi dilakukan dua tahap. Tahap pertama memeriksa formulir pencatatan yang telah terisi sesuai dengan definisi operasional yang telah ditetapkan. Tahap kedua memeriksa data yag telah di entry kedalam aplikasi untuk mencegah kesalahan entry, dan memeriksa aplikasi itu sendiri apakah sudah berjalan dengan baik atau belum.

3.

Business Continuity atau Kontinuitas Bisnis Proses adalah rencana yang fokus untuk mempertahankan kelangsungan fungsi sistem saat gangguan terjadi dan sesudahnya sehingga dapat meminimalisasi kerugian yang diakibatkan oleh bencana. Bussines continuity sangat diperlukan untuk menjaga sistem tetap berjalan ketika dalam kondisi terburuk sekalipun. Pada dasarnya aplikasi atau sistem berjalan sensitif terhadap teknologi informasi, sebab data yang telah dientry dan disimpan serta dikirim secara online dilakukan secara real time. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain melakukan backup secara rutin setiap seminggu sekali dengan USB maupun CD dan menyiapkan UPS pada setiap puskesmas guna mengantisipasi gangguan pada aliran listrik.

Business Continuity & Recovery

pada aliran listrik. Business Continuity & Recovery Recovery atau pemulihan adalah rencana yang fokus pada

Recovery atau pemulihan adalah rencana yang fokus pada sistem teknologi informasi yang diterapkan pada data center untuk memperbaiki operabilitas sistem target, aplikasi, dan fasilitas komputer dilokasi alternatif dalam kondisi darurat dan bencana. Kondisi darurat dan bencana terjadi dengan frekuensi yang tidak menentu dan akibat yang ditimbulkannya bisa menghambat jalannnya sistem bahkan sampai merusaknya. Berbagai bencana yang mungkin terjadi antara lain:

a. Bencana alam disebabkan oleh kondisi geografis dan geologis dari lokasi

b. Kebakaran disebabkan oleh faktor lingkungan dan pengaturan sistem elektrik yang dapat menyebabkan korsleting

c. Kerusakan pada jaringan listrik disebabkan oleh sistem elektrik

d. Serangan teroris disebabkan oleh lemahnya keamanan fisik dan non fisik data center

e. Sistem atau perangkat yang rusak terkait dengan kesalahan manajemen pengawasan perangkat

f. Kesalahan operasional akibat ulah manusia

g. Virus misalkan disebabkan oleh kesalahan pemilihan antivirus yang digunakan

Apabila terjadi bencana yang sangat membahayakan kelangsungan teknologi yang

digunakan perlu dilakukan langkah-langkah penyelamatan antara lain menyelamatkan back up data pada USB dan CD dan menyelamatkan perangkat keras. Strategi pemulihan yang bisa diterapkan:

a. Melakukan tes data restore secara regular untuk memastikan data bisa di restore dengan baik pada saat proses pemulihan.

b. Mengatur fasilitas ruang server alternatif dengan mesin server standby, terpisah dari ruang server utama, jika ruang server utama mengalami kerusakan jika terjadi bencana.

c. Server cadangan di ruang server alternatif bisa untuk melakukan proses pemulihan cepat data di ruang server utama.

melakukan proses pemulihan cepat data di ruang server utama. 6.4 Interoperabilitas Interoperabilitas harus dapat dicapai

6.4 Interoperabilitas

Interoperabilitas harus dapat dicapai dalam keragaman penggunaan perangkat keras dan perangkat lunak baik sistem operasi, database dan bahasa pemrograman yang tersedia saat ini dan khususnya yang telah dipergunakan di berbagai instansi pemerintahan baik pusat ataupun daerah. Interoperabilitas dalam keragaman ini hanya dapat dicapai melalui standarisasi format pertukaran data, yang secara teknis saat ini banyak dilakukan dengan menggunakan basis XML. Setiap pihak yang terkait berkewajiban menggunakan standar yang ditetapkan dalam petunjuk teknis ini sebagai acuan bersama.

Untuk memastikan informasi dalam SIK bisa ditransfer antar system dan bisa disimpan ke dalam Bank Data Kesehatan Nasional, semua tipe sistem aplikasi harus berpatokan kepada standard data yang ditetapkan di dalam petunjuk teknis ini. Dengan adanya format data yang sudah terstandarisasi, pengiriminan data antara system bisa direalisasikan.

Transfer data dan informasi antar sistem, semua applikasi software harus bisa mengeluarkan data (export) dari database ke dalam format file berikut:

file text (.txt)

file excel (.xls)

 file excel (.xls)

file database (seperti mdb)

file XML

6.5 Format Pengiriman Data ke Bank Data Kesehatan Nasional

Semua fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun swasta yang yang telah menggunakan sistem terkomputerisasi dalam pengelolaan SIK diwajibkan melapor dengan format elektronik. Format Elektronik yang dipilih adalah berbasis standard XML.

XML (eXtensible Markup Language) adalah sebuah bahasa markup untuk mendeskripsikan data. XML merupakan turunan (subset) atau versi ringkas dari SGML (Standard Generalized Markup Language). Kelebihan dari XML adalah karakteristiknya yang extensible dan platform independent. XML mempermudah data sharing. XML disimpan dalam plain format yang sangat sederhana, sehingga data dengan mudah dapat digunakan semua komputer atau aplikasi. Karena XML disimpan dalam bentuk text, maka pengguna tidak perlu khawatir kehilangan data saat melakukan perubahan sistem operasi atau aplikasi. Bahkan bila didukung oleh para developer aplikasi, seluruh berkas word processor,

spreadsheet, database, dan data lainnya akan disimpan dalam bentuk XML sehingga mempermudah pertukaran data antar aplikasi tanpa diperlukan konversi lagi.

Keunggulan XML adalah :

Pintar (Intelligence). XML dapat menangani berbagai tingkat (level) kompleksitas.

Dapat beradaptasi. Dapat mengadaptasi untuk membuat bahasa sendiri.

Mudah pemeliharaannya.

Sederhana.

Mudah dipindah-pindahkan (Portability).

Bentuk XML secara umum adalah sebagai berikut:

<heading>

<root> <child> <subchild>isi… </subchild> </child> </root>

</subchild> </child> </root> Keterangan : • <heading> : Heading berfungsi

Keterangan :

<heading> : Heading berfungsi untuk: mendefinisikan versi, definisi entitas, tipe encoding, dan DOCTYPE

<root> : Elemen root adalah elemen yang menjadi orang tua dari elemen-elemen lainnya. Semua dokumen XML harus memiliki elemen root. Elemen root bisa juga berfungsi sebagai judul dari kumpulan data yang dikirim

<child> elemen child berfungsi untuk menyimpan isi dari data yang dikirim.

<subchild> elemen subchild adalah turunan dari child, dimana isi data yang dikirim memiliki data turunan.

Saat ini telah banyak software aplikasi untuk mengkonversi data kedalam format XML secara mudah dan cepat, sehingga tidak harus dilakukan secara manual merubah satu persatu isi data kedalam bentuk XML.

Pengiriman Data Kesehatan Berbasis XML Pengiriman laporan kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan harus mengikuti format XML. Laporan dalam format XML yang dikirimkan harus sesuai dengan dataset minimal yang telah ditetapkan. Format XML ini digunakan untuk semua jenis laporan baik itu yang berbentuk Laporan Individual maupun Aggregat.

baik itu yang berbentuk Laporan Individual maupun Aggregat. Agar laporan yang dikirimkan dapat dibaca oleh sistem

Agar laporan yang dikirimkan dapat dibaca oleh sistem pada Bank Data Nasional maka laporan dengan format XML tersebut harus mengikuti aturan sebagai berikut :

<root> diisi dengan Nama atau Judul laporan

<child> diisi dengan dataset/item data yang terdapat pada laporan tersebut.

Contoh :

Laporan yang akan dikirim adalah Laporan Bulanan Data Penyakit dengan dataset minimal sebagai berikut :

No. Variabel data XML Format Definisi 1 Kode Puskesmas KD_PKM Kode Puskesmas 2 Puskesmas PKM
No.
Variabel data
XML Format
Definisi
1
Kode Puskesmas
KD_PKM
Kode Puskesmas
2
Puskesmas
PKM
Nama Puskesmas
3
Kecamatan
KEC
Nama Kecamatan
4
Jumlah Pustu
JML_PUSTU
Jumlah Pustu
5
Pustu yang melapor
PUSTU_LAPOR
Jumlah Pustu yang melakukan pelaporan
6
Kabupaten
KAB/KOTA
Nama Kabupaten
6
Propinsi
PROP
Nama Propinsi
7
Bidan
NM_BIDAN
Nama Bidan
8
Periode Laporan
PERIODE
Keterangan periode laporan
9
Kode Penyakit
ICDX
Kode
Penyakit
berdasarkan
ICD
X
disusun
berdasarkan hirarki.
10
Jenis Penyakit
PENYAKIT
Nama
penyakit
berdasarkan
ICD
X
disusun
berdasarkan hirarki.
11
Penyakit Laki-Laki
PENYAKIT_L
Jumlah penyakit dalam periode tertentu per penyakit
menurut jenis kelamin Laki-Laki
12
Penyakit Perempuan
PENYAKIT_P
Jumlah penyakit dalam periode tertentu per penyakit
berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin
13
Kasus baru Laki-Laki
KAS_BR_L
Jumlah kasus baru yang terdiagnosa dalam satu
periode menurut jenis kelamin Laki-Laki
14
Kasus baru Perempuan
KAS_B_P
Jumlah kasus baru yang terdiagnosa dalam satu
periode menurut jenis kelamin Perempuan
15
Kasus lama Laki-Laki
KAS_LM_L
jumlah kasus lama yang terdiagnosa dalam suatu
periode menurut jenis kelamin Laki-Laki
16
Kasus lama Perempuan
KAS_LM_P
jumlah kasus lama yang terdiagnosa dalam suatu
periode menurut jenis kelamin Perempuan
17
Pasien Bayar Laki-Laki
BAYAR_L
Jumlah pasien yang berobat ke puskesmas dengan
melakukan pembayaran secara tunai menurut jenis
kelamin Laki-Laki
18
Pasien Bayar Perempuan
BAYAR_P
Jumlah pasien yang berobat ke puskesmas dengan
melakukan pembayaran secara tunai menurut jenis
kelamin Perempuan
19
Pasien Askes Laki-Laki
ASKES_L
Jumlah pasien yang berobat ke puskesmas dengan
cara bayar Askes menurut jenis kelamin Laki-Laki
20
Pasien Askes Perempuan
ASKES_P
Jumlah pasien yang berobat ke puskesmas dengan
cara bayar Askes menurut jenis kelamin Perempuan
21
Pasien Askeskin Laki-Laki
ASKESKIN_L
Jumlah pasien yang berobat ke puskesmas dengan
cara bayar Askeskin menurut jenis kelamin Laki-Laki
22
Pasien
Askeskin
ASKESKIN_P
Perempuan
Jumlah pasien yang berobat ke puskesmas dengan
cara bayar Askeskin menurut jenis kelamin
Perempuan
23
Pasien SKM Laki-Laki
SKM_L
Jumlah pasien yang berobat ke puskesmas dengan
cara bayar menggunakan SKM (Surat keterangan
Miskin) menurut jenis kelamin Laki-Laki
24
Pasien SKM Perempuan
SKM_P
Jumlah pasien yang berobat ke puskesmas dengan
cara bayar menggunakan SKM (Surat keterangan
Miskin) menurut jenis kelamin Perempuan
25
Pasien
Kunjungan
Sehat
KUN_SEHAT_L
Laki-Laki
Jumlah Pasien yang berobat ke Puskesmas yang
melakukan kunjungan sehat menurut jenis kelamin
Laki-Laki

26

Pasien

Kunjungan

Sehat

KUN_SEHAT_P

Jumlah Pasien yang berobat ke Puskesmas yang melakukan kunjungan sehat menurut jenis kelamin Perempuan

Perempuan

 

Penanggung jawab

 

PJ_LAPORAN

pihak yang bertanggung jawab dalam pelaporan

Sesuai dengan dataset diatas, maka format pelaporan dalam bentuk XML akan menjadi sebagai berikut :

<Laporan Bulanan Data Kesakitan>

<KD_PKM>01010101</KD_PKM>

<PKM>Cileungsi</PKM>

<KEC>Sukamaju</KEC>

Dst.

<Laporan Bulanan Data Kesakitan>

Dst. <Laporan Bulanan Data Kesakitan> Pengiriman Data Terkait Kesehatan Informasi yang bersumber

Pengiriman Data Terkait Kesehatan

Informasi yang bersumber dari luar fasilitas kesehatan (misalnya kependudukan) akan dimintakan langsung dari sumber yang terkait (contohnya BPS) dan dimasukkan ke dalam Bank Data Kesehatan Nasional. Semua pemangku kepentingan yang membutuhkan informasi kesehatan dapat mengakses informasi yang diperlukan dari Bank Data Kesehatan Nasional melalui website Kemenkes.

mengakses informasi yang diperlukan dari Bank Data Kesehatan Nasional melalui website Kemenkes. Halaman 48 dari 69

7

PENYAJIAN, DISEMINASI DAN PEMANFAATAN DATA DAN INFORMASI

Tujuan akhir dari pengembangan sistem informasi adalah penyajian data dan informasi untuk mendukung kegiatan pengambilam keputusan dan penetapan kebijakan. Setiap pengelolaan SIK, baik itu yang masih bersifat manual maupun komputerisasi wajib melakukan pelaporan sesuai dengan standar dataset minimal yang telah ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan.

Namun informasi/laporan yang dihasilkan SIK tidak terbatas hanya pada kebutuhan pimpinan/organisasi, melainkan juga tergantung pada kebutuhan untuk manajemen kesehatan. Dalam rangka penyajian informasi diperlukan analisis sesuai dengan kebutuhan informasi di setiap level dalam organisasi.

dengan kebutuhan informasi di setiap level dalam organisasi. Terdapat empat jenis analisis data yang dapat digunakan

Terdapat empat jenis analisis data yang dapat digunakan untuk menganalisis data, yaitu:

1. Analisis Deskriptif, menggambarkan/menjelaskan data yang terdapat dalam tabel sesuai karakteristik data yang ditampilkan, termasuk angka rata-rata, angka minimum dan maksimum. Misalnya nilai rata-rata cakupan imunisasi bayi, kisaran cakupan imunisasi bayi.

2. Analisis Komparatif, menjelaskan data dengan membandingkan karakteristik data wilayah yang satu dengan wilayah lainnya atau perbandingan data antar waktu, antar jenis kelamin, antar kelompok umur. Secara khusus, dengan tersedianya data kesakitan yang terpilah menurut jenis kelamin, dapat dikomparasikan derajat kesehatan, upaya kesehatan, dan sumber daya kesehatan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya perbandingan prevalensi gizi buruk pada balita laki-laki dan perempuan.

3. Analisis Kecenderungan, menjelaskan data dengan membandingkan data antar waktu dalam periode yang relatif panjang. Misalnya kecenderungan jumlah penderita DBD selama lima tahun terakhir.

4. Analisis Hubungan, menjelaskan hubungan/keterkaitan antara variabel yang satu dengan variabel lainnya. Misalnya cakupan K4 pada ibu hamil dengan cakupan pertolongan K4 oleh tenaga kesehatan dan kunjungan neonatal serta ibu nifas.

tenaga kesehatan dan kunjungan neonatal serta ibu nifas. 7.1 Penyajian Data dan Informasi Informasi/laporan disajikan

7.1 Penyajian Data dan Informasi

Informasi/laporan disajikan dalam bentuk yang paling cocok sesuai dengan tipe data sehingga mudah dipahami oleh pengguna. Cara penyajian data dan informasi antara lain:

1. Tabulasi Penyajian hasil pengolahan data dalam bentuk tabel atau kolom dan baris. Kebanyakan laporan adalah disajikan dalam bentuk ini.

Contoh:

10 PENYAKIT TERBANYAK DI PUSKESMAS YKABUPATEN QBULAN JUNI TAHUN 2010

No Nama Penyakit Jumlah Kasus 1 Infeksi Akut Pernapasan Atas 192 2 Diare (termasuk tersangka
No
Nama Penyakit
Jumlah Kasus
1
Infeksi Akut Pernapasan Atas
192
2
Diare (termasuk tersangka kolera)
63
3
Penyakit pada Sistem Otot dan Jaringan Pengikat
57
4
Penyakit Darah Tinggi Primer
48
5
Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal
46
6
Asma
29
7
Kecelakaan dan Ruda Paksa
29
8
Penyakit Kulit Alergi
24
9
Penyakit Kulit Infeksi
19
10
Gangguan Gigi dan Jaringan Penyangga Lain
11
PREVALENSI GIZI BURUK PADA BALITA DI KABUPATEN “X”
PROVINSI “W” TAHUN 2010

2. Grafik penyajian dengan menggunakan gambar batang, garis, titik, atau pie. Bentuk yang digunakan disesuaikan dengan tujuan analisis yang ingin ditampilkan, apakah membandingkan nilai, menampilkan tren, atau proporsi.

Contoh:

nilai, menampilkan tren, atau proporsi. Contoh: 3. Peta – penyajian berupa peta suatu daerah yang

3. Petapenyajian berupa peta suatu daerah yang digunakan untuk menggambarkan penyebaran atau distribusi dari suatu nilai menurut konsep wilayah

Contoh:

PERSENTASE PENDUDUK MISKIN PROVINSI KTAHUN 2010

PERSENTASE PENDUDUK MISKIN PROVINSI ” K ” TAHUN 2010 Sumber : ……………… 7.2 Diseminasi Diseminasi data
PERSENTASE PENDUDUK MISKIN PROVINSI ” K ” TAHUN 2010 Sumber : ……………… 7.2 Diseminasi Diseminasi data

Sumber : ………………

7.2 Diseminasi

Diseminasi data bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis media. Pada wilayah yang masih menerapkan SIK manual, informasi harus dikompilasi terlebih dahulu sebelum disajikan dalam bentuk laporan kertas (berbentuk lembaran atau buku). Bila harus disajikan kepada umum, laporan kertas tersebut juga dapat disajikan di papan informasi. Selain itu laporan kertas tersebut dapat dikirimkan langsung ke pengguna.

kertas tersebut dapat dikirimkan langsung ke pengguna. Pada wilayah yang sudah menerapkan SIK komputerisasi dapat

Pada wilayah yang sudah menerapkan SIK komputerisasi dapat menghasilkan informasi yang lebih bervariasi seperti tampilan pada layar komputer (baik komputer di tempat/jaringan lokal, atau dimana saja melalui jaringan yang terhubung dengan internet), dan memudahkan dalam pengolahan lebih lanjut mudah dengan mentransfer ke program pengolahan data lainnya seperti Microsoft Excel. Informasi yang didiseminasikan bisa juga dicetak apabila diperlukan.

7.3 Pemanfaatan

Informasi yang dihasilkan tidak terbatas sebagai laporan saja. Informasi yang disajikan harus dianalisis lebih lanjut dan dipakai dalam proses kerja harian para pimpinan/pengambil keputusan. Contohnya:

Pelayanan kesehatan: perlu tidaknya pelaksanaan fogging harus berdasarkan laporan kunjungan pasien DBD, pengadaan obat harus berdasarkan laporan sisa stok obat.

Dinas kesehatan: keputusan untuk peningkatan status puskesmas dari non perawatan menjadi perawatan, harus dilakukan berdasarkan informasi jumlah penduduk, laporan kunjungan pasien dan informasi lokasi (jarak puskesmas ke RS dan fasilitas transportasi)

laporan kunjungan pasien dan informasi lokasi (jarak puskesmas ke RS dan fasilitas transportasi) Halaman 52 dari

8

SUMBER DAYA

Keberhasilan pelaksanaan suatu sistem bergantung pada sumber daya yang mendukung sistem tersebut. Sumber daya terdiri dari beberapa komponen yaitu kebijakan, organisasi, pendanaan, sumber daya manusia dan infrastruktur/perangkat.

Dalam rangka menerapkan tata kelola pemerintahan yang baik (Good governance) perlu dibentuk Tim Akreditasi SIK. Tim akreditasi ini merupakan unit independent yang akan menilai tingkat kesesuaian dengan pedoman SIK setiap fasilitas kesehatan. Keterangan lebih lanjut akan dijelaskan pada Petunjuk Teknis.

8.1 Pendanaan

Dukungan kebijakan pendanaan kesehatan menurut UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan merupakan peluang yang
Dukungan kebijakan pendanaan kesehatan menurut UU Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan merupakan peluang yang baik dalam rangka memperkuat pendanaan
penyelenggaraan SIK. Semua pemangku kepentingan bertanggungjawab merencanakan
pendanaan untuk upaya pembangunan, operasional dan pemeliharaan terkait SIK. Setiap
tahun Kementerian Kesehatan akan mengalokasikan dana untuk inisiatif penguatan SIK
sesuai Road map SIK. Pemerintah Daerah juga perlu mengalokasikan dana khusus untuk
pengelolaan SIK mengacu pada Road map SIK.
Pendanaan SIK harus memperhitungkan hal-hal berikut:
Komponen
Deskripsi
Penyusunan
Kebijakan
SIK
perlu
disusun
untuk
mengatur
pelaksanaan
dan
kebijakan
pengembangan SIK.
Pengadaan
SIK manual maupun SIK komputerisasi memerlukan dukungan infrastruktur.
infrastruktur
Infrastruktur SIK manual khususnya untuk penyimpanan (berkas dan arsip).
Infrastruktur SIK komputerisasi memerlukan pendanaan yang cukup besar
dan harus direncanakan dengan teliti.
Sumber Daya
Manusia (SDM)
Bila tenaga pengelola SIK terbatas, perlu dialokasikan dana untuk
pengadaan tenaga honor.
Pengelolaan
operasional dan
pemeliharaan data
dan informasi
termasuk bankdata
dan diseminasi
informasi
Secara paralel, harus dialokasikan dana untuk pengembangan SDM SIK.
Dana operasional dibutuhkan untuk pemeliharaan infrastruktur untuk
memastikan kondisi tetap baik.
Biaya operasional juga termasuk biaya listrik dan koneksi internet. Dana
operasional untuk troubleshooting harus dianggarkan secara rutin, termasuk
biaya telepon, perjalanan dinas, untuk mendukung mengatasi permasalahan
pengguna.
Bahan operasional
habis pakai
Bahan operasional habis pakai yang harus disediakan adalah formulir
pencatatan, tinta printer atau pita mesin ketik, alat tulis kantor, kertas, media
penyimpanan data elektronik (CD, flashdisk).
Bahan
operasional
ini
harus
dipastikan
pengadaannya
sehingga
tidak
mengganggu operasional.
Monitoring dan
evaluasi
Alokasi dana untuk monitoring dan evaluasi (seperti insiatif penguatan dan
evaluasi kualitas data) juga sangat penting supaya para pembuat keputusan
memahami kondisi SIK.

Pemerintah Pusat bertanggung jawab melakukan intervensi khusus pada wilayah dengan keterbatasan tenaga, biaya, dan infrastruktur, salah satunya dengan mengusulkan dana alokasi khusus (DAK), dana Tugas Perbantuan (TP), dana dekonsentrasi atau sumber dana lain mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk pengembangan SIK di wilayah tersebut.

UU Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, telah menetapkan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagai salah satu sumber penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi, diantaranya untuk meningkatkan pembangunan kesehatan. Dengan demikian pemerintah baik pemeritah pusat maupun pemerintah daerah dapat menyediakan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau dan berkualitas. Melalui DAK, pemerintah pusat memberikan anggaran pada daerah untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan merupakan prioritas Nasional. DAK Bidang Kesehatan, diberikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan bidang kesehatan yang merupakan urusan daerah sesuai prioritas pembangunan kesehatan Nasional yang ditetapkan melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahunnya.

melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahunnya. Dalam Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2008 tentang

Dalam Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, diatur mengenai dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan. Dana dekonsentrasi untuk kegiatan bersifat non-fisik dan dapat ditunjang dengan subkegiatan bersifat fisik, yang tidak melebihi 25% dari total anggaran kegiatan yang bersangkutan. Dana TP untuk kegiatan bersifat fisik dan dapat ditunjang dengan subkegiatan bersifat non- fisik, yang tidak melebihi 10% dari total anggaran kegiatan yang bersangkutan.

Dana bantuan dari organisasi internasional atau bantuan luar negeri, pengembangan SIK harus sesuai dengan Road map SIK. Organisasi atau negara pemberi bantuan harus berkoordinasi dengan Pusdatin Kementerian Kesehatan dan sesuai dengan peraturan yang berlaku, baik diimplementasikan secara nasional maupun diimplementasikan di daerah tertentu. Untuk implementasi di daerah harus berkoordinasi juga dengan Dinas Kesehatan termasuk Tim SIKDA.

8.2 Sumber Daya Manusia

Tanpa pengelola SIK yang sesuai dengan kebutuhan, perangkat teknologi informasi tidak banyak bermanfaat dalam perbaikan sistem kesehatan.

tidak banyak bermanfaat dalam perbaikan sistem kesehatan. Pengelola SIK di semua tingkatan manajemen kesehatan harus

Pengelola SIK di semua tingkatan manajemen kesehatan harus mampu memahami:

a) kebijakan dan manajemen SIK

b) kebijakan program kesehatan

c) indikator kesehatan

d) istilah-istilah kesehatan

e) aspek klinis

f) epidemiologi penyakit

8.2.1 Kompetensi Pengelola SIK

Kompetensi yang diperlukan pada pengelola SIK, yaitu:

1. Mampu melakukan kegiatan statistik bidang kesehatan:

a) Mampu melakukan teknis pengumpulan data

b) Mampu melakukan validasi data

c) Mampu melakukan pengolahan data secara manual dan elektronik

d) Mampu melakukan pengukuran indikator kesehatan

e) Mampu melakukan analisis data kesehatan

f) Mampu menyajikan data dan informasi secara tepat

2. Memiliki kemampuan dalam bidang teknologi informasi:

a) Mampu mengelola perangkat keras

b) Mampu mengelola software pengelolaan, analisis dan penyajian data

c) Mampu mengelola jaringan

Pengelola SIK harus memiliki sifat responsif terhadap data yang tidak logis dan terhadap kebutuhan manajemen, mampu berkoordinasi dengan unit terkait ketika mendapatkan informasi yang tidak logis, teliti, sabar dan tekun.

8.2.2 Jenis Pengelola SIK dan Fungsinya

Tabel berikut mendeskripsikan berdasarkan keahlian, sedangkan jumlah pengelola tergantung kondisi di institusi kesehatan, bisa merangkap tetapi lebih baik setiap jabatan diduduki oleh petugas yang berbeda.

Keahlian*  Pengelola data  Teknisi TI  Koordinator SIK  Pengelola data  Teknisi
Keahlian*
 Pengelola data
 Teknisi TI
 Koordinator SIK
 Pengelola data
 Teknisi aplikasi
 Teknisi database
 Teknisi hardware dan jaringan
 Koordinator SIK
 Pengelola data
 Teknisi aplikasi
 Teknisi database
 Teknisi hardware dan jaringan
 Koordinator SIK
 Pengelola data
 Teknisi aplikasi
 Teknisi database
 Teknisi hardware dan jaringan

Tingkatan Manajemen Kesehatan

Pelayanan Kesehatan

Puskesmas

Rumah Sakit Kabupaten/Kota/Provinsi

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Dinas Kesehatan Provinsi

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Dinas Kesehatan Provinsi * Keahlian tergantung pada jenis perangkat lunak yang

* Keahlian tergantung pada jenis perangkat lunak yang digunakan, seorang ComputerProgrammer mungkin diperlukan pada fasilitas kesehatan tertentu untuk terus menerus mengembangkan dan memodifikasi sistem aplikasi untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan.

Keahlian

 

Fungsi dan kualifikasi

 

Koordinator

Kualifikasi minimum Sarjana di bidang Informasi Kesehatan atau Sistem Informasi atau Manajemen Rumah Sakit.

SIK

Memiliki pemahaman mengenai proses kerja di unit kerja (puskesmas, RS, Dinkes).

Mampu memiliki pandangan strategis dan perencanaan sistem informasi.

 

Memiliki pengetahuan umum dalam bidang teknologi informasi.

jawab

Bertanggung

atas

sistem

manajemen

informasi

kesehatan

secara

keseluruhan.

Mengatur dan mengarahkan pengelola SIK dan juga entitas eksternal seperti vendor dan penyedia layanan.

 Berkoordinasi dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal dan memastikan bahwa sistem informasi telah
Berkoordinasi dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal dan
memastikan bahwa sistem informasi telah memenuhi semua persyaratan data.
Pengelola
data
Kualifikasi minimum Diploma di bidang Kesehatan Masyarakat (Statistik,
Epidemiologi, dll), Sistem Informasi, Informasi Kesehatan, atau setara.
Memiliki pemahaman mengenai proses kerja di unit kerja (puskesmas, RS,
Dinkes) terutama data yang dihasilkan, diolah dan informasi yang dibutuhkan
Mampu merencanakan dan melaksanakan pengelolaan data
Memastikan akurasi dan konsistensi data yang akan diberikan kepada para
pembuat keputusan. Informasi yang tepat kepada orang yang tepat pada waktu
yang tepat.
Untuk di Puskesmas juga bertindak sebagai penghubung dengan pemangku
kepentingan yang memerlukan informasi.
Teknisi TI
Kualifikasi minimum pelatihan di bidang teknologi informasi.
Memiliki pengetahuan umum dan pengalaman di bidang Teknologi Informasi.
Memiliki pemahaman mengenai proses kerja di unit kerja (puskesmas)
Mampu memecahkan masalah teknis yang sederhana seperti masalah dengan
perangkat keras, jaringan dan perangkat lunak.
Sebagai pelaksana utama dalam mendukung TI di Puskesmas dan memberikan
bantuan kerja terkait TI.
Teknisi
hardware dan
Kualifikasi minimum Diploma di bidang Ilmu Komputer, Teknologi Informasi atau
Jaringan.
jaringan
Memiliki pengetahuan umum dan pengalaman di bidang Teknologi Informasi.
Mampu merancang, menerapkan, memelihara dan mengatasi masalah jaringan
LAN dan WAN.
Memiliki pengetahuan dalam merancang dan mengimplementasikan sistem
keamanan.
Teknisi
database
Kualifikasi minimum Diploma di bidang Ilmu Komputer, Teknologi Informasi atau
setara.
Bertanggung jawab mengelola database sistem informasi termasuk desain,
memecahkan masalah dan meningkatkan kinerja sistem.
Memiliki pengetahuan dan pemahaman relasional teknologi database.
Mampu untuk melakukan query pada sistem database informasi dan memenuhi
kebutuhan pelaporan dan informasi dari pemangku kepentingan internal dan
eksternal.

Dalam pengelolaan SIK dibutuhkan jafung rumpun kesehatan (misalnya jafung epidemiologi, kesehatan masyarakat) dan jafung selain rumpun kesehatan (misalnya jafung statistisi, pranata komputer). Antar jabatan fungsional saling mengisi dan membutuhkan untuk menghasilkan data kesehatan yang berkualitas.

untuk menghasilkan data kesehatan yang berkualitas. Setiap pengelola SIK harus meningkatkan pengetahuan dan

Setiap pengelola SIK harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan secara berkala, secara formal (insitusi pendidikan) dan atau secara informal (seminar, konferensi, workshop), dan atau menjadi anggota organisasi profesi.

Unit Pengelola SIK harus mempunyai standar prosedur operasional (SPO) yang menjelaskan setiap peran dan tugas. SPO diperlukan sebagai rujukan dalam pelaksanaan tugas pengelola SIK. Hal ini cukup penting terutama pada saat terjadi pergantian petugas. Selain itu perlu dilakukan alih pengetahuan (transfer knowledge) kepada petugas pengganti.

Untuk menjamin kelangsungan SIK, petugas/pengelola SIK tidak dialihtugaskan sekurang- kurangnya dalam 3 tahun, kecuali alasan tertentu seperti promosi jabatan.

8.3 Infrastruktur

Infrastruktur yang mendukung sistem sangat penting untuk kesuksesan pelaksanaan SIK.

8.3.1 Infrastruktur Pengelolaan SIK Manual

1. Pencatatan:

Untuk melaksanakan proses pencatatan diperlukan alat tulis kantor yang sesuai dan memadai. Media pencatatan dapat berupa formulir yang ditentukan dan memastikan formulir ini ada pada saat dibutuhkan.

2. Penyimpanan:

Penyimpanan berkas/dokumen menggunakan peralatan penyimpanan khusus. Pemilihan peralatan penyimpan tergantung pada jenis, media dan ukuran arsip. Namun demikian secara umum peralatan tersebut memiliki karakteristik tidak mudah terbakar dan kedap air. Penggunaan sistem keamanan ruang penyimpanan berkas/dokumen seperti pengaturan akses, pengaturan ruang simpan, penggunaan sistem alarm dapat digunakan untuk mengamankan arsip dari bahaya pencurian, sabotase, penyadapan dan lain-lain.

dari bahaya pencurian, sabotase, penyadapan dan lain-lain. 3. Diseminasi : Untuk penyajian informasi, biasanya berupa

3. Diseminasi :

Untuk penyajian informasi, biasanya berupa cetakan sajian data (misal : laporan, profil institusi, profil kesehatan). Penyajian informasi dapat juga melalui media papan informasi.

Infrastruktur Pengelolaan SIK Komputerisasi

8.3.2

Pada pengelolaan SIK komputerisasi dibutuhkan infrastruktur sebagai berikut:

Jaringan komputer Jaringan komputer terdiri dari Local Area Networks (LAN) dan Wide Area Networks (WAN). Keduanya diperlukan dan digunakan dalam desain SIK komputerisasi di Indonesia.

Perangkat Keterangan Switch Switch digunakan untuk menghubungkan beberapa perangkat seperti komputer dan server dalam
Perangkat
Keterangan
Switch
Switch digunakan untuk menghubungkan beberapa perangkat seperti
komputer dan server dalam jaringan yang memungkinkan komunikasi
data antara perangkat. Jenis switch yang digunakan sangat tergantung
pada desain dan konfigurasi jaringan.
Wireless Fidelity
(WiFi)
Stasiun WiFi base adalah perangkat yang memungkinkan koneksi
melalui transmisi nirkabel ke jaringan. Hal ini membebaskan peralatan
dari sambungan kabel untuk dihubungkan ke LAN dan berguna untuk
menghubungkan perangkat bergerak. Konektivitas Wifi juga memiliki
keterbatasan dalam jarak jauh.
Unshielded Twisted
Pair (UTP) Cable
Kabel UTP kategori 6 adalah standar yang digunakan untuk konektivitas
jaringan. Kabel tembaga ini memungkinkan kecepatan hingga
1000Mbps (gigabit Ethernet) tergantung pada jenis kartu jaringan dan
switch yang digunakan.

Perangkat jaringan yang diperlukan secara umum:

Fibre Optic Cable (kabel serat optik)

Kabel serat optik memungkinkan transmisi melintasi jarak yang luas pada kecepatan transfer sangat tinggi. Serat optik kabel sering digunakan sebagai tulang punggung LAN, menghubungkan perangkat jauh.

Perangkat keras

Perangkat Keterangan Server Server adalah komputer yang dirancang untuk berperan sebagai tuan rumah di mana
Perangkat
Keterangan
Server
Server adalah komputer yang dirancang untuk berperan sebagai tuan rumah
di mana perangkat lunak aplikasi dan database berada. Server adalah
bagian penting untuk semua sistem aplikasi tetapi lokasi server dapat
dilokalisasi dalam fasilitas atau ditempatkan eksternal (komunikasi data dan
mentransfer lebih dari WAN atau Internet). Localized server adalah jantung
dari sistem aplikasi dan desain sistem harus mencerminkan redundansi
untuk
menjamin
uptime
sistem.
Memilih server yang tepat untuk menjalankan sistem aplikasi memerlukan
evaluasi teknis pada sistem dimaksudkan dan beban kerja, sehingga
mempengaruhi daya proses, ruang kapasitas penyimpanan dan fitur lainnya.
Perangkat lunak server yang mengendalikan server juga memerlukan
evaluasi teknis untuk menemukan yang paling cocok untuk perangkat lunak
aplikasi dimaksud dan lingkungan.
Komputer
Komputer adalah tempat pengguna bekerja, memasukkan dan mengambil
informasi. SIK komputerisasi menempatkan semua informasi yang
diperlukan di terminal komputer yang memungkinkan pengambilan secara
langsung oleh pengguna.
Keyboard dan
Mouse
Keyboard dan mouse adalah alat input standar untuk sistem komputer dan
hampir semua sistem computer dilengkapi perangkat ini. Penting juga
diperhatikan alas mouse, dimana mouse tidak bekerja pada permukaan
seperti kaca.
Barcode
Bar Code Reader merupakan perangkat penting untuk mengurangi waktu
Reader
input.
Alat
ini
digunakan
dalam
berbagai
lingkungan
tergantung pada
perangkat lunak aplikasi. Sistem bar code harus digunakan pada lokasi
berikut
untuk
mempercepat proses:
Pasien - Setelah pendaftaran pertama kalinya, semua pasien harus
diberikan kartu ID pasien yang dicetak sebagai identifikasi unik (MR
angka) dan kode bar terkait. Setelah kembali, waktu pendaftaran pasien
di meja dapat dikurangi dengan bar code scanning dan mengambil
rincian pasien dalam sistem, bukan mouse dan keyboard input.
 Rekam medis (MR) pelacakan - Semua catatan medis harus memiliki
kode bar di halaman depan. Fasilitas ini bekerja sama dengan MR
pelacakan sistem aplikasi, semua MR yang meninggalkan penyimpanan
MR dapat discan dan disimpan ke dalam sistem dengan informasi
tentang tujuan. Semua MR yang kembali juga harus ditelusuri sebelum
disimpan menunjukkan "kembali" status. Ini akan mengurangi hilangnya
folder rekam medis.
 Farmasi - Untuk pengontrolan obat, stok keluar atau konsumsi harus
ditelusuri dan dicatat. Sistem bar code memungkinkan data yang akan
dimasukkan cepat dan lebih akurat.
 Persediaan - Persediaan penggunaan sistem bar code bekerja pada
pokok yang sama dalam farmasi dimana informasi tentang saham
masuk dan keluar dapat dengan cepat direkam ke dalam perangkat lunak aplikasi untuk manajemen persediaan
masuk dan keluar dapat dengan cepat direkam ke dalam perangkat
lunak aplikasi untuk manajemen persediaan yang lebih baik.
Printer
Printer digunakan untuk mencetak berbagai informasi dan laporan yang
dibutuhkan. Untuk di pelayanan seperti pendaftaran pasien, billing, farmasi,
akuntansi, dll dapat menggunakan printer dot matrix sedangkan untuk
kegiatan perkantoran dapat menggunakan printer ink jet atau printer laser.
Pengaturan printer juga harus diubah dengan pengaturan menggunakan
tinta minimal dan kualitas sehingga mengurangi biaya dan waktu
pencetakan.
Uninterrupted
Power Supply
(UPS)
Gangguan pasokan listrik atau UPS dapat bekerja sebagai pengatur arus
listrik dan pasokan daya darurat. UPS harus digunakan di semua komputer,
perangkat jaringan dan server dasarnya untuk mengatur arus listrik, dan
yang terpenting untuk menyediakan pasokan listrik cadangan darurat
komputer bila mati listrik
Document
Scanners
Alat pemindai dokumen digunakan untuk mendigitalkan gambar dan
membantu dalam pekerjaan administrasi.
1.

Konektivitas SIK komputerisasi akan lebih cepat dan akurat dalam penyampaian informasi bila terdapat koneksi internet antar semua tingkatan manajemen kesehatan. Data terpilah dari rumah sakit dan puskesmas dapat cepat untuk dikompilasi dan eskalasi lebih lanjut dengan koneksi internet. Dan pada akhirnya, data yang dikompilasi dapat diakses oleh seluruh lapisan pengambil keputusan dalam sistem kesehatan.

Koneksi internet untuk semua fasilitas kesehatan sangat penting bagi keberhasilan SIK. Semua fasilitas kesehatan sampai ke tingkat puskesmas harus mengalokasikan anggaran untuk koneksi internet minimum ke 1 komputer untuk transmisi data kesehatan terpilahyang dikumpulkan.

Suplai Listrik

Listrik merupakan komponen yang penting dari SIK komputerisasi dan akan menimbulkan masalah dalam operasional terutama di daerah pedesaan. Untuk memastikan ketersediaan suplai listrik dapat ditempuh dengan strategi berikut:

Semua suplai listrik ke perangkat SIK (termasuk perangkat jaringan) terlebih dahulu diatur oleh regulator tegangan. Hal ini akan membantu dalam mengurangi arus pendek yang secara permanen akan merusak perangkat mahal ini. Beberapa fungsi UPS dapat sebagai regulator tegangan dan juga menyediakan listrik cadangan.

regulator tegangan dan juga menyediakan listrik cadangan. 2. Strategi cadangan perlu diambil ketika sistem SIK

2. Strategi cadangan perlu diambil ketika sistem SIK komputerisasi sedang down (mengalami masalah) selama operasional di fasilitas kesehatan (rumah sakit atau puskesmas). Strategi cadangan dapat meliputi:

a. Segera respon bila ada kegagalan suplai listrik, segera matikan komputer dan server dengan benar yang sementara masih berjalan dengan menggunakan daya UPS.

b. Bila kegagalan suplai listrik terus berlanjut, operasional data kembali ke sistem manual.

c. Setelah kembalinya suplai listrik, data manual harus ditransfer kembali ke sistem SIK pada hari kerja yang sama.

3. Genset (pembangkit listrik cadangan/pengganti) yang bahan bakar dapat menyediakan suplai listrik bila terjadi pemadaman listrik.

Penyimpanan berkas/dokumen

Pemilihan peralatan simpan tergantung pada jenis, media dan ukuran berkas/dokumen termasuk dokumen elektronik. Namun demikian secara umumperalatan tersebut memiliki karakteristik tidak mudah terbakar (sedapat mungkin memiliki daya tahan sekurang- kurangnya 4 jam kebakaran), kedap air dan bebas medan magnet untuk jenis arsip berbasis magnetik/elektronik. Penggunaan sistem keamanan ruang penyimpanan berkas/dokumen seperti pengaturan akses, pengaturan ruang simpan, penggunaan sistem alarm dapat digunakan untuk mengamankan arsip dari bahaya pencurian, sabotase, penyadapan dan lain-lain.

Komponen infrastruktur lainnya Komponen infrastruktur yang juga penting yaitu ruang kerja. Ruang kerja harus diatur agar petugas nyaman dalam bekerja, dengan memperhatikan jumlah dan penempatan petugas dalam satu ruangan, perangkat komputer diatur sedemikian rupa agar ruangan tidak sempit dan efisien. Diperhatikan pula pencahayaan, sirkulasi udara dan suplai listrik.

ruangan tidak sempit dan efisien. Diperhatikan pula pencahayaan, sirkulasi udara dan suplai listrik. Halaman 60 dari

9

IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI KESEHATAN KOMPUTERISASI

9.1 Perencanaan

Dalam pengembangan SIK Komputerisasi, langkah utama yang harus dilakukan sebelum implementasi, adalah dengan melakukan perencanaan terlebih dahulu. Perencanaan ini harus dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh pemangku kepentingan dalam SIK. Hal yang paling mendasar dalam perencanaan adalah dengan menetapkan tujuan dari pengembangan proyek SIK komputerisasi tersebut, serta masalah apa yang sedang dan akan dihadapi serta merumuskan jalan keluar untuk pemecahannya. Penetapan tujuan pengembangan proyek SIK harus jelas karena akan menjadi pedoman dalam pelaksanaan tahapan selanjutnya dari implementasi proyek SIK, yaitu tahap monitoring dan evaluasi. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan proyek pengembangan SIK diantaranya yaitu :

perencanaan proyek pengembangan SIK diantaranya yaitu :  Cakupan dan Desain Sistem Cakupan atau ruang lingkup

Cakupan dan Desain Sistem Cakupan atau ruang lingkup pengembangan SIK harus ditentukan dari awal untuk memastikan secara akurat besarnya sumber daya dan waktu pengerjaan yang dibutuhkan. Dokumentasi mengenai ruang lingkup pengembangan SIK tersebut harus disertai dengan cetak biru (blue print) yang akan menjadi panduan secara umum/global dalam pelaksanaan pengembangan SIK Terkomputerisasi. Berdasar pada cakupan/ruang lingkup global tersebut dapat dibuat daftar kebutuhan sistem secara lebih spesifik. Kebutuhan spesifik ini kemudian disusun menjadi dokumentasi persyaratan fungsional dan spesifikasi sistem, yang akan menjadi bagian dari dokumen pengadaan.

Pada tahapan realisasi dari komponen cetak biru harus dilengkapi kelengkapan dokumen system requirement, document desain, document testing. Dokumen- dokumen ini akan digunakan untuk mengetahui kelayakan software dari segi penggunaan dan keamanan.

Kepemilikan hak kekayaan intelektual dari aplikasi sistem informasi yang dibangun menjadi hak dari unit kerja yang membiayai. Hak kekayaan intelektual yang dimaksud mencakup dokumentasi pengembangan dan source code, penggunaan aplikasi tanpa batas waktu, kepemilikan penuh serta publikasi dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan tanpa izin.

dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan tanpa izin. Penggunaan aplikasi oleh pengembang untuk kepentingan lain

Penggunaan aplikasi oleh pengembang untuk kepentingan lain haruz seizin yang membiayai.

Untuk menguji kelayakan aplikasi sistem informasi kesehatan perlu dibentuk sebuah tim sertifikasi sistem informasi kesehatan yang independen yang terdiri dari para ahli. Tim ini bertugas melakukan pengujian / penilaian terhadap Sistem Informasi kesehatan yang dikembangkan oleh pengembang. Tim ini berhak menyatakan layak atau tidak layak, sesuai atau tidak sesuai dengan standar, dari sistem informasi.

Anggaran Setelah penentuan ruang lingkup dan tujuan pembangunan SIK, rencana anggaran yang sesuai dengan harga pasaran harus dibuat. Dengan adanya rencana anggaran

tersebut, maka proses pengajuan rencana anggaran untuk pendanaan proyek SIK bisa dilakukan. Perencanaa anggaran yang akurat sangat penting untuk memastikan proyek dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana, tanpa adanya resiko kekurangan dana pada sebelum selesainya proyek. Penentuan anggaran bisa dilakukan melalui penelitian harga pasar atau penelitian anggaran proyek yang lain yang sejenis. Dalam proses penelitian anggaran, panitia disarankan untuk berkomunikasi dengan panitia pengadaan dari fasilitas / dinas lain yang mempunyai pengalaman dalam proyek yang sama. Strategi lain yang bisa dilaksanakan adalah melalui process Request for Information (RFI). RFI adalah permintaan informasi anggaran melalui proses terbuka dimana pemasok atau pihak ketiga yang mempunyai kemampuan menyediakan layanan yang diperlukan bisa memberikan proposal dan daftar harga. Dari proposal tersebut, panitia pengadaan bisa membuat estimasi anggaran yang diperlukan.

Dalam pengembangan aplikasi sistem informasi diperlukan standar acuan harga yang berpedoman pada tingkat kerumitan atau kompleksitas yang mengacu pada dokumen pengembangan. Perhitungan harga pembiayaan pengembangan aplikasi menggunakan metode perhitungan cost analysis.

aplikasi menggunakan metode perhitungan cost analysis .  Aktivitas dan Sumber Daya selain perencanaan anggaran,

Aktivitas dan Sumber Daya selain perencanaan anggaran, perencanaan sumber daya yang diperlukan juga amat penting. Sumber daya tersebut adalah waktu dan sumber daya manusia. Aktivitas detail harus direncanakan dan setiap aktivitas ini harus dialokasikan waktu dan sumber daya yang diperlukan. Proyek pengembangan SIK berhubungan dengan banyaknya sumber daya yang harus disiapkan, yang akan menghabiskan biaya yang cukup besar. Sehingga diperlukan perencanaan anggaran yang akurat agar dapat dilakukan efisiensi biaya.

Kendala Implementasi SIK Dalam pelaksanaan proyek pengembangan SIK, kadang timbul berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat kelancaran proyek. Untuk itu sebisa mungkin harus dilakukan identifikasi terhadap kendala yang mungkin dihadapi pada saat pelaksanaan proyek tersebut sejak awal, dan didokumentasikan supaya langkah langkah pencegahan bisa diidentifikasi dan dilaksanakan. Kendala-kendala yang sudah teridentifikasi mungkin saja berubah pada saat proyek sudah berjalan, namun dengan adanya proses identifikasi permasalahan sejak awal, maka kendala yang timbul akan lebih mudah untuk ditanggulangi.

kendala yang timbul akan lebih mudah untuk ditanggulangi. Adapun hal-hal yang harus dilakukan pada tahap perencanaan

Adapun hal-hal yang harus dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah :

9.2 Analisis dan Dokumentasi Kebutuhan Sistem

Dengan berdasarkan dokumen cakupan sebagai pedoman, proses analisis detail kebutuhan system dan user harus dilaksanakan. Semua kebutuhan sistem dan kebutuhan pengguna harus didokumentasikan dengan jelas kerana ini akan digunakan di dalam dokumentasi spesifikasi pengadaan dan menjadi fondasi dalam pengembangan sistem nantinya.

9.3 Analisis Perangkat Keras, Jaringan dan Infrastruktur

Menganalisis persyaratan untuk hardware dan jaringan harus dilakukan melalui analisis

prasarana fisik yang tersedia di fasilitas tersebut pada saat ini.

Sebuah tim ahli teknis harus

melakukan survei fasilitas fisik untuk mengidentifikasikan hal berikut:

 
Perangkat Keras Persyaratan untuk komputer, printer dan perangkat periferal seperti mouse, keyboard, dan scanner
Perangkat
Keras
Persyaratan untuk komputer, printer dan perangkat periferal seperti mouse,
keyboard, dan scanner barcode harus didefinisikan berdasarkan fungsi yang
diperlukan pada sistem. Persyaratan harus menyertakan jumlah, lokasi dan
spesifikasi (misalnya memori komputer, prosesor, jenis dan ukuran monitor,
kecepatan printer, dan ukuran hasil cetakan) dari semua perangkat keras yang
dibutuhkan.
Produk dari analisis dan survei ini adalah Bill of Quantity (BOQ)atau daftar barang
pengadaan. Di dalam daftar ini, semua peralatan yang diperlukan untuk
pelaksanaan system baru akan dikompilasi.
Jaringan
Pembentukan jaringan komputer (LAN atau WAN) akan ditentukan oleh Grand
Design sistem. Untuk membangun LAN, tata letak bangunan fasilitas kesehatan dan
infrastruktur yang tersedia saat ini harus dianalisa sebelum desain jaringan dibuat.
Tergantung kepada Grand Desain sistem, konektivitas jaringan luas atau WAN
mungkin juga digunakan apabila diperlukan.
Berdasarkan desain jaringan, perangkat jaringan dan komponen lain yang
dibutuhkan dalam implementasi dapat ditentukan jumlah dan jenisnya, termasuk
jaringan kabel (serat optik atau UTP) switch, router, perangkat lunak jaringan dan
lain-lain.
Hasil dari process ini adalah Bill of Quantity(BOQ) atau daftar barang pengadaan.
Infrastruktur
lain
Infrastruktur tambahan lainnya yang amat penting untuk keberhasilan pembangunan
suatu SIK komputerisasi yang seringkali diabaikan termasuk pasokan listrik,
penempatan komputer, meja dan kursi dan outlet listrik di lokasi penempatan.
Seringkali persyaratan untuk infrastruktur tambahan ini harus dibeli melalui proses
pengadaan secara terpisah (misalnya meja, kursi, dan renovasi untuk ruang kerja
atau outlet listrik menginstal) diluar pengadaan untuk perangkat IT.
9.4 Analisis Software Aplikasi
Aplikasi perangkat lunak yang diperlukan harus dipecah menjadi modul-modul tertentu
dalam dokumen Ruang Lingkup SIK. Modul yang ada pada suatu SIK komputerisasi
umumnya pendaftaran pasien, klinik, inventori, farmasi, dan lain-lain. Modul yang diperlukan
harus didetailkan lebih lanjut untuk menentukan fungsi-fungsi dan fitur secara tepat
termasuk proses alur kerja harus didefinisikan secara jelas sesuai dengan langkah kerja di
lapangan dan output (seperti laporan) yang diperlukan. Proses ini juga akan membantu
dalam desain perangkat keras (Penentuan jumlah dan lokasi peralatan).
Contoh persyaratan suatu perangkat lunak:
Modul
Spesifikasi
Manajemen
Pasien
Mendaftar pasien baru di dalam fasilitas kesehatan dengan mengentri variable
berikut:
1. Nama pasien
2. Alamat pasien
3. Jenis kelamin
4. Umur
5. Tipe asuransi kesehatan
Setelah pendaftaran, sistem secara otomatis harus menetapkan nomor rekam medis
yang akan sesuai dengan format penomoran yang telah ditentukan MR.
Setelah pendaftaran, kunjungan baru harus terdaftar untuk pasien. Semua kunjungan
juga harus disertai dengan "Nomor kunjungan" yang juga secara otomatis ditetapkan
oleh sistem.
No MR dan No Kunjungan merupakan dua jenis sistem penomoran yang berbeda
dan keduanya harus unik. No MR tidak akan berubah setelah diberikan kepada
seseorang pasien dan akan digunakan sebagai pengenal unik seorang pasien.
No Kunjungan diberikan untuk setiap kunjungan yang dilakukan oleh pasienke