Anda di halaman 1dari 5

Efek Antihipertensi Senyawa Bioaktif Dioscorin pada Umi Dioscorea Kurniawati, dkk

Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 2 p.402-406, April 2015



402

EFEK ANTIHIPERTENSI SENYAWA BIOAKTIF DIOSCORIN PADA UMBI-
UMBIAN KELUARGA DIOSCOREA : KAJIAN PUSTAKA

Antihypertensive Effects of Dioscorin Bioactive Compound on Tubers
Dioscorea Family : A Review

Irma Tri Kurniawati
1*
, Teti Estiasih
1

1) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP Universitas Brawijaya Malang
Jl. Veteran, Malang 65145
*Penulis Korespondensi, email: irma3kurnia@gmail.com

ABSTRAK

Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko kardiovaskular yang paling banyak
menyebabkan kematian di seluruh dunia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah
kondisi medis dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis dalam jangka waktu
yang lama. Selama ini masyarakat menggunakan terapi farmakologi dengan mengkonsumsi
obat-obatan seperti Captropil yang memiliki efek menghambat ACE (Angiotensin Converting
Enzyme) yaitu enzim yang berperan dalam meningkatkan tekanan darah. Efek samping
yang ditimbulkan oleh obat antihipertensi dan mahalnya obat tersebut menyebabkan
ketidakpatuhan penderita hipertensi untuk mengkonsumsinya. Efek samping yang
ditimbulkan meliputi batuk kering, pusing, sakit kepala, dan lemas. Indonesia memiliki
sumber daya pangan yang cukup melimpah, salah satunya umbi-umbian yang berpotensi
membantu penurunan tekanan darah. Umbi-umbian diketahui memiliki kandungan senyawa
bioaktif yang bersifat sebagai antihipertensi alami yaitu protein dioscorin.

Kata kunci : ACE, Dioscorin, Hipertensi, Senyawa Bioaktif

ABSTRACT

Hypertension is one of the cardiovascular risk factors which most cause death
worldwide. Hypertension or high blood pressure is a medical condition where an increase in
the blood pressure is chronically in a long period of time. Until today, the public using
pharmacological therapy by consuming drugs such as Captropil which has the effect of
inhibiting ACE (Angiotensin Converting Enzyme) that is an enzyme that role in increases
blood pressure. Side effects caused by antihypertensive drugs and expensive the medicine
causing disobedience patients hypertension to consume. Side effects include dry cough,
dizziness, headache, and limp. Indonesia has resources that relatively abundant food, one of
them is the tubers of which has the potential to help decrease the pressure of the blood.
Tubers known hasb bioactive compound that antihypertensive natural protein dioscorin.

Keywords: ACE, Bioactive compound, Dioscorin, Hypertension

PENDAHULUAN

Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko kardiovaskular yang paling banyak
menyebabkan kematian di seluruh dunia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah
kondisi medis dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis dalam jangka waktu
yang lama [1]. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2011 terdapat satu
miliar orang yang terkena hipertensi. Di Indonesia, angka penderita hipertensi mencapai
32% pada 2008 dengan kisaran usia di atas 25 tahun. Jumlah penderita pria mencapai
42.7%, sedangkan 39.2% adalah wanita. WHO juga memperkirakan, jumlah penderita
Efek Antihipertensi Senyawa Bioaktif Dioscorin pada Umi Dioscorea Kurniawati, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 2 p.402-406, April 2015

403

hipertensi akan terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang membesar. Pada
2025 mendatang, diproyeksikan sekitar 29% warga dunia terkena hipertensi [2].
Selama ini masyarakat menggunakan terapi farmakologi dengan mengkonsumsi
obat-obatan seperti Captropil yang memiliki efek menghambat ACE (Angiotensin Converting
Enzyme) yaitu enzim yang berperan dalam meningkatkan tekanan darah [3]. Efek samping
yang ditimbulkan oleh obat antihipertensi dan mahalnya obat tersebut menyebabkan
ketidakpatuhan penderita hipertensi untuk mengkonsumsinya. Efek samping yang
ditimbulkan meliputi batuk kering, pusing, sakit kepala, dan lemas. Indonesia memiliki
sumber daya pangan yang cukup melimpah, salah satunya umbi-umbian yang memiliki
potensi untuk menurunkan tekanan darah. Salah satu senyawa yang diketahui memiliki
senyawa antihipertensi melalui proses penghambatan aktivitas ACE adalah protein
dioscorin. Protein dioscorin banyak ditemukan pada tanaman umbi-umbian keluarga
Dioscorea seperti pada ubi gembili, gadung dan ubi kelapa [4].

1. Hipertensi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan kondisi medis dimana terjadi
peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Pada pemeriksaan
tekanan darah akan didapat dua angka, yaitu angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat
jantung berkontraksi (sistolik) dan angka yang lebih rendah diperoleh saat jantung
berelaksasi (diastolik). Tekanan darah tinggi biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan
diastolik [1].Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik,
misalnya 120/80 mmHg. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan
sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau
lebih, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka waktu beberapa minggu [3].
Penyakit hipertensi sebagian besar tidak menimbulkan gejala. Gejala umum yang
sering dirasakan penderita hanya meliputi sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak
napas, gelisah dan pandangan mata yang kabur. Berdasarkan penyebabnya, hipertensi
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer atau juga sering disebut hipertensi
idiopatik merupakan jenis hipertensi tidak atau belum diketahui penyebabnya. Jenis
hipertensi ini kemungkinan memiliki banyak penyebab, seperti perubahan jantung dan
pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah [5]. Jenis
hipertensi lainnya yaitu hipertensi sekunder yang merupakan jenis hipertensi yang telah
diketahui penyebab yang mendasari. Pada umumnya hipertensi sekunder merupakan
komplikasi dari suatu penyakit lain seperti penyakit ginjal [6].

2. Mekanisme Hipertensi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh ACE (Angiotensin Converting Enzyme). Proses perubahan angiotensin I
menjadi angiotensin II tidak saja terjadi di paru-paru, namun ACE ditemukan pula di
sepanjang jaringan epitel pembuluh darah. Semua tahapan dari seluruh sistem renin sampai
menjadi angiotensin II dikenal dengan sebutan RAAS (Renin Angiotensin Aldosteron
System). RAAS merupakan sistem hormonal yang memiliki peran dalam mengontrol sistem
kardiovaskular, ginjal, kelenjar adrenal, dan regulasi tekanan darah [7]. Renin merupakan
suatu enzim protein yang dilepaskan oleh ginjal jika tekanan arteri mengalami penurunan
sangat rendah. Selanjutnya, enzim ini meningkatkan tekanan arteri melalui beberapa cara,
sehingga membantu mengoreksi penurunan awal tekanan. Renin di sintesis dan disimpan
dalam bentuk inaktif yang disebut protein di dalam sel-sel jukstoglomerular (sel JG). Sel JG
merupakan modifikasi dari sel otot polos yang terletak di dinding arteriol aferen, tepat di
proksimal glomeruli. Bila tekanan arteri turun, reaksi intrinsik di dalam ginjal itu sendiri
mengakibatkan banyak molekul protein di dalam sel JG menjadi terurai dan melepaskan
renin. Sebagian besar renin akan memasuki darah dan meninggalkan ginjal menuju sirkulasi
di seluruh tubuh. Renin akan menetap dalam darah selama 30 menit hingga 1 jam, dan
menyebabkan terbentuknya angiotensin I [8].
Dalam beberapa detik setelah pembentukan angiotensin I, terdapat dua asam amino
tambahan yang memecah dari angiotensin untuk membentuk angiotensin II peptida asam
Efek Antihipertensi Senyawa Bioaktif Dioscorin pada Umi Dioscorea Kurniawati, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 2 p.402-406, April 2015

404

amino-8. Perubahan ini hampir seluruhnya terjadi selama beberapa detik sementara darah
mengalir melalui pembuluh kecil pada paru-paru, yang dikatalisis oleh suatu enzim, yakni
enzim pengubah, yang terdapat pada endotelium pembuluh paru yang disebut ACE.
Angiotensin II adalah vasokonstriktor yang sangat kuat, dan akan menetap dalam darah
hanya selama 1 atau 2 menit karena angiotensin II secara cepat akan diinaktivasi oleh
berbagai enzim darah dan jaringan yang secara bersama-sama disebut angiotensinase.Saat
angiotensin II berada dalam darah, maka angiotensin II memiliki dua pengaruh utama yang
dapat meningkatkan tekanan arteri. Pengaruh pertama, yaitu vasokontriksi (penyempitan
pembuluh darah) yang timbul dengan cepat. Vasokontriksi terjadi pada arteriol dan sedikit
lebih lemah pada vena. Konstriksi pada arteriol dapat meningkatkan tahanan perifer,
sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Konstriksi ringan pada vena juga
akan meningkatkan aliran balik darah vena ke jantung, sehingga membantu pompa jantung
untuk melawan kenaikan tekanan darah. Cara utama kedua dimana angiotensin
meningkatkan tekanan darah adalah dengan bekerja pada ginjal untuk menurunkan ekskresi
garam dan air. Pengaruh lainnya adalah perangsangan kelenjar adrenal, yakni organ yang
terletak di atas ginjal, yang membebaskan hormon aldosteron. Hormon aldosteron bekerja
pada tubula distal nefron, yang membuat tubula tersebut menyerap kembali lebih banyak ion
natrium (Na
+
) dan air, serta meningkatkan volume dan tekanan darah [8].

3. Penghambat ACE
Enzim yang mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II disebut dengan
Angiotensin Converting Enzyme (ACE) [9]. ACE adalah enzim non spesifik yang terlibat
dalam metabolisme banyak peptida kecil, termasuk konversi Angiotensin I, sebuah
oktapeptida aktif untuk Angiotensin II. ACE memegang peranan fisiologis penting dalam
mengatur tekanan darah dan dapat ditemui di pembuluh paru. Darah mengandung
angiotensinogen yang diproduksi di hati, oleh hormon renin (diproduksi di ginjal) akan
diubah menjadi angiotensin I (dekapeptida yang tidak aktif). ACE yang terdapat pada paru-
paru akan mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II (oktapeptida yang sangat aktif).
Angiotensin II memiliki potensi besar meningkatkan tekanan darah karena memiliki sifat
vasoconstrictor(senyawa yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah) [10].
Penghambat ACE merupakan senyawa yang membantu mengontrol tekanan darah
dan resiko gagal jantung. Penghambat ACE mencegah enzim untuk memproduksi
angiotensin II yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga
meningkatkan tekanan darah. Hal ini dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan
membuat jantung bekerja lebih keras. Penghambat ACE sendiri dapat membantu
merelaksasikan pembuluh darah. Oleh karena itu penghambatan ACE menjadi target utama
dalam antihipertensi [3].
ACE juga memiliki peranan dalam mengatur tekanan darah serta aliran dan
keseimbangan garam pada mamalia. ACE akan mengubah dekapeptida pada angiotensin I
yang tidak aktif, menjadi vasokonstriktor (senyawa yang menyebabkan penyempitan
pembuluh darah) yang kuat, yaitu oktapeptida pada angiotensin II. ACE nantinya akan
menginaktivasi bradikinin, suatu peptida vasodilatory (senyawa yang memperlambat aliran
darah sehingga mengakibatkan tekanan darah menjadi turun) [11]. Penghambat ACE harus
tetap digunakan walaupun tekanan darah sudah mencapai normal karena hipertensi tidak
memiliki gejala yang spesifik. Penghambat ACE tidak dapat menyembuhkan hipertensi,
akan tetapi hanya dapat mengontrol hipertensi dengan terapi jangka panjang [12].

4. Umbi-umbian
Sejak zaman dahulu, manusia telah mengenal bahwa berbagai jenis akar dan umbi
tanaman dapat digunakan sebagai makanan maupun obat-obatan. Secara umum yang
dimaksud dengan umbi-umbian adalah bahan nabati yang diperoleh dari dalam tanah, dapat
berupa akar sejati dan batang yang biasanya merupakan tempat penimbunan cadangan
bahan makanan tanaman.Akar-akaran dan umbi-umbian memiliki kandungan pati yang
tinggi, dan merupakan salah satu pangan pokok atau utama yang dimakan di berbagai
bagian Asia Tenggara. Pangan tersebut merupakan sumber energi yang baik, beberapa
Efek Antihipertensi Senyawa Bioaktif Dioscorin pada Umi Dioscorea Kurniawati, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 2 p.402-406, April 2015

405

diantaranya juga merupakan sumber kalsium. Di Indonesia, umbi-umbian adalah jenis
tumbuhan yang yang cukup banyak ditemui. Umbi-umbian yang terdapat di Indonesia
seperti ubi kayu, ubi jalar, kentang, garut, gadung, kimpul,uwi, talas, gembili dan ganyong
[13].

5. Dioscorin
Dioscorin merupakan protein yang terdapat dalam umbi tanaman tropis. Dioscorin
dapat ditemui pada umbi-umbian keluarga Dioscorea atau yam. Menurut [14], keluarga yam
memiliki protein cadangan yang disebut dioscorin (C
13
H
19
O
2
N) yang merupakan cadangan
protein dalam umbi dan digunakan untuk pertumbuhan. Dioscorin memilki ciri berupa
padatan berwarna kuning kehijauan dengan titik leleh 54-55
o
C. Pada lendir Chinese yam,
dioscorin merupakan protein yang paling dominan. Kadar dioscorin mampu mencapai 90%
dari total protein larut air terekstrak pada spesies Dioscerea batatas, Dioscorea alata, dan
Dioscorea pseuojaponica [15]. Pada umbi-umbian yang termasuk ke dalam keluarga
Dioscorea, kandungan dioscorin pada umbi segar belum dapat terdeteksi. Dioscorin sebagai
protein masih berikatan dengan polisakarida. Polisakarida Larut Air (PLA) yang terdapat
pada umbi-umbian keluarga Dioscorea merupakan glikoprotein yang sangat kental [16].

6. Efek Antihipertensi Senyawa Bioaktif Dioscorin
Umbi-umbian keluarga Dioscorea selain berpotensi besar sebagai pangan alternatif
sumber karbohidrat, tanaman ini juga memiliki keunggulan yaitu memiliki kandungan
antioksidan [17] dan berkhasiat obat [18]. Dioscorin memiliki sifat fungsional seperti aktivitas
antioksidatif , oxygen scavenger (mengikat oksigen sehingga tidak mendukung reaksi
oksidasi), dan sebagai penghambat enzim [19]. Beberapa penelitian telah menunjukkan
bahwa dioscorin mampu menghambat angiotensin converting enzyme (ACE) yang memicu
terjadinya peningkatan tekanan darah. Dioscorin memiliki aktivitas dehydroascorbate
reductase dan monodehydroascorbate reductase yang merupakan respon terhadap tekanan
lingkungan. Penelitian telah menunjukkan bahwa dioscorin memiliki aktivitas antihipertensi
secara in vivo [20]. Penelitian secara in vitro juga memperlihatkan bahwa dioscorin mampu
menghambat aktivitas ACE [21]. Pada penelitian sebelumnya, dioscorin 32 kDa dari
Dioscorea alata memiliki aktivitas antioksidan melawan radikal bebas. Dioscorin mampu
menghambat ACE hingga mencapai 50% pada dosis tertentu, jika dibandingkan dengan
obat standar untuk hipertensi seperti kaptropil. Dioscorin akan mengalami peningkatan
aktivitas penghambatan ACE hingga 75% setelah mengalami hidrolisis oleh pepsin.
Sehingga dioscorin dan hidrolisatnya diduga memiliki potensi untuk mengontrol hipertensi.
Pada lendir Chinese Yam (Dioscorea opposita Thunb.) mengandung kurang lebih sembilan
jenis protein larut utama, diantaranya dioscorin, lektin yang terikat mannosa, dan protein
fungsional lain yang terdapat pada sekuen asam amino terminal-N [22].

DAFTAR PUSTAKA

1) Guyton, A.C., dan Hall, J.E., 2001.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Alih bahasa:
Setiawan, I. Dan Santoso, A., Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta
2) Widiyani, Roshma. 2013. Penderita hipertensi terus meningkat.
http://health.kompas.com/read/2013/04/05/1404008/Penderita.Hipertensi.Terus.Meningk
at. Tanggal akses 26 September 2013.
3) Padmawinata, K. 1996. Pengendalian Hipertensi : Laporan Komisi Pakar WHO. ITB,
Bandung.
4) Liu Y. M. and K. W. Lin. 2009. Antioxidative Ability, Dioscorin Stability, and The Quality
of Yam Chips from Various Yam Species as Affected by Processing Method. Journal of
Food Science 74(2):C118-C125.
5) Ganong, W. F., 2000. Fisiologi Kedokteran, terjemahan Adrianto, P., Buku Kedokteran
EGC, Jakarta
6) Kumar, V., Abbas, A. K. and Fausto, F. 2004. Robbins and Cotran Pathologic Basis of
Disease. 7th ed. Elsevier Inc. Pennsylvania. Pp : 525-529
Efek Antihipertensi Senyawa Bioaktif Dioscorin pada Umi Dioscorea Kurniawati, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 2 p.402-406, April 2015

406

7) Oates JA, and Brown NJ. 2001. Antyhipertensive agents and drugs therapy of
hypertension In: Hardman JG, Gilman AG (editors). The Pharmalogical basis of
Theurapeutics. 10th ed. New York: McGraw-Hill
8) Guyton, A.C. and J.E. Hall. 1996. Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. EGC : 285-286. Jakarta
9) Sargowo D. 1999. Peran endotel pada patogenesis penyakit kardiovaskular dan program
pencegahannya. Medika, 10: 643-655
10) Sridevi P., Prashanth K.S., and Bhagavan Raju M., 2011. Angiotensin Converting
Enzyme: A Target for Anti-Hypertensive Drugs. Department of Pharmaceutical
Chemistry, CM College of Pharmacy, Dhulapally, Maisammaguda, Secunderabad, A. P.,
India
11) Vercruysse, L., J. Van Camp, and G. Smagghe. 2005. ACE Inhibitory peptides derived
from enzymatic hydrolysates of animal muscle protein : a review. J. Agric. Food Chem.
53 : 8106-811
12) Warfield, C., 1996, Everything You Need to Know about Medical Treatments, 3-5,
Springhouse, Corp., USA
13) Zulaikah, Siti. 2002. Ilmu Bahan Makanan I. Surakarta. Universitas Muhammadiyah
Surakarta
14) Shewry, P. R. 2003. Tuber storage protein. Annals of Botany 91(7): 755-769
15) Hou, W.C.Chen, H.J. and Lin Y.H. 2000. Dioscorin from different dioscorea species all
exhibit both carbonic anhydrase and trypsin inhibitor activities. Bot. Bull. Acad. Sinica
(Taiwan). Vol 41:191-196
16) Fu, Y-C. A, L-H. A. Ferng, and P-Y. Huang. 2006. Quantitative analysis of allantoin and
allantoic acid in yam tuber, mucilage, skin and bulbil of the dioscorea species. Food
Chemistry 94:541-549
17) French, B.R. 2006. Food Plants of Papua New Guinea. A compendium. Revised edition
Privately published as an electronic book in pdf format. 38 West St., Burnie. Tasmania
7320, Australia.
18) Fahmi, A. Dan S.S. Antarlina. 2007. Ubi Alabio Sumber Pangan Baru dari Lahan Rawa.
Sinar Tani.
19) Nagai T., and Nagashima T. 2006. Functional properties of dioscorin, a soluble viscous
protein from japanese yam (Dioscorea opposita Thunb.) tuber mucilage tororo. Food
Science and Technology 61c : 792-798
20) Liu Y. M. and K. W. Lin. 2009. Antioxidative ability, dioscorin stability, and the quality of
yam chips from various yam species as affected by processing method. Journal of Food
Science 74(2):C118-C125.
21) Hsu, F. H., Y. H. Lin, M. H. Lee, C. L. Lin, and W. C. Hou. 2002. Both dioscorin, the tuber
storage protein of yam (dioscorea alata cv. Tainong no. 1), and its peptic hydrolysates
exhibited angiotensin converting enzyme inhibitory activities. J. Agric. Food Chem.
50:6109-6113
22) Myoda, T., Y. Matsuda, T. Suzuki, T. Nakagawa, T. Nagai, and T. Nagashima. 2006.
Identification of soluble proteins and interaction with mannan in mucilage of dioscorea
opposita thunb. (chinese yam tuber). Food Sci. Technol. Res. 12(4): 299-302