Anda di halaman 1dari 19

[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Besi merupakan logam yang paling banyak terdapat dialam. Besi juga diketahui sebagai
unsur yang paling banyak membentuk bumi, yaitu kira-kira 4,7 - 5 % pada kerak bumi. Besi
adalah logam yang dihasilkan dari bijih besi dan jarang dijumpai dalam keadaan bebas,
kebanyakan besi terdapat dalam batuan dan tanah sebagai oksida besi, seperti oksida besi
magnetit ( Fe3O4) mengandung besi 65 %, hematite ( Fe2O3 ) mengandung 60 75 % besi,
limonet ( Fe2O3 . H2O ) mengandung besi 20 % dan siderit (Fe2CO3). Bijih besi adalah suatu
zat mineral yang mengandung cukup kadar besi untuk dileburkan kira-kira 20 %. Komposisi dan
bentuk bijih besi berbeda-beda, jika besi dipanaskan bersama-sama karbon pada suhu 1420K
1470K maka akanterbentuk suatu alloy.
Seiring dengan perkembangan zaman banyak teknologi baru yang bermunculan untuk
menghasilkan besi . Salah satu sebabnya adalah karena besi memiliki kegunaan yang sangat
banyak dan terlebih lagi karena bijih besi yang relatif melimpah dipenjuru dunia. Oleh karena itu
penting untuk kita mempelajari lebih lanjut mengenai besi tersebut.
1.2. Perumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas antara lain :
1. pengertian besi dan keberadaannya di alam
4. Sifat fisik dan kimia dari unsur besi
5. pengolahan besi dan kegunaan besi
6. Reaksi-reaksi penting dari unsur besi

1.3. Tujuan Masalah
Makalah ini bertujuan menjelaskan sifat-sifat dari besi, reaksi-reaksi yang penting, pembuatan
besi, pemurnian besi serta aplikasi besi dalam kehidupan sehari-hari.
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian bijih besi
Besi adalah logam transisi yang paling banyak dipakai karena relatif melimpah di alam
dan mudah diolah. Besi murni tidak begitu kuat, tetapi bila dicampur dengan logam lain dan
karbon didapat baja yang sangat keras. Biji besi biasanya mengandung hematite (Fe
2
O
3
) yang
dikotori oleh pasir (SiO
2
) sekitar 10 %, serta sedikit senyawa sulfur, posfor, aluminium dan
mangan.

2.1.1. Sifat bijih besi
Ciri-ciri fisik

Fase padat
Massa jenis (sekitar suhu kamar) 7,86 g/cm
Massa jenis cair pada titik lebur 6,98 g/cm
Titik lebur 1811 K(1538 C, 2800 F)
Titik didih 3134 K(2861 C, 5182 F)
Kalor peleburan 13,81 kJ/mol
Kalor penguapan 340 kJ/mol

Sifat lain:
1. Mempunyai daya hantar listrik dan panas yang baik. Karena memiliki ikatan ganda dan
ikatan kovalen logam.
2. Besi murni cukup reaktif. Dalam udara lembab cepat teroksidasi membentuk besi (III)
oksida hidrat.

2.2. Klasifikasi bijih besi (iron ores).
Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari endapan besi
ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali ditemukan berasosiasi
dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai kandungan logam tanah (residual),
namun jarang yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Endapan besi yang ekonomis umumnya
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

3

berupa Magnetite, Hematite, Limonite dan Siderite. Kadang kala dapat berupa mineral: Pyrite,
Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite.
Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan endapan besi bernilai ekonomis antara
lain :
1. Magmatik: Magnetite dan Titaniferous Magnetite
2. Metasomatik kontak: Magnetite dan Specularite
3. Pergantian/replacement: Magnetite dan Hematite
4. Sedimentasi/placer: Hematite, Limonite, dan Siderite
5. Konsentrasi mekanik dan residual: Hematite, Magnetite dan Limonite
6. Oksidasi: Limonite dan Hematite
7. Letusan Gunung Api
Dari mineral-mineral bijih besi, magnetit adalah mineral dengan kandungan Fe paling
tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil. Sementara hematit merupakan mineral bijih utama
yang dibutuhkan dalam industri besi. Mineral-mineral pembawa besi dengan nilai ekonomis
dengan susunan kimia, kandungan Fe dan klasifikasi komersil dapat dilihat pada Tabel dibawah
ini:

Tabel mineral-mineral bijih besi bernilai ekonomis
Mineral Susunan kimia Kandungan Fe (%) Klasifikasi komersil
Magnetit FeO, Fe
2
O
3
72,4 Magnetik atau bijih hitam
Hematit Fe
2
O
3
70,0 Bijih merah
Limonit Fe
2
O
3
.nH
2
O 59-63 Bijih coklat
Siderit FeCO
3
48,2 Spathic, black band, clay
ironstone
Sumber : Iron & Ferroalloy Metals in (ed) M. L. Jensen & A. M. Bafeman, 1981; Economic
Mineral Deposits, P. 392.
2.2.1. Besi primer ( ore deposits )
Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat dengan adanya
peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa tektonik, terbentuklah struktur sesar,
struktur sesar ini merupakan zona lemah yang memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu
intrusi magma menerobos batuan tua. Akibat adanya kontak magmatik ini, terjadilah proses
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

4

rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan penggantian (replacement) pada bagian kontak magma
dengan batuan yang diterobosnya.
Perubahan ini disebabkan karena adanya panas dan bahan cair (fluida) yang berasal dari
aktivitas magma tersebut. Proses penerobosan magma pada zona lemah ini hingga membeku
umumnya disertai dengan kontak metamorfosa. Kontak metamorfosa juga melibatkan batuan
samping sehingga menimbulkan bahan cair (fluida) seperti cairan magmatik dan metamorfik
yang banyak mengandung bijih.

2.2.2. Besi sekunder ( endapan placer )
Cebakan mineral alochton dibentuk oleh kumpulan mineral berat melalui proses
sedimentasi, secara alamiah terpisah karena gravitasi dan dibantu pergerakan media cair, padat
dan gas/udara. Kerapatan konsentrasi mineral-mineral berat tersebut tergantung kepada tingkat
kebebasannya dari sumber, berat jenis, ketahanan kimiawi hingga lamanya pelapukan dan
mekanisma. Dengan nilai ekonomi yang dimilikinya para ahli geologi menyebut endapan
alochton tersebut sebagai cebakan placer.
Jenis cebakan ini telah terbentuk dalam semua waktu geologi, tetapi kebanyakan pada
umur Tersier dan masa kini, sebagian besar merupakan cadangan berukuran kecil dan sering
terkumpul dalam waktu singkat karena tererosi. Kebanyakan cebakan berkadar rendah tetapi
dapat ditambang karena berupa partikel bebas, mudah dikerjakan dengan tanpa penghancuran;
dimana pemisahannya dapat menggunakan alat semi-mobile dan relatif murah. Penambangannya
biasanya dengan cara pengerukan, yang merupakan metoda penambangan termurah.
Cebakan-cebakan placer berdasarkan genesanya:
G e n e s a J e n i s
Terakumulasi in situ selama pelapukan Placer residual
Terkonsentrasi dalam media padat yang bergerak Placer eluvial
Terkonsentrasi dalam media cair yang bergerak (air) Placer aluvial atau sungai
Placer pantai
Terkonsentrasi dalam media gas/udara yang bergerak Placer Aeolian (jarang)

[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

5

2.2.2.1. Placer residual
Partikel mineral/bijih pembentuk cebakan terakumulasi langsung di atas batuan
sumbernya (contoh : urat mengandung emas atau kasiterit) yang telah mengalami
pengrusakan/peng-hancuran kimiawi dan terpisah dari bahan-bahan batuan yang lebih ringan.
Jenis cebakan ini hanya terbentuk pada permukaan tanah yang hampir rata, dimana didalamnya
dapat juga ditemukan mineral-mineral ringan yang tahan reaksi kimia (misal : beryl).

2.2.2.2 Placer eluvial
Partikel mineral/bijih pembentuk jenis cebakan ini diendapkan di atas lereng bukit suatu
batuan sumber. Di beberapa daerah ditemukan placer eluvial dengan bahan-bahan pembentuknya
yang bernilai ekonomis terakumulasi pada kantong-kantong (pockets) permukaan batuan dasar
.
2.2.2.3 Placer sungai atau alluvial
Jenis ini paling penting terutama yang berkaitan dengan bijih emas yang umumnya
berasosiasi dengan bijih besi, dimana konfigurasi lapisan dan berat jenis partikel mineral/bijih
menjadi faktor-faktor penting dalam pembentukannya. Telah dikenal bahwa fraksi mineral berat
dalam cebakan ini berukuran lebih kecil daripada fraksi mineral ringan, sehubungan : Pertama,
mineral berat pada batuan sumber (beku dan malihan) terbentuk dalam ukuran lebih kecil
daripada mineral utama pembentuk batuan. Kedua, pemilahan dan susunan endapan sedimen
dikendalikan oleh berat jenis dan ukuran partikel (rasio hidraulik).

2.2.2.4. Placer pantai
Cebakan ini terbentuk sepanjang garis pantai oleh pemusatan gelombang dan arus air laut
di sepanjang pantai. Gelombang melemparkan partikel-partikel pembentuk cebakan ke pantai
dimana air yang kembali membawa bahan-bahan ringan untuk dipisahkan dari mineral berat.
Bertambah besar dan berat partikel akan diendapkan/terkonsentrasi di pantai, kemudian
terakumulasi sebagai batas yang jelas dan membentuk lapisan. Perlapisan menunjukkan urutan
terbalik dari ukuran dan berat partikel, dimana lapisan dasar berukuran halus dan/ atau kaya akan
mineral berat dan ke bagian atas berangsur menjadi lebih kasar dan/atau sedikit mengandung
mineral berat.
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

6

Placer pantai (beach placer) terjadi pada kondisi topografi berbeda yang disebabkan oleh
perubahan muka air laut, dimana zona optimum pemisahan mineral berat berada pada zona
pasang-surut dari suatu pantai terbuka. Konsentrasi partikel mineral/bijih juga dimungkinkan
pada terrace hasil bentukan gelombang laut. Mineral-mineral terpenting yang dikandung jenis
cebakan ini adalah : magnetit, ilmenit, emas, kasiterit, intan, monazit, rutil, xenotim dan zirkon.
Mineral ikutan dalam endapan placer, Suatu cebakan pasir besi selain mengandung
mineral-mineral bijih besi utama tersebut dimungkinkan berasosiasi dengan mineral-mineral
mengandung Fe lainnya diantaranya : pirit (FeS
2
), markasit (FeS), pirhotit (Fe
1-x
S), chamosit
[Fe
2
Al
2
SiO
5
(OH)
4
], ilmenit (FeTiO
3
), wolframit [(Fe,Mn)WO
4
], kromit (FeCr
2
O
4
); atau juga
mineral-mineral non-Fe yang dapat memberikan nilai tambah seperti : rutil (TiO
2
), kasiterit
(SnO
2
), monasit [Ce,La,Nd, Th(PO
4
, SiO
4
)], intan, emas (Au), platinum (Pt), xenotim (YPO
4
),
zirkon (ZrSiO
4
) dan lain-lain.

2.3. Eksplorasi bijih besi
Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi di Indonesia sudah banyak dilakukan oleh
berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan pedoman teknis eksplorasi bijih besi. Pedoman
dimaksudkan sebagai bahan acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan penyelidikan
umum dan eksplorasi bijih besi primer, agar ada kesamaan dalam melakukan kegiatan tersebut
diatas sampai pelaporan.
Tata cara eksplorasi bijih besi primer meliputi urutan kegiatan eksplorasi sebelum
pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan lapangan. Kegiatan sebelum
pekerjaan lapangan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai prospek cebakan bijih
besi primer, meliputi studi literatur dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan peralatan antara
lain peta topografi, peta geologi, alat pemboran inti, alat ukur topografi, palu dan kompas
geologi, loupe, magnetic pen, GPS, pita ukur, alat gali, magnetometer, kappameter dan peralatan
geofisika.
Kegiatan pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah penyelidikan geologi meliputi
pemetaan; pembuatan paritan dan sumur uji, pengukuran topografi, survei geofisika dan
pemboran inti.
Kegiatan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan antara lain adalah analisis
laboratorium dan pengolahan data. Analisis laboratorium meliputi analisis kimia dan fisika.
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

7

Unsur yang dianalisis kimia antara lain : Fe
total
, Fe
2
O
3
, Fe
3
O
4
, TiO
2
, S, P, SiO
2
, MgO, CaO, K
2
O,
Al
2
O
3
, LOI. Analisis fisika yang dilakukan antara lain : mineragrafi, petrografi, berat jenis (BD).
Sedangkan pengolahan data adalah interpretasi hasil dari penyelidikan lapangan dan analisis
laboratorium.
Tahapan eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang umumnya dilakukan melalui
empat tahap sbb : Survei tinjau, prospeksi, eksplorasi umum, eksplorasi rinci. Survei tinjau,
tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi bagi keterdapatan
mineral pada skala regional. Prospeksi, tahap eksplorasi dengan jalan mempersempit daerah yg
mengandung endapan mineral yg potensial. Eksplorasi umum, tahap eksplorasi yang rnerupakan
deliniasi awal dari suatu endapan yang teridentifikasi .
Penyelidikan geologi adalah penyelidikan yang berkaitan dengan aspek-aspek geologi di
antaranya : pemetaan geologi, parit uji, sumur uji. Pemetaan adalah pengamatan dan
pengambilan contoh yang berkaitan dengan aspek geologi dilapangan. Pengamatan yang
dilakukan meliputi : jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan, sedangkan
pengambilan conto berupa batuan terpilih.
Penyelidikan Geofisika adalah penyelidikan yang berdasarkan sifat fisik batuan, untuk
dapat mengetahui struktur bawah permukaan, geometri cebakan mineral, serta sebarannya secara
horizontal maupun secara vertical yang mendukung penafsiran geologi dan geokimia secara
langsung maupun tidak langsung.
Pemboran inti dilakukan setelah penyelidikan geologi dan penyelidikan geofisika.
Penentuan jumlah cadangan (sumberdaya) mineral yang mempunyai nilai ekonomis adalah suatu
hal pertama kali yang perlu dikaji, dihitung sesuai standar perhitungan cadangan yang berlaku,
karena akan berpengaruh terhadap optimasi rencana usaha tambang, umur tambang dan hasil
yang akan diperoleh.
Dalam hal penentuan cadangan, langkah yang perlu diperhatikan antara lain :
o Memadai atau tidaknya kegiatan dan hasil eksplorasi.
o Kebenaran penyebaran dan kualitas cadangan berdasarkan korelasi seluruh data eksplorasi
seperti pemboran, analisis contoh, dll.
o Kelayakan penentuan batasan cadangan, seperti Cut of Grade, Stripping Ratio, kedalaman
maksimum penambangan, ketebalan minimum dan sebagainya bertujuan untuk mengetahui
kondisi geologi dan sebaran bijih besi bawah permukaan.
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

8

BAB III
PROSES PEMBUATAN

3.1. Tahapan proses pembuatan bijih besi

Bahan baku yang digunakan pada pembuatan besi yaitu nikel, kapur,broken ord,sinter ord
dan air.
3.1.1. Proses Penghancuran (Crushing)
Bahan baku dalam bentuk batuan atau pasir dihancurkan sampai ukuran menjadi 10
mesh. Dimaksudkan untuk memperbesar luas permukaan dari material sehingga memudahkan
untuk proses selanjutnya.
3.1.2. Proses Penghalusan (Grinding)
Dimaksudkan agar butiran halus bijihbesi lebih banyak lagi terpisah dengan kotoran atau mineral
mineral ikutan yang tidak di inginkan, proses ini sampai menhasilkan ukuran 120 mesh.
3.1.3. Proses penyaringan
Material material tersebut setelah dihancurkan dan dihaluskan kemudian dicampur pada alat
proposoning,kemudian disaring pada alat penyaringan atau hoper dan masuk kemudian masuk ke
proses mixing,setelah selesai di saring kemudian di kirim ke valetezing menggunakan alt
trasportasi bale conveyor prosesnya membutuhkan waktu 3-5 menit
3.1.4 Proses Pemisahan (Magnetic Separator)
Untuk memisahkan material logam dan non logam dengan pencucian dengan
menggunakan air dalam mesin silender yang dilapisi magnet apabila bijih besi tersebut banyak
mengandung hematit Fe2O3 atau magnetit (Fe3O4) akan terpisah sempurna sehingga kemurnian
dari oksida besi meningkat.

[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

9

3.1.5 Proses Pembakaran (Roasting)
Proses ini dilakukan material bijih besi banyak mengandung bijih hematit (Fe2O3)diubah
menjadi magnetit (Fe3O4) yang mempunyai daya magnit lebih kuat sehingga terpisah antara
material yang non magnet dan dihasilkan kadar Fe sampai 65%. Proses pembakaran pada alat
sintering dan bahan bakar yang digunakan berupa LPG dan CO pada suhu 1480 C.
Bahan bakar yang digunakan pada proses pembakaran menggukan bahan bakar
CO,LPG,N2,O2.Proses pembakaran dilakukan di tanur,
spesifikasi tanur ialah sebagai berikut:
Bagian puncak yang disebut dengan Hopper, dirancang sedemikian rupa sehingga bahan
bahan yang akan diolah dapat dimasukkan dan ditambahkan setiap saat.
Bagian bawah puncak, mempunyai lubang untuk mengeluarkan hasil hasil yang berupa
gas.
Bagian atas dari dasar (kurang lebih 3 meter dari dasar), terdapat pipa pipa yang
dihubungkan dengan empat buah tungku dimana udara dipanaskan (sampai suhunya
kurang lebih 1.100o C). udara panas ini disemburkan ke dalam tanur melalui pipa pipa
tersebut.
Bagian dasar tanur, mempunyai dua lubang yang masing masing digunakan untuk
mengeluarkan besi cair sebagai hasil utama dan terak (slag) sebagai hasil samping.
Secara umum proses pengolahan besi dari bijihnya dapat berlangsung dengan urutan
sebagai berikut:
A. Bahan bahan dimasukkan ke dalam tanur melalui bagian puncak tanur.Bahan bahan ini
berupa:
1. Bahan bahan dimasukkan ke dalam tanur melalui bagian puncak tanur. Bahan utama
yaitu bijih besi yang berupa hematit (Fe2O3 ) yang bercampur dengan pasir (SiO2) dan
oksida oksida asam yang lain (P2O5 dan Al2O3). Batuan batuan ini yang akan
direduksi.
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

10

2. Bahan bahan pereduksi yang berupa kokas (karbon)
3. Bahan tambahan yang berupa batu kapur (CaCO3) yang berfungsi untuk mengikat zat zat
pengotor.
B. Udara panas dimasukkan di bagian bawah tanur sehingga menyebabkan kokas terbakar.
C(s) + O2(g) CO2(g)H = - 394 kJ
Reaksi ini sangat eksoterm (menghasilkan panas), akibatnya panas yang dibebaskan akan
menaikkan suhu bagian bawah tanur sampai mencapai 1.900C
C. Gas CO2 yang terbentu kekmudian naik melalui lapisan kokas yang panas dan bereaksi
dengannya lagi membentuk gas CO.
CO2(g) + C(s) 2 CO(g)H = +173 kJ
Reaksi kali ini berjalan endoterm (memerlukan panas) sehingga suhu tanur pada bagian itu
menjadi sekitar 1.300 C
D. Gas CO yang terbentuk dan kokas yang ada siap mereduksi bijih besi (Fe2O3). Reduksi ini
dapat berlangsung dalam beberapa tahap, yaitu:
Pada bagian atas tanur, Fe2O3 direduksi menjadi Fe3O4 pada suhu 500o C.
3 Fe2O3(s) + CO(g) 2 Fe3O4(s) + CO2(g)
Pada bagian yang lebih rendah, Fe3O4 yang terbentuk akan direduksi menjadi FeO pada
suhu 850o C.
Fe3O4(s) + CO(g) 3 FeO(s) + CO2(g)
Pada bagian yang lebih bawah lagi, FeO yang terbentuk akan direduksi menjadi logam besi
pada suhu 1.000o C.
FeO(s) + CO(g) Fe(l) + CO2(g)
E. Besi cair yang terbentuk akan mengalir ke bawah dan mengalir di dasar tanur.
F. Sementara itu, di bagian tengah tanur yang bersuhu tinggi menyebabkan batu kapur
bereaksi:
CaCO3(s) CaO(s) + CO2(g)
G. Kemudian di dasar tanur CaO akan bereaksi dengan pengotor dan membentuk terak (slag)
yang berupa cairan kental. Reaksinya sebagai berikut:
CaO(s) + SiO2(s) CaSiO3(l)
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

11

3 CaO(s) + P2O5(g) Ca3(PO4)2(l)
CaO(s) + Al2O3(g) Ca(AlO2)2(l)
H. Selanjutnya, besi cair turun ke dasar tanur sedangkan terak (slag) yang memiliki massa jenis
lebih rendah daripaba besi cair akan mengapung di permukaan dan keluar pada saluran
tersendiri
Konstruksi mesin-mesin pengolah bijih besi (iron ores)





Proses produksi didalam dapur tinggi terdiri atas 4 tahap :
1. Proses pemasukan muatan
2. Proses reduksi
3. Proses pencairan
4. Hasil produksi dapur tinggi
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

12

Proses Pemasukan Muatan
Yang dimaksud dengan muatan dapur tinggi adalah isi dari dapur tinggi yang terdiri atas bahan
bakar kokas, biji besi dan bahan tambah yang berupa batu kapur.
Proses Reduksi
Reduksi yaitu Oksid arang C(O) dan kokas serta zat arang C. Proses ini terjadi sangat cepat.
Pada proses reduksi terbagi menjadi 3 daerah, yaitu:
1. Daerah pengeringan
Daerah paling atas, terdapat gas CO
2

2. Daerah reduksi
Muatan akan mulai melebur dan bergerak kebawah mendekati daerah pencairan
3. Daerah pencairan
Proses Pencairan
Muatan dapur tinggi yang berisi kokas, biji besi dan batu kapur setelah mengalami pemanasan
akan bergerak kebawah. Dalam perjalanan dari atas ke bawah mengalami proses reduksi.
3.1.6. Proses Kalsinasi (Rotary Dryer)
Proses ini bertujuan untuk mengurangi kandungan air dalam material, material diumpankan ke
silinder yang berputar dengan arah yang berlawanan (counter current) Dihembuskan gas panas
dari burner (temp. 200-300 oC).
3.1.7. Proses Pembuatan Pellet (Pan Palletizer)
Sebelum masuk ke alat ini material bijih besi dicampur dalam alat mixer agitator dengan
komposisi tertentu ditambahkan batubara dan binder bentonit dengan tujuan agar konsentrat besi
oksida halus dapat merekat membentuk gumpalan-gumpalan (aglomerisasi yang disebut pellet
basah (green pellet) yang mempunyai kekuatan yang cukup kuat untuk dapat dibawa ke proses
selanjutnya, sedang batubara fungsinya untuk meningkatkan kadar besi dengan cara proses
reduksi dari internal pada proses selanjutnya.
Prinsip kerja dari alat ini adalah proses aglomerisasi konsentrat bijih besi yang telah bercampur
batubara dan binder bentonit dimasukkan secara kontinyu kedalam mesin pelletizing yang
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

13

berbentuk setengah drum/bejana yang berputar dengan kecepatan dan sudut kemiringan tertentu
sambil disemprotkan air secara kontinyu.
Akibat perputaran ini terjadilah gaya centrifugal yang menyebabkan partikel-partikel halus saling
mendekat dan menekan satu sama lain sehingga terbentuklah gumpalan-gumpalan pellet basah
(green pellet) sampai ukuran diameter 12 mm dan mempunyai kuat tekan 5 kg/pellet dan kuat
jatuh 5 kali, hal ini diperlukan agar tidak pecah selama proses handling atau tranportasi ke proses
berikutnya.
3.1.8. Proses Reduksi (Rotary Kiln)
Proses ini bertujuan untuk memurnikan kandungan besi oksida menjadi besi murni dengan cara
proses reduksi external dengan gas alam (gas CO) dan reduksi Internal dari Batubara
Dengan temperatur 1700C akibat dari proses ini material oksida besi akan terpisah membentuk
besi murni (Fe 92%) dan oksidanya membentuk gas CO2.
Prinsip kerjanya material berbentuk pellet diumpankan ke silinder yang berputar dengan RPM
dan sudut kemiringan tertentu kemudian dihembuskan gas panas dari arah berlawanan (counter
current) kemudian dari titik titik tertentu di semprotkan gas CO dari gas alam sehingga akan
terjadi proses reduksi dari internal maupun external.
Kemudian material tersebut didinginkan di pendingin cooler sampai temperatur 60C dan siap
untuk dikemas atau curah.
Hasil yang keluar dari alat ini sudah merupakan produk sponge iron yang berupa pellet dengan
qualitas sesuai produk standart ASTM, JIS, DIN dan mempunyai kekuatan tekan 250mpa dengan
diameter 12-15 mm.
3.1.9. Produksi Pig Iron
Hasil pellet (green pellet) yang dihasilkan dari proses pelletizer dimasukkan dalam tungku (blast
furnace) dimasukkan larutan kapur, gas CO sebagai zat pereduksi dengan temperatur tertentu,
kemudian akan mengalami proses pelelehan (melting) sehingga terpisah antara kandungan yang
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

14

banyak mengandung logam besi (Fe) dan akan terpisah karena perbedaan berat jenis dari
kotorannya (slag), kemudian kandungan besinya akan masuk ke mesin casting (cetak) sesuai
kebutuhan dengan kandungan Fe total 95% dalam produk jadi Pig Iron
3.2 Proses dan hasil proses sintering
Sintering merupakan proses pemanasan dibawah titik leleh dalam rangka membentuk
fase kristal baru sesuai dengan yang diinginkan dan bertujuan membantu mereaksikan bahan-
bahan penyusun baik bahan keramik maupun bahan logam.
Proses sintering akan berpengaruh cukup besar pada pembentukan fase kristal bahan.
Fraksi fase yang terbentuk umumnya bergantung pada lama dan atau suhu sintering. Semakin
besar suhu sintering dimungkinkan semakin cepat proses pembentukan kristal tersebut. Besar
kecilnya suhu juga berpengaruh pada bentuk serta ukuran celah dan juga
berpengaruh pada struktur pertumbuhan kristal (setyowati, 2008).
Suhu sintering dapat ditentukan dari eksperimen termal seperti DTA, DTG, dan DSC.
Berdasarkan hasil eksperimen ini diperoleh suhu lelehan selain suhu dekomposisi. Setiap
komposisi senyawa tertentu memiliki titik leleh berbada. Sintering bahan keramik biasanya
ditentukan sekitar 75% dari titik leleh total .
Pada proses sintering, terjadi proses pembentukan fase baru melalui proses pemanasan
dimana pada saat terjadi reaksi komponen pembentuk masih dalam bentuk padat dari campuran
serbuk. Hal ini bertujuan agar butiran-butiran (grain) dalam partikel-partikel yang berdekatan
dapat bereaksi dan berikatan. Proses sintering fase padat terbagi menjadi tiga padatan, yaitu:
3.2.1. Tahap awal
Pada tahap awal ini terbentuk ikatan atomik. Kontak antar partikel membentuk leher yang
tumbuh menjadi batas butir antar partikel. Pertumbuhan akan menjdi semakin cepat dengan
adanya kenaikan suhu sintering. Pada tahap ini penyusutan juga terjadi akibat permukaan
porositas menjadi halus.
3.2.2. Tahap menengah
Pada tahap ini terjadi desifikasi dan pertumbuhan partikel yaitu butir kecil larut dan
bergabung dengan butir besar. Akomodasi bentuk butir ini menghasilkan pemadatan yang lebih
baik. Pada tahap ini juga berlangsung penghilangan porositas. Akibat pergeseran batas butir,
porositas mulai saling berhubungan dan membentuk silinder di sisi butir.
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

15

3.2.3. Tahap akhir
Fenomena desifikasi dan pertumbuhan butir terus barlangsung dengan laju yang lebih
rendah dari sebelumnya. Demikian juga dengan proses penghilangan porositas, pergeseran batas
butir terus berlanjut. Apabila pergeseran batas butir lebih lambat daripada porositas maka
porositas akan mucul dipermukaan dan saling berhubungan. Akan tetapi jika pergeseran batas
butir lebih cepat daripada porosositas maka porositas akan mengendap di dalam produk dan akan
sulit dihilangkan
Produk yang dihasilkan diharapkan memiliki densitas yang tinggi dan homogen,
maka pada proses sintering harus terjadi homogenisasi. Jika terdapat lapisan oksida pada serbuk
logam, proses sintering yang diharapkan bisa menjadi lebih lambat. Selain lapisan oksida ini
menyebabkan produk yang dihasikan menjadi lebih getas, lapisan oksida tersebut juga
menghambat proses difusi antar partikel serbuk saat sintering dan meningkatkan temperatur
sintering. Lapisan oksida yang menempel pada serbuk terbentuk akibat kontak antar permukaan
serbuk dengan udara dan akibat perlakuan yang diterima serbuk saat proses produksi metalurgi
serbuk berlangsung. Oksida pada serbuk dapat diminimalkan dengan mengalirkan gas reduksi
sebelum atau sewaktu sintering berlangsung.
3.3. Hasil Pengolahan Besi
3.3.1. Besi Kasar (pig iron) atau Besi Gubal
Besi cair yang keluar dari dasar tanur disebut dengan besi kasar (pig iron). Besi kasar
mengandung 95% besi, 34% karbon, sisanya berupa fosfor, silikon dan mangan.
3.3.2. Besi Tuang (cast iron) atau Besi Cor
Jika pig iron dibuat menjadi bentuk cetakan maka disebut besi tuang atau besi cor.
3.3.3. Besi Tempa/lempengan (wrought iron)
Besi tempam mengandung kadar karbon yang cukup rendah (0,05 0,2%). Besi
tempa ini cukup lunak untuk dijadikan berbagai perlatan seperti sepatu kuda, roda
besi, baut, mur, golok, cangkul dan lain sebagainya.
3.3.4 Produk sisa(sleak) digunakan untuk bahan baku pembuatan semen pada industry
semen

[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

16

BAB IV
FUNSGSI DAN KEGUNAAN
4.1. Besi mentah atau (Pig iron)
Besi mentah atau Pig iron yang mengandungi 4% 5% karbon dengan sejumlah
bendasing seperti belerang, silikon dan fosforus. Kepentingannya adalah ia merupakan
perantaraan daripada bijih besi kepada besi tuang dan besi baja.
4.2. Besi tuang (Cast iron)
Besi tuang (Cast iron) mengandungi 2% 3.5% karbon dan sejumlah kecil mangan.
Bendasing yang terdapat di dalam besi mentah yang dapat memberikan kesan buruk kepada sifat
bahan, seperti belerang dan fosforus, telah dikurangkan kepada tahap boleh diterima. Ia
mempunyai takat lebur pada julat 14201470 K, yang lebih rendah berbanding dua komponen
utamanya, dan menjadikannya hasil pertama yang melebur apabila karbon dan besi dipanaskan
serentak.
Sifat mekanikalnya berubah-ubah, bergantung kepada bentuk karbon yang diterap ke
dalam aloi. Besi tuang 'putih' mengandungi karbon dalam bentuk cementite, atau besi karbida.
Sebatian keras dan rapuh ini mendominasi sifat-sifat utama besi tuang 'putih', menyebabkannya
keras, tetapi tidak tahan kejutan.
Dalam besi tuang 'kelabu', karbon hadir dalam bentuk serpihan halus grafit, dan ini juga
menyebabkan bahan menjadi rapuh kerana ciri-ciri grafit yang mempunyai pinggir-pinggir tajam
yang merupakan kawasan tegasan tinggi. Jenis besi kelabu yang baru, yang dinamakan 'besi
mulur', adalah dicampur dengan kandungan surih magnesium untuk mengubah bentuk grafit
menjadi sferoid, atau nodul, lantas meningkatkan ketegaran dan kekuatan besi.
4.3. Besi karbon
Besi karbon mengandung antara 0.5% dan 1.5% karbon, dengan sejumlah kecil mangan,
belerang, fosforus, dan silikon.
4.4. Besi tempa (Wrought iron)
Besi tempa (Wrought iron)mengandungi kurang daripada 0.5% karbon. Ia keras, mudah
lentur, dan tidak mudah dilakurkan berbanding dengan besi mentah. Ia mempunyai sejumlah
kecil karbon, beberapa persepuluh peratus. Jika ditajamkan menjadi tirus, ia cepat kehilangan
ketajamannya.
[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

17

4.5 . Besi aloi (Alloy steel)
Besi aloi (Alloy steel) mengandungi kandungan karbon yang berubah-ubah dan juga
logam-logam lain, seperti kromium, vanadium, molibdenum, nikel, tungsten dsb.
4.6. Besi oksida (III)
Besi oksida (III) digunakan dalam penghasilan storan magnetik dalam komputer. Ia
sering dicampurkan dengan bahan lain, dan mengekalkan ciri-ciri mereka dalam larutan














[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

18

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Besi adalah logam transisi yang paling banyak dipakai karena relatif melimpah di alam
dan mudah diolah
Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari endapan besi
ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali ditemukan berasosiasi
dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai kandungan logam tanah (residual),
namun jarang yang memiliki nilai ekonomis tinggi
Tahapan proses pembuatan bijih besi yaitu proses penghancuran (Crushing),penghalusan
(Grinding), Besi Kasar (pig iron) atau Besi Gubal,Besi tuang (cast iron) atau Besi Cor,Jika pig
iron dibuat menjadi bentuk cetakan maka disebut besi tuang atau besi cor,besi
Tempa/lempengan (wrought iron) , Produk sisa(sleak) digunakan untuk bahan baku pembuatan
semen pada industry semen








[PROSES PEMBUATAN BIJIH BESI] TERMODINAMIKA

19

DAFTAR PUSTAKA
http://givuin.blogspot.com/2012/05/share-lagi-sob.html
http://blogibnuseru.blogspot.com/2011/12/besi-sejarah-ciri-dan-sifat-manfaat .html
http://fitrahchem.blogspot.com/2013/01/makalah-proses-industri-kimia-1.html
http://ms.wikipedia.org/wiki/Bijih_besi
http://satriopage.blogspot.com/2012/12/makalah-iron-ores-bijih-besi_1.html
http://bkv315a.blogspot.com/2012/08/makalah-besi.html
http://www.byantech.com/kategori-pabrik/pengolahan-pasir-bijih-besi/masalah-dan-solusi/