Anda di halaman 1dari 15

Karakteristik Waduk

Karakteristik suatu waduk merupakan bagian pokok dari waduk yaitu


volume hidup
(live storage),
volume mati
(dead storage),
tinggi muka air (TMA)
maksimum, TMA minimum, tinggi
mercu bangunan pelimpah berdasarkan debit
rencana.
Dari karakteristik fisik waduk tersebut didapatkan hubungan antara elevasi
dan volume tampungan yang disebut juga liku kapasitas waduk. Liku kapasitas
tampungan waduk merupakan data yang menggambarkan volume tampungan air
di dalam waduk pada setiap ketinggian muka air

FAKTOR PENENTU DEBIT AIR

Debit air merupakan komponen yang penting dalam pengelolaan suatu DAS.
Pelestarian hutan juga penting dalam rangka menjaga kestabilan debit air yang ada di
DAS, karena hutan merupakan faktor utama dalam hal penyerapan air tanah serta
dalam proses Evaporasi dan Transpirasi. Juga pengendali terjadinya longsor yang
mengakibatkan permukaan sungai menjadi dangkal, jika terjadi pendangkalan maka
debit air sungai akan ikut berkurang.
Selain menjaga pelestarian hutan, juga yang tidak kalah pentingnya yang sangat
penting kita perhatikan yaitu tingkah laku manusia terhadap DAS, seperti pembuangan
sampah sembarangan.
Hal-hal berikut ini adalah yang mempengaruhi debit air:
1. Intensitas hujan.
Karena curah hujan merupakan salah satu faktor utama yang memiliki komponen
musiman yang dapat secara cepat mempengaruhi debit air, dan siklus tahunan dengan
karakteristik musim hujan panjang (kemarau pendek), atau kemarau panjang (musim
hujan pendek). Yang menyebabkan bertambahnya debit air.
2. Pengundulan Hutan
Fungsi utama hutan dalam kaitan dengan hidrologi adalah sebagai penahan tanah yang
mempunyai kelerengan tinggi, sehingga air hujan yang jatuh di daerah tersebut
tertahan dan meresap ke dalam tanah untuk selanjutnya akan menjadi air tanah. Air
tanah di daerah hulu merupakan cadangan air bagi sumber air sungai. Oleh karena itu
hutan yang terjaga dengan baik akan memberikan manfaat berupa ketersediaan
sumber-sumber air pada musim kemarau. Sebaiknya hutan yang gundul akan menjadi
malapetaka bagi penduduk di hulu maupun di hilir. Pada musim hujan, air hujan yang
jatuh di atas lahan yang gundul akan menggerus tanah yang kemiringannya tinggi.
Sebagian besar air hujan akan menjadi aliran permukaan dan sedikit sekali
infiltrasinya. Akibatnya adalah terjadi tanah longsor dan atau banjir bandang yang
membawa kandungan lumpur.
3. Pengalihan hutan menjadi lahan pertanian
Risiko penebangan hutan untuk dijadikan lahan pertanian sama besarnya dengan
penggundulan hutan. Penurunan debit air sungai dapat terjadi akibat erosi. Selain
akan meningkatnya kandungan zat padat tersuspensi (suspended solid) dalam air
sungai sebagai akibat dari sedimentasi, juga akan diikuti oleh meningkatnya
kesuburan air dengan meningkatnya kandungan hara dalam air sungai.Kebanyakan
kawasan hutan yang diubah menjadi lahan pertanian mempunyai kemiringan diatas
25%, sehingga bila tidak memperhatikan faktor konservasi tanah, seperti pengaturan
pola tanam, pembuatan teras dan lain-lain.
4. Intersepsi
Adalah proses ketika air hujan jatuh pada permukaan vegetasi diatas permukaan
tanah, tertahan bebereapa saat, untuk diuapkan kembali(hilang) ke atmosfer atau
diserap oleh vegetasi yang bersangkutan. Proses intersepsi terjadi selama
berlangsungnya curah hujan dan setelah hujan berhenti. Setiap kali hujan jatuh di
daerah bervegetasi, ada sebagian air yang tak pernah mencapai permukaan tanah dan
dengan demikian, meskipun intersepsi dianggap bukan faktor penting dalam penentu
faktor debit air, pengelola daerah aliran sungai harus tetap memperhitungkan
besarnya intersepsi karena jumlah air yang hilang sebagai air intersepsi dapat
mempengaruhi neraca air regional. Penggantian dari satu jenis vegetasi menjadi jenis
vegetasi lain yang berbeda, sebagai contoh, dapat mempengaruhi hasil air di daerah
tersebut.
5. Evaporasi dan Transpirasi
Evaporasi transpirasi juga merupakan salah satu komponen atau kelompok yang dapat
menentukan besar kecilnya debit air di suatu kawasan DAS, mengapa dikatakan salah
satu komponen penentu debit air, karena melalu kedua proses ini dapat membuat air
baru, sebab kedua proses ini menguapkan air dari per mukan air, tanah dan
permukaan daun, serta cabang tanaman sehingga membentuk uap air di udara dengan
adanya uap air diudara maka akan terjadi hujan, dengan adanya hujan tadi maka
debit air di DAS akan bertambah juga.


Debit aliran dapat dijadikan sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi neraca
air suatu kawasan melalui pendekatan potensi sumberdaya air permukaan yang ada.

Prinsip PLTA dan konversi energi
Pada prinsipnya PLTA mengolah energi potensial air diubah menjadi energi kinetis
dengan adanya head, lalu energi kinetis ini berubah menjadi energi mekanis dengan
adanya aliran air yang menggerakkan turbin, lalu energi mekanis ini berubah menjadi
energi listrik melalui perputaran rotor pada generator. Jumlah energi listrik yang bisa
dibangkitkan dengan sumber daya air tergantung pada dua hal, yaitu jarak tinggi air
(head) dan berapa besar jumlah air yang mengalir (debit).
Untuk bisa menghasilkan energi listrik dari air, harus melalui beberapa tahapan
perubahan energi, yaitu:
a. Energi Potensial
Energi potensial yaitu energi yang terjadi akibat adanya beda potensial, yaitu akibat
adanya perbedaan ketinggian. Besarnya energi potensial yaitu:
Ep = m . g . h
Dimana:
Ep : Energi Potensial
m : massa (kg)
g : gravitasi (9.8 kg/m2)
h : head (m)
b. Energi Kinetis
Energi kinetis yaitu energi yang dihasilkan akibat adanya aliran air sehingga timbul
air dengan kecepatan tertentu, yang dirumuskan.
Ek = 0,5 m . v . v
Dimana:
Ek : Energi kinetis
m : massa (kg)
v : kecepatan (m/s)
c. Energi Mekanis
Energi mekanis yaitu energi yang timbul akibat adanya pergerakan turbin. Besarnya
energi mekanis tergantung dari besarnya energi potensial dan energi kinetis. Besarnya
energi mekanis.
dirumuskan: Em = T . . t
Dimana:
Em : Energi mekanis
T : torsi
: sudut putar
t : waktu (s)
d. Energi Listrik
Ketika turbin berputar maka rotor juga berputar sehingga menghasilkan energi listrik
sesuai persamaan:
El = V . I . t
Dimana:
El : Energi Listrik
V : tegangan (Volt)
I : Arus (Ampere)
t : waktu (s)

Penyebab terjadinya banjir
Sungai
Lama: Endapan dari hujan atau pencairan salju cepat melebihi kapasitas saluran
sungai. Diakibatkan hujan deras monsun, hurikan dan depresi tropis, angin luar dan
hujan panas yang mempengaruhi salju. Rintangan drainase tidak terduga
seperti tanah longsor, es, atau puing-puing dapat mengakibatkan banjir perlahan di
sebelah hulu rintangan.
Cepat: Termasuk banjir bandang akibat curah hujan konvektif (badai petir besar)
atau pelepasan mendadak endapan hulu yang terbentuk di
belakang bendungan, tanah longsor, atau gletser.
Sungai-sungai yang membelah Jakarta sudah tidak lagi berfungsi maksimal dalam
menampung air. Selain karena pendangkalan dan rumah-rumah penduduk yang
menyemut di sepanjang pinggirannya, juga karena sungai-sungai ini penuh dengan
sampah. Berbagai jenis sampah dapat ditemukan di badan sungai. Di beberapa
tempat, tumpukan sampah itu begitu banyak sehingga menjadi sebuah daratan yang
dapat diinjak manusia.
Muara
Biasanya diakibatkan oleh penggabungan pasang laut yang diakibatkan angin
badai. Banjir badai akibat siklon tropis atau siklon ekstratropismasuk dalam
kategori ini.
Pantai
Diakibatkan badai laut besar atau bencana lain seperti tsunami atau hurikan). Banjir
badai akibat siklon tropis atau siklon ekstratropismasuk dalam kategori ini.
Peristiwa Alam
Diakibatkan oleh peristiwa mendadak seperti jebolnya bendungan atau bencana lain
seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Manusia
Kerusakan akibat aktivitas manusia, baik disengaja atau tidak merusak
keseimbangan alam
Lumpur
Banjir lumpur terjadi melalui penumpukan endapan di tanah pertanian. Sedimen
kemudian terpisah dari endapan dan terangkut sebagai materi tetap atau
penumpukan dasar sungai. Endapan lumpur mudah diketahui ketika mulai mencapai
daerah berpenghuni. Banjir lumpur adalah proses lembah bukit, dan tidak sama
dengan aliran lumpur yang diakibatkan pergerakan massal.
Lainnya
Banjir dapat terjadi ketika air meluap di permukaan kedap air (misalnya akibat
hujan) dan tidak dapat terserap dengan cepat (orientasi lemah atau penguapan
rendah).
Rangkaian badai yang bergerak ke daerah yang sama.
Berang-berang pembangun bendungan dapat membanjiri wilayah perkotaan dan
pedesaan rendah, umumnya mengakibatkan kerusakan besar.

Arti danau adalah suatu cekungan pada permukaan bumi yang berisi air. Danau dapat memiliki manfaat
serta fungsi seperti untuk irigasi pengairan sawah, ternak serta kebun, sebagai objek pariwisata, sebagai
PLTA atau pembangkit listrik tenaga air, sebagai tempat usaha perikanan darat, sebagai sumber
penyediaan air bagi makhluk hidup sekitar dan juga sebagai pengendali banjir dan erosi.

Janis-Jenis / Macam-Macam Danau yang ada di Indonesia :

1. Danau Buatan / Waduk
Danau buatan adalah danau yang secara sengaja dibuat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan air
pertanian, perikanan darat, air minum, dan lain sebagainya. Contoh : Waduk Jatiluhur di Jawa Barat.

2. Danau Karst
Danau karts adalah danau yang berada di daerah berkapur di mana yang berukuran kecil disebut doline
dan yang besar dinamakan uvala.

3. Danau Tektonik
Danau tektonik adalah danau yang terjadi akibat adanya aktivitas / peristiwa tektonik yang
mengakibatkan permukaan tanah pada lapisan kulit bumi turun ke bawah membentuk cekung dan
akhirnya terisi air. Contoh yakni : Danau Toba di Sumatera Utara.

4. Danau Vulkanik / Danau Kawah
Danau vulkanik adalah danau yang terbentuk pada bekas kawah gunung berapi. Contoh yaitu : Danau
Batur di Bali.

Pengertian Sungai

Sungai dapat didefinisikan sebagai saluran di permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah yang
melalui saluran itu air dari darat menglir ke laut.
Di dalam Bahasa Indonesia, kita hanya mengenal satu kata sungai. Sedang di dalam Bahasa Inggris
dikenal kata stream dan river. Kata stream dipergunakan untuk menyebutkan sungai kecil, sedang
river untuk menyebutkan sungai besar.

Pertanian
Diperkirakan 69% penggunaan air di seluruh dunia untuk irigasi. Di beberapa wilayah irigasi
dilakukan terhadap semua tanaman pertanian, sedangkan di wilayah lainnya irigasi hanya
dilakukan untuk tanaman pertanian yang menguntungkan, atau untuk meningkatkan hasil.
Berbagai metode irigasi melibatkan perhitungan antara hasil pertanian, konsumsi air, biaya
produksi, penggunaan peralatan dan bangunan. Metode irigasi seperti irigasi beralur (furrow) dan
sprinkler umumnya tidak terlalu mahal namun kurang efisien karena banyak air yang mengalami
evaporasi, mengalir atau terserap ke area di bawah atau di luar wilayah akar. Metode irigasi
lainnya seperti irigasi tetes, irigasi banjir, dan irigasi sistem sprinkler di mana sprinkler
dioperasikan dekat dengan tanah, dikatakan lebih efisien dan meminimalisasikan aliran air dan
penguapan meski lebih mahal. Setiap sistem yang tidak diatur dengan benar dapat menyia-
nyiakan sumber daya air, sedangkan setiap metode memiliki potensi untuk efisiensi yang lebih
tinggi pada kondisi tertentu di bawah pengaturan waktu dan manajemen yang tepat.
Saat populasi dunia meningkat, dan permintaan terhadap bahan pangan juga meningkat dengan
suplai air yang tetap, terdapat dorongan untuk mempelajari bagaimana memproduksi bahan
pangan dengan sedikit air, melalui peningkatan metode dan teknologi irigasi, manajemen air
pertanian, tipe tanaman pertanian, dan pemantauan air.
Industri
Diperkirakan bahwa 15% air di seluruh dunia dipergunakan untuk industri. Banyak pengguna
industri yang menggunakan air, termasuk pembangkit listrik yang menggunakan air untuk
pendingin atau sumber energi, pemurnian bahan tambang dan minyak bumi yang menggunakan
air untuk proses kimia, hingga industri manufaktur yang menggunakan air sebagai pelarut. Porsi
penggunaan air untuk industri bervariasi di setiap negara, namun selalu lebih rendah
dibandingkan penggunaan untuk pertanian.
Air juga digunakan untuk membangkitkan energi. Pembangkit listrik tenaga air mendapatkan
listrik dari air yang menggerakkan turbin air yang dihubungkan dengan generator. Pembangkit
listrik tenaga air adalah pembangkit listrik yang rendah biaya produksi, tidak menghasilkan
polusi, dan dapat diperbarui. Energi ini pada dasarnya disuplai oleh matahari; matahari
menguapkan air di permukaan, yang lalu mengalami pengembunan di udara, turun sebagai hujan,
dan air hujan mensuplai air bagi sungai yang mengaliri pembangkit listrik tenaga air. Bendungan
Three Gorges merupakan bendungan pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia.
Penggunaan industrial lainnya adalah turbin uap dan penukar panas, juga sebagai pelarut bahan
kimia. Keluarnya air dari industri tanpa dilakukan pengolahan terlbih dahulu dapat disebut
sebagai polusi. Polusi meliputi pelepasan larutan kimia (polusi kimia) atau pelepasan air sisa
penukaran panas (polusi termal). Industri membutuhkan air murni untuk berbagai aplikasi dan
menggunakan berbagai tehnik pemurnian untuk suplai air maupun limbahnya.
Rumah tangga


Air minum yang umum berada di negara-negara maju
Diperkirakan 15% penggunaan air di seluruh dunia adalah di rumah tangga. Hal ini meliputi air
minum, mandi, memasak, sanitasi, dan berkebun. Kebutuhan minimum air yang dibutuhkan
dalam rumah tangga menurut Peter Gleick adalah sekitar 50 liter per individu per hari, belum
termasuk kebutuhan berkebun. Air minum haruslah air yang berkualitas tinggi sehingga dapat
langsung dikonsumsi tanpa risiko bahaya. Di sebagian besar negara-negara berkembang, air yang
disuplai untuk rumah tangga dan industri adalah air minum standar meski dalam proporsi yang
sangat kecil digunakan untuk dikonsumsi langsung atau pengolahan makanan.
Rekreasi
Penggunaan air untuk rekreasi biasanya sangatlah kecil, namun terus berkembang. Air yang
digunakan untuk rekreasi biasanya berupa air yang ditampung dalam bentuk reservoir, dan jika
air yang ditampung melebihi jumlah yang biasa ditampung dalam reservoir tersebut, maka
kelebihannya dikatakan digunakan untuk kebutuhan rekreasional. Pelepasan sejumlah air dari
reservoir untuk kebutuhan arung jeram atau kegiatan sejenis juga disebut sebagai kebutuhan
rekreasional. Hal lainnya misalnya air yang ditampung dalam reservoir buatan (misalnya kolam
renang).
Penggunaan rekreasional umumnya non-konsumtif, karena air yang dilepaskan dapat digunakan
kembali. Pengecualian terdapat pada penggunaan air di lapangan golf, yang umumnya sering
menggunakan air dalam jumlah berlebihan terutama di daerah kering. Namun masih belum jelas
apakah penggunaan ini dikategorikan sebagai penggunaan rekreasional atau irigasi, namun tetap
memberikan efek yang cukup besar bagi sumber daya air setempat.
Sebagai tambahan, penggunaan rekreasional mungkin akan mengurangi ketersediaan air bagi
kebutuhan lainnya di suatu tempat pada suatu waktu tertentu.
Lingkungan dan ekologi
Penggunaan bagi lingkungan dan ekologi secara eksplisit juga sangat kecil namun terus
berkembang. Penggunaan air untuk lingkungan dan ekologi meliputi lahan basah buatan, danau
buatan yang ditujukan untuk habitat alam liar, konservasi satwa ikan, dan pelepasan air dari
reservoir untuk membantu ikan bertelur.
Seperti penggunaan untuk rekreasi, penggunaan untuk lingkungan dan ekologi juga termasuk
penggunaan non konsumtif, namun juga mengurangi ketersediaan air untuk kebutuhan lainnya di
suatu tempat pada suatu waktu tertentu.
Kerangka
Pikir Penelitian
Analisis dalam penelitian ini adalah analisis terhadap kerentanan banjir dan
daerah rawan banjir, yaitu dengan memformulasikan parameter
-parameter terkait.
Kerentanan banjir dan daerah rawan banjir tersebut dikaji dengan
Menggunakan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG). Data yang digunakan dalam penelitian
ini menggunakan data sekunder dan primer
. Data tersebut diberikan harkat pada masing - masing parameter, tujuannya adalah ketika di overlay hasilnya dapat
Berupa data kerentanan banjir secara kuantitatif dalam bentuk skor kerentanan
banjir disamping juga data spasial kerentanan banjir dalam bentuk peta.
Unit analisis
dalam penelitian ini diperoleh dari hasil overlay peta bentuk lahan, peta penggunaan lahan dan peta kemiringan lereng
dalam batas sub-DAS
. Fungsi unit analisis adalah sebagai acuan dalam pengambilan sampel di
lapangan serta sebagai dasar dari hasil proses analisis kuantitatif parameter
parameter banjir.

DEBIT ANDALAN
Debit Andalan
(dependable discharge) :
debit yang
berhubungan dgn probabilitas atau nilai
kemungkinan
terjadinya. Merupakan debit yg kemungkinan
terjadinya
sama atau melampaui dari yg diharapkan.
Debit yg mengalir pd suatu penampang sungai dlm
suatu daerah aliran sungai (DAS).
Perencanaan teknik sumber daya air membutuhkan
nilai
probabilitas debit yg diandalkan:
-
Penyediaan air minum dgn debit andalan 99%
-
Pembangkit tenaga listrik dgn debit andalan 85%
-
90%
-
Perencanaan irigasi dgn debit andalan 70%
-
85%
Misal dgn andalan 90% diperoleh debit
andalan 100 m
3
/det. Berarti akan dihadapi
adanya debit
-
debit yg sama atau lebih besar
dari 100 m
3
/det sebesar 90% dari
banyaknya pengamatan selama waktu
tertentu. Dan akan dihadapi resiko debit
-
debit lebih kecil dari 100 m
3
/det sebesar
10% dari banyaknya pengamatan



2.6.2 Flow duration curves
A flow duration curve (FDC) represents the relationship between the magnitude and duration of
stream flows; duration in this context refers to the overall percentage of time that a particular
flow is exceeded. The shape of the FDC for any river therefore strongly reflects the type of flow
regime and is influenced by the character of the upstream catchment including geology,
urbanisation, artificial influences and groundwater. Figure 2.3 shows the flow duration curves for
two contrasting rivers.

Figure 2.3 Flow duration curves for two
contrasting rivers
This graph shows the impact of catchment
type on FDC shape.
The River Piddle is a chalk stream with a
relatively limited seasonal variation in flow,
being sustained by groundwater baseflow
throughout the year and having few high
flow events due to the permeable nature of
the catchment.
In contrast, the River Conder is an upland
stream with a flashy flow regime. Its FDC
has a much steeper gradient, reflecting the
greater range of flows experienced. In
particular there are more extreme high and
low flows at this site.
The FDC is a very useful tool for assessing the overall historical variation in flow, though one
drawback is that it offers little information about the timing or persistence of low flow events.
The FDC has a wide range of applications including:
setting river flow objectives;
scenario evaluation (in respect of the impact of artificial influences such as water
abstraction or effluent releases);
hydropower assessment;
evaluation of sediment or contaminant loads;
structure design (for example, a structure can be designed to perform well within some
range of flows, such as those exceeded between 20 and 80% of the time or such that it
does not alter the low flow regime).
In practice, FDCs are used mainly in relation to the setting of environmental flow objectives. The
Q
95
flow (the flow exceeded 95% of the time according to the FDC) has been used historically in
the UK to represent the low flow in a river. Abstraction conditions have sometimes been set to
protect this flow; for example, abstraction is permitted provided the flow is greater than the Q
95
.
River ecology requirements are often more complex than this and other values may be used to
control abstractions. The influence of potential abstractions from the river and/or discharges into
the river can be reviewed by constructing an influenced FDC which can then be compared to the
target, enabling identification of flow ranges where further abstraction might be permitted. For
example, it may be desirable to keep the flow regime of a particular river as natural as possible
and a target of 90% of the natural flow across the full range of flow might be stated. This means
that the combined effect of any artificial influences should not result in a change in flow regime
such that the actual flow duration curve deviates from (drops below) the natural by greater than
10% at any point.