Anda di halaman 1dari 4

Derajat kesehatan adalah indikator hasil akhir yang ditetapkan melalui Keputusan

Menteri Kesehatan nomor 1202/MENKES/SK/VIII/2003 dimana indikator-


indikaor yang paling akhir adalah indikator mortalitas (kematian) yang
dipengaruhi oleh indikator morbiditas (kesakitan) dan status gizi (Wibawati,
2012).
A. Mortalitas
Mortalitas atau kematian adalah keadaan hilangnya semua tanda - tanda
kehidupan secara permanen yang dapat terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.
Mortalitas merupakan jumlah angka kematian di suatu wilayah. Menurut Indikator
Indonesia Sehat 2010, mortalitas dapat dilihat dari:
1. Angka Kematian Bayi per 1.000 Kelahiran Hidup
Angka kematian bayi dapat didefenisikan sebagai kematian yang
terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu
tahun. Angka kematian bayi di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor,
diantaranya adalah faktor penyakit infeksi dan kekurangan gizi. Kematian
pada bayi juga dapat disebabkan oleh adanya trauma persalinan dan
kelainan bawaan yang kemungkinan besar dapat disebabkan oleh
rendahnya status gizi ibu pada saat kehamilan serta kurangnya jangkauan
pelayanan kesehatan dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
(Alimul, 2008).
2. Angka Kematian Balita per 1.000 Kelahiran Hidup
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4
tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada
pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi). Seperti halnya dengan
Angka Kematian ibu dan Bayi, AKABA ini juga dapat memberikan
gambaran status kelangsungan hidup di suatu wilayah. Hasil penelitian
Supratini (2006) menunjukkan bahwa kondisi kesehatan lingkungan
terbukti memberi pengaruh terhadap kematian anak.
3. Angka Kematian Ibu Melahirkan per 100.000 kelahiran hidup
World Health Organization mendefinisikan mortalitas/angka
kematian ibu sebagai kematian perempuan yang mengandung atau
meninggal dalam 42 hari setelah akhir lehamilannya, terlepas dari lamanya
kehamilan atau letak kehamilannya. Mortalitas ibu dikaitkan dengan
komplikasi kehamilan dan proses melahirkan. Kematian ibu
mencerminkan seberapa baik penanganan manajemen medis pada proses
pelahiran. Hal tersebut juga mencerminkan jumlah kasus perdarahan,
toksemia dan infeksi yang terjadi (Timmreck, 2004).
Angka kematian ibu didasarkan pada risiko kematian ibu yang
berkaitan dengan proses melahirkan, persalinan dan pelahiran, perawatan
obstetrik, komplikasi kehamilan dan masa nifas. Tingkat pendidikan,
tingkat kemiskinan, dan status sosial-ekonomi merupakan faktor-faktor
yang juga berkontribusi dalam mortalitas ibu (Timmreck, 2004).
B. Morbiditas
Morbiditas (kesakitan) merupakan salah satu indikator yang digunakan
untuk mengukur derajat kesehatan penduduk. Semakin tinggi morbiditas,
menunjukkan derajat kesehatan penduduk semakin buruk. Sebaliknya semakin
rendah morbiditas (kesakitan) menunjukkan derajat kesehatan penduduk yang
semakin baik (Badan Pusat Statistik, 2009).
Pengertian morbiditas (kesakitan) adalah kondisi seseorang dikatakan
sakit apabila keluhan kesehatan yang dirasakan mengganggu aktivitas sehari-
hari yaitu tidak dapat melakukan kegiatan seperti bekerja, mengurus rumah
tangga dan kegiatan lainnya secara normal sebagaimana biasanya (Hanum &
Purhadi, 2013).
Ada tiga dimensi yang menunjukkan indikator-indikator morbiditas
(kesakitan) yaitu dimensi umur panjang & sehat, dimensi pengetahuan dan
dimensi kehidupan yang layak. Untuk dimensi umur panjang & sehat diukur
berdasarkan angka harapan hidup. Untuk dimensi pengetahuan diukur
berdasarkan angka buta huruf (dewasa). Sedangkan dimensi kehidupan yang
layak diukur berdasarkan persentase penduduk tanpa akses terhadap air bersih dan
persentase penduduk tanpa akses terhadap sarana kesehatan (Departemen
Kesehatan RI, 2003).
Status gizi
Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang
dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam
tubuh. Status gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi
normal, dan gizi lebih (Almatsier, 2005).
Status gizi normal merupakan suatu ukuran status gizi dimana terdapat
keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang
dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan individu. Status gizi kurang
atau undernutrition merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi
yang masuk lebih sedikit dari energi yang dikeluarkan. Sementara status gizi lebih
(overnutrition) merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang
masuk ke dalam tubuh lebih besar dari jumlah energi yang dikeluarkan (Nix,
2005).
Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat
gizi di dalam tubuh. Bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan
secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang memungkinkan pertumbuhan
fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada
tingkat setinggi mungkin (Almatsier, 2001).
Selain konsumsi makanan, tingkat pengetahuan ibu juga mempengaruhi
status gizi bayi, kebiasaan yang salah atau kurang tepat dalam pemberian
makanan pada bayi akan mempengaruhi status gizi bayi. Kesalahan pemberian
makan pada bayi dapat diartikan sebagai kekeliruan dalam menyajikan makanan,
baik dari segi jenis jumlah dan waktu pemberian. Dalam keadaan demikian
diperlukan pengetahuan yang cukup agar anak dapat terjamin kebutuhan gizi
akibat pengetahuan tentang makanan bergizi bagi anak yang dimiliki ibunya
(Burhanudin, 2006).

Alimul, A. A. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
__________. 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2009. Statistik Kesehatan Republik
Indonesia Tahun 2009. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik
Indonesia
Departemen Kesehatan RI. 2003. Indikator Sehat Indonesia 2010 dan Pedoman
Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat,
Keputusan Menteri Kesehatan No.1202/Menkes/SK/VIII/2003. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Hanum D, Purhadi. 2013. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Morbiditas
Penduduk Jawa Timur dengan Multivariate Geographically Weighted
Regression (MGWR). Jurnal Sains dan Seni Pomits Vol. 2(2): 189-194.
Nix S. 2005. Williams Basic Nutrition & Diet Therapy, 12
th
Edition. Elsevier
Supraptini, Tin A. 2006. Kondiis Kesehatan Lingkungan di Indonesia dan Angka
Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, serta Angka kematian Balita
menurut Data SUSENAS 1998, 2001 dan 2003. Jurnal Ekologi
Kesehatan Vol. 5(3): 447-457.
Timrecck, TC. 2004. Epidemiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: EGC.
Wibawati, Firly A. 2012. Pengelompokan Kabupaten/Kota di Jawa Timur
Berdasarkan Indikator Indonesia Sehat 2010. Jurnal Sains dan Seni ITS
Vol. 1(1): 188-193.