Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

HUKUM KETENAGAKERJAAN
KETIDAKSUAIAN PENGUPAHAN KERJA LEMBUR



DISUSUN OLEH :
TEGUH SANTOSO (13.11.106.701201.1711)
M. BACHRUL ULUM (13.11.106.701201.1712)
M. ADITYA (13.11.106.701201.1713)
ARIEF NOOR PRASETYO (13.11.106.701201.1714)
DWI ARTHA YUDHA (13.11.106.701201.1716)
SISCO PRASTOMO (13.11.106.701201.1717)

B1 TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS BALIKPAPAN


KATA PENGANTAR
Assalaamualaikum. Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan nikmat kepada umatnya
terutama nikmat iman,umur serta kesempatan sehingga pada kesempatan ini kami dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam kami haturkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita menuju alam yang penuh
dengan teknologi canggih.
Maksud penulis menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi nilai tugas yang membahas
tentang salah satu permasalahan dalam dunia kerja yaitu Ketidaksuaian Pengupahan Kerja
Lembur. Selain memenuhi nilai tugas juga untuk mengembangkan potensi ilmu
pengetahuan khususnya dibidang Tentang Hukum Ketenagakerjaan yang bertujuan untuk
memudahkan kita dalam memahami tentang pentingnya pengetahuan akan hak dan kewajiban
sebagai tenaga kerja dan segala permasalahan yang menyertainya
Sebagai insan biasa kami sadar akan ketidak sempurnaan makalah ini, kekhilafan dalam
penulisan atau penyusunan kata demi kata, dari itu kami mohon maaf yang sedalam-
dalamnya serta kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnanan Makalah
ini.
Demikianlah kata pengantar ini kami buat, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat
bagi orang lain, terutama bagi kami sebagai penyusun.
Wasalamualaikum. Wr. Wb.

Balikpapan, 23 September 2014



Penyusun





BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Mewujudkan masyarakat adil dan makmur adalah salah satu tujuan Indonesia merdeka. Oleh
karena itu negara mempunyai kewajiban untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya
secara adil. Salah satu instrumen perwujudan keadilan dan kesejahteraan itu adalah hukum.
Melalui hukum, negara berupaya mengatur hubungan-hubungan antara orang perorang atau
antara orang dengan badan hukum. Pengaturan ini dimaksudkan supaya jangan ada
penzaliman dari yang lebih kuat kepada yang lemah, sehingga tercipta keadilan dan
ketentraman di tengah-tengah masyarakat.
Salah satu peraturan yang dibuat oleh pemerintah adalah peraturan yang mengatur hubungan
seseorang di dunia kerja. Pakta menunjukkan bahwa banyak sekali orang yang bekerja pada
orang lain ataupun bekerja pada perusahaan. Oleh sebab itu hubungan kerja antara seorang
pekerja dengan majikannya atau antara pekerja dengan badan usaha perlu diatur sedemikian
rupa supaya tidak terjadi kesewenang-wenangan yang bisa merugikan salah satu pihak.

B. Rumusan Masalah

1. Dasar hukum ketenagakerjaan
2. Hak dan kewajiban pekerja
3. Hak dan kewajiban pengusaha
4. Tata kelola Pengupahan pekerja sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan


C. Tujuan

1. Untuk mengetahui Undang-Undang tentang ketenagakerjaan
2. Untuk mengetahui hak dan kewajiban sebagai karyawan/pekerja
3. Untuk mengetahui hak dan kewajiban sebagai pengusaha
4. Untuk mengetahui syarat dan ketentuan mendapatkan upah layak bagi penghidupan
kemanusian tenaga kerja


D. Ruang Lingkup Pembahasan

1. Subyek Pekerja : Sdr. SP dan Sdr. MBU
2. Subyek Pengusaha : PT. AI
3. Objek : Upah Lembur


BAB II
PEMBAHASAN
A. Dasar Hukum Ketenagakerjaan dan Istilah-Istilah yang menyertainya.
Dasar hukum tentang ketenagakerjaan di Negara Indonesia adalah UU No. 13 tahun 2003. Di
dalam BAB 1 Ketentuan Umum Pasal 1 UU No. 13 tahun 2003 terdapat beberapa istilah
seperti ketenagakerjaan, tenaga kerja,pekerja, pengusaha, perusahaan, perjanjian kerja,
hubungan kerja, dan upah.
Tenaga kerja disebutkan dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang
dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Sedangkan
pengertian dari ketenagakerjaan sesuai dengan Pasal 1 angka 1 UU No. 13 tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan adalah Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan
tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.
Dalam Pasal 1 angka 3, pekerja/buruh ditafsirkan sebagai setiap orang yang bekerja dengan
menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Dalam Pasal 1 angka 5, pengusaha juga memiliki beberapa arti yaitu sebagai orang
perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik
sendiri. atau orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri
sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya atau orang perseorangan, persekutuan,
atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.
Dalam Pasal 1 angka 6, perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau
tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik
swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah
atau imbalan dalam bentuk lain atau usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang
mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan
dalam bentuk lain.
Dalam Pasal 1 angka 14, perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan
pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban para
pihak.
Dalam Pasal 1 angka 15, hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan
pekerja/buruh berdasarkanperjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan
perintah.

Dalam Pasal 1 angka 30, upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam
bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang
ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan

perundangundangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu
pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.
Dalam Pasal 1 angka 31, kesejahteraan pekerja/buruh adalah suatu pemenuhan kebutuhan
dan/atau keperluan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, baik di dalam maupun di luar
hubungan kerja, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempertinggi produktivitas
kerja dalam lingkungan kerja yang aman dan sehat.

B. Hak dan Kewajiban sebagai Pekerja.

Kewajiban-Kewajiban sebagai Pekerja tertuang dalam UU No. 13 Tahun 2003 antara lain :

1. Pasal 102 ayat ( 2 ) : Dalam melaksanakan hubungan industrial, pekerja dan serikat pekerja
mempunyai fungsi menjalankan pekerjaan sesuai dengan keWajibannya, menjaga ketertiban
demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasi secara demokrasi, mengembangkan
keterampilan dan keahliannya serta ikut memajukan perusahaan dan memperjuangkan
kesejahteraan anggota beserta keluarganya
2. Pasal 126 ayat ( 1 ) : Pengusaha, serikat pekerja dan pekerja Wajib melaksanakan ketentuan
yang ada dalam perjanjian kerja bersama
3. Pasal 126 ayat ( 2 ) : Pengusaha dan serikat pekerja Wajib memberitahukan isi perjanjian
kerja bersama atau perubahannya kepada seluruh pekerja
4. Pasal 136 ayat ( 1 ) : Penyelesaian perselisihan hubungan industrial Wajibdilaksanakan oleh
pengusaha dan pekerja atau serikat pekerja secara musyawarah untuk mufakat
5. Pasal 140 ayat ( 1 ) : Sekurang kurangnya dalam waktu 7 (Tujuh) hari kerja sebelum mogok
kerja dilaksanakan, pekerja dan serikat pekerja Wajib memberitahukan secara tertulis kepada
pengusaha dan instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan setempat

Hak-hak sebagai pekerja tertuang dalam UU No. 13 Tahun 2003 antara lain :

1. Pasal 5 : Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk
memperoleh pekerjaan
2. Pasal 6 : Setiap pekerja berHak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari
pengusaha
3. Pasal 11 : Setiap tenaga kerja berHak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau
mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya melalui
pelatihan kerja
4. Pasal 12 ayat (3) : Setiap pekerja memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan
kerja sesuai dengan bidang tugasnya
5. Pasal 18 ayat (1) : Tenaga kerja berHak memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah
mengikuti pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pelatihan kerja pemerintah, lembaga
pelatihan kerja swasta atau pelatihan ditempat kerja
6. Pasal 23 : Tenaga kerja yang telah mengikuti program pemagangan berHak atas pengakuan
kualifikasi kompetensi kerja dari perusahaan atau lembaga sertifikasi

7. Pasal 31 : Setiap tenaga kerja mempunyai Hak dan kesempatan yang sama untuk memilih,
mendapatkan atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak didalam atau
diluar negeri
8. Pasal 67 : Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan
perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya
9. Pasal 78 ayat (2) : Pengusaha yang mempekerjakan pekerja melebihi waktu kerja
sebagaimana dimaksud pada Pasal 78 ayat (1) wajib membayar upah kerja lembur
10. Pasal 79 ayat (1) : Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja
11. Pasal 80 : Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja untuk
melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya
12. Pasal 82 : Pekerja perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan
sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (Satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut
perhitungan dokter kandungan atau bidan
13. Pasal 84 : Setiap pekerja yang menggunakan hak waktu istirahat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 79 ayat (2) huruf b, c dan d, Pasal 80 dan Pasal 82 berHakmendapatkan upah
penuh
14. Pasal 85 ayat (1) : Pekerja tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi
15. Pasal 86 ayat (1) : Setiap pekerja mempunyai Hak untuk memperoleh perlindungan atas :
Keselamatan dan kesehatan kerja, Moral dan kesusilaan dan Perlakuan yang sesuai dengan
harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama
16. Pasal 88 : Setiap pekerja berHak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan
17. Pasal 90 : Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89
18. Pasal 99 ayat (1) : Setiap pekerja dan keluarganya berHak untuk memperoleh jaminan
sosial tenaga kerja
19. Pasal 104 ayat (1) : Setiap pekerja berHak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja
20. Pasal 137 : Mogok kerja sebagai Hak dasar pekerja dan serikat pekerja dilakukan secara sah,
tertib dan damai sebagai akibat gagalnya perundingan
21. Pasal 156 ayat ( 1 ) : Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan
membayar uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja serta uang penggantiHak yang
seharusnya diterima








C. Hak dan Kewajiban sebagai Pengusaha

Kewajiban-Kewajiban sebagai Pengusaha tertuang dalam UU No. 13 Tahun 2003 antara
lain :

1. Memperkerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan perlindungan sesuai
dengan garis dan derajat kecacatan nya.(Pasal 67 ayat 1UU No 13 tahun 2003)
2. Pengusaha wajib memberikan/ menyediakan angkutan antar Jemput Bagi Pekerja /Buruh
Perempuan yang berangkat dan pulang pekerja antara pukul 23.00 s.d pukul 05.00(Pasal
76 (5) UU No.13 Tahun 2003)
3. Setiap Pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja. (Pasal 77 ayat (1) s.d (4)
(UU Ketenagakerjaan )
4. Pengusaha wajib Memberi Waktu Istirahat Dan Cuti Kepada Pekerja/Buruh (Pasal 79 UU
ketenaga kerjaan)
5. Pengusaha Wajib memberikan Kesempatan Secukupnya Kepada Pekerja Untuk
Melaksanakan Ibadah yang diwajibkan Oleh Agamanya (Pasal 80 UU Ketenagakerjaan)
6. Pengusaha yang memperkerjakan Pekerja / Buruh Yang melakukan pekerja Untuk
Melaksanakan Ibadah yang Di wajib kan oleh agama nya (Pasal 80 UU Ketenagakerjaan)
7. Pengusaha Yang Memperkerjakan Pekerja /Buruh yang melakukan pekerjaan pada hari
libur resmi sebagai mana di maksud pada ayat (2) Wajib membayar Upah kerja lembur
(Pasal 85 (3) UU Ketenagakerjaan )
8. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh sekurang-kurang nya 10 (Sepuluh orang
wajib membuat peraturan perusahaan yang mulai berlaku setelah disahkan oleh mentri
atau pejabat yang ditunjuk (Pasal 108 (1) UU Ketenagakerjaan .
9. Pengusaha Wajib memberitahukan dan menjelaskan isi serta memberikan naskah
peraturan perusahaan atau perubahannya kepada pekerja/buruh .
10. Pengusaha wajib memberitahukan secara tertulis kepada pekerja /serikat buruh,serta
instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenaga kerjaan setempat sekurang-kurang
nya 7(Tujuh) hari kerja (Pasal 148 UU Ketenaga kerjaan)
11. Dalam Hal terjadi pemutusan Kerja pengusah di wajib kan membayar uang pesangon dan
atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima
(pasal 156 (1) UU ketenagakerjaan)
12. Dalam hal pekerja /buruh di tahan pihak yang berwajib karena di duga melakukan tindak
pidana bukan bukan atas pengaduan pengusaha,maka pengusaha tidak wajib memberikan
bantuan kepada keluarga pekerja,buruh yang menjadi tanggungannya. (Pasal 160 ayat (1)
UU ketenagakerjaan)
13. Pengusaha wajib membayar kepada pekerja ,buruh yang mengalami pemutusan hubungan
kerja sebagaimana di maksud pada ayat (3)dan ayat (5), uang penghargaan masa kerja
1(satu) kali ketentuan pasal 156 ayat (4)
14. Untuk Pengusaha di larang membayar upah lebih rendah dari upah minimum
sebagaimana di maksud dalam pasal 89 (Pasal 90 UU Ketenagakerjaan)
15. Pengusaha Wajib MembayarUpah/pekerja/buruh menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku (pasal 91 UU Ketenagakerjaan )
16. Kewajiban Pengusaha lainnya bisa dilihat dalam pasal 33 ayat (2) UU ketenagakerjaan

Hak-Hak sebagai Pengusaha tertuang dalam UU No. 13 Tahun 2003 antara lain :

1. Berhak sepenuhnya atas hasil kerja pekerja.
2. Berhak atas ditaatinya aturan kerja oleh pekerja, termasuk pemberian sanksi
3. Berhak atas perlakuan yang hormat dari pekerja
4. Berhak melaksanakan tata tertib kerja yang telah dibuat oleh pengusaha


D. Tata kelola Pengupahan pekerja sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan.

1. Cakupan Pengupahan
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan)
pada Bab 10 mengatur tentang Pengupahan. Menurut Pasal 88 ayat (1) UU Ketenagakerjaan,
setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan. Kebijakan pemerintah mengenai pengupahan yang melindungi
pekerja/buruh meliputi:

a). upah minimum;
b). upah kerja lembur;
c). upah tidak masuk kerja karena berhalangan;
d). upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya;
e). upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya;
f). bentuk dan cara pembayaran upah
g). denda dan potongan upah;
h). hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;
i). struktur dan skala pengupahan yang proporsional;
j). upah untuk pembayaran pesangon; dan
k). upah untuk perhitungan pajak penghasilan.
Pasal 89 UU Ketenagakerjaan mengatur bahwa upah minimum ditetapkan pemerintah
berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan
pertumbuhan ekonomi. Upah minimum dapat terdiri atas upah minimum berdasarkan wilayah
provinsi atau kabupaten/kota dan upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi
atau kabupaten/kota.
2. Larangan dalam Pengupahan
Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana yang
diatur dalam Pasal 89 UU Ketenagakerjaan. Dalam hal pengusaha yang tidak mampu
membayar upah minimum yang telah ditentukan tersebut, dapat dilakukan penangguhan yang
tata cara penangguhannya diatur dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Republik Indonesia Nomor: KEP.231/MEN/2003 tentang Tata Cara Penangguhan
Pelaksanaan Upah Minimum.
Kemudian, pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan
pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan
pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika kesepakatan
tersebut lebih rendah atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, maka
kesepakatan tersebut batal demi hukum, dan pengusaha wajib membayar upah pekerja/buruh
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Struktur Skala Upah
Pengusaha menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan, jabatan,
masa kerja, pendidikan, dan kompetensi. Peninjauan upah secara berkala tersebut dengan
memperhatikan kemampuan perusahaan dan produktivitas. Ketentuan mengenai struktur dan
skala upah diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor : KEP.49/MEN/2004 tentang Ketentuan Struktur dan Skala Upah.
4. Kewajiban Pembayaran Upah
Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan. Namun, pengusaha
wajib membayar upah apabila:

a) pekerja/buruh sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan;
b) pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga
tidak dapat melakukan pekerjaan;
c) pekerja/buruh tidak masuk bekerja karena pekerja/buruh menikah, menikahkan,
mengkhitankan, membaptiskan anaknya, isteri melahirkan atau keguguran kandungan, suami
atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam
satu rumah meninggal dunia;
d) pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena sedang menjalankan kewajiban
terhadap negara;
e) pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena menjalankan ibadah yang
diperintahkan agamanya;
f) pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan tetapi pengusaha tidak
mempekerjakannya, baik karena kesalahan sendiri maupun halangan yang seharusnya dapat
dihindari pengusaha;
g) pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat;
h) pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat buruh atas persetujuan
pengusaha; dan
i) pekerja/buruh melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan.
Pengaturan pelaksanaan ketentuan di atas, ditetapkan dalam Perjanjian Kerja, Peraturan
Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama.




5. Perhitungan Upah Pokok
Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap, maka besarnya upah
pokok sedikit-dikitnya 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah upah pokok dan
tunjangan tetap.
6. Sanksi
Pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja/buruh karena kesengajaan atau kelalaiannya dapat
dikenakan denda. Kemudian, pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya
mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan denda sesuai dengan persentase
tertentu dari upah pekerja/buruh. Pengenaan denda kepada pengusaha dan/atau pekerja/buruh,
dalam pembayaran upah diatur oleh Pemerintah.
Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang
yang didahulukan pembayarannya.
7. Kadaluarsa
Tuntutan pembayaran upah pekerja/buruh dan segala pembayaran yang timbul dari hubungan
kerja menjadi kadaluarsa, setelah melampaui jangka waktu 2 (dua) tahun sejak timbulnya
hak. Ketentuan mengenai penghasilan yang layak, kebijakan pengupahan, kebutuhan hidup
yang layak, dan perlindungan pengupahan, penetapan upah minimum, dan pengenaan denda
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

E. Kasus

Dalam makalah ini kami akan mengambil satu kasus yang dialami oleh Sdr. SP dan Sdr.
MBU sebagai pekerja serta PT.AI sebagai Pengusaha. Dalam kasus ini pihak pekerja merasa
telah dirugikan oleh pihak pengusaha dalam urusan pembayaran upah khususnya upah
lembur. Pihak pekerja selama ini tidak mendapatkan bayaran upah atas pekerjaan yang telah
dilakukan di luar jam kerja wajib atau lebih dikenal dengan lembur.

Dalam kasus ini pihak pengusaha tidak memenuhi salah satu kewajibannya sebagai pemberi
kerja yaitu pihak yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan
dengan bentuk lain. Pihak pekerja telah memenuhi segala ketentuan perusahaan dengan
bersedia untuk melakukan kerja lembur maupun perjalanan dinas untuk pekerjaan di luar
kota. Namun begitu, pihak pengusaha tidak memberikan upah lembur sesuai dengan
ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Upaya-upaya telah dikerahkan oleh pihak pekerja untuk menuntut hak mereka. Mulai dari
berbicara dengan atasan langsung hingga menghadap ke Departemen HRD PT. AI sebagai
pihak perwakilan perusahaan yang mengurusi permasalahan karyawan. Walaupun begitu
hasilnya nihil. Pihak perusahaan berdalih jika pembayaran upah lembur dan perjalanan dinas

telah digabungkan dalam pembayaran gaji bulanan pekerja. Menurut perusahaan, pihak
pekerja telah setuju dengan kesepakatan tersebut sebelumnya dengan bukti penandatanganan
perjanjian kerja di awal jenjang karir.

Faktanya, dalam pembayaran gaji pekerja memang hanya menyertakan 2 komponen upah
yaitu Gaji pokok dan Tunjangan mutasi. Jelas ini merupakan pelanggaran yag dilakukan oleh
pengusaha dalam menunaikan kewajibannya dan memberikan hak-hak pekerjanya yang
tertuang dalam pasal 78 ayat (1) UU No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Dalam pasal
itu disebutkan bahwa pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh (karyawan) melebihi
ketentuan waktu kerja normal sesuai dengan pola waktu kerja yang ditentukan (dalam Pasal
77 ayat [2] UUK) wajib membayar upah kerja lembur sesuai peraturan perundang-undangan
(yakni pasal 78 ayat [2] dan ayat [3] dan pasal 11 jo. pasal 10 dan pasal 8 Kepmenakertrans
No. KEP-102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur).

Ketentuan waktu kerja lembur dan upah kerja lembur tersebut, tidak berlaku bagi sektor
usaha atau pekerjaan tertentu. Berdasarkan pasal 78 ayat (4) UUK untuk sektor usaha atau
pekerjaan tertentu diatur lebih lanjut secara khusus oleh Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi. Namun, hingga saat ini pengaturan mengenai ketentuanwaktu kerja/waktu
kerja lembur serta upah kerja lembur bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu, baru ada 2
(dua)Peraturan,yakni:

1. Kepmenakertrans. No. 234/Men/2003 tentang Waktu Kerja dan Waktu Istirahat Pada
Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Mineral Pada Daerah Tertentu.
2. Permenakertrans. No. 15/Men/VII/2005 tentang Waktu Kerja dan Waktu Istirahat Pada
Sektor Usaha Pertambangan Umum Pada Daerah Operasi Tertentu.

Sedangkan untuk sektor usaha atau pekerjaan tertentu lainnya yang hingga saat ini belum
diatur secara khusus, dapat diperjanjikan oleh para pihak dalam Perjanjian Kerja (PK) dan
Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dengan tetap mengindahkan
ketentuan umum, yaitu:

a. Maksimum 7 jam per-hari untuk pola waktu kerja 6:1 atau maksimum 8 jam per-hari untuk
pola waktu kerja 5:2 (Pasal 77 ayat (2) UUK;
b. Apabila melebihi ketentuan waktu kerja yang ditentukan sebagaimana tersebut, wajib
diperhitungkan sebagai waktu kerja lembur dengan hak memperoleh upah kerja lembur.;
c. Pelaksanaan waktu kerja lembur, harus memenuhi syarat-syarat, antara lain : persetujuan
(masing-masing) dari pekerja yang bersangkutan; waktu kerja lembur hanya maksimum 3
(tiga) jam per-hari (untuk lembur pada hari kerja; dan komulatif waktu kerja lembur per-
minggu maksimum 14 jam, kecuali lembur dilakukan pada waktu hari istirahat mingguan/hari
libur resmi (Pasal 78 ayat (1) UUK jo Pasal 3 ayat (2) Kepmenakertrans No. KEP-
102/MEN/VI/2004.

Pada dasarnya, ketentuan mengenai lembur secara umum telah diatur dalam Pasal
77 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU
Ketenagakerjaan). Dalam pasal ini disebutkan:
(1) Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja.
(2) Waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
a. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari
kerja dalam 1 (satu) minggu; atau

b. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima)
hari kerja dalam 1 (satu) minggu.
(3) Ketentuan waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku bagi sektor
usaha atau pekerjaan tertentu.
(4) Ketentuan mengenai waktu kerja pada sektor usaha atau pekerjaan tertentu sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3) diatur dengan Keputusan Menteri.

Adapun aturan khusus yang mengatur mengenai waktu kerja lembur dan upah kerja lembur
adalah Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia No. KEP-
102/MEN/VI/2004 Tahun 2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur
(Kepmenakertrans 102/VI/2004).
Menurut Pasal 1 Kepmenakertrans 102/VI/2004, waktu kerja lembur adalah waktu kerja yang
melebihi 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam 1(satu) minggu untuk 6 (enam) hari
kerja dalam 1 (satu) minggu; atau 8 (delapan) jam sehari dan 40(empat puluh) jam 1 (satu)
minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau waktu kerja padahari istirahat
mingguan dan atau pada hari libur resmi yang ditetapkan Pemerintah.

pada dasarnya pengusaha wajib mematuhi ketentuan waktu kerja yang disebut dalam Pasal 77
UU Ketenagakerjaan dan apabila melebihi waktu-waktu yang disebut dalam Pasal 1
Kepmenakertrans 102/VI/2004, maka dinamakan waktu kerja lembur.

Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud
di atas berdasarkan Pasal 78 ayat (1) UU Ketenagakerjaan harus memenuhi syarat:
ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan; dan
waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan
14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu.

Dalam konteks pertanyaan Anda, maka waktu kerja lembur yang dilakukan oleh karyawan
hampir setiap 2 sampai 3 hari di setiap minggunya itu pada dasarnya hanya dapat dilakukan
paling banyak 3 jam dalam satu harinya dan 14 jam dalam satu minggunya. Oleh karena itu,
perlu dilihat kembali berapa lama waktu lembur yang dilakukan oleh karyawan.

Hal penting lainnya adalah lembur itu harus didasari oleh persetujuan karyawan yang
bersangkutan dan pengusaha yang mempekerjakan karyawan melebihi waktu kerja wajib
membayar upah kerja lembur.

Ini artinya, pemberian uang lembur dalam konteks pertanyaannya sifatnya bagi perusahaan
tersebut adalah wajib. Pemberian upah lembur didasarkan pada lebihnya ketentuan waktu
kerja yang seharusnya dan tidak dikaitkan dengan sudahnya upah karyawan di atas UMP.

Menurut Pasal 90 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, pengusaha dilarang membayar upah lebih
rendah dari upah minimum, baik upah minimum (UM) berdasarkan wilayah
propinsi atau kabupaten kota(yang sering disebut Upah Minimum Regional, UMR)
maupun upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah propinsi atau kabupaten/kota (Upah
Minimum Sektoral, UMS). Dengan kata lain, dibayarnya upah karyawan yang sudah
melebihi UMP tidak serta merta menghapuskan kewajiban perusahaan untuk memberi upah
kerja lembur bagi karyawannya yang bekerja lembur.

Intinya adalah pekerja merasa sangat dirugikan karena dengan dan/atau tanpa melaksanakan
kerja lembur akan tetap menerima upah yang sama.







































BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam ringkasan Undang-undang tentang Ketenagakerjaan, Hak dan Kewajiban terhadap
para tenaga kerja diatas dapat kita simpulkan, bahwa hubungan antara pengusaha dengan
tenaga kerja haruslah diselingi dan diimbangi dengan adanya hak-hak dan kewajiban diantara
keduanya supaya tidak terjadi kesetimpangan atau penyalahgunaan kekuasaan. Oleh karena
itu para tenaga kerja dan pengusaha selaku pemegang kekuasaan haruslah patuh dan tunduk
kepada aturan-aturan yang berlaku didalam ruang lingkup kerjanya (Perjanjian kerja)
Para tenaga kerja mempunyai beban kewajiban yang tidak dapat dipisahkan dalan status
kerjanya, diantaranya para tenaga kerja harus menjaga ketertiban demi kelangsungan
produksi, menyalurkan aspirasi secara demokrasi, mengembangkan keterampilan dan
keahliannya serta ikut memajukan perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota
beserta keluarganya, yang terpenting melaksanakan ketentuan yang ada dalam perjanjian
kerja bersama. Dengan demikian maka para tenaga kerja akan secara otomatis mendapatkan
hak-haknya selaku tenaga kerja diantaranya memperoleh perlakuan yang sama

Dalam hal pemberian upah pekerja maka perusahaan sebaiknya mempertimbangkan dan
mematuhi peraturan tentang ketenagakerjaan yaitu mengacu kepada UU No.13 tahun 2003.
Perusahaan hendaknya memberikan upah yang penuh, baik itu gaji pokok, upah lembur,
maupun tunjangan-tunjangan lain yang telah tersurat dalam peraturan tersebut. Hal ini juga
hendaknya dipenuhi demi tercapainya kondisi kerja yang ideal bagi pengusaha dan pekerja
demi mencapai kesejahteraan bersama.

Sebagai pekerja hendaknya kita juga memahami segala peraturan perundang-undangan
sebagai payung hukum bagi tenaga kerja. Agar kedepannya dapat menuntut hak-haknya
secara penuh sebagai tenaga kerja apabila dikemudian hari ditemukan pelanggaran-
pelanggaran yang dilakukan oleh pengusaha atau perusahaan.


B. Saran

1. Pekerja wajib mengetahui peraturan perundang-undangan sebagai payung hukum tenaga
kerja di Indonesia.
2. Jangan ragu untuk berkomunikasi dengan pihak perusahaan jika dirasa ada hak-hak sebagai
pekerja yang belum dipenuhi.
3. Utamakan musyawarah dengan serikat pekerja jika dirasa perlu untuk membantu kelancaran
proses mendapatkan hak-hak tersebut.
4. Cermati segala poin yang tertuang dalam perjanjian kerja sebelum menyetujuinya dan
tanyakan jika ada poin yang belum jelas kepada pihak perusahaan.

Makalah kami ini masih banyak terdapat kekurangan dan kekeliruan dalam hal segi penulisan
maupun materinya. Kami harap saran dan kritik yang membangun dari para pembaca
sekalian demi mencapai hasil yang lebih baik kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia No. KEP-
102/MEN/VI/2004 Tahun 2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur

Manulang, SH., 1995, Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia, Rineka Cipta,
Jakarta, Cetakan kedua

Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan