Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 TUJUAN PERCOBAAN
1. Mempelajari proses perpindahan kalor secara konveksi bebas dan konveksi paksa.
a) Mengetahui pengaruh ketinggian weir terhadap koefisien perpindahan panas
pada konveksi bebas
b) Mengetahui pengaruh bukaan valve terhadap koefisien perpindahan panas pada
konveksi paksa
c) Membandingkan kinerja konveksi bebas dengan konveksi paksa berdasarkan
nilai koefisien perpindahan panas pada masing-masing jenis konveksi
2. Mempelajari pengaruh kecepatan aliran terhadap perpindahan kalor konveksi paksa.
3. Membandingkan persamaan empiris yang diperoleh dari percobaan dengan
persamaan empiris literatur
1.2 TEORI
1.2.1 Pengertian Konveksi
Konveksi adalah perpindahan panas melalui pergerakan makroskopik dari
fluida, contohnya liquid atau gas. Selain perpindahan energi disebabkan oleh gerakan
molekular acak (difusi), perpindahan energi juga dipengaruhi oleh gerakan bulk atau
makroskopik fluida. Sama halnya dengan konduksi, konveksi membutuhkan media.
Namun, jika pada konduksi panas ditransfer dari satu molekul ke molekul lainnya maka
pada konveksi fluida yang telah dipanaskan itulah yang bergerak dan menggantikan
tempat dari fluida yang dingin.
Konveksi alami adalah proses perpindahan panas di mana pergerakan fluida
terjadi akibat gaya apung (buoyancy force) yang disebabkan oleh perubahan densitas.
Gaya apung merupakan gaya angkat yang dialami fluida apabila densitas di dekat
permukaan perpindahan kalornya berkurang oleh proses pemanasan. Gaya apung yang
menyebabkan arus konveksi disebut gaya badan (body force). Gaya ini hanya terjadi
jika fluida mengalami gaya dari luar seperti gravitasi atau gaya sentrifugal. Jika densitas
fluida di dekat permukaan dinding berkurang, maka fluida akan bergerak ke atas
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
2

membawa kalor, dan digantikan dengan fluida di atasnya yang densitasnya lebih besar.
Densitas fluida ini juga akan berkurang akibat pemanasan, kemudian bergerak ke atas
membawa kalor. Fluida berikutnya yang densitasnya lebih besar bergerak ke
permukaan dinding, begitu seterusnya. Dalam konveksi alami, kecepatan pada
permukaan yang dipanaskan adalah nol (kondisi batas tanpa gelincir), atau bertambah
dengan cepat dalam lapisan batas yang tipis yang bersinggungan dengan permukaan itu
dan menjadi nol lagi.
Konveksi paksa adalah perpindahan panas yang terjadi akibat pergerakan fluida
diakibatkan oleh gaya dari luar, seperti oleh pompa atau kipas angin.
Batasan agar proses perpindahan kalor dikatakan konveksi bebas, antara lain:
Fluida berubah densitasnya karena proses pemanasan.
Fluida bergerak naik karena mengalami gaya apung (bouyancy force) apabila
densitas fluida di dekat permukaan perpindahan kalor berkurang akibat proses
pemanasan.
Fluida mengalami sesuatu gaya dari luar seperti gravitasi.
Sedangkan batasan-batasan yang membedakan antara konveksi paksa dan alami adalah:
Pada konveksi paksa tidak ada gaya dari luar yang mempengaruhi sistem.
Nilai koefisien perpindahan kalor konveksi alami (h) umumnya sangat kecil.
Dengan kondisi yang sama, kalor yang dipindahkan pada konveksi alami lebih
sedikit dibandingkan konveksi paksa.

1.2.2 Koefisien Perpindahan Panas
Kecepatan perpindahan kalor antara fluida dengan suatu permukaan berbanding
lurus dengan luas permukaan dimana perpindahan panas terjadi dan perbedaan suhu
antara permukaan dengan fluida. Kecepatan perpindahan kalor untuk bagian permukaan
diferensial dinyatakan sebagai berikut
( )dA T T h dQ
f s x
= (1.1)
dimana, h
x
adalah koefisien perpindahan panas lokal, T
s
adalah suhu permukaan dan T
f

adalah suhu fluida rata-rata.
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
3

y
T
s

T
f
Film temperature gradient
Actual temperature
gradient
Tahanan perpindahan panas terjadi pada film fluida setebal y yang terletak
berdekatan dengan permukaan diilustrasikan sebagai berikut.






Gambar 1.1 Ilustrasi tahanan perpindahan panas
Dari gambar diatas, dapat diasumsikan bahwa proses perpindahan melalui film terjadi
oleh konduksi, maka persamaan (1.1) menjadi
dA
y
T
k dQ
|
|
.
|

\
| A
= (1.2)
dengan T = T
s
T
f
, k adalah konduktivitas panas fluida dan T adalah driving force
suhu. Jika persamaan (1.1) dan (1.2) dibandingkan maka
y
k
hx =
Hal ini menunjukkan bahwa bila nilai y diketahui perpindahan panas bisa dianggap
sebagai masalah konduksi.
Di sini sering dianggap istilah film adalah konsep yang fiktif walaupun istilah
koefisien film sebenarnya masih sering dipakai. Definisi koefisien heat transfer akan
menjadi lebih berarti bila kita mengintegrasikan persamaan (1.1) pada luas permukaan
tertentu, yaitu
lm
A
x
T A h dA T h Q A = A =
}}
. . (1.3)
dimana, h adalah koefisien perpindahan panas rata-rata dan T
lm
adalah driving force
rata- rata yang didefinisikan sebagai,

) / ln(
2 1
2 1
T T
T T
T
lm
A A
A A
= A (1.4)
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
4

dimana T
1
T
2
ditinjau.

Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh
Diasumsikan perpindahan panas terjadi antara dua fluida seperti dalam tubular heat
exchanger, maka dapat digambarkan sebagai berikut





Gambar 1.2 Ilustrasi perpindahan panas menyeluruh dalam tubular heat exchanger

dimana T
fh
adalah suhu badan fluida panas dan T
fc
adalah suhu badan fluida dingin
(bulk temperature), sedangkan T
b
adalah suhu permukaan dinding luar dan T
v
adalah
suhu permukaan dinding dalam. Pada hal ini diasumsikan T
b
= T
v
. Untuk luas
permukaan A, perpindahan panas dapat ditulis :
) ( ) (
fc s c s fh h
T T A h T T A h Q = = (1.5)
atau bisa juga memakai persamaan konveksi langsung terhadap fluida panas atau
dingin, yaitu
) (
fc fh
T T UA Q = (1.6)
dimana U adalah koefisien perpindahan panas keseluruhan. Kita dapat memperoleh
hubungan antara U, h
h
, h
c
dengan menuliskan kembali persamaan sebelumnya
A h
Q
T T
h
s fh
= (1.7)
A h
Q
T T
c
fc s
= (1.8)
Jika persamaan di atas dibandingkan maka didapat hubungan
w
w
c h
k
y
h h
U
+ +
=
1 1
1
(1.9)
T

Fluida
panas
T
f
Fluida
dingin
Din
ding
y
c
y
w
y
h
T
s
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
5

dimana y
w
/k
w
adalah tahanan tube untuk keadaan dimana terdapat gradien panas
sepanjang dinding. Perlu diketahui bahwa persamaan diatas berlaku untuk dinding datar
atau tube berdinding tipis dimana luas permukaan dalam dan luar hanya berbeda
sedikit.

1.2.3 Jenis Aliran pada Konveksi
a) Aliran Viskos
Pada fluida yang mengalir di atas plat rata (gambar 1.3), gaya-gaya viskos biasa
diterangkan dengan tegangan geser (shear stress) antara lapisan-lapisan fluida yang
sebanding dengan gradien kecepatan normal, sehingga didapatkan persamaan dasar
untuk viskositas dinamik ()
dy
du
t =
(1.10)

Gambar 1.3 Bagan daerah aliran lapisan-batas di atas plat rata (Sumber: Cengel, 2002)
Daerah aliran yang terbentuk dari tepi depan plat tersebut, dimana terlihat pengaruh
viskositas, disebut lapisan batas (boundary layer). Pada awalnya, lapisan batas yang
terbentuk adalah laminar, tetapi pada suatu jarak kritis dari tepi depan, bergantung pada
medan aliran dan sifat-sifat fluida, gangguan-gangguan kecil pada aliran tersebut
membesar dan mulailah terjadi proses transisi hingga aliran menjadi turbulen. Transisi
dari aliran laminar menjadi turbulen terjadi apabila Re > 5x10
5
. Nilai Re bergantung
pada kekasaran pipa dan kehalusan pipa.


[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
6

b) Aliran Invisid
Walaupun sesungguhnya tak ada fluida yang tak punya daya lengket atau
invisid, tapi dalam beberapa hal fluida dapat diperlakukan seolah-olah demikian. Dalam
hal plat rata, aliran pada jarak yang cukup jauh dari plat itu akan mempunyai tingkah
laku seperti suatu aliran non-viskos, hal ini dikarenakan gradien kecepatan yang tegak
lurus terhadap arah aliran sangat kecil, dan karena itu gaya geser viskos akan kecil pula.
Jika dibuat neraca gaya pada suatu fluida tak mampu mampat, persamaan Bernoulli
untuk aliran sepanjang garis arus ialah:
= +
c
g
V p
2
2
1

konstan atau
0 = +
c
g
VdV dp

(1.11)
Untuk fluida tak mampu mampat, persamaan energinya haruslah memperhitungkan
perubahan energi termal dalam sistem itu dan suhu yang berkaitan dengan itu.
Wk V
g
i Q V
g
i
c c
+ + = + +
2
2 2
2
1 1
2
1
2
1
(1.12)
dimana i ialah entalpi (i = e + pv), dengan e = energi dalam, Q = kalor yang
ditambahkan, Wk = kerja luar yang dilakukan dalam proses, dan v = volume spesifik
fluida. Untuk menghitung penurunan tekanan pada aliran mampu mampat, persamaan
keadaan fluida itu harus ditentukan, yaitu untuk gas ideal:
RT p =

T c e
v
A = A

T c i
p
A = A
(1.13)

1.2.4 Bilangan Tak Berdimensi
Bilangan tak berdimensi mempunyai peranan dalam menyelesaikan permasalahan
dalam perpindahan kalor konveksi. Kegunaan bilangan tak berdimensi, antara lain:
untuk menentukan apakah aliran suatu konveksi bebas pada kondisi film
(perbatasan antara benda padat dengan fluida) tersebut merupakan aliran
laminer atau tidak. Pentingnya penentuan laminer dan turbulen ini adalah untuk
menentukan pemakaian analisis pada proses konveksi tersebut.
untuk menyelesaikan berbagai permasalahan pada kasus konveksi, misalnya
pada suatu aliran perpindahan kalor pada bangunan/geometri tertentu atau
keterlibatan viskositas, densitas dan karakteristik termal yang dimiliki oleh
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
7

bidang tersebut, bilangan tak berdimensi akan menunjukkan perbedaan
perpindahan kalor pada koordinat tertentu dalam bidang tersebut, sehingga dapat
diketahui nilai kalor yang masuk atau lepas serta suhu yang terdapat pada
koordinat tersebut.
untuk memberikan batasan-batasan perhitungan yang diperoleh untuk
dicocokkan dengan nilai yang harus dimasukkan ke dalam perhitungan.
Bilangan-bilangan tak berdimensi yang terdapat dalam perpindahan kalor
konveksi, adalah:
1. Bilangan Reynold (Re)
Bilangan Reynold digunakan untuk menentukan jenis aliran fluida dalam pipa atau
tabung tergolong laminer (Re < 2000), transisi (2000 < Re < 4000) atau turbulen
(Re>4000). Bilangan Reynold dapat dinyatakan dalam bentuk:

Gd x u D u
v
x u
= == = =

Re
(1.14)
2. Bilangan Nusselt (Nu
x
)
Bilangan Nusselt menyatakan nilai perbandingan kalor konveksi dengan konduksi.
k
L h
Nu
x
x
=
(1.15)
dimana L = dimensi karakteristik benda, yaitu panjang untuk plat; diameter luar
untuk silinder; jari-jari luar untuk bola; dan L untuk balok [1/L = (1/L
v
) + (1/L
h
)].
3. Bilangan Prandtl (Pr)
Bilangan Prandtl merupakan parameter yang menghubungkan ketebalan relatif
antara lapisan batas hidrodinamik dan lapisan batas termal serta penghubung antara
medan kecepatan dengan medan suhu.
k
c
c k
p
p


o
= = =
/
/ v
Pr (1.16)
4. Bilangan Grashof (Gr)
Bilangan Grashof digunakan untuk menghubungkan data konveksi alami.
2
3
2
3 2
) ( ) (
v
x T T g L T g
Gr
w

=
A
=
|

|
(1.17)
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
8

5. Bilangan Graetz (Gz)
Bilangan Graetz digunakan pada perhitungan konveksi gabungan (konveksi bebas
dan konveksi paksa) pada tabung horizontal.
Pr Re
4
Pr Re = =
x
D
L
D
Gz
t
(1.18)
6. Bilangan Rayleigh (Ra)
Bilangan Rayleigh digunakan untuk menentukan transisi laminer ke turbulen dari
suatu aliran lapisan batas konveksi alami.
( )
3
Pr L T T
v
g
Gr Ra
s
= =
o
|
(1.19)

1.2.5 Aliran dalam Pipa pada Konveksi Alami
Karena pada konveksi bebas laju perpindahan panasnya terutama ditentukan
oleh gerakan natural fluida maka kecepatannya lebih banyak ditentukan oleh
kesetimbangan antara gaya apung dan gaya viskos, sedangkan gaya inersia relatif tidak
penting.

Gambar 1.4 Ilustrasi aliran dalam pipa pada konveksi alami
Jika kita melihat kesetimbangan momentum elemen fluida pada shell dimana
transfer panas muncul dari permukaan ke fluida, jumlah gaya tekan adalah
r z
x
P
r A A
c
c
= t 2
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
9

Jumlah gaya viskos adalah z r
r
u
r
g r
c
A A
|
|
.
|

\
|
c
c
c
c
=

t 2
Untuk aliran laminar dan gravitasi (body force) diberikan oleh z r
g
g
r
c
A A t 2
Dengan mengaplikasikan hukum kedua Newton (laju perubahan momentum sebanding
dengan gaya yang ada ), maka
( ) ) , , (
1
2
2
x
u
u f g
r
u
r r
u
c
c
c
= +
|
|
.
|

\
|
c
c
+
c
c
(1.20)
dimana pada sisi kanan persamaan diatas menunjukkan gaya inersia secara fungsional,
dan gradien tekanan dan gaya gravitasi dikombinasikan sebagai efek apung.
Memperkenalkan koefisien ekspansi termal, B, dan mengasumsikan bahwa = (t)
(valid untuk fluida incompressible), maka
( ) ) , , (
1
2
2
x
u
u f T T g
r
u
r r
u
c
c
c
= +
|
|
.
|

\
|
c
c
+
c
c
| (1.21)
Untuk aliran laminar kita asumsikan profil kecepatan parabola, ) / 1 (
2 2
1
R r u c u = ,
dimana
2 '
1
/ R r u c
r
u
=
c
c
dan
2 '
1
2
2
/ R u c
r
u
=
c
c
subsitusikan ke persamaan diatas maka
) , (
2
'
1
u f
t g
R
u
c

|
=
A
+ Dengan menggabungkan propertis fluida dan kesetimbangan
energi yang berhubungan, dan mengatur hasilnya dalam bentuk fungsional tak
berdimensi, maka
(

|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
| A
=
D
L
k
Cp TR g
hD , ,
2
3 2

|
u (1.22)
atau
|
.
|

\
|
=
D
L
Gr Nu Pr, , u (1.23)
dimana, Gr (Grashoff Number) adalah rasio gaya apung terhadap gaya viskos,
dirumuskan
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
10

2
3 2

| TR g
Gr
A
=
Catatan: untuk persamaan diatas bahwa gaya apung terutama mempengaruhi gaya alir,
bilangan Reynold menjadi tidak penting karena parameter modulus Grashoff
menjukkan kecepatan fluida seluruhnya.
Untuk perpindahan panas konveksi bebas laminer pada pipa vertikal ditunjukkan
oleh ,
( )
(
(

(
(

|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
=
4 / 3
Pr
16 exp 1
32
Pr
DGr
L
L
D Gr
Nu (1.24)
properti fluida dievaluasi pada T
w
, suhu dinding rata-rata , | = 1/T
f
, dimana T
f
adalah
suhu bulk rata-rata fluida , dan AT pada modulus Grashof dengan hubungan T
w
T
f
.
Karena persamaan ini cukup sulit maka ditampilkan dalam bentuk grafik sebagai Nu vs
(Gr.Pr)(r/L).
1.2.6 Aliran dalam Pipa pada Konveksi Paksa
Fluida masuk dengan laju tertentu dan suhu tertentu (bulk temperature) masuk
ke dalam pipa/tabung yang dindingnya juga mempunyai suhu tertentu yang dijaga
konstan (wall temperature). Fluida dapat melaju dengan aliran laminar atau turbulen
baik terkembang penuh atau tidak terkembang penuh. Suhu fluida biasanya akan
berubah seiring mengalir dalam pipa, karena ada proses pertukaran kalor entah itu
menerima atau memberikan kalor, sehingga pada saat keluar dari pipa/tabung suhu
fluida sudah tidak sama lagi seperti suhu mula-mula.
Jika kita membayangkan bahwa fluida mengalir pada pipa yang diilustrasikan
dibawah dalam keadaan steady
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
11


Gambar 1.5 Ilustrasi aliran dalam pipa pada konveksi paksa
Dengan memfokuskan perhatian pada elemen differensial, maka energi yang dibawa
masuk oleh fluida melalui x ,
T R Cp u Q
x
2
t = (1.25)
fluida yang keluar pada x + x memindahkan energi sebesar,
( )
2
R x CpT u
dx
d
CpT u Q
x x
t
(

A + =
A +
(1.26)
Total kalor yang mengalir kedalam elemen dari dinding tube adalah
y
T
k x R T h x R Q
x w
A
A = A A = t t 2 2 (1.27)
Berdasarkan energi balance didapat hubungan
}
A
= dT
T L
Cp u R
h
T
2

(1.28)
dimana h adalah koefisien rata-rata dan integrasi sepanjang L, dari pipa. Dan
analisis dari persamaan diatas dengan memakai popertis fluida viskositas dan
konduktivitas termal, menjadi bentuk tak berdimensi adalah
T
dT
L
R
k
Cp u R
k
Rh
T
A
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
= |
.
|

\
|
}
4
2 2 2

(1.29)
Jadi dengan memakai analisis dimensi maka bentuk fungsi untuk konveksi paksa
adalah:
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
12

(

|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
D
L
k
Cp u D
f
k
hD
, ,

(1.30)
atau Nu = f ( Re,Pr,L/D), dimana Nu = hD/k , Nu adalah rasio panas konduksi
dengan panas konveksi atau gradien suhu, Re (Reynold number) adalah rasio antara
gaya inersia dan gaya viskos fluida, sedangkan Pr (Prandtl number) adalah rasio
antara momentum dan difusi termal, keduanya dirumuskan
k
Cp u D

= = Pr Re
Jadi berdasarkan formulasi diatas maka akan didapat ringkasan korelasi yang
mengevaluasi koefisien heat transfer pada fluida yang mengalir dalam tube pada
setiap jenis aliran:
Laminer
14 . 0
3 / 1
] / Pr [Re 86 . 1
|
|
.
|

\
|
=
w
L D Nu


Properti fluida dievaluasi pada suhu bulk rata-rata;
w
menunjukkan viskositas
fluida yang dievaluasi pada suhu dinding rata-rata
Transisi
14 . 0
3 / 1 8 . 0
Pr Re 023 . 0
|
|
.
|

\
|
=
w
Nu


Properti fluida dievaluasi pada suhu bulk rata-rata
Turbulen
14 . 0
3 / 1 8 . 0
Pr Re 026 . 0
|
|
.
|

\
|
=
w
Nu


Properti fluida dievaluasi pada kondisi yang sama seperti aliran Laminer
Tabel 1.1 Hubungan empiris pada aliran di dalam pipa
No Jenis Aliran Persamaan Empiris
Re > 2000
0.7 < Pr < 120
Re > 20000
0.6 < Pr < 100
L/D >10
Re < 2100
Re.Pr.D/L > 10
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
13

1. Aliran turbulen yang sudah jadi atau
berkembang penuh dalam tabung licin
[Dittus dan Boelter] atau aliran turbulen
yang tidak berkembang sepenuhnya di
dalam tabung licin (Pr: 0.6-100) dan beda-
suhu moderat antara dinding dan fluida.
n
d d
Nu Pr Re 023 . 0
8 . 0
=




2. Aliran dengan berbagai variasi sifat (mis:
viskositas, suhu) [Sieder dan Tate]
14 . 0
3 / 1 8 . 0
Pr Re 027 . 0
|
|
.
|

\
|
=
w
d d
Nu


3. Aliran pada bagian pintu-masuk, di mana
aliran belum berkembang [Nusselt]
055 . 0
3 / 1 8 . 0
Pr Re 036 . 0 |
.
|

\
|
=
L
d
Nu
d d

untuk 10 < d/L < 400
4. Aliran yang sepenuhnya turbulen dalam
tabung licin [Petukhov]

n
w
d
d
f
f
Nu
|
|
.
|

\
|
+
=

) 1 (Pr ) 8 / ( 7 . 12 07 . 1
Pr Re ) 8 / (
3 / 2 2 / 1

n = 0.11 (T
w
> T
b
) dan n = 0.25 (T
w
< T
b
)
n = 0 untuk fluks-kalor tetap dan untuk
gas
2
10
) 64 . 1 Re log 82 . 1 (

=
d
f
dengan rentang :
40 0 10 5 Re 10
2000 Pr 200 200 Pr 5 . 0
6 4
< < < <
< < <
w b d


5. Aliran laminar yang berkembang penuh,
dalam tabung, pada T tetap [Hausen]
| |
3 / 2
Pr Re ) / ( 04 . 0 1
Pr Re ) / ( 0668 . 0
66 . 3
d
d
d
L d
L d
Nu
+
+ =

6. Untuk perpindahan kalor aliran laminar
dalam tabung [Sieder dan Tate]
14 . 0
3 / 1
3 / 1
Pr) (Re 86 . 1
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
w
d d
L
d
Nu


BAB II
PERCOBAAN
2.1 DESKRIPSI ALAT
Dalam praktikum ini digunakan alat sistem konveksi model 9054 yang dirancang
oleh Scott. Adapun bagian-bagian utama sistem konveksi ini adalah sebagai berikut.
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
14



Gambar 2.1 (kiri) Unit konveksi 9054 dan (kanan) flowchart dari unit konversi 9054
a) Constant Head Level Tanktabung gelas (6OD x 5
5
/
8
tinggi) yang terpasang
pada pelat kuningan atas dan bawah. Pada pelat bawah terhubung pipa-pipa water
feed, weir over flow drain dan water inlet. Weir overflow drain dapat diatur secara
vertikal pada range (batas jelajah) 3 3/16 yang diatur secara vertikal melalui
packing gland yang terletak pada bagian tengah pipa. Penunjuk nol pada skala
kalibrasi menunjukkan syarat minimum untuk memulai pengaliran air secara
gravitasi melalui alat.
b) Test chamber-steam chest berupa pipa gelas (5OD x 36 tinggi yang melingkupi
kondensor tembaga tipe L, 1/2 nominal (0,625OD x 0,04 tebal). Bagian
pengujian terletak pada pipa kondensor tembaga, yang panjangnya 24, dikelilingi
oleh silinder logam yang berfungsi untuk mengeliminasi panas radiasi antara
dinding pipa gelas dan pipa tembaga.
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
15

c) Condensate receiverbeaker glass yang terletak di atas penyangga kayu.
Kondensat yang terbentuk dan bergerak ke bagian bawah pipa kondensor akan
terkumpul pada dasar pipa kondensor dan mengalir ke dalam condensate receiver.
d) Uap air/Steam diumpankan ke steam chest pada kecepatan konstan dengan
mengatur (throttling) steam inlet valve, uap air dihasilkan dari Scott Phase Heat
Boiler, Model 9058. Uap air yang masuk dari bagian bawah dikeluarkan ke dalam
steam chest melalui pipa U dan potongan stainless steel. Packing material ini
mendistribusikan uap yang naik dan bertindak sebagai demister dengan
memindahkan kondensat dari uap yang masuk . Termometer dan penunjuk tekanan
terpasang pada pipa steam inlet. Stopcock vent (pipa pembebas tekanan) dan liquid
seal terletak pada bagian atas steam chest. Hal ini memungkinkan steam chest untuk
dioperasikan pada batas jelajah dari tekanan atmosfer (stopcock vent terbuka)
sampai sekitar 10 tekanan air.
e) Perpipaan, valve, dan drain secara detail ditunjukkan pada gambar 2.1. Pada pipa-
pipa water inlet dan steam inlet terdapat metering valve untuk mengontrol aliran-
aliran fluida tersebut. Seluruh pipa-pipa mempunyai hubungan dengan drain pada
lokasi-lokasi yang memudahkan operasi. Di samping itu, pipa-pipa water feed dan
water discharge mempunyai drain yang sama untuk memudahkan recycle air ke
pipa water feed. Dasar dari steam chest juga mempunyai condensate drain.
2.2 PETUNJUK PENGOPERASIAN
2.2.1 Hubungan-hubungan proses
1. Menghubungkan pipa steam inlet ke peralatan melalui suatu tee seperti
ditunjukkan pada gambar
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
16


Kondensat terkumpul dalam pipa drain di bawah tee dan bisa dipindahkan secara
periodik dari sistem melalui discharge valve. Bila pipa sumber uap air
dihubungkan langsung ke sistem melalui kopling yang ada, kondensat akan
mengumpul dalam pipa yang akan menyebabkan fluktuasi tekanan dan pengaliran
sebagian kondensat ke dalam steam chest, yang merupakan keadaan yang tidak
diinginkan.
2. Menghubungkan pipa sumber air ke pipa water feed melalui selang air yang
lemas.
3. Menghubungkan pipa-pipa water overflow discharge dan condensate discharge
ke got pembuangan di lantai laboratorium. Selang yang lemas diperlukan untuk
memadai tujuan ini.
2.2.2 Aliran air
1. Valve
- Menutup water matering valve W-1 dan water discharge bypass valve W-4.
- Membuka penuh weir overflow valve W-2 dan water discharge valve W-3.
- Menutup Stopcock S-1 dan S-2.
2. Mengatur ketinggian weir overflowcup di constant head feed tank dengan
menggerakkan pointer ke titik setting pada skala kalibrasi.
3. Membuka W-1 dan membiarkan constant head feed tank terisi dengan cepat.
Mengatur metering valve ketika ketinggian air naik mendekati titik overflow
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
17

sedemikian sehingga terdapat cukup input untuk mempertahankan suatu head
yang konstan.

2.2.3 Aliran uap air
1. Mengisi sealpot pada steam chest dengan air melalui pipa kapiler plastik sehingga
air terlihat overflow ke dalam chest.
2. Valve-valve (steam metering valve V-1 tertutup)
- Membuka stopcock vent S-4
- Menetapkan three-way stopcock S-3 dalam posisi terbuka A-C (B tertutup)
untuk mengeluarkan kondensat dari steam chest yang terbentuk selama
pemanasan.
- Menutup drain valve V-2.
3. Memulai pengaliran uap air dari sumbernya dan ketika pressure gauge P-1
menunjukkan suatu tekanan, V-1 dibuka perlahan-lahan untuk mengalirkan uap
air ke dalam steam chest. Mengatur V-1 dan valve sumber uap air sedemikian
sehingga P-2 tidak melebihi sekitar 20-30 psig. Dengan S-3 dan S-4 dalam
keadaan terbuka, steam chest seharusnya tetap pada tekanan atmosfer.
4. Selama periode pemanasan ini, kondensat yang terbentuk pada dinding gelas
steam chest akan mengganggu penglihatan ke bagian dalam test chamber. Setelah
sekitar 10-15 menit pemanasan, setelah sistem mendekati keadaan mantap (steady
state), dinding gelas mulai terlihat terang dan test chamber mulai terlihat kembali.
5. Selama periode ini kalau uap air muncul pada pipa discharge dari S-3, maka valve
ini diatur sampai B-C terbuka (A tertutup). Valve V-2 dibuka sebentar-sebentar
dan kondensat yang terkumpul di sana dibuang.
2.2.4 Pengaturan tekanan steam chest
1. Menutuo stopcock vent S-4, posisi A pada S-3 seharusnya tertutup.
2. Menambah aliran uap air ke sistem dengan membuka V-1 perlahan-lahan.
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
18

3. Mengamati kenaikan ketinggian cairan pada pipa kapiler yang memanjang dari
seal pot. Mengatur V-1 sampai ketinggian cairan yang diinginkan tercapai.
4. Jika ketinggian cairan berisolasi sampai lebih kurang inch, kondensat yang
terakumulasi dari V-2 dan kondensat discharge valve dibuang. Memonitor
temperatur sisi uap air hingga tidak berubah dengan waktu (steady state).
2.2.5 Pengumpulan kondensat
1. Membuka hati-hati vent S-4 pada steam chest.
2. Menutup valve pada sumber uap air dan membiarkan tekanan pada pipa steam
feed berkurang hingga 0.
3. Membuka drain valve S-3 (A-B-C terbuka) dan V-2.
4. Menutup water feed valve pada sumber air dan matering valve W-1.
5. Membuka stopcock S-1 dan S-2 untuk membuang air dari sistem.
6. Membuka W-4 untuk membuang air dari pipa bypass. W-3 terbuka selama
operasi.
7. Membuka V-1 dan condensate discharge valve (lihat gambar)
8. Sistem sekarang seharusnya dalam keadaan terbuka dan air dari sistem terbuang
semuanya
2.2.6 Safety
Dalam mengoperasikan alat-alat Scott, segi keamanan yang harus diperhatikan:
1. Tidak diperbolehkan bekerja sendiri dalam menangani alat
2. Menghubungkan steam inlet dan water inlet ke utilitas bertekanan rendah. Alat
Scott telah diuji secara hidrostatik pada 60 psig dan 300
o
F, dan tekanan kerja
yang diperbolehkan tidak boleh melebihi 35 psig baik pada uap air maupun air.
3. Sebelum mengoperasikan alat, mengenali alat dulu: telusuri seluruh pipa-pipa,
ujilah seluruh valve-valve, tetapkan drain valve dalam keadaan terbuka dan
proses input valve dalam keadaan tertutup.
4. Ketika pertama mengeluarkan uap air ke system, membuka metering valve hati-
hati dan memeriksa apakah terdapat kebocoran.
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
19

5. Memastikan bahwa steam chest terventilasi (stopcock vent terbuka) dan
memeriksa seal pot untuk meyakinkan bahwa bagian itu tidak buntu sebelum
menutup stopcock vent setelah uap air terdapat di dalam steam chest.
6. Harus disadari bahwa steam mengalir dalam pipa cepat sekali dan memanasi
pipa dengan cepat pula. Ketika mengatur aliran uap air sebaiknya meletakkan
kain di atas valve wheel sebelum tangan menyentuhnya.
7. Terakhir, menjaga kebersihan laboratorium.
2.3 PROSEDUR PERCOBAAN
2.3.1 Kalibrasi Sistem Water Feed
1. Mengatur bukaan valve pada bukaan.
2. Menghitung volume air yang keluar melalui pipa keluaran konveksi selama 10
detik.
3. Langkah (2) dilakukan triplo.
4. Mengulangi kalibrasi (langkah 1 hingga 4) untuk bukaan valve sebesar dan 1
bukaan.
2.3.2 Konveksi paksa
1. Menyalakan pembangkit steam.
2. Menutup keran W-1.
3. Mengatur weir setting menjadi nol.
4. Membuka penuh keran W-2.
5. Menutup keran W-2 perlahan-lahan hingga aliran air melalui pipa konveksi tepat
akan keluar.
6. Membuka keran W-1 pada bukaan sehingga feed tank terisi air.
7. Menutup W-2 perlahan-lahan hingga aliran air melalui pipa konveksi tepat akan
keluar.
8. Mengalirkan steam dengan membuka keran V-1.
9. Mengukur suhu keluaran tube dengan termometer (dipastikan agar suhu yang
diambil adalah suhu yang telah mencapai kesetimbangan-tidak meningkat lagi).
10. Mengukur suhu keluaran konveksi dari selang buangan dengan termometer.
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
20

11. Mengukur suhu steam pada bacaan termokopel.
12. Mengukur temperature kondensat dengan thermometer. Untuk memudahkan
langkah ini, valve W-2 dapat ditutup sementara (namun harus dipastikan valve ini
segera dibuka kembali)
13. Mengulangi langkah 9 hingga 12 duplo.
14. Mengulangi langkah 6 hingga 13 untuk bukaan valve dan 1.
2.3.3 Konveksi bebas
1. Menyalakan pembangkit steam.
2. Menutup keran W-1.
3. Mengatur weir setting menjadi bukaan.
4. Membuka penuh keran W-2.
5. Menutup keran W-2 perlahan-lahan hingga aliran air melalui pipa konveksi tepat
akan keluar.
6. Membuka keran W-1 pada bukaan sehingga feed tank terisi air.
7. Menutup W-2 perlahan-lahan hingga aliran air melalui pipa konveksi tepat akan
keluar.
8. Mengalirkan steam dengan membuka keran V-1.
9. Mengukur suhu keluaran tube dengan termometer (dipastikan agar suhu yang
diambil adalah suhu yang telah mencapai kesetimbangan-tidak meningkat lagi).
10. Mengukur suhu keluaran konveksi dari selang buangan dengan termometer.
11. Mengukur suhu steam pada bacaan termokopel.
12. Mengukur temperature kondensat dengan thermometer. Untuk memudahkan
langkah ini, valve W-2 dapat ditutup sementara (namun harus dipastikan valve ini
segera dibuka kembali)
13. Mengulangi langkah 9 hingga 12 duplo.
14. Mengulangi langkah 6 hingga 13 untuk bukaan valve dan 1.
15. Mengulangi langkah 3 hingga 14 untuk bukaan weir dan 1.

[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
21

BAB III
PENGOLAHAN DATA
3.1 Data Percobaan
3.1.1 Percobaan Kalibrasi Sistem Water Feed
Bukaan valve Q (ml/s)








1



3.1.2 Percobaan Konveksi Paksa
Bukaan valve T kondensat (
o
C)
T out dari tube
(
o
C)
T out selang (
o
C) T steam (
o
C)






1


Keterangan:
Ketinggian weir = 0
T air = 25
o
C
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
22

Volume kondensat = 25 ml
3.1.3 Percobaan Konveksi Bebas
Weir Bukaan
valve
T kondensat
(
o
C)
T out tube
(
o
C)
T out selang
(
o
C)
T steam (
o
C)




















1














[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
23

BAB III
PENGOLAHAN DATA
3.1. Percobaan I: Kalibrasi Pengumpanan Air
M = V/t
Tabel 3.1 Data Percobaan Kalibrasi Pengumpanan Air
Berdasarkan data percobaan, kita dapat membuat hubungan antara bukaan valve dengan
volume fluida yang mengalir selama selang waktu tertentu dengan menggunakan
regresi linear. Caranya adalah memplot grafik hubungan antara v terhadap bukaan valve
sehingga akan didapat hubungan linearnya.
Bukaan Valve V (mL) V (m
3
) t (s) V avg M (m
3
/s)
0.25


0.50


1.00




Gambar 3.1 Grafik Hubungan Bukaan Valve dengan Volume
y = 0.0015x + 0.0002
R = 0.9573
0.000000
0.000500
0.001000
0.001500
0.002000
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
V
o
l
u
m
e

(
m
3
)

Bukaan Valve
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
24



Gambar 3.2 Grafik Hubungan Bukaan Valve dengan Laju Alir

3.2 Percobaan II: Konveksi Alami
Berdasarkan data percobaan, didapatkan data suhu hasil percobaan sebagai berikut
Tabel 3.2 Data Percobaan Konveksi Bebas
Weir
Bukaan
Valve
T
1
(
o
C) T
2
(
o
C) T
3
(
o
C) T
4
(
o
C) T
5
(
o
C) V
kondensat
(ml)
0.25
0.25
25
25
0.5
25
25
1
25
25
0.5
0.25
25
25
0.5
25
25
y = 0.0002x + 2E-05
R = 0.9532
0
0.00002
0.00004
0.00006
0.00008
0.0001
0.00012
0.00014
0.00016
0.00018
0.0002
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20
L
a
j
u

A
l
i
r

(
m
3
/
s
)

Bukaan Valve
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
25

1
25
25
1
0.25
25
25
0.5
25
25
1
25
25

Keterangan:
T
1
: temperature in air
T
2
: temperature in steam
T
3
: temperature out air (air yang keluar melalui selang)
T
4
: temperature out steam (temperature kondensat)
T
5
: temperature out air dari tube
Kemudian dari data percobaan, dapat dihitung parameter-parameter yang membantu
dalam melakukan penghitungan konveksi bebas yang juga digunakan dalam persamaan-
persamaan konveksi bebas. Diantaranya adalah bilangan Prandtl, Grashoft, dan Nusselt.
Bilangan Prandtl dan Grashof dihitung terlebih dahulu karena untuk mencari bilangan
Nusselt dibutuhkan data kedua bilangan tersebut. Kemudian bilangan Nusselt yang
didapatkan akan dibandingkan dengan literature. Bilangan tersebut berguna dalam
penentuan koefisien perpindahan kalor.
1. Menentukan suhu film T
f
,
2
fi fo
f
T T
T
+
=
(3.1)

disini nilai T
f0
dan T
ft
merupakan temperatur masukan dan keluaran air (T
1
dan T
3
)
2. Menentukan T
w
,
2
wi wo
w
T T
T
+
=
(3.2)

[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
26

disini nilai T
w0
dan T
wt
merupakan temperatur masukan dan keluaran steam (T
2
dan
T
4
)
3. Menentukan suhu limbak
2
f w
bulk
T T
T
+
=
(3.3)

4. Menentukan nilai densitas (), viskositas (), konduktivitas termal (k), dan kapasitas
kalor (C
p
) pada suhu limbak
Penentuan densitas dan viskositas, k, dan C
p
dilakukan dengan cara interpolasi data
densitas dan suhu yang terdapat pada Tabel Appendix-9 (Holman, 1986).

5. Menentukan nilai Nusselt percobaan
Untuk menentukan nilai Nusselt percobaan, dapat digunakan persamaan,
k
hD
Nu =
(3.4)

h merupakan koefisien perpindahan panas, yang dapat dihitung menggunakan
persamaan
) (
) (
f w
fi fo
T T DL
T T Mcp
h

=
t
(3.5)

dimana M menyatakan debit pada setiap bukaan yang nilainya telah dihitung pada
percobaan I (kalibrasi).
6. Menentukan nilai Nusselt literatur
Penentuan Nusselt literatur dapat menggunakan persamaan berikut.
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|

\
|
=
4 / 3
Pr
16 exp 1
32
Pr
DGr
L
L
D Gr
Nu
lit
(3.6)

Persamaan di atas menunjukkan bahwa untuk menentukan Nusselt, harus diketahui
dahulu nilai dari bilangan tak berdimensi lainnya, yaitu Grashoft (Gr) dan Prandtl
(Pr).
k
c
v
p

o
= = Pr
(3.7)

[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
27

k
D Tc g
v
TD g
Gr
p
D

|
|
3 2
2
3
A
=
A
=
(3.8)

di mana T dinyatakan dalam T = (T
w
- T
f
)
f
T
1
= |
(3.9)
Berikut adalah tabulasi perhitungannya.
Penentuan Nusselt Percobaan
Bukaan Weir
M
(m
3
/s)
T
f

(K)
T
w

(K)
T
bulk

(K)
c
p
k Pr h Nu
0.25
0.25
0.5
1
0.5
0.25
0.5
1
1
0.25
0.5
1


Penentuan Nusselt Literatur
Bukaan Weir T
bulk

(K)
c
p
k Pr Gr Nu
lit
Nu %
error
0.25


[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010 29

0.5


1


[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
30

Data hasil penghitungan diatas kemudian digunakan untuk pemrosesan data menggunakan grafik
untuk mengetahui hubungan antara ketinggian weir dengan koefisien perpindahan panas

Gambar 3.3 Hubungan Tinggi Weir terhadap Koefisien Perpindahan Kalor (h) terhandap waktu

3.3 Percobaan III: Konveksi Paksa
Data yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Bukaan Valve t
air masuk
(t
1
)
t
steam

(
o
C)
(t
2
)
t
s
(
o
C)
(t
3
)
t
k
(
o
C)
(t
4
)
t
kt
(
o
C)
(t
5
)
V
kondensat
(mL)
0.25
25 25
25 25
0.5
25 25
25 25
1
25 25
25 25

Hasil perhitungannya dapat ditunjukkan pada matrix di bawah ini:


0
10
20
30
40
50
60
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
h

weir
bukaan valve 0.25 bukaan valve 0.5 bukaan valve 1
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
31

Bukaan Valve
t
air masuk
(t
1
)
tsteam
(
o
C)
(t
2
)
t
s
(
o
C)
(t
3
)
t
k

(
o
C)
(t
4
)
t
kt
(
o
C)
(t
5
)
V
kondensat
(mL)
0.25
25 82 45 47 44 25
25 87 45 65 45 25
0.5
25 88 36 57 36 25
25 88 38 66 41 25
1
25 88 34 70 50 25
25 88 32 60 37 25

Bukaan
Valve
M (m
3
/s) Cp k
0.25 0.0000455
0.0000455
0.5 0.00011077
0.00011077
1 0.00017
0.00017

Bukaan
Valve
Tf
(K)
Tw
(K)
Tbulk
(K)
Re h Pr Nu
0.25

0.5

1


Keterangan dalam matriks di atas dapat dijelaskan sebagai berikut
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
32

T
1
= air masuk
T
2
= steam masuk
T
3
= air keluar (T air selang)
T
4
= steam keluar (T kondensat)
T
5
= air keluar pipa (T air pipa)
T
f
: (T
1
+T
3
)/2
T
w
: (T
2
+T
4
)/2
T
bulk
: (T
f
+T
w
)/2,
Sifat-sifat fluida (air) seperti viskositas (), massa jenis (), k, C
p
, dan sebagainya akan
dievaluasi dari suhu bulk ini, dengan mencari pada referensi yang ada di buku
Re =

A
QD vD
= , dengan v = Q/A
=

* * 14 , 3
4
* * * 14 , 3 * 4 / 1 D
Q
D D
QD
=
(3.10)

dimana Q adalah laju alir feed yang telah diperoleh pada percobaan pertama untuk tiap
bukaan keran. Pada pengolahan data disimbolkan dengan M.
- Pr : bilangan Prandlt,
k
Cp
(3.11)

- h :
) ( * * * 14 , 3
) 1 3 (
Tf Tw L D
T T QCp

(3.12)

- Nu : bilangan Nusselt, hd/k
Nilai Re menunjukkan angka yang terletak pada kisaran > dari 2000, ini menunjukkan aliran
berada pada daerah transisi.
Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah menghitung konstanta pada aliran konveksi paksa
pada aliran transisi.
Nu = C.Re
A
Pr
B
(3.13)
Jika dibentuk dalam persamaan logaritma, maka persamaan di atas menjadi:
Log Nu = A log Re + B log Pr + log C,
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
33

dimana:
log Nu sebagai nilai y,
log Re sebagai nilai x1, kemudian
log Pr sebagai nilai x2
Sehingga didapat tabel berikut dengan masing2 bukaan:

Bukaan
Valve
Log Re
(x
1
)
Log Pr
(x
2
)
Log Nu
(y)
y*x
1

0.25 3.86256 0.53364 0.89468 3.45574
0.5 4.24999 0.53162 1.02217 4.34422
1 4.43517 0.53260 0.96163 4.26501
tot 12.49850 1.61700 2.87848 12.06498


y*x
2



x
1
2



x
2
2



x
1
x
2

0.47744 14.91941 0.28477 2.06122
0.54341 18.06239 0.28262 2.25938
0.51217 19.67075 0.28367 2.36219
1.53301 52.65255 0.85106 6.68279

Nilai A, B dan C dapat dicari dengan least square 2 variabel yaitu:
Log Nu = A log Re + B log Pr + log C
y = b1x
1
+ b2x
2
+ a
y = b1x
1
+ b2x
2
+ na
x
1
y = b1x
1
2
+ b2x
1
x
2
+ a x
1

x
2
y = b1x
1
x
2
+ b2x
2
2
+ ax
2

Perhitungan Konveksi Paksa dengan variasi Q dan weir Tetap
1. Bukaan valve
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
34

Dengan memasukkan nilai yang dihitung dari tabel di atas pada bukaan 0,25, maka akan
didapatkan persamaan-persamaan:
-0.04833= b1 3.86256+ b2. 0.53364 + a
-0.18669 = b1. 14.91941+ b2. 2.06122 + 3.86256a
-0.02579= b1. 2.06122+ b2. 0.28477 + 0.53364a
Sehingga diperoleh:
b1 = -0.22
b2 = -0.97
a = -1.34
Maka:
A : -0.22 ; B : -0.97 dan C : 10
1.34
= 21.87
Sehingga persamaan yang dihasilkan :
Nu =21.87Re
-0.22
Pr
0.97
dan Nu literatur : 0.023 Re
0,8
Pr
0,333

Besarnya kesalahan literatur adalah :
- A :
% 5 . 127 % 100
8 . 0
8 . 0 22 . 0
=

x

- B :
% 29 . 391 % 100
333 . 0
333 . 0 97 . 0
=

x

- C :
% 6467 % 100
023 . 0
023 . 0 87 . 21
=

x


2. Bukaan Valve
Dengan memasukkan nilai yang dihitung dari tabel di atas pada bukaan 0,5, maka akan
didapatkan persamaan-persamaan:
Log Nu = A log Re + B log Pr + log C
y = b1x
1
+ b2x
2
+ a
y = b1x
1
+ b2x
2
+ na
x
1
y = b1x
1
2
+ b2x
1
x
2
+ a x
1

x
2
y = b1x
1
x
2
+ b2x
2
2
+ ax
2

Sehingga akan diperoleh sistem persamaan :
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
35

0.00952 = b1. 4.24999 + b2. 0.53162 + a
0.04048 = b1. 18.06239 + b2. 2.25938 + 4.24999 a
0.00506 = b1. 2.25938 + b2. 0.28262+ 0.53162 a
Sehingga diperoleh :
b
1
= -0.84; b
2
= -4.2 dan a = 5.83
Maka :
A: -0.84 ; B : -4.2 dan C : 10
5.83
= 6.76x10
5

Sehingga persamaan yang dihasilkan :
Nu = 6.76x10
-6
Re
-0.84
Pr
-4.2
dan Nu literatur: 0.023 Re
0,8
Pr
0,333
Besarnya kesalahan literatur adalah :
- A :
% 205 % 100
8 . 0
8 . 0 84 . 0
=

x

- B :
% 26 . 1361 % 100
333 . 0
333 . 0 2 . 4
=

x

- C :
% 10 93 . 2 % 100
023 . 0
023 . 0 10 76 . 6
9
5
x x
x
=



3. Bukaan Valve 1
Dengan memasukkan nilai yang dihitung dari tabel di atas pada bukaan 1, maka akan
didapatkan persamaan-persamaan:
Log Nu = A log Re + B log Pr + log C
y = b1x
1
+ b2x
2
+ a
y = b1x
1
+ b2x
2
+ na
x
1
y = b1x
1
2
+ b2x
1
x
2
+ a x
1

x
2
y = b1x
1
x
2
+ b2x
2
2
+ ax
2

Sehingga akan diperoleh sistem persamaan :
-0.01699= b1. 4.43517 + b2. 0.53260 + a
-0.07535= b1. 19.67075 + b2. 2.36219 + 4.43517 a
-0.00905 = b1. 2.36219+ b2. 0.28367 + 0.53260 a
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
36

Sehingga diperoleh :
b
1
= -0.21 ; b
2
= 0.39 ; a = 0.72
Maka :
A : -0.21 ; B : 0.39 dan C : 10
0.72
= 5.24
Sehingga persamaan yang dihasilkan:
Nu = 5.24 Re
-0.21
Pr
-0.39
dan Nu literatur : 0.023 Re
0,8
Pr
0,333

Besarnya kesalahan literatur adalah:
- A :
% 25 . 126 % 100
8 . 0
8 . 0 21 . 0
=

x

- B :
% 11 . 17 % 100
333 . 0
333 . 0 39 . 0
=

x

- C :
% 10 2 . 2 % 100
023 . 0
023 . 0 24 . 5
4
x x =



Perhitungan Konveksi Paksa Keseluruhan
Dengan memasukkan nilai yang dihitung dari tabel di atas pada nilai tot, maka akan
didapatkan persamaan-persamaan:
Log Nu = A log Re + B log Pr + log C
y = b1x
1
+ b2x
2
+ a
y = b1x
1
+ b2x
2
+ na
x
1
y = b1x
1
2
+ b2x
1
x
2
+ a x
1

x
2
y = b1x
1
x
2
+ b2x
2
2
+ ax
2

Sehingga akan diperoleh sistem persamaan:
-0.05580 = b1. 12.49850 + b2. 1.617 + 3 a
-0.22157= b1. 52.65255 + b2. 6.68279 + 12.49850 a
-0.02978 = b1. 6.68279+ b2. 0.85106+ 1.617 a
Sehingga diperoleh:
b
1
= 0.014
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
37

b
2
= -0.051
a = -0.049
Maka :
A : 0.014
B : -0.051
C : 10
-0.049
= 0.89
Sehingga persamaan yang dihasilkan:
Nu = 0.89 Re
0.014
Pr
-0.051
dan Nu literatur : 0.023 Re
0,8
Pr
0,333

Besarnya kesalahan literatur adalah :
- A :
% 25 . 98 % 100 = x

- B :
% 21 . 115 % 100 = x

- C :
% 56 . 3769 % 100 =

x


Grafik:
Q b
1
b
2
a
0.25
0.5
1


[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
38


Gambar 3.4 Grafik. Bukaan Valve vs b1,b2, a












-6
-4
-2
0
2
4
6
8
0.00000 0.50000 1.00000 1.50000 2.00000 2.50000 3.00000 3.50000
b
1
,

b
2
,

a

Bukaan Valve
Bukaan Valve vs b1 Bukaan Valve vs b2 Bukaan valve vs a
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
39

BAB IV
ANALISIS
4. 1. Percobaan Kalibrasi Sistem Pengumpanan Air
Tujuan: Membuat metode untuk mengkalibrasi sistem pengumpanan air
Percobaan adalah percobaan kalibrasi sistem pengumpanan air. Percobaan dilakukan
dengan cara mengatur bukaan valve sampai kepada bukaan tertentu kemudian dilakukan
pengukuran terhadap volume air yang keluar dari selang tersebut dalam waktu 10 detik.
Kemudian dilakukan variasi besar bukaan valve untuk mencari fungsi bukaan valve terhadap laju
alir tersebut. Untuk setiap bukaan valve dilakukan pengambilan data nilai volume air sebanyak 3
kali. Pada percobaan ini bukaan valve divariasikan sebesar 0.25, 0.5, dan 1. Kemudian untuk
setiap valve dicari nilai rata-rata volume yang keluar melalui selang setelah dilakukan 3 kali
percobaan. Percobaan yang dilakukan sebanyak 3 kali tersebut berguna untuk mendapatkan
variasi data volume untuk setiap bukaan. Kemudian dari data volume dalam selang waktu
tersebut, dapat dicari nilai laju alir rata-rata untuk setiap bukaan valve dengan menggunakan
persamaan



Keterangan
M = laju alir rata-rata
V = Volume rata-rata
t = (s) (4.1)

Dari data yang diperoleh, akan didapatkan data hubungan antar bukaan valve terhadap
lajur alir yang mengalir melalui selang. Oleh karena itu dalam percobaan ini dapat diketahui
bahwa variabel bebasnya adalah bukaan valve sedangkan variable terikatnya adalah laju alir.
Hubungan tersebut dapat dibuat hubungannya secara linear dengan memasukkan data x adalah
bukaan valve sedangkan data y adalah laju alir yang mengalir melalui selang. Pemlotan data
tersebut ke dalam grafik akan menghasilkan hubungan sebagai berikut
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
40


Gambar 3.1 Grafik Hubungan Bukaan Valve dengan Volume

Gambar 3.2 Grafik Hubungan Bukaan Valve dengan Laju Alir

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin besar bukaan valve laju alir yang
mengalir juga akan semakin besar. Begitu juga sebaliknya. Nilai hubungan valve tersebut dapat
dibuat menjadi sebuah hubungan yang linear dengan persamaan y = mx + c. Dengan mengetahui
nilai gradient dan intercept dari persamaan tersebut, pada percobaan selanjutnya praktikan dapat
mengukur besar laju alir hanya dengan menentukaan bukaan valve. Caranya adalah memasukan
y = 0.0015x + 0.0002
R = 0.9573
0.000000
0.000200
0.000400
0.000600
0.000800
0.001000
0.001200
0.001400
0.001600
0.001800
0.002000
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
V
o
l
u
m
e

(
m
3
)

Bukaan Valve
y = 0.0002x + 2E-05
R = 0.9532
0
0.00002
0.00004
0.00006
0.00008
0.0001
0.00012
0.00014
0.00016
0.00018
0.0002
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20
L
a
j
u

A
l
i
r

(
m
3
/
s
)

Bukaan Valve
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
41

nilai bukaan valve terhadap persamaan tersebut sehingga di dapatkan laju alirnya berdasarkan
hasil pengkalibrasian di percobaan ini
4.2. Percobaan Konveksi Bebas
Tujuan: Untuk mengumpulkan dan menganalisis data perpindahan kalor konveksi bebas
- Percobaan
Pada percobaan ini hal pertama yang dilakukan adalah membuka W1 sampai air yang
masuk ke dalam feed tank mencapai ketinggian yang di atas ketinggi weir. Kemudian steam juga
dialirkan ke dalam veed tank dengan membuka valve V1. Bukaan W2 lalu diatur agar air yang
mengalir pada pipa menuju ke corong tepat akan keluar. Kondisi saat air pada pipa menuju
corong tepat akan keluar diketahui dari ketinggian air yang mengalir pada pipa 3 sama dengan
ketinggian air pada feed tank. Bukaan W2 divariasikan sebanyak 3 kali sebagai variasi data.
Kondisi saat air menuju corong tepat akan keluar dapat kita identifikasi sebagai kondisi steady
state. Kondisi steady state adalah kondisi dimana tidak terdapat akumulasi pada sistem. Pada
kondisi ini suhu air meningkat yang menyebabkan tekanan pada pipa keluaran chamber
bertambah hingga sampai ketingkat dimana tekanan pipa keluaran chamber sama dengan tekanan
feed tank. Hal ini menyebabkan air tidak bisa keluar karena tidak ada perbedaan tekanan antara
pipa keluaran chamber dengan feed tank. Sehingga, tidak ada driving force yang dapat membuat
air tersebut berpindah

Langkah selanjutnya adalah mengukur suhu air yang masuk melalui pipa 3 ke
bagian tube pada chamber test dan mencatat ke dalam data hasil percobaan sebagai T1.
Sedangkan aliran steam yang masuk ke dalam chamber test melalui bagian shell juga diukur
suhunya menggunakan termometer pada pipa dan mencatatnya sebagai T2.
Pada chamber test, air dan steam akan bertemu pada tube dan akan terjadi proses
perukaran kalor antara steam dan air. Peristiwa ini adalah peristiwa konveksi bebas karena tidak
ada driving forceIyang berupa aliran fluida yang dibuat pada praktikum. Pada peristiwa
pertukaran kalor ini steam akan melepaskan kalor dan air akan menerima kalor yang dilepaskan
steam melalui pergerakan fluida yaitu steam dan air. Pergerakan yang dimaksud adalah
pergerakan mikroskopis yang tidak terlihat secara kasat mata. Pergerakan ini dipicu akibat
molekul-molekul air yang bergerak karena perubahan densitas (buoyancy) akibat pemanasan
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
42

oleh steam. Sehingga akan tercipta pergerakan molekul dari bawah ke atas pada air karena
molekul air yang berada di bawah akan berkurang densitasnya akibat pemanaan sehingga akan
terangkat ke atas akibat perbedaan densitas dengan air yang belum mengalami pemanasan.
Buoyancy ini terjadi apabila tidak ada gaya dari luar terhadap fluida
Pada peristiwa di atas, air akan meningkat suhunya akiba pertukaran kalor dengan
steam. Suhu akhir air yang telah meningkat akibat pertukaran kalor tersebut kemudian diukur
suhunyha saat air tersebut keluar dari chamber dan dicatat sebaga T3. Sedangkan steam yang
telah melepaskan kalor dan keluar sebagai kondesat diukur volumenya dan suhu keluarnya
berturut-turut sebagai V kondensat dan T4
Pada percobaan ini dilakukan variasi data yaitu ketinggian weir selama 2 kali.
Namun pada akhir setiap variasi ketinggian weir pada percobaan, air yang digunakan harus
dialirkan keluar dari chamber test karena air tersebut sudah mengalami kesetimbangan kalor
dengan steam sehingga apabila dipanaskan lagi tidak akan terjadi perpindahan kalor yang berarti.
Ini akan menyebabkan steam tidak akan terkondensasi sehingga tidak keluar sebagai kondensat
sehingga data percobaan V kondensat tidak akan dapat didapatkan. Proses pengaliran air dan
menggantinya dengan air yang bru dilakukan dengan menutup W2. Setelah W2 ditutup, air dari
feed tank dialirkan masuk menuju test chamber melalui pipa 3 sedangkan air yang sudah
mengalami kesetimbangan kalor akan keluar menujur corong. Lalu untuk mengetahui apakah air
baru sudah sepenuhnya dalam keadaan yang belum menerima kalor maka akan tercipta
kondensat saat dialirkan steam ke dalam test chamber
Dalam melakukan variasi W2 harus dipastikan bahwa air yang didalam chamber
tidak dalam keadaan kalor yang setimbang. Pengambilan data untuk setiap W2 dilakukan setiap
3 menit untuk 1 data untuk memastikan bahwa suhu air sudah jenuh dan tidak akan bertambah
lagi nilainya. Pada percobaan ini W2 divariasikan untuk memvariasikan besarkan laju alir.
Karena pada feed tank terdapat 2 buah pipa yang terhubung feed tank. Air akan keluar apabila
weir ditinggikan. Dengan ditinggakannya nilai weir tekanan pada pipa 2 akan lebih tinggi dari
pada pipa 3. Ini akan mengakibatkan air akan mengalir keluar melalui feed tank melalui pipa 3
akibat perbedaan tekanan. Weir yang semakin tinggi akan menyebabkan laju alir yang semakin
tinggi karena perbedaan tekanannya juga akan semakin besar, hal yang bersama juga berlaku
untuk lau masanya yang juga akan semakin besar.
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
43

Dari data percobaan akan didapatkan data-data yang dapat diolah menjadi bilang tak
berdiemnsi yaitu bilangan renault dan prandtl. Kemudian, bilang tersebut akan digunakan
untuk mencari bilangan Nusselt. Bilangan nusselt pada percobaan ini dicari karena bilang
nusselt mempunya hubungan denga nilai koefisien perpindahan kalor (h). Sehingga kondisi
pada percobaan di atas akan mempengaruhi nilai koefisien perpindahan kalor. Nilai bilang
Nusselt yang didapat dari penghitungan hasil percobaan di atas akan dibandingkan dengan
bilang Nusselt literatur untuk mengetahui persen error kesalahan dari percobaan di atas
- Hasil

Dalam percobaan konveksi bebas ini dilakukan dua perhitungan yaitu dengan data yang
didapat secara keseluruhan dan dengan memisahkan data-data untuk setiap bukaan yang
divariasikan dengan langkah-langkah perhitungan yang sama.
Laju alir fluida pembawa kalor mempengaruhi perpidnahan kalor. Laju yang tinggi akan
menyebabkan gradien suhu yang besar pula. Jadi gradien suhu pada dinding bergantung pada
medan aliran. Perpindahan konveksi bergantung pada viskositas fluida disamping
ketergantungannya terhadap sifat-sifat termal fluida lainnya seperti konduktifitas termal, kalor
spesifik, dll.
Pada data percobaan konveksi bebas didapatkan nilai temperatur steam dan temperatur
air, dimana T
steam
>T
air
. Adanya perbedaan suhu menyebabkan terjadinya perpindahan panas, dari
suhu yang lebih tinggi ke suhu yang lebih rendah dengan tujuan mencapai kesetimbangan. Suhu
yang akan digunakan dalam perhitungan selanjutnya adalah suhu limbak.
Suhu limbak atau suhu ruah (bulk temperature atau T
b
) dapat didefinisikan sebagai suhu
fluida yang dirata-ratakan energinya di seluruh penampang tabung. Suhu ruah secara matematis
dinyatakan dengan:
(4.2)
Suhu ruah akan menunjukkan keseluruhan energi yang mengalir pada suatu posisi tertentu. Oleh
sebab itu, suhu ruah sering disebut suhu mangkuk pencampur (mixing cup temperature) karena
}
}
=
0
0
0
0
2
2
r
p
r
p
b
rdruc
T rdruc
T
t
t
[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
44

suhu yang akan dicapai fluida itu kalau ditempatkan di dalam ruang pencampur dan dibiarkan
akan mencapai keseimbangan. Perlu menjadi catatan bahwa jika mengatakan suatu fluida
memasuki tabung pada suatu suhu, maka suhu ruah-lah yang dimaksud. Suhu ruah ini digunakan
dalam neraca energi menyeluruh sistem.
Besaran-besaran lain seperti massa jenis, koefisien perpindahan kalor, konduktivitas,
kapasitas kalor dan sebagainya dapat ditentukan dari interpolasi pada Tabel Appendix-9
(Holman, 1986). Selanjutnya dilakukan perhitungan untuk bilangan-bilangan tak berdimensi
Nusselt, Prandlt, Grashoft.
Bilangan Grashoft, merupakan perbandingan antara gaya apung dengan gaya viscous dalam
aliran fluida konveksi bebas, yang mempunyai peranan yang sama seperti bilangan Reynolds
(Re) pada konveksi paksa.
2
3
) (
v
L T T g
Gr
C s
L

=
|
(4.3)

di mana, g = gaya gravitasi (m/s
2
), = koefisien volume ekspansi (1/K), L = panjang
karakteristik (m), v = viskositas fluida (m
2
/s).
Bilangan Prandtl, adalah perbandingan antara viskositas kinematik dengan difusivitas panas.
k
c
termal difusi laju
kekentalan difusi laju v
p

o
= = = Pr
(4.4)

dengan, = viskositas fluida (Ns/m
2
), k = konduktivitas panas fluida (W/mK).
Substansi tipis seperti cairan logam memiliki perubahan viskositas yang jelek namun
memiliki karakteristik perpindahan panas yang bagus (memiliki Pr yang rendah). Zat cair
seperti bahan bakar minyak memiliki perubahan momentum yang baik dalam kombinasinya
namun memiliki karakteristik perpindahan panas yang jelek (Pr yang besar).
Bilangan Nusselt, merupakan rasio laju konveksi dan konduksi yang arahnya tegak lurus ke
permukaan. Bilangan Nusselt mendekati satu nilainya bila besar konveksi dan konduksi relatif
sama. Hal ini merupakan karakteristik dari aliran laminar. Bilangan Nusselt yang lebih besar
menunjukkan konveksi yang aktif (aliran turbulen) dengan nilai antara 100-1000.
n n
Ra C Gr C
panas konduksi
panas konveksi
k
hL
Nu . Pr) . ( = = = =
(4.5)

[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
45

di mana, C = konstanta koefisien, n = konstanta eksponen, Nu = Nusselt number.
Nusselt (Nu) yang merupakan intepretasi dari nilai koefisien konveksi (h). Nilai Nu
percobaan yang dipengaruhi oleh jumlah air, suhu fluida, suhu steam, dan kondisi-kondisi
percobaan, akan dibandingkan dengan Nu literatur yang menggunakan persamaan teoritis
dimana propertis dihitung pada T bulk, sehingga dapat diketahui berapa besar kesalahan yang
telah dilakukan dalam percobaan.
bukaan weir Nu Nulit %error
0.25
0.25 0.599904 1.855699 67.67236
0.5 0.983212 1.790352 45.08276
1 1.18576 1.837535 35.47006
0.5
0.25 0.713938 1.82285 60.83394
0.5 0.898245 1.813107 50.45825
1 1.272051 1.81295 29.83533
1
0.25 0.764586 1.799209 57.50432
0.5 0.755613 1.850842 59.17462
1 1.10423 1.808217 38.93263

Galat yang ditimbulkan antara hasil percobaan dan literature dapat disebabkan oleh adanya
kebocoran pada pipa aliran masuk air ke feed tank, yang berpengaruh pada tekanan dan suhu
yang terjadi sehingga menyebabkan data-data yang didapat tidak akurat. Penyebab lain kesalahan
yang timbul adalah adanya peristiwa konduksi antara fluida dengan dinding pipa yang kami
abaikan dengan mengasumsikan tidak ada kalor yang tertahan pada dinding pipa.
Pada grafik Hubungan Tinggi Weir terhadap Koefisien Perpindahan Panas (h) pada
Masing-masing Bukaan Valve berikut terlihat bahwa semakin tinggi weir, semakin besar nilai
koefisien perpindahan panas konveksi (h). Hal ini dapat disebabkan oleh semakin besarnya
tekanan yang dihasilkan pada feed tank sehingga laju alir volume meningkat. Akibatnya suhu air
meningkat dan peristiwa konveksi yang terjadi juga semakin meningkat.

[ ]

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS INDONESIA |DEPOK 2010
46