Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ikan kakap merah adalah salah satu jenis ikan yang banyak hidup di
dasar perairan terutama didasar perairan yang banyak ditumbuhi dengan terumbu
karang atau di perairan yang banyak di pasang benda-benda sebagai penganti
terumbu karang. ikan kakap merupakan ikan dasar yang selalu berkelompok
menempati karang, tandes atau rumpon.
Bentuk tubuh ikan kakap merah bulat pipih memanjang dengan
mempunyai sirip di bagian punggung. Di bawah perut juga terdapat sirip. Di
bagian dekat anal juga terdapat sirip analnya. Sebagai ikan penguasa karang, ikan
kakap dilengkapi dengan gigi untuk mengkoyak mangsanya. Karakternya dalam
menyergap mangsanya, ikan kakap biasanya bersembunyi di balik karang atau
rumpon dan mengambil lokasi tepat di muka arus. Ketika ada makanan apa saja
yang hanyut langsung disergapnya untuk mengisi perutnya. Ikan-ikan yang paling
besar di kawasanya selalu berada paling depan untuk memburu makanan,
sedangan yang ukuran sedang memilih sisa-sisa setelah yang besar puas makan.
Ikan ini termasuk jenis karnivor dan makanan utamanya meliputi jenis ikan kecil,
udang dan cumi-cumi (marinedepotlive.com, 2006). Di alam ikan ini dapat
tumbuh hingga mencapai ukuran maksimum panjang 116 cm, berat 32,7 kg dan
berumur maksimal 35 tahun
Ikan kakap adalah salah satu jenis ikan konsumsi yang mempunyai potensi
cukup besar untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang cukup
tinggi. Selain kandungan gizi yang tinggi limbah ikan kakap bisa dimanfaat
menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual tinggi, seperti tulang-tulang ikan
kakap merah digunakan sebagai bahan dasar filet, sisik ikan kakap digunakan
sebagai bahan darahh pembuatan aksesoris.




2

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui :
1. Taksonomi ikan kakap merah
2. Bentuk morfologi ikan kakap merah
3. Cara reproduksi ikan kakap merah
4. Habitat dan distribusi ikan Kakap merah
5. Nilai ekonomis ikan kakap merah






















3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Taksonomi Ikan Kakap Merah
Menurut pardjoko (2001), famili Lutjanidae ini terdiri dari empat sub-
famili yang masing-masing adalah :
Sub famili etelinae terdiri dari lima genus masing-masing adalah
Aphareus, Aprion, Etelis seperti terlihat pada Gambar 2.1. Pristipomoides dan
Randallichtyes. Bentuk fisik umumnya berlekuk seperti bukan hingga jenis yang
berlekuk cukup dalam dengan sirip punggung maupun sirip duburnya memanjang
dan runcing pada bagian ujung akhir.

Gambar 2.1 Etelis Carbunculus dari sub famili Etelinae (Anonimous,
2001)
Sub famili Apsilinae terdiri dari empat genus masing-masing adalah
Apsilus seperti terlihat pada Gambar 2.2, Lipocheilus, Paracaecio dan
Parapristipomoides. Memiliki bentuk tubuh bervariasi, ada yang tampak
memanjang dan ada yang bertubuh tinggi memipih. Sirip ekor bervariasi mulai
dari belekuk seperti bukan sabit hingga jenis yang memiliki lekuk sirip ekor yang
menjorok ke dalam. Bagian dasar sirip punggung dan sirip duburnya tidak bersisik
dengan bagian akhir sirip punggung dan sirip duburnya tidak bermodifikasi
menjadi panjang dan runcing.

4

Gambar 2.2 Apsilus dentatus dari sub famili Apsilinae (anonimous,
2001)
Sub famili Paradichthyinae terdiri dari genus Symphorus seperti pada
Gambar 2.3 dan Symphoriehthys. Memiliki tubuh yang tinggi memipih dengan
sirip ekor bervariasi mulai dari yang berlekuk ringan (emarginated) hingga yang
jenis sirip ekor bercabang. Dasar sirip punggung dan sirip duburnya bersisik dan
rahang bagian depan pada mulut tidak bergigi halus.

Gambar 2.3 Symphorus nematophorus dari sub famili Paradichthyinae
(Anonimous, 2002)
Sub famili Lutjaninae terdiri dari enam genus yang sifatnya monotipe,
masing-masing adalah Lutjanus, Hoplopagrus, Macolor, Ocyurus, Pinjalo dan
Rhomboplites. Salah satu diantaranya dari genus Lutjanus yang terdiri dari 65
spesies dan memiliki bentuk tubuh tinggi memipih dengan bentuk sirip ekor
bervariasi mulai dari berujung sirip ekor rata hingga berlekuk dalam. Dasar sirip
punggung dan sirip dubur terbungkus sisik serta pada mulut terdapat gigi-gigi
halus untuk menahan mangsa agar tidak terlepas. Beberapa spesies dari genus
Lutjanus adalah Lutjanus malabaricus, Lutjanus argentimaculatus, Lutjanus
gibbus, Lutjanus kasmira, Lutjanus monostigma dan Lutjanus rivulatus yang
banyak ditemukan diperairan Indonesia.
menurut saanin (1984) Ikan kakap merah keluarga Lutjanidae mempunyai
klasifikasi sebagai berikut :
filum :Chordata
sub filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
5

Sub ordo : Periodea
Famili : Lutjanidae
Sub famili : Lutjanidae
Genus : Lutjanus
Spesies : Lutjanus argentimuculatus
Gambar 2.4 Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimuculatus)

Nama lain ikan kakap merah ini adalah Red Snapper, North American,
Genuine Red, Pargo colorado. Jawa tengah dan jawa timur dinamai Kellet,
Darongan, Bambangan. Di jawa barat dan jakarta dinamai kakap merah,
bambangan. Lain di Madura menamai ikan ini Posepa. Di Bangka dinamai Bran,
Bambangan. Di Sulawesi Selatan menamakan Bacan, Delise. Sulawesi Tenggara
Langgaria, Gacak. Sulawesi Utara menamakan Lolise. Ambon dinamai Delis,
sengaru, Rae. Di Seram, Maluku Dinamakan Popika (Anonim, 2011).

2.2 Morfologi Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimuculatus)
Ikan kakap merah (Lutjanus argentimuculatus) yaitu mempunyai tubuh yg
memanjang dan melebar, gepeng atau lonjong, kepala cembung atau sedikit
cekung. Jenis ikan ini umumnya bermulut lebar dan agak menjorok ke muka, gigi
konikel pada taring-taringnya tersusun dalam satu atau dua baris dengan
serangkaian gigi caninnya yg berada pada bagian depan. Bagian depan dari
kepala merah tidak bersisik dan hanya terdapat beberapa baris sisik pada bagian
depan tutup insang dengan bentuk ctenoid (Sumiono & Rahmat, 2003). Bagian
bawah pra penutup insang bergerigi dengan ujung berbentuk tonjolan yang tajam.
Ikan ini mengalami pembesaran dengan bentuk segitiga maupun bentuk V
dengan atau tanpa penambahan pada bagian ujung maupun penajaman.
Sirip punggung berjari-jari keras 11 dan lemah 14, sirip dubur berjari-jari
keras 3 lemah 8-9. Sirip punggung umumnya berkesinambungan dan berlekuk
pada bagian antara yang berduri keras dan bagian yang berduri lunak. Batas
belakang ekornya agak cekung dengan kedua ujung sedikit tumpul.
6



Gambar 2.5 Morfologi Ikan Kakap
Warna sangat bervariasi, mulai dari yang kemerahan, kekuningan, kelabu
hingga kecoklatan. Warna akan semakin menipis atau memudar ke arah bagian
bawah tubuh dengan sirip-sirip uyang semua berwarna kemerahan. Bagian kepala,
mulai dari rahang atas hingga letak bagian awaol sirip punggungnya dijumpai
nokhtah besar yang letaknya miring dan berwarna coklat tua ataupun hitam. Pada
batang ekor ikan kakap merah terdapat ban (baris) hitam besar yang diapiy oleh
dua ban lain yang berwarna putih mutiara (Gunarso, 1985).
7

Ukuran tubuh ikan kakap merah umumnya berukuran panjang antara 25
50 cm, walaupun tidak jarang mencapai 90 cm (Gunarso, 1995). Ikan kakap
merah menerima berbagai informasi mengenai keadaan sekelilingnya melalui
beberapa inderanya, seperti melalui indera pengelihatan, pendengaran, penciuman,
peraba, linea lateralis dan sebagainya.

2.3 Reproduksi Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimuculatus)
Ikan kakap merah tergolong diecious yaitu ikan ini terpisah antara jantan
dan betinanya. Pola reproduksinya gonokorisme, yaitu setelah terjadi diferensiasi
jenis kelamin, maka jenis seksnya akan berlangsung selama hidupnya, jantan
sebagai jantan dan betina sebagai betina. Ikan kakap merah dapat mengalami
perubahan kelamin dari fase betina ke fase jantan yang biasa disebut hermaprodit
protoginynous. Ikan kakap merah memulai siklus reproduksinya sebagai ikan
betina kemudian berubah menjadi ikan jantan, dimana jaringan ovarium
mengkerut dan jaringan testis mulai berkembang.
Jenis ikan ini rata-rata mencapai tingkat pendewasaan pertama saat
panjang tubuhnya telah mencapai 4151% dari panjang tubuh total atau panjang
tubuh maksimum. Jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang lebih
kecil dari betinanya.
Kelompok ikan yang siap memijah, biasanya terdiri dari sepuluh ekor atau
lebih, akan muncul ke permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan
Agustus dengan suhu air berkisar antara 22,225,2C. Ikan kakap jantan yang
mengambil inisiatif berlangsungnya pemijahan yang diawali dengan menyentuh
dan menggesek-gesekkan tubuh mereka pada salah seekor betinanya. Setelah itu
baru ikan-ikan lain ikut bergabung, mereka berputar-putar membentuk spiral
sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air.
Secara umum ikan kakap merah yang berukuran besar akan bertambah
pula umur maksimumnya dibandingkan yang berukuran kecil. Ikan kakap merah
yang berukuran besar akan mampu mencapai umur maksimum berkisar antara 15
20 tahun, umumnya menghuni perairan mulai dangkal hingga kedalaman 60100
meter (Gunarso, 1995)
8

Daur hidup kakap merah dari telur menetas menjadi larva, kemudian
tumbuh dan berkembang menjadi juvenil yang hermaprodit, gelondongan, ikan
muda yang berada pada masa transisi (intersex) dan ikan dewasa


Gambar 2.6 perkembangan telur menjadi larva (Anonim, 2011)
9


Gambar 2.7 Perkembangan larva menjadi ikan kakap merah
2.3.1 Habitat dan Distribusi Ikan Kakap Merah (Lutjanus
argentimuculatus) Kondisi Habitat
Pertumbuhan ikan kakap merah tumbuh pada kondisi lingkungan optimal
yang dipengaruhi oleh :
A. Osmoregulasi
Tekanan osmosis air laut lebih tinggi daripada cairan tubuh, sehingga
secara alami akan mengalir dari dalam tubuh ikan kakap merah ke
lingkungan secara osmosis melewati ginjal, insang dan kulit.
Sebaliknya, garam-garam akan masuk ke dalam tubuh melalui proses
difusi dan untuk mempertahankan konsentrasi garam dan air tubuh,
ikan kakap merah memperbanyak minum air laut. Akibatnya dari
perbanyakan minum air laut maka kehilangan air dalam tubuh ikan
akan dapat digantikan, bersamaan dengan itu sejumlah besar garam
akan ikut masuk kedalam tubuh dan garam tersebut harus segera
dikeluarkan kembali (Eujaya, 2004).

10

B. Air Laut
Ikan kakap merah hidup pada kondisi air laut dengan kadar salinitas
27-32 ppt, kadar pH 8-8,5 dengan temperatur 27
0
C-30
0
C dan kadar
oksiget terlarut 5-8 ppm. Kondisi perairan yang bersih, jernih serta
bebas dari buangan sampah pertanian dan industri akan meningkatkan
pertumbuhan ikan diperairan tersebut. Ikan kakap merah merupakan
ikan yang hidup berkelompok, menyukai perairan yang terlindung dari
gelombang/arus kuat dan lingkungan perairan yang berkurang
(Mayunar dan Genisan, 2002).
Ikan kakap merah (Lutjanus argentimuculatus) umumnya menghuni
daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies
cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap merah berukuran
besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan berenang ke
dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran
kecil.
Selain itu biasanya kakap merah tertangkap pada kedalaman dasar antara
4050 meter dengan substrat sedikit karang dan salinitas 3033 ppt serta suhu
antara 5-32C (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, 1991). Jenis yang
berukuran kecil seringkali dijumpai beragregasi di dekat permukaan perairan
karang pada waktu siang hari. Pada malam hari umumnya menyebar guna mencari
makanannya baik berupa jenis ikan maupun crustacea. Ikan-ikan berukuran kecil
untuk beberapa jenis ikan kakap biasanya menempati daerah bakau yang dangkal
atau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut. Potensi ikan kakap merah jarang
ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan
lingkungan yang beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan
bakau, daerah pantai sampai daerah berkarang atau batu karang (Anonim, 2011)

2.4.2 Penyebaran /Distribusi Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimuculatus)
Famili Lutjanidae utamanya menghuni perairan tropis maupun sub tropis,
walau tiga dari genus Lutjanus ada yang hidup di air tawar. Penyebaran kakap
merah di Indonesia sangat luas dan hampir menghuni seluruh perairan pantai
11

Indonesia. Penyebaran kakap merah arah ke utara mencapai Teluk Benggala,
Teluk Siam, sepanjang pantai Laut Cina Selatan serta Filipina. Penyebaran arah
ke selatan mencapai perairan tropis Australia, arah ke barat hingga Arfika Selatan
dan perairan tropis Atlantik Amerika (Anonim, 2012). Sedangkan arah ke Timur
mencapai pulau-pulau di Samudera Pasifik
Daerah penyebaran kakap merah hampir di seluruh Perairan Laut Jawa,
mulai dari Perairan Bawean, Kepulauan Karimun Jawa, Selat Sunda, Selatan
Jawa, Timur dan Barat Kalimantan, Perairan Sulawesi, Kepulauan Riau. Untuk
lebih lengkapnya penyebaran dan daerah penagkapan kakap di indonesia disajikan
dalam Tabel 2.1
Perairan Daerah Daerah penangkapan utama
Sumatera Seluruh perairan Selat
sunda bagian timur,
sekitar cirebon,
perairan utara Jawa
Tengah dan Jawa
timur, Karimun Jawa,
utara Madura, Ujung
Kulon, cilacap, Nusa
Barung, sekitar selat
Lombok, Perairan
Sumbawa, Flores
Timur dan Pulau Rote
Sebagian perairan Aceh, terutama
bagian utara dan barat, sebagian
pantai timur Sumatra Barat,
sekitar Bengkalis, Bangka dan
Belitung, pantai Barat sumatra
Utara, Pantai Sumatra Barat,
Bengkulu dan Pantai Timur
Lampung
Jawa dan Nusa
tenggara
Seluruh Perairan Selat sunda bagian timur, sekitar
cirebon, perairan utara Jawa
Tengah dan Jawa timur, Karimun
Jawa, utara Madura, Ujung
Kulon, cilacap, Nusa Barung,
sekitar selat Lombok, Perairan
Sumbawa, Flores Timur dan
Pulau Rote
Kalimantan dan
Sulawesi
Seluruh Perairan
kecuali laur dalam
Lepas pantai Kalimantan Barat,
sebagian besar pantai timur
Kalimantan Selatan dan
Kalimantan Tengah, perairan
sekitar Samarinda, perairan
sedikit diluar teluk palu berikut
lepas pantainya
Maluku dan Irian
Jaya
Seluruh Perairan Perairan diluar antara Buru-
Seram, perairan teluk Bintuni,
teluk Cendrawasih, diluar bagian
12

tengah dan selatan Laut Banda

2.5 Ekologi Ikan Kakap Merah Lutjanus argentimuculatus
2.5.1 Makanan dan Kebiasaan Makan
Menurut Effendi (1997) makanan merupakan faktor pengendali yang
penting dalam menghasilkan sejumlah ikan disuatu perairan, karena merupakan
faktor yang menantukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan disuatu
perairan. Di alam terdapat berbagai jenis makanan yang tersedia bagi ikan dan
ikan telah menyesuaikan diri dengan tipe makanan khusus dan dikelompokkan
secara luas sesuai dengan cara makannya, walaupun dengan macam-macam
ukuran dan umur ikan itu sendiri (Nikolsky, 1963)
Menurut moyle dan chech (1988), ikan dapat dikelompokkan berdasarkan
jumlah an variasi makannnya menjadi euryphagous yaitu ikan yang memakan
berbagai jenis makanan, stenophagous yaitu ikan yang memakan makanan yang
sedikit jenisnya, dan monophagous yaitu ikan yang hanya memakan satu jenis
makanan saja. Menurut effendi (1997), kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas
dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara makan
adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat dan bagaimana
cara ikan memperoleh makanannya. Effendi (1997) menambahkan bahwa faktor-
faktor yang menentukan suatu jenis ikan akan memakan suatu jenis organisme
adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna, rasa, tekstur makanan dan
selesa ikan terhadap makanan.
Selanjutnya dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi jenis dan jumlah
makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies ikan adalah umur, tempat dan
waktu. Jenis ikan kakap umumnya termasuk ikan buas, karena pada umumnya
merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada malam hari
(nokturnal). Aktivitas ikan nokturnal tidak seaktif ikan diurnal (siang hari).
Gerakkannya lambat, cenderung diam dak arah geraknya tidak dilengkapi area
yang luas dibandingkan ikan diurnal. Diduga ikan nokturnal lebih banyak
menggunakan indera perasa dan penciuman dibandingkan indera penglihatannya.
Bola mata yang besar menunjukkan ikan nokturnal menggunakan indera
penglihatannya untuk ambang batas intensitas cahaya tertentu, tetapi tidak untuk
intensitas cahaya yang kuat (Iskandar dan Mawardi, 1997).
13

Ikan kakap lebih suka memangsa jenis-jenis ikan. Adapun mangsa lain
berupa jenis kepiting, udang, jenis crustacea, gastropoda serta berbagai jenis
plankton utamanya urochordata. Umumnya kakap merah yang berukuran besar,
baik panjang maupun tinggi tubuhnya, memangsa jenis-jenis ikan maupun
invertebrata berukuran besar yang ada di dekat permukaan di perairan karang.
Jenis kakap merah ini biasanya menghuni perairan pantai berkarang hingga
kedalaman 100 meter, hidup soliter dan tidar termasuk jenis ikan yang
berkelompok. Mereka umumnya dilengkapi dengan gigi kanin yang merupakan
adaptasi sehubungan dengan tingkah laku makannya, agar mangsa tidak mudah
lepas.

2.5.1 Rantai Makanan
Plankton
Merupakan rantai makanan terendah di lautan terdiri atas Phyto Plankton
(tumbuhan) dan Zoo Plankton (hewan). Apabila dilihat per individu, keberadaan
Phyto Plankton di laut tidak dapat dilihat dengan mata telanjang namun bila
berkumpul dalam jumlah besar maka akan muncul sebagai warna hijau (adanya
klorofil dalam sel mereka). Phyto plankton memperoleh energy dari proses
fotosintesa, artinya secara langsung keberadaan/kelestariannya mempengaruhi
kadar oksigen di bumi.
Larva Ikan
Plankton adalah sumber makanan bagi larva berbagai jenis ikan. Mereka
dibutuhkan untuk perkembangan larva-larva menjadi ikan kecil.
Ikan Kecil
Sebagian larva ikan berhasil tumbuh menjadi ikan, sisanya dimangsa oleh ikan-
ikan kecil yang berada disekitarnya. Ikan berukuran kecil seperti : ikan teri, ikan
sardin, ikan herring, ikan kembung dll.
Ikan sedang
yang termasuk ikan ukuran sedang adalah ikan kakap, ikan salmon, ikan tuna
Ikan Besar
Ikan besar adalah rantai makanan teratas di laut. Mereka memakan ikan-ikan yang
berukuran lebih kecil dengan berbagai ragam cara berburu. Termasuk dalam
14

kelompok ikan besar antara lain : ikan paus, berbagai jenis ikan hiu, ikan marlin
dll.


2.5 Nilai Ekonomis dan Ekologi Ikan Kakap Merah (Lutjanus campechanus)
Ikan kakap merah atau red snapper merupakan salah satu jenis ikan
ekonomis penting terutama dalam bidang kuliner. Ikan kakap merah memiliki
daging yang tebal serta rasa yang gurih sehingga banyak digemari oleh
masyarakat. Ikan kakap merah memiliki kandungan gizi yang tinggi terutama
kandungan proteinya. Dibawah ini disajikan beberapa kandungan gizi ikan kakap
merah (Lutjanus campechanus)
Tabel 2.2 Komposisi kimia ikan kakap merah (Lutjanus campechanus)
Komposisi kimia Berat (%)
Air 80,3
Protein 18,2
Lemak 0,4
Karbohidrat 0
Abu 1,1
Sumber: Ditjen Perikanan (1990)



1.3 Protein Ikan
15

Ikan merupakan sumber protein yang baik jika dibandingkan dengan
hasil hewani lainnya. Ikan dan hasil perikanan lainnya pada umumnya
mengandung protein yang tinggi dan jumlahnya tidak terlalu bervariasi, tetapi
kandungan lemaknya dapat bervariasi besar sekali. Komposisi kimia daging ikan
bervariasi tergantung kepada spesies, jenis kelamin, habitat, musim dan jenis
makanan (Hadiwiyoto 1993).
Ikan kakap merah merupakan salah satu ikan yang megandung protein
tinggi. Ikan kakap merah lebih banyak dimanfaatkan dalam bentuk filet dan
bagian kepala. Filet diproduksi untuk diekspor dan dijual ke supermarket atau
pasar semi modern, sedangkan kepala ikan kakap merah biasanya dijual ke rumah
makan padang yang menyediakan masakan gulai kepala kakap, atau dijual ke
pelelangan dan pasar tradisional (Haetami 2008).
Protein ikan bersifat tidak stabil dan mempunyai sifat dapat berubah
(denaturasi) dengan berubahnya kondisi lingkungan. Larutan protein tersebut
apabila diasamkan hingga mencapai pH 4,5-5 akan terjadi pengendapan.
Sebaliknya apabila dipanaskan (pemasakan, penggorengan) proteinnya akan
menggumpal (koagulasi). Protein juga dapat mengalami denaturasi apabila
dilakukan pengurangan air, baik selama pengeringan maupun pembekuan (Zaitsev
et al. 1969).
Protein ikan secara umum dapat digolongkan berdasarkan kelarutannya
dalam air, lokasi terdapatnya, dan fungsinya. Berdasarkan kelarutannya dalam air,
protein ikan dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu protein mudah larut
dalam air, protein yang tidak larut dalam air dan protein yang sukar larut dalam
air. setelah diberi garam dalam konsentrasi tertentu (Hadiwiyoto 1993).
Selain sebagai bahan makan dan sumber gizi, ikan kakap juga dapat
dimanfaat kan sebagai bahan dasar industri acsesoris. Sirip ikan kakap banyak
dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan seperti lukisan, bros,
kalung dan kerajian tangan lainnya.
16


Gambar kerajinan tangan dari sisik ikan Kakap
2.6.2 Pembudidayaan Ikan Kakap Merah (Lutjanus champechanus)
Kakap merah yang masih muda dan dewasa hidup di daerah mangrove dan
muara sungai yang kadar garamnya mendekati air tawar. Sifat ini menciptakan
peluang untuk membudidayakannya, baik di tambak maupun dalam Keramba di
laut. Lokasi penempatan karamba tancap harus terlindung dari pengaruh
gelombang besar dan angin kencang, seperti perairan teluk yang terlindung, selat
kecil, muara sungai ataupun sungai yang airnya bersifat payau. Kakap merah bisa
hidup di perairan laut maupun perairan payau dengan kadar garam berkisar 10-35
ppt, dan suhu air 26-310 C.














17

DAFTAR PUSTAKA

Anonim
a
. 2001. Etelis carbunculus Ruby snapper
http://Filaman.ifmgeomar.de/summary/speciessummary.cfm?

Anonim
b
,2002.Lutjanidae.http://digitalmuseum.hirosima.u.ac.jp/text/lutjanidae.ht
ml.

Anonim
c
,2011. Jenis-jenis ikan Kakap. Cooper6.cooper6.blogspot.com


Anonim
c
, 2011. Embrio ikan http//akuakurtur.blogspot.com/2011 /04/


Anonim
d
.2011.http://theaquariumwiki.com/Lutjanus_argentimaculatus. Agustus
2011

Anonim
e
. 2012 http://australianmuseum.net.au/Mangrove-Jack-Lutjanus-
argentimaculatus . Januari 2012

Moran, david. 1988. Species Prof i 1 es: L i f e Histories and Environmental
Requirements of Coastal Fishes and Invertebrates (Gulf o f Mexico)
U.S. Fish and W i l d l i f e Service National Wetl ands Research Center

Gunarso W. 1995. Mengenal Kakap Merah komoditi ekspor Baru Indonesia.
Bogor: Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.

Mayunar dan Genisan As. 2002. Budidaya Ikan kakap Putih. Jakarta: Grasindo

Pardjoko. 2011. Ikan Kakap Merah Sumber Daya Hayati Laut Yang di Ekspor.
www.tumoutou.net/3_sem1_012/pardjoko.htm-49

Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci identifikasi Ikan. Volume I dan II.
Jakarta: Bina Cipta





18

Famili Lutjanidae terdiri dari 103 spesies, 39 jenis diantaranya tersebar di
perairan Indo-Pasifik, 9 jenis di Pasifik selatan, 12 jenis di Atlantik Barat dan 5
jenis di Atlantik Selatan (Anderson, 1987). Penyebaran kakap merah (Lutjanus
argentimaculatus) meliputi perairan Indo-Pasifik, kepulauan Line di afrika Utara
sampai perairan australia dan kepulauan Ryukyu, Jepang.