Anda di halaman 1dari 2

MALL GRAND TOWN SQUARE SIDOARJO, POTENSI ATAU MASALAH?

Dalam upaya pengembangan dan


penerapan kota berkelanjutan, peranan dari pemerintah kota sangatlah fundamental. Pemerintah kota
bertanggung jawab terhadap pengembangan dan penerapan kota berkelanjutan melalui proses
pembuatan kebijakan yang dilakukannya. Di berbagai kota di Indonesia terdapat berbagai kasus
mengenai manajemen perkotaan. Salah satunya terdapat di kota Sidoarjo. Terdapat pembangunan Mall
Grand Town Square (GTS) yang berada di Jalan Raya Jati, tepatnya di sebelah kanan pintu tol Sidoarjo.
Pembangunan proyek tersebut dapat dikatakan bermasalah karena tidak ada izin. Investor hanya
mempunyai izin lokasi yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Negara (BPN) Sidoarjo.
Komisi C DPRD Sidoarjo sempat merekomendasi Pemkab Sidoarjo untuk menghentikan
kegiatan proyek yang masih tahap pengurukan itu dan merekomendasikan agar Satpol PP menghentikan
aktivitas proyek itu. Namun hingga saat ini proyek tersebut masih saja berjalan, bahkan belum 100%
pembangunannya sudah dibuka hypermart.
Salah satu satker yang menyatakan proyek itu tidak ada izinnya adalah pernyataan Kepala
Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu Sidoarjo, Joko Santosa yang mengatakan pihaknya belum
menerima berkas apapun. Pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo mengatakan bahwa investor
proyek sebenarnya pernah mengajukan permohonan izin Amdalalin ke Dishub tapi pihaknya tidak
memprosesnya karena pemohon hanya membawa sebendel buku Amdalalin dan berkas izin lokasi tahun
2004.
Bupati Sidoarjo menyatakan bahwa pemerintah Kabupaten Sidoarjo belum mengeluarkan izin
HO, IMB, maupun Amdalalin terkait dengan pembangunan tersebut. Bupati tersebut juga menambahkan
yang menjadi permasalahan adalah porsi peruntukan dari seluruh bangunan yang akan dibangun.
Seharusnya, untuk pembangunan mall, porsinya 40:60, 40 persen untuk gedung dan 60 persen untuk
infrastruktur lainnya seperti tempat parkir, ruang terbuka hijau dan lain-lain.

Kenyataannya dari perkataan Bupati Sidoarjo tersebut 5 hektar luas lahan yang akan dibangun,
porsi yang diajukan investor berbalik. Kondisi eksisting yang terlihat telah terbangun 60 persen dari luas
lahan untuk bangunan gedung dan 40 persen untuk infrastruktur lainnya.
Selain itu dampak dari pembangunan Mall GTS tersebut membuat kemacetan di ujung Jalan
Raya Jati. Dimana jalan tersebut merupakan jalan kolektor primer dengan lebar total sekitar 8-10 m terdiri
dari 2 jalur dan hanya 1 lajur di setiap jalurnya, sehingga apabila terjadi tundaan di pintu masuk dan
keluar mall maka sangat berpotensi untuk menimbulkan kemacetan. Di sekitar Jl. Raya Jati juga terdapat
banyak permukiman yang pada saat pagi hari (jam berangkat kerja/sekolah) menjadi bangkitan
pergerakan dan pada saat sore hari (jam pulang kerja/sekolah) menjadi tarikan pergerakan. Tanpa
adanya mall tersebut dirasa Jalan Raya Jati sudah sering terjadi kemacetan akibat jenis penggunaan
lahan di sekitar jalan tersebut. Dan dengan adanya mall Grand Town Square (GTS) ini maka berpotensi
untuk terjadi kemacetan yang lebih parah.
Seharusnya akses pintu masuk dan keluar untuk mall GTS tersebut tidak langsung memotong
Jalan Raya Jati. Lebih baik diberikan jalan tersendiri untuk mengakses masuk dan keluar bagi mall itu
sendiri, sebagai contoh dapat dilihat pada mall Royal, Surabaya.
Selain permasalahan yang ditimbulkan oleh adanya mall GTS tersebut, terdapat juga sisi positif
dari mall tersebut yaitu dapat menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar sehingga dapat mengurangi
beban jumlah pengangguran di lingkungan sekitar. Namun, tidak seharusnya juga kegiatan
perekonomian di mall tersebut menimbulkan masalah baru bagi transportasi di sekitar Jalan Raya Jati.
Sebaiknya pemerintah Kabupaten Sidoarjo melakukan manajemen terhadap transportasi di
sekitar Jalan Raya Jati yaitu dengan mengintruksikan kepada pihak swasta / pemilik mall untuk
memberikan jalan akses khusus untuk masuk dan keluar mall sehingga tidak langsung memotong Jalan
Raya Jati. Sedangkan pihak swasta / pemilik mall itu sendiri sebaiknya melakukan pemrioritasan
penerimaan pekerja bagi warga sekitar agar warga sekitar mall itu sendiri dapat terserap dengan baik.
Dengan adanya manajemen yang baik maka permasalahan dari adanya mall Grand Town
Square (GTS) ini dapat diubah menjadi potensi yang secara tidak langsung dapat membantu
perekonomian bagi Kabupaten Sidoarjo.


(sumber: http://dprd-sidoarjokab.go.id/hypermart-di-exit-tol-sidoarjo-bermasalah.html)