Anda di halaman 1dari 15

BAB II

Pembahasan
ZONA TAMBAHAN
A. Umum
Setiap negara pantai yang laut teritorialnya melebihi 12 mil laut berarti ia juga akan
mempunyai zona tambahan (contiguous zone) yang mempunyai peranan pentingdalam
keamanan dan pembangunan ekonominya. Pembentukan rezim zona tambahan mempunyai
sejarah tersendiri terutama bermula dari praktik Inggris dan AmerikaSerikat. Inggris pernah
mengeluarkan peraturan pemberantasan penyelundupan tahun1669 dan 1673 di mana Inggris
dapat menahan kapal yang diduga telah melakukanpenyelundupan wool, teh, minuman keras
(liquor ), dan barang-barang terlaranglainnya yang terjadi pada jaran 6-12 mil dari pantainya.
Inggris memperluas jurisdiksiantipenyelundupan terhadap kapal yang berlabuh atau mondar-
mandir (hovering) dankapal tersebut dapat diperiksa oleh petugas Bea Cukai dalam jarak 12-
25 mil karenaInggris sudah mempunyai Hovering Acts. Sementara itu AS mengeluarkan
peraturan tahun 1790 yang menetapkan bahwa kapal-kapal dapat diperiksa olehpetugas Bea
Cukai dalam jarak 12 mil bahkan AS dapat menembak kapal yang tidak memperhatikan
perintah petugas apabila melanggar seperti dalam kasus kapal yangmembawa budak belian
(slavery) yang mondar-mandir dalam jarak 12 mil. Olehkarena itu, AS membuatProhibition
Act tahun 1919 yang melarang kapal asingmembawa minuman keras, minuman keras
menjadi jarang dan mahal, sehingga mengundang terjadinya penyelundupan dari Kanada,
Bahama, Kuba.Kasus yang terkenal adanya pelanggaran di zona tambahan tersebut
adalahkasus,
the Grace and Ruby tahun 1922 Massachusetts. Dengan adanya peraturantersebut
timbulkasus yang terkenal dengan the Grace and Ruby : dimana
pengadilan menyatakan sebagai berikut :
the mere fact, therefore, that the Grace and Ruby was beyond the three mile limit,
does not of it self make the seizure unlawfuland establish a lack of jurisdiction In
directing that she be seized and brought into the country to answer for her offence I am
not prepared to say that the Treasury Department exceeded its power , bahwa penangkapan
kapal Grace and Ruby ketikaberada 3 mil bukan merupakan penangkapan illegal karenanya
dapat ditangkaplangsung dan Treasury Department tidak melebihi kekuasaannya.
Hak dan Kewajiban Indonesia serta status saat ini
Kewajiban Indonesia di zona tambahan tersebut adalah mencegah pelanggaran peraturan
perundang-undangan tentang bea cukai, fiskal, imigrasi, dansanitasi yang dapat merugikan
Indonesia, serta menegakkan hukumnya, sehingga parapelaku pelanggaran tersebut dapat
diadili. Penggunaan kata may adalah bukan kewajiban, tetapi hak, yaitu hak untuk
mengawasi yang diperlukan terjadinyapelanggaran empat bidang tersebut dan memproses
pelaku pelanggarannya.Pencegahan tersebut sudah barang tentu memerlukan sarana dan
prasarananya, seperti sumber daya manusia dan armada kapalnya yang mampu mengawasi
dan menjaga jurisdiksinya di zona tambahan tersebut, sehingga tidak terjadi transaksi ilegal
dankejahatan lainnya

Rezim zona tambahan diatur dalam Konferensi Hukum Laut Jenewa 1958. Dalam
konferensi tersebut menghasilkan 4 konvensi, yaitu :
1. Konvensi I tentang Laut Teritorial dan Zona Tambahan
2. Konvensi II tentang Laut Lepas
3. Konvensi III tentang Perikanan dan Perlindungan Kekayaan Hayati Laut Lepas
4. Konvensi IV tentang Landas Kontinen
Menurut J.G Starke, zona tambahan adalah suatu jalur perairan yang berdekatan
dengan batas jalur maritim atau laut teritorial, tidak termasuk kedaulatan negara pantai, tetapi
dalam zona tersebut negara pantai dapat melaksanakan hak-hak pengawasan tertentu untuk
mencegah pelaggaran peraturan perundang-undangan saniter, bea cukai, fiskal, pajak dan
imigrasi di wilayah laut teritorialnya. Sepanjang 12 mil atau tidak melebihi 24 mil dari garis
pangkal.
Zona tambahan didalam pasal 24 (1) UNCLOS III dinyatakan bahwa suatu zona
dalam laut lepas yang bersambungan dengan laut teritorial negara pantai tersebut dapat
melaksanakan pengawasannya yang dibutuhkan untuk:
1. Mencegah pelanggaran-pelanggaran perundang-undangannya yang berkenaan dengan
masalah bea cukai (customs), perpajakan (fiskal), keimigrasian (imigration), dan kesehatan
atau saniter.
2. Menghukum pelanggaran-pelanggaran atau peraturan-peraturan perundang-undangannya
tersebut di atas.
Didalam ayat 2 ditegaskan tentang lebar maksimum dari zona tambahan tidak boleh
melampaui dari 12 mil laut diukur dari garis pangkal. Hal ini berarti bahwa zona tambahan
itu hanya mempunyai arti bagi negara-negara yang mempunyai lebar laut teritorial kurang
dari 12 mil laut (ini menurut konvensi Hukum Laut Jenewa 1958), dan sudah tidak berlaku
lagi setelah adanya ketentuan baru dalam Konvensi Hukum Laut 1982. Menurut pasal 33 ayat
2 Konvensi Hukum Laut 1982, zona tambahan itu tidak boleh melebihi 24 mil laut, dari garis
pangkal dari mana lebar laut teritorial itu diukur. Berikut ini beberapa hal guna memperjelas
tentang letak zona tambahan itu:
- Pertama, Tempat atau garis dari mana lebar jalur tambahan itu harus diukur, tempat atau
garis itu adalah g aris pangkal.
- Kedua, Lebar zona tambahan itu tidak boleh melebihi 24 mil laut, diukur dari garis pangkal.
- Ketiga, Oleh karena zona laut selebar 12 mil laut diukur dari garis pangkal adalah
merupakan laut teritorial, maka secara praktis lebar zona
tambahan itu adalah 12 mil (24-12) mil laut, itu diukur dari garis atau batas luar laut
territorial, dengan kata lain zona tambahan selalu terletak diluar dan berbatasan dengan laut
teritorial.
- Keempat, Pada zona tambahan, negara pantai hanya memiliki yurisdiksi yang terbats
seperti yang ditegaskan dalam pasal 33 ayat 1 Konvensi Hukla 1982. Hal ini tentu saja
berbeda dengan laut teritorial dimana negara pantai di laut teritorial memiliki kedaulatan
sepenuhnya dan hanya dibatasi oleh hak lintas damai.

Gambar diambil dari : vadoc.wordpress.com
Sampai saat ini Indonesia belum mengumumkan zona tambahannya maupun memiliki
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penetapan batas terluar, maupun
tentang penetapan garis batas pada zona tambahan yang tumpang tindih atau yang berbatasan
dengan zona tambahan negara lain. Badan Pembinaan Hukum Nasional dari Departemen
Kehakiman dan HAM pernah melakukan pengkajian dan menghasilkan suatu naskah
akademik dan RUU tentang Zona Tambahan, namun sampai saat ini belum menjadi Undang-
Undang.
Menurut ketentuan Pasal 47 ayat 8 dan 9 dari UNCLOS, garis-garis pangkal yang
telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan tersebut harus dicantumkan dalam peta
atau peta-peta dengan skala atau skala-skala yang memadai untuk menegaskan posisinya.
Sebagai gantinya dapat dibuat daftar koordinat geografis titik-titik yang secara jelas
memerinci datum geodetik.
Wilayah laut Indonesia dibagi menjadi 3 bagian yakni laut teritorial sejauh 12 mil,
Zona Tambahan sejauh 24 mil dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sejauh 200 mil, untuk
melindungi hak berdaulat atas kekayaan dan yuridiksi yang dimiliki oleh Indonesia terhadap
wilayah perairannya maka dibutuhkan suatu peraturan, dalam hal ini peraturan yang
mengatur tentang Zona Tambahan, yang mana Indonesia mempunyai Yuridiksi pengawasan
di Zona Tambahan untuk mencegah dan menindak pelanggaran Bea Cukai, Imigrasi, Fiskal
dan saniter. Zona Tambahan Indonesia adalah perairan yang berdampingan dengan Laut
Teritorial Indonesia yang dapat diukur selebar 24 mil laut dari Garis Pangkal Lurus
Kepulauan.
Pendapat pakar hukum laut, Hasyim Djalal, mengenai Zona Tambahan (contiguous
zone) adalah sepanjang yang berkaitan dengan batas contiguous zone, belum ada satupun
batas yang ditetapkan dengan Negara-negara tetangga. Malah Indonesia sampai sekarang
belum lagi mengundangkan ketentuannya mengenai zona ini. Walaupun seluruh Negara
tetangga Indonesia telah mengundangkannya. Disinilah kelalaian Indonesia yang sangat
menonjol. Karena itu sangat penting bagi Indonesia untuk menetapkan ketentuan perundang-
undangan mengenai ketentuan contiguous zone ini dan kemudian merundingkan batas-
batasnya dengan Negara-negara terkait, khususnya dengan Thailand, Malaysia, Philipina, dan
Australia.
Beberapa alternatif penyusunan pengaturan hukum di Zona Tambahan, yakni
alternatif pertama dibuatkan undang-undang tersendiri mengenai Zona Tambahan Indonesia,
alternatif kedua menyempurnakan RUU tentang Kelautan dengan menambahkan pengaturan-
pengaturan hukum tentang Zona Tambahan Indonesia, alternatif ketiga menyempurnakan
Undang-undang Nomor 5 tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dengan
menambahkan pengaturan hukum tentang Zona Tambahan Indonesia, alternatif keempat
menyempurnakan Undang-undang di bidang-bidang Kepabeanan (Bea Cukai), Imigrasi,
Perpajakan (fiskal), saniter (kesehatan/karantina) dan cagar budaya, dengan menambahkan
pengaturan hukum tentang Zona Tambahan Indonesia, dan alternatif yang kelima
menyempurnakan Undang-undang nomor 6 tahun 1996 tentang perairan Indonesia dengan
menambahkan pengaturan hukum tentang Zona Tambahan Indonesia.
Alternatif yang paling tepat adalah alternatif kelima yakni menyempurnakan Undang-
undang nomor 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia dengan menambahkan pengaturan
hukum tentang Zona Tambahan Indonesia, dengan alasan judul pengaturan dalam UNCLOS
1982 adalah: TERRITORIAL SEA AND CONTIGUOUS ZONE maka lebih praktis
menyempurnakan Undang-undang nomor 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia dengan
menambahkan pengaturan hukum tentang Zona Tambahan Indonesia. Konsep pengaturan
hukum di Zona Tambahan Indonesia, yang dibagi kedalam 4 pasal, yaitu pasal 1 ayat (1) di
zona yang berbatasan denga Laut Teritorial Indonesia, selanjutnya disebut Zona Tambahan
Indonesia, Aparat Penegak Hukum yang berwenang, dapat melakukan pengawasan yang
perlu untuk : a. Mencegah pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di bidang
kepabeanan, ke fiskalan, keimigrasian, dan kekarantinaan dalam wilayah darat atau wilayah
perairan Indonesia, b. Menindak pelanggaran atas peraturan perundang-undangan tersebut
dalam huruf a yang dilakukan di dalam wilayah atau laut teritorial Indonesia. Ayat (2) zona
tambahan tidak dapat melebihi 24 mil laut diukur dari garis pangkal untuk mengatur lebar
Laut Teritorial. Pasal 2 pengangkatan benda purbakala atau benda sejarah dari zona tambahan
Indonesia hanya dapat dilakukan dengan ijin pemerintah. Pasal 3 ayat (1) dengan tidak
mengurangi ketentuan pasal 2, pengangkatan dan pemanfaatan kerangka kapal, benda
berharga atau muatan kapal yang tenggelam (BMKT) dari zona tambahan, hanya dapat
dilakukan dengan ijin pemerintah. Ayat (2) kerangka kapal atau barang berharga asal muatan
kapal yang tenggelam sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), yang dalam waktu 30 (tiga
puluh) tahun setelah tenggelam tidak diangkat dari dasar laut, dianggap telah ditinggalkan
oleh pemiliknya, dan oleh karena itu menjadi milik Negara. Pasal 4 berisi sanksi atas
pelanggaran hukum yang berlaku di wilayah Negara Republik Indonesia berlaku terhadap
pelanggaran hukum atas ketentuan-ketentuan di zona tambahan Indonesia.
Ada 2 hal yang belum diatur dan membutuhkan peraturan perundang-undangan yakni
Zona Tambahan dan Landas Kontinen. Sebaiknya pengaturan hukum zona tambahan
dimasukkan kedalam RUU Kelautan yang sedang berjalan di DPR, hal ini dimaksudkan agar
pengaturan hukum zona tambahan dapat berjalan dengan menghemat waktu dan biaya,
dibandingkan dengan harus membuat UU sendiri. Banyak pendapat lebih condong untuk
memasukan pengaturan hukum zona tambahan kedalam UU ZEE atau RUU kelautan.
Sebagai kesimpulan, mengerucut kepada dua alternatif yakni menyempurnakan RUU
Kelautan atau merevisi UU nomor 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.
Agar kesepakatan penentuan penambahan pengaturan hukum tentang Zona Tambahan
Indonesia dari 2 alternatif terpilih (RUU Kelautan atau UU No.6 th. 1996 tentang Perairan
Indonesia), perlu dicermati berdasarkan azas efektif dan efisien serta target yang harus
dicapai pada akhir, mengingat masih terjadinya perdebatan cukup alot dari kementerian
dan Institusi terkait mengenai tindak lanjut RUU Kelautan. Selanjutnya, perlu juga di
perhatikan peraturan2 yang sudah ada di seluruh kementerian atau lembaga serta institusi
terkait agar tidak terjadi tumpang tindih, tidak bertentangan namun menambah kewenangan.

KASUS- KASUS
Kapal Cina Terus Berlayar Dekat Pulau Sengketa
Penjaga Pantai mengatakan kapal-kapal Cina itu berlayar di zona tambahan pada pukul 10
pagi . Minggu , 20 Jan 2013 20:38 WIB
Skalanews - Penjaga Pantai Jepang menyatakan tengah mengawasi tiga kapal pengawas
maritim Cina yang berlayar tepat di luar perairan Jepang di lepas pantai Kepulauan Senkaku.
Jepang menguasai Kepulauan Senkaku yang terletak di Laut Cina Timur, yang juga diklaim
oleh Cina dan Taiwan.
Penjaga Pantai mengatakan kapal-kapal Cina itu berlayar di zona tambahan pada pukul 10
pagi hari ini. Kapal-kapal itu berada sekitar 40 kilometer di lepas pantai Pulau Kubashima,
salah satu pulau di kepulauan itu.
Kemarin, tiga kapal pengawas maritim Cina juga sempat dipergoki di dalam perairan Jepang.
Mereka terus berlayar di zona tambahan setelah meninggalkan perairan Jepang.
Sejak Jepang menasionalisasi Kepulauan Senkaku di bulan September, kapal-kapal Cina
dikerahkan ke perairan teritorial Jepang. Menurut Penjaga Pantai Jepang, ketiga kapal Cina
tersebut telah keluar dari zona tambahan sekitar pukul 1:30 siang waktu Jepang.(nug)
Sumber : www.sklanews.com
Meninjau Ulang Posisi Indonesia di Laut China Selatan
Laut China Selatan mungkin termasuk kawasan sengketa kedaulatan dan hak
berdaulat yang paling rumit dalam sejarah modern. Karena kerumitannya, untuk pertama
kalinya ASEAN gagal mencapai satu konsensus dalam salah satu pertemuannya tahun ini.
Asalan utamanya adalah ketidakberhasilan anggota ASEAN mencapai kata sepakat dalam
menyikapi isu Laut China Selatan. Selain itu, Amerika Serikat, dengan terang-terangan
menunjukkan kepeduliannya dengan kedatangan Hilary Clinton ke Asia beberapa kali untuk
menyampaikan sikap dan pandangan Amerika Serikat.
Indonesia adalah salah satu negara yang secara geografis berada di dekat Laut China
Selatan. Banyak pihak berspekulasi atau menganalisis posisi dan peran Indonesia terkait
sengketa di Laut China Selatan. Ada yang berpendapat bahwa Indonesia tidak ada kaitannya
dengan Laut China Selatan ada juga yang melihat Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari
kerumitan di kawasan tersebut. Tulisan ini membahas posisi Indonesia dalam gonjang-
ganjing Laut China Selatan serta peran yang mungkin dilakukan untuk mengatasi sengketa
tersebut.
Laut China Selatan adalah kawasan laut semi tertutup atau semi-enclosed sea yang
dikelilingi oleh China, Vietnam, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei Filipina dan Taiwan
(lihat Gambar 1). Karena dilingkupi atau hampir ditutup oleh daratan berbagai negara,
kewenangan atas Laut China Selatan menjadi rumit dengan adanya kompetisi. Permasalahan
utama adalah kedaulatan atas pulau-pulau kecil di Laut China Selatan yang masih
disengketakan. Negara-negara di sekitar Laut China Selatan mengklaim kepemilikan atas
berbagai pulau kecil yang ada di sana dan sampai kini tidak berhasil mencapai kesepakatan.
Selain itu, karena menurut hukum laut internasional pulau bisa menguasai laut maka sengketa
tidak berhenti pada wilayah daratan tetapi merambah kawasan laut. Potensi sumberdaya
hayati dan non hayati di kawasan tersebut tentu saja menjadi alasan sengketa kian pelik.
Singkatnya, situasi di Laut China Selatan menjadi semakin rumit.

Gambar 1 Kawasan laut setengah tertutup Laut China Selatan
Klaim atas wilayah darat dan laut di Laut China Selatan disampaikan secara eksplisit
misalnya oleh China yang mengeluarkan peta pada tahun 1947. Peta tersebut memuat garis
putus-putus yang melingkupi hampir seluruh kawasan Laut China Selatan. Dalam
perkembangannya garis klaim itu dikenal dengan nine-dashed line karena merupakan
sembilan segmen garis putus-putus. China mengajukan klaim ini berdasarkan pada prinsip
historic waters atau perairan yang konon menurut sejarah China merupakan bagian dari
wilayah atau yurisdiksi China. Klaim ini tidak diakui oleh negara-negara di kawasan,
termasuk Indonesia.
Sementara itu, negara lain juga mengklaim pulau-pulau kecil di Laut China Selatan.
Vietnam, misalnya, mengklaim dan menduduki Spratly Island dengan mendirikan tempat
tinggal, lapangan udara dan tugu. Filipina juga mengklaim sekelompok pulau yang
disebutnya Kalayaan Island Group (KIG) dan telah beraktivitas di sana. Malaysia dan Brunei,
misalnya, mengklaim sebuah terumbu bernama Louisa Reef di sebelah utara Brunei.
Kelompok pulau lain yang menjadi sengketa misalnya Spratly, Paracel dan Pratas. Indonesia
di satu sisi tidak mengklaim satupun pulau yang disengketakan di Laut China Selatan. Meski
demikian, Indonesia memiliki kedaulatan yang sudah diakui dunia internasional atas
kelompok Kepulauan Natuna yang memang berada di bagian baratdaya Laut China Selatan.
Karena kedaulatannya atas Kepulauan Natuna, Indonesia juga berhak atas kawasan laut yang
lebarnya diukur dari garis pangkal di Natuna sesuai dengan ketentuan hukum internasional.
Akibatnya, Indonesia juga berhak atas kawasan maritim (laut teritorial, zona tambahan, zone
ekonomi eksklusif (ZEE), dan landas kontinen) di Laut China Selatan.
Hak Indonesia atas kawasan laut ini membuat Indonesia perlu berbagi laut dengan
tetangganya di Laut China Selatan karena tetangga lain juga memiliki hak yang sama. Batas
dasar laut (landas kontinen) sudah ditetapkan (didelimitasi) dengan Malaysia (1969) dan
Vietnam (2003) seperti terlihat pada Gambar 2. Memang Indonesia hanya menganggap dua
negara tersebut sebagai tetangga yang memerlukan delimitasi maritim di Laut China Selatan.
Meski batas dasar laut sudah ditetapkan, batas perairan (ZEE) belum disepakati oleh
Indonesia, Malaysia dan Vietnam di Laut China Selatan. Sementara itu, Indonesia sendiri
sudah mengusulkan batas ZEE secara sepihak dan memerlukan perundingan dengan Malaysia
dan Vietnam. Mungkin ada yang bertanya, mengapa batas dasar laut berbeda dengan batas
perairan? Mengapa tidak dibuat sama? Memang demikianlah hukum laut internasional
mengaturnya. Dalam bahasa hukum, rejim yang mengatur keduanya berbeda. Lihat Gambar
2.

Gambar 2 Klaim dan batas maritim di Laut China Selatan
Dalam bahasa sederhana, dasar laut antara Indonesia, Malaysia dan Vietnam sudah
dibagi tetapi kewenangan akan air di atasnya belum disepakati. Jikapun ada pembagian
perairan, itu merupakan usulan sepihak, bukan kesepakatan. Menilik fakta ini, jelas Indonesia
memiliki urusan di Laut China Selatan yaitu menetapkan batas maritim dengan Malaysia dan
Vietnam. Selain itu, jika mengacu pada klaim nine-dashed line China tahun 1947, ada
kemungkinan adanya tumpang tindih klaim maritim antara Indonesia dengan China di Laut
China Selatan. Analisis geospasial teknis yang penulis lakukan menunjukkan adanya
kemungkinan kawasan tumpang tindih ini. Meski demikian, ketelitian analisis ini bisa
dipertanyakan karena kenyataannya China memang tidak pernah menyampaikan koordinat
klaimnya di Laut China Selatan. Selain itu, klaim China in berupa garis putus-putus sehingga
kawasan yang dilingkupi oleh klaim tersebut tidak bisa ditentukan secara akurat. Analisis
tersebut menggunakan asumsi bahwa klaim China berupa garis utuh hasil penyambungan
(interpolasi) garis putus-putus nine-dashed line (lihat Gambar 2).
Untuk menentukan ada tidaknya tumpang tindih klaim antara Indonesia dan China di
Laut China Selatan diperlukan adanya klarifikasi klaim oleh China. Perlu diingat juga bahwa
Indonesia tidak mengakui klaim China yang ditampilkan dalam nine-dashed line. Dalam
salah satu pernyataannya tahun 2009 kepada PBB, Indonesia menegaskan bahwa klaim China
itu tidak memiliki dasar internasional dan merupakan pelanggaran terhadap konvensi PBB
tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS).
Kesimpulannya, Indonesia memang tidak terlibat dalam sengketa kedaulatan atas
wilayah daratan (pulau/karang) di Laut China Selatan. Sebagai pihak netral, Indonesia bisa
tetap menjalankan perannya untuk memediasi pihak-pihak bersengketa, jika memang
diharapkan. Tentu saja Indonesia tidak bisa melakukan intervensi aktif karena kedaulatan
adalah persoalan sensitif dan menjadi urusan internal pihak-pihak yang bersengketa. Sebagai
salah satu kekuatan utama di kawasan, Indonesia bisa menunjukkan niat baik dengan
membuka diri sebagai bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Meski tidak terlibat dalam sengketa wilayah daratan, bukan berarti Indonesia tidak
terlibat sama sekali dalam kerumitan isu Laut China Selatan. Yang pasti, Indonesia memiliki
pekerjaan rumah untuk berbagi laut (ZEE) dengan Malaysia dan Vietnam di kawasan
baratdaya Laut China Selatan. Selain itu, perilaku China yang semakin agresif akan klaimnya
di Laut China Selatan mungkin mengharuskan Indonesia meninjau kembali posisinya terkait
interaksi maritim dengan China.





















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Konvensi Jenewa 1958 yang membahas tentang Laut Territorial dan Jalur Tambahan
meneguhkan beberapa azas tentang laut territorial yang telah berkembang sejak lahirnya
hukum laut internasional dan memperoleh perumusannya yang jelas dalam konferensi
kodifikasi Den Haag tahun 1930.
Dalam beberapa hal, Konvensi ini memuat ketentuan-ketentuan yang merupakan
perkembangan baru dalam hukum laut internasional publik. Yang terpenting diantaranya
adalah ketentuan-ketentuan dalam pasal 3, 4, dan 5 mengenai penarikan garis pangkal.
Pasal 1: menyatakan bahwa laut teritorial yang merupakan suatu jalur yang terletak
disepanjang pantai suatu negara berada dibawah kedaulatan negara.
Pasal 2: menyatakan bahwa kedaulatan negara atas laut teritorial hanya meliputi juga ruang
udara diatasnya dan dasar laut serta tanah dibawah dasar laut.
Pasal 3: memuat ketentuan mengenai garis pasang surut (low water mark) sebagai garis
pangkal biasa (normal base-line)

Pasal 4: mengatur garis pangkal lurus dari ujung ke ujung (straight base-lines) sebagai cara
penarikan garis pangkal yang dapat dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu.. Dalam
penjabarannya, ayat (1) menetapkan dalam hal-hal mana dapat dipergunakan sistem
penarikan garis pangkal lurus, yakni:
1. Ditempat-tempat dimana pantai banyak liku-liku tajam atau laut masuk jauh kedalam.
2. Apabila terdapat deretan pulau yang letaknya tak jauh dari pantai.
Ayat selanjutnya (2, 3, dan 5) memuat syarat-syarat yang harus diperhatikan di dalam
menggunakan penarikan garis pangkal menurut sistem garis pangkal lurus dari ujung ke
ujung.
Syarat pertama adalah bahwa garis-garis lurus tidak boleh menyimpang terlalu banyak
dari arah umum daripada pantai dan bahwa bagian laut yang terletak pada sisi dalam (sisi
darat) garis-garis demikian harus cukup dekat pada wilayah daratan untuk dapat diatur oleh
rezim perairan pedalaman, (ayat 2).
Syarat kedua adalah bahwa garis-garis lurus tidak boleh diantara dua pulau atau
bagian daratan yang hanya timbul diatas permukaan air diwaktu pasang surut (low-tide
elevations) kecuali apabila diatasnya telah didirikan mercusuar-mercusuar atau instalasi-
instalasi serupayang setiap waktu ada diatas permukaan air (ayat 3).
Syarat ketiga adalah bahwa penarikan garis pangkal tidak boleh dilakukan sedemikian
rupa hingga memutuskan hubungan laut wilayah negara lain dengan laut lepas. (ayat 5).
Ayat 4 dapat dianggap sebagai tambahan pada ketentuan ayat 1 mengenai penetapan
garis lurus sebagai garis pangkal. Ayat ini menetapkan bahwa dalam menetapkan garis
pangkal lurus demikian dapat diperhatikan kebutuhan-kebutuhan istimewa yang bersifat
ekonomis daripada suatu daerah yang dapat dibuktikan dengan kebiasaan-kebiasaan dan
kebutuhan yang telah berlangsung lama.
Ketentuan dalam ayat 1 yang menyatakan., ditempat-tempat dimana, dan
seterusnya., menunjukan bahwa sistem garis pangkal lurus adalah cara penarikan garis
pangkal istimewa yang dapat dipergunakan oleh suatu negara. Sifat istimewa daripada garis
pangkal lurus tampak dengan lebih jelas apabila kita hubungkan ayat (1) ini dengan pasal 3
yang menyatakan garis pasang surut sebagai garis pangkal biasa (normal base-line).
Ketentuan ini berarti suatu negara dapat emnggunakannya disebagian pantainya yang
memenuhi syarat-syarat ayat (1).
Sebagaimana diketahui keputusan-keputusan Konvensi I mengenai garis pangkal
lurus ini didasarkan atas keputusan Mahkamah Internasional tanggal 28 Desember 1951
dalam perkara Sengketa Perikanan antara Inggris dan Norwegia (Anglo-Norwegian Fisheries
Case).
Dengan dimuatnya ketentuan mengenai penarikan garis pangkal lurus ini dalam
konvensi mengenai Laut Territorial dan Zona Tambahan, maka isi keputusan Mahkamah
Internasional tersebut yang berdasarkan pada pasal 59, tidak mengikat kecuali
terhadap pihak-pihak yang bersengketa dan berkenaan dengan perkara yang bersangkutan,
kini telah diakui menjadi suatu cara penarikan garis pangkal yang dengan syarat-syarat
tertentu berlaku umum.
Mengenai zona tambahan, menentukan bahwa negara pantai dalam zona tersebut bisa
melaksanakan pengawasan yang diperlukan guna mencegah pelanggaran undang-undang
menyangkut bea cukai, fiskal, imigrasi, dan saniter dalam wilayahnya, namun tidak boleh
lebih dari 24 mil laut. Artinya, untuk zona tambahan, jaraknya diperluas selebar 12 mil laut
diukur dari batas laut teritorial.
Sebagaimana pernah disebutkan diatas, suatu negara mempunyai kedaulatan yang
penuh dalam perairan teritorialnya dan dapat menyelenggarakan serta menjalankan tindakan-
tindakan seperlunya untuk menjamin antara lain:
a. Pertahanan keselamatan negara terhadap gangguan/ serangan dari luar;
b. Pengawasan atas keluar masuknya orang asing (imigrasi);
c. Penyelenggaraan peraturan fiskal (bea dan cukai);
d. Pekerjaan dilapangan kesehatan (karantina);
e. Kepentingan perikanan
f. Pertambangan dan hasil-hasil alam lainnya.
Oleh karena itu, penentuan lebar laut 3 mil yang tercantum dalam Territoriale Zee
en Maritieme Kringen Ordonantie tahun 1939 yang dalam pasal 1 ayat 1 a.l. menyatakan
bahwa laut territorial Indonesia itu lebarnya 3 mil diukur dari garis air rendah
(laagwaterlijn) daripada pulau-pulau dan bagian pulau yang merupakan bagian dari wilayah
daratan (grondgebied) dari Indonesia.. dirasakan tidak sesuai lagi dengan keadaan
sekarang dan dirasakan sudah tidak cukup lagi untuk menjamin dengan sebaik-baiknya
kepentingan rakyat dan negara Indonesia yang biasanya diselenggarakan dalam batas lautan
territorial suatu negara. Oleh karena itu, pada tahun 1996 pemerintah RI mengeluarkan UU
No 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia sebagai tindak lanjut dari kesepakatan
UNCLOS III/1982 yang menetapkan batas laut teritorial seluas 12 mil laut.
Bila yang dimaksud dengan Jalur Tambahan adalah suatu daerah laut yang
berdekatan dengan laut wilayah, yang lebarnya tidak lebih dari 24 mil laut dihitung dari garis
dasar, dari mana lebar laut wilayah diukur. Dengan adanya lebar perairan yang kurang dari 24
mil laut yang membatasi wilayah RI dengan Malaysia, dengan Singapura serta dengan
Philipina, maka dengan perairan-perairan tertentu negara kita tidak memiliki Jalur
Tambahan.
Pada jalur tambahan tersebut, NKRI mempunyai kewenangan-kewenangan tertentu
untuk :
1. Mencegah pelanggaran atas peraturan-peraturan hukum tentang ke-Bea-an,
perpajakan (fiskal), imirasi, maupun sanitary, yang berlaku di wilayah atau laut
wilayah RI.
2. Menindak pelanggaran atas peraturan-peraturan hukum tersebut diatas yang
dilakukan di wilayah atau laut wilayah RI.































DAFTAR PUSTAKA
Kusumaatmadja, Mochtar. 1978. Hukum Laut Internasional. Bandung : Binacipta.
Mauna, Boer. 2005. Hukum I nternasional. Bandung : PT Alumni.
Sodik, M. Dikdik. 2011. Hukum Laut Internasional & Pengaturannya di Indonesia. Bandung :
PT.REfika Aditama.

Internet :
http://wikipedia/Konvensi_Perserikatan_Bangsa_Bangsa_tentang_Hukum_Laut.com
http://SHNEWS.CO/mare_clausum_mare_liberum.com
http://www.vadoc.wordpress.com
http://www.ristek.go.id
http://www.sklanews.com