Anda di halaman 1dari 16

ATEROSKLEROSIS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pathologi







Anggota Kelompok :
1. Wikan Sinung A.R (P07131110035)
2. Winda Dwi Permatasari (P07131110036)
3. Wuri Wulandari (P07131110037)
4. Yuliana Megawati (P07131110038)
5. Yunita Ahadti (P07131110039)
6. Zukhruf Faridho (P07131110040)


KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA
JURUSAN GIZI
2012

A. PENDAHULUAN

Aterosklerosis adalah mengerasnya timbunan lemak pada dinding arteri, secara
etimologis berasal dari bahasa Yunani ather yang berarti bubur. Pengertian bubur disni
adalah rupa timbunan lemak lembek yang menyerupai bubur, serta kata Yunani scleros
yang bermakna keras.
Jadi secara harfiah, zat yang semula lembut nan lembek tersebut tertimbun dan
terakumulasi jumlahnya dalam suatu area sehingga terjadi proses pengerasan hingga
menyumbat aliran darah dalam pembuluh darah. Timbunan lemak yang terjadi tersebut
disebabkan oleh kolesterol LDL yang sifatnya sangat mudah sekali melekat dalam
pembuluh darah.
Pembuluh darah yang menjadi sebuah sarana koridor transportasi proses mengalirnya
substansi metabolisme tubuh akan berakibat sangat fatal jika tersumbat. Dari rusaknya
dinding arteri, sehingga mengganggu kelancaran aliran darah ke otot jantung dan organ
tubuh yang bisa mengakibatkan serangan jantung.
Proses aterosklerosis sebenarnya sudah dimulai sejak masa kanak-kanak, seiring
dengan meningkatnya konsumsi makanan dan perubahan gaya hidup, terutama jika gaya
hidup akrab dengan seringnya mengonsumsi makanan siap saji (junk food). Bahkan, proses
aterosklerosis sudah terjadi pada saat bayi berusia tiga bulan.
Persoalan mulai mengemuka ketika proses aterosklerosis ini terakumulasi dan
menahun. Dampaknya baru terlihat dikala peranjakan dari masa remaja ke masa dewasa.
Umumnya pada masa ini bisa diperkirakan sebagai masa kepastian penyakit ini terjadi.
Aterosklerosis sebenarnya tidak hanya dipicu dari tingginya konsumsi makanan berlemak,
namun juga merokok.
Ketika manusia merokok, zat oksidan semakin banyak terlepas akibat dari respon
masuknya racun dari rokok yang terhisap. Zat oksidan inilah yang membuat dinding
pembuluh darah rusak dan membuat kolesterol LDL semakin mudah tersangkut di area
kerusakan yang ditimbulkan oleh zat oksidan tersebut. Kemudiannya kolesterol yang
tersangkut tersebut kian tertimbun dan menimbulkan sumbatan sehingga pembuluh darah
menjadi mengeras dan terjadilah aterosklerosis
Aterosklerosis bisa terjadi pada arteri di otak, jantung, ginjal, organ vital lainnya dan
lengan serta tungkai. Jika aterosklerosis terjadi di dalam arteri yang menuju ke otak (arteri
karotid), maka bisa terjadi stroke. Jika terjadi di dalam arteri yang menuju ke jantung
(arteri koroner), bisa terjadi serangan jantung.
B. ETIOLOGI
Aterosklerosis bermula ketika sel
darah putih yang disebut monosit,
pindah dari aliran darah ke dalam
dinding arteri dan diubah menjadi sel-
sel yang mengumpulkan bahan-bahan
lemak.
Pada saatnya, monosit yang terisi
lemak ini akan terkumpul,
menyebabkan bercak penebalan di
lapisan dalam arteri. Setiap daerah
penebalan (yang disebut plak aterosklerotik atau ateroma) yang terisi dengan bahan
lembut seperti keju, mengandung sejumlah bahan lemak, terutama kolesterol, sel-sel otot
polos dan sel-sel jaringan ikat.
Ateroma bisa tersebar di dalam arteri sedang dan arteri besar, tetapi biasanya mereka
terbentuk di daerah percabangan, mungkin karena turbulensi di daerah ini menyebabkan
cedera pada dinding arteri, sehingga disini lebih mudah terbentuk ateroma.
Arteri yang terkena aterosklerosis akan kehilangan kelenturannya dan karena
ateroma terus tumbuh, maka arteri akan menyempit. Lama-lama ateroma mengumpulkan
endapan kalsium, sehingga menjadi rapuh dan bisa pecah. Darah bisa masuk ke dalam
ateroma yang pecah, sehingga ateroma menjadi lebih besar dan lebih mempersempit
arteri.
Ateroma yang pecah juga bisa
menumpahkan kandungan lemaknya dan
memicu pembentukan bekuan darah
(trombus). Selanjutnya bekuan ini akan
mempersempit bahkan menyumbat arteri,
atau bekuan akan terlepas dan mengalir
bersama aliran darah dan menyebabkan
sumbatan di tempat lain (emboli).
Resiko terjadinya aterosklerosis
meningkat pada:
Orang yang menderita tekanan darah tinggi
Mempunyai kadar kolesterol tinggi
Perokok
Orang yang menderita Diabetes (kencing manis)
Orang yang kegemukan (obesitas)
Orang yang malas berolah raga
Dan Usia lanjut.

Pria memiliki resiko lebih tinggi daripada wanita. Penderita penyakit keturunan
homosistinuria memiliki ateroma yang meluas, terutama pada usia muda. Penyakit ini
mengenai banyak arteri tetapi tidak selalu mengenai arteri koroner (arteri yang menuju ke
jantung). Sebaliknya, pada penyakit keturunan hiperkolesterolemia familial, kadar
kolesterol yang sangat tinggi menyebabkan terbentuknya ateroma yang lebih banyak di
dalam arteri koroner dibandingkan arteri lainnya.
Aterosklerosis dipicu oleh adanya faktor resiko internal dan eksternal dalam diri
seseorang. Yang termasuk kedalam kelompok faktor internal seperti faktor keturunan,
umur, jenis kelamin, serta etnisras; yang tidak dapat dikontrol. Faktor ini menyumbang
sekitar 20% untuk terjadinya suatu proses aterosklerotis.
Faktor eksternal menyumbnag sekitar 80% untuk terjadiya suatu proses
aterosklerotik. Diantaranya adalah :
a. Tekanan darah tinggi
Hipertensi mempercepat pengerasan dinding pembuluh darah arteri,
mengakibatkan penghancuran lemak pada sel otot polos, sehingga mempercepat
terjadinya proses aterosklerosis.
b. Merokok
Peranan rokok pada proses aterosklerosis adalah dengan meningkatkan
kecenderungan sel-sel darah untuk menggumpal, menurunkan jumlah atau
kemampuan HDL kolesterol baik dalam menyingkirkan kolesterol LDL dan
meningkatkan oksidasi lemak.
c. Alkohol
Alkohol yang berlebihan dalam tubuh akan dipersepsi sebagai racun dan
karena hal tersebut hati akan memfokuskan kerjanya untuk menyingkirkan racun
(alkohol) tersebut. Akibatnya zat lain seperti karbohidrat dan lemak harus menunggu
giliran untuk diproses sampai kadar alkohol normal. Jadi, sekalipun makan normal,
tubuh merasa seolah-olah kelebihan makanan karena tidak dimetabolisme.
d. Kurang Aktivitas fisik
Hidup secara aktif dapat membantu tubuh mengkontrol berat badan serta
mengurangi resiko serangan jantung, karena pembakaran lemak.
e. Kencing Manis (Diabetes Mellitus)
Diabetes menyebabkan kadar lemak meningkat akibat konversi lemak tubuh
yang terganggu. Hiperglikemia dapat menurunkan sintesis prostasiklin yang berfungsi
melebarkan saluran arteri, meningkatkan pembentukan trombosit.
f. Obesitas
Obesitas membuat seseorang cenderung untuk mengidap hipertensi,
meningkatkan resiko diabetes, dan meningkatkan radikal bebas.
g. Kolesterol
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, semakin tinggi kadar kolesterol darah,
semakin besar kemungkinan plaque kolesterol tertimbun pada dinding pembuluh
darah. Kolesterol merupakan satu faktor resiko yang sangat besar peranannya pada
penyakit jantung. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa setiap peningkatan kadar
kolesterol 1%, berarti meningkatkan resiko penyakit jantung sebesar 2%
h. Kopi
Kafein dalam kopi dapat menyebabkan hipertensi, meningkatkan kadar
kolesterol total, dan LDL.
i. Stress
Stress dapat meningkatkan hormone kewaspadaan seperti kortisol, epinerin,
dan adrenalin yang berefek pada peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.
Stress juga cenderung mendorong sesorang untuk melakukan tindakan yang
merugikan diri sendiri, seperti banyak minum alkohol, merokok, serta makan atau
ngemil berlebihan yang membuat obesitas. Secara biologis stress membuat hati
memproduksi lebih banyak radikal bebas.
j. Radikal Bebas
Kumpulan akumulasi radikal bebas atau oksidan ini secara terus menerus dan
bertubi-tubi menyerang serta merusak sel-sel tubuh, menyebabkan lemak membusuk,
protein tidak berfungsi, membrane hancur, serta sel-sel tubuh termasuk sel-sel jantung
dan sel-sel otak tidak dapat berungsi dengan baik, serta merusak sel-sel imunitas (sel
darah putih leukosit), yang akhirnya menyerah lalu mati. Terakumulasinya sampah
oksidan sepanjang hidup inilah yang menyebabkan percepatan proses penyakit
degenerate seperti kanker, aterosklerosis, disfungsi sistem saraf dan otak (stroke),
rematik dan penyakit jantung.

C. PATOFISIOLOGI

Ateroklerosis berawal dari adanya faktor resiko terhadap penyakit ini yang kemudian
berkembang secara progresif dan menahun sampai akhirnya terbentuklah plaque
aterosklerotik. Pembentukan plaque itu sendiri sebenarnya telah berlangsung sejak usia
dini, yang akan terus menerus berlangsung dan membesar, baik karena faktor gaya hidup
yang tidak sehat maupun adanya faktor resiko lain. Oleh karena itu orang yang mempunyai
faktor resiko perlu mewaspadai sedini mungkin dengan memeriksakan diri dan
menjalankan upaya preventif promote, misalnya menghindari merokok, membiasakan diri
makan makanan sehat rendah lemak dan rendah garam, mengendalikan tekanan darah,
mencegah kegemukan, menurunkan kadar kolesterol darah, mengatasi stress dengan baik,
berolahraga secara teratur, dan pasien diabetes hendaknya megendalikan kadar gula
darahnya. Secara kronologis, perkembangan dari plak aterosklerosis adalah sebagai
berikut:
- Usia <20 tahun Plaque mulai menempel dilapisan dinding pembuluh darah (pada
tahap ini belum ada keluhan)
- Usia 20-30 tahun Adanya bercak perlemakan didinding pembuluh darah (juga
belum ada keluhan)
- Usia 30-40 tahun Tonjolan plak mulai tampak (umumnya juga belum ada
keluhan)
- Bila plak bertambah besar dan penyumbatan telah mencapai 70%, maka sudah
mulai ada gejala-gejala dan pasien dapat mengalami serangan jantung atau stroke
iskemik.

Semakin dini timbulnya faktor resiko atau semakin beratnya faktor resiko yang sudah
ada, akan semakin mempercepat pembesaran plaque pada usia yang lebih muda.
Penyumbatan ringan biasanya tidak menimbulkan gejala yang berarti karena darah yang
kaya oksigen masih dapat lewat. Tetapi, apabila timbunan plak sudah mencapai 70% atau
lebih, maka akan mulai timbul gejala-gejala. Walaupun pembentukan plak terjadi secara
kronis, tetapi manifestasi klinisnya biasanya terjadi secara mendadak sebagai akibat
lepasnya plaque secara tiba-tiba yang kemudian menyumbat aliran darah otak dan jantung.
Proses Aterosklerosis

Proses aterosklerotik (pembentukan plakkerak), dimulai dengan adaya luka pada sel
endotel (lapisan dalam pembuluh darah) yang bersentuhan langsung dengan zat-zat dalam
darah. Permukaan sel endotel yang semula licin menjadi kasar, sehingga zat-zat di dalam
darah menempel dan masuk kelapisan dinding arteri. Terbukanya jaringan kolagen
subendotel akan menginduksi penempelan platelet pada luka endotel, lalu mensekresi
beberapa substansi yang menyebabkan perlengketan. Platelet akan menarik sel-sel darah
lalu menembus endothelial dan masuk keruang subendotelial. Disini monosit berubah
menjadi bentuk makrofag yang memainkan peranan kunci pada proses aterosklerosis.
Diimana makrofag akan memakan tumpukan kolesterol LDL yang teroksidasi menjadi sel
busa (foam cell). Akibatnya terjadi gangguan keseimbangan kolesterol di makrofag, karena
kolesterol yang masuk ke sel lebih banyak ketimbang kolesterol yang dikeluarkan.
Tumpukan plaque pada dinding arteri
yang semakin banyak membuat lapisan
pelindung arteti perlahan-perlahan mulai
mulai menebal dan jumlah sel otot
bertambah. Setelah beberapa waktu
jaringan penghubung yang menutupi
daerah itu berubah menjadi jaringan parut,
yang mengurangi elastisitas arteri dan
mudah pecah. Semakin lama semakin
banyak plaque yang terbentuk dan membuat lumen arteri mengecil, sehingga pasokan
oksigen ke jantung berkurang dan terjadilah serangan jantung.
Aterosklerosis dimulai ketika kolesterol berlemak tertimbun di intima arteri besar.
Timbunan ini, dinamakan ateroma atau plak akan mengganggu absorbsi nutrient oleh sel-
sel endotel yang menyusun lapisan dinding dalam pembuluh darah dan menyumbat aliran
darah karena timbunan ini menonjol ke lumen pembuluh darah. Endotel pembuluh darah
yang terkena akan mengalami nekrotik dan menjadi jaringan parut, selanjutnya lumen
menjadi semakin sempit dan aliran darah terhambat. Pada lumen yang menyempit dan
berdinding kasar, akan cenderung terjadi pembentukan bekuan darah. Hal ini menjelaskan
bagaimana terjadinya koagulasi intravaskuler, diikuti oleh penyakit tromboemboli, yang
merupakan komplikasi tersering aterosklerosis.
Berbagai teori mengenai bagaimana lesi aterosklerosis terjadi telah diajukan,tetapi
tidak satu pun yang terbukti secara meyakinkan. Mekanisme yang mungkin, adalah
pembentukan thrombus pada permukaan plak dan penimbunan lipid terus menerus. Bila
fibrosa pembungkus plak pecah, maka febris lipid akan terhanyut dalam aliran darah dan
menyumbat arteri dan kapiler di sebelah distal plak yang pecah.
Struktur anatomi arteri koroner membuatnya rentan terhadap mekanisme
aterosklerosis. Arteri tersebut terpilin dan berkelok-kelok saat memasuki jantung,
menimbulkan kondisi yang rentan untuk terbentuknya ateroma.

D. GAMBARAN KLINIS

Sebelum terjadinya penyempitan arteri atau penyumbatan mendadak, aterosklerosis
biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejalanya tergantung dari lokasi terbentuknya,
sehingga bisa berupa gejala jantung, otak, tungkai atau tempat lainnya.
Jika aterosklerosis menyebabkan penyempitan arteri yang sangat berat, maka bagian
tubuh yang diperdarahinya tidak akan mendapatkan darah dalam jumlah yang memadai,
yang mengangkut oksigen ke jaringan. Gejala awal dari penyempitan arteri bisa berupa
nyeri atau kram yang terjadi pada saat aliran darah tidak dapat mencukupi kebutuhan akan
oksigen. Contohnya, selama berolah raga, seseorang dapat merasakan nyeri dada (angina)
karena aliran oksigen ke jantung berkurang; atau ketika berjalan, seseorang merasakan
kram di tungkainya (klaudikasio interminten) karena aliran oksigen ke tungkai berkurang.
Yang khas adalah bahwa gejala-gejala tersebut timbul secara perlahan, sejalan
dengan terjadinya penyempitan arteri oleh ateroma yang juga berlangsung secara perlahan.
Tetapi jika penyumbatan terjadi secara tiba-tiba (misalnya jika sebuah bekuan menyumbat
arteri), maka gejalanya akan timbul secara mendadak.
Tanda dan gejala klinis akibat aterosklerosis tergantung pada organ atau jaringan
yang terkena. Aterosklerosis koroner (penyakit jantung), angina dan infark miokardium
dibahas tersendiri oleh kelompok lain. Bila mengenai otak dapat menyebabkan penyakit
serebrovaskuler seperti iskemia serebral transien atau TIA dan stroke. Pada aorta dan lesi
aterosklerotik pada ekstremitas juga dapat terjadi. Bila terjadi oklusi atau sumbatan pada
arteri perifer maka akan timbul gejala seperti nyeri saat aktifitas dan hilang saat istirahat
(klaudisio intermiten), nyeri yang terus menerus (saat istirahat) dapat terjadi jika oklusi
semakin berat dan terjadi iskemia kronis. Perubahan warna kulit seperti menjadi pucat atau
sianosis dan pada palpasi terasa dingin. Akibat suplai nutrisi yang kurang akan terjadi
tanda-tanda hilangnya rambut, kuku rapuh, kulit kering dan bersisik, atropi dan ulserasi.
Bisa juga terjadi edema bilateral atau unilateral akibat posisi ekstremitas yang terlalu lama
menggantung.

E. DIAGNOSA

Sebelum terjadinya komplikasi, aterosklerosis mungkin tidak akan terdiagnosis.
Sebelum terjadinya komplikasi, terdengarnya bruit (suara meniup) pada pemeriksaan
dengan stetoskop bisa merupakan petunjuk dari aterosklerosis. Denyut nadi pada daerah
yang terkena bisa berkurang.
Pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis aterosklerosis:
1. Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan aktifitas listrik jantung atau gambaran elektrokardiogram (EKG)
adalah pemeriksaan penunjang untuk memberi petunjuk adanya PJK. Dengan
pemeriksaan ini kita dapat mengetahui apakah sudah ada tanda-tandanya. Dapat
berupa serangan jantung terdahulu, penyempitan atau serangan jantung yang baru
terjadi, yang masing-masing memberikan gambaran yang berbeda.
2. Foto rontgen dada
Dari foto roentgen pappa dokter dapat menilai ukuran jantung, ada-tidaknya
pembesaran. Di samping itu dapat juga dilihat gambaran paru. Kelainan pada koroner
tidak dapat dilihat dalam foto rontgen ini. Dari ukuran jantung dapat dinilai apakah
seorang penderita sudah berada pada PJK lanjut. Mungkin saja PJK lama yang sudah
berlanjut pada payah jantung. Gambarannya biasanya jantung terlihat membesar.
3. Pemeriksaan laboratorium
Dilakukan untuk mengetahui kadar trigliserida sebagai bourgeois resiko. Dari
pemeriksaan darah juga diketahui ada-tidaknya serangan jantung akut dengan melihat
kenaikan enzim jantung.
4. Treadmill
Dalam kamus kedokteran Indonesia disebut jentera, alat ini digunakan untuk
pemeriksaan diagnostic PJK. Berupa ban berjalan serupa dengan alat olah raga
umumnya, namun dihubungkan dengan monitor dan alat rekam EKG. Prinsipnya
adalah merekam aktifitas fisik jantung saat latihan. Dapat terjadi berupa gambaran
EKG saat aktifitas, yang memberi petunjuk adanya PJK. Hal ini disebabkan karena
jantung mempunyai tenaga serap, sehingga pada keadaan sehingga pada keadaan
tertentu dalam keadaan istirahat gambaran EKG tampak normal.
Dari hasil teradmil ini telah dapat diduga apakah seseorang menderita PJK.
Memang tidak 100% karena pemeriksaan dengan teradmil ini sensitifitasnya hanya
sekitar 84% pada pria sedangka untuk wanita hanya 72%. Berarti masih mungkin
ramalan ini meleset sekitar 16%, artinya dari 100 orang pria penderita PJK yang
terbukti benar hanya 84 orang. Biasanya perlu pemeriksaan lanjut dengan melakukan
kateterisasi jantung.
Pemeriksaan ini sampai sekarang masih merupakan Golden Standard untuk
PJK. Karena dapat terlihat jelas tingkat penyempitan dari pembuluh arterikoroner,
apakah ringan,sedang atau berat bahkan total.
5. Kateterisasi jantung
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kateter semacam selang
seukuran ujung lidi. Selang ini dimasukkan langsung ke pembuluh nadi (arteri). Bisa
melalui pangkal paha, lipatanlengan atau melalui pembuluh darah di lengan bawah.
Kateter didorong dengan tuntunan alar rontgen langsung ke muara pembuluh koroner.
Setelah tepat di lubangnya, kemudian disuntikkan cairan kontras sehingga mengisi
pembuluh koroner yang dimaksud. Setelah itu dapat dilihat adanya penyempitan atau
malahan mungkin tidak ada penyumbatan. Penyempitan atau penyumbatan ini dapat
saja mengenai beberapa tempat pada satu pembuluh koroner. Bisa juga sekaligus
mengenai beberapa pembuluh koroner.
Atas dasar hasil kateterisasi jantung ini akan dapat ditentukan penanganan
lebih lanjut. Apakah apsien cukup hanya dengan obat saja, disamping mencegah atau
mengendalikan bourgeois resiko. Atau mungkin memerlukan intervensi yang dikenal
dengan balon. Banyak juga yang menyebut dengan istilah ditiup atau balonisasi. Saat
ini disamping dibalon dapat pula dipasang stent, semacam penyangga seperti cincin
atau gorng-gorong yang berguna untuk mencegah kembalinya penyempitan. Bila
tidak mungkin dengan obat-obatan, dibalon dengan atau tanpa stent, upaya lain adalah
dengan melakukan bedah pintas koroner.
6. ABI (ankle-brachial index), dilakukan pengukuran tekanan darah di pergelangan kaki
dan
7. Pemeriksaan Doppler di daerah yang terkena
8. Skening ultrasonik Duplex
9. CT scan di daerah yang terkena
10. Arteriografi resonansi magnetik
11. Arteriografi di daerah yang terkena
12. IVUS (intravascular ultrasound).

F. KOMPLIKASI

Aterosklerosis adalah suatu kondisi berupa pengumpulan lemak (lipid) di sepanjang
dinding arteri. Lemak ini kemudian mengental, mengeras (membentuk deposit kalsium),
dan akhirnya mempersempit saluran arteri sehingga mengurangi suplai oksigen maupun
darah ke organ-organ tubuh. Timbunan lemak yang mengeras di dinding arteri ini disebut
plak. Bila plak menutupi saluran arteri sepenuhnya, jaringan yang disuplai oleh arteri akan
mati. Bila arteri jantung (arteri koroner) yang tersumbat, akan terkena angina, serangan
jantung, gagal jantung kongestif, atau irama jantung abnormal. Bila arteri otak (arteri
serebral) yang tersumbat, akan menyebabkan stroke, baik stroke ringan ataupun stroke
berat.
Komplikasi aterosklerosis yang sering terjadi adalah tromboemboli. Hal ini terjadi
bila sebuah plak pecah dan bermigrasi melalui arteri ke bagian lain. Plak yang beredar ini
disebut emboli atau embolus, yang terdiri tidak hanya lemak tapi juga sel-sel mati,
gumpalan darah dan jaringan berserat yang tercerabut. Emboli dapat menyebabkan
kerusakan karena menghalangi aliran darah di tempat tujuan, sehingga jaringan
kekurangan oksigen dan mati.

G. PENGOBATAN

Sampai tingkat tertentu, tubuh akan melindungi dirinya sendiri dengan cara
membentuk pembuluh darah baru di daerah yang terkena. Sebelum terjadinya komplikasi,
aterosklerosis mungkin tidak akan. Sebelum terjadinya komplikasi, terdengarnya bruit
(suara meniup) pada pemeriksaan dengan stetoskop bisa merupakan petunjuk dari
aterosklerosis. Denyut nadi pada daerah yang terkena bisa berkurang.
Bisa diberikan obat-obatan untuk menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam
darah (contohnya Kolestiramin, kolestipol, asam nikotinat, gemfibrozil, probukol,
lovastatin). Aspirin, ticlopidine dan clopidogrel atau anti-koagulan bisa diberikan untuk
mengurangi resiko terbentuknya bekuan darah.
Angioplasti balon dilakukan untuk meratakan plak dan meningkatkan aliran darah
yang melalui endapan lemak. Enarterektomi merupakan suatu pembedahan untuk
mengangkat endapan. Pembedahan bypass merupakan prosedur yang sangat invasif,
dimana arteri atau vena yang normal dari penderita digunakan untuk membuat jembatan
guna menghindari arteri yang tersumbat.

Prosedur bedah tandur dilakukan berdasarkan pada angiogram yang dapat
memperlihatkan tingkat obstruksinya. Prosedur bedah vaskuler dibagi menjadi 2 kelompok
yaitu inflow yang menyuplai darah dari aorta ke arteri femoralis, dan prosedur outflow
yang menyuplai darah ke pembuluh di bawah arteri femoralis. Bila obstruksi terletak
setinggi aorta atau arteri iliaka, diperlukan inflow darah yang baru. Prosedur bedah pilihan
adalah tandur aorta iliaka. Bila mungkin anastomosis bagian distalnya disambungkan pada
arteri iliaka, sehingga seluruh prosedur pembedahan dapat dikerjakan seluruhnya dalam
abdomen. Namun bila arteri iliaka mengalami penyumbatan atau aneurisma, anastomosis
distalnya harus disambungkan ke arteri femoralis (aorta bifemoral).
Bila dilakukan inflow pada pasien namun kondisi pasien tersebut tidak
memungkinkan untuk pembedahan abdomen, yang dapat menyebabkan berbagai variasi
tekanan darah dan memerlukan waktu pembedahan yang lama, maka dapat dilakukan
prosedur inflow dari arteri aksilaris ke arteri femoralis. Kedua arteri aksilaris dapat dipakai
untuk inflow. Hal ini penting karena kebanyakan pasien tersebut juga mengalami
penyumbatan pembuluh darah seperti gagal ginjal kronis yang memerlukan cuci darah.
Misalnya, bila digunakan arteri aksilaris kanan, maka dapat disambungkan ke tandur yang
disambungkan ke arteri femoralis kiri (bila arteri femoralis ini adekuat) untuk menyuplai
kedua tungkai. Jadi pasien menerima tandur aksiler-femoral dari kanan ke kiri. Apabila
kedua sisi memerlukan darah, maka tandur aksiler-bifemoral lebih diutamakan. Apabila
penyumbatan aterosklerosis terletak di bawah ligamen inguinalis di arteri femoralis
superfisialis, pembedahan pilihannya adalah tandur femoral popliteal. Bila anastomosis
distal dilakukan di atas lutut mungkin perlu dipakai bahan prostetis untuk tandur. Namun
bila anastomosis distalnya di bawah lutut, yang diperlukan adalah tandur vena safena agar
tetap paten. Pembuluh darah yang tersumbat di daerah tungkai bawah dan pergelangan
kaki juga memerlukan tandur.
Terkadang seluruh arteri poplitea tersumbat dan hanya terdapat sirkulasi kolateral.
Oleh sebab itu tandur dibuat dari femoral ke arteri tibialis atau arteri peroneal. Tandur
memerlukan vena asli agar tetap paten. Vena asli adalah vena autolog, biasanya vena
safena magna atau parva atau kombinasi keduanya untuk memperoleh panjang yang
diperlukan. Kepatenan tandur ditentukan oleh berbagai hal mencakup ukuran tandur, lokasi
tandur, dan terjadinya hiperplasi lapisan intima pada tempat anastomosis. Berbagai teknik
sinar X terbukti sebagai terapi yang dianjurkan pada prosedur pembedahan. Angioplasti
laser adalah teknik dimana gelombang cahaya yang kuat disalurkan malalui kateter serat
optic. Gelombang laser akan memanaskan ujung kateter perkutan dan menguapkan plak
aterosklerosis. Alat artektomi rotasional dapat mengangkat lesi dengan mengabrasi plak
yang telah menyumbat arteri secara total. Kelebihan laser, angioplasty dan artektomi
adalah waktu untuk dirawat di rumah sakit menjadi singkat

H. DIET KHUSUS

Karena penyakit jantung koroner didahului oleh adanya aterosklerosis, maka dasar-
dasar perawatan diet bagi penderita aterosklerosis juga berlaku bagi perawatan diet
penderita penyakit jantung koroner.

Berikut ini beberapa hal harus diperhatikan dalam perawatan diet penderita jantung
koroner :
1. Pembatasan kandungan kalori dalam diet perlu dilakukan lebih-lebih jika penderita
tergolong obesitas atau berat badannya melebihi berat badan ideal. Penderita
penyakit jantung koroner sebaiknya mempunyai berat badan sedikit di bawah berat
badan ideal.
2. Penggunaan lemak jenuh harus dihindarkan, sedangkan lemak tak jenuh berganda
(polyunsatrated fatty acid) yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah, dapat
diperbanyak untuk menggantikan lemak jenuh.
3. Pemakaian gula dalam diet sehari-hari hendaknya tidak berlebihan, karena
konsumsi gula yang tinggi dapat mempermudah terjadinya aterosklerosis.
4. Untuk mengurangi beban kerja jantung, porsi makanan sebaiknya kecil. Agar tubuh
mendapatkan semua zat gizi yang diperlukan dalam jumlah yang cukup, frekuensi
pemberian makanan hendaknya lebih sering.
5. Pengurangan garam perlu dilakukan apabila penderita menunjukkan tanda-tanda
kenaikan tekanan darah atau terlihat adanya edema.
6. Bahan makanan yang dapat menimbulkan gas dalam lambung seperti kol, lobak,
durian, dan sebagainya sebaiknya tidak diberikan.
7. Bumbu-bumbu yang dapat menimbulkan rangsangan seperti lombok, merica, dan
sebagainya hendaknya dihindarkan.
8. Penderita tidak diberi minuman berupa kopi, teh kental, atau minuman yang
mengandung soda (soft drink) dan alkohol.
9. Makanan atau kue yang terlalu manis dan makanan berlemak atau dimasak dengan
lemak hendaknya tidak diberikan.
10. Disamping perawatan dietetik, juga perlu dilakukan upaya penyembuhan yang lain,
terutama mengurangi berbagai faktor risiko, seperti merokok, tekanan emosional,
dan sebagainya. Juga olah raga fisik perlu dilakukan untuk menjaga agar tidak
terjadi kenaikan berat badan.

I. PENCEGAHAN

Mencermati proses pembentukan plaque, maka upaya pencegahan progresifitas
aterosklerosis harus dilakukan sedini mungkin. Itu sebabnya pencegahan progresifitas
aterosklerosis akan efektif dan berdampak besar jika dimulai dari sebelum timbulnya
gejala klinis, sebab jika gejala klinis sudah timbul, maka sebetulnya progresifitas
aterosklerosis sudah dalam keadaan berat.
Mencermati peranan factor resiko dalam proses aterosklerosis, maka dimengerti
bahwa semua pada akhirnya akan menyebabkan peningkatan kadar lemak atau kolesterol
darah dan kadar radikal bebas atau oksidan. Dan semua itu menyebabkan plaque lebih
banyak terbentuk, yang bila semakin besar akan menyumbat pembuluh darah jantung
sehingga serangan jantung pun timbul.
Perubahan gaya hidup juga penting dilakukan serta membiasakan mengkonsumsi
minuman dan makanan yang sehat. Selain itu ada beberapa hal yang musti dilakukan,
yaitu:
Menurunkan berat badan jika mengalami kelebihan berat badan
Diet rendah lemak-rendah garam
Menurunkan kadar kolesterol
Menurunkan tekanan darah jika memiliki tekanan darah tinggi
Berhenti merokok dan minum alkohol
Aktif dalam berolah raga
Mengelola dan menghadapi stress dengan bijak.
Pada orang-orang yang sebelumnya telah memiliki resiko tinggi untuk menderita
penyakit jantung, merokok sangatlah berbahaya karena:
- merokok bisa mengurangi kadar kolesterol baik (kolesterol HDL) dan
meningkatkan kadar kolesterol jahat (kolesterol LDL)
- merokok menyebabkan bertambahnya kadar karbon monoksida di dalam darah,
sehingga meningkatkan resiko terjadinya cedera pada lapisan dinding arteri
- merokok akan mempersempit arteri yang sebelumnya telah menyempit karena
aterosklerosis, sehingga mengurangi jumlah darah yang sampai ke jaringan
- merokok meningkatkan kecenderungan darah untuk membentuk bekuan, sehingga
meningkatkan resiko terjadinya penyakit arteri perifer, penyakit arteri koroner,
stroke dan penyumbatan suatu arteri cangkokan setelah pembedahan.

Resiko seorang perokok untuk menderita penyakit arteri koroner secara langsung
berhubungan dengan jumlah rokok yang dihisap setiap harinya. Orang yang berhenti
merokok hanya memiliki resiko separuh dari orang yang terus merokok, tanpa
menghiraukan berapa lama mereka sudah merokok sebelumnya.
Berhenti merokok juga mengurangi resiko kematian setelah pembedahan bypass
arteri koroner atau setelah serangan jantung. Selain itu, berhenti merokok juga
mengurangi penyakit dan resiko kematian pada seseorang yang memiliki aterosklerosis
pada arteri selain arteri yang menuju ke jantung dan otak.














DAFTAR PUSTAKA

C. Guyton, Arthur. 1983. Fisiologi, Kedokteran. Jakarta : EGC
http://medicastore.com/penyakit/137/Aterosklerosis_Atherosclerosis.html
http://jantung.klikdokter.com/subpage.php?id=2&sub=69
http://www.station.com/search/aterosklerosis-/
http://www. en.wikipedia.org./wiki/arteri
http://www. search.ebscohost.com/journal/arteriosclerosis.htm