Anda di halaman 1dari 49

SAMBUTAN

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dikenal pula sebagai negara maritim
dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km
2
yang terdiri dari perairan territorial 3,1 juta km
2
dan ZEE
Indonesia 2,7 km
2
. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia terdiri dari 17.504 buah pulau
dan panjang pantai mencapai 95.181 km (KKP, 2011). Kondisi ini merupakan anugrah yang sangat
besar bagi pembangunan perikanan dan kelautan. Disamping itu, sumberdaya ikan yang hidup di
wilayah perairan Indonesia memiliki tingkat keragaman hayati (bio-diversity) sangat tinggi, dan
bahkan laut Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia. Disamping
sumberdaya dapat pulih sebagaimana dikemukakan di atas, perairan laut Indonesia juga memiliki
sumberdaya tidak pulih seperti mineral (minyak, gas dan lain sebagainya) serta jasa-jasa lingkungan.
Kondisi ini selanjutnya menjadikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sangat potensial untuk
dikembangkan berbagai kegiatan. Agar potensi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat dikelola
secara optimal dan tepat sasaran, maka perlu dikelola melalui Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 27 Tahun
2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pulau-Pulau Kecil dan Pulau-Pulau Kecil.

Rencana pengelolaan berisi kerangka kebijakan, prosedur dan tanggung jawab yang
diperlukan untuk mendukung pembuatan keputusan oleh administrator sektoral dalam pengelolaan,
penggunaan dan pengalokasian sumberdaya pesisir secara tepat. Rencana pengelolaan
memungkinkan penetapan sasaran pengelolaan untuk masing-masing zona dan/atau subzona dalam
Rencana Zonasi, untuk mengeluarkan izin penggunaan sumberdaya oleh dinas-dinas sektoral. Tujuan
penyusunan Pedoman Teknis ini adalah untuk memberikan panduan kepada Pemerintah Provinsi,
Kabupaten dan Kota pesisir dalam menyusun Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil (RPWP-3-K) agar sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan dalam UU No. 27/2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
No. 16/2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Dengan disusunnya Pedoman Teknis ini, diharapkan akan memberikan kesamaan persepsi
dalam memberikan arahan teknis kepada Kelompok Kerja Penyusunan RPWP-3-K Kabupaten/Kota
dan memberikan kemudahan dalam proses penyusunan RPWP-3-K Kabupaten/Kota kepada pihak-
pihak yang diberikan tugas penyusunan RPWP-3-K Kabupaten/Kota.
.

Jakarta, Desember 2013
Sudirman Saad



Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil



KATA PENGANTAR

Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, terdiri atas: (1) Rencana
Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RSWP-3-K; (2) Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RZWP-3-K; (3) Rencana
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RPWP-3-K; dan (4)
Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya disebut RAWP-3-
K. Sebagaimana amanat UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil pada pasal 7 ayat 3 pemerintah daerah wajib untuk menyusun keempat perencanaan tersebut.

Rencana pengelolaan berisi kerangka kebijakan, prosedur dan tanggung jawab yang
diperlukan untuk mendukung pembuatan keputusan oleh administrator sektoral dalam pengelolaan,
penggunaan dan pengalokasian sumberdaya pesisir secara tepat. Rencana pengelolaan
memungkinkan penetapan sasaran pengelolaan untuk masing-masing zona dan/atau subzona dalam
Rencana Zonasi, untuk mengeluarkan izin penggunaan sumberdaya oleh dinas-dinas sektoral.
Diharapkan dengan adanya Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil ini, dapat memberikan kesamaan persepsi dan memberikan kemudahan dalam
proses penyusunan RPWP-3-K Kabupaten/Kota, sehingga dapat menunjang upaya mengoptimalkan
perencanaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Kami menyadari bahwa buku Pedoman Teknis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kami mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaannya. Ucapan terimakasih dan
penghargaan kami sampaikan sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan pedoman ini. Semoga pedoman ini dapat bermanfaat dalam upaya Perencanaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Indonesia.


Jakarta, Desember 2013
Subandono Diposaptono



Direktur Tata Ruang Laut,
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

1

DAFTAR ISI


BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Ruang Lingkup
1.4 Landasan Hukum
1.5 Fungsi dan Manfaat
1.6 Hirarki Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
1.7 Daftar Istilah dan Definisi

BAB II. SISTEMATIKA DAN MUATAN RENCANA PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-
PULAU KECIL
2.1 Sistematika Rencana Pengelolaan WP3K
2.2 Muatan Rencana Pengelolaan WP3K
2.2.1 Bab 1 Pendahuluan
2.2.2 Bab 2 Gambaran Umum Wilayah Pengelolaan
2.2.3 Bab 3 Pendekatan dan Proses Penyusunan Rencana Pengelolaan
2.2.4 Bab 4 Rencana Pemanfaatan Sumberdaya
2.2.5 Bab 5 Kebijakan dan Prosedur Pengelolaan WP3K
2.2.5 Bab 5 Implementasi Rencana Pengelolaan
2.2.6 Bab 6 Peninjauan Kembali Dokumen RPWP-3-K
2.2.7 Bab 7 Daftar Kontak Person
2.2.8 Daftar Pustaka
2.3 Masa Berlaku Rencana Pengelolaan WP3K

BAB III. PROSES PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-
PULAU KECIL
3.1 Sosialisasi
3.2 Pembentukan Kelompok Kerja
3.3 Inventarisasi Program dan Kegiatan PWP-3-K
3.4 Penyusunan Dokumen Awal
3.5 Kerjasama Antar Instansi
3.6 Konsultasi Publik
3.7 Perumusan Dokumen Final
3.8 Penetapan

BAB IV. PERSETUJUAN







Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

2

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Contoh Struktur Pengelolaan Program ICZPM
Gambar 2. Contoh Proses Kaji Ulang Proyek Pengelolaan Wilayah Pesiisr Terpadu



DAFTAR TABEL


Tabel 2.1. Contoh Ringkasan Mandat Instansi Serta Program Yang Relevan
Tabel 2.2. Contoh Keanggotaan Panitia/Sub-Panitia Program Pengelolaan Wilayah Pesisir
Terpadu
Tabel 2.3. Total Anggaran Berdasarkan Format RAB
Tabel 2.4. Contoh Dokumentasi Persyaratan Pelaporan
Tabel 2.5. Contoh Standar Pelayanan untuk Proses Telaah Proyek
Tabel 2.6. Contoh Daftar Biaya untuk Setiap Jenis Permohonan Review/Telaah
Tabel 2.7. Contoh Daftar Biaya untuk Setiap Jenis Permohonan Data
Tabel 2.8. Contoh Jenis Pemanfaatan Sumberdaya dan Kriteria
Tabel 2.9. Contoh Proses Pembatalan Sebuah Izin Pemanfaatan Sumberdaya
Tabel 2.10. Contoh Petunjuk untuk Menentukan Tingkat Konsultasi Publik

Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan domain utama Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) seperti yang telah jelas dan tegas disebutkan pada pasal 25 Undang-
Undang Dasar RI bahwa negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk
kepulauan. NKRI mempunyai jumlah pulau lebih dari 17.504 dan panjang garis pantai
(coastline) tidak kurang dari 81.290 km. Kekayaan sumberdaya alam pesisir dan pulau-pulau
kecil yang terkandung di dalamnya harus dikelola sedemikian rupa sehingga dapat menjadi
lokomotif bagi pembangunan ekonomi bangsa yang bermuara pada terwujudnya
kesejahteraan masyarakat. Untuk mencapai tujuan mulia tersebut, diperlukan pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang terpadu, partisipatif dan berkelanjutan.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil (selanjutnya disebut dengan PWP-3-K), pengelolaan wilayah pesisir
dan laut merupakan sebuah rangkaian kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengendalian
dan pengawasan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil. Untuk mewujudkan tata kelola
pesisir dan laut yang baik (good coastal and small islands governance), pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki hirarki perencanaan yang terkait satu sama lain, mulai
dari Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RSWP3K), Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP-3-K), Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil (RPWP-3-K) dan Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
pulau Kecil (RAPWP3K).
Berdasarkan hierarkhi perencanaan pengelolaan WP3K, Rencana Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RPWP-3-K) berisi kerangka kebijakan, prosedur dan
penanggung jawab dalam implementasi pengelolaan, penggunaan dan pengalokasian
sumberdaya secara tepat sebagaimana tertuang dalam dokumen rencana zonasi. Lebih
penting lagi, dalam RPWP-3-K harus mengidentifikasi pejabat yang bertanggungjawab
untuk pelaksanaan rencana pengelolaan wilayah pesisir terpadu, serta struktur dan
komposisi institusi yang akan melaksanakan pengelolaan. RPWP-3-K memungkinkan
sasaran pengelolaan ditetapkan untuk masing-masing zona (atau sub-zona) dalam RZWP-3-
K, melalui suatu sistem terkoordinir dalam mengeluarkan dan mengadministrasikan izin
penggunaan sumberdaya oleh dinas-dinas sektoral.
Pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota menyusun RPWP-3-K yang merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dan/atau komplemen dengan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) dan mengacu pada RSWP3K dan RZWP-3-K.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

2
Untuk meningkatkan kualitas proses penyusunan rencana pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil, diperlukan Petunjuk Teknis yang dapat dijadikan panduan bagi
Pemerintah Provinsi, Kabupaten atau Kota pesisir dalam penyusunan rencana pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RPWP-3-K) perlu
memperhatikan prinsip-prinsip perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil, yaitu:
a. Merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan/atau komplemen dari sistem
perencanaan pembangunan daerah;
b. Mengintegrasikan kegiatan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah,
antarsektor, antara pemerintahan, dunia usaha dan masyarakat, antara ekosistem
darat dan ekosistem laut, dan antara ilmu pengetahuan dan prinsip-prinsip
manajemen;
c. Dilakukan sesuai dengan kondisi biogeofisik dan potensi yang dimiliki masing-masing
daerah, serta dinamika perkembangan sosial budaya daerah dan nasional; dan
d. Melibatkan peran serta masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya.


1.2 Maksud dan Tujuan
Petunjuk Teknis ini dimaksudkan sebagai pedoman dalam kegiatan penyusunan dokumen
Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- pulau Kecil oleh Pemerintah Provinsi,
Kabupaten dan Kota.
Tujuan penyusunan Pedoman Teknis ini adalah untuk memberikan panduan kepada
Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota pesisir dalam menyusun Rencana Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP-3-K) agar sesuai dengan ketentuan yang
disyaratkan dalam UU No. 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 16/2008 tentang Perencanaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pedoman Teknis ini memuat tentang ketentuan teknis, proses dan prosedur,
serta ketentuan minimal lain yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan penyusunan Rencana
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP-3-K).


Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

3
1.4 Landasan Hukum
Petunjuk Teknis ini dilandasi berbagai peraturan dan perundang- undangan yang berlaku
antara lain :
(1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil;
(2) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 16 Tahun 2008 tentang Perencanaan
P engelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil.


1.5 Fungsi dan Manfaat
Fungsi Dokumen Rencana Pengelolaan WP-3-K antara lain untuk:
a. Sebagai perangkat operasional RZWP-3-K dalam rangka mengkoordinasikan
pengambilan keputusan di antara berbagai lembaga/instansi pemerintah mengenai
kesepakatan penggunaan sumber daya atau kegiatan pembangunan di zona yang
ditetapkan;
b. Arahan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan berdasarkan skala prioritas di
setiap kawasan, zona dan/atau subzona pemanfaatan yang ditetapkan;
c. Arahan skala prioritas agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah;
d. Kerangka prosedur dan tanggung jawab dalam rangka pengkoordinasian pengambilan
keputusan di antara berbagai lembaga/instansi pemerintah mengenai kesepakatan
penggunaan sumberdaya atau kegiatan pembangunan di setiap kawasan/zona dan
subzona yang ditetapkan;
e. Melindungi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dari pencemaran dan kerusakan
lingkungan; dan
f. Acuan bagi penyusunan RAPWP3K, rencana sektoral jangka menengah dan jangka
pendek.
Manfaat Dokumen Rencana Pengelolaan WP-3-K adalah menjadi pedoman yang rinci untuk
penanggung jawab penyelenggara sektoral dalam persiapan berbagai macam aksi-aksi
pengelolaan seperti pelaksanaan studi penelitian, pengumpulan data monitoring,
persetujuan penggunaan sumberdaya dan izin pembangunan, pembuatan pedoman kepada
pemegang izin, perumusan peraturan baru, pembuatan petunjuk pelaksanaan, petujuk
praktek, standar industri, dsb. Sehingga memudahkan keefektifan mekanisme pengawasan,
pelaksanaan dan melakukan amandemen secara periodik terhadap dokumen rencana
pengelolaan wilayah pesisir.


Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

4
1.6 Hirarki Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Hirarki Rencana Pengelolaan WP3K digambarkan sebagai 4 (empat) dokumen perencanaan
yang terpisah dan ditambahkan atlas sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,
untuk mengenali tahapan penting dan tindak lanjut kegiatan-kegiatan perencanaan yang
harus dilakukan. Piramid terbalik menggambarkan peningkatan fokus cakupan spasial untuk
kerincian rencana. Tujuan dan isi setiap dokumen dapat diuraikan sebagai berikut.











a. Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Untuk mempermudah penyusunan dokumen RSWP3K dapat disusun Atlas
Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang merupakan kompilasi dan
analisis data tahap awal pada perencanaan strategis, dan harus meliputi seluruh
kawasan pesisir provinsi. Pada umumnya, kebanyakan atlas menampilkan kompilasi
data tabel dari sumber sekunder seperti laporan penelitian, dinas sektoral dan biro
statistik dengan kecenderungan data time-series (runtun-waktu). Data time-series dan
analisa yang disediakan dalam atlas dimaksudkan untuk membantu identifikasi isu-isu
kunci yang akan dibahas sebagai bagian dari Rencana Strategis.
b. Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RSWP3K)
Rencana strategis harus secara luas menjabarkan seluruh wilayah pesisir dalam
yurisdiksi satuan pemerintahan yang sedang menyiapkannya (Provinsi dan/atau
Kabupaten/Kota). Rencana strategis harus merupakan arah kebijakan lintas sektor
untuk pembangunan melalui penetapan tujuan, sasaran dan strategi yang luas, serta
target pelaksanaan dan indikator yang tepat untuk memonitor rencana.
ATLAS
Rencana Strategis WP3K
Rencana Zonasi WP3K
Rencana Pengelolaan WP3K
Rencana Aksi Pengelolaan WP3K
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

5
c. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Rencana zonasi akan mendukung rencana strategis dengan mengarahkan aksi pada
lokasi geografi yang sesuai. Aspek penting yang terdapat dalam rencana strategis
dapat diringkas sebagai lampiran dalam rencana zonasi. Rencana zonasi
mengalokasikan ruang dengan fungsi utama sebagai : (i) kawasan konservasi, (ii)
kawasan pemanfaatan umum, (iii) kawasan strategis nasional tertentu, dan (iv) alur
laut. Rencana zonasi akan menjadi pedoman untuk penyusunan Rencana Pengelolaan
WP3K dan Rencana Aksi Pengelolaan WP3K.
d. Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Rencana pengelolaan berisi kerangka kebijakan, prosedur dan tanggung jawab yang
diperlukan untuk mendukung pembuatan keputusan oleh administrator sektoral
dalam pengelolaan, penggunaan dan pengalokasian sumberdaya pesisir secara tepat.
Rencana pengelolaan memungkinkan penetapan sasaran pengelolaan untuk masing-
masing zona dan/atau subzona dalam Rencana Zonasi, untuk mengeluarkan izin
penggunaan sumberdaya oleh dinas-dinas sektoral.
e. Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Rencana Aksi adalah suatu mekanisme pendanaan dalam pelaksanaan ketetapan
dokumen rencana pengelolaan. Rencana aksi antara lain berisi kegiatan/program
antar sektor yang disusun sesuai prioritas kegiatan pemanfaatan, lokasi dan
ketersediaan anggaran, serta kegiatan-kegiatan baik fisik dan non fisik yang
berdampak langsung dalam peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat pesisir. Rencana aksi juga berisi indikator kinerja
pencapaian sasaran.

1.7 Daftar Istilah dan Definisi
Istilah dan definisi yang digunakan dalam Petunjuk Teknis penyusunan rencana strategis
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil mencakup :
1) Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan
pulau-pulau kecil antar sektor, antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antara
ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2) Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang
dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. Secara operasional, batas ke arah
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

6
darat ditentukan sebagai batas kecamatan pesisir dan ke arah laut adalah 12 mil
untuk Provinsi dan 1/3 (satu pertiga) dari wilayah kewenangan Provinsi untuk
Kabupaten/Kota.
3) Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2
(dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan ekosistemnya.
4) Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah sumber daya hayati, sumber
daya nonhayati; sumberdaya buatan, dan jasa-jasa lingkungan; sumber daya hayati
meliputi ikan, terumbu karang, padang lamun, mangrove dan biota laut lain; sumber
daya nonhayati meliputi pasir, air laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan
meliputi infrastruktur laut yang terkait dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa
lingkungan berupa keindahan alam, permukaan dasar laut tempat instalasi bawah
air yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi laut yang terdapat di
wilayah pesisir.
5) Ekosistem adalah kesatuan komunitas tumbuh-tumbuhan, hewan, organisme dan
non organisme lain serta proses yang menghubungkannya dalam membentuk
keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas.
6) Bioekoregion adalah bentang alam yang berada di dalam satu hamparan kesatuan
ekologis yang ditetapkan oleh batas-batas alam, seperti daerah aliran sungai, teluk,
dan arus.
7) Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan
sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan
pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna.
8) Kawasan adalah bagian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki fungsi
tertentu yang ditetapkan berdasarkan kriteria karakteristik fisik, biologi, sosial, dan
ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya.
9) Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat,
melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau
kecil yang tersedia
10) Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses
penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur kepentingan
didalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya pesisir dan pulau-
pulau kecil yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu
lingkungan wilayah atau daerah dalam jangka waktu tertentu
11) Rencana Strategis adalah rencana yang memuat arah kebijakan lintas sektor untuk
kawasan perencanaan pembangunan melalui penetapan tujuan, sasaran dan strategi
yang luas, serta target pelaksanaan dengan indikator yang tepat untuk memantau
rencana tingkat nasional.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

7
12) Rencana Zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumber
daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola
ruang pada Kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan
tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh
izin.
13) Rencana Pengelolaan adalah rencana yang memuat susunan kerangka kebijakan,
prosedur, dan tanggung jawab dalam rangka pengkoordinasian pengambilan
keputusan di antara berbagai lembaga/instansi pemerintah mengenai kesepakatan
penggunaan sumberdaya atau kegiatan pembangunan di zona yang ditetapkan.
14) Rencana Aksi Pengelolaan adalah tindak lanjut Rencana Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang memuat tujuan, sasaran, anggaran, dan jadwal
untuk satu atau beberapa tahun ke depan secara terkoordinasi untuk melaksanakan
berbagai kegiatan yang diperlukan oleh instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah,
dan pemangku kepentingan lainnya guna mencapai hasil pengelolaan sumber daya
pesisir dan pulau-pulau kecil di setiap Kawasan perencanaan.
15) Rencana Zonasi Rinci adalah rencana detail dalam 1 (satu) Zona berdasarkan
arahan pengelolaan di dalam Rencana Zonasi yang dapat disusun oleh Pemerintah
Daerah dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan teknologi yang dapat
diterapkan serta ketersediaan sarana yang pada gilirannya menunjukkan jenis dan
jumlah surat izin yang dapat diterbitkan oleh Pemerintah Daerah.
16) Hak Pengusahaan Perairan Pesisir, selanjutnya disebut HP-3, adalah hak atas bagian-
bagian tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan dan perikanan, serta usaha
lain yang terkait dengan pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang
mencakup atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar
laut pada batas keluasan tertentu.
17) Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah upaya perlindungan,
pelestarian, dan pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta
ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan Sumber
Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan
kualitas nilai dan keanekaragamannya.
18) Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan
pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk
mewujudkan pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara berkelanjutan.
19) Sempadan Pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional
dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari titik
pasang tertinggi ke arah darat.
20) Rehabilitasi Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah proses pemulihan
dan perbaikan kondisi ekosistem atau populasi yang telah rusak walaupun hasilnya
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

8
berbeda dari kondisi semula.
21) Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan
manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan
cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase.
22) Daya Dukung Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kemampuan wilayah
pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk
hidup lain.
23) Mitigasi Bencana adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik secara
struktur atau fisik melalui pembangunan fisik alami dan/atau buatan maupun
nonstruktur atau nonfisik melalui peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
24) Pencemaran Pesisir adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,
energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan pesisir akibat adanya kegiatan
Orang sehingga kualitas pesisir turun sampai ke tingkat tertentu yang penyebabkan
lingkungan pesisir tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
25) Pemangku Kepentingan Utama adalah para pengguna sumber daya pesisir dan
pulau-pulau kecil yang mempunyai kepentingan langsung dalam mengoptimalkan
pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, seperti nelayan tradisional,
nelayan modern, pembudidaya ikan, pengusaha pariwisata, pengusaha perikanan,
dan masyarakat pesisir.
26) Pemberdayaan Masyarakat adalah upaya pemberian fasilitas, dorongan atau
bantuan kepada masyarakat pesisir agar mampu menentukan pilihan yang terbaik
dalam memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil secara lestari.
27) Konsultasi publik adalah suatu proses penggalian dan dialog masukan, tanggapan dan
sanggahan antara pemerintah daerah dengan Pemerintah, dan pemangku
kepentingan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dilaksanakan antara lain
melalui rapat, musyawarah/rembug desa, dan lokakarya.
28) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
29) Satuan Kerja Perangkat Daerah adalah organisasi/lembaga pada pemerintah
daerah yang bertanggungjawab pada pelaksanaan tugas di bidang tertentu di provinsi,
atau kabupaten/kota.
30) Instansi terkait adalah instansi pemerintah dan/atau pemerintah daerah, unit
pelaksana teknis, dan instansi vertikal
31) Masyarakat adalah masyarakat yang terdiri dari masyarakat adat dan masyarakat lokal
yang bermukim di wilayah pesisir dan pulau- pulau kecil.
32) Masyarakat Adat adalah kelompok masyarakat pesisir yang secara turun-temurun
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

9
bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal-usul leluhur,
adanya hubungan yang kuat dengan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, serta
adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial,dan hukum.
33) Masyarakat Lokal adalah kelompok masyarakat yang menjalankan tata kehidupan
sehari-hari berdasarkan kebiasaan yang sudah diterima sebagai nilai-nilai yang berlaku
umum tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada sumber daya pesisir dan pulau-pulau
kecil tertentu.
34) Masyarakat Tradisional adalah masyarakat perikanan tradisional yang masih diakui
hak tradisionalnya dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan atau kegiatan
lainnya yang sah di daerah tertentu yang berada dalam perairan kepulauan sesuai
dengan kaidah hukum laut internasional.
35) Kearifan Lokal adalah nilai-nilai luhur yang masih berlaku dalam tata kehidupan
masyarakat.
36) Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
37) Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati/walikota, dan perangkat daerah
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
38) Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang kelautan dan
perikanan.
39) Direktur Jenderal adalah direktur jenderal yang bertanggung jawab di bidang
kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

10
BAB II
SISTEMATIKA DAN MUATAN RENCANA PENGELOLAAN
WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL


2.1 Sistematika Rencana Pengelolaan WP3K
Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP-3-K) sedikitnya memuat
dan disusun menurut sistematika sebagai berikut :






















Bab I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Petunjuk Teknis
1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Ruang Lingkup Pengelolaan (Lingkup Geografis dan Substansi)
1.4 Kedudukan RPWP-3-K dalam ICM dan Perencanaan Pembangunan
1.5 Daftar istilah
Bab II GAMBARAN UMUM WILAYAH PENGELOLAAN
2.1 Deskripsi Umum
2.2 Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
2.3 Pola Penggunaan Lahan dan Perairan
2.4 Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Pesisir
2.5 Permasalahan Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Bab III Pendekatan dan Proses Penyusunan Rencana Pengelolaan
3.1 Proses Pendekatan
3.2 Proses Penyusunan Rencana Pengelolaan
3.3 Tata Cara Penyusunan

Bab IV RENCANA PEMANFAATAN SUMBERDAYA
4.1 Rencana Pemanfaatan Sumberdaya pada Kawasan, Zona dan Sub Zona
4.2 Ketentuan Pengendalian Pemanfaatan Kawasan, Zona dan Sub Zona (Zoning Text)
4.3 Arahan Prioritas Pemanfaatan Sumberdaya pada Kawasan, Zona dan Sub Zona

BAB V KERANGKA KEBIJAKAN DAN PROSEDUR ADMINISTRASI PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
5.1 Kerjasama Antar Instansi
5.1.1 Nota Kesepahaman
5.1.2 Mandat Lembaga
5.1.3 Kerjasama Antar Pemerintah
5.2 Tatalaksana Pengelolaan
5.2.1 Koordinasi Pengelolaan
5.2.2 Struktur Pengelolaan dan Keanggotaan
5.3 Pertemuan dan Pelaporan
5.3.1 Rencana Kerja Tim Koordinasi
5.3.2 Dokumentasi dan Pelaporan
5.4 Pengaturan Pembiayaan
5.5 Kewenangan Pengambilan Keputusan
5.6 Kebijakan Operasional
5.7 Mekanisme Perijinan Proposal Proyek
5.8 Standar Pelayanan dan Rekomendasi Perijinan
5.9 Penetapan Penggunaan Sumberdaya
5.10 Resolusi Konflik
5.11 Konsultasi Publik
5.12 Akses terhadap Informasi
Bab VI IMPLEMENTASI KEGIATAN PENGELOLAAN
Bab VII PENINJAUAN DAN AMANDEMEN DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN
Bab VIII DAFTAR KONTAK
Bab IX PENUTUP

Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

11
2.2 Muatan Rencana Pengelolaan WP3K
2.2.1 Bab 1 Pendahuluan
a. Latar Belakang
Bagian ini menjelaskan urgensi atau alasan mengapa perlu disusun dokumen Rencana
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, sebagai bagian tidak terpisahkan
dari pengelolaan pesisir secara terpadu. Juga disajikan isu-isu dan permasalahan
utama di wilayah yang perencanaan yang perlu dikelola secara terpadu.
Rencana Pengelolaan WP3K merupakan bagian dari sejumlah rencana pengelolaan
wilayah pesisir terpadu yang saling melengkapi; karenanya, tidak perlu mengulang lagi
informasi yang sudah tercantum pada dokumen rencana lainnya. Namun demikian,
Rencana Pengelolaan WP3K hendaknya dengan ringkas menggambarkan atau
merujuk rencana-rencana lain, dan merangkum secara lengkap informasi latar
belakang supaya dapat dibaca sebagai dokumen yang terpisah.
b. Maksud dan Tujuan
Bagian ini menyajikan maksud, tujuan dan manfaat disusunnya dokumen Rencana
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RPWP-3-K) dalam konteks
pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Juga dijelaskan pihak-pihak yang akan
memanfaatkan dokumen pengelolaan ini.
c. Ruang Lingkup Pengelolaan
Bagian ini menjelaskan isi atau muatan teknis dokumen rencana pengelolaan serta
penjelasan cakupan geografis implementasi wilayah pengelolaan sesuai batas
pengelolaan administrasi pemerintahan. Misalnya, jika Rencana Pengelolaan WP3K
disiapkan untuk kabupaten/kota, maka cakupan geografis Rencana Pengelolaan
tersebut akan terbatas hanya pada wilayah pesisir (daratan dan perairan) yang
berada pada batas wilayah administratif darat kabupaten dan 4 ml bagian dari wilayah
lepas pantai.
d. Kedudukan RPWP-3-K dalam ICM dan Rencana Pembangunan Lain
Bagian ini berisi uraian kedudukan Rencana Pengelolaan WP3K dalam system
perencanaan pembangunan daerah dan dalam kerangka perencanaan pengelolaan
wilayah pesisir secara terpadu (ICM).
Selain itu, bagian ini juga menjelaskan tentang bagaimana kaitan antara dokumen
Rencana Pengelolaan dengan rencana-rencana lain yang sudah ditetapkan terlebih
dahulu. Seluruh dokumen rencana pengelolaan wilayah pesisir terpadu (pengelolaan
wilayah pesisir terpadu) tunduk pada berbagai peraturan perundangan yang berlaku
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

12
di wilayah administratif pemerintahan (provinsi atau kabupaten) yang mendasarinya;
dan juga pada perundang-undangan yang lebih tinggi seperti Undang-undang
Penataan Ruang (Undang- undang No. 26/2008).
Pada dasarnya suatu dokumen rencana yang lebih rendah pada urut-urutan hukum
harus seazas dengan rencana yang lebih tinggi di atasnya, demikian halnya dengan
Rencana Operasional pengguna sumberdaya setempat harus seazas dengan rencana
pemerintah. Misalnya, peruntukan wilayah pada Rencana Zonasi pengelolaan pesisir
wilayah terpadu tidak boleh berlawanan dengan peruntukan untuk wilayah yang
sama yang telah termuat pada rencana di tingkat lebih tinggi seperti Rencana Tata
Ruang Wilayah. Secara umum, pengelolaan wilayah pesisir terpadu harus menambah
rencana lain dengan mengisi kesenjangan pada cakupan ruang yang ada. Ringkasan
rencana-rencana dan perundang-undangan yang relevan dan secara sah sudah
ditetapkan dalam hukum yang berlaku hendaknya dimasukkan dalam bentuk tabel
pada Rencana Pengelolaan ini.

2.2.2 Bab 2 Gambaran Umum Wilayah Pengelolaan
a. Deskripsi Umum
Deskripsi umum menjabarkan informasi geografis wilayah perencanaan dalam
koordinat geografis dan batas-batas wilayah perencanaan, iklim, geomorfologi, kondisi
biologi/ekologinya dan pola hubungan sosial dan kegiatan ekonomi dengan wilayah
pesisir kabupaten/kota atau provinsi tetangga dan luar kawasan. Bagian ini juga
menyajikan suatu kaji ulang tentang terbentuknya budaya seperti kelompok etnik
utama, nilai agama, organisasi sosial dan tradisi dan sejarah unik yang telah
membentuk keadaan sosial- budaya masyarakat pesisir sekarang dan interaksi
ekonomi diantara masyarakat dengan pihak luar.
b. Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Bagian ini menjelaskan kondisi sumber daya pesisir dan pulau-pulau yang terdapat di
seluruh wilayah lingkup pengelolaan, yang dikelompokkan dalam empat kategori:
1) Sumber daya hayati: vegetasi pantai, mangrove, padang lamun, terumbu
karang, biota darat dan perairan; dan lain-lain.
2) Sumber daya non hayati : mineral, migas, pasir laut dan lain-lain.
3) Sumber daya buatan: prasarana perikanan, prasarana perhubungan, bangunan
pantai, pemecah gelombang (break water), tambat labuh (jetty), tembok laut (sea
wall), dan tambak.
4) Jasa-Jasa Lingkungan: obyek wisata bahari, media pelayaran, energi gelombang
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

13
laut, tempat penyerapan karbon (carbon sink), dan lain-lain.
Informasi ini diperlukan untuk menunjukkan kuantitas dan kualitas sumber daya yang
ada beserta peluang pembangunan masa depan. Informasi ini disajikan menggunakan
istilah non-teknis dan tanpa data rinci statistik.
c. Pola Penggunaan Lahan dan Perairan
Bagian ini menjelaskan kondisi pola penggunaan lahan dan perairan yang didasarkan
pada potensi sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Beberapa sektor
utama yang berperan dalam pemanfaatan ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil, diantaranya: Sektor kehutanan dan Sektor pertanian; Sektor perikanan dan
kelautan; Sektor pertambangan; Sektor pariwisata, dan Sektor pembangunan
daerah/perkotaan agar digambarkan secara ringkas dan jelas. Selain itu diperlukan
ruang terbuka hijau untuk mitigasi bencana (antara lain: tsunami, gempa bumi, badai,
dan lain-lain).
d. Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Pesisir
Bagian ini menggambarkan kondisi sosial-budaya-ekonomi yang terdapat di wilayah
pengelolaan yang meliputi keadaan demografi dan kecenderungan dalam
memanfaatkan sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil:
1) Distribusi populasi, jenis kelamin dan struktur umur, angka harapan hidup, angka
kelahiran, jumlah pekerja dan pendapatan dll;
2) Karakter sosial budaya, seperti pendidikan, kepercayaan budaya/pantangan,
penyakit, sumber utama pencaharian atau pekerjaan dan pendapatan , kearifan
lokal dll.;
3) Struktur ekonomi, pada kawasan perencanaan berdasarkan kontribusi produk
domestik pembangunan regional kotor (GDP) dari sektor utama seperti kehutanan,
perikanan, pertambangan, pertanian, pariwisata, perhubungan, dsb.
Berdasarkan kondisi sosial-budaya-ekonomi tersebut diharapkan dapat diantisipasi
arahan pola demografi dan pertumbuhan ekonomi ke depan melalui
ekstrapolasi/prediksi dari data kuantitatif yang telah dikumpulkan dari pusat data
spatial provinsi yang sudah terbentuk, BAPPEDA, Dinas Kelautan dan Perikanan, Biro
Pusat Statistik, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, Lembaga Swadaya Masyarakat
dan instansi terkait lainnya. Skenario masa depan sebaiknya diprediksi berdasarkan
data empiris beberapa tahun sebelumnya dan diberi penjelasan singkat mengenai
proyeksinya berdasarkan pandangan lingkungan, sosial dan ekonomi.

Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

14
e. Permasalahan Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Bagian ini menjelaskan berbagai isu dan permasalahan terkait dengan sumberdaya
pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah, sedang maupun yang diperkirakan akan
terjadi di wilayah pengelolaan. Wilayah pesisir di Indonesia memiliki berbagai potensi,
mulai dari potensi perikanan, pariwisata, transportasi, dan energi. Namun yang
perlu kita sadari adalah wilayah pesisir juga menyimpan potensi bencana, baik
yang disebabkan oleh alam maupun oleh ulah manusia. Potensi tersebut dapat
berupa tsunami, gempa bumi, abrasi, rob, banjir, pencemaran dan salah satu isu yang
terjadi diseluruh dunia adalah pemanasan global (Global Warming) yang
mengakibatkan kenaikan paras muka air laut (Sea Level Rise). Diharapkan dengan
mengetahui isu-isu permasalahan atau potensi bencana yang ada di wilayah pesisir,
Pemerintah Daerah dapat melaksanakan strategi untuk mengurangi dampak bencana
yang akan terjadi.

2.2.3 Bab 3 Pendekatan dan Proses Penyusunan Rencana Pengelolaan
1. Proses Pendekatan
Bagian ini menjelaskan beberapa pendekatan yang digunakan dalam menyusun
dokumen Rencana Pengelolaan.
2. Proses Penyusunan Rencana Pengelolaan
Bagian ini menjelaskan tahap-tahap yang dilalui selama proses penyusunan dokumen
Rencana Pengelolaan. Biasanya diawali dengan pembentukan Tim Kerja dan diakhiri
dengan legalisasi dokumen Rencana Pengelolaan. Dalam dokumen Rencana
Pengelolaan agar dijabarkan durasi waktu yang diperlukan untuk masing-masing tahap
kegiatan yang dilaksanakan.
3. Partisipasi Stakeholder
Bagian ini menjelaskan pihak-pihak stakeholder yang dilibatkan selama proses
penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan. Selain itu, dijelaskan pula mekanisme
partisipasi stakeholder yang dilaksanakan.

2.2.4 Bab 4 Rencana Pemanfaatan Sumberdaya
1. Rencana Pemanfaatan Sumberdaya pada Kawasan, Zona dan Sub Zona
Bagian ini menjelaskan pembagian pemanfaatan ruang pesisir dan pulau-pulau kecil ke
dalam kawasan, zona dan sub zona sesuai hasil kajian sebagaimana tertuang dalam
dokumen rencana zonasi (Provinsi/Kabupaten/Kota). Penjabarannya meliputi arahan
rencana peruntukan ruang untuk fungsi konservasi, fungsi kawasan strategis nasional
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

15
tertentu, fungsi pemanfaatan umum dan fungsi alur laut mencakup informasi
mengenai lokasi dan luas untuk setiap kawasan/zona/sub zona.

2. Ketentuan Pengendalian Pemanfaatan Kawasan, Zona dan Sub Zona
Bagian ini menjelaskan berbagai ketentuan pemanfaatan untuk setiap kawasan, zona
dan sub zona sebagai alat penertiban pemanfaatan ruang yang meliputi pernyataan
kawasan/zona/sub zona tentang kegiatan yang diperbolehkan atau dilarang,
ketentuan perizinan, ketentuan pemberian insentif dan disinsetif yang mengacu pada
zoning text.

3. Arahan Prioritas Pemanfaatan Sumberdaya pada Kawasan, Zona dan Sub Zona
Bagian ini menjelaskan penjabaran dari indikasi program utama
pengelolaan/pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil selama kurun waktu
5 (lima) tahun berdasarkan skala prioritas yang disesuaikan dengan kemampuan
pembiayaan, kondisi fisik lingkungan dan sosial-ekonomi-budaya.

2.2.5 Bab 5 Kebijakan dan Prosedur Pengelolaan WP3K
1 Kerjasama Antar Instansi
Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut akan melibatkan berbagai instansi lintas
sektor. Karena itu perlu dirumuskan kewenangan atau mandat masing-masing
instansi/lembaga, serta bentuk-bentuk kerjasama antar instansi yang terlibat dalam
pengelolaan wilayah pesisir, termasuk peran dan komitmen masing-masing instansi
secara teknis maupun financial.
Bagian ini memuat kewenangan lembaga/instansi yang terlibat serta bentuk-bentuk
pola kerjasama antar instansi dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil dalam satu kawasan/zona, antara lain :
(1) Nota Kesepakatan atau Memorandum of Understanding (MoU)
Nota kesepakatan merupakan kontrak yang menetapkan komitmen formal untuk
bekerjasama diantara instansi-instansi pemerintah daerah. Bagian ini menjelasakan
beberapa kesepakatan yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman antar Instansi di
daerah dalam kaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Nota Kesepakatan,
jika ada, bisa disertakan sebagai Lampiran pada RPWP-3-K. Jika Nota Kesepakatan
sudah ditandatangani, hendaknya nota tersebut dikutip pada bagian RPWP-3-K ini dan
salinannya disertakan sebagai Lampiran.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

16
(2) Mandat Lembaga
Bagian ini menjelaskan peran dan kewenangan masing-masing lembaga/instansi
SKPD yang terkait dalam pengelolaan dan pengembangan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil. Penjelasan mandat dan kewenangan serta tugas pokok dan fungsi
tiap instansi/SKPD dapat digali dari Surat Keputusan pembentukannya. Kemungkinan
semua lembaga pemerintah akan memiliki tanggungjawab atau program- program
yang sedang berjalan yang relevan dengan masyarakat pesisir. Namun demikian,
mandat lembaga pemerintah inti bersama dengan program dan kegiatannya yang
relevan dengan pengelolaan sumberdaya pesisir hendaknya dirangkum sebagai satu
Lampiran pada RPWP-3-K (lihat Tabel 2.1).
Tabel 2.1
Contoh Ringkasan Mandat Instansi Serta Program Yang Relevan

Instansi

Mandat
Relevansi dengan Pengelolaan
Pesisir
Kehutanan Melindungi dan melestarikan hutan dan taman-taman sejenis
serta sumberdaya rekreasi milik negara.
Mempraktekkan pengelolaan sumberdaya terpadu melalui
kerjasama sepenuhnya dengan lembaga lain, masyarakat,
dan pihak-pihak terkait.
Memastikan bahwa persyaratan perundangan untuk
pelestarian hutan yang berkelanjutan diindahkan.
Mendorong produktivitas maksimum sumberdaya hutan
milik pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sosial,
ekonomi, dan lingkungan.
Melaksanakan pelestarian bakau
dan program rehabilitasi.
Menerbitkan izin memanen
bakau dan hutan pesisir secara
berkelanjutan.
Mengatur cagar alam di wilayah
pesisir yang telah ditentukan
dan wilayah konservasi lainnya.
Diadaptasi dari Nootka Resource Board 2001

(3) Kerjasama Antar Pemerintah
Sumberdaya pesisir dan laut terdiri dari ekosistem yang fungsinya seringkali
melampaui batas-batas wilayah administrasi kabupaten atau provinsi. Misalnya,
keberlanjutan sumberdaya setempat yang memiliki nilai ekonomis seperti udang laut,
sangat tergantung pada pelestarian ekosistem hutan bakau yang bisa saja terletak
diluar wilayah administrasi setempat. Karenanya, diperlukan kerjasama antar
pemerintah daerah dalam penerapan program pengelolaan wilayah pesisir terpadu
untuk pengelolaan sumberdaya yang secara fungsional saling berhubungan. Salah
satun bentuk kerjasama antar pemerintah daerah biasanya dituangkan dalam bentuk
Nota Kesepahaman.
Bagian ini menjelaskan bentuk-bentuk kerjasama yang sedang maupun akan dilakukan
antar pemerintah daerah dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Contoh
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

17
Nota Kesepahaman antar wilayah hukum yang berdekatan seperti ini disertakan
sebagai Lampiran 1 pada pedoman ini.
Dalam dokumen RPWP-3-K hendaknya dijelaskan mengapa diperlukan suatu
kerjasama antar pemerintah daerah, sumberdaya alam yang dikerjasamakan
pengelolaannya serta siapa yang menandatangani dokumen kerjasama tersebut.
Rancangan atau model Nota Kesepahaman, jika ada, dapat disertakan sebagai
Lampiran pada RPWP-3-K.

2 Tatalaksana Pengelolaan
Rencana Pengelolaan yang efektif memerlukan suatu sistem yang ditetapkan secara
jelas untuk mengatur dan mengkordinasikan berbagai kegiatannya. Tanggung jawab
rencana pengelolaan bisa didelegasikan kepada instansi pemerintah yang ada, atau
kepada badan yang khusus dibentuk untuk tujuan tersebut.
Bagian ini menjelaskan sistem tata laksana pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil secara terpadu yang akan diterapkan termasuk instansi atau badan
pemerintah yang diberi tanggung jawab pengelolaan.
(1) Badan Pengelola
Bagian ini menjelaskan instansi atau badan yang diberi kewenangan sebagai
penanggung jawab koordinasi dan administrasi dalam pengelolaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil, serta uraian tugas pokok dan fungsinya.
(2) Struktur Organisasi Pengelolaan dan Keanggotaan
Bagian ini menjelaskan struktur organisasi badan pengelola yang diajukan untuk
mengadministrasikan program Rencana Pengelolaan, termasuk peran dan tanggung
jawab masing-masing komponen yang ada dalam organisasi tersebut. Hirarki
struktur pengelolaan harus mengambarkan semua pihak yang terdapat dalam
organisasi yang akan dibentuk untuk mengkoordinir proses pengambilan keputusan.
Struktur tersebut biasanya terdiri dari Penanggung Jawab, Tim Pengarah, Tim
Koordinasi serta Kelompok Kerja Teknis, dan Sekretariat. Contoh struktur bagi
pengelolaan program pengelolaan wilayah pesisir terpadu disajikan pada Gambar 1.
Penanggung jawab implementasi pengelolaan wilayah pesisir terpadu biasanya
dipegang oleh kepala daerah (gubernur / bupati / walikota).
Tim Pengarah program pengelolaan wilayah pesisir terpadu biasanya terdiri dari
kepala badan yang bersifat koordinatif, dan kepala SKPD yang membidangi kelautan
dan perikanan (al. Bappeda dan Dinas Kelautan dan Perikanan). Tim Pengarah
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

18
bertugas memberikan arahan terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dipecahkan
di tingkat-tingkat lain pada struktur pengelolaan. Selain itu, Tim Pengarah juga
berwenang merumuskan dan menyetujui peran, tanggung jawab dan kewenangan
untuk masing-masing Tim Koordinasi dan Kelompok Kerja Teknis.
Gambar 1
Contoh Struktur Pengelolaan Program ICZPM

Tim Pengarah juga memiliki kewenangan untuk melibatkan pejabat dari instansi-
instansi pemerintah luar daerah (pusat, provinsi atau kabupaten/kota yang
bertetangga) untuk berpartisipasi sebagai anggota atau pengamat. Tim Pengarah juga
bertanggung jawab untuk membuat keputusan rutin tentang pengelolaan program
dan persoalan kebijakan, termasuk rencana kerja tahunan dan pengalokasian dana.
Tim Pengelolaan dibantu oleh beberapa kelompok kerja teknis yang terdiri dari wakil
badan- badan berkepentingan dengan masalah-masalah tertentu dan para pemangku
kepentingan stakeholders dapat ikut serta dalam menjalankan peran sebagai
penasehat. Struktur pengelolaan terpadu ini didukung oleh sebuah Sekretariat.
Rencana Pengelolaan harus mengidentifikasi instansi mana saja yang akan
menjalankan fungsi program kesekretariatan jika suatu lembaga terpisah seperti
Kantor Pengelolaan Pantai Terpadu tidak dibentuk. Badan yang ditunjuk, diharapkan
melaksanakan fungsi kesekretariatan.

Panitia Pengarah
Kajian Proyek
Penilaian Lingkungan
Konsultasi Publik
Perencanaan
Lingkungan
Klasifikasi Sumberdaya
Pedoman Pelaksanaan
Penggunaan
Sumberdaya dan
Perencanaan Tata
Ruang
GIS
Peruntukan Zona/Area
Pembangunan
Ekonomi
Tenaga Kerja dan
Investasi
Promosi dan Pemasaran
Panitia Pengelola Sekretariat
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

19
(3) Keanggotaan Badan Pengelola
Bagian ini menjelaskan susunan anggota badan pengelola untuk masing-masing
bidang kerja serta ketentuan yang mengatur keanggotaan masing-masing bidang yang
ada. Setiap bidang harus diketuai oleh seorang anggota dari Badan Pengelolaan,
biasanya dengan pangkat kepala bidang serta memiliki latar belakang yang sesuai.
Anggota bidang tetap adalah pejabat lembaga pemerintah setempat, biasanya dengan
pangkat kepala sub-bidang. Meskipun setiap anggota dari Badan Pengelolaan
cenderung hanya memimpin satu bidang, para anggota setiap bidang boleh bekerja di
beberapa bidang atau kelompok kerja yang relevan bagi instansi mereka. Usul
keanggotaan dari berbagai panitia dan sub-panitia dapat disajikan dalam bentuk tabel
pada RPWP-3-K (lihat Tabel 2.2).
Tabel 2.2
Contoh Keanggotaan Panitia/Sub-Panitia Program Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu

Panitia / Kelompok

Ketua

Anggota
Panitia Pengarah Kepala Bappeda Kabupaten Kadinas Kelautan & Perikanan
Kadinas Kehutanan
Kadinas Pertanian
Kepala Bapedalda
Dst.
Pengamat :
Kabid Fisik & Prasarana, Bappeda Provinsi
Panitia Pengelolaan KaBid X, Bappeda Kabupaten KaBid Z, Dinas Kelautan & Perikanan
KaBid A, Dinas Kehutanan
KaBid Y, Dinas Pertanian
KaBid A, Bapedalda
Dst.
Sub-Panitia Kajian Proyek KaBid A, Bapedalda Dst.

3. Pertemuan dan Pelaporan
Bagian ini menjelaskan tata cara dan agenda pertemuan-pertemuan yang sedang atau
akan dilaksanakan oleh seluruh anggota Badan Pengelola.
Meskipun diperlukan banyak pertemuan, biasanya Tim Pengarah mengadakan
pertemuan sekurang-kurang 6 bulan sekali untuk mendiskusikan kemajuan
menyeluruh Rencana Pengelolaan, menyetujui rencana kerja dan anggaran, serta
menelaah laporan kerja. Anggota Tim Koordinasi harus bertemu secara formal
sekurang-kurangnya sekali sebulan. Pokja dapat melakukan pertemuan lebih jarang
atau lebih sering, tergantung dari sifat pekerjaan yang harus diselesaikannya. Jadwal
pertemuan tetap menentukan kewajiban anggota dan menentukan tenggang
waktu penyelesaian tugas-tugas yang diamanatkan.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

20
Sebagai contoh, komentar tertulis dari bidang Kajian Proyek kepada Dinas
Kelautan dan Perikanan sehubungan dengan satu permohonan izin yang diusulkan
kepada DKP oleh pihak perusahaan untuk proyek budidaya kerang harus siap
didiskusikan pada pertemuan bidang berikutnya. Cara ini memberikan kepastian
waktu kepada para penelaah yang telah ditunjuk, lembaga/ instansi sektoral
bersangkutan dan pengusul proyek untuk menyerahkan/menerima tanggapan.
Rencana Pengelolaan harus menentukan frekwensi pertemuan minimum bagi
masing-masing Bidang/sub bidang, dan menegakkan bahwa jadwal atau tanggal
pertemuan harus ditentukan setiap tahun sebagai bagian dari Rencana Kerja
Pengelolaan.
(1) Penyusunan Rencana Kerja Pengelolaan
Sebagaimana disebutkan di atas, Badan Pengelolaan harus mempersiapkan
Rencana Kerja dan anggaran tahunan agar dapat memperoleh pendanaan bagi
kegiatan operasional mereka, yang kemungkinan besar melalui instansi anggota
badan sebagai penanggung jawab rencana pengelolaan. Bagian ini menjelaskan
bagaimana badan pengelolaan dalam mempersiapkan Rencana Kerja Pengelolaan
yang juga melibatkan instansi-instansi yang akan terlibat.
Struktur Rencana Kerja Pengelolaan dan anggaran juga harus dijelaskan secara
lengkap termasuk rencana alokasi waktu pelaksanaan Rencana Kerja Pengelolaan
harus selesai. Diharapkan bahwa perencanaan pekerjaan akan sejalan dengan
siklus perencanaan proyek di Indonesia.
Biasanya, Rencana Kerja Pengelolaan gabungan (juga disebut Rencana Bisnis atau
Rencana Pelayanan) diajukan dalam seksi di masing-masing Bidang/sub bidang yang
menguraikan secara singkat hasil-hasil yang telah dicapai di masa lalu, tanggung jawab
(masing-masing sesuai dengan TOR), kegiatan yang diusulkan, jadwal, hasil/luaran
yang diharapkan, dan kebutuhan anggaran.
Jadwal kegiatan diuraikan secara ringkas dengan menggunakan diagram Gantt
(diagram batang). Rencana anggaran diharapkan dapat mengikuti format RAB (lihat
Tabel 2.3).
Tabel 2.3
Total Anggaran Berdasarkan Format RAB

No

Uraian Kegiatan
Volume Fisik Volume Kegiatan

Biaya Satuan
(Rp.)

Jumlah Biaya
(Rp.)
Jumlah Satuan Jumlah Satuan


Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

21
Rencana Kerja Pengelolaan yang digambarkan di atas adalah khusus untuk kegiatan
berbagai panitia program. Lebih jauh lagi, Badan Pengelolaan diharapkan
mengkordinasikan persiapan Rencana Kerja pengelolaan wilayah pesisir terpadu lintas
sektoral untuk setiap tahun fiskal berdasarkan Rencana Aksi pengelolaan wilayah
pesisir terpadu multi-tahun.
(2) Dokumentasi dan Pelaporan
Bagian RPWP-3-K ini menjelaskan persyaratan untuk mempersiapkan laporan kinerja,
pengarsipan dan sirkulasi dokumen, serta aksesibilitasnya. Biasanya, laporan
kemajuan kegiatan pengelolaan per triwulan disampaikan dalam jangka waktu 30 hari
pada akhir triwulan tahun fiskal. Laporan triwulan terakhir pada tahun fiskal tersebut
berfungsi sebagai laporan tahunan yang merangkum semua kegiatan dan kemajuan
pada tahun tersebut. Laporan administrasi ini boleh mengikuti struktur Rencana Kerja.
Lebih jauh lagi, pengelola program mungkin memilih untuk menyiapkan berbagai
laporan teknis seperti Laporan Status Pembangunan dan Lingkungan Pantai.
Laporan Status tersebut diharapkan dapat memantau tolok ukur (indikator) kinerja
untuk pencapaian tujuan dan sasaran program rencana pengelolaan sesuai dengan
Rencana Strategis, dan bisa dijadikan sebagai laporan tahunan atau dua-tahunan.
Semua anggota badan pengelola termasuk pokja harus membuat catatan tertulis
untuk mendokumentasikan proses pengambilan keputusan. Catatan-catatan ini
biasanya diterima oleh pihak Sekretariat program segera setelah pertemuan selesai.
Semua tanggal pertemuan harus ditandai. Semua laporan yang dibuat setelah
berlangsungnya suatu peristiwa atau keputusan, sering dianggap mengada-ada.
Laporan kinerja harus dilaporkan kepada masyarakat. Biasanya, laporan hasil rapat
internal dan perihal surat menyurat hanya perlu diedarkan kepada kalangan lembaga
dan panitia yang relevan saja. Sifat dokumen dan persyaratan pelaporannya dapat
dirangkum dengan menggunakan tabel (lihat Tabel 2.4).
Tabel 2.4
Contoh Dokumentasi Persyaratan Pelaporan
Jenis Dokumen Tugas Standar Sirkulasi
Laporan Rapat Sub-
Panitia
Pimpinan Rapat Dikirim ke Sekretariat dalam
waktu tidak lebih dari 7 hari
setelah pertemuan
Panitia Pengelolaan.
Anggota Sub-Panitia.
Pihak lain yang ditentukan.

4. Pengaturan Pembiayaan
Seperti telah diuraikan, kegiatan-kegiatan panitia penyusunan rencana pengelolaan harus
mendapatkan dukungan pembiayaan. Kecuali untuk honor anggota panitia, operasional
sekretariat dan bahan rapat. Oleh karena itu, tergantung dengan kesepakatan yang ada,
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

22
setiap lembaga yang terlibat program diharapkan untuk menyediakan sendiri biaya-biaya
untuk jam kerja stafnya, perjalanan, peralatan, komunikasi dan publikasi, sebagai bagian
dari kontribusi lembaganya dalam rencana pengelolaan.
Bagian ini menjelasakan uraian tentang pengaturan pembiayaan untuk semua aktivitas
terkait pengelolaan pesisir. Walaupun pengaturan tersebut mungkin sudah dicantumkan
dalam Nota Kesepakatan antar lembaga yang terlibat, kesepakatan tersebut tetap harus
ditegaskan kembali di sini.
5. Kewenangan Pengambilan Keputusan
Hirarki kewenangan pengambilan keputusan dan kriteria untuk penyerahan ke jenjang
yang lebih tinggi harus dijelaskan pada bagian ini dalam RPWP-3-K. Misalnya, proyek-
proyek yang sejalan dengan tujuan Rencana Zonasi, tidak menimbulkan dampak
lingkungan dan sedikit bersentuhan dengan masyarakat, lembaga/instansi sektor
mempunyai kewenangan penuh untuk memberikan izin. Jika menyangkut masalah
lingkungan yang lebih serius terkait dengan proyek sehingga harus dilakukan mitigasi,
maka hak veto atau persetujuan akhir mungkin harus diberikan kepada Bapedalda.
Jika terdapat dampak lingkungan besar dan juga manfaat ekonomi besar yang harus
dipertimbangkan, maka kewenangan arbitrasi dapat saja diberikan Kepada Bappeda
(atau Bupati). Kriteria penyerahan wewenang harus dijelaskan dengan rinci untuk
menghindari penafsiran ganda, dan harus merupakan pelengkap dan bukan sebaliknya
malah menimbulkan konflik dengan peraturan yang sudah ada.
6. Kebijakan Operasional
Di bagian ini dalam RPWP-3-K sebaiknya ditetapkan, setiap standar fisik perencanaan
nasional atau internasional, sistem klasifikasi habitat, prosedur penilaian dampak
lingkungan, standar kerja industri, dsb. yang harus dipakai dalam pengambilan
keputusan program pengelolaan pesisir terpadu. Misalnya, pada komponen Survei dan
Pemetaan MCRMP, Standar Nasional Indonesia (SNI) diperlukan untuk peta topografi
sedangkan International Hydrographic Organization (IHO) Standard 44 dipakai untuk
mengumpulkan data batimetri. Standar keakuratan peta pada pengelolaan spasial
wilayah tercantum dalam PP 10/2000. Standar-standar ini sudah ditetapkan sebagai
kebijakan resmi MCRMP.
SNI dan perundang-undangan yang terkait dengan pemetaan dapat diperoleh dari
Bakosurtanal, dan standar Penilaian Dampak Lingkungan dapat diperoleh dari Kantor
Menteri Lingkungan Hidup. Instansi-instansi lain seperti Kehutanan dan Pertambangan
akan mempunyai petunjuk operasional atau praktek pengelolaan terbaik untuk para
pengguna sumberdaya yang mungkin saja dapat dipakai sebagai pegangan dalam
penilaian proposal proyek. Persyaratan untuk memasukkan informasi kedalam
database standar provinsi dan nasional seperti GMRIS harus juga ditentukan dengan jelas.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

23

7. Mekanisme Perijinan
Bagian ini dalam RPWP-3-K harus menjelaskan proses permohonan dan kaji ulang
terkordinasi yang harus diikuti menurut tahapannya oleh pemohon proyek/pelamar untuk
mendapatkan izin pemanfaatan sumberdaya atau pembangunan. Izin adalah suatu
persetujuan yang diberikan oleh pemerintah untuk melaksanakan aktivitas tertentu yang
sesuai dengan sasaran suatu zona; dan merupakan alat pengelolaan sumberdaya utama
yang ada pada lembaga pemerintahan.
(1) Formulir dan Prosedur Permohonan
Sudah biasa pada setiap program pengelolaan wilayah pesisir terpadu untuk
menentukan suatu Formulir Permohonan Umum (FPU) yang akan digunakan oleh
semua lembaga yang terlibat untuk mengumpulkan semua informasi yang diperlukan
bagi penilaian suatu proyek atau pemanfaatan sumberdaya yang diajukan. Akan
tetapi, jika FPU tidak harus dibuat, maka cukup dengan merinci formulir permohonan
apa yang cocok pada masing-masing lembaga sektor. Berdasarkan lokasi, ukuran dan
dampak potensial dari aktivitas yang diajukan, berbagai alur prosedur bisa saja
direncanakan. Alur prosedur dan kriteria-kriteria seleksi ini harus dijelaskan dalam
RPWP-3-K. Misalnya dapat saja digunakan sistem tiga alur sebagai berikut:
Alur Telaah Cepat: cocok untuk proyek pemanfaatan sumberdaya atau
pembangunan yang sejalan dengan sasaran zona; tersedia petunjuk baku
pelaksanaan atau pengelolaan kerja; kecil kemungkinan terjadi dampak yang
merugikan; tidak beresiko terhadap habitat sensitif dan sumberdaya berharga; dan
kepentingan masyarakat akan kecil. Telaah dilakukan oleh lembaga sektor terkait
atas nama program pengelolaan wilayah pesisir terpadu, meskipun bisa saja
berkonsultasi dengan mitra program yang lain, dan keputusan akhir diarsipkan di
Sekretariat program.
Telaah Standar: sesuai untuk diterapkan pada proyek-proyek pembangunan atau
pemanfaatan sumberdaya yang sejalan dengan sasaran zona, namun tidak dilengkapi
dengan petunjuk operasional atau praktek pengelolaan kerja baku; kemungkinan
menimbulkan dampak lingkungan yang cukup besar, ada kemungkinan berpengaruh
terhadap habitat sensitif dan sumberdaya yang berharga; dan diantisipasi akan
berkaitan dengan kepentingan masyarakat (publik). Telaah dilakukan oleh sub-
Panitia Kajian Proyek dari program pengelolaan wilayah pesisir terpadu, disertai
rekomendasi tertulis kepada lembaga sektor (pengelola). Keputusan akhir akan
diarsipkan di Sekretariat program.
Telaah Menyeluruh: tepat untuk proyek-proyek pembangunan yang mungkin tidak
sejalan dengan sasaran zona; tidak ada petunjuk operasional atau praktek
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

24
pengelolaan kerja terbaik; kemungkinan menimbulkan dampak lingkungan yang
signifikan, ada ancaman terhadap habitat sensitif dan sumberdaya yang berharga;
dan jelas-jelas ada konflik atau kepentingan publik. Telaah dilakukan oleh suatu
Kelompok Kerja (Task Force) yang dibentuk oleh Panitia Pengelolaan program
pengelolaan wilayah pesisir terpadu disertai rekomendasi tertulis kepada lembaga
sektor (pengelola).
Gambar 2
Contoh Proses Kaji Ulang Proyek Pengelolaan Wilayah Pesiisr Terpadu

(2) Proses Telaah
Bagian ini harus menjelaskan proses telaah permohonan yang harus diikuti (lihat
Gambar 2). Proses yang ditentukan harus memberikan kesempatan bagi publik untuk
berpartisipasi dengan maksud untuk membangun kepercayaan publik terhadap
proses tersebut. Harap dicatat bahwa Panitia program pengelolaan wilayah pesisir
terpadu tidak mengeluarkan izin, tetapi memberikan rekomendasi kepada lembaga
sektor (pengelola) sebelum mereka memberikan keputusan perizinan terhadap
Pra -Permohonan Diskusi
antar Lembaga Sektor dan
Pemohon
Permohonan Proyek
disampaikan oleh pemohon
kepada sLembaga Sektor
Alur Telaah Proyek ditetapkan
dan Pemohon diberitahu oleh
Lembaga Sektor
Permohonan lengkap
disampaikan oleh Lembaga
Sektor kepada Sekretarian
Pengelolaan
Telaah awal dan konfirmasi
alur telaah oleh sub-panitia
pengkaji proyek (P3)
Permohonan disebarkan oleh
sekretariat pengelolaan
wilayah pesisir terpadu
kepada para instansi dan
pusat informasi publik
Tanggapan instansi dan
masyarakat dikembalikan ke
sekretariat pengelolaan
wilayah pesisir terpadu
Pemohonan dan komentar
dipertimbangkan oleh P3.
Dilakukan pertemuan "open
house" jika diperlukan
P3 mempersiapkan satu
"jawaban terkoordinir"
sebagai wakil anggota
program pengelolaan
Jawaban dari program dikirim
oleh sekretariat pengelolaan
wilayah peisisr terpadu
kepada Lembaga Sektor
Lembaga Sektor menyetujui
atau menolah permohonan
proyek
Lembaga sektor
menyampaikan keputusan
kepada pemohon proyek
Tahapan Pra-Telaah
Tahapan Telaah Proyek
Tahapan Pasca Telaah
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

25
proyek. Dari perspektif pemohon proyek, telaah yang dilakukan haruslah
memfasilitasi dialog yang efektif dengan lembaga pemerintah dan menyoroti isu-isu
penting dalam perencanaan proyek sedini mungkin sehingga langkah-langkah
perbaikan dapat dilakukan.
Secara umum, telaah proyek harus mengikuti tiga tahapan prosedur:
Pada tahapan Pra-Telaah, pengusul proyek akan bekerja dengan lembaga
sektor (pengelola) untuk memastikan bahwa proposal sudah dibuat dengan
memuat semua informasi yang diperlukan.
Pada tahapan Kajian Proyek, proposal diserahkan oleh lembaga sektor
melewati alur prosedur yang benar dan dilanjutkan dengan tahapan-tahapan
telaah.
Pada tahap Pasca-Telaah, penilaian dan rekomendasi dari program pengelolaan
wilayah pesisir terpadu diserahkan lagi ke lembaga sektor untuk pengambilan
keputusan. Arsip program pengelolaan wilayah pesisir terpadu untuk masing-
masing proposal harus diperbaharui dengan informasi berdasarkan
rekomendasi kajian proyek dan keputusan final oleh lembaga sektor
(pengelola).
8. Standar Pelayanan
Untuk memberikan tingkat pelayanan yang konsisten terhadap masyarakat publik,
waktu tanggapan maksimum harus ditentukan pada setiap tahapan proses telaah
proyek. Waktu tanggapan maksimum biasanya akan bervariasi tergantung pada alur
prosedur yang ditentukan untuk suatu proposal proyek. Di dalam RPWP-3-K standar
pelayanan untuk setiap tahapan prosedur telaah proyek dapat disajikan dalam
bentuk tabel (lihat Tabel 2.5).
Tabel 2.5
Contoh Standar Pelayanan untuk Proses Telaah Proyek
Tahapan Alur Telaah Cepat Telaah Standar Telaah Menyeluruh
1. Diskusi pra-
Permohonan
Sesering mungkin
tergantung kebutuhan,
dan dilaksanakan dalam 5
hari kerja dari
permohonan perjanjian
pertama
Sesering mungkin
tergantung kebutuhan,
dan dilaksanakan dalam 5
hari kerja dari
permohonan perjanjian
pertama
Sesering mungkin tergantung
kebutuhan, dan dilaksanakan
dalam 5 hari kerja dari
permohonan perjanjian
pertama
2. Pemilihan Jalur Review
dan Pengumuman
Pemohon
Dalam 3 hari kerja setelah
hari penyerahan
permohonan
Dalam 5 hari kerja setelah
hari penyerahan
permohonan
Dalam 7 hari kerja setelah hari
penyerahan permohonan
Disadur dari FREMP 1994



Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

26
Biaya-Biaya Permohonan Telaah dan Perizinan
Bagian ini dalam RPWP-3-K harus mengidentifikasi setiap biaya yang harus dibayar
untuk setiap jenis review/telaah, dan kapan biaya-biaya tersebut harus dibayarkan.
Berbagai biaya permohonan kajian dapat dirangkum dalam sebuah tabel (lihat
Tabel 2.6).
Tabel 2.6
Contoh Daftar Biaya untuk Setiap Jenis Permohonan Review/Telaah
Jenis Review Biaya Review Jadwal Pembayaran
Alur Telaah Cepat (ATC) Rp. xx.xxx.xxx Biaya ATC dapat dibayarkan kepada pihak pengelola
bersamaan dengan permohonan
Telaah Standar (TS) Rp. xx.xxx.xxx Biaya ATC dapat dibayarkan kepada pihak pengelola
bersamaan dengan permohonan
Saldo biaya TS akan dibukukan jika Telaah Standar
dianggap perlu
Telaah Standar (TS-OHP)
dengan Open House Publik
Rp. xx.xxx.xxx Sama seperti Telaah Standar di atas kecuali saldo biaya
dapat dibayarkan sebelum pelaksanaan Open House
Disadur dari Port of Vancouver 2001
Biasanya untuk biaya telaah minimum yang harus dibayar (seperti Alur Telaah
Cepat) dikumpulkan pada lembaga sektoral (pengelola) pada saat pengumpulan
formulir permohonan lengkap. Satu tabel lainnya (lihat Tabel 2.7) bisa saja
diikutsertakan untuk mengidentifikasi biaya-biaya perizinan sebenarnya yang
dipungut oleh setiap lembaga sektoral berdasarkan peraturan pemerintah saat ini.
Tabel 2.7
Contoh Daftar Biaya untuk Setiap Jenis Permohonan Data
No. RP Penanggung Jawab Jenis Perizinan Biaya Perizinan No Peraturan
1.01 Dinas Pertambangan Kab. A Kelas C Pasir &
Krikil
Rp. x per tahun Perda XYZ/1995
No. RP. Nomor rujukan bagi Rencana Pengelolaan (RP)

9. Penetapan Penggunaan Sumberdaya
Bagian ini dalam RPWP-3-K harus menjelaskan persyaratan untuk mendapatkan izin
membangun atau memanfaatkan sumberdaya dan batasan apa saja yang harus
dilampirkan dalam izin tersebut. Fungsi izin lebih luas dari sekedar mendapatkan sewa
dari eksploitasi suatu sumberdaya negara atau untuk mengontrol aktivitas
pembangunan. Izin memberikan arti yang bermanfaat untuk mengumpulkan informasi
tentang pengguna sumberdaya dan data tentang bagaimana pola pemanfaatan
sumberdaya tersebut. Setiap wilayah administrasi dan instansi sektoral kemungkinan
akan mempunyai sedikit perbedaan persyaratan bagi orang yang membutuhkan izin,
jenis izin apa yang akan dikeluarkan, dan kapan serta di mana izin tersebut akan
diberlakukan. Kriteria dan kondisi perizinan ini untuk pemanfaatan sumberdaya yang
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

27
penting beserta maksud untuk menetapkan persyaratan baru bagi perizinan lokal dapat
dirangkum dalam sebuah tabel (lihat Tabel 2.8).
Tabel 2.8
Contoh Jenis Pemanfaatan Sumberdaya dan Kriteria
Pemanfaatan
Sumberdaya
Izin yang
diperlukan *
Kriteria No. Peraturan
(Jika ada)
Berlakunya
PENANGKAPAN IKAN
Nafkah
(Pemenuhan
Kebutuhan
Sendiri)
Tidak ada Kapal penangkap ikan tanpa mesin
atau kurang dari 1 GT
menggunakan pancing, bubu,
jaring insang, lempara dasar
atau alat tangkap kecil lainnya
Kepmen YZ/2000 Semua wilayah,
kecuali zona SR16,
E05 & SA12 dan DPL
yang dibuat berdasar-
kan peraturan lokal
* Jika diperlukan izin, gunakan No. Referensi Rencana Pengelolaan pada Tabel 2.7.

Pada akhirnya, semua pengguna sumberdaya seharusnya diminta mendapatkan izin.
Perizinan akan mendukung proses perencanaan, walaupun izin pemanfaatan sumberdaya
harus dikeluarkan secara gratis (tanpa biaya) kepada warga masyarakat miskin.
Spesifikasi kebiasaan (praktek) atau teknologi pemanfaatan sumberdaya yang dibolehkan
harus merupakan bagian dari izin pemanfaatan sumberdaya yang dikeluarkan untuk
tempat/lokasi tertentu oleh lembaga sektor terkait, atau yang diminta sebagai bagian dari
Rencana Operasional pengembang. Jika praktek pemanfaatan sumberdaya dibuat
sebagai bagian dari rencana pemerintah (misalnya Rencana Zonasi) maka praktek
tersebut harus secara konsisten diikuti semua pemegang izin. Meskipun demikian,
prosedur ini dapat saja mengurangi fleksibilitas di masa yang akan datang dalam
penggunaan metode-metode alternatif dan untuk memperkenalkan inovasi-inovasi teknis
pada tingkat operasional. Karena itu, praktek-praktek yang ditentukan dalam suatu
rencana pemerintah harus berdasarkan pengertian yang jelas tentang pilihan yang ada
serta implikasinya. Disarankan praktek dan teknologi tidak diperjelaskan sebagai bagian
dari suatu rencana pemerintah kecuali jika alasan untuk penerapan hal tersebut layak
secara teknis dan dapat diterima secara umum. Misalnya, jika diperlukan untuk mencapai
sasaran-sasaran pengelolaan tertentu.
Persetujuan pemanfaatan sumberdaya dapat berupa beberapa bentuk. Misalnya, dalam
hal perikanan tangkap bentuk-bentuk persetujuan bisa meliputi:
Pemanfaatan untuk memenuhi kebutuhan hidup/tradisional;
Izin masuk musiman atau temporer;
Izin panen komersial skala kecil;
Izin panen skala komersial (industri).
Persyaratan-persyaratan persetujuan harus dilampirkan pada izin pemanfaatan.
Persyaratan minimum seharusnya memuat tanggal berakhir izin, lokasi/daerah tertentu
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

28
dan teknologi yang akan digunakan (seperti jenis alat tangkap, jumlah alat, ukuran mata
jaring). Persyaratan lain bisa saja memuat jenis spesies yang ditargetkan, besarnya
produksi (seperti total tangkapan yang dibolehkan), persyaratan laporan pendaratan,
dan sebagainya. Persyaratan persetujuan ini dimaksudkan untuk melaksanakan
monitoring dan untuk mengelola secara efektif sumberdaya yang dapat diperbaharui.
Izin pembangunan harus memberikan penjelasan yang detil tentang wilayah dan
sumberdaya yang akan terpengaruh; dan semua persyaratan bagi praktek pemanfaatan
yang berkelanjutan, rehabilitasi dan konservasi. Persyaratan mininum apa saja untuk izin
pemanfaatan sumberdaya atau pembangunan harus dijelaskan pada bagian ini dalam
RPWP-3-K.
Prosedur pembatalan suatu izin pemanfaatan sumberdaya harus juga diidentifikasi
dalam RPWP-3-K. Pembatalan izin mungkin diperlukan karena berbagai alasan di
antaranya:
Penerapan kegiatan-kegiatan ilegal oleh pemegang izin (seperti pengeboman
ikan, menangkap ikan dengan cara meracun, pemakaian alat tangkap ilegal atau
tidak berizin, penangkapan spesies yang dilindungi, dst);
Merubah peruntukan zona yang telah ditentukan, atau sasaran pengelolaannya;
Mengurangi aktivitas dengan tujuan untuk melakukan mitigasi/rehabilitasi di
habitat sensitif dan di wilayah yang memiliki spesies langka atau terancam punah.
Pembatalan izin dilakukan oleh lembaga sektor (pengelola) dan harus mengikuti proses
pengambilan keputusan yang telah ditentukan serta tanggung jawab dan persyaratan
informasi yang jelas. Proses ini dapat dirangkum dalam sebuah diagram atau tabel (lihat
Tabel 2.9).
Tabel 2.9
Contoh Proses Pembatalan Sebuah Izin Pemanfaatan Sumberdaya
Tahapan Kegiatan Penanggung Jawab
1. Keputusan untuk memulai proses pembatalan dilakukan
dan dicatat secara tertulis dengan justifikasi dikirim ke
instansi sektor terkait dan pemegang izin
Pegawai
2. Menentukan konsultasi ekternal dan internal apa yang
diperlukan dan menyiapkan proposal bagaimana konsultasi
akan dilakukan
Lembaga Sektor (Pengelola)
3. Menetapkan apakah diperlukan peringatan publik pada
awal proses pembatalan
Lembaga Sektor (Pengelola)
4. Membuat proposal untuk mencabut izin dan
membuat rekomendasi kepada pihak yang
berwenang
Lembaga Sektor (Pengelola)
5. Mempersiapkan konsultasi publik (jika diperlukan) Lembaga Sektor (Pengelola)
6. Menyediakan hasil konsultasi publik, dan informasi lain
yang diperlukan kepada otoritas penanggung jawab (al.
Bupati)
Lembaga Sektor (Pengelola)
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

29
7. Membuat ketetapan tentang proposal dan semua penolakan,
dan menginformasikannya ke lembaga sektor.
Otoritas Penanggung Jawab
(al. Bupati)
8. Pemegang izin diberitahu apakah pembatalan dikabulkan Lembaga Sektor (Pengelola)
9. Jika dikabulkan, pembatalan dicatat di Buku Registrasi Publik Kordinator Program ICZM (Bappeda)
Diambil dari Pemerintah Daerah New Zealand 1998

10. Resolusi Konflik
Penyelesaian konflik (perselisihan) harus sejalan dengan tingkatan kewenangan yang
diberikan kepada pembuat keputusan berdasar perundang-undangan. Kebanyakan
perselisihan antara instansi pemerintah akan bermula pada saat penetapan sasaran
pengelolaan dan batas-batas zona. Pada umumnya, perselisihan antar instansi harus
diatasi pada tingkat profesional dan teknis sedini mungkin pada proses perencanaan.
Perselisihan antara pemangku kepentingan yang lain bisa saja terjadi dalam beberapa
kombinasi:
Antar kelompok yang berbeda di tingkat desa;
Antar kelompok dari desa yang berbeda;
Antar kelompok lokal dan instansi pemerintah;
Antar kelompok lokal dan perusahaan swasta atau Lembaga Swadaya Masyarakat.
Konflik dalam pengelolaan sumberdaya biasanya berasal dari perbedaan interpretasi
tentang distribusi sumberdaya dan wewenang pengambilan keputusan terhadap
pemakaiannya. Isu-isu ini dapat dibicarakan melalui suatu proses klarifikasi dan
pengakuan terhadap hak-hak ulayat untuk akses atau memanfaatkan sumberdaya.
Proses-proses yang seharusnya diikuti dalam penyelesaian berbagai jenis konflik
dijelaskan di bagian ini dalam RPWP-3-K.
Jalur penyelesaian konflik lainnya harus juga disediakan. Misalnya, isu antara pengguna
sumberdaya bisa saja diatasi melalui diskusi langsung antara pihak-pihak yang terkait
yang dijembatani oleh wakil dari instansi sektoral (pengelola). Jika tidak ada jalan keluar,
kemudian semua pihak bisa bersepakat mengikuti kesepakatan arbitrasi di mana
semua pihak akan tunduk kepada keputusan wasit netral yang ditunjuk oleh instansi
sektoral.
Jika konflik terjadi antara pemohon proyek dan instansi sektoral, maka proses pengajuan
permintaan banding harus dijelaskan. Dalam proses banding, pengambil keputusan
akhir harus diidentifikasi. Pada kebanyakan kasus, pengambil keputusan akhir adalah
Eksekutif Senior di daerah (Bupati).
11. Konsultasi Publik
Proses yang harus diikuti untuk menyelenggarakan konsultasi publik dalam keputusan-
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

30
keputusan pengelolaan wilayah pesisir terpadu harus dijelaskan pada bagian ini dari
RPWP-3-K. Pada proses Partisipasi Publik, para Pemangku Kepentingan sebenarnya
merembukkan penyelesaian yang bisa diterima dan bermanfaat bagi semua pihak
bersama-sama dengan lembaga sektor (pengelola). Akan tetapi, proses Konsultasi Publik
hanya mengikutsertakan pandangan-pandangan Pemangku Kepentingan yang diperlukan
sebelum keputusan akhir dibuat oleh lembaga sektor. Konsultasi publik biasanya
menyangkut pemberian informasi kepada Pemangku Kepentingan tentang proposal
tertentu yang sedang dipertimbangkan, dan mengumpulkan berbagai masukan dari
mereka. Informasi pendahuluan yang disediakan oleh sebuah lembaga harus
menyarankan pihak-pihak yang tertarik tentang isu yang sedang berkembang dan
mungkin juga mengemukakan beberapa pilihan spesifik. Informasi yang diberikan bisa
juga menjelaskan kecenderungan pilihan lembaga sendiri diantara beberapa pilihan
yang ada.
Prinsip-prinsip konsultasi efektif termasuk:
Harus sungguh-sungguh konsultasi harus memberitahukan bahwa keputusan
masih belum diambil;
Memberikan informasi yang cukup kepada semua pihak yang berkepentingan
tentang latar belakang yang relevan;
Memberikan waktu yang cukup bagi keterlibatan semua pihak;
Menyikapi semua tanggapan mereka dengan pikiran terbuka;
Mengeluarkan keputusan yang wajar dan adil berdasarkan berbagai komentar
yang didapatkan.
(1) Proses Konsultasi Publik
Petunjuk untuk menentukan tingkat konsultasi publik yang diperlukan dalam telaah
satu proposal dan metode yang akan digunakan harus dijelaskan di dalam sub-bagian
RPWP-3-K. Pembentukan kelompok kerja tenaga ahli dan dewan (gugus) penasehat
yang terdiri dari lintas kepentingan merupakan langkah penting pada kebanyakan
konsultasi. Akan tetapi, konsultasi jangan sampai hanya terbatas kepada orang-
orang yang memiliki pengetahuan teknis dan kepentingan komersial.
Ketergantungan hanya kepada individu tertentu bisa menimbulkan kesan bahwa
kepentingan-kepentingan tertentu lebih diutamakan.
Tidak setiap lapisan masyarakat harus dikonsultasi secara langsung. Pada saat
penentuan siapa yang harus dikonsultasi, pertimbangan perlu diberikan kepada
berapa besar ukuran kelompok-kelompok Pemangku Kepentingan yang sebenarnya,
lokasi dan kepentingan mereka. Biaya yang harus dikeluarkan oleh semua pihak,
kecenderungan pilihan masyarakat berkenaan dengan format masukan (tertulis,
lisan, orang-per-orang), dan tingkat pengetahuan atau pemahaman terhadap isu-isu
berikut implikasinya, merupakan beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi
efektivitas proses konsultasi.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

31
Terdapat metoda yang banyak untuk menjangkau Pemangku Kepentingan yang
diinginkan dan metoda ini dapat disesuaikan dengan tingkatan konsultasi yang
dirasakan perlu untuk dilakukan. Beberapa metoda ini meliputi:
Pencatatan dalam Buku Registrasi Publik Terbuka;
Pengumuman terbuka di media masa untuk mengundang tanggapan tertulis;
Mengumpulkan pendapat (polling) dari sejumlah pejabat pemerintah
pengambil keputusan dan tokoh-tokoh masyarakat;
Kelompok kerja ahli terdiri dari para teknokrat profesional;
Dewan (gugus) penasehat terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat, industriawan,
LSM dan pemerintah;
Diskusi kelompok fokus kecil yang merupakan wakil dari reaksi Pemangku
Kepentingan yang terkena dampak;
Survei (misalnya, Participatory Rapid Appraisal/PRA);
Seminar dan Lokakarya;
Rapat-rapat kelompok kecil masyarakat di daerah yang terpengaruh;
Pertemuan umum (Open House) di lokasi yang terkena dampak.
Metoda-metoda di atas diurut menurut besarnya biaya dan tingkat kompleksitasnya
dalam penyelenggaraan. Metoda konsultasi yang sesuai dapat dipilih berdasarkan
ruang lingkup dan pentingnya permasalahan (isu) yang dihadapi. Pemangku
Kepentingan dapat diinformasikan dan diberikan kesempatan untuk memberikan
tanggapan berkenaan dengan hal-hal rutine melalui pencatatan publik dan
pengumuman terbuka. Keseluruhan metoda dapat digunakan bila diperlukan untuk
isu-isu kontroversial atau yang memiliki dampak lingkungan penting.
Sebagai contoh, implementasi Rencana Zonasi, atau amandemen rencana tersebut,
dapat memiliki konsekuensi nyata untuk pengguna sumberdaya yang ada sekarang
maupun terhadap kepentingan para Pemangku Kepentingan yang lain. Karena itu
biasanya disarankan untuk menggunakan metode konsultasi seluas-luasnya dan
suatu rencana konsultasi harus dipersiapkan untuk mengorganisir proses tersebut.
Tabel 2.10
Contoh Petunjuk untuk Menentukan Tingkat Konsultasi Publik
Isu/Ha
l
Karakteris
tik
Metode Konsultasi
Izin Alur Telaah
Cepat
Sejalan dengan tujuan pengelolaan zona
terlibat; Tidak mengancam sumberdaya
berharga dan habitat sensitif;
Kepentingan publik terbatas;
Tercatat dalam Buku Registrasi Publik
Terbuka
Terpampang pada Papan Penumuman
Desa.

Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

32
Karena Rencana Pengelolaan kemungkinan tidak kontroversial terhadap pengguna
sumberdaya, konsultasi bisa saja dibatasi menjadi pengumuman publik atau diskusi
kelompok kerja para ahli. Persyaratan minimum konsultasi bagi berbagai hal
pengelolaan sumberdaya dapat dirangkum dalam tabel (lihat Tabel 2.10).
(2) Bentuk-bentuk Pendapat Masyarakat
Kesempatan harus diberikan kepada publik untuk menggunakan berbagai cara
dalam menyampaikan pendapat. Kebanyakan, masukan tertulis merupakan bentuk
yang dapat diterima dalam penyampaian pendapat. Bentuk-bentuk yang lebih maju
lagi seperti e-mail dan web-logs bisa juga diterima seiring dengan peningkatan
akses teknologi informasi. Akan tetapi kesempatan untuk melakukan hal yang sama
harus juga diberikan kepada Pemangku Kepentingan tertentu yang barangkali buta
huruf atau merasa lebih suka memberikan tanggapan secara tatap muka.
Untuk pertemuan-pertemuan masyarakat dan Open House publik, fasilitator
independen bisa saja dikontrak untuk menyelenggarakan pertemuan dan
merekam pendapat-pendapat yang ditujukan kepada lembaga pengelola.
Pemangku Kepentingan mungkin juga merasa lebih yakin bahwa pendapat mereka
akan didengar jika disampaikan melewati pihak ketiga yang netral. Jika tidak ada
pertemuan publik yang direncanakan, maka perlu diidentifikasi secara jelas ke mana
dan kepada siapa komentar tertulis harus disampaikan; dan juga siapa yang
mungkin bisa dikontak di tingkat lokal untuk merekam dan meneruskan
pendapat-pendapat lisan. Bisa juga Kepala Desa atau Camat mau menerima tanggung
jawab di lokasi yang sulit dijangkau; tetapi, adalah kewajiban dari lembaga pengelola
untuk menindak lanjuti dengan orang kontak yang ditunjuk untuk meyakinkan
bahwa hal tersebut memang sudah dilakukan. RPWP-3-K harus menjelaskan sistem
apa yang akan dilaksanakan untuk mengumpulkan komentar secara tertulis dan lisan
dari para Pemangku Kepentingan.
(3) Kerangka Waktu Konsultasi
Waktu minimum dan konteks untuk mendapatkan pendapat para
Pemangku Kepentingan harus diidentifikasi di bagian ini dalam RPWP-3-K. Konsultasi
efektif mensyaratkan bahwa orang-orang yang sedang dikonsultasi harus
mempunyai waktu cukup untuk mempertimbangkan informasi yang diberikan,
membuat permohonan untuk informasi lanjutan atau klarifikasi, konsultasi dengan
Pemangku Kepentingan lain dan secara umum membuat pandangan mereka
sendiri. Menurut ketentuan umum paling tidak harus disediakan :
10 hari kerja untuk tanggapan dari lembaga pemerintah lokal;
30 hari kerja untuk tanggapan dari pihak-pihak yang terpengaruh, Pemangku
Kepentingan terkait lain, dan pemerintah pusat atau daerah;
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

33
40 hari kerja untuk konsultasi yang mengikutsertakan organisasi internasional.
Kerangka waktu ini harus diperhitungkan dari tanggal pada saat bahan-bahan
informasi pertama kali diterima oleh Pemangku Kepentingan atau dari tanggal
pengumuman publik dipublikasikan. Isu-isu kompleks mungkin membutuhkan waktu
yang lebih lama atau bisa melewati beberapa kali konsultasi terus menerus secara
berurutan. Konteks bagi konsultasi tertentu harus dinyatakan pada pengumumannya
dan pada bahan-bahan yang dibagikan. Tambahan waktu harus diberikan selama
masa liburan.
(4) Standar Dokumentasi
Bagian ini dalam RPWP-3-K harus menjelaskan persyaratan minimum dalam
penyiapan dan penyebaran dokumen-dokumen yang berkaitan dengan suatu
konsultasi. Pertimbangan perlu diberikan dengan cara yang paling sesuai dari
pencatatan informasi untuk setiap metode konsultasi yang digunakan. Kebanyakan,
catatan tertulis dari pertemuan akan dikompilasi dalam bentuk draf laporan oleh
instansi pengelola. Draf laporan tersebut harus dikirim kepada peserta pertemuan,
atau perwakilan kelompok mereka, untuk diverifikasi. Sudah biasa dilakukan bahwa
untuk mengetahui daftar semua peserta pada suatu kegiatan maka digunakan
lembar daftar hadir yang ditandatangani para peserta.
Untuk komentar tertulis, akan sangat berguna jika semua tanggapan lembaga dan
komentar juga dikompilasi. Ada kemungkinan bahwa tanggapan lisan, khususnya
yang disampaikan pada saat pertemuan Open House publik, harus direkam di
kaset atau video untuk menjaga keakuratan dan sebagai referensi kemudian. Akan
tetapi, peserta harus diberi tahu sebelumnya bahwa hasil pertemuan sedang
direkam. Kontribusi orang-orang atau kelompok-kelompok yang membuat
tanggapan harus mendapatkan ucapan terima kasih secara luas (al. pengumuman di
media massa) pada bagian kesimpulan proses konsultasi dengan tujuan untuk
mendorong partisipasi di masa datang.
(5) Analisis Tanggapan Publik
Pemangku Kepentingan harus diyakinkan bagaimana memanfaatkan tanggapan-
tanggapan yang mereka berikan. Proses analisis harus mempertimbangkan setiap
masukan yang diterima. Adalah hal yang tidak dapat diterima untuk hanya
mengambil salah satu contoh masukan atau hanya fokus kepada masukan yang
diterima dari orang yang berpengaruh atau kelompok para ahli saja. Akan tetapi,
masukan dapat diklasifikasi dan ditabulasi untuk analisis. Laporan-laporan harus
dapat diterima umum dan tanpa nama. Pada kebanyakan kasus, pendapat lembaga
atau masyarakat akan dirangkum dalam laporan pertemuan dan dokumen lain tanpa
memperhatikan siapa yang membuat tanggapan- tanggapan tersebut. Walaupun
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

34
masukan-masukan dikompilasi dan diedarkan tanpa nama-nama pemberi
tanggapan, namun masukan-masukan tersebut tidak termasuk rahasia. Karena
itu, jika peninjauan hukum dilakukan terkait dengan suatu keputusan, sumber dari
semua tanggapan yang menjadi pertimbangan akan terbuka untuk diperiksa.
Bagian ini dalam RPWP-3-K harus menjelaskan prosedur standar yang akan dipakai
untuk menganalisa masukan publik dan dalam kondisi bagaimana sumber-sumber
tanggapan tersebut bisa diungkapkan.
12. Akses terhadap Informasi
Metode dan tanggung jawab untuk memfasilitasi akses publik terhadap dokumen-
dokumen yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir terpadu harus dijelaskan pada
bagian ini dalam RPWP-3-K. Sudah dijelaskan di atas bahwa publik harus mampu
mengakses informasi secara terus menerus, khususnya yang berkenaan dengan
penentuan zona, izin yang disetujui dan permohonan izin yang baru.
Paling tidak, Buku Registrasi Publik yang terbuka untuk diperlihatkan selama jam kerja
normal harus disediakan oleh lembaga utama (penanggung jawab) pengelolaan wilayah
pesisir terpadu (misal, Bappeda). Di masa depan, buku registrasi publik mungkin bisa
dibuat terbuka melalui website prngelolaan wilayah pesisir terpadu. Akan tetapi, dalam
waktu dekat, akses publik terhadap dokumen cetakan sangatlah penting dan harus
didukung oleh jejaring Pusat Informasi Publik yang ditunjuk di wilayah pengelolaan peisir,
dan juga di ibu kota provinsi. Pusat-pusat informasi publik yang ditunjuk bisa
mengikutsertakan kantor-kantor pemerintah tertentu, perpustakaan umum, atau sekolah-
sekolah. Pusat informasi tersebut harus dilengkapi dengan cetakan dokumentasi yang
relevan termasuk Laporan Kemajuan Triwulanan pengelolaan program pengelolaan
wilayah pesiisr terpadu, Rangkuman Konsultasi, dan Formulir-formulir Permohonan Izin
serta petunjuk pengisiannya. Orang yang ditunjuk untuk mengoperasikan pusat informasi
tersebut harus dilatih tentang tanggung jawab mereka, dan masyarakat diinformasikan di
mana letak pusat informasi tersebut berada. Sekretariat program biasanya bertanggung
jawab untuk menjaga agar dokumen- dokumen dan bahan-bahan informasi selalu
tersedia pada pusat-pusat informasi yang ditunjuk dan bisa juga membuat suatu
Hotline atau sambungan langsung untuk pelayanan masyarakat.
Juga sangat tepat untuk menyatakan persiapan apa yang harus dibuat bagi anggota
masyarakat untuk mendapatkan duplikat (fotokopi) dari dokumen-dokumen yang ada.
Misalnya, bisa dinyatakan dalam RP bahwa fotokopi dokumen akan disediakan dengan
harga tertentu dan softcopy-nya (seperti file pdf Adobe Acrobat) akan disediakan gratis.


Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

35
2.2.5 Bab 5 Implementasi Rencana Pengelolaan
Bagian ini harus menjelaskan tahapan-tahapan apa yang harus dilalui untuk
melaksanakan secara efektif dan memantau kemajuan dari RPWP-3-K. Setelah RPWP-3-K
dicanangkan, sangatlah diperlukan pembuatan struktur pengelolaan dan melaksanakan
lokakarya-lokakarya pelatihan bagi lembaga- lembaga sektor. Jangka waktu untuk
menyusun badan pengelola program pengelolaan wilayah pesisir terpadu, jadwal
dimulainya lokakarya-lokakarya pelatihan dan kursus-kursus penyegaran berkala harus
dirancang di sini.
Proses pemantauan program pengelolaan wilayah pesisir terpadu harus diidentifikasi
untuk memantau pelaksanaan semua rencana pengelolaan pesisir, termasuk RPWP-3-K.
Pemantau (monitor) bisa berupa posisi yang ditunjuk dalam lembaga utama (penanggung
jawab) pengelola (misal, Bappeda) atau lembaga lainnya yang terlibat. Uraian Tugas dan
kewajiban pemantau program harus disertakan, dan pernyataan maksud tentang
keinginan untuk menyiapkan Rencana Pemantauan dan Evaluasi pengelolaan wilayah
pesisir dalam kurun waktu tertentu (misalnya 6 bulan) sejak mulai dilaksanakan program.
Dokumen Sistem dan Petunjuk Monitoring & Evaluasi Proyek (Project Monitoring &
Evaluation System and Guidance)

dalam MCRMP merupakan suatu model yang
bermanfaat dan dapat disadur untuk tujuan ini.

2.2.6 Bab 6 Peninjauan Kembali Dokumen RPWP-3-K
Sebagai dokumen yang hidup semua rencana pengelolaan wilayah pesisir terpadu,
termasuk RPWP-3-K, tidak bisa dilepaskan dari proses pinjauan ulang dan amandemen.
Proses untuk menyusun dan memadukan amandemen ke dalam rencana pengelolaan
wilayah pesisir harus dijelaskan pada bagian ini.
Amandemen-amandemen rencana yang diusulkan biasanya didiskusikan pada jangka
waktu yang ditetapkan sebelumnya oleh Panitia Pengarah dan Panitia Pengelola. Misalnya:
Telaah Tahunan: perbaikan ringan dari semua rencana pengelolaan wilayah
pesisir mengikutsertakan semua lembaga terkait;
Telaah Pertengahan Masa: perbaikan signifikan dari semua rencana pengelolaan
wilayah pesisir mengikutsertakan lembaga terkait dan Pemangku Kepentingan yang
terpengaruh.
Penilaian Akhir Masa dan permulaan proses perencanaan baru untuk
mempersiapkan generasi berikut dari rencana pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil.
Bukanlah sesuatu yang aneh bagi rencana baru untuk memerlukan amandemen ringan
segera setelah pelaksanaan dimulai. Karena itu, suatu mekanisme harus dibuat dalam
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

36
RPWP-3-K untuk perbaikan tahunan dari semua rencana-rencana pengelolaan wilayah
pesisir untuk membaiki masalah-masalah ringan. Akan tetapi, amandemen penting
(seperti perubahan peruntukkan zona) tidak boleh dipertimbangkan tanpa melaksanakan
konsultasi-konsultasi publik yang diperlukan.
Masalah-masalah yang ditemui harus diagendakan secara sistematis oleh lembaga-
lembaga sektor dan utama penanggung jawab program pengelolaan wilayah pesisir (al.
Bappeda) pada saat masalah tersebut muncul, dan pemecahan teridentifikasi yang
dapat diterima. Jika rencana-rencana dicanangkan oleh Keputusan Eksekutif Senior
(seperti SK Bupati) maka amandemen rencana dapat juga dibuat dengan pencanangan.
Lebih baik jika semua amandemen kecil dibuat pada saat pertemuan tinjauan ulang
tahunan yang terkordinir untuk mengurangi kebingungan dan biaya administrasi yang
terkait dengan perbaikan berkali-kali dan tidak menentu.

2.2.7 Bab 7 Daftar Kontak Person
Daftar orang-orang kontak berkaitan dengan pelaksanaan Rencana Pengelolaan, alamat
dan nomor telepon mereka harus dicantumkan pada bagian RPWP-3-K ini. Orang-orang
kontak adalah individu-individu yang bertanggung jawab untuk menjelaskan atau
mengklarfikasi semua aspek RPWP-3-K. Orang-orang kontak sebaiknya bukan pimpinan
lembaga tetapi individu-individu yang mudah dihubungi secara rutin oleh
administrator/pengelola dari lembaga pemerintah dan juga oleh masyarakat. Sebaiknya,
orang-orang ini pernah terlibat dalam proses penyusunan RPWP-3-K dan karenanya
memiliki pengetahuan yang cukup mengenai isi dokumen RPWP-3-K.

2.2.8 Daftar Pustaka
Adalah hal biasa untuk memasukkan suatu daftar pustaka dari referensi dokumen-dokumen
utama yang digunakan untuk mempersiapkan Rencana Pengelolaan. Dalam kebanyakan
kasus, daftar pustaka akan memasukkan semua referensi tentang segala perundang-
undangan yang sudah dikutip dalam teks atau tabel, dan juga publikasi-publikasi relevan
lainnya.

2.3 Masa Berlaku Rencana Pengelolaan WP3K
Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berlaku dalam jangka waktu 5
(lima) tahun dan ditinjau kembali sekurang-kurangnya 1 (satu) kali. Pelaksanaan peninjauan
kembali RPWP-3-K Provinsi atau Kabupaten/Kota dikoordinasikan pelaksanaannya oleh
Bappeda provinsi atau Kabupaten/Kota.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

37
BAB III
PROSES PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN
WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL



3.1 Sosialisasi
Langkah awal dari penyusunan RPWP-3-K ini adalah sosialisasi tentang proses dan
mekanisme penyusunan RPWP-3-K kepada seluruh pemangku kepentingan pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sosialisasi dilaksanakan kepada instansi terkait
didaerah untuk menyamakan persepsi tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil di dalam penyusunan dokumen tersebut. Di dalam sosialisasi hal yang perlu
disampaikan adalah urgensi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara
terpadu, proses tahapan penyusunan dokumen RPWP-3-K, penyampaian orientasi,
penjaringan isu dan dan kelembagaan kelompok kerja (pokja) penyusun dokumen RPWP3K.
Sosialisasi dapat dilakukan melalui beberapa saluran komunikasi, misalnya:
1. Media massa (televisi, radio, surat kabar, majalah);
2. Brosur, leaflet, flyers, surat edaran, buletin, jurnal;
3. Kegiatan kebudayaan (misal: pagelaran wayang dengan menyisipkan informasi yang
ingin disampaikan di dalamnya);
4. Multimedia (video, VCD, DVD);
5. Website;
6. Ruang pamer atau pusat informasi; dan/atau
7. Pertemuan terbuka dengan masyarakat/kelompok masyarakat.

3.2 Pembentukan Kelompok Kerja
Penyusunan RPWP-3K merupakan kewenangan Pemerintah Daerah. Pembentukan
kelompok kerja dilaksanakan sebelum pertemuan dan pembahasan dokumen RPWP-3-K
yang dituangkan dalam Surat Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota. Pokja terdiri BKPRD
Provinsi atau BKPRD Kabupaten/Kota dengan Kepala Bappeda sebagai ketua dan kepala
dinas yang membidangi kelautan dan perikanan sebagai sekretaris, dengan anggota terdiri
dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)/instansi terkait sesuai dengan kewenangan
dominan dan karakteristik daerah yang bersangkutan, serta pemangku kepentingan utama
lainnya dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil baik dari pelaku usaha
maupun masyarakat lokal. Pembentukan tim penyusun disahkan oleh Kepala Daerah dan
dapat dimungkinkan untuk memasukkan fasilitator penyusunan dari unsur akademisi
maupun lembaga non- pemerintah. Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan penyusunan
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

38
dokumen RPWP-3-K kelompok kerja dapat dibantu tim teknis yang ditetapkan oleh ketua
kelompok kerja. Tim Teknis terdiri dari perwakilan dari berbagai stakeholder. Tim Pokja
memiliki tugas dan tanggung jawab, diantaranya :
a. Menyamakan persepsi terhadap pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
berdasarkan isu strategis.
b. Menginventarisir dan mengkoordinasikan rencana kegiatan masing-masing sektor di
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
c. Guna kelancaran pelaksanaan penyusunan RPWP-3-K Kelompok Kerja dapat dibantu
tim teknis yang ditetapkan oleh ketua kelompok kerja.


BAGAN PENYUSUNAN RPWP-3-K
3.3 Inventarisasi Program dan Kegiatan PWP-3-K
Inventarisasi program dan kegiatan PWP-3-K dilakukan dengan menelaah dokumen RZWP-3-
K dan RSWP-3-K dan rencana-rencana pembangunan sektoral jangka menengah dan jangka
pendek baik spasial maupun non-spasial di wilayah perencanaan. Rencana pengelolaan
membantu memilah penggunaan sumberdaya pesisir yang dibolehkan dan yang
bertentangan pada masing-masing zona peruntukan yang telah ditentukan, sehingga
terciptalah keseimbangan antara pelestarian sumberdaya pesisir dan kepentingan
pengembangan/pembangunan ekonomi.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

39
Rencana pengelolaan merupakan alat untuk mengarahkan kebijakan, program dan kegiatan
pembangunan berdasarkan skala prioritas di setiap kawasan, zona dan/atau subzona
pemanfaatan yang telah ditetapkan dan menjadi acuan bagi penyusunan RAPWP3K, rencana
sektoral jangka menengah dan jangka pendek.

3.4 Penyusunan Dokumen Awal
Dokumen awal RPWP-3-K merupakan hasil kelompok kerja, dengan sistematika yang
memuat draft dokumen akhir, yang terdiri dari:
a. Pendahuluan, berisi latar belakang, maksud dan tujuan, serta ruang lingkup
disusunnya RPWP-3-K;
b. Gambaran umum kondisi daerah yang berisi deskripsi umum, sumberdaya pesisir
dan pulau-pulau kecil, pola penggunaan lahan dan perairan, serta kondisi sosial-
budaya dan ekonomi;
c. Kebijakan pengelolaan dan prosedur administrasi;
d. Rekomendasi Perizinan; dan
e. Pemantauan dan evaluasi perencanaan

3.5 Kerjasama Antar Instansi
Untuk menunjang dokumen awal RPWP-3-K, perlu diberikan dukungan teknis dan komitmen
pembiayaan terhadap program-program pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,
yang dilakukan melalui kerjasama antar instansi dan dituangkan dalam nota kesepakatan
atau bentuk kesepakatan lainnya termasuk kesepakatan untuk integrasi rencana ke dalam
rencana pembangunan sektoral jangka menengah dan jangka pendek.

3.6 Konsultasi Publik
Setelah dokumen awal ditindaklanjuti dengan kerjasama antar instansi, dilakukan konsultasi
publik untuk mensosialisasikan hasil-hasil penyusunan rencana pengelolaan sampai pada
tahap dokumen awal tujuannya adalah untuk mendapatkan masukan tanggapan, saran
perbaikan dari instansi terkait, LSM dan/atau ORMAS, dunia usaha dan pemangku
kepentingan utama guna menghasilkan dokumen final RPWP-3-K provinsi atau
kabupaten/kota yang disepakati oleh semua pemangku kepentingan daerah. Tata cara
pelaksanaan konsultasi publik dapat dilihat pada Pedoman Pelaksanaan Konsultasi Publik.

Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

40
3.7 Perumusan Dokumen Final
Setelah draft rencana pengelolaan disepakati oleh semua pihak maka dirumuskanlah
dokumen final dari Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang
sistematikanya memuat :
a. Pendahuluan, berisi latar belakang, maksud dan tujuan, serta ruang lingkup
disusunnya RPWP-3-K;
b. Gambaran umum kondisi daerah yang berisi deskripsi umum, sumberdaya pesisir
dan pulau-pulau kecil, pola penggunaan lahan dan perairan, serta kondisi sosial-
budaya dan ekonomi;
c. Kebijakan pengelolaan dan prosedur administrasi;
d. Rekomendasi Perizinan; dan
e. Pemantauan dan evaluasi perencanaan
Dokumen final RPWP3K oleh ketua kelompok kerja dilaporkan kepada gubernur atau
bupati/walikota sesuai kewenangannya, guna pemrosesan lebih lanjut. Gubernur,
bupati/walikota kemudian mengkonsultasikan dokumen final RPWP3K provinsi,
kabupaten/kota kepada menteri untuk mendapatkan tanggapan dan/atau saran. Materi
konsultasi meliputi rancangan peraturan kepala daerah tentang RPWP3K beserta
lampirannya berupa dokumen final RPWP3K. Selanjutnya menteri memberikan tanggapan
dan/atau saran dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung mulai sejak
diterimanya dokumen RPWP3Ksecara lengkap.
Tanggapan dan/atau saran oleh menteri, dipergunakan sebagai bahan perbaikan dokumen
final RPWP3K provinsi, kabupaten/kota. Dalam hal tanggapan dan/atau saran tidak
dipenuhi, maka dokumen RPWP3K dapat diperlakukan secara definitif.

3.8 Penetapan
Penetapan rencana pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dilakukan setelah
memperoleh persetujuan substansi dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Dokumen final RPWP3K setelah dimintakan tanggapan dan/atau saran ditetapkan dengan
Peraturan Gubernur atau Peraturan Bupati/Walikota sesuai kewenangannya. Gubernur atau
Bupati/Walikota menyebarluaskan Peraturan Gubernur atau Peraturan Bupati/Walikota
tentang RPWP3K kepada instansi terkait dan pemangku kepentingan.
RPWP3K Provinsi atau Kabupaten/Kota berlaku selama 5 (lima) tahun terhitung mulai sejak
ditetapkan dan dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya 1 (satu) kali. Pelaksanaan
peninjauan kembaliRPWP3K Provinsi atau Kabupatebn/Kota dikoordinasikan
pelaksanaannya oleh Bappeda Provinsi atau Kabupaten/Kota.
Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

41

Petunjuk Teknis
Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

42
BAB IV
PERSETUJUAN

Dokumen-dokumen rencana pengelolaan wilayah pesisir terpadu menciptakan alat
pengelolaan sumberdaya yang relatif baru dan belum dikenal sebelumnya, oleh karena
itu, dokumen-dokumen tersebut harus terbuka untuk penyesuaian pada saat tahapan
pelaksanaan. Karenanya pada saat rencana-rencana pengelolaan wilayah pesisir pertama kali
dibuat, kemungkinan besar memerlukan amandemen. Maka sebaiknya dokumen-dokumen
tersebut tidak dimasukkan ke dalam peraturan oleh DPRD (Perda), tetapi dicanangkan
dengan Surat Keputusan Gubernur atau Bupati, sesuai kebutuhan.
Petunjuk untuk prosedur pencapaian semua hal tersebut harus dijelaskan di sini. Misalnya,
setelah suatu rencana ditinjau ulang dan disetujui oleh Panitia Pengarah program, rencana
tersebut akan diteruskan ke Bupati oleh Ketua Panitia Pengarah (seperti Kepala Bappeda)
disertai rekomendasi bahwa rencana tersebut harus disahkan dengan Surat Keputusan.
Selang waktu efektif untuk setiap rencana pengelolaaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil adalah fleksibel.
Persyaratan lain yang ditetapkan oleh peraturan/perundangan tentang rencana yang
dicanangkan oleh Eksekutif Senior harus dipertimbangkan. Misalnya, Rencana Strategis
Bupati hanya terbatas kepada masa kerja beliau. Rencana-rencana rencana pengelolaan
wilayah pesisir terpadu mungkin juga memerlukan penyesuaian dengan akhir masa kerja
dari Eksekutif Senior yang bersangkutan.