Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Penyebab infeksi pada rongga mulut biasanya disebabkan oleh jamur. Jamur
ini disebut candida fungus. Biasa menyerang bagian rongga mulut, saluran
pencernaan, juga kulit pada banyak orang sehat. Namun, beberapa penyakit
tertentu, stress, juga bisa mengganggu keseimbangan kesehatan dan
menyebabkan jamur tumbuh tak terkendali lalu menyebabkan infeksi.
Pada rongga mulut, kandida albikans merupakan spesies yang paling sering
menimbulkan penyakit. Secara klinis dapat ditemukan dalam berbagai
penampilan berupa lesi putih atau lesi eritematus Pada keadaan akut kandidiasis
dapat menimbulkan keluhan seperti rasa terbakar ( burning sensation ), rasa sakit
biasanya pada lidah, mukosa bukal dan Pada makalah ini akan diuraikan lebih
lanjut mengenai gambaran klinis berbagai kandidiasis rongga mulut dan
terapinya.
Selain itu penyakit karana jamur dapat ditimbulkan akibat dari penyakit berat
seperti penyakit diabetes yang tidak terkontrol, penderita leukemia atau limfoma,
juga pada penderita imunosupresif. Mukormikosis adalah suatu infeksi jamur
oportunistik yang disebabkan oleh jamur golongan mucoraceae
Adapun infeksi karena jamur tidak hanya menyerang manusia , hewan
seperti anjing atau kucing dapat terkena infeksi yang disebabkan oleh jamur
seperti penyakit blastomycosis (Blastomikosis Amerika Utara, Penyakit Gilchrist)
adalah infeksi yang disebabkan oleh Blastomyces dermatitidis. Blastomikosis
terutama menyerang paru-paru, tetapi kadang menyebar ke seluruh tubuh melalui
aliran darah.
Anamnesis yang baik harus mengacu pada pertanyaan yang sistematis, yaitu
dengan berpedoman pada empat pokok pikiran (The Fundamental Four) dan
2
tujuh butir mutiara anamnesis (The Sacred Seven). Yang dimaksud dengan empat
pokok pikiran, adalah melakukan anamnesis dengan cara mencari data .
Anamnesis dilakukan dan dicatat secara sistematis. Ia harus mencakup semua
hal yang diperkirakan dapat membantu untuk menegakkan diagnosis. Sistematika
anamnesis meliputi keluhan utama pasien, riwayat penyakit yang sedang diderita
(penyakit sistemik), riwayat penyakit terdahulu serta kebiasaan-kebiasaan pasien
yang mungkin menyebabkan terjadinya suatu infeksi.
Jamur dapat bersifat menjadi patogen dan apabila terjadi infeksi dapat
menyebar. Proses penyebaran dapat berlanjut ditambah dengan factor
predisposisi dan berhubungan dengan sistem imun pasien. Selain itu pada pasien
yang tidak menjaga kesehatan dan kebersihan mulutnya terutama yang
menggunakan gigi tiruan juga dapat menyebabkan pertumbuhan dan penjalaran
yang pesat dari jamur rongga mulut misalnya candida.
Pengobatan harus segera diberikan tertutama bagi pasien dengan
immunocompromised. Selain itu perawatan infeksi jamur rongga mulut dapat
dilakukan dengan cara menjaga kebersihan rongga mulut, pemberian obat-obatan
antifungal, dan sebisa mungkin menghilangkan faktor predisposisi penyebabnya.
Kebersihan rongga mulut dapat dijaga dengan membersihkan daerah mukosa
bukal, menyikat gigi, lidah, dan membersihkan gigi tiruan bagi yang
memakainya.
Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk
menunjang diagnose infeksi jamur rongga mulut. Salah satunya dengan biopsy.
Yang dimaksud dengan biopsy adalah pengambilan suatu jaringan untuk
kemudian dikirim ke lab untuk diperiksa lebih lanjut.

1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan infeksi jamur pada rongga mulut?
2. Infeksi jamur apa saja yang dapat ditemukan pada rongga mulut?
3
3. Bagaimana cara menganamnesa pasien dengan penyakit infeksi jamur pada
rongga mulut?
4. Bagaimana pathogenesis infeksi jamur rongga mulut?
5. Apakah rencana perawatan untuk infeksi jamur di rongga mulut?
6. Pemeriksaan penunjang apa yang dapat dilakukan untuk membantu
mengidentifikasi infeksi jamur yang terdapat pada rongga mulut?

1.3 Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan berbagai jenis infeksi jamur yang terdapat pada rongga mulut.
2. Menjelaskan anamnesis dan pathogenesis infeksi jamur pada rongga mulut.
3. Menjelaskan rencana perawatan dan pemeriksaan penunjang untuk infeksi
jamur pada rongga mulut.

1.4 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut
mengenai infeksi jamur pada rongga mulut, macam macamnya, serta cara
anamnesa diagnose dan perawatan terhadap infeksi jamur rongga mulut.



4
BAB II
PEMBAHASAN


Infeksi pada rongga mulut, dapat pula diakibatkan oleh jamur. Infeksi jamur yang terjadi
pada rongga mulut, yakni:
A. Candidiasis
Infeksi yang terdapat pada rongga mulut dapat dapat disebabkan oleh berbagai
macam jamur. Salah satunya candida albicans yang dapat menyebabkan
candidiasis. Ada berbagai macam candidiasis yaitu acute pseudomembranous
candidiasis, acute erythrematous candidiasis, chronic erythemathous candidiasis
dan chronic hyperplastic candidiasis.
a) Acute Pseudomembranous Candidiasis / Thrush
Anamnesis
Plak atau bercak putih seperti cotton wool / gumpalan susu yang dikelilingi
warna kemerahan, biasanya terletak di mukosa bukal (paling sering), mukosa
labial, gingiva dan lidah. Lunak, melekat pada mulut. Terasa sakit, rasa
terbakar/kering & perubahan rasa. Dapat dikerok, meninggalkan daerah lecet
kemerahan, terasa perih dan mudah berdarah.

Patogenesis
Ketika seseorang mengalami gangguan imun, jamur ini akan bersifat
patogen. Bila terjadi infeksi, filamen dari jamur ini akan berkembang dan
meluas ke daerah apikal,dimana bentuk cabang lateral mulai terlihat pada
hifa dan mycelium, dan devisisel tunggal yang dihubungkan dengan bentuk
yeast. Adhesi kandida pada dinding sel epitelial yang merupakan langkah
penting pada infeksi awal ditingkatkan oleh komponen dinding sel jamur
seperti mannose, reseptor Cd3, manoprotein, dansakarin. Proses ini akan
5
diperberat dengan faktor-faktor predisposisinya dan terus berlanjut
sehubungan dengan imunodefisiensi yang dialami oleh pasien.

Gambaran klinis Acute Pseudomembranous Candidiasis / Thrush
Rencana Perawatan
1. Resep Obat


Drg. Gladys Rosalyn
Gading Serpong
021-54306725
IP 9896-XX-98

Tangerang, 19 September 2014



R/ Tab. Itrakonazole 100mg No. XXVIII
1 dd tab. I
-------------------------



Pro: Amir
Umur : 42 tahun



6
2. Surat Rujukan


SURAT RUJUKAN

Yth. Dokter Gigi : drg. Budi, Sp. PM
Di RSU : Rumah Sakit Gigi dan Mulut UPDM(B)

Mohon pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut terhadap penderita,

Nama Pasien : Amir
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 42 tahun
No. Telpon : 021-58375289
Alamat Rumah : Bintaro

Anamnesa

Keluhan : Ada bagian warna putih, terasa sakit, terbakar, susah
merasakan rasa
Diagnosa sementara : Acute Pseudomembranous Candidiasis
Pemeriksaan Intra Oral : Terdapat plak atau bercak putih seperti gumpalan susu
terdapat di mukosa bukal. Konsistensinya lunak, melekat pada mukosa. Bila dikerok
meninggalkan daerah berwarna kemerahan, perih dan mudah berdarah.
Terapi/Obat yang telah diberikan : Itrakonazole 100mg

Demikian surat rujukan ini kami kirim, kami mohon balasan atas surat rujukan ini.
Atas perhatian Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.

Hormat Kami,



(drg. Gladys Rosalyn)
No. SIP: 9896-XX-98



3. Pemeriksaan Penunjang : Swap



7

b) Acute Erythematous (Atropic) Candidiasis / Antibiotic Stomatitis / Antibiotic
Sore Mouth
Anamesis
Bercak merah yang halus pada dorsal lidah, bagian tengah. Selain pada lidah,
inflamasi dapat terjadi pada bibir dan mukosa pipi. Selalu memberikan
keluhan sakit. Kadang tampak adanya inflamasi pada bibir, disertai angular
cheilitis. Sensasi terbakar dengan kehilangan difus papila filiformis dorsal
lidah kemerahan & botak. Mulut terbakar, rasa tidak enak/sakit
tenggorokan selama/setelah terapi antibiotik spektrum luas.
Gambaran klinis Acute Erythematous (Atropic) Candidiasis / Antibiotic Stomatitis /
Antibiotic Sore Mouth

Patogenesis
Penggunaan antibiotik dan kortikosteroid akan menghambat pertumbuhan
bakteri komersial sehingga mengakibatkan pertumbuhan candida yang lebih
banyak, dan menurunkan daya tahan tubuh, karena kortikosteroid
mengakibatkan penekanan sel mediated immune.

8
Rencana Perawatan
1. Resep

Drg. Gladys Rosalyn
Gading Serpong
021-54306725
IP 9896-XX-98
Tangerang, 19 September 2014



R/ Tab. Ketokonazole 200mg No. XIV
1 dd tab. I
-------------------------




Pro: Joko
Umur : 38 tahun
_____________________________________________________________________


9
2. Surat Rujukan

SURAT RUJUKAN

Yth. Dokter Gigi : drg. Budi, Sp. PM
Di RSU : Rumah Sakit Gigi dan Mulut UPDM(B)
Mohon pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut terhadap penderita,
Nama Pasien : Joko
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 38 tahun
No. Telpon : 021-58673289
Alamat Rumah : Tangerang
Anamnese
Keluhan : Sakit, mulut terasa terbakar, rasa tidak enak / sakit pada
tenggorokan
Diagnosa sementara : Acute Erythematous Candidiasis
Pemeriksaan Intra Oral : Bercak merah yang halus pada dorsal lidah. Terasa sakit.
Tampak adanya inflamasi pada bibir, disertai angular cheilitis. Sensasi terbakar
dengan kehilangan difus papila filiformis dorsal lidah kemerahan & botak.
Terapi/Obat yang telah diberikan : Ketokonazole 200mg
Demikian surat rujukan ini kami kirim, kami mohon balasan atas surat rujukan ini.
Atas perhatian Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.

Hormat Kami,


(drg. Gladys Rosalyn)
No. SIP: 9896-XX-98
10

c) Chronic Erythematous ( atropic ) candidiasis / denture stomatitis / denture sore
mouth
Anamesis
Eritema difus pada palatum atau mukosa penyangga gigi tiruan, tidak terasa
sakit, sering disertai angular cheilitis. Ada 3 tahap perubahan Mukosa, yang
pertama Hiperaemie sebesar ujung jarum, di muara kel liur minor palatal,
yang kedua eritema difus, disertai pengelupasan epitel palatum / mukosa
penyangga GT dan yang ketiga hiperplasia papiler (area sentral palatum
keras & ridge alveolar).
Patogenesis
Biasanya pada orang yang menggunakan gigi tiruan, yang tidak dapat
menjaga oral hygiene. Hal ini dikarenakan pH yang rendah, lingkungan
anaerob dan oksigen yang sedikit mengakibatkan Kandida tumbuh pesat.
Kebersihan mukosa tidak terjamin karena tertutup oleh basis gigi tiruan.
Saliva yang mengandung sIgA & albumin, amylase, lysozyme, high
molecular weight mucin (MGI) tidak dapat mencapai permukaan mukosa.
Senyawa-senyawa ini melekat pada gigi tiruan secara hidrofobik. Mukosa di
bawah gigi tiruan menjadi tempat bernaung jamur karena Candida albicans
melekat secara hidrofilik melalui partikel yang mengandung glikoprotein.
Sehingga Candida albicans meningkat jumlahnya. Candida albicans
melepaskan endotoksin yang menyebabkan denture stomatitis.
Gambaran Klinis Chronic Erythematous ( atropic ) candidiasis / denture stomatitis / denture
sore mouth

11
Rencana Perawatan
1. Resep


Drg. Gladys Rosalyn
Gading Serpong
021-54306725
IP 9896-XX-98
Tangerang, 19September 2014



R/ Cream Nystatin 100.000 U/g
2dd applic part dol m.et.v

-------------------------



Pro: Andi
Umur : 70 tahun
___________________________________________________________





12
2. Surat Rujukan

SURAT RUJUKAN

Yth. Dokter Gigi : drg. Budi, Sp. PM
Di RSU : Rumah Sakit Gigi dan Mulut UPDM(B)
Mohon pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut terhadap penderita,
Nama Pasien : Andi
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 70 tahun
No. Telpon : 021-58623589
Alamat Rumah : Tangerang
Anamnese
Keluhan : di bawah gigi tiruan berwarna kemerahan tapi tidak sakit
Diagnosa sementara : Chronic Erythematous Candidiasis
Pemeriksaan Intra Oral : Eritema difus pada palatum atau mukosa penyangga gigi
tiruan, disertai angular cheilitis.
Terapi/Obat yang telah diberikan : Nystatin bentuk cream 100.000 U/g
Demikian surat rujukan ini kami kirim, kami mohon balasan atas surat rujukan ini.
Atas perhatian Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.
Hormat Kami,



(drg. Gladys Rosalyn)
No. SIP: 9896-XX-98


13
d) Chronic Hyperplastic Candidiasis / Candida Leukoplakia
Anamesis
Lesi putih cekat, keras, kasar. Tidak dapat dikerok karena invasi hyphae
sampai lebih dalam dari permukaan mukosa atau kulit. Biasanya terletak di
mukosa bukal kiri / kanan terutama bag anterior, bibir, lidah.

Gambaran klinis Chronic Hyperplastic Candidiasis / Candida Leukoplakia

Patogenesis
Biasanya terjadi karena oral hygiene menurun, xerostomia dan iritasi kronis.
Terjadinya kandidiasis pada rongga mulut di awali dengan adanya
kemampuan candida untuk melekat pada mukosa mulut. Hal ini yang
menyebabkan awal terjadinya infeksi. Sel ragi atau jamur tidak melekat
apabila mekanisme pembersihan oleh saliva, pengunyahan dan penghancuran
oleh asam lambung berjalan normal. Perlekatan jamur pada mukosa mulut
mengakibatkan proliferasi, kolonisasi tanpa atau dengan gejala infeksi.
Bahan-bahan polimerik ekstra seluler ( mannoprotein ) yang menutupi
permukaan candida albicana merupakan komponen penting untuk perlekatan
pada mukosa mulut. Candida albicana menghasilkan proteinase yang dapat
mengdegradasi protein saliva termasuk sekretori immunoglobulin A,
laktoferin, musin dan keratin juga sitotoksis terhadap sel host. Batas-batas
hidrolisis dapat terjadi pada pH 3,0/3,5-6,0. Dan mungkin melibatkan
beberapa enzim lain seperti fosfolipase, akan di hasilkan pada pH 3,5-6,0.
Enzim ini menghancurkan membrane sel selanjutnya akan terjadi invasi
14
jamur tersebut pada jaringan host. Hyfa mampu tumbuh meluas pada
permukaan sel host.
Rencana Perawatan
1. Resep


Drg. Gladys Rosalyn
Gading Serpong
021-54306725
IP 9896-XX-98
Tangerang, 19 September 2014




R/ Tab. Clotrimazole troches 10 mg No. LXX
5 dd tab. 1

-------------------------





Pro: Mawar
Umur : 35 tahun
___________________________________________________________



15
2. Surat Rujukan


SURAT RUJUKAN

Yth. Dokter Gigi : drg. Budi, Sp. PM
Di RSU : Rumah Sakit Gigi dan Mulut UPDM(B)

Mohon pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut terhadap penderita,
Nama Pasien : Mawar
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 35 tahun
No. Telpon : 021-58630589
Alamat Rumah : Tangerang

Anamnesa

Keluhan : Ada bagian warna putih yang melekat erat dan keras
Diagnosa sementara : Chronic Hyperplastic Candidiasis
Pemeriksaan Intra Oral : Lesi putih cekat, keras, kasar. Tidak dapat dikerok. Terletak
di mukosa bukal kiri / kanan terutama bag anterior.
Terapi/Obat yang telah diberikan : Clotrimazole troche 10mg

Demikian surat rujukan ini kami kirim, kami mohon balasan atas surat rujukan ini.
Atas perhatian Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.



Hormat Kami,



(drg. Gladys Rosalyn)
No. SIP: 9896-XX-98




3. Pemeriksaan penunjang : biopsi


16
B. Blastomikosis
Blastomikosis memiliki nama lain, yakni: North American
blastomycosis, Penyakit Gilchrist, Blastomyces dermatitidis. Blastomikosis
adalah infeksi jamur pada manusia dan hewan, terutama anjing dan kucing, yang
disebabkan oleh Blastomyces dermatitidis. Blastomyces dermatitidis merupakan
kelompok Ascomycota filum dalam famili Ajellomycetaceae.
Penyakit ini terjadi di beberapa daerah endemik yang paling utama adalah di
bagian timur Amerika Utara, khususnya di pinggiran barat dan utara dari danau
Great Basin, meluas ke arah timur di sepanjang pantai selatan lembah St
Lawrence River dan selatan di wilayah Pegunungan Appalachian, ke lembah
Sungai Mississippi di barat. Kasus sporadic juga dilaporkan terjadi di benua
Afrika, Jazirah Arab dan India.
Blastomikosis relatif sering ditemukan pada anjing dan beberapa hewan lainnya
di daerah-daerah endemik. Blastomikosis tidak dapat ditularkan oleh hewan
ataupun manusia. Diduga, hewan dan manusia terinfeksi dengan menghirup
konidia Blastomyces yang tumbuh di tanah. B. dermatiditis ini ditemukan pada
tanah yang kaya dengan kayu yang membusuk, kotoran burung, atau kotoran
binatang. Tanah yang mengelilingi genangan-genangan air dalam daerah
endemik, terutama kaya dengan jamur. Dimana jamur ini tumbuh dan
berkembang pada suhu lembab 25 C. Jamur B. dermatiditis ini tampak sebagai
sel ragi bertunas tunggal dengan basis lebar. Sel ragi berdinding tebal sehingga
tampak sebagai berdinding rangkap. Tergolong jamur dimorfik yang berada
dalam bentuk miselia di alam dan sebagai ragi di jaringan.
17

Gamabaran Blastomyces dermatitidis secara mikroskopis.

Penyakit blastomycosis tidak terkait dengan jenis kelamin meskipun banyak
penelitian menunjukkan lebih banyak pria yang menderita blastomikosis
dibandingkan dengan wanita. Sebagian besar kasus terjadi pada orang dewasa
dengan usia 20-40 tahun, tetapi semua kelompok umur yang terkena. Namun
sangat jarang menyerang anak-anak. Orang yang berisiko paling tinggi untuk
terkena infeksi tersebut adalah orang yang menghabiskan sejumlah besar
waktunya di daerah berkayu pada daerah endemik, seperti pemburu, atau pekerja
hutan.

Anamnesis
Anamnesis dapat ditentukan berdasarkan tampilan klinis dan gejala penyakit.
Gejala penyakit ini sangat bervariasi karena banyak sistem organ yang berperan
dalam penyebarannya. Tampilan klinis dan gejala penyakit pada blatomycosis,
yakni:
Penyakit seperti flu disertai demam, menggigil, arthralgia (nyeri sendi),
mialgia (nyeri otot), sakit kepala, dan batuk dalam beberapa hari.
Penyakit akut menyerupai pneumonia bakteri, disertai gejala demam tinggi,
menggigil, nyeri dada, serta batuk yang berdahak dan bernanah.
18
Penyakit kronis yang menyerupai tuberkulosis atau kanker paru-paru, yaitu:
demam ringan, batuk berdahak, keringat malam, dan penurunan berat
badan.
Penyakit yang cepat, progresif, dan berat dapat bermanifestasi sebagai
ARDS, dengan demam, sesak napas, takipnea, hipoksemia, dan menyebar
infiltrat paru.
Lesi kulit yang tidak sembuh, biasanya tanpa gejala dan tanpa rasa sakit.
Bila terjadi penyebaran, lesi-lesi kulit ini paling sering terjadi pada
permukaan terbuka. Lesi dapat berubah menjadi granuloma verukosa
(seperti kutil) bertukak disertai tepi yang meluas dan bagian tengah yang
membentuk parut atau ulserasi dengan pustula kecil di pinggiran Pinggir-
pinggir terisi oleh asbes mikro dan mempunyai tepi yang tegas dan landai.
Lesi litik tulang dapat menyebabkan nyeri tulang atau sendi yang biasanya
melibatkan tulang pipih seperti tengkorak, vetrtebra, dan iga.
Pada laki-laki terjadi pembengkakan epididimis disertai nyeri
atau Prostatitis yang mungkin terjadi secara asimtomatik atau dapat
menyebabkan nyeri pada buang air kecil.
Keterlibatan laring sehingga suara menjadi serak.
40% individu dengan immunocompromised memiliki keterlibatan SSP dan
dapat ditemukan abses otak, abses epidural ataupun meningitis jamur.
Gejala infeksi ini dapat berupa sakit kepala dan kebingungan.





Gambaran klinis blastomikosi
19

Patogenesis
Inhalasi spora merupakan stadium awal infeksi manusia . konidia (salah satu bagian tubuh)
dari B. dermatitidis terhirup oleh manusia. Inhalasi konidia dari B. dermatitidis ini akan
difagositosis oleh neutrofil dan makrofag di alveoli sehingga akan melenyapkan sebagian
besar spora sebelum infeksi. Konidia yang masih bertahan berubah mentuk menjadi
miselium. Miselium ini menyebabkan inokulasi alveolar dan bertunas menjadi bentuk
ragi. Bila sistem imun manusia tidak sempat menghasilkan respon imun terhadap perubahan
tersebut, miselia akan berubah bentuk menjadi khamir. Khamir memiliki dinding tebal,
sehingga tahan terhadap fagositosis.
Dalam jaringan paru-paru, mereka berkembang. Walaupun blastomikosis terutama
menyerang paru-paru, tetapi terkadang dapat menyebar melalui darah dan limfe ke organ
lain, termasuk kulit, tulang, saluran genitourinari, dan otak. Jamur ini memiliki masa
inkubasi adalah 30 sampai 100 hari.
Rencana Perawatan
Bila pasien dicurigai menderita blastomikosis, namun masih dibutuhkan
pemeriksaan lebih lanjut, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan, yakni:
Pemeriksaan mikroskopis secara langsung terhadap pada ragi besar, banyak
inti dengan tunas lebar pada dahak atau jaringan yang terinfeksi, setelah
penghancuran sel dan debris dengan 10% kalium hidroksida. Hal ini
merupakan metode termudah dan sangat berhasil dalam diagnosa
blastomikosis.
Dengan melihat karakteristik dari kultur berspektrum luas dan analisis
laboratorium dari dahak atau jaringan.
Biopsi jaringan kulit atau organ lain dapat untuk mendiagnosa penyakit
paru dengan cara mengkultur dan melihat histopatologinya.
Dapat dilakukan pengujian antigen urin secara komersial. Pengujian urin
ini cukup baik dalam menentukan diagnosis dalam kasus di mana
organisme tidak mudah terdeteksi.
20
Enzime immunosorbent Assay adalah uji serologis paling spesifik dan
positif pada lebih dari tiga perempat kasus.
Pada blatomycosis, uji kulit tidak dapat dilakukan karena reaktivitasnya berkurang
pada saat lewat waktu pada kecepatan yang tidak dapat diramalakan.
Karena penggunaan pemeriksaan penunjang, maka perlu dibuat surat rujukan. Surat
rujukan untuk kasus ini, yakni sebagai berikut:


SURAT RUJUKAN


Yth. Dokter Gigi : drg. Rahayu, Sp. PM
Di RSGM : UPDM (B)

Mohon pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut terhadap penderita,
Nama Pasien : Nabatinus
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 37 tahun
No. Telpon : 021-8270998
Alamat Rumah : JL. Kemangi No. 45, Jakarta

Anamnese
Keluhan : Lesi di mulut yang menganggu, tidak sembuh-sembuh, namun
tidak sakit.
Diagnosa sementara : Blastomycosis
Kasus : Selain lesi di mulut terjadi demam ringan, batuk berdahak,
keringat malam, dan penurunan berat badan.
Terapi/Obat yang telah diberikan : Sporanox 100 mg

Demikian surat rujukan ini kami kirim, kami mohon balasan atas surat rujukan
ini. Atas perhatian Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.


Hormat Kami

ttd

( drg. Naftalena )
No. SIP 478482788


21
Blastomikosis pulmonal akut tanpa komplikasi bisa sembuh secara spontan dan
tidak membutuhkan terapi, tapi pasien harus diawasi seksama selama beberapa
tahun untuk melihat reaktivasi atau memburuknya penyakit.
Untuk pengobatan blastomikosis, umumnya pengobatan dilakukan dengan
memberikan Itrakonazol secara oral. Itrakonazole diberikan dengan dosis 200-
400 mg/hari.
Namun ketokonazol (Nizoral) juga dapat digunakan untuk perawatan penyakit
pulmonal yang sembuh sendiri, dengan harapan mencegah penyakit
ekstrapulmonal lanjutan. Ketoconazole tampaknya sama efektif dengan
amphotericin B untuk blastomikosis yang tidak mengancam jiwa, nonmeningeal,
ringan sampai sedang pada inang dengan imunitas normal. Dosis 800 mg/hari
ketoconazole lebih efektif dari 400 mg/hari. Sementara dosis anak: PO: 3,3-6,6
mg/kg/hari, sebagai dosis tunggal atau A >20 kg: 100 mg, setiap hari.
Contoh ketokonazol, yakni Sporanox tablet dengan komposisi Itraconazole 100
mg, serta dosis untuk Blastomikosis : 1-2 kapsul sekali-dua kali sehari selama 6
bulan. Baik itrakonazol dan ketokonazol, diberikan selama 6 bulan, dan harus
diminum secara rutin karena gagalnya pengobatan biasanya disebabkan oleh
pengobatan yang tidak lengkap.
Amfoterisin B jauh lebih beracun, dan biasanya diperuntukkan bagi pasien
blastomikosis yang memiliki immunocompromised atau penyakit sistem saraf
pusat. Pasien yang tidak dapat mentoleransi formulasi deoxycholate dari
Amphotericin B dapat diberikan formulasi lipid. Pasien dengan penyakit sistem
saraf pusat dan mereka dengan penyakit ekstrapulmonal membutuhkan terapi
ketoconazole 400 mg/hari oral selama 6 bulan. Penyakit SSP sebaiknya dirawat
dengan amphotericin B secara intravena sampai dicapai dosis kumulatif >1 g.
Flukonazol memiliki penetrasi SSP yang sangat baik dan berguna bila ditemukan
keterlibatan SSP sebagai efek pengobatan sebelumnya dengan amfoterisin B.
Pasien terinfeksi HIV sebaiknya menerima terapi induksi dengan amphotericin B
dan terapi supresif kronik dengan antifungal azole oral. Itraconazole adalah obat
terpilih untuk histoplasmosis yang tidak mengancam jiwa.
22
Dengan pengobatan, perbaikan akan cepat terjadi, tetapi obat harus tetap
dilanjutkan untuk berbulan-bulan. Tanpa pengobatan, infeksi akan memburuk
secara perlahan dan menyebabkan kematian.
Dalam perawatannya, tentu kita perlu menuliskan resep kepada pasien. Resep
yang dituliskan, yakni:

drg. Naftalen
Jalan Kamboja No. 21
Telp. 021-8453220
No. SIP 478482788

Jakarta, 18 September 2014

R/ Tab. Sporanox 100 mg CXX
2 dd tab I






Pro: Nabatinus
Umur: 37 tahun










23
C. Histoplasmosis
Histoplasmosis adalah infeksi zoonosis yang disebabkan karena inhalasi
(menghirup) spora Histoplasma capsulatum
yang bersifat dimorfik di udara hingga terbawa ke paru paru dan
menimbulkan infeksiawal (primer) di organ.
Jamur ini dapat berkembang biak dengantumbuh dalam aliran darah dengan
systemkekebalan tubuh yang rusak, umumnya
dengan jumlah CD4 di bawah 100, maka infeksi akan berkembang dan menyebar
ke paru-paru, kulitdan mungkin juga pada bagian tubuh yang lain.Inhalasi
mikrokonidia merupakan stadiumawal infeksi manusia. Konidia mencapaialveoli,
bertunas, dan berproliferasi sebagairagi. Infeksi awal adalah bronkopneumonia.
Ketika lesi paru awal bertambah usianya. terbentuksel raksasa disertai dengan
pembentukan granuloma dan nekrosis sentral.
Padasaat pertumbuhan spora, sel ragi masuk ke dalam sistem retikuloendotelial m
elalui sistem limfatik paru dan limfonodi hilus. Penyebaran dengan keterlibatan li
mpa khas menyertai infeksi paru primer. Pada hospes normal, respons imun timb
ul pada sekitar 2 minggu. Lesi paru awalsembuh dalam 2 sampai 4 bulan tetapi
dapat mengalami kalsifikasi menyerupai kompleks Ghontuberkulosis, atau
mungkin ditemukan kalsifikasi buckshot yang melibatkan paru dan limpa.Tidak
seperti tuberkulosis, reinfeksi dengan H. capsulatum terjadi dan dapat
menimbulkanrespons hospes yang berlebihan pada beberapa kasus. Gejala Klinis
Kebanyakan orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala-gejala. Saat gejalanya
datang, sangat bermacam macam gejalanya, tergantung kepada bentuk
dari penyakitnya. Infeksi paru-parudapat menjadi short-term (acute) dan relatif
ringan, atau dapat juga menjadi long-term (kronis)dan serius.Gejala-gejala infeksi
paru-paru akut adalah kelelahan, demam, dingin, sakit di dada, dan batuk
kering. Infeksi paru-
paru kronis dapat seperti tuberculosis dan terjadi di sebagian besarorang yang
telah sakit paru-paru. Hal ini dapat berkembang berbulan-bulan atau bertahun-
tahundan melukai paru-paru. Gejala yang ditimbulkan tidak khas dan menyerupai
gejala penyakit paru lain seperti demam, batuk, sesak napas, dan lain-
lain. Penyakit yang menahun miripdengan gejala tuberkulosis sehingga sulit
dibedakan dari penyakit tersebut.
24
Gambaran mikroskopis histoplasmosis



Diagnosis
Diagnose dapat dikerjakan dengan perlakuan laboratorium atau test darah. Test
ringan jugamungkin tetapi hanya bermanfaat untuk pemeriksaan penjangkitan,
bukan untuk diagnosis.Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil analisa biakan
dari dahak, kelenjar getah bening, sumsum tulang, hati, ulkus di mulut, air kemih
atau darah dan bahan biopsi. Pemeriksaanlangsung dari bahan yang berasal dari
jaringan maka akan tampak spora yang berbentu bulat/oval (yeast). Pemeriksaan
uji kulit histoplasmi dan penentuan diagnosis serologi juga dapatmembantu
menegakkan diagnosis histoplasmosis.Diagnosis klinis ditegakkan dengan kultur
atau ditemukannya jamur pada sediaan apusdengan pengecatan Giemsa atau
sediaan apus dengan pengecatan Wright yang diambil darieksudat ulcus, sumsum
tulang, sputum atau darah; teknik pengecatan khusus penting dilakukanuntuk bisa
melihat jamur-jamur pada sediaan biopsi yang diambil dari hati dan ulkus
ataukelenjar limfe paru.


25






Gambaran klinis histoplasmosis


Rencana Perawatan
Bila histoplasmosis terjadi secara akut, sesungguhnya tindakan pengobatan sudah
tidakdiperlukan. Pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang baik dan mengalami
histoplasmosiskronis dapat diobati dengan pemberian ketoconazole (Nizoral) atau
Amphotericin B(Fungizone). Sedangkan pasien yang mengalami gangguan sistem
kekebalan tubuh dapatdiobati dengan Amphotericin B yang diberikan secara
intravena. Pasien biasanya diberikanobat tambahan untuk meminimalisasi
terjadinya efek samping akibat penggunaan Amphotericin B. Pasien yang
mengalami AIDS disertai dengan histoplasmosis
dilakukan pengobatan dengan pemberian Itraconazole (Sporonox)secara peroral
dengan tujuan menghindari kambuhnya penyakit. Bila tubuh pasien tidak dapat
menerima Itraconazole maka dapat digantikan dengan obat yang lain yaitu
dengan pemberian obat Fluconazole(Diflucan).












26

drg. mawar
Jalan Kamboja No. 21
Telp. 021-8453220
No. SIP 478482788

Jakarta, 18 September 2014

R/ Tab. Itrakonazol 200 mg CLXVIII
4 dd tab I






Pro: Nabatinus
Umur: 35 tahun

D. Mucormycosis
Kelompok mikosis yang biasanya disebabkan oleh jamur Mucoraceae ordo
Mucorrales kelas Zygomycetes. Jamur ini mempunyai afinita yang besar pada
pembuluh darah dan dapat menyebabkan thrombosis dan infark. Infeksi bentuk
Craniofacial biasanya muncul sebagai sinusitis nasalis dan paranasalis, sering terjadi
pada penderita diabetes yang tidak ditangani dengan baik. Pada infeksi Craniofacial
ini dapat terjadi nekrosis dari Choncha hidung, perforasi tulang langit-langit pada
mulut, nekrosis pada pipi, selulitis didaerah orbital dan dapat pula terjadi proptosis
dan oftalmoplegia. Infeksi jamur dapat pula penetrasi ke arteria carotis interna atau
menyebar langsung ke otak dan menyebabkan infark pada otak. Penderita yang
menerima pengobatan yang dapat menimbulkan imunosupresi atau yang mendapat
pengobatan dengan deferoxamine rentan untuk mendapatkan mucormycosis tipe
craniofacial atau tipe pulmoner. Pada bentuk pulmoner, jamur menyebabkan
27
terjadinya thrombosis pada pembuluh darah paru dan menyebabkan infark pada
paru-paru. Jika infeksi terjadi pada saluran pencernaan dapat menyebabkan ulcus
pada mukosa usus dan gangrene pada lambung atau dinding usus. Diagnosa
ditegakkan dengan pemeriksaan mikroskopis, ditemukannya hyphae dengan bentuk
ang tegas nonseptate (tanpa sekat). Hyphae ini diperiksa dari spesimen biopsi atau
dari kultur biopsi. Pemeriksaan sediaan basah juga sering dilakukan, sebab
pemeriksaan hanya dengan kultur saja tidak cukup karena jamur dari ordo
Mucorales sering ditemukan didalam lingkungan disekitar kita.



Anamnesis
Anamnesis dilakukan dan dicatat secara sistematis. Ia harus mencakup semua hal
yang diperkirakan dapat membantu untuk menegakkan diagnosis. Sistematika
anamnesis meliputi keluhan utama pasien, riwayat penyakit yang sedang diderita
(penyakit sistemik), riwayat penyakit terdahulu serta kebiasaan-kebiasaan pasien
yang mungkin menyebabkan terjadinya suatu infeksi.
Diagnosa juga ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan
mikroskopis, biopsi (perubahan jaringan), CT Scan / MRI (Rhinocerebral) serta
Konsul THT ( Sinus). Pada pemeriksaan mikroskopis ditemukannya hyphae
28
dengan bentuk yang tegas nonseptate (tanpa sekat). Hyphae ini diperiksa dari
spesimen biopsi atau dari kultur biopsi. Pemeriksaan sediaan basah juga sering
dilakukan, sebab pemeriksaan hanya dengan kultur saja tidak cukup karena jamur
dari ordo Mucorales sering ditemukan didalam lingkungan disekitar kita.
1
Dengan pemeriksaan KOH 10-20% akan terlihat hifa yang lebar, pleomorphic
tidak besepta, hifa yang berbentuk pita , bisa bercabang atau tidak bercabang.
Berdinding tebal dengan diameter 10-15 um. Ukuran berkisar antara 3-30 um.
2






Gambaran klinis mukormikosis

Patogenesis
Mukormikosis disebabkan oleh jamur dari beberapa spesies yang berbeda, yaitu
adalah Absidia, Apophysomyces, Mucor, Rhizomucor, dan Rhizopus.
Mukormikosis ini sering timbul pada penderita penyakit sistemik seperti diabetes
melitus yang tidak terkontrol, penderita dengan leukemia atau limfoma, juga pada
penderita immunosupresif.
Cara penularan dengan inhalasi ataupun karena menelan spora dari jamur oleh
orang dengan daya tahan tubuh lemah. Inokulasi jamur secara langsung dapat
terjadi pada pecandu obat terlarang yang menggunakan cara suntikan intravena
dan jamur dapat masuk.
Pada saat organisme ini mencapai membran mukosa dari hidung atau paru, maka
akan terjadi multiplikasi secara cepat dan menyerang pembuluh darah. Jamur
29
akan menghancurkan jaringan lunak dan tulang, begitu pula pada rongga mulut.
Invasif akut pada penderita imunosupresif , diabetes ataupun pada pemakaian
steroid dosis tinggi sangat khas yaitu dengan invasi vaskuler yang agresif dengan
emboli yang diiukti dengan iskemia lokal dan nekrosis. Organisme menyerang
dinding pembuluh darah khsusunya arteriole dan sepanjang lumen. Jamur juga
memanfaatkan saraf untuk menyebar dengan cepat sampai ke susunan saraf pusat
pada rhinocerebral, emboli akan menetap pada seluruh sistem organ. Nekrosis
dengan infiltasi akut dan kronik adalah gambaran utama dari histopatologi.

Rencana Perawatan
Tindakan bedah sedini mungkin untuk mengangkat jaringan terinfeksi dan
nekrotik. Dapat diberikan juga obat anti jamur intra vena ataupun amphotericin B
sistemik. Serta pengobatan harus segera diberikan, terutama pada pasien
imunocompromised. Pengobatan dilakukan dengan cara tindakan bedah sedini
mungkin untuk mengangkat jaringan terinfeksi dan nekrotik, amfoterisin B
sistemik, dan kontrol penyakit yang mendasari. Bila diabetes dengan asidosis,
maka asidosis harus dikoreksi. Penggunaan obat-obat imunosupresif harus
dihentikan.















30

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Infeksi jamur pada rongga mulut disebabkan oleh berbagai jenis jamur. Seperti
candida albicans yang menyebabkan candidiasis. Candidiasis ada beberapa jenis
yaitu Acute Pseudomembranous Candidiasis / Thrush, Acute Erythematous
(Atropic) Candidiasis / Antibiotic Stomatitis / Antibiotic Sore Mouth, Chronic
Erythematous ( atropic ) candidiasis / denture stomatitis / denture sore mouth, dan
Chronic Hyperplastic Candidiasis / Candida Leukoplakia. Selain itu terdapat juga
jamur seperti Absidia, Apophysomyces, Mucor, Rhizomucor, dan Rhizopus yang
menyebabkan mucormycosis. Selain itu terdapat histoplasmosis, infeksi zoonosis
yang disebabkan karena inhalasi (menghirup) spora Histoplasma capsulatum di
udara.
Infeksi infeksi jamur tersebut dapat muncul pada rongga mulut karena berbagai
faktor yang didukung dengan predisposisi seperti OH buruk, penyakit sistemik dan
penyakit berat seperti penyakit diabetes yang tidak terkontrol, penderita penderita
dengan leukemia atau limfoma, juga pada penderita penderita imunosupresif
serta kelainan kelainan buruk lain yang dapat menimbulkan infeksi.
Terapi untuk infeksi jamur pada rongga mulut yaitu dengan memberikan obat anti
jamur seperti ketoconazole, clotrimazole, itroconazole dan obat anti jamur lainnya.

3.2 Saran
Sebagai dokter gigi yang berfungsi sebagai operator tenaga medis yang akan
melakukan perawatan terhadap pasiennya. Sudah seharusnya kita mengetahui
penyakit apa yang terjadi pada pasiennya dengan mendiagnosa kondisi pasien.
Karena keberhasilan suatu rencana perawatan tergantung dari diagnose yang
31
bergantung dengan anamnesa. Apabila diagnose yang didapat sudah tepat, maka
diharap dokter gigi dapat mengobati pasien sesuai dengan indikasinya seperti pada
pasien dengan infeksi jamur. Dapat dilakukan anamnesa dan pemeriksaan penunjang
untuk menentukan diagnose yang tepat.






32
DAFTAR PUSTAKA


1. http://penyakitdalam.wordpress.com/2009/11/08/zygomycosis/
2. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3433/3/08E00854.pdf.txt
3. http://penyakitdalam.wordpress.com/2009/11/08/zygomycosis/
4. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3433/3/08E00854.pdf.txt
5. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3408/1/08E00610.pdf
6. http://fk.uns.ac.id/static/file/Manual_Semester_II-2012.pdf
7. http://en.wikipedia.org/wiki/Blastomycosis#cite_note-kwonchung1992-7
8. http://chatcit.com/blastomikosis-penyakit-gilchrist/
9. http://chatcit.com/blastomikosis-penyakit-gilchrist/
10. http://erlian-ff07.web.unair.ac.id/artikel_detail-35480-
a.%20Semester%207%20:%20Pharmacotherapy-
INFEKSI%20FUNGAL,%20INVASIF_%20bab%2036_Handbook%20pharm
acotherapy_dipiro_indo.html
11. http://chatcit.com/blastomikosis-penyakit-gilchrist/
12. http://books.google.co.id/books?id=4_nU4J09RtkC&pg=PA257&lpg=PA257
&dq=blastomikosis&source=bl&ots=vbtddsMXX-&sig=-
c4nnYdQTUOkUJ5XeiDJEVdAFsk&hl=id&sa=X&ei=bYsaVN7sK8zJuASZ
koKQBg&ved=0CEoQ6AEwCQ#v=onepage&q=blastomikosis&f=false
13. http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=blastomikosis+oral&source=web
&cd=4&ved=0CDIQFjAD&url=http://mikrobia.files.wordpress.com/2007/03/
blastomycesdermatitidis068114053.doc&ei=fasaVL_yMcy9uAT7g4KgCw&u
sg=AFQjCNF9n2p-pPumST71NeTboNjJQc5Rxg
33
14. http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=Pemeriksaan+histologik+menyata
kan+reaksi+%E2%80%9Cpygranulomatosa%E2%80%9D+&source=web&cd
=1&ved=0CCMQFjAA&url=http://mikrobia.files.wordpress.com/2007/03/bla
stomycesdermatitidis068114053.doc&ei=u-
EaVPzqFszjuQShj4GgAg&usg=AFQjCNF9n2p-
pPumST71NeTboNjJQc5Rxg
15. http://id.wikipedia.org/wiki/Blastomikosis
16. http://melyanaiza.blogspot.com/2013/03/blastomikosis.html
17. Kee, Joyce L dan Evelyn R. Hayes. Farmakologi Pendekatan Proses
Keperawatan. 1996. EGC.
18. http://apotekmodern.com/view.php?p=detail&detail=3828

Anda mungkin juga menyukai