Anda di halaman 1dari 17

Renegosiasi: perundingan kembali (ulang dsb)

Kontrak:
1. perjanjian (secara tertulis) antara dua pihak dl perdagangan, sewa-menyewa,
dsb;(nomina)
sumber: kbbi3
2. persetujuan yg bersanksi hukum antara dua pihak atau lebih untuk melakukan
atau tidak melakukan kegiatan; (nomina)

PT Freeport Setuju Renegosiasi Kontrak
Karya
REP | 13 March 2012 | 00:16 Dibaca: 1024 Komentar: 12 4 bermanfaat

Sejak Februari 2012, PT Freepot Indonesia telah menunjuk Rozik B Soetjiptosebagai
Presiden Direktur yang baru, menggantikan Armando Mahler yang dipindahkan menjadi
Penasihat Senior untuk Komite Eksekutif.
Rozik adalah mantan Menteri Pekerjaan Umum di era Presiden Gus Dur (1999-2000).
Sebelum menjadi Menteri PU, Rozik adalah Dirjen Pertambangan Umum diDepartemen
Energi dan Pertambangan periode 1998-1999.
Dipilihnya Rozik sebagai Presiden Direktur yang baru menurut Juru Bicara Freeport
Indonesia, Ramdani Sirait merupakan upaya manajemen PT Freeport Indonesia
untukmemperkuat hubungan dengan seluruh pemangku kepentingan. Rozik nantinya akan
dibantu oleh Komite Eksekutif dipimpin oleh Freeport-McMoRan Copper & Gold Chief
Executive Richard Adkerson. Diduga, penggantian itu ada kaitannya dengan agenda
Pemerintahan SBY untuk melakukan renegosiasi kontrak karya dengan sejumlah perusahaan
bidang pertambangan.
Freeport menjadi Trigger regenosiasi KK
Semenjak insiden pemogokan paling panjang yang dilakuan para buruh PT Freeport
Indonesia tahun lalu (september s/d Desember 2011), keberadaan perusahaan ini di Tanah
Papua memang menjadi bahan perdebatan. Perdebatan ini setidaknya telah melahirkan
kepedulian masyarakat Indonesia atas sumberdaya alam yang dimiliki negeri ini, serta
desakan untuk menata ulang pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini.
Aspirasi yang menyebar liar di arena publik itu, lantas direspon secara baik oleh Pemerintah
melalui kebijakan-kebijakan pro rakyat.
Di antaranya adalah terbitnya Keppres No. 3 Thn 2012 tanggal 10 Januari 2012 tentang Tim
Evaluasi Untuk Penyesuaian Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara. Dalam SK tersebut, Menteri ESDM ditunjuk sebagai Ketua Harian
Tim Evaluasi. Kegiatan yang telah dilakukan adalah Tim telah melakukan pembicaraan-
pembicaraan dengan beberapa perusahaan besar di bidangpertambangan mineral dan
batubara, dengan tujuan utama meminta kesediaan para pemilik perusahaan tersebut
untuk melakukan renegosiasi Kontrak Kerja (KK).

Menteri ESDM selaku Ketua Tim Evaluasi bertemua Direktur Baru PT Freeport Indonesia, Rozik B Soetjipto
Terkait renegosiasi itu, Menteri ESDM (Ketua tim Kepres 3/2012) Jero Wacik
mengatakan, pihaknya sudah bertemu Boss baru PT Freeport Indonesia,
dan pihakFreeport sudah menyatakan setuju untuk renegosiasi poin-poin
dalam KK,agar lebih memenuhi keadilan dan kepentingan nasional Indonesia.
Beberapa hari lalu, Boss baru PT Freeport Rozik B Soetjipto mengatakan dalam
renegosiasi KK, setidaknya ada enam poin yang dinegosiasikan, yaitu luas wilayah
kerja pertambangan, perpanjangan kontrak, penerimaan negara/royalti, kewajiban
pengelolaan dan pemurnian, kewajiban divestasi, dan kewajiban penggunaan
barang dan jasa pertambangan dari dalam negeri.
Untuk perpanjangan kontrak, menurut Rozak, Freeport sudah mengantongi kontrakhingga
tahun 2041. Untuk luas areal dari 170 ribu Ha sudah dikurangi menjadi 100 Ha. Untuk
kewajiban pengelolaan dan pemurnianFreeport selama ini sudah mengolah hasil tambang
mereka di pabrik pengolahan (smelter) PT Smelting Gresik. Begitu juga soal kewajiban
divestasi dan penggunaan barang dan jasa dalam negeri, juga sudah dilakukan. Sedangkan
mengenai besaran royalti emas sebesar 3,75 persen seperti yang diminta pemerintah, Rozak
belum mau berkomentar.
Sesuai Peraturan Pemerintah No. 45/ 2003 yang direvisi PP No. 9/2012, royalti emas
ditetapkan sebesar 3,75 persen, tembaga 4 persen, dan perak sebesar 3,25 persen dari
penjualan. Freeport saat ini hanya memberi royalti kepada pemerintah sebesar 1 persen untuk
emas dan 1,5-3,5 persen untuk tembaga.
Direktur Center For Petroleum and Energy Economics Studies M.
Kurtubimenyarankan dalam renegosiasi, pemerintah bisa menawarkan kontrak baru dengan
pembayaran royalti yang lebih besar, atau dengan menyertakan klausul agar dalam jangka
waktu tertentu, Freeport harus mendivestasikan 51 persen sahamnya kepada Indonesia.
Seperti klausul dalam kontrak dengan Newmont Nusa Tenggara, saran Kartubi.
Saran Kartubi tersebut dijawab oleh Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM
Thamrin Sihite. Bahwa betul PP No. 24 Tahun 2012 mewajibkan perusahaan asing
pemegang izin pertambangan setelah lima tahun produksi harus mendivestasi sahamnya
secara bertahap, sehingga pada tahun kesepuluh sahamnya paling sedikit 51 persen dimiliki
peserta Indonesia.
Periode divestasinya adalah 20 persen pada tahun keenam produksi, 30 persen tahun ketujuh,
37 persen tahun kedelapan, 44 persen tahun kesembilan, dan 51 persen tahun kesepuluh dari
jumlah seluruh saham. Namun dengan Freeport, kata Thamrin, tidak bisa mengikuti aturan
itu, karena PP 24/2012 tidak berlaku surut, tetapi berlaku pada kontrak tambang baru.
Menyiapkan SDM Papua
Selain masalah divestasi saham, PT Freeport juga dituntut untuk
mempersiapkan sumberdaya manusia asal Papua sehingga suatu saat
bisa memimpin PT Freeport. Desakan itu disuarakan oleh Tokoh
masyarakat suku Amungme, Yosep Yopi Kilangin. Mantan Ketua DPRD
Mimika periode 2004-2009 itu mengatakan bahwa PT Freeport harus
memiliki rencana strategis yang jelas untuk mempersiapkan SDM Papua
agar tampil lebih maju. Yopi berharap suatu ketika warga Papua bisa
memimpin di perusahaan yang sudah beroperasi lebih dari 40 tahun di
Papua itu.
Kalau Freeport berdalih sudah menyediakan sarana-prasarana pendidikan
untuk anak-anak asli sekitar tambang, itu bukan perencanaan strategis.
Toh semua orang bisa berbuat hal yang sama. Pemerintah juga melakukan
seperti itu. Tapi apa komitmen Freeport untuk memberikan kesempatan
kepada orang-orang yang hidup di Mimika bisa memimpin di perusahaan?
Itu yang harus jelas, jangan sekadar propaganda, kata Yopi merasa
prihatin dengan konfigurasi manajemen PT Freeport saat ini di mana
hampir tidak ada kader dari suku Amungme dan Kamoro yang duduk
dalam jabatan sebagai pengambil keputusan di lingkungan perusahaan itu.
Kondisi itu, kata Yopi, telah membuat harga diri warga menjadi tidak ada.
Renegosiasi Pertambangan Diumumkan Pekan Depan
Kamis, 6 September 2012 15:05 wib

Logo Freeport
JAKARTA - Pemerintah berjanji pekan depan pemerintah menjanjikan akan mengumumkan hasil
sementara renegosiasi Kontrak Karya (KK) di bidang pertambangan.

Hal Ini juga seiring dengan Keputusan Presiden (Keppres) No 3 Tahun 2012 tentang Tim Evaluasi
Untuk Penyesuaian Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara.

"Minggu depan kita akan umumkan hasil-hasil yang dicapai," kata Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) Jero Wacik, seusai rapat koordinasi di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta,
Kamis (6/9/2012).

Jero, pada posisinya merupakan ketua harian tim renegosiasi. Sedangkan ketua tim dipegang oleh
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa. Dalam rakor tersebut, Jero mengatakan
posisinya baru secara resmi mulai dapat bergerak.

"Selama ini kita sudah bekerja, cuma kick off belum di-kick, hari ini sudah di-kick oleh Pak Hatta,
secara resmi sudah mulai bekerja hari ini. Minggu depan kita akan umumkan hasil-hasil yang
dicapai," jelasnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM per 29 Agustus, baru ada lima pemegang KK dan 60
pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) yang telah menyetujui
renegosiasi keseluruhan. Ada 27 KK dan 14 PKP2B yang baru menyetujui poin renegosiasi sebagian.

Lima pemegang KK yang belum menyetujui renegosiasi. Namun sayangnya kementerian enggan
mengungkapkan nama-nama perusahaan yang menolak renegosiasi tersebut.

Renegosiasi Kontrak Pertambangan Terus
Berlanjut
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Kupang - Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan
pemerintah terus melakukan upaya renegosiasi kontrak pertambangan di Indonesia, termasuk
dengan PT Freeport Indonesia di Papua dan PT Newmont di Nusa Tenggara Barat. "Proses
renegosiasi sedang berjalan saat ini," kata Hatta kepada Tempo usai membuka Rapat
Koordinasi Partai Amanat Nasional (PAN) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu, 15 Januari
2012.

Menurut Hatta, pemerintah Indonesia telah membentuk tim untuk menangani renegosiasi kontrak
pertambangan. Renegosiasi akan difokuskan pada empat aspek, yakni royalti yang diberikan
harus sesuai standar. Selain itu masalah perluasan lahan pertambangan dan
pembagiansmelter sehingga material tidak boleh dijual sampai 2014. Fokus keempat adalah
masalah investasi dan pemberdayaan masyarakat lokal. "Empat hal penting ini yang akan
diperjuangkan dalam renegosiasi pertambangan," ujar Hatta.

Menyangkut renegosiasi dengan PT Freeport Indonesia, Hatta membantah mengalami jalan
buntu. Sebab proses pembicaraan berkaitan dengan renegosiasi hingga kini masih terus
berjalan. Bahkan, kata Hatta, pihak Freeport bersedia melakukan renegosiasi kontrak
pertambangan.

Hatta menegaskan renegosiasi kontrak pertambangan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4
Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Undang-undang tersebut memang
memungkinkan untuk mengamandemen kontrak karya dan Perjanjian Kerja Pengusahaan
Pertambangan Batubara (PKP2B).

Berdasarkan data Tempo, Freeport masuk ke Indonesia tahun 1967 pada masa kekuasaan
Presiden Soeharto. Saat itu pemerintah Indonesia membuka pintu lebar-lebar bagi Freeport
sebagai investor bidang pertambangan.

Segala kemudahan diberikan. Semula Freeport hanya mengajukan izin eksploitasi lahan
tambang tembaga. Namun, ketika menemukan emas di lahan tersebut, Freeport
mengkategorikan emas sebagai hasil tambang ikutan.

Berdasarkan kontrak pertama, seharusnya Freeport habis masa beroperasinya pada 1997.
Namun, jauh sebelum masa kontrak berakhir, petinggi Freeport melobi pemerintah Indonesia
untuk renegosiasi dan memperpanjang kontrak.

Tahun 1991, Freeport berhasil memperpanjang kontraknya selama 20 tahun. Berdasarkan
kontrak karya terbaru disebutkan bahwa kontrak dapat diperpanjang kembali selama 2 x 10
tahun apabila Freeport menginginkannya.
Renegosiasi tambang masih buntu
DECEMBER 3, 2012 BY CLIPGOVT
Jumat, 30 November 2012
MERDEKA.COM. Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan proses renegosiasi
tambang, masih belum berjalan. Hal ini karena belum ada keputusan dari Ketua Tim Renegosiasi yaitu Menteri
Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.
Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini mengatakan untuk masalah teknis renegosiasi tersebut sedang dilakukan
oleh Direktorat Jenderal Mineral Batubara, namun saat ini belum ada keputusan pada level ketua renegosiasi
kontrak.
Kalau kontrak kan enggak gampang. Ya sekarang kan teknis di Pak Thamrin, sudah ada bahasannya. Tapi di
level pak Hatta, Pak Menteri dan sebagainya itu yang belum diputuskan, ujar Rudi di kantornya, Jakarta, Jumat
(30/11).
Dia menegaskan sebelum diputuskan masih harus melewati proses evaluasi terlebih dahulu. Hal ini karena
penanganan renegosiasi kontrak itu menjadi urusan negara. Jadi Pak Thamrin nanti hanya akan sampaikan
stand point dari posisinya, ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa selaku Ketua Tim Renegosiasi Kontrak
Karya Pertambangan mengatakan, dalam renegosiasi Kontrak Karya pemerintah menginginkan royalti yang
lebih dari yang ditentukan oleh UU. Tapi namanya renegosiasi kita menginginkan lebih dari itu, kata Hatta.

Awas, Renegosiasi Kontrak Karya Jadi Alat Penyokong
Pemilu 2014
Supaya Tidak Ada Kongkalikong, DPR Ngakunya Sih Siap Mengawasi
Senin, 24 September 2012 , 08:44:00 WIB


MARWAN
BATUBARA

RMOL. Pemerintah diharapkan tidak
lambat melakukan renegosiasi kontrak
karya di bidang pertambangan.
Dikhawatirkan ada oknum yang bermain
untuk melakukan deal-deal guna
menyokong dana kepentingan logistik
Pemilu 2014.
Pengamat pertambangan Marwan Batubara
mengatakan, pemerintah bersama DPR
harus kompak menjaga kebersihan (tidak
ada unsur kepentingan) renegoisasi
kontrak karya. Menurut dia, pemerintah
harus mengedepankan kepentingan negara
di atas kepentingan pribadi.
Jangan biarkan renegosiasi dikotori ulah
oknum yang mencoba memanfaatkan
momen ini. Kalau ada, tindak tegas, beri
sanksi yang berat, kata Marwan ke-
pada Rakyat Merdekadi Jakarta, kemarin.
Untuk itu, Marwan berharap, DPR
mengawal dan mengawasi proses
renegosiasi. Kekhawatiran adanya oknum
lantaran situasi saat ini tidak jelas. Mi-
salnya, terkait kabar naiknya besaran
royalti untuk Freeport.
Tadinya kenaikan royalti itu 3,75 persen
dari awalnya 1 persen. Tapi sekarang
muncul wacana kenaikan menjadi 10 persen, ujar bekas Senator itu.
Dia mengingatkan, pemerintah saat ini tak perlu meminta royalti atas Freeport hingga 10 persen.
Pemerintah cukup menekankan agar royalti perusahaan tambang asal Amerika itu dibayarkan sesuai
aturan.
Marwan berpendapat, jika renegoisasi kontrak menghasilkan kesepakatan menaikkan royalti tapi
mengurangi pajak, itu akan merugikan Indonesia. Royalti itu kecil, yang besar itu pajaknya, warning
Marwan.
Untuk itu, lanjutnya, pemerintah hanya perlu memberi batasan waktu kapan proses renegoisasi itu akan
rampung. Yang jelas, renegoisasi harus kelar dengan mengabaikan keinginan Freeport untuk mem-
perpanjang kontraknya di Indonesia hingga 2041.
Marwan juga kembali mengingatkan, jangan sampai momen renegosiasi dijadikan ajang mendapatkan
dukungan politik pada Pemilu 2014.
Anggota Komisi VII DPR Satya W Yudha mengatakan, pihaknya siap mengawal jalannya proses renegosiasi
agar terhindar dari kongkalikong oknum yang ingin merusak kebersihan jalannya proses itu.

Dia mengaku, hingga kini belum mendapat paparan secara detail soal kemajuan renegosiasi dengan
Freeport.
Renegosiasi dulu baru mikir diperpanjang atau tidak. Kalau kontrak yang ada tidak mau direnegosiasi,
jangan mau diperpanjang, ujarnya.
Namun, Satya berpendapat, perpanjangan kontrak Freeport sepenuhnya merupakan hak pemerintah. Dia
mengingatkan, proses renegosiasi harus dirampungkan terlebih dahulu karena hal itu berbeda dengan pro-
ses perpanjangan kontrak.
Renegosiasi membahas seputar royalti sebesar 3,75 pesen dan divestasi saham Freeport sebesar 51 persen
untuk Pemerintah Indonesia. Kontrak yang sekarang berjalan harus direvisi dan tunggu habis dulu,
katanya.
Satya mengatakan, proses renegosiasi saat ini harus menjadi acuan pemerintah untuk membahas
pemberian perpanjangan kontrak.
Kalau tidak mau renegosiasi untuk divestasi hingga 51 persen, pemerintah tidak usah berikan
perpanjangan, tegasnya.
Namun, jika Freeport memiliki kemauan baik dan menyanggupi renegosiasi yang diminta pemerintah,
perpanjangan kontrak bisa menjadi opsi untuk dipertimbangkan. Tapi, jika pemerintah yakin ada pihak
dari dalam negeri memiliki kemampuan finansial dan teknologi, sebaiknya kontrak Freeport tidak
diperpanjang.
Jika ternyata dua hal itu tidak dimiliki, opsi perpanjangan kontrak menjadi dimungkinkan. Jangan sampai
mengorbankan sumber daya alam karena ternyata kita tidak mampu mengelolanya sendiri, ujarnya.
Sebelumnya, PT Freeport Indonesia belum sepakat dengan keinginan pemerintah untuk menaikkan royalti
hasil tambang di Freeport. Namun, perundingan akan terus dilakukan hingga mencapai kata sepakat.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Rozik B Sutjipto menjelaskan, hingga saat ini pihaknya terus
melakukan komunikasi dengan pemerintah. Harapannya, cepat terjadi kata sepakat sehingga perseroan
juga lekas menambang seperti biasa.
Royalti hampir setuju. Royalti tembaga 4 persen dari harga jual per kilogram, emas 3,75 persen dan perak
3,25 persen. Itu tidak masalah. Tapi kan Pak Hatta (Menko Perekonomian Hatta Rajasa) ingin lebih dari
itu, kata Rozik.
Sekadar catatan, besaran royalti yang dibayarkan Freeport selama ini lebih rendah dari yang diwajibkan
dalam Peraturan Pemerintah No.45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang berlaku pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terhadap setiap badan usaha.
Hatta menginginkan royalti dari Freeport lebih dari yang sudah diatur dalam PP tersebut. Tentang
besaran royaltinya saya tidak tahu. Saya tidak pernah mendengar 10 persen, kata besan Presiden SBY itu.
[Harian Rakyat Merdeka]

Hasil Renegosiasi Kontrak Karya
Diumumkan
Pekan Depan
Jumat, 07/09/2012
Berita Terkait:
Tak Ada Kontrak Karya Kebal Renegosiasi
Renegosiasi Kontrak Karya Dinilai Gagal
Australia Siap Renegosiasi Kontrak Karya
NERACA
Jakarta-- Pemerintah segera mengumumkan hasil sementara renegosiasi Kontrak Karya (KK) di
bidang pertambangan pada pekan depan. "Minggu depan kita akan umumkan hasil-hasil yang
dicapai," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik di Jakarta, Kamis
(6/9)
Yang jelas hal Ini juga seiring dengan Keputusan Presiden (Keppres) No 3 Tahun 2012 tentang
Tim Evaluasi Untuk Penyesuaian Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara.
Lebih jauh kata Jero, pihaknya sudah lama bekerja melakukan berbagai macam langkah.
"Selama ini kita sudah bekerja, cuma kick off belum di-kick, hari ini sudah di-kick oleh Pak Hatta,
secara resmi sudah mulai bekerja hari ini. Minggu depan kita akan umumkan hasil-hasil yang
dicapai," jelasnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM per 29 Agustus, baru ada lima pemegang KK dan 60
pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) yang telah
menyetujui renegosiasi keseluruhan. Ada 27 KK dan 14 PKP2B yang baru menyetujui poin
renegosiasi sebagian. Lima pemegang KK yang belum menyetujui renegosiasi. Namun
sayangnya kementerian enggan mengungkapkan nama-nama perusahaan yang menolak
renegosiasi tersebut.
Ditempat terpisah, Ketua Eksekutif Indonesian Human Rights Committee for Social Justice
(IHCS) Gunawan menilai, jika royalti emas dari Freeport berada di kisaran 3,75 %, serta
dibayarkan sejak 2006 sampai 2010 maka mampu menyumbang APBN sebesar USD2,5 juta.
Atau dengan kata lain, Indonesia mendapat masukan USD625 ribu per tahun. "Harusnya kan
royalti emas itu sudah 3,75 % jika setelah dilakukan renegosiasi, tapi sampai saat ini masih
sebesar satu %," ujarnya
Menurut Gunawanm, dalam hal ini bukan hanya Freeport yang melakukan perbuatan melawan
hukum. Namun Menteri ESDM, Presiden, DPR juga menjadi tergugat. Menurut dia, mereka telah
melakukan pelanggaran hukum nasional. "Kenapa masih ada problem terkait kemiskinan di
Papua, persoalan lingkungan hidup, agraria, dan perburuhan itu juga permasalahan yang saat ini
ada," jelasnya.
Lebih jauh kata Gunawan, di sisi lain royalti emas Freeport sebesar 3,75 %, akan sangat
membantu bagi pemasukan negara. Sehingga APBN tidak akan mengalami defisit. "Kalau royalti
dibayarkan sejak 2006 sampai 2010 saja itu akan mencapai USD2,5 juta jadi tidak perlu khawatir
lagi APBN jebol," tambahnya.
Menurut Gunawan, yang bersinggungan erat dengan gugatan ini menyorot tentang pentingnya
negara, utamanya pemerintah untuk menggenjot secara maksimal penerimaan negara dari
sektor Sumber Daya Alam di dalam APBN 2013.
Dia menambahkan, pemerintah seharusnya mampu menggali dan menekan para pelaku usaha
pengelolaan Sumber Daya Alam untuk membayar royalti-royalti sesuai dengan ketentuan PP
Nomor 45/2003 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku di Kementerian ESDM
sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 9 tahun 2012 demi sebesar-besar kemakmuran
rakyat. **cahyo
Pemerintah Renegosiasi Kontrak Bidang
Pertambangan
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah akan merenegosiasi kontrak dengan perusahaan asing
bidang sumber daya alam khususnya pertambangan, minyak bumi, gas, serta batu bara.

Menteri Keuangan Agus Martowardoyo di Istana Negara, Jakarta, Rabu, mengatakan
pemerintah pada dasarnya menghormati kontrak dengan perusahaan asing namun pengkajian
ulang harus dilakukan untuk memperbaiki kontrak yang dinilai belum adil.

"Di tahun 2011 ini, kita itu ada banyak kontrak-kontrak dalam arti kontrak karya dan lain-lain
yang perlu di-`review` apakah ini `win-win `atau tidak, apakah ada yang abnormal. Nah, itu yang
mau di-`review` dan nanti tentu akan dikaji," tuturnya.

Menkeu enggan menyebutkan nama-nama perusahaan yang kontraknya akan dikaji ulang oleh
pemerintah.

"Semua, kita tidak bisa sebutkan nama, tapi lebih banyak ke sumber daya alam," ujarnya.

Menurut Menkeu, prinsipnya pemerintah ingin meningkatkan pendapatan negara, penciptaan
lapangan kerja dan nilai tambah di Indonesia sehingga merasa perlu untuk mengkaji ulang
kontrak-kontrak tersebut.

Namun, lanjut Agus, sampai saat ini pemerintah belum pernah menghitung kerugian negara dari
kontrak-kontrak tidak adil tersebut.

Selain itu, kata dia, terdapat beberapa hal penting belum dipertimbangkan pada saat kontrak
tersebut dibuat seperti kewajiban menjaga lingkungan hidup dan kewajiban-kewajiban lain
kepada negara.

Sementara itu, Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan BUMN siap apabila diprioritaskan
untuk menangani pengolahan sumber daya alam di Indonesia.(*)
(T.D013/R018)

Pemerintah Tutupi Renegosiasi Kontrak Karya
CR-27 | Senin, 25 Juni 2012 - 15:19:04 WIB
: 551


(dok/SH)
Kontrak yang dilakukan 2030 tahun lalu tidak tepat atau adil.


JAKARTA Renegosiasi kontrak karya hingga kini masih berjalan. Pemerintah menyatakan tidak
akan buru-buru menyampaikan perkembangan renegosiasi kepada publik.
Hal ini mengingat dalam pembicaraan renegosiasi belum diputuskan kesepakatan final dan belum
ada penandatanganan poin renegosiasi antara kedua belah pihak.
Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM,
Thamrin Sihite, kepada SH di Jakarta, Kamis (21/6) lalu. Khusus untuk Newmont dan Freeport nanti
ada waktunya kami umumkan ke publik, katanya.
Ia menyatakan, hal prinsip yang dijaga pemerintah dalam proses renegosiasi ini adalah menjaga
kerahasiaan poin-poin kontrak renegosiasi masing-masing perusahaan. Kebijakan ini diharapkan
akan memuluskan proses renegosiasi. Tujuan renegosiasi ini adalah mencapai keadilan bagi kedua
belah pihak, baik investor ataupun pemerintah.
Ia meminta semua pihak sabar menunggu hasilnya, karena renegosiasi kontrak karya memerlukan
waktu yang panjang.
Pemerintah bekerja serius dalam program kerja renegosiasi kontrak karya dengan membentuk tim
renegosiasi kontrak yang dilindungi Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 3 Tahun 2012. Timnya
diberi nama Tim Evaluasi untuk Penyesuaian Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batu bara (PKP2B) yang dibentuk pada Januari 2012.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, ia menyebutkan, renegosiasi kontrak karya pertambangan
dilakukan sejak Agustus 2010 terhadap 37 perusahaan kontrak karya (KK) dan 74 perusahaan
perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B).
Perkembangan akhir 2011, untuk kontrak karya, secara prinsip sembilan kontrak karya yang telah
setuju seluruhnya, 23 kontrak karya menyetujui sebagian poin renegosiasi, dan lima kontrak karya
belum menyetujui seluruhnya.
Perkembangan Mei 2012, 60 PKP2B telah menyetujui seluruh poin-poin renegosiasi, dan 14 PKP2B
setuju sebagian. Kondisi tersebut jauh lebih baik ketimbang perkembangan pada Desember 2010
lalu, dengan hanya empat kontrak karya yang menyetujui seluruh poin renegosiasi.
Nasionalisasi Perusahaan Asing
Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rovicky Dwi Putrohari mengatakan kepada SH, pemerintah akan
menghabiskan banyak energi untuk membicarakan renegosiasi dengan pemegang konsesi
pertambangan dan migas.
Padahal, ada cara lain yang lebih efisien dan menguntungkan bangsa ini, yakni dengan
menasionalisasi perusahaan asing yang dilakukan pada saat kontrak habis. Malaysia telah sukses
melakukan hal itu dan tidak ada huru-hara.
Memang seperti yang ditulis di kontrak Production Sharing Contract (PSC)-nya bahwa kontrak habis.
Habis, ya selesai. Diperpanjang atau tidak diperpanjang, tidak disinggung sama sekali dalam kontrak
PSC. Kalau mau menasionalisasi ya saat kontrak habis itu adalah saat yang sangat tepat. Tanpa
perlu perubahan UUD, tidak perlu membuat UU, dan tanpa takut melanggar kesepakatan kontrak
PSC, ujarnya.
Menurutnya, yang perlu diantisipasi dan disiapkan adalah bahwa perusahaan yang akan
dinasionalisasi mungkin tidak akan berinvestasi lagi disitu. Artinya, kemungkinan akan terjadi
penurunan produksi. Tetapi, ini tidak menjadi persoalan karena cadangannya masih ada dan menjadi
milik negara.
Nanti setelah dinasionalisasi produksi bisa digenjot kembali. Pada prinsipnya, perusahaan (operator)
akan menghitung keekonomiannya sendiri. Produksi yang anjlok juga tidak sehat bagi operator.
Bebaskan saja mereka (operator) melakukan fungsi bisnisnya secara otomatis dalam lima tahun
terakhir (ingat depresiasi itu berlaku lima tahun), tuturnya.
Malaysia mengalami penurunan produksi 1315 persen pada 19982001, menurut Vicky, salah
satunya karena masa transisi itu.
Produksi mereka kembali meningkat setelah banyak orang Indonesia dipekerjakan sebagai expatriate
oleh Petronas sejak awal 2000-an, hingga mampu mempertahankan produksi minyaknya sekarang.
Di sisi lain, produksi gasnya meningkat seperti Indonesia.
Dari proyeksi produksi minyak Indonesia saat ini sudah terlihat bahwa lifting minyak terendah akan
terjadi pada 2013. Menurut dia, mungkin ini berlanjut sampai 2014, kalau ada kemunduran jadwal
lapangan baru.
Saat-saat seperti ini semestinya dipakai sebagai waktu berpikir menggali kesadaran kemandirian
energi, baik di internal pemerintah, DPR, maupun masyarakat. Sadar energi meliputi sikap hemat dan
keilmuan dalam mengeksplorasi bentuk energi baru yang diperlukan.
Mengapa Pertamina tidak atau belum bisa seperti Petronas, lanjut Vicky, karena Indonesia tidak
mengikuti langkah Malaysia dalam menasionalisasi industri atau usaha migas. Malaysia
menggunakan momentum pengembalian blok-blok PSC-nya sebagai mementum untuk mulai
berkiprah sendiri dan mandiri pada aset negara sendiri.
Sebelum adanya pengembalian blok-blok yang sebelumnya dioperasikan Shell di Sabah dan
Sarawak dan Exxon di Malay Peninsular, lanjut dia, pertumbuhan Petronas datar saja. Petronas saat
sebelum memiliki blok-blok yang masih berproduksi ini, masih seperti Pertamina sekarang atau malah
jauh di belakangnya. Tetapi setelah Petronas mengelola aset-aset yang dikembalikan Shell dan
Exxon ini, mereka langsung gagah dan high profile, tuturnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam keterangan persnya di Rio de Janeiro, Brasil,
Jumat (22/6) pekan lalu, menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan kebijakan renegosiasi
pada kontrak-kontrak yang merugikan negara dan rakyat Indonesia pada umumnya.
"Kontrak-kontrak dengan mitra kita yang dilakukan 2030 tahun lalu, ternyata tidak tepat atau adil. Ini
karena ada kewajiban moral kita untuk melakukan perubahan. Saya memiliki kewajiban moral untuk
melakukan perubahan," katanya.
Ia mengatakan, keputusan itu diambil agar Indonesia memiliki konsep kegiatan ekonomi yang lebih
baik dan adil, termasuk kebijakan terhadap kontrak karya dengan mitra asing.
SBY kemudian memberikan contoh tentang sejumlah kontrak kerja di bidang pertambangan dengan
mitra asing yang dinilainya merugikan Indonesia dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, pemerintah menyusun kebijakan untuk merenegosiasi kontrak-kontrak kerja jangka
panjang dengan investor asing yang merugikan pemerintah dan rakyat Indonesia. (Ant)

Isu Nasionalisasi di Bidang Pertambangan Bikin Gerah
Investor Asing
Sabtu, 3 November 2012 - 18:59 Topik: nasionalisasi-asset
0 0 0


Salah Satu Aksi Menuntut Nasionalisasi Aset Tambang Di Indonesia
Seruu.com - Investor asing semakin mencemaskan masalah sengketa kontrak dan isu nasionalisme di dunia
bisnis Indonesia. Hal ini dapat merintangi arus investasi ke sumber daya alam Indonesia bernilai tinggi, seperti
minyak, gas, dan bahan tambang.
Pengusaha asal Eropa, Nat Rothschild, bulan lalu mundur dari direksi Bumi PLC setelah Bakrie Group
mengajukan tawaran untuk aset Indonesia milik perusahaan batu bara asal London itu. Churchill Mining PLC,
perusahaan asal Inggris, tengah terlibat dalam sengketa dengan pemerintah daerah mengenai proyek batu bara
di Kalimantan.

Intrepid Mines Ltd. mengklaim mitranya di Indonesia mengusir perusahaan pertambangan asal Australia itu dari
sebuah proyek eksplorasi emas dan tembaga. Empat karyawan Chevron Corp., perusahaan Amerika Serikat
(AS) yang sudah berkiprah di Indonesia selama hampir 90 tahun, ditahan oleh Kejaksaan Agung atas dugaan
korupsi remediasi tanah di Sumatra.

Isu-isu yang menumpuk itu menyiratkan investasi di Indonesia tidak mudah, kata Dipnala Tamzil, Direktur
Eksekutif Indonesian Petroleum Association atau IPA. Arus investasi ke Indonesia memang belum terhenti, tapi
hal ini menunjukkan ada masalah yang harus dipecahkan. ujarnya seperti dilansir seruu.com dari Wall Street
Journal, Sabtu (03/11/2012).

Sengketa bisnis memang bisa terjadi di mana saja. Dan negara dengan salah satu pertumbuhan ekonomi
terpesat di dunia ini telah memikat investasi asing dalam jumlah besar.

Tapi rangkaian insiden itu memicu kekhawatiran akan transparansi dan kestabilan regulasi di Indonesia, kata
Andrew White, managing director Kamar Dagang AS di Indonesia.

Berapa banyak potensi investasi yang bisa mengalir masuk jika Indonesia menangani isu-isu penting ini?
tanyanya. Ada belasan miliar dolar yang menunggu.

Jubir Chevron Alex Yelland berkata perusahaannya meninjau rencana investasi secara rutin, dan kepercayaan
terhadap kerangka kerja hukum serta regulasi adalah bagian penting dalam pengambilan keputusan.

Arus investasi asing langsung ke Indonesia naik ke rekor tertinggi senilai $5,9 miliar di kuartal ketiga 2012, atau
meningkat 22% dari periode yang sama setahun sebelumnya. Ini menandakan Nusantara masih diminati investor
asing yang ingin memikat konsumen kelas menengah, yang jumlahnya terus tumbuh.

Kebijakan dari pemerintah sangat mendukung pembentukan iklim investasi yang terus membaik, tegas Menteri
Perdagangan Gita Wirjawan bulan lalu.

Namun, meskipun Indonesia masuk 10 besar dunia dalam hal potensi barang tambang mineral, kita masuk 10
negara dengan dampak kebijakan terburuk terhadap eksplorasi pertambangan. Sentimen itu datang dari survei
akhir tahun lalu oleh lembaga penelitian Fraser Institute dari Kanada, yang menghubungi sekitar 800 perusahaan
terkait pertambangan. Selain itu, Indonesia yang dulu pernah menjadi anggota Organisasi Negara-Negara
Pengekspor Minyak atau OPEC ini sudah lama menjadi importir net minyak. Ladang-ladang minyak kita yang
semakin menua memberikan hasil produksi yang terus menurun.

Seiring dengan pemilu presiden Juli 2014 yang kian mendekat, saat ini pun pemerintah menerapkan sikap yang
sangat nasionalis dalam regulasi pertambangan, kata Adam Worthington, analis dari Macquarie Securities. Hal
ini dapat meredam arus modal asing, lanjutnya.

Di sektor pertambangan, pemerintah telah meluncurkan peraturan baru mengenai pembatasan kepemilikan
asing. Pemerintah juga tengah merundingkan ulang angka royalti pertambangan dengan investor asing besar.

Beberapa investor melihat langkah pemerintah itu sebagai aksi nasionalis. Mungkin pendapat itu ada benarnya,
kata Muhammad Chatib Basri, kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Tapi Indonesia harus melepaskan
diri dari ketergantungan terhadap pertambangan sumber daya alam, lanjutnya, sehingga pemerintah harus
mendorong perusahaan beralih ke produk dan layanan bernilai lebih tinggi.

Reaksi investor asing bisa terlihat dari kasus Rothschild dan Bumi. Dalam surat pengunduran diri, pengusaha
Inggris itu menulis bahwa tawaran Bakrie membeli aset-aset Indonesia jelas tidak membawa kepentingan
pemegang saham minoritas. Ia juga menyatakan hampir semua pebisnis Indonesia terkejut oleh kesan buruk
yang ditangkap investor asing akibat sengketa ini. Pihak Bakrie menolak berkomentar.

Menurut survei Kamar Dagang Amerika, dari 356 perusahaan yang dihubungi, hanya seperempat yang
berencana berekspansi di Indonesia. Persentase tahun lalu mencapai 72%, sedangkan pada 2010 mencapai
69%. Survei itu melibatkan perusahaan anggota kamar dagang di tujuh negara Asia Tenggara, dan berlangsung
15 Juni hingga 3 Juli lalu.

Alasan di balik kemerosotan itu belum jelas, kata Andrew White dari Kadin AS. Tapi isu seperti korupsi,
infrastruktur, proteksionisme, dan regulasi masih menjadi perhatian utama perusahaan anggota kamar dagang,
lanjutnya. White menambahkan faktor penting lain adalah kepatuhan terhadap kontrak.

Sengketa kontrak terjadi antara Intrepid Mines dan PT Indo Multi Niaga. Intrepid menuduh mitranya di Indonesia
itu melanggar kontrak dengan menjual kepemilikan proyek eksplorasi emas dan tembaga.

Peristiwa ini, dan kasus-kasus lain di Indonesia baru-baru ini, menunjukkan bahwa beberapa unsur komunitas
bisnis merasa bisa melanggar hukum tanpa mendapat hukuman, kata CEO Intrepid Brad Gordon. [mus]

IHRCS : Renegoisasi Kontrak Karya Jangan Cuma Jadi
Wacana!
Kamis, 3 Mei 2012 - 11:40 Topik: nasionalisasi-asset
0 0 0


Ridwan Darmawan Wakil Ketua Bidang Politik Hukum Dan Jaringan IHCS (Indonesia Human Rights Committee For Social Justice)
Jakarta, Seruu.com - Wacana renegosiasi Kontrak Karya Freeport yang telah digulirkan oleh pemerintah sejak
awal tahun lalu hingga hari ini sepertinya jalan ditempat. Wakil Ketua Indonesian Human Rights Committee for
Social Justice (IHRCS) bidang Politik, Hukum & Jaringan, Ridwan Darmawan mengatakan tidak ada capaian
signifikan dari proses yang digembar-gemborkan oleh para awak kabinet SBY-Boediono bahwa Freeport telah
bersedia merenegosiasi kontrak karyanya.
" Hal ini bisa dilihat dari tidak adanya laporan ke publik sejauh mana proses renegosiasi yang dicanangkan
tersebut telah berjalan, butir-butir apa saja yang telah disepakati dari proses renegosiasi tersebut. Semuanya
mulai dari Menko perekonomian Hatta Rajasa, sekaligus sebagai Ketua Tim Evaluasi Renegosiasi KK
Pertambangan," kata Ridwan melalui siaran pers yang diterima Seruu.com, Kamis (03/05/2012).

Menteri ESDM Jero Wacik sebagai Ketua Harian Tim, sampai Dirjen Minerba Kementrian ESDM Thamrin Sihite,
hingga hari ini masih berbicara pada tataran umum dan lebih banyak retorika bahwa pemerintah serius,
optimistis, dan sedang menjalankan proses renegosiasi KK tersebut, seperti tampak diberbagai media baik cetak
maupun elektronik.

Seperti diketahui, mandat renegosiasi KK pertambangan termaktub jelas dalam UU No. 4 Tahun 2009 tentang
Mineral dan Batubara. Pasal 169 huruf (b) menyatakan, Ketentuan yang tercantum dalam pasal kontrak karya
dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara sebagaimana dimaksud pada huruf (a) disesuaikan
selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan kecuali mengenai penerimaan
negara.Dalam penjelasannya disebutkan,

Semua pasal yang terkandung dalam kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara
harus disesuaikan dengan Undang-Undang.

" Artinya, satu tahun sejak UU No. 4 Tahun 2009 tersebut dinyatakan berlaku efektif, maka renegosiasi KK dan
PKP2B seharusnya sudah dalam proses penyelesaian. Namun faktanya, hingga hari ini hal itu baru sebatas
angan-angan pemerintah saja. Padahal payung hukum pemerintah melakukan renegosiasi tersebut telah cukup
memadai," papar Ridwan yang juga salah satu mantan aktivis mahasiswa dari UIN Syarif Hidatullah tersebut.

Ridwan menambahkan, disamping UU No. 4 Tahun 2009 diatas, ada 4 Peraturan Pemerintah yang telah
dikeluarkan oleh pemerintah sendiri sebagai turunan dari UU Minerba tersebut.

Menyikapi situasi tersebut, (IHCS) perlu menyatakan sikap sebagai berikut :

1. Mendorong dengan keras kepada Pemerintah Indonesia untuk segera melakukan Renegosiasi Kontrak Karya
Freeport seefektif dan sesegera mungkin, demi Kedaulatan Hukum dan Bangsa ini sekaligus.

2. Renegosiasi Kontrak-kontrak Karya Pertambangan adalah keniscayaan, ditengah terjadinya ketimpangan-
ketimpangan pengelolaan sumber daya strategis kita sebagai bangsa yang telah terjadi puluhan tahun lalu akibat
salah urus dan keserakahan apparatus negara masa lalu, serta juga salah tafsir dan praktek ideologi Pasal 33
UUD 1945.

3. Pemerintah Indonesia haruslah bersikap ksatria dan jantan serta konsisten berhadapan dengan siapapun,
baik itu dengan Negara lain, Korporasi Global, Korporasi lokal, swasta nasional maupun asing, dalam hal
pengelolaan sumber daya alam strategis bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat sesuai amanat konstitusi
Republik Indonesia.

4. Tindak tegas para pemodal besar yang berusaha mengakali konstitusi kita, demi keuntungan segelintir
kelompok dan perusahaannya semata.