Anda di halaman 1dari 40

Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan


Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Obat merupakan salah-satu komponen penting dan barang yang tidak tergantikan
dalam pelayanan kesehan, sehingga obat perlu dikelola dengan baik, efektif dan
efisien. Tujuan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan adalah untuk menjamin
ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat dengan jenis dan jumlah yang
cukup, sehingga mudah diperoleh pada tempat dan waktu yang tepat. Pengelolaan
obat dan perbekalan kesehatan di kabupaten/kota memegang peranan yang sangat
penting dalam menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat untuk
pelayanan kesehatan dasar.
Oleh karena itu, program pendidikan profesi apoteker Universitas Andalas
memfasilitasi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan teori yang telah didapatkan
selama pembekalan di Fakultas Farmasi dan dari unit-unit pelaksanaan teknis
dibidang kesehatan, khususnya Dinas Kesehatan Kota Padang. Dari kegiatan ini
diharapkan mahasiswa mendapatkan pengalaman yang dapat membantu dalam
meningkatkan kompetensi seorang farmasis, terutama dalam menjalankan fungsi
pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan di gudang farmasi kabupaten/kota.
Pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan suatu siklus kegiatan
yang dimulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi yang saling
terkait satu sama lainnya.

1.2. Tujuan
Tujuan dari PKPA di Gudang Farmasi Kaabupaten/Kota ini antara lain adalah :
a. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi, posisi dan
tanggungjawab apoteker di Gudang Farmasi.
b. Membekali calon apoteker agar memiliki wawasan, pengetahuan, keterampilan
dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di di Gudang
Farmasi.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 2

c. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk belajar berkomunikasi dan
berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain yang bertugas di Gudang Farmasi.
d. Memberikan gambaran nyata tentang permasalahan praktek dan pekerjaan ke
farmasian di Gudang Farmasi.
e. Mempersiapkan apoteker agar memeiliki sikap-prilaku dan profesionalisme
untuk memasuki dunia praktek profesi dan pekerjaan keprofesian di Gudang
Farmasi.

1.3. Manfaat
Adapun manfaat diadakannya PKPA di Gudang Farmasi Kabupaten/Kota adalah:
a. Mengetahui, memahami tugas dan tanggungjawab apoteker dalam menjalankan
pekerjaan di Gudang Farmasi.
b. Mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di Gudang
Farmasi.
c. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi apoteker yang professional.
d. Mendapatkan pengetahuan managemen praktis di Gudang Farmasi.

Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gudang Farmasi Kabupaten/Kota (GFK)
2.1.1. Definisi
Gudang Farmasi Kabupaten/Kota (GFK) merupakan unit pelayanan terpadu
dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang langsung berada di bawah Kepala Dinas
dan bertanggung jawab terhadap manajemen perbekalan farmasi di kabupaten/kota
tersebut.

2.1.2. Tugas Pokok dan Fungsi
Tugas pokok Gudang Farmasi Kabupaten/Kota yaitu melaksanakan
manajemen pengelolaan perbekalan farmasi dan alat kesehatan yang diperlukan
dalam rangka pelayanan kesehatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit dan
pembinaan kesehatan masyarakat di Kabupaten/Kota sesuai dengan petunjuk
Kakandepkes Kabupaten/Kota.
Sedangkan fungsi dari Gudang Farmasi yang ada di Kabupaten/Kota adalah
sebagai berikut :
1. Melakukan penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan dan pendistribusian obat,
alat kesehatan dan perbekalan farmasi.
2. Melakukan penyiapan, penyusunan rencana dan pelaporan mengenai persediaan
dan penggunaan obat, alat kesehatan dan perbekalan farmasi.
3. Melakukan pengamatan mutu dn khasiat obat secara umum baik yang ada dalam
persediaan maupun yang didistribusikan.
4. Melakukan urusan tata usaha keuangan kepegawaian dan urusan dalam Gudang
Farmasi Kabupaten/Kota yang merupakan titik sentral pengelolaan obat di daerah
tingkat II.


Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 4

2.2. Manajemen Pengelolaan Perbekalan Farmasi
Pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan suatu siklus kegiatan
yang dimulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi yang saling
terkait satu sama lainnya. Kegiatannya mencakup perencanaan , pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan dan pelaporan, penghapusan
serta monitoring dan evaluasi.
2.2.1. Perencanaan
2.2.1.1. Definisi
Perencanaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan salah satu fungsi yang
menentukan proses pengadaan.
2.2.1.2. Tujuan
Terdapat 2 (dua) tujuan dalam kegiatan perencanaan obat dan perbekalan
kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Untuk menetapkan jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang tepat,
sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar termasuk
obat program kesehatan yang telah ditetapkan.
b. Untuk mencegah terjadinya kekosongan obat dan perbekalan kesehatan.

2.2.1.3. Tahap Perencanaan
Proses perencanaan obat dan perbekalan kesehatan melalui beberapa tahap
sebagai berikut :
A. Tahap perencanaan kebutuhan obat
i. Tahap pemilihan obat
Fungsi pemilihan adalah untuk menentukan perbekalan farmasi yang
benar-benar diperlukan sesuai dengan jumlah pasien/kunjungan dan pola
penyakit di rumah sakit. Dasar- dasar pemilihan obat meliputi :
Jenis obat yang di pilih seminimal mungkin dengan cara menghindari
kesamaan jenis.
Hindari obat kombinasi, kecuali obat kombinasi mempunyai efek yang lebih
baik di bandingkan obat tunggal.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 5

Apabila jenis obat banyak, maka di pilih berdasarkan obat pilihan (drug of
choice).
ii. Tahap kompilasi pemakaian obat
Kompilasi pemakaian obat berfungsi untuk mengetahu pemakaian setiap
bulan dari masing-masing jenis obat di unit pelayanan kesehatan/puskesmas
selama setahun, serta untuk menentukan stok optimum (stok kerja + stok
pengaman).
Informasi yang didapat dri kompilasi pemakaian obat adalah :
Jumlah pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing Unit Pelayanan
Kesehatan/ Puskesmas.
Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun
seluruh Unit Pelayanan Kesehatan/ Puskesmas.
Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat Kabupaten/
Kota.
Pola penyakit yang ada.

Manfaat informasi yang didapat adalah :
Sebagai sumber data dalam menentukan jenis dan kebutuhan obat.
Sebagai sumber data dalam menghitung kebutuhan obat untuk
pemakaian tahun mendatang.

Kegiatan yang dilakukan adalah :
Langkah pertama adalah pengisian Formulir Kompilasi dari masing
masing jenis obat untuk seluruh puskesmas. Pengisian formulir kompilasi
pemakaian obat (formulir IFK 1) dengan cara:
Jenis Obat

Kolom 1
Kolom 2

:

:
:

Nama obat disertai kekuatan dan bentuk sediaan.
Contoh: Amoksisillin 500 mg kaplet.
Nomor urut Unit Pelayanan Kesehatan.
Nama Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) yang dilayani
oleh Unit Pengelola Obat/ Instalasi Farmasi Kabupaten/
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 6


Kolom 3 s/d 14


Kolom 15
Kolom 16

Kolom 17


Baris lain-lain


:


:
:

:


:
Kota.
Data pemakaian obat di UPK, termasuk perhitungan
untuk menghindari kekosongan obat. Data diperoleh
dari kolom pemakaian (17) dari formulir LPLPO.
Jumlah kolom (3) sampai dengan kolom (14)
Data pemakaian rata-rata obat/ bulan (kolom 15
dibagi dengan bulan pemakaian)
Persentase masing-masing puskesmas : total masing-
masing puskesmas dibagi dengan jumlah seluruh
puskesmas (pada kolom 15)
Digunakan untuk mencatat pemakaian obat diluar
keperluan distribusi rutin ke masing-masing UPK. Hal
ini mencakup pengeluaran obat untuk memenuhi
keperluan kegiatan publik oleh publik lain, misalnya:
Kejadian Luar Biasa (KLB), Bencana alam dan lain-lain.

iii. Tahap perhitungan kebutuhan obat
a. Metode Konsumsi
Perhitungan kebutuhan dengan metode konsumsi di dasarkan pada real
konsumsi perbekalan farmasi periode yang lalu, dengan berbagai penyesuaian
dan koreksi.
Langkah perhitungan rencanan kebutuhan obat menurut pola konsumsi
adalah :
Pengumpulan dan pengolahan data
Analisa data untuk informasi dan evaluasi
Perhitungan perkiraan kebutuhan obat
Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana
Rumus perhitungan perencanaan dengan metode konsumsi :
A = (B + C + D) - E
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 7

Keterangan :
A Rencana pengadaan
B Pemakaian rata-rata x 12 bulan
C Buffer stock (10 20%)
D Lead time (3 6 bulan)
E Sisa stok

Kelebihan metode konsumsi:
Data konsumsi akurat, merupakan metoda paling mudah
Tidak memerlukan data epidemiologi maupun standar pengobatan
Bila data konsumsi lengkap, pola peresepan tidak berubah, dan kebutuhan
relative stabil, maka kemumgkinan kelebihan dan kekurangan obat sangat
kecil
Kekurangan metode konsumsi
Data konsumsi data obat dan data jumlah kontak pasien yang dapat di
andalakan mungkin sulit di peroleh.
Tidak dapat dijadikan dasar untuk mengkaji pola penggunaan obat dan
rasionalitas penggunaan obat.
Tidak dapat di andalkan bila kekurangan stok lebih dari 3 bulan, obat
berlebih atau kehilangan.

b. Metode Epidemiologi
Perencanaan dengan metode epidemiologi di dasarkan pada data jumlah
kunjungan, frekuensi penyakit, dan standar pengobatan yang ada. Langkah-
langkah pokok metode ini :
Pengumpulan dan pengolahan data (menentukan jumlah penduduk yang
dilayani, menentukan jumlah kunjungan kasus yang akan di layani).
Menyediakan standar atau pedoman pengobatan yang di gunakan untuk
perencanaan.
Menghitung perkiraan kebutuhan obat.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 8

Penyesuaian dengan alokasi dana yang tersedia.
Kelebihan metode epidemiologi :
Perkiraan kebutuhan mendekati kebenaran
Dapat di gunakan untuk program-program baru
Standar pengobatan dapat di gunakan untuk memperbaiki pola penggunaan
obat
Kekurangan metode epidemiologi:
Membutuhkan waktu dan tenaga yang terampil
Data penyakit sulit diperoleh secara pasti dan kemungkinan ada penyakit
yang tidak dilaporkan.
Memerlukan sistim pencatatan dan pelaporan yang lengkap.
Pola penyakit dan pola peresepan tidak selalu sama.
Dapat terjadi kekurangan obat bila ada wabah atau kebutuhan insidentil.
Jenis obat yang diadakan terlalu banyak.
Data yang perlu dipersiapkan untuk perhitungan metode epidemiologi :
Perkiraan jumlah populasi
Komposisi demografi dari populasi yang akan diklasifikasikan berdasarkan
jenis kelamin untuk umur antara:
- 0 4 tahun
- 5 14 tahun
- 15 44 tahun
- > 45 tahun (disesuaikan dengan LB-1)
- Atau ditetapkan berdasarkan kelompok dewasa (> 12 tahun) dan anak ( 1
12 tahun )
Menetapkan pola morbiditas penyakit.
Masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi pada kelompok
umur yang ada.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 9

Menghitung perkiraan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pedoman
pengobatan dasar di puskesmas.
Frekuensi kejadian masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi
pada kelompok umur yang ada.
Menghitung kebutuhan jumlah obat, dengan cara jumlah kasus dikali jumlah
obat sesuai pedoman pengobatan dasar di puskesmas.
Untuk menghitung jenis, jumlah, dosis, frekwensi dan lama pemberian obat
dapat menggunakan pedoman pengobatan yang ada.
Menghitung jumlah kebutuhan obat yang akan datang dengan
mempertimbangkan faktor antara lain:
- Pola penyakit
- Lead time
- Buffer stock
Menghitung kebutuhan obat tahun anggaran yang akan datang

iv. Tahap penyesuaian rencana pengadaan obat
Dengan melaksanakan penyesuaian perencanaan obat dengan jumlah dana
yang tersedia, maka informasi yang didapat adalah jumlah rencana pengadaan,
skala prioritas masing-masing jenis obat dan jumlah kemasan untuk rencana
pengadaan obat tahun yang akan datang.
Beberapa metode untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi angggaran
pengadaan obat :
a. Analisa ABC
Kelompok A : Menyerap dana pengadaan sebesar 70%.
Kelompok B : Menyerap dana pengadaan sebesar 20%.
Kelompok C : Menyerap dana pengadaan sebesar 10%.
Langkah-langkah menentukan kelompok A, B dan C :
Hitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk masing-masing obat dengan cara
mengalikan kuantum obat dengan harga obat.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 10

Tentukan peringkat mulai dari yang terbesar dananya sampai yang terkecil.
Hitung persentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan.
Hitung akumulasi persennya.
Obat kelompok A termasuk dalam akumulasi 70%.
Obat kelompok B termasuk dalam akumulasi >70% s/d 90% (menyerap dana
20%).
Obat kelompok C termasuk dalam akumulasi > 90% s/d 100% (menyerap
dana 10%).

b. Analisa VEN
Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana obat yang
terbatas dengan mengelompokkan obat berdasarkan manfaat tiap jenis obat
terhadap kesehatan. Semua jenis obat yang tercantum dalam daftar obat
dikelompokkan kedalam tiga kelompok berikut:
Kelompok V : Very Essential adalah kelompok obat-obatan yang sangat
esensial (vital), yang termasuk dalam kelompok ini antara
lain :
- Obat penyelamat (life saving drugs)
- Obat untuk pelayanan kesehatan pokok (obat anti
diabet, vaksin dan lain-lain)
- Obat untuk mengatasi penyakit penyebab kematian
terbesar.
Kelompok E : Essential adalah kelompok obat yang bekerja kausal yaitu
obat yang bekerja pada sumber penyebab penyakit.
Kelompok N : Nonessential (obat penunjang) yaitu obat yang kerjanya
ringan dan biasa dipergunakan untuk menimbulkan
kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan.


Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 11

c. Analisa kombinasi ABC dan VEN
Analisa kombinasi ini digunakan untuk menentukan prioritas jika anggaran
pengadaan obat yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan.
A B C
V VA VB VC
E EA EB EC
N NA NB NC
Metoda gabungan ini digunakan untuk melakukan pengurangan obat.
Mekanismenya adalah :
Obat yang masuk kategori NC menjadi prioritas pertama untuk dikurangiatau
dihilangkan dari rencana kebutuhan, bila dana masih kurang, maka obat
kategori NB menjadi prioritas selanjutnyadan obat dalam kategori NA yang
menjadi kategori berikutnya.
Jika dana yang tersedia masih kurang juga, kelompok obat yang menjadi
prioritas untuk dikurangi atau dihilangkan berikutnya berturut-turut adalah
EC, EB kemudian EA.

Langkah-langkah menentukan VEN :
Menyusun analisa VEN.
Menyediakan data pola penyakit.
Merujuk pada pedoman pengobatan.

B. Tahap koordinasi lintas program
Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan
Dasar (PKD) dibiayai melalui berbagai sumber anggaran. Oleh karena itu
koordinasi dan keterpaduan perencanaan pengadaan obat dan perbekalan
kesehatan mutlak diperlukan, sehingga pembentukan Tim Perencanaan Obat
Terpadu adalah merupakan suatu kebutuhan dalam rangka meningkatkan
efisiensi dan efektivitas penggunaan dana obat melalui koordinasi, integrasi dan
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 12

sinkronisasi antar instansi yang terkait dengan perencanaan obat di setiap
Kabupaten/ Kota.
Berbagai sumber anggaran yang membiayai pengadaan obat dan
perbekalan kesehatan antara lain:
i. Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
ii. PAD/APBD II.
iii. Askes.
iv. Program Kesehatan.
v. Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS).
vi. Sumber-sumber lain.

2.2.2. Pengadaan
2.2.2.1. Definisi
Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan proses untuk
penyediaan obat yang dibutuhkan di unit pelayanan kesehatan.
Berdasarkan peraturan terbaru, pengadaan obat dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan-ketentuan dalam Kepres No. 70 tahun 2012 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah, yaitu melalui :
a. Pelelangan Umum
b. Pelelangan Terbatas
c. Pelelangan Sederhana
d. Penunjukan Langsung
e. Pengadaan Langsung
f. Kontes

Sedangkan beberapa tim yang terlibat dalam proses pengadaan adalah
sebagai berikut :
a. Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut PA adalah Pejabat pemegang
kewenangan penggunaan anggaran Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 13

Perangkat Daerah atau Pejabat yang disamakan pada Institusi Pengguna
APBN/APBD.
b. Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut KPA adalah pejabat yang
ditetapkan oleh PA untuk menggunakan APBN atau ditetapkan oleh Kepala
Daerah untuk menggunakan APBD.
c. Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disebut PPK adalah pejabat
yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.
d. Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut ULP adalah unit organisasi
Kementerian/Lembaga/ Pemerintah Daerah/Institusi yang berfungsi
melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa yang bersifat permanen, dapat berdiri
sendiri atau melekat pada unit yang sudah ada.
e. Pejabat Pengadaan adalah personil yang ditunjuk untuk melaksanakan
Pengadaan Langsung.
f. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan adalah panitia/pejabat yang
ditetapkan oleh PA/KPA yang bertugas memeriksa dan menerima hasil
pekerjaan.
g. Aparat Pengawas Intern Pemerintah atau pengawas intern pada institusi lain
yang selanjutnya disebut APIP adalah aparat yang melakukan pengawasan
melalui audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain
terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi.
h. Penyedia Barang/Jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang
menyediakan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Konsultansi/Jasa Lainnya.

2.2.2.2. Tujuan
Tujuan pengadaan obat adalah mutu obat yang diadakan terjamin dan agar
tersedianya obat dengan jenis dan jumlah yang cukup sesuai kebutuhan
pelayanan kesehatan sehingga obat dapat diperoleh pada saat diperlukan.








Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 14

2.2.2.3. Hal - Hal yang Perlu diperhatikan / Langkah dalam Pengadaan
A. Memilih metoda pengadaan
i. Pelelangan Umum
Pelelangan Umum adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan
Konstruksi/Jasa Lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh
semua Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang memenuhi
syarat.
ii. Pelelangan Terbatas
Pelelangan Terbatas adalah metode pemilihan Penyedia
Barang/Pekerjaan Konstruksi dengan jumlah Penyedia yang mampu
melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks.
iii. Pelelangan Sederhana
Pelelangan Sederhana adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa
Lainnya untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).
iv. Penunjukan Langsung
Penunjukan Langsung dilakukan dengan mengundang 1 (satu) Penyedia
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang dinilai mampu melaksanakan
pekerjaan dan/atau memenuhi kualifikasi. Penunjukan Langsung dilakukan
dengan negosiasi baik teknis maupun harga sehingga diperoleh harga yang
sesuai dengan harga pasar yang berlaku dan secara teknis dapat
dipertanggungjawabkan. Pelelangan atau Penunjukan Langsung untuk paket
Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi Jasa Lainnya yang bernilai paling
tinggi Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).
v. Pengadaan Langsung
Pengadaan Langsung adalah Pengadaan Barang/Jasa langsung kepada
Penyedia Barang/Jasa, tanpa melalui Pelelangan/ Seleksi/Penunjukan
Langsung. Pengadaan Langsung dapat dilakukan terhadap Pengadaan Barang
yang bernilai paling tinggi Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 15

vi. Kontes
Kontes adalah metode pemilihan Penyedia Barang yang
memperlombakan barang/benda tertentu yang tidak mempunyai harga pasar
dan yang harga/biayanya tidak dapat ditetapkan berdasarkan Harga Satuan.

B. Kriteria obat dan perbekalan kesehatan
i. Kriteria umum
Obat yang tercantum dalam daftar obat Generik, Daftar Obat Pelayanan
Kesehatan Dasar (PKD), daftar Obat Program Kesehatan, berdasarkan
Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang masih berlaku.
Obat telah memiliki Izin Edar atau Nomor Registrasi dari Kementerian
Kesehatan R.I cq. Badan POM.
Batas kadaluarsa obat pada saat pengadaan minimal 2 tahun. Khusus untuk
vaksin dan preparat biologis ketentuan kadaluwarsa diatur tersendiri.
Obat memiliki Sertifikat Analisa dan uji mutu yang sesuai dengan nomor
batch masing-masing produk.
Obat diproduksi oleh Industri Farmasi yang memiliki Sertifikat CPOB.

ii. Kriteria mutu obat
Mutu dari obat dan perbekalan kesehatan harus dapat
dipertanggungjawabkan.
Kriteria mutu obat dan perbekalan kesehatan adalah sebagai berikut:
Persyaratan mutu obat harus sesuai dengan persyaratan mutu yang tercantum
dalam Farmakope Indonesia edisi terakhir.
Industri Farmasi yang memproduksi obat bertanggung jawab terhadap mutu
obat melalui pemeriksaan mutu (Quality Control) yang dilakukan oleh
Industri Farmasi.
Pemeriksaan mutu secara organoleptik dilakukan oleh Apoteker
penanggung jawab Instalasi Farmasi Propinsi, Kabupaten/ Kota. Bila terjadi
keraguan terhadap mutu obat dapat dilakukan pemeriksaan mutu di
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 16

Laboratorium yang ditunjuk pada saat pengadaan dan merupakan tanggung
jawab distributor yang menyediakan.

C. Persyaratan pemasok
Pemilihan pemasok adalah penting karena dapat mempengaruhi kualitas
dan kuantitas obat. Persyaratan pemasok sebagai berikut :
i. Memiliki izin Pedagang Besar Farmasi / Industri Farmasi yang masih berlaku.
ii. Pedagang Besar Farmasi (PBF) harus ada dukungan dari Industri Farmasi yang
memiliki Sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) bagi tiap bentuk
sediaan obat yang dibutuhkan untuk pengadaan.
iii. Industri Farmasi harus memiliki Sertifikat CPOB bagi tiap bentuk sediaan obat
yang dibutuhkan untuk pengadaan.
iv. Pedagang Besar Farmasi atau Industri Farmasi harus memiliki reputasi yang
baik dalam bidang pengadaan obat.
v. Pemilik dan atau Apoteker penanggung jawab Pedagang Besar Farmasi,
Apoteker penanggung jawab produksi dan quality control Industri Farmasi
tidak sedang dalam proses pengadilan atau tindakan yang berkaitan dengan
profesi kefarmasian.
vi. Mampu menjamin kesinambungan ketersediaan obat sesuai dengan masa
kontrak.

D. Penentuan waktu pengadaan dan waktu kedatangan obat
Waktu pengadaan dan waktu kedatangan obat dari berbagai sumber
anggaran perlu ditetapkan berdasarkan hasil analisis data:
Sisa stok dengan memperhatikan waktu
Jumlah obat yang akan diterima sampai dengan akhir tahun anggaran
Rata-rata pemakaian
Waktu tunggu/ lead time

Berdasarkan data tersebut dapat dibuat:
a. Profil pemakaian obat
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 17

b. Penetapan waktu pesan
c. Waktu kedatangan obat

E. Penerimaan dan pemeriksaan
Penerimaan dan pemeriksaan merupakan salah satu kegiatan pengadaan
agar obat yang diterima sesuai dengan jenis dan jumlah serta sesuai dengan
dokumen yang menyertainya.

F. Pemantauan status pesanan
Pemantauan status pesanan bertujuan untuk :
Mempercepat pengiriman sehingga efisiensi dapat ditingkatkan
Pemantauan dapat didasarkan kepada sistem VEN.
Petugas Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota memantau status pesanan secara
berkala.

Pemantauan dan evaluasi pesanan harus dilakukan dengan memperhatikan :
Nama obat
Satuan kemasan
Jumlah obat diadakan
Obat yang sudah diterima
Obat yang belum diterima

2.2.3. Penerimaan
2.2.3.1. Definisi
Penerimaan adalah kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang
telah diadakan sesuai dengan aturana kefarmasian. Penerimaan perbekalan
farmasi harus dilakukan oleh petugas yang bertannggung jawab , harus terlatih
baik, serta harus mengerti sifat penting perbekalan farmasi.

2.2.3.2. Tujuan
Tujuan penerimaan adalah untuk menjamin perbekalan farmasi yang
diterima sesuai kontrak baik spesifikasi utuh, jumlah maupun waktu kedatangan.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 18

2.2.3.3. Hal yang Perlu diperhatikan dalam Penerimaan
Perbekalan farmasi yang diterima harus sesuai dengan spesifikasi kontrak
yang telah ditetapkan. Hal yang perlu diperhatikan dalam penerimaan adalah :
a. Harus mempunyai MSDS (material safetydata sheet) untuk bahan yang
berbahaya.
b. Harus mempunyai sertifikat asli untuk alat kesehatan.
c. Sertifikat analis produk.

2.2.4. Penyimpanaan
2.2.4.1. Definisi
Penyimpanan adalah suatu kegiatan penyimpanan dan memelihara dengan
cara menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai
aman dari pencurian sefrta gangguan fisik yang dapat merusak obat.

2.2.4.2. Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan/proses penyimpanan adalah untuk memilihara
mutu sediaan farmasi, menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab,
menjaga ketersediaan serta memudahkan pencarian dan pengawasan.

2.2.4.3. Kegiatan yang dilakukan dalam Penyimpanan
i. Persiapan sarana penyimpanan
Ketersediaan sarana yang ada di unit pengelola obat dan perbekalan
kesehatan bertujuan untuk mendukung jalannya organisasi. Adapun sarana yang
minimal sebaiknya tersedia adalah sebagai berikut :
a. Gedung dengan luas 300 m
2
600 m
2

b. Kendaraan roda dua dan roda empat, dengan jumlah 1 3 unit
c. Komputer + Printer dengan jumlah 1 3 unit
d. Telepon & Facsimile de ngan jumlah 1 unit
e. Sarana penyimpanan:
Rak : 10 - 15 unit
Pallet : 40 - 60 unit
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 19

Lemari : 5 - 7 unit
Lemari Khusus : 1 unit
Cold chain (medical refrigerator)
Cold Box
Cold Pack
Generator
f. Sarana Administrasi Umum:
Brankas : 1 Unit
Mesin Tik : 1 2 unit
Lemari arsip : 1 2 unit
g. Sarana Administrasi Obat dan Perbekalan Kesehatan:
Kartu Stok
Kartu Persediaan Obat
Kartu Induk Persediaan Obat
Buku Harian Pengeluaran Barang
SBBK (Surat Bukti Barang Keluar)
LPLPO (Laporan Pemakaian dan Laporan Permintaan Obat)
Kartu Rencana Distribusi
Lembar bantu penentuan proporsi stok optimum

ii. Pengaturan tata ruang
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merancang banguna gudang
adalah :
a. Kemudahan bergerak
Untuk kemudahan bergwerak, gudang ditata menggunakan sistem satu
lantai, tidak bersekat-sekat. Berdasarkan arah arus penerimaan dan
pengeluaran perbekalan farmasi, ruang gudang ditata berdasarkan sistim garis
lurus, arus U atau arus L.


Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 20

b. Sirkulasi udara yang baik.
Salah satu faktor penting dalam merancang gudang adalah adanya sirkulasi
udara yang cukup di dalam ruangan gudang. Sirkulasi yang baik akan
memaksimalkan stabilitas obat sekaligus bermanfaat dalam memperbaiki kondisi
kerja petugas.
Idealnya dalam gudang terdapat AC, namun biayanya akan menjadi mahal
untuk ruang gudang yang luas. Alternatif lain adalah menggunakan kipas
angin/ventilator/rotator. Perlu adanya pengukur suhu di ruangan penyimpanan
obat dan dilakukan pencatatan suhu.
c. Rak dan pallet
Penempatan rak yang tepat dan penggunaan palet dapat meningkatakan
sirku.lasi udara dan pertukaran stok perbekalan farmasi.
d. Kondisi penyimpanan khusus
Seperti vaksin memerlukan Cold Chain khusus dan harus dilindungi dari
kemungkinan terputusnya aliran listrik, narkotika dan bahan berbahaya harus
disimpan dalam lemari khusus dan terkunci, bahan-bahan yang mudah terbakar
harus disimpan terpisah dari gedung penyimpanan induk.
e. Pencegahan kebakaran
Hindari penumpukan bahan-bahan yang mudah terbakar dan alat pemadam
kebakaran harus ditempatkan ditempat yang mudah dijangkau.

iii. Penyusunan obat
Obat disusun menurut bentuk sediaan dan alfabetis.
Untuk memudahkan pengendalian stok maka dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Gunakan prinsip First Expired date First Out (FEFO) dan First In First Out
(FIFO) dalam penyusunan obat yaitu obat yang masa kadaluwarsanya lebih
awal atau yang diterima lebih awal harus digunakan lebih awal sebab
umumnya obat yang datang lebih awal biasanya juga diproduksi lebih awal
dan umurnya relatif lebih tua dan masa kadaluwarsanya mungkin lebih awal.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 21

2. Obat dengan kemasan besar disusun di atas pallet dan obat dengan kemasan
kecil disusun di atas rak.
3. Penggunaan lemari khusus untuk penyimpanan Narkotika dan Psikotropika.
4. Perhatikan stabilitas obat, simpan obat yang stabilitasnya dapat dipengaruhi
oleh temperatur, udara, cahaya dan kontaminasi bakteri, disimpan pada tempat
yang sesuai.
5. Cantumkan nama masing-masing obat pada rak dengan rapi.
6. Bila persediaan obat banyak, biarkan obat tetap berada dalam box masing-
masing.

iv. Pengamatan mutu obat
Mutu obat yang disimpan di ruang penyimpanan dapat mengalami
perubahan baik karena faktor fisik maupun kimiawi yang dapat diamati secara
visual. Jika dari pengamatan visual diduga ada kerusakan yang tidak dapat
ditetapkan dengan cara organoleptik, harus dilakukan sampling untuk pengujian
laboratorium.
Petugas gudang farmasi harus mengetahui beberapa tanda jika sediaan
tersebut sudah rusak/tidak memenuhi syarat lagi, seperti perubahan warna, bau
ataupun rasa, terdapat bintik-bintik, lubang pecah, retak, jadi bubuk atau lembab,
antar sediaan melekat satu sama lain serta botol atau kemasan rusak sehingga
dapat mempengaruhi mutu obat (untuk tablet, kapsul dan tablet salut). Perubahan
konsistensi, perubahan warna, terdapat endapan, larutan menjadi keruh dan
kemasan bocor (untuk sedian larutan dan injeksi).

2.2.5. Pendistribusian
2.2.5.1. Definisi
Distribusi adalah suatu rangkaian kegiatan dalam rangka pengeluaran dan
pengiriman obat, terjamin keabsahan, tepat jenis dan jumlah secara merata dan
teratur untuk memenuhi kebutuhan unit-unit pelayanan kesehatan. Distribusi obat
dilakukan agar persediaan jenis dan jumlah yang cukup sekaligus menghindari
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 22

kekosongan dan menumpuknya persediaan serta memperthankan tingkat
persediaan obat.

2.2.5.2. Tujuan
Tujuan dari kegiatan pendistribusian adalah terlaksananya pengiriman obat
secara merata dan teratur sehingga dapat diperoleh pada saat dibutuhkan,
terjaminnya mutu obat dan perbekalan kesehatan pada saat pendistribusian,
terjaminnya kecukupan dan terpelihar anya penggunaan obat di unit pelayanan
kesehatan, serta terlaksananya pemerataan kecukupan obat sesuai kebutuhan
pelayanan dan program kesehatan.

2.2.5.3. Kegiatan Distribusi
Kegiatan distribusi obat di Kabupaten/ Kota terdiri dari :
1. Kegiatan distribusi rutin yang mencakup distribusi untuk kebutuhan
pelayanan umum di unit pelayanan kesehatan.
Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota merencanakan dan melaksanakan
pendistribusian obat ke unit pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya serta
sesuai kebutuhan. Untuk itu dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Perumusan stok optimum dan jumlah permintaan
Rencana distribusi obat ke setiap unit pelayanan kesehatan termasuk
rencana tingkat persediaan, didasarkan kepada besarnya stok optimum setiap
jenis obat di setiap unit pelayanan kesehatan. Rumus perhitungannya adalah
sebagai berikut :
Stok Optimum
Permintaan
= (a + b + c)
= (a +b + c) d

Dimana,

a Pemakaian waktu tertentu
b Buffer Stock 10% dari a
c Lead time 10% dari a
d Sisa stok

Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 23

Pada akhir periode distribusi akan diperoleh persediaan sebesar stok
pengaman di setiap unit pelayanan kesehatan. Rencana tingkat persediaan di
IFK adalah rencana distribusi untuk memastikan bahwa persediaan obat di
IFK cukup untuk melayani kebutuhan obat selama periode distribusi
berikutnya. Posisi persediaan yang direncanakan tersebut di harapkan dapat
mengatasi keterlambatan permintaan obat oleh unit pelayanan kesehatan atau
pengiriman obat oleh IFK Kabupaten/ Kota.

b. Penetapan frekwensi pengiriman obat ke unit pelayanan
Frekuensi pengiriman obat ke unit pelayanan ditetapkan dengan
memperhatikan :
Anggaran yang tersedia
Jarak dan kondisi geografis dari IFK ke UPK
Fasilitas gudang UPK
Sarana yang ada di IFK

c. Penyusunan peta lokasi, jalur dan jumlah pengiriman
Agar alokasi biaya pengiriman dapat dipergunakan secara efektif dan
efisien maka IFK perlu membuat peta lokasi dari unit-unit pelayanan
kesehatan di wilayah kerjanya. Hal ini sangat diperlukan terutama untuk
pelaksanaan distribusi aktif dari IFK. Jarak (km) antara IFK dengan setiap unit
pelayanan kesehatan dicantumkan pada peta lokasi.
Dengan mempertimbangkan jarak, biaya transportasi atau kemudahan
fasilitas yang tersedia, dapat ditetapkan rayonisasi dari wilayah pelayanan
distribusi.

2. Kegiatan distribusi khusus yang mencakup distribusi obat untuk :
a. Program kesehatan
Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota dan pengelola program
Kabupaten/Kota, bekerjasama untuk mendistribusikan masing-masing obat
program yang diterima dari propinsi, kabupaten/ kota.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 24

Distribusi obat program ke Puskesmas dilakukan oleh IFK atas permintaan
penanggung jawab program, misalnya pelaksanaan program
penanggulangan penyakit tertentu seperti Malaria, Frambusia dan penyakit
kelamin, bilamana obatnya diminta langsung oleh petugas program kepada
IFK Kabupaten/ Kota tanpa melalui Puskesmas, maka petugas yang
bersangkutan harus membuat permintaan dan laporan pemakaian obat yang
diketahui oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Obat program yang diberikan langsung oleh petugas program kepada
penderita di lokasi sasaran, diperoleh/diminta dari Puskesmas yang
membawahi lokasi sasaran. Setelah selesai pelaksanaan pemberian obat,
bilamana ada sisa obat harus dikembalikan ke Puskesmas
yangbersangkutan. Khusus untuk program Diare diusahakan ada sejumlah
persediaan obat di Posyandu yang penyediaannya diatur oleh Puskesmas.

b. Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Bencana (alam dan sosial)
Untuk KLB dan bencana alam, distribusi dapat dilakukan melalui
permintaan maupun tanpa permintaan oleh Puskesmas. Apabila diperlukan,
Puskesmas yang wilayah kerjanya terkena KLB/Bencana dapat meminta
bantuan obat kepada Puskesmas terdekat.

2.2.5.4. Tata Cara Pendistribusian Obat
a. IFK Kabupaten / Kota melaksanakan distribusi obat ke Puskesmas dan di
wilayah kerjanya sesuai kebutuhan masing-masing Unit Pelayanan
Kesehatan.
b. Puskesmas Induk mendistribusikan kebutuhan obat untuk Puskesmas
Pembantu, Puskesmas Keliling dan Unit-unit Pelayanan Kesehatan lainnya
yang ada di wilayah binaannya.
c. Distribusi obat-obatan dapat pula dilaksanakan langsung dari IFK ke
Puskesmas Pembantu sesuai dengan situasi dan kondisi wilayah atas
persetujuan Kepala Puskesmas yang membawahinya.

Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 25

Tata cara distribusi obat ke Unit Pelayanan Kesehatan dapat dilakukan
dengan cara penyerahan oleh IFK ke Unit Pelayanan Kesehatan, pengambilan
sendiri oleh UPK di IFK, atau cara lain yang ditetapkan oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten / Kota.

2.2.6. Pencatatan dan Pelaporan
2.2.6.1. Definisi
Pencatatan dan pelaporan data obat di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota
merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka penatausahaan obat-obatan secara
tertib baik obat-obatan yang diterima, disimpan, didistribusikan maupun yang
digunakan di Puskesmas dan unit pelayanan kesehatan lainnya.

2.2.6.2. Tujuan
Tersedianya data mengenai jenis dan jumlah penerimaan, persediaan,
pengeluaran/ penggunaan dan data mengenai waktu dari seluruh rangkaian
kegiatan mutasi obat.

2.2.6.3. Kegiatan pencatatan dan Pelaporan
Kegiatan pencatatan dan pelaporan meliputi :
a. Pencatatan dan Pengelolaan Data untuk mendukung Perencanaan. Pengadaan
Obat melalui kegiatan perhitungan tingkat kecukupan obat per UPK.
b. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa rencana distribusi akan
dapat didukung sepenuhnya oleh sisa stok obat di IFK.
c. Perhitungan dilakukan langsung pada Kartu Rencana Distribusi Obat.
d. Tingkat kecukupan dihitung dari sisa stok obat di IFK dibagi dengan
pemakaian rata-rata obat di Unit Pelayanan Kesehatan.

2.2.6.4. Laporan Pengelolaan Obat
Laporan yang perlu disusun IFK terdiri dari :
a. Laporan dinamika logistik dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
ke Walikota/Bupati dengan tembusan kepada Kadinkes Provinsi tiga bulan
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 26

sekali dan dari Provinsi ke Kementrian Kesehatan Cq. Ditjen Bina
Kefarmasian dan Alkes tiga bulan sekali
b. Laporan tahunan/ profil pengelolaan obat Kab/ Kota dikirim kepada Dinkes
Provinsi dan setelah dikompilasi oleh Dinkes Provinsi dikirimkan kepada
Kemenkes Cq. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes

2.2.6.5. Laporan pengelolaan Obat Tahunan / Profil Pengelolaan Obat
Kabupaten / Kota
a. Fungsi
Untuk mengetahui gambaran umum pengelolaan obat di
Kabupaten/Kota selama satu tahun anggaran dan untuk mengukur tingkat
kinerja pengelolaan obat di Daerah Kabupaten/Kota selama satu tahun
anggaran.
b. Jenis Jenis Pencatatan dan Pelaporan
Kartu stok dan kartu stok induk.
LPLPO dan SBBK.
Buku penerimaan.
Buku pengeluaran.

2.2.7. Penghapusan
2.2.7.1. Definisi
Penghapusan merupakan kegiatan penyelesaian terhadap perbekalan
farmasi yang tidak terpakai karena kadaluarsa, rusak, mutu tidak memenuhi
standar dengan cara membuat usulan penghapusan perbekalan farmasi kepada
pihak terkait sesuai dengan prosedur yang berlaku.

2.2.7.2. Tujuan
Tujuannya adalah menjamin perbekalan farmasi yang sudah tidak
memenuhi syarat dikelola sesuai standar yang berlaku. Selain itu, dengan adanya
penghapusan akan mengurangi beban penyimpanan maupun mengurangi resiko
terjadi penggunaan obat yang substandar.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 27

2.2.7.3. Pelaksanaan Penghapusan
a. Data semua obat / alkes yang telah expired date ataupun rusak.
b. Kemas dalam satu wadah, dan pisahkan dari obat lainnya (yang masih bagus).
c. Ajukan permohonan kepada kepala dinkes (Permohonan pemusnahan obat
exp.date).
d. Surat tersebut akan diteruskan kepada Walikota / Bupati, jika di acc / diberi
persetujuan, maka akan dibentuk panitia pemusnahan.
e. Panitia tersebut akan membuat berita acara pemusnahan dan laporkan kepada
kepala dinkes (bahwa proses pemusnahan sudah siap).
f. Laksanakan pemusnahan sesuai tanggal yang telah ditetapkan.
g. Dalam pelaksanaan pemusnahan harus ada saksi-saksi, yang tergantung
pemerintahan kota masing-masing, misalnya dari provinsi, kota Balai POM
atau lain-lainnya.
h. Saksi tersebut menandatangani berita acara pemusnahan.

2.2.8. Monitoring dan Evaluasi
2.2.8.1. Definisi
Supervisi berasal dari kata super (lebih tinggi) dan vision (melihat)
sehingga secara umum dapat diartikan sebagai mengawasi dari atas atau oleh
atasan. Supervisi dalam pengertian manajemen memiliki pengertian yang lebih
luas, karena istilah yang digunakan adalah mengawasi dan bukan melihat, ini
bukan dilakukan secara kebetulan. Mengawasi dalam arti bahasa Indonesia
adalah mengamati dan menjaga jadi bukan hanya mengamati saja, akan tetapi
memiliki pengertian menjaga.
Supervisi yang dilakukan oleh petugas IFK adalah proses pengamatan
secara terencana dari unit yang lebih tinggi (Instalasi Farmasi
Propinsi/Kabupaten/Kota) terhadap pelaksanaan pengelolaan obat oleh petugas
pada unit yang lebih rendah (Puskesmas/Puskesmas Pembantu/UPT lainnya).
Pengamatan diarahkan untuk menjaga agar pekerjaan atau kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan pedoman yang disepakati bersama.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 28

2.2.8.2. Tujuan
Supervisi ditujukan untuk menjaga agar pekerjaan pengelolaan obat yang
dilakukan sesuai dengan pedoman yang berlaku.

2.2.8.3. Ruang Lingkup
a. Pengelolaan obat meliputi : Seleksi, pengadaan, penyimpanan, distribusi,
pencatatan & pelaporan serta monitoring & evaluasi.
b. Sarana Prasarana meliputi : Sarana Infrastruktur, sistem pengelolaan dan
sarana penunjang (software, hardware).
c. Sumber daya manusia (jumlah dan kualifikasi).

2.2.8.4. Supervisi Pengelolaan dan Penggunaan Obat
a. Kegiatan supervisi meliputi :
Proses penyusunan rencana.
Persiapan pelaksanaan (tenaga, dana, waktu, check list).
Pelaksanaan (kunjungan, diskusi, umpan balik, penyelesaian).
Pemanfaatan hasil supervisi (kompilasi hasil, analisa, rekomendasi tindak
lanjut).
b. Kriteria petugas supervisi:
Memiliki pengetahuan mutakhir, bukan hanya dalam aspek penugasan,
kebijaksanaan tetapi juga informasi mutakhir yang berkaitan dengan rencana
kerja, sasaran kerja serta indikator kinerja unit organisasi.
Memiliki kemampuan dalam mengetahui semua ketentuan dan instruksi,
standar dan indikator evaluasinya.
Memiliki kemampuan dalam memastikan bahwa sistem informasi berjalan
dengan teratur, ada pencatatan dari semua parameter yang dimonitor,
mekanisme analisa, dan evaluasinya.

Dari kegiatan ini dapat diidentifikasi adanya :
a. Masalah yang perlu segera diatasi.
b. Masalah potensial yang dapat diantisipasi akan muncul.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 29

c. Prakiraan masalah dan kendala yang masih membutuhkan informasi
tambahan.

3. Langkah-langkah Supervisi
a. Persiapan Supervisi.
b. Menyusun daftar isian.
c. Mengumpulkan data dan informasi antara lain :
laporan rutin dan laporan khusus yang tersedia.
hasil supervisi pada periode sebelumnya.
dokumen lain yang terkait dengan rencana supervisi.
d. Menganalisa data dan informasi yang tersedia untuk :
memperkirakan masalah yang sedang terjadi
memperkirakan faktor penyebab timbulnya permasalahan.
mempersiapkan berbagai alternatif pemecahan masalah.
e. Menentukan tujuan dan sasaran utama supervisi, seperti misalnya :
memantau tingkat keberhasilan pengelolaan obat.
menemukan permasalahan yang timbul
mencari faktor penyebab timbulnya masalah.
menilai hasil pelaksanaan kerja.
membina dan melatih para pelaksana.
mengumpulkan masukan untuk penyempurnaan kebijaksanaan dan
program.
f. Menyusun rencana kerja supervisi kepada sasaran supervisi, agar :
pihak yang disupervisi mengetahui rencana supervisi.
pihak yang disupervisi dapat mempersiapkan segala sesuatu yang
dibutuhkan.
dapat diatur ulang bila terjadi perubahan jadwal.



Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 30

Dari kegiatan ini dapat diidentifikasi adanya :
Masalah yang perlu segera diatasi.
Masalah potensial yang dapat diantisipasi akan muncul.
Prakiraan masalah dan kendala yang masih membutuhkan informasi
tambahan.

4. Pelaksanaan Supervisi
a. Menemui kepala/pejabat institusi yang dituju untuk menyampaikan tujuan
supervisi.
b. Mengumpulkan data dan informasi dengan cara :
mempelajari data yang tersedia.
wawancara dan diskusi dengan pihak yang disupervisi.
pengamatan langsung.
c. Membahas dan menganalisis hasil temuan :
pencocokkan berbagai data, fakta dan informasi yang diperoleh.
menilai tingkat keberhasilan pelaksanaan tugas.
menemukan berbagai macam masalah dan faktor penyebabnya.
membuat kesimpulan sementara hasil supervisi.
d. Mengadakan tindakan intervensi tertentu apabila ditemukan masalah yang
perlu segera ditanggulangi.
e. Melaporkan kepada pimpinan institusi yang didatangi tentang :
tingkat pencapaian hasil kerja unit yang disupervisi.
masalah dan hambatan yang ditemukan.
penyebab timbulnya masalah.
tindakan intervensi yang telah dilakukan.
rencana pokok tidak lanjut yang diperlukan.
f. Menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut
berperan pada pelaksanaan supervisi.


Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 31

5. Hasil Supervisi
a. Menyusun laporan resmi hasil supervisi yang mencakup :
hasil temuan selama supervisi.
tindakan intervensi yang dilakukan
rencana tindak lanjut yang disarankan.
catatan khusus yang bersifat rahasia.
b. Menyampaikan laporan supervisi, kepada :
atasan yang memberikan tugas supervisi.
pihak lain yang terkait dengan hasil temuan supervisi.
pihak yang disupervisi (sesuai kebutuhan).

2.2.8.5. Evaluasi
Evaluasi dapat diartikan sebagai :
a. Suatu proses untuk menentukan suatu nilai atau keberhasilan dalam usaha
pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan.
b. Suatu usaha untuk mengukur pencapaian suatu tujuan atau keadaan tertentu
dengan membandingkan dengan standar nilai yang sudah ditentukan
sebelumnya.
c. Suatu usaha untuk mencari kesenjangan antara rencana yang ditetapkan
dengan kenyataan hasil pelaksanaan.

Proses evaluasi dapat dilihat sebagai lima langkah model umpan balik,
yang masing-masing langkah adalah :
a. Penetapan apa yang harus diukur. Ma najemen puncak menetapkan proses
pelaksanaan dan hasil mana yang akan dipantau dan dievaluasi. Proses dan
hasil pelaksanaan harus dapat diukur dalam kaitannya dengan tujuan.
b. Pembuatan standar kinerja. Standar digunakan untuk mengukur kinerja
merupakan suatu rincian dan tujuan yang strategis. Standar harus dapat
mengukur apa yang mencerminkan hasil kinerja yang telah dilaksanakan.
c. Pengukuran kinerja yang aktual yaitu dibuat pada waktu yang tepat.
Bandingkan kinerja yang aktual dengan standar. Jika hasil kinerja yang aktual
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 32

berada di dalam kisaran toleransi maka pengukuran dihentikan. Melakukan
tindakan korektif. Jika hasil kinerja aktual berada di luar kisaran toleransi,
harus dilakukan koreksi untuk deviasi yang terjadi.

Evaluasi bermanfaat untuk :
a. Menetapkan kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam program yang sedang
berjalan.
b. Meramalkan kegunaan dari pengembangan usaha-usaha dan
memperbaikinya.
c. Mengukur kegunaan program-program yang inovatif.
d. Meningkatkan efektifitas program, manajemen dan administrasi.
e. Kesesuaian tuntutan tanggung jawab.

Hasil evaluasi ini dapat dipergunakan untuk :
a. Memberikan penilaian atas prestasi kerjanya.
b. Merupakan kebutuhan pelatihan yang memberi masukan bagi program
pelatihan.
c. Mengetahui sampai berapa jauh kepuasan kerja dicapai sehingga
merupakan indikator bagi motivasi kerja di unit organisasinya.
d. Masukan bagi program pengembangan karier.
e. Merupakan masukan bagi pengembangnan organisasi.

2.2.8.6. Indikator Pengelolaan Obat
Indikator adalah alat ukur untuk dapat membandingkan kinerja yang
sesungguhnya. Indikator digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh tujuan
atau sasaran telah berhasil dicapai. Penggunaan lain dari indikator adalah untuk
penetapan prioritas, pengambilan tindakan dan untuk pengujian strategi dari
sasaran yang ditetapkan. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan oleh penentu
kebijakan untuk meninjau kembali strategi atau sasaran yang lebih tepat.
Indikator umumnya digunakan untuk memonitor kinerja yang esensial.

Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 33

BAB III
DISKUSI

Gudang farmasi merupakan unit pelayanan terpadu dari Dinas Kesehatan,
yang merupakan sarana atau unit pelaksana manajemen pengelolaan obat/penyediaan
obat ke puskesmas (berupa obat rutin dan program) dan rumah sakit berupa obat
program.
Gudang farmasi kota padang dipimpin oleh seorang kepala gudang yang
merupakan tenaga struktural dan dibantu oleh 7 orang staf yang merupakan tenaga
fungsional. Gudang farmasi langsung berada dibawah Kepala Dinas Kesehatan dan
bertanggung jawab langsung ke Kepala Dinas Kesehatan.
Tugas pokok Gudang Farmasi yaitu melaksanakan menajemen pengelolaan
perbekalan farmasi dan alat kesehatan yang diperlukan dalam rangka pelayanan
kesehatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit dan pembinaan kesehatan
masyarakat di Kabupaten/Kota sesuai dengan petunjuk Kakandepkes
Kabupaten/Kota.
Fungsi dari Gudang Farmasi adalah sebagai berikut :
1. Melakukan penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan dan pendistribusian obat,
alat kesehatan dan perbekalan farmasi.
2. Melakukan penyiapan, penyusunan rencana dan pelaporan mengenai
persediaan dan penggunaan obat, alat kesehatan dan perbekalan farmasi.
3. Melakukan pengamatan mutu dan khasiat obat secara umum baik yang ada
dalam persediaan maupun yang didistribusikan.
4. Melakukan urusan tata usaha keuangan kepegawaian dan urusan dalam
Gudang Farmasi Kabupaten/Kota yang merupakan titik sentral pengelolaan
obat di daerah tingkat II.
Tugas pokok dan fungsi apoteker yang pertama yaitu melaksanakan fungsi
manajemen yang terdiri dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pendistribusian, pencatatan dan pelaporan, monitoring dan evaluasi serta
penghapusan. Tupoksi yang kedua yaitu melaksanakan fungsi klinis, terdiri dari
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 34

Pelayanan Informasi Obat (PIO), konseling, visite, Monitoring Efek Samping Obat
(MESO), membantu pemilihan terapi yang efektif dan rasional dan KIE.
Menajemen pengelolaan perbekalan farmasi yang pertama yaitu perencanaan.
Perencanaan adalah proses penentuan jumlah dan jenis perbekalan farmasi yang
akan menentukan dalam proses pengadaan. Tahapan perencanaan terdiri dari
pemilihan, kompilasi penggunaan, perhitungan kebutuhan dan evaluasi
perencanaan. Metoda perencanaan perbekalan farmasi yang digunakan di Gudang
Farmasi Kota Padang yaitu metoda konsumsi. Metoda konsumsi dipilih karena
metoda ini mudah dalam pengerjaannya dibandingkan dengan metoda
morbiditas/epidemiologi. Hal hal yang dibutuhkan dalam perencanaan yaitu,
data kunjungan pasien, data jumlah penduduk, data sisa stock dan data penyakit
terbanyak.
Rumus Perencanaan





Pengadaan adalah proses untuk penyediaan obat yang dibutuhkan di unit
pelayanan kesehatan. Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan di kota Padang
dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Padang yang pelaksanaannya dilakukan
oleh Gudang Farmasi Kota (GFK) sesuai dengan ketentuan ketentuan dalam
pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pengadaan obat dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun
2007 tentang pembagian urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah
dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan Keputusan Presiden No. 80 tahun 2003
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan barang/jasa Instansi Pemerintah melalui :
1. Lelang
2. Pemilihan langsung
3. Penunjukkan langsung
A = (B+C+D) - E
A = Rencana pengadaan
B = Pemakaian rata rata x 12 bulan
C = Buffer stock (10-20%)
D = Lead time 3 6 bulan
E = Sisa stok
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 35

a. Pengadaan skala kecil
b. Telah dilakukan pelelangan ulang
c. Pengadaan bersifat mendesak
d. Penyediaan barang/jasa tunggal
4. Swakelola
Ada 3 sumber dana, yaitu :
1). DAK (Dana alokasi khusus)
2). BPJS
3). APBD
Pengadaan langsung dilaksanakan jika dana yang tersedia 200 juta 1M.
Lelang/tender pelaksanaannya melalui media elektronik/website. Khusus untuk
sumber dana DAK melalui E-katalog yang pelaksanaannya dilakukan oleh ULP
pusat.
Penerimaan adalah kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah
diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian melalui penunjukkan langsung maupun
tender. Penerimaan perbekalan farmasi di Gudang Farmasi Kota Padang dilakukan
oleh panitia penerima yang ditunjuk langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota.
Proses penerimaan harus dilakukan secara teliti oleh pihak penerima, hal hal yang
sudah tertera dikontrak harus sama pada saat penerimaan perbekalan farmasi, seperti
dokumen teknis terdiri dari expire date minimal 2 tahun kecuali vaksin, sertifikat
CoA, CPOB pada saat penerimaan harus di cek satu persatu.
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara
menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari
pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat. Penyusunan stok
perbekalan farmasi di Gudang Farmasi Kota Padang menggunakan prinsip FEFO
(First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) dalam penyusunannya.
Perbekalan farmasi dalam kemasan besar di atas pellet kemasan kecil diletakkan di
rak. Gudang Farmasi Kota Padang terdiri dari 2 pintu dengan luas 300 m
2
yang
dilengkapi dengan thermometer, AC, pemadam kebakaran dan bebas dari binatang
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 36

pengerat. Khusus untuk obat narkotika di simpan di lemari khusus dengan 2 pintu
yang terkunci.
Pendistribusian adalah kegiatan pengeluaran dan pengiriman perbekalan
farmasi yang bermutu ke wilayah kerja yang mencakup ke unit pelayanan kesehatan.
Pendistribusian perbekalan farmasi dari Gudang Farmasi terdiri dari obat rutin dan
obat program, pendistribusian obat rutin dilakukan/3 bulan obat program berdasarkan
program yang dilaksanakan. Obat rutin didistribusikan langsung oleh petugas Gudang
Farmasi ke unit pelayanan kesehatan/puskesmas dari puskesmas didistribusikan ke
posyandu dan unit pelayanan kesehatan lainnya.
Pencatatan dan pelaporan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka
penatausahaan obat obatan secara tertib baik obat obatan yang diterima, disimpan,
didistribusikan maupun yang digunakan di Puskesmas dan unit pelayanan kesehatan
lainnya. Pelaporan dilakukan/bulan sedangkan permintaan/3 bulan. Laporan
Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) merupakan suatu format yang
digunakan oleh puskesmas sebagai gambaran / keadaan obat dan lembar pengajuan
permintaan obat. Fungsi LPLPO, yaitu persediaan obat, stok awal, stok akhir dan
pemakaian obat. Alur permintaan obat dari puskesmas ke GFK, yaitu surat
permintaan yang telah disetujui oleh Kepala Puskesmas diajukan ke GFK petugas
GFK menganalisa surat permintaan dan menyesuaikan dengan stok yang ada di
gudang dan akan disetujui oleh Kepala Gudang danditeruskan ke Kepala Dinas
Kesehatan, jika setuju maka akan dilakukan pengepakan dan akan di distribusikan ke
Puskesmas yang memerlukan. Pelaporan obat narkotika dan psikotropika langsung
dilaporkan ke Dinas Kesehatan.
Delapan jenis laporan di Gudang Farmasi Kota Padang, antara lain :
1. Laporan 10 obat terbanyak
2. Laporan 10 penyakit terbanyak
3. Laporan peresepan obat rasional
4. Laporan ketersediaan obat dan vaksin
5. Laporan pemakaian dan tingkat kecukupan obat
6. Laporan mutasi obat
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 37

7. Laporan rincian persediaan obat, dan
8. Laporan penggunaan obat ephedrin.
Supervisi dan evaluasi merupakan proses pengamatan secara terencana oleh
petugas pengelola obat dari unit tertinggi ke unit terendah. Tujuan dari supervise
untuk meningkatkan produktivitas petugas pengelola obat agar mutu dan
pelayanan obat dapat ditingkatkan secara optimal (lebih baik lagi).
Tata cara supervise, antara lain :
1. Persiapan
1). Membuat surat tugas dan surat PPD
2). Mengumpul data dan informasi terhadap pusat pelayanan yang akan
dilakukan supervise.
3). Menganalisa data atau permasalahan yang diterima.
4). Menetapkan tujuan/ indikator utama dari supervisi
5). Menyusun rencana kerja supervisi (Pembuatan standar kinerja)
2. Pelaksanaan
1). Meminta izin kepada pimpinan tempat kita akan melakukan supervisi
2). Mengumpulkan data dari tempat kita melakukan supervisi (Bandingkan
kinerja yang aktual dengan standar)
3). Melakukan tindakan korektif
3. Tindak lanjut
1). Membuat laporan hasil perjalanan dinas (LPHD)
2). Hasil laporan akan di sampaikan ke kepala dinas kesehatan, tempat
melakukan supervisi, dan arsip untuk monitoring dan evaluasi tahun depan.


Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 38

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Dari Praktek Kerja Profesi Apoteker yang telah dilakukan dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
a. Gudang Farmasi Kota (GFK) merupakan unit pelayanan terpadu dari Dinas
Kesehatan Kota yang langsung berada di bawah Kepala Dinas dan
bertanggung jawab terhadap manajemen perbekalan farmasi di kota tersebut.
b. Tugas pokok Gudang Farmasi yaitu melaksanakan menajemen pengelolaan
perbekalan farmasi dan alat kesehatan yang diperlukan dalam rangka
pelayanan kesehatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit dan pembinaan
kesehatan masyarakat di Kota sesuai dengan petunjuk Kakandepkes Kota.
c. Tugas pokok dan fungsi apoteker dalam manajemen farmasi terdiri dari
perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian,
pencatatan dan pelaporan, monitoring dan evaluasi serta penghapusan.
d. Metoda perencanaan perbekalan farmasi yang digunakan di Gudang Farmasi
Kota Padang yaitu metoda konsumsi karena metoda ini mudah dalam
pengerjaannya dibandingkan dengan metoda morbiditas/epidemiologi.
e. Pengadaan obat di Gudang Farmasi Kota Padang dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 dan
Keputusan Presiden No. 80 tahun 2003 melalui lelang, pemilihan langsung,
dan penunjukkan langsung.
f. Penyimpanan obat di Gudang Farmasi Kota Padang tidak memenuhi
persyaratan karena keterbatasan dari area yang seharusnya.
g. Kegiatan distribusi obat di Gudang Farmasi Kota Padang ada 2, yaitu
distribusi rutin 1 kali/3 bulan untuk obat Pelayanan Kesehatan dasar (PKD)
dan distribusi khusus untuk obat program.
h. Pelaporan dan pencatatan di Gudang Farmasi Kota Padang dilakukan/bulan
sedangkan permintaan/3 bulan.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 39

i. Proses penghapusan di Gudang Farmasi Kota Padang belum dilakukan sejak
sampai sekarang karena keterbatasan peralatan dan biaya.

4.2. Saran
Disarankan untuk memperluas area gudang farmasi sesuai dengan
persyaratan yang berlaku agar penyimpanan obat dapat dilakukan dengan
semestinya. Penyediaan alat dan biaya melakukan pemusnahan obat untuk
mencegah akibat yang dapat ditimbulkan.

Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unand, PKPA Pemerintahan
Gudang Farmasi Kota Padang_ 7 11 Juli 2014 Page 40

DAFTAR PUSTAKA