Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Serangga merupakan salah satu makhluk hidup yang paling banyak di
dunia serta merupakan spesies hewan yang jumlahnya paling dominan di antara
spesies hewan lainnya dalam filum Arthropoda. Jumlah spesies dan jenisnya saja
merupakan yang terbanyak dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya.
Menurut Hadi, dkk (2009), menyatakan bahwa terdapat 713.500 jenis arthropoda
atau sekitar 80% dari jenis hewan yang telah dikenal. Arthropoda yang berarti
hewan yang kakinya bersendi-sendi atau beruas. Ruas di antara dua sendi disebut
dengan segmen. Adapun ciri-ciri umum Arthropoda adalah mempunyai
appendage atau alat tambahan yang beruas, tubuhnya bilateral simetri yang terdiri
dari sejumlah ruas, tubuh terbungkus oleh zat khitin sehingga merupakan
eksoskeleton.
Mula-mula perkembangan arthropoda dimulai dari bentuk tubuhnya, yaitu
dimulai dengan terbentuknya alat-alat tambahan di bagian ventral tubuh,
terbentuknya sepasang mata dan antena pada bagian prostomium, terjadinya ruas-
ruas pada pasangan kaki, serta terjadinya persatuan antara prostomium dan
segmen postoral membentuk struktur caput yang disebut procephalon, kemudian
tiga pasang alat tubuh berikutnya (segmen ke 4, 5, dan 6) mengalami modifikasi
dimana bentuknya memendek dan hanya berfungsi untuk mendorong makanan ke
mulut.
Keberadaan serangga di muka bumi ini tidak luput dari cerita sejarahnya
yang menarik. Beberapa fakta menarik tentang serangga secara langssung atau
tidak memiliki hubungan dengan ekologi serangga itu sendiri. Seperti:
- Jenis serangga yang beraneka ragam sudah ditemukan sejak 300 juta
tahun lalu.
- Pada masa itu, bentuk serangga berbeda dengan bentuk serangga yang
ditemui sekarang. Baru 30 juta tahun kemudian bentuk serangga
berubah dan sudah menyerupai bentuknya sekarang. Hal ini dibuktikan
dengan beberapa penemuan fosil dari puluhan juta tahun lalu yang
bentuknya sama dengan serangga yang ditemukan sekarang ini.
- Pada umumnya, serangga memiliki metamorfosis yang sempurna.
Hewan ini tumbuh dengan tahapan yang berbeda, mulai dari telur
hingga imago. Contohnya dapat dilihat dari kupu-kupu.
B. Tujuan
Menjelaskan macam-macam interaksi serangga dengan lingkungannya.

BAB II
ISI
A. Kelakuan Mengelompok dan Sosial
Banyak serangga yang terdapat dalam kelompok-kelompok, dan kelompok
ini berbeda dalam faktor-faktor yang bertanggung jawab untuk membawa
individu-individu bersama dan dalam sifat interaksi-interaksi antara individu-
individu. Beberapa kelompok serangga secarasederhana adalah hasil reaksi positif
oleh banyak individu terhadap stimulus yang sama. Pengelompokkan lain
berdasarkan daya tarik yang saling menguntungkan dalam hal menjaga
kebersamaan kelompok (Borror, 1996).
1. Masyarakat Serangga
Golongan serangga yang hidup secara berkelompok seperti semut, rayap,
beberapa jenis lebah, dan tawon yang lebih terpadu disebut masyarakat, dan
kelompok-kelompok serangga ini memiliki beberapa sifat khusus yang menarik.
Masyarakat-masyarakat serangga yang paling kompleks terdapat pada ordo ordo
Isoptera (rayap) dan Hymenoptera (semut, lebah, tawon). Koloni eusosial ditandai
oleh (1) kerja sama diantara anggota dalam memelihara anggota muda, (2) adanya
kasta-kasta mandul, dan (3) generasi yang tumpang tindih. Semua rayap dan
semut adalah eusosial. Sifat yang nyata dari satu masyarakat serangga adalah
polimorfisme (perbedaan kasta) dari anggota-anggotanya, yang disertai oleh
perbedaan-perbedaan kelakuan. Hanya beberapa individu yang bersangkutan
dalam proses reproduksi, hanya kasta raja dan ratu. Individu dalam kasta
nonproduktif (pekerja) melakukan semua fungsi yang penting bagi pengelolahan
koloni dan memelihara kelangsugan hidup individu dalam sarang, dalam beberapa
hal terdapat spesialisasi morfologi pada setiap kasta (Borror,1996).
Semut dikenal dengan koloni dan sarangnya yang teratur, dan terdiri dari
ribuan semut per koloni. Kasta semut dibagi menjadi semut pekerja, semut
pejantan, dan semut ratu. Satu koloni dapat menguasai dan memakai
sebuahdaerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadangkala
disebut super organisme dikarenakan koloni-koloni mereka yang membentuk
sebuah kesatuan. Sama halnya dengan semut, lebah madu merupakan serangga
sosial yang hidup dalam suatu koloni, yang biasanya mendiami suatu sarang. Jenis
lebah dibagi menjadi lebah ratu, lebah jantan dan lebah pekerja.
Rayap adalah seragga sosial yang hidup dalam suatu komonitas
yang disebut koloni. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk hidup lebih lama
bila tidak berada dalam koloninya. Komunitas tersebut bertumbuh
efisien dengan adanya spesialisasi (kasta) dimana masing-masing kasta
mempunyai bentuk dan peran yang berbeda sesuaidengan fungsinya masing-
masing yaitu kasta prajurit,kasta pekerja dankasta reproduktif (Supriana, 1984).
Aktivitas khas dalam masyarakat serangga adalah saling bertukar bahan
(makanan, sekresi, dan sebagainya) antara individu-individu, dengan peranan
feromon yang diberikan dari satu individu ke individu yang lainnya. Sifat umum
lainnya dari masyarakat serangga adalah kemampuan untuk mengendalikan
anggota-anggota dari kelompoknya sendiri dan kelompok anggota lain (Borror,
1996).
2. Migrasi
Pergerakan acak atau mengarah dari serangga bervariasi berdasarkanspecies.
Mobilitas adalah penting untuk makan dan bertahannya serangga-serangga hutan
dan pohon pelindung dalam Iingkungan baru. Gerakan/perpindahan serangga
dapat dipisahkan dalam 3 kategori, yaitu memencar,menyebar dan migrasi.
Memencar adalah perpindahan lokal di dalam area yang cocok (favorable).
Menyebar adalah gerakan/ perpindahaan individual menjauh. dan area yang secara
normal cocok ke lain areal, yang mungkin atau tidak cocokuntuk bertahan.
Migrasi adalah perpindahan searah dan satu areal yang cocok keareal yang
lainnya. Pergerakan merupakan suatu bagian reguler dan penyesuaiandiri dan
biologi untuk sebagian besar individu di dalam suatu species individual.Semua
serangga bergerak dengan memencar dan menyebar kadang-kadang selama siklus
hidupnya, tetapi migrasi terjadi pada lebih sedikit species serangga. Beberapa
contoh serangga yang bermigrasi adalah kupu-kupu Monarch Danaus piexippus
(Linneaus), locust padang pasir, nyamuk betina, kumbang buas Convergen
Hippoderinis convergens Guerin - Meneville. Selama bulan Mei dan Juni dewasa
muda kumbang buas konvergen migrasi dan tempatmakannya di Central Valley
California untuk melewati musim dingin di pegununganSierra Nevada. Kumbang
ini kembali pada bulan Februari - Maret berikutnya untuk berbiak dan makan di
Central Valley (Coulson and Witter, 1984).
B. Lingkungan Serangga Air
Ada dua lingkungan air yang berbeda yaitu lingkungan lotik (air mengalir)
dan lentik (air diam/tidak mengalir). Dalam lingkungan lotik kecepatan dari aliran
air memengaruhi:
1. Tipe substrat, dengan bongkahan batu pada aliran air yang deras, dan
sedimen pasir pada aliran yang lambat.
2. Transpor partikel, yang salah satunya sebagai sumber makanan
3. Pengelolaan oksigen terlarut (DO)
Karakteristik serangga yang hidup di dalam substrat yang bermacam-
macam tersebut, banyak menampakkan modifikasi morfologi. Contohnya yaitu
serangga yang hidup di aliran air yang deras cenderung memiliki dorsoventral
yang pipih. Kebanyakan serangga lotik memilki ukuran lebih kecil daripada
serangga sejenis yang berada pada air diam. Ukuran dan desain tubuh mereka
disesuaikan dengan keadaan lingkungan yang penuh dengan batuan besar, kerikil
dan bahkan sedimen pasir (Gullan and Cranston, 2010).
Pada lingkungan lentik, dengan pengecualian tanpa adanya pergerakan
gelombang air pada tepinya, pergerakan air sama sekali tidak menyulitkan bagi
serangga air yang hidup di dalamnya. Hanya saja yang menjadi masalah adalah
keberadaan oksigen akan tetapi spesies serangga lentik menunjukkan
keanekaragaman yang lebih besar dalam mekanisme untuk meningkatkan
pengambilan oksigen dibandingkan dengan serangga lotik (Gullan and Cranston,
2010).
Permukaan air lentik digunakan oleh banyak spesies daripada permukaan
air lotik. Karena keadaan fisik dari tegangan air diam yang dapat mendukung
serangga dari gangguan goncangan air. Water Strider golongan Hemiptera
memiliki hidrofuge (penangkal air) berupa rambut fili pada kakinya sehingga
dapat bergerak di atas permukaan air tanpa tenggelam (Gullan and Cranston,
2010).
C. Serangga dan Lingkungan Tanah
Tanah menyediakan tempat hidup bagi serangga (pemukiman ataupun
sarang) serta juga menyediakan makanan dan sekaligus sebagai fungsi pertahanan.
Banyak jenis serangga yang sebagian ataupun seluruh hidupnya berada di dalam
tanah. Tanah yang ditempati serangga menjadi bertambah subur karena terjadi
proses timbal balik antara serangga dan lingkungannya. Serangga mendapatkan
nutrisi berupa sisa-sisa bahan organic yang terdapat di dalam tanah, selain itu juga
mendapatkan tempat bernaung, bersarang, dan berkoloni. Tanah ternyata juga
diuntungkan dalam hal tersebut yakni dengan adanya serangga, maka tanah akan
semakin berongga sehingga udara dapat masuk ke dalam tanah. Hal tersebut
menyebabkan tanah semakin gembur. Berikutnya, sisa-sisa serangga seperti
ekskresi misalnya akan menyebabkan kandungan bahan organic di dalam tanah
juga bertambah sehingga tanahpun menjadi bertambah subur. Dengan demikian
serangga dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan juga menyuburkan tanah
(Borror, 1996).
D. Serangga dan Tumbuhan
Sebagian besar serangga makan tumbuh-tumbuhan, tetapi hanya sedikit
yang digolongkan sebagai hama. Serangga juga mungkin bermanfaat bagi
tumbuhan karena menghancurkan gulma-gulma pengganggu, maupun tumbuh-
tumbuhan tertentu yang tidak dikehendaki. Borror (1996) menyebutkan bahwa
sangat sedikit sekali tumbuhan yang tidak dimakan oleh serangga. Serangga akan
memakan tumbuhan air maupun darat yang segar, namun setiap jenis serangga
memiliki cara makan yang berbeda-beda dan bagian tumbuhan yang dimakan pun
juga berbeda-beda. Selain memakan bagian tumbuhan, ada juga serangga yang
menghisap cairan tumbuhan baik itu dari daerah daun, cabang, maupun
batangnya.
Tumbuhan selain berperan sebagai penyedia makanan bagi serangga, juga
berperan sebagai sarang tempat peletakan telur dari serangga. Borror (1996)
menyebutkan bahwa banyak serangga terutama larva ngengat tertentu dan
kumbang mengebor masuk ke dalam batang. Cicada betina yang hendak bertelur
juga akan mengebor batang pohon tertentu lalu meletakkan telur-telurnya.
Banyak serangga pemakan tumbuh-tumbuhan menginjeksikan suatu zat
kimiawi ke dalam tumbuhan sehingga tumbuhan tersebut tumbuh secara
abnormal. Beberapa jenis serangga memakan bagian tumbuhan yang berada di
dalam tanah. Biasanya serangga yang berlaku demikian adalah yang masih
bertahap larva atau nimfa.
E. Pertahanan Serangga
Setiap jenis hewan dapat diserang oleh berbagai musuh, dan untuk
mempertahankan hidup hewan tersebut harus mempunyai sejumlah sarana
pertahanan. Banyak tipe pertahanan yang terdapat pada serangga, beberapa
menggantungkan pada penampilan (bentuk fisik) atau lokasi untuk menghindari
serangan, beberapa berusaha melarikan diri, beberapa menyerang pemangsa dan
beberapa menggantungkan sejumlah pertahanan kimiawi. Pertahanan diri pada
serangga merupakan respon yang muncul akibat ancaman musuh alami terhadap
kelangsungan hidupnya (Borror, 1996).
1. Sarana-sarana pertahanan yang pasif
Kebanyakan serangga akan berusaha lari saat diserang atau terancam, hal
tersebut dilakukan dengan terbang, lari, meloncat, berenang, atau menyelam.
Salah satu cara yang dilakukan serangga untuk menghindar dari predatornya
adalah pura-pura mati, cara ini biasanya dilakukan oleh serangga air raksasa
(Giant Water Bug), serangga ini merupakan predator yang paling tangkas,
menangkap dan makan ikan dan juga katak. Mereka sering berbaring tak bergerak
di bagian permukaan air, sambil menunggu mangsa datang mendekat. Gigitan
mereka dianggap salah satu yang paling menyakitkan yang dapat ditimbulkan oleh
serangga. Kadang-kadang ketika menghadapi pemangsa yang lebih besar, seperti
manusia, mereka akan "berpura-pura mati" dan memancarkan cairan dari anus
mereka untuk membuatnya menjijikan (Australianmuseum, 2012).









Banyak serangga pura-pura mati saat diganggu oleh predatornya. Beberapa
kumbang melipat tungkai-tungkai mereka, menjatuhkan diri ke tanah dan tidak
bergerak, seringkali menyerupai kotoran kecil. Pada ulat-ulat seringkali
melakukan posisi yang aneh seperti kaku sebagai bentuk perlindungan diri
mereka. Pada beberapa ulat jengkal perlindungan dilakukan dengan
menjungkirkan tubuhnya menyerupai sebuah ranting, berpegangan dengan kaki-
kaki palsu pada ujung posterior tubuh. Sangat banyak serangga hidup dalam
kondisi dimana musuh-musuh mempunyai kesulitan untuk menyerang mereka.
banyak serangga yang membenamkan diri kedalam tumbuh-tumbuhan, jaringan-
jaringan hewa, di bawah karang, atau di dalam tanah (Borror, 1996).

Gambar 1. Giant Water Bug
(sumber: Australianmuseum, 2012)
Banyak larva serangga yang membuat selubung-selubung khusus yang
akan melindungi mereka dari serangan predator. Banyak larva Lepidoptera dan
sejumlah kecil serangga dari ordo yang lain (misal: belalang penggulung daun dan
serangga gergaji) hidup dalam sebuah perlindungan yang terbuat dari daun-daun
yang dihubungkan bersama atau digulung dan berfungsi sebagai tempat
berlindung. Beberapa ulat-ulat yang bergerombol, seperti ulat pembuat jaring
akan membuat suatu tempat perlindungan besar dengan menggunakan daun-daun,
ataupun ranting (Borror, 1996).
Selain predator, kondisi lingkungan juga mempengaruhi serangga untuh
dapat melakukan pertahanan dalam lingkungannya. Serangga akan tetap bertahan
hidup dengan cara menyesuaikan diri sesuai dengan cara dan kemampuan sendiri.
Biasanya terjadi seleksi alam dimana serangga yang mampu bertahan akan tetap
hidup dan bereproduksi. Serangga juga akan berusaha untuk melanjutkan
keturunannya dengan cara memperbanyak kawin dengan harapan dapat
menghasilkan keturunan yang lebih banyak, dan menghasilkan individu-individu
yang memiliki daya tahan yang lebih kuat dari induknya, sehingga pada kondisi
yang ekstrim masih mampu bertahan. Dalam jangka waktu yang lama dengan
adanya kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan tersebut akan terjadi
seleksi alam dan serangga juga akan mengalami evolusi, dimana terdapat jenis-
jenis serangga baru yang memiliki daya tahan lebih kuat terhadap kondisi yang
kurang menguntungkan. Salah satu faktor adaptasi yang menyebabkan serangga
mampu hidup pada lingkungan dengan cuaca yang ekstrim adalah sifat
poikilotherm atau berdarah dingin yang mengalir di dalam tubuhnya. Pada
serangga darah disebut dengan hemolimfa yang akan menjadi dingin jika kondisi
suhu di luar dingin, dan sebaliknya. Dengan demikian, tubuh serangga tidak akan
menghadapi perbedaan suhu yang mencolok dengan suhu di luar tubuhnya.
Ukuran tubuh serangga yang relatif kecil menyebabkan kebutuhan makannya
relatif sedikit dan lebih mudah memperoleh perlindungan terhadap serangan
musuhnya. Kemampuan reproduksi serangga juga lebih besar dan cepat, serta
keragaman genetik yang lebih besar. Dengan kemampuannya untuk beradaptasi
ini, banyak serangga hama pada tanaman budidaya mampu dengan cepat
mengembangkan sifat resistensi terhadap insektisida (BBPPTP Ambon, 2013).
Pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan serangga akan
beristirahat dengan membentuk fase pertahanan tertentu, sehingga serangga akan
tetap hidup. Fenomena ini sering terjadi karena faktor pakan maupun iklim.
Sebagai contoh adalah pembentukan kokon pada Ordo Lepidoptera, dimana ia
akan mempercepat pembentukan kokon apabila kondisi suhu rendah dan pakan
kurang tersedia. Dormansi atau juga disebut dengan diapause adalah pelambatan
perkembangan sebagai tanggapan terhadap kondisi lingkungan yang tidak
menguntungkan, misalnya suhu yang ekstrim atau ketersediaan pakan yang
minim. Pada kondisi ekstrim, serangga mampu bertahan hidup dengan
mengurangi proses fisiologis dalam tubuhnya, sehingga kebutuhan pakan dapat
dikurangi. Diapause merupakan fase ketika organisme berhenti berkembang dan
terjadi pada siklus tahunan. Serangga melakukan adaptasi untuk menyelesaikan
siklus hidupnya. Faktor-faktor yang mengakibatkan diapause antara lain
fotoperiodisme, temperatur, dan kualitas makanan. Serangga mempunyai waktu
diapause yang bervariasi dan bergantung pada spesiesnya. Ada juga jenis
serangga yang mengalamiquiescene, yang merupakan respon sementara terhadap
kondisi yang kurang menguntungkan seperti kekeringan atau temperatur rendah.
Ketika cuaca menjadi dingin, serangga akan pasif dengan bertahan hidup sebagai
telur atau larva. Ketika cuaca telah normal kembali, telur atau larva itu akan
menetas dan memakan tumbuhan yang tumbuh (BBPPTP Ambon, 2013).
2. Penyamaran
Salah satu taktik atau cara yang digunakan oleh serangga untuk
perlindungan dan menyesuaikan diri dengan alam adalah dengan melakukan
pengelabuan atau penyamaran (mimikri). Pada beberapa kasus, serangga
menyamarkan diri dengan lingkungannya untuk menghindari pemangsaan,
sedangkan pada kasus lain, penyamaran dilakukan oleh pemangsa untuk
mendapatkan mangsa. Kupu-kupu adalah salah satu serangga yang menggunakan
penyamaran untuk menghindari pemangsaan, sedangkan beberapa spesies lalat
Syrphid predator genus Microdon mampu menirukan bentuk maupun bau dari
semut Camponotus dan Formica calon mangsanya. Beberapa jenis mimikri pada
serangga yang sudah dipelajari oleh para entomolog adalah mimikri Batesian,
mimikri Mullerian, mimikri Browerian, dan Pechamian. Masing-masing jenis
mimikri tersebut unik ditemukan pada jenis serangga tertentu (Putra, 2011).







Bentuk penyamaran lain dari serangga adalah Cryptic, serangga yang
memiliki kemiripan warna atau bentuk dengan benda disekitarnya (yang
dihinggapi). Banyak belalang yang memiliki warna tubuh menyerupai tanah di
tempat mereka hinggap, banyak ngengat berwarna seperti kulit kayu pohon,
banyak kumbang, kepik, lalat dan lebah yang berwarna seperti bunga-bunga yang
dikunjunginya. Banyak serangga yang menyerupai objek-objek pada lingkungan
mereka, baik warna maupun bentuk. Belalang ranting dan ulat jingkat menyerupai
ranting-ranting, sedemikian rupa hingga kadang-kadang membutuhkan
pengamatan yang cermat untuk menemukan mereka dalam kondisi tidak bergerak.
Serangga-serangga peloncat pohon tertentu menyerupai duri. Beberapa kupu-kupu
menyerupai daun-daun, dan beberapa kumbang menyerupai potongan-potongan
kulit kayu (Borror, 1996).
Beberapa serangga berpenampilan tidak mencolok dengan menutupi diri
sendiri dengan reruntuhan dan kotoran. Larva kumbang kura-kura menempelkan
potongan-potongan reruntuhan dan kotoran pada sepasang duri di ujung posterior
tubuh dan membawa bahan ini diatas tubuh mereka seperti sebuah payung.
Banyak nimfa capung yang tertutupi oleh reruntuhan ketika mereka tinggal di atas
permukaan kolam (Borror, 1996).

Gambar 2. Contoh mimikri Mullerian: Viceroy (Limenitis archippus) (kiri)
dan Monarch (Danaus plexippus) (kanan). Keduanya sama-sama beracun,
meskipun Viceroy diketahui lebih beracun daripada Monarch
(sumber: wikipedia.org)







3. Pertahanan-Pertahanan Kimiawi
Pertahanan kimiawi sering dikelompokkan ke dalam sekresi penolak
(repellent) dan bisanya tidak beracun yang disuntikkan ke dalam tubuh
penyerangnya. Serangga-serangga menggunakan strategi pertahanan kimiawi,
secara normal bertumpu pada: (a) Pengalaman yang tidak enak sebelumnya dan
musuh alaminya dengan berniat menipu; (b) Mekanisme misalnya bahan kimia
yang tidak enak (distaseful) di dalam tubuhnya, pelepasan bau jijik, atau
penyuntikan suatu racun ke dalam tubuh musuh alami dengan alat penyengat, duri
atau rambut; (c) Musuh alami mengenal serangga di masa lalu sehingga karena
itupengalaman yang tidak menyenangkan dihindari; (d) Warna cerah yang
dengan mudah dikenal oleh musuh alaminya. Kebanyakan kumbang buas dan kupu
Monarch jarang diserang oleh musuh alami karena cairan tubuhnya adalah tidak
enak. Suatu contoh klasik yang melibatkan kupu Monarch yang menghasilkan
glikosida penderita jantung (cardiac) dan makanan pada tumbuhan gulma susu
(milkweed). Glikosida cardiac dikonsentrasikan dalam sayap-sayap dewasa.
Burung-burung yang makan kupu Monarch tidak mati, tetapi muntah karena
bahan kimia yang tidak enak. Mereka dengan segera belajar untuk menjauhi kupu
Monarch dan kupu-kupu lain seperti raja muda Basilarchia archipus (Chapman)
yang menyerupainya. Kumbang tertentu dan kepik penyengat memancarkan bau
yang menjijikkan apabila diganggu. Serangga-serangga lain melepaskan cairan

Gambar 3. Belalang Ranting
(sumber: wikipedia.org)

iritasi atau melepas sekresi berminyak yang menjerakan banyak musuh alam
(Coulson and Witter, 1984).
Pertahanan-pertahanan kimiawi dapat mencakup cairan tubuh yang tidak
enak bagi pemangsa, penggunaan sekresi zat penolak, ataupun injeksi langsung
pada seekor penyerang. Kebanyakan serangga yang menggunaka pertahanan-
pertahanan semacam ini memiliki warna tubuh yang sangat cemerlang dan
menakjubkan. Sejumlah kecil serangga, seperti kupu-kupu raja dan kumbang
ladybird, jarang terserang oleh pemangsa karena mereka mempunyai cairan tubuh
yang tidak sedap. Beberapa serangga mengeluarkan zat-zat yang berbau busuk
bila diganggu. Kepik bau busuk, kepik kepala lebar, seranngga sayap renda dan
lain-lainnya dapat dikatakan sebagai musang busuk dari dunia serangga, karena
beberapa dari mereka mempunyai bau yang sangat tidak enak. Sejumlah kecil
serangga yang memnggunakan mekanisme pertahanan tersebut mampu
mengeluarkan zat-zat seperti suatu semprotan pada hewan pengganggunya
(Borror, 1996).
Rayap Prorhinotermes yang hidup di Florida diciptakan mempunyai teknik
pengolesan racun. Mereka menggunakan bahan kimia bernama nitroalkana
sebagai racun. Banyak rayap lain yang juga menggunakan cara ini, yang meliputi
penggunaan racun, tetapi yang mengejutkan adalah bentuk kimiawi berbeda dari
seluruh racun ini. Pada bagian kepala rayap Nasutitermitinae terdapat tonjolan
menyerupai moncong pipa yang memiliki kantong khusus di dalamnya. Dalam
keadaan bahaya, rayap membidikkan moncong pipa ini ke arah musuh dan
menyemprotkan cairan beracun. Senjata ini bekerja layaknya sebuah meriam
kimia.
F. Serangga Parasitisme dan Predator
Masyarakat menderita kerugian akibat aktivitas makan dan lainnya dari
serangga. Banyak serangga makan tumbuh-tumbuhan yang ditanam. Serangga-
serangga lain makan bahan-bahan yang disimpan, pakaian, atau kayu yang
bermanfaat bagi manusia. Masih ada serangga-serangga lain makan manusia dan
hewan-hewan lain secara langsung.
1. Serangga yang menyerang tumbuh-tumbuhan yang ditanam
Kebanyakan tipe-tipe tumbuhan, termasuk segala jenis hasil-hasil tanaman
yang sedang tumbuh, diserang dan dirusah oleh serangga. Kerusakan disebabkan
karena dimakan serangga atau bertelurnya pada tumbuhan atau bertindak sebagai
agen dalam penularan penyakit-penyakit tumbuhan. Kebanyakan kerusakan
tanaman karena dimakan serangga, cara makan serangga menimbulkan kerusakan
berbagai tipe, dan keparahan kerusakan dapat bervariasi sangat luas dari hanya
sedikit kerusakan sampai matinya tumbuh-tumbuhan (Borror, 1996).
Beberapa serangga merusak tumbuh-tumbuhan bila mereka bertelur,
terutama bila mereka bertelur di cabang-cabang atau buah. Cicada periodik, pada
waktu bertelur pada ranting-ranting, biasanya merusak banyak ranting
sehinggabagian ujungnya mati atau melemah sehingga mudah patah pada tempat
perteluran. Serangga yang meletakkan telur-telur mereka di dalam buah seringkali
menyebabkan buah-buahan tersebut menjadi salah bentuk (Borror, 1996).
Serangga juga berperan dalam penularan penyait pada tumbuhan. Ada 3
jalan dimana serangga menyebabkan patogen-patogen masuk ke tumbuhan
tersebut.
a) Patogen secara kebetulan dapat masuk melalui lubang-lubang untuk telur
atau lubang-lubang untuk makanan. Melalui lubang-lubang itu serangga
memasuki lubang tumbuhan. Jamur tertentu dan bakteri pembusuk juga
masuk dengan cara ini.
b) Patogen dapat ditularkan pada atau dalam tubuh serangga dari satu
tumbuhan ke tumbuhan lainnya. Contohnya lalat-lalat dan lebah-lebah
mengambil dan menyebarkan basil yang menyebabkan barah api pada apel
dan pir.
c) Patogen dapat tetap tinggal di dalam tubuh serangga tersebut dalam jangka
waktu yang pendek atau untuk jangka waktu panjang dan dapat
dimasukkan ke dalam tumbuhan melalui cara makan serangga.
2. Hama kayu
Segala macam struktur kayu seperti bangunan, meja kursi, tiang-tiang
pagar, patok bangunan dan bahan seperti kertas cenderung diserang oleh serangga.
Salah satu hama yang paling meluas dan merusak kayu dan produk kayu yaitu
rayap. Rayap makan bagian-bagian dalam balok-balok rumah, ambang pintu, dan
palang kayu dan sering kali membuat terowongan-terowongan sehingga kayu
yang diserang rayap akan mudah roboh (Borror, 1996).
3. Hama kain dan pakaian
Kebanyakan bahan-bahan yang dibuat dari serabut-serabut hewan, seperti
baju bulu, selimut, permadani, dan kain penutup dapat diserang dan dirusak oleh
serangga. Jumlah bahan yang dimakan sebenarnya mungkin kecil, tetapi nilai
bahan yang diserang sangat berkurang banyak. Hama yang paling penting yaitu
kumbang-kumbang dermistid danngengat pakaian (Borror, 1996).
4. Hama-hama makanan yang disimpan
Banyak jenis makanan yang disimpan terutama daging, keju, produk susu,
tepung, makanan gandum, padi-padian yang disimpan, kacang dan buah-buahan
mungkin diserang oleh serangga. Kerusakan yang besar dapat sebagai akibat
dimakan atau pembuatan terowongan serangga, atau kerusakan lainnya akibat
pencemaran serangga. Hama-hama yang penting dari dari tipe ini yaitu ngengat
butiran Angoumois, ngengat makanan India, ngengat Mediteran dan lain-lain
(Borror, 1996).
5. Serangga yang menyerang manusia dan hewan
Ada empat pokok cara serangga menyerang hewan dan manusia secara
langsung: (1) mereka mungkin hanya mengganggu, (2) mereka mungkin
memasukkan racun dengan gigitan atau sengatan, (3) mereka dapat hidup di
dalam manusia atau hewan sebagai parasit, atau (4) mereka sebagai agen dalam
menularkan penyakit (Borror, 1996).
6. Serangga- serangga beracun
Banyak Arthropoda menginjeksikan racun ke dalam tubuh orang dan
hewan yang menyebabkan rangsangan, pembengkakan, sakit, dan kadang-kadang
kelumpuhan. Serangga-serangga yang menginjeksikan racun dengan gigitan
mencakup berbagai lalat-lalat penggigit, kutu busuk, tungau, dan caplak.
Serangga-serangga yang menginjeksikan racun dengan sengat mereka mencakup
lebah-lebah, tabuhan dan lain-lain. Banyak orang yang terutama peka terhadap
sengat lebah atau tabuhan dapat mengalami syok anafilaktik atau bahkan
mengakibatkan kematian. Sejumlah kecil ulat, yang mempunyai punggung seperti
pelana (saddle-back), larva ngengat nanah, dan larva ngengat io, mempunyai
rambut-rambut sengat yang mengakibatkan suatu bentuk dermatis. Beberapa
kumbang lepuh mempunyai cairan-cairan tubuh yang merangsang terhadap kulit.
Beberapa serangga, seperti kumbang bunga ros beracun bila tertelan (Borror,
1996).
7. Serangga-serangga parasit
Banyak serangga dan Arthropoda lain hidup dalam atau pada tubuh
manusia atau hewan sebagai parasitdan menyebabkab rangsangan, kerusakan
jaringan dan dalam beberapa kasus bahkan kematian. Kutu penggigit yaitu
ektoparasit burung dan mamalia, makan rambut, bulu, sisik kulit, dan struktur luar
lainnya. Mereka menyebabkan rangsangan yang hebat dan satu penurunan kondisi
umum hewan yang diserang. Kutu penghisap yaitu ektoparasit mamalia yang
menghisap darah, mereka menyebabkan rangsangan, dan luka-luka yang buruk
seringkali akibat penggosokan atau garukan yang dilakukan karena gigitan
mereka. Pinjal, kutu busuk, dan bentuk-bentuk penggigit lainnya menyebabkan
rangsangan yang serupa. Tungau kudis dan tungau busuk, yang menggali lubang
di dalam kulit orang dan hewan seringkali menyebabkan rangsangan yang hebat.
Banyak lalat-lalat stadium larvanyahidup sebagai endoparasit pada orang
dan hewan, menyebabkan keadaan yang disebut miiasis. Larva lalat Hypoderma
hidup di bawah kulit induk semang, menyebabkan turunnya kondisi umum pada
sapi, mengurangi produksi air susu, dan menurunkan nilai kulit untuk kulit bahan
mentah (Borror, 1996).
8. Serangga dan penularan penyakit
Serangga yang menyerang manusia dan hewan melakukan kerusakan yang
terbesar bila mereka bertindak sebagai vektor penyakit. Serangga bertindak
sebagai agen dalam penularan penyakit dengan dua jalan yang umum, mereka
dapat bertindak sebagai vektor-vektor mekanis patogen atau mereka bertindak
sebagai vektor biologik (Borror, 1996).
Serangga-serangga yang terpenting dalam penularan secara mekanis
organisme patogen yaitu lalat-lalat yang menghuni tempat-tempat kotor seperti
lalat-lalat rumah dan lalat hijau. Serangga-serangga ini mengambil patogen
dengan kaki-kai mereka atau pada bagian lain pada tubuh mereka ketika makan
bahan tinja atau limbah-limbah lain, dan mereka dapat makan patogen. Kemudian
mereka mencemari makanan manusia. Lalat mempunyai kebiasaan memuntahkan
bahan yang dimakan sebelumnya, terutama makanan padat atau setengah padat,
dan untahan itu dapat mencemari makanan manusia. Demam tifus, kolera, dan
disentri dapat ditularkan oleh lalat-lalat dengan jalan ini (Borror, 1996).
9. Serangga predator
Predator yaitu binatang atau serangga yang memangsa binatang atau
serangga lain. Istilah predatisme adalah suatu bentuk simbiosis dari dua individu
yang salah satu diantara individu tersebut menyerang atau memakan individu
lainnya satu atau lebih spesies, untuk kepentingan hidupnya yang dapat dilakukan
dengan berulang-ulang. Individu yang diserang disebut mangsa.
Serangga-serangga mempunyai kapasitas reproduksi yang tinggi dan
potensial membuat populasi yang dahsyat, tetapi mereka jarang melakukan hal
yang demikian. Karena sebagian besar dari banyak hewan memakan mereka. Satu
perbandingan yang cukup besar dari hewan entomofagus ini, atau hewan-hewan
pemakan serangga, terdiri dari serangga. Pengontrolan yang dilakukan terhadap
hama-hama serangga oleh serangga-serangga entomofagus adalah satu faktor
yang penting dalam menurunkan populasi jenis hama (Borror,1996).
G. Pengaruh Iklim dan Persebaran Serangga
Serangga merupakan hewan yang tubuhnya mengandung 80-90 % air, dan
harus dijaga agar tidak mengalami banyak kehilangan air yang dapat mengganggu
proses fisiologinya. Ketahanan serangga terhadap kelembaban bervariasi. Ada
serangga yang mampu hidup dalam suasana kering tetapi adapula yang hidupnya
di dalam air. Biasanya serangga tidak tahan mengalami kehilangan air yang terlalu
banyak, namun ada beberapa serangga yang mempunyai ketahanan karena
dilengkapi dengan berbagai alat pelindung untuk mencegah kehilangan air
tersebut, misalnya kutikula yang dilapisi lilin. Serangga darat (terestrial insect),
khususnya serangga fitofagus akan mendapatkan air dari makanannya. Serangga
yang hidup pada bahan-bahan sangat kering seperti hama-hama gudang, akan
mendapatkan air dan proses metabolismenya, contohnya bubuk kayu dan famili
Lyctidae, Bostrychidae, Anobiidae dan Kalotermitidae. Adanya curah hujan akan
menambah kelembaban dan mempengaruhi vegetasi tanaman yang
dibudidayakan. Hal ini mendorong keadaan yang cocok untuk perkembangan
serangga, karena ketersediaan makanan yang
cukup. Tidak semua jenis serangga mengalami perkembangan pada musim hujan,
dan sebaliknya serangga-serangga tertentu pada musim hujan mengalami
kematian. Serangga-serangga yang berkembang biak pada musim kemarau,
misalnya jenis kutu tanaman (ordo Homoptera) karena pengaruh hujan yang
berupa butiran-butiran air merupakan tenaga mekanis dapat mematikan serangga
ini. Pada bulan-bulan kering dalam musim hujan atau bulan-bulan basah pada
musim kemarau, ulat tanah (ulat grayak ulat tentara = army worm
Spodoptera litura) menyerang secara mendadak dan dapat menyebabkan
kerusakan berat dalam waktu yang singkat, terutama pada tanaman pertanian
pangan.
Walaupun suhu memungkinkan species serangga tersebut dapat
berkembang dengan baik, tetapi kalau kelembabannya tidak memenuhi
persyaratan hidupnya, maka species serangga tersebut akan mati atau mengalami
hambatan di dalam perkembangannya. Sebaliknya jika kelembaban serasi tetapi
suhunya terletak di luar batas suhu efektif maka perkembangan hidupnya akan
terhambat pula. Pengertian ini penting dalam praktek, agar cara melaksanakan
pengendaliannya dapat diterapkan sebaik-baiknya dan dicapai hasil yang efisien.
Telah dikemukakan bahwa suhu di Indonesia secara geografis tidak begitu besar
variasinya dan amplitudonya kecil, sehingga faktor suhu tidak begitu menentukan.
Tetapi hendaknya diingat bahwa faktor topografi mempunyai hubungan yang erat
dengan suhu, hingga banyak dijumpai species serangga yang bersifat lokal. Jika
faktor topografi tidak menyebabkan lokalisasi penyebaran serangga, maka
biasanya intensitas serangannya tidak sama. Faktor kelembaban di daerah tropis
berhubungan erat dengan adanya musim hujan dan kemarau, walaupun
sebenarnya berpengaruh pula terhadap suhu.
Di Indonesia dijumpai serangga yang berkembang pada musim kemarau,
sedang pada musim hujan populasinya sangat menurun atau sebaliknya. Sebagai
contoh, belalang kayu (Valanga nigricornis) bertelur pada akhir musim hujan atau
awal musim kemarau, kemudian menetas dan berkembang menjadi dewasa pada
musim hujan. Sebelum musim hujan berakhir, belalang betina dewasa bertelur
lagi di dalam tanah dan telur tersebut akan tetap dorman (diapause) selama musim
kemarau. Dengan demikian dijumpai adanya belalang kayu pada musim hujan
sampai permulaan musim kemarau. Contoh lain merupakan serangga Xyleborus
destruens menyerang pohon Jati yang tumbuh di daerah-daerah yang selalu basah
(curah hujan > 2000 mm) misalnya di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian Barat
atau di daerahdaerah dengan ketinggian di atas 500 mdpl. Beberapa faktor-faktor
fisik berikut yang berpengaruh terhadap distribusi serangga, yaitu:
a. Suhu / Temperatur
Setiap spesies serangga mempunyai jangkauan suhu masing-masing
dimana ia dapat hidup, dan pada umunya jangkauan suhu yang efektif adalah suhu
minimum. Serangga memiliki kisaran suhu tertentu untuk kehidupannya. Diluar
kisaran suhu tersebut serangga dapat mengalami kematian. Efek ini terlihat pada
proses fisiologis serangga, dimana pada suhu tertentu aktivitas serangga tinggi
dan akan berkurang (menurun) pada suhu yang lain. Umumnya kisaran suhu yang
efektif adalah 15C (suhu minimum), 25C suhu optimum dan 45C (suhu
maksimum). Pada suhu yang optimum kemampuan serangga untuk melahirkan
keturunan besar dan kematian (mortalitas) sebelum batas umur akan sedikit (Ode
dalam Natawigena, 2011).

b. Kelembaban Hujan
Air merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan bagi mahluk hidup
termasuk serangga. Namun kebanyakan air, seperti banjir dan hujan lebat
merupakan bahaya bagi kehidupan beberapa jenis serangga, termasuk juga
berbagai jenis kupu-kupu yang sedang beterbangan, serta dapat menghanyutkan
larva yang baru menetas (Ode dalam Natawigena, 2011). Umumnya serangga
memperoleh air melalui makanan yang mengandung air. Secara langsung
biasanya serangga tidak terpengaruh oleh curah hujan normal, namun hujan yang
lebat secara fisik akan menekan populasi serangga. Curah hujan juga memberikan
efek secara tidak langsung terhadap kelembaban suatu lahan, , kelembaban di
udara, dan tersedianya tanaman sebagai makanan serangga. Seperti halnya suhu,
serangga membutuhkan kelembaban tertentu/sesuai bagi perkembangannya. Pada
umumnya serangga membutuhkan kelembaban tinggi bagi tubuhnya yang dapat
diperoleh langsung melalui udara dan tanaman yang mengandung air (Ode dalam
Krebs, 2011).

c. Cahaya, Warna dan Bau
Cahaya adalah faktor ekologi yang besar pengaruhnya bagi serangga,
diantaranya lamanya hidup, cara bertelur, dan berubahnya arah terbang. Banyak
jenis serangga yang memilki reaksi positif terhadap cahaya dan tertarik oleh
sesuatu warna, misalnya oleh warna kuning atau hijau. Beberapa jenis serangga
diantaranya mempunyai ketertarikan tersendiri terhadap suatu warna dan bau,
misalnya terhadap warna-warna bunga. Akan tetapi ada juga yang tidak menyukai
bau tertentu (Ode dalam Natawigena, 2011).

d. Angin
Angin dapat berpengaruh secara langsung terhadap kelembaban dan proses
penguapan badan serangga dan juga berperan besar dalam penyebaran suatu
serangga dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Baik memiliki ukuran sayap
besar maupun yang kecil, dapat membawa beberapa ratus meter di udara bahkan
ribuan kilometer (Ode dalam Natawigena, 2011).

e. Makanan
Tersedianya makanan baik kualitas yang cocok maupun kualitas yang cukup bagi
serangga, akan menyebabkan meningkatnya populasi serangga dengan cepat.
Sebaliknya apabila keadaan kekurangan makanan, maka populasi serangga dapat
menurun.



















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Serangga atau insekta merupakan spesies yang jumlahnya paling banyak
ditenmukan di permukaan bumi. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan
persebaran serangga di bum beragam, yaitu faktor fisik yang meliputi suhu, angin,
kelembaban, dll. Selain itu, faktor biologis seperti ada atau tidaknya predator,
parasit, dan lain-lain juga berpengaruh terhadap distribusi serangga tersebut.