Anda di halaman 1dari 15

ANTROPOLOGI KESEHATAN DAN EKOLOGI

ANTROPOLOGI KESEHATAN DAN EKOLOGI



A. Ekosistem dan Sistem Sosial-Budaya
Selama bertahun-tahun, makin banyak ahli antropologi yang menaruh perhatian pada
masalah-masalah kesehatan lingkungan biobudaya, yang paling baik dipelajari melalui apa
yang disebut Bates sebagai pandangan ekologis. Suatu sistem, menurut defenisi Kamus
Webster Edisi Kedua, adalah agregasi atau pengelompokan objek-objek yang dipersatukan
oleh beberapa bentuk interaksi yang tetap atau saling tergantung, sekelompok unit yang
berbeda, yang berkombinasikan sedemikian rupa oleh alam atau oleh seni sehingga
membentuk suatu keseluruhan yang integral, dan berfungsi, beroperasi, atau bergerak dalam
kesatuan.
Dalam ekologi keseluruhan integral adalah suatu ekosistem, suatu interaksi antara
kelompok tanaman dan satwa dengan lingkungan non-hidup mereka. Pada kedua disiplin
tersebut, seperti yang dinyatakan dalam defenisi kamus, ada dua pertanyaan yang mendasar
semua pertanyaan. Pertanyaan pertama ada hubungannya dengan bentuk dan fungsi; yang
kedua adalah masalah dinamika.
Untuk dapat terus berfungsi tanpa gangguan yang berat, baik ekosistem maupun sistem
sosial-budaya harus mempertahankan suatu tingkatan integrasi minimum dan konsistensi dari
dalam, suatu tingkatan yang cukup tinggi sehingga unit-unit yang terpisah-pisah dalam sistem
tersebut dapat saling menyumbangkan peranannya. Bagi mahasiswa yang mempelajari
ekosistem dan social-budaya, kenyataan ini amat penting karena dalam kedua disiplin
tersebut, para sarjana terutama berhubungan dengan perubahan dan inovasi.

B. Perhatian Ekologis dari Para Ahli Antropologi Kesehatan
Ekologi manusia, ekologi medis, ekologi sosial, ekologi penyakit dan yang lainnya sering
digunakan dalam arti yang berbeda-beda dan tumpang tindih. Namun yang terpenting adalah
topik, atau bidang-bidang perhatian, dan disini kita memperoleh kesepakatan umum dalam
kepustakaan-kepustakaan antrolopologi.
Dalam dunia masa kini, pendekatan ekologis adalah dasar bagi studi tentang masalah-
masalah epidemiologi, cara-cara dimana tingkah laku individu dan kelompok menentukan
derajat kesehatan dan timbulnya penyakit yang berbeda-beda dalam populasi yang berbeda-
beda.
Dalam studi-studi ekologi, kita mulai dengan lingkungan. Semua kelompok harus
menyesuaikan diri dengan kondisi geografi dan iklim yang terdapat di tempat tinggal mereka
dan mereka harus belajar untuk mengeksploitasikan sumber-sumber yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Penyakit, misalnya, adalah bagian dari lingkungan manusia.
Kenyataannya, factor-faktor social-psikologis dan factor budaya sering memainkan peran
dalam mencetuskan penyakit. Sedangkan cara-cara dimana lingkungan pasien diubah
sementara ia mengalami perawatan adalah bena-rbenar kebudayaan.
Penyakit yang dipandang sebagai suatu unsur dalam lingkungan manusia, telah
mempengaruhi evolusi manusia, seperti nampak pada contoh kecepatan reproduksi ciri sel-
sabit di kalangan penduduk Afrika Barat, suatu perubahan evolusi yang adaptif, yang
memberikan kepada individu yang mempunyai sel itu suatu imunitas yang relative terhdap
malaria.
Nutrisi dapat dipandang juga sebagai ciri lingkungan biobudaya. Namun bagian apa dari
nutrient yang tersedia dalam lingkungan tertentu, yang didefinisikan sebagai makanan.
Nutrisi adalah juga bagian dari lingkungan social-budaya dalam situasi dimana, misalnya,
pria makan lebih dulu dan menerima lebih banyak makanan yang kaya protein, sedangkan
wanita dan anak-anak memperoleh sisa-sisa, sehingga seringkali hal itu mengakibatkan
mereka kekurangan nutirsi yang serius.

C. Paleopatologi
Ahli-ahli patologi, anatomi, dan ahli antropologi fisik telah banyak belajar mengenai
penyakit-penyakit dan luka-luka pada manusia purba. Pada umumnya, hanya penyakit-
penyakit yang menunjukkan bukti-bukti yang nyata pada tulang saja yang diidentifikasi.
Sebagai contoh, kerusakan atau abses pada tulang sebagai akibat dari syphilis, tuberculosis,
frambosia, dan sejenisnya adalah jenis-jenis penyakit infeksi yang dapat dikenali. Teknik
terbaru dalam analisis penyakit manusia purba adalah penggunaan kotoran manusia
(coprolites) yang apabila disusun kembali dapat memberikan informasi yang tiada ternilai
mengenai ada atau tidaknya parasit intestine. Ahli-ahli paleopatologi juga memanfaatkan
hasil-hasil kesenian, seperti lukisan-lukisan dinding gua, di bejana, patung-patung manusia,
kayu, dan sebagainya untuk menetapkan jenis penyakit yang mereka deskripsikan.
Hal-hal tentang penyakit-penyakit manusia purba dan adaptasinya terhadap lingkungan
dapat disimpulkan dari studi mengenai sisa-sisa masyarakat berburu dan meramu, seperti
orang Bushmen di Afrika Selatan dan penduduk asli Australia.
Mungkin kesimpulan yang paling penting yang dapat diambil dari studi-studi itu, jika
dihubungkan dengan bukti-bukti lain seperti tingkah laku gen dan virus, adalah bahwa
banyak penyakit-penyakit modern tidak terdapat pada penduduk purba dan bahwa spectrum
dari penyakit yang menyerang manusia sepanjang perkembangannya mungkin lebih kecil
daripada yang telah kita alami pada masa sejarah.Sakitnya manusia purba disebabkan oleh
jenis pathogen dan factor-faktor lingkungan yang jumlahnya lebih sedikit dari yang dialami
oleh manusia modern.
Dari segi eksistensi dan daya tahan hidup dari pathogen, suatu jenis pathogen lain
dibutuhkan, yang dapat bertahan untuk waktu yang lama sampai munculnya perantara baru.
Karenanya, seleksi alamiah lebih terbuka bagi pathogen yang dapat hidup dalam hubungan
bersama dengan perantara mereka, dan pathogen yang dapat terus hidup walaupun jauh dari
perantaranya.
Kebiasaan nomadic masyarakat berburu dan meramu mempengaruhi kesehatan mereka;
jumlah orang yang sedikit yang senatiasa berpindah, kecil kemungkinan untuk menginfeksi
dirinya sendiri akibat kotoran mereka sendiri dibandingkan populasi yang menetap.
Penemuan pertanian menambah jenis dan frekuensi penyakit yang diderita manusia. Hal
ini sebagian disebabkan karena populasi yang besar merupakan reservoir infeksi, yang tidak
akan timbul dalam populasi kecil. Dan sebagian disebabkan hubungan manusia dengan
hewan ternak yang mungkin menularkan pathogen baru. Hidup menetap dan masalah sanitasi
dalam masyarakat menetap sudah pasti meningkatkan angka penyakit parasit karena
kesempatan untuk infeksi ulangan dan kontaminasi dengan sampah manusia meningkat.
Namun dengan munculnya ekonomi agricultural, populasi komuniti menetap yang semakin
padat menjadi semakin peka terhadap penyakit infeksi, suatu cara utama dalam hal
pengawasan penduduk.

D. Penyakit dan Evolusi
Penyakit-penyakit infeksi telah merupakan factor penting dalam evolusi manusia selama
2 juta tahun atau lebih; melalui mekanisme evolusi dari proteksi genetic maka nenek
moyang kita dapat mengatasi ancaman penyakit dalam kehidupan individu dan kelompok.
Contohnya penyakit sickle-cell anemia yang terutama menulari orang kulit hitam di Afrika
Barat yang juga ternyata menyebar hingga ke Amerika. Hal ini menarik perhatian ahli
antropologi kesehatan tentang bagaimana suatu penyakit tertentu yang merupakan ancaman
terhadap kesehatan dapat mempengaruhi evolusi manusia.
Hal itu khususnya menunjukkan karakteristik dari sisa-sisa penduduk tertua yang dikenal
di Afrika Barat, yang banyak diantaranya kemudian terpaksa menyingkir ke pinggiran hutan
rimba, akibat datangnya para imigran dari timur. Penduduk asli rimba raya itu hampir tidak
ada yang menderita penyakit malaria. Ini disebabkan karena Anopheles gambiens, vector
malaria tidak dapat berkembang di genangan air yang sangat terlindungi dari sinar matahari,
seperti yang terdapat di hutan tropis.
Dengan adanya populasi pertanian menetap dan penebangan hutan untuk bercocok tanam,
maka terciptalah kondisi yang ideal bagi Anopheles gambiens. Karena hutan-hutan ditebang,
desa-desa menjadi permanen dan Anopheles gambiens bertambah. Ciri sel sait yang sudah
ada di kalangan penduduk Bantu mendapat keutungan selektif terhadap gen yang bukan sel
sabit karena adanya imunitas relative dan mungkin, frekuensinya bertambah secara berarti.
Gen sel sabit nampaknya merupakan respons evolusioner pada lingkungan penyakit yang
berubah. Karena itu, gen ini merupakan respon genetic pertama yang diketahui terhadap
peristiwa penting dalam evolusi manusia, ketika penyakit menjadi factor utama yang
menentukan arah dari evolusi tersebut.
Dimana adaptasi social-ekonomi menyebabkan perubahan pada lingkungan, frekwnsi dari
suatu gen akan berubah dalam proporsi terhadap nilai kelangsungan hidup, yang memberikan
gen itu kepada pembawa penyakit, dalam ekosistem yang baru. Peningkatan frekuensi dari
suatu gen yang adaptif menghilangkan pembatas lingkungan dan memberi kemungkinan
perkembangan lebih lanjut bagi adaptasi social-ekonomi.

E. Makanan dan Evolusi
Seperti halnya dengan penyakit, makanan juga merupakan karakteristik lingkungan yang
mempengaruhi evolusi. Selama 2 juta tahun, menyebar ke bagian bumi yang bisa didiami dan
terjadilah peningkatan penting dalam ukuran tubuh dan otak, paling sedikit diperkirakan
sebagai respon atas protein hewani yang telah menjadi bagian dari makanannya. Hanya
karena makanan yang cukup kuantitas dan keseimbanganya maka perkembangan itu dapat
terjadi. Di kalangan anak-anak, akibat umum dari defisiensi kalor-protein adalah penyakit
yang dikenal kwashiorkor dan laju pertumbuhannya akan lambat.
Berkurangnya ukuran tubuh seperti yang terdapat dikalangan banyak petani di daerah
pertanian tropic lebih nampak sebagai suatu contoh dari evolusi yang sedang dalam proses,
yakni suatu contoh tentang penyeusaian atau plastisitas manusia, daripada sebagai adaptasi
murni dalam artian genetic.
Studi lain yang juga menarik yaitu konsumsi susu pada orang dewasa. Dimana di Jepang
dan China adanya adat yakni penolakan yang bersifat budaya terhadap susu, seperti juga
penolakan makan daging ular di kalangan penduduk Amerika Serikat pada umumnya. Ada
beberapa alasan mereka tidak minum suu karena minum susu akan menyebabkan penyakit
perut yang disebabkan oleh sebab fisiologis dalam bentuk diare dan kejang perut.
Maka kebiasaan makan dan tradisi dapat menghasilkan tekanan selektif yang memberi
kesempatan lebih banyak bagi lebih satu tipe gen dari tipe gen yang lain.

F. Epidemiologi
Secara singkat, epidemiologi berkenaan dengan distribusi dalam tempat dan prevalensi
atau terjadinya penyakit, sebagaimana yang dipengaruhi oleh lingkungan alam atau
lingkungan alam. Variabel yang paling umum digunakan adalah perbedaan umur dan jenis
kelamin, status perkawinan, pekerjaan, hubungan suku-bangsa dan kelas social. Semua ini
dan banyak factor lain, telah dinyatakan sebagai factor yang berperan penting bagi distribusi
dan prevelensi berbagai penyakit.
Para ahli epidemiologi memandanhg tugas mereka sebagi membuat korealsi dalam hal
insiden penyakit dalam usaha menetapkan petunjuk tentang pola penyebab penyakit yang
kompleks. Tujuan utama epidemiologi adalah untuk meningkatkn derajat kesehatan,
mengurangi timbulnya semua ancaman kesehatan. Akhir praktis dari studi epidemiologi
dibuktikan dengan kenyataan bahwa ilmu ini merupakan landasan ilmiah bagi sebagian besar
profesi kesehatan masyarakat.
Ahli antropologi lebih menaruh minat pada ciri epidemiologis dari penyakit penduduk
non-eropa, termasuk sindroma kebudayaan khusus, seperti hysteria daerah kutub, amok,
Canabis, atau psikologis ganja, latah dan seterusnya.

G. Misteri Kuru
Ini adalah penyakit yang yang diakibatkan virus secara genetic atau turunan. Penyakit ini
terjadi di daerah Fore Selatan, Papua Nugini. Penyakit Kuru ditandai oleh deteriorisasi
progresif pada pusat syaraf yang mengarah pada kelumpuhan total, dan sering kali
ketidakmampuan untuk menelan sebagai akibatnya terjadilah komplikasi seperti kelaparan,
radang paru0paru, dan lecet punggung.
Pemecahannya ditemukan oleh ahli antropologi yang merangkap ahli virus, Carleton
Gajdusek, yang mengatakan bahwa penyakit ini bersifat genetic, menular, sosiologis,
tingkahlaku, keracunan endokrin. Penyakit ini berkuarang sejalan dengan pengapusan
kanibalisme oleh Australia. Diketahui bahwa penularan penyakit kuru disebabkan oleh
kebiasaan adat penduduk lokal yang senantiasa memakan kerabat wanita dari si mati
diharuskan memasak dan memakan otak kerabat wanita yang mati tersebut, dan sisa-sisanya
diberikan pada anak mereka, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Karena otak
sering tidak cukup matang dimasak, maka virus yang terdapat pada mayat wanita korban kuru
tersebut ditularkan kepada yang memakan jenasah nya.

H. Ekologi dan Pembangunan
Konsep pembanguan mencakup intervensi teknologi manusia terhadap keseimbangan
alam: pembangunan bendungan, pembukaan, peralatan dan irigasi lading, pembangunan jalan
raya dan lainnya. Akibatnya, udara akan otor, kekurangan sanitasi dan cara hidup ynag
berdesakan di daerah pemukiman miskin di perkotaan.
Kebudayaan adalah system keseimbangan yang rumit yang tidak akan berubah begitu
saja, sehingga inovasi yang nampaknya baik bagi suatu bidang kemudian menimbulkan
perubahan-perubahan kedua dan ketiga di bidang lain (misalnya kesehatan) yang dampaknya
melebihi keuntungan yanag diharapkan.
Para ahli cenderung untuk berfikir bahwa pembangunan pada intinya adalah proses fisik,
namun pembagunan adalah juga proses social dan ekonomi dan banyak aktivitas yang
mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Akhirnya, pembangunan yang sukses
sering secara berarti menyebabkan peningkatan munculnya penyakit-penyakit tertentu,
menimbulkan masalah kesehatan yang sebelumnya tidak ada atau yang relative hanya sedikit.
Sebaliknya keberhasilan dalam pengawasan atau pembasmian penyakit infeksi memiliki
biaya yang tersembunyi. Keberhasilan inilah yang menyebabkan ledakan penduduk, yang
seperti kita maklumi , merupakan bahaya terbesar bagi masa depan kemanusiaannya.
Demikian kita dihadapkan bahwa penyakit menghambat pembangunan; sehingga
penyakit merupakan daya pendorong bagi timbulnya perkembangan pelayanan kesehatan dan
pengawasan penyakit, yang selanjutnya memungkinkan timbulnya macam pembanguanan
lainnya pula; tetapi yang seringkali terjadi di balik keberhadsilan pembangunan justru
terdapat kelebihan penduduk dan betambah penyakit, sehingga siklus itu terulang lagi.

I. Penyakit-Penyakit Pembangunan
Tidak semua penyakit secara sama dipengaruhi oleh pembangunan, walaupun tampaknya
semua keseimbangan penyakit, pada tingkatan tertentu dipengaruhi oleh perubahan-
perubahan akibat pembangunan.
a. Pembangunan lembah sungai
Betapapun terpuji tujuan untuk pembangunan lembah sungai di daerah Mesir-sudan,
nyatanya banyak dari proyek-proyek tersebut kemudian mengakibatkan bahaya yang cukup
tinggi bagi kesehatan, terutama yang paling serius adalah peningkatan penyakit bilharziasis
dan ochoncerciasis.
Juga akibat dari penyebaran sawah-sawah yang aliran air nya lambat dan hamper terhenti
pada selokan-selokan irigasi dan sawah irigasi, telah merupakan lingkungan yang ideal bagi
vector siput.
b. Pembudidayaan tanah
Pertanian sistematis di daerah pesisir Karibia merupakan kondisi ideal bagi nyamuk
Anopheles yang menularkan penyakit malaria; air yang disinari matahari akibat adanya
persawahan padi, saluran irigasi dan genangi air, bagi nyamuk merupakan pilihan yang lebih
baik daripada lingkungan alamnya sendiri.
c. Pembanguan jalan raya
Lalat-lalat lebih menyenangi saluran-saluran air dan daerah yang bersemak-semak.
Dengan adanya jalan-jalan baru, penyebrangan sungai merupakan tempat-tempat yang
menarik para musafir untuk minum, mandi dan menyegarkan badan; disinilah letak bahaya
yang mengancam mereka dari gigitan lalat tsetse dan infeksi penyakit tidur.
d. Urbanisasi
Migrasi penduduk desa ke daerah pemukiman miskin padat di perkotaan menyebabkan
timbulnya berbagai masalah kesehatan. Kondisi penduduk yang padat, kotor setra sanitasi
lingkungan yang buruk mengakibatkan penyakit yang ditularkan lewat air terutama disentri
menjadi penyakit yang endemic.
e. Program-program kesehatan masyarakat
Sanitasi lingkungan dan program-program lain yang bertujuan untuk mengawasi
penyakit, dalam kenyataannya justru dapat menjadikan situasi lebih buruk atau menggeser
masalah dari satu penyakit ke jenis penyakit yang lainnya.
Masih ada topic ekologi dan masalah kesehatan penting lain sebagai contoh implikasi dari
peningkatan stress yang seringkali menandai masyarakat yang mengalami urbanisasi yang
cepat. Stres ada hubunganya dengan peningkatan hipertensi dan atau penyakitpenyakit
koroner.








PENGERTIAN EKOLOGI
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan
yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos (habitat) danlogos (ilmu). Ekologi diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara
makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai
kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen
penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik antara lain suhu, air, kelembapan,
cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari
manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-
tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling
mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani
yang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan ekonomi energi yang
menggambarkan kebanyakan rantai makanan manusia dan tingkat tropik.
Ekowilayah bumi dan riset perubahan iklim ialah dua wilayah di mana ekolog (orang yang
mempelajari ekologi) kini berfokus
Para ahli ekologi mempelajari hal berikut:
1. Perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke
dalam lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkannya.
2. Perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda dalam faktor-faktor yang
menyebabkannya.
3. Terjadi hubungan antarspesies (interaksi antarspesies) makhluk hidup dan hubungan antara
makhluk hidup dengan lingkungannya.
Kini para ekologI (orang yang mempelajari ekologi) berfokus kepada Ekowilayah bumi dan
riset perubahan iklim.
Beberapa Cabang Ilmu dari Ekologi
Karena sifatnya yang masih sangat luas, maka ekologi mempunyai beberapa cabang ilmu
yang lebih fokus, yaitu:
Behavioural ecology
Community ecology or synecology
Ecophysiology
Ecosystem ecology
Evolutionary ecology
Global ecology
Human ecology
Population ecology


ANTROPOLOGI KESEHATAN DAN EKOLOGI

EKOSISTEM DAN SISTEM SOSIAL BUDAYA

Selama tahun tahun terakhir, banyak ahli antopologi yang menaruh perhatian pada masalah
masalah kesehatan lingkungan biobudaya, yang dipelajari dari yang disebut Bates sebagai
pandangan ekologis (M. Bates 1953: 701). Pandangan ekologis cocok bagi ahli
antropologi, karena dalam kenyataannya, pandangan itu adalah lanjutan dari lingkungan dan
komuniti biotiknya dalam pendekatan antopologi yang fundamental yakni perhatian pada
sistemnya. Dimana sistem (Kamus Webster Edisi Kedua) adalah agregasi atau
pengelompokan objek objek yang dipersatukan oleh beberapa bentuk interaksi yang tetap
atau saling tergantung, sekelompok unit yang berbeda, yang dikombinasikan oleh alam atau
seni sehingga membentuk suatu keseluruhan yang integral dan berfungsi, beroperasi atau
bergerak dalam kesatuan. Dalam antropologi, keseluruhan integral adalah suatu sistem sosial-
budaya atau suatu kebudayaan. Dalam ekologi, keseluruhan integral adalah suatu ekosistem,
suatu interaksi antara kelompok tanaman dan satwa dengan lingkungan non hidup mereka
(Hardesty 1977 : 289). Untuk dapat terus berfungsi, baik ekosistem maupun sistem sosial
budaya harus mempertahankan suatu tingkatan integrasi minimumdan konsistensi dari dalam,
suatu tingkatan yang lebih tinggi sehingga unit unit yang terpisah dalam system tesebut
dapat menyumbangkan peranannya. Namun integrasi tidak lengkap karena perubahan, karena
bagian dalam sistem tidak terkunci secara permanen dalam posisi yang tidak dapat berubah.
Bagian bagian itu berubah terdorong oleh berbagai dinamika, dalam bentuk maupun fungsi.

PERHATIAN EKOLOGIS DARI PARA AHLI ANTROPOLOGI KESEHATAN

Para ahli antropologi kesehatan, yang defenisinya berorientasi ke ekologi, menaruh perhatian
pada hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan alamnya, tingkah lakunya,
penyakitnya, cara-cara dimana tingkah laku dan penyakitnya mempengaruhi evolusi dan
kebudayaannya. Pandangan ekologi terutama berguna dalam mempelajari masalah-masalah
kesehatan dalam program internasional bagi pembangunan dan modenisasi, karena seperti
yang kita lihat, proyek perubahan teknologi yang kurang dipahami telah dilaksanakan tanpa
menyadari bahwa perubahan itu akan menghasilkan suatu rangkaian perubahan lain, yang
banyak memepengaruhi kesehatan.
Dalam studi ekologis, dimulai dengan lingkungan, dimana lingkungan bersifat alamiah dan
sosial-budaya. Semua kelompok harus menyesuaikan diri dengan kondisi geografi dan iklim
karena penyakit misalnya adalah bagian dari lingkungan manusia. Kenyataannya, faktor
sosial psikologi dan faktor budaya sering memainkan peran dalam mencetuskan penyakit,
sedangkan cara-cara dimana lingkungan si pasien diubah sementara ia mengalami perawatan
adalah benar-benar kebudayaan.
Penyakit dipandang sebagai suatu unsur dalam lingkungan manusia, telah mempengaruhi
evolusi manusia, contohnya pada kecepatan reproduksi ciri sel sabit (sikle cell) di kalangan
penduduk Afrika Barat, suatu perubahan evolusi yang adaptif, yang memberikan kepada
individu yang mempunyai sel itu suatu imunitas yang relatif terhadap malaria. Nutrisi
dipandang sebagai lingkungan biobudaya. Bagian nutrient yang tersedia dalam lingkungan
tertentu, yang didefenisikan sebagai makanan dan karenanya dapat dimakan merupakan
masalah kebudayaan. Nutrisi adalah bagian dari sosial budaya, misalnya seorang ayah makan
lebih dahulu dan menerima makanan yang lebih kaya protein, sedangkan ibu dan anaknya
memperoleh sisa, sehingga sering kali mengakibatkan mereka kekurangan nutrisi. Cara bayi
diberi makan juga dapat dipandang sebagai pengaruh lingkungan. Air susu ibu oleh para
dokter telah disepakati sebagai makanan yang ideal bagi bayi, karena selalu segar,
campurannya tepat, dan mudah dijaga kebersihannya.

PALEOPATOLOGI

Paleopatologi adalah studi mengenai penyakit manusia purba, yang didalamnya mengenai
bagaimana nenek moyang kita dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka hidup dan cara
hidup mereka.
Contoh- contoh penyakit pada masa pada manusia purba, yaitu:
1. Penyakit reumatik, caries gigi, ricketsia dan lainnya diketahui berdasarkan
peninggala tulang tulang.
2. Penyakit-penyakit infeksi berdasarkan pengawetan mummi secara alamiah dan buatan
pada jaringan lunaknya dan juga akibat lingkungan yang buruk.
3. Penyakit fraktur yang terjadi akibat adanya kanibalisme, peperangan dan aspek
lainnya dari kehidupan sehari-hari, seperti fraktur pada tengkorak kepala akibat dua atau
tiga penekanan yang berasal dari senjata maces, yaitu sejenis tombak yang bermata enam.
4. Luka- luka akibat senjata contohnya pada orang Anglo-Saxon menunjukkan banyaknya
fraktur kaki pada tulang betis.

Hal hal tentang penyakit manusia purba dan adaptasinya terhadap lingkungan dapat
disimpulkan dari studi mengenai sisa sisa masyarakat berburu dan meramu, seperti orang
Bushmen si Afrika Selatan dan penduduk asli Australia. Mungkin kesimpulan yang paling
penting dari studi itu jika dihubungkan dengan bukti lain seperti tingkahlaku gen dan virus,
adalah bahwa banyak penyakit modern tidak terdapat pada penduduk purba dan spectrum
dari penyakit penyakit yang menyerang manusia sepanjang perkembangannya mungkin
lebih kecil daripada yang kita alami pada masa sejarah (Black 1975 : 515).

Dalam masa prehistori, populasi masyarakat berburu meramu jumlahnya sedikit, terdiri dari
kelompok yang paling banyak berjumlah 200 300 orang. Dimana mereka terlalu kecil
jumlahnya untuk memebentuk suatu reservoir bagi kalangan eksistensi penyakit-penyakit
infeksi. Dari segi eksistensi dan daya tahan hidup dari pathogen, suatu jenis pathogen lain
dibutuhkan, yang dapat bertahan untuk waktu yang lama sampai muncul perantara baru.
karenanya seleksi alamiah lebih terbuka bagi pathogen yang dapat hidup dalam hubungan
bersama dengan perantara mereka dan pathogen yang terus hidup tanpa perantaranya.
Kesehatan dari masyarakat berburu dan meramu secara positif juga dipengaruhi oleh
kebiasaan nomadi mereka sehingga kecil kemungkinannya untuk menginfeksi dirinya sendiri
akibat kotoran mereka sendiri atau hal-hal lain, dibandingkan dengan populasi besar yang
menetap.
Anehnya, penemuan pertanianlah yang telah menambah jenis dan frekuensi penyakit yang
diderita manusia, munculnya peradaban menjatuhkan pukulan terhadap kesehatan
manusia, sehingga baru sekarang saja manusia sembuh (Neel 1970 : 818). Walaupun
menghasilkan bahan pangan yang kontiniu dan pertambahan penduduk, tetapi meningkatkan
penyakit-penyakit infeksi juga. Ini terjadi karena populasi yang besar merupakan reservoir
infeksi, hubungan manusia yang akrab dengan ternaknya, yang dapat menularkan pathogen
baru.
Kontras antara potensi penyakit infeksi pada masyarakat berburu dan meramu dengan
masyarakat petani telah mencetuskan spekulasisehubungan dengan pengendalian penduduk.
Sepanjang sejarah, kematian bayi yang tinggi merupakan penjelasan dari lambatnya
perkembangan penduduk dunia. Namun penelitian di kalangan penduduk berburu dan
meramu menunjukkan bahwa angka kematian bayi yang tinggi di kalangan penduduk primitif
bukan hal yang umum. Keseimbangan manusia dengan sumber sumber lingkungannya
dipertahankan oleh bentuk budaya, terutama oleh tabu yang berkenaan dengan hubungan
seks, masa menyusui yang diperpanjang, aborsi, pembunuhan bayi dan sejenisnya, bila
digabungkan mengurangi rata-rata angka kelahiran secara efektif menjadi satu anak dalam
jangka waktu 4 atau 5 tshun.
Namun, dengan munculnya ekonomi agrikultural, populasi komuniti menetap yang semakin
padat menjadi semakin peka terhadap penyakit infeksi, suatu cara dalam hal pengawasan
penduduk (Underwood 1975 : 61). Barulah pada tahun 1940 ada pertambahan penduduk
yang berarti seperti di Tzintzuntzan, yang diakibatkan oleh adanya vaksinasi terhadap cacar
air dan imunisasi lainnya, pengadaan air bersih, obat obat antibiotika serta tindakan
preventif dan kuratif lainnya.

PENYAKIT DAN EVOLUSI

Penyakit penyakit infeksi merupakan factor penting dalam evolusi manusia selama 2 juta
tahun atau lebih, melalui mekanisme evolusi dari proteksi generatik maka nenek moyang
kita dapat mengatasi ancaman ancaman penyakit dalam kehidupan individu dan kelompok
(Armelagos dan Dewey 1970). Contohnya penyakit anemia sel sabit (sickle cell anemia), di
Afrika Barat. Penyakit ini ditandai oleh sel darah merah yang bentuk sabit, tidak bulat dan
bersifat genetik. Sebagian individu yang terkena akan mati muda dan diwariskan dan
penyembuhannya belum diketahui. Sehingga merupakan ancaman bagi penduduk kulit
hitam. Di lingkungan lain, sel sabit sama sekali bukan ancaman, malahan menjadi
karakteristik yang diinginkan, karena di daerah malaria ciri ini memberikan priteksi yang
tinggi bagi individu yang terkena gigitan nyamuk Anopheles. Wiesenfeld mendeskripsikan
ciri sel itu sebagai suatu pemecahan biologis terhadap masalah kebudayaan. Lalu
menganbil proposisi umum, Dimana ada adaptasi sosial ekonomi menyebabkan perubahan
pada lingkungan, frekuensi dari suatu gen akan berubah dalam proporsi terhadap nilai
kelangsungan hidup (survival) yang diberikan gen itu kepada pembawa penyakit (carriers),
dala ekosistem yang baru. Peningkatan frekuensi dari suatu gen yang adaptif menghilangkan
pembatas lingkungan dan memberi kemungkinan perkembangan lebih lanjut bagi adaptasi
sosial ekonomi.




Ujian Tengah Semester Pengantar Antropologi Kesehatan
Nama : Abdul Karim Asmaulludin
NIM : 1111101000094
Kelas : II-B


1. Antropologi kesehatan merupakan studi mengenai hubungan timbale balin antar
kebudayaan dan sehat-sakit pada suatu masyarakat. Antropologi kesehatan menggunakan data-
data etnografi untuk mengetahui keadaan kesehatan suatu msayarakat. Antropologi kesehatan
sangat menunjang ilmu kesehatan masayarakat. Hal itu dikarenakan, metode penelitian yang
digunakan dalam antropologi kesehatan berbeda dengan ilmu lainnya. Namun dapat sangat
membantu para ahli kesehatan masyarakat untuk mengetahui keadaan kesehatan masyarakat
pada suatu daerah tertentu.

2. Dalam perkembangannya antropologi kesehatan dapat dijajarkan menjadi dua kutub yaitu
kutub biologi dan social budaya. Namun pada pertengahan kedua kutub tersebut terdapat
epidemiologi. Pada kutub biologi, para ahli lebih memfokuskan pada partum,buhan dan
perkembangan manusia, peranan penyakit dalam evolusi manusia, serta paleopatologi (studi
tentang penyakit penyakit purba). Sedangkan pada kutub social budaya, para ahli memusatkan
perhatian pada sistem medis tradisional (etnomedisin), tingkah laku sakit dan sebagainya. Selain
pada kedua kutub tersebut, ada beberapa ahli antropologi kesehatan yang berminat pada
epidemiologi. Para ahlin yang berminat pada epidemiologi ini membahas suatu permasalahan
kesehatan dan kebudayaan dalam aspek epidemiologi.


3. Suatu penyakit tidaklah terjadi begitu saja. Tetapi ada faktor yang menyebabkan penyakit itu
muncul. Tidak hanya terdapat satu factor yang menyebabkan suatu penyakit, tetapi banyak
factor. Dalam kajian epidemiologi dikenal istilah segitiga epidemiologi, yaitu agent-host-
environment. Apabila terjadi suatu penyakit, berarti terjadi ketidakseimbangan dalam segitiga
epidemiologi tersebut. Sebagai contoh adalah pada penyakit DBD. Penyakit demam berdarah
tidak hanya muncul karena meningkatnya jumlah nyamuk aedea aegepty saja, tetapi yang
menjadi persoalan adalah mengapa nyamuk tersebut dapat berkembang biak dengan cepat.
Tentu saja hal itu berkaitan dengan kebudayaan masyarakat pada daerah tersebut seperti
membuang sampah sembarangan. Sampah yang dapat menjadi tempat berkembangnya
nyamuk aedes aegepty.

4. Antropologi kesehatan sebagai suatu ilmu pengetahuan tidaklah muncul dengan sendirinya.
Adanya akar yang menjadi titik munculnya antropologi kesehatan. Akar tersebut memiliki sumber
yang berbeda namun tidak dapat terpisah satu dengan lainnya. (1) perhatian ahli antropologi fisik
terhadap topic-topik seperti evolusi, adaptasi dan sebagainya; sebelum munculnya antropologi
kesehatan, ahli-ahli antropologi fisik belajar dan banyak melakukan penelitian di sekolah-sekolah
kedokteran. s\selama beberapa waktu para ahli antropologi fisik sibuk dengan kedokteran
forensik. Sumbangan besar dalam antropologi fisik adalah ditemukannya kelompok masyarakat
yang memiliki risiko tinggi terdapat sel darah sabit dalam tubuhnya dan pembawa penyakit
hepatitis. (2) perhatian para ahli antropologi terhadap pengobatan tradisional; para ahli sangat
tertarik pada masyarakat yang melakukna praktik pengobatan tradisional. Hal itu disebabkan
keingin tahuan mereka mengenai cara pengobatan suatu penyakit yang berbada dengan cara
modern. (3) kesehatan masyarakat internasional; setelah perang dunia II berakhir, para ahli
melihat permasalah kesehatan tidak hanya merupakan gejala biologi, melainkan juga gejala
social budaya. Mereka menyadari bahwa kebutuhan kesehatan dari Negara-negara berkembang
tidaklah dapat dipenuhi dengan memindahkan sistem pelayanan kesehatan dari negara industri.

5. Hubungan antara antropologi kesehatan dengan ekologi sangatlag erat. Dalam antropologi
sudah tentu pokok bahasannya adalah suatu sistem sosial budaya atau dengan kata uang lebih
umum disebut kebudayaan. Sedangkan dalam ekologi pokok bahasannya adalah ekosistem.
Para ahli antropologi kesehatan, yang dari definisinya dapat disebutkan berorientasi pada
ekologi, menaruh perhatian pada hubungan timbale-balik antara manusia dengan
lingkungannya, tingkahlakunya, penyakit-penyakitnya dan cara bagaimana tingkahlaku dan
penyakit memengaruhi evolusi dan kebudayaannya. Ada beberapa topic pentinga yang banyak
menarik perhatian para hali antorpologi kesehtan terhadap bidang ekologi. Diantaranya,
paleopatologi,penyakit dan evolusi, makanan dan evolusi dan sebagainya.



6. Sistem budaya (ide, gagasan); dalam lingkungan tinggal saya gagasan yang dapat
dikatakan sebagai sistem budaya yang mengacu pada kesehatan adalah mengenai permasalah
membuang sampah hasil rumah tangga. Sementara sistem sosialnya; mayoritas masyarakat
membuang sampah pada suatu tempat yang dijadikan sebagai tempat pembuangan sementara.
Dan hasil dari hal tersebut adalah pemandangan yang sanagt tidak indah untuk dipandang. Jika
mengidentifikasi permasalahan kesehatan denga hal tersebut, sangat memungkinkan
masyarakat terkena penyakit diare maupun penyakit kulit yang disebabkan penumpukan sampah
pada sekitar wilayah pembuangan sampah sementara tersebut.

7. Dalam hubungan antar antropologi dan epidemiologi terhadap masalah kesehatan di atas,
analisa saya sangat memungkinkan masyarakat tersebut terkena beberapa penyakit menular
seperti diare. Dan ketika musim hujan datang dapat menjadi tempat berkembang biaknya
nyamuk aedes aegepty maupun anopheles.


8. Pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada
aktivitas-aktivitas khusus dalam kehidupan masyarakat (koentjaraningrat).


9. Permasalah kesehatan jika dilihat dari sisi sosiologi terhadap lingkungan tinggal saya adalah
perilaku masyarakat dalam membuang sampah yang dapat menimbulkan penyakit.


10. Jika melihat kedua contoh pada nomor 6 dan 9 maka perbedaan antar antropologi dan
sosiologi kesehatan adalah pada cara pandang dan bagaimana suatu permasalahan kesehatan
itu terjadi.





ANTROPOLOGI KESEHATAN DAN
EKOLOGI
EKOSISTEM DAN SOSIAL BUDAYA.
M.Bates Th.1953 .Menyebutkan Bahwa Masalah Masalah Kesehatan Lingkungan Sosial
Budaya Yang Paling Baik Dipelajari.Sebagi Pandangan Ekologis.Merupakan Pendekatan
Fundamental Perhatiannya Pada Sistemnya
SISTEM MENURUT KAMUS WEBSTER EDISI KEDUA.
Adalah Agresi/Pengelompokan Obyek-Obyek Yang Dipersatukan Oleh Beberapa Bentuk
Interaksi Yang Tetap Atau Saling Tergantung.
Ekosistem Adalah Suatu Interaksi Antara Kelompok Tanaman Dan Satwa Dengan Lingkungan
Non Hidup (Hardesty ;1977.)
GEERTZ (1963)
Lingkungan Atau Habitat Dapat Berbeda Ukurannya ,Kompleksitasnya Dan Jangka Waktunya,
Mulai Dari Setetes Kolam Air Dengan Mikroorganisme Samapai Pada Seluruh Bumi Dengan
Kehidupan Tanamanb Dan Satwa.
EKOSISTEM YANG DIPELAJARI OLEH AHLI EKOLOGI;
1.Gurun Kalahari Dengan Kehidupan Tumbuh-Tumbuhan ,Satwa Dan Manusianya.
2.Tundra Kutub Selatan.
3.Hutan Tropois Amazon
4.Padang Rumput
5.Suatau Kolam Air Pasang .
PERHATIAN EKOLOGIS DARI PARA AHLI ANTROPOLOGI KESEHATAN.
ISTILAH YANG DIGUNAKAN UNTUK MENDESKRIPSIKAN EKOLOGI
1.Ekologi Manusia .
2.Ekologi Medis.
3.Ekologi Sosial;
4.Ekologi Penyakit.
5.Epidemiologi.
6.Epideologi Sosial
PARA AHLI ANTROPOLOGI KESEHATAN BERORIENTASI PADA EKOLOGI.
PERHATIANNYA PADA HUBUNGAN
1.Timbal Balik Antara Manusia Dan Lingkungan Alam,
2.Tingkah Lakunya .
3.Penyakit-Penyakitnya.
4. Cara-Cara Tingkah Laku Dan Penyakit Mempengaruhi Evolusi Dan Kebudayaan Melalui
Proses Timbal Balik.
STUDY EKOLOGI
Penyakit Sebagai Unsur Dalam Lingkungan Manusia.Contoh Kecepatan Reproduksi Sel Sabit
Dalam Tubuh Manusia (Manusia Mempunyai Imunitas Terhadap Malaria ). Penyakit
Memerankan Evolusi Kebudayaan Misalny A Dalam Budya Berupa Bidadar-Bidadari
KecilAnak-Anak Kecil Dan Katolik Menggal Dunia Langsung Masuk Surga ,Pada Pemakamanya
Ditandai Oleh Musyik,Nutrisi Sebagai Ciri Lingkungan Budaya Misalnya Pria Makan Lebih
Dahulu Dan Menerima Lebih Banyak Protein Daripada Wanita Dan Anak-Anak .Cara Bayi Diberi
Makan Juga Sebagai Pengaruh Budaya.
PALEOPATOLOGI
Penyakit Manusia Purba Pada Umumnya Kerusakan Pada Tulang.Contohnya.
1.Akibat Sipilis.
2.Tubercolosis.
3.Frambusia.
4.Osteomilitis. 5.Poliomiolitis.
6.Kusta.
7.Reumatik.
8.Caries Gigi
COCKBURN(1971)
Penelitian Penyakit Manusia Purba Dengan Kotoran Manusia(Coprolite).
Coprolit Memberikan Informasi Jenis Makanan Manusia Purba.Terutama Jenis Biji-Bijian.
Pada Lukisan Patung ,Kayu, Pada Batu Gerabah
MENURUT PENELITIAN BLACK (1975)
Penyakit Pada Zaman Modern Tidak Terdapat Pada Manusia Purba. Penyakit Campak
,Rubella,Cacar,Gondong,Kolera,Cacar Air Tidak Terdapat Pada Manusia Purba. Data Demografi
Dari Poster Di Meksiko. Rata Kelahiran Efektif Adalah Satu Anak Setiap 2 Tahun, Bagi
Wus.Angka Kelahiran Kasar Setinggi 50 Permil Sejak Th.1950.Sejak Tahun 1940 Pertambahan
Penduduk Sangat Bearti Karena Adanya Vaksinasi Cacar Air Dan Imunisasi Lainya.Pengadaan
Air Bersih, Obat-Obtan Antibiotik Serta Tindakan Preventif Dan Kuratif.
PENYAKIT DAN EVOLUSI
Penyakit Penyakit Inpeksi Merupakan Faktor Penting Dalam Evulusi Manusiua.Contoh Di
Amerika Barat Banyak Orang Yang Resisten Terhadap Malaria,Karena Didalam Darahnya
Terdapat Sel-Sabit.
Dilingkungan Lain Ciri Sel Sabit Tidak Mererupkan Ancaman Malah Merupakan Karateristik
,Didaerah Malaria Memberikan Proteksi Terhadap Gigitan Nyamuak Anopheles.
MAKANAN DAN EVOLUSI
Makanan Merupakan Karateristik Lingkungan Yang Mempengaruhi Evolusi.
Stini ;Mendeskripsikan Tentang Beberapa Aspek Tentang Makanan Yang Mempengaruhi
Ukuran Tubuh .
Stini ;Bahwa Manusia Baru Mencapai Tinggi Maksimal Setelah Berumur 26 Tahun.(Stini;L971).
Hubungan Antara Nutrisi Dengan Kemampuan Manusia Beradaptasi Adalah Komsumsi Susu
Oleh Manusia Dewasa.
Laktosa (Gula Susu) Adalah Satu-Satunya Karbohidrat Yang Paling Berarti Dan Unsus Utama
Dalam Susu.
EPIDEMIOLOLGI
Epidemiologi Berkenaan Dengan Distribusi Dalam Tempat Dan Prevalensi Atau Terjadinya
Penyakit ,Sebagaimana Dipengaruhi Oleh Lingkngan Serta Oleh Tingkah Laku Manusia
VARIABEL YANG DIGUNAKAN ;
1.Perbedaan Umur,Jenis Kelamin,
2.Status Perkawinan.
3.Pekerjaan.
4.Hub Suku Bngsa Dankelas Sosial.
5,Tingkah Laku Individu
6. Lingkungan Alami.
TUJUAN EPIDEMIOLOGI.
1.Meningkatkan Derajat Kesehatan.
2.Mengurang Timbulnya Ancaman Kesehatan.
Contoh Penyakit Gondok Kekurang Zat Yodium Dalam Makanan Diatas Dengan Adanya
Komsumsi Garam Beryodium.
Para Ahli Antropologi Kesehatan Menaruh Nperhatian Terhadap Epediologi Pembangunan
.Yakni Konsekkuwensi Kesehatan Yang Seringa Mengganggu Terhadap Proyek
Pembangunan Teknologi,Misal Penyakit Buta Sungai Akibat Pembangunan Danau-Danau Dan
Penyebaran Penyakit :Schistomiasis Sebagai Akibat Dari Penyebaran Irigasi.
MISTERI KURU.
Pada Tahun 1950 Ditemukan Penyakit Baru Dinamakan Penyakit Kuru. Yang Menyerang Kaum
Wanita Dan Anak Anak Penduduk Fore Selatan Didataran Tinggi Papua Nugini
Timur.Penyebabnya Kanibalisme ,Kalau Ada Wanita Yang Mati ,Otaknya Dimakan. Didalam
Otak Terdapat Virus. Mietri Dari Mana Asal Virus Dan Bagaimana Virus Bersembunyi.
EKOLOGI PEMBANGUNAN .
Melalui Pembangunan ;
1.Pemanfaatan Rasional Atas Sdmdan Fisik Diperoleh.
2.Kemiskinan Dapat Diberantas.
3,Pendidikan Menjadi Universal.
4.Penyakit Dapat Diatasi.
5.Standart Kehidupan Dapat Di.Terima
KONSEP PEMBANGUNAN
Mencakup Intervensi Teknologi Manusia Dan Keseimbangan Alam. Du Bos;Semua Inovasi
Teknologi Yang Berhubungan Dengan Pratek Industri,Pertanian, Kedokteran ,Akan Mengganggu
Alam . Pembangan Sukses Dapat Menyebabkan Penyakit Tertentu,Masalah Kesehatan,Dll.
PENYAKIT-PENYAKIT PEMBANGUNAN
Pembangunan Lembah Sungai.
1.Di Afrika Dan Amerika Selatan Dan Di Asia Timur ,Penyakit Biharziasis Disebabkan Oleh
Salah Satu Spesies Cacing Pita Dari Genus Schistosoma,Yang Ditularkan Lewat Vektor Siput.
2.Penyakit Ochoncerciasis( Buta Sungai) Yang Disebabkan Vektor Lalat.
Kebutaan Dapat Dicegah Dengan Cara Di Opoerasi.
PEMBUDIDAYAAN TANAH
Dapat Membahayakan,Kesehatan,Contohmenurut Miler,Pertanian Sistematis Didaerahpesisir
Karibia Merupakan Kondisi Ideal Pengembangbiakan Nyamuk Anopheles Yang Menularkan
Penyakit Malaria.
PEMBANGUNAN JALAN RAYA.
Penyakit Yang Timbul Adalah Trypanosomiasis (Pentakit Tidur)Yang Terbesar Di Afrika Yang
Ditularkan Melalui Lalat Tsetse Juga Menularai Satwa Domestik Dan Satwa Liar. Hubungan
Manusia Dengan Vektor Yang Biawa Oleh Serangga.
URBANISASI
Penyakit Yang Sering Terjadiadalah.
1.Desentri Merupkan Penyakit Endemik.
2.Tuberkulosis
3.Kekurangan Gizi.Dll
PROGRAM PROGRAM KESEHATAN MASYARAKAT.
Seperti Yang Kita Lihat Bertentangn Misalnya.
1.Sanitasi Lingkungan Dan Program Lainnya Mengawasi Penyakit, Akan Tetapi Akan Bergeser
Dari Penyakit Yang Satu Kepenyakit Yang Lain.
2. Di Malaisya Penyemprotan Rumah Membunuh Vektor Malariatapi Nyamuk Anopheles
Menggigit Manusia Tanpa Si8nggah Didinding
Di Iran Pembuangan Kotoran Manusia Akan Menimbulkan Lalat,Akan Tetapi Iklim Yang Kering
Cepat Mengeringkan Kotoran.Trachoma Dapat Mengakibatkan Kebutaan Dan Dicegah Dengan
Sanitasi Lingkungan Dan Air Bersih.