Anda di halaman 1dari 17

Kecerdasan Emosi Perilaku Agresif Pada Massa Berperilaku Agresif Dengan

Kecenderungan Bentrok
PROPOSAL
diajukan untuk Menyusun Skripsi S-1


Oleh :
MUHAMMAD ARIFUDDIN
08013206

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2012

BAB I
PENGANTAR

A. Latar belakang masalah
Manusia memiliki beragam tipe kepribadian yang berbeda satu sama lain,
dengan adanya perbedaan masing-masing ini tidak jarang dijumpai bahwa sikap
serta perbuatan yang dilakukannya merupakan cerminan dari kepribadian manusia
itu sendiri. Manusia banyak memiliki permasalahan dalam hidupnya, mulai dari
masalah dalam pribadinya sendiri, lalu kemudian permasalahan diluar pribadinya
yang biasanya berhubungan dengan orang banyak.
Belakangan ini disekitar kita seringkali terjadi aksi unjuk rasa mengkritisi
sebuah kebijakan baik yang berskala daerah ataupun nasional. Contoh yang masih
hangat didalam pikiran kita bersama adalah unjuk rasa menolak kenaikan harga
bahan bakar minyak yang terjadi di seluruh pelosok negeri ini. Unjuk rasa yang
banyak digalang oleh kaum intelektual khususnya mahasiswa-mahasiswa Indonesia,
massa dalam jumlah banyak yang turun ke jalan menyuarakan isi hati memiliki
karakter serta temperamen yang sangat berbeda satu sama lain, yang pada
kenyataannya banyak menimbulkan kerugian materi serta jasmani sehingga sering
dijumpai banyak aksi yang berujung anarki antara massa dengan petugas
pengamanan yang menimbulkan korban yang tidak sedikit pula di masing-masing
pihak.
Dalam menyampaikan suatu aspirasi adalah melalui jalan dialog agar tercipta
solusi terbaik ataupun mencari win-win solution agar tidak ada pihak yang merasa
dirugikan karena adanya suatu kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang
banyak. Namun pemimpin yang ada tidak begitu memikirkan hal ini, dan masyarakat
luas mulai enggan mendengar segala perbincangan yang hanya memihak kepada
sebagian golongan.
Dengan adanya bentrok massa yang terjadi disekitar kita, pastinya banyak
terdapat penyebab yang menyulut keadaan tersebut tetapi didalam penyebab-
penyebab yang ada dibalik bentrok massa tersebut bagaimanakah sebenarnya
keadaan para pelaku yang terlibat didalamnya, seperti apakah sebenarnya mereka
itu yang memilki latar belakang pendidikan berbeda serta kemampuan membaca
situasi yang berbeda pula karena dalam kapasitas jumlah yang tidak sedikit akan
terjadi singgungan disana sini.
Kemampuan yang mestinya dimiliki para pengunjuk rasa atau massa yang
memiliki aspirasi adalah dalam mengelola emosinya agar dapat menyalurkan
aspirasinya secara sehat, dalam dunia psikologi ada beberapa istilah yang secara
khas menerangkan emosi tersebut, yaitu kecerdasan emosi (Emotional Intelligence)
sebagai kemampuan mengelola emosi yang ada dalam diri setiap individu manusia.
Goleman (2001, p.39) menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah
kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain serta
menggunakan perasaan-perasaan tersebut untuk memandu pikiran dan tindakan,
sehingga kecerdasan emosi sangat diperlukan bagi para pengunjuk rasa agar dapat
menghasilkan solusi terbaik bagi masyarakat luas terhadap setiap kebijakan yang
dikeluarkan oleh setiap institusi-institusi yang dikelola oleh Negara ataupun swasta.

B. Perumusan masalah
Mengontrol emosi dan kemampuan untuk dapat berhubungan dengan orang
lain yang disebut kecerdasan emosi (emotional intelligent). Tinjauan penelitian ini
dilakukan melalui beberapa variabel penelitian yaitu variabel bebas kecerdasan
emosi serta variabel tergantungnya adalah massa yang memiliki kecenderungan
bentrok yang membedakan atas penelitian terdahulu adalah adanya variabel
tergantung mengenai massa yang cenderung bentrok. Beberapa penelitian
terdahulu mengenai kecerdasan emosi, Trihandini, R.A.M.F (2005, p.79) tentang
kecerdasan emosi terhadap kinerja karyawan, kecerdasan emosi merupakan faktor
kecerdasan yang memiliki pengaruh tinggi dibandingkan kecerdasan intelektual dan
kecerdasan spiritual.
Subjek penelitian yang digunakan pada penelitian kali ini adalah siswa-siswa
SMA yang cenderung bentrok antar sekolah. Pengumpulan data yamg dilakukan
adalah dengan metode observasi serta metode wawancara terhadap mahasiswa
ketika melakukan aksi unjuk rasa. Berdasarkan penjelasan diatas maka pertanyaan
penelitian yang akan diajukan untuk penelitian ini adalah :
1. Bagaimana gambaran antara kecerdasan emosi (EQ) dengan perilaku agresif
pada yang massa yang memiliki kecenderungan bentrok
C. Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui gambaran kecerdasan emosi yang muncul dari massa
pengunjuk rasa yang memiliki kecenderungan bentrok.

D. Manfaat penelitian
Penelitian ini memiki kegunaan sebagai berikut :
1. Kegunaan teoritis yaitu sebagai tambahan referensi untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan bidang psikologi klinis.
2. Kegunaan praktis yaitu memberikan informasi tentang kecerdasan emosi
dengan perilaku agresif pada massa yang memiliki kecenderungan bentrok.
D. Tinjauan pustaka
1. Kecerdasan emosi
Kecerdasan emosi pertama kali diperkenalkan Peter Salovey dan Jack Mayer
pada tahun 1990. Kecerdasan emosi yang berartii sebagai kemampuan untuk
mengenali perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya,
serta mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu
perkembangan emosi dan intelektual Mayer dan Salovey (dalam Stein & Book,
2002).
Dengan adanya kecerdasan emosi manusia dapat mengelola dan
menggunakan emosi secara efektif dalam kehidupannya sehari-hari sehingga
menghasilkan hubungan antar mahluk hidup yang positif. Kecerdasan emosi yang
sering dikenal dengan emotional intelligence dapat difungsikan sebagai motivasi diri
individu, Goleman (2000, p.xiii) menyebutkan didalam kecerdasan emosi ada
keterampilan lain tentang kemampuan mengontrol diri, memacu, tetap tekun,
motivasi diri.
Reuven Bar-On (Stein & Book, 2002) kecerdasan emosi adalah serangkaian
kemampuan, kompetensi dan kecakapan non-kognitif yang mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk dapat berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan
lingkungan. Individu yang melakukan interaksi dengan individu lainnya memilki
kemungkinan terhadap tekanan. Dalam lingkup pekerjaan, pendidikan, serta dalam
organisasi sehingga menimbulkan emosi bersifat negatif dan positif, diperlukan
adanya EI agar dapat mencari pemecahan masalah dalam diri individu.
Goleman (2001, p.42-43) mengungkapkan lima kecakapan dasar dalam
kecerdasan emosi, yaitu :
a. Self awareness : kemampuan seseorang untuk mengetahui perasaan dalam
dirinya dan efeknya serta menggunakannya untuk membuat keputusan bagi
diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis, atau kemampuan diri dan
mempunyai kepercayaan diri yang kuat lalu mengkaitkannya dengan sumber
penyebabnya.
b. Self management : Merupakan kemampuan menangani emosinya sendiri,
mengekspresikan serta mengendalikan emosi, memiliki kepekaan terhadap
kata hati, untuk digunakan dalam hubungan dan tindakan sehari-hari.
c. Motivation : Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat untuk setiap
saat membangkitkan semangat dan tenaga untuk mencapai keadaan yang
lebih baik serta mampu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif,
mampu bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
d. Empati (social awareness) : Empati merupakan kemampuan merasakan
apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif orang lain,
dan menimbulkan hubungan saling percaya serta mampu menyelaraskan diri
dengan berbagai tipe individu.
e. Relationship management : Merupakan kemampuan menangani emosi
dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan menciptakan serta
mempertahankan hubungan dengan orang lain, bisa mempengaruhi,
memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan dan bekerja sama
dalam tim.
2. Massa
Berdasarkan kamus lengkap psikologi, psikologi massa adalah pembelajaran
mengenai tingkah laku banyak orang atau kumpulan manusia mengenai kelompok-
kelompok yang terorganisir dengan luas. Sedangkan menurut Chaplin (1972),
psikologi massa adalah psikologi yang khusus mempelajari perilaku manusia
dalam loosely organized group.
Massa memiliki pengertian sendiri yaitu sekumpulan banyak orang
(ratusan/ribuan) yang berkumpul dalam suatu kegiatan yang bersifat sementara. Ada
beberapa tipe tentang massa menurut Mennicke (1984) yaitu, massa abstrak dan
massa kongkrit. Massa Abstrak adalah sekumpulan orang-orang yang sama sekali
belum terikat satu kesatuan, norma, motif dan tujuan.
Ada beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi yaitu:
a. Ada kejadian yang menarik
b. Kebutuhan tidak terpenuhi
c. Individu mendapat ancaman
Massa Kongkrit adalah massa yang mempunyai cirri-ciri :
a. Adanya kesatuan pikiran dan sikap
b. Bersifat dinamis dan emosional
c. Sifat massa jelas
d. Ada struktur yang jelas : di dalamnya telah ada pimpinan tertentu. Antara
massa abstrak dan massa konkrit kadang-kadang memiliki hubungan dalam arti
bahwa massa abstrak dapat berkembang atau berubah menjadi konkrit, dan
sebaliknya massa konkrit bisa berubah ke massa abstrak. Tetapi ada kalangan
massa abstrak bubar tanpa adanya bekas. Apa yang dikemukakan oleh Gustave
Le Bon dengan massa dapat disamakan dengan massa abstrak yang
dikemukakan oleh Mennicke, massa seperti ini sifatnya temporer, dalam arti
bahwa massa itu dalam waktu yang singkat akan bubar.
e. Adanya ikatan batin dan persamaan norma : adanya persamaan kehendak,
persamaan tujuan, persamaan ide, dan mereka memiliki peraturan sendiri,
kebiasaan sendiri dan sebagainya.
1). Sifat-Sifat Massa
Menurut Gustave le Ban, massa itu mempunyai sifat-sifat psikologi tersendiri.
Orang yang bergabung dalam suatu massa akan berbuat sesuatu, yang perbuatan
tersebut tidak akan dilakukan bila individu itu terkadang dalam suatu massa.
Sehingga massa itu akan mempunyai daya melarutkan individu dalam suatu massa,
melarutkan individu dalam jiwa massa.
Sedangkan menurut Allport (Lih Lindzey, 1959) sekalipun kurang dapat
menyetujui tentang collective mind, tetapi dapat mamahami tentang pemikiran
adanya kesamaan (conformity), tidak hanya dalam hal berfikir dan kepercayaan,
tetapi juga dalam hal kepercayaan (feeling) dan dalam perbuatan yang menampak
(overt behaviour). Di samping sifat-sifat yang telah disebutkan di atas massa itu
masih mempunyai sifat-sifat antara lain, yaitu:
a). Impulsif, ini berarti massa itu akan mudah memberikan respons terhadap
rangsang atau stimulus yang diterimanya. Karena sifat impulsifnya ini, maka massa
itu ingin bertindak cepat sebagai reaksi terhadap stimulus yang diterimanya.
b). Mudah sekali tersinggung. Karena massa itu mudah sekali tersinggung, maka
untuk membangkitkan daya gerak massa diperlukan stimuli yang dapat
menyinggung perassan massa yang bersangkutan.
c). Sugestibel, ini berarti bahwa massa itu dapat mudah menerima sugesti dati
luar.
d). Tidak rasional, karena massa itu sugestibel, maka massa itu dalam berindak
tidak rasional, dan mudah dibawa oleh sentimen-sentimen.
e). Adanya social facilitation (F. Allport) yaitu adanya suatu penguatan aktivitas,
yang disebabkan karena adanya aktivitas individu lain. Perbuatan individu lain dapat
merangsang/ menguatkan perbuatan individu lain yang trgabung dalam massa itu.
Menurut Tarde disebut imitation, sedangkan menurut Sighele disebut sugestion, dan
menurut Gustave Le Ban sebagai Contagionand suggestion, dan dalam suasana ini
terdapat suasana hipnotik (Lih. Lindzey, 1959)
3. Perilaku Agresif
Prabowo dan Riyanti (1998) mendefinisikan agresif sebagai tingkah laku yang
dijalankan oleh individu dengan maksud melukai atau mencelakakan individu lain
dengan ataupun tanpa tujuan tertentu. Prabowo dan Riyanti (1998) mendefinisikan
agresif sebagai tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun verbal terhadap individu
lain atau terhadap objekobjek.
Berdasarkan berbagai rumusan agresif yang telah dikemukakan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa tingkah laku agresif yaitu tingkah laku yang ditujukan
untuk melukai pihak lain yang dapat dilakukan secara fisik maupun verbal. Bentuk-
bentuk Perilaku Agresif, Murray (dalam Nurmaliah, 1995) mengelompokan bentuk-
bentuk perilaku agresif menjadi tiga yaitu :
a. Bentuk emosional verbal
b. Bentuk fisik bersifat sosial
c. Bentuk fisik bersifat anti sosial (fisik asosial)

Faktor Penyebab Perilaku Agresif
Prabowo dan Riyanti (1998) menyebutkan beberapa faktor penyebab agresif
yaitu frustasi, peghinaan verbal, kondisi yang tidak menyenangkan, dan faktor
kerelaan.
a. Frustasi
b. Penghinaan verbal
c. Kondisi yang tidak menyenangkan
d. Faktor kerelaan
Adapun Mutadin (2002) menyebutkan faktor-faktor penyebab perilaku agresif
pada remaja adalah :
a. Meniru orangtua
b. Orangtua membiarkan
c. Akibat acara-acara TV
d. Memendam perasaan marah
Menurut Dhevy (dalam Wibawa, 2000) tingkah laku agresif bersifat naluriah,
dengan bertambahnya usia anak, agresifitas mengalami perkembangan dan
perubahan dalam bentuk alasan, tujuan dan lainlain melalui proses belajar dalam
interaksi sosial, khususnya keluarga. Dalam keluarga perkembangan tingkah laku
agresif pada anak sangat dipengaruhi oleh orang tua karena keluarga maupun
lingkungan sosial anak yang pertama dan utama untuk dapat menyesuaikan diri
dilingkungan masyarakat.























BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan strategi penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif
dengan menggunakan paradigma fenomenologi. Menurut Moleong (2005), metode
penelitian kualitatif dalam paradigma fenomenologi berusaha memahami arti
(mencari makna) dari peristiwa dan kaitan-kaitannya dengan orang-orang biasa
dalam situasi tertentu. Strategi penyelidikan phenomenology, adalah penelitian untuk
menggambarkan, menyelidiki, menemukan serta memahami struktur esensi
fenomena (gejala) berdasarkan pengalaman yang dialami oleh individu (Himam,
2005).

B. Sampling
Sampling adalah sebuah metodologi untuk menyeleksi individu-individu
masuk ke dalam sampel yang representatif, sedangkan yang menjadi objek
sesungguhnya dalam penelitian disebut sampel. Menurut Chaplin (Muhadjir, 2007),
sampling merupakan proses memilih sampel, sedangkan sampel dapat diartikan
satu bagian dari keseluruhan yang telah dipilih dan sifatnya representatif.

C. Metode Pengambilan Data
Dalam proses pengambilan data, penulis harus memperhatikan beberapa hal
yang menjadi etika dalam penelitian kualitatif. Pertama harus ada informed consent,
yaitu persetujuan dari informan bahwa ia akan menjadi bagian dari penelitian.
Kedua, prinsip kerahasiaan, yaitu penulis akan menjamin kerahasiaan identitas
informan, kecuali informan tidak menuntut kerahasiaan identitas darinya. Ketiga
harus ada prinsip no harm, yaitu prinsip bahwa penelitian yang dilakukan tidak
membahayakan atau memungkinkan terjadinya bahaya terhadap informan.
Metode pengambilan data yang dilakukan adalah dengan metode wawancara
dan observasi. Setelah penulis memperoleh data dari kedua teknik tersebut, maka
data tersebut akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis isi (content
analysis). Berikut penjelasan mengenai kedua metode dalam pengambilan data :
1. Wawancara
Stainback (Sugiyono, 2010) mengemukakan bahwa dengan wawancara
penulis akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam
menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di mana hal ini tidak bisa
ditemukan melalui observasi.
Wawancara dalam penelitian kualitatif selalu bersifat semi terstruktur
karena selalu membawa jejak-jejak pola kekhasan yang bersifat mengatur segala
sesuatu dan sekaligus memperlihatkan kemampuan kreatif dari orang yang
diwawancarai atau rekan peneliti untuk menolak dan melawan apa yang ingin
diwujudkan oleh si peneliti (Parker, 2005).
Metode wawancara yang akan digunakan adalah wawancara semi
terstruktur, yaitu jenis wawancara yang dalam pelaksanaannya ada guide, ada
pedoman tetapi pertanyaannya ditanyakan secara semu, disesuaikan dengan
kondisi (Moleong, 2005). Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk
menemukan permasalahan secara terbuka, di mana pihak yang diajak
wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara,
penulis perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan
oleh informan. Hal ini dilakukan agar sifat pertanyaan tidak kaku atau ketat, serta
memungkinkan penggalian materi yang relevan.
2. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengevaluasi pertanyaan-pertanyaan informan
dalam hal validitas pernyataannya dengan perilaku-perilaku yang ditunjukkan.
Selain itu juga observasi difungsikan untuk mengungkap informasi yang mungkin
tidak bisa didapatkan dari proses wawancara.
Metode observasi dilakukan bersamaan dengan wawancara mengingat
kedua metode ini saling mendukung dalam mendapatkan data yang diinginkan.
Alasannya mengapa melakukan observasi atau pengamatan dikemukakan oleh
Guba dan Lincoln (Moleong, 2005), yakni karena teknik pengamatan ini
berdasarkan pengalaman secara langsung. Teknik pengamatan juga
memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan
kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan yang sebenarnya.

D. Desain Penelitian
Desain pada penelitian ini akan mengambil data pada siswa di dua sekolah
menengah di yogyakarta atas yang terkenal sering terjadi bentrok satu sama lain
berdasarkan informasi yang didapat dari teman satu kuliah serta dari beberapa
warga sekitar yang sering bercerita tentang bentrok antar siswa dua sekolah
menengah atas tersebut.
Responden berjumlah 4 orang, masing-masing 2 orang dari dua sekolah yang
terlibat. Responden merupakan orang yang sering terliabta secara langsung ketika
bentrok terjadi, dan merupakan orang yang memegang kendali ketika bentrok atau
diluar bentrok. Sarantoks (dalam Poerwandari 2009), menyatakan bahwa
pengambilan sampel secara teoritis menambahkan unit-unit baru dalam sampelnya,
sampai penelitian tersebut mencapai titik jenuh (saturation point), saat dimana
penambahan data dianggap tidak lagi memberikan tambahan informasi baru dalam
analisis.

E. Keterpercayaan Penelitan
Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila
tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang
sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Tetapi perlu diketahui bahwa
kebenaran realitas data menurut penelitian kualitatif tidak bersifat tunggal, tetapi
jamak dan tergantung pada kemampuan peneliti mengkonstruksi fenomena yang
diamati, serta dibentuk dalam diri seorang sebagai hasil proses mental tiap individu
dengan berbagai latar belakangnya.
Secara umum, uji kredibilitas atau keterpercayaan terhadap penelitian
kualitatif dapat dilakukan tidak hanya dengan satu metode akan tetapi banyak
metode. Menurut Sugiyono (2010), uji kredibilitas atau keterpercayaan terhadap data
penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan,
peningkatkan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman
sejawat, analisis kasus negatif, dan member check. Dalam penelitian ini, guna
mendapatkan suatu bentuk kredibilitas penelitian, penulis akan menggunakan
metode triangulasi. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai
pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu
(Sugiyono, 2010). Dalam penelitian kualitatif, data akan lebih diyakini kebenarannya
jika dua sumber atau lebih menyatakan hal yang sama.
Patton (Poerwandari, 2007), menyatakan bahwa triangulasi dapat dibedakan
dalam triangulasi data, triangulasi peneliti, triangulasi teori dan triangulasi metode.
Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan triangulasi data dan triangulasi
metode. Triangulasi data yaitu digunakannya variasi sumber-sumber data yang
berbeda. Data dari berbagai sumber berbeda dapat digunakan untuk mengelaborasi
dan memperkaya penelitian. Dalam penelitian ini Membandingkan data keadaan dan
perspektif informan penelitian dengan pandangan atau pendapat orang lain atau
orang-orang terdekat informan disebut sebagai significant person untuk mengecek
kembali apa yang dikatakan oleh informan penelitian. Sedangkan triangulasi
metode yaitu dipakainya beberapa metode yang berbeda untuk meneliti suatu hal
yang sama. Metode pengambilan data yang dilakukan penulis adalah dengan
metode wawancara dan observasi.
Keterpercayaan penelitian akan menjadi sangat penting karena akan
mempengaruhi hasil penelitian dan terutama hasil penelitian itu akan menjadi
sumber informasi tentang pengalaman dan kejadian yang dialami.






DAFTAR PUSTAKA

Arbidiati, RA Catur Wahyu., & Kurniati, Ni Made Taganing. 2007. Hubungan Antara
Kecerdasan Emosi Dengan Kecenderungan Problem Focused Coping Pada Sales. 2
: B24-B27.

Chaplin, J.P. 1981. Kamus Lengkap Psikologi. Penerjemah : Kartini Kartono. Jakarta
: PT Raja Grafindo Persada.

Herlinawati, N. 2008. Perilaku Agresif pada Remaja Putri yang mengalami ABUSE
oleh Ibu . 1-15

Moleong, L.J. (2004). Metodologi gabungan kuantitatif / kualitatif dan analisis data.
Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Nurmaliah, L. (1995). Persepsi terhadap suasana rumah, kelompok teman sebaya
dan kecenderungan perilaku agresif pada remaja penyalahgunaan narkotika. Skripsi.
Psikologi UGM Yogyakarta.

Poerwandari, E. (2009). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia.
Depok: LPSP3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Prabowo, H. & Riyanti, B.P.D. (1992). Psikologi umum 2. Seri Diktat Kuliah (Tidak
diterbitkan). Jakarta: Universitas Gunadarma.

Trihandini, R.A Fabiola Meirnayati. 2005. Analisis Pengaruh Kecerdasan Intelektual,
Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Karyawan (Studi
Kasus di Hotel Horison Semarang). Tesis. (tidak diterbitkan). Semarang : Program
Studi Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

Wibawa. (2000). Anak jalanan dan waktu luangnya (Studi kasus pada anak jalanan
di jakarta) Tesis (Tidak Diterbitkan). Depok: Universitas Indonesia.

Www.google.com/psikologimassa

Www.google.com/kecerdasanemosi