Anda di halaman 1dari 2

Critical Review materi pertemuan ke-4

Diplomatic Momentum
Sumber bacaan : G.R. Berridge, Diplomacy : Theory and Practice, Ch. 4
Nama : Zahwa Irsalina
NIM : 135120401111052
Kelas : A-3
Mata Kuliah : Negosiasi

Diplomatic momentum merupakan suatu tahap di mana munculnya kesepakatan tentang batas
waktu negosiasi. Dalam proses negosiasi, rawan akan terjadinya momen di mana negosiasi berhenti di
tengah-tengah jalan, dan bisa mengarah pada kegagalan. Momen seperti itu bisa disebabkan oleh
keragu-raguan negosiator yang kemudian menarik diri pada tahap formula stage, adanya penundaan
oleh salah satu negosiator secara disengaja, atau dikarenakan oleh kompleksnya proses negosiasi itu
sendiri. Untuk mencegah terjadinya hal ini, diperlukan beberapa strategi yang harus dilakukan oleh
negosiator.
Strategi yang harus dilakukan oleh negosiator agar momentum negosiasi tetap terjaga dan
tidak melemah adalah menetapkan deadline. Ada 3 macam tipe deadline; pertama, artificial deadline
adalah deadline yang ditetapkan untuk mengira-ngira seberapa lama proses negosiasi akan berjalan.
Jika ada yang tidak menepati penetapan deadline ini, tidak dikenai sangsi serius. Kecuali jika deadline
dipublikasikan di depan umum, reputasi negosiator yang tidak menepati deadline akan dianggap
buruk. Kedua, symbolic deadline yaitu deadline di mana negosiator menetapkannya sesuai dengan
sejarah yang diperingati pada hari itu. Misalnya deadline ditetapkan pada peringatan hari gencatan
senjata dan dipublikasikan, jika negosiator tidak memenuhi deadline pada hari itu reputasinya akan
sangat dipertanyakan dan dinilai tidak menghormati negosiator lain yang telah menepati deadline.
Contoh kasusnya adalah ketika Israel dan Palestina sepakat untuk gencatan senjata agar dapat
melanjutkan negosiasi. Jika salah satu dari kedua negara perang tidak menepati deadline ini, akan
muncul opini publik yang menilai bahwa negara tersebut tidak memiliki keinginan untuk berdamai,
dan besar kemungkinan untuk menjadi common enemy di dunia internasional. Kemudian yang
ketiga adalah practical deadline, yaitu deadline yang ditetapkan sesuai dengan jadwal event yang
akan diadakan pada hari itu. Termasuk jadwal pemilu, pembukaan konferensi, dan sebagainya. Dan
yang tidak kalah penting, deadline yang ditetapkan oleh negosiator haruslah realistis dan dapat
ditepati oleh negosiator lain.
Selanjutnya, strategi yang perlu dilakukan oleh negosiator adalah memberikan dorongan atau
motivasi kepada negosiator lainnya agar momentum negosiasi tidak hilang. Misalnya, meyakinkan
bahwa negosiasi nantinya akan memberikan hasil yang baik, dan mendorong para pendukungnya agar
tetap kondusif. Stimulasi ini mempengaruhi perilaku negosiator secara psikologis, walaupun terkesan
spekulatif. Publikasi juga penting untuk membentuk pandangan dunia internasional terhadap negara
yang sedang dalam momentum negosiasi, penting untuk memberikan kesan bahwa negosiasi berjalan
lancar dan sukses walaupun keadaan yang sebenarnya tidak. Dalam hal ini, dapat diambil contoh
Amerika Serikat dengan Iran. Pada saat Iran melakukan uji coba nuklir, AS merasa bahwa Iran dapat
mengancam keamanan dunia. Maka AS menggunakan soft power melalui media, menciptakan idea
bahwa Iran adalah negara yang mengancam stabilitas sistem internasional dengan nuklirnya. Dengan
begitu, masyarakat internasional terpengaruh dan muncul pandangan bahwa Iran adalah pihak yang
patut diwaspadai.
Strategi terakhir adalah membawa negosiator ahli untuk meningkatkan level negosiasi. Ada
beberapa keuntungan yang bisa didapat jika melakukan strategi ini. Jika ada keputusan yang rumit
bagi kedua belah pihak, akan ada kelonggaran waktu yang diselenggarakan oleh orang yang
berwenang sehingga meningkatkan tingkat optimisme negosiator. Kemudian bisa mempengaruhi
perilaku perwakilan-perwakilan kelompok yang diikutsertakan dan bagaimana dampaknya kepada
negosiator, memunculkan fresh idea ke dalam proses negosiasi, dan yang terakhir adalah memberikan
makna simbolis bahwa negosiasi mengalami kemajuan.
Menurut pendapat penulis, penetapan deadline adalah cara yang paling efektif agar
momentum negosiasi tetap terjaga. Dengan adanya deadline, kesempatan untuk tercapainya
agreement akan lebih besar. Apa yang terlihat tidak dapat dipertahankan, akan dapat dipertahankan
dengan adanya deadline. Deadline membuat para negosiator untuk berpikir dua kali karena mereka
tidak tahu kesempatan apa yang akan mereka lewatkan jika tidak menepatinya. Walaupun penetapan
deadline tidaklah kuat jika tidak diikuti oleh sanksi di belakangnya. Untuk itulah, perlu adanya sanksi
agar pihak yang bernegosiasi menganggap serius dan termotivasi untuk menjaga momentum negosiasi
demi mencapai sebuah final agreement.

Anda mungkin juga menyukai