Anda di halaman 1dari 92

i

HUBUNGAN POLA ASUH PERMISIF DENGAN


KEMANDIRIAN ANAK KELAS SATU SEKOLAH DASAR


SKRIPSI



Regina Clarinda Gunawan
06.40.0046







FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGI1APRANATA
SEMARANG
2010
Perpustakaan Unika
ii

HUBUNGAN POLA ASUH PERMISIF DENGAN
KEMANDIRIAN ANAK KELAS SATU SEKOLAH DASAR

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Psikologi
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Guna
Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi

Regina Clarinda Gunawan
06.40.0046



FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGI1APRANATA
SEMARANG
2010
Perpustakaan Unika
iii


Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi
Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
dan Diterima untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-Syarat Guna
Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi

Pada tanggal
( )

Mengesahkan
Fakultas Psikologi
Universitas Katolik Soegijapranata
Dekan,



(DR. Kristiana Haryanti)


Dewan Penguji :
1. Drs. D.P. Budi Susetyo, M.Si

2. Dra. Praharesti Eriany, M.Si

3. Lucia Trisni Widianingtanti, S.Psi., M.Si
Perpustakaan Unika
iv





Kupersembahkan Karya Terbaikku yang Sederhana ini untuk:
Bapa di Surga sebagai wujud rasa syukurku
Papi dan Mami,
juga semua orang yang selalu mendukung dan mendoakan semua
yang terbaik untukku.











Perpustakaan Unika
v

MOTTO

ruk uduu uruk puru dur kunu buuirqu,
kunu urqu biu ncruiukur iupi iuk biu
ncruuri ujurqu
!urrq oo !urrq oo !urrq oo !urrq oo

1ciiuwu dur bcujuiu,
cbub kiiu cnuu ncnbuui kcuuur
vcrior Durop, 8 iuur vcrior Durop, 8 iuur vcrior Durop, 8 iuur vcrior Durop, 8 iuur

kuiu Diu duun cuu uku,
nuku Diu ukur ncuiukur juurnu
nu .t nu .t nu .t nu .t








Perpustakaan Unika
vi

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas
kebaikan yang diberikan sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan
dengan baik. Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapat
banyak bantuan dan pengalaman berharga yang dapat dijadikan bekal dan
pembelajaran bagi penulis.
Dalam pembuatan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini
tidak dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu DR. Kristiana Haryanti, selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang yang memberikan penulis
dukungan dan masukan baik dalam studi maupun selama pembuatan
skripsi ini.
2. Ibu Lita Widyo Hastuti, S.Psi., M.Si., selaku dosen wali penulis yang
selalu bersedia memberikan waktunya untuk membimbing anak
walinya.
3. Ibu Praharesti Eriany, M.Si., selaku dosen pembimbing penulis yang
telah meluangkan waktunya dan memberikan bimbingan dengan penuh
kesabaran, perhatian, dukungan dan saran yang berguna bagi penulis.
4. Seluruh staI pengajar Fakultas Psikologi Universitas Katolik
Soegijapranata Semarang. Penulis mengucapkan banyak terima kasih
karena telah memberikan banyak ilmu yang berguna bagi penulis.

Perpustakaan Unika
vii

5. Seluruh staI tata usaha Fakultas Psikologi Universitas Katolik
Soegijapranata, Mas Gandi, Mas Supri, Mas Gi, Mbak Ike, Mbak Retno
dan Mbak Tati yang selalu memberikan bantuan dan kemudahan bagi
penulis dalam proses administrasi selama penulis menempuh studi.
6. Papi, Mami, Ko Victor, So Maya, Ci Nita, atas cinta, doa, perhatian dan
semangat dan segala dukungan yang diberikan kepada penulis.
7. Pendeta Evie Lanny selaku Kepala Sekolah SD YSKI II Semarang dan
Bapak Hantoyo sebagai Wakil Kepala Sekolah atas bantuan dan
kerjasama yang diberikan sehingga proses penelitian dapat berjalan
dengan lancar.
8. Semua Ncek, Ncim, Si Ko, dan An Tio dan semua sepupu yang selalu
mendukung dan mengingatkan penulis agar lulus secepat mungkin.
Terima Kasih.
9. Saudara Eddy Kurniawan yang sering merasa lelah dalam mendukung
penulis namun tetap pantang menyerah.
10. E-MIND, terlebih dalam bagi Devi, Nancy dan Ervina. Terimakasih
atas perhatian dan kesediaan kalian untuk mendukung, menyemangati,
dan mendengarkan semua keluh kesah penulis dari awal kuliah sampai
penulisan skripsi ini.
11. Teman-teman Sel Avila, Glojoh Communitv, dan KTM yang selalu
membagi suka dan duka dengan penulis tanpa bosan.
12. Semua teman-teman sekolah penulis yang selalu membuat penulis
termotivasi dengan melihat toga yang digunakan. Terima kasih karena
sudah menyemangati penulis.
Perpustakaan Unika
viii

13. Teman seperjuangan penulis Jovita, Ci Evi, Ci Lisa, Mas Dimas, dan
teman kos Santi Graha. Terimakasih buat semua bantuan dan
kerjasamanya.
14. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih atas
dukungan dan semangat sehingga penyusunan skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis memohon maaI atas segala
kekurangan dan keterbatasannya. Penulis terbuka untuk segala saran kritik
yang membangun. Demikian ucapan terima kasih ini penulis sampaikan,
semoga karya sederhana ini dapat bermanIaat bagi semua pihak.



Semarang, 2 Agustus 2010

Penulis







Perpustakaan Unika
ix

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1
B. Tujuan Penelitian......................................................................... 6
C. ManIaat Penelitian....................................................................... 6
1. ManIaat Teoritis........................................................................... 6
2. ManIaat Praktis ............................................................................ 7
BAB II TIN1AUAN PUSTAKA............................................................... 8
A. Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar ........................... 8
1. Pengertian Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar ......... 8
2. Aspek Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar ................ 9
3. Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Anak Kelas Satu
Sekolah Dasar ..........................................................................11
B. Pola Asuh PermisiI ................................................................... 15
1. Pengertian Pola Asuh PermisiI .................................................. 15
2. Aspek Pola Asuh PermisiI ......................................................... 16
3. Ciri-Ciri Pola Asuh PermisiI .................................. ....18
C. Hubungan antara Pola Asuh PermisiI dengan...............................
Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar................... ...19
D. Hipotesis.................................................................................... 23
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................... 24
A. Metode Penelitian yang Digunakan.......................................... 24
B. IdentiIikasi Variabel Penelitian................................................. 24
C. DeIinisi Operasional Variabel Penelitian.................................. 25
Perpustakaan Unika
x

1. Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar .......................... 25
2. Pola Asuh PermisiI .................................................................... 25
D. Subyek Penelitian...................................................................... 26
E. Metode Pengumpulan Data ....................................................... 26
1. Skala Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar ................ 27
2. Skala Pola Asuh PermisiI .......................................................... 29
F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur.......................................... 30
1. Validitas Alat Ukur .................................................................... 30
2. Reliabilitas Alat Ukur ................................................................ 31
G. Metode Analisis Data................................................................ 31
BAB IV PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN............ 33
A. Orientasi Kancah Penelitian...................................................... 33
B. Persiapan Penelitian .................................................................. 35
1. Penyusunan Alat Ukur ............................................................... 35
2. Permohonan Ijin Penelitian........................................................ 37
C. Pelaksanaan Uji Coba................................................................ 37
D. Pelaksanaan Penelitian.............................................................. 38
E. Uji Validitas dan Reliabilitas .................................................. 400
1. Skala Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar .............. 400
2. Skala Pola Asuh PermisiI ........................................................ 400
BAB V HASIL PENELITIAN................................................................ 42
A. Hasil Penelitian ......................................................................... 42
1. Uji Asumsi ............................................................................... 422
2. Uji Hipotesis ............................................................................ 433
B. Pembahasan............................................................................. 433
Perpustakaan Unika
xi

BAB VI PENUTUP................................................................................... 49
A. Kesimpulan ............................................................................... 49
B. Saran.......................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 50
LAMPIRAN ............................................................................................... 53




















Perpustakaan Unika
xii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Rancangan Jumlah Item Skala Kemandirian Anak Kelas Satu
Sekolah Dasar............................................................................... 28
Tabel 2 : Rancangan Jumlah Item Skala Pola Asuh PermisiI ..................... 29
Tabel 3 : Sebaran Item Skala Trvout Preliminer Kemandirian Anak Kelas
Satu Sekolah Dasar .................................................................... 36
Tabel 4 : Sebaran Item Skala Pola Asuh PermisiI....................................... 36
Tabel 5 : Sebaran Item Skala Kemandirian Anak Kelas Satu
Sekolah Dasar.............................................................................. 38
Tabel 6 : Sebaran Item Valid dan Gugur Skala Kemandirian Anak Kelas
Satu Sekolah Dasar..................................................................... 400
Tabel 7 : Sebaran Item Valid dan Gugur Skala Pola Asuh PermisiI....... .41











Perpustakaan Unika
xiii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A : SKALA PENELITIAN ................................................ 54
A-1 Skala Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar ............. 55
A-2 Skala Pola Asuh...................................................................... 58
LAMPIRAN B : DATA KASAR U1I COBA SKALA PENELITIAN. 60
B-1 Data Skala Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar.... .61
B-2 Data Skala Pola Asuh PermisiI............................................... 65
LAMPIRAN C : U1I VALIDITAS DAN RELIABILITAS................... 67
C-1 Skala Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar ............. 68
C-2 Skala Pola Asuh PermisiI ....................................................... 70
LAMPIRAN D : U1I ASUMSI ................................................................. 72
D-1 Uji Normalitas ........................................................................ 73
D-2 Uji Linieritas........................................................................... 74
LAMPIRAN E : ANALISIS DATA......................................................... 77
Analisis Korelasi Product Moment................................................ 78
LAMPIRAN F : SURAT PENELITIAN................................................. 79
F-1 Surat Ijin Penelitian................................................................. 80
F-2 Surat Keterangan Penelitian.................................................... 81
Perpustakaan Unika

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Usia enam sampai delapan tahun tergolong dalam Primarv grade
age. Perkembangan moral anak ditandai dengan meningkatnya kemampuan
untuk memahami masalah dari beberapa sudut pandang. Anak mampu
menerima peraturan dan dapat mereIleksikannya. Anak dapat mengenali
apa yang benar dan yang salah. Pada tahap ini pula, anak mengenal kata
hati yang menjadi pengawas anak untuk menerima tanggung jawab yang
lebih besar dan menjadi lebih mandiri. Anak berusia enam sampai tujuh
tahun merasa kesalahan kecil mereka merupakan kasus kriminal yang besar.
Dalam hal ini tugas orang dewasa adalah memberikan pengertian bahwa
kesalahan yang dibuat adalah wajar, dan membantu mereka
membetulkannya. Ketergantungan anak pada orang tua berkurang, namun
masih membutuhkan kedekatan dan pengasuhan (Bredekamp, 1997, h.147).
RugolI (Bredekamp, 1997) dalam Developmentallv Appropriate
Practice mengidentiIikasi pola anak usia lima sampai tujuh tahun adalah
bertanggungjawab jauh lebih besar dalam mengerjakan tugas sehari hari
seperti orang dewasa. Tugas ini meliputi mengancingkan baju, menyisir
rambut ataupun membereskan piring setelah makan.
Ketidakmandirian anak dirasakan beberapa keluarga di Indonesia
yang menumpahkan permasalahannya melalui blog di internet. Bapak
Perpustakaan Unika
2


Hidayat (2006) merasa terganggu apabila anaknya selalu minta ditemani
untuk tidur, meskipun usianya sudah siap memasuki SD. Seorang psikolog
klub buah hati, Risman (2007), mengatakan bahwa pada dasarnya anak
ingin dianggap bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Anak sangat
menikmati semua yang terjadi akibat yang mereka lakukan. Misalnya,
mereka senang bisa makan sendiri. Selain bisa bermain dengan makanan,
mereka juga bisa menikmati makanan yang berserakan. Kelakuan anak ini
sering dianggap menyusahkan orangtua. Orangtua harus membereskan
semua makanan yang berserakan dan meja yang kotor sebagai akibat
perilaku anak. Kebanyakan orangtua kemudian memilih untuk menyuapi
anaknya agar cepat selesai dan tidak kotor. Hasuki (2010) menambahkan
pada usia ini kemampuan kognitiInya sudah kian berkembang.
kemampuannya menyontoh, berinteraksi, maupun memahami instruksi
sangat mendukung perkembangan kemandiriannya.
Contoh perilaku mandiri lainnya pada anak usia ini adalah: berganti
pakaian sendiri, anak mampu memakai baju berkancing dan mampu
memakai celana sendiri terutama celan karet. Menginjak usia tujuh tahun,
anak mulai belajar bagaimana berpakaian dengan baik. Mulai dari
memasukkan baju ke dalam celana, memakai ikat pinggang, merapikan
kerah, mengaitkan kancing celana dan menarik risletingnya. Perilaku
mandiri anak lainnya adalah anak makan sendiri, mengambil lauk sendiri
dan mengambil keputusan seberapa banyak nasi yang akan dihabiskannya.
Pada usia ini, anak mampu memilih teman-teman bermainnya. Anak
mampu menentukan dengan siapa anak mau ataupun tidak mau berteman.
Ketika di Sekolah anak mampu membawa tas sekolah sendiri, meletakkan
Perpustakaan Unika
3


sepatu di raknya. Anak mampu bersekolah, bermain, dan bersosialisasi
tanpa pendampingan orang tua lagi(Hasuki, 2010).
Drost (1998, h.63), mengemukakan bahwa peran orang tua dalam
membimbing adalah sebagai pendidik utama untuk mempersiapkan anak
menghadapi dunia pendidikan Iormal. Hal ini sesuai dengan usia enam
tahun dimana anak memasuki saat pertama kali mendapatkan pendidikan
Iormal yang berbeda dengan prasekolah. Pendidikan Iormal lebih disiplin,
dan lebih banyak tugas akademik yang diberikan dibanding saat anak
menempuh pendidikan prasekolah.
Peran orangtua adalah membangun rasa mandiri dan percaya diri
anak dengan pengakuan, pujian, juga dorongan yang menimbulkan rasa
percaya diri. Jika pada tahap ini seorang anak tidak mendapatkan dukungan
keluarganya, maka yang terjadi adalah berkembangnya rasa ragu-ragu.
Namun jika anak mampu mengembangkan rasa percaya diri dan sikap
mandiri, maka anak akan berani mengambil inisiatiI untuk secara bebas
melakukan segala sesuatu atas kemauan sendiri. Keluarga dapat mendorong
hal ini dengan memberikan kesempatan untuk menentukan sendiri apa yang
ingin dilakukan anak. Kemandirian anak sudah harus tumbuh sejak dini
agar kepercayaan dirinya bisa tumbuh dan berkembang dengan wajar.
Wahyuni (2001, h.71), menyatakan bahwa seorang anak merasa
perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi
mandiri. Maka dari itu anak harus diberi kesempatan dan kebebasan untuk
menjadi dirinya sendiri agar anak dapat bertumbuh dan berkembang secara
Iisik maupun psikis, sebagaimana mestinya. Dengan dorongan jiwanya
Perpustakaan Unika
4


sendiri, anak memang membutuhkan berbagai peluang dan kesempatan
untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Anak-anak tidak perlu dipaksa
atau didesak agar menjadi mandiri. Kemandirian tumbuh sejalan dengan
pertambahan usia, dan setiap tekanan atau paksaan cenderung menghambat
tumbuhnya kemandirian anak. Anak akan belajar mandiri apabila anak
sudah cukup matang dan sudah ada dorongan dari dalam jiwanya untuk
mandiri.
Ketergantungan dalam diri anak pada umumnya mengarah pada
bentuk sikap yang negatiI baik saat anak berinteraksi dengan lingkungan
pada umumnya saat ini maupun ketika anak tersebut beranjak dewasa,
sementara salah satu tujuan personel individu yang telah dewasa adalah
mencapai kemandirian (independencv) atau ketiadaannya ketergantungan
pada orang lain secara berlebihan. Ketergantungan pada anak akan
mempengaruhi kemandirian individu dalam pengambilan keputusan,
pemenuhan kebutuhan ekonomi, maupun interaksi dengan orang lain.
Orangtua terkadang tidak sadar melakukan pengasuhan yang membuat anak
menjadi tidak mandiri. Kemandirian pada anak hakikatnya harus dilatih
sejak dini, sehingga orangtua yang menunda melatih kemandirian anak
cenderung mengalami kesulitan di kemudian hari.
Pola asuh otoriter merupakan gaya pengasuhan yang membatasi dan
menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah orang tua dan
menghormati pekerjaan dan usaha. Orangtua yang otoriter menetapkan
batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar kepada anak
untuk bermusyawarah. Dalam sebuah studi disiplin awal yang terlalu kasar
Perpustakaan Unika
5


diasosikan dengan agresi anak. Dua pola asuh yang lain adalah Pola asuh
otoritatiI dan pola asuh permisiI.
Pola asuh otoritatiI mendorong anak agar mandiri tetapi masih
menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan mereka.
Pengasuhan otoritatiI diasosiasikan dengan kompetensi sosial anak-anak.
Pola asuh yang terakhir adalah pola asuh permisiI. Pola asuh permisiI gaya
pengasuhan di mana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak-anak
mereka tetapi menetapkan sedikit batas atau kendali. Keterlibatan orangtua
dalam membebaskan anak mereka, menjadikan anak tidak belajar
mengendalikan perilaku mereka dan selalu mengharapkan kemauannya
dituruti. Beberapa orangtua berpendapat bahwa anak yang sedikit dikekang,
akan menghasilkan anak yang kreatiI dan percaya diri (Santrock, h.257).
Dorongan dalam diri anak untuk mandiri dipengaruhi oleh pola
pendidikan yang diterapkan orangtua di rumah. PermisiIitas merupakan
pola asuh yang umumnya dilakukan di sebagian besar masyarakat dewasa
ini, meskipun pola asuh permisiI ini lebih banyak membawa berbagai
dampak yang negatiI pada perkembangan anak di kemudian hari. Pola
pengasuhan permisiI ini pada dasarnya membolehkan anak berbuat apa saja
selama komunikasi di antara orangtua dan anak berlangsung dengan lancar.
Orangtua memiliki kehangatan dan menerima anak apa adanya. Kehangatan
dalam pola asuh permisiI ini hanya saja lebih bermakna cenderung
memanjakan anak dan menuruti segala keinginan anak, dibandingkan
dengan menerima kondisi anak apa adanya. Oleh karena itu pola asuh ini
dapat mengakibatkan anak mengembangkan sikap agresiI, impulsiI, manja,
Perpustakaan Unika
6


kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, kurang matang
secara sosial, tidak patuh pada orang tua, sok kuasa, kurang mampu
mengontrol diri dan kurang intensiI ketika mengikuti pelajaran sekolah baik
tingkat perhatian di dalam kelas maupun kehadiran di sekolah (Mutaqqin,
2010).
Pola asuh permisiI secara kontradiksi nampaknya kurang sesuai bagi
anak yang memiliki karakteristik kepribadian yang terbuka pada umumnya,
karena pola asuh semacam ini mengakibatkan anak menjadi tidak
mempunyai pegangan dalam melakukan sesuatu karena terlalu dibebaskan.
Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi individu yang tidak
bertanggungjawab, tidak mampu mengontrol perilakunya, bingung, cemas,
dan merasa tidak aman, anak merasa tidak bahagia karena hubungan dengan
orang tuanya tidak hangat dan merasa orang tuanya tidak memperhatikan
(Hurlock, 1999). Berdasarkan persoalan tersebut maka penulis tertarik dan
bermaksud untuk mengadakan penelitian mengenai kemandirian anak
ditinjau dari pola asuh permisiI.

B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh
permisiI dengan kemandirian anak kelas satu sekolah dasar.

C. Manfaat
ManIaat teoritis : Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan
ilmu Psikologi Perkembangan, dan Psikologi Pendidikan
Perpustakaan Unika
7


ManIaat praktis : Memberikan bahan reIerensi bagi orangtua dan
guru untuk meningkatkan kemandirian pada anak.
Perpustakaan Unika

8

BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA

A. Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar.
1. Pengertian Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar.
Setiap manusia diharapkan untuk selalu menjadi lebih baik dan lebih
maju, terlebih lagi apabila memasuki lingkungan yang baru dan lebih luas.
Kepribadian seseorang perlu dikembangkan untuk menghadapi masalah di
masa datang. Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian penting
bagi seorang manusia. Lepasnya kebutuhan seseorang untuk bergantung
pada orang lain merupakan sebuah Iase yang penting agar dapat mandiri
dan bertanggung jawab dalam mengambil tindakan.
Kemandirian adalah kebebasan untuk memilih, memerintah dan
mengatur dirinya sendiri dan ditandai dengan kepercayaan diri seperti yang
diungkapkan dalam Kamus Psikologi (Chaplin, 1993, h.48).
Masrun (Yessica, 2008) mengatakan kemandirian adalah perilaku
yang ditujukan dengan adanya kemampuan untuk mengambil inisiatiI,
kemampuan mengatasi masalah, penuh ketekunan, memperoleh kepuasan
diri dalam usaha sendiri serta berkeinginan mengerjakan sesuatu tanpa
bantuan orang lain. Masrun dkk, juga menambahkan bahwa kemandirian
menjadi begitu penting dalam kehidupan seseorang, karena dengan
kemandirian sesorang berusaha untuk menyesuaikan diri secara aktiI
Perpustakaan Unika
9


dengan lingkunganya, sebaliknya ia akan banyak menerima pengaruh dari
lingkungan dan dikuasai oleh lingkungan.
Menurut Barnadib (Tin, 2003), kemandirian meliputi perilaku
mampu berinisiatiI, mampu mengatasi hambatan/ masalah, mempunyai rasa
percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.
Pendapat ini diperkuat oleh Kartini dan Dali (Mu`tadin, 2002) yang
mengatakan bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala
sesuatu bagi diri sendiri. Menurut Bredekamp (1997, h.142), kemandirian
anak bermakna bahwa anak mampu melakukan Iungsi sosialnya secara
bertanggungjawab, mendapatkan watak positiI dari pembelajaran seperti
rasa ingin tahu, inisiatiI, ulet atau tekun, berani mengambil resiko, dan
melakukan regulasi diri terutama dalam hal pengelolaan emosi.
Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli di atas mengenai
kemandirian anak kelas satu sekolah dasar, maka dapat disimpulkan bahwa
kemandirian adalah kemampuan anak untuk berinisiatiI, memiliki rasa ingin
tahu, ulet, mengatasi masalah dengan bertanggung jawab, mengatur dirinya
sendiri tanpa bantuan orang lain terutama dalam mengelola emosi-emosinya
secara wajar.
2. Aspek Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar
Dalam kurikulum 2004, Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak,
disajikan kompetensi yang menunjukkan sikap kemandirian anak pada
umumnya, yakni sebagai berikut (Depdiknas, 2004, h.4):
a. Anak dapat menunjukkan rasa percaya diri. Sikap ini dapat dilihat dalam
kegiatan belajar sehari-hari, seperti berani bertanya secara sederhana, mau
Perpustakaan Unika
10


mengemukakan pendapat secara sederhana, mampu mengambil keputusan
secara sederhana dan mengerjakan tugas sendiri.
b. Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri,
sikap ini dapat ditunjukkan anak dalam kegiatan menggosok gigi, makan
minum sendiri, memakai sepatu sendiri, berpakaian sendiri, memelihara
milik sendiri.
c. Anak terbiasa menjaga lingkungan. Sikap ini ditunjukkan anak dalam
kegiatan sehari-hari seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak
mencoret-coret tembok, membantu membersihkan lingkungan kelas.
Masrun dkk (Yessica, 2008) memiliki pendapat mengenai aspek dari
kemandirian individu, yaitu:
a. Bebas
Ditunjukan dengan tindakan anak yang disesuaikan dengan keinginan
sendiri tanpa pengaruh dan paksaan orang lain, dan juga tanpa bantuan
orang lain, sehingga tidak tergantung dengan orang lain.
b. InisiatiI
Munculnya ide anak untuk menghadapi dan memecahkan masalah yang
menjadi problemnya secara bebas.
c. Gigih
Hal ini diartikan anak tanpa putus asa berusaha dengan tekun mengajar
prestasi dan merealisasikan harapan-harapannya.


Perpustakaan Unika
11


d. Percaya Diri
Anak dengan mantap dan penuh kepercayaan terhadap kemampuan dirinya
sendiri.
e. Pengendalian Diri
Kemampuan diri untuk menyesuaikan keinginan sendiri dan mempengaruhi
lingkungan atau memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam rangka
menyelesaikan problem yang dihadapi.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan aspek kemandirian
yang diambil untuk penelitian ini yaitu bebas, inisiatiI, percaya diri, dapat
melakukan pengendalian diri dan mampu menjaga kebersihan diri dan
lingkungan.
3. Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Anak Kelas Satu
Sekolah Dasar
Nuryoto (1993, h.53) mengungkapkan Iaktor yang mempengaruhi
kemandirian, seperti tahap perkembangan, peran jenis, kecerdasan,
lingkungan tempat tinggal, perlakuan orang tua terhadap anak, sosial
ekonomi keluarga, dan jenis kelamin.
Masrun dkk (Yessica, 2008) menunjukkan Iaktor-Iaktor yang
berpengaruh pada kemandirian seseorang adalah:
a. Pola asuh orangtua dalam keluarga
Terdapat tiga gaya pengasuhan menurut Baumrind, Johnson &
Medinnus (Wahyuni, 2001) yaitu: pola asuh autoritatiI, pola asuh otoriter,
pola asuh permisiI.
Perpustakaan Unika
12


i) Pola asuh autoritatiI
Orangtua dengan pola asuh ini memiliki pengawasan dan kontrol yang baik
terhadap anakanaknya, menerima komunikasi dengan anak, memberi kasih
sayang, penghargaan terhadap kesusksesan yang dicapai anak. Selain itu
orangtua juga membatasi tingkah laku anak-anak dengan jelas, tegas dan
konsisten. Pola asuh ini menjadikan anak sebagai individu yang penuh
inisiatiI, tidak takut, dapat mengembangkan perasaan dengan bebas dan
percaya diri. Anak yang memiliki kemandirian tinggi adalah mereka yang
berasal dari keluarga dengan orangtuanya dapat menerima anaknya dengan
positiI (Bee, 2006).
ii) Pola asuh otoriter
Pola asuh ini menitik beratkan pada disiplin yang penuh (bahkan cenderung
berlebihan), menganggap kepatuhan sebagai kebaikan, kurang hangat,
sering menghukum tanpa alasan yang jelas, dan tidak mengharapkan
komunikasi timbal balik dengan anak-anaknya. Selain itu orangtua jarang
memberikan reward (misalnya: pujian) bila anak sukses dalam melakukan
suatu hal dan sangat dominan dalam menentukkan sesuatu. Akibat pola
asuh ini, anak menjadi individu yang pasiI, acuh tak acuh, agresiI, mudah
putus asa, takut, tergantung dengan orang lain, tidak percaya diri, tidak
mampu mengontrol diri, dan daya kreatiI tidak berkembang.
iii) Pola asuh permisiI
Pola asuh ini menerapkan aspek kebebasan. Pola asuh ini bercirikan
orangtua terlalu lunak pada anak-anaknya, tanpa memberikan norma yang
Perpustakaan Unika
13


jelas dan tegas (tidak membatasi perilaku anak), kurang menuntut, selalu
mengiyakan dan menerima keinginan anak.
b. Usia
Individu yang memasuki primarv age vear sudah mampu memenuhi
kebutuhan dasarnya lepas dari bantuan orang dewasa, namun dengan
pengawasan untuk menjamin keselamatan anak.
c. Pendidikan
Pendapat Suryabrata (2005, h.235) mengemukakan bahwa pendidikan
adalah usaha manusia yang dengan penuh tanggungjawab membimbing
anak didiknya menuju ke kedewasaan sebagai manusia. Pendidikan yang
dialami seseorang tidak harus didapat dari pendidikan Iormal. Pendidikan
inIormal secara tidak langsung telah membawa individu kepada suatu
bentuk usaha dari lingkungan keluarga dalam kelompok teman sebaya.
Pendidikan inIormal dialami anak saat bereksperimen dan mencoba sesuatu
yang belum pernah dialami sebelumnya. Semakin sedikit kesempatan anak
untuk bereksperimen mengakibatkan rendahnya tingkat kemandirian.
d. Urutan Kelahiran
Urutan kelahiran dalam sebuah keluarga memiliki ciri bagi setiap anak yang
mungkin disebabkan oleh perlakuan dan perhatian yang berbeda bagi tiap
anak.
Sindrom urutan kelahiran anak pada umumnya dirangkum oleh
Hurlock (1995). Anak pertama merasa tidak pasti, manja, membutuhkan
aIiliasi, tergantung, sangat terdorong berprestasi dan mudah dipengaruhi.
Perpustakaan Unika
14


Anak kedua lebih mandiri, suka bertualang dan mudah menyesuaikan diri.
Anak tengah cenderung rendah diri dan merasa tidak mampu. Anak bungsu
lebih cenderung manja, rendah diri, tidak matang namun mampu berempati.
e. Jenis kelamin
Anak laki-laki dan perempuan terlibat dalam jenis permainan yang berbeda.
Anak perempuan didorong untuk lebih pandai mengasuh dan lebih
emosional, sedangkan anak laki-laki cenderung terlibat dalam pemainan
yang lebih agresiI. Semenjak kecil anak perempuan diperkenalkan bahwa
urusan domestik merupakan tanggung jawabnya. Pada usia ini perbedaan
bantu diri di antara keduanya belum terlalu tampak. Hal ini akan tampak
lebih jelas pada usia yang lebih besar. Menghilangkan stigma yang tercipta
dalam masyarakat dan memberi kesempatan yang sama akan memperkecil
perbedaan kemandirian antara anak laki-laki dan anak perempuan
(Santrock, h. 281).
I. Inteligensi
Anak yang cerdas akan memiliki metode yang praktis dan tepat dalam
memecahkan setiap masalah yang sedang dihadapinya, sehingga akan cepat
mengambil keputusan untuk bertindak. Hal ini menunjukkan adanya
kemandirian dalam menyelesaikan masalah.
g. Interaksi Sosial
Anak usia lima sampai tujuh tahun tidak hanya mengerti sudut pandang dari
diri sendiri, namun juga sudut pandang orang lain sehingga mempengaruhi
pengertian mengenai dirinya. Self-esteem mereka juga mulai menjadi
realistis dan akurat. Anak mulai menyadari batas kemampuannya.
Perpustakaan Unika
15


Dari penjelasan di atas maka dapat dijelaskan bahwa Iaktor-Iaktor
yang dapat mempengaruhi kemandirian antara lain pola asuh orangtua
dalam keluarga, usia, pendidikan, urutan kelahiran, jenis kelamin,
inteligensi dan interaksi sosial.

B. Pola Asuh Permisif
1. Pengertian Pola Asuh Permisif
Santrock (h.465, 2002) mengatakan bahwa pola asuh permisiI
(Indulgent Parenting) merupakan pola asuh yang melibatkan orangtua
sepenuhnya, dan dengan tuntutan juga kontrol yang sedikit.
Mayke (2000) mengatakan bahwa pola asuh ini memperlihatkan
bahwa orangtua cenderung menghindari konIlik dengan anak, sehingga
orangtua banyak bersikap membiarkan apa saja yang dilakukan anak.
Haith (Mutaqqin, 2010) mendeIinisikan pola asuh permisiI
merupakan pola asuh yang sedikit kehangatan dan juga sedikit kontrol,
menyediakan sedikit perhatian, minat ataupun dukungan emosional kepada
anak.
Hurlock (2002) menyatakan bahwa orangtua yang permisiI tidak
membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial dan tidak
menggunakan hukuman. Anak dibiarkan meraba-raba dalam situasi yang
sulit ditanggulangi oleh anak tanpa bimbingan atau pengendalian.
Perpustakaan Unika
16


Markum di dalam Sararock (2010) mengatakan bahwa pola asuh
permisiI adalah kebalikan dari pola asuh otoritatiI. Dalam pola asuh seperti
ini, orangtua bersikap demokratis dan penuh kasih sayang. Namun, di sisi
lain kendali orangtua dan tuntutan berprestasi terhadap anak itu rendah.
Anak dibiarkan berbuat sesukanya tanpa beban kewajiban atau target apa
pun.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pola asuh
permisiI merupakan pola asuh yang melibatkan orangtua sepenuhnya,
namun dengan tuntutan dan kontrol yang sedikit untuk menghindari
konIlik, perhatian, kehangatan dan minat pada anak juga sangat sedikit,
sehingga anak merasa tidak diperhatikan.
2. Aspek- Aspek Pola Asuh Permisif
Olson (Adriani, 2005) menyebutkan dua aspek dari pola asuh
permisiI, yaitu:
a. Otoritas
Orangtua yang permisiI memberikan otoritasnya kepada anak-anak. Mereka
dibiarkan bebas bertindak sesuai keinginan sendiri.
b. Pengabaian keputusan
Anak diasuh dengan pola asuh permisiI dibiarkan untuk mengambil
keputusan sendiri tanpa bimbingan orangtua.


Perpustakaan Unika
17


Menurut Hurlock (2002, h.125), aspek-aspek pola asuh permisiI
orangtua meliputi:
a. Kontrol anak sangat longgar
Setiap keluarga memiliki peraturan dalam mendidik anak. Kontrol terhadap
anak yang kurang ditunjukkan dengan aturan yang tidak jelas dan pasti.
Tidak adanya pengarahan perilaku anak sesuai dengan norma masyarakat
sehingga anak berperilaku semaunya. Orangtua tidak menaruh perhatian
dengan siapa saja anak bergaul.
b. Pengabaian Keputusan
Kontrol, aturan, hukuman dan hadiah tidak tampak dalam pola asuh ini. Hal
ini akan membuat anak mengambil keputusan sendiri tanpa tanya terlebih
dulu pada orangtua. Orangtua juga membiarkan anak untuk memutuskan
segala sesuatu sendiri, tanpa adanya pertimbangan dari mereka.
c. Orangtua bersiIat masa bodoh
Sikap orangtua dengan memberikan kebebasan tanpa batas kepada anak
menceminkan bahwa orangtua bersikap masa bodoh dengan perkembangan
anak. Orangtua menyerahkan pengambilan keputusan kepada anak.
Orangtua tidak peduli dengan anak, dan tidak adanya hukuman bagi
perilaku anak yang tidak sesuai dan hadiah bagi perilaku anak yang tepat.
d. Pendidikan bersiIat bebas
Mengenai kebebasan anak untuk memilih ekstrakulikuler sesuai keinginan
anak, maupun keinginan anak untuk berangkat sekolah maupun tidak. Anak
Perpustakaan Unika
18


tidak diberi nasihat ketika anak berbuat salah, dan orangtua kurang
memperhatikan pendidikan moral anak.
Berdasarakan aspek-aspek diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
aspek-aspek pola asuh permisiI adalah kontrol terhadap anak sangat
longgar, pengabaian keputusan, orangtua bersiIat masa bodoh, dan bersiIat
bebas dalam mendidik anak.
3. Ciri-Ciri Pola Asuh Permisif
Menurut Hurlock (1999) ciri pola asuh permisiI adalah:
a). Tidak ada bimbingan maupun aturan yang ketat dari orangtua
b). Tidak ada pengendalian atau pengontrolan serta tuntutan kepada anak.
c). Anak diberi kebebasan dan diizinkan membuat keputusan untuk dirinya
sendiri.
d). Tidak ada kontrol dari orangtua.
e). Anak harus belajar sendiri untuk berperilaku dalam lingkungan sosial.
I). Anak tidak akan dihukum meskipun melanggar peratruran.
g). Tidak diberi hadiah jika berprestasi atau berperilaku sosial yang baik
Stewart dan Koch (Panji, 2006) menyatakan ciri-ciri pola asuh
permisiI adalah:
a. Orangtua yang mempunyai pola asuh permisiI cenderung selalu
memberikan kebebasan pada anak tanpa memberikan kontrol sama sekali.
Perpustakaan Unika
19


b. Anak dituntut atau sedikit sekali untuk suatu tanggung jawab, tetapi
mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa.
c. Anak diberi kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri dan orangtua
tidak banyak mengatur anaknya.
Barnadib (Adriani, 2005) menyatakan bahwa orangtua yang permisiI
yaitu:
a. Kurang tegas dalam menerapkan peraturan-peraturan
b. Anak diberikan kesempatan sebebas-bebasnya untuk berbuat dan
memenuhi keinginannya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan ciri-ciri orangtua
yang menerapkan pola asuh permisiI adalah: tidak ada bimbingan ataupun
pengendalian dari orangtua secara tegas, anak dibebaskan untuk membuat
keputusannya sendiri, anak belajar berperilaku sendiri dalam lingkungan
sosial, anak tidak dihukum maupun diberi hadiah.

C. Hubungan Pola Asuh Permisif dengan Kemandirian Anak Kelas
Satu Sekolah Dasar
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam
menumbuh kembangkan anak. Peran keluarga menjadi begitu penting
dalam membentuk beberapa sikap dasar yang akan menentukan
perkembangan kepribadiannya di masa depan. Pada tahap awal
perkembangan, peran keluarga yang utama adalah memberikan perhatian
dan memenuhi kebutuhan rasa aman bagi anak sehingga anak mampu
mengembangkan dasar kepercayaan terhadap lingkungan. Kemandirian
Perpustakaan Unika
20


anak sudah harus tumbuh pada usia prasekolah agar kepercayaan dirinya
bisa tumbuh dan berkembang dengan wajar. Seorang anak merasa perlu
untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri.
Menurut Bandura dikatakan bahwa tingkah laku itu dapat dipelajari melalui
melihat. Kemandirian merupakan sebuah tingkah laku yang dapat dipelajari
(Kiswanti, 2005).
Kemandirian anak adalah kemampuan anak untuk berinisiatiI,
memiliki rasa ingin tahu, ulet, mengatasi masalah dengan bertanggung
jawab, mengatur dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain terutama dalam
mengelola emosi-emosinya secara wajar.
Anak yang mandiri merasa bebas, memiliki inisiatiI, memiliki rasa
percaya diri, dapat melakukan pengendalian diri dan mampu menjaga
kebersihan diri dan lingkungan. Nilai kebebasan yang terkandung dalam
kemandirian anak membuat anak bebas untuk bereksperimen. Orangtua
yang permisiI berusaha agar komunikasi dengan anaknya selalu lancar,
sehingga orangtua enggan untuk menolak permintaan anak yang akan
menyebabkan tangisan histeris maupun jeritan. Orangtua permisiI tidak
dibatasi oleh aturan-aturan yang mengikat anak. Anak bebas melakukan apa
saja tanpa pengawasan dari orangtua baik hal yang positiI maupun negatiI.
Anak juga bebas meminta bantuan dari orang lain dan bebas untuk tidak
berusaha. Anak tidak perlu berusaha merasa nyaman, dan terus meminta
bantuan dari orang lain. Anak menjadi tidak memiliki kesempatan untuk
mencoba sendiri dan meraskan kegagalan maupun keberhasilan. Pujian dari
Perpustakaan Unika
21


orangtua sebagai penguat perilaku tidak muncul karena keberhasilan anak
bukan dari usaha anak tetapi hasil dari bantuan orang lain.
Anak memiliki insiatiI yang didukung sepenuhnya oleh orangtua,
untuk dilaksanakan, tetapi tidak ada pengawasan dari orangtua. Anak
melakukan inisiatiI tanpa kontrol dari orangtua, sehingga inisiatiI anak
beresiko tidak tepat. InisiatiI anak yang tidak tepat, ataupun yang tepat,
tidak mendapatkan penguatan. Hal ini akan mengakibatkan anak menjadi
bingung karena tidak ada respon dari orangtua yang masa bodoh dengan
perilaku anak (Hurlock, 1999).
Orangtua yang permisiI tidak memberikan sebuah model dari perilaku
gigih bagi anak. Orangtua lebih memilih mengikuti kemauan anak daripada
menjaga konsistensi dalam mendidik anak. Anak menjadi semaunya
sendiri, karena mengetahui bahwa orangtuanya akan 'menyerah bila ia
menangis (Wiryono, 2008). Hal ini akan dilakukan anak sebagai senjatanya.
Anak yang diasuh dengan pola permisiI, bebas untuk memilih berusaha
dengan gigih, cukup gigih atau tidak perlu berusaha sama sekali. Orangtua
yang permisiI mengabaikan dan tidak membangkitkan semangat kegigihan
anak, karena merasa bahwa kegigihan akan terbentuk seiring berjalannya
waktu.
Rasa percaya diri anak akan muncul ketika anak didengarkan, diberi
kesempatan untuk mencoba, dan merasakan penguatan perilaku. Penguatan
perilaku bisa berupa motivasi untuk mencoba lagi bila perilaku sebelumnya
belum berhasil, ataupun pujian bagi perilaku yang berhasil, agar perilaku
tersebut diulang kembali. Penguat perilaku tidak muncul apabila anak
Perpustakaan Unika
22


belum pernah mencoba perilaku tersebut, maupun orangtua yang tidak
mengawasi perkembangan perilaku anak. Anak menjadi tidak mampu
mengembangkan rasa percaya diri karena tidak adanya penguat perilaku.
Orangtua dengan pola asuh permisiI tidak mengarahkan anaknya
dalam pendidikan moral yang tepat. Orangtua mengabaikan peran hukuman
dan hadiah dalam pembentukan perilaku anak. Orangtua memberikan
kebebasan pada anak untuk mengatur dirinya sendiri. Anak berusia enam
tahun memilih cara yang mudah dan menyenangkan. Pengasuh yang
diberikan oleh orangtua memudahkan pemenuhan kebutuhan anak sehari-
hari. Pengasuh seringkali permisiI dan tidak mengoreksi kesalahan dari
anak karena merasa posisinya inIerior. Di sisi lain orangtua bersikap cuek
dalam menghadapi situasi ini. Anak yang terus menerus meminta bantuan
dari pengasuh akan menjadi tidak mampu mengontrol perilakunya dan juga
emosinya (Hurlock, 1999). Anak akan meminta sesuatu dengan merengek,
menangis sampai permintaanya terkabul. Orangtua yang permisiI segera
mengabulkan permintaan anaknya, sehingga anak menjadi tidak terkontrol
secara emosional maupun perilakunya.
Berdasarkan uraian di atas nampaknya pola asuh permisiI
mempengaruhi kemandirian anak. Hasil penelitian yang menyimpulkan
bahwa, pola asuh mempengaruhi kemandirian anak dalam belajar sebesar
63,92,dan 15,83 untuk pola asuh permisiI yang menyebabkan anak
mandiri dalam belajar di usia yang lebih tua (Astuti, 2005). Bagi anak yang
tertutup pola asuh ini cukup sesuai karena anak bebas bereksplorasi dengan
pengawasan yang terbatas dari orangtua. Kemandirian juga dapat dipelajari
Perpustakaan Unika
23


melalui proses meniru tingkah laku orang lain yang dilihat, baik dilakukan
secara sadar maupun tidak sadar. Contoh dan pengarahan yang baik dari
orangtua tentu akan menumbuhkan kemandirian anak berkembang dengan
sewajarnya. Anak yang tidak mandiri akan menjadi beban di masa datang
karena harus bergantung dengan bantuan orang lain.

D. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan kepustakaan di atas peneliti mengajukan hipotesa
sebagai berikut dalam penelitian ini, yaitu: Ada hubungan negatiI antara
pola asuh permisiI dengan kemandirian anak kelas satu sekolah dasar,
dimana semakin tinggi permisiIitas orangtua maka anak akan menjadi
semakin rendah kemandiriannya.


Perpustakaan Unika

24

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian yang Digunakan
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatiI, yaitu metode yang
mempunyai tata cara pengambilan keputusan, interpretasi data, dan
kesimpulan berdasarkan angka-angka yang diperoleh dari hasil analisa
statistik (baik parametrik maupun non parametrik). Alat untuk menjaring
data biasanya menggunakan tes (hasilnya berupa angka) atau kuesioner
sehingga didapatkan data yang siIatnya rasio, interval, ordinal, atau
nominal. Pengambilan keputusan didasarkan pada norma-norma yang sudah
baku, universal yang berlaku dalam statistik (Priyanto, dkk, 2000, h.29).

B. Identifikasi Variabel Penelitian
Menurut Azwar (1999, h.59), variabel adalah konsep mengenai
atribut atau siIat yang terdapat pada subjek penelitian yang dapat bervariasi
secara kuantitatiI ataupun secara kualitatiI. Variabel yang akan dilibatkan
dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu:
1. Variabel Tergantung : Kemandirian Anak Kelas Satu
Sekolah Dasar
2. Variabel Bebas : Pola Asuh PermisiI
Perpustakaan Unika
25


C. Definisi Operasional Variabel Penelitian
DeIinisi Operasional adalah petujuk bagaimana suatu variabel
diukur. DeIinisi variabel penelitian ini perlu dirumuskan untuk menghindari
salah pengertian mengenai data yang akan dikumpulkan serta menghindari
kesalahan dalam menentukan alat pengumpul data. Adapun DeIinisi
Operasional dari variabelvariabel penelitian ini adalah:
1. Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar
Kemandirian anak kelas satu sekolah dasar adalah kemampuan anak
untuk berinisiatiI, memiliki rasa ingin tahu, ulet, mengatasi masalah dengan
bertanggung jawab, mengatur dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain
terutama dalam mengelola emosi-emosinya secara wajar.
Kemandirian anak kelas satu sekolah dasar disusun berdasarkan aspek
kemandirian anak, yaitu kebebasan, berinisiatiI, memiliki rasa percaya diri,
dapat melakukan pengendalian diri dan mampu menjaga kebersihan dirinya
juga lingkungan. Semakin tinggi skor maka tingkat kemandirian anak
semakin tinggi, demikian sebaliknya.
2. Pola Asuh PermisiI
Pola asuh permisiI merupakan pola asuh yang melibatkan orangtua
sepenuhnya, namun dengan tuntutan dan kontrol yang sedikit untuk
menghindari konIlik. Perhatian, kehangatan dan minat pada anak juga
sangat sedikit, sehingga anak merasa tidak diperhatikan.
Pola asuh permisiI disusun berdasarkan aspek-aspek pola asuh
permisiI, yaitu kontrol terhadap anak sangat longgar, pengabaian keputusan,
orangtua bersiIat masa bodoh, dan bersiIat bebas dalam mendidik anak.
Perpustakaan Unika
26


Semakin tinggi skor maka tingkat permisiIitas orangtua semakin tinggi,
demikian sebaliknya.

D. Subyek Penelitian
Arikunto (2006) mengatakan bahwa populasi merupakan
keseluruhan subjek penelitian. Studi atau penelitian juga disebut studi
populasi atau studi sensus. Penelitian populasi dilakukan apabila peneliti
ingin melihat semua liku-liku yang ada dalam populasi. Objek populasi
diteliti, hasilnya dianalisa, disimpulkan, dan kesimpulan itu berlaku untuk
seluruh populasi. Adapun karakteristik populasi dalam penelitian ini yaitu:
a. Peserta didik kelas 1 Sekolah Dasar (SD) YSKI II di Semarang.
b. Tinggal bersama kedua orangtua
Semua anggota populasi yang memenuhi karakteristik populasi
dijadikan subyek penelitian.

E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah skala. Menurut Arikunto (2006, h.140), skala menunjuk pada sebuah
instrumen data yang bentuknya seperti daItar yang cocok tetapi alternatiI
yang disediakan berjenjang. Skala banyak digunakan untuk mengukur
aspek aspek kepribadian atau aspek kejiwaan.
Azwar (1999, h.4) berpendapat bahwa skala sebagai alat ukur
psikologi yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
Perpustakaan Unika
27


a. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung
mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan mengungkap indikator
prilaku dari atribut yang bersangkutan. Meskipun subyek memahami
pertanyaan atau pernyataannya namun ia tidak mengetahui arah jawaban
yang dikehendaki pertanyaan. Sehingga jawaban subyek bersiIat proyektiI,
yaitu berupa proyeksi dari perasaan atau kepribadiannya.
b. Skala psikologi selalu berisi banyak item. Jawaban subyek terhadap satu
item merupakan sebagian dari banyak indikasi mengenai atribut yang
diukur, sedangkan kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosa baru dapat
dicapai bila semua item telah diproses.
Penulisan itemitem dilakukan bila komponen atribut telah jelas
identiIikasinya atau indikator indikator perilaku telah dirumuskan dengan
benar. Indikator- indikator perilaku dimuat sebagai bagian dari blue print
skala. Blue print inilah yang akan dijadikan acuan dalam penulisan item.
1. Skala Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kemandirian.
Skala ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemandirian pada anak
yang diasuh dengan pola asuh permisiI. Adapun yang diungkap dalam skala
ini adalah anak memiliki kemampuan berperilaku secara bebas, memiliki
inisiatiI, gigih dalam menyelesaikan tugas, memiliki rasa percaya diri, dapat
melakukan pengendalian diri terlebih secara emosional dan mampu
menjaga kebersihan dirinya dan lingkungan.
Itemitem dalam kelompok ini dapat dikelompokkan menjadi dua
macam yaitu favorable dan unfavorable. Favorable berarti itemitem
Perpustakaan Unika
28


tersebut memiliki siIat yang mendukung penelitian sedangkan unfavorable
berarti siIatnya tidak mendukung penelitian.
Tiap item memiliki empat kemungkinan jawaban yang terdiri dari
Sangat Sering (SS), Sering (S), Kadang (K) atau Tidak Pernah (TP). Skor
pada kemungkinan jawaban tersebut berkisar antara satu sampai dengan
empat. Adapun pemberian skor pada itemitem tersebut adalah: nilai atau
skor pada pernyataan yang tergolong item favorable adalah empat untuk
jawaban Sangat Sering (SS), tiga untuk jawaban Sering (S), dua untuk
jawaban Kadang (K) dan satu untuk jawaban Tidak Pernah (TP). Item
unfavorable akan dinilai adalah satu untuk jawaban Sangat Sering (SS), dua
untuk jawaban S (Sering), tiga untuk jawaban K (Kadang), empat untuk
jawaban TP (Tidak Pernah).
Tabel 1
Rancangan 1umlah Item Skala Kemandirian Anak Kelas Satu
Sekolah Dasar



No. Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
1. Bebas 3 3 6
2. InisiatiI 3 3 6
3. Gigih 3 3 6
4. Percaya diri 3 3 6
5. Pengendalian diri 3 3 6
Jumlah 15 15 30
Perpustakaan Unika
29


2. Skala Pola Asuh Permisif
Skala Pola Asuh PermisiI terdiri dari aspek-aspek yaitu: kontrol
terhadap anak sangat longgar, pengabaian keputusan, orangtua bersiIat
masa bodoh, dan bersiIat bebas dalam mendidik anak.
Tabel 2
Rancangan 1umlah Item Skala Pola Asuh Permisif

No Aspek 1umlah Item
1. Kontrol terhadap anak sangat longgar 4
2. Pengabaian keputusan 4
3. Orangtua bersiIat masa bodoh 4
4. BersiIat bebas dalam mendidik anak 4
Jumlah total 16

AlternatiI pilihan jawaban dalam skala Pola Asuh PermisiI yang
digunakan dalam penelitan ini dibedakan menjadi empat, yaitu: Sangat
Sering (SS), Sering (S), Kadang (K) atau Tidak Pernah (TP). Sistem
penilaian Skala Pola Asuh PermisiI bergerak dari satu sampai empat. Nilai
atau skor pada pernyataan yang tergolong favorable adalah adalah empat
untuk jawaban Sangat Sering (SS), tiga untuk jawaban Sering (S), dua
untuk jawaban Kadang (K) dan satu untuk jawaban Tidak Pernah (TP).

Perpustakaan Unika
30


F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
Suatu alat ukur yang baik harus memenuhi persyaratan validitas dan
reliabilitas supaya diperoleh inIormasi yang akurat dan obyektiI dalam
penelitian.
1. Validitas Alat Ukur
DeIinisi validitas adalah sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu
alat ukur dalam melakukan Iungsi ukurnya. Suatu alat ukur dikatakan valid
bila alat ukur tersebut mampu mencapai tujuan pengukuran yang
dikehendaki dengan tepat (Azwar, 1999).
Jenis validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas
isi. Validitas isi adalah suatu validitas isi tes yang menunjuk kepada sejauh
mana tes, yang merupakan seperangkat soalsoal, dilihat dari isinya
memang mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur. Ukuran sejauh
mana ini ditentukan berdasar derajat representatiInya isi tes itu bagi isi hal
yang akan diukur (Suryabrata, 2005, h.41). Fokus utama validitas isi adalah
pada isi dari butir butir suatu alat ukur (ukuran verbal) yang digunakan
untuk mencerminkan deIinisi konseptual.
Selain menggunakan validitas isi, digunakan pula indeks
deskriminasi item. Tujuannya adalah untuk mengetahui itemitem mana
yang mempunyai daya beda yang benarbenar telah mengungkapkan atribut
yang diteliti
Korelasi yang dikorelasikan adalah skor total, yang didalamnya
sudah termasuk skor item, maka akan terjadi over estimasi, sehingga perlu
Perpustakaan Unika
31


dikoreksi dengan menggunakan teknik korelasi bagian dengan total (the
correlation of parts of wholes).
2. Reliabilitas Alat Ukur
Merupakan indeks yang menunjukan sejauh mana suatu alat ukur
dapat dipercaya. Azwar (1999, h.4) mengatakan bahwa reliabilitas
menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran itu dapat memberikan hasil
yang konsisten dan dapat dipercaya.
Pada penelitian ini, teknik yang digunakan adalah teknik uji
reliabilitas Alpha Cronbach (Azwar, 1999, h.28). KoeIisien alpha akan
memberikan harga yang lebih kecil atau sama besar dengan reliabilitas yang
lebih tinggi. Hasil reliabilitas dengan menggunakan teknik ini lebih cermat
karena dapat mendekati hasil yang sebenarnya.
Alasan lain digunakan teknik ini adalah:
a. Teknik alpha merupakan salah satu teknik uji reliabilitas yang saat ini
paling diandalkan dan banyak digunakan.
b. Dari koeIisien alpha dapat diketahui apakah setiap item saling
menunjang satu sama lainnya.
c. Besarnya koeIisien alpha diartikan sebagai adanya item yang saling
mendukung dengan yang lain.

G. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dari suatu penelitian tidak dapat digunakan
langsung, tetapi perlu diterapkan dalam penelitian ini adalah metode
analisis ststistik karena dengan analisis ststistik diharapkan mempu
Perpustakaan Unika
32


membentuk dasar yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menarik
kesimpulan yang tepat.
Dalam penelitian ini, untuk uji hipotesis yang akan digunakan adalah
Korelasi Product Moment yang bertujuan untuk menguji hubungan 2 buah
variabel yang sama-sama berjenis interval atau rasio, yaitu kemandirian
anak dan pola asuh permisiI.
Penghitungan validitas dan reliabilitas item alat ukur dilakukan
dengan Statistical Package for Social Science (SPSS) for Windows Release
13.0.
Perpustakaan Unika

33

BAB IV
PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Orientasi Kancah Penelitian
Sebelum mengambil data penelitian, peneliti menentukan tempat
penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Kristen Yayasan
Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) II Semarang. Awalnya sekolah TK-SD
Kristen YSKI II bernama sekolah Rakyat Kristen Tionghoa berdiri pada
tanggal 23 April 1946. Sekolah di non-aktiIkan karena kondisi negara yang
tidak menentu. Pada bulan Januari 1951 dengan menggunakan gedung
STITCHING SCHOOL MET DE BUBLE (SK Pendirian SD Kristen II
YSKI no 08/Kep/YSKI/VII/79).
Perubahan Iisik gedung TK-SD Kristen II YSKI yang terletak di
jalan Dr. Cipto no 109 Semarang, mengalami perombakan yang besar pada
tahun 2001. Selain gedung, Iasilitas, dan jumlah murid yang terus
meningkat, sekolah yang dikenal juga dengan Kristen Gendong ini
berjuang untuk memberikan layanan pendidikan secara maksimal. Mengacu
pada kurikulum yang dicanangkan oleh pemerintah, Kristen Gendong
mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan kecerdasan majemuk.
Visi yang dijunjung oleh YSKI II Semarang adalah Menjadi Lembaga
Pendidikan yang berkualitas dengan dilandasi oleh Nilai-nilai Kristiani,
untuk menghasilkan Siswa-Siswi yang memiliki tinggi Iman, Ilmu dan
Moral. Hal ini diwujudkan dengan menciptakan proses pembelajaran yang
kondusiI dengan Iasilitas laboratorium dan kegiatan ekstrakulikuler yang
dapat dipilih oleh siswa. Memilih guru yang tepat merupakan salah satu
Perpustakaan Unika
34


perwujudan misi sekolah, yaitu meningkatkan daya inovatiI para pendidik
dalam proses pembelajaran. Guru yang saat ini bekerja di SD Kristern II
YSKI Semarang merupakan lulusan Strata Satu.
SD Kristen II YSKI Semarang menuntut siswanya untuk dapat bantu
diri sedini mungkin. Kemampuan bantu diri anak dapat terlihat ketika
siswa-siswi memakai seragam dan sepatu sendiri seusai olahraga. Siswa-
siswi yang terbiasa dilatih di rumah, tidak akan menemui kesulitan bila
harus berganti baju sendiri di sekolah, hal ini akan tampak berbeda bagi
anak-yang dibantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain bantu
diri, kemandirian siswa lainnya juga tampak dari keberadaan jajanan yang
bisa dipilih siswa. Hal ini akan melatih siswa untuk dapat mengambil
keputusan secara bebas untuk memilih sesuai seleranya. Para siswa
meletakkan botol minumnya di luar kelas, hal ini dapat melatih siswa untuk
mengontrol keinginan minum sewaktu siswa merasa haus. Jumlah siswa
yang tidak terlalu banyak di dalam kelas memudahkan pengelolaan kelas,
sehingga siswa dituntut untuk lebih mengatur diri mereka di dalam kelas
agar tidak ditegur oleh guru.
Penelitian ini mengambil lokasi di Sekolah Dasar Kristen Yayasan
Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) II dengan alasan sebagai berikut:
1. Jumlah subyek memenuhi karakteristik populasi sehingga memenuhi
syarat sebagai subyek penelitian.
2. Adanya ijin yang diberikan oleh pihak sekolah kepada peneliti untuk
mengadakan penelitian di Sekolah Dasar Kristen Yayasan Sekolah Kristen
Indonesia (YSKI) II.
Perpustakaan Unika
35


3. Berdasarkan observasi dan wawancara awal yang dilakukan peneliti
tampak ada beberapa siswa yang belum mampu melaksanakan tugas
hariannya secara mandiri.

B. Persiapan Penelitian
Persiapan penelitian diawali dengan melakukan penyusunan alat ukur/
skala, persiapan administrasi atau perijinan tempat.
1. Penyusunan Alat Ukur
Penyusunan alat ukur meliputi prosedur pembuatan skala, penentuan
skor item, jumlah item dan variasi sebaran item. Penyusunan skala dimulai
dari pembuatan deIinisi operasional dan penentuan ciri-ciri dari masing-
masing variabel sesuai dengan tujuan penelitian dan hipotesis yang
diajukan. Skala-skala yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Skala Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar
Skala Kemandirian Anak disusun berdasarkan lima aspek
kemandirian anak yaitu bebas, inisiatiI, gigih, percaya diri dan memiliki
pengendalian diri. Skala ini terdiri dari 30 item pernyataan. Penilaian skala
berdasarkan pada dua kelompok item-item yang berbentuk favorable dan
unfavorable. Sebaran item skala kemandirian anak dapat dilihat pada tabel
berikut ini:









Perpustakaan Unika
36


Tabel 3
Sebaran Item Skala 1ryout Preliminer Kemandirian Anak
Kelas Satu Sekolah Dasar

Aspek Favorable Unfavorable 1umlah
Bebas 1,11,21 2,12,22 6
InisiatiI 3,13,23 4,14,24 6
Gigih 5,15,25 6,16,26 6
Percaya diri 7,17,27 8,18,28 6
Pengendalian diri 9,19,29 10,20,30 6
1umlah 15 15 30

b. Skala Pola Asuh Permisif
Skala pola asuh permisiI disusun berdasarkan empat aspek pola asuh
permisiI yaitu, kontrol terhadap anak sangat longgar, pengabaian keputusan,
orangtua bersiIat masa bodoh, dan bersiIat bebas dalam mendidik anak.
Skala ini terdiri dari 16 item pernyataan. Penelitian skala berdasarkan pada
satu kelompok item yang berbentuk favorable. Sebaran item skala pola asuh
permisiI dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4
Sebaran Item Skala Pola Asuh Permisif

Aspek Pola Asuh Permisif Nomor Item 1umlah
Kontrol terhadap anak sangat
longgar
1,5,9,13 4
Pengabaian keputusan 2,6,10,14 4
Orangtua bersiIat masa
bodoh
3,7,11,15 4
BersiIat bebas dalam
mendidik anak
4,8,12,16 4
1umlah Total 16

Perpustakaan Unika
37


2. Permohonan Ijin Penelitian
Permohonan ijin dilakukan peneliti setelah penyusunan alat ukur
disetujui oleh dosen pembimbing. Salah satu syarat yang harus dipenuhi
agar dapat melakukan penelitian adalah mendapatkan ijin dari pihak-pihak
terkait. Administrasi perijinan yang diperlukan dalam pelaksanaan
penelitian adalah surat pengantar dari Dekan Fakultas Psikologi Universitas
Katolik Soegijapranata Semarang yang ditujukan kepada Kepala Sekolah
SD Kristen II YSKI dengan nomor 861./B.7.3/FP/V/2010, tanggal 17 Mei
2010. Setelah peneliti memberikan surat pengantar dari Iakultas kepada
Kepala Sekolah SD Kristen II YSKI, maka ijin diberikan untuk mulai
mengadakan penelitian.

C. Pelaksanaan Uji Coba
Sebelum dilakukan penelitian yang sesungguhnya, terlebih dahulu
dilakukan uji coba terhadap skala yang akan digunakan. Uji coba ini
dilakukan untuk mengetahui apakah subyek dapat memahami skala yang
diberikan peneliti dengan baik atau tidak.
Uji coba skala dilakukan pada tanggal 21 Mei 2010 dengan
membagikan skala kepada dua siswa dan satu siswi di SD Kristen YSKI II
Semarang. Trvout yang digunakan merupakan trvout preliminer, menurut
Hadi trvout ini bertujuan untuk mengetahui pendapat dan reaksi subyek
terhadap pernyataan yang diajukan (h.166, 2000). Item-item yang kurang
sesuai diperbaiki agar subyek dapat lebih mudah memahami pernyataan-
pernyataan pada alat ukur. Perubahan yang terjadi pada saat trvout dan pada
saat terpakai adalah: terdapat empat pilihan bagi subyek dalam
Perpustakaan Unika
38


menyelesaikan trvout adalah yaitu : Sangat Sering (SS), Sering (S), Kadang
(K), dan Tidak Pernah (TP). Pada saat penelitian berlangsung pilihan
menjawab subyek dalam skala kemandirian anak dijadikan tiga pilihan,
yaitu : Sering (S), Kadang (K), dan Tidak Pernah (TP). Hal ini berdasarkan
saran guru yang menjelaskan kemungkinan subyek menjadi bingung
apabila terdapat empat pilihan jawaban. Jumlah item skala kemandirian
mengalami perubahan. Item-item yang kurang sesuai dihilangkan untuk
memudahkan subyek dalam menyelesaikan skala yang diberikan peneliti.
Tabel 5
Sebaran Item Skala Kemandirian Anak Kelas Satu
Sekolah Dasar

Aspek Favorable Unfavorable 1umlah
Bebas 1,13,17 10,18 5
InisiatiI 2,11,15 3,19, 5
Gigih 4,12,21 5,22 5
Percaya diri 6,9,23 7,14 5
Pengendalian diri 8,20,24 16,25 5
1umlah 15 10 25

Setelah melakukan uji coba Preliminer, pilihan jawaban pada skala
pola asuh permisiI dirasa kurang tepat untuk menyatakan keadaan, maka
pilihan jawaban skala kedua menjadi Sesuai, Kurang Sesuai, dan Tidak
Sesuai.
D. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Trvout terpakai. Trvout terpakai, yaitu
data yang diperoleh dengan sekali uji coba sekaligus digunakan sebagai
data dalam penelitian (Moeljono, 2003). Pelaksanaan trvout terpakai ini
dilakukan pada tanggal 14 Juni 2010. Peneliti membagi 67 skala pada siswa
Perpustakaan Unika
39


SD Kristen II YSKI Semarang yang terbagi dalam tiga kelas. Hasil jawaban
skala tersebut diskor dan ditabulasi kemudian dianalisis menggunakan
analisis Korelasi Product Moment.
Dalam menyebarkan skala, peneliti dibantu oleh satu orang teman.
Seorang teman peneliti merupakan mahasiswi Fakultas Psikologi.
Sebelumnya peneliti memberikan penjelasan mengenai pernyataan yang
terdapat pada skala, sehingga teman peneliti dapat memiliki pemahaman
yang sama dengan peneliti. Sebelum penelitian dimulai, peneliti
memberikan keterangan mengenai petunjuk pengisian skala. Pada
keterangan nomor lima, telah disebutkan petunjuk apabila subyek hendak
mengganti jawaban, namun di dalam proses pengambilan data tampak
beberapa subyek tidak memberikan tanda sama dengan pada jawaban yang
dianggap salah melainkan menghapus jawaban yang dianggap salah.
Setelah peneliti membacakan pernyataan pertama, subyek mulai memilih
jawaban yang sesuai dengan kondisi subyek. Proses ini terjadi sepanjang
penelitian berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari subyek
dijawab oleh peneliti dan teman peneliti. Peneliti memperjelas pernyataan
pada skala dengan contoh kegiatan yang lebih nyata dalam kehidupan
subyek sehari-hari.
Selama proses ini berjalan, ada beberapa subyek yang mengerjakan
lebih cepat, dan mendahului instruksi peneliti. Hal ini dapat menyebabkan
subyek memiliki pemahaman yang kurang dalam memahami pernyataan
yang diberikan oleh peneliti.


Perpustakaan Unika
40


E. Uji Validitas dan Reliabilitas
Pengujian terhadap validitas dan reliabilitas kedua alat ukur
dilakukan melalui bantuan program komputer Statistical Packages for
Social Sciencies (SPSS) for Windows Release 13.0. Uji validitas dilakukan
dengan teknik Product Moment sedangkan untuk uji reliabilitas dilakukan
melalui teknik Alpha Cronbach.
1. Skala Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar
KoeIisien validitas skala kemandirian anak berkisar antara 0,314
sampai dengan 0,596. Berdasarkan hasil uji validitas terhadap 25 item skala
kemandirian anak pada siswa diperoleh 16 item yang valid.
Tabel 6
Sebaran Item Valid dan Gugur
Skala Kemandirian Anak Kelas Satu Sekolah Dasar

Keterangan: (..) nomor item gugur

Uji reliabilitas alat ukur dilakukan berdasarkan pada item yang valid.
Hasil dari uji reliabilitas menunjukkan bahwa koeIisien reliabilitas skala
kemandirian anak sebesar 0,848 yang berarti skala ini bersiIat reliabel.
2. Skala Pola Asuh Permisif
KoeIisien validitas skala pola asuh permisiI berkisar antara 0,383
sampai dengan 0,596 Hasil dari pengujian validitas terhadap 16 item skala
Aspek Favorable Unfavorable 1umlah Item
Valid
Bebas 1,(13),17 10,18 4
InisiatiI 2,11,(15) 3,19, 4
Gigih 4,12,(21) (5),22 3
Percaya diri (6),9,23 (7),(14), 2
Pengendalian diri (8),(20),24 16,25 3
1umlah Item Valid 9 7 16
Perpustakaan Unika
41


terdapat 9 item yang valid. Rincian sebaran item yang valid dan item yang
gugur pada skala pola asuh permisiI, dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 7
Sebaran Item Valid dan Gugur
Skala Pola Asuh Permisif
Aspek Pola Asuh Permisif Nomor Item
1umlah
Item Valid
Kontrol terhadap anak sangat
longgar
1,(5),9,13 3
Pengabaian keputusan 2,(6),(10),14 2
Orangtua bersiIat masa
bodoh
3,7,(11),15 3
BersiIat bebas dalam
mendidik anak
(4),8,(12),(16) 1
Jumlah Item Valid 9
Keterangan: (..) nomor item gugur

Berdasarkan item-item yang valid, dilakukan uji reliabilitas. Hasil
dari uji reliabilitas menunjukkan bahwa koeIisien reliabilitas skala pola
asuh permisiI sebesar 0,780 yang berarti skala ini reliabel.
.




Perpustakaan Unika

42

BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian dan
pembahasan. Selanjutnya dilakukan uji asumsi dan uji hipotesis terhadap
data hasil penelitian tersebut.
1 Uji Asumsi
Uji asumsi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji normalitas
sebaran variabel penelitian dan uji linieritas hubungan variabel bebas
dengan variabel tergantung.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah sebaran data
berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini
menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov Z. Pengujian normalitas
terhadap alat ukur dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS
for Windows Release 13.0.
Berdasarkan uji normalitas terhadap data kemandirian anak
diperoleh nilai K-S Z 0,124 dengan p ~ 0,05. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa sebaran data kemandirian anak memiliki distribusi normal.
Berdasarkan uji normalitas terhadap data pola asuh permisiI diperoleh nilai
K-S Z 0,291 dengan p ~ 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebaran
data pola asuh permisiI memiliki distribusi normal.
Perpustakaan Unika
43


b. Uji Linieritas
Selain uji normalitas, asumsi yang harus dipenuhi dalam teknik
korelasi adalah uji linieritas. Uji linieritas dalam penelitian ini
menggunakan uji F. Pengujian linieritas terhadap alat ukur dilakukan
dengan menggunakan program komputer SPSS for Windows Release 13.0.
Berdasarkan uji linieritas diperoleh nilai F
linier
0,621 dengan p ~
0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan variabel pola asuh
permisiI dengan variabel kemandirian anak dalam penelitian ini adalah
tidak linear.
2 Uji Hipotesis
Setelah dilakukan tahap uji asumsi, tahap selanjutnya adalah uji
hipotesis. Dengan memakai korelasi Product Moment diperoleh hasil r
xy

0,097 dengan p ~ 0,05. Hal ini menunjukkan hipotesis ditolak dan
menandakan tidak adanya hubungan antara pola asuh permisiI dengan
kemandirian anak

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pola asuh permisiI
dengan kemandirian anak.
Berbagai Iaktor dapat mempengaruhi pada hasil penelitian ini.
Variabel yang tidak dikontrol dapat mempengaruhi penelitian ini seperti
urutan kelahiran, pembelajaran di sekolah, status kerja ibu, dan interaksi
sosial siswa.
Perpustakaan Unika
44


Pada masa awal kanak, teman sebaya memiliki peran lebih besar
dalam perkembangan konsep diri anak. Anak mengevaluasi apa yang
mereka lakukan dalam arti apakah ini lebih baik daripada, sebagus, lebih
daripada apa yang dilakukan oleh anak-anak lain (Santrock, h.268). Hal ini
memberikan kemungkinan anak yang kurang mandiri akan mendapat nilai
buruk di depan teman-temannya dan akan memberikan rasa malu sebagai
umpan balik. Kegiatan di YSKI II Semarang, yang meminta siswa untuk
memimpin pujian dan doa di dalam kelas secara bergiliran menjadi latihan
rasa percaya diri siswa di dalam kelas. Siswa akan menjadi malu apabila
merasa dirinya tidak sebaik teman lainnya. Hal ini dapat menjadi motivator
anak untuk menjadi lebih baik.
Menurut pengamatan guru di sekolah, anak dengan sendirinya akan
meminta teman yang lebih pandai untuk memberikan bimbingan bagi yang
merasa kurang bisa. Bagi anak yang lebih pandai mendapatkan rasa bangga
sebagai umpan balik dan berusaha mempertahankan prestasi yang dicapai.
Pengaruh guru sebagai significant person juga patut diperhitungkan.
Lingkungan sekolah menuntut guru menjadi tokoh panutan bagi para
siswanya. Guru merupakan simbol otoritas dan menciptakan iklim kelas,
kondisi interaksi di antara murid dan hakekat keberIungsian kelompok
(Santrock, h.351). Menurut Goodnew, guru yang baik memiliki antusiasme,
kemampuan untuk merencanakan, sikap tenang, kemampuan beradaptasi,
hangat, Ileksibel, dan kesadaran perbedaan individu (Santrock, 351). Siswa
dilatih untuk bertanggung jawab terhadap kewajiban piketnya di sekolah.
Siswa diwajibkan untuk menyelesaikan tugas piket sesuai jadwalnya. Selain
nilai kebersihan, hal ini juga dimaksudkan untuk siswa belajar tanggung
Perpustakaan Unika
45


jawab dan mengendalikan diri agar membuang sampah pada tempat yang
seharusnya. Peran guru sangat penting untuk mendukung dan mengawasi
proses pembelajaran anak agar bertanggungjawab juga mampu mandiri.
Rata-rata siswa YSKI II Semarang memiliki status ekonomi yang
menengah ke atas. Setelah dilakukan perhitungan lebih lanjut dari lembar
identitas pada skala, maka diketahui 73 siswa YSKI II memiliki ibu yang
bekerja. Keberadaan ibu yang bekerja diluar rumah membutuhkan sosok
pengganti lain sebagai pengasuh anak dan juga sebaga significant person
bagi anak. Ibu yang bekerja merupakan tanggapan dari perubahan sosial
lain. Pengalaman umum kedua orangtua yang bekerja memiliki perasaan
bersalah jauh dari anak-anaknya. Perasaan bersalah ini dapat berupa
implikasi orangtua bekerja dan kekhawatiran akan pengaruh jangka panjang
bekerja. Untuk mengurangi rasa bersalah, orangtua memberi perhatian yang
lebih besar pada keadaan anak-anak mereka. Melalui wawancara yang
dilakukan peneliti dengan wakil kepala sekolah, ibu yang bekerja
menyerahkan pengasuhan anak-anaknya pada pengasuh atau kakek nenek.
Perhatian yang lebih besar dari orangtua diwujudkan dengan memberi
pengasuh yang mampu mendampingi anak-anak mereka dalam
berkembang. Figur yang mengasuh anak mungkin lebih demokratis
dibandingkan orangtua anak yang sibuk bekerja. Pengasuhan yang lebih
demokratis pada anak menghasilkan kepribadian yang lebih positiI dan
mandiri (Widia, 2008).
Keinginan anak untuk menjadi anggota kelompok dan dapat diterima
oleh kelompok sebayanya semakin meningkat sejak anak masuk sekolah
dasar. Keterampilan sosial menjadi penting, terutama mengenali peran
Perpustakaan Unika
46


sosial seseorang. Anak memusatkan perhatian untuk dapat berhubungan dan
berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya. Anak belajar untuk
memberi dan menerima di antara teman-temannya dan berkeinginan untuk
ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kelompok (Gobai, 2010). Lebih
dari 60 subyek memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang baik. Hal
ini terlihat dari jawaban subyek dalam nomor-nomor yang berhubungan
dengan kemampuan interaksi sosial subyek ketika mengerjakan skala yang
diberikan peneliti
Urutan kelahiran tidak ditentukan oleh peneliti. Anak tertua ialah
satu-satunya yang tidak harus berbagi kasih sayang dan sentuhan orangtua
dengan saudara-saudara kandung lain hingga saudara kandung lain
(adiknya) lahir. Seorang bayi membutuhkan lebih banyak perhatian
daripada anak yang lebih tua. Orangtua menaruh harapan yang lebih tinggi
pada anak-anak yang lahir duluan daripada anak-anak yang lahir kemudian;
mereka memberi lebih banyak tekanan untuk berhasil dan bertanggung
jawab dan campur tangan dalam kegiatan-kegiatannya.
Mengingat perbedaan dalam dinamika keluarga yang terlibat dengan
urutan kelahiran, tidak mengherankan bahwa anak-anak yang lahir duluan
lebih berorientasi dewasa, suka menolong, dapat menyesuaikan diri dan
cemas dibanding saudara-saudara yang lahir kemudian. Tuntutan bagi anak
yang lahir lebih dulu, mengakibatkan anak-anak memiliki karir akademik
dan proIesional yang memuaskan. Anak tunggal yang tergantung,
mementingkan diri, dan kurang kendali, namun berorientasi pada prestasi,
dan memiliki kepribadian menyenangkan dibanding anak yang lahir
belakangan dan anak dari keluarga besar.
Perpustakaan Unika
47


Urutan kelahiran tidak serta merta menjadi penentu perilaku anak,
Iaktor lain seperti keturunan, temperamen anak, model kompetensi,
pengaruh orangtua, teman sebaya,dll. Relasi dan interaksi saudara kandung
menjadi dimensi penting dalam proses keluarga (Santrock, h.263).
Dalam penelitian ini kemandirian anak ditinjau dari pola asuh
permisiI mempunyai M
e
33,55 M
h
32 dan SD
h
5,33 sehingga M
e
terletak
antara -1SD
h
sampai 1SD
h
maka tingkat kemandirian anak termasuk
dalam kategori sedang. Pola asuh permisiI mempunyai nilai M
e
18,3134
M
h
18 dan SD
h
3 sehingga M
e
terletak antara -1SDh sampai 1SDh maka
pola asuh permisiI orangtua tergolong dalam kategori sedang. Hal ini
menunjukkan bahwa orangtua siswa cukup permisiI dalam mengasuh anak-
anak.
Peneliti memiliki keterbatasan kemampuan sehingga dapat
menyebabkan beberapa kelemahan dan pada akhirnya hal tersebut membuat
kemungkinan hasil yang diperoleh kurang mencerminkan hasil yang
sesungguhnya. Kelemahan-kelemahan dalam penelitian ini adalah:
1. Pada penelitian ini menggunakan trvout terpakai, sehingga item yang
tidak valid ikut mencemari hasil penelitian.
2. Adanya kemungkinan social desirabilitv. Siswa dalam pengisian skala
berusaha untuk memberikan jawaban sesuai dengan norma sosial
sehingga tidak mencerminkan jawaban yang sesungguhnya. Hal ini
dilakukan untuk menampilkan kesan bahwa dirinya ingin dinilai baik
oleh orang lain.
3. Kurangnya pengawasan dari peneliti pada saat pengambilan data,
dimana peneliti hanya membawa seorang rekan kerja, sehingga
Perpustakaan Unika
48


diperkirakan kurang dapat melakukan pengawasan optimal di dalam
kelas. Hal ini diperkirakan dapat memberi peluang bagi subyek untuk
menjawab skala dengan meniru jawaban dari subyek lainnya dan
menyebabkan jawaban yang diberikan bukanlah jawaban yang
sebenarnya, ataupun subyek memiliki pertanyaan yang tidak ditanyakan
pada observer.
4. Guru yang ikut mengawasi penelitian dalam kelas terkadang memberikan
petunjuk yang langsung mengarahkan subyek pada jawaban yang dinilai
lebih tepat sehingga jawaban subyek kurang merepresentasikan dirinya.
5. Skala item disusun berdasarkan pandangan peneliti.

Perpustakaan Unika

49

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa data dan uji hipotesis menggunakan
korelasi Product Moment maka diperoleh hasil r
xy
0,097 dengan p ~ 0,05,
maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian ini ditolak. Hal ini
berarti tidak terdapat hubungan antara pola asuh permisiI dengan
kemandirian anak.

B. Saran bagi Peneliti Selanjutnya
Terdapat saran-saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan, yaitu:
Bila ada peneliti selanjutnya yang tertarik meneliti masalah
kemandirian anak ditinjau dari pola asuh permisiI, disarankan agar
mengembangkan topik penelitian dengan menggali Iaktor-Iaktor lainnya
yang mempengaruhi kemandirian anak. Diharapkan peneliti selanjutnya
lebih memperhatikan kelemahan-kelemahan yang dilakukan peneliti
sehingga penelitian selanjutnya dapat mendapatkan hasil yang lebih baik
lagi.


Perpustakaan Unika

50

DAFTAR PUSTAKA

Adriani, V. 2005. Hubungan antara Pola Asuh PermisiI Orangtua dengan
Motivasi Menggunakan Narkoba pada Remaja. Skripsi (tidak
diterbitkan). Semarang : Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata.
Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta
Rineka Cipta.
Astuti, R. D. 2005. Pengaruh Pola Asuh Orangtua Terhadap Kemandirian
Siswa dalam Belajar Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri Sumpiu
Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi.
Semarang. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
Azwar, S.1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Bee, L. 2006. 1he Developing Child. United States oI America.
HarperCollins Publishers.
Bredekamp.S & Copple, C. 1995. Developmentally Appropriate Practice:
In Early Childhood Programs. Washington D.C: National
Association Ior the Eduction oI Young Children.
Chaplin, J.P. 1993. Kamus Lengkap Psikologi.Alih Bahasa: Kartini
Kartono. Jakarta. RajaGraIindo.
Crockenberg, S. Cindy. L. 1991. EIIect oI Maternal Employment on
Maternal and Two-Year-Old Child Behavior. Child Development.
vol 36 Oktober.
Depdiknas. 2004. Kurikulum 24. Standar Kompetensi. Jakarta.
Drost, J.G.I.M. 1998. Sekolah: Mengajar atau Mendidik?. Yogyakarta:
Kanisius.
Gobai, Y. Peran Orang 1ua Sangat Penting dalam Kehidupan Anak.
www.kabarindonesia.com (12 Juli 2010).
Perpustakaan Unika
51


Hadi, S. 2000. Metodologi Research. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Hidayat, T. 2008 .Menumbuhkan Kemandirian pada Anak. http://die-
ehrlichkeit.blogspot.com/
Hasuki, I. 2010. Kemandirian Anak Usia -8 1ahun. http://www.tabloid-
nakita.com/khasanah/khasanah07314-05.htm
Hurlock, E. 1995. Psikologi Perkembangan Anak I. Alih bahasa: Meitasari
Tjandrasa. Jakarta: Erlangga.
.1999. Psikologi Perkembangan Anak II. Alih bahasa:
Meitasari Tjandrasa. Jakarta: Erlangga.
.2002. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih
bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.
Kiswanti, A. 2005. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemandirian
Anak Tk Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 /
2005. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas
Negeri Semarang.
Mayke. 2000. Pola Asuh yang Tepat. https://keluargasehat
.wordpress.com/page/98/ (18 Maret 2010)
Moeljono, D. 2003.Budaya Korporat dan Keunggulan Korporasi. Jakarta.
Elex Media Komputindo
Mu`tadin, Z. 2002. Kemandirian Sebagai Usaha Kepribadian Remaja.
www.e-psikologis.com (10 Januari 2010).
Mutaqqin, Z. 2010. Psikologi Anak dan Pendidikan. http://
azkamiru.Iiles.wordpress.com/2010/01/psikologi-anak-
pendidikan.pdI
Nuryoto, S. 1993. Kemandirian Remaja Ditinjau dari Tahap Perkembangan,
Jenis Kelamin dan Peran Jenis. 1urnal Psikologi, XX, No. 2, 1993.
Perpustakaan Unika
52


Panji, M.A. 2006. http://www.tabloid-nakita.com /Khasanah/khasanah
06279-02.htm. 7 Mei 2010
Priyanto, P.H; Wismanto, Y.B; Hardjanto, G; Eriyani, P . 2000. Pedoman
Penulisan Skripsi. Semarang: Fakultas Psikologi Unika.
Risman, 2007. http://ewikhapsara.multiply.com. 10 Januari 2010
Sararock. 2010. Membangun Anak Berprestasi dengan Pola Asuh yang
Benar Sejak Dini .http://www.medicalera.com/index (15 Maret
2010)
Santrock, J.W.. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa
Hidup, Edisi 5. Alih bahasa: Juda Damanik dan Achmad Chusairi.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Suryabrata, S. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali.
Tin. 2003. Remaja Mandiri.www.balipost.co.id. 25 Maret 2010
Wahyuni, E. 2001. Cara Praktis Mengasuh dan Membimbing Anak agar
Menjadi Cerdas dan Bahagia.Bandung. Pionir Jaya.
Widia, A. 2008. Hubungan Antara Pola Asuh Demokratis Dengan
Kemandirian Pada Remaja. Psikohumanika.Vol 1 No 1.
Wiryono, E. 2008. 37 Kebiasaan Orang 1ua yang Menghasilkan Perilaku
Buruk pada Anak. Jakarta. Grasindo.
Yessica, L. I. 2008. Fenomena Kemandirian pada Anak Tunggal. Skripsi.
Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata.





Perpustakaan Unika

53





LAMPIRAN







Perpustakaan Unika
54






LAMPIRAN A: SKALA PENELITIAN
A-1 Skala Kemandirian Anak
A-2 Skala Pola Asuh PermisiI












Perpustakaan Unika
55


[Ctun;uK [Cnlln [Kl [Ctun;uK [Cnlln [Kl [Ctun;uK [Cnlln [Kl [Ctun;uK [Cnlln [Kl (A-1)
TCrlmKlh. KCDO OlKOlK xn mCmbntu Olm DCnlln Kl lnl.
jCrlKut DCtun;uK DCnlln Kl : :: :

1. [lllhlh tCrlCblh Ohulu KCtCrnn ttu KCr; lbu Klln OCnn
mCnCOrCt xn lh.
2. ]llh KOlOmKOlOm xn tCrCOl OCnn Cr mCmbCrlKn tnO
ChCCK (I.
3. [lllhlh ;ubn xn Cul OCnn KCOn Klln.
(O [Crnxtn [Crln |On TlOK [Crnh
1. [x mCrCbut mlnn xn
COn OlmlnKn OlK


+. ubn xn OlDlllh Cmunx Olh blK On bCnr. tlOK O
;ubn xn lh.
5. ADbll Kn mCnntl ;ubn xn tlOK tCDt. bCrllh tnO
m OCnn (=I DO ;ubn xn lh. KCmuOln bCrllh ChCCK
DO ;ubn xn OlKChCnOKl.
[llnx:
(O [Crnxtn [Crln |On TlOK [Crnh
1. [x mCrCbut mlnn xn
COn OlmlnKn OlK


('O'I [OhOn Olll tCrlCblh Ohulu ('O'I
(O [Crtnxn ubn
1. ADKh ]bu bCKCr; | / TlOK

TCrlmKlh
No.
Perpustakaan Unika
56


(O (O (O (O [Crnxtn [Crnxtn [Crnxtn [Crnxtn [Crln [Crln [Crln [Crln |On |On |On |On TlOK TlOK TlOK TlOK
[Crnh [Crnh [Crnh [Crnh
1. [x mCmlllh ;;nn xn x uK
CnOlrl tnD bntun lbu

2. [x uK mCn;K tCmn untuK
bCrmln bCrm Ol CKOlh

3. [x Olm ; Dbll uru
mCmbCrlhKn KCl

+. [x mCnCr;Kn [[ mDl ClCl
tnD Olul xh

5. [x mCnxCrh CtClh OlC;CK tCmn
Ol CKOlh

. [x Kn mCn;ub DCrtnxn uru
7. [x mlu Klu Olmlnt bCrCCrlt Ol
OCDn uru

8. [x br mCnunu lllrn ntrl Ol
tOllCt CKOlh

9. [x tCtD mCmln;m buKu mCKlDun
CnOlrln

1O. Ktu mCnmbr Ol Olm KCl.
x mCnCOntOh mbr tCmn

11. [x lnun blln DO uru Klu
x Klt

12. [x mCmlnt blmblnn lbu bll
tlOK bl mClKuKn CnOlrl

13. [x mCnxuKl b;u xn x Dlllh
tnD bntun lbu

Perpustakaan Unika
57


(O (O (O (O [Crnxtn [Crnxtn [Crnxtn [Crnxtn [Crln [Crln [Crln [Crln |On |On |On |On TlOK TlOK TlOK TlOK
[Crnh [Crnh [Crnh [Crnh
1+. [x Kurn bCrnl mCn;K tCmn
bru bCrKCnln

15. [x mCmbCrCKn mlnn CtClh
bCrmln tnD Olmlnt OlCh xh

1. [x mCnxCrObOt mlnn xn COn
OlmlnKn tCmn

17. [x mCnll CDtu tnD bntun
xh tu lbu

18. [x mCmlllh mlnn xn x uK
KrCn ;Kn tCmn

19. [x mCnCr;Kn CtClh Olmlnt
OlCh uru

2O. [x Kn mCmbCrCKn Dlrln x
CtClh mKn tnD Olmlnt

21. [x bCruh mCnODt nlll bu
Ol CKOlh

22. [x ml bCrtnx DO uru
23. [x uK lKut lOmb tnD Olmlnt
uru

2+. [x ODt OuOuK tCnn Ol Olm
KCl

25. [x mCrCnCK Dbll KCmun x
tlOK Olturutl OlCh xh




Perpustakaan Unika
58


(A-2)
(O (O (O (O [Crnxtn [Crnxtn [Crnxtn [Crnxtn [Cul [Cul [Cul [Cul |urn |urn |urn |urn
[Cul [Cul [Cul [Cul
TlOK TlOK TlOK TlOK
[Cul [Cul [Cul [Cul
1. |CtlK llburn CKOlh Orntu
tCrhOD mCmbCbKn KCltn xn
Kn Kml lKuKn

2. |CtlK DCrl KC tOKO. x bCb mCmlllh
mOOCl DKln xn x Dlllh

3. rntu tlOK mCmbntu ;lK x
KCulltn Olm mCnCr;Kn DCrKCr;n
rumh

+. [x bCrOO CnOlrl tnD Orntu
5. rntu x tlOK mCmbCrlKn ;m
bCl;r untuK x

. [x bCb mCnunKn un Ku x
untuK mCmbCll D ;

7. rntu x tlOK mCnhruKn x
mCntl DCrturn Ol rumh

8. [x tlOK OllntKn untuK tlOur mlm
9. rntu mCmbCbKn x mCmbC
D ;

1O. [x mCnCr;Kn [[ CtClh Olmlnt
Orntu

11. rntu tlOK mCnnxKn tCntn
DCl;rn xn OlODt hrl lnl

12. rntu x mCmblrKn x Dbll
x bCrbut lh

Perpustakaan Unika
59
















(O [Crnxtn [Cul |urn
[Cul
TlOK
[Cul
13. rntu bCrKCnln OCnn tCmn x
1+. rntu mCmblrKn x untuK
mCmbCll mlnn xn x uK

15. [x tlOK OlbCrl hOlh tu Du;ln bll
ODt nlll bu

1. rntu tlOK Otn t OlDnll
CKOlh

Perpustakaan Unika
60






LAMPIRAN B: DATA KASAR U1I COBA
SKALA PENELITIAN
B-1 Data Skala Kemandirian Anak
B-2 Data Skala Pola Asuh PermisiI












Perpustakaan Unika
61


Data Penelitian Variabel Kemandirian Anak (B-1)
No Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16
1 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 1 2 3 1
2 1 1 3 2 3 3 1 3 1 1 3 2 1 3 3 1
3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2
4 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 2 2
5 3 3 3 2 1 3 2 1 3 3 3 2 1 1 3 3
6 2 3 2 1 3 1 3 3 2 3 2 1 2 3 1 2
7 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 3 2 1 3 3 3
8 1 2 2 3 3 2 2 1 1 2 2 3 2 3 2 1
9 1 3 2 3 3 3 2 3 1 3 2 3 1 3 3 1
10 3 3 3 3 1 3 1 3 3 3 3 3 2 1 3 3
11 1 2 3 3 2 3 3 1 1 2 3 3 2 2 3 1
12 1 1 3 1 3 3 2 3 1 1 3 1 1 3 3 1
13 1 3 1 2 1 2 1 1 1 3 1 2 2 1 2 1
14 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 2 2
15 2 3 1 2 3 2 2 3 2 3 1 2 1 3 2 2
16 2 2 1 2 3 2 3 1 2 2 1 2 3 3 2 2
17 1 3 1 3 1 3 1 1 1 3 1 3 2 1 3 1
18 2 3 2 1 3 3 3 2 2 3 2 1 1 3 3 2
19 2 1 3 3 2 3 2 3 2 1 3 3 3 2 3 2
20 1 3 3 2 3 3 3 2 1 3 3 2 1 3 3 1
21 1 3 2 1 2 3 1 3 1 3 2 1 2 2 3 1
22 1 3 3 2 1 2 2 3 1 3 3 2 1 1 2 1
23 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 2
24 1 3 3 3 3 3 2 1 1 3 3 3 2 3 3 1
25 1 2 3 3 2 3 2 3 1 2 3 3 2 2 3 1
26 1 3 1 3 2 3 3 1 1 3 1 3 1 2 3 1
27 2 3 1 1 3 3 3 3 2 3 1 1 2 3 3 2
28 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3
29 2 3 3 3 1 3 1 3 2 3 3 3 3 1 3 2
30 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 1 2 3 1
31 2 3 3 3 1 2 3 3 2 3 3 3 1 1 2 2
32 1 2 2 3 2 3 3 3 1 2 2 3 1 2 3 1
33 1 3 2 1 2 3 2 3 1 3 2 1 2 2 3 1
34 1 3 3 1 3 3 3 2 1 3 3 1 1 3 3 1
35 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2
36 2 2 2 3 1 1 3 1 2 2 2 3 2 1 1 2
37 1 2 3 2 1 2 2 3 1 2 3 2 2 1 2 1
38 2 3 1 3 1 3 1 3 2 3 1 3 2 1 3 2
Perpustakaan Unika
62



39 1 2 3 3 1 3 2 3 1 2 3 3 1 1 3 1
40 1 1 3 3 2 3 1 3 1 1 3 3 1 2 3 1
41 1 1 3 3 2 3 3 3 1 1 3 3 3 2 3 1
42 1 1 3 3 3 3 3 1 1 1 3 3 3 3 3 1
43 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2
44 3 3 3 1 1 3 2 2 3 3 3 1 1 1 3 3
45 3 3 3 3 1 1 3 2 3 3 3 3 1 1 1 3
46 3 2 3 3 2 3 3 1 3 2 3 3 2 2 3 3
47 2 1 2 2 3 2 3 1 2 1 2 2 1 3 2 2
48 1 1 3 1 3 3 3 3 1 1 3 1 1 3 3 1
49 1 2 1 2 1 3 3 3 1 2 1 2 1 1 3 1
50 1 3 2 3 2 3 3 3 1 3 2 3 2 2 3 1
51 1 3 1 3 3 3 3 3 1 3 1 3 1 3 3 1
52 1 3 2 2 3 3 3 3 1 3 2 2 1 3 3 1
53 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3
54 1 3 3 3 2 3 3 3 1 3 3 3 2 2 3 1
55 1 1 3 2 3 3 1 3 1 1 3 2 1 3 3 1
56 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2
57 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 1 3 2 2
58 3 3 3 2 1 3 2 1 3 3 3 2 2 1 3 3
59 2 3 2 1 3 1 3 3 2 3 2 1 1 3 1 2
60 3 2 3 2 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3
61 1 2 2 3 3 2 2 1 1 2 2 3 2 3 2 1
62 1 3 2 3 3 3 2 3 1 3 2 3 1 3 3 1
63 3 3 3 3 1 3 1 3 3 3 3 3 1 1 3 3
64 1 2 3 3 2 3 3 1 1 2 3 3 1 2 3 1
65 1 1 3 1 3 3 2 3 1 1 3 1 2 3 3 1
66 1 3 1 2 1 2 1 1 1 3 1 2 3 1 2 1
67 2 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2
Perpustakaan Unika
63


No Y17 Y18 Y19 Y20 Y21 Y22 Y23 Y24 Y25
1 3 3 3 2 3 1 3 3 3
2 1 3 2 1 3 1 1 3 2
3 3 2 3 3 3 2 3 2 3
4 3 3 3 2 2 2 3 3 3
5 3 3 2 3 3 3 3 3 2
6 3 2 1 3 1 2 3 2 1
7 2 3 2 1 3 3 2 3 2
8 2 2 3 1 2 1 2 2 3
9 3 2 3 3 3 1 3 2 3
10 3 3 3 3 3 3 3 3 3
11 2 3 3 1 3 1 2 3 3
12 1 3 1 3 3 1 1 3 1
13 3 1 2 1 2 1 3 1 2
14 3 3 3 3 2 2 3 3 3
15 3 1 2 1 2 2 3 1 2
16 2 1 2 2 2 2 2 1 2
17 3 1 3 3 3 1 3 1 3
18 3 2 1 3 3 2 3 2 1
19 1 3 3 3 3 2 1 3 3
20 3 3 2 1 3 1 3 3 2
21 3 2 1 3 3 1 3 2 1
22 3 3 2 3 2 1 3 3 2
23 3 3 3 3 3 2 3 3 3
24 3 3 3 3 3 1 3 3 3
25 2 3 3 3 3 1 2 3 3
26 3 1 3 2 3 1 3 1 3
27 3 1 1 3 3 2 3 1 1
28 2 3 3 2 3 3 2 3 3
29 3 3 3 3 3 2 3 3 3
30 3 3 3 3 3 1 3 3 3
31 3 3 3 3 2 2 3 3 3
32 2 2 3 3 3 1 2 2 3
33 3 2 1 3 3 1 3 2 1
34 3 3 1 2 3 1 3 3 1
35 3 3 3 3 3 2 3 3 3
36 2 2 3 2 1 2 2 2 3
37 2 3 2 1 2 1 2 3 2
38 3 1 3 3 3 2 3 1 3
39 2 3 3 3 3 1 2 3 3
40 1 3 3 1 3 1 1 3 3
41 1 3 3 3 3 1 1 3 3
42 1 3 3 3 3 1 1 3 3
43 3 2 3 3 3 2 3 2 3
44 3 3 1 3 3 3 3 3 1
Perpustakaan Unika
64






























45 3 3 3 1 1 3 3 3 3
46 2 3 3 1 3 3 2 3 3
47 1 2 2 1 2 2 1 2 2
48 1 3 1 3 3 1 1 3 1
49 2 1 2 3 3 1 2 1 2
50 3 2 3 3 3 1 3 2 3
51 3 1 3 3 3 1 3 1 3
52 3 2 2 3 3 1 3 2 2
53 3 3 3 3 3 3 3 3 3
54 3 3 3 3 3 1 3 3 3
55 1 3 2 3 3 1 1 3 2
56 3 2 3 3 3 2 3 2 3
57 3 3 3 3 2 2 3 3 3
58 3 3 2 3 3 3 3 3 2
59 3 2 1 3 1 2 3 2 1
60 2 3 2 3 3 3 2 3 2
61 2 2 3 1 2 1 2 2 3
62 3 2 3 3 3 1 3 2 3
63 3 3 3 3 3 3 3 3 3
64 2 3 3 3 3 1 2 3 3
65 1 3 1 2 3 1 1 3 1
66 3 1 2 3 2 1 3 1 2
67 3 3 3 2 2 2 3 3 3
Perpustakaan Unika
65


Data Penelitian Variabel Pola Asuh Permisif (B-2)

No X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16
1 3 2 3 1 2 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 1
2 1 1 3 1 3 1 1 1 3 3 2 2 1 1 3 1
3 2 3 1 2 3 1 2 3 1 1 1 1 2 3 1 1
4 3 2 2 2 1 1 3 2 2 2 1 1 3 2 2 1
5 3 2 2 3 1 3 3 2 2 3 2 3 3 2 2 3
6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1
7 2 3 1 2 1 1 2 3 1 2 2 1 2 3 1 1
8 3 3 3 3 1 1 3 3 3 2 2 1 3 3 3 1
9 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 1 2 2 2 1
10 3 3 2 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3
11 3 2 2 3 3 2 3 2 2 2 1 2 3 2 2 1
12 3 1 3 3 3 1 3 1 3 2 2 2 3 1 3 2
13 2 2 1 2 3 1 2 2 1 2 3 2 2 2 1 2
14 3 2 2 2 3 1 3 2 2 1 1 1 3 2 2 1
15 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 3 2 2 1 2 1
16 2 3 3 1 2 3 2 3 3 2 3 2 2 3 3 1
17 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2
18 2 3 1 2 1 3 2 3 1 1 1 1 2 3 1 1
19 3 3 1 2 2 2 3 3 1 2 1 2 3 3 1 1
20 3 3 2 1 2 3 3 3 2 1 2 3 3 3 2 1
21 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 3 1 2 2 2 1
22 1 1 1 3 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1
23 3 2 1 3 1 1 3 2 1 3 1 1 3 2 1 3
24 3 2 1 3 1 1 3 2 1 3 1 1 3 2 1 3
25 1 3 1 2 3 2 1 3 1 3 1 1 1 3 1 1
26 3 3 1 1 2 1 3 3 1 1 3 2 3 3 1 1
27 3 2 2 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2
28 3 2 1 2 1 1 3 2 1 3 1 1 3 2 1 1
29 3 3 1 2 1 1 3 3 1 3 3 1 3 3 1 1
30 3 3 1 2 1 1 3 3 1 3 3 1 3 3 1 1
31 3 1 1 3 3 3 3 1 1 3 3 1 3 1 1 1
32 1 1 3 2 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 3 2
33 1 2 1 3 1 1 1 2 1 1 3 1 1 2 1 1
34 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3
35 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3
36 1 3 1 1 3 2 1 3 1 3 2 2 1 3 1 1
37 3 1 1 2 1 1 3 1 1 2 1 1 3 1 1 1
Perpustakaan Unika
66


38 3 2 3 3 2 1 3 2 3 2 1 1 3 2 3 1
39 3 1 2 3 1 1 3 1 2 1 3 2 3 1 2 1
40 3 3 1 3 2 3 3 3 1 2 1 3 3 3 1 1
41 1 3 2 3 3 3 1 3 2 2 1 1 1 3 2 3
42 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 1 1 3 2 3 1
43 3 2 1 2 3 3 3 2 1 2 1 1 3 2 1 1
44 1 2 2 3 3 2 1 2 2 3 2 1 1 2 2 1
45 1 2 1 3 3 3 1 2 1 2 3 3 1 2 1 1
46 1 3 1 3 1 2 1 3 1 3 2 1 1 3 1 1
47 1 1 3 3 2 3 1 1 3 3 3 1 1 1 3 1
48 1 3 1 1 1 1 1 3 1 3 1 1 1 3 1 1
49 1 1 3 3 2 3 1 1 3 3 3 1 1 1 3 1
50 3 3 1 1 3 2 3 3 1 3 1 2 3 3 1 2
51 2 2 1 3 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 3
52 1 1 1 3 1 3 1 1 1 2 2 3 1 1 1 3
53 1 2 1 3 1 1 1 2 1 3 1 1 1 2 1 1
54 1 3 2 3 1 1 1 3 2 1 3 3 1 3 2 3
55 1 1 1 3 1 3 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1
56 3 3 1 3 1 1 3 3 1 3 1 2 3 3 1 1
57 3 2 1 3 3 2 3 2 1 2 1 3 3 2 1 1
58 3 3 1 3 3 3 3 3 1 3 3 1 3 3 1 1
59 1 3 3 1 1 2 1 3 3 3 1 1 1 3 3 3
60 3 2 1 3 2 1 3 2 1 2 1 1 3 2 1 1
61 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 2 2 3 2 3 2
62 3 1 2 1 2 2 3 1 2 1 1 1 3 1 2 1
63 3 1 2 3 2 3 3 1 2 3 1 1 3 1 2 1
64 1 1 1 3 2 3 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1
65 3 2 1 3 1 1 3 2 1 1 2 1 3 2 1 3
66 3 3 1 3 2 1 3 3 1 3 1 1 3 3 1 3
67 3 2 1 3 1 2 3 2 1 3 1 1 3 2 1 3





Perpustakaan Unika
67




LAMPIRAN C: U1I VALIDITAS DAN
RELIABILITAS SKALA U1I COBA
C-1 Skala Kemandirian Anak
C-2 Skala Pola Asuh PermisiI




















Perpustakaan Unika
68


Reliability Skala Kemandirian Anak (C-1)
Putaran 1

Case Processing Summary
N
Valid 67 100.0
Exclude
d(a)
0 .0
Cases
Total 67 100.0
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N oI Items
.782 25

Item-Total Statistics

Scale Mean iI
Item Deleted
Scale Variance iI
Item Deleted
Corrected Item-
Total Correlation
Cronbach's Alpha
iI Item Deleted
Y1 55.88 50.440 .479 .766
Y2 55.04 52.195 .314 .775
Y3 55.07 51.131 .418 .770
Y4 55.09 50.810 .436 .769
Y5 55.27 55.260 .013 .793
Y6 54.85 54.008 .206 .780
Y7 55.10 53.125 .219 .780
Y8 55.10 53.186 .177 .784
Y9 55.88 50.440 .479 .766
Y10 55.04 52.195 .314 .775
Y11 55.07 51.131 .418 .770
Y12 55.09 50.810 .436 .769
Y13 55.84 54.897 .067 .788
Y14 55.27 55.260 .013 .793
Y15 54.85 54.008 .206 .780
Y16 55.88 50.440 .479 .766
Y17 55.04 52.195 .314 .775
Y18 55.07 51.131 .418 .770
Y19 55.09 50.810 .436 .769
Y20 55.04 52.953 .216 .781
Y21 54.85 54.008 .206 .780
Y22 55.88 50.440 .479 .766
Y23 55.04 52.195 .314 .775
Y24 55.07 51.131 .418 .770
Y25 55.09 50.810 .436 .769

Perpustakaan Unika
69


Reliability Skala Kemandirian Anak (C-1)
Putaran 2

Case Processing Summary
N
Valid 67 100.0
Exclude
d(a)
0 .0
Cases
Total 67 100.0
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N oI Items
.848 16

Item-Total Statistics

Scale Mean iI
Item Deleted
Scale Variance
iI Item Deleted
Corrected Item-
Total Correlation
Cronbach's Alpha
iI Item Deleted
Y1 34.36 38.021 .596 .833
Y2 33.52 39.950 .383 .844
Y3 33.55 39.827 .398 .843
Y4 33.57 38.886 .489 .838
Y9 34.36 38.021 .596 .833
Y10 33.52 39.950 .383 .844
Y11 33.55 39.827 .398 .843
Y12 33.57 38.886 .489 .838
Y16 34.36 38.021 .596 .833
Y17 33.52 39.950 .383 .844
Y18 33.55 39.827 .398 .843
Y19 33.57 38.886 .489 .838
Y22 34.36 38.021 .596 .833
Y23 33.52 39.950 .383 .844
Y24 33.55 39.827 .398 .843
Y25 33.57 38.886 .489 .838




Perpustakaan Unika
70


Reliability Skala Pola Asuh Permisif (C-2)
Putaran 1

Case Processing Summary
N
Valid 67 100.0
Exclude
d(a)
0 .0
Cases
Total 67 100.0
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N oI Items
.691 16

Item-Total Statistics

Scale Mean iI
Item Deleted
Scale Variance
iI Item Deleted
Corrected Item-
Total Correlation
Cronbach's Alpha
iI Item Deleted
X1 29.40 25.790 .475 .652
X2 29.52 27.405 .354 .670
X3 29.99 26.682 .421 .661
X4 29.30 31.697 -.158 .724
X5 29.81 29.068 .123 .697
X6 29.76 27.578 .276 .679
X7 29.40 25.790 .475 .652
X8 29.52 27.405 .354 .670
X9 29.99 26.682 .421 .661
X10 29.33 29.951 .055 .701
X11 29.84 29.109 .114 .698
X12 30.16 28.170 .277 .678
X13 29.40 25.790 .475 .652
X14 29.52 27.405 .354 .670
X15 29.99 26.682 .421 .661
X16 30.15 28.583 .189 .688






Perpustakaan Unika
71


Reliability Skala Pola Asuh Permisif (C-2)
Putaran 2

Case Processing Summary
N
Valid 67 100.0
Exclude
d(a)
0 .0
Cases
Total 67 100.0
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N oI Items
.780 9

Item-Total Statistics

Scale Mean iI
Item Deleted
Scale Variance
iI Item Deleted
Corrected Item-
Total Correlation
Cronbach's Alpha
iI Item Deleted
X1 16.04 15.468 .597 .739
X2 16.16 17.109 .427 .765
X3 16.63 17.328 .365 .773
X7 16.04 15.468 .597 .739
X8 16.16 17.109 .427 .765
X9 16.63 17.328 .365 .773
X13 16.04 15.468 .597 .739
X14 16.16 17.109 .427 .765
X15 16.63 17.328 .365 .773










Perpustakaan Unika
72






LAMPIRAN D: U1I ASUMSI
D-1 Uji Normalitas
D-2 Uji Linieritas













Perpustakaan Unika
73


NPar Tests
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Pola Asuh
PermisiI
Kemandirian
Anak
N 67 67
Normal
Parameters(a,b)
Mean
18.31 33.55
Std. Deviation 4.527 6.311
Most Extreme
DiIIerences
Absolute
.144 .120
Positive .125 .090
Negative -.144 -.120
Kolmogorov-Smirnov Z 1.179 .981
Asymp. Sig. (2-tailed) .124 .291
a Test distribution is Normal. b Calculated Irom data.



30 25 20 15 10 5
PoIa Asuh Permisif
20
15
10
5
0
F
r
e
q
u
e
n
c
y
4
7
16
18
14
3
5
Mean = 18.31
Std. Dev. = 4.527
N = 67



Perpustakaan Unika
74



45 40 35 30 25 20
Kemandirian Anak
12
10
8
6
4
2
0
F
r
e
q
u
e
n
c
y
4
12
3
8
11 11
5
9
1
3
Mean = 33.55
Std. Dev. = 6.311
N = 67
Curve Fit
Model Description
Model Name MOD1
Dependent Variable 1 Kemandirian Anak
1 Linear
2 Quadratic
Equation
3 Cubic
Independent Variable Pola Asuh PermisiI
Constant Included
Variable Whose Values Label Observations in
Plots UnspeciIied
Tolerance Ior Entering Terms in Equations
.0001




Perpustakaan Unika
75


Case Processing Summary
N
Total Cases 67
Excluded Cases(a) 0
Forecasted Cases 0
Newly Created
Cases
0
a Cases with a missing value in any variable are excluded Irom the analysis.

Variable Processing Summary

Variables

Dependent Independent

Kemandirian
Anak Pola Asuh PermisiI
Number oI Positive Values
67 67
Number oI Zeros 0 0
Number oI Negative Values
0 0
Number oI
Missing Values
User-Missing
0 0
System-Missing 0 0

Model Summary and Parameter Estimates
Dependent Variable: Kemandirian Anak
The independent variable is Pola Asuh PermisiI.

Equation Model Summary Parameter Estimates
R Square F dI1 dI2 Sig. Constant b1 b2 b3
Linear .009 .621 1 65 .434 31.069 .136
Quadratic .023 .749 2 64 .477 22.821 1.119 -.027
Cubic .025 .535 3 63 .660 32.688 -.773 .085 -.002
Perpustakaan Unika
76


45
40
35
30
25
20
27 24 21 18 15 12 9
PoIa Asuh Permisif
Cubic
Quadratic
Linear
Observed
Kemandirian Anak





Perpustakaan Unika
77






LAMPIRAN E: ANALISIS DATA
Analisis Korelasi Product Moment


















Perpustakaan Unika
78


Correlations
Descriptive Statistics

Mean
Std.
Deviation N
Pola Asuh
PermisiI
18.31 4.527 67
Kemandirian
Anak
33.55 6.311 67
Correlations


Pola Asuh
PermisiI Kemandirian Anak
Pola Asuh
PermisiI
Pearson
Correlation
1 .097
Sig. (1-tailed) .217
N 67 67
Kemandirian
Anak
Pearson
Correlation
.097 1
Sig. (1-tailed) .217
N 67 67









Perpustakaan Unika
79






LAMPIRAN F: SURAT PENELITIAN
F-1 Surat Ijin Penelitian
F-2 Surat Keterangan Penelitian






Perpustakaan Unika