Anda di halaman 1dari 2

Hanya ada dua jalan yang dijadikan

Allah swt., satu menuju ke surga


yang diridhai-Nya, satu menuju ke
neraka. Hanya ada satu jalan ke
surga, yaitu mengambil Islam secara
kaaffah*. Islam adalah sistem hidup
yang sempurna, solusi untuk semua
permasalahan. Dan tidaklah
diperkenankan menyembah sesuatu
selain Allah, ataupun mengambil
ajaran selain Islam, karena itupun
berarti menyekutukan Allah swt.
*QS Al-baqarah: 208-209
Kita mungkin tidak mengetahui, ada orang-orang munafk, kafr, dan
musyrik yang sengaja ingin menjatuhkan agama Islam yang sempurna
dengan berbagai cara dan upaya. Mereka tahu, pemuda adalah tumpuan
ummat, ketika rusak pemuda, maka rusaklah ummat itu pada akhirmya.
Orang-orang Yahudi dan nasrani tidak akan senang
kepada kamu hingga kamu mengikuti millah* mereka.
(QS Al-Baqarah:120)
*millah = agama, budaya, pola pikir, tradisi, gaya hidup.
Mereka lalu memperkenalkan kepada
kita budaya-budaya hedonis,
berbungkus atas nama cinta padahal
nafsu belaka. Tujuan mereka sangat
jelas: Menjauhkan pemuda dari Islam.
Mereka khawatir apabila al-Quran
dan as-Sunnah menyatu dalam akal
dan perasaan setiap pribadi pemuda
di dalam masyarakat dan menjelma
menjadi peraturan hidup yang
diterapkan secara formal dalam
kehidupan, maka itu akan
menampakkan wajah asli mereka
yang buruk.
Ketika kita tumbuh dan berkembang pun
semuanya diliputi kehangatan cinta.
Tangis kita menjadi usikan dikala mereka
berdua tidur, tapi dengan senang hati ibu
bangun mengganti popok yang basah,
menenangkan kita yang rewel untuk
tidur kembali. Tak berapa saat kita
membangunkan kembali tidur mereka
yang baru sedikit pulas, kali ini karena
lapar. Kembali ibu bangun dan menyusui
kita sampai kita tenang dan tertidur
kembali. Inilah cinta.
Ketika kita beranjak dewasa,
mereka mendengarkan semua
keluhan dan makian kita. Mereka
balas dengan nasihat yang tulus.
Setiap selesai sholat tak lupa
mereka mendoakan kita. Seringkali
mereka menangis disaat kita
membentak mereka. Tapi esoknya,
kembali diperlihatkan wajah dan
senyum cerianya, tanpa keluhan.
Inilah cinta.
Lalu, sudahkah kita menghargai tulusnya cinta kedua orangtua kita yang
selalu memberi tanpa pamrih? Pernahkah kita memberikan hadiah kepada
ibu kita, memberikan sekuntum bunga kepada ibu kita, atau sekedar
memeluk ibu kita dan mengucapkan terima kasih ya ibu..
Pernahkah kita mengucapkan terima kasih ayah, atas upayamu
menghidupi dan mencukupi keluarga.. atau pernahkah kita meminta
maaf saat kita melakukan kesalahan pada mereka? Atau sekedar berdoa
bagi mereka berdua setelah shalat?
Cinta adalah ftrah manusia. Cinta adalah kasih sayang yang tulus, yang
diberikan pencipta kita, Allah swt. Dialah sumber segala kasih sayang dan cinta
yang ada di permukaan bumi dan langit serta yang ada diantara keduanya.
Allah-lah yang berkehendak menjadikan setiap akal dan hati kita cenderung
pada perasaan saling menyayangi, saling membutuhkan.
Kita tumbuh dan berkembang di dalam cinta di rahim ibu kita tersayang, yang
diawali dari pernikahan mulia ayah dan ibu kita. Mereka berdua setiap hari
melihat perkembangan kita. Ayah kita begitu gembira menanti kedatangan kita,
tak jarang ia terusik kerjanya bila muncul pertanyaan apakah anakku baik-baik
saja?. Setiap upah yang ia terima selalu diprioritaskannya untuk kita nanti.
Sejak awal penciptaan kita pun, cinta telah berperan disana. Manusia dimulai
dari ketiadaan, ruang kosong tanpa waktu, lalu Allah berkehendak menjadikan
kita dengan cinta-Nya. Ditiupkan-Nya ruh kepada kita, yang membuat kita
menjadi ada.
Ibu setiap hari diberatkan dengan tubuh kita
yang semakin membesar, disibukkannya
dengan mempersiapkan kedatangan
seorang bayi. Ibu makan makanan yang
bergizi karena kita membutuhkan gizi dan
makanan yang baik, walaupun saat itu
mungkin ia tidak menginginkan.
Sampai kelahiran kita pun dipenuhi dengan
cinta yang tulus. Perasaan senang, kuatir
dan takut bercampur menjadi satu pada diri
mereka berdua. @felixsiauw
@AlFatihStudios
AlFatih Studios
Kepada Allah-lah kita paling
banyak bersyukur. Lalu
bershalawatlah kepada nabi
Muhammad saw. yang
memperjuangkan agama Islam
dengan darah dan serta
kesusahan. Berikutnya adalah
kepada kedua orangtua, atas
cinta kasih mereka.
Jika tidak ada rasul dan agama yang
dibawanya, mana mungkin kita
mempunyai kedua orang tua yang baik?
Tanpa izin Allah, sumber segala cinta,
bagaimanakah orangtua kita bisa ada di
dunia ini?
Namun kadang kita lebih
cenderung pada tipuan dunia.
Kita hanyut begitu saja saat
nafsu muncul dalam diri kita.
Kita lebih percaya pada
kata-kata di televisi, media dan
seruan orang lain dibanding
orangtua kita.
Maka, jangan mengatasnamakan cinta yang sesungguhnya pekerjaan nafsu. Cinta
sejati tak akan pernah menginginkan yang dicintai menjadi sengsara dan
berdosa. Jangan katakan cinta, apabila ia tahu perbuatannya akan mengantarkan
yang dicintainya kepada api neraka sementara ia tetap melakukannya. Jangan katakan
cinta, bila lebih mementingkan ajaran lain selain ajaran yang disampaikan baginda
Rasulullah.
Lebih jauh lagi, apakah kita termasuk
orang yang mengingkari cinta yang
diberikan Allah dan rasul-Nya Muhammad.
Kita mengaku ummat Muhammad, tapi
mungkin tak sedikitpun merindukannya.
Padahal rasulullah, manusia mulia yang
dijamin masuk surga, rela dilempari
dengan batu hingga kakinya berdarah, rela
dihina, dimaki, dilempari kotoran, demi
kita, ummatnya. Bahkan sampai wafatnya
pun rasul selalu memikirkan ummatnya
lebih daripada dia dan keluarganya.
Setiap teriakan menggambarkan pertaruhan
nyawa yang sedang dilakukan oleh ibu saat
melahirkan kita. Ayah yang setia menunggu
dengan cemas proses kelahiran kita, hanya
terpikir, Ya Allah, saat ini, apapun
tidak berarti kecuali kelahiran buah
hatiku.
Dengan teriakan yang nyaring dan
menggema, lalu lahirlah kita. Ibu tersenyum,
merasa dirinya paling bahagia di seluruh semesta. Padahal tadi ia
berteriak-teriak kesakitan, semua hilang seketika melihat wajah kita. Inilah
cinta. Ayah pun mencium ibu dan segera mengumandangkan adzan ke
telinga kita, tanda syukur yang mendalam, buyar sudah semua
cemas-galaunya. Inilah cinta.
next
Valentine
Day
NO MORE VALENTINE!