Anda di halaman 1dari 18

1

Tugas Kelompok
DASAR-DASAR Proteksi
Tenaga LISTRIK
Relai Diferensial

Oleh:
Kelompok 4

Shiddiq Ratuhaji
Nur Zulfitrah Rahman
Ahmad Jalan
Zulkarnain
Himmiyatun Niswah
A Maulana Chalik

Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik
Universitas Negeri Makassar
2011


2

Relai Deferensial
Relai diferensial digunakan pada peralatan yang secara fisik
mempunyai batas daerah proteksi relatif dekat disekitar peralatan
tersebut. Jadi relay ini biasanya digunakan pada peralatan seperti :
transformator, rel dan generator. Biasanya digunakan untuk
memproteksi perlatan terhadap gangguan hubung singkat antar fase,
maupun fase dengan tanah.
Relai diferensial digunakan untuk mengamankan generator dari
kerusakan akibat adanya gangguan internal pada kumparan stator. Dua
unit transformator arus (CT) masing-masing dipasang pada kedua sisi
kumparan generator, Sekunder CT terhubung bintang yang ujung-
ujungnya dihubungkan melalui kawat-kawat pilot. Pada kondisi
normal dan tidak ada gangguan internal, besarnya arus kedua sisi
kumparan sama, sehingga arus yang mengalir pada sisi-sisi sekunder
CT juga sama. Hal ini menyebabkan tidak ada arus yang mengalir
pada relai. Pada saat terjadi gangguan pada kumparan generator,
mungkin fase dengan fase atau fase dengan ground, maka arus yang
mengalir pada kedua sisi kumparan akan berbeda, sehingga ada arus
yang mengalir pada relai. Relai bekerja menarik kontak sehingga
3

kumparan triping mendapat tenaga dari catudaya searah yang
selanjutnya akan menarik kontak pemutus tenaga untuk memutuskan
hubungan generator dengan sistem.
Relay differensial merupakan suatu relay yang prinsip kerjanya
berdasarkan kesimbangan (balance), yang membandingkan arus-arus
sekunder transformator arus (CT) terpasang pada terminal-terminal
peralatan atau instalasi listrik yang diamankan. Penggunaan relay
differensial sebagai relay pengaman, antara lain pada generator,
transformator daya, bus bar, dan saluran transmisi.
Relay differensial digunakan sebagai pengaman utama (main
protection) pada transformator daya yang berguna untuk
mengamankan belitan transformator bila terjadi suatu gangguan. Relay
ini sangat selektif dan sistem kerjanya sangat cepat. Prinsip Kerja Dari
Relay Differensial Sebagaimana disebutkan diatas, Relay differensial
adalah suatu alat proteksi yang sangat cepat bekerjanya dan sangat
selektif berdasarkan keseimbangan (balance) yaitu perbandingan arus
yang mengalir pada kedua sisi trafo daya melalui suatu perantara yaitu
trafo arus (CT).
4

Dalam kondisi normal, arus mengalir melalui peralatan listrik
yang diamankan (generator, transformator dan lain-lainnya). Arus-arus
sekunder transformator arus, yaitu I
1
dan I
2
bersikulasi melalui jalur
IA. Jika relay pengaman dipasang antara terminal 1 dan 2, maka dalam
kondisi normal tidak akan ada arus yang mengalir melaluinya.
A. Prinsip Kerja Relai Diferensial
Relai diferensial adalah relai yang bekerja bilamana dua
atau lebih besaran listrik yang sama mempunyai hasil jumlah
vektor yang lebih besar dari nilai setelan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan
relai deferensial, adalah :
- Polaritas transformator arus harus sesuai, sedemikian
hingga pada kondisi normal, tidak akan ada arus yang
mengalir pada operating coil.
- Perbandingan transformasi serta kapasitas transformator
arus, harus sesuai.
- Penetapan relai dan pemilihan penghantar yang sesuai
sehingga tidak akan terjadi kondisi dimana salah satu
5

transformator arus menjadi jenuh arus gangguan yang
besar.

B. Jenis Relai Diferensial
Secara umum dikenal dua macam relai deferensial yaitu :
1. Relai diferensial longitudinal.
Prinsip kerja relai diferensial longitudinal
digambarkan pada gambar 21.
Dengan transformator bahwa CT
1
dan CT
2

merupakan dua transformator arus dengan perbandingan
transformator dan kapasitas yang sesuai, maka untuk
kondisi kondisi berikut :


- Kondisi Normal
I
1
dan I
2
ditransformasikan oleh CT
1
dan CT
2

menjadi i
1
dan i
2
dengan harga yang secara teoritis
sama, sehingga berdasarkan gambar 21, diperoleh
persamaan :
6

i = i
1
i
2
= 0
(21)
hal ini berarti i lebih kecil dari harga i
p
sehingga
relai blocking.
- Kondisi gangguan F
1

Seperti pada kondisi normal I
1
dan I
2
akan
ditransformasikan menjadi
i2
dan i
2
yang juga secara
teoritis sama. Dari gambar 21. Diperoleh :
i = i
1
i
2
= 0
(21a)
Dan, karena i sama dengan nol, maka relai tetap
blocking.


- Kondisi gangguan F
2

Arus gangguan I
1
ditransformasikan menjadi i
1
yang merupakan nilai sekunder arus gangguan.
Sedangkan I
2
yang sama dengan nol (sumber disebelah
7

kiri) akan menyebabkan i
2
juga menjadi nol.
Selanjutnya dari Gambar 2.21 diperoleh persamaan.
I = i
1
+ i
2
= i
1
+ 0 = i
1

(21b)
Dimana, i
1
+ merupakan nila sekunder arus
gangguan yang nilainya cukup jauhlebih besar dari I
p
,
sehingga relai akan Pick-up.
Namun, beberapa masalah praktis yang sering
mempengaruhi keandalan sistem proteksi ini, yaitu :
o Ketidakmudahan memperoleh transformator arus yang
benar benar identik
o Pada umumnya peletakan transformator arus dan unit
relai diderensial sedemikian rupa. Sehingga biasanya
burden dari transformator arus yang digunakan
menjadi berbeda.
Masalah masalah tersebut diatas mengaharuskan kita
memasang nilai setelah (i
p
) untuk relai ini yang lebih besar
dari hasil jumlah vektor arus (i) pada kondisi normal.
Termasuk kedalam hal ini, kondisi bilamana terjadi thought
8

fault current (arus gangguan yang besar tetapi berinteraksi
di luar daerah proteksi).
Penentuan nilai setelah dengan cara seperti ini, pada
akhirnya akan berarti mengurangi sensitivitas relai. Hal ini
menjadi kelemahan dari relai deferensial longitudinal.












Keterangan :
CT
1
dan CT
2
: transformator arus 1 & 2
9

I
1
dan I
2
: arus primer CT
1
& CT
2
i
1
dan i
2
: arus sekunder CT
1
& CT
2

Gambar 21. Prinsip kerja relai deferensial longitudinal.


2. Relai diferensial persentase
Prinsip kerja relai deferensial presentase
diperlihatkan pada Gambar 22. Persamaan kopel pada relai
deferensial presentase adalah :

Kopel Operasi.
T
o
= K (i
1
i
2
) N
o

(22)
Kopel Lawan.
T
r
= K

N
r
+ S
(23)
Dimana :
10

K = Konstanta
S = Kopel lawan Mekanis
i
1
,

i
2
= arus sekunder CT
1
dan CT
2

N
r
, N
o
= jumlah lilitan restraining coil dan Operating
Coil

Persamaan kopel untuk relai diferensial presentase,
dengan mengabaikan kopel lawan mekanis (S) dalam
kondisi ambang (tepat akan Pick-up), adalah :






Keterangan :
N
o
= Jumlah Lilitan operating coil
N
r
= Jumlah lilitan restraining coil
Gambar 22. Prinsip kerja relai deferensial presentase.
11

K (i
1
i
2
) N
o
= K

N
r

(24)


(25)

= K
o
(26)
(i
2
= i
2
) = K
o

(27)

Selanjutnya dari persamaan (27) diperoleh
karakteristik operasi seperti gambar 23.






Gambar 23. Karakteristik operasi relai diferensial persentase
12

Dengan mengasumsikan bhwa CT
1
dan CT
2

merupakan dua transformator dengan perbandingan
transformator arus dengan perbandingan transformasi dan
kapasitas yang sesuai, maka untuk kondisi kondisi
berikut :
- Kondisi Normal
Arus I
1
dan I
2
ditransformasikan oleh CT
1
dan CT
2

menjadi i
1
dan i
2
dengan harga secara otomatis sama.
Akibatnya, kopel opreasi berharga nol (persamaan 22)
sedangkan kopel lawan (persamaan 23) berharga besar,
sehingga relai blocking.
- Kondisi Gangguan F
1

Arus I
1
dan I
2
ditransformasikan oleh CT
1
dan CT
2 -
menghasilkan arus i
1
dan i
2
yang juga secara otomatis
sama. Akbibatnya kopel (persamaan 22) yang
dihasilkan sama dengan nol sedangkan kopel lawan
(persamaan 23) berharga besar, sehingga relai tetap
blocking.
- Kondisi Gangguan F
2

13

Arus I
1
yang besar pula, sedangkan I
2
sama dengan
nol (sumber berada di kiri) yang berarti i
2
juga sama
dengan nol. Selanjutnya menurut persamaan (22) dan
(23). Kopel operasi akan lebih besar dari kopel lawan
sehingga relai akan pick-up.
Untuk mengatasi masalah magnelizing inrush
current, digunakan metode harmonic current restraint
percentage differential relay (relai diferensial
persentase dengan penahan arus harmonis). Prinsip
kerjanya adalah memanfaatkan munculnya komponen
harmonis di samping harmonis dasar pada saat terjadi
magnetizing inrush current. Dimana pada kondisi
hubung singkat hampir tidak ada (dapat diabaikan).
C. Proteksi Transformator dengan Relai Diferensial
Seperti dalam saluran transmisi, jenis relai proteksi yang
digunakan untuk transformator daya tergantung pada besar
daya, rating tegangan, dan sifat penggunaannya. Proteksi utama
dan transformator dengan daya yang lebih besar atau sama
14

dengan 10 MVA umunya menggunakan relai defernsial. Relai
ini sangat selektif dan dapat pack-up dengan kecepatan tinggi.
Prinsip kerja relai diferensial berdasarkan kesimbangan
(balance), yang membandingkan arus-arus sekunder
transformator arus (CT) terpasang pada terminal-terminal
peralatan atau instalasi listrik yang diamankan. Penggunaan
relay differensial sebagai relay pengaman, antara lain pada
generator, transformator daya, bus bar, dan saluran transmisi.
Relay differensial digunakan sebagai pengaman utama
(main protection) pada transformator daya yang berguna untuk
mengamankan belitan transformator bila terjadi suatu gangguan.
Relay ini sangat selektif dan sistem kerjanya sangat cepat.
Prinsip Kerja Dari Relay Differensial Sebagaimana disebutkan
diatas, Relay differensial adalah suatu alat proteksi yang sangat
cepat bekerjanya dan sangat selektif berdasarkan keseimbangan
(balance) yaitu perbandingan arus yang mengalir pada kedua
sisi trafo daya melalui suatu perantara yaitu trafo arus (CT).
Dalam kondisi normal, arus mengalir melalui peralatan
listrik yang diamankan (generator, transformator dan lain-
15

lainnya). Arus-arus sekunder transformator arus, yaitu I
1
dan I
2

bersikulasi melalui jalur IA. Jika relay pengaman dipasang
antara terminal 1 dan 2, maka dalam kondisi normal tidak akan
ada arus yang mengalir melaluinya.

D. Proteksi Rel dengan Relai Diferensial
Meskipun kemungkinan terjadinya gangguan di rel tidak
sesering di saluran, namun apabila hal ini terjadi, maka
dampaknya terhadap sistem akan luas. Untuk itu, harus
diusahakan sebuah sistem proteksi yang tepat untuk rel.
Relai diferensial merupakan metode yang paling sensitif
dan dapat diandalkan untuk memproteksi rel. Relai diferensial
memiliki selektivitas yang baik, yaitu jumlah vektor arus yang
masuk dan keluar dari suatu rel adalah sama bila tidak gangguan
dalam rel yang bersangkutan.




16












Keterangan : OC = Oprating coil
F
1
,F
2
= Gangguan
I
OC
= Arus Operating coil

Gambar 24. Proteksi rel a. Gangguan di dalam rel.



17

Gangguan di luar rel.
Apabila ada gangguan pada rel, maka jumlah vektor dari
arus tersebut tidak nol dan arus inilah yang akan menyebabkan
relai pack-up. Secara sederhana digambarkan pada gambar 24.
Gambar 24a merupakan gangguan pada daerah proteksi sehingga
relai pick-up
,
sedangkan gambar 24b. Merupakan gangguan di
luar daerah proteksi dan relai blocking.












18

Daftar Pustaka

Drs Priyo Handoko. 2000. Pemasangan Instalasi Listrik Dasar. PT.
Kanisiusm, Yogyakarta.
Gary, Dunning. Inroduction to Programmable Logic Controller.
Delmar Publisher. 1998.
PLTA Besai. Operation Manual TLASH Racking Machine. UNIT
PLTA Besai, Bandar Lampung. 1999
Martudi, Djiteng. Operasi Sistem Tenaga Listrik. Yogyakarta : Graha
Ilmu, 2006.