Anda di halaman 1dari 21

I.

PENDAHULUAN
Hampir semua wanita pernah mengalami gangguan haid selama masa hidupnya.
Gangguan ini dapat berupa kelainan siklus atau perdarahan. Masalah ini dihadapi
oleh wanita usia remaja, reproduksi dan klimakterik.
1,2,3,4
Haid yang tidak teratur pada masa 3- tahun setelah menars dan pramenopause
!3- tahun menjelang menopause" merupakan keadaan yang la#im dijumpai. $etapi
pada masa reproduksi !umur 2%-4% tahun", haid yang tidak teratur bukan merupakan
keadaan yang la#im, karena selalu dihubungkan dengan keadaan abnormal.
&erdarahan abnormal dari uterus tanpa disertai kelainan organik, hematologik,
melainkan hanya merupakan gangguan 'ungsional disebut sebagai perdarahan uterus
dis'ungsional.
1,2,3,4,,(,),*,+,1%,11,12,13,14
,erdasarkan gejala klinis perdarahan uterus
dis'ungsional dibedakan dalam bentuk akut dan kronis.
1,3
-edangkan se.ara kausal
perdarahan uterus dis'ungsional mempunyai dasar o/ulatorik !1%0"
k
dan
ano/ulatorik !)%0".
1,3,11
&erdarahan uterus dis'ungsional akut umumnya dihubungkan dengan keadaan
ano/ulatorik
1,2,3,),*,1%,12,14,1,1(
, tetapi perdarahan uterus dis'ungsional kronis dapat terjadi
pula pada siklus ano/ulatorik. 1alaupun ada o/ulasi tetapi pada perdarahan uterus
dis'ungsional ano/ulatorik ditemukan umur korpus luteum yang memendek,
memanjang atau insu'isiensi. &ada perdarahan uterus dis'ungsional ano/ulatorik,
akibat tidak terbentuknya korpus leteum akti' maka kadar progesteronnya rendah
dan ini menjadi dasar bagi terjadinya perdarahan.
1,3
&enderita perdarahan uterus dis'ungsional akut biasanya datang dengan
perdarahan banyak
1,3,(,*
, sehingga .epat ditangani karena merupakan keadaan gawat
darurat dan memerlukan perawatan di rumah sakit. -edangkan perdarahan uterus
dis'ungsional kronis dengan perdarahan sedikit-sedikit dan berlangsung lama bukan
merupakan keadaan gawat darurat. Meskipun tidak darurat tetapi perdarahan uterus
dis'ungsional kronis justru memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh
sehubungan dengan dampak jangka panjang yang ditimbulkannya seperti anemia
sekunder, yang dapat menganggu 'ungsi reproduksi.
3
-e.ara klinis perdarahan uterus dis'ungsional bukan merupakan masalah baru
lagi karena penanggulangannya dapat dilakukan menurut gejala yang ditemukan.
2asar penanggulangannya adalah memperbaiki keadaan umum, menghentikan
perdarahan dan mengembalikan siklus haid menjadi normal. $etapi selama ini
pengobatan terhadap perdarahan uterus dis'ungsional hanya bersi'at simtomatis,
sedangkan sesungguhnya pilihan pengobatan yang rasional adalah yang bersi'at
kausal dan berdasar pada pato'isiologinya.
3
Hingga kini berbagai sediaan hormonal telah dipakai. 2ari berbagai jenis sediaan
hormonal tersebut, estrogen telah lama digunakan untuk pengobatan perdarahan
uterus dis'ungsional akut. 2iketahui bahwa pemberian estrogen dosis tinggi serta
dilatasi dan kuretase pada perdarahan uterus dis'ungsional akut telah teruji se.ara
bermakna meng hentikan perdarahan. $etapi pemakaian estrogen tunggal jangka
panjang untuk perdarahan uterus dis'ungsional akan berdampak negati' antara lain
perdarahan lu.ut estrogen yang dapat berlangsung lama dan banyak. &ada pihak lain,
pemakaian estrogen dan progesterone se.ara tersendiri atau gabungannya ternyata
mampu melenyapkan gejala klinis perdarahan uterus dis'ungsional kronis.
3,(
$elah dikemukakan bahwa perdarahan pada perdarahan uterus dis'ungsional
kronis disebabkan oleh kadar progesterone yang turun
3,1)
karena o/ulasi diikuti
dengan insu'isiensi kurpus luteum atau karena ano/ulasi !korpus luteum akti' tidak
terbentuk".
1,3,(,1)
3tas dasar ini maka untuk perdarahan uterus dis'ungsional kronis
pilihan terhadap sediaan progesteron dipikirkan lebih tepat dalam menghentikan
perdarahan.
3
4enis progesterone yang tersedia .ukup beragam.
1,3
Masing-masing
punya kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. &engaruh sampingan yang
di.emaskan pada pemberian jangka panjang adalah dampak maskulinisasi, jika yang
diberi adalah progesterone turunan testosteron. 5leh karena itu ke.enderungan
sekarang adalah memilih jenis progesterone alamiah.
Gangguan haid sering dialami wanita usia perimenars dan perimenopause. 3ngka
kejadian yang sebenarnya di masyarakat jauh lebih tinggi daripada yang diajukan
oleh beberapa penulis. Hal ini berhubungan dengan keengganan penderita, terutama
2
pada usia perimenars untuk menjalani pemeriksaan. -elain itu sebagian perdarahan
uterus dis'ungsional dapat berhenti atau sembuh sendiri tanpa pengobatan.
2i 3merika serikat dan inggris, perdarahan uterus dis'ungsional merupakan 1%0
dari kunjungan rumah sakit
3
. dan +%0 dari kasus perdarahan uterus abnormal

.
,erdasarkan golongan usia 3-40 perdarahan uterus dis'ungsional terjadi pada
remaja. 2alam hubungannya dengan siklus haid, perdarahan uterus dis'ungsional
lebih sering ditemukan pada siklus ano/ulatorik yaitu sekitar *-+%0.
2i 6ndonesia belum ada angka yang menyebutkan kekerapan perdarahan uterus
dis'ungsional ini se.ara menyeluruh. 7ebanyakan penulis memperkirakan
kekerapannya sama dengan diluar negeri, yaitu 1%0 dari kunjungan ginekologik. 2i
8-9M: ;7<6 pada tahun 1+*+ ditenukan 3+0 kasus perdarahan uterus
dis'ungsional dari kunjungan poliklinik endokronologi dan reproduksi.
3
2alam re'rat ini penulis akan mengulas kembali terutama mengenai penggunaan
progesterone dalam pengobatan perdarahan uterus dis'ungsional kronis pada masa
reproduksi.
II. PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL
&erdarahan abnormal dari uterus baik dalam jumlah, 'rekuensi maupun lamanya,
yang terjadi didalam atau diluar haid sebagai wujud klinis gangguan 'ungsional
mekanisme kerja poros hipotalamus-hipo'isis-o/arium, endometrium tanpa kelainan
organik alat reproduksi, seperti radang, tumor, keganasan, kehamilan atau gangguan
sistemik lain.
1,3,(
&erdarahan uterus dis'ungsional dapat berlatar belakang kelainan-kelainan
o/ulasi, suklus haid, jumlah perdarahan dan anemia yang ditimbulkannya.
,erdasarkan kelainan tersebut maka perdarahan uterus dis'ungsional dapat dibagi
seperti table 1
3
$abel 1. =atar belakang kelainaan perdarahan uterus dis'ungsional !&<2" dan bentuk kelainannya.
3
2asar kelainan ,entuk klinis
5/ulasi &<2 o/ulatorik
&<2 ano/ulatorik
-iklus Metroragia
&olimenorea
5ligomenorea
3menorea
4umlah perdarahan Menoragia
&erdarahan ber.ak prahaid
&erdarahan ber.ak paskahaid
3nemia &<2 ringan
&<2 sedang
&<2 berat
&erdarahan uterus dis'ungsional biasanya berhubungan dengan satu dari tiga
keadaan ketidak seimbangan hormonal, berupa> estrogen breakthrough bleeding,
estrogen withdrawal bleeding dan progesterone breakthrough bleeding.
,(,*
&ada perdarahan uterus dis'ungsional o/ulatorik perdarahan abnormal terjadi
pada siklus o/ulatorik dimana dasarnya adalah ketidakseimbangan hormonal akibat
umur korpus luteum yang memendek atau memanjang, insu'isiensi atau persistensi
korpus luteum.
3
&erdarahan uterus dis'ungsional pada wanita dengan siklus
ano/ulatorik mun.ul sebagai perdarahan reguler dan siklik.

-edang pada perdarahan uterus dis'ungsional ano/ulatorik perdarahan abnormal


terjadi pada siklus ano/ulatorik dimana dasarnya adalah de'isiensi progesterone dan
kelebihan progesterone akibat tidak terbentuknya korpus luteum akti', karena tidak
terjadinya o/ulasi. 2engan demikian khasiat estrogen terhadap endometrium tak ber
lawan.
1,3
Haampir *%0 siklus mens ano/ulatorik pada tahun pertama menars dan
akan menjadi o/ulatorik mendekati 1*-2% bulan setelah menars.

&erdarahan uterus dis'ungsional dikatakan akut jika jumlah per darahan pada
satu saat lebih dari *% ml,
3,(,1(
terjadi satu kali atau berulang dan memerlukan
tindakan penghentian perdarahan segera. -edangkan perdarahan uterus dis'ungsional
kronis jika perdarahan pada satu saat kurang dari 3% ml terjadi terus menerus atau
tidak tidak hilang dalam 2 siklus berurutan atau dalam 3 siklus tak berurutan, hari
perdarahan setiap siklusnya lebih dari * hari, tidak memerlukan tindakan
4
penghentian perdarahan segera, dan dapat terjadi sebagai kelanjutan perdarahan
uterus dis'ungsional akut.
DIAGNOSA
2iagnosa &<2 se.ara umum ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
'isik dan pemeriksaan penunjang. Hal yang pertama yang penting dilakukan adalah
menyingkirkan adanya kelainan - kelainan organi., sistemik, imunologi, keganasan
dan kehamilan.
1. 3namnesis
8iwayat penyakit perlu diketahui usia menar.he. -iklus haid setelah menar.he, lama dan
jumlah darah haid, serta latar belakang kehidupan keluarga dan latar belakang
kepribadian.
2. &emeriksaan
a. &emeriksaan 'isik
&emeriksaan ini ditujukan untuk menilai kemungkinan adanya sebab lain yang
dapat menimbulkan &<2. &erlu dinilai adanya hipo:hipertiroid dan gangguan
hemostasis seperti petekie.
b. &emeriksaan ginekologik
$ujuan pemeriksaan ini adalah untuk menyingkirkan adanya kelainan organik
seperti
perlukaan genitalia, erosi:radang atau polip ser/iks, mioma uteri, dll. &ada wanita
usia pubertas biasanya umumnya tidak diperlukan kerokan. &ada wanita
premenopause perlu dilakukan untuk memastikan ada tidaknya keganasan.
.. &emeriksaan penunjang
7elainan organik yang ke.il pada genitalia interna seringkali sulit dinilai apalagi
pada
wanita yang belum menikah, penilaian yang dilakukan per re.tal lebih sulit.
<ntuk itu dianjurkan penggunaan alat bantu diagnosti., seperti >
1. ,iopsy endometrium !pada wanita yang sudah menikah"
2. =aboratorium darah dan 'ungsi hemostasis
3. <ltrasonogra'i !<-G"

4. $era radioimunologik !$86" atau radio imuno


assay
d. 2iagnosis ano/ulasi
&enetapan ada atau tidaknya o/ulasi .ukup berperan pada penentuan jenis &<2.
7eadaan ano/ulasi memberikan .iri-.iri tertentu pada pemeriksaan penunjang seperti
berikut >
1. -uhu basal badan mono'asik
2. ,iopsy endometrium atro'i, proli'erati'
3. -itologi tidak tampak pengaruh
4. <ji pakis positi'
. &rogesterone serum rendah
(. Gonadotropin !;-H dan =H" =H rendah
). Hiper'ungsi adrenal testosterone tinggi
*. Hipotiroid &8= tinggi
+. Hipo'ungsi pankreasinsulin rendah
III. PENATALAKSANAAN SECARA UMUM PERDARAHAN UTERUS
DISFUNGSIONAL
&enatalaksanaan perdarahan uterus dis'ungsional se.ara umum perlu memperhatikan
'aktor-'aktor berikut>
a. <mur, status pernikahan, 'ertilitas.
3,
Hal ini dihubungkan dengan perbedaan penanganan pada tingkatan perimenars,
reproduksi dan perimenopause. &enanganan juga seringkali berbeda antara
penderita yang telah dan belum menikah atau yang tidak dan yang ingin anak.
b. ,erat, jenis dan lama perdarahan.
3,
7eadaan ini akan mempengaruhi keputusan pengambilan tindakan mendesak atau
tidak
.. 7elainan dasar dan prognosisnya.
3,
(
&engobatan kausal dan tindakan yang lebih radikal sejak awal telah dipikirkan jika
dasar kelainan dan prognosis telah diketahui sejak dini.
3
&ada dasarnya tujuan penatalaksanaan perdarahan uterus dis'ungsional adalah>
3,,13
1. Memperbaiki keadaan umum
2. Menghentikan perdarahan
3. Mengembalikan 'ungsi hormon reproduksi.
?ang meliputi> pengembalian siklus haid abnormal menjadi normal, pengubahan
siklus ano/ulatorik menjadi o/ulatorik atau perbaikan suasana sehingga
terpenuhi persyaratan untuk pemi.uan o/ulasi.
4. Menghilangkan an.aman keganasan
=ima prinsip dasar penatalaksanaan &<2 >
1. -ingkirkan dahulu kelainan organi.:darah
2. ,ila terjadi perdarahan banyak :keadaan umum wanita jelek :anemia, hentikan
perdarahan
segera dengan injeksi estrogen atau dengan progesterone, kemudian tran'usi
3. &erdarahan yang tidak sampai mengganggu keadaan umum pasien, pengobatannya
.ukup
dengan estrogen dan atau progesterone oral saja.
4.-etelah perdarahan dapat dihentikan :gangguan haid dapat diatasi, maka tindakan
selanjutnya
adalah mengatur siklus haid penderita tersebut tiga bulan berturut @ turut
. -etelah tiga bulan pengaturan siklus haid, keadaan kembali seperti semula maka harus
di.ari penyebab lain ! analisis hormonal"
-e.ara singkat langkah-langkah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut>
1. &erbaikan keadaan umum
&ada perdarahan yang banyak sering ditemukan keadaan umum yang buruk,
pada keadaan perdarahan uterus dis'ungsional akut anemia yang terjadi harus
segera diatasi dengan trans'usi darah. &ada perdarahan uterus dis'ungsional
kronis keadaan anemia ringan seringkali dapat diatasi dengan diberikan sediaan
besi, sedangkan anemia berat membutuhkan trans'usi darah.
)
2. &enghentian perdarahan
Pemakaian hormon steroi seks
!"#
a. Astrogen
2ipakai pada perdarahan uterus dis'ungsional untuk menghentikan
perdarahan karena memiliki berbagai khasiat yaitu>
1. &enyembuhan luka !healing e''e.t"
2. &embentukan mukopolisakarida pada dinding pembuluh darah
3. Basokonstriksi, karena merangsang pembentukan prostaglandin
4. Meningkatkan pembentukan trombin dan 'ibrin serta menghambat proses
'ibrinolisis.
b. &rogestin
,erbagai jenis progestin sintetik telah dilaporkan dapat menghentikan
perdarahan. ,eberapa sedian tersebut antara lain adalah noretisteron, M&3,
megestrol asetat, didrogesteron dan linestrenol.
1,3,*
Coretisteron dapat menghentikan perdarahan setelah 24-4* jam dengan dosis
2%-3% mg:hari, medroksiprogesteron asetat dengan dosis 1%-2% mg:hari
selama 1% hari, megestrol asetat dengan didrogesteron dengan dosis 1%-2%
mg:hari selama 1% hari, serta linestrenol dengan dosis 1 mg:hari selama 1%
hari. <raian lebih rin.i terhadap pemakaian progestin ini akan diberikan pada
bagian tersendiri .
.. 3ndrogen
Merupakan pilihan lain bagi penderita yang tak .o.ok dengan estrogen dan
progesterone. -ediaan yang dapat dipakai antara lain adalah isoksasol
!dana#ol" dan metil testosteron !dana#ol merupakan suatu turunan 1)--
etinil-testosteron". 2osis yang diberikan adalah 2%% mg:hari selama 12
minggu. &erlu diingat bahwa pemakaian jangka panjang sediaan androgen
akan berakibat maskulinisasi.
3
Pemakaian $en%ham&at sintesis $rosta%'anin.
*
&ada peristiwa perdarahan, prostaglandin penting peranannya pada /askularisasi
endometrium. 2alam hal ini &gA2 dan &gA2
meningkat se.ara bermakna. 2engan
dasar itu, penghambat sintesis prostaglandin atau obat anti in'lamasi non steroid
telah dipakai untuk pengobatan perdarahan uterus dis'ungsional, terutama
perdarahan uterus dis'ungsional ano/ulatorik. <ntuk itu asam me'enamat dan
naproksen seringkali dipakai dosis 3 D %% mg:hari selama 3- hari terbukti
mampu mengurangi perdarahan.
3
Pemakaian anti(i&rino'itik
-istem pembekuan darah juga ikut berperan se.ara lo.al pada perdarahan uterus
dis'ungsional. &eran ini tampil melalui akti/itas 'ibrinolitik yang diakibatkan oleh
kerja en#imatik. &roses ini ber'ungsi sebagai mekanisme pertahanan dasar untuk
mengatasi penumpukan 'ibrin. <nsur utama pada system 'ibrinolitik itu adalah
plasminogen, yang bila diakti'kan akan mengeluarkan protease palsmin.
An#im tersebut akan menghambat akti/asi palsminogen menjadi plasmin,
sehingga proses 'ibrinolisis akhirnya akan terhambat pula. -ediaan yang ada untuk
keperluan ini adalah asam amino kaproat !dosis yang diberikan adalah 4 D 1-1,
gr:hari selama 4-) hari".
3
Pen%o&atan o$erati(
4enis pengobatan ini men.akup> dilatasi dan kuretase, ablasi laser dan
histerektomi.
3,(,13
2ilatasi dan kuretase merupakan tahap yang ringan dari jenis pengobatan
operati' pada perdarahan uterus dis'ungsional. $ujuan pokok dari kuretase pada
perdarahan uterus dis'ungsional adalah untuk diagnostik, terutama pada umur
diatas 3 tahun atau perimenopause. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya
'rekuensi keganasan pada usia tersebut. $indakan ini dapat menghentikan
perdarahan karena menghilangkan daerah nekrotik pada endometrium. $ernyata
dengan .ara tersebut perdarahan akut berhasil dihentikan pada 4%-(%0 kasus.
3
Camun demikian tindakan kuretase pada perdarahan uterus dis'ungsional
masih diperdebatkan, karena yang diselesaikan hanyalah masalah pada organ
+
sasaran tanpa menghilangkan kausa. 5leh karena itu kemungkinan kambuhnya
.ukup tinggi !3%-4%0 sehingga a.apkali diperlukan kuretase berulang.
3
,eberapa
ahli bahkan tidak menganjurkan kuretase sebagai pilihan utama untuk
menghentikan perdarahan pada perdarahan uterus dis'ungsional, ke.uali jika
pengobatan hormonal gagal menghentikan perdarahan.
&ada ablasi endometrium
3,*,11,13
dengan laser ketiga lapisan endometrium
diablasikan dengan .ara /aporasi neodymium ?3G laser.
3,13
Andometrium akan
hilang permanen, sehingga penderita akan mengalami henti haid yang permanen
pula. 9ara ini dipilih untuk penderita yang punya kontrindikasi pembedahan dan
tampak .ukup e'ekti' sebagai pilihan lain dari histerektomi, tetapi bukan sebagai
pengganti histerektomi.
3
$indakan histerektomi pada penderita perdarahan uterus dis'ungsional harus
memperhatikan usia dan paritas penderita. &ada penderita muda tindakan ini
merupakan pilihan terakhir. -ebaliknya pada penderita perimenopause atau
menopause, histerektomi harus dipertimbangkan bagi semua kasus perdarahan
yang menetap atau berulang. -elain itu histerketomi juga dilakukan untuk
perdarahan uterus dis'ungsional dengan gambaran histologis endometrium
hiper'lasia atipik dan kegagalan pengobatan hormonal maupun dilatasi dan
kuretase.
3
3. Mengembalikan keseimbangan 'ungsi hormon reproduksi
<saha ini meliputi pengembalian siklus haid abnormal menjadi normal,
pengubahan siklus ano/ulatorik menjadi o/ulatorik atau perbaikan suasana
sehingga terpenuhi persyaratan untuk pemi.uan o/ulasi.
Sik')s o*)'atorik. &erdarahan uterus dis'ungsional o/ulatorik se.ara klinis tampil
sebagai polimenorea, oligomenorea, menoragia dan perdarahan pertengahan
siklus, perdarahan ber.ak prahaid atau pas.a haid. &erdarahan pertengahan siklus
diatasi dengan estrogen konjugasi %,(2-1,2 mg:hari atau etinilestradiol %
mikogram: hari dari hari ke 1% hingga hari ke 1. &erdarahan ber.ak prahaid
diobati dengan progesterone !medroksi progestron asetat atau didrogestron"
dengan dosis 1% mg:hari dari hari ke 1) hingga hari ke 2(. ,eberapa penulis
1%
menggunakan progesterone dan estrogen pada polimenorea dan menoragia dengan
dosis yang sesuai dengan kontrasepsi oral, mulai hari ke hingga hari ke 2 siklus
haid.
3
Sik')s ano*)'atorik. &erdarahan uterus dis'ungsional ano/ulatorik mempunyai
dasar kelainan kekurangan progesterone. 5leh karena itu pengobatan untuk
mengembalikan 'ungsi hormon reproduksi dilakukan dengan pemberian
progesterone, seperti medroksi progesterone asetat dengan dosis 1%-2% mg:hari
mulai hari ke 1(-2 siklus haid. 2apat pula digunakan didrogesteron dengan dosis
1%-2% mg:hari dari hari 1(-2 siklus haid, linestrenol dengan dosis -1 mg:hari
selama 1% hari mulai hari hari ke 1(-2 siklus haid. &engobatan hormonal ini
diberikan untuk 3 siklus haid. 4ika gagal setelah pemberian 3 siklus dan o/ulasi
tetap tak terjadi, dilakukan pemi.uan o/ulasi. &ada penderita yang tidak
menginginkan anak keadaan ini diatur dengan penambahan estrogen dosis %,(2-
1,2 mg:hari atau kontrasepsi oral selama 1% hari, dari hari ke sampai hari ke
2.
3
I+. DASAR PENGGUNAAN PROGESTERON DALAM PENGO,ATAN
PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL KRONIS
&rogesteron merupakan hormon golongan progestin yang terpenting pada manusia.
-elain karena khasiat hormonalnya, progesterone juga penting karena merupakan
pembakal estrogen, androgen dan adrenokortiko steroid. Hormon ini pertama kali
diisolasi dari korpus luteum.
3
&ada awalnya progestin yang dikenal se.ara alamiah adalah progesterone.
,elakangan dihasilkan jenis progestin lain yang dikenal sebagai progestin sintetik.
a. Si(at kimia an k'asi(ikasi
&rogesteron merupakan steroid dengan jumlah atom karbon !9" 21, yang dengan
pengurangan atau penambahan atom karbon atau dengan aton 5 akan
dihasilkan progestin lain. Melalui proses reduksi progestin diubah menjadi satu
bentuk inakti' yaitu pregnandiol. -enyawa ini dipakai sebagai petandaa adanya
progesterone di urine.
3
11
&rogesteron alamiah larut dalam lemak dan .epat mengalami absorbsi
sehingga tidak disimpan ditubuh. <ntuk mengatasi kekurangan itu, telah dibuat
progestin sintetik yang larut dalam air dan lambat diabsorbsi sehingga kerjanya
lebih lama dan dapat digunakan se.ara oral. Hingga kini dikenal dua golongan
progestin yaitu>
1. &rogestin yang berasal dari progesterone alamiah
a. $urunan progesterone
b. $urunan asetoksiprogesteron
2. &rogestin yang berasal dari testosteron
a. $urunan testosteron
b. $urunan 1+ nortestosteron
&. ,iosintesis" meta&o'isme an sekresi
&rogesteron terutama dibentuk di o/arium oleh sel granulosa 'olikel matang,
dan korpus luteum dari bahan dasar kolesterol melalui senyawa antara
!pregnenolon" dengan bantuan en#im dehidrogenase dan isomerase. -elain itu
hormon tersebut dihasilkan pula oleh plasenta, testis dan sel-sel korteks kelenjar
adrenal. -intesis dan sekresinya dipengaruhi oleh hormon =H. &ada 'ase
prao/ulasi hormon ini disekresikan 1-3 mg :hari, sedangkan pada 'ase luteal
madya sekresinya men.apai pun.ak !2%-3% mg:hari". 7emudian menurun lagi
dan pada 'ase haid men.apai keadaan terendah karena hanya disekresikan 1
mg:hari.
3
&engubahan progesterone alamiah menjadi bentuk tidak akti', 1%-2%0
berlangsung dihati. 2alam 4 hari pertama setelah disuntikkan, 4%-)%0
progesterone dapat ditemukan dalam urine dan seperenamnya dijumpai dalam
bentuk pregnandiol !metabolit biologis inakti'" dalam bentuk terikat dengan
asam glukoronat. -elebihnya 13-2%0 keluar dalam 'eses dan 1%0 disimpan
dalam lemak tubuh. &rogestin sintetik turunan testosteron barulah akan memiliki
khasiat biologis, jika terlebih dahulu diakti'kan di hati menjadi noretisteron.
3
-. Khasiat &io'o%is $aa %enita'ia interna
12
2isamping khasiat progesteronnya, progestin juga mempunyai khasiat
androgen dan estrogen yang derajatnya bergantung pada jenisnya.
&ada endometrium, hormon ini mengakibatkan 'ase sekresi jika sebelumnya
telah dirangsang oleh estrogen. &erubahan tersebut ini ditandai oleh tampaknya
badan-badan golgi pada sel endometrium. -etelah 14 hari paska o/ulasi
rangsangan progestron akan lu.ut. &enggunaan progesterone yang lebih dari 14
hari akan mengakibatkan degenerasi endometrium, stroma edematosa dan
menyusut. 4ika sediaan ini dipakai lebih lama lagi, maka endometrium akan
menjadi atro'ik.
3
4ika endometrium yang telah mengalami perangsangan estrogen !'ase
proli'erasi" memperoleh progesterone dosis yang relati' rendah 2%-4% mg" maka
aterjadi perdarahan ber.ak. &erdarahan tersebut timbula akibat pengelupasan
permukaan endometrium. &enghentiannya dapat dilakukan dengan pemberian
progesterone yang .ukup, tanpa mengubah 'ase endometrium karena hormon ini
bekerja langsung pada pembuluh darah. ;ase sekresi baru akan timbul jika dosis
men.apai 2%% mg atau pada pemakaian 1% hari.
3
$erhadap miometrium progestron berkhasiat menghambat kontraksi.
&enurunan kadarnya akan .epat mempengaruhi kerja oksitosin dan
prostaglandin.
&erkembangan epitel /agina ternyata juga dipengaruhi oleh progesterone,
dasar ini telah dipakai untuk menilai o/ulasi dengan pemeriksaan sitologi serial
usap /agina.
Dasar Pemi'ihan Pro%estin
Melihat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing jenis
progestin, maka untuk memperoleh hasil guna yang tinggi, diperlukan ketepatan
memilih progestin yang sesuai dengan keadaan penderita.
-e.ara umum pemilihan itu didasarkan pada>
a. ;armakokinetik
&rogestin golongan turunan progesterone alamiah merupakan senyawa yang
telah akti'. -edangkan golongan turunan testosteron merupakan senyawa yang
13
belum akti', sehingga harus diubah terlebih dahulu didalam hati menjadi
noretisteron. &rasyarat ini merupakan beban bagi hati. -elain itu sebagian besar
obat mengalami biotrans'ormasi di dalam hati sehingga akan dapat menimbulkan
interaksi dengan hormon progestin.
b. ;armakologi
7hasiat metabolik dari kedua golongan progestin tersebut di atas dapat dilihat
pada table 2.
$abel 2. ;armakologi progestin.
3
&rogestin 6nhibisi
Gonadotropin
3kti/itas Metabolisme
3ndrogen Astrogen 7atabolisme 3nabolisme 8etensi
Ca
Gol 6 - - - E - -
Gol 66 E E E - E E
7et> Gol 6 > &rogestin turunan progesterone alamiah
Gol 66 > &rogestin turunan testosteron
7euntungan dari progestin turunan progesterone alamiah adalah bahwa hormon ini>
1. Mempengaruhi metabolisme lipid !H2=" seperti diketahui H2= merupakan
lipoprotein yang kardioprotekti', sehingga penurunan H2= akan meningkatkan
risiko aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.
2. Menghambat en#im -reduktase, sehingga mampu menurunkan kadar testosteron
penyebab maskulinisasi.
3. $idak mengganggu 'ungsi o/arium dan sintesis steroid seks
Golongan progestron alamiah lebih banyak mempunyai keuntungan
dibandingkan dengan golongan progesterone turunan testosteron baik segi a'initas
terhadap reseptor progesterone di uterus maupun potensi relati' khasiat progesterone,
estrogen dan androgen.
3
Go'on%an $ro%estin t)r)nan $ro%esterone a'amiah.
Golongan hormon ini merupakan hasil rekayasa dari progestron alamiah,
sehingga khasiatnya menyerupai induknya. 8ekayasa ini dikembangkan karena
adanya keterbatasan si'at-si'at progesterone alamiah. 8umus kimianyapun juga
14
menyerupai rumus kimia progestron. 4enis-jenis progestin turunan progesterone
alamiah adalah>
1. &rogesteron !preg-4-ene-3,2%-dion"
2. 2idrogesteron !(-dehiroretro progesterone"
3. Hidroksiprogestron kaproat
4. Medroksi progesterone asetat !(-metil 1) asetoksi progesterone"
. Megestrol asetat
Mekanisme ker.a
Golongan progestin ini menyebabkan perubahan pada endometrium yang telah
mengalami perangsangan estrogen. 2ari berbagai jenis hormon ini golongan
hidroksi progesterone kaproat yang punya khasiat hambatan gonadotropin.
1,3
Mekanisme yang pasti bagaimana progesterone menghentikan perdarahan pada
perdarahan uterus dis'ungsional belum sepenuhnya dapat diterangkan. 2ipikirkan
kemampuan ini di.apai berkat khasiat progestron terhadap pembentukan
prostaglandin, pembentukan dan stabilisasi dinding lisosom, penghambatan
kontraksi miometrium dan perangsangan arteriol. 7hasiat tersebut diperoleh se.ara
tersendiri atau sebagai interaksi dari pengaruh-pengaruh itu.
3
-intesis prostaglandin dipengaruhi oleh kadar progesterone melalui
perangsangan pembentukan badan golgi lisosom sel endometrium. 2i dalam badan
ini disimpan en#im-en#im hidrolase asil. An#im utama dari hidrolase asil adalah
'os'olipase 32 yang ber'ungsi sebagai katalisator pada pembentukan prostaglandin.
&rostaglandin dibentuk dari asam arakhidonat dengan katalisator en#im 'os'olipase
32. 2alam hal ini progesterone memiliki dua khasiat penting, yaitu menstabilkan
dinding lisosom ini sehingga menghambat keluarnya en#im 'os'olipase 32 ke
sitoplasma dan mengakti'kan en#im 1-hidroksi prostaglandin dehidrogenase, suatu
en#im penghan.ur prostaglandin. 7edua kerja ini menyebabkan pembentukan
prostaglandin terhambat.
3
-elain itu progesterone melalui proses aromatisasi juga memi.u dam memelihara
pembentukan prolaktin pada endometrium yang sebelumnya mengalami
1
perangsangan estrogen. &ada kadar yang tinggi ternyata prolaktin mampu
menghambat penbentukan prostaglandin. 2engan demikian prolaktin ikut berperan
dalam penghentian perdarahan.
3
&rogesteron juga mampu menetralkan khasiat estrogen pada endometrium
dengan merangsang perubahan estrogen menjadi metabolit yang inakti', estron.
&engubahan ini di.apai melalui perangsangan estradiol dehidrogenase, estrogen
sul'otrans'eraase dan aromatisasi. -elanjutnya, progesterone juga merupakaan anti
mitosis dan anti pertumbuhan sel endometrium serta menurunkan konsentrasi
reseptor endometrium.
3
$erhambatnya pembentukan dan turunnya kadar prostaglandin, terutama &g;2
ketika kadar progesterone tinggi, menyebabkaaan berkurang atau hilangnya
kontraksi miometrium, terutama subendometriumnya. &ada pihak lain kadar
prostaglandin yang rendah menyebabkan dua perubahan yaitu>
a. =enyapnya /asokonstriksi arteriol, sehingga daerah-daerah iskemik akan
mendapatkan pasokan darah lagi.
b. $urunnya kadar leukotrien, sehingga en#im hidrolitik dan oksidase !penghambat
jaringan" tidak dapat diakti'kan lagi. 2engan demikian hasil akhir dari pemberian
progesterone pada perdarahan uterus dis'ungsional akan menghentikan
perdarahan. -ampai dosis tertentu, merangsang pertumbuhan sel-sel epitel
kelenjar endometrium dan arteriol yang tampil sebagai henti perdarahan.
+. PENGGUNAAN PROGESTIN UNTUK PENGO,ATAN PERDARAHAN
UTERUS DISFUNGSIONAL KRONIS
&engobatan perdarahan uterus dis'ungsional kronis dengan hormon progesterone
didasarkan pada gejala klinis dan pato'isiologinya. &ada perdarahan uterus
dis'ungsional ano/ulatorik maksud pemberian progesteron selain untuk
menghentikan perdarahan, juga adalah untuk mengembalikan panjang siklus haid
kebatas normal.
1(
Perarahan )ter)s is()n%siona' o*)'atorik. ,entuk klinis perdarahan uterus
dis'ungsional o/ulatorik adalah oligomenorea dan polimenorea. &ada oligomenorea
dasar dari terjadinya perdarahan ini adalah 'ase proli'erasi yang memanjang atau
'ase sekresi yang memanjang. &ada 'ase proli'erasi yang memanjang diberikan
progesterone selama 1% hari, mulai hari ke 1 hingga hari ke 2 siklus haid.
-edangkan pada 'ase sekresi yang memanjang progesterone diberikan mulai hari ke
1) sampai hari ke 2, !tabel 3"
3

$abel 3. 4enis, dosis dan .ara pemberian progesterone pada &<2 kronik.
3
/enis Pro%estin 2osis mg:hari 9ara pemberian -ediaan mg:ml Cama dagang
&rogesteron %-1%% 6m
sup
-usp 2,%,1%%
-up 2
M&3 1%-2% oral $ab 2,,1% &ro/era
Hidroksi
progesteron
12-2%: siklus im -usp 12,2% 2ilalutin
&roluton depot
2idrogesteron 1%-2% oral $ab 1% 2uphaston
=inestrenol -1% oral $ab Andometril
Coretisteron -2% oral $ab ,1% &rimolut C
Perarahan )ter)s is()n%siona' karena ke'ainan kor$)s ')te)m. 7elainan
korpus luteum dapat berupa insu'isiensi korpus luteum atau korpus luteum persisten
!memanjang".
,entuk klinis pada insu'isiensi korpus luteum adalah ber.ak prahaid dan
polimenorea. 7edua kelainan ini diobati dengan progestron mulai hari ke 1) hingga
hari ke 2(. 7orpus luteum persisten akan menimbulkan bentuk klinik oligomenorea,
seperti juga pada oligomenorea yang lain, disini juga diberikan progesterone mulai
hari ke 1 hingga hari ke 2.
3
Perarahan )ter)s is()n%siona' ano*)'atorik. &erdarahan uterus dis'ungsional
kronik ano/ulatorik menampilkan gejala oligomenorea dan metroragia. 2isini
oligomenorea diatasi dengan pemberian progesterone mulai hari ke 1 sampai hari
ke 2. Metroragia diatasi dengan progesterone mulai hari ke 1( sampai hari ke 2.
1)
-emua pengobatan tersebut diatas diberikan dalam 3 siklus. &erdarahan lu.ut
akan terjadi sekitar 2-3 hari paska penghentian obat. 7eadaan yang sering menyertai
pengobatan progesterone ini adalah terjadinya perdarahan ber.ak, yang diakibatkan
oleh nisbah estrogen dan progesterone yang berubah. Hal tersebut dapat diatasi
dengan peningkatan dosis atau pemberian gabungan estrogen dan progesterone
dalam bentuk kontrasepsi oral.
3
&ada perdarahan uterus dis'ungsional kronis dengan bentuk perdarahan ber.ak
prahaid dan paskahaid, pemberian progesterone terkadang masih menimbulkan
perdarahan ber.ak. 7eadaan ini tidak dapat dikatakan sebagai dampak pengobatan
progesterone sebelum dilakukan pemeriksaan estrogen dan progesterone serum. 4ika
nisbah estrogen:progesterone menunjukkan nilai yang berbeda dari keadan
sebelumnya, perdarahan tersebut mungkin sekali disebabkan oleh pengaruh
pengobatan progesterone.
+I. KESIMPULAN
&erdarahan uterus dis'ungsional kronis adalah perdarahan abnormal dari uterus
tanpa disertai kelainan organik, melainkan semata-mata sebagai perwujudan dari
kelainan 'ungsional dan terjadi se.ara berulang. ,erbeda dengan perdarahan
dis'ungsional akut yang .epat mendapatkan penanganan karena si'at gawat
daruratnya, maka perdarahan uterus dis'ungsional kronis ini seringkali kurang atau
tidak mendapat penanganan se.ara seksama. &adahal kalau dilihat dampaknya,
keadaan ini justru memerlukan penanganan yang .epat, tepat, terarah dan sungguh-
sungguh.
<ntuk men.apai penanganan yang tepat diperlukan pengetahuan tentang
pato'isiologi dari perdarahan uterus dis'ungsional kronis tersebut. $urunnya
progesterone yang diakibatkan kelainan pada lisosom, sintesis prolaktin
endometrium maupun sintesis prostaglandin, kini diketahui mendasari terjadinya
peristiwa perdarahan ini.
1*
&ada dasarnya penanganan perdarahan uterus dis'ungsional kronik ini bertujuan
memperbaiki keadaan umum, menghentikan perdarahan dan memulihkan 'ungsi
hormon reproduksi.
&engobatan dilakukan sesuai dengan gejala klinis yang tampil. &rogesteron
dipikirkan lebih sesuai untuk pengobatan perdarahan uterus dis'ungsional kronik
mengingat dasar pato'isiologinya.
&rogestin turunan progesterone alamiah tampak lebih menguntungkan daripada
progestin turunan testosteron.
&olimenorea pada perdarahan uterus dis'ungsional o/ulatorik disebabkan oleh
'ase proli'erasi yang memendek atau 'ase sekresi yang memendek. &ada 'ase
proli'erasi yang memendek diberikan estrogen pada hari ke 1%-1 dengan dosis %,3-
%,( mg:hari, sedangkan pada 'ase sekresi yang memendek diberikan progesterone
hari ke 1) sampai hari ke 2(.
+II. DAFTAR PUSTAKA
1. ;raser =-. $reatment o' dis'ungsional uterine bleeding with oral, intramuskular or intra uterine progestogens in>
-how 81. 2is'ungsional <rine ,leeding. Bol 2. Cew 4ersey-<-3. $he &arthenon &ublishing group, 1++%>13+-
4*
2. 3 Guide ;or &atients> 3abnormal uterine bleeding. 3meri.an -o.iety 'or 8eprodu.ti/e Medi.ine. ,irmingham-
3labama 1++(>1-1
3. 7adarusman ?, 4a.oeb $F, ,a#iad 3. &erdarahan uterus dis'ungsional kronis pada masa reproduksi> 3spek
pato'isiologi dan pengobatan dengan progesterone. Majalah 5bstet Ginekol 6ndones 1++3G1+>()-**
4. Mayo 4=. 3 Healthy menstrual .y.le. 9lini.al Cutrition 6nsight. 3d/an.e Cutrition &ubli.ation 6n.. 1++)>1-)
. 7ahn ,. 3bnormal uterine bleeding-8eprodu.ti/e age women. 1omenHs Health and Gyne.ology. 9lini.al
&ra.ti.e Guidelines 'or &rimary 9aare ,urses 2%%%>4-(
(. -helby 7A. 9ommon disturban.es in menstrual 'un.tion in>1omenHs Hormones 3.ross the =i'e -pan. $eDas-
<-3. Curse week 2%%2>1%-2*
). ?en --9, 4a''e 8,. 9hrini. ano/ulation .aused by peripheral endo.rine disorders in> 8eprodu/ti/e
Ando.rinology. 3
rd


ed. &hiladelphia-=ondon-$oronto-Montreal--ydney-$okyo> 1.,. -ounders 9ompany.
1++1>(2%-1
*. -pero'' =, Glass 8H, 7ase CG. 9lini.al gyne.ologi. endo.rinology an' 6n'ertility. 4
th
ed. =ondon-,altimore-
Hongkong-sydney> 1iliams and 1ilkins 1+*+>)-+%
+. 8yan 4. $erminology in> 3 1ork in progress-e''e.ti/e .ase management. $hird Cational ;amily 9ourt
9on'eren.e. =egal 3id 9ommission on Cew -outh 1ales 1++*>23-24
1%. Hillard &3. ,enign diseases o' the 'emale reprodu.ti/e tra.t> -ymptoms and sigs in> Co/akHs Gyne.ology.12
th
ed. ,altimore-<-3. 1illiams I 1ilkins 1++(>331-+*
1+
11. -ymonds AM. 2isorders o' the menstrual .y.le in> Assential 5bstetri.s and Gynae.ology. 2
nd
ed. Adinburgh-
=ondon-Madrid-Melbourne-Cew ?ork-$okyo> 9hur.ill =i/ingstone 6n. 1++2>21+-22*
12. Garmel GM. Gyne.ologi. Amergen.ies in> Amergen.y Medi.ine ,oard 8e/iew Manual. Amergen.y Medi.ine
2%%%G(!2">2-)
13. ,aliga ,-. 8a#a -. 8ational Management o' 2is'ungsional <terine ,leeding !2<,". 5bstetri.s and
Gynae.ologu 9ommuni.ations 2%%%G2!4">23-31
14. Munro MG. 3bnormal uterine bleeding in the reprodu.ti/e years. $he 4ournal o' $he 3meri.an 3sso.iation o'
Gyne.ologi. =aparos.opist 2%%%G)!1">23-+
1. &rawirohardjo -. Gangguan haid dan siklusnya dalam> 6lmu 7andungan. ?ayasan ,ina &ustaka -arwono
&rawirohardjo. 4akarta 1++1>1)2-(
1(. Haarlow -2. ,leeding 2isorders> Menorraghia and dis'ungsional uterine bleeding. Cew ?ork-<-3.$he 8obert
H. Abert &rogram on 9riti.al 6ssues in 8eprodu.tion Health and &opulation 1++>3-)
1). 4a.oeb $F, ,a#iad 3. Andokrinologi 8eproduksi, 4akarta. 7elompok -tudi Andokrinologi 8eproduksi 6ndonesia
1++4>+,%-1
2%
21