Anda di halaman 1dari 37

Globalisasi dan

Kebijakan Perdagangan
Blessius Altrafino/ 1106135363
Mahfirlana Mashadi/ 1106136776
Salman Alfarisi/ 1306485296
Globalization?
Menurut Jan Aart Schole (2005) saat membicarakan
globalisasi, yang dimaksud orang-orang adalah:
Internasionalisasi: meningkatnya hubungan
internasional.
Liberalisasi: dengan semakin diturunkankan batas
antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu
lintas devisa, maupun migrasi.
Universalisasi: semakin tersebarnya hal material
maupun imaterial ke seluruh dunia.
Westernisasi: semakin menyebarnya pikiran dan
budaya dari barat sehingga mengglobal.
Hubungan transplanetari dan
suprateritorialitas: dunia global memiliki status
ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
The Definitions
Globalization is what we in the Third World have for several
centuries called colonization.(Martin Khor, 1995)
the compression of time and space. (David Harvey, 1998)
globalization means the onset of the borderless world (Kenichi
Ohmae, 2000)
understood as the phenomenon by which markets and production in
different countries are becoming increasingly interdependent due to
the dynamics of trade in goods and services and the flows of
capital and technology.(OECD, 2002)
the intensification of economic, political, social and cultural relations
across borders.(Hans-Henrik Holm and Georg Sorensen, 1998)
The concept of globalization implies, first and foremost, a stretching
of social, political and economic activities across frontiers such
that events, decisions and activities in one region of the world can
come to have significance for individuals and communities in
distant regions of the globe. (Held, McGrew, Goldblatt, &Perraton,
1999)
Globalisasi
Perekonomian di
Indonesia
Social &
Cultural
Political
Economics
G. Produksi
G. Pembiayaan
G. Tenaga Kerja
G. Jaringan
Informasi
G. Perdagangan
(Tanri Abeng,
2000)
Globalisasi di Indonesia
Beroperasi secara internasional/multinasional
Menurunkan menurunkan biaya produksi
Globalisasi
Produksi
Pencarian/ penanaman modal secara
internasional (FDI/ portofolio)
Globalisasi
Pembiayaan
Memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia
sesuai dengan kebutuhan perusahaan
Globalisasi Tenaga
Kerja
Teknologi dan jaringan informasi akan
berkembang pesat
Globalisasi
Jaringan Informasi
Penurunan dan penyeragaman tarriff serta
penghapusan hambatan non-tarriff
Globalisasi
Perdagangan
Globalisasi dan Perdagangan Internasional
Negara
A
Barang/
Jasa/ Modal
Negara
B
Barang/
Jasa/ Modal
Batas
Negar
a =
Pabea
n
Forum Perdagangan Internasional
The General Agreement on Tariffs and
Trade (GATT) adalah perjanjian multilateral yang
mengatur perdagangan internasional. 1947 &
1994. Indonesia bergabung sejak Februari 1950
Bertujuan untuk pengurangan tarif dan batasan
perdagangan lainnya secara substansial dan
eliminasi preferensi, yang bertujuan untuk
keuntungan bersama.
Pada 1995, dibentuk WTO yang berfungsi sebagai
forum bagi kerjasama internasional dalam hal
kebijakan perdagangan antarnegara.
159 negara anggota (per Maret 2013)

Prinsip Sistem Perdagangan menurut WTO
1. Trade without discrimination
Most-favoured-nation (MFN): zero preferences
National treatment: customs duty is not a violation
2. Freer trade: gradually, through negotiation
Negara berkembang diberikan waktu untuk adaptasi
3. Predictability: through binding & transparency
Bound tariff rate and actual tariff rate & disclosure of countries
trade policies
4. Promoting fair competition
Not a free trade institution. WTO allows tariff & protections
(limited circumstances)
5. Encouraging development and economic
reform
Fleksibilitas
u
/ negara
2
berkembang dan bantuan/bimbingan
teknis dari negara
2
maju
ARGUMENTASI YANG MENDUKUNG GLOBALISASI/FREE
TRADE
Secara teoritis perdagangan bebas mengarah pada
produktivitas dan pendapatan tinggi bagi produsen, dan
social utility yang lebih tinggi bagi konsumen
Perdagangan bebas mengoptimalkan penggunaan
sumber-sumber daya untuk memproduksi barang
melalui spesialisasi
Utilitas konsumen maksimum karena harga barang
dalam perdagangan bebas lebih rendah
Perdagangan bebas mendorong adanya persaingan
antar negara sehingga menjadi lebih efisien dari pada
isolasi
Adanya persaingan sempurna memenuhi kriteria
Pareto-optimal: no one can be better off without
making someone else worse off
Bagaimana faktanya
dengan negara-negara berkembang,
khususnya Indonesia?
Apakah kebijakan proteksi dan
pembatasan impor masih diperlukan?
Keynes at home; Smith abroad
Dengan mengurangi atau membatasi impor, devisa
dihemat (keeping money at home); barang dan uang
dinikmati di negara sendiri
Melindungi pasar sendiri. Hanya bagi produsen
domestik, bisa berakibat pemanfaatan sumber daya
domestik tidak efisien
Dengan menyamakan harga domestik dengan harga
impor (scientific tariff), memungkinkan produsen
domestik bersaing dengan luar negeri; tetapi akan
mengeliminasi persaingan internasional
Menciptakan kesempatan kerja pada industri
domestik
Mengurangi defisit neraca perdagangan (balance of
payment/BOP)
Alasan dilakukannya Pembatasan
Perdagangan
Mengatasi masalah deflasi dan pengangguran.
Mendorong perkembangan industri baru (infant
industry)
Mendiversifikasikan perekonomian
Menghindari kemerosotan industri-industri
tertentu
Memperbaiki neraca pembayaran
Menghindari dumping
Menambah pendapatan pemerintah
Jadi, beberapa tujuan penting dari
proteksi:
Jenis-jenis Proteksi Perdagangan
Kebijakan
Tariff
Export Duties
Transit Duties
Import Duties
Kebijakan
Non-
Tariff
Import Quota
Dampak Pengenaan Tarif Impor
Menyebabkan harga barang di dalam
negeri naik.
Price Effect
Menyebabkan jumlah barang yang
diminta di dalam negeri menjadi
berkurang
Consumption
Effect
Pengenan tarif dapat meningkatkan
jumlah produksi barang substitusi di
dalam negeri
Import
Subtitution Effect
Pendapatan yang diterima pemerintah
akan meningkat kemampuan
pemerintah dalam membiayai
pembangunan
Redistribution
Effect
Kebijakan Perdagangan Indonesia
Kebijakan Perdagangan untuk Ekspor
Tindakan dan peraturan yang dikeluarkan
oleh pemerintah Indonesia untuk
mempengaruhi struktur, komposisi dan
arah transaksi serta kelancaran usaha untuk
peningkatan devisa ekspor
Kebijakan Ekspor di Dalam Negeri
(1) Kebijaksanaan perpajakan dalam bentuk keringanan,
pengembalian pajak atau pengenaan pejak ekspor untuk
barang-barang tertentu, misalnya pajak ekspor atas CPO
(2) Fasilitas kredit perbankan untuk mendorong peningkatan
ekspor barang-barang tertentu
(3) Pelaksanaan tata lakasana ekspor yang relatif mudah atau tidak
berbelit-belit
(4) Pemberian subsidi ekspor, seperti pemberian sertifikat ekspor
(5) Pembentukan asosiasi ekspor
(6) Pembentukan kelembagaan seperti bounded
warehause (Kawasan Berikat Nusantara), export procesing
zone, pelabuhan bebas dan lain-lain
(7) Larangan/pembatasan ekspor, misalnya larangan ekspor CPO
oleh pemerintah, karena CPO merupakan bahan mentah untuk
industri minyak goreng yang sangat dibutuhkan di dalam negeri

Kebijakan Ekspor di Luar Negeri
(1) Pembentukan International Trade Promotion
Centre di berbagai negara, seperti di Jepang,
Eropa dan Amerika Serikat
(2) Pemanfaatan fasilitas GSP (General System of
Preferency), yaitu fasilitas keringanan bea masuk
yang diberikan negara-negara industri untuk
barang manufakturing yang berasal dari negara
berkembang seperti Indonesia
(3) Menjadi anggota asosiasi produser seperti OPEC

Tariff Barriers Policy Non-Tariff Barriers Policy
Bea Impor
Kuota Impor
Kebijakan Perdagangan untuk Impor
Peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah
Indonesia yang akan mempengaruhi struktur,
komposisi dan arah transaksi serta kelancaran usaha
untuk melindungi atau mendorong pertumbuhan
industri didalam negri dan penghematan devisa.
CURRENT ISSUES
Neraca Perdagangan Indonesia
Neraca Pembayaran
I. Transaksi Berjalan
A. Neraca Perdagangan Barang
1. Migas
Ekspor
Impor
2 Non-Migas
Ekspor
Impor

Neraca Pembayaran Indonesia
Sumber : www.bi.go.id
Transaksi Berjalan
Sumber : www.bi.go.id
Neraca Perdagangan Barang
dalam juta USD
Uraian
2012 2013
Total Tw I Tw II Tw III** Total s.d Tw III
I. Transaksi Berjalan (24.418) (5.873) (9.954) (8.449) (24.276)
A. Neraca Perdagangan Barang 8.618 1.628 (709) (7) 912
- Ekspor 188.496 45.231 45.554 44.146 134.931
- Impor (179.878) (43.603) (46.262) (44.153) (134.018)
1. Non Migas 13.857 4.483 1.587 2.812 8.882
a. Ekspor 152.925 36.758 37.640 35.608 110.006
b. Impor (139.068) (32.276) (36.053) (32.797) (101.126)
2. Minyak (20.436) (6.356) (5.294) (5.856) (17.506)
a. Ekspor 17.891 4.298 4.243 4.812 13.353
b. Impor (38.327) (10.654) (9.537) (10.668) (30.859)
3. Gas 15.197 3.501 2.998 3.037 9.536
a. Ekspor 17.680 4.175 3.670 3.725 11.570
b. Impor (2.483) (674) (672) (688) (2.034)
**angka masih sementara
Sumber : www.bi.go.id
Neraca Perdagangan non-Migas
Sumber : www.bi.go.id
Neraca Perdagangan Migas

Sumber : www.bi.go.id
Indonesia Jelang AFTA dan AEC 2015
negara-negara anggota harus memegang teguh prinsip pasar
terbuka (open market), berorientasi ke luar (outward
looking), dan ekonomi yang digerakkan oleh pasar (market
drive economy) sesuai dengan ketentuan multilateral
Untuk mewujudkan AEC (Asean Economic Community) pada
tahun 2015, seluruh negara ASEAN harus melakukan
liberalisasi perdagangan barang, jasa, investasi, tenaga
terampil secara bebas dan arus modal yang lebih bebas
UPAYA PEMERINTAH DALAM MENGHADAPI AFTA
Penghapusan Hambatan Tarif
Desentralisasi Kewenangan Pengeluaran SKA
Ketentuan Tentang Safeguard Policy
Fasilitasi Bagi Kegiatan Perdagangan
Upaya Pengembangan Ekspor Nasional
Penghapusan Hambatan Tarif
Inclusion List (IL)
Sampai saat ini Indonesia telah memasukkan sebanyak 7.206 pos tarif ke dalam IL
untuk diturunkan tarifnya menjadi hanya 0 5 %.

Temporary Exclusion List (TEL)
Indonesia sudah tidak lagi memiliki pos tarif yang masuk ke dalam TEL.

Sensitive List (SL)/ Highly Sensitive List (HSL)
Indonesia memasukkan 11 pos tarif ke dalam HSL, yaitu pos tarif untuk produk beras
dan gula. Produk beras dan gula ini sendiri tidak hanya sensitif bagi perekonomian
namun juga bagi kestabilan nasional.

General Exclusion List (GEL)
Indonesia telah memasukkan sebanyak 100 pos tarif barang-barang yang dianggap
penting guna melindungi keamanan nasional, moral masyarakat, kehidupan dan
kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, serta barang-barang seni dan bernilai
sejarah/ arkeologis ke dalam GEL ini

Desentralisasi Kewenangan Pengeluaran SKA
instansi-instansi yang diberi kewenangan untuk mengeluarkan SKA tersebut adalah:
1. Dinas Perdagangan Provinsi/ Kabupaten/ Kota yang telah ditetapkan oleh Menteri Perdagangan setelah
memenuhi persyaratan tertentu.
2. P.T. (Persero) Kawasan Berikat Nusantara dan kantor cabangnya di Jakarta, yaitu untuk barang-barang
yang diproduksi di kawasan berikat tersebut
3. Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS), yaitu untuk
barang-barang yang diekspor melalui Pelabuhan Bebas Sabang tersebut.
4. Otorita Pengembangan Daerah Industri (OPDI) Batam, yaitu untuk barang-barang yang diproduksi di
Kawasan Pengembangan Daerah Industri Batam tersebut.
5. Lembaga Tembakau cabang Medan dan Surakarta, serta Balai Pengujian Sertifikasi Mutu Barang
(BPSMB) dan Lembaga Tembakau Surabaya dan Jember, yaitu untuk ekspor produk tembakau dan
produk-produk turunannya


Ketentuan Tentang Safeguard Policy
Keppres No. 84 tahun 2002
tentang Tindakan Pengamanan Industri Dalam Negeri
Dari Akibat Lonjakan Impor
Safeguard policy didefinisikan sebagai suatu ketentuan yang terdapat dalam suatu
kesepakatan liberalisasi perdagangan yang memungkinkan negara-negara yang ikut
serta dalam kesepakatan tersebut untuk melakukan langkah-langkah guna
memulihkan ataupun melindungi industri dalam negerinya dari terjadinya kerugian
serius ataupun ancaman kerugian serius, sebagai akibat dari pemberlakuan
kesepakatan liberalisasi perdagangan tersebut

Fasilitasi Bagi Kegiatan Perdagangan
sistem INSW (Indonesian national Single Window)
sistem ASW (ASEAN Single Window)
sistem ASW (ASEAN Single Window)
Upaya Pengembangan Ekspor Nasional
Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)
Tugas Pokok :
1. Menyediakan pelayanan informasi mengenai peluang ekspor.
2. Menjembatani calon pembeli yang berasal dari luar-negeri dengan
produsen yang ada di dalam-negeri.
3. Melakukan kegiatan promosi produk ekspor Indonesia
4. Memberikan pembinaan, pendidikan, dan pelatihan kepada produsen dan
eksportir nasional
5. Melakukan usaha pengembangan kegiatan ekspor di daerah.