Anda di halaman 1dari 11

2.

1 Sampah Organik Pasar




Sampah dapat digolongkan menjadi sampah organik dan anorganik. Beberapa jenis
sampah organik adalah sisa makanan, tumbuhan, hewan, dan kertas, sedangkan sampah
anorganik seperti plastik dan logam. Sampah organik adalah sampah yang mudah
terdekomposisi oleh aktivitas mikroorganisme atau mudah membusuk sehingga disebut
biodegradable waste. Sumber sampah paling banyak diperoleh dari pemukiman dan
pasar tradisional. Sampah pasar dapat berupa sayur mayur, buah-buahan, ikan, dan lain-
lain. Sebagian besar dari sampah pasar adalah sampah organik, sehingga lebih mudah
untuk ditangani dan dapat diurai oleh mikroba. Sedangkan sampah yang berasal dari
pemukiman umumnya sangat beragam. Permasalahan tentang sampah dapat dikurangi
dengan mengolah bahan organik menjadi sesuatu yang benilai ekonomis.

Beberapa alternatif untuk pemanfaatan sampah organik antara lain dengan
mengkonversinya menjadi pupuk kompos, biogas (energi alternatif), papan komposit
(komposit serbuk kayu plastik daur ulang), bahan baku dalam pembuatan bata (briket),
dan lain-lain. Pengolahan sampah organik menjadi biogas merupakan biokonversi yang
sangat menguntungkan. Sampah yang menjadi masalah dapat dikonversi menjadi
sumber energi alternatif yang dapat menggantikan bahan bakar fosil.

Sampah organik dapat dikonversi menjadi biogas karena mengandung komponen yang
diperlukan dalam proses fermentasi. Komponen utama bahan organik di sebagian besar
limbah biomassa adalah protein, hemiselulosa, dan lignin. Sedangkan pada biomassa
hasil pertanian biasanya mengandung sedikit hemiselulosa dan selulosa dan lebih
banyak mengandung protein.

Pada umumnya, semua bahan organik yang memiliki rasio C/N sebesar 8-20 dapat
digunakan sebagai bahan baku biogas (Sari, 2013). Bahan-bahan yang dapat digunakan
sebagai bahan baku biogas seperti kotoran ternak, jerami, enceng gondok, serta sampah
organik lainnya. Komposisi substrat yang berbeda akan menghasilkan biogas dengan
kecepatan produksi yang berbeda (Klass, 1998). Potensi biogas berbagai jenis bahan
diperlihatkan oleh Tabel I.
Tabel I. Produksi biogas dan waktu tinggal dari berbagai bahan
Bahan
Produksi Biogas
(L/kg TS)
Kadar Metana
(%)
Waktu Tinggal
(hari)
Pisang (buah, daun) 940 53 15
Rumput 450-530 55-57 20
Jagung (batang secara
keseluruhan)
350-500 50 20
Jerami (dicacah) 250-350 58 30
Tanaman rawa 380 56 20
Kotoran ayam 300-450 57-70 20
Kotoran sapi 190-220 68 20
Sampah (fraksi organik) 380 56 25
Sumber: Arati (2009). Modifikasi.*)TS= total solids/ bahan kering

Cukup banyak jenis sayuran yang ikut bertumpuk-tumpuk di tempat pembuangan
sampah, seperti kangkung, kol, bayam, wortel, sawi, daun kol, dan lain-lain. Bahkan
tidak hanya sayuran di pasar-pasar tradisional dan pasar modern saja yang banyak
terbuang, tetapi sayuran bekas di rumah tangga pun seringkali hanya terbuang begitu
saja. Padahal tumpukan sayuran bekas dapat merupakan harta yang bernilai tinggi.
Sayuran bekas bisa diubah menjadi energi biogas sebagai pengganti minyak tanah atau
gas alam. Sehingga setiap rumah tangga atau warung makanan, tidak perlu lagi
mengeluarkan uang untuk membeli minyak tanah atau gas, yang semakin hari harganya
semakin tinggi. Bahkan, cenderung sulit terjangkau oleh lapisan masyarakat
berekonomi bawah.

Dalam hal pemanfaatan sayuran bekas menjadi biogas, setidaknya ada tiga manfaat
yang dapat diambil sekaligus. Pertama, mampu menanggulangi masalah tumpukan
sampah. Kedua, lebih memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh
energi pengganti minyak tanah dan gas, dan ketiga, menghemat pengeluaran anggaran
rumah tangga/ warung makanan.


Secara ilmiah, gas yang mampu dihasilkan dari hasil pengolahan sayuran bekas
merupakan gas yang mudah terbakar (flammable), sebagai hasil dari proses fermentasi
oleh bakteri anaerob, yaitu bakteri yang mampu hidup dalam ruangan kedap
udara/kondisi tanpa udara. Pada umumnya, semua jenis bahan-bahan organik dapat
menghasilkan biogas, melalui proses anaerob ini. Namun, hanya bahan organik
homogen, entah dalam bentuk padat maupun cair.

Apabila sayuran bekas itu mengalami pembusukan, maka akan menghasilkan gas yang
disebut dengan metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Dari kedua bahan yang
dihasilkan itu, hanya metana saja yang dapat dimanfaatkan untuk energi atau bahan
bakar.

Dari hasil pengolahan sayuran bekas di dalam sebuah reaktor (alat pengolah) pada
umumnya akan mengalami perbedaan prosentase. Adakalanya metana yang dihasilkan
berkisar antara 50-80% (Zhang et al, 1997) dengan karbondioksida 20-50%.
Adakalanya sebuah reaktor gas mampu menghasilkan metana antara 60- 70%, dengan
karbondioksidanya sekitar 30-40%.

2.2 Kotoran Ternak

Kotoran ternak merupakan bahan baku potensial dalam pembuatan biogas karena
mengandung pati dan lignoselulosa (Deublein et al., 200). Biasanya, kotoran ternak
dimanfaatkan sebagai pupuk dan sisanya digunakan untuk memproduksi gas metana
menggunakan proses anaerob. Salah satu ternak yang kotorannya biasa dimanfaatkan
sebagai pupuk dan bahan baku biogas adalah sapi.

Kotoran sapi adalah biomassa yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak.
Drapcho et al. (2008) berpendapat bahwa biomassa yang mengandung karbohidrat
tinggi akan menghasilkan gas metana yang rendah dan CO2 yang tinggi, jika
dibandingkan dengan biomassa yang mengandung protein dan lemak dalam jumlah
yang tinggi. Secara teori, produksi metana yang dihasilkan dari karbohidrat, protein, dan
lemak berturut-turut adalah 0,37; 1,0; 0,58 m3 CH4 /kg bahan kering organik. Kotoran
sapi mengandung ketiga unsur bahan organik tersebut sehingga dinilai lebih efektif
untuk dikonversi menjadi gas metana (Drapcho et al., 2008).

Kotoran sapi adalah limbah dari usaha peternakan sapi yang bersifat padat dan dalam
proses pembuangannya sering bercampur dengan urin dan gas, seperti metana dan
amoniak. Kandungan unsur hara dalam kotoran sapi bervariasi tergantung pada keadaan
tingkat produksinya, jenis, jumlah konsumsi pakan, serta individu ternak sendiri
(Abdulgani, 1988). Kandungan unsur hara dalam kotoran sapi, terdiri atas nitrogen
(0,29%), P2O5 (0,17%), dan K2O (0,35%) (Hardjowigeno, 2003). Kotoran sapi yang
tinggi kandungan hara dan energinya berpotensi untuk dijadikan bahan baku penghasil
biogas (Sucipto, 2009).

2.3 Fermentasi Anaerob

Pendegradasian limbah organik dapat dilakukan secara biologi baik secara aerobic
(membutuhkan oksigen) maupun anaerobik (tanpa oksigen). Manik (1994)
mengungkapkan bahwa pada proses pendegradasian materi organik secara aerobic
diperlukan energi yang besar sedangkan pada fermentasi anaerobik diperlukan energi
yang sangat kecil. Energi yang dihasilkan pada fermentasi aerobik (484-676) Kkal/mol
glukosa lebih besar dibandingkan energi yang dihasilkan pada fermentasi anaerobik (26
Kkal/mol glukosa). Degradasi aerobik membutuhkan oksigen dalam prosesnya untuk
memecah molekul kompleks substrat menjadi molekul-molekul sederhana (mikro).

Proses pendegradasian bahan organik pada kondisi aerobik disajikan dalam reaksi di
bawah ini (Gaur, 1981) :
Gula (CH
2
O)x + O
2
xCO
2
+ x H
2
O + E
Protein (N-organik) NH
4
+
, NO
2
-, NO
3
- + E
Sulfur organik, S + O
2
SO
4
2-
E
Fosfor organik, Phytin, Lechitin H
3
PO
4
+ Ca(HPO
4
)
2

Reaksi Keseluruhan :

Bahan Organik + O
2
CO
2
+ H
2
O + unsur hara + humus + E
aktivitas
mikrobial
2.4 Mikroba yang Berperan Penting dalam Pembuatan Biogas

Pada proses pembuatan biogas terdapat dua jenis mikrob yang terlibat yaitu non-
metanogen dan metanogen.

1. Bakteri non-metanogen
Menurut Yani dan Darwis (1990), bakteri metanogen berperan dalam degradasi limbah
organik. Bakteri tersebut memilki peran penting pada tahap perombakan bahan organik
yaitu proses likuifikasi/ hidrolisis dan produksi asam yang menyediakan substrat bagi
bakteri metanogen. Selanjutnya bakteri metanogen akan mengubah senyawa sederhana
menjadi gas metana.

Komponen utama dari limbah pabrik organik merupakan senyawa selulosa, oleh karena
itu dibutuhkan mikrob penghasil selulosa. Enzim ini diproduksi oleh sejumlah bakteri
dan kapang. Menurut Gijzen (1987), bakteri selulotik yang hidup dalam rumen antara
lain Ruminococus albus, Bacteroides succinogenes, Ruminucoccus flafefaciens dan
Butyovibrio fibrisolvens. Dari berbagai jenis tersebut Bacteroides succinogenes
merupakan mikrob yang paling aktif dalam proses degradasi selulosa. Bakteri selulotik
umumnya hidup pada kisaran suhu optimum 30 sampai 35
o
C.
Tabel 2 Golongan mikroorganisme pengguna selulosa
Jenis mikroorgasnisme Nama spesies
1. Bakteri Clostridium thermocellum
Pseudomonas flourescens
Celevibro sp.
Cellumonas flavigena
Alcaligenes faecalis
Sporocytophaga myxococcoides
2. Fungi Planerochestachrysasporium
Lentinus edodes
Volvariella volvaceae
Volvariella esculenta
Volvariella diplasia
Pleurotus ostreatus
Pleurotus sajoreayu
Pleurotus florida
Pleurotus carmicopiae
Thermoactinomyces sp.
Trichordema viridae
Tricoderma koningii
3. Yeast Candida utilis
Candida tropicalis
Sumber: Hadiwiyoto (1983)

2. Bakteri Metanogen
Bakteri penghasil gas metana disebut bakteri metanogen. Bakteri metanogen termasuk
bakteri yang sangat sensitif biasanya dikelompokkan ke dalam bakteri gram positif dan
merupakan bakteri tidak motil. Bakteri metanogen sangat restriktif terhadap alkohol dan
asam organik, bahan tersebut dapat dijadikan sumber karbon. Oksidasi substrat secara
tunggal oleh salah satu spesies bakteri yang sering kali tidak sempurna, oleh karena itu
produksi degradasi parsial dapat dijadikan sumber substrat oleh spesies lainnya untuk
membentuk gas metana (Yani dan Darwis, 1990). Tabel menunjukkan sejumlah spesies
dan senyawa organik yang dapat berperan sebagai substrat serta produk (senyawa-
senyawa ) yang dihasilkan.
Tabel 3 Bakteri Metanogen
Bakteri Substrat Produk
Metanobarcterium formicum CO
2
CH
4
M. Mobilis Format CH
4

M. Propiniocium H
2
O + CO
2
CO
2
+ asetat
M. Shongenii Propionat CH
4

M. Suboxydans Kaproat , butirat CH
4
+ CO
2

Metanococcus mazei Asetat, butirat Propionat, asetat
M. Vanieli H
2
O + CO
2
, format CH
4
+ CO
2

Metanaosarcina bakteri H
2
O+ CO
2
, metanol, asetat CH
4
, CH
4
, CH
4
+
CO
2

M. Metanica Butirat CH
4
+ CO
2

Sumber: Price and Ceremisinnoff (1981)
2.5 Tahap Pembentukan Biogas

Proses produksi biogas pada dasarnya memanfaatkan proses anaerobik yang terjadi karena
aktifitas mikrorganisme pada kondisi tidak terdapat oksigen bebas. Produk akhir dari proses
fermentasi ini adalah biogas atau gas metana (CH
4
).

Fermentor yang digunakan berupa digester anaerobik. Digester anaerobik dapat
beroperasi secara stabil dalam memproduksi biogas dengan kadar metana sekitar 40-
75% mol dalam basis kering dan tergantung kondisi operasi.

Fermentasi metana merupakan proses multistage. Polimer kompleks dan senyawa dalam
biomassa didegradasi sehingga memiliki berat molekul yang lebih rendah dan
selanjutnya dikonversi menjadi metana dan karbon dioksida. Persamaan stokiometri
dari fermentasi metana dari glukosa dapat dituliskan sebagai berikut:
C
6
H
12
O
6 (aq)
3 CH
4 (g)
+ 3 CO
2 (g)
(1).

Standar Gibbs dan nilai entalpi per mol glukosa yang difermentasi pada kondisi suhu
25
o
C dan pH 7 adalah sekitar -418 dan -131 kJ dan konversi glukosa menjadi metana
sekitar 27-95% (Klass, 1998).
Proses fermentasi metana melalui 4 tahap yaitu hidrolisis, acidogenesis, acetogenesis
dan metanogenesis (Klass, 1998).

1. Proses hidrolisis
Proses hidrolisis adalah proses dekomposisi bahan organik polimer (seperti:
karbohidrat, lipid, dan protein) menjadi monomer yang dapat larut dalam air. Proses
dekomposisi tersebut dilakukan oleh sekelompok bakteri fakultatif. Pada proses
hidrolisis, lemak diuraikan oleh enzim lipase yang diproduksi oleh bakteri lipolitik.
Sementara karbohidrat diuraikan oleh enzim selulose yang diproduksi bakteri selulolitik
dan protein diuraikan oleh enzim protease yang diproduksi oleh bakteri proteolitik,
menjadi monomer yang mudah larut.

Pada proses hidrolisis ini dihasilkan pula asam amino, volatil acid, dan lain-lain.
Adapun reaksi hidrolisis adalah sebagai berikut:
(C
6
H
10
O
5
)n + n H
2
O n(C
6
H
12
O
6
) (2)
Protein + H
2
O asam-asam amino (dapat larut) (3).
2. Proses acidogenesis
Proses Acidogenesis adalah proses dekomposisi monomer organik menjadi asam-asam
organik dan alkohol. Monomer organik tersebut diuraikan lebih lanjut oleh bakteri
asidogen menjadi asam-asam organik seperti asam asetat, format, butirat, propionat, dan
asam-asam lemak rantai pendek serta dihasilkan juga methanol, CO
2
, dan H
2
. Reaksi
asidogenesis dapat ditulis sebagai berikut (Klass, 1998):
C
6
H
12
O
6
2CH
3
COCO
2
-
+ 2H
+
+ 2H
2
(4)
C
6
H
12
O
6
CH
3
CH
2
CH
2
CO
2-
+ H
+
+ 2CO
2
+ 2H
2
(5)
C
6
H
12
O
6
CH
3
OH + CO
2
(6).
3. Proses acetogenesis
Proses acetogenesis adalah perubahan asam-asam organik menjadi asam asetat. Dalam
proses ini, senyawa organik dan etanol akan diurai menjadi asam format, asetat, CO
2
,
dan H
2
oleh bakteri acetogenic.
2C
2
H
5
OH
(aq)
+ CO
2(g)
2CH
3
COOH
(aq)
+ CH
4(g)
(7).
4. Proses metanogenesis
Pada proses ini asam asetat diuraikan oleh bakteria metanogen menjadi CH
4
, CO
2
, dan
H
2
O. Pembentukan metana sebagian besar berasal dari asam asetat (70%), sisanya dan
asam format, methanol, CO
2
, dan H
2
. Selain itu, substrat pembentukan metana dapat
berupa asam propionate, asam asetat dan komponen lainnya dengan penguraian seperti
pada gambar 1. Reaksi pada tahap metanogenesis dapat ditulis sebagai berikut:
CH
3
COOH CH
4
+ CO
2
(8).




Tahapan tersebut dapat dilihat secara lengkap pada gambar berikut:

Gambar Error! No text of specified style in document.-1. Skema Proses Perombakan secara Anaerob















DAFTAR PUSTAKA


Arati, JM., 2009, Evaluating the Economic Feasibility of Anaerobic Digestion of
Kawangware Market Waste, Manhattan, Kansas State University.

Deublein, Dieter and Angelika Steinhauser. 2008. Biogas from Waste and Renewable
Resources. Wiley-VHC: Jerman

Gaur, A. C. 1981. A Manual of Rural Composting. Di dalam Manik, S. T. H. 1994.
Pengaruh Imbangan Kotoran Sapi Dengan Sampah Pasar Organik Terhadap Produksi
dan Kualitas Kompos Secara Aerob. Skripsi. Jurusan Ilmu Pakan Ternak, Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hadiwiyoto, S. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idayu. Jakarta.

Hambali, Erliza. 2007. Teknologi Bioenergi. Ciganjur: PT. AgroMedia Pustaka.

Klass, Donald L., 1998, Biomassa for Renewable Energy, Fuels, and Chemicals, pp
445-463, John Wiley, New York.

Manik, S. T. H. 1994. Pengaruh Imbangan Kotoran Sapi Dengan Sampah Pasar Organik
Terhadap Produksi dan Kualitas Kompos Secara Aerob. Skripsi. Jurusan Ilmu Pakan
Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sari, Anis R., 2013, Produksi Biogas dari Fraksi Organik Sampah Pasar Kelompok
Sayuran Mudah Busuk, 2-6, Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada.

Tri hapsari, Anggraeni. 2007. Mempelajari Produksi Biogas Pada Fermentasi Sampah
Organik Pasar. Skripsi, Fakultas Pertanian,Institut Pertanian Bogor. Bogor.


Yani, M. dan A. A. Darwis. 1990. Diktat Teknologi Biogas. Pusat Antar Universitas
Bioteknologi - IPB. Bogor.

Beri Nilai