Anda di halaman 1dari 6

NAMA : DWI PUTRI SIRAIT

NIM : H1A113074 (B)


JURUSAN : ILMU PEMERINTAHAN
REVIEW JURNAL KOMUNIKASI POLITIK

IKLAN POLITIK DAN PERLINDUNGAN BAGI
KONSUMEN SIARAN

Pada akhir-akhir ini, media informasi terutama televisi di Indonesia
semakin diramaikan dengan iklan-iklan yang mengusung politisi ataupun partai
politik. Oleh masyarakat umum iklan tersebut disebut dengan iklan politik.
Namun berbeda dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008, dalam
peraturan perundang-undangan tersebut lebih dikenal istilah iklan kampanye
sebab lebih ke ranah pemilihan umum.

Iklan dan Iklan Politik
Pada hakikatnya iklan adalah pesan. Menurut Etika Pariwara Indonesia
(EPI) pengertian iklan yang termuat adalah pesan komunikasi pemasaran tentang
sesuatu produk yang disampaikan melalui suatu media, dibiayai oleh pemrakarsa
yang dikenal, serrta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. Dalam
konteks pengertian iklan menurut EPI ini, produk yang disampaikan ataupun
yang diiklankan adalah barang dan/atau jasa. Kemudian pengertian iklan tersebut
disempurnakan kembali dalam Undang-Undang Penyiaran dengan
menambahkan bahwa produk yang diiklankan tidak hanya barang dan/atau jasa,
tetapi gagasn juga termasuk didalamnya.
Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran bahwa
siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan
masyarakat tentang tersedianya jasa, barang, dan gagasan yang dapat
dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga
penyiaran yang bersangkutan.
Undang-Undang Penyiaran mengklasifikasikan iklan sebagai berikut :
a. Iklan niaga,
Yaitu iklan dimana produk yang diiklankan tersebut berupa barang
dan/atau jasa.
b. Iklan layanan masyarakat,
Yaitu iklan dimana produk yang diiklankan tersebut berupa gagasan.
Selain itu, menurut Undang-Undang Penyiaran juga bahwa siaran iklan
layanan masyarakat merupakan siaran iklan nonkomersial yang disiarkan
melalui penyiaran radio atau televise dengan tujuan memperkenalkan,
memasyarakatkan, dan/atau mempromosikan gagasan,cita-cita, anjuran,
atau pesan-pesan lainnya kepada masyarakat untuk mempengaruhi
khalayak agar berbuat dan/atau bertingkah laku sesuai dengan pesan iklan
tersebut.
Berdasarkan pengertian iklan layanan masyarakat diatas yang bertujuan
untuk mempengaruhi khalayak dapat kita lihat bahwa proses tersebut merupakan
bagian dari politik. Jadi iklan layanan masyarakat dapat kita simpulkan bahwa
iklan tersebut berbau politik dengan kata lain bahwa pada akhirnya iklan layanan
masyarakat tersebut tertuju pada politik.
Menurut Etika Penyiaran Indonesia, iklan politik adalah iklan yang
mempromosikan pengetahuan, pengalaman, atau pendapat suatu kelompok
tentang kebijakan publik. Iklan politik lebih bersifat kritis terhadap kebijakan
penguasa dan biasanya diproduksi oleh institusi di luar lingkaran pemerintahan.
Contoh iklan politik yaitu iklan dari Prabowo Soebianto yang mengajak orang
berbelanja di pasar tradisional atau iklan dari Rizal Malarangeng yang
menyatakan there is a will, there is a way tidak secara eksplisit menyebut satu
nama partai politik apapun dalam iklannya.

Kebebasan Berpendapat dalam Iklan
Iklan tidak hanya sekedar sarana berpromosi yang kental dengan nuansa
komersial, tetapi juga suatu karya seni yang bisa dinikmati oleh khalayak
banyak. Hal ini menunjukkan bahwa iklan sebagai produk hiburan yang bisa
mencerdaskan atau memberi nilai tambah tentang suatu informasi.
Dalam periklanan, sarana beriklan di televisi juga digunakan untuk
memperkuat pencitraan diri. Iklan-iklan politik sangat menekankan hal ini.
Dengan adanya motivasi pencitraan ini tidak menutup kemungkinan pihak
pengiklan untuk menyinggung isu-isu popular di masyarakat dan berusaha
menunjukkan keberpihakan mereka terhadap masyarakat luas. Dari hal ini
jugalah akan disinggung tentang kebebasan berpendapat sebagai hak
konstitusional yang tidak bisa dilanggar. Oleh karena itu, dalam pencitraan diri,
figure politisi dapat mengiklankan dirinya dengan hal-hal yang baik yang
menunjukkan bahwa mereka pro terhadap rakyat namun kemudian timbul
persoalan pemberian keterangan yang tidak benar (misrepresentation) karena
apa yang diiklankan oleh figure politik tersebut tidak sesuai dengan apa dan
bagaimana diri mereka sendiri yang masyarakat sendiri sudah tahu.
UUD 1945 menjamin adanya hak untuk bebas mengutarakan pendapat
secara lisan maupun tulisan. Suatu perdebatan akan muncul apabila seseorang
menyatakan bahwa iklan yang dibuatnya merupakan ekspresi dari haknya untuk
menyatakan pendapat sementara ada pendapat lain yang menyatakan bahwa
iklan yang bermotif komersial tidak patut disandingkan dengan hak berpendapat
sebagai hak konstitusional.



Misrepresentation
Misrepresentation adalah permasalahan pemberian keterangan yang tidak
benar. Berdasarkan tingkat derajat kesalahan, misrepresentation dibagi atas 3
bagian, yaitu :
1. Fraudulent misrepresentation, yaitu misrepresentation yang paling berat
dimana pengiklan dengan sengaja memanfaatkan data atau informasi
keliru maupun palsu guna menipu masyarakat luas.
2. Negligent misrepresentation, yaitu misrepresentation yang lebih ringan
dimana pengiklan dengan sengaja menyebarkan suatu informasi yang
seharusnya ia tahu tentang potensi kesalahan di dalam informasi tersebut.
3. Reckless misrepresentation, yaitu misrepresentation yang paling ringan
dimana pengiklan tidak memiliki niat untuk menyesatkan konsumen dan
juga tidak tahu tentang adanya kesalahan dalam informasi yang tercantum
dalam iklannya.
Misrepresentation belum secara signifikan diatur dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana, hanya beberapa pasal yang sedikit menyinggung ke
dalam unsur-unsur misrepresentation yaitu Pasal 378 (penipuan) dan Pasal 382
(persaingan curang). Kemungkinan dengan rasa segan untuk terlalu mencampuri
terlalu jauh kewenangan otoritas pemilu, EPI tidak menyinggung indicator
tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dalam beriklan politik,
termasuk tentang apa yang disebut misrepresentation.

Terminology Konsumen Iklan Politik
Secara umum, siapapun yang mengonsumsi barang dan/atau jasa disebut
sebagai konsumen. Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen bahwa konsumen adalah setiap orang pemakai barang
dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,
keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain, dan tidak untuk
diperdagangkan.
Berdasarkan penafsiran restriktif terhadap terminology konsumen, maka
istilah konsumen iklan politik berarti pemirsa yang mengonsumsi pesan-pesan
iklan dalam kapasitas sebagai anggota masyarakat, baik sebagai seseorang yang
mempunyai hak pilih maupun yang belum mempunyai hak pilih.

Perlindungan bagi Konsumen iklan Politik di Televisi
Perlindungan yang dapat diberikan kepada konsumen iklan politik dengan
menggunakan instrumen Undang-Undang Pers, Undang-Undang Penyiaran, dan
Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
Apabila konsumen mendapati ada iklan-iklan yang secara substansial
telah memuat informasi yang menyesatkan (misrepresentation), maka konsumen
dapat mengajukan gugatan secara perdata dan/atau melapor ke pihak yang
berwenang untuk diambil tindakan administrative dan/atau pidana. Dalam
konteks ini, konsumen dipersilakan menggunakan Undang-Undang
Perlindungan konsumen sebagai instrumen, Pasal 1365 Kitab Undang-Undang
hokum Perdata atau Pasal 378 Kitab undang-Undang Hukum Pidana (penipuan).
Untuk gugatan perdata, konsumen bahkan dapat melakukan gugatan perwakilan
kelompok yang dimungkinkan melalui Pasal 46 Undang-Undang Perlindungan
Konsumen.


Penutup
Jalan untuk menertibkan iklan-iklan politik di televise sangat bergantung
pada pedoman perilakku penyiaran dan standar program siaran yang baru akan
disusun oleh Komisi Penyiaran Indonesia (bersama Dewan Pers dan KPU).
Penertiban melalui pedoman dan sandar tersebut hanya akan menyentuh
lembaga-lembaga penyiaran tempat iklan-iklan tersebut ditayangkan.
Keberanian masyarakat untuk melaporkan tindakan pelanggaran atau
menggugat pihak-pihak tertentu yang memproduksi iklan-iklan politik, akan
memberi pembelajaran tertentu bagi praktik penegakan hukum komunikasi di
Indonesia.