Anda di halaman 1dari 187

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 1

Vincentius dan Kasus Pajak Asian Agri


ebagai financial controller Asian Agri Group, Vincentius Amin Sutanto sangat
mengetahui lika-liku bagaimana perusahaannya melakukan berbagai manipulasi pajak
agar terhindar dari kewajiban membayar pajak negara. Inilah yang kemudian dia
laporkan dan beberkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, Direktorat Pajak juga media.
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) kemudian juga menempatkan Vicentius
sebagai saksi yang perlu dilindungi karena kesaksiannya penting untuk membongkar kasus
kejahatan pajak yang diduga dilakukan oleh Asian Agri Grup, salah satu anak perusahaan
Garuda Mas, grup perusahaan milik konglomerat Sukanto Tanoto.

Sukanto Tanoto
Kasus kejahatan pajak ini terungkap setelah sebelumnya, pada akhir tahun 2006, Vincent lari
ke Singapura karena membobol dana PT Asian Agri Oil and Fats di Singapura US$ 3,1 juta
(sekitar Rp 28 miliar). Bersama dua rekannya, Hendry Susilo dan Agustinus Ferry Sutanto,
Vincent membuat dua perusahaan untuk menampung dana US$ 3,1 juta dari Asian Agri.
Vincent sendiri belum sempat menikmati duit itu. Sedangkan kawan Vincent, Hendry, sempat
menarik Rp 200 juta sebelum aksi mereka terbongkar. Vincent kemudian memilih lari ke
Singapura. Dia sempat meminta maaf kepada Sukanto Tanoto, walau tak dikabulkan. Sukanto,
menurut majalah Forbes Asia, orang terkaya Indonesia pada 2006 dan 2008.
S
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 2

Dari Singapura itulah Vincent membeberkan kejahatan pajak yang dilakukan Asian Agri Grup
ke media massa. Beberapa waktu kemudian, ia memilih pulang ke Indonesia. Menyerahkan
sejumlah dokumen dan bukti-bukti pelanggaran hukum yang dilakukan Asian Agri ke Komisi
Pemberantasan Korupsi sebelum kemudian menyerahkan diri ke polisi dan ditahan di Rumah
Tahanan Salemba.


Rumah tahanan Salemba
Vincent mengaku selama menjadi buron selain khawatir terhadap keselamatan dirinya, dia juga
khawatir dengan keadaan anak dan istrinya di Indonesia. Dia tahu hal-hal buruk bisa menimpa
keluarganya. Apalagi sejumlah teror juga sudah dialami lelaki kelahiran Singkawang 21 J anuari
1963 tersebut.
Penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri diduga membuat negara rugi sekitar Rp 1, 3
trilun. Setelah kembali dari Singapura, pada akhir 2006, Vincent menyerahkan dokumen internal
Asian Agri Group kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Dokumen itu berisi dugaan
penggelapan pajak oleh Asian Agri selama 2002-2005. Komisi Pemberantasan kemudian
melimpahkan dokumen tersebut ke Direktorat J enderal Pajak Departemen Keuangan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 3

Berdasarkan laporan Vincent itu Direktorat Pajak melakukan penyelidikan terhadap Asian
Agri. Setelah melakukan pemeriksaan dan menelisik dokumen yang diberikan Vincent serta
melakukan penyitaan terhadap lebih dari seribu kardus dokumen Asian Agri dari sebuah ruko.
Direktorat Pajak kemudian menetapkan dua belas tersangka dalam kasus ini.

Vincentius Amin Sutanto dalampersidangan
Kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dan Direktorat Pajak Vincent membeberkan modus
Asian Agri dalam melakukan kejahatan pajak. Secara garis besar manipulasi pajak dilakukan
lewat transfer profit ke perusahaan afiliasi Asian Agri di luar negeri, seperti Hong Kong, British
Virgin Islands, Macau, dan Mauritius. Ada tiga pola yang digunakan, yaitu pembuatan biaya
fiktif, transaksi hedging fiktif, dan transfer pricing. Tujuannya untuk mengurangi keuntungan
sehingga pajak yang dibayarkan berkurang.
Vincent juga sempat akan dipindahkan ke tahanan di Pontianak. Dengan alasan diduga
melakukan pemalsuan paspor, ia akan diperiksa di Pontianak. Kala itu dia sudah diterbangkan ke
Pontianak. Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Sekretaris Satuan Tugas Pemberantasan Mafia,
Denny Indrayana meminta Kapolri Bambang Hendarso Danuri untuk memerintahkan anak
buahnya memulangkan Vincent ke J akarta karena keterangannya masih dibutuhkan. Akhirnya,
pada hari yang sama Vincent dibawa lagi ke J akarta dan kali ini ditempatkan di dalam Lembaga
Pemasyarakatan Narkotika Cipinang.



Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 4

Pentingnya Kesaksian Vincent
Sebagai salah satu bekas orang penting di Asian Agri, kesaksian Vincent sangat penting untuk
membongkar kejahatan pajak dibekas perusahaannya itu. Direktorat Pajak sendiri memang
membutuhkan informasi, keterangan, dan bukti dari Vincent yang bisa menunjukkan dengan
jelas dan detail dugaan penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri. Dan Vincent
menunjukkan semua yang ia ketahui bagaimana penyelewengan pajak tersebut dilakukan.

Perusahaan ASIAN AGRI
Bukan tanpa resiko Vincent membongkar kejahatan pajak yang dilakukan Asian Agri. Setelah
dia kembali ke Indonesia, melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi dan menyerahkan diri ke
polisi, berbagai teror dan ancaman kerap dia terima. Karena itulah, saat dia berada di tahanan
secara khusus Direktorat Pajak mengirim surat ke Direktorat Lembaga Pemasyarakat, meminta
agar Vincent mendapat pengawasan dan ruang tahanannya dijaga sedemikian rupa agar
keselamatannya terjamin. Untuk menjaga agar keluarganya tidak mendapat hal-hal yang tak
diinginkan dan anak-anaknya tidak shok, Vincent melarang keluarga dan tiga anaknya
menjenguknya di tahanan.
Vincent mengaku sepulang dari pelariannya di Singapura dia mendapat sejumlah ancaman dan
teror. Ancaman tersebut antara lain disampaikan lewat telepon. Dia, misalnya, diminta untuk
tidak banyak bicara soal Asian Agri. Soal kemungkinan pembalasan yang dilakukan Sukanto
Tanoto itu menurut Vincent sudah terpikirkan olehnya saat Asian Agri tahu dia melakukan
pembobolan rekening perusahaan. Makanya saya minta pengampunan (kepada Sukanto Tanoto,
pemilik Asian Agri), katanya tentang permintaannya yang tak terkabulkan tersebut. Keluarga
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 5

dan anaknya juga mendapat teror dan mengadu dan meminta perlindungan ke Komisi Nasional
Perlindungan Anak.
Karena kesaksiannya penting dan dia dinilai bisa bekerja sama dengan aparat hukum untuk
membongkar kejahatan pajak yang merugikan negara, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban
menetapkan Vincent sebagai saksi yang dilindungi.
Vincent mendapat perlindungan sebagai saksi sejak Mei 2011. Kepada wartawan pengacara
Vincent, Asmar Oemar Saleh mengatakan, kliennya mendapat perlindungan dengan kategori
sedang. Dengan kategori ini, maka Vincent tak dipindahkan ke rumah aman. Vincent tetap di
LP Cipinang, namun ada monitoring dan koordinasi berkala antara lembaga perlindungan dengan
LP, kata Asmar.
Dijerat Undang-Undang tentang Pencucian Uang
Pada Mei 2007 Vincent mulai diadili di Pengadilan Negeri J akarta Barat. Polisi menyatakan
Vincent telah melakukan kejahatan pencucian uang. Dia dijerat dengan Undang-Undang tentang
Pencucian uang yang hukuman maksimalnya adalah 20 tahun penjara. J aksa sendiri menuntut
Vincent sebelas tahun penjara.
Pada 9 Agustus 2007 majelis hakim yang diketuai Sutarti K.S. memvonis Vincent hukuman
11 tahun penjara dan membayar denda Rp 150 juta. Dia dinyatakan terbukti melakukan
kejahatan pencucian uang dan pemalsuan tanda tangan. Dia kemudian dimasukkan ke penjara
Salemba. Vincent menyatakan vonis itu tak adil, demikian pula tuduhan dia melakukan
pencucian uang.
Menurut Vincent berdasarkan pendapat pengacaranya juga Komisi Pemberantasan Korupsi,
yang dilakukannya bukanlah masuk katergori kejahatan pencucian uang. Karena itulah dia
menduga ada sesuatu di balik putusan tersebut. Pasti ada tangan-tangan kepentingan yang mau
menjatuhkan saya. Motifnya balas dendam atau apa. Saya kan mengungkap kasus Asian Agri.
Bisa jadi ada yang tak senang, katanya.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 6

Menurut Vincent, bahwa dia pulang dan kemudian diadili merupakan resiko yang memang
harus dihadapinya.Saya memang harus mempertanggungjawabkan tindakan saya, katanya.
Namun, dia ingin diadili secara adil dan dia merasa tidak diperlakukan dengan adil. Dakwaan
pencucian uang, menurut dia, sangat tidak adil dan mengada-ada. Kasusnya menurut dia adalah
pemalsuan yang ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara yang dalam prakteknya
vonis hakim biasanya berkisar delapan bulan hingga satu tahun penjara.
Pada 17 Februari 2010, Vincent mendapat kunjungan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia
Hukum dan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Abdul Haris Semendawai. Kepada
Abdul Haris Semendawai, Vincent mengaku mendapat ancaman akan dihabisi nyawanya. Dia
meminta perlindungan LPSK. Saya akan merasa nyaman kalau dalam perlindungan LPSK,"
kata Vincent. Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai menyimpulkan Vincent adalah saksi kunci.
"Karena, dia yang melaporkan ke pihak yang berwenang. Dia adalah whistleblower," kata
Abdul Haris.
Terhadap vonis hakim yang dijatuhkan Pengadilan Negeri J akarta Barat Vincent, menyatakan
banding. Menurut pengacara Vincent, Petrus Balla Patyona, jaksa dan hakim tidak memahami
pasal pencucian uang. Menurut dia, jika Vincent terbukti melakukan pencucian uang, kenapa
uang Rp 28 miliar dikembalikan ke Asian Agri. "Bukankah seharusnya disita negara?" katanya.
Menurut Petrus, sesuai pendapar pakar hukum perbankan Sutan Remy Sjahdeini, ciri-ciri
perbuatan pencucian uang adalah memindahkan uang hasil kejahatan dari satu jasa keuangan ke
jasa keuangan lainnya. Menurut Petrus dalam kasus kliennya, transfer yang dimaksud belum
terjadi.
Ditingkat banding dan kasasi upaya hukum Vincent ditolak. Kasasi Vincent ditolak Mahkamah
Agung pada Maret 2008. Vincent kemudian mengajukan upaya hukum PK (Peninjauan
kembali). Salah satu pengacaranya, Teguh S. Raharjo menyatakan pihaknya melihat ada
kekhilafan hakim dalam mempertimbangkan tindak pidana yang didakwakan kepada Vincent.
Itulah yang menjadi salah satu dasar Vincent mengajukan PK.
Tapi, pada September 2010 upaya hukum PK yang diajukan Vincent ditolak majelis hakim
yang terdiri dari Mugiharjo, Andi Abu Ayyub Saleh, dan Komariah Emong Sapardjaja.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 7

Pada 25 November 2011 Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana mengunjungi
Vincent di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Denny datang bersama anggota Satuan Tugas
Pemberantasan Mafia Hukum (Satgas PMH) Mas Achmad Santosa, serta penasehat hukum
Vincentius, Adnan Buyung Nasution.
Menurut Denny, Kementerian Hukum dan HAM akan memberi remisi dan asimilasi untuk
Vincentius Amin Sutanto. Pemberian remisi dan asimilasi tersebut sebagai bentuk penghargaan
kepada Vincentius karena telah menjadi whistleblower dalam kasus penggelapan pajak Asian
Agri. "Vincentius ini akan dipertimbangkan mendapatkan remisi dan asimilasi. Kalau syarat
asimilasi akan diberikan dalam bentuk perlindungan LPSK. Dia juga akan mendapatkan bebas
bersyarat 2/3 masa tahanannya," kata Denny. Denny mengatakan, sebagai whistleblower ,
Vincent akan diberikan haknya secara penuh. Kuasa hukum Vincent menurut Denny juga sudah
memohon grasi kepada presiden SBY.
Menurut Adnan Buyung Nasution, Vincent adalah korban dari sistem hukum di Tanah Air.
Sebagai whistleblower setelah membongkar dugaan penggelapan pajak PT Asian Agri pada
2007 lalu Vincentius justru dimasukan ke dalam penjara. Buyung menegaskan, Vincent bukan
diistimewakan, tapi sebagai whistleblower harus dilindungi. Dimasukkannya Vincent di
Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Cipinang adalah sebagai bentuk perlindungan, karena dia
dan keluarganya sering mendapatkan ancaman. Whistleblower jangan dijadikan korban, tapi
harus dilindungi," kata pria berambut putih ini.
Vincent mengucapkan terimakasih kepada Satgas Pemberantasan Mafia Hukum atas upaya
yang dilakukan kepada dirinya selama ini. Dia berharap para whistleblower tidak takut
mengungkap kebenaran. Saya mengimbau kepada calon whistleblower jangan segan maju
kedepan, sampaikan kebenaran yang diketahui," katanya Vincent sendiri sudah mengajukan
permintaan grasi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 24 November 2011.




Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 8


Agus Condro dan Skandal Cek Pelawat


etelah menjalani hukuman selama 13, 5 bulan atau satu setengah bulan lebih cepat dari
masa hukuman, akhirnya Agus Condro Prayitno, 52 tahun, pada 25 Oktober 2011
menghirup udara bebas. Sebelumnya, pada 16 J uni 2011 Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi (Tipikor) memvonis Agus 15 bulan penjara. Dia dinyatakan bersalah menerima suap
dalam kasus terpilihnya Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia
yang berlangsung pada 2004.

Semula Agus mendekam di Rumah Tahanan Polda Metro J aya hampir selama dua bulan. Tapi,
dia kemudian meminta dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Alas Roban, Kendal, J awa
Tengah. Difasilitasi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), permintaan bekas
anggota DPR periode 1999-2004 tersebut disetujui Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia,
Patrialis Akbar. Pada Rabu, 3 Agustus 2011, Agus pun dipindahkan ke Lembaga
Pemasyarakatan Alas Roban.

Menurut Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana, Agus menerima
remisi dan berbagai perlakuan khusus karena dia berkelakuan baik dan bekerja sama dengan
penegak hukum justice collaborator. Sebagai pelaku pelapor, kata Denny, Agus memberikan
informasi yang kuat, tidak melakukan banding atas putusan yang diterimanya, mengembalikan
cek pelawat sebesar Rp 500 juta, dan memperoleh Surat Keputusan dari LPSK sebagai pelaku
pelapor.

Dengan karekteristik seperti itu, kata Denny, Agus memenuhi persyaratan sebagai whistle
blower yang berhak atas penghargaan berupa remisi atas perannya dalam membongkar kasus
korupsi. "Kalau mau tahu apa kriteria seseorang untuk bisa dikatakan sebagai whistleblower,
Agus Condro orangnya," kata Denny.
S
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 9

Denny menjelaskan, ada sejumlah kriteria yang membuat seseorang bisa disebut
whistleblower, yaitu memberikan informasi akurat tentang sebuah kasus yang dikuatkan dengan
putusan pengadilan, mau bekerjasama dan mengakui perbuatan pelanggaran hukum yang
dilakukannya, mengembalikan hasil korupsi atau kejahatannya, tidak melanggar hukum selama
dalam masa penyidikan hingga ke persidangan, dan keputusan LPSK (Lembaga Perlindungan
Saksi dan Korban) bahwa orang itu layak ditetapkan sebagai whistle blower. Agus, menurut
Denny, memenuhi itu semua.

Selain itu, tambah Denny, bebas bersyaratnya Agus ini merupakan pesan bagi setiap warga
negara agar tak ragu untuk menjadi justice collaborator (pelaku pelapor). J ustice collaborator
yang membantu pengungkapan kasus korupsi akan mendapat penghargaan. Baik berupa tuntutan
hukum lebih ringan dan atau mendapatkan remisi kalau sudah dipenjara.



Agus Condro dalamwawancara media

Perlakuan khusus yang diterima Agus Condro tidak berjalan otomatis, tapi melalui proses yang
cukup panjang dan berbelit-belit. Kisah ini, seperti ditulis Satrio Arismunandar Agus Condro,
Yoedha, Dan Perjuangan Dari Dalam Partai pada 24 agustus 2008 di blognya, berawal dari
persoalan internal PDIP. Dalam blognya, Satrio memaparkan Dhia Prekasha Yoedha, mantan
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 10

wartawan Kompas yang menjadi anggota PDIP sejak awal pendirian partai tersebut, mengirim
SMS ke beberapa angota PDI-P. Bunyinya, Gerakkan segera demo ke Lenteng Agung. Desak
DPP bentuk Komite Disiplin. Periksa Emir Moeis, Max Moein, Daniel Budi Setiawan, Agus
Condro Prayitno, Dudie Murod. dll dan kenakan sanksi PAW jika terbukti langgar Kode Etik
Partai.

Tak ada penjelasan tentang kode etik apa yang dilanggar, tetapi SMS itu menambah kesialan
Yoedha. Posisi nomor urut Yoedha sebagai Caleg DPRD DKI J akarta (dari Daerah Pemilihan
J akarta Timur) jadi melorot dari nomor urut 2 ke 4, dan akhirnya ke nomor urut 8. Tak cukup
dengan itu, Yoedha juga mendapat teguran keras dari salah satu petinggi PDI-P.
Isu pelanggaran kode etik itu beredar di banyak kalangan, tetapi tetap menjadi rumor, sampai
kemudian, Agus Condro, yang waktu itu anggota Komisi IX DPR, mengakui di depan pejabat
KPK telah menerima Rp 500 juta sepekan setelah terpilihnya Miranda Goeltom sebagai Deputi
Gubernur Senior Bank Indonesia . Kepada KPK, Agus mengaku uang tersebut dibagi-bagikan
melalui koleganya di Komisi XI DPR, Dudhie Makmun Murod, di ruang kerja Ketua Komisi
IX Emir Moeis. Pengakuan ini kemudian dibahas dalam rapat pleno FPDIP pada Selasa, 19
Agustus 2008.


Miranda Goeltomdalammenanggapi kasus Agus Condro

Tidak jelas apa hasil rapat pleno PDIP tersebut. Tapi sehari kemudian Agus bernyanyi lebih
nyaring. Kepada pers di Gedung DPR, Agus mengatakan bahwa dirinya bukan satu-satunya
orang yang menerima traveler cheque (TC). Dia mengungkapkan sejumlah nama lain yang
menerima cek pelawat Rp 500 juta bersama dirinya, yakni, William Tutuarima, Budiningsih,
Mateus Formes, dan Muhammad Iqbal.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 11

Ketika itu, kata Agus, dia menduga-duga pemberian uang berupa 10 lembar cek dari Bank
Internasional Indonesia (BII) merupakan gratifikasi setelah berhasil meloloskan Miranda
menjadi Deputi Gubernur Senior BI. Kuasa hukum Agus, Firman Wijaya, menyatakan,
sebelumnya sebenarnya Agus pernah menceritakan kasus dugaan suap itu kepada Mahfud M.D
saat keduanya bertemu di Garut, J awa Barat. Belakangan, Mahfud sendiri menyatakan
kesiapannnya jika dia diminta sebagai saksi meringankan untuk Agus.

Pernyataan Agus tentang cek pelawat ini ternyata bukan lolongan anjing di padang pasir.
Sekitar sebulan setelah pengakuan Agus, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) menyatakan telah menemukan 400 lembar cek perjalanan yang dibagikan kepada
anggota Komisi Perbankan. Satu lembar cek bernilai Rp 50 juta. Hasil temuan tersebut kemudian
diserahkan ke KPK.

Namun, sampai hampir 10 bulan sejak pengakuan Agus Condro, tidak ada tenggapan terbuka
dari KPK. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa KPK tidak menindaklanjuti dugaan
korupsi terkait pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tersebut. Karena itu, MAKI (Masyarakat
Anti Korupsi Indonesia) mempraperadilankan KPK yang dianggap lamban menangani
pengaduan Agus Condro. Menurut MAKI, KPK sebenarnya bisa dengan mudah menetapkan
Agus Condro sebagai tersangka dengan sangkaan menerima gratifikasi karena Agus Condro
sudah mengakui perbuatannya.

Akhirnya pada 9 J uni 2009, KPK menetapkan dan menahan empat orang sebagai tersangka
kasus penerimaan TC tersebut. Mereka, Hamka Yandu (Golkar), Endin AJ Soefihara (PPP),
Dudhie Makmun Murod (PDIP), dan mantan anggota fraksi TNI/Polri yang telah menjabat
anggota BPK, Udju Djuhaeri.

KPK juga mengembangkan kasus ini. Pada 1 September 2010 KPK mengumumkan 26
tersangka kasus suap terkait pemilihan Miranda Gultom sebagai DGS BI pada 2004. Dari 26
nama itu, 14 tersangka berasal dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP), 10
dari Fraksi Partai Golkar, dan 2 dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP). Termasuk
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 12

dalam deretan tersangka adalah Agus Condro, politisi senior PDI Perjuangan, Panda Nababan,
dan politisi senior Golkar, Paskah Suzetta.

Empat tersangka penerima suap kemudian diadili di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
Mereka, Dudhie Makmun Murod, Hamka Yandhu, Endin AJ Soefihara, dan Udju Djuhaeri.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada 17 Mei 2010 menghukum dua tahun penjara Dudhie,
Hamka, dan Udju. Ada pun Endin divonis 15 bulan, tapi Pengadilan Tinggi DKI kemudian
memperberat vonis ini menjadi dua tahun penjara.

Pada 16 J uni 2011, Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang diketuai Suhartoyo
menjatuhkan vonis satu tahun tiga bulan penjara tiga bulan lebih ringan dari tuntutan jaksa-
kepada Agus Condro. Selain itu Agus juga diwajibkan membayar denda Rp 50 juta. Menurut
Ketua Majelis Hakim Suhartoyo, mantan politikus PDIP itu terbukti secara sah melakukan
tindak pidana sebagaimana diatur dalam dakwaan jaksa kedua, yakni melanggar Pasal 11 UU
Tipikor jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP.

Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan menjatuhkan hukuman untuk Agus satu tahun
tiga bulan penjara karena dia mengakui terus terang perbuatannya, menyesali perbuatannya,
bersikap sopan selama persidangan, belum pernah di hukum, telah mengembalikan uang hasil
korupsi, serta telah melaporkan kasus suap ini ke ke KPK.
Kendati dihukum lebih ringan ketimbang yang lain, putusan hakim ini tetap menimbulkan
kecaman dari sejumlah pihak. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dan LPSK misalnya,
menyatakan hukuman 1 tahun 3 bulan penjara dan denda Rp 50 juta kepada Agus Condro itu
terlalu berat. "Meski hukuman tersebut lebih ringan dari terdakwa lainnya, seharusnya Agus
Chondro mendapat perlindungan hukum yang lebih signifikan" ujar Ketua LPSK, Abdul Haris
Semendawai dalam siaran persnya. Dalam siaran pers tersebut, Haris juga mengakui
perlindungan hukum terhadap whistleblower di Indonesia belum maksimal karena belum ada
jaminan signifikan dari undang-undang.

Dibanding hukuman para penenerima cek pelawat lainnya, hukuman untuk Agus memang tak
jauh beda. Max Moein dan Rusman Lumbantoruan, kolega Agus di PDI Perjuangan yang
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 13

menyangkal perbuatannya dan tidak mengembalikan cek yang diterimanya, misalnya, dihukum
20 bulan penjara. Padahal, sebagai justice collaborator LPSK telah mengirim surat kepada
majelis hakim untuk mempertimbangkan peran Agus dalam mengungkap kasus suap ini. LPSK
sendiri telah menetapkan secara resmi perlindungan untuk Agus sejak 15 Maret 2011.
Penetapan Agus Condro sebagai pelaku pelapor oleh LPSK merupakan hasil pembicaraan antara
LPSK, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, serta Kementerian Hukum dan HAM. Ketiga
lembaga ini sepakat, sebagai justice collaborator Agus layak mendapat "hadiah" atas
kontribusinya bekerja sama dengan aparat penegak hukum, yakni, remisi, asimilasi, atau
pembebasan bersyarat. LPSK juga ikut memantau dan mendampingi Agus dalam persidangan.

Kasus Agus Condro ini juga membuat Ketua Mahkamah Agung (MA), Harifin Andi Tumpa,
mengeluarkan surat edaran Mahkamah Agung (SEMA) yang isinya meminta para hakim
memperhatikan secara khusus pelaku pelapor kasus kejahatan seperti kasus Agus Condro.
Tujuannya, agar pelaku tidak takut lagi melaporkan. SEMA itu tidak memberikan rincian sanksi
yang diberikan kepada whistleblower. "Masalah sanksi itu dikembalikan ke hakim, tetapi harus
diperhatikan," kata Harifin. Harifin mengungkapkan perihal SEMA ini setelah pertemuan MA
dengan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH).


Ketua Mahkamah Agung, Harifin Andi Tumpa

Pertemuan MA dengan PMH adalah untuk menindaklanjuti pembicaraan di Cipana yang
bertujuan mengevaluasi program pemberantasan mafia hukum dan rencana seminar tentang
whistle blower serta kemungkinan adanya pernyataan bersama antar penegak hukum terkait UU
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 14

Perlindungan saksi. Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai mengatakan, whistleblower belum
mendapatkan penghargaan dari pemerintah, meski telah membocorkan informasi penting
menyangkut kejahatan yang merugikan negara.

Ketua Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Kuntoro Mangkusubroto menegaskan, memang
harus ada penanganan khusus bagi whistleblower itu. Mereka yang melakukan kejahatan tapi
kemudian ikut melaporkan dan membantu mengungkapkan kejahatan, harus mendapat
perlakukan khusus. Perlakuan tersebut, antara lain, pengurangan hukuman atau divonis ringan.
Kuntoro menunjuk vonis terhadap Agus Condro yang dinilai tidak adil. Harusnya jauh lebih
ringan."


Tanggapan Ketua LPSK mengenai kasus Agus Condro

Menurut Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, perlindungan terhadap whistleblower atau
justice collaborator memang perlu diatur lebih jauh dan detail. Mereka, kata Abdul Haris, jika
memenuhi syarat bahkan bisa bebas dari tuntutan," katanya. Syarat itu di antaranya,
memberikan informasi untuk mengungkapkan kejahatan, saksi pelaku bukan aktor intelektual
dari kejahatan, serta tidak mengulangi lagi kejahatannya.
Menurut Abdul Haris Semendawai, putusan hakim terhadap Agus Condro menunjukkan bahwa
perlindungan hukum terhadap whistleblower di Indonesia belum maksimal karena belum ada
jaminan dari undang-undang.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 15

Perlindungan hukum terhadap whistleblower yang juga tersangka hanya sebatas ketentuan Pasal
10 Ayat (2), yakni adanya pertimbangan hakim, dalam meringankan pidana yang dijatuhkan.

Padahal, tambah Semendawai, LPSK sudah melakukan langkah serius dalam memberikan
perlindungan hukum terhadap Agus Condro. Salah satunya, mengirim surat kepada majelis
hakim untuk mempertimbangkan peran dan informasi penting yang dimiliki Agus Condro.
Semendawai mengakui perlindungan yang tidak maksimal dari LPSK disebabkan adanya
kelemahan dalam UU No.13/2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban (PSK). Atas
kelemahan tersebut, LPSK bersama Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH) telah
merumuskan perlindungan hukum dalam rancangan revisi UU No.13/2006.

Semendawai mengatakan LPSK terus mendorong supaya revisi UU tersebut segera terwujud.
Salah satu rumusan revisi tersebut terpenting adalah pemberian penghargaan kepada saksi atau
pelapor yang juga tersangka atau terdakwa yang mau bekerja sama dengan aparat penegak
hukum untuk membongkar suatu kejahatan. Penghargaan tersebut diberikan untuk kepentingan
penegakan hukum agar pelaku kelas kakap dapat diproses secara hukum dan berbagai kejahatan
dapat terungkap.

Kekecewaan terhadap vonis hakim yang menghukum penjara Agus Condro juga dikemukakan
Indonesia Corruption Watch (ICW). Menurut koordinator divisi hukum ICW, Febridiansyah,
seharusnya Agus Condro divonis bebas dia adalah pelapor dan pengungkap skandal cek pelawat
yang hingga kini terus disidik Komisi Pembentasan Korupsi. KPK sendiri pada 10 Desember
2011 telah membawa pulang Nunun Nurbaeti yang sebelumnya ditangkap polisi Thailand di
Bangkok pada Rabu 7 Desember 2011. Nunun, yang merupakan buronan KPK, diduga ikut
berperan penting dalam menyalurkan cek pelawat tersebut ke anggota DPR. Febri mengatakan,
seharusnya majelis hakim bisa lebih progresif dalam menjatuhkan putusan, tidak terpaku pada
tuntutan J aksa Penuntut Umum (J PU).

Menurut Semendawai, LPSK telah melakukan sejumlah langkah sebagai bentuk perlindungan
sekaligus penghargaan terhadap Agus Condro yang telah bekerja sama dengan aparat hukum
mengungkap kasus suap ini. Selain meminta majelis hakim meringankan hukuman terhadap
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 16

Agus atas jasanya mengungkap kasus suap cek pelawat, meminta Agus ditempatkan di lembaga
pemasyarakatan yang lebih mudah diakses keluarganya, LPSK juga telah mengajukan
permohonan remisi dan pembebasan bersyarat untuk Agus.

Komitmen Agus Condro

Apa yang membuat Agus Condro bernyanyi? Mungkin SMS dari koleganya itu memang ikut
mempengaruhinya. Kepada media, Agus sendiri menyatakan dia hanya ingin menyampaikan
kebenaran. Pria asal Batang, J awa Tengah, itu mengaku sejak awal telah siap menerima risiko
apapun dengan langkahnya, termasuk mempertaruhkan jabatannya sebagai anggota DPR. Akibat
pengakuannya Agus memang diberhentikan dari keanggotaan DPR. Agus telah dua kali
menjadi anggota DPR/MPR dari J awa Tengah.

Di hari saat dibebaskannya dia dari penjara, kepada wartawan, Agus mengatakan akan tetap
melanjutkan komitmennya memberantas korupsi dengan membentuk wadah yang melibatkan
masyarakat tanpa ditunggangi kepentingan politik. "Dalam tahanan saya merenung, banyak
peristiwa korupsi dan telah ada upaya pemberantasannya, namun ditunggangi kepentingan
politik. J adi perjuangannya tidak murni.

Menurut Agus, rakyat belum banyak berpartisipasi aktif dalam upaya pemberantasan korupsi.
Karena itu, dia akan merangkul teman-temannya untuk menggalang komitmen melawan
korupsi. "Ini sifatnya gerakan rakyat dan fokus menggerakkan lapisan masyarakat bawah untuk
peduli pada pemberantasan korupsi tanpa bermuatan politik dan dilakukan murni untuk
kepentingan bangsa, katanya






Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 17


Susno Duadji: Nyanyi Sunyi Seorang Jenderal

usno Duaji berjasa dalam mengungkap kejahatan pajak Gayus Tambunan. Mendapat
perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Dari Kepala Badan Reserse
dan Kriminal menjadi pesakitan. Demikianlah nasib yang menimpa Komisaris J enderal
Susno Duaji. Pria kelahiran Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1 J uli 1954 itu tersandung dua kasus
yang menjadi sorotan masyarakat yang juga kemudian berujung pada pencopotan jabatannya lalu
membuatnya menjadi narapidana.
Susno sendiri berkukuh tidak bersalah terhadap apa yang dituduhkan ke dirinya. Di tengah-
tengah perlawanannya itulah dia kemudian membuka borok sejumlah petinggi kepolisian,
bahkan dengan terang-terangan menyebut inisial mereka. Mereka, menurut Susno,
menyalahgunakan jabatannya untuk mempermaikan kasus demi keuntungan pribadi. Salah satu
kasus yang disebut Susno, kemudian menjadi pemberitaan besar di media massa, yakni kasus
kejahatan pajak yang dilakukan Gayus Tambunan.
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) kemudian juga menetapkan Susno sebagai
saksi yang dilindungi. LPSK berpendapat keterangan dan informasi yang diberikan Susno
penting untuk mengungkap kasus kejahatan pajak tersebut. LPSK juga memantau keberadaan
Susno di dalam tahanan.
Nama Susno pertama kali menjadi perbincangan publik saat dia melontarkan istilah cicak
melawan buaya dalam sebuah wawancara dengan sebuah media massa. Cicak ditujukan untuk
Komisi Pemberantasan, dan buaya untuk polisi, sebagai sosok yang jauh lebih kuat ketimbang
buaya. Ungkapan itu dinyatakan Susno saat muncul kabar Komisi Pemberantasan Korupsi
tengah membidik Kepala Bareskrim itu terkait dengan kasus Bank Century. Susno merasa KPK
telah menyadap teleponnya, sesuatu yang membuatnya berang. Maka saat populerlah istilah
cicak vs buaya.
s
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 18


Chandra dan Bibit saat menanggapi kasus Susno di KPK

Hubungan kepolisian dan KPK makin panas setelah kemudian kepolisian menetapkan Chandra
dan Bibit sebagai tersangka suap dalam kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu
(SKRT) di Departemen Kehutanan yang dilakukan PT Masaro Radiokom dengan tersangkanya,
antara lain, Anggoro, pemilik perusahaan tersebut. Chandra dan Bibit bahkan saat itu sempat
ditahan polisi.
Para aktivis antikorupsi menyebut tindakan ini sebagai kriminalisasi KPK. Perang Cicak vs
Buaya ini makin panas, setelah kemudian Kejaksaan Agung menyatakan berkas Chandra dan
Bibit siap untuk diserahkan ke pengadilan. Gerakan membela Chandra dan Bibit pun terjadi di
mana-mana. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan membentuk tim untuk meneliti
kasus ini dan disimpulkan tak ada bukti dan kesalahan yang bisa membuat Chandra dan Bibit
diajukan ke pengadilan. Kejaksaan sendiri, belakangan, kemudian menghentikan kasus ini lewat
mekanisme surat penetapan penghentian perkara.
Lain Chandra dan Bibit, lain pula nasib Susno, pernyataannya tentang keterlibatan sejumlah
perwira tinggi memancing kehebohan di kalangan internal kepolisian. Dalam konferensi pers di
Kantor Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Hukum, Susno mengungkapkan bahwa ada
jenderal di Polri yang terlibat makelar kasus (markus). Susno mengatakan saat dirinya masih
menjabat sebagai Kabareskrim, pada 2009 lalu, terdapat laporan dari PPATK soal
penggembungan rekening seorang karyawan pajak atas nama Gayus M. Tampubolon. Uang
dalam rekening itu senilai Rp 25 miliar. Namun, dalam penyidikan, uang yang dinyatakan
bermasalah adalah Rp 400 juta. Sedangkan sisanya, kata Susno, yakni sekitar Rp 24,6 miliar,
tidak diketahui keberadaannya. Maka, meledaklah kasus Gayus ini. Apalagi, dalam
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 19

perjalanannya, ternyata pengadilan Gayus ini juga diwarnai dengan skandal perubahan tuntutan
yang dilakukan jaksa dan suap terhadap hakim yang mengadili Gayus.

Susno pun menyebutkan beberapa nama pejabat polri yang diduga menjadi markus. Untuk
markus yang berada di Mabes Polri, Susno bahkan menyebutkan inisialnya. "Brigjen EI, yang
kemudian digantikan Brigjen RE, KBP E, dan Kompol A," katanya.
Menurut Susno, dalam konferensi pers di kantor Satgas Antimafia Hukum itu, yang dia
sampaikan adalah sebagai bentuk ketidaksetujuannya atas perilaku yang tidak satu kata dan tidak
satu perbuatan. "Suka melepas tanggung jawab, mengorbankan anak buah, antara perbuatan dan
perkataan munafik, mendapatkan kekayaan dengan cara ilegal, salah menggunakan jabatan,
mencari kesalahan orang lain, menutupi kejahatan di tubuh Polri, melindungi judi, preman,
narkotika, ilegal logging dan ilegal mining," katanya saat itu.
Serangan balik kemudian menimpa Susno, dia dituduh menerima suap saat kepolisian
menangani kasus yang membelit PT Salmah Arowana Lestari, perusahaan yang bergerak dalam
bisnis ikan, yang berlokasi di Riau. Tak hanya itu, Susno kemudian juga dituduh korupsi dana
pengamanan pemilihan kepala daerah (Pilkada), J awa Barat tahun 2008.
Dalam situasi terjepit ini, Susno membuat kejutan lagi. Hadir sebagai dalam sidang Antasari
Azhar, dia menegaskan kasus Antasari sarat rekayasa. Menurut Susno, sebagai Kepala Bareskrim
saat pengusutan pembunuhan direktur PT PBK, Nasaruddin, dan membuat Ketua KPK Antasari
Azhar sebagai tersangka, dia sama sekali tidak tahu dan dilibatkan. Pernyataan Susno yang
kerap kontroversial itulah yang antara lain membuat dia kemudian dipanggil Komisi III DPR.





Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 20

Profil Susno Duaji


Drs. Susno Duadji S.H., M.Sc.

Lulus dari Akademi Kepolisian 1977, Susno yang menghabiskan sebagian kariernya sebagai
perwira polisi lalu lintas sudah mengunjungi 90 negara untuk belajar menguak kasus korupsi.
Kariernya mulai meroket ketika dia dipercaya menjadi Wakapolres Yogyakarta dan berturut-
turut setelah itu Kapolres di Maluku Utara, Madiun, dan Malang.
Susno mulai ditarik ke J akarta, ketika ditugaskan menjadi Kepala Pelaksana Hukum di Markas
Besar Polri dan mewakili institusinya membentuk KPK pada 2003. Pada 2004 dia ditugaskan di
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Sekitar tiga tahun di PPATK,
Susno kemudian dilantik sebagai Kapolda J awa Barat. Beberapa pernyataan dan kebijakan
kontroversial selama menjabat Kapolda J awa Barat di antaranya adalah, J angan pernah setori
saya dan perintah tembak di tempat bagi penjahat yang melarikan diri.
Sejak 24 Oktober 2008, Susno menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri
(Kabareskim) menggantikan Bambang Hendarso Danuri yang diangkat menjadi Kapolri. Saat
menjabat Kabareskrim dia disebut-sebut sukses mengembalikan uang negara hasil kejahatan
sekitar Rp 15 triliun, lebih dari dua kali lipat dana talangan Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun.


Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 21

Pengadilan Susno
Dibelit kasus yang memojokkan namanya, pada 5 November Susno sempat menyatakan
dirinya mundur dari jabatan Bareskrim. Tapi, itu tak lama karena pada pada 5 November 2009
dia aktif kembali. Baru tiga pekan kemudian, pada 24 November 2009 Kapolri secara resmi
mengumumkan pemberhentian Susno dari jabatan sebagai Bareskrim.
Susno sendiri akhirnya diperiksa penyidik independen Polri. Setelah melalui serangkaian
penyidikan, akhirnya Susno dijadikan tersangka penerima gratifikasi sebesar Rp 500 juta dari
PT Salmah Arowana Lestari (SAL) Riau. Tuduhan menerima suap tersebut berdasarkan
keterangan Sjahril Djohan dan Haposan Hutagalung, pengacara PT SAL.
Susno juga dituduh melakukan penggelapan dana pengamaan Pilkada J awa Barat saat menjabat
sebagai Kepala Kepolisian Daerah J awa Barat. Dalam kasus ini Susno dinilai telah merugikan
keuangan negara Rp 8,1 miliar. Susno sendiri menolak menandatangani Berita Acara
Pemeriksaan (BAP) dan juga, belakangan, surat penangkapan atas dirinya kendari kemudian
dirinya tetap ditahan. Selain Susno polisi juga menetapkan Sjaril Djohan dan Haposan
Hutagalung sebagai tersangka.


Haposan Hutagalung dan Sjaril Dohan saat mengikuti pengadilan

Saat persidangan digelar di Pengadilan Negeri J akarta Selatan, Markas Besar Polri
menunjukkan dua alat bukti yang digunakan sebagai dasar penangkapan dan penahanan Susno
pada pertengahan 2010 itu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 22

Alat bukti pertama, laporan polisi nomor polisi LP/272/K/IV/2010 Bareskrim tanggal 21 April
2010. Alat bukti kedua berupa keterangan enam saksi, yakni Sjahril Djohan, Haposan
Hutagalung, M. Dadang Apriyanto, Upang Supandi, Ahsanur, dan Syamsurizal Mokoagouw.

Proses peradilan Susno terhitung lambat. Salah satu penyebabnya, karena banyaknya jumlah
saksi yang diajukan jaksa, yakni 124 saksi. Dalam perjalanannya banyak saksi yang tidak bisa
dihadirkan atau kehadirannya ditunda sehingga menyebabkan penundaan persidangan.
Penggabungan persidangan dua kasus yang berbeda tempat dan waktu itu, yakni kasus
penggelapan dana pengamanan Pilkada dan kasus PT SAL, sempat menjadi polemik.


Persidangan Kasus Penggelapan Dana Pilkada
Sejumlah bekas kepala kepolisian dihadirkan sebagai saksi dalam sidang ini. Mereka, antara
lain, Sugiono (mantan Kapolres Subang), Erwin Faisal (mantan Kapolres Sumedang), Suntana
(mantan Kapolres Kota Tasikmalaya), Rudi Antariksawan (mantan Kapolres Kota Sukabumi),
M. Arif Ramadhan (mantan Kapolres Bandung Tengah), dan Moh Gagah Suseno (mantan
Kapolres Majalengka).
Kepada majelis hakim PN J akarta Selatan para perwira Polri itu mengakui adanya pemotongan
dana anggaran pengamanan yang diterima masing-masing Polres dari Bidang Keuangan Polda
J awa Barat. Menurut mereka, besarnya potongan anggaran pengamanan pilkada untuk tiap
Polres berbeda-beda. Namun, total potongan untuk enam Polres mencapai Rp 1,833 miliar.

Cuma, tak satu pun di antara para saksi menyebut bahwa pemotongan itu merupakan perintah
Susno yang saat itu menjadi Kapolda. Tentang pemotongan dana tersebut, para saksi mengaku
mendapat arahan dari Kepala Sub-direktorat (Kasubdit) Keuangan Polda J awa Barat, AKBP
Iwan Gustiawan dan AKBP Agus.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 23


Susno Duadji saat mengikuti pengadilan

Persidangan ini juga menghadirkan saksi penting, yakni Kepala Bidang Keuangan (Kabidkeu)
Polda J awa Barat saat itu, Maman Abdurahman Pasha, yang sebelumnya berkali-kali mangkir.
Maman mengaku dirinyalah yang memerintahkan Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Akun
Bidang Keuangan Polda J abar Iwan Gustiawan dan pegawai negeri sipil Bidang Keuangan Polda
J abar, Yultje Aprianti, untuk memotong dana pilkada dan pemotongan itu atas atensi Kapolda
J abar saat itu, Susno Duadji.
Dalam kesaksiannya, Yultje menyebut penyerahan uang tersebut dilakukan oleh Maman
Abdurahman. Dia juga menyatakan, Kapolda mendapat jatah pemotongan sebesar Rp 50 juta.
Yultje mengaku bertugas untuk membagikan uang itu ke sejumlah kepala biro dan perwira
berpangkat komisaris besar dan ajun komisaris besar.
Dari pemotongan itu, kata Maman, Susno mendapat Rp 150 juta, Wakil Kepala Polda,
Brigadir J enderal Supriyadi Usman, mendapat Rp 100 juta, dan Inspektur Pengawasan Daerah
Komisaris Cecep Lukman memperoleh Rp 75 juta. Adapun pejabat setingkat kepala biro
memperoleh Rp 20 juta. Sedang para ajun komisaris besar menerima Rp 5 juta hingga Rp 10
juta.
Menurut Maman, Susno-lah yang memerintahkan penarikan dana dalam beberapa tahap
sebesar, antara lain, Rp 1,3 miliar dan Rp 1,5 miliar yang kemudian ditukar dengan dolar AS.
Selain itu, kata Maman, Susno juga memerintahkan uang senilai Rp 1 miliar agar ditukarkan
dalam bentuk 40 lembar cek pelawat. Cek itu kemudian dibagi-bagikan kepada para petinggi
Polda J awa Barat dan sisanya untuk membiayai berbagai kegiatan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 24


Susno bertemu kuasa hukumnya

Tapi keterangan Maman itu oleh Susno dianggap mengada-ada karena tidak sesuai satu dengan
lainnya. Maman belakangan, setelah dicecar para pengacara Susno, membuat pengakuan baru.
Dia menyatakan pembangunan Gedung Olahraga Brimob, pembelian mobil Camry, Suzuki
APV, peringatan Hari Bhayangkari, dan pembagian uang Lebaran tidak memakai duit
pengamanan pilkada. Dari Samsat," ujarnya. Padahal, sebelumnya, dia menerangkan
pembangunan gedung olahraga, pembelian mobil dan sebagainya itu dari dana pengamanan
pemilihan gubernur J awa Barat itu.
Susno juga membuktikan ketidakakuratan kesaksian Maman tentang travel cheque yang
disebut dari pemotongan dana Pilkada. Susno menegaskan, cek perjalanan tersebut dibeli dari
uang pribadinya, hasil menjual tanah. Bukti itu dibeberkan sebelum Susno menghadirkan saksi
meringankan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Para Saksi Kunci Kasus PT SAL
Susno dijadikan tersangka penerima suap setelah polisi memeriksa Sjahril Djohan dan Haposan
Hutagalung, pengacara Ho Kian Kiat, warga Singapura yang mengaku korban penipuan dan
penggelapan yang dilakukan pemilik PT Salmah, Anuar Salmah. Susno dituduh menerima uang
Rp 500 juta dari PT Salmah Arowana. Menurut Sjahril yang juga menjadi tersangka dalam
kasus ini, dialah yang mengantar uang ke Susno.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 25

Di persidangan, Sjahril Djohan berkukuh menyatakan, uang itu betul-betul telah diterima
Susno. Uang tersebut, ujarnya, dia terima dari Haposan untuk diteruskan ke Susno. "Uang betul-
betul saya serahkan ke Susno. Manusia bisa dibohongi, tapi Tuhan tidak, ujarnya di
persidangan. Dia menyerahkan uang tersebut pada 4 Desember 2008 di rumah Susno. Susno
menyatakan dia tak menerima uang seperti disebutkan Sjahril. Menurut Susno, Sjahril Djohan
berbohong.

Saksi lain yang juga dihadirkan dalam kasus suap ini adalah AKBP Syamru Rizal, salah
seorang saksi yang mengaku menyaksikan Syahril Djohan menyuap Susno senilai Rp 500 juta.
Syamsu Rizal yang tak lain bekas anak buah Susno mengaku menyaksikan Syahril ke rumah
Susno di J alan Abuserin 2B Fatmawati, J akarta Selatan, untuk menyerahkan uang senilai Rp 500
juta. Susno menyatakan keterangan Syamsu itu palsu. Dia menduga kesaksian tersebut
dilontarkan Syamsu yang dendam karena dirinya telah mencopot Syamsu dari jabatannya.
Sjahril sendiri, dalam kasus ini, pada Oktober 2010, divonis hukuman satu tahun enam bulan
penjara. Dia dinyatakan terbukti melakukan suap. Putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan
jaksa, yakni, dua tahun penjara dan denda Rp 75 juta.
Ada pun Haposan Hutagalung divonis tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider tiga
bulan kurungan. Haposan dinilai terbukti melakukan tiga tindak pidana, yakni memberikan
keterangan yang tidak benar mengenai asal-usul uang Gayus senilai Rp 28 miliar yang diduga
berasal dari hasil korupsi. Kemudian terbukti memberikan uang sebesar US$ 6.000 kepada
penyidik M. Arafat Enanie saat menangani perkara Gayus serta terbukti turut serta memberikan
uang kepada Susno Rp 500 juta, melalui Sjahril Djohan. Haposan mengajukan banding, tapi
pengadilan banding memperberat hukumannya menjadi sembilan tahun penjara.

Walau sudah diputus pengadilan, toh peradilan Susno dalam perkara suap PT SAL dianggap
belum tuntas. Itu karena sejumlah saksi kunci yang bisa memberi keterangan benar atau
tidaknya Susno menerima suap sebesar Rp 500 juta dari Sjahril Djohan yang akan dihadirkan
oleh jaksa ternyata tidak kunjung hadir. Mereka adalah Mr. Ho, Dadang, dan Vincent Apriyono.
Mr. Ho dan Vincent adalah pengusaha asal Singapura yang merupakan investor PT SAL.
Sedangkan Dadang adalah office boy dan sopir yang bekerja di kantor Sjahril Djohan.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 26

Dalam persidangan Susno juga dihadirkan beberapa saksi ahli baik yang memberatkan maupun
yang meringankan Susno, di antaranya Brigjen Iza Fadli, Muhammad Nuh Al Azhar, Ahmad
Yani (Komisi III DPR), Prof. Bambang Purnomo (guru besar bidang pidana UGM), dan Dr.
Mudzakir (ahli hukum pidana Universitas Islam Yogyakarta).

Tewasnya Dua Saksi yang Mencurigakan

Penyelidikan kasus Susno juga diwarnai meninggalnya dua saksi meringankan Susno.
Sejumlah kalangan mehubung-hubungkan kematian keduanya yang sama-sama karena
kecelakaan tersebut dengan perkara Susno yang tengah bergulir di persidangan. Saksi yang tewas
itu Brigadir Kepala Doni Rahmanto dan Inspektur Dua Anjar Saputro.
Doni Rahmanto, mantan pengawal Susno, tewas akibat kecelakaan di jalan raya pada 9 Maret
2011. Dia ditemukan terkapar terjatuh dari sepeda motor Yamaha Mio putih bernomor polisi B
6684 EOB miliknya di J alan D.I. Panjaitan, di seberang kantor Kementerian Lingkungan Hidup,
J akarta Timur. Beberapa saksi di tempat kejadian mengatakan Doni menjadi korban tabrak lari.
Saat bersaksi di pengadilan, Doni membantah jika Susno pernah bertemu Sjahril J ohan di rumah
Susno seperti dakwaan jaksa. Sebelumnya, Anjar Saputro, juga tewas akibat kecelakaan di jalan
raya Bogor pada 16 Oktober 2010 lalu. Dia meninggal sebelum memberi kesaksian meringankan
untuk Susno.
Pada 24 Maret 2011 Pengadilan Negeri J akarta Selatan memvonis Susno hukuman tiga tahun
enam bulan penjara, denda Rp 200 juta serta membayar kerugian negara Rp 4 miliar. Susno
tidak ditahan. "Karena alasan kemanusiaan, terdakwa Susno Duadji tidak (belum) ditahan.
Namun, jika nantinya sudah ada keputusan inkraclit, tetap akan dilakukan eksekusi," ujar juru
bicara Pengadilan Tinggi DKI J akarta, Sobari.
Walau menyatakan menghormati putusan majelis hakim, Tapi Susno menilai putusan tersebut
tidak adil. Dia melakukan perlawanan hukum terhadap putusan tersebut. Alasannya,
mengajukan banding tersebut juga ditulis Susno panjang lebar dalam situs pribadinya,
www.susnoduadji.com.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 27

Alasan saya dan Tim Advokad mengadakan perlawanan hukum BANDING bukan karena
beratnya hukuman yang dijatuhkan. Saya tidak takut dengan hukuman apa pun yang dijatuhkan,
mati pun saya siap. Yang saya dan Tim Advokad persoalkan adalah vonis bahwa saya terbukti
bersalah. Seandainya saya dihukum satu hari atau satu jam pun kalau ada hukuman yang
demikian, maka saya dan tim advokad tetap akan melakukan perlawanan hukum banding.

Vonis bahwa saya dinyatakan BERSALAH itu yang kami tidak bisa terima karena saya memang
tidak bersalah dan tidak ada satu alat bukti pun yang membuktikan bahwa saya bersalah. Semua
fakta yang diangkat oleh Majelis Hakim adalah berdasarkan keterangan satu orang Mafia
Hukum Sjahril Djohan untuk dakwaan pertama (perkara Arowana) dan satu orang saksi
rekayasa Maman Abdulrahman Pasya untuk dakwaan kedua (perkara Pilkada Jabar).

Saya dan Tim Advokad menyatakan sangat menyesalkan Majelis Hakim yang sangat
"mendewakan " mafia hukum/Markus Sjahril Djohan dan si Pembohong Maman Abdulrahman
Pasya daripada ratusan saksi dan bukti authentic.
Tapi, upaya banding Susno gagal. Pada 9 November 201, lewat putusan Nomor
35/PID/TPK/2011/PT. DKI, majelis hakim banding Pengadilan Tinggi DKI yang dipimpin
Roosdarmani tetap menyatakan Susno bersalah. Dia tetap dihukum 3 tahun 6 bulan penjara.
Susno dianggap terbukti bersalah dalam kasus korupsi penanganan perkara PT Salmah Arowana
Lestari dan dana pengamanan Pilkada J awa Barat 2008. Selain denda Rp 200 juta, Susno juga
harus membayar ganti rugi kepada negara yang oleh Pengadilan Tinggi DKI J akarta dinaikkan
menjadi Rp 4.208.898.749. Ada pun kurungan pengganti denda diturunkan dari enam bulan
menjadi empat bulan.


Terhadap putusan banding tersebut, Susno mengajukan kasasi. Pengacara Susno secara resmi
menyerahkan memori kasasi klien mereka ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada
Senin, 19 Desember 2011. Arie Yusuf Amir, salah seorang kuasa hukum Susno, menyatakan,
dalam memori kasasi pihaknya secara khusus menyoroti kurang memadainya pertimbangan
hukum yang menjadi dasar putusan pengadilan. "Mereka menghukum cuma dengan satu saksi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 28

Di kasus Sjahril Djohan (kasus suap PT Salmah Arowana Lestari/PT SAL) cuma Sjahril Djohan
dan di kasus dana Pilkada J awa Barat hanya Kombes Dul Rachman (Maman Abdulrahman),"
kata Arie Yusuf Amir.
LPSK Mendampingi Susno
Susno Duaji memandang perlu untuk memita perlindungan LPSK demi keamanan dirinya
sekaligus membongkar kejahatan yang ia ketahui. Susno mengajukan permohonan perlindungan
kepada LPSK pada 4 Mei 2008. Setelah melakukan rapat internal, pada 24 Mei 2010
mengabulkan permintaan Susno.
LPSK memandang perlu melindungi Susno karena perannya sebagai whistleblower dalam
kasus dugaan kejahatan pajak yang dilakukan Gayus Halomoan Tambunan. Dasar perlindungan


Gayus Halomoan Tambunan bertemu kuasa hukumnya

Mengacu pada pasal 10 ayat (1) dan (2) Undang-Undang tentang Perlindungan Saksi dan
Korban. Menurut LPSK, Susno berjasa dalam kasus Gayus karena dialah yang pertama kali
mengungkapan kejahatan pajak yang, belakangan, kemudian menyeret banyak orang, termasuk
sejumlah jaksa. Terhadap perannya itu, LPSK meminta pengadilan bisa meringankan hukuman
Susno, jika dia dinyatakan bersalah, dengan mempertimbangkan perannya tersebut.
Sebelum menetapkan perlindungan untuk Susno, LPSK sendiri pernah menggelar rapat dengan
Markas Besar Polri. Rapat digelar pada 17 Mei, ketika status Susno sudah menjadi tersangka.
Kendati begitu, berdasarkan rapat pleno LPSK, Susno tetap layak dilindungi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 29

Saat menjalankan tugas dan fungsi perlindungan sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2006 tentang
Perlindungan Saki dan Korban, LPSK menghadapi sejumlah tantangan berkaitan degan
pemberian perlindungan terhadap Susno ini. Misalnya, adanya beda persepsi dengan Markas
Besar Polri perihal penempatan Susno. LPSK berpendapat Susno seharusnya ditempatkan di
rumah aman (safe house), bukan di rumah tahanan. LPSK berpandangan, karena Susno
menjadi whistleblower dalam kasus Gayus, dia layak dilindungi.
Sebaliknya Mabes Polri menyatakan Susno yang menjadi tersangka dalam kasus PT SAL tak
layak mendapat perlindungan. LPSK kemudian melayangkan surat kepada Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono. Ditujukan ke Presiden karena menurut undang-undang LPSK adalah
lembaga negara yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Surat itu kemudian
mendapat respons Menteri Hukum dan HAM. LPSK tetap berhak member perlindungan kepada
LPSK walau Susno berada di rumah tahanan Brimob Kelapa Dua.
Menurut Lili Pintauli Siregar, Komisioner Penanggung J awab Bidang Bantuan, Kompensasi,
dan Restitusi, LPSK diberikan keleluasaan untuk memantau perkembangan kesehatan Susno.
LPSK juga terus berkoordinasi dengan tim pengacara untuk memantau keadaan Susno.
Makanya kami punya keleluasaan melihat perkembangan kesehatan beliau di rutan, ujar Lili.
Berdasarkan Pasal 36 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2006, LPSK dapat bekerja sama dengan
instansi yang terkait dalam memberikan perlindungan saksi dan korban. Posisi saksi dan korban
yang sudah mendapat perlindungan pun kuat. Pasal 10 ayat (1) UU Perlindungan Saksi
menyebutkan saksi, korban, dan pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun
perdata atas laporan kesaksian yang akan, sedang, dan atau telah diberikannya.
Dalam kasus PT SAL, menurut Lili, kepada Susno dapat diterapkan rumusan Pasal 10 ayat (2)
UU Perlindungan Saksi yang menyebutkan seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus yang
sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila dia ternyata terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah, tapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam
meringankan pidana yang akan dijatuhkan. Terhadap kasus Gayus, Susno adalah whistle
brower. Maka diterapkan Pasal 10 ayat (1). Tapi, untuk kasus SAL, dapat diterapkan Pasal 10
ayat (2), ujar Lili.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 30

Kini, meskipun Pengadilan Tinggi DKI J akarta tetap memvonis Susno Duadji penjara 3 tahun
6 bulan, LPSK masih terus memberikan perlindungan. "Perlindungan terhadap Susno Duadji
tetap kami lakukan. Susno kami lihat sebagai seorang whistleblower," kata Ketua LPSK Abdul
Haris Semendawai.
















Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 31

Vonis Abu Bakar Baasyir dan Perlindungan Saksi Kasus
Terorisme

bu Bakar Baasyir akhirnya divonis bersalah. Setelah bersidang selama empat
setengah jam, majelis hakim Pengadilan Negeri J akarta Selatan yang diketuai Herry
Swantoro, pada 16 J uni 2011, menyatakan Amir J amaah Ansharut Tauhid (J AT)
tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme. Hakim menyatakan Baasyir
terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dalam kasus pembiayaan pelatihan militer untuk
kegiatan terorisme di Pegunungan J alin J antho, Aceh.
Majelis hakim menghukum Baasyir 15 tahun penjara. Terdakwa telah terbukti bersalah
melakukan tindak pindana terorisme dalam dakwaaan subsidair, kata Herry Swantoro. Untuk
dakwaan primer, menurut Herry, hakim tidak menemukan bukti kuat. Tidak terbukti sah dan
meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan. Membebaskan Abu Bakar
Baasyir dari dakwaan primer tersebut, kata Herry. Hukuman terhadap Basyir lebih ringan
daripada tuntutan J aksa Penuntut Umum (J PU). Sebelumnya jaksa menuntut Baasyir hukuman
penjara seumur hidup.
Dalam dakwaan sebelumnya, J aksa Penuntut Umum yang dipimpin Andi Muhammad Taufik
menuntut Baasyir hukuman penjara seumur hidup. Dalam dakwaan subsider, jaksa menyatakan
Baasyir secara sah dan meyakinkan telah melanggar pasal 14 jucto pasal 7, subsider pasal 14
jucto pasal 11, lebih subsider pasal 15 jucto pasal 9, ke bawahnya lagi pasal 15 jucto pasal 7, ke
bawahnya lagi pasal 15 jucto pasal 11, dan terakhir pasal 13 huruf a Undang-Undang tentang
Terorisme dengan ancaman hukuman 3 tahun sampai 15 tahun penjara.
Baasyir didakwa merencanakan dan menggerakan orang lain untuk mengumpulkan dana,
baik secara pribadi maupun selaku Amir J amaah Ansharut Tauhid dalam kaitannya dengan
pelatihan militer di Pegunungan J alin J antho di Aceh Februari 2010. Dana yang dikumpulkan
Baasyir berasal dari dari Syarif Usman sebesar Rp 200 juta dan Hariyadi Nasution sebesar
Rp150 juta. Baasyir menurut dakwaan jaksa juga memberikan dana, di antaranya sebesar Rp5
A
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 32

juta, Rp120 juta, dan 5.000 dolar AS untuk keperluan survei hingga pelatihan. Pelatihan ini
menurut jaksa sudah termasuk tindak pidana terorisme. Baasyir merencanakannya bersama
Dulmatin alias Yayah Ibrahim dalam pertemuan di salah satu ruko di dekat Pondok Pesantren
Mukmin Ngruki Solo, J awa Tengah, pada Februari 2009 yang difasilitasi Ubaid atas arahan
Dulmatin.
J aksa juga mendakwa Baasyir terbukti pernah menonton rekaman video pelatihan militer
berdurasi 45 menit yang dibawa oleh Ubaid di kantor J amaah Ansharut Tauhid J akarta dan
rumah Hariyadi Usman di Bekasi. Rekaman itu berisi kegiatan pelatihan di J antho, Aceh, antara
lain pelatihan fisik, menggunakan senjata api, dan orang-orang berkumpul sambil makan.
Baasyir membantah dakwaan jaksa. Menurut dia, pelatihan militer di Aceh direncanakan oleh
Ubaid dan Abu Tholud. Dia mengaku dirinya tak setuju dengan kegiatan itu karena J amaah
Ansharut Tauhid belum siap melakukan Idad dengan senjata api. Terhadap vonis Pengadilan
Negeri J akarta Selatan tersebut, tim pengacara Baasyir langsung menyatakan banding.
Sidang pembacaan vonis terhadap Abu Bakar Baasyir mendapat pengawalan ketat dari
Kepolisian Daerah Metro J aya. Sekitar 3.400 polisi, termasuk penembak jitu, ditempatkan di
sekitar gedung pengadilan. Ketatnya pengamanan terhadap sidang tersebut karena banyaknya
pendukung Baasyir, termasuk dari Solo, yang menyatakan akan hadir dalam sidang pembacaan
vonis tersebut. Beberapa saat setelah hakim menjatuhkan hukuman kepada Baasyir, para
pendukung Baasyir berlari-lari sekeliling halaman depan gedung Pengadilan J akarta Selatan
sebagai wujud protes mereka terhadap putusan hakim.
Profil Abu Bakar Baasyir

Abu Bakar Baasyir bin Abu Bakar Abud
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 33

Abu Bakar Baasyir bin Abu Bakar Abud, biasa juga dipanggil Ustadz Abu atau Abdus Somad,
merupakan seorang tokoh Islam di Indonesia keturunan Arab. Baasyir juga pemimpin Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI) serta salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mumin.
Sejumlah badan intelijen menuduh Baasyir sebagai kepala spiritual J emaah Islamiyah (J I),
sebuah grup separatis militan Islam yang mempunyai kaitan dengan al-Qaeda. Baasyir sendiri
berulangkali menolak dirinya dihubungkan dengan organisasi tersebut. Dia membantah memiliki
hubungan dengan J I dan terorisme.
Baasyir pernah menjalani pendidikan sebagai siswa Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo,
J awa Timur (1959) dan alumni Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad, Solo, J awa Tengah
(1963). Perjalanan kariernya dimulai dengan menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Solo.
Ia kemudian menjabat Sekretaris Pemuda Al-Irsyad Solo. Dari sini kariernya dalam organisasi
Islam terus meningkat. Dia terpilih menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (1961),
Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, memimpin Pondok Pesantren Al Mumin (1972) dan
Ketua Organisasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), 2002.
Pada 10 Maret 1972, bersama Abdullah Sungkar, Baasyir mendirikan Pesantren Al-Mumin
di Ngruki, Sukoharjo, J awa Tengah, bersama dengan Abdullah Sungkar pada 10 Maret 1972.
Pada masa Orde Baru, Baasyir melarikan diri dan tinggal di Malaysia selama 17 tahun atas
penolakannya terhadap asas tunggal Pancasila.
Saksi Kunci Tak Dihadirkan
Tim pengacara Abu Bakar Baasyir menyatakan mereka memiliki alasan kuat kenapa
menyatakan banding terhadap putusan hakim. Menurut salah satu anggota tim pengacara,
Achmad Michdan, karena karena majelis hakim tidak mempertimbangkan pentingnya pengakuan
saksi kunci, Khairul Gazali. "Proses dalam pertimbangan hakim itu kan fakta persidangan
berdasarkan saksi-saksi. Yang menarik justru ada keterangan salah satu saksi yang tidak
dipertimbangkan," kata Achmad Michdan, seusai sidang di Pengadilan Negeri J akarta Selatan,
Kamis, 16 J uni 2011.
Menurut Mihdan, Khairul adalah salah seorang saksi yang kini ditahan karena tuduhan terlibat
perampokan Bank CIMB Medan. Khairul adalah orang yang mampu membuktikan bahwa tindak
pidana yang memberatkan Baasyir adalah hasil intimidasi penyidik kepolisian dan diminta
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 34

polisi. "Dia saksi yang mengungkapkan para tersangka teroris itu mendapat tekanan fisik,
mendapat tekanan mental. Inilah, yang kemudian menjadi atensi," kata Mihdan.
Sebelumnya tim kuasa hukum Basyir juga kecewa dengan pemeriksaan saksi melalui
teleconference. Untuk menghadirkan saksi, majelis hakim, karena keberadaan saksi yang berada
di Rumah Tahanan Brimod Kelapa Dua, memutuskan memeriksa saksi memakai teknologi
teleconference. Ada empat saksi yang diperiksa dari Rumah Tahanan Brimob.
Tim pengacara Baasyir menolak cara ini. Mereka menilai pemeriksaan cara ini tidak adil bagi
Baasyir. Kami sejak awal menginginkan agar prosesnya lebih transparan. Saksi-saksi
dihadapkan ke persidangan. Kalau mereka keberatan dipertemukan dengan terdakwa (Baasyir),
bisa saja terdakwa di luar (ruang sidang) dan saksi diperiksa di ruang sidang. Kami ingin
fairness trial, " demikian kata Achmad Michdan.
Dari sisi lokasi, keberadaan mereka di dalam tahanan Brimob, dinilai Achmad Michdan akan
member tekanan bagi saksi. Salah satu saksi yang sudah memberikan keterangan melalui
teleconference adalah Luthfi Haidaroh alias Ubaid. Ubaid saksi penting yang dapat
menunjukkan dugaan keterlibatan Ba'asyir dalam pelatihan militer kelompok teroris di
Pegunungan J alin J antho, Aceh. Saksi lain yang diperiksa secara teleconference adalah Abdul
Haris, Hendro Sultoni, dan Sholehudin.
Vonis terkait kasus terorisme juga dijatuhkan kepada seorang remaja pelajar SMK Negeri 2,
Klaten, J awa Tengah, berinisial AW (18 tahun). Pada 17 April 2011 majelis hakim Pengadilan
Negeri Klaten yang dipimpin A.S. Pujo Harsoyo dengan anggota Marliyus dan Slamet Setyo
Utomo memvonis AW hukuman dua tahun penjara. Dia dinyatakan terbukti melakukan tindak
pidana terorisme, yakni ikut merakit dan meletakkan bom dalam kasus terorisme di Klaten.
Sebelumnya, jaksa menuntut AW dengan hukuman empat tahun penjara. Yakni melanggar
pasal 15 junto 9 UU nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, serta
pasal 1 ayat 1 tahun UU darurat nomor 12 tahun 1951.
Menurut jaksa penuntut umum yang dipimpin Muji Martopo, AW terlibat dalam perakitan dan
pemasangan bom di pos polisi Delanggu, Klaten. Selain itu, dia terlibat perencanaan peledakan
bom di alun-alun utara Surakarta, ritual sebar apem di Kecamatan J atinom, Klaten, serta Masjid
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 35

As-Syifa di dekat Rumah Sakit Islam Klaten, pada 1 Desember 2010 hingga 21 J anuari 2011.
Untuk memperkuat dakwaannya, jaksa mendatangkan enam saksi mahkota, yang lima di
antaranya didatangkan dari J akarta. Lima saksi mahkota datang dari J akarta melalui Bandara
Adi Soemarmo Solo, dan dibawa ke PN Klaten dengan kawalan sejumlah pasukan Densus 88
Antiteror.
Saat mengadili AW, dihadirkan dua saksi meringankan, masing-masing seorang guru SMK
Negeri 2 Klaten dan seorang tetangga AW. Mereka menerangkan, AW berkelakukan baik selama
di sekolah maupun di kampungnya. Menurut kesaksian guru SMK Negeri 2 Klaten, AW sejak
duduk di bangku kelas satu hingga tiga, dia tidak pernah memiliki catatan melakukan
pelanggaran di sekolah. Ada pun tetangga AW yang juga menjabat Kepala Urusan Umum di
Desa Buntalan, Kecamatan Klaten Selatan, menyebut AW tidak pernah bermasalah di
kampungnya.
Kesaksian Umar Patek dan Perlindungan Saksi Terorisme
Pada J uli 2011 tersangka terorisme Umar Patek, yang sebelumnya ditangkap dan ditahan di
Pakistan dideportasi ke Indonesia. Menurut J uru Bicara Markas Besar Polri, Inspektur J enderal
Anton Bachrul Alam, Setidaknya ada 27 saksi yang akan diperiksa terkait dengan tragedy Bom
Bali I yang menewaskan 202 orang, termasuk wisatawan asing itu.umar patek merupakan salah
seorang tersangka utama insiden Bom pada 2002 yang melululantahkan sari club dan Paddys
bar di Kuta, sebelumnyya polisi juga menghukum mati amrozi,Mukhlas dan imam samudera,
terpidana kasus serupa. Umar Patek diduga juga terlibat dengan aksi bom di beberapa tempat
lain. karena itu, selain kasus bom Bali I, polisi juga akan memeriksa keterkaitan Umar dengan
kasus-ksus bom lain di tanah air Tapi saat ini di Bali dulu karena saksi banyak disana, ujar
anton pada wartawan, rabu 5 oktober 2011.
Berdasarkan catatan POLRI tertanggal 24 desember 2000, didalam negeri pria kelahiran
Pemalang 20 juli !(66 ini tercatat terlibat dalam sejumlah aksi penegeboman, latihan militer, dan
penyelundupan senjata api, yakni kasus:
1. Bom gereja kanisius Menteng Raya, J akarta pusat
2. Bom gereja Anglikan J alan Arif Rahman, J akpus
3. Bom gereja Kainonia jalan matraman, J akarta Timer
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 36

4. Bom Gereja oikumene jalan Halim, J aktim
5. bom gereja Santo Yosep J alan Matraman, J aktim
6. Bom bali 12-13 oktober 2002
7. Latihan militer senjata api, berdasarkan laporan reskrim polda Aceh 22 Februari 2010
8. Upaya memasukan senjata api ke Indonesia
9. Terkait penangkapan tersangka Harry Kuncoro dan Penemuan Senjata Api,amunisi, serta
magazen pada 19 juni 2011
10. Terkait pengeledahan rumah tersangka Haryy Kuncoro 15 juni 2011 dan penemuan dokumen
yang diduga palsu, antara lain kartu keluarga dan akta yang digunakan sebagai persyaratan
pembuatan paspor bersama istrinya, Rukayah binti Husein luceno, alias Fatimah Zahra.

Di Pengadilan Negeri J akarta Timur, saat menjadi saksi persidangan pemalsuan identitas diri
dokumen keimigrasian atas nama Rukoyah binti Husein Huseno alias Fatimah Zahra, istri Umar,
pada 28 November 2011, Umar mengaku memiliki nama asli Hisyam dan lahir di Pemalang,
J awa Tengah. Dia mengaku memalsukan nama diri menjadi Anis Alawi. Istrinya yang bernama
Rukoyah yang berasal dari Filipina dan dinikahi di kamp pelatihan militer Islam di Mindanao,
Filipina Selatan, pada 1998, menjadi Fatimah Zahra.
Umar menyatakan, pemalsuan identitas terjadi pada 2010 di Indonesia. Waktu itu, dia dan
istrinya sudah kembali dari Mindanao dan tinggal di Pamulang, bertetangga dengan Dul Matin,
teroris yang ditembak saat penggerebekan pada 2010. Umar mengatakan, pemalsuan identitas
itu bertujuan untuk melarikan diri akibat dia ditetapkan buron kasus terorisme sejak 2002 oleh
Mabes Polri. "Saya memilih hijrah ke Afganistan untuk berjihad," katanya.
Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai,
penangkapan Umar Patek ini penting untuk mengungkap jaringan terorisme yang selama ini
kerap membuat sejumlah teror di Indonesia. Umar Patek adalah anggota J amaah Islamiyah yang
juga disebut-sebut sebagai salah satu ahli dalam membuat bom.
Selama ini, penangkapan pelaku terorisme yang berakhir dengan kematian mereka terkena
tembakan banyak disesalkan sejumlah pihak. Itu karena dengan demikian berarti aparat tak bisa
meminta dan mengorek keterangan dari mereka selain juga disebut sebagai pelanggaran karena
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 37

mereka belum diadili untuk menentukan mereka sebenarnya bersalah atau tidak. Sejumlah
tersangka terorisme yang tewas tertembak antara lain, Syaifudin Zuhri, Mohammad Syahrir, dan
Bagus Budi Pranoto. Polisi meyakini mereka kaki tangan Noordin M. Top, salah seorang otak
pelaku terorisme yang juga tewas di tangan polisi. Para terorisme itu tewas dalam penyergapan
polisi di daerah Mojosongo, Solo dua tahun silam.
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan, saksi dan pelapor kasus-kasus
krusial seperti terorisme harus dilindungi sebelum dan sesudah melakukan kesaksian di
pengadilan. Saksi atau pelapor teroris yang membeberkan jaringannya ke polisi bahkan harus
dilindungi seumur hidup. LPSK sudah melakukan koordinasi, antara lain, dengan Komisi
Pemberantasan Korupsi, untuk menjamin keselamatan para saksi dan pelapor kasus-kasus
terorisme. Para wistleblower kasus terorisme bisa mendapat hak istimewa seperti perlindungan
dan keringanan hukuman.












Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 38

Memperdaya Publik Dengan SMS

eristiwa Senin malam 31 Oktober 2011 itu benar-benar memukul Hendry Kurniawan.
Malam itu, pria 36 ini hendak pulang menuju rumahnya di Bogor dari terminal Lebak
Bulus, J akarta Selatan. Saat menunggu bus, tiba-tiba seorang pria, memakai helm dan
berkacamata hitam, menghampirinya. Henry kesulitan mengenali laki-laki tersebut.
Sejurus kemudian laki-laki itu menghardiknya dan mengeluarkan kata-kata kasar bernada
ancaman. Tak sekadar itu, pria tegap setinggi kira-kira 180-an sentimeter tersebut lalu memukul
wajah Hendry beberapa kali. Hendri terjatuh. Tak puas, pria bersepatu kets itu kemudian
menginjak salah satu kaki Hendry. Sesaat kemudian, baru dia meninggalkan Hendry sembari
mengucapkan ancaman, antara lain, Ngapain loe melapor? Supaya dianggap pahlawan? dan
Awas jangan bilang ke siapa-siapa.
Hendry yakin peristiwa yang dialaminya tersebut erat kaitan dengan laporan yang dibuatnya.
Sebelumnya, kepada Posko Pencurian Pulsa Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma), Hendry
memang melaporkan dirinya menjadi korban sedot pulsa oleh sebuah content provider.
Hendry bercerita, awalnya dia tertarik mengikuti undian berhadiah yang ditawarkan penyedia
layanan tersebut. Belakangan kemudian ia menghentikan undian lewat SMS itu. Namun, kendati
merasa sudah menghentikan berlangganan pesan pendek berhadiah itu, dia kaget karena pulsanya
terus dipotong.
Hendry melaporkan penganiayaan yang dia alami ke Kepolisian Daerah Metro J aya. Selain
itu, pada 3 November 2011, dia juga mengajukan permohonan perlindungan ke Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Setelah melalui beberapa proses, pada 21 November,
LPSK memutuskan melindungi Hendry. Menurut Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai,
pemberian perlindungan terhadap Handry didasarkan atas status yang bersangkutan sebagai saksi
dan pelapor kasus dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan bidang informasi dan
transaksi elektronik seperti diatur dalam Pasal 378 dan 372 dan atau Pasal 28 ayat (1) UU No
11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
P
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 39


Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai, SH, LL.M.

Selain itu, Hendry dinilai telah mengalami ancaman nyata dengan adanya penganiayaan yang
menimpa dirinya. Semendawai menyatakan, pemenuhan hak prosedural yang diberikan LPSK
berupa pendampingan pada setiap pemeriksaan dalam proses peradilan pidana serta pemberian
bantuan medis dan psikologis.


Hendry Kurniawan korban pencurian pulsa

Penipuan berkedok undian lewat SMS juga dialami Muhammad Ferry Kuntoro. Tertarik
mengikuti sebuah undian SMS premium berhadiah dengan nomor *933*33#, Ferry melakukan
registrasi untuk mendapatkan hadiah sebuah BlackBerry. Registrasi itu membawa Ferry semakin
terjerat dan terikat pautan nomor 9133. Melalui nomor inilah Ferry menerima pesan pendek
berupa informasi seputar artis dan mendapatkan nada dering. Terikat dengan nomor-nomor ini,
pulsa Ferry terus terpotong tanpa persetujuannya hingga mencapai Rp 450 ribu. Ferry kesulitan
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 40

ketika hendak melakukan proses UNREG. Hal yang sama ia alami ketika mencoba mengadu
ke pihak operator. Akhirnya Ferry pun melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro J aya pada 5
Oktober 2011.
Laporan ini membuat PT Colibri Networks, yang mengaku sebagai pengusaha content
provider dengan layanan SMS tersebut, ganti melaporkan Ferry ke Kepolisian Resor J akarta
Selatan. Mereka menuduh Ferry telah melakukan pencemaran nama baik dan fitnah. Pada 10
Oktober 2011 Ferry meminta perlindungan kepada LPSK yang kemudian dikabulkan pada 21
Oktober.
Korban lain yang juga melapor ke polisi adalah Daniel Kumendong. Daniel menyatakan
dirinya telah dirugikan dengan praktek sedot pulsa sejak 4 Agustus 2011. Awalnya, menurut
Daniel, dia tiba-tiba mendapat pesan pendek dari nomor 9386. Bunyi pesan itu, "Hai
kesempatan mendapati voucher belanja dari supermarket favorit kamu senilai Rp 3 juta tinggal
selangkah lagi. Ketik sms REG SALE kirim ke 9386, selamat belanja."
Tergoda, Daniel pun mengikuti instruksi pesan pendek tersebut. "Saya balas pesan. Setelah itu
nggak ada balasan apa-apa dan tahunya pulsa saya langsung habis Rp 2.000," kata Daniel.
Keesokan harinya Daniel kembali mengisi pulsa. Pesan dari 9386 pun kembali muncul dengan
isi pesan yang berbeda. Kali ini soal kartu kredit. Pulsa Daniel pun kembali terpotong Rp 2.000.
"Yang membuat saya kesal, dari awal itu tidak ada pemberitahuan kalau akan dipotong Rp 2.000.
Kalimatnya juga sangat meyakinkan, jadi saya pikir saya langsung dapat. Ini menipu namanya,"
tutur Daniel.
Tak hanya di J akarta, para korban sedot pulsa terdapat di mana-mana, seperti Sukabumi,
Bandung, Pekanbaru, Surabaya, sebagainya, dengan modus berbeda-beda. Tri Suparwono,
misalnya. Warga Surabaya itu mengaku pulsanya berkurang Rp 300 setiap mengisi pulsa.
Menurut Tri, dia tidak pernah mengirim SMS ke provider mana pun, baik berupa SMS berhadiah
maupun mengikuti SMS kuis. Pulsa saya berkurang setelah dikirimi nomor SMS bernomor
empat digit, kata Tri. Dia menyatakan sudah mengadu peristiwa yang dialami tersebut ke
kantor operator seluler. Namun pihak operator mengaku tidak bekerja sama dengan konten sms
yang menyedot pulsa tersebut. Pihak operator hanya meminta untuk tidak mengisi pulsa selama
tiga hari dan diminta mengisi formulir laporan. Tidak puas, Tri pun melapor ke polisi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 41

Keuntungan Instan
Kasus pencurian pulsa mulai ramai menjadi pembicaraan publik pada Agustus 2011. Kasus ini
kemudian makin menjadi sorotan setelah sejumlah media cetak menampilkannya menjadi
laporan utama. Majalah Tempo, misalnya, pada edisinya 2 Oktober 2011 menurunkan tulisan
panjang tentang pencurian pulsa dengan berbagai modus itu dengan judul Tuyul Pulsa di
Telepon Kita. Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, pengaduan masyarakat
tentang pemotongan pulsa lewat SMS dengan modus penawaran fitur menempati angka tertinggi
di lembaga tersebut. Pada 2010 pengaduan ini sudah menjadi kasus paling banyak dilaporkan
dengan rasio 45 persen dari seluruh pengaduan. YLKI mencatat modus pencurian pulsa
beraneka ragam. Dari pemotongan pulsa tanpa registrasi, kesulitan berhenti berlangganan,
hingga pemotongan pulsa karena dikirimi tawaran konten.

Tak hanya ke polisi, para korban juga banyak yang melapor ke beberapa posko pengaduan
pencurian pulsa seperti Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Gunadarma Depok, Komunitas
Masyarakat Sadar Teknologi Informasi Indonesia (Kamasati), posko pengaduan Unpas Bandung,
dan berbagai posko pengaduan lainnya serta situs jejaring sosial. Menurut Lisuma sudah 1.000-
an orang yang melapor resmi menjadi korban sedot pulsa. Berdasar data Lisuma, keluhan
konsuman paling banyak ditujukan kepada perusahaan penyedia layanan konten berturut-turut,
yang bekerja sama dengan Telkomsel (42 perusahaan), Indosat (38), dan XL Axiata (17).

Bagaimana content provider (CP) nakal bisa leluasa menyedot pulsa pengguna ponsel?
Menurut Sekretaris J enderal Indonesia Mobile and Online Content Provider Association, Ferrij
Lumoring, pada mulanya para CP, yang menjalankan bisnisnya bekerja sama dengan operator,
berusaha membuat konten kreatif menarik.
Tapi, karena konten kreatifnya tidak kunjung digemari, CP mengambil jalan pintas dengan
membuat konten instan yang langsung memotong pulsa pengguna. "Bisnis konten meredup pada
2005 setelah harga BBM sempat naik 35 persen, ujar Ferrij saat Rapat Dengar Pendapat di
Komisi I DPR Senayan J akarta pada 6 Desember lalu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 42


Ferrij Lumoring

Karena terdesak target pendapatan, kata Ferrij, CP merombak konten yang dijualnya. Pada
2007 muncullah bisnis konten dengan SMS premium melalui empat digit nomor pengirim.
Pengguna dipaksa mengunduh konten yang seakan gratis, tapi sebenarnya jebakan untuk
masuk ke pencurian pulsa yang lebih besar. Mekanismenya: pengguna harus mengetik kode *#
(tiga digit angka) dan kemudian diakhiri tanda #. "Secara bisnis itu memang sah, apalagi
pengguna menyetujui registrasi tersebut. Walaupun setelah registrasi itu akan disuruh
mengunduh konten-konten yang ada dan baru sadar pengguna akan mengalami pengurangan
pulsa," kata Ferrij.

Ulah CP yang melakukan penipuan semacam itu sebenarnya bisa dicegah. Menurut Tantowi
Yahya, Ketua Panita Kerja (Panja) Mafia Pulsa DPR, mestinya CP tidak mempunyai akses
langsung ke pelanggan. Dengan demikian, dia menilai, operator telekomunikasi sangat tidak
mungkin tidak tahu soal penyedotan pulsa tersebut.
Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah
dinilai DPR juga belum menjalankan tugas dan fungsi mereka sepenuhnya. Kenyataannya,
menurut Tantowi, tidak semua CP terdaftar di sana. Padahal, amanat dari Menkominfo, tiap CP
harus mempunyai izin dari BRTI, tapi kenyataannya hanya 205 yang terdaftar,"ujar Tantowi.
General Manager Corporate Communications Telkomsel, Ricardo Indra, menyatakan,
Telkomsel memiliki mekanisme kebijakan internal untuk mencegah hilangnya pulsa pelanggan
yang disebabkan oleh layanan konten. Upaya pencegahan tersebut, kata Ricardo, sudah dimulai
sejak pemilihan mitra CP yang menawarkan layanan konten tertentu.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 43

Telkomsel mensyaratkan CP harus dapat menyajikan informasi perihal layanan kontennya
secara transparan dan jelas kepada pelanggan.
Telkomsel juga membuat kebijakan kepada mitra CP untuk membuat mekanisme yang
memudahkan pelanggan dalam melakukan mekanisme UNREG (berhenti berlangganan) dengan
satu klik, dibandingkan mekanisme REG (berlangganan) yang harus melalui proses dua kali klik.
Bagi pelanggan yang mengetik: UNREG, OFF, STOP, ataupun terminologi yang mengandung
arti berhenti berlangganan, Telkomsel akan menghentikan pengiriman konten layanan tersebut.
Khusus untuk kasus Ferry, Telkomsel menyatakan telah mengembalikan kerugian yang dialami
Ferry sebesar lebih dari Rp 400.000.
Maraknya kasus pencurian pulsa itu membuat BRTI kemudian mengeluarkan instruksi Nomor
177/2011 tanggal 14 Oktober 2011, meminta operator atau CP segera menghentikan penawaran
konten melalui SMS broadcast/pop screen, serta voice broadcast. Para operator dan CP diminta
segera mengembalikan pulsa yang terpotong dan wajib memberikan laporan per minggu.
Menurut BRTI tiap-tiap operator telah mengembalikan uang dari hasil penyedotan pulsa
pelanggannya. Nilainya hampir Rp 1 miliar.
Walau para operator selular menegaskan mereka tak pernah bekerja sama dengan para CP yang
melakukan penipuan dan telah membuat berbagai macam tindakan agar konsumen tak dirugikan,
toh faktanya korban sedot pulsa terus saja ada. Sejumlah diantaranya mengeluarkan unek-unek
mereka lewat surat pembaca di media massa.
Kementerian Komunikasi dan Informatika sendiri kemudian mengambil kebijakan,
menghentikannya dengan tindakan UNREG massal. Keputusan itu tak pelak langsung menohok
bisnis CP. Imbasnya, beberapa kalangan seperti musisi yang terkait dengan bisnis ini juga dibuat
kalang kabut. Sebab, layanan ring back tone (RBT) yang selama ini menjadi dapur mereka
terancam dihapuskan.
Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring kemudian menenangkan situasi ini
dengan menegaskan tidak akan ada penghapusan RBT di Indonesia. Tidak ada penghapusan.
Tapi, bagi semua pelanggan yang menginginkan mendapat layanan RBT harus bersedia
melakukan register ulang.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 44

Tak ada angka pasti berapa kerugian masyarakat akibat praktek sedot pulsa ini. Menurut
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), perputaran uang dari praktek sedot pulsa itu
besar. YLKI memperkirakan melebihi Rp 100 miliar per bulan. Tapi, Menteri Tifatul menyebut
kerugian akibat praktek ini tak lebih dari Rp 100 miliar. "Saya taksir kerugiannya tak sampai Rp
100 miliar. Tak sampai 10 persen dari nilai bisnis antara operator dan CP yang mencapai Rp 1
triliun per bulan," kata Tifatul kepada wartawan usai rapat dengar pendapat dengan Komisi I
DPR di Senayan yang membahas masalah itu.
Lain lagi dengan pendapat DPR. Menurut Tantowi Yahya, setelah mendengar masukan dari
berbagai kelompok masyarakat dan lembaga, kerugian akibat praktek pencurian pulsa itu
diperkirakan lebih dari Rp 1,1 triliun.
Pengamat teknologi informasi Bona Simanjuntak memberi angka lebih tinggi. Bila hal itu
terjadi di lebih dari 5 operator besar di Indonesia dan dilakukan setiap hari, maka dalam toleransi
1 tahun akan lebih dari Rp 30 triliun uang masyarakat diambil. Dengan asumsi dari 5 operator
mempunyai 10 juta pelanggan aktif setiap hari (yang menjadi korban). J adi pernyataan Menteri
Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring bahwa kasus pencurian pulsa tak sampai Rp 100
miliar itu tidak mendasar dan semakin membuat masyarakat resah."
Kasus pencurian pulsa ini kemudian ditangani Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim)
Markas Besar Polri. Hingga 23 Desember 2011 polisi telah memeriksa sekitar 39 saksi untuk
dimintai keterangan. Menurut Kepada Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri Irjen
Pol. Saud Usman Nasution, mereka terdiri dari tiga saksi ahli, empat saksi pelapor, sembilan
orang dari Telkomsel, 16 dari penyedia konten, tiga dari J ak TV, dan satu orang dari PT
Telepeforma. Di luar itu, kepolisian juga meminta keterangan dari sejumlah perusahaan
penyedia konten tak terdaftar yang nama-namanya diperoleh dari BRTI. Di antara mereka adalah
PT Colibri, PT Media Play, PT Sequel Indonesia, PT Prima Teks Indonesia, dan PT Triatkom.

BRTI sendiri tak menyebut siapa saja perusahaan content provider yang melakukan
pelanggaran tersebut. Tapi, pers mendapat daftar nama-nama tersebut dari bocoran rapat dengar
pendapat Panja pencurian pulsa DPR pada 21 Desember. Daftar itu menyebutkan ada 78 nama
content provider berikut shortcodenya berstatus illegal. (lihat daftar CP Nakal).

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 45

Menurut Kepala Bareskrim Komisaris J enderal Sutarman, kepolisian masih terus
mengumpulkan bukti untuk dapat menetapkan siapa pelaku kejahatan pencurian pulsa itu. "Itu
kerja samanya dengan content provider, content provider kerja sama dengan operator. Logika
berpikir kita begitu. Sekarang tugas kami membuktikan apakah orang-orang itu bisa ditetapkan
tersangka," kata Sutarman.
Selain saksi, menurut Sutartaman, Bareskrim juga telah meminta keterangan dari sejumlah
saksi ahli. Antara lain, dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, Kementerian Sosial, dan
pakar komputer forensik. Polisi juga meminta keterangan ahli dari Lembaga Perlindungan
Konsumen, pakar teknologi informasi dari ITB serta Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Dari pemeriksaan dan pengusutan kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa lima telepon
genggam berbagai merek, lima unit SIM card, dan satu lembar informasi biaya penggunaan
telepon atau billing statement. Kami akan terus mengumpulkan barang bukti dan para saksi.
Kami akan segera menggelar perkara jika bukti-bukti yang ada dianggap sudah cukup, kata juru
bicara Markas Besar Polri Saud Usman Nasution.
Menurut Saud polisi akan menerapkan Pasal 378 KUHP tentang penipuan, Pasal 372 KUHP
tentang penggelapan, dan Pasal 362 KUHP tentang pencurian untuk menjerat tersangka. Selain
memakai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tersangka juga akan dijerat dengan Undang-
Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang No.
36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, dan Peraturan Kominfo Nomor 1 tahun 2009 tentang Penyelenggaraan
J asa Pesan Premium.

Daftar nama CP Nakal

1. INTI, shortcode A88
2. Access Mobile, shortcode 2767, 9033, 27676
3. Alfa Media Community, shortcode 9277
4. Altruist Technologies, shortcode 141, 5121
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 46

5. ANTV, shortcode 9669
6.Artajasa, shortcode 3300, 69999
7. Awal Brilians Indonesia, shortcode 9001
8. Ayofun, shortcode 9338
9. Biang Bola, shortcode 2652
10. Bina Layanan Utama, shortcode 9223
11. Bina Media Mobilitas, shortcode 9247, 9363
12. Bubble Motion, shortcode 5200
13. Bubuchika, shortcode 2728
14. Cheese Mobile Indonesia , shortcode 9118
15. CIA, shortcode 3545, 9900
16. Citra Mandiri Infokom , shortcode 4555
17. CV Putro Samudro, shortcode 7005, 7755
18.Dime, shortcode 5272
19. Extent Media Indonesia , shortcode 9393
20. F Inti Teknologi, shortcode 9477
21. Falcon Winner Mobile, shortcode 2793
22. FM Indonesia, shortcode 9789
23. FrenClub, shortcode 248
24. Fundering, shortcode 3788
25. Galaksi Mobile, shortcode 9477
26. Gama Techno Indonesia, shortcode 7890, 7263
27. GP Gemalto Mobile, shortcode 4134
28. Hallomob, shortcode 9080
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 47

29. Hauraa, shortcode 5699
30. Huawei, shortcode 3100, 5432
31. ICC, shortcode 2625
32. ilfsets, shortcode 566
33. i-Mediatama Indocom, shortcode 6899
34. imob, shortcode 5667
35. indosmart, shortcode 9625
36. Inzpira Inovasi Indonesia , shortcode 7890
37. ironroad, shortcode 336
38. kopeg trendy , shortcode 212,5577, 6996
39. mcashback, shortcode 6644
40. mcp games, shortcode 4263
41. mcp musik - arganet, shortcode 999
42. media call/roamware, shortcode 1023
43. Mentari kreasi abadi , shortcode 2655
44. Metra Net, shortcode 7879
45. Mitra Global Komunikasi , shortcode 9787
46. Mitra Mediamaya Kalimantan, shortcode 3252
47. Mobile Komunikasi Indonesia, shortcode 9297
48. mobsterz, shortcode 628, 818
49. mobtv/pacmee, shortcode 9188
50. Mojolia, shortcode 7879
51. moviso, shortcode 5151
52. mtel limited, shortcode465
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 48

53. multi tiara quantum, shortcode 9561
54. on mobile, shortcode 234
55. optima solution, shortcode 8008
56. PE Service, shortcode 8990, 9192
57. Phintraco, shortcode 3132, 8333
58. pixSense, shortcode 8910
59. Planet Evillage, shortcode 9192
60. prima interaktif , shortcode 9449, 9451, 9454, 9455
61. provokeasik, shortcode 33301
62. PT 8elements, shortcode 9821
63. RNI, shortcode 7100
64. sigma cipta caraka , shortcode 3388
65. simpli mobile, shortcode 628
66. sintatic , shortcode 8055
67. SMSnet nusantara wapindo, shortcode 7500
68. Solusi 247 , shortcode 1234, 21212, 32248, 32665, 89887, 3224800
69. Sulung Putra Pratama , shortcode 9909
70. Teleakses Solusindo, shortcode 7995, 9775
71. telogic , shortcode: 1919
72. transmaya, shortcode1234
73. Trendcom , shortcode 23
74. Trikomsel , shortcode 107
75. U2opia mobile, shortcode 325
76. ubersoft, shortcode 40404
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 49

77. visa /xlink, shortcode 3222, 8472, 6699
78. (tak diketahui nama CP-nya), shortcode 9008





















Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 50

Kejahatan Narkotika: Dari Cicit Soeharto, Artis, Hingga
Anggota DPR


eluarga Cendana kembali menjadi sorotan publik. Kali ini berkaitan dengan
tertangkapnya cicit bekas presiden yang lengser pada 1998 silam tersebut: Putri
Aryanti Haryowibowo, 22 tahun. Pada J umat 18 Maret 2011 dini hari, aparat
Direktorat Narkotika Kepolisian Daerah Metro J aya menangkap putri Ari Sigit atau cucu Sigit
Harjojudanto, putra mantan presiden Soeharto, di Hotel Maharani, J akarta Selatan, kamar 826.
Saat ditangkap Putri tengah memakai sabu.


Hotel Maharani, Jakarta

Di kamar tersebut Putri tidak sendiri. Di sana polisi juga menangkap Gaus Notonegoro alias
Agus dan Ajun Komisaris Besar (AKBP) Polisi Eddie Setiono. Dini hari itu juga mereka
dibawa ke Polda Metro J aya dan menjalani tes urine. Putri sendiri, dalam pemeriksaan
selanjutnya, didampingi kuasa hukumnya, Sandy Arifin.

Diperiksa dua hari kondisi Putri kemudian drop. Polisi menolak permintaan pengacara Putri ,
yang menyatakan Putri dalam masa penyembuhan ketergantungan obat, agar kliennya
tersebut mendapat penangguhan penahanan. Pada 23 Maret, saat dikonfrontir dengan sejumlah
saksi, Putri ambruk. Hari itu juga ia dibawa ke Rumah Sakit Polri di Kramat J ati, J akarta
Timur. Menurut dokter Ibnu Hajar, Kepala Bidang Pelayanan Kedokteran RS Polri, Putri stres
K
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 51

dan shok. Ada pun Kepala Rumah Sakit Polri, Brigjen Budi Siswanto, mengatakan, dari hasil
pemeriksaan, Putri menunjukkan gejala ketergantungan pada narkotika. Sejak hari itu, Putri
dirawat di RS Polri.

Pada 20 J uni 2011 kasus Putri disidangkan di Pengadilan Negeri J akarta Selatan. J aksa
mendakwa Putri dengan dakwaan primer dan subsider. Dalam dakwaan primer, Putri disebut
melakukan permufakatan jahat melakukan tindak pidana narkotika, sedang dalam dakwaan
subsider, ia disebut menggunakan narkotika golongan I untuk diri sendiri. Menurut jaksa, Putri
mengkonsumsi narkotika dengan dibantu Gaus. Terdakwa Putri Aryanti Haryowibowo
mengkonsumsi sabu sebanyak dua kali isapan dibantu saksi Gaus Notonegoro alias Agus untuk
membakarnya," kata jaksa Trimo saat membacakan dakwaannya.


Sabu dan alat hisab (bong)

J aksa juga menunjukkan barang bukti berupa alat pengisap (bong) yang dipakai Putri serta dua
bungkus sabu sekitar 0,88 gram. Kepada hakim, Putri menyatakan tidak tahu menahu tentang
bong tersebut. Menurut Briptu Bambang Dwi Susilo, saksi polisi yang dihadirkan jaksa, bong
tersebut milik Gaus. Setelah kita tangkap, kita melakukan interogasi awal. Saya tanya ke
Gaus, barang-barang ini milik siapa? Dia menjawab, milik saya untuk sabu dan alat-alatnya.
Kalau bong milik ramai-ramai, kata Bambang mengutip ucapan Gaus. Sidang Putri
menghadirkan empat saksi. Mereka: AKP Rani Oli, Bripka Nuryanto, Brigadir Romi Hardianto,
dan Briptu Siswanto. Keempatnya penyidik yang menangkap Putri pada 18 Maret 2011.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 52

Saat pengadilan berlangsung, Sandy Arifin, meminta kepada Ketua Majelis Hakim, Maman
Abdurrahman, agar mengijinkan Putri dirawat di rumah sakit. Alasan Sandy, kliennya hendak
menjalani rehabilitasi. Permintaan ini kemudian dikabulkan.

Di persidangan pengacara Putri menghadirkan saksi mahkota yang juga menjadi terdakwa
kasus ini: AKPB Eddie dan Gayus. Selain itu, juga didatangkan dua saksi lain, yakni petugas
Badan Narkotika Nasional (BNN) yang pernah memeriksa kondisi Putri dan konsultan
rehabilitasi Putri.

Dalam kesaksiannya AKP Rani Oli menyatakan, ia hanya bisa menginterogasi Gaus karena
Putri dan Eddie tak bersedia memberi keterangan. Gaus, kata Rani, menyatakan sabu yang
dipakai berasal dari Mamat yang berstatus DPO. Ada pun Brigadir Romi menyatakan, menurut
Gaus, Putri dan Eddie memang memakai sabu saat itu. "Di meja ada alat isap dan sabu. Itu sisa
mereka pakai, kata Gaus, ujar Romi.

Di persidangan Rani juga mengungkapnya, mereka juga sempat melepaskan AKBP Eddie
sesaat setelah penyergapan di hotel Maharani. Menurut Rani, kala itu, dari interogasi awal
terhadap Gaus dan Putri, mereka menyimpulkan Eddie tak terlibat pemakaian atau kepemilikan
sabu tersebut. J adi kami lepas dan tetap tinggal di hotel, sementara Putri dan Gaus kami bawa
ke Polda. Hanya kata Rani, ketika dilakukan berita acara pemeriksaan, Gaus mengubah
keterangannya. Dia menunjuk keterlibatan AKBP Eddie. Berdasar keterangan ini, Eddie
ditangkap.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 53


Putri Aryanti

Di persidangan Eddie dan Gaus juga menyatakan Putri tidak mengkonsumsi sabu saat
ditangkap. "Saya sempat menawarkannya, Putri bilang dia lagi menunggu makanan yang
dipesannya. Sebelum sempat menggunakan sabu-sabu, polisi keburu masuk," ujar Gaus
Notonegoro saat bersaksi di Pengadilan pada 11 J uli 2011. Ketika hakim bertanya, kenapa
keterangannya berbeda dengan BAP, Gaus menjawab, saat diperiksa di Polda Metro J aya,
dirinya dalam kondisi lelah.

Ada pun Eddie menyatakan, saat ia datang ke hotel, yang membukakan kamar hotel adalah
Gaus. Putri sedang duduk di sofa, sendirian sedang bermain iPad. Saya masuk, di meja sudah
ada peralatan sabu, katanya. Eddie mengaku sempat mengisap sabu yang ditawarkan Gaus dua
kali. "Gaus menawarkan tiga kali, saya bilang saya kerja dulu, nanti tidak konsentrasi. Lalu saya
isap dua kali. Putri setahu saya tidak mengisap," kata Eddie.

Di persidangan Putri menyangkal dirinya tengah menggunakan sabu saat digerebek polisi.
Dia menyebut polisi telah memaksanya untuk mengakui memakai narkoba. "Memang ada sedikit
paksaan. Paksaan harus mengikuti BAP itu," katanya. Dia, ujarnya, terpaksa menandatangani
BAP itu karena letih setelah menjalani pemeriksaan berjam-jam. Dalam BAP, sesuai keterangan
dokter kesehatan Polda Metro J aya, Putri disebut positif memakai narkoba.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 54

J aksa Trimo menuntut Putri hukuman satu tahun penjara dan menjalani rehabilitasi karena
melanggar pasal 127 ayat 1 Undang-Undang No. 35/2009 tentang Narkotika. Pada 25 Agustus
2011, dalam vonisnya, Majelis hakim membebaskan Putri dari dakwaan primer dan
memerintahkan putri sulung Ari Sigit tersebut menjalani program rehabilitasi selama setahun
di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di Cibubur, J akarta Timur.


Tingkat penggunaan narkoba di Indonesia dan khususnya di J akarta memang
mengkhawatirkan. Karena itulah, menurut Direktur Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse dan
Kriminal Mabes Polri, Brigadir J enderal Pol. Arman Depari, polisi tak henti-hentinya
melakukan operasi penangkapan terhadap para pengedar dan pemakai narkoba. Operasi yang
terjadi di hotel Maharani hanya satu dari operasi yang dilakukan polisi pada Maret 2011.

Menurut Arman Depari kepada pers pada 21 Desember 2011, selama tahun 2011, Bareskrim
telah mengungkap 26. 500 kasus peredaran dan pemakaian narkoba dengan total nilai Rp 925
miliar. Ini lebih banyak 12, 62 persen dibanding tahun sebelumnya. Indonesia, menurut Arman,
telah dijadikan pasar potensial pengedaran narkoba oleh para bandar narkoba jaringan
internasional. Sekitar 40 persen dari jumlah penduduk Indonesia berusia remaja, kata Erman,
menjadi incaran pengedar obat terlarang tersebut.

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan, pada 2008 angka prevensi
penyalahgunaan narkoba sebesar 1,99 persen dari seluruh penduduk Indonesia atau setara
dengan 3,2 juta-3,6 juta jiwa. Pada 2010, jumlahnya meningkat 2,21 persen, dan pada 2011
menjadi 3,8 juta jiwa. Menurut Kepala BNN Komisaris J enderal Gories Mere, jika masalah ini
tidak ditangani secara serius, pada 2015 jumlah korban narkoba bisa mencapai 5 juta hingga 6
juta orang.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 55


Kepala BNN Gories Mere saat menanggapi kasus Narkoba

Para pemakai narkoba itu sendiri berasal dari berbagai latar belakang ekonomi dan profesi.
Dari kalangan ekonomi kelas bawah hingga kalangan atas. Dari pengangguran, pekerja pabrik,
artis, hingga anggota dewan. Para pengedar narkoba itu, dengan berbagai cara dan jaringan,
terus mencari mangsa baru, kata Arman. Pada 25 Oktober 2011, misalnya, Satuan Narkoba
Kepolisian Resor Tarakan, Kalimantan Timur, menangkap anggota DPRD Tarakan, Rusdianto
Rasyid, yang tengah pesta sabu di sebuah kamar hotel di J alan Mulawarman, Tarakan.

Ada pun sejumlah artis yang tertangkap tangan karena memiliki atau tengah mengkonsumsi
narkoba, antara lain, Revaldo, Fachriah Muntaz (Ade Ivay), vokalis group band Kerispatih,
Sammy, J ennifer Dunn, dan penyanyi dangdut, Imam S Arifin. Mereka melengkapi deretan
artis dan penyanyi senior yang sebelumnya juga pernah ditangkap dan diadili karena tersangkut
kasus narkoba, seperti Roy Marten dan Ahmad Albar. Direktur Narkoba Polda Metro J aya,
Komisaris Besar, Anjan Pramuka Putra, pada J uli 2010, menyatakan, jajarannya tengah
membidik 23 artis yang ditengarai memakai narkoba. "Mereka umumnya menggunakan
narkoba jenis sabu-sabu dan pil ekstasi," kata Anjan. Kepada wartawan Anjan menunjuk
Revaldo adalah salah satu artis yang masuk daftar mereka itu.
Kendati berhasil menangkap tangan pemakainya, tapi bisa dikatakan polisi kerap kesulitan
untuk menelusuri siapa bandar penyuplai narkoba untuk artis itu. Menurut Anjan, para pengedar
narkoba selalu memakai sistem sel untuk memutus jaringan. Kesulitan bertambah lagi, jika para
pemakai narkoba menutup mulut, tak menyebut sama sekali asal muasal benda terlarang
tersebut.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 56

Di Indonesia, peredaran narkoba masuk dari berbagai penjuru. Lewat udara, darat, dan laut
serta diselundupkan dengan berbagai cara. Dari dimasukan di dalam sela-sela koper yang dijahit
sedemikian rupa, hingga ke kapsul yang kemudian ditelan pembawanya. Para kurir narkoba
yang tertangkap ini pun biasanya tak bisa mengungkapkan siapa otak yang memerintahkan
penyelundupan narkoba itu. Polisi menduga sebagian memang hanya menjalani perintah dari
tangan ke sekian, sebagian lagi menutup mulut rapat-rapat karena takut jika mengungkapkan
yang mereka ketahui, nyawa mereka dan juga keluarga mereka terancam.
Polisi juga berkali-kali menggerebek rumah atau apartemen yang di dalamnya dijadikan
tempat pembuatan sabu-sabu. Pada J anuari 2009, misalnya, polisi menangkap Benny Chan di
apartemennya di Gadung Mediteran Residence, Kelapa Gading, J akarta Utara. Di tempat tinggal
Benny itu polisi menemukan 172, kilogram sabu-sabu.
Sebelumnya, pada November 2007, polisi pernah membongkar jaringan mafia pengedar ekstasi
internasional di J akarta Barat. Dari lokasi penggerebekan ditemukan 490 ribu ekstasi senilai Rp
49 miliar. Menurut Kepala Polri saat itu, J enderal Sutanto, jaringan pengedar obat terlarang yang
dikendalikan kelompok Malaysia itu telah memasukkan sekitar dua juta ekstasi ke Indonesia.
Mereka juga merencanakan membuat pabrik ekstasi dan sabu di Indonesia.
Besarnya keuntungan yang diraup dari penjualan narkoba ini membuat mereka yang sudah
tertangkap melakukan apa pun untuk tetap menjalankan bisnis terlarang ini, termasuk dari dalam
penjara. Pada Desember 2011, BNN melakukan penggerebekan di Lembaga Pemasyarakatan
Tanjung Gusta, Medan dan menangkap bandar narkoba jaringan internasional, Anli Yusuf alias
Mami. BNN sebelumnya juga pernah melakukan penggerebekan terhadap bandar narkoba yang
ditahan di penjara Nusakambangan pada Maret 2011 dan penjara Kerobokan, Denpasar, pada
J uni 2011. Para bandar itu diduga bisa melakukan aksi kejahatan mereka dari dalam penjara
karena mereka mendapat keistimewaan dari oknum pejabat penjara.




Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 57

Kerjasama Kepolisian, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan LPSK
Salah satu cara untuk membongkar jaringan narkoba adalah mendengar kesaksian dari mereka
yang terlibat kejahatan itu sendiri. Dari kesaksian dan bukti yang dibawa para justice
collaborator ini aparat keamanan bisa mengetahui dan menangkap para otak kejahatan narkoba.
Demikian pula terhadap kasus korupsi. Akan lebih mudah dan cepat terungkap dengan adanya
justice collaborator.
Berangkat dari inilah, pada 8 Agustus 2008, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)
bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Badan Narkotika Nasional telah
menandatangani perjanjian kerja sama menyangkut perlindungan terhadap saksi perkara korupsi
dan narkoba. Dengan perjanjian ini, diharapkan, kasus-kasus kejahatan narkoba akan terungkap
karena para saksi mendapat jaminan perlindungan dari negara.
Menurut Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, permohonan perlindungan untuk kasus
korupsi dan narkoba ke LPSK sangat banyak. Lewat perjanjian tersebut, diharapkan mampu
membuat kinerja LPSK lebih fokus. "Kejahatan pelanggaran HAM berat, teroris, narkotika dan
korupsi adalah empat kejahatan yang bisa mendapat perlindungan. Dengan MOU ini akan
mempengaruhi LPSK lebih positif sehingga supporting system dapat terbangun dengan baik,"
kata Semendawai.









Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 58

Terjerat Negara Islam Indonesia (NII)


mam Supriyanto membuat pernyataan mengejutkan. Mengaku bekas Menteri Peningkatan
Produksi Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah 9 (KW 9), pada 4 Mei
2011, Imam mendatangi Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia di kawasan J alan
Tronojoyo, J akarta Selatan. Imam melaporkan penipuan yang dilakukan Panji Gumilang, pendiri
Pondok Pesantren Al- Zaytun, pesantren modern yang terletak di Indramayu, J awa Barat.

Kepada polisi, Imam menyatakan Panji Gumilang, yang biasa dipanggil Abu Toto, Abu
Maarik, atau Abdus Salam, telah melakukan tindak pidana pemalsuan surat karena
menghilangkan namanya dalam dokumen kepengurusan Yayasan Pesantren Indonesia. Yayasan
inilah yang menaungi Pondok Pesantren Al-Zaytun

Tak sekadar melaporkan, Imam, juga membeberkan sepak terjang Panji Gumilang. Menurut
Imam, Panji juga melakukan kegiatan makar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia
menegaskan, Panji merupakan pimpinan NII KW 9. Imam sendiri mengaku sudah sejak 2007
meninggalkan KW 9 setelah sebelumnya, selama 20 tahun, bergabung di sana.


NII

Menurut Imam, Panji juga dekat dengan bekas Direktur Utama Bank Century, Robert
Tantular. Sebagian dana yayasan juga disimpan di bank tersebut. Saat saya keluar pada 2007
I
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 59

nilainya ratusan miliar rupiah. Katanya uang itu untuk mendirikan lembaga pendidikan formal,
kata Imam. Menurut Imam, setelah dirinya keluar, dia tak tahu lagi keberadaan dana tersebut.

Menurut pengacara Imam, Kamal Singadirata, akibat pengakuannya yang blak-blakan itu,
kliennya kerap mendapat telefon dari anggota NII yang masih aktif. Kamal mengaku khawatir
keselamatan jiwa kliennya. Karena dia bekas tokoh penting dalam Komandemen Wilayah 9,
kata Kamal. KW 9 adalah bagian penting dari NII.

Sejumlah mantan pengikut NII memang mengaku mendapat teror dari anggota NII yang aktif.
Pengakuan adanya teror itu muncul seiring -saat itu- dengan terungkapnya kasus perekrutan
lima belas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi anggota NII.
Beberapa diantaranya sempat menghilang sebelum akhirnya kemudian ditemukan.



Panji Gumilang merupakan pendiri pondok pesantren Al-Zaytun


Korban Berjatuhan

Adanya perekrutan di Malang terbongkar setelah seorang mahasiswa, berinisial MH, yang
menolak direkrut NII, meminta Agung Arief Perdana Putra, yang juga temannya sesama
mahasiswa, membayar utangnya sebesar Rp 300 ribu. Saat itu, MH dengan suara keras bertanya,
apa uang itu untuk disumbangkan ke NII. Kalimat MH itu didengar rekan-rekannya. Mereka pun
kemudian memukuli Agung dan meminta segera mengembalikan uang MH. Kasus ini kemudian
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 60

ditangani satuan pengamanan kampus. Dari Agung itulah aksi penipuan berkedok agama ini
terungkap. Agung, yang mengaku sudah dibaiat oleh NII, kemudian menghilang.

Menurut sejumlah media, perekrutan anggota NII di Malang terjadi sejak Oktober 2010.
Pelakunya: Fikri alias Feri dan Adam alias Muhayin. Keduanya yang berasal dari J akarta,
datang ke Malang dan merekrut MY, mahasiswa Farmasi UMM. Menurut MY, Fikri dan Adam
juga merekrut mahasiswa Universitas Brawijaya. Para mahasiswa tersebut dibaiat di J akarta
pada Desember 2010.

Para mahasiswa UMM yang telah dibaiat dan kemudian insyaf itu bercerita, perekrutan
dilakukan di berbagai tempat, termasuk di restoran di sejumlah mal di Malang. Di tempat itu
pelaku mengajak korban berdiskusi dan kemudian menanamkan paham tentang perlunya hijrah
dari warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke NII. Tanpa hijrah, menurut para
perekrut itu, amal ibadah para mahasiswa tersebut tak bisa diterima Tuhan.
Modus perekrutan lain dengan ajakan mengikuti pengajian. Ini dikemukakan oleh TW yang
pernah diajak mengikuti pengajian di sebuah rumah di Surabaya Timur pada tahun 2000. Dalam
pengajian itu, pembicara juga membahas perlunya hijrah untuk memperbaiki keimanan.
Pembicara itu mencontohkan hijrah yang juga dilakukan Nabi Muhammad.

Menurut TW, rekrutmen oleh NII dilakukan secara masif, terstruktur, dan sistematis. TW
mengaku direkrut saat duduk di kelas tiga SMA. Itu bermula dari ajakan seorang temannya yang
mengiming-imingi dirinya bakal mendapat banyak kenalan gadis cantik bila mengikuti
pengajian di kelompok temannya tersebut. Ia pun kemudian terpikat.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 61


Salah satu wanita yang menjadi korban perekrutan NII

Meski tidak memiliki wilayah teritorial, menurut TW NII memiliki sejumlah organisasi
layaknya sebuah negara. Ada presiden, menteri, gubernur, wali kota, camat hingga RT.
Untuk membiayai pemerintahannya, NII mewajibkan pengikutnya untuk member dukungan
secara finansial. Caranya bermacam-macam. Warga NII, misalnya, diminta membersihkan
dosa-dosa yang mereka lakukan dengan membayar denda. Mereka juga dibebani infak setiap
bulan dan infak tahunan pada setiap ulang tahun atau, istilah mereka, pergantian umur. J ika
tak membayar itu semua, mereka berdosa sepanjang hidup dan mati sebagai kafir.

Setelah dibaiat di J akarta, yang untuk itu dia mesti membayar Rp 1 juta, TW kemudian diminta
merekrut anggota baru. Kalau bisa disyaratkan orang tersebut kaya, tapi bodoh dan lemah
akidah agamanya, katanya. TW sendiri mengaku beruntung kini sudah lepas dari belenggu NII.

Pengakuan TW sejalan dengan modus yang digunakan NII seperti yang kemudian terungkap
di mana-mana . Setelah korban termakan doktrin, perekrut kemudian membawa korban ke
J akarta dengan biaya ditanggung korban yang besarnya sekitar Rp1,5 juta. Korban dari Malang,
misalnya, biasanya naik bus lewat Surabaya dan menuju Yogjakarta. Dari Yogya, dengan kereta
api mereka menuju J akarta. Di J akarta mereka kemudian ditempat di sebuah rumah untuk
kemudian menerima doktrin kembali tentang NII.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 62

Setelah itu perekrut kemudian meminta korban membayar uang infak perjuangan yang
besarnya antara Rp 10 juta- Rp 30 juta. Untuk mendapatkan uang sebesar itu berbagai cara pun
dilakukan. Para mahasiswa asal Malang itu, misalnya, mengaku kepada orangtua mereka perlu
uang untuk mengganti laptop teman mereka yang mereka hilangkan. Korban yang tidak bisa atau
tak sanggup membayar infak perjuangan kemudian dipulangkan dengan ancaman agar tidak
menceritakan kepada siapa pun apa yang mereka alami.

Kendati mendapat ancaman, toh sejumlah bekas pengikut NII kemudian membuka suara.
Seorang mahasiswi bernama Novie, misalnya, mengaku terjerat menjadi anggota NII setelah
sebelumnya didekati dua mahasiswi yang mengaku ingin mewawancarai dia sebagai narasumber
penelitian. Saya dibilang bodoh, kafir kalau tidak ikut bergabung. Mereka mengerubungi saya,
menekan dan memaksa saya, katanya. Dia kemudian dibaiat dan untuk itu harus membayar Rp
2,5 juta. Setelah itu, setiap bulan ia wajib menyetor sedekah Rp 500 ribu. Kalau kurang, dia
akan diteror dengan kalimat nuqshon!, nuqshon! (kurang! Kurang!). Kekurangan itu selalu
diakumulasikan bulan berikutnya sehingga jumlahnya makin besar. Menurut Novie para petinggi
NII mengatakan, mereka boleh berbuat apa saja untuk mendapat uang, termasuk menipu dan
merampok. Alasan mereka, orang di luar kelompok mereka adalah kafir sehingga hartanya halal
untuk diambil. Novie menyatakan ia dilarang menanyakan ke mana uang sodaqoh yang ia
berikan itu disetorkan.

Kesaksian yang sama juga diberikan Ken Setiawan, mantan pengikut NII yang kemudian
mendirikan NII Crisis Centre. Ken mengaku awalnya dia yakin menjadi bagian dari sebuah
perjuangan mulia, perjuangan agama. Dia mengaku melakukan tindak kejahatan,
mengumpulkan uang, dengan cara mengkoordinir anggota perempuan NII yang menyaru
menjadi pembantu. Aksi itu ia lakukan sejak 2000 hingga 2002. Saat para pemilik rumah pergi,
para anggota NII yang menyamar menjadi pembantu itu menggasak harta benda tuannya. Ken
sendiri mengaku akhirnya berhasil keluar dari NII kendati harus melewati jalan berliku.

Menurut Ken, pengikut NII tak hanya menolak negara Indonesia, tapi juga rukun Islam.
Presiden NII, Abu Toto, kata Ken, menyatakan untuk berhaji tidak usah pergi ke Mekah, tapi
cukup ke kantornya saja, di Indramayu. Sejumlah tahapan berhaji juga dilakukan di kompleks
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 63

pondok pesantren Al-Zaytun. Thawaf atau mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali, misalnya,
cukup dilakukan dengan berkeliling areal Al-Zaytun. Ada pun melempar jumroh, yang jika
dalam ibadah haji sesungguhnya dengan melempar tujuh kerikil, di Al Zaytun diganti dengan
tujuh sak semen dalam bentuk uang.

Berangkat dari keprihatinan dan pengalaman buruknya itulah pada 2006, Ken mendirikan NII
Crisis Centre. Sejak berdiri, NCC telah menangani lebih dari 1.000 orang yang menyatakan
korban NII. Menurut Ken, ada ribuan orang, termasuk pelajar dan mahasiswa, telah menjadi
korban jaringan cuci otak NII.


NII Crisis Center didirikan untuk menangani korban NII

Kendati santer disebut sebagai korban NII, toh kepolisian Malang lebih percaya para
mahasiswa itu tak lebih hanya menjadi korban penipuan. Setidaknya inilah yang diungkapkan
Kepala Kepolisian Resor Malang Kota, AKBP Agus Salim. Kepala Bidang Hubungan
Masyarakat Kepolisian Daerah J awa Timur, Komisaris Besar Polisi Rachma Mulyana juga
menyatakan, berdasar pemeriksaan, kasus yang menimpa para mahasiswa Malang tersebut
murni penipuan. Modusnya dengan gendam, yakni untuk menipu, kata Rachma. Rektor
UMM, Muhadjir Effendy, juga menyatakan, kasus yang menimpa mahasiswanya murni kasus
kriminal dengan metode hipnotis disertai indoktrinisasi. Kepada wartawan Pembantu Rektor III
UMM, J oko Widodo, menyatakan, mahasiswa mereka yang menjadi korban penipuan 11
orang. Sepuluh dalam proses penyembuhan psikis dan seorang diantaranya akhirnya drop out
karena sulit disembuhkan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 64


Korban NII dari Malang, J awa Timur

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional, Budi Soesilo Supandji, menegaskan, jika benar NII
tersebut ada, maka itu merupakan ancaman bagi keutuhan NKRI. Lemhannas, kata Budi, kini
tengah mengkaji perkembangan radikalisasi di Indonesia. "Ini jadi perhatian kami karena telah
membuat resah masyarakat dan perguruan tinggi," kata Budi.

Keberadaan NII dinilai sudah sangat meresahkan masyarakat. Kepolisian, sejak 2009,
misalnya, sudah memeriksa 17 orang yang disebut-sebut anggota NII. Mereka sudah diadili
dan divonis dengan hukuman rata-rata 2,5 tahun. Meski demikian, menurut polisi, juru
rekrut NII terus selalu bergerak.

Sejumlah tokoh mengingatkan pemerintah agar tak meremehkan dan menindak tegas terhadap
mereka yang mengatasnamakan NII. Mantan Ketua MPR Amien Rais, misalnya, menilai gerakan
harus dibasmi karena berbahaya dan mengancam keutuhan negara. Cara-cara pencucian otak
yang dilakukan NII, kata Amin, merupakan cara-cara biadab. Karena korbannya bisa sampai
hilang ingatan, bahkan tak pernah kembali.

Imam Supriyanto sendiri mendesak polisi untuk menangkap Panji Gumilang. Panji, pada J uli
2011, memang kemudian dijadikan tersangka oleh polisi. Tapi bukan dalam kaitannya dengan
NII, melainkan dugaan melakukan penipuan seperti dilaporkan Imam. Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme (BNPT), Inspektur J enderal (Purn) Ansyaad Mbai, menyatakan
pengakuan Imam tentang Panji Gumilang dan kaitannya dengan NII itu harus segera
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 65

ditindaklanjuti. "Saya kira pengakuan eks menteri NII itu cukup kuat bagi Polri dan Kejaksaan
untuk lakukan penelusuran," kata Ansyaad saat menjadi pembicara di Kampus Paramadina,
J akarta pada 4 Mei 2011. Panji Gumilang sendiri, kepada wartawan, menolak adanya pemalsuan
dokumen seperti dituduhkan Imam.

Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, juga menyatakan keheranannya karena pemerintah
seperti terkesan tak berdaya menghadapi kasus-kasus perekrutan ribuan orang dengan berkedok
NII ini. Menurut saya ini tidak masuk akal. Ada gerakan masif merekrut ribuan orang, dan
intelijen tidak bisa mendeteksinya, kata Mahfud.

Kepolisian membantah jika mereka tak melakukan apa-apa terhadap kasus-kasus penculikan
dan pencucian otak yang menjadi perhatian dan pembicaraan publik itu. Menurut Kepala
Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri, Irjen Pol. Anton Bachrul Alam, Mabes Pori
telah memerintahkan seluruh jajaran kepolisian daerah segera menyelidiki semua kasus yang
berkaitan dengan NII. Kami meminta semua kepolisian daerah aktif melakukan penyelidikan
kasus yang berhubungan dengan NII, kata Anton.










Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 66

Penyerangan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik

AGI Nayati, 35 tahun, kehadiran sejumlah warga ahmadi, sebutan untuk penganut
Ahmadiyah, ke rumah kakaknya, Suparman, merupakan hal biasa. Sebagai pemimpin
Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, rumah Suparman memang kerap didatangi ahmadi.
Nayati, yang tinggal bersama kakaknya di RT 03/RW 02 No. 13 Desa Umbulan, Cikeusik,
Pandeglang, itu juga terbiasa melihat ketegangan antara sejumlah warga yang tak setuju dengan
kehadiran warga Ahmadiyah di sana. Tapi, biasanya, ketegangan itu akan segera berlalu.
Keluarga besar Nayati memang penganut Ahmadiyah. Ajaran itu diturunkan dari ayahnya,
Matori, 70 tahun.
Tapi, Ahad 6 Februari 2011, itu ketegangan yang terjadi antara kakaknya dengan sejumlah
warga ternyata bukan hal yang biasa. Nayati melihat di sekeliling rumahnya sudah dijaga pula
oleh sejumlah polisi. Dia melihat semakin banyak warga yang datang dan seperti mengepung
rumahnya. Rumah kakaknya saat itu memang kedatangan tamu, sekitar 18 ahmadi dari luar
Cikeusik.
Nayati sudah lama menyadari banyak tetangganya di Cikeusik yang tidak menyukai keluarga
besarnya karena menjadi penganut Ahmadiyah. Ketidaksukaan itu semakin dia rasakan beberapa
tahun belakangan seiring semakin kerapnya rumahnya dijadikan tempat bertemunya para ahmadi
Cikeusik. Suparman sendiri pada November 2010 pernah dipanggil ke kantor Kecamatan
Cikeusik dan diminta untuk membubarkan kelompoknya tersebut, sesuatu yang ditolak
Suparman.
Dan Ahad pagi itu Nayati tak menyangka warga demikian marah dan lalu menyerang
rumahnya. Mereka mengejar, memukul, membacok saudaranya dan juga warga Ahmadiyah
lainnya yang bertahan di rumahnya. Keluarganya kocar-kacir, lari menyelamatkan diri.
Penyerbuan itu itu benar-benar membuatnya shok. Dia kehilangan orang-orang yang ia cintai.
Suaminya, Udin, dan dua saudaranya, Mulyadi dan Tarno. Mereka tewas mengenaskan.

B
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 67


Penyerangan kepada pemeluk Ahmadiyah di Cikeusik

Berbagai Versi Penyerangan
Keberingasan warga yang terjadi di Cikeusik tersebut bisa disebut puncak dari dari polemik
keberadaan Ahmadiyah yang sudah lama terjadi di wilayah itu. Peristiwa berdarah di Cikeusik
ini juga terhitung konflik massa versus para ahmadi yang paling banyak memakan korban jiwa.
Peristiwa ini tak hanya menjadi pembicaraan media nasional, juga media asing. Lengkap dengan
foto-foto yang menggambarkan keberingasan warga yang tengah membantai para penganut
Ahmadiyah. Berbagai versi perihal asal mula penyerbuan berdarah itu muncul di media.
Kepolisian menyatakan, sebelumnya, pada Kamis 3 Februari 201, mereka mendapat informasi
warga Cikeusik resah karena mendengar para penganut Ahmadiyah akan melakukan kegiatan di
kampung mereka. Warga sudah bersiap-siap dan bersiga auntuk menghentikan kegiatan tersebut.
Forum Komunikasi Pimpinan Masyarakat Desa Pandeglang pada Sabtu 5 Februari kemudian
mengevakuasi Suparman. Langkah itu dilakukan untuk meghindari penertiban dari
masyarakat.
Ahad 6 Februari, sekitar pukul 03.00 sekitar 115 polisi, termasuk reserse dan intel dikirim
untuk mengamankan kediaman Suparman dan tempat peribadatan Ahmadiyah yang sudah
kosong. Pukul 07.00 ada rombongan dari luar menggunakan dua unit mobil dan sudah ada di
dalam. Anggota kami melakukan negosiasi agar mereka mau dievakuasi, tapi mereka menolak
dengan alasan akan mengamankan inventaris Ahmadiyah, tutur Kepala Polisi Daerah Banten
Brigadir J enderal Pol. Agus Kusnadi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 68


Rombongan dari luar tersebut dipimpin Deden Sujana dan berjumlah sekitar 15 orang. Mereka
dari Ahmadiyah Pusat. Menurut polisi, Deden menyatakan, bila ada pihak yang ingin merusak
dan menertibkan rumah itu, maka rumah itu harus dipertahankan. Saat itu, rumah itu sudah
dikepung warga. J umlahnya sekitar 1.500-an. Warga yang marah akhirnya bentrok dengan para
ahmadi yang bertahan di sana.
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) member versi lain
perihal penyerangan warga ini. Menurut Kontras, pada Sabtu 5 Februari 2011, sekitar pukul
09.00 aparat polisi dari Kepolisian Resor Pandeglang menangkap Suparman, istrinya, dan Tatep
(Ketua Pemuda Ahmadiyah). Mereka diangkut ke Polres Pandeglang dengan alasan ingin
meminta keterangan atas status imigrasi istri Suparman yang berkewarganegaraan Filipina.
Karena adanya penahanan itu 25 orang warga Ahmadiyah Cikeusik, mayoritas orang tua dan
anak-anak, diungsikan ke rumah keluarga Suparman yang berada di seberang Desa Umbulan.
Mendengar kabar penahanan tersebut, sekitar 18 pemuda Ahmadiyah dari J akarta dan Serang
berangkat menuju Cikeusik untuk mengamankan warga Ahmadiyah yang masih berada di desa
itu. Ahad, 6 Februari mereka tiba di Cikeusik dan berjaga-jaga di rumah Suparman bersama tiga
pemuda Ahmadiyah setempat. Sekitar pukul 09.00 datang enam reserse ke rumah Suparman.
Mereka datang bersama dua truk polisi pengendali masa. Para reserse tersebut juga sempat
sarapan bersama warga Ahmadiyah. Mereka meminta warga Ahmadiyah itu segera
meninggalkan lokasi dan tidak menyerang jika ada serangan. Tapi, para ahmadi itu menolak.
Pukul 10.00, menurut Kontras, massa yang berjumlah 500-an berdatangan dari arah utara dan
mendekati lokasi warga Ahmadiyah. Mereka datang sembari berteriak-teriak dan mengacungkan
golok, Ahmadiyah hanguskan! Ahmadiyah bubarkan! Polisi minggir, kami yang berkuasa!
Polisi saat itu diam saja. Saat massa mendekati rumah Suparman, Deden Sujana, warga
Ahmadiyah yang berjaga-jaga, berupaya menenangkan warga. Sia-sia. Mereka yang datang itu
semakin beringas. Mereka memukul Deden.
Melihat kejadian itu, sekitar dua puluhan warga Ahmadiyah yang berada di dalam rumah
keluar. Massa sempat mundur. Namun dari arah selatan, massa yang datang bertambah banyak.
J umlahnya sekitar 1.500-an. Warga Ahmadiyah melakukan perlawanan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 69

Massa kemudian menyerang warga Ahmadiyah dengan apa saja. Batu, golok, pedang, hingga
tombak. Warga Ahmadiyah terpojok, tak berdaya dan menyelamatkan diri ke sawah. Warga
kemudian beramai-ramai mengejar. Mareka yang tertangkap ditelanjangi dan dipukuli beramai-
ramai. Mereka yang tertangkap, Rony, Mulyadi, Tarno, dan Masruddin. Rony, Mulyadi, dan
Tarno akhirnya tewas. Tubuh mereka penuh luka bekas sayatan dan tusukan. Camat Cikeusik
sempat mengatakan korban yang tewas ada lagi, yakni Deden Sujana. Tapi, kemudian, diketahui
Deden selamat. Para ahmadi yang dapat melarikan diri pun tak luput dari luka terkena senjata
tajam atau memar-memar terkena pukulan. Beberapa diantaranya kemudian di evakuasi ke
Rumah Sakit Serang.


Kondisi rumah setelah penyerangan terhadap pemeluk Ahmadiyah

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) J akarta dan sejumlah LSM lainnya lagi mempunyai versi
sendiri seputar penyerangan dan pembantaian terhada warga Ahmadiyah di Cikeusik itu.
Menurut LBH, 17 orang Ahmadiyah yang datang dari J akarta tidak melakukan provokator apa
pun. Pernyataan LBH itu dikeluarkan karena muncul pemberitaan yang menyatakan penyebab
peristiwa itu warga Ahmadiyah sendiri. "Ada misleading akhir-akhir ini seolah-olah pemicu
penyerangan adalah 17 orang dari Ahmadiyah yang datang dari J akarta," kata Chairul Anam dari
Human Rights Working Group yang ikut mendampingi Arif, perekam video peristiwa di
Cikeusik yang kemudian rekaman itu menyebar ke mana-mana, termasuk You Tube.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 70

Pada jumpa pers di Komnas HAM, di J alan Latuharhary, J akarta Pusat, pada 11 Februari 2011.
Saudara Arif ini memberikan keterangan dan bukti rekaman dan akan meluruskan fakta-fakta
yang terjadi. Dari fakta-fakta itu terlihat kalau ini bukan rekayasa," ujar Chairul.
Pada 7 Februari 2011 Sekretaris J emaah Ahmadiyah Indonesia, Zafrullah Pontoh member
keterangan pers tentang peristiwa Cikeusik di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
Indonesia. Menurut Zafrullah, sehari sebelum terjadinya penyerangan, tiga warga Ahmadiyah
dibawa ke Polres Pandeglang. Alasan polisi, menurut Zafrullah, tiga warga Ahmadiyah tersebut
akan diminta keterangan perihal status imigrasi istri Parman yang merupakan warga Filipina.
"Sementara 25 warga Ahmadiyah yang lain diungsikan ke tempat aman guna menghindari
penyerangan," kata Zafrullah.
Mendengar informasi warga Ahmadiyah Cikeusik diungsikan, pemuda-pemuda Ahmadiyah
dari J akarta dan Serang segera berangkat ke Cikeusik dengan tujuan untuk mengamankan
warga Ahmadiyah. Mereka yang datang dari J akarta itu tiba di Cikeusik Ahad, 6 Februari 2011
pukul 08.00. J umlah semuanya 18 orang. Bersama tiga warga Ahnmadiyah Cikeusik mereka
kemudian menjaga rumah Suparman. Saat itu enam petugas polisi dan reserse kriminal sudah
berada di sana. Pada pukul 09.00 datang satu mobil polisi dan dua truk paukan pengedali massa.
Polisi, menurut Zafrullah, meminta warga Ahmadiyah yang berada di Desa Umbulan segera
meninggalkan lokasi dan tidak melawan jika ada serangan. Warga Ahmadiyah menolak, lalu
perwakilan polisi meninggalkan lokasi karena menerima telepon. Sejak saat itu tidak ada dialog
kembali. Warga Ahmadiyah kemudian berkumpul di dalam rumah Suparman.
Pukul 10.00, massa dari arah utara mendatangi lokasi warga Ahmadiyah. Mereka berteriak-
teriak sambil mengacungkan golok. "Ahmadiyah Hanguskan! Ahmadiyah buarakan!, Polisi
minggir! Kami yang berkuasa di sini!" Polisi di sekitar lokasi mendiamkan saja. Saat mendekati
halaman rumah Suparman, seorang wakil Ahmadiyah keluar untuk menemui massa. Tapi, massa
yang sudah beringas kemudian memukul warga Ahmadiyah tersebut. Melihat pemukulan itu,
21 warga Ahmadiyah yang bertahan di dalam rumah keluar melakukan perlawanan. Perlawanan
ini sempat membuat massa mundur.
Namun, gelombang massa yang datang makin banyak dan terus merangsek ke rumah
Suparman. Menurut Zafrullah, saat itulah mulai terjadi hujan batu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 71

Massa melempari rumah Suparman dengan bongkahan batu. "Kami bertahan dan terjadi hujan
batu. Mereka makin mendesak, kami terpojok dan kami masuk ke sawah, bubar. Tapi kemudian
dikejar dan dipukuli," kata Zafrullah mengutip keterangan salah seorang warga Ahmadiyah yang
selamat dari peristiwa penyerbuan itu.
Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten, penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah
di Cikeusik dipicu oleh pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh jemaah Ahmadiyah
Cikeusik. Menurut Ketua MUI Banten, Aminuddin Ibrahim, sejak 2008 jemaah Ahmadiyah
telah diberi arahan oleh MUI Banten untuk tidak melanggar SKB. Tapi, hal itu tak digubris oleh
pihak Ahmadiyah.
Setelah dilakukan pembinaan, kata Aminuddin, jemaah Ahmadiyah Cikeusik berkurang
hanya tinggal delapan orang, para mubalignya. Suparman sendiri masih menyebarkan
Ahmadiyah di wilayahnya. "Masyarakat Cikeusik merasa dibohongi. Suparman kembali
bergerak, yang tadinya delapan jadi 25 orang. Dia lakukan dakwah door to door dengan iming-
iming uang," ujar Aminudin. Pada bulan Februari, menurut Aminuddin, terjadi keresahan warga
yang ingin membubarkan kegiatan Ahmadiyah di kampung mereka. Pada 3 Februari aparat
kemudian menggelar rapat untuk menenangkan warga. Keresahan warga akhirnya bisa diredam
setelah Suparman dievakuasi. "Kemudian, tanggal 6 Februari, ada rombongan 17 orang
Ahmadiyah datang dari J akarta dengan dua mobil. Mereka langsung masuk dan siap dengan
senjata, berkarung-karung batu, ketapel, panah, parang," tutur Aminuddin.


Salah satu pelaku penyerangan kaumAhmadiyah

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 72

Sejumlah warga Cikeusik, kata Aminuddin, bersama sejumlah aparat, termasuk polisi dan
perangkat desa, kemudian mendatangi rumah Suparman yang di dalam terdapat warga
Ahmadiyah itu. Tujuannya, untuk mengosongka rumah itu karena khawatir terjadi kekerasan.
Kepada warga dan aparat yang mendatangi mereka, kata Aminuddin, para penganut Ahmadiyah
itu menyatakan akan tetap menjaga aset dan rumah tersebut. Polisi, ujar Aminudin, juga sempat
mendatangi mereka kembali dengan maksud untuk mengevakuasi mereka. Tapi mereka
bilang, jika tidak bisa mengamankan kami, biarkan kami mengamankan diri sampai mati, kata
Aminuddin. Cekcok mulut antara warga dan para penganut Ahmadiyah pun terjadi. Seorang
warga, menurut Aminuddin, terkena bacokan lebih dulu. Situasi pun tak terkendali dan
terjadilah pertikaian berdarah itu.
Peristiwa berdarah Cikeusik itu memang mengejutkan banyak orang. Menurut Ketua Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia, Ifdhal Kasim, penyerangan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik
diduga dilakukan dengan cara terorganisasi dan sangat rapi. "Intelijen polisi juga tidak mampu
mengatasi dan memperkirakan pergerakan massa dalam jumlah yang besar," kata Ifdhal.
Massa yang datang tersebut, kata Ifdhal, sebagian besar tidak berasal dari warga Ciekusik,
Banten, tapi dari daerah-daerah sekitar Cikeusik. Komnas HAM menyimpulkan, telah terjadi
pelanggaran HAM terhadap warga Ahmadiyah dalam peristiwa itu. "Pelanggaran hak hidup, hak
beragama dan beribadah, hak rasa aman, dan hak atas milik pribadi," ujar Ifdhal.

LPSK Melindungi Tiga Saksi Kunci
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah memberi perlindungan kepada para
saksi, korban, juga tersangka yang mengetahui atau terlibat dalam peristiwa ini. Di antara mereka
yang mendapat perlindungan adalah Suparman (Ketua J emaah Ahmadiyah Cikeusik), Atep
(Sekretaris), dan Deden Sujana. Ketiganya merupakan saksi kunci. Menurut Nurkholis dari LBH
J akarta, ketiganya harus mendapat perlindungan dari LPSK karena mereka mengetahui persis
siapa aktor di belakang penyerangan tersebut. Ada Muspida dan tokoh agama setempat yang
memaksa untuk membubarkan J amaah Ahmadiyah Indonesia. J adi mereka tahu persis siapa
aktor di belakang ini, kata Nurkholis yang juga menjadi kuasa hukum ketiga saksi kunci itu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 73


LPSK juga melindungi Arif yang merekam kejadian di Cikeusik. Tak hanya Arif, LPSK juga
mengantisipasi keamanan keluarga Arif. Menurut Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai,
Komnas HAM menyebutkan Arif memiliki informasi penting mengenai tragedi penyerangan
jemaah Ahmadiyah. Atas laporan Komnas HAM inilah, kata Semendawai, LPSK akan
memberikan perlindungan dan pendampingan secara fisik kepada Arif. Perlindungan akan
kami koordinasikan dengan Komnas HAM dan kepolisian, kata Semendawai. Arif, warga
Ahmadiyah asal Banten, leluasa merekam pembantaian tersebut karena mengaku sebagai
kontributor sebuah televisi swasta nasional.
Tak hanya tiga saksi kunci anggota jemaah Ahmadiyah yang mengajukan perlindungan ke
LPSK. Tim Pengacara Muslim (TPM) yang dipimpin Mahendradatta, juga meminta LPSK untuk
melindungi lima warga Banten yang ditetapkan sebagai tersangka kasus itu. Tapi, LPSK
menilai mereka tidak masuk dalam kategori saksi yang perlu dilindungi.
1. Vonis Ringan Para Tersangka
Kasus ini kemudian berakhir di pengadilan. Setelah melakukan sidang berpekan-pekan,
pada Kamis 28 J uli 2011, Majelis hakim Pengadilan Negeri Serang, Banten akhirnya
menjatuhkan hukuman 3 sampai 6 bulan penjara kepada 12 terdakwa yang dinyatakan
terbukti melakukan penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik. Putusan
Pengadilan Negeri Serang ini tidak jauh berbeda dengan tuntutan jaksa. J aksa penuntut
umum sebelumnya menuntut para terdakwa dengan tuntutan lima hingga tujuh bulan
penjara. Mereka yang divonis itu:
1. Ujang M Arif bin Abuya Surya divonis 6 bulan penjar
2. Endang bin Sidik divonis 6 bulan penjara
3. Muhamad bin Syarif divonis 6 bulan penjara
4. Muhamad Munir divonis 6 bulan penjara
5. Adam Damini divonis 6 bulan penjara
6. Idris alias Idis bin Mahdani divonis 5 bulan 15 hari penjara
7. Dani bin Misra (17 tahun) divonis 3 bulan penjara
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 74

8. Yusri bin Bisri divonis enam bulan penjara
9. Muhamad Rohidin bin Eman divonis 6 bulan penjara
10. Saad Baharuddin divonis 6 bulan penjara
11. Ujang Sahari divonis 6 bulan penjara
12. Yusuf Abidin divonis 6 bulan penjara.

Sementara itu, pada 15 Agustus 2011 majelis hakim Pengadilan Serang juga menghukum
enam bulan penjara kepada Deden Sujana, warga Ahmadiyah. Deden dinyatakan bersalah
karena dianggap melawan aparat keamanan, menolak dievakuasi dan melakukan penganiayaan
terhadap Idris . Deden juga dinilai menjadi pemicu insiden bentrokan Cikeusik. Deden yang
juga terluka parah sebelumnya sempat dikabarkan tewas. J aksa sendiri tak melakukan banding
terhadap vonis yang dijatuhkan kepada para tersangka pelaku kerusuhan di Cikeusik itu.
Ringannya vonis yang dijatuhkan kepada para pelaku tersebut mendapat kecaman dari mana-
mana. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menyebut vonis itu terlalu rendah.
Direktur Eksekutif Elsam, Indriaswati Dyah Saptaningrum menyatakan, pengadilan telah gagal
menjadi benteng terakhir penegakan hukum dan HAM. Elsam menyesalkan rendahnya hukuman
itu, Menurut Elsam secara faktual peristiwa Cikeusik ini bukan merupakan peristiwa kejahatan
biasa, tapi kejahatan serius.
Suara keprihatinan juga muncul dari DPR. "Bagaimana seseorang pelaku yang menghilangkan
tiga nyawa orang lain dihukum begitu ringan? Ini sama artinya dengan memberi sinyal toleransi
atas tindak kekerasan," kata Eva Sundari anggota Komisi III dari Fraksi PDI Perjuangan.
Setara Institute juga mengecam diajukannya Deden sebagai tersangka. Menurut lembaga yang
bergerak antara lain dalam bidang penegakan HAM tersebut, Deden tak layak dijadikan
terdakwa apalagi divonis bersalah karena ia justru korban penyerangan berutal itu.




Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 75


Memerangi Human Trafficking

ternational Organization for Migration (IOM) mengumumkan hasil penelitian yang sangat
mengejutkan. Dari penelitian yang mereka lakukan di berbagai belahan dunia, Indonesia
disebut menempati posisi teratas sebagai negara asal korban perdagangan manusia. Hingga
J uni 2011 lalu, IOM mencatat terdapat 3.909 korban perdagangan manusia yang sebagian besar
merupakan perempuan.
"Masing-masing 90 persen perempuan dan 10 persen laki-laki dalam kategori dewasa.
Sedangkan untuk korban usia anak, 84 persen perempuan dan 16 persen laki-laki," kata Menteri
Negera Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar di J akarta saat
membuka acara peluncuran proyek empower di Hotel Aryaduta J akarta, Kamis, 3 November
2011.
Menurut Linda Gumelar, Pemerintah sangat serius memberantas kejahatan human trafficking
ini. Salah satunya dengan diterbitkannya UU No 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak
pidana perdagangan orang serta dibentuknya gugus tugas tingkat pusat tentang pencegahan dan
penanganan kasus yang sama lewat Perpres No 69 tahun 2008," kata Linda.
UNICEF, seperti dikutip humantrafficking.org., memperkirakan ada sekitar 100 ribu
perempuan dan anak-anak yang terjebak dalam lalu-lintas perdagangan manusia. Menurut
UNICEF, sekitar 30 persen dari jumlah tersebut adalah perempuan di bawah umur 18 tahun
yang dipekerjakan di industri prostitusi, baik di lingkup nasional maupun internasional. Di
lingkup internasional, umumnya negara yang dijadikan tujuan ialah Malaysia, Singapura,
Taiwan, J apan, Hongkong, serta negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Perdagangan manusia (human trafficking) telah menjadi persoalan sangat serius di Indonesia.
Situs berita online The JakartaGlobe.Com menyebut untuk tahun 2010 saja tercatat hampir 4.000
kasus human trafficking terjadi di Indonesia, yang mayoritas melibatkan perdagangan anak di
bawah umur untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks di luar negeri. Secara nasional, dari jumlah
keseluruhan kasus human trafficking yang terjadi, sebanyak 23 persen berasal dari J awa Barat.
I
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 76

Situs berita online, Antaranew.com, menyebutkan Sukabum merupakan daerah terbesar kedua di
Indonesia, setelah Indramayu, sebagai daerah yang paling banyak terjadi kasus perdagangan
manusia,
Elis Nurbaeti, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)
Kabupaten Sukabumi kepada wartawan di Sukabumi, 7 Desember 2011, menyatakan, selama
setahun terakhir lembaganya sudah menangani sebanyak 68 kekerasan terhadap wanita dan
anak. "Dari 68 kasus tersebut, 40 persennya merupakan kasus perdagangan manusia," katanya.
Menurut Elis, sampai saat ini sudah 27 kasus perdagangan manusia yang ditangani oleh
P2TP2A. Kebanyakan korban dijual ke Malaysia dan Batam dengan iming-iming bekerja dengan
gaji yang cukup besar.

Sebagian besar korban perdagangan manusia adalah perempuan

Tini binti Hari, 24 tahun, warga Kampung Babakan Genteng, RR/RW. 04/06, Desa
Lembursawah, Kecamatan Cicantayang, Kabupaten Sukabumi dipulangkan ke keluarganya
dalam kondisi terbungkus peti mati. Seperti diberitakan Republika (17 Oktober 2011) dan Pos
Kota (20 Oktober 2011), Tini adalah korban human trafficking. Di bulan Agustus 2010, Tini
berangkat ke Malaysia, ia dijual kepada seorang majikan di J ohor Baru, Malaysia, oleh sebuah
perusahaan yang tidak jelas. Baru sekitar setahun Tini di negeri jiran itu, pihak keluarga
kemudian mendapat kabar kematiannya dari pemerintah desa dengan keterangan sederhana:
mengidap TBC.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 77

Apa yang menimpa Tini hanya sebagian dari serangkaian panjang cerita sedih dan tragis kasus
kanibalisme manusia atas sesamanya ini. Ini pula, misalnya, yang menimpa Yanti, 36 tahun,
salah satu dari 27 perempuan korban perdagangan manusia asal Kampung Gunungguruh RT 34
RW 17, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, kabupaten Sukabumi. Akibat, tertipu iming-
iming dipekerjakan dengan gaji besar di luar negeri, Yanti dijebak menjadi pekerja seks
komersial di Malaysia. Bersama sejumlah perempuan lainnya Yanti dibawa ke negeri jiran
tersebut.
Para perempuan itu dijadikan pekerja seks untuk menopang industri pariwisata di sana. Untuk
mereka dengan modal wajah yang cantik dan suara cukup merdu akan ditempatkan di kafe-kafe.
Sementara mereka yang lain, biasanya akan dilempar ke kawasan perkebunan sawit, dijadikan
perempuan-perempuan penghibur para buruh dan mandor perkebunan.
Faktor kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan serta keinginan untuk mendapatkan
penghasilan besar dan kekayaan secara cepat membuat persoalan human trafficking menjadi
persoalan yang rumit dan kompleks. Eva Biaudet, anggota Forum Tetap PBB untuk Masyarakat
Adat (UNPFII), satu badan penasehat untuk Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC), yang
telah bekerja di 66 negara menangani masalah human trafficking, menyebutkan bagaimana
sulitnya menghentikan perdagangan manusia. Tidak seorangpun bisa menyelesaikan masalah
itu," kata Biaudet.
Saksi dan Korban Enggan Melapo
Apa yang dinyatakan Eva Biaudet menunjukkan perlunya keterpaduan untuk memerangi
human trafficking. Terlebih, persoalannya tidak hanya didasari faktor ekonomi dan sosial, tetapi
kesulitan untuk memerangi kasus human trafficing ini juga terkait dengan soal kultural.
Sulitnya menghentikan derasnya laju perdagangan manusia seperti yang dialami Yanti, menurut
Elis Nurbaeti, salah satunya disebabkan banyak saksi dan korban human trafficking enggan
melaporkan apa yang mereka alami.
Faktor pertimbangan malu menjadi kendala kultural yang membuat para slave holder makin
leluasa menjalankan aksinya. Mendatangi desa-desa yang terjebak dalam kemiskinan rumit,
membujuk rayu orang-orang desa dengan iming-iming pekerjaan di kota dan di luar negeri
bergaji besar.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 78

Membebaskan mereka yang telah terjebak dalam lingkaran perdagangan manusia di luar negeri
menjadi persoalan yang sama sulitnya, bahkan bisa jadi lebih sulit dibandingkan dengan upaya
membebaskan pekerjal Indonesia yang terjebak kasus hukum dan diancam hukuman mati di
Timur Tengah. Pendekatan hukum dan kultural beserta negosiasi dengan sejumlah pihak terkait
seperti yang jamak dilakukan untuk kasus TKI bermasalah jelas tidak cukup. Mereka yang telah
menjadi komoditi di dalam bisnis prostitusi di luar negeri tersebut berada dibawah penguasaan
para sindikat kejahatan perdagangan manusia internasional yang impersonal sifatnya.

Di beberapa negara Asia Tenggara yang juga terhitung tinggi kasus human trafficking-nya
seperti, misalnya, Kamboja, pelibatan sejumlah NGOs international sudah dilakukan. Upaya ini
cukup berhasil di tingkat preventif, namun tetap sulit untuk menembus jaringan kejahatan
perdagangan manusia yang berifat international tersebut. SISHA, salah satu NGOs internasional
yang bekerja sama dengan NGO lokal di Kamboja memasifkan kampaye ke kalangan remaja
sebagai salah satu upaya preventif mengatasi permasalahan human trafficking, misalnya dengan
menyelenggarakan MTV EXIT (End Exploitation and Trafficking) yang melibatkan kemitraan
global.

Untuk Indonesia, khususnya daerah Indramayu dan Sukabumi yang menempati tingkat pertama
dan kedua tertinggi kasus human trafficking secara nasional, upaya preventif masih terbatas
dan bisa dikatakan tidak melibatkan jejaringan baik yang bersifat nasional maupun
internasional. Padahal, masalah human trafficking adalah permasalahan global yang harus
disikapi dengan pendekatan yang bersifat nasional dan transnasional.

Langkah preventif secara secara holistik dan lintas sektoral, melibatkan berbagai institusi dan
lembaga terkait, mulai dari pemerintah setempat, kepolisian, Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, Dinas Kesehatan, dan Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan
(BKPP), mutlak dilakukan. Sementara langkah penanganan yang bersifat aksi pemulangan
perempuan-perempuan Indonesia yang masih terjebak dalam lingkaran perdagangan manusia
dan membongkar jaringan sindikat kejahatan perdagangan manusia tersebut harus melibatkan
tidak saja kepolisian lokal dan nasional, juga lembaga seperti Interpol, Departemen Pendidikan,
Departemen Sosial, dan Komisi Perlindungan Anak, karena banyaknya anak-anak yang menjadi
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 79

korban perdagangan lintas negara dan korban kejahatan pedofilia, juga Lembaga Perlindungan
Saksi dan Korban (LPSK).

P2TP2A misalnya, sampai hari baru dapat menyediakan fasilitas rumah singgah untuk para
korban perdagangan manusia. Keberadaan rumah singgah ini bisa dijadikan tempat pengaduan
dan pelaporan. Namun, masalahnya pengaduan dan pelaporan adalah persoalan lain yang tak
kalah rumitnya. Kerumitan ini terkait bukan saja kendala pada kultural yang disebut di atas,
tetapi juga ada ketakutan dan trauma yang menjadi kendala sosial yang psikologis sifatnya.
Bukan rahasia umum, bila lalu-lintas perdagangan manusia yang melibatkan aktor-aktor (slaves
holder) mulai dari tingkatan lokal, nasional, sampai internasional itu telah membentuk jaringkan
sindikat kejahatan yang rapi dan demikian terorganisir. Di tingkat lokal, ada para pemain kecil
yang disebut para pemetik, dengan tugasnya mencari kaki-tangan yang biasanya memiliki
kedekatan personal dan emosional dengan calon korban.

Kasus yang cukup menghebohkan di Amerika Serikat di tahun 2009 lalu misalnya, melibatkan
orang terdekat korban yang mengiming-imingi bekerja dan studi di Amerika Serikat. Sejumlah
perempuan belia pun diselundupkan dari beberapa negara di kawasan Afrika untuk kemudian
dipekerjakan di industri prostitusi. Untuk kasus di Sukabumi dan Indramayu, modul yang
digunakan kurang lebih sama. Para pemetik menggunakan jasa sejumlah orang terdekat dari
calon korban. Iming-iming pekerjaan dengan gaji besar tetap menjadi bahasa persuasi yang
efektif untuk menjerat calon korban yang memang berada dalam lingkaran kemiskinan ditambah
tingkat pendidikan yang rendah.

Adanya kesamaan modus operandi itu sebenarnya sudah mengindikasikan adanya rantai
kesalinghubungan kejahatan human trafficking antarnegara. Dengan kata lain, kasus
perdagangan manusia sebagaimana yang terjadi di Sukabumi merupakan kejahatan serius yang
bersifat dan berjejaring transnasional dengan tingkat ancaman yang tidak kurang seriusnya bagi
para saksi tersangka dan saksi korban.

Sebagaimana dinyatakan Eva Biaudet, kasus human trafficking tidak bisa disikapi secara
biasa dan sektoral yang hanya ditangani oleh otoritas lokal seperti kepolisian, tetapi, harus
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 80

melibatkan kerjasama yang terintegrasi antara daerah yang menjadi pemasok, otoritas lokal dan
nasional, negara yang menjadi tujuan, dan social networking seperti NGOs nasional dan
internasional dan yang tidak kalah pentingnya adanya peran lembaga yang dapat menjadi katup
pengaman para para saksi dan korban.





Kesuksesan menggagalkan kasus human trafficking, seperti di Pontianak pada bulan Agustus
2011, memang cukup memuaskan. Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Kepolisian Daerah
Kalimatan Barat berhasil menggagalkan penjualan manusia. Korban adalah dua gadis muda, Lis,
24 tahun dan Lin,18 tahun asal Kampung Cibungur, Desa Warung Kiara, Kabupaten Mojokerto
Sukabumi, J awa Barat. Setelah disekap selama beberapa hari, kedua korban rencannya akan
dijual ke Brunei Darussalam dengan iming-iming gaji 250 dollar setiap bulan. Namun,
keberhasilan mengungkap kasus ini hanya menghasilkan dua tersangka, Sutisna dan Syukur yang
hanya merupakan pemain kecil dalam kejahatan ini, bukan otak pelaku utamanya.

Sebagaimana galib banyak kasus human trafficking yang terbongkar, mereka yang terciduk
umumnya memang hanya pemain-pemain kecil di lapangan. Sulitnya untuk membongkar siapa
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 81

aktor yang lebih kuat terkait dengan ketakutan para pemain kecil yang dijadikan tersangka
untuk menjadi justice colaborator - tersangka yang mau bekerja sama oleh aparat penegak
hukum untuk membongkar kasus dan menyingkap pelaku utama.

Para pemain kecil ini jelas hanya kaki tangan di lapangan, bukan aktor utama. Mereka inilah
awal rantai awal untuk menelusuri jaringan hingga pelaku utama kejahatan tersebut. Tapi,
kekhawatiran bahwa pengakuan mereka akan mengancam diri dan keluarga mereka, membuat
mereka tak berani mengungkapkan apa yang mereka ketahui. Begitu pun untuk saksi pelapor.
Ketakutan tiadanya jaminan keamanan membuat mereka yang mengetahui dan memiliki
informasi memilih silent dan menjauhi resiko. Sementara menyangkut saksi korban, rasa
sungkan dan trauma yang dialami membuat mereka sangat sulit untuk dijadikan pintu guna
membongar rantai perdagangan manusia.

Kasus 27 korban human trafficking di Sukabumi jelas hanya persentase kecil dibandingkan
keseluruhan kasus yang sama yang terjadi di Indonesia. Ini hanya puncak dari sebuah gunung es
yang dapat diungkap. Sementara kenyataan sebenarnya tersembunyi dengan rapi. Perlu upaya
terpadu, dengan melibatkan lembaga dan berbagai institusi terkait untuk mencegah dan
memerangi kejahatan human trafficking. Dari tingkat hingga tingkat paling bawah, RW dan RT.
Tanpa upaya terpadu, maka kejahatan human trafficking akan terus terjadi.










Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 82

Video Kekerasan TNI di Puncak Jaya


engadilan Militer J ayapura menjatuhkan hukuman penjara 8 sampai 10 bulan penjara
kepada tiga tentara yang terbukti melakukan penyiksaan yang terekam video
handphone. Putusan itu dijatuhkan pada pada 24 J anuari 2011 atau berselang hanya 11
hari sejak pengadilan dimulai pada Kamis 13 J anuari 2011.

Ketiga anggota TNI tersebut adalah: Sersan dua Irwan Rizkianto, Prajurit Satu Yakson Agu,
dan Prajurit Satu Thamrin Makangiri dari Batalion 753 Kostrad. Tuduhan kepada mereka adalah
pelanggaran disiplin militer, bukan penyiksaan. Ketiganya dihukum masing-masing sepuluh
bulan, sembilan bulan, dan delapan bulan penjara. "Siapa pun prajurit Kodam
XVII/Cenderawasih yang melakukan pelanggaran hukum harus diusut tuntas dan ditindak tegas,"
kata Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor J enderal Erfi Triassunu.


Tiga Anggota TNI menjalani persidangan militer

Sidang yang mulai digelar pada 13 J anuari itu terbuka untuk umum. Masyarakat dan media
dapat menyaksikannya. Menurut Erfi, penyelesaian sidang dilaksanakan secara intensif dan
secepatnya sebagai upaya TNI untuk lebih serius menyelesaikan kasus tindakan kekerasan
tersebut. TNI, kata Erfi, berkomitmen menegakkan hukum

P
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 83

Hukuman untuk para prajurit itu sendiri dinilai terlalu ringan oleh Human Rights Watch
(HRW). Menurut HRW sistem peradilan militer Indonesia, kurang transparan, tidak independen,
dan tidak adil. Selama bertahun-tahun, pengadilan militer Indonesia telah gagal menyelidiki
secara memadai dan menghukum secara adil pelaku pelanggaran HAM yang dilakukan prajurit
TNI. Tuntutan hukuman yang diajukah pada tersangka pelaku pelanggar HAM, menurut HRW,
relatif tidak signifikan sementara hakim militer juga selalu menjatuhkan hukuman ringan.

Penyiksaan Terhadap Korban

Kasus ini bermula ketika Tunaliwor Kiwo, 50 tahun, dan tetangganya, Telangga Gire 30
tahun, mengendarai motor dari kampung mereka, Tinggi Nambut ke Mulia, ibu kota kabupaten
Puncak J aya. Di pos pemeriksaan militer di Kwanggok Nalime, Yogorini, kedua pria itu
dihentikan. Menurut pengakuan Kiwo dalam testimoninya, tentara kemudian menangkap dan
memukul mereka. Tangan mereka diikat, demikian juga kaki mereka -diikat dengan kawat
berduri- lalu diseret ke halaman belakang pos militer.

Kiwo mengaku disekap dan disiksa selama tiga hari. Selama disekap dia dipukul dengan
tangan kosong dan pentungan, dijepit jempolnya dengan tang, disekap kepalanya dengan
kantong plastik, disundut kelaminnya, dan dilukai bagian tubuh dan kepalanya. Luka-lukanya
itu, kata Kiwo, kemudian diolesi cabai. Rekaman testimoni Kiwo tentang penyiksaan tersebut
muncul dalam situs jejaring Engage Media.

Selain pengakuan Kiwo, bukti kasus kekerasan yang terjadi itu juga berwujud rekaman video
berdurasi 10 menit. Video itu merekam gambar dua pria yang berbicara dengan dialek Lani
dengan tangan diikat dipunggung dan tubuh telentang di atas tanah kotor. Kedua korban
dikelilingi pria yang membawa senjata dan alat komunikasi. Keduanya dimintai konfirmasi
tentang informasi dugaan keberadaan timbunan senjata dan pember ontak OPM. Penduduk
Papua sendiri mengidentifikasi lokasi peristiwa tersebut terjadi di sebuah tempat dekat Tinggi
Nambut di Kabupaten Puncak J aya. Kedua pria yang disiksa itu tidak lain Kiwo dan Gire. Data
di video menunjukkan, penyiksaan dimulai pukul 13:26 pada 30 Mei, 2010.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 84

Video itu menunjukkan bagaimana Kiwo dilucuti bajunya hingga hanya mengenakan pakaian
dalam. Ketika ditanyai tentang senjata, Kiwo menjawab bahwa dia hanya penduduk sipil dari
Tinggi Nambut dan tak tahu menahu perihal senjata.

Selang dua menit, salah satu interogator mulai memukul wajahnya dan menginjak dadanya
dengan sandal dan sepatus. Video kemudian beralih ke Gire yang telentang di dekat Kiwo ketika
salah satu interogator berulangkali menampar wajahnya dan menekankan pisau ke hidung dan
lehernya. Kemudian video kembali fokus pada Kiwo, disertai terikan, "Bakar penisnya! ... Bakar
penisnya." Kiwo menjerit saat sepotong kayu membara berulang ulang disundutkan ke alat
kelaminnya.

Kiwo terus menjerit sampai seorang interogator menodongkan senjata semi-otomatis ke
mulutnya dan berkata, "Tutup mulutmu.. tutup mulutmu. Akan kutembak... akan kutembak
mulutmu." Kiwo berhent dan kemudian si interogator terdengar berkata: "Kamu jujur ya? Kini
tunjukkan senjatamu. Bawa kami ke senjatamu. Saya akan membakar lagi penismu ... di mana
senjata itu? Apakah kamu menyimpan di gerejamu? Di rumahmu? Di hutan? Di sungai?
dikubur? Katakan saja. J ujur saja. Kami orang yang cinta damai."

Dewan Adat Papua melaporkan tindak kekerasan ini ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
(Komnas HAM) pada Agustus 2010, setelah mewawancarai Telangga Gire pada bulan J uli.
Salah satu anggota Dewan Adat Papua menyatakan bahwa penyiksaan itu mungkin melibatkan
anggota batalion Kostrad 753.

Menggapi laporan tersebut Komnas HAM menuntut adanya investigasi khusus atas rekaman
itu. Komisioner Komnas HAM, Yoseph Adi Prasetyo mengatakan, pihaknya akan menyelidiki
laporan kekerasan di Papua secara keseluruhan. Video itu hanya merupakan salah satu bagian.
"Komnas HAM telah menerima laporan-laporan tentang adanya kekerasan di Papua tiga minggu
sebelum video tersebut beredar," kata Yoseph di Kantor Komnas HAM. Salah satu laporan yang
diterima Komnas HAM, ditemukannya potongan kepala yang terpisah dari badan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 85


Salah satu warga Papua yang menjadi korban penyiksaan oleh Anggota TNI

Peristiwa penyiksaaan ini menjadi isu internasional. Pada 17 Oktober video penyiksaan atas
Kiwo dan Gire beredar di Youtube. Adalah lembaga swadaya masyarakat Asian Human Rights
Commission (AHRC) yang berbasis di Hong Kong, Cina, yang menyebarkannya pada 17
Oktober.

Sejumlah lembaga hak asasi manusia (HAM) pun mendesak pemerintah Indonesia untuk
menginvestigasi kebenaran dari video itu. Salah satunya adalah Human Rights Watch (HRW)
yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. "Siapa pun yang terlibat dalam kekerasan ini
harus dibawa ke jalur hukum. Publik perlu melihat bahwa keadilan dijalankan," kata Wakil
Direktur HRW untuk kawasan Asia, Phil Robertson, dalam situs lembaga independen ini pada 20
Oktober 2010.

Sejak itu kasus video penyiksaan menjadi bahan berita media nasional dan internasional.
Luasnya pemberitaan tersebut mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar
sidang kabinet terbatas pada 22 Oktober dan setelah itu Menkopolkam Marsekal Djoko Suyanto,
mengakui kebenaran video tersebut.

Presiden SBY memerintahkan penyelidikan terhadap penyiksaan yang diduga dilakukan
aparat militer tersebut , walau kemudian tidak diumumkan hasilnya. Sementara Dewan Adat
Papua kemudian meminta Kiwo memberikan testimoninya serta merekamnya dalam format
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 86

video. Rekaman testimoni Kiwo inilah yang dilaporkan oleh wakil Dewan Adat Papua ke
Komisi Nasional HAM pada 5 November. Komnas lalu membentuk komisi khusus untuk
menyelidiki peristiwa penyiksaan tersebut serta pelanggaram HAM lain yang terjadi di puncak
Puncak J aya.

Sementara itu pada 12 November Mayor J endral Hotma Marbun, yang baru bertugas sejak
J anuari, dipindahkan dari posnya sebagai komandan militer Papua. Dalam pengumumannya,
pemerintah menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan rotasi rutin di tubuh militer. Kendati
demikian, banyak yang yakin perpindahan itu berkaitan erat dengan kasus penyiksaan yang
terungkap ke publik tersebut. Marbun digantikan oleh Brigadir J endral Erfi Triassunu.

HRW mendesak negara-negara donor seperti Amerika Serikat, Australia, dan Inggris, yang
selama ini memberi bantuan kepada Indonesia, menekan Pemeintah Indonesia agar melakukan
penyelidikan kasus penyiksaan di Papua tersebut hingga tuntas. Semua pelakunya harus diseret
ke meja hijau. Menurut Robertson, kepastian hukum dalam kasus ini menjadi ujian dan kunci,
tak hanya untuk Indonesia, tapi juga bagi negara mana pun yang memberi bantuan militer bagi
Indonesia. "Kredibilitas pemerintah, militer, dan mereka yang memberikan bantuan militer,
semua dipertaruhkan."


Warga Papua mendesak pemerintah segera mengusut kasus pelanggaran HAM di Papua

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 87

Peristiwa ini juga diberitakan oleh CNN. Televisi international tersebut mewawancarai Donna
Guest, Wakil Direktur Amnesty International untuk Asia Pasifik. "Kasus ini adalah pengingat
terbaru bahwa penyiksaan dan perlakuan buruk di Indonesia sering tak tersentuh hukum serta
pelakunya bisa bebas dari jeratan hukum," kata Guest. CNN juga mengutip pernyataan dari juru
bicara TNI, Aslizar Tanjung, yang mengatakan pihaknya masih harus membuktikan keaslian
video ini, termasuk lokasi, waktu, dan aktivitas yang terekam dalam video. "Prajurit Indonesia
mendapat pendidikan standar operasi sehingga mereka diwajibkan sadar, bertanggung jawab, dan
mereka pun diberikan pengetahuan soal HAM. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di
lapangan," kata Aslizar.

Aslizar berjanji, TNI akan segera mengusut video tersebut sehingga ada klarifikasi yang jelas
mengenai apa sebenarnya yang terjadi. "Sejauh ini, baru tuduhan dan kami harus buktikan
keasliannya." Laman asal Inggris, The Guardian pun dengan rinci menjelaskan kekerasan yang
terdapat dalam video tersebut. Menurut Guardian video ini diambil menggunakan telepon
genggam milik salah satu interogator.

TNI memang melakukan pengusutan atas rekaman video tersebut. Pada 12 J anuari 2011,
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor J enderal Erfi Triassunu menetapkan tiga anggota TNI
sebagai tersangka kekerasan terhadap warga Puncak J aya itu. Ketiga tersangka diadili di
Pengadilan Militer (Dilmil III-09) J ayapura. Mereka, Sersan Dua Irwan Rizkianto, Prajurit Satu
Yakson, dan Prajurit Satu Thamrin Makangiri. "Sejak beredarnya video kekerasan di internet
kami mengirimkan tim khusus ke Puncak J aya untuk mengetahui lebih jauh kebenaran" kata Erfi
kepada wartawan di J ayapura, Rabu 12 J anuari 2011.

Sidang dipimpin oleh Hakim Ketua Letkol Chk. Adil Karo-Karo S.H, dengan hakim anggota
Letkol Chk. Affandi, S.H, dan Mayor Chk. Heri, S.H. Ada pun penasehat hukum terdakwa,
Kapten Chk. Sony Oktavianus, S.H.

Dalam sidang tersebut Irwan Rizkianto dituntut 12 bulan penjara, Yakson sepuluh bulan
penjara, dan Thamrin Makangiri sembilan bulan penjara. Hakim sendiri kemudian memvonis
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 88

Irwan sepuluh bulan penjara, Yakson, sembilan bulan penjara, dan Thamrin delapan bulan
penjara.

Sebelumnya, Kodam XVII/Cenderawasih telah memvonis empat anggota TNI yang didakwa
menganiaya warga Desa Gurage, Puncak J aya, seperti terekam di video kekerasan yang
kemudian dilansir pada laman Situs YouTube. Keempat terdakwa adalah Praka Sahminan Husain
Lubis (Anggota Pos Gurage), Prada J oko Sulistiono (Anggota Pos Kalome), Prada Dwi
Purwanto (Anggota Pos Gurage), dan komandan mereka, Letnan dua Cosmos N. dari Kesatuan
753 AVT/Nabire, Kodam XVII/Cendrawasih. Pengadilan militer yang dipimpin Kolonel Laut
(KH) Adnan Madjid,SH,MH, pada 9 November 2010 menjatuhkan vonis tujuh bulan hukuman
penjara pada Cosmos dan lima bulan penjara untuk tiga tentara lainnya karena terbukti
melakukan penganiayaan terhadap warga Desa Gurage, Tinggi Nambut, Puncak J aya.

Menurut Cosmos, insiden terjadi ketika timnya yang beranggotakan 12 prajurit melakukan
patroli rutin pada 17 Maret 2010 pukul 23.00 dari Illu menuju Gurage. Saat itu, ia mengatakan
menerima infomasi inteligen tentang adanya anggota OPM bersenjata AK-47 di Desa Gurage.
Tim memasuki desa itu dan memisahkan wanita dari pria. Mereka kemudian menginterogasi
warga satu demi satu. J ika jawaban tersebut tak memuaskan, para prajurit itu menendang dan
memukul warga. Peristiwa itu direkam Prajurit Dua Ishak dengan handphone milik Cosmos atas
perintah Cosmos.

Menurut Ishak, hasil dari rekaman itu langsung diserahkan kepada Cosmos dan dia mengaku
tidak lagi mendapat informasi, apakah rekaman itu sudah diserahkan ke atasan mereka lagi atau
tidak. Cosmos sendiri, saat diperiksa, mengaku tindak kekerasan tersebut terpaksa dilakukan
karena, meski telah dilakukan pendekatan persuasif, masyarakat tetap tak mau menyebutkan
keberadaan anggota OPM tersebut.


Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 89

Cosmos menyatakan tak mengecek video itu karena handphone tersebut rusak dan kemudian
dia servis. Cosmos mengaku heran, kenapa video itu kemudian bisa beredar di internet. Video
ini, yang menjadi bukti dalam persidangan, antara lain berisi suara seseorang yang dengan suara
keras berkata, menjalankan perintah negara, jelas. Saya disini berdasarkan tugas, tugas
negara
Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigadir J enderal TNI Wiryantoro NK,
penyelesaian kasus-kasus kekerasan oleh anggota TNI di Papua adalah bagian dari kebijakan
pimpinan TNI AD yang mengedepankan pendekatan hukum. "Siapa pun prajurit yang
melakukan pelanggaran, pasti akan ditindak tegas sesuai dengan apa yang dilakukannya," kata
Wiryantoro.

Mengenai kasus Kiwo dan Gire, Wiryantoro mengatakan, meski ketiga prajurit ketika kejadian
tersebut sedang melaksanakan tugas negara, namun tindakan kekerasan saat melakukan
interogasi tetap tidak dibenarkan secara prosedur operasi maupun oleh pimpinan angkatan.
"Cara-cara interogasi seperti itulah yang tidak dibenarkan, melanggar HAM. Harusnya tidak
dengan cara demikian," kata Wiryantoro










Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 90

Pembunuhan Wartawan: Dulu Udin, Kini Alfrets


TOPSI ulang itu menghasilkan satu kesimpulan: Alfrets Mirulewan tewas karena
dibunuh! Tim Forensik Markas Besar Polri menyatakan kesimpulannya tersebut
setelah memeriksa jasad Alfrets sejak Selasa, 11 J anuari 2011 hingga Rabu esok
harinya. Untuk melakukan otopsi tersebut tim mengeluarkan jasad Alfrets yang sudah
dimakamkan keluarganya. Hasil otopsi menguatkan dugaan, terutama bagi rekan-rekannya
sesama wartawan, Alfrets tewas berkaitan dengan aktivitasnya menyelidiki penyelundupan
BBM di Pulau Kisar.

Menurut Thimotius Miruwelan, kakak Alfrets, berdasarkan keterangan tim forensik, adiknya
tewas akibat benturan benda tumpul di bagian belakang kepalanya. Benturan itu membuat
tempurung kepalanya pecah serta rahang kiri-kanannya patah. "Sebagian besar bagian leher
hingga kepala hancur dan patah akibat benturan benda keras," kata Thimotius.



Mayat Alfrets ditemukan terapung

Alfrets, 28 tahun, ditemukan tewas mengapung, J umat dini hari, 17 Desember 2010 di dekat
Dermana Pantai Nama, Pulau Kisar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku setelah
menghilang sejak 15 Desember 2010.


O
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 91

Sebelum hilang dan kemudian ditemukan tak bernyawa, dia tengah melakukan investigasi
penyeludupan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Wonreli-Kisar Kecamatan Pulau-Pulau
Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya. Alreft adalah Pemimpin Redaksi Mingguan Pelangi.

Leksi Kikilai, rekan Alfrets yang juga menjadi saksi dalam kasus ini bercerita pada Selasa
(14/12) malam, dia dan Alfrets mengunjungi Pelabuhan Pantai Nama untuk melakukan
investigasi transaksi gelap BBM. Keduanya mengendarai sepeda motor. Di sana, dia ditinggal
sendirian di pelabuhan, sementara Alfrets membuntuti sebuah truk yang mengangkut BBM dari
pelabuhan menuju ke Desa Yawuru, yang berlokasi tak jauh dari situ.

Di tengah jalan, saat membuntuti truk, dia dipergoki seorang penumpang truk. Penumpang itu
sempat menanyai identitas korban. "Mereka juga sempat adu mulut karena pertanyaan dari
penumpang truk. Tapi akhirnya Alfrets membuka identitasnya sebagai wartawan," kata Leksi.
Setelah itu Alfrets kembali ke pelabuhan menemui Leksi. Mereka berdua sempat berbincang
dengan petugas pelabuhan. Tak lama kemudian petugas mengarahkan keduanya keluar dari
pelabuhan dan menutup pintu pelabuhan.

Ketika keduanya sedang berbincang di pelataran parkir pelabuhan, kata Leksi, ternyata truk
yang tadi dibuntuti korban kembali ke pelabuhan tapi dengan sopir berbeda. Melihat ada
kejanggalan, Alfrets kembali masuk ke pelabuhan untuk menanyai sopir truk itu. Setelah itu,
Alfrets kemudian mengantar Leksi pulang ke kosnya. Menurut Leksi saat itulah terakhir dia
melihat Alfrets.

Para wartawan di Ambon segera menuntut kepolisian menangkap pelakukan pembunuhan
tersebut. Para wartawan yang tergabung dalam Maluku Media Centre (MMC) juga melakukan
investigasi, mencari dan mengumpulkan informasi berkaitan dengan tewasnya rekan mereka.





Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 92

Sekitar 33 orang yang diduga mengetahui dan terlibat pembunuhan tersebut diperiksa
Kepolisian Daerah (Polda) Maluku. Dari jumlah tersebut, polisi menetapkan lima tersangka,
yakni Ricard Silampesi, Briptu Markus Sahureka, Risan Austen, Thomas Pokey dan Imanuel
alias Ima. Briptu Markus adalah anggota Ditpolairud sedang Imanuel dan Thomas Pokey
pegawai Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) CV Yotowawa milik Titus Tilukay.


Alfrets Mirulewan

Menurut Thimotius Miruwelan, Ricard Silampesi adalah anak mantu dari pemilik pemilik
APMS CV Yototawa, Titus Tilukai. Dua saksi kunci yang menyaksikan pembunuhan Alfret
adalah Risan Austen, pegawai ekpedisi Pante Nama dan Bampret, penjaga gudang milik APMS
tempat korban dibunuh. Kepada penyelidik Thomas dan Imanuel mengaku memukul korban
sebanyak empat kali. Dua diantaranya, dengan pipa, ditujukan ke kepala. Setelah tewas, korban
dibuang ke laut menggunakan sampan milik nelayan setempat J umat dini hari. Pelaku lainnya
membantu membuang korban ke laut.

Direktur Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Maluku AKBP J hon Siagian menyatakan Alfrets
disekap dan disiksa di dalam salah satu gudang sebelum kemudian mayatnya dibuang di
Pelabuhan Nama Kisar. Kordinator Maluku Media Centre (MMC), Insany Syahbarwati,
mengakui kelima orang tersebut memang diduga kuat pelaku penyiksaan dan pembunuhan
terhadap Mirulewan. Hasil investigasi tim MMC lima orang ini diduga kuat turut terlibat
melakukan pembunuhan terhadap Alfrets Mirulewan," kata Insany.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 93

Walau demikian Insany mengatakan lima tersangka tersebut hanyalah pion. "Mereka
hanyalah pion. Seharusnya polisi menangkap otak penggeraknya," kata Insany. Menurut dia, ke
lima tersangka tersebut kerabat dekat dan pegawai Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS)
CV Yotowawa milik Titus Tulukay yang merupakan satu-satunya di Kisar.

Atas dasar itulah, MMC mendesak Kapolda Brigjen Polisi Syarief Gunawan mengungkap otak
pembunuhan Alfred. MMC juga mendesak Kapolda Maluku memproses hukum sejumlah pihak
yang memberi informasi bohong terkait kematian Alfred, di antaranya hasil visum Puskesmas
Kisar yang berbeda jauh dengan hasil otopsi tim forensik Mabes Polri.

Penyiksaan dan Penyembunyian Saksi Kunci

Pada 8 Maret 2011 empat tersangka pelaku pembunuhan Alfrets mencabut berita acara
pemeriksaan (BAP) mereka. Mereka, Markus Sahureka, Ricard Silampesi, Imanuel dan Thomas.
Menurut penasehat hukum ke empat tersangka, J onathan Kainama, pencabutan dilakukan
setelah keempatnya dikonfrontir oleh penyidik Polda Maluku. Saksi kunci Risan Austen, kata
Kainama, juga mencabut BAP, karena adanya sejumlah kejanggalan dalam pemeriksaan. Saat
pemeriksaan, kata Kainama, ada tekanan dan kekerasan yang dilakukan polisi kepada para saksi
agar mengakui perbuatannya, termasuk pemukulan.

Kepala Komnas HAM Perwakilan Maluku, Ot Lawalata menilai dalam penyelidikan dan
penyidikan kasus pembunuhan ini ada indikasi pelanggaran HAM. Menurut Ot Lawalata, ada
orang yang keterangannya diperlukan, justru disembunyikan polisi. "Kami sudah melakukan
investigasi. Saksi kunci Risan Austen justru disembunyikan di rumah Direskrim, kata Lawalata.
Menurut Lawalata perlindungan terhadap saksi seharusnya dilakukan Lembaga Perlindungan
Saksi dan Korban (LPSK), bukan di rumah Direskrim.

Pada 14 Oktober 2011 Pengadilan Negeri Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat,
Maluku, memvonis bersalah empat terdakwa pembunuh Alfrets. Ricard dihukum sembilan tahun
penjara, Markus 7 tahun, Imanuel 5 tahun, dan Thomas 3 tahun penjara. Menurut Ketua majelis
hakim yang juga Ketua Pengadilan Negeri Saumlaki, Putu Gde Hariadi, semua terdakwa
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 94

terbukti bersalah, melakukan tindak pidana pasal 338 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 seperti dakwaan
jaksa, yaitu menganiaya Alfrets hingga meninggal dunia. Putu Gde menyatakan, motif para
pelaku melakukan penganiayaan tidak terlihat selama persidangan karena keempatnya
membantah melakukan perbuatan tersebut.

Kekerasan terhadap jurnalis juga menimpa wartawan Sun TV (grup MNC) di Tual, Maluku
Tenggara, Ridwan Salamun. Ridwan tewas ketika meliput bentrokan antarwarga komplek
Banda Eli dan warga Dusun Mangun di Desa Fiditan, Tual, pada 21 Agustus 2010. Ridwan,
yang kala itu tengah mengambil gambar pertikaian antarwarga tersebut, diserang dan dikeroyok
warga Dusun Mangun. Ridwan mengalami luka bacok dan meninggal dalam perjalanan ke
rumah sakit.
Tiga tersangka ditetapkan sebagai pembunuh Ridwan. Mereka, Hasan Tamnge, Ibrahim
Raharusun, dan Sahar Renuat. Mereka dituntut delapan bulan penjara. Pada 9 Maret 2011
Pengadilan Tual memvonis bebas ketiga tersangka. Menurut Ketua Majelis Hakim, J immy Wali,
dakwaan primer dan subsidair ketiganya melakukan pembunuhan tak terbukti. Putusan ini
mendapat kecaman dari sejumlah organisasi wartawan.
Pers Indonesia mencatat sejumlah wartawan yang tewas berkaitan dengan kegiatan mereka
sebagai jurnalis. Mereka, antara lain, wartawan Harian Bernas, Yogyakarta, Fuad M.
Syafruddin yang tewas pada 16 Agustus 1996 dan wartawan Radar Bali, Anak Agung Gede
Bagus Narendra Prabangsa yang dibunuh pada 11 Februari 2009 dan mayatnya ditemukan di
perairan Teluk Bangsir, Karangasem pada 16 Februari 2009.




Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 95



Fuad M. Syafruddin ditemukan tewas



Fuad M. Syafruddin


Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa



Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 96

Pembunuhan Prabangsa

Prabangsa dibunuh berkaitan dengan tulisannya tentang skandal pembangunan SD dan SMP
yang ditengarai sarat korupsi. Hasil pemeriksaan laboratorium forensik Rumah Sakit Umum
Sanglah, Denpasar, menyebut Prabangsa disiksa sebelum dilempar ke laut. Itu ditunjukkan
dengan adanya luka di kepala, pergelangan tangan, serta patahnya tulang rahang dan tulang
tangan kanan pria 41 tahun tersebut. Menurut dokter Dudut Rustyadi, Koordinator Kedokteran
Forensik RSU Sanglah, Prabangsa diduga masih hidup ketika dibuang ke laut. Ini dibuktikan
dengan adanya pasir di dalam kerongkongannya, ujar Dudut.

Menurut Aliansi J urnalis Independen (AJ I) sejak 1996 sampai 2010 tercatat 10 kasus
kekerasan yang berujung pembunuhan terhadap wartawan. Sebagian besar dari kasus-kasus
tersebut masih belum terungkap, seperti kasus pembunuhan Fuad M. Syafruddin alias Udin.

Dalam kasus pembunuhan terhadap Prabangsa, Pengadilan Negeri Denpasar pada 15 Februari
2010 telah menghukum otak pelakunya, I Nyoman Susrama, penjara seumur hidup. Pembunuhan
tersebut dilakukan Susrama bersama delapan anak buahnya di kediamannya di Banjar Petak,
Bebalang, Bangli, sekitar 45 kilometer dari Denpasar. Mereka adalah Komang Gede, Nyoman
Rencana, I Komang Gede Wardana (Mangde), Dewa Sumbawa, I Wayan Suecita, Gus Oblong,
Endy, dan J ampes. Hukuman terhadap Susrama itu sendiri belakangan dikuatkan majelis hakim
kasasi Mahkamah Agung.

Menurut Ketua Majelis Hakim Djumain, Susrama, 48 tahun, terbukti melanggar pasal 340
KUHP J o pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP tentang pembunuhan berencana secara bersama-sama.
Pembunuhan dilakukan sangat kejam yang bertentangan dengan ajaran ahimsa, kata Djumain.
Terdakwa yang berpendidikan tinggi dan menjadi pengurus lembaga keagaamaan, menurut
hakim semestinya dapat mencegah terjadinya peristiwa itu. Hakim berkeyakinan, motivasi
pembunuhan adalah pemberitaan di harian Radar Bali yang ditulis Prabangsa tentang proyek-
proyek di Dinas Pendidikan Bangli, khususnya proyek TK dan SD Internasional.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 97


Nyoman Susrama, terdakwa kasus pembunuhan terhadap wartawan

Hukuman itu lebih ringan ketimbang tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa Lalu Saifudin menuntut
Susrama hukuman mati. Menurut Saifudin, Susrama otak pembunuhan Prabangsa. Susrama
geram dengan berita yang ditulis Prabangsa yang muncul di Radar Bali pada 3, 8, dan 9
Desember 2008. Prabangsa menyoroti proyek pembangunan TK dan SD bertaraf internasional
yang dinilai menyalahi aturan Dinas Pendidikan. Ketua komite pembangunan proyek ini adalah
Susrama.

Selain Susrama, dalam sidang terpisah, hukuman juga dijatuhkan kepada Komang Gde ST
alias Mang De, yakni hukuman 20 tahun penjara dan Ida Bagus Made Adnyana Narbawa alias
Gus Oblong 5 tahun penjara oleh Majelis yang diketuai IGN Adhi Wardhana.
Keterangan Saksi Kunci
Dalam persidangan pembunuhan Prabangsa dengan terdakwa Susrama, sebelumnya sempat
terjadi saling bantah antara Komang Gde Wardhana alias Mang De dengan Ida Bagus Adnyana
Narbawa alias Gus Obolong. Gus Oblong merupakan saksi kunci dan satu-satunya tersangka
dalam kasus ini yang mengakui perbuatannya.

Gus Oblong menyatakan, pada 11 Februari Susrama bersama enam anak buahnya, termasuk
Mang De melakukan pemukulan terhadap Prabangsa. Setelah tewas, jasad Prabangsa dibuang ke
laut dengan jukung. Oblong mengaku sempat berniat mencabut berkas acara karena diancam
akan ditusuk oleh salah-satu anak buah Susrama. Namun, akhirnya dia memilih menyatakan
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 98

keterangan yang sebenarnya di muka persidangan. Oblong menyatakan telah mencabut kuasa
hukum yang sebelumnya diberikan kepada tim yang sama dengan tim Susrama dan meminta
majelis hakim menununjuk pengacara negara untuk mendampingi dirinya.

Mang De membantah kesaksian Gus Oblong dan menyatakan menarik kesaksiannya dalam
berita acara yang sebelumnya isinya sama dengan pengakuan Gus Oblong, yakni, mereka
bersama-sama melakukan pembunuhan terhadap Prabangsa di bawah pimpinan Susrama. Pria
yang sehari-hari bekerja di perusahaan air minum Sita milik Susrama tersebut mengaku terpaksa
menandatangani berkas acara di kepolisian karena mengalami penyiksaan fisik dan mental. Dia
mengaku disetrum dan dipukul penyidik. Tapi, saat ditanya majelis hakim, Mang De tidak
dapat menunjukkan bekas penyiksaan tersebut.

Penanggung jawab harian Radar Bali, Made Rai, menyatakan, sejak awal dia sudah menduga
Prabangsa dibunuh karena berita yang ia tulis. Radar Bali, menurut Rai, pernah menurunkan
sekitar sepuluh berita tentang penyimpangan proyek Dinas Pendidikan Bangli. Proyek itu,
menurut Radar Bali, dilakukan tanpa tender. Tiga di antara berita tersebut ditulis Prabangsa
secara berturut-turut pada 3 Desember, 8 Desember, dan 9 Desember 2008. Susrama adalah
pengawas proyek-proyek itu.

Menjelang kematiannya, menurut Rai, Prabangsa kadang terlihat seperti ketakutan. Dia,
misalnya, melarang jendela kantor dibuka karena merasa ada orang yang akan menembak
dirinya. Waktu itu kami tidak memperhatikan, ujar Rai. Kami menganggap hanya lelucon,
kata Rai lagi. Dan ketakutan Prabangsa itu ternyata memang terbukti.





Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 99

Keberingasan di Mesuji

enjelang tutup tahun, kabar mengejutkan datang dari Lampung dan Sumatera
Selatan. Di dua wilayah yang sama-sama memiliki nama Mesuji itu terjadi dugaan
pelanggaran berat hak asasi manusia yang menimpa warga setempat. Pertama di
Sritanjung, Kabupaten Mesuji, Lampung, dan kedua di Desa Sodong, Kecamatan Mesuji, Ogan
Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan.
Semua berawal dari laporan sekelompok warga Mesuji, Lampung, yang datang menemui
Komisi III DPR pada 14 Desember 2011. Sembari memperlihatkan rekaman video yang di
dalamnya terdapat adegan pemenggalan kepala, mereka mengadu soal tindak kekerasan yang
diduga dilakukan aparat penegak hukum dan sekelompok orang pada awal 2011. Peristiwa itu,
kata mereka, dilakukan saat penggusuran warga Mesuji yang selama ini tinggal di kawasan
perkebunan kelapa sawit PT Silva Inhutani di Kabupaten Mesuji, Lampung. Setidaknya 30
warga telah tewas sejak 2009 sampai 2011, kata kuasa hukum warga Mesuji, Bob Hasan.

Mantan anggota DPR Mayor J enderal (Purn). Saurip Kadi yang ikut mendampingi warga
menuturkan peristiwa ini bermula dari perluasan lahan oleh PT Silva Inhutani sejak 2003.
Perusahaan yang berdiri pada 1997 itu terus menyerobot lahan warga untuk ditanami kelapa
sawit dan karet. Perusahaan yang kesulitan mengusir penduduk kemudian meminta bantuan
aparat dan membentuk kelompok keamanan sendiri (pam swakarsa). Mereka bentuk pam
swakarsa untuk membenturkan rakyat dengan rakyat tapi di belakangnya aparat. Ketika warga
mengadu ke aparat tidak dilayani. Intimidasi dari oknum aparat dan pihak perusahaan sangat
masif di sana, kata Saurip.
M
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 100


Mayor jendral (Purn). Saurip Kadi

Bermula dari Sawit
Konflik antar penduduk dan perusahaan yang berujung pada dugaan pembunuhan warga
terhitung sudah lama terjadi. Saat warga Lampung mengadu ke DPR, banyak yang mengira
konflik lahan itu hanya terjadi di wilayah itu. Padahal, wilayah Mesuji juga meliputi
Kecamatan Mesuji di Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan. Konflik lahan berkaitan dengan
perusahaan sawit itu terjadi di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung
dan, satu lagi, di Desa Sondong, Kecamatan Mesuji, OKI, Sumatera Selatan. Dulunya daerah
ini masuk satu wilayah administratif, yakni Provinsi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
Setelah ada pemekaran, wilayah Mesuji sisi utara sungai, termasuk Sungai Sodong, masuk
bagian Sumatera Selatan. Sedangkan Mesuji wilayah selatan masuk Lampung.
Rekaman video pembantaian warga menjadi sorotan banyak orang karena dinilai berlebihan
dan dicurigai direkayasa. Heru Sutadi,seorang ahli telematika, mengungkapkan bahwa rekaman
video itu merupakan dua kejadian pada lokasi dan waktu yang berbeda tapi digabung menjadi
satu. Kantor CBS News malah mengklaim beberapa adegan di video tersebut terjadi di Thailand
Selatan. Warga Sungai Sodong, Mesuji OKI, menyatakan, video yang ditayangkan merupakan
kejadian yang berlangsung di Sungai Sodong pada April 2011 dan bukan di Mesuji Lampung.


Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 101

Pihak kepolisian sendiri kemudian, pada 21 Desember 2011, menjelaskan perihal terjadinya
pembantaian yang disebut warga Mesuji ke publik. Menurut Kepala Divisi Humas Polri
Inspektur J enderal Saud Usman Nasution, di Lampung terdapat dua peristiwa berbeda, yakni
pada 2010 dan 2011. Peristiwa Mesuji pertama terjadi pada 6 November 2010, yaitu penertiban
masyarakat perambah di lahan hutan sawit tanpa izin oleh tim terpadu bentukan Gubernur
Lampung.

Salah satu tempat yang ditertibkan adalah lahan perkebunan sawit Register 45 PT Silva
Inhutani pada 6 November 2010 tersebut. Saat itu terjadilah bentrokan dengan warga. Seorang
warga bernama Nyoman Sumarde berusaha membacok Ajun Komisaris Besar Priyo. Merasa
terdesak, kata Saud, Priyo mengeluarkan tembakan peringatan kepada Nyoman. Peristiwa ini
memicu kemarahan warga, dan bentrokan lebih besar pun terjadi yang akhirnya mengakibatkan
satu warga, Made Asta, tewas tertembak. Lalu, peristiwa Mesuji Lampung II, masih di
Kabupaten Mesuji, Lampung, pada 10 November 2011. Bentrokan terjadi saat masyarakat
berunjuk rasa di areal PT Barat Selatan Makmur Investindo.
Menurut Saud, kejadian itu berawal dari aksi penjarahan sejumlah warga di perkebunan sawit.
Pada kejadian itu Hendri dan Dani, dua orang warga, dikabarkan hilang. Sekitar 100-an warga
mempertanyakan keberadaan Hendri dan Dani. Bentrokan pun terjadi. Korban dari warga pun
berjatuhan. Di antaranya yang terkena luka tembak, Suratno, Muslim, Robin, Rano Karno, dan
Harun. Ada pun yang tewas tertembak satu orang, Zaelani. Menurut Saud, dalam aksi ini juga
terjadi pembakaran oleh warga terhadap 96 mes karyawan perusahaan, satu pos induk satpam, 29
mes karyawan divisi satu, lima mes asisten manajer gudang bahan bakar, dan sejumlah gudang
lainnya.

Kepolisian sendiri menegaskan, insiden pemenggalan kepala seperti terlihat di video terjadi di
Desa Sodong , dan itu bukan menimpa warga, melainkan dua petugas pam swakarsa. J umlah
korban tewas akibat kerusuhan di Mesuji, baik Mesuji Lampung maupun Sumatera Selatan,
hanya sembilan orang. J umlah ini jauh lebih kecil ketimbang yang dilaporkan warga Mesuji ke
DPR yang mencapai 30 orang.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 102

Dalam laporan utamanya, majalah Tempo juga membuat kronologi peristiwa Mesuji Lampung.
Dua wilayah yang menjadi basis aksi bentrok sengketa lahan adalah Register 45 di Kecamatan
Mesuji Timur Kabupaten Mesuji dan Sritanjung di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Mesuji.

Konflik di Register 45 bermula pada tahun 1991, ketika pemerintah memberikan hak
pengusahaan hutan kepada PT Silva Inhutani di Register 45 seluas 32.600 hektare. Enam tahun
kemudian keluar izin yang membuat PT Silva bisa memperluas area konsesinya hingga 43.100.
Pada 1999, warga Talang Batu, Talang Gunung, dan Labuhan Batin memprotes perluasan
tersebut karena desa mereka jadi bagian Register 45. Pada 2002, izin PT Silva dicabut Menteri
Kehutanan karena diduga melakukan beberapa pelanggaran sebelum kembali mendapatkan izin.
Sementara itu sekitar 2004-2005, masyarakat dari berbagai daerah masuk ke kawasan Register
45 dan mendirikan permukiman. Pada 2010, polisi bersama TNI dan petugas keamanan
perusahaan berusaha menertibkan perambah di Way Buaya. Pada 6 November terjadilah
bentrokan yang mengakibatkan tewasnya Made Asta, warga Gunung Batu, dan tertembaknya
warga bernama Wayan Sumarje.
Adapun pemantik kerusuhan di Sritanjung, menurut Tempo, dimulai pada 1994, saat PT Barat
Selatan Makmur Investindo mengantongi izin seluas 10 ribu hektare kebun inti dan 7.000 hektare
kebun plasma. Pada 1995, PT Lampung Inter Pertiwi juga memperoleh izin perkebunan seluas
6.628 hektare di sekitar Sritanjung. Sejak September 2011, warga yang merasa tak pernah
mendapatkan ganti rugi memanen sawit di lahan plasma.
Kekerasan di Desa Sodong, Mesuji, Sumatera Selatan
Adapun kejadian bentrok di Desa Sodong Mesuji OKI, kepolisian memiliki versi sendiri.
Peristiwa Sodong Mesuji, menurut kepolisian, terjadi pada 6 November 2010, 21 April 2011,
dan 10 November 2011 berkaitan dengan penertiban lahan. Peristiwa pada 6 November 2010
terjadi di Register 45 yang dikelola oleh PT Inhutani menyebabkan satu warga tewas dan satu
warga terluka. Korban tewas bernama Made Asta, dan korban luka bernama Nyoman Sumarya.
Penembak Made Asta sampai sekarang masih dalam pencarian.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 103



Bentrokan Mesuji

Ada pun bentrokan yang terjadi pada 21 April 2011, yang berkaitan dengan penertiban lahan,
menyebabkan tujuh orang tewas. Mereka terdiri dua warga, dua karyawan PT SWA, dan tiga
petugas pam swakarsa. Sedangkan kerusuhan yang terjadi pada 10 November 2011 di lokasi
perkebunan PT Barat Selatan Makmur Investindo menyebabkan lima orang tertembak, yaitu
Muslim, Robin, Rano Karno, Harun, dan Zaelani. Yang terakhi ini akhirnya meninggal dunia.
Menurut polisi bentrokan yang terjadi pada 21 Aril 2011 dipicu tindakan dua warga bernama
Indra Syafii dan Syaktu Macan yang menghalang-halangi pihak perkebunan untuk memanen
sawit. Bentrokan yang terjadi itu pun menyebabkan tewasnya Sabar bin Ruswat (anggota Satpam
PT SWA), Indra Syafii, dan Syaktu bin Macan. Menurut Riyadi, warga Sungai Sodong, Indra
Syafii tewas dengan luka tembak di dada kanan, tengah, dan kiri serta kepala, kemudian luka
gorok dengan leher hampir putus. Mengetahui dua warganya, Indra dan Syaktu, tewas, sekitar
300-400 warga menyerbu pabrik PT SWA. Bentrokan kembali terjadi dan menimbulkan korban
tewas, yakni Hambali bin M. Thohir (karyawan PT SWA), Ardhi bin Ratam (karyawan PT
SWA), Hermanto (karyawan PT SWA), dan Saimun (satpam PT SWA). Kepolisian sendiri
membantah adanya penembakan di dada dan kepala Indra Syafii.


Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 104


Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memiliki versi lain perihal peristiwa di
Desa Sodong. Lembaga ini mencoba mengurai duduk permasalahan di Mesuji. Menurut
Komisioner Komnas HAM Ridha Saleh, ada peristiwa lain yang terjadi di Sungai Sodong,
Mesuji, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Ridha menjelaskan peristiwa di Desa Sungai
Sodong dipicu oleh konflik tanah pada 1997 antara PT SWA dan warga terkait dengan 564
bidang tanah seluas 1.070 hektare milik warga untuk diplasmakan.
Perusahaan menjanjikan, dalam masa 10 tahun lahan akan dikembalikan lagi kepada warga dan
warga juga mendapat kompensasi. Namun hingga saat ini perusahaan ternyata tidak memenuhi
perjanjian tersebut. Akhirnya pada April 2011 masyarakat Sungai Sodong mengambil kembali
tanah tersebut melalui pendudukan. Perusahaan melihat pendudukan tanah tersebut sebagai
gangguan. Gesekan terjadi sampai kemudian tersebar berita tewasnya dua warga Sodong yang
kemudian memicu kerusuhan.
Menurut pengakuan warga, kata Ridha, saat berdemo mereka tidak melakukan tindakan anarkis
apalagi melakukan pembunuhan. "Terkait lima petugas keamanan perusahaan yang tewas,
mereka tidak tahu. Ini yang harus diluruskan," kata Ridha.
Menurut Tempo, konflik di wilayah Sodong berawal dari 1997, saat warga melakukan kerja
sama dengan PT Treekreasi Margamulia dan PT Sumber Wangi Alam membangun kebun
plasma. Pada 6 April, warga menyerahkan 534 surat keterangan tanah seluas 1.068 hektare
kepada perusahaan. Kemudian, pada 2010 warga mulai menduduki lahan dan memanen sawit di
atas kebun sengketa karena merasa perusahaan telah ingkar janji pada ikatan kerja sama. Sejak
awal April 2011, perusahaan menambah tenaga pengamanan (pam swakarsa) sekitar 50 orang.
Pada 21 April 2011 dua orang warga, Indra Syafii dan Syaktu Macan, diduga dibunuh petugas
keamanan. Di hari yang sama, warga balik menyerang dan menyebabkan lima petugas keamanan
tewas.




Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 105

Investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF)
Pada 2 J anuari 2012, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang ditugaskan Presiden SBY
untuk mengatasi kasus Mesuji menyampaikan hasil investigasi sementara di kantor Kementerian
Kordinator Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam), J akarta. Menteri Polhukam Djoko
Suyanto menyatakan, TGPF telah mendatangi lokasi kejadian, tapi belum bisa memberikan
keterangan akhir dari investigasi tersebut.
Ketua TGPF, Denny Indrayana, mengatakan ada tiga lokasi yang didatangi tim, yakni Register
45 Kabupaten Mesuji, Lampung; Desa Sri Tanjung, Lampung; dan Sodong, Kecamatan Mesuji,
Sumatera Selatan. Ketiga lokasi tersebut memiliki detail persoalan yang berbeda. Tidak sama
dengan Sodong. Sengketa lahan terjadi sejak lama, titik kejadiannya muncul dalam bentuk
korban jiwa, luka, dan materiil," kata Denny.
Denny menyebut 3 peta sengketa lahan yang diwarnai kekerasan yakni, pertama, konflik
pengelolaan lahan adat di kawasan Hutan Tanaman Industri Register 45 antara masyarakat di
Way Buaya, Kabupaten Mesui, dan PT Silva Inhutani. Kedua, sengketa tanah lahan sawit seluas
1.533 hektare antara warga Desa Sei Sodong dan PT Sumber Wangi Alam (SWA), dan ketiga
kasus lahan sawit seluas 17 ribu hektare antara warga Desa Sritanjung, Kagungan Dalam, dan PT
Barat Selatan Makmur Investindo.
Mengenai masalah korban jiwa, Denny akan menyerahkan kepada Komnas HAM untuk
ditelusuri lebih lanjut. TGPF menyimpulkan, jumlah korban jiwa 2010 hingga 2011 yaitu di
Register 45, satu orang bernama Made Aske; di Sri Tanjung satu orang bernama Zaliani; dan di
Sodong tujuh orang. Total korban jiwa dari 2010 hingga 2011 sebanyak sembilan orang.

LPSK Siap Lindungi Saksi dan Korban
Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Abdul Haris Semendawai,
mengatakan, meskin belum ada permohonan, LPSK akan membentuk tim khusus untuk
memaksimalkan perlindungan bagi saksi dan korban kasus konflik lahan di Desa Sungai Sodong,
Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering ilir, Sumatera Selatan, Kecamatan Mesuji


Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 106

Timur, Lampung, dan Sritanjung, Kabupaten Mesuji, Lampung. Kami akan jemput bola, kata
Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai kepada wartawan.
Semendawai menyatakan, tindakan ini merupakan pelaksanaan rekomendasi Tim Gabungan
Pencari Fakta Mesuji yang menyatakan perlu adanya perlindungan terhadap saksi dan korban
peristiwa itu. Menurut Haris, dari investigasi yang dilakukan TGPF, memang terlihat ada
sejumlah saksi yang memerlukan perlindungan.
Karena itu, sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban, LPSK akan segera menentukan bentuk perlindungan yang akan diberikan ke saksi dan
korban tragedi Mesuji. Bentuk perlindungan yang bisa diberikan, antara lain, bantuan medis dan
psikologis terhadap korban, serta perlindungan fisik dan pendampingan saat saksi memberikan
keterangan di proses peradilan pidana.
Sebelumnya, Ketua TGPF kasus Mesuji, Denny Indrayana, memang mengungkapkan bahwa
pihaknya menjamin keselamatan penuh korban ataupun saksi yang akan dimintai keterangan
terkait dengan penelusuran tragedi di Mesuji wilayah Lampung dan Sumatera Selatan. Salah
satunya adalah dengan meminta LPSK untuk melindungi para saksi dan korban kekerasan
peristiwa Mesuji itu.


Ketua Komnas HAM dan Ketua LPSK


Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 107


LPSK sendiri meminta tim investigasi, yang dibentuk TGPF dan Komnas HAM tidak
menambah trauma para korban kekerasan di Mesuji. Semendawai mengingatkan dalam proses
penyelidikan tidak boleh ada tekanan terhadap para korban ataupun keluarganya. Sebab dalam
kondisi seperti ini baik korban maupun keluarganya masih trauma. "Itu bisa berdampak,
misalnya kalau temuan tim saling bertabrakan satu dengan yang lain. Terlalu banyak tim berarti
ada banyak orang yang berkomunikasi dengan saksi dan korban dan itu secara psikologis kurang
bagus juga buat mereka," kata Semendawai.
LPSK menyatakan ini merujuk terjadinya teror atau ancaman terhadap para saksi dan korban
Mesuji. Sebelumnya Saurip Kadi mengungkapkan, telah terjadi teror para saksi dan korban yang
datang ke DPR. Mereka, kata Saurip, dipanggil kepolisian, dituduh menyerobot tanah
perusahaan. Sejumlah saksi dan korban kasus pembantaian Mesuji yang menginap di Markas
Front Pembela Islam (FPI), J alan Petamburan III J akarta Barat, pada Selasa 20 Desember 2011,
juga diberitakan dikepung polisi. Kabar pengepungan itu tersebar melalui layanan pesan
BlackBerry Messenger (BBM). Mereka disebut-sebut dikepung agar tidak bisa menghadiri acara
J akarta Lawyers Club yang akan ditayangkan TVOne. Tapi, kabar pengepungan itu ditepis oleh
Ketua DPP FPI Habib Muhammad Rizieq.










Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 108

Pembunuhan Siswa SMA Pangudi Luhur

ertengkaran berujung penikaman. Demikianlah yang terjadi pada Raafi Aga Winasyah
Benjamin. Pelajar SMA Pangudi Luhur, J akarta Selatan berusia 17 tahun tersebut
tewas ditikam setelah bertengkar dengan sesama pengunjung kafe Shy Rooftop yang
terletak di kawasan Kemang, J akarta Selatan pada Sabtu dini hari 5 November 2011.

Raffi Aga Winasyah Benjamin
Pada mulanya tewasnya Raafi tidak mendapat pemberitaan besar. Pemberitaan media hanya
menyatakan remaja tahun tersebut meninggal karena ditusuk pengunjung kafe lain karena saling
adu mulut yang kemudian berujung perkelahian lalu penikaman. Satu-satunya yang mungkin
menarik perhatian adalah remaja tersebut adalah pelajar SMA Pangudi Luhur, sekolah yang
termasuk favorit dan terkenal di ibu kota. Diberitakan, Raafi meninggal dalam perjalanan saat
dibawa teman-temannya, sesama pelajar SMA Pangudi Luhur, ke Rumah Sakit Siaga, Pasar
Minggu pada pukul. 03.00 pagi.
Dua pekan kemudian pembunuhan Raafi menjadi perbincangan banyak orang, khususnya
masyarakat menengah ibu kota, setelah Majalah Tempo, menurunkan peristiwa pembunuhan
tersebut sebagai laporan utama dalam edisinya 27 November 2011.
P
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 109

Raafi ternyata anak dari Harnoko Dewantono, terpidana hukuman mati, yang didakwa
membunuh tiga orang, termasuk adiknya, di Los Angeles, Amerika Serikat. Majalah Tempo
menulis profil Raafi sebagai berikut:
Akhir Tragis Calon Dokter
Raafi Benjamin siswa populer di SMA Pangudi Luhur. Dia anak Harnoko Oki Dewantono,
yang pernah menggegerkan Tanah Air karena dituduh melakukan serangkaian pembunuhan di
Los Angeles. Majalah dinding di lobi Sekolah Menengah Atas Pangudi Luhur di J alan
Brawijaya, J akarta Selatan, tak sanggup menampung ucapan belasungkawa dan testimoni untuk
Raafi Aga Winasya Benjamin. Kalimat-kalimat kenangan dengan berbagai warna tinta itu
berdesakan, berebut mengisi sisa ruang yang masih kosong.
Selamat jalan, Pan. J angan lupain gw, semoga lo jadi dokter hebat di sana, demikian bunyi
salah satu kalimat yang tertera di sana. Puluhan kalimat senada terpampang di antara enam foto
Raafi yang sedang tersenyum dengan rambut kriwil yang gondrong.
SMA Pangudi Luhur, yang populer dengan sebutan PL, mengibarkan bendera setengah tiang
selama tiga hari dan berkabung atas kematian salah satu siswa paling populernya. Sabtu, 5
November dinihari, Raafi tewas terkena tikaman pisau di Caf Shy Rooftop.
Kematian Raafi amat memukul keluarga dan sekolahnya. Anggia Hesti Benjamin, ibu Raafi,
menolak memberikan pernyataan kepada pers. Ibu belum mau berbicara dulu, kata seorang
pembantunya kepada Tempo, Kamis pekan lalu. Pagar rumah Raafi di Kemang Timur tertutup
rapat untuk wartawan. Kendati demikian, teman Raafi terus berdatangan untuk mengucapkan
belasungkawa.
Dugaan bahwa pelakunya mempunyai hubungan dengan sebuah organisasi pemuda terkenal di
Ibu Kota membuat keluarga dan teman-temannya kian mengunci mulut. Keterangan untuk pers
hanya keluar dari Tim Pencari Fakta SMA Pangudi Luhur, yang dibentuk untuk mengadvokasi
kematian Raafi.



Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 110

Raafi memang terkenal di sekolahnya. Rambut gondrongnya menunjukkan dia anak pintar. Di
Pangudi Luhur memang berlaku satu tradisi: hanya siswa yang nilai rata-ratanya di atas tujuh
yang boleh memanjangkan rambut. Raafi salah satu yang nilainya di atas rata-rata, kata Heri
Prasetya, Wakil Kepala Sekolah Pangudi Luhur.
Di sekolah Katolik yang khusus untuk laki-laki itu, Raafi dikenal sebagai salah satu anggota
Fantastic Four--sebutan untuk empat siswa yang paling disegani di Pangudi Luhur. Seperti
umumnya siswa di situ, Raafi punya nama panggilan. Dalam keseharian, aktivis Gerakan
Pencinta Alam PL itu dipanggil Bolpan.
Ini memang panggilan main-main, kependekan dari bolongan pantat. Raafi mendapat nama
ini dari kakak kelasnya saat baru masuk sekolah itu tiga tahun lalu. Dan dia bangga menyandang
nama panggilan ini. Raafi sering tampil menjadi pemimpin dalam kegiatan di PL. Pada Pangudi
Luhur Fair yang akan digelar 10 Desember nanti, misalnya, dia menjadi ketua seksi keamanan.
Menurut Heri Prasetya, Raafi cerdas dalam pelajaran humaniora. Raafi mengaku terus terang
tak mengerti pelajaran fisika meski sudah berusaha memahaminya. Tapi kelemahan di pelajaran
eksakta tak menyurutkannya bercita-cita menjadi dokter. Semua anak tahu Raafi ingin jadi
dokter, kata Heri. Raafi memang punya darah dokter. Kakek buyutnya, Profesor Hendarmin,
adalah dokter spesialis telinga-hidung-tenggorokan paling terkenal di J akarta pada 1970-1980-
an. Anak dan cucu Hendarmin kemudian banyak juga yang mengikuti jejaknya, kecuali kakek
Raafi, Hendarno Hendarmin.
Hendarno berkarier di Bank Indonesia dengan jabatan terakhir direktur. Dialah ayah Harnoko
Dewantono, ayah Raafi. Harnoko tak lain Oki, yang pernah menghebohkan karena membunuh
adiknya, Eri Trihartarto Darmawan; teman bisnisnya, orang India, Suresh Michandani; dan
pacarnya, Gina Sutan Anwar. Tulang-belulang ketiganya ditemukan polisi Los Angeles di
sebuah gudang sewaan di Northridge, LA, pada 1994. Saat itu Oki sudah balik ke Tanah Air.
Penyelidikan polisi Los Angeles menunjukkan Oki-lah pelaku pembunuhan yang terjadi pada
1991 dan akhir 1992 itu.



Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 111

Oki dicokok di rumah neneknya di kawasan Paseban, J akarta Pusat, awal 1995. Kasus
pembunuhan ini menggemparkan dan menjadi berita utama sejumlah media. Oki sendiri
berkukuh: yang membunuh Gina dan Suresh adalah Eri, dan ia membunuh Eri karena membela
diri saat hendak dibunuh sang adik. Tapi hakim tetap yakin Oki pembunuhnya. Pada 13 Mei
1997, hakim Pengadilan Negeri J akarta Pusat memvonis Oki dengan hukuman mati.
Oki kini menunggu eksekusi di penjara Cipinang. Saat vonis dijatuhkan, ia sudah bercerai
dengan Anggia Hesti Benjamin. Mereka berpisah pada September 1993, atau dua bulan sebelum
Raafi lahir, setelah Anggia melaporkan tindak kekerasan rumah tangga yang dilakukan Oki
terhadapnya ke polisi.
Menurut catatan pengadilan waktu itu, Anggia dipukul dengan stik golf saat sedang hamil
besar. Oki dihukum satu setengah bulan penjara, tapi langsung bebas karena dipotong masa
tahanan. Pernikahan ayah-ibu Raafi ini berumur tak lebih dari setahun. Maka, begitu Raafi lahir
pada 2 Desember 1993, kakek-nenek dari ibunyalah yang merawat dan membesarkannya di
Irvine, Amerika Serikat.
Kepindahan itu terutama karena kasus Oki sedang hangat dibicarakan di dalam negeri. Di kota
satelit Los Angeles itu Raafi tumbuh. Di kota itu dulu Anggia Hesti dan Oki juga tinggal sambil
menyelesaikan pendidikan master of business administration dan berbisnis. Di Los Angeles, Oki
punya beberapa teman perempuan, tapi ia hanya menikah dengan Anggia. Mereka pulang karena
Anggia hamil, tapi kemudian malah bercerai.
Karena sudah mencintai kota itu, Dindin Benjamin Yatim--ayah Anggia, yang menjadi direktur
di Bank Bumi Daya--membeli rumah untuk ditinggali di sebuah kawasan kelas menengah. Di
rumah cukup jembar itu, Raafi tinggal bersama neneknya. Dia bersekolah hingga sekolah dasar
di sana. Menjelang sekolah menengah pertama, Raafi pulang ke J akarta.
Raffipun lalu bersekolah di SMP Global J aya International di kawasan Bintaro, Tangerang,
Banten. Di SMP ini, Raafi juga cukup populer sebagai anak gaul yang nilai-nilainya lumayan
bagus. Seorang wali murid di Global menuturkan Raafi memang menonjol secara akademis.
Bahasa Inggrisnya fasih banget, katanya.


Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 112

Kepada Tempo, beberapa siswa di Pangudi Luhur bercerita, Raafi sebenarnya juga tak baik-baik
amat. Dia, misalnya, beberapa kali pernah melakukan kekerasan kepada adik kelasnya. Dia
pernah menjadi eksekutor dalam bullying di sekolah, ujar seorang wali murid kelas XI.
Beberapa siswa mengaku pernah jadi korban kekerasan yang dilakukan Raafi dan teman-
temannya. Di Pangudi Luhur, murid kelas XII adalah kelompok siswa yang paling berkuasa,
sementara murid kelas XI dan X harus tunduk atas perintah-perintah kakak kelas mereka itu,
terutama geng Barisan Keamanan alias Baka, termasuk Raafi.
Geng Baka terdiri atas 12 siswa kelas XII. Anggota geng inilah yang antara lain ikut pesta
ulang tahun di Shy Rooftop itu. Di sana pula mereka melihat Raafi tersungkur, jatuh, lalu tewas
bersimbah darah.
Dari hasil penelusuran Tempo, mereka yang terlibat pertikaian dengan Raafi itu adalah anggota
234 SC, sebuah organisasi yang berafiliasi pada organisasi Pemuda Pancasila
Terjadinya pembunuhan itu, berawal dari kedatangan Raafi dan 20 temannya (semuanya
pelajar SMA Pangudi Luhur) pada pukul 11 malam ke Shy Rooftop di gedung Papilion untuk
merayakan ulangtahun teman mereka Muhammad Arif. Di sana, di caf yang terletak di lantai
atas gedung Papilion tersebut, ada pula kelompok lain, yakni anggota 234 CS yang saat itu juga
sedang merayakan ulang tahun salah seorang anggota mereka Michael Luhukay.
Perselisihan kedua kelompok itu mulai terjadi di lantai dansa. Saat itu, menurut Tempo, salah
seorang pelajar SMA Pangudi Luhur mendorong jatuh perempuan bernama Violetha Ceacilia
Maria Constanza alias Connie.
Conny adalah istri dari Sheer Mohammad Febri Awan, 43 tahun, anggota 234 CS yang datang
ke Shy Rooftop atas undangan Michael.
Di sinilah kemudian terjadi pertengkaran antara Raafi dan teman-temannya dengan beberapa
anggota 234 SC yang kemudian dilerai oleh petugas keamanan. Sempat mereda sebentar,
pertengkaran itu kemudian terjadi lagi. Menurut kawan-kawan Raafi, saat itu seorang anggota
234 SC ada yang sengaja menabrakkan diri mereka ke arag Raafi dan teman-temannya seakan
untuk memancing pertengkaran. Maka perkelahian pun terjadi. Saat itulah tiba-tiba Raafi
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 113

terduduk dan darah mengucur dari dadanya. Melihat kejadian ini, empat orang temannya
kemudian menggotong Raafi menuruni tangga ke lantai empat sebelum kemudian dengan lift
menuju ke lantai dasar untuk membawa Raafi ke rumah sakit.
Tapi, dalam perjalanan remaja gondrong yang di sekolahnya mendapat julukan bolpan
tersebut keburu tewas. Nyawanya tak terselamatkan. Polisi sendiri datang ke lokasi kejadian
pada pukul 03.30. Saat polisi datang, barang bukti seperti darah Raafi sudah dibersihkan petugas
kebersihan kafe. Peristiwa pembunuhan itu sendiri ditangani oleh Kepolisian Resor J akarta
Selatan.
Beberapa hari setelah peristiwa pembunuhan, walau telah memeriksa 40 saksi, polisi belum
menetapkan tersangka pembunuh Raafi. Di antara mereka yang menjadi saksi adalah: 18 teman
Raafi, 11 orang dari manajemen Shy Rooftop, dan 8 orang dari sekelompok pengunjung yang
lain di luar kelompok Raafi dan teman-temannya. Polisi juga telah menyita barang bukti 2 baju
masing-masing warna hitam dan merah, 6 celana jins, 2 piringan cakram berisi rekaman kamera
pengawas, 11 telepon seluler, 1 ikat pinggang, 4 pasang sepatu, 2 sandal, serta 2 berkas visum et
repertum.


Tampak depan Shy Rooftop
Salah satu yang juga diperiksa polisi adalah seorang sopir taxi yang biasa mangkal di depan
Shy Raaftop. Pada Sabtu dini hari setelah peristiwa penusukan tersebut, sopir taxi tersebut
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 114

membawa dua penumpang keluar dari Shy Raaftop dan minta diantar ke J alan Biak, J akarta
Pusat. Dalam perjalanan, sopir taxi mendengar pembicaraan penumpangnya yang antara lain
menyebut, Sudah dibereskan, bos, danaman.
Karena penasaran dengan pembicaraan tersebut, sopir taxi tersebut, setelah menurunkan kedua
penumpangnya, kembali lagi ke Shy Rooftop. Di sanalah, dari petugas keamanan caf tersebut,
dia mendapat keterangan pagi itu terjadi peristiwa keributan yang berbuntut penikaman terhadap
salah seorang pengunjung caf. Kapolres J akarta Selatan Komisaris Imam Sugianto menyatakan
kesaksian sopir taxi penting itu akan dipakai untuk melacak siapa pelaku pembunuh Raafi.
Dari sejumlah kesaksian dan bukti yang ditemukan, polisi kemudian menangkap dan
menjadikan tersangka Martoga, Helmi, Fajar, Robi Hatim, Abel, Connie, dan juga seorang
manajer Operasional Shy-Rooftop, Kemang, berinisial H. Pada 4 Desember polisi menetapkan
Sheer Mohammad Febri Awan sebagai tersangka penikam Raafi. Febri Awan terancam
hukuman maksimal 15 tahun penjara. Sementara tersangka lain, menurut polisi, dijerat Pasal
170 ayat (1) KUHP dan atau Pasal 351 ayat (3) KUHP dan atau Pasal 55 ayat (1) KUHP dengan
ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara
Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Metro J akarta Selatan, Ajun
Komisaris Besar Budi Irawan, pihaknya tak ragu peran Febri dalam kasus pembunuhan itu. Ini,
kata Budi, karena polisi memiliki saksi mahkota yang mengenal siapa penusuk Raafi. Budi
membantah saksi mahkota tersebut adalah J i salah seorang siswa SMA Pangudi Luhur yang
juga mengalami luka tusuk di tangannya. "Bukan J i saksi mahkotanya. Karena saksi mahkota ini
jelas mengenal pelaku," kata Budi.
Budi Irawan menyatakan, walaupun Febri tidak mengakui perbuatannya, hal itu tidak menjadi
masalah untuk penyidik. Sebab, kata Budi, ada alat bukti lain yang menunjukkan keterlibatan
Febri. Budi juga menegaskan, dari saksi-saksi yang dimintakan keterangannya oleh pihak
kepolisian, tidak ada satu pun yang mencabut berita acara pemeriksaan (BAP). "Baik dari siswa
PL (Pangudi Luhur) maupun dari saksi lain tidak ada yang cabut pernyataannya di BAP. Kami
berpegang pada kesaksian yang kami dapat dan mengarah ke pelaku. J adi, silakan saja kalau ada
yang bilang ciri-cirinya beda dengan yang dilihat saksi karena kami berpegangan pada
pernyataan di BAP," kata Budi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 115

Pengembangan kasus ini memang menyeret seorang anggota Pasukan Pengaman Presiden
(Paspamres) bernama Sanuri yang disebut-sebut sebagai saksi mahkota. Sanuri datang ke Shy
Rooftop bersama Robi. Beberapa saat setelah penusukan, menurut polisi, Febri Awan
menitipkan pisau ke Sanuri yang kemudian oleh Sanuri dibungkus tisu. Pisau itu kemudian
diminta kembali oleh Febri
Kapolda Metro J aya Inspektur J enderal Untung Suharsono Rajab kepada pers, walau tidak
menyebutkan nama, membenarkan ada anggota TNI yang berada di tempat hiburan Shy Rooftop
pada malam pembunuhan Raafi pada 5 November 2011. Menurut Untung, oknum TNI tersebut
tidak dijerat pidana lantaran bersikap kooperatif kepada penyidik dengan menunjukkan siapa
penusuk Raafi. "Kami memang dibantu oleh rekan TNI yang mau sebagai saksi dan mengungkap
kasus Raafi ini. Saksi itu artinya orang yang melihat atau mendengar dari kejadian itu, dan dia
bersedia dibuat berita acara, kata untung.


J endral Untung Suharsono Rajab saat menanggapi kasus Raffi
Penasihat Tim Advokasi Brawijaya IV, Mahendradatta, menduga pembunuhan Raafi Aga
Winasya Benjamin merupakan pembunuhan berencana. Oleh karena itu, dia berharap tersangka
penusukan yang ditetapkan oleh kepolisian lebih dari satu, yakni yang memerintahkan serta
mengeksekusi penusukan. Ada yang menyuruh penusukan itu, kata Mahendradatta. Tim
Advokasi Brawijaya IV beranggotakan antara lain alumnus SMA Pangudi Luhur dan melakukan
sejumlah pengumpulan fakta di lapangan dengan tujuan agar polisi mengungkap kasus ini
sejelas-jelasnya dan menangkap pelaku pembunuhan terhadap Raafi
Mahendradatta menyatakan, dia menduga penusukan tersebut direncanakan atas dasar
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 116

percakapan dua orang yang menumpang sebuah taksi. Melalui telepon seluler, salah seorang di
antara penumpang bercakap-cakap. Percakapan tersebut didengar oleh si sopir taksi. Sopir itu
kemudian dijadikan saksi oleh kepolisian. Udah diberesin anaknya, kata Mahendradatta
menirukan percakapan penumpang itu. Percakapan itu, kata Mahendradatta menunjukkan
adanya misi yang sudah diselesaikan. Karena itu menurut dia, jika benar penusukan tersebut
direncanakan, maka pembunuhnya bisa dijerat dengan hukuman lebih berat karena di sini ada
unsur perencanaan. Mahendradratta juga menilai terlalu ganjil jika dalam kasus ini polisi hanya
menetapkan satu tersangka penusukan. Ada tautan yang putus kalau hanya satu. Kesaksian sopir
dibawa ke mana? katanya.
LPSK Menjanjikan Memberi Perlindungan
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) melakukan inisiatif dengan melakukan
komunikasi lebih dulu kepada pengacara para saksi penusukan Raafi.
Kepada wartawan Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai menyatakan, LPSK sudah
menjemput bola dengan berkomunikasi dengan pengacara saksi pembunuhan Raafi. LPSK
akan mengutamakan memberikan perlindungan bagi saksi kunci pengeroyokan Raafi. Abdul
Haris menyatakan pihaknya mengalami kendala dalam memberikan perlindungan terhadap saksi
karena yang menjadi saksi merupakan anak di bawah umur sehingga perlu persetujuan pihak
yang terkait.
LPSK menyatakan akan menyediakan safe house atau rumah aman bagi saksi kunci
pembunuhan Raafi. Menurut anggota LPSK, Lili Pintauli Siregar, langkah ini diambil, terutama
karena ada saksi yang mendapat surat kaleng berisi ancaman pembunuhan. "Kalau
memungkinkan, LPSK bisa menempatkan di safe house kalau dia mau dan bersedia mematuhi
semua aturan yang ditetapkan LPSK," kata Lili Pintauli Siregar.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 117


Lili Pintauli, SH Anggota LPSK
Sebelumnya seorang saksi yang juga pelajar SMA Pangudi Luhur mendapat kiriman surat
kaleng yang berisi ancaman. Surat yang dikirim melalui jasa pos itu berisi puisi bernada
ancaman yang diberi judul "Saksi yang Disimpan". Puisi itu menyatakan akan ada aksi
pembunuhan pada tanggal 10 Desember 2011 yang bertepatan dengan pelaksanaan acara "PL
Fair".

Kutipan puisi ancaman sebagai berikut:
Saksi yang Disimpan
Seorang saksi sedang sekolah simpan Maka dia harus ditemukan Untuk mulutnya kita bungkam
Tanggal '10' esok sebagian siswa ditikam Dengan usus terburai di lapangan Akan berakhir di
sebuah makam Senasib seperti Raafi Bolpan Sengsara hingga akhir zaman.
Selain puisi, surat itu juga menampilkan gambar seorang siswa SMA Pangudi Luhur yang
merupakan teman Raafi dan menjadi saksi dalam kasus pembunuhan itu. Siswa itu juga
mengalami luka saat kericuhan terjadi dengan pengunjung Shy Rooftop, Kemang sebelum Raafi
ditusuk hingga tewas. Di bawah foto itu terdapat alamat lengkap siswa itu.
Menurut Lili, surat ancaman yang mencantumkan foto seorang siswa dan alamat lengkapnya
perlu ditanggapi serius dan harus secepatnya diambil tindakan. LPSK, kata Lili kepada pers
pada 6 Desember, belum mengambil keputusan bentuk perlindungan terhadap saksi itu. "Ada
pengajuan ke LPSK. Tapi belum diputuskan apakah perlindungan diberi darurat atau biasa.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 118

LPSK belum memberikan perlindungan terhadap saksi tersebut karena belum dibawa ke rapat
paripurna," ujar Lili.
Menurut Mahendradatta dari Tim Advokasi Brawijaya IV, banyak ancaman yang datang ke
teman-teman Raafi pascapembunuhan tersebut. "Seperti adanya sebuah mobil Daihatsu Espas
Hitam yang melintas disamping rombongan siswa PL ketika jam sekolah sedang bubar dan
berteriak "Mati lo.. Mati lo"," kata Mahendradatta. Menurut dia, tugas berat lain yang juga
diemban Tim Advokasi Brawijaya IV, adalah juga ikut menjaga mental siswa-siswa SMA
Pangudi Luhur. "Ada pengendara sepeda motor yang lewat di depan SMA PL dan memainkan
gas motornya. Secara psikis para korban sangat tertekan dengan adanya indikasi ganguan yang
membuat mereka trauma," katanya.
Kalangan DPR juga meminta kasus pembunuhan ini segera bisa diungkap. Anggota Komisi III
DPR, Trimedya Panjaitan, menghimbau polisi bekerja serius dan tidak takut terhadap intervensi
saat mengungkap kasus ini. Trimedya juga meminta Kepala Polisi J enderal (Pol.) Timur Pradopo
mengontrol dan melindungi jajarannya dalam bekerja mengusut kasus pembunuhan Raafi.










Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 119

DATA BASE BERDASARKAN MEDIA TENTANG KONDISI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DI
INDONESIA 2011

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
1 Koran Tempo,
2 Januari 2011

Pelanggaran
HAM
Anggota
Organisasi
Papua
Merdeka
L Saksi Ditawan dan
Diintimidasi
Prajurit TNI
melakukan
Kekerasan dalam
menginterogasi
tawanan yang
merupakan anggota
organisasi Papua
Merdeka.
2 Kompas, 4
Januari 2011
Korupsi Pajak Gayus H
Tambunan
L Whistle
Blower
Terdakwa
kasus
korupsi
Keterangan yang
diberikan oleh Gayus
untuk membongkar
kasus mafia pajak
tidak didengar.
3 Koran Tempo,
4 Januari 2011
Korupusi Pajak Gayus H
Tambunan
L

Whistle
Blower
Terdakwa
kasus
korupsi
Dalam nota
Pledoinya, gayus
memberikan
keterangan tentang
lima (5) modus
permainan pajak.
4 Koran Tempo,
5 Januari 2011

Penganiayaan Idham
Kurniawan
L Korban Luka luka
ringan
Idham selaku pimred
lampu hijau diserang
oleh polisi
dikaenakan masalah
pribadi.
5 Koran Tempo,
5 Januari 2011
Pembunuhan Pendeta
Kindeman
L Korban Tewas TNI membawa
korban untuk
dimintai keterangan
dan seminggu
setelah kejadian
tersebut kepala
korban ditemukan
6 Koran Tempo,
5 Januari 2011
Kekerasan Warga
Kampung
Gurage
L P Saksi Luka luka TNI melakukan
interogasi kepada
warga kampung
Gurage yang dalam
pemeriksaan
tersebut anggota TNI
tersebut melakukan
kekerasan.
7 Koran Tempo,
6 Januari 2011
Penganiayaan Irni P Korban Luka luka Korban sedang
berada di dalam
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 120

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
toilet di pusat belanja
Cilandak Town
Square ketika
penyerangan terhadap
dirinya berlangsung.
8 Koran
Tempo, 6
J anuari 2011

Pembunuhan Pendeta
Kindeman
L Korban Tewas TNI sedang
melakukan
pengusutan
tewasnya korban.
9 Koran
Tempo, 6
J anuari 2011

Korupsi Pajak Gayus H
Tambunan
L Whistle
Blower
Terdakwa
status
korupsi
J aksa menilai
bahwa info yang
disampaikan oleh
terdakwa bukan
prestasi
dikarenakan itu
merupakan
kewajiban dari si
terdakwa.

10 Media
Indonesia, 6
J anuari 2011
Penganiayaan Irni P Korban Luka
luka
Mahasiswi
Universitas
Indonesia dianiaya
di Citos hanya
karena pelaku salah
mengira bahwa
korban adalah
orang yang suka
menteror istri si
pelaku.

11 Rakyat
Merdeka, 7
J anuari 2011

Pengancaman Devina P Saksi Tertekan
karena
berada
dibawah
ancaman
Saksi adalah orang
yang melaporkan
perginya terdakwa
korupsi pajak ke
Singapura.

12 Koran
Tempo, 10
J anuari 2011
Penganiayaan Nurhaki
Barda
L Terdakw
a
Berada
dibawah
tekanan
Pemeriksaan saksi
terdakwa ini penuh
dengan intimidasi
yang dilakukan
oleh pengunjung
persidangan
sehingga
dikhawatirkan saksi
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 121

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
tidak dapat
memberikan
keterangan sebaik
baiknya.
13 Koran
Tempo, 19
J anuari 2011
Perampokan Sayudi L Korban Luka
luka berat
Korban diserang
kawanan perampok
setelah korban
menarik sejumlah
uang dari bank
BCA.

14 Kompas, 19
J anuari 2011
Penganiayaan
berat
Gilan dan
J oni
L Korban Gilan
Tewas dan
J oni masih
dalam
perawatan
medis
Masyarakat desa
Bunga Atoi
mengira bahwa
kedua orang korban
tersebut merupakan
maling ayam
sehingga warga
melakukan
penghakiman
kepada warga
tersebut.

15 Kompas, 20
J anuari 2011
Penganiayaan
berat
Agus
Yulianto
L Korban Korban
masih
berada
dalam
perawatan
medis
Korban merupakan
supir taksi yang
hamper dirampok
tetapi korban masih
sempat meminta
tolong sehingga
perampokan
tersebut bisa
digagalkan.

16 Kompas, 22
J anuari 2011
Penganiayaan Alfrets
Mirulewan
L Korban Tewas Penganiayaan
terhadap korban
dilakukan oleh
aparat penegak
hukum dikarenakan
korban saat itu
sedang mencari
tahu ada atau tidak
adanya
penyimpangan
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 122

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
dalam distribusi
bahan bakar
minyak.

17 Suara
Pembaruan,
22 J anuari
2011
Human
Trafficking
Para Anak
Anak baru
Gede
P Korban Psikologisn
ya tertekan.
Para pelaku human
trafficking ini
menjual para
korban untuk
dijadikan pekerja
seks komersial
(PSK)


18 Kompas, 23
J anuari 2011
Penganiayaan 1. Telenggen
Gire
2. Anggen
Pugukiwo
L

L
1. Saksi

2.
Korban
Luka berat

Luka berat
Anggota TNI yang
seharusnya
melakukan
pemeriksaan malah
melakukan
penyiksaan dalam
proses pemeriksaan
mereka.

19 Kompas, 24
J anuari 2011
Perampokan Elvira
Taufani
P Korban Korban
disiksa
Korban diculik saat
mau berangkat
kerja dan dibuang
di daerah yang
tidak korban
ketahui.

20 Kompas, 24
J anuari 2011
Perampokan Sur L Korban Psikologis
korban
tertekan
Korban diancam
dengan
menggunakan
senjata api yang
dilakukan oleh dua
orang anggota
polisi dalam aksi
perampokan
tersebut.

21 Warta Kota,
27 J anuari
2011
Perusakan dan
Pembakaran
bangunan
1. Bari
2. Ahmad
Mubarik
L

L
Saksi

Saksi
Psikologisn
ya tertekan
Dalam pemeriksaan
perkara
dipersidangan,
saksi dari pihak
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 123

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
penganut
Ahmadiyah
diintimidasi oleh
pengunjung
persidangan dan
juga diancam
keselamatannya
oleh para
pengunjung.

22 Rakyat
Merdeka, 27
J anuari 2011
Bank Century Susno
Duadji
L Whistle
Blower
Merasa
tertekan
karena
tidak
adanya
perlindung
an
Susno enggan
menjadi whistle
blower dalam kasus
bank century
dikarenakan beliau
merasa hanya akan
menjadi alat politik
saja dan dia tidak
mendapatkan
perlindungan.

23 Rakyat
Merdeka, 27
J anuari 2011
Pemerasan Andi
Wicaksono
L Korban Diperas
oleh aparat
polisi.
Korban dimintakan
uang oleh aparat
kepolisian dalam
proses pengolahan
laporannya dalam
tindak pidana
pencurian
kendaraan
bermotor.

24 Koran
Tempo, 27
J anuari 2011
Penganiayaan Andi Rianto
Siahaan
L Korban Luka
luka
Korban dianiaya
selama ditahan di
dalam polresta
pematang siantar
oleh aparat
kepolisian.

25 Kompas, 28
J anuari 2011
Penganiayaan Triyono L Korban Luka
luka
Korban dianiaya
oleh aparat penegak
hukum dikarenakan
berita yang ditulis
oleh korban.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 124

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P

26 Warta kota,
28 J anuari
2011
Korupsi Pajak Gayus H
Tambunan
L Whistle
Blower
Gayus dipanggil
oleh KPK sebagai
bentuk tindak lanjut
dalam proses
pemberantasan
korupsi di dalam
pajak.

27 Koran
Tempo, 28
J anuari 2011
Pembunuhan David
Enggar
L Korban Tewas Korban dibunuh
lalu para pelaku
menguras uang
yang dimiliki
korban serta
mengambil mobil
korban juga.
28 Poskota, 28
J anuari 2011
Pembunuhan Ida Farida P Saksi Psikologisn
ya tertekan
Saksi tidak bisa
memberikan
keterangan dengan
sebaik baiknya
dikarenakan kedua
orang terdakwa
dalam kasus ini
tidak mau
mengakui
keterangan saksi
sehingga saksi
diintimidasi oleh
mereka.
29 Poskota, 28
J anuari 2011
Kasus
Korupsi Pajak
dan Arwana
Susno
Duadji
L Whistle
Blower
Merasa
ketakutan
dan
diancam
Susno duadji
merasa ketakutan
dan meminta
perlindungan
setelah memberikan
keterangan terkait
dengan kasus
korupsi pajak dan
arwana.

30 Warta Kota,
29 J anuari
Penganiayaan 1.Nurhasanah
2.Eti
Isnawati
P

P
Korban

Korban

Luka
luka
Kedua korban
dipukul oleh pelaku
menggunakan
linggis.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 125

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
31 Pos Kota, 29
J anuari 2011
Pembunuhan Susi Lestari P Korban Tewas Korban dibunuh
dengan cara dicekik
lehernya dan
dengan
menggunakan
benda keras, dan
kasus ini sampai
saat ini masih
ditangani oleh
polisi.

32 Indo Pos, 29
J anuari 2011
Penganiayaan Heran
Hutagalung
L Korban Luka-luka Korban diserang
oleh empat (4)
orang warga papua
yang sedang
mengamuk saat
hendak diamankan
oleh polisi.

33 Koran tempo,
29 J anuari
2011
Korupsi
pemilihan
Deputi
Gubernur BI
Agus
Condro
L Saksi KPK bisa
membongkar
adanya korupsi
dalam pemilihan
deputi gubernur BI
berkat adanya
laporan dari saksi
sehingga KPK bisa
menetapkan para
tersangka.

34 Koran tempo,
29 J anuari
2011
Percobaan
pembunuhan
Ahmad
Sayudi
L Korban Masih
dalam
perawatan
medis
Korban ditusuk
oleh orang tak
dikenal dibagian
perut, tetapi warga
cepat menemukan
korban sehingga
korban masih bisa
diselamatkan.

35 Kompas, 29
J anuari 2011
Pencurian
dengan
Kekerasan
Ratu
Fauziah
P Korban Tewas Korban tewas pada
saat tasnya ingin
diambil oleh pelaku
pencurian sehingga
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 126

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
korban terjatuh dari
motor dan tewas

36 IndoPos, 30
J anuari 2011
Korupsi Pajak Gayus H
Tambunan
L Whistle
Blower
Pemeriksaan yang
dilakukan oleh
kepolisian dinilai
terlalu menyulitkan
saksi sekaligus
pelaku sehingga
sukar untuk
memberikan
keterangan.

37 Koran Tempo
1 Februari
2011
Pemerasan
oleh Aparat
Penegak
Hukum
Dewi Ratna
Ulan
P Korban Tertekan Korban mendapat
ancaman dari 5
oknum polisi yang
berbuntut
pemerasan dengan
cara terang-
terangan meminta
uang Rp.50 juta
kepada korban.
38 IndoPos,
1 Februari
2011
Penganiayaan
Berat
Maryanto,
Heru
Aprialiano,
Sudiono
L Korban Luka-luka Korban terkena
luka parah karena
dikeroyok oleh
empat preman yang
biasa mangkal
diGelanggang
Remaja J akarta
Pusat.
39 Warta Kota
1 Februari
2011
Penganiayaan
Terhadap
Saksi
Mustar
Bona
Ventura,
Ferdi
Semaun
L Korban Luka-Luka
Ringan
Korban terkena
luka ringan akibat
penganiayaan.
40 IndoPos
1 Februari
2011
Kejahatan di
Bandara
Penumpang
Bandara
L P Korban Korban dihipnotis
pada saat berada di
bandara. Setelah
menghipnotis
pelaku kemudian
mengambil harta
benda korban.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 127

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
41 Warta Kota
2 Februari
2011
Kecelakaan Rusdi
Rozali,
Nurhayati
L P Korban Tewas Suami-istri
tersambar kereta rel
listrik ekonomi
hingga tewas.
42 Pos Kota
2 Februari
2011
Kematian
Bocah SD
M.Ikbal L Korban Tewas Bocah SD kelas 4
tenggelam di danau
resapan air milik
perumahan elit
Alam Sutera. Pihak
manajemen Alam
Sutera diperiksa
petugas Polsekta
Cipondoh terkait
tewasnya M.Ikbal
43 Pos Kota
2 Februari
2011
Pembunuhan Noviyansya
h
L Korban Tewas Korban tewas
bersimbah darah
akibat ditikam,
pisau oleh orang tak
dikenal.
44 IndoPos
2 Februari
2011
Pencurian Masaputro,
Fitriani
L P Korban Mengalami
Kerugian
Korban mengalami
kerugian harta
benda akibat
perbuatan Ketua
RT yang
mendalangi
pencurian salah
satu warganya.
45 Warta Kota
2 Februari
2011
Perampokan Abdilah L Korban Abdilah Perampok berkolor
putih dan berikat
kepala putih
melumpuhkan
korban dengan
sabetan golok pada
kepala.
46 Koran Tempo
2 Februari
2011
Pembunuhan Sugeng
Slamet
L Korban Tewas Korban ditemukan
dalam keadaan
tewas di Bundaran
Senayan, polisi
tidak menemukan
tanda kekerasan
pada tubuh korban.
47 Warta Kota
4 Februari
Tabrak Lari Alimin
Buyung
L Korban Tewas Korban tewas
setelah tertabrak
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 128

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
2011 sepeda motor saat
menyeberang jalan.
48 IndoPos
4 Februari
2011
Perampokan Tarno, Edi
Heriansyah
L Saksi dan
Korban
Tertekan Aksi perampokan
yang dilakukan di
sebuah rumah
mengakibatkan
korban menjadi
tertekan.
49 Koran Tempo
4 Februari
2011
Kecelakaan Koko, Dedi
Saputra,
Rika
L P Korban Tewas dan
2 Orang
Luka Berat
Kecelakaan maut
menewaskan
seorang pengemudi
sepeda motor dan
dua lainnya luka
berat.
50 Warta Kota
4 Februari
2011
Pembunuhan J umrotun P Korban Tewas Wanita yang tengah
hamil tujuh bulan
dihabisi oleh
kekasihnya karena
mendesak minta
dinikahi.
51 IndoPos
5 Februari
2011
Perampokan Ridwan,
Suhudi
L Korban Disekap Perampokan terjadi
dengan cara
menyekap dua
korban.
52 Warta Kota
5 Februari
2011
Perampokan Ridwan,
Suhudi
L Korban Disekap Perampokan terjadi
dengan cara
menyekap supir dan
kenek ,obil boks
bermuatan plastik.
53 Kompas
5 Februari
2011
Whistleblowe
r
Gayus H
Tambunan
L Terdakw
a Kasus
Mafia
Pajak
Gayus HP
Tambunan yang
disangka terlibat
mafia pajak
kembali menjalani
pemeriksaan KPK.
Gayus mengakui
dia telah
mengungkapkan
semua pihak yang
diduga terlibat di
dalamnya.
54 Kompas
5 Februari
Penganiayaan
Massal
Anjas
Asmara,
L Korban Luka-Luka Tiga orang
mengalami luka
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 129

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
2011 Ardiono,
Bambang
Hariono
serius setelah
dianiaya ratusan
warga yang
menyangka mereka
adalah pelaku
penculikan anak.
55 Koran Tempo
7 Februari
2011
Penyerangan
atas
Ahmadiyah
Roni, Tarno,
Mulyadi
L Korban Tewas Anggota J emaat
Ahmadiyah
kembali menjadi
korban
penyerangan.
56 Koran Tempo
7 Februari
2011
Perampokan Manoj
Kumat
Mishra
L Korban Diancam Lima perampok
membobol rumah
berlantai dua.
Pelaku membawa
kabur harta benda
korban.
57 Warta Kota
7 Februari
2011
Penganiayaan
yang
Mengakibatka
n Kematian
Andri
Kuncoro
L Korban Tewas Korban tewas
dikeroyok
lawannya dari
sekolah lain.
58 Warta Kota
7 Februari
2011
Pembunuhan Yopie
Maipau
L Korban Tewas Polresto Depok
berhasil meringkus
Nanuk Sihaya (60),
tersangka
pembunuh Yopie
Maipau dalam
tragedy cinta
segitiga
antarmanula.
59 Pos Kota
8 Februari
2011
Penganiayaan Sartini P Korban Cedera
memar
Seorang tukang
becak mencekik
leher perempuan
karena memiliki
niat untuk
melampiaskan
nafsu secara gratis.
60 Warta Kota
8 Februari
2011
Pelecehan
Seksual
EK P Korban Mengalami
Pelecehan
Seksual
Pelecehan seksual
kembali terjadi di
bus Transjakarta.
61 Pos Kota
8 Februari
2011
Tewasnya
seorang Gadis
Ayu Mefta
Selviana
Devi
P Korban Tewas Tewasnya
Mahasiswi yang
belum diketahui
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 130

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
apa penyebabnya.
62 Pos Kota
8 Februari
2011
Penganiayaan
Berat
Daspa,
Yaya
L Korban Tewas dan
Luka-Luka
Kejahatan
perampas motor
kembali marak di
Karawang.
Pengendara
dibunuh dan yang
dibonceng kritis.
63 Koran Tempo
9 Februari
2011
Kealpaan
yang
Mengakibatka
n Kematian
Herman L Korban Tewas Korban tewas
dalam pengejaran
operasi lalu lintas.
64 Koran Tempo
9 Februari
2011
Kealpaan
yang
Mengakibatka
n Kematian
Ulum L Korban Tewas Seorang polisi
dipenjara dalam
kaitan dengan kasus
kematian Herman,
Mahasiswa
SEkolah Tinggi
Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Garut.
65 Warta Kota
9 Februari
2011
Pencurian
dengan
Kekerasan
Susi Susanti P Korban Diancam
dengan
Senjata
Tajam
Susi Susanti,warga
Kampung
Gabusbulak,
menjadi korban
pembegalan saat
akan menyetorkan
uang ke bank.
66 Warta Kota
9 Februari
2011
Pembunuhan Meti L Korban Tewas Hendri Anton,kuli
bangunan
dikomplek Gading
Serpong,Tangerang
ditangkap aparat
Polsek Kelapa Dua
karena diduga
membunuh seorang
waria bernama
Meti.
67 Warta Kota
10 Februari
2011
Pembunuhan Wati
Rohmawati
P Korban Tewas Rahmat Syah,
pembunuh
mahasiswi
Universitas Islam
Negeri J akarta,
Wati Rohmawati,
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 131

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
divonis hukuman
14 tahun penjara
oleh Majelis Hakim
Pengadilan Negeri
J akarta Pusat.
68 Koran Tempo
10 Februari
2011
Pembunuhan Narsih P Korban Tewas Polisi berhasil
meringkus Helmi
Subiko,tersangka
pembunuh Narsih
yang bersembunyi
di Karawang.
69 Koran tempo
10 Februari
2011
Penyerangan
Ahmadiyah
Riky
Rahmadan
L Saksi Tidak
Diberikan
Kesempata
n Bersaksi
Merasa
dipermainkan
karena urung
mendapat
kesempatan untuk
bersaksi, Riky
Rahmadan dan
massa mengejar
jaksa seusai sidang
kasus penyerangan
dan pembakaran
measjid milik
J emaat Ahmadiyah
di Kampung
Cisalada, Bogor.
70 Koran Tempo
10 Februari
2011
Kecelakaan
yang
Mengakibatka
n Kematian
Muhamad
Rizki
Firmansyah
L Korban Tewas Koridor VI Bus
Transjakarta ditutup
terkait tewasnya
Muhammad Rizki
Firmansyah, siswa
SD kelas IV.
71 Pos Kota
10 Februari
2011
Kecelakaan Vigi
Widyanto
L Korban Tewas Seorang pelajar
Sekolah Menengah
Kejuruan tewas
dilindas truk
kontener di J alan
Raya Cakung
J akarta.
72 Pos Kota
10 Februari
2011
Pelecehan
Seksual
Fit P Korban Menjalani
Visum di
RS
Motif pencabulan
yang menimpa
Fit,20, warga Desa
Tanjung,
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 132

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Kabupaten
Pamekasan.
73 Pos Kota
10 Februari
2011
Begal Saniman,
Ari
L P Korban
dan Saksi
Luka-Luka
Ringan
Petugas Reskrim
Polsek Taktakan
berhasil meringkus
salah seorang
perampas motor
setelah perampas
motor membantai
tukang ojek.
74 Pos Kota
11 Februari
2011
Kecelakaan Dumadi
Priyo
L Korban Tewas Kecelakaan di
J akarta Utara
menewaskan
seorang polisi yang
sedang bertugas.
75 Warta Kota
11 Februari
2011
Kecelakaan Priyo L Korban Tewas Kecelakaan di
J akarta Utara
menewaskan
seorang polisi yang
sedang bertugas.
76 IndoPos
11 Februari
2011
Tabrakan M.Rizki
Taufik
L Korban Tewas Bus TransJ akarta
koridor vi
menabrak siswa SD
M.Rizki Taufik di
lintasan busway
Mampang Prapatan,
J akarta Selatan.
77 Pos Kota
13 Februari
2011
Perampokan M.Taufik L Korban Mengalami
Kerugian
Perampokan toko
emas oleh kawanan
perampok dan
berhasil membawa
kabur perhiasan
emas dan uang
tunai
78 Pos Kota
13 Februari
2011
Tabrakan Chairul
Anwar
L Korban Luka-Luka Cameramen Global
TV luka parah
tertabrak Kopaja P
20 jurusan Lebak
Bulus. Massa yang
kesal dengan ulah
sopir,
menghancurkan
Kopaja.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 133

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
79 IndoPos
13 Februari
2011
Perampokan Wartono L Korban Luka Parah Perampokan
terhadap taksi
dengan modus
berpura-pura
menjadi
penumpang
kembali terjadi di
J akarta. Korban
mengalami luka
parah.
80 Pos Kota
14 Februari
2011
Pencurian
dengan
Kekerasan
Asri P Korban Babak
Belur
Penjambret
digelandang ke
kantor polisi
dengan wajah
babak belur akibat
diamuk massa.
81 Pos Kota
14 Februari
2011
Pencurian
dengan
Kekerasan
Yanti P Korban Mahasiswi menjadi
korban bandit
jalanan.
82 Pos Kota
14 Februari
2011
Penipuan Alloy Faizol
Burlian
L Korban Korban mengalami
kerugian dengan
modus memasang
di iklan baris.
83 Koran Tempo
16 Februari
2011
Kejahatan
Lalu Lintas
Hady
Sumaryo,
Apli, Rafli,
Suleha,
Aminah
L P Korban Tewas Tabrakan beruntun
di Desa Tamansari,
Probolinggo, J awa
Timur
menyebabkan lima
orang meninggal.
84 Warta Kota
16 Februari
2011
Pembunuhan Agnes
Karisma
P Korban Tewas Seorang teman
dekat diduga nekat
membunuh Agnes
Karisma yang
jenazahnya
ditemukan di
selokan J alan.
85 Pos Kota
16 Februari
2011
Pengancaman Fahri
Husaini
L Korban Tertekan
dan Luka
Ringan
Oknum pengacara
menganiaya dan
menodong senjata
api terhadap pelajar
kelas 3 SMU,
ditangkap anggota
Polres J akarta Utara
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 134

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
.
86 Pos Kota
16 Februari
2011
Pembunuhan Fitri Dwi
Lestari
P Korban Tewas Seorang gadis
ditemukan tewas
dengan luka memar
di kepala. J asadnya
tergolek di bawah
pohon pisang tidak
jauh dari rumahnya.
87 Koran Tempo
17 Februari
2011
Penganiayaan
yang
menyebabkan
Kematian
Agnes
Karisma
P Korban Tewas Identitas mayat
yang ditemukan di
selokan terungkap.
Korban bernama
Agnes
Karisma,warga
J alan Kebon Sirih
J akarta Pusat.
88 Warta Kota
18 Februari
2011
Pembunuhan
Saksi
Ubaidillah L Korban Tewas Ubaidillah, saksi
korban yang
mengaku
kehilangan sepeda
motor ditemukan
tewas di dalam
toilet Polsektro
Duresawit, J akarta
Timur.
89 Warta Kota
19 Februari
2011
Bunuh Diri Liong Fu L Korban Tewas Seorang lelaki renta
nekat membiarkan
dirinya ditabrak
kereta api hingga
tewas.
90 Pos Kota
19 Februari
2011
Pembunuhan
dan
Pemerkosaan
Nurayaman L Korban Tewas Nurayaman,
pengurus panti
asuhan yatim piatu
sholawatul falah
ditikam badik orang
yang sedang
berkelahi.
91 Warta Kota
19 Februari
2011
Pencurian Elfira Desi P Korban Mengalami
Kerugian
Harta
Benda
Seorang bidan
mengaku menjadi
korban pencurian
dengan modus ban
goyang.korban
merugi puluhan juta
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 135

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
rupiah.
92 Koran Tempo
19 Februari
2011
Ledakan Gas Agus
Subagio
P Korban Tewas Korban ledakan gas
kemasan 3
kilogram di
Rawamangun,J akar
ta Timur meninggal
setelah lima hari
dirawat di rumah
sakit Cipto
Mangunkusumo.
93 Koran Tempo
19 Februari
2011
Pembunuhan Ridwan
Salamun
L Korban Tewas Sekretaris Kabinet
Dipo Alam
mempertanyakan
tuntutan terdakwa
kasus pembunuhan
wartawan SUN TV
yang hanya delapan
bulan.
94 Pos Kota
20 Februari
2011
Kelalaian
Aparat
Penegak
Hukum
Yulinar
Hadi Yanti
P Korban Korban salah
tangkap mengadu
ke Propam
didukung Kapolda
Sumatra Utara.
95 Kompas
20 Februari
2011
Percobaan
Pembunuhan
Tomia P Korban Keracunan
(Tertekan
Psikogisny
a)
Seorang pembantu
runah tangga
diduga mencoba
meracuni
majikannya melalui
minuman yang
dibuatnya dengan
memasukkan
kepingan obat
pengusir nyamuk.
96 Pos Kota
21 Februari
2011
Kecelakaan Didi L Korban Tewas Tewasnya
pengendara motor
akibat diintas truk
di J l. RE
Martadinata,
J akarta Utara.
97 Pos Kota
21 Februari
2011
Kekerasan
Dalam Rumah
Tangga
Sunerna L Korban Takut Suami menganiaya
istri akibat disuguhi
daging babi.
98 Pos Kota Penodongan Farhan, L P Korban Tertekan Sepasang kekasih
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 136

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
21 Februari
2011
Royati berboncengan
motor ditodong
oleh seorang
pemuda yang
berlagak tanya
alamat.
99 IndoPos
21 Februari
2011
Pembunuhan Sri Mulyani,
Sri Murni,
Yuli
Meliana,
Fredy
Yuwono,
Siti Aisyah
L P Korban 4 Tewas
dan 1
Luka-Luka
Pembunuhan sadis
terjadi di
Probolinggo, J awa
Timur. Empat
orang sekeluarga
yang tinggal di ruko
Pusaka tewas
dibantai.
100 IndoPos
21 Februari
2011
Pencurian Herman
Ekusdi
L Korban Mengalami
kerugian
Pemilik toko
kelontong di J alan
Kampung Melayu
mengalami
pencurian hingga
rugi harta benda.
101 Koran Tempo
22 Februari
2011
Pembunuhan J efri
Adriansyah
L Korban Tewas Umar alias Hasan
terdakwa penculik
dan pembunuh
bocah berusia 9
tahun, J efri
Adriansyah dituntut
15 tahun penjara.
102 Koran Tempo
22 Februari
2011
Kelalaian
yang
mengakibatka
n Kematian
Rusmiyati P Korban Tewas Rusmiyati, 40
Tahun, tewas
setelah jatuh dari
bus yang
dikemudikan secar
ugal-ugalan.
103 IndoPos
22 Februari
2011
Pembunuhan Sri Mulyani,
Yuli
Meliana,
Fredy
Yuwono,
Sri Murni,
Siti Aisyah
L P Korban 4 Tewas
dan 1
Tertekan
Pembunuhan sadis
menimpa satu
keluarga di Kota
Probolinggo.
104 Pos Kota
22 Februari
2011
Pencurian
dengan
Kekerasan
Sumiati P Korban Tewas Wanita korban
perampokan,
Sumiati
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 137

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
menghembuskan
nafas terakhir
setelah setengah
jam dirawat di RS
Sido Waras, J awa
Tmur.
105 Pos Kota
22 Februari
2011
Perampokan Agus
Santosa,
Darman,
Ribon,
Sodikin
L Korban Disiksa dan
Dianiaya
Dua perusahaan
leasing motor dan
satu gerai telkomsel
di pertokoan
diobrak-abrik 5
perampok besenjata
api dan golok.
106 Pos Kota
22 Februari
2011
Kecelakaan Dedi, Tendi,
Ismail
L Korban Tewas dan
Luka-Luka
Mobil travel sarat
penumpang
tabrakan di KM 100
Tol Cipularang.
Akibatnya tiga
orang tewas, dua
luka berat dan
empat lainnya luka
ringan.
107 Warta Kota
1 Maret 2011
Perampokan Steven
Kulian,
Irene, Po
Bun Khiong
L P Korban Luka-Luka Empat perampok
bersenjata pistol
beraksi di rumah
seorang pengusaha
telepon seluler.
Perampok
menyekap tiga
penghuni rumah.
108 Warta Kota
1 Maret 2011
Pembunuhan Endah Indri P Korban Tewas Seorang ibu rumah
tangga ditemukan
tewas dibunuh
dirumahnya.
Korban tewas
dengan kondisi luka
di kepala diduga
akibat hantaman
benda tumpul.
109 Koran tempo
1 Maret 2011
Penganiayaan Subandi L Korban Luka-Luka Koresponden Metro
TV dan surat kabar
harian Media
Alkhairaat di Poso,
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 138

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Sulawesi Tengah,
dikeroyok. Akibat
pengeroyokan itu,
wajah korban
lebam-lebam.
200 Koran Tempo
8 Maret 2011
Kekerasan Perempuan P Korban Mengalami
Kekerasan,
Pelecehan
Seksual
Angka kekerasan di
ranah Negara naik
delapan kali lipat.
201 Koran Tempo
9 Maret 2011
Penipuan Calon
Pegawai
Negeri
L P Korban Ditipu Kepolisian Resor
Kota Kediri
menangkap sindikat
penipuan berkedok
penerimaan
pegawai negeri
sipil.
202 Koran Tempo
9 Maret 2011
Korupsi L Bekas Pejabat
Lumajang
Tersangkut
Korupsi.
203 Koran Tempo
10 Maret
2011
Narkoba Narapidana di
Lembaga
Pemasyarakatan
Nusakambangan
mengontrol
jaringan peredaran
narkoba
internasional.
204 Koran Tempo
10 Maret
2011
Narkoba Iyut Bing
Slamet
P Artis Iyut Bing
Slamet ditangkap
polisi karena
menggunakan
narkotik.
205 Pos Kota
10 maret
2011
Narkoba Mahasiswa Dua mahasiswa
kaka berafik,
bersama satu
temannya diringkus
aparat Bea Cukai
Bandara Soekarno-
Hatta usai
emngambil paket
kokain senilai
Rp.250 juta.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 139

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
206 The J akarta
Post
10 Maret
2011
Pelanggaran
Hak Asasi
Manusia
Pujiati P Korban Dipenjara Pujiati
memperingatkan
pemerintah sebagai
tugasnya dalam
melindungi warga
Negara indonesia
dengan melakukan
demonstrasi.
207 Warta Kota
10 Maret
2011
Narkoba Bisnis Narkoba,
Kalapas pakai
rekening cucu
208 Koran Tempo
11 Maret
2011
Narkoba Nurjanah P Korban Terancam
Hukuman
Gantung
Seorang WNI
terancam Hukuman
Gantung di
Malaysia
209 IndoPos
15 Maret
2011
Korupsi L Gubernur Sumatra
Utara tersangkut
kasus
penyalahgunaan
dana APBD periode
2000-2007 akhirnya
duduk di kursi
pesakitan.
210 Koran Tempo
15 Maret
2011
Perlindungan
Anak
Presiden minta
perlindungan
hukum anak
ditingkatkan
211 Koran Tempo
15 Maret
2011
Terorisme Lutfi
Haidaroh
L Saksi Saksi
Perlindung
an Baasyir
Saksi Ubaid akui
himpun Rp 600 juta
untuk operasional
pelatihan militer di
Aceh.
212 Koran Tempo
15 Maret
2011
Narkoba Kepala Lembaga
Pemasyarakatan
Nusakambangan,
J awa Tengah,
akhirnya mengaku
pernah menerima
upeti dari Bandar
narkotik.
213 The J akarta
Post
16 Maret
Terorisme Ulil L Korban Dikirimi
Paket Bom
Aktivis J aringan
Islam Liberal
dikirimin paket
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 140

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
2011 bom buku.
214 Koran Tempo
16 Maret
2011
Mafia Pajak Polisi periksa saksi
penting kasus gayus
tambunan
215 IndoPos
17 Maret
2011
Perkara Anak Anak-anak Korban Kembali
kepada
Orang Tua
Hakim Kembalikan
Anak ke Ortu,
proses hukum
bocah yang terlibat
kasus criminal.
216 IndoPos
17 Maret
2011
Aktivitas
P2TP2A
Perempuan
dan Anak
L P Korban Akibat angka
kekerasan pada
perempuan dan
anak yang terus
meningkat.
Aktivitas Pusat
Pelayanan Terpadu
Pemberdayaan
Perempuan dan
Anak meningkat.
217 IndoPos
17 Maret
2011
Intimidasi Ibrahim L Korban Merasa
Terganggu
Siswa SMK
mengaku
diintimidasi oleh
guru sekolah lain
dan merasa
terganggu dengan
oknum guru
tersebut.
218 IndoPos
17 Maret
2011
Narkoba Peredaran narkoba
di lembaga
Pemasyarakatan
Kelas II A kota
Tangerang masih
saja terjadi. Barang
terlarang tersebut
diduga dipasok
pengunjung saat
jam besuk.
219 IndoPos
17 Maret
2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Mendapat
Perlindung
an
Agus Condro
,tersangka kasus
suap cek perjalanan
pemilihan Deputi
Gubernur Senior BI
resmi mendapat
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 141

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
perlindungan dari
Lembaga
Perlindungan Saksi
dan Korban.
220 Koran Tempo
18 Maret
2011
Narkoba Narapidana
Salemba atur
peredaran ekstasi.
Salah satu kurirnya
seorang tentara.
221 Koran Tempo
18 Maret
2011
Terorisme Suranto L Saksi Suranto, salah satu
saksi dalam kasus
terorisme yang
mendudukkan Abu
Bakar Baasyir
sevagai terdakwa,
mengaku mengenal
Norrdin M Top.
222 Koran Tempo
18 Maret
2011
Pelanggaran
HAM
Charles
Mali
L Korban Meninggal Komisi Nasional
Hak Asasi Manusia
menemukan adanya
pelanggaran HAM
yang dilakukan
anggota Bataliyon
744/SYB di
Atambua,yang
menewaskan
Charles Mali.
223 Koran Tempo
21 Maret
2011
Kekerasan Kelompok
jurnalis,akti
vis,petani
dan nelayan
Korban Mengalami
Kekerasan
Kasus kekerasan
terhadap
masyarakat masih
cukup marak
selama 2010.
Menurut Ketua
Kontras,kekerasan
tersebut dilakukan
oleh Negara
ataupun masyarakat
mayoritas terhadap
golongan minoritas.
224 Warta Kota
22 Maret
2011
Narkoba Napi
Nusakambangan
kendalikan narkoba
225 Warta Kota Perlindungan Arumi P Korban Arumi Bachsin
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 142

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
22 Maret
2011
Anak Bachsin gagal dibawa
pulang ke
orangtuanya.
226 Warta Kota
25 Maret
2011
Narkotika WN Italia
selundupkan 4,3 Kg
sabu-sabu
227 The J akarta
Post
25 Maret
2011
Whistleblowe
r
Susno Duaji L Saksi
Pelapor
Hukuman
Penjara
Susno Duaji
mendapat hukuman
penjara 3,5 tahun
dalam kasus mafia
pajak.
228 IndoPos
25 Maret
2011
Korupsi Susno Duaji L Saksi
Pelapor
Hukuman
Penjara
Terbukti suap-
korupsi Susno
Duaji dihukum 3,5
tahun penjara.
229 IndoPos
25 Maret
2011
Whistleblowe
r
Khairiansya
h Salman,
Vincentius
Amin
Sutanto,
Misbakhum,
Agus
Condro
L Saksi
Pelapor
Ditahan Nasib
Whitsleblower
kasus korupsi
230 Koran Tempo
25 Maret
2011
Korupsi Susno Duaji L Saksi
Pelapor
Penjara Divonis 3,5 tahun
penjara, Susno
banding.
231 Warta Kota
25 Maret
2011
Teror Bom Rumah
Sakit Karya
Bhakti
Bogor
Korban Diteror
Bom
Teror bom kembali
terjadi,kali ini yang
emnjadi sasaran
adalah RS Karya
Bhakti Bogor.
232 Warta Kota
25 Maret
2011
Teroro Bom SDN 03
Sukabumi
Selatan
Korban Diteror
Bom
Gedung SD di
Kebon J eruk
diancam bom
233 Koran Tempo
26 Maret
2011
Kekerasan
Anak
Anak-anak Korban Disodomi Sodomi dominasi
kekerasan anak tiga
bulan terakhir.
234 IndoPos
26 Maret
2011
Perlindungan
Anak
Arumi
Bachsin
P Korban Keberadaan Arumi
Bachsin masih
belum diketahui.
235 Pos Kota
27 Maret
2011
Narkoba Pasutri sebar 100
pengedar shabu di
J akarta.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 143

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
236 Pos Kota
27 Maret
2011
Pembunuhan Zulkarnaen
Freddy
L Korban Tewas Dua bandit
menikam mati supir
taksi
237 IndoPos
28 Maret
2011
Narkoba Putri
Aryanti
Haryowibo
wo
P Korban Kecanduan
Narkoba
Putri, cucu mantan
presiden Soeharto
ditangkap akibat
mengkonsumsi
narkoba.
238 Pos Kota
28 Maret
2011
Narkoba L Dua pria WN
Liberia diringkus
pada saat memakai
sabu.
239 Warta Kota
28 Maret
2011
Narkoba Putri
Aryanti
Haryowibo
wo
P Korban Kecanduan
Narkoba
Putri, cucu mantan
presiden Soeharto
ditangkap akibat
mengkonsumsi
narkoba.
240 Warta Kota
29 Maret
2011
Penculikan 2
Mahasiswa
Korban Diculik dan
diminta
uang
tebusan
Polisi mendalangi
penculikan 2
mahasiswa.
241 Koran Tempo
30 Maret
2011
Korupsi RUU Tipikor
lemahkan
pemberantasan
korupsi.
242 Koran tempo
30 Maret
2011
Penipuan Nasabah
Citibank
Korban Dirugikan Citibank Indonesia
siap mengganti
kerugian nasabah
korban penipuan
karyawan Citibank
berinisial MD.
243 Koran Tempo
30 Maret
2011
Fitnah
(Ancaman)
Yusuf
Supendi
L Korban Diancam Yusuf serahkan
bukti ancaman ke
polisi
244 Koran Tempo
30 Maret
2011
Teroris Umar
Patek
L Tersangka teroris
Umar patek
dikabarkan
tertangkap di
Pakistan.
245 Warta Kota
30 Maret
2011
Penipuan Lie Charles L Korban Dirugikan Polisi menangkap
WN India penipu
pemilik mobil
mewah
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 144

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
246 Warta Kota
30 Maret
2011
Narkoba BNN mengungkap
jaringan pengedar
sabu-sabu
internasional yang
menyelundupkan
sabu dalam kapsul.
247 Pos Kota
31 Maret
2011
Penipuan Rico
Erawan
Usman and
Hadianto
Rijianto
L Korban Mengalami
Kerugian
Korban penipuan
yang diduga
dilakukan oleh
anggota citra
bhayangkara minta
perlindungan
hukum.
248 Pos Kota
31 Maret
2011
Narkoba 20 napi diduga
mengkonsumsi
shabu
249 IndoPos
31 Maret
2011
Pembunuhan Suwito dan
Dora Halim
L P Korban Dibunuh Pasutri menjadi
korban
pembunuhan
250 Koran Tempo
31 Maret
2011

Terorisme
Geng Umar Patek
masih aktif
251 Koran Tempo
31 Maret
2011
Kekerasan Tokoh
Ahmadiyah
Korban Mengalami
Luka
Rumah tokoh
ahmadiyah dirusak
massa
252 Koran Tempo
1 April 2011
Terorisme Terdakwa teroris
remaja dituntut 4
tahun penjara
253 Koran Tempo
2 April 2011
Pembunuhan Irzen Octa L Korban Meninggal Meninggalnya
nasabah Citibank
akibat perlakuan
buruk debt
collector.
254 Pos Kota
2 April 2011
Pembunuhan Empat kasus
pembunuhan dalam
empat bulan yang
terjadi di Kota
Tangerang dan
Kabupaten
Tangerang.
255 The J akarta
Post
6 April 2011
Kekerasan
Anak
Meningkat
Anak-AnaK Korban Mengalami
Kekerasan
Kekerasan terhadap
anak meningkat.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 145

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
256 Warta Kota
6 April 2011
Penganiayaan Dayang
Cantikasari
P Korban Terkena
pukulan
sebanyak 6
kali di
tulang
rusuk dan
ulu hati
Komnas PA
menangarai banyak
kejanggalan dalam
pengusutan kasus
penganiayaan atas
Dayang
Cantikasari.
257 Pos Kota
4 April 2011
Debt
Collector
Irzen Octa L Korban Meninggal Korban debt
collector diminta
melapor
258 IndoPos
11 April 2011
Korban
Pelayanan
Publik
Adli Mukti L Korban Dirugikan
Pihak
Pemprov
DKI
Pengakuan korban
pelayanan publik :
petugas
nomorsatukan calo
260 Warta Kota
11 April 2011
Kecelakaan
Maut
Mulyadi dan
Wahyu
L Korban Meninggal
Dunia
Dua korban
kecelakaan maut
mobil pengawal
pribadi kementrian
kelautan dan
perikanan mendapat
santunan berupa
uang tunai.
261 IndoPos
11 April 2011
Perlindungan Seratus
Produsen
Kosmetika
Kesehatan
Korban Meminta
Perlindung
an Hukum
Seratus lebih
produsen kosmetika
kesehatan dan
menengah minta
perlindungan
hukum dari Kapolri
dan pemerintah.
262 Pos Kota
11 April 2011

Penculikan Lian
Febriani
P Korban Mengalami
Teror
Korban diteror bila
melapor
263 Pos Kota
14 April 2011
Perampokan Deni, Vero
Kamila,
Luki, tiga
pembantu
L P Korban Diikat dan
Diancam
Dibunuh
Perampokan terjadi
di sebuah rumah
dengan cara
menyekap pemilik
rumah.
264 Koran Tempo
14 April 2011
Penyerangan
dan
Pengrusakan
Ahmadiyah
Dede Novi,
Aldi
Alpriansyah
L Tersangk
a
Enam
Bulan
Penjara
Perusak masjid
Ahmadiyah
dihukum
percobaan.
265 Warta Kota
14 April 2011
Terorisme Abu Bakar
Baasyir
L Tersangk
a
Menjalani
Persidanga
Kasus Baasyir
positif teror
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 146

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
n
266 Warta Kota
14 April 2011
Pembunuhan Lo Tirta
Karya, Sho
Indah Rani
L P Korban Meninggal
Dunia
Pembunuh ortu
mengaku sakit hati
267 Rakyat
Merdeka
14 April 2011
Penipuan Mantan
Pejabat
L Korban Dirugikan Ada bekas pejabat
jadi korban
Malinda
268 Warta Kota
15 April 2011
Kekerasan
Anak
Arumi
Bachsin
P Korban Mengalami
kekerasan
psikis,
ekonomi
dan seksual
dalam
keluarga
Mengaku alami
kekerasan Arumi
tetap Misterius.
269 Koran Tempo
16 April 2011
Terorisme AKBP
Herukoco
dan 28
orang
lainnya
L Korban Luka-Luka Bom dilingkarkan
di perut korban luka
karena lontaran
paku
270 Koran Tempo
17 April 2011
Terorisme Pelaku bom
Cirebon diduga
jaringan local,tokoh
agama meminta
umat tenang.
271 IndoPos
17 April 2011
Terorisme Bomber Cirebon
pembunuh TNI
272 Koran Tempo
18 April 2011
Penembakan Surip
Supangat,
Mustofa,
Aris Panji,
Mulyanto,
Salwandi,
Samsudin,
Kusriyanto,
Kasantri,
Martijo,
Ilyas
L Korban Luka
Tembak,Lu
ka
Pukul,Pata
h Tulang
Penembakan warga
kebumen dikecam.
Presiden didesak
membentuk tim
independen.
273 Warta Kota
18 April 2011
Terorisme Kopral
Kepala
Sutedjo,Ang
gota
Koramil
L Korban Dibunuh Pelaku bom
Cirebon diburu
polisi sejak awal
april karena diduga
membunuh anggota
TNI setelah mereka
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 147

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
cekcok di sebuah
gubuk.
274 Warta Kota
19 April
2011
Narkoba J anda jadi pengedar
sabu
275 IndoPos
19 April 2011
Terorisme Densus buru guru
bomber Cirebon
276 The J akarta
Post
19 April 2011
Pencucian
Uang
Penandatangan
MOU
LPSK,PPATK dan
Kepolisian RI.
277 Koran Tempo
20 April 2011
Kekerasan Helmy
Yohanes
Manuputy
L Korban Meninggal
Dunia
Kekerasan oleh
nasabah, penagih
mengadu ke
komnas HAM.
278 Koran Tempo
20 April 2011
Penipuan 10
Mahasiswa
Universitas
Muhammad
iyah Malang
Korban Otaknya
dicuci dan
hilang
Mahasiswa korban
penipuan berkedok
agama hilang.
279 Koran Tempo
20 April 2011
Terorisme Pola teror bergeser
ke kelompok kecil
280 Warta Kota
21 April 2011
Terorisme Lima pelaku bom
buku diburu
281 IndoPos
21 April 2011
Kekerasan
Dalam Rumah
Tangga
Kekerasan
terhadap
perempuan
meningkat
Tak semua
perempuan
merdeka
282 Warta Kota
21 April 2011
Pembunuhan David
Riyadi
L Korban Dibunuh Tiga tersangka
membunuh siswa
SMP atas nama
David Riyadi
283 IndoPos
23 April 2011
Korban Baiat
NII
Mahasiswa
Universitas
Muhammad
iyah Malang
Korban Diperas Para korban diajari
menipu orang tua
dengan alasan
untuk mendapatkan
uang sumbangan.
284 Warta Kota
24 April 2011
Korupsi Adhyaksa curigai
ada rekayasa dalam
kasus korupsi
Kemenpora
285 Warta Kota
24 April 2011
Terorisme Pelaku bom
Serpong berencana
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 148

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
akan menyiarkan
peledakan bom
melalui televisi.
286 Koran Tempo
26 April 2011
Kekerasan
TNI-Warga
Warga
Setrojenar,
Kebumen
J awa
Tengah
Korban Tertembak
dan Luka-
Luka
Kasus Kebumen :
enam warga masih
ditahan
287 Koran Tempo
26 April 2011
Terorisme Mahasiswa Korban Dicuci
Otak
Pulau J awa jadi
target perekrutan
NII
288 IndoPos
26 april 2011
Kekerasan
Perempuan
Perempuan
Dewasa,rem
aja dana
anak-anak
Korban Pemerkosa
an,peleceha
n
seksual,KD
RT
Kasus kekerasan
perempuan
meningkat
289 Koran Tempo
27 April 2011
Manipulasi
Pajak Asian
Agri
Hidayat
Rahardjo,Su
kanto
Tanoto,
Vincentius
Amin
Sutanto
L Saksi Saksi ungkap kasus
manipulasi
keuangan Asian
Agri
290 Pos Kota
28 April 2011
Organisasi
Negara Islam
Indonesia
Nurhidayah,
Dori
Israwani
Siregar,
Yulimayasa
ri, Harni
Purnama
Ningsih
L P Korban menghilang Sepuluh mahasiswa
hilang diduga ikut
NII setelah
mengikuti
pengajian di
lingkungan
kampus.
291 IndoPos
29 April 2011
Penyuapan
(Korupsi)
Rosalina
dan
Komarudin
L P Korban Mengalami
teror
Pengacara Rosalina
diteror
292 Koran Tempo
29 April 2011
Suap
Kemenpora
Mirdo
Rosalina
Manulang
P Saksi Terancam Tersangka suap di
kemenpora minta
perlindungan.
293 Koran Tempo
29 April 2011
Kasus Asian
Agri
Vincentius
Amin
Sutanto
L Saksi Satgas awasi sidang
Asian Agri
294 Koran Tempo
6 Mei 2011
Kasus Asian
Agri
Eddy Lukas L Saksi Kesulitan
Menghadir
kan Saksi
J aksa kesulitan
menghadirkan saksi
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 149

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
295 Indopos
7 Mei 2011
Perampokan Yanti P Korban Terkena
tembakan
Kawanan
perampokan
menembak
perempuan
pengemudi J azz
dan mengambil tas
berisi uang senilai
Rp 200rb
296 Warta Kota
7 Mei 2011
Pembunuhan Wiwik P Korban Dibunuh Pedagang sembako
a/n Wiwik tewas
dibunuh setelah
memergoki pencuri
yang masuk ke
kamarnya.
297 Warta Kota
7 Mei 2011
Pembunuhan Solahudin P Korban Dibacok Pelajar kelas I a/n
Solahudin tewas
mengenaskan
dengan luka bacok
dip aha kiri dan
lengan kanan.
298 Koran Tempo
14 Mei 2011
Penganiayaan Dores
Febriawan
L Korban Mengalami
luka-luka
Dua anggota TNI
ditahan akibat
menganiaya pelajar
SMA.
299 Indopos
19 Mei 2011
Trafficking Novita dan
Erna
P Korban Diculik
namun
berhasil
lolos
2 gadis remaja
diculik oleh pria tak
dikenal diduga akan
dijual ke luar
negeri.
300 Koran Tempo
20 Mei 2011
Penipuan Inggrid
Wongso
Wong
P Korban Rugi Harta
benda
Kepolisian Sektor
Metro Gambir
meringkus
komplotan penipu
dengan hipnotis.
301 Pos Kota
21 Mei 2011
Perlindungan
Anak
Arumi
Bachsin
P Korban Kembali
kepada
Orang Tua
Arumi Bachsin
kembali kepada
orang tua setelah 6
bulan kabur.
302 IndoPos
21 Mei 2011
Perlindungan
Anak
Arumi
Bachsin
P Korban Dibawa
pulang
keluarga
Setelah 7 bulan
berada dalam
perlindungan LPSK
Arumi Bachsin
kembali kepada
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 150

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
keluarganya.
303 Koran Tempo
21 Mei 2011
Pelecehan
seksual
Li P Korban Mengalami
pelecehan
seksual
Seorang perempuan
mengaku
mengalami
pelecehan seksual
oleh Bupati
Bengkulu Selatan.
304 Warta Kota
21 Mei 2011
Perlindungan
Anak
Arumi
Bachsin
P Korban Kembali
kepada
keluarga
Arumi Bachsin
akhirnya kembali
ke pelukan
keluarga.
305 Indopos
23 Mei 2011
Perlindungan
Anak
Arumi
Bachsin
P Korban Arumi Bachsin
mendapat wejangan
dari Ibu Menteri
Negara
Pemberdayaan
Perempuan dan
Perlindungan Anak.
306 Koran Tempo
23 Mei 2011
Penganiayaan Marlena dan
Dwi Fitri
P Korban Luka Berat Kepolisian Resor
Kota Besar
Surabaya empat
anggota keluarga
diduga menganiaya
tiga pembantunya.
307 Warta Kota
24 Mei 2011
Perlindungan
Anak
Arumi
Bachsin
P Korban Orang tua Arumi
Bachsin berencana
untuk melaporkan
Seto Mulyadi,
Gufron dan Hadi
Supeno ke polisi
yang didasari
keluarnya SP3 dari
polda Metro J aya
308 Warta Kota
24 Mei 2011
Pemerkosaan SJ dan SK P Korban Mengalami
pemerkosa
an
Dua siswi SMP
diduga menjadi
korban perkosaan
dua oknum guru di
sekolahnya.
309 Pos Kota
25 Mei 2011
Pembunuhan Nurfadilah P Korban Tewas Gadis cantik
ditemukan tewas
dikamarnya.
310 Koran Tempo
26 Mei 2011
Penembakan J anuar
Yudhistira
P Korban Tewas Tiga polisi diserang
dan dua tewas
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 151

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Pranata dan
Andi Irbar
Prawira
tertembak saat
berjaga di kantor
bank.
311 Pos Kota
28 Mei 2011
Keterangan
Saksi
130 Saksi Saksi Memberikan saksi
pada persidangan
dugaan korupsi
Walikota non aktif
Bekasi.
312 Warta Kota
28 Mei 2011
Perampokan Wahyuni P Korban Terkena
luka bacok
dan memar
di kepala
Tiga perampok
remaja mengenakan
seragam sekolah
melukai seorang
nenek.
313 Warta Kota
28 Mei 2011
Penganiayaan Paul
Mommers
L Korban Mengalami
Penganiaya
an
Turis asal Belanda
dianiaya pencuri
314 IndoPos
31 Mei 2011
Penipuan Rahma
Soraya
P Saksi Saksi merasa tak
dirugikan oelh
tersangka
315 Warta Kota
31 Mei 2011
Penganiayaan Tidak
diketahui
identitasnya
Korban Tewas Mayat tak dikenal
dibungkus kantung
plastic besar
ditemukan diduga
terkait
penganiayaan.
316 Pos Kota
31 Mei 2011
Pencurian Pensiunan
J enderal
L Korban Mengalami
kerugian
harta benda
Lelaki S2 menguras
harta pensiunan
jenderal
317 Koran Tempo
1 J uni 2011
Penembakan Sholat
Batubara
L Korban Terkena
tembakan
Komnas HAM
desak investigasi
penembakan warga
318 Pos Kota
1 J uni 2011
Pembunuhan Son Hadji L Korban Tewas Berutang uang
200juta dirut bunuh
kommisaris utama
319 Warta Kota
1 J uni 2011
Narkoba WN Malaysia nekat
menyelundupkan
heroin dan berhasil
ditangkap aparat
bea cukai
320 Rakyat
Merdeka
3 J uni 2011
Perlindungan
Anak
Anak-Anak Korban KPAI menemukan
Anak-anak
dijadikan informan
atau mata-mata di
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 152

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
daerah konflik
321 Rakyat
Merdeka
3 J uni 2011
Sengketa
Pilkada
Saksi Saksi menjalani
pemeriksaan pada
siding
sengketapilkada
kabupaten Morotai,
Maluku Utara
322 Rakyat
Merdeka
5 J uni 2011
Sidang Agus
Condro
LPSK memberikan
perhhatian kepada
Agus Condro,
terdakwa kasus
suap travel cek
323 Rakyat
Merdeka
5 J uni 2011
Penembakan M dan D L Korban Tewas Dua pembunuh
polisi poso tewas
324 Indopos
5 J uni 2011
Kasus
Antasari
Antasari L Korban Antasari dinilai
korban peradilan
sesat
325 Warta Kota
6 J uni 2011
Pembunuhan Lukman
Hakim
L Korban Tewas Teman ditagih
utang, paman
bunuh sepupu
326 Warta Kota
7 J uni 2011
Perampokan Endang
Susilawati
P Korban Terluka
Parah
Perampok
bertopeng aniaya
pemilik toko
327 Warta Kota
8 J uni 2011
Kejahatan Kualitas kejahatan
di ibukota
meningkat.
328 Warta Kota
7 J uni 2011
Penembakan Tarsudin
dan Edi
L Korban Tewas Tabrak bus,pencuri
mobil tewas
ditembak polisi
329 Indopos
7 J uni 2011
Penembakan Edi Suhaedi L Korban Terkena
Tembakan
PNS jadi korban
salah tembak polisi
330 Warta Kota
8 J uni 2011
Pembacokan Yaya
Suyana
L Korban Luka Parah Pengedara sepeda
motor dihujani
bacokan
331 Warta Kota
8 J uni 2011
Penganiayaan Cahyo
Wirawan
L Korban Tangan
Kiri Patah
Kameramen MNC
TV dianiaya
332 Pos Kota
8 J uni 2011
Pembunuhan Dulkarim L Korban Tewas Bapak dan anak
membantai
tetangga, korban
dibunuh saat
hendak haji
333 Warta Kota Penipuan IR L Korban Rugi Harta Dokter Ditipu
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 153

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
9 J uni 2011 Benda J anda dengan
modus undian
berhadiah
334 Koran Tempo
9 J uni 2011
Kasus Agus
Condro
Agus Condro
benarkan tuntutan
jaksa. Menghukum
whistle blower
berpotensi
membuat orang
takut melaporkan
kasus korupsi
335 Koran Tempo
13 J uni 2011
Bentrokan
Warga
Nadin L Korban Warga dan anggota
TNI bentrok di
Cileungsi dipicu
oleh tembok hotel
yangmenutupi jalan
di tanah adat.
336 Warta Kota
14 J uni 2011
Pembunuhan Mathias L Korban Tewas Pembunuhan
Mathias, enam
saksi diperiksa
337 Koran Tempo
14 J uni 2011
Korupsi Suharno L Korban Terluka
Parah
Polisi selidiki
percobaan
pembunuhan
pelapor korupsi
338 Koran Tempo
14 J uni 2011
Penganiayaan Nadin L Korban Mengalami
Pemukulan
Lima anggota TNI
masih diperiksa
akibat bentrokan
Cileungsi.
339 Koran tempo
15 J uni 2011
Korupsi Suharno L Pelapor Luka Berat Kepolisian Resor
Madiun melindungi
pelapor kasus
korupsi
340 Koran tempo
16 J uni 2011
Whistleblowe
r
Suharno L Pelapor Luka Berat Lembaga
Perlindungan Saksi
dan Korban
Lindungi pelapor
kasus korupsi.
341 Kompas
17 J uni 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Mendapat
hukuman 1
tahun 3
bulan
Vonis terhadap
Agus Condro
mencederai
keadilan dan
membaut orang
enggan melaporkan
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 154

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
kasus korupsi
342 Koran Tempo
17 J uni 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Mendapat
hukuman 1
tahun 3
bulan
Hukuman untuk
Agus Condro
Disesalkan
343 Media
Indonesia
17 J uni 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Mendapat
hukuman 1
tahun 3
bulan
Hukum belum
lindungi
pengungkap
korupsi
344 Koran tempo
18 J uni 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Mendapat
hukuman 1
tahun 3
bulan
Agus Condro
menerima putusan
hakim
345 Kompas
18 J uni 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Mendapat
hukuman 1
tahun 3
bulan
Ketua LPSK AH
Semendawai
sayangkan vonis
yang menimpa
Agus Condro
346 Sumatera
Ekspres
Konsultasi
Hukum
Bisakah minta
perlindungan
347 Koran Tempo
20 J uni 2011
Whistleblowe
r
Wa Ode P Pelapor Mendapat
sanksi
Kalangan pegiat
anti korupsi
menentang rencana
Badan Anggaran
DPR menjatuhkan
sanksi kepada
anggota DPR,Wa
Ode Nurhayati.
348 Media
Indonesia
21 J uni 2011
Whistleblowe
r
Wa Ode P Pelapor terintimida
si
LPSK menilai
Badan Kehormatan
DPR intimidasi Wa
Ode
349 Kompas
21 J uni 2011
Perlindungan
TKI
Ruyati P Korban Hukuman
Gantung
Pemerintah Akui
kecolongan
terhadap kasus
eksekusi Ruyati
350 Kompas
21 J uni 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Mendapat
hukuman 1
tahun 3
bulan
Peniup pluit belum
mendapat tempat
351 Kompas
22 J uni 2011
Korupsi Suharno L Pelapor Luka Berat Perjuangan
antikorupsi tak
gentar meski
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 155

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
bersimbah darah
352 Kompas
23 J uni 2011
Korupsi Suharno L Pelapor Luka Berat LPSK mengabulkan
permohonan
perlindungan untuk
Suharno
353 The J akarta
Post
24 J uni 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Mendapat
hukuman 1
tahun 3
bulan
Price too high for
whistleblowers :
agency
354 Koran Tempo
25 J uni 2011
Bentrok
Warga
Dominggus
Laka,
Yakob
Komba
Manu,
Yakob Bili,
Simon Bulu,
Arnoldus
Pang
L Korban Tewas Dua Kelompok
warga bentrok, lima
tewas.
355 Warta Kota
27 J uni 2011
Penyerangan Mohamad
Mildan&Edi
L Korban Luka Parah Pria bercadar
serang 2 remaja
356 Warta Kota
28 J uni 2011
Perlindungan
Anak
Arumi
Bachsin
P Korban Arumi Bachsin
diperiksa polisi
sebagai saksi kunci
357 IndoPos
2 J uli 2011
Mafia Pemilu Marissa
Haque
P Korban Gagal
menjadi
caleg
Marissa Haque
menajdi korban
mafia pemilu
358 IndoPos
3 J uli 2011
Profil Abdul
Haris
Semendawai
Ketua LPSK :
Mencegah Hak
Rakyat yang
Dikebiri
359 Pos Kota
4 J uli 2011
Trafficking 4 Orang Korban 27 warga Sukabumi
menjadi korban
perdagangan
manusia
360 Koran Tempo
5 juli 2011
Trafficking 37 anak Korabn disekap PJ TIKI diduga
menyekap 37 anak
dibawah umur yang
akan dikirimkan ke
Arab Saudi.
361 Koran Tempo
5 J uli 2011
Trafficking Perempuan
muda
lulusan
SMP/SMA
P Korban Calo trafficking
berkeliaran di
Majalengka
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 156

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
362 Koran Tempo
6 J uli 2011
Penyekapan
Anak-Anak
30 Anak P Korban Disekap Polisi periksa
direktur perusahaan
jasa tenaga kerja
indonesia terkait
dugaan penyekapan
anak-anak
363 Koran Tempo
7 J uli 2011
Pelanggaran
HAM
Warga
Wotgalih
Korban terluka Kasus pelanggaran
HAM di Wotgalih
warga akan eminta
rekomendasi itu
secepatnya
364 Koran Tempo
7 J uli 2011
Penyekapan
Anak
30 Anak Korban Disekap Dugaan
penyekapan anak-
anak ditemukan
unsur pidana
365 Warta Kota
7 J uli 2011
Trafficking Perempuan
dan Anak
P Korban Mengalami
KDRT
Kasus Trafficking
di J abar Tinggi
366 Koran Tempo
7 J uli 2011
Konflik
Lahan
Ahmad
Adam
L Korban Tewas Konflik lahan di
J ambi bagai api
dalam sekam
367 Koran Tempo
8 J uli 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Penjara Satgas bantu
ringankan hukuman
Agus Condro
368 Kompas
12 J uli 2011
Korupsi
Dunia
Pendidikan
Tayasmen
Kaka
L Korban Intimidasi LPSK siap lindungi
pelapor korupsi
sekolah
369 Kompas
12 J uli 2011
Mafia Pemilu 4 Saksi Saksi diperiksa Empat saksi kasus
surat palsu MK
akan dilindungi
LPSK
370 The J akarta
Post
12 J uli 2011
Korupsi
Dunia
pendidikan
Tayasmen
Kaka
L Korban Intimidasi Foto Ketua LPSK
dan Tayasmen
Kaka
371 Warta Kota
12 J uli 2011
Korupsi
Dunia
Pendidikan
Tayasmen
Kaka
L Korban Intimidasi Laporkan Korupsi
Sekolah kepada
LPSK
372 Kompas
13 J uli 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Penjara Pelapor pelaku
mendapat
keringanan
hukuman
373 The J akarta
Post
16 J uli 2011
Whistleblowe
r Seminar
LPSK to host talk
on witness
protection
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 157

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
374 Kompas
18 J uli 2011
Seminar
Whistleblowe
r
LPSK adakan
seminar
Whistleblower
375 Kompas
19 J uli 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Penjara Penegak hukum
beri keringanan
bagi pelaku pelapor
376 Koran Tempo
19 J uli 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Pelapor Penjara Agus Condro di Sel
Khusus
377 The J akarta
Post
20 J uli 2011
Whistleblowe
r
Whistleblower to
get better protection
378 Koran tempo
20 J uli 2011
Whistleblowe
r
Penegak hukum
sepakat lindungi
pelapor kejahatan
379 Pos Kota
20 J uli 2011
Whistleblowe
r
Mahkamah Agung
akan ringankan
hukuman bagi
whistleblower
380 Media
Indonesia
20 J uli 2011
Whistleblowe
r
Whistleblower
dapat keringanan
hukuman
381 Kompas
20 J uli 2011
Whistleblowe
r
Disepakati,
penguatan
perlindungan
382 Koran tempo
20 J uli 2011
Whistleblowe
r
(Foto) Melindungi
pelapor pertama
383 IndoPos
20 J uli 2011
Whistleblowe
r
Sean HORE L Pelapor Tewas Sang
Whistleblower
tewas di kediaman
384 Koran Tempo
21 J uli 2011
Whistleblowe
r
Vincentius
Amin
Sutanto
L Pelapor Menerima
hukuman
penjara
Pelapor kasus
Asian Agri ajukan
grasi
385 Trust
21 J uli 2011
Whistleblowe
r
Susno Duaji L Pelapor Menerima
hukuman
penjara
Whistleblower
mendapat hukuman
ringan
386 Koran Tempo
21 J uli 2011
Pelanggaran
HAM
Yoga
Prakoso dan
Yogi
Prakoso
L Pelapor Dikeluarka
n dari
sekolah
Sekolah pemecat
bocah kembar
melanggar HAM
387 Koran Tempo
25 J uli 2011
Kekerasan
Anak
Anak-Anak L Korban Mengalami
kekerasan
seksual
Kekerasan seksual
terhadap anak
meningkat
388 Koran Tempo Penganiayaan Amri L Korban Luka berat Wartawan harian
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 158

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
25 J uli 2011 Amrullah republika dianiaya
389 Koran Tempo
25 J uli 2011
Penembakkan Saiful
Husein
L Korban Tewas Polisi usut
penembakan
mantan panglima
GAM
390 Koran tempo
26 J uli 2011
Kekerasan
Seksual
Perempuan
dan Anak
P Korban Mengalami
kekerasan
seksual
Kasus kekerasan
terhadap anak dan
perempuan di kota
cirebon tercatat 219
kasus selama satu
tahun
391 Koran Tempo
Selasa, 2
Agustus 2011
Penembakkan Warga
Papua dan
TNI
L Korban Tewas dan
Luka-luka
Aksi penembakan
terjadi di wilayah
kampung nafri
jayapura papua
mengakibatkan
empat orang tewas
392 Warta Kota
Selasa, 2
Agustus 2011
Bentrokan
Warga
19 orang Korban Tewas Bentrokan antar
warga dipicu
masalah pilkada di
kampong kimak,
kabupaten puncak
papua menewaskan
19 orang
393 Koran Tempo
Rabu, 3
Agustus 2011
Bentrokan
Warga
Martin
Dapatalu,
Lodowik
Dapatalu,
Aprianus
Wungalero
L Korban Tewas Bentrokan antar
warga di nusa
tenggara timur
menyebabkan tiga
orang tewas
Koran Tempo
Rabu, 3
Agustus 2011
Whistleblowe
r
Agus
Condro
L Saksi
Pelapor
Mendapat
hukuman
Agus Condro
Ditahan di Alas
Roban
394 Media
Indonesia
Sabtu, 6
Agustus 2011
Korupsi Bedah editorial
Lindungi Aan
Kaltim Post
Sabtu, 6
Agustus 2011
Perlindungan
Saksi dan
Korban
Minim laporan
saksi-korban dari
Kaltim
Media
Indonesia
Selasa, 9
Korupsi Nazaruddin L SBY minta ungkap
keterlibatan kader
demokrat
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 159

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Agustus 2011
Koran Tempo
Rabu, 10
Agustus 2011
Korupsi Nazaruddin L Tersangk
a
LPSK jajaki Nazar
jadi Whistleblower
Koran Tempo
Rabu 10
Agustus 2011
Korupsi Nazaruddin L Tersangk
a
LPSK diminta
bergerak cepat
untuk lindungi
nazaruddin
The J akarta
Post
Rabu, 10
Agustus 2011
Korupsi Nazaruddin L Tersangk
a
Nazarudin
menggunakan
paspor
keponakannya
untuk bepergian
selama dalam masa
pencariannya
395 Pos Kota
Kamis, 11
Agustus 2011
Whistleblowe
r
Bongkar mafia
proyek pemerintah
bisa jadi whistle
blower
396 IndoPos
Kamis, 11
Agustus 2011

Korupsi
Nazar mafia
anggaran dimana-
mana
Indopos
Minggu, 14
Agustus 2011

Korupsi
Nazaruddin L Tersangk
a
Istana Negara tak
setuju Nazaruddin
dilindungi LPSK
karena tidak
menunjukkan itikad
baik untuk
bekerjasama
mengungkap kasus
Koran Tempo
Senin, 15
Agustus 2011

Korupsi
Nazaruddin L Tersangk
a
LPSK siap lindungi
Nazaruddin
397 Koran Tempo
Kamis, 18
Agustus 2011
Penembakan Belum
diketahui
Tewas Kontak senjata
mengakibatkan satu
anggota separatis
terjadi di Dogiyai,
Papua
398 The J akarta
Post
J umat, 19
Agustus 2011
MOU LPSK-
OMBUDSMAN
melakukan
penandatanganan
MOU
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 160

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
399 Media
Indonesia
Minggu, 21
Agustus 2011
Korupsi Anas desak KPK
terbuka soal
intervensi DPR
400 Forum
Keadilan
18/22
Agustus-4
september
2011
Wawancara
dengan Ketua
LPSK
LPSK sulit
berperan dalam
kasus nazaruddin
Koran Tempo
Rabu, 24
Agustus 2011
Pembunuhan Anggota
TNI
L Korban Tewas Seorang anggota
TNI dibunuh di
Abepura
Koran Tempo
J umat, 26
Agustus 2011
Penembakan 2 warga L Korban Tewas Penembakan di
Tiaka, empat polisi
diperiksa
Warta Kota
Sabtu, 27
Agustus 2011
Pembunuhan Syafarudin L Korban Tewas Pemuda ditemukan
tewas karena
menderita luka
bacok
Koran Tempo
Sabtu,27
Agustus 2011
Pembunuhan Livia P Korban Tewas Kepolisian Resor
J akarta Barat
menangkap pelaku
pembunuhan
seorang mahasiswi
Universitas Binus.
Indopos
J umat, 2
September
2011
Pembunuhan M. Syahri L Korban Tewas Pembunuhan yang
dilakukan seorang
anak terhadap
ayahnya
Koran tempo
J umat, 2
September
2011
Whistleblowe
r
ICW usulkan
pemberian remisi
hanya bagi pelaku
korupsi yang juga
menjadi
whistleblower
Koran Tempo
J umat, 2
September
2011
Kerusuhan Suhairman P Tersangk
a
Kapolres Morowali
terancam diberi
sanksi
Koran Tempo
Sabtu, 3
September
Kerusahan 19 personel
polisi
Terperiks
a
19 personel polisi
terperiksa dalam
kasus kerusuhan di
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 161

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
2011 anjungan minyak
milik konsorsium
badan operasi
bersama.
Warta Kota
Rabu, 7
September
2011
Penyiksaan Ane P Korban Mengalami
penyiksaan
Seorang istri
melapor ke polisi
karena disiksa
suami
Pos Kota
Sabtu, 10
September
2011
Intimidasi Wiwik P Saksi Trauma Dibentak penyidik,
saksi pemalsu tanda
tangan trauma
Warta Kota
Sabtu, 10
September
2011
Penganiayaan 2 Wartawan Korban Dianiaya Liput Sidang, Dua
wartawan dianiaya
Indopos
Selasa, 13
September
2011
Calon
Anggota
LPSK
Perpanjang
penerimaan calon
anggota
Pos Kota
Rabu, 14
september
2011
Pembunuhan Amin L Terdakw
a
Pembunuh tentara
diadili
Pos Kota
Rabu, 14
September
2011
Penggelapan
Dana
Willy
Karamoy
L Saksi Dirugikan Saksi kasus
penggelapan dana
mengalami
kerugian harta
benda
Suara
Pembaruan
Rabu, 14
September
2011
Persidangan Antasari
Azhar
L Terpidan
a
Antasari ingin
hadirkan lima saksi
baru
Pos Kota
Rabu, 14
September
2011
Kerusuhan J effry L Korban Korban kerusuhan
ambon mengalami
trauma
Media
Indonesia,
Kamis 15
September
2011
Pemerkosaan P Korban Korban buru sendiri
pelaku
pemerkosaan
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 162

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Pos Kota
Kamis, 15
september
2011
Pelecehan P Korban Terancam Korban pelecehan
seksual diancam
dimutasi ke papua
Media
Indonesia,
Kamis 15
September
2011
Korupsi Ruhut Sebut PKB
minta perlindungan
Warta Kota,
J umat, 16
September
2011
Pelecehan
Seksual
Korban Korban pelecehan
seksual melpor ke
komnas HAM
Pos Kota,
J umat, 16
september
2011

Penipuan Ngaku dosen tipu
calon mahasiswa
Pos Kota,
J umat 16
September
2011
Pembunuhan korban Kakak menghabisi
adik perempuan
dengan Alu
Kompas,
J umat 16
september
2011
Pelanggaran
HAM
Keluarga korban
bahagia karena
diperhatikan
Media
Indonesia,
Sabtu 17
September
2011
Pemerkosaan Korban Korban
Pemerkosaan
rencana akan
membalas dendam
Pos Kota
Senin 19
September
2011
Pembunuhan Korban Kakak bunuh adik
perempuan diduga
psikopat
Indopos
Senin 19
September
2011
Perkosaan Korban Perkosaan Marak,
Perempuan tolak
salahkan rok mini
Warta Kota
Senin 19
September
2011
Pemerkosaan korban Pakaian tertutup
cegah pemerkosaan
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 163

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Pos Kota
Selasa 20
september
2011
Pembacokan korban Balita dibacok
mantan TKW
Pos Kota
Selasa, 20
September
2011
pengeroyokan Kakak Tewas
dikepruk 2 adik
pakai gilingan
Koran Tempo
Selasa 20
september
2011
Korupsi KPK panggil semua
pemimpin badan
anggaran
Koran Tempo
Selasa 20
September
2011
Pelajar Terlibat
tawuran dengan
wartawan
Warta Kota
Selasa, 20
september
2011
Penganiayaan ABK tewas
dikeroyok di darat
Warta Kota
Selasa 20
september
2011
Pemerkosaan J angan tajut lapor
ke unit PPA
Pos kota
Rabu, 21
september
2011
Penggelapan
dana
Aclon ketua KNPI
jadi tersangka
Indopos
Rabu 21
september
2011
Korupsi Saksi tidak tahu ada
dana ke Eddie
Indopos
Kamis 22
september
2011
Pemerkosaan Pemerkosaan
diangkot marak
Media
Indonesia
Kamis 22
September
2011
Komplotan
pemerkosa
ditangkap di
sumbar
Pos Kota
J umat 23
KDRT KDRT, ulama di
periksa polisi
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 164

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
September
2011
Pos Kota
J umat 23
september
2011
Pelecehan
seksual
Korban pelecehan
seksual oknum
BPN diperiksa
polisi
Koran Tempo
J umat, 23
September
2011

Pelecehan
seksual
Korban pelecehan
pejabat BPN masih
alami trauma
Koran tempo
J umat 23
september
2011
pembunuhan Saksi ungkap
kesalahan hasil
otopsi nasrudin
Pos Kota
Minggu, 25
September
2011
Perampokan Pedagang kopi
disergap rampok
ambruk dibacok
Pos Kota
Minggu 25
September
2011
Pe;ecehan
Seksual
Keluarga korban
pelecehan seksual
minta
oknumpejabat BPN
diperiksa
Koran Tempo
Senin 26
September
2011
Korupsi Kasus Korupsi
kementrian
pendidikan

Pos Kota
Selasa, 27
September
2011
Pemerkosaan Nonton film porno
remaja perkosa
balita
Pontianak
post
Rabu 28
september
2011
Pencemaran
nama baik
Terancam sanksi
dipecat43
Pos Kota
J umat 30
September
2011
Pemukulan Pelajar korban
pemukulan guru
tidak boleh masuk
sekolah
Pos Kota
Sabtu, 1
Trafficking Warga Asal
Sambas,
P korban Mafia pemasok
cungkok belum
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 165

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Oktober 2011 Kalimantan
Barat
dicokok
Pos Kota
Selasa 4
Oktober 2011
Penembakan Korban Saksi Korban
kerusuhan dibawa
ke RS jiwa
Koran tempo
Rabu, 5
Oktober 2011
Penipuan Korban Tifatul ancaman
operator yang curi
pulsa
Harian J ogja
Kamis 6
Oktober 2011
Perlindungan
Saksi dan
Korban
Permohonan
Lindung Saksi di
DIY minim
Radar J ogja
Kamis 6
Oktober 2011

Perlindungan
Saksi dan
Korban

Wacanakan bentuk
LPSK Daerah
Kedaulatan
Rakyat
Kamis, 6
Oktober 2011
Perlindungan
Saksi dan
Korban
Peran pemda sangat
dibutuhkan : saksi
dan korban berhak
dapat identitas baru


Bernas J ogja
Kamis, 6
Oktober 2011
Perlindungan
Saksi dan
Korban
LPSK perlu
dibentuk di daerah
Pos Kota
Kamis, 6
Oktober 2011
Penembakan Warga
MartubungP
asar VI,
medan
labuhan
L Korban Tewas dan
luka-luka
Keduanya ditembak
dikawasan seisi
rampah, kabupaten
Serdang Bedagai,
Sumatera utara
sekitar pukul 03.00
Koran Tempo
J umat, 7
Oktober 2011
Pemukulan Siswa
sekolah
menengah
pertama
Islam
terpadau
Insan Al-
Muborak
L Korban Kondisi
anakanya
saat ini
sudah
membaik ,
namun
sang anak
masih
menjalani
konseling
untuk
mengatasi
trauma
Kekerasan tersebut
dilakukan seorang
guru sekolah smp
Almubarok, orang
tua AS sudah
melaporkan Kholi
ke polisi dan saat
ini dia di tetapkan
sebagai tersangka.
J awa pos
J umat, 7
Penipuan Warga
kalianak
L Korban Pulsanya
selalu
Maraknya penipuan
yang menyedot
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 166

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
oktober 2011 Surabaya, berkurang
setiap
dikirimi
sms
bernomor
empat digit
pulsa pelanggan
telepon seluler.
Pos Kota
J umat, 7
oktober 2011
pembunuhan Warga
Medan
L P korban Tewas Siadang kasus
pembunuhan
pasangan suami
istri Pengusaha
garam dan ikan di
pengadilan negeri
Medan
Pos Kota
Minggu, 9
oktober 2011
pembunuhan Warga
Sukabumi,
kampong
cikajang ,
desa
pangkalan
kecamatan
cikadang
L Korban Tewas Lelaki dibunuh di
kebun kelapa sawit
Pos kota
Sabtu, 1
Oktober 2011
Trafficking Warga
sambas
Kalimantan
barat
P korban Mafia Pemasok
Cungkok
Indopos,
Senin, 10
oktober 2011
Penipuan Pengusaha
di J akrata
Barat
L Korban Korban penipuan
milyaran protes
jaksa
J awa Pos,
Senin 10
Oktober 2011
Penembakan Warga Palu,
Desa pakuli,
kecamatan
Gumbasa
L korban Tewas dan
luka -luka
Tembakan Polisi
tewaskan Warga
Koran Tempo
Senin 10
Oktober 2011
Pencurian
Pulsa
Mahasiswa L Korban Kasus Pencurian
Pulsa dibawah ke
DPR
Pos Kota,
Senin 10
Oktober 2011
Pemerasan Istri Bupati
purwakarta
P Korban Foto istri
direkayasa bugil
bupati di peras
Warta Kota
Senin 10
Oktober 2011
Penipuan LPSK siap lindungi
pelapor sedot pulsa
Koran J akarta
Senin 10
Perlindungan
Saksi dan
LPSK Siap lindungi
Feri
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 167

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Oktober 2011 Korban
Koran Tempo
Selasa 11
Oktober 2011
Penipuan Korban Korban Pencurian
pulsa minta
perlindungan
Warta Kota
Selasa 11
Oktober 2011
Penipuan Korban Polisi Prioritaskan
laporan sedot pulsa
Media
Indonesia
Rabu 12
Oktober 2011
Perlindungan
Saksi
LPSK Proses
perlindungan saksi
Antasari Azhar
Indopos
Rabu 12
Oktober 2011
Penipuan Korban Ramai-ramai lapor
polisi
Pos kota
Rabu,12
Oktober 2011
Pengeroyokan Mahasiswa
Unibi
bandung
L Korban Luka-luka Tukang sate tusuk
dua pemuda
Pos Kota
Rabu, 12
Oktober 2011
Korupsi Agus sofyan L tersangka Kasus Korupsi
dikota bekasi naik 2
kali lipat
Warta Kota
Kamis 13
Oktober 2011
Penganiayaan Warga
Sukamuluya
,
tasikmalaya
jawa barat
P korban Luka-luka Demi pria muda
rela menjanda,
malah dianiaya
Pos kota,
kamis 13
oktober 2011
pemerkosaan Siswi SMP
kelas satu
P korban trauma Siswi smp
diperkosa pria
kenalan
Pos kota
Kamis, 13
Oktober 2011
Pemalsuan mahasiswa L saksi Polisi periksa saksi
Warta kota
J umat 14
Oktober 2011
Pengeroyokka
n
J uru parker
dikawasan
J akarta
timur
L korban tewas Selesai nonton
dangdut, zainal
tewas dikeroyok
Warta kota
J umat 14
Oktober 2011
Kekerasan
seksual
Warga
bekasi
P Korban Terungkap, 5 tahun
di nodai ayah tiri
Koran Tempo
J umat 14
Oktober 2011
Penganiayaan Guru
sekolah
dasar
L terdakwa Saksi ahli jaksa
salah terapkan pasal
Seputar
Indonesia
Perlindungan
Saksi dan
LPSK akan buka
perwakilan di
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 168

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Sabtu 15
Oktober 2011
Korban Sulsel
Fajar
Makassar
Sabtu 15
Oktober 2011
Perlindungan
Saksi dan
Korban
Harus Ada LPSK di
daerah
Koran Tempo
Sabtu 15
Oktober 2011
Pemerkosaan Pengasuh
bayi
P korban Pengasuh bayi
diduga diperkosa
supir angkot
Koran Tempo
Sabtu 15
Oktober 2011
kerusuhan Seorang
pekerja PT.
Freepot
L Korban Tewas Korban tewas
Freepot bertambah
Warta Kota
Sabtu 15
Oktober 2011
Penipuan
Pulsa
Korban Korban sedot pulsa
takut CDR
dihilangkan
Koran Tempo
Minggu 16
Oktober 2011
Kerusuhan Korban Korban tewas
Freeport bertambah
Pos Kota
Senin 17
Oktober 2011
pemerkosaan Siswi smp

p Korban Trauma Mau nonton konser
Reggae siswi smp
DIgilir
Koran Tempo
Selasa 18
Oktober 2011
Korupsi Warga
Bandar
lampung
L terdakwa Hakim bebaskan
terdakwa korupsi
Pos Kota
Rabu 19
Oktober 2011
traficking Warga jawa
barat
P korban 19 kasus
penyelundupan
manusia diungkap
polisi
Indopos
Kamis 20
Oktober 2011
Polisi Aniaya
fotografer Indopos
Suara
pembaruan
Kamis 20
Oktober 2011
Reshuffle
kabinet
Wakil menteri akui
sudah dapat arahan
tugas
Warta kota
Kamis 20
Oktober 2011
Perampokan Warga
jakarta
L P Korban Luka-luka Dua rampok lukai
korban
Bali post
Kamis 20
Oktober 2011
pemerkosaan Siswi SD P Korban trauma Seorang siswi sd
diduga di culik dan
di perkosa
Bali post
Kamis 20
Sosialisasi
wayang
Pengurus LPSK
Audensi Ke wabup
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 169

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Oktober 2011 buleleng
Suara
pembaruan
Reshuffle
kabinet
Wakil menteri akui
sudah dapat arahan
petugas
Indopos
Sabtu 22
Oktober 2011
penembakan Warga
papua
L korban Tewas Freepot terus
diserang
Koran Tempo
Sabtu 22
Oktober 2011
Korupsi Pegawai
kementrian
lingkungan
hidup
L P Tersangk
a
Pegawai
kementrian
Lingkungan hidup
jadi tersangka
Koran Tempo
Sabtu 22
Oktober 2011
Narkoba Pegawai
badan
narkotika
nasional
L tersangka Diduga J ual
narkoba, 3 pegawai
bnn di ringkus
Koran Tempo
Minggu 23
Oktober 2011
Pembunuhan Ibu dan
anak
P Korban tewas Polisi temukan
bercak darah
korban
Pos kota
23 oktober
2011
Perampokan Warga
tanjung
duren
P korban shock Majikan dan
pembantu disekap
Koran Tempo
26 Oktober
2011
Korupsi Agus condro bebas
bersyarat
Warta kota
26 oktober
2011
penganiyaan Briptu J up anaiaya
rina disaksikan 3
anak
Pos kota
27 oktober
2011
ancaman Panswaslu banten
banyak terima
ancaman
Warta kota
28 Oktober
2011
kekerasan Ortu kritik
pergauklan bebas di
sman 70
Koran tempo
28 Oktober
2011
Persidangan
saksi
Saksi sebut Peran
amrun Daulay
Koran tempo
28 oktober
2011
Kekerasan WAli Murid SMA
70 mengadu ke
Komnas HAM
Media
Indonesia
31 Oktober
2011
Pansel LPSK Lima calon anggota
LPSK dianggap
bermasalah
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 170

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi /
Korban
Status Kondisi Keterangan
Nama L P
Kompas
31 Oktober
2011
Kejahatan Kejahatan
mengincar warga
J akarta
Kompas
31 Oktober
2011
Kejahatan J akrta Makin
menakutkan
Kompas
31 Oktober
2011
Kekerasan Ketika anak
memukul ibunya
Kompas
31 Oktober
2011
Pansel LPSK J angan Paksakan
Pemilihan
Kompas
Senin 31
Oktober 2011
Moratorium
remisi
koruptor
Tepat, moratorium
remisi bagi
koruptor
Koran tempo
31 Oktober
2011
Pansel LPSK Panitia teliti rekam
jejak calon anggota
LPSK
Koran Tempo
31 Oktober
2011
Moratorium
remisi
koruptor
Pembebasan
Koruptor
dihentikan















Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 171


Menunggu Gus Oblong di Pulau Kisar
Oleh L.R. Baskoro

ALFRETS MIRULEWAN tewas dibunuh diduga akibat berita-berita yang dibuatnya. Medio
Desember 2010, di ruang redaksi, kami segera membahas kabar tersebut. Belum jelas benar
informasi kematian jurnalis berusia 28 tahun itu: bagaimana persisnya ia meninggal dunia, berita
apa yang dibuatnya, siapa kira-kira pelakunya, serta, tak kalah pentingnya, siapa Alfrets dan
seperti apa medianya hingga ia mesti dilenyapkan.
Alfrets ada di Pulau Kisar, Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya,
wilayah yang baru dimekarkan. Sementara, kami di J akarta. Tapi, sebuah peristiwa pembunuhan,
apalagi berkaitan dengan sebuah pemberitaan, tentu saja penting, juga menarik. Pasti ada hal
besar di balik itu semua, sehingga seorang wartawan perlu dibungkam dan dihabisi.
Saya memutuskan berita pembunuhan Alfrets ini harus ditulis selengkap mungkin. Mesti ada
wawancara terhadap semua pihak yang mengetahui bagaimana hari-hari akhir Alfrets. Dan tentu
saja wawancara dengan mereka yang diduga kuat terlibat pembunuhan terhadap--yang
kemudian kami tahu--Pemimpin Redaksi Mingguan Pelangi Ambon itu. Tabloid yang dicetak
terbatas dan diterbitkan dengan biaya bantuan keluarga Alfrets.
Ternyata bukan perkara gampang juga menuju Kisar. Pulau ini terletak di wilayah paling selatan
Maluku, berbatasan dengan negeri Timor Leste. Transportasi terbatas ke tempat ini. Kami
mafhum mengapa media Ibu Kota nyaris tak ada yang meliput ke lokasi pembunuhan ini. J arak
dan lokasi menjadi kendala.
Akhirnya kami tahu Alfrets, wartawan yang selalu bersemangat mengejar warta itu, tewas
lantaran tengah menginvestigasi penimbunan BBM di pulau tersebut. Alfrets melakukan
investigasi setelah ia melihat kerapnya kelangkaan BBM di sana. Ia ditangkap, disiksa,
dibunuh, dan mayatnya dibuang ke laut karena tertangkap masuk areal Pelabuhan Pantai Nama,
Pulau Kisar, saat meliput operasi penimbunan itu.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 172

Pada 14 Oktober 2011 pengadilan memvonis empat orang yang diduga terlibat pembantaian
Alfrets. Sebelumnya polisi memeriksa sekitar 30 orang yang diduga mengetahui atau terlibat
peristiwa tersebut. Semua yang dihukum itu, banyak yang yakin, hanya kaki tangan, pekerja, dari
perusahaan yang diduga melakukan penyelundupan BBM. Pelaku utama, otak pembunuhan,
yang diduga pemilik agen bahan bakar di Pulau itu, tak tersentuh.
***
Pada 16 Februari 2009 wartawan Bali geger dengan kematian Anak Agung Gede Bagus
Prabangsa. J enazah wartawan Radar Bali yang bertanggung jawab atas berita-berita daerah itu
ditemukan mengapung di perairan Teluk Bangsir, Karangasem. Hasil pemeriksaan forensik
Kepolisian Daerah Bali menyimpulkan Prabangsa tewas akibat penganiayaan. Dokter
memperkirakan ia bahkan masih hidup saat dilemparkan ke laut.
Kematian Prabangsa mendapat perhatian luas media-media lokal di Bali. Para wartawan di Bali
membentuk semacam tim penyelidik yang berupaya mengungkap penyebab kematian
Prabangsa. Kematian yang sejak awal diduga kuat berkaitan dengan pemberitaan, profesi
jurnalistiknya--berbeda dengan polisi yang sempat menyatakan ada hubungannya dengan
masalah asmara. Media lokal dengan gencar menekan polisi untuk memeriksa sejumlah orang
yang dicurigai berada di balik kematian Prabangsa sekaligus mengingatkan polisi untuk tidak
takut kepada siapa pun dalam membongkar kasus ini.
Tewasnya Prabangsa terbukti memang berkaitan dengan berita korupsi pembangunan sekolah
yang ditulisnya, yang dilakukan tokoh partai politik setempat, I Nyoman Susrama, yang juga
adik seorang bupati. Pengadilan Denpasar pada 15 Februari 2010 memvonis Susrama, otak
pelaku pembunuhan ini, penjara seumur hidup, dari tuntutan jaksa hukuman mati. Adapun
delapan pelaku lainnya dihukum penjara 5-20 tahun. Yang tidak bisa dilupakan peranannya
yang sangat penting dalam membongkar kasus ini adalah Ida Bagus Made Adnyana Narbawa
alias Gus Oblong, karyawan Prabangsa. Oblong satu-satunya tersangka yang mengaku ada
penganiayaan dan peristiwa pembunuhan itu, sebuah kesaksian yang membuat Susrama tak
berkutik. Oblong sendiri yang dituntut 2 tahun 6 bulan dihukum lima tahun penjara.
***
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 173


TIDAK semua orang memiliki keberanian seperti Gus Oblong dan tidak semua kasus kejahatan
terbongkar karena tertolong pemberitaan media. Peristiwa pembunuhan Prabangsa berada di
sebuah wilayah yang memiliki banyak media (di Bali ada sembilan harian lokal dan sejumlah
tabloid mingguan), komunikasi dan transportasi yang mudah, dan memungkinkan para wartawan
segera melakukan koordinasi jika terjadi tekanan atas pemberitaan mereka.
Dalam konteks itu pula jika terjadi apa-apa dengan Gus Oblong, misalnya, media akan dengan
cepat memberitakannya. Kendati Gus Oblong tidak mendapat perlindungan Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), ia relatif aman. Pasalnya ia berada dalam wilayah yang
jika terjadi sesuatu atas dirinya informasi itu akan diketahui banyak orang dan di luar sana media
akan membantunya.
Kondisi itulah yang tidak terdapat di Pulau Kisar. Tekanan media untuk mengusut kematian
Alfrets tidak sedahsyat kematian Prabangsa kendati dua-duanya mengalami pembunuhan yang
sama kejinya. Tidak pula muncul Gus Oblong di sana. Kita tahu tidak mudah menjadi Gus
Oblong di sebuah tempat yang bisa dikatakan terpencil, sementara tak ada jaminan apakah aparat
keamanan bisa diandalkan menjaga keselamatan jiwa dan keluarga seorang saksi akibat
keterangan dan pengakuannya. Demikianlah yang terjadi pada kasus Alfrets. Sejumlah
kejanggalan muncul. Seperti yang dilansir perwakilan Komnas HAM setempat, saksi kunci
pembantaian Alfets disimpan di sebuah rumah pejabat kepolisian. Saksi kunci ini sendiri
belakangan menarik semua pengakuannya dalam berita acara pemeriksaan.
Kasus pembunuhan serta proses peradilan Alfrets dan Prabangsa memberi pelajaran bagi kita.
Pertama, pentingnya posisi media dalam ikut menjaga proses pengusutan sebuah kasus. Kedua,
betapa terasa jauhnya (dan karena itu makin dibutuhkan kehadirannya) LPSK untuk peristiwa-
peristiwa tindak pidana seperti yang terjadi pada Alfrets. Tidak hanya dalam konteks kasusnya,
tapi juga wilayahnya.
J uga bukan semata untuk kasus tindak pidana pembunuhan, tapi juga kasus korupsi, kekerasan
terhadap pemeluk agama lain, kasus narkoba, kasus kejahatan dalam rumah tangga, dan
sebagainya. Kita bisa bayangkan, bisa jadi, akan lain hasil pengusutan dan proses peradilan
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 174

kasus Alfrets jika para saksi kunci mendapat perlindungan dari LPSK dan media gencar
memberitakan serta menyoroti setiap perkembangan dan pengusutan kasus Alfrets.
Di sinilah kita melihat kehadiran LPSK memiliki perwakilan di daerah sungguh satu hal yang
mendesak. Sejauh ini, dari track record yang ada, kredibilitas LPSK, seperti juga Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), tetap tinggi di mata publik. Masyarakat masih percaya dan
menaruh harapan kepada LPSK. Kehadiran LPSK di daerah akan membantu penegakan hukum
dan memberi optimisme pengungkapan kebenaran sebuah kasus. Ini tentu bukan sekadar
harapan karena Undang-Undang Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (UU No. 13 Tahun
2006), seperti dinyatakan dalam Pasal 11 ayat 3, memang membuka pintu seluas-luasnya
didirikannya LPSK di seluruh pelosok Indonesia.
Iklim kebebasan pers Indonesia sendiri kini jauh berbeda dengan masa sebelum reformasi.
Dilindungi Undang-Undang Pers (UU No. 40 Tahun 1999), Undang-Undang Keterbukaan
Informasi Publik (UU No. 14 Tahun 2008) hingga Undang-Undang HAM (UU No. 39 Tahun
1999), jurnalis Indonesia memiliki keleluasaan untuk bekerja, melakukan investigasi,
mengumpulkan informasi dari siapa pun, kemudian menyebarkannyatanpa khawatir disensor
atau mendapat tekanan dari pihak mana pun seperti pada masa rezim Orde Baru. Pers Indonesia
mendapat senjata luar biasa sebagai watchdog untuk menampilkan perannya mengawasi
penegakan hukum di negeri ini.
Dalam konteks inilah media memiliki peran besar untuk ikut memunculkan saksi-saksi penting
dalam suatu tindak pidana, menekan aparat hukum agar tidak mengabaikan saksi tersebut,
sekaligus mengawasi terus-menerus proses pengusutan kasus tersebut. Tidak hanya di
pengadilan tingkat pertama, tapi sampai Mahkamah Agung. Sementara itu LPSK juga bisa
menggunakan informasi dari media untuk memetakan siapa yang layak mendapat perlindungan
atau menggunakan media untuk memberi informasi ke publik, sejauh mana yang sudah
dilakukan lembaga itu atas suatu kasus. Sinergi yang pada ahirnya menghasilkan satu tujuan:
menegakkan hukum dan keadilan di negeri ini.


Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 175

















L.R Baskoro.
Redaktur Pelaksana Kompartemen Hukum dan Kriminal Majalah Tempo. Penulis
sejumlah buku jurnalistik, antara lain J urnalisme Hukum, J urnalisme Tanpa Menghakimi
(2012).

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 176

Daftar Pustaka

Kasus Vincentius Amin. Sumber:
1. Koran Tempo, 10 Agustus 2007, Nanti Terkesan Hakimnya Bodoh Banget.
2. Majalah Tempo., 27 Agustus 2007, Vincentius Amin: Saya Bukan Residivis
3. Koran Tempo., 3 September 2009, Vincentius Ajukan PK.
4. Detik.Com., 17 Februari 2010, Diancam Dibunuh, Terpidana Asian Agri Minta
Perlindungan LPSK.
5. Koran Tempo, 12 J uni 2010, Penyidik Pajak Diberi Tenggat Sampai Akhir Bulan.
6. Tempointeraktif. Com., 13 J uni 2010, Vincentius Amin Sudah Dilindungi LPSK Sejak Awal
Mei.
7. Vivanews.Com., 2 September 2010, PK Ditolak, Vincentius Tetap Divonis 11 Tahun.
8. Teribunnews. Com., 28 April 2011, Denny Indrayana Pantau Persidangan Vincentius.
9. Tempo.Co., 7 J uli 2011, Vincentius Juga Dijanjikan Pengurangan Hukuman.
10. Koran Tempo, 26 November 2011, Vincentius Ajukan Permohonan Grasi.

Kasus Agus Condro. Sumber:

1. Suarapembaruan.com., 17 J uni 2011, Banyak Pihak Sesalkan Putusan Agus Condro.
2. Radarlampung.com., 6 J uli 2011, Hukuman Ringan bagi Whistle Blower.
3. Suarapembaruan.com., 7 J uli 2011, Agus Condro Minta Ditahan di Lapas di Kendal atau
Pekalongan.
4. Liputan6.com., 11 J uli 2011, LPSK Sudah Ajukan Hak Istimewa Agus Condro.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 177

5. Antikorupsijateng.com., 3 Agustus 2011, Aktivis Anti Korupsi Batang Bakal Sambut
Agus Condro.
6. Kompas.com., 5 Agustus 2011, LPSK Ajukan Remisi bagi Agus Condro.
7. Okezone.com., 25 Oktober 2011, Akhirnya Agus Condro Bebas.
8. J urnas.com., 25 Oktober 2011, Bebas, Agus Condro Terus Lawan Korupsi.
9. Tribunnews.com., 25 Oktober 2011, Bebas Bersyarat Agus Condro Jadi Pesan untuk Pelaku
Pelapor
10. Republika.co.id., 26 Oktober 2011, Denny Indrayana: Agus Condro Wistle Blower Ideal.
11. Suryaonline.com., 31 Oktober 2011, Agus Condro Tagih Janji KPK Soal Nunun.
12. Kompas.com., 31 Oktober 2011, Agus Condro Tagih Janji Kpk Tangkap Nunun.
13. Metrotvnews.com., 5 November 2011, Agus Condro Bebas Bersyarat karena Jadi Justice.
14. Mediaindonesia.com., 5 November 2011, Bebas Bersyarat Agus Condro Dipertanyakan.


Kasus Susno Duadji. Sumber:
1. Vivanews.com., Selasa, 26 J anuari 2010. Intip Salinan Testimoni Susno.
2. Liputan6.com., Selasa, 11 J anuari 2010. Susno Duadji Diancam Dibunuh.
3. Www.susnoduadji.com., Selasa, 4 J anuari 2011. Pengacara Susno Minta Kepastian
Hadirnya Saksi Kunci.
4. Kompas.com., Selasa, 1 Februari 2011. Kasus Dugaan Suap; LPSK: Vonis Susno Bisa
Diringankan.
5. Okezone.com., Rabu, 2 Februari 2011. LPSK: Susno Harus Divonis Ringan.
6. Www.susnoduadji.com., Minggu, 10 Februari 2011. Susno Bantah Hampir Seluruh
Kesaksian Sjahril Djohan.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 178

7. Kompas.com., Kamis, 10 Maret 2011. Sudah 2 Mantan Ajudan Susno Duadji Tewas.
8. Kompas.com., Minggu, 14 Maret 2010. Ungkap Makelar Kasus di Polri, Susno Tunjuk Tiga
Nama Jenderal.
9. Detiknews.com., Kamis, 24 Maret 2011. Susno Divonis 3,5 Tahun Penjara dan Denda Rp
200 Juta.
10. Okezone.com., Kamis, 24 Maret 2011. Kuasa Hukum Yakin Susno Duadji Bebas.
11. Detiknews.com., J umat, 25 Maret 2011. Mengapa Hakim Lebih Percaya Sjahril Djohan.
12. Okezone.com., Sabtu, 26 Maret 2011. Vonis Susno Mentahkan Revisi UU Whistle Blower.
13. Kompas.com., Rabu, 21 April 2010. Susno Duadji Raih Whistle Blower 2010.
14. Majalah Tempo., 6 J uli 2001. Susno Duadji: Cicak Kok Mau Melawan Buaya.
15. Kompas.com., Senin, 27 September 2010. Sjahril Beberkan Kronologi Suap Susno.
16. Okezone.com., Selasa, 4 Oktober 2011. Susno Duadji Batal Silaturahmi ke LPSK Awaludin.
17. Kompas.com., J umat, 28 Oktober 2010. Saksi Kunci Bersaksi dalam Kasus Susno.
18. Detiknews.com., J umat, 11 November 2011. Susno Divonis PT DKI 3,5 Tahun, LPSK Tetap
Beri Perlindungan Anes Saputra.

Vonis Abu Bakar Baasyir. Sumber:
1. Vivanews.Com., 13 J uni 2011, Vonis Abu Bakar Baasyir Dikawal Para Sniper.
2. Republika.Co.id., 13 J uni 2011, Vonis Baasyir, Polisi Siapkan 1.600 Personel.
3. Suarapembaruan.Com., 24 Februari 2011, Ricuh Menjelang Sidang Abu Bakar Baasyir
4. Suarapembaruan, 14 J uni 2011, Ancaman Bom Saat Vonis Baasyir
5. Kompas.Com., 15 J uni 2011, Baasyir: Vonis Sudah Dibandrol.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 179

6. Detik.Com., 15 J uni 2011, Jelang Vonis Abu Bakar Baasyir, Polisi se-Jakarta Razia
Senjata Tajam.
7. Suarapembaruan. Com, 16 J uni 2011, Abu Bakar Baasyir Divonis 15 Tahun Penjara.
8. BBC.Com., 16 J uni 2011, Baasyir Divonis 15 Tahun.
9. Vivanews.Com., 16 J uni 2011, Vonis 15 Tahun, Akhir Perjalanan Baasyir.
10. Poskota.Co.id., 16 J uni 2011, Abubakar Baasyir: Haram Hukumnya Terima Putusan Hakim.

Kasus Sedot Pulsa. Sumber:
1. Majalah Tempo, 2 Oktober 2011, Tuyul Pulsa di Telepon Kita.
2. Bisnis.com., 6 Oktober 2011, Telkomsel Antisipasi Penipuan Pulsa.
3. Tempo.co., 6 Oktober 2011, Mahasiswa Depok Buka Posko Pengaduan SMS Penyedot
Pulsa.
4. Okezone.com., 10 Oktober 2011, Kadin: Penipuan Pulsa Matikan Industri Konten Digital.
5. Lpsk.com., 11 Oktober 2011, LPSK Respon Cepat Perlindungan Korban Penipuan Pulsa.
6. Vivanews.com., 18 Oktober 2011, Tifatul: Musisi Salah Paham, RBT Tak Ditutup.
7. Kompas.com., 1 November 2011, Polri Gandeng TI Usut Penipuan Pulsa.
8. Metrotvnews.com., 4 November 2011, Pelapor Sedot Pulsa Dianiaya dan Diteror.
9. Republika.co.id., 8 Desember 2011, DPR Minta Penanganan Penipuan Pulsa Tidak 'Masuk
Angin'.
10. Metrotvnews.com., 9 November 2011, Pelapor Penipuan Pulsa Diperiksa Bareskrim Polri.
11. Mediaindonesia.com., 22 November 2011, Pelapor Penyedotan Pulsa Dapat Perlindungan
LPSK.
12. Beritahukum.com., 22 November 2011, LPSK Beri Perlindungan Pelapor Kasus Pencurian
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 180

Pulsa.
13. Republika.co.id., 23 November 2011, Perlindungan Pelapor Pulsa Tak Maksimal.
14. Kontan.co.id., 7 Desember 2011, Kerugian Rp 1 Triliun, DPR Minta Polisi Tindak Pelaku
Pencuri Pulsa.
15. Tabloidpulsa.co.id., 21 Desember 2011, Inilah 10 Content Provider Nakal Penyedot Pulsa.


Dari Cicit Soeharto, Artis, hingga Anggota DPR. Sumber:


1. Detiknews.com., 21 Maret 2011, Keluarga Cendana Prihatin Putri Terjerat Narkoba.
2. Detiknews.com., 21 Maret 2011, Cicit Soeharto Pakai Narkoba Bareng Perwira Polri Agar
Aman.
3. Suarapembaruan.com., 24 Maret 2011, Polisi Segera Selesaikan Berkas Kasus Cicit
Soeharto.
4. Detiknews.com, 20 J uni 2011, Hadiri Sidang Anaknya, Ari Sigit Terpukul & Sedih.
5. Liputan6.com., 27 J uni 2011, Saat Diciduk Putri Ari Sigit Bermain iPad.
6. Detiknews.com., 4 J uli 2011, Permohonan Rehabilitasi Cicit Soeharto Tunggu Keterangan
Saksi Ahli BNN.
7. Detiknews.com., 18 Agustus 2011, Dituntut 1 Tahun Penjara, Cicit Soeharto Siap Bacakan
Pledoi.
8. Detiknews. Com., 29 Agustus, 2011,Cicit Soeharto Direhabilitasi di RSKO Cibubur.
9. Detiknews.com., 25 Agustus 2011, Cicit Soeharto Divonis Bebas.
10. Metrotvnews.com., 26 Oktober 2011, Pesta Sabu, Anggota DPRD dari Demokrat Dicokok
Polisi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 181


Terjerat Negara Islam Indonesia. Sumber:

1. Inilah.com., 4 Mei 2011, Pengakuan Bekas Menteri NII Perlu Ditindaklanjuti
2. Tribunnews.com., 19 April 2011, Mahasiswa Malang Dicuci Otak Kelompok Radikal.
3. VIVAnews.com., 20 April 2011, Polres Malang Usut NII Cuci Otak Mahasiswa.
4. J pnn.com., 22 April 2011, Korban NII Terus Diteror.
5. Malangnews.com., 23 April 2011, Crisis Center : Bagaimana Lawan NII.
6. Kompas.com., 25 April 2011, Awas, NII "Cuci Otak" PNS di Malang!
7. Surya Online.com., 26 April 2011, Trauma Kembali ke Malang, Korban NII Ragu Kuliah.
8. Okezone.com., 27 April 2011, Kasus NII di Malang Ada Unsur Intelijen Bermain.
9. Antara News.com. 27 April 2011, Tidak Ada NII di Malang.
10. Malangnews.com., 28 April 2011, Polda Kejar Penculik Mahasiswa NII.


Kasus Penyerangan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik. Sumber:

1. Tribunnews.com., 7 Februari 2011. Kronologi Penyerangan di Cikeusik Versi Ahmadiyah
2. Voaislam.com., 7 Februari 2011, Bentrokan Cikeusik Terjadi Karena Jemaat Ahmadiyah
Menantang dan Bacok.
3. Hukumonline.com., 11 Februari, Saksi Penting Ahmadiyah Cikeusik Terancam.
4. Kompas.com., 11 Februari, Video Kekerasan di Cikeusik: Saksi A di Bawah Perlindungan
LPSK.
5. Detiknews.com., 11 Februari 2011, Kronologi Penyerangan Ahmadiyah Versi LBH Cs.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 182

6. Republika.co.id., 11 Februari 2011, Kronologi Penyerangan Ahmadiyah Cikeusik.
7. KBRH68H.com., 11 Februari 2011, LPSK Belum Putuskan untuk Lindungi Saksi Kunci
Kasus Cikeusik.
8. Yustisi.com., 13 Februari 2011, Tiga Saksi Kunci Kasus Penyerangan di Cikeusik Mengadu
ke LPSK.
9. Vivanews.com., 16 Februari 2011, Ahmadiyah: Kekerasan MEningkat Sejak 2005.
10. Politikindonesia.com., 17 Februari 2011, Kasus Cikeusik, LPSK Lindungi Deden Sujana.
11. Okezone.com., 21 Februari 2011, Penyerangan Ahmadiyah Cikeusik: Inilah Kronologis
Insiden Cikeusik Versi MUI Banten.
12. Today.co.id., 7 Maret 2011, LPSK Resmi Beri Perlindungan kepada Perekam Video.
13. Tempointeraktif.com., 7 Maret 2011, Lembaga Perlindungan Saksi Lindungi Pembuat Video
Cikeusik.
14. Voanews.com., 8 Maret 2011, Panel AS Hendaki Pencabutan Larangan Ahmadiyah di
Indonesia.
15. Kompas.com., 15 Maret 2011,TNI Terlibat Operasi Ahmadiyah.
16. Okezone.com., 18 April 2011, Pergub Pelarangan Ahmadiyah Cacat Hukum.
17. Kompas.com., 26 April 2011, Inilah Kronologi Cikeusik Berdarah Itu.
18. Tribunnews.com., 9 J uni 2011, Polemik Ahmadiyah: Setara Institute Kecam Korban
Cikeusik Malah Diadili.
19. Vivanews,com., 28 J uli 2011, Para Tersangka Cikeusik Divonis 3 Bulan Penjara..
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 183

20. Tangerangnews.com., 15 Agustus 2011, Kasus Cikeusik, Deden Sudjana Divonis Enam
Bulan Penjara.
21. Bantuanhukum.co.id., 16 Agustus 2011, Ketika Korban di Pidana Respon atas Vonis
Korban Penyerangan Massa di Cikeusik, Banten.

Kasus Human Trafficking. Sumber:

1. Liputan6.com., 23 Maret 2011, Wanita Sukabumi Diduga Jadi Korban Perdagangan Orang.
2. Republika.co.id., 30 Mei 2011, Duh, Perdagangan Manusia di Indonesia Kian
Memprihatinkan.
3. RMOL.com., 25 J uni 2011, Gawat, 70 Ribu Anak Bangsa Korban Perdagangan Manusia.
4. Vivanews., 27 J uni 2011, AS: Tahun ini 23 Negara Gagal Atasi Perbudakan.
5. jpnnnews.com., 3 November 2011, Indonesia Terbanyak Korban Perdagangan Manusia

.
Kasus Kekerasan di Papua. Sumber:

1. Human Right Watch News, 20 Oktober 2010, Phil Robertson, Indonesia: Investigative
Torture Video From Papua.
2. Vivanews.com., 20 Oktober 2010, Komnas HAM Terima Laporan Adanya Kekerasan di
Papua 3 Minggu Sebelum Video Beredar.
3. VIVAnews.com., 20 Oktober 2010, Komnas HAM Usut Kekerasan di Papua.
4. Vivanews.com., 21 Oktober 2010, Video Kekerasan Papua Ramai di Media Asing.
5. Human Right Watch News, 21 November 2010, Indonesia: Stop Stalling on Investigating.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 184

6. Somerpost, 6 November 2010. Empat Anggota TNI Penyiksa Warga Sipil
Papua Disidang.
7. Kompascom., 24 J anuari 2011, 3 Oknum TNI Papua Divonis 10 Bulan.

Kasus Pembunuhan Wartawan. Sumber:

1. Tempointeraktif.com, 16 Februari 2009, Wartawan Radar Bali Tewas di Pantai Karangasem
2. Majalah Tempo, 7 J uni 2009, Karena Berita Prabangsa Dibantai.
3. Tempointeraktif.com, 17 Desember 2010, Investigasi BBM Ilegal, Pemred Pelangi Tewas
Terapung
4. Tempointeraktif.com, 10 J anuari 2011, Keluarga Mirulewan Beberkan Pelaku Pembunuhan
5. Okezone.com, 23 November 2011, AJ I Segera Bawa Kasus Udin Bernas ke Kancah
Internasional
6. Aliansi J urnalis Independen, Menjelang Sinyal Merah, J akarta, J uli 2011.


Kasus Kekerasan di Mesuji. Sumber:

1. Vivanews.com, 14 Desember 2011, Puluhan Warga Mengadu ke DPR Terjadi Pembantaian
Keji di Mesuji, Lampung.
2. Bangkapos.com, 15 Desember 2011, Mesuji di Lampung dan Mesuji di Sumsel Berbatasan.
3. J urnas.com, 17 Desember 2011, LPSK Siap Lindungi Saksi dan Korban Kasus Mesuji
4. Vivanews.com., 17 Desember 2011, Tahun 2006 Warga Mesuji Sudah Mengadu ke DPR
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 185

5. KBR68H.com., 18 December 2011, LPSK Tunggu Rekomendasi Untuk Lindungi Saksi
Kasus Mesuji .
6. Kompas.com., 18 Desember 2011, Jamin Keselamatan Korban Mesuji, TGPF Gaet LPSK.
7. Kompas.com., 18 Desember, LPSK Akan Lindungi Korban Mesuji.
8. Tribunnews.com., 20 Desember 2011, Habib Rizieq Bantah Korban Mesuji Dikepung Polisi.
9. Tribun Pekanbaru, 20 Desember 2011, Gawat !! Saksi Korban Mesuji Diteror.
10. Kompas.com., 21 Desember 2011, Ini Kronologi Peristiwa Mesuji Versi Polri.
11. Republika.co.id., 21 Desember 2011, Ini Kronologis Kasus Mesuji Versi Komnas HAM.
12. Era Baru News., 22 Desember 2011, Korban Penggal Kepala di Mesuji adalah Satpam dan
Koki Perusahaan,
13. J awa Pos/Radar Lampung, Kamis, 22 Desember 2011, Menyusuri Kampung Sodong,
Tempat Pembantaian di Video Mesuji.
14. Majalah Tempo edisi 26 Desember 2011-1 J anuari 2012
15. Okezone.com., 2 J anuari 2012, Hasil Investigasi TGPF Mesuji Masih Mengambang.
16. Majalah Tempo edisi 2-8 J anuari 2012, Siapa Memainkan Mesuji.
17. Tempo.co., 4 J anuari 2012, LPSK Akan Lindungi Saksi dan Korban Mesuji


Pembunuhan Raafi. Sumber:
1. Republika.Co.Id., 23 November 2011, Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Pembunuh Raafi.
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 186

2. Suara Karya, 3 Desember 2011, Polisi Tetapkan 5 Tersangka
3. Tempo.Co., 4 Desember 2011, Tim Advokasi Menduga Pembunuhan Raafi Direncanakan.
4. Tribunnews. Com., 5 Desember 2011, LPSK Jemput Bola.
5. Okezone.Com., 6 Desember 2011, Pembunuhan Raafi Diduga Terencana.
6. Tempo.Co.Id., 6 Desember 2011, Pembunuhan Raafi Diduga Terencana.
7. Tempo.Co., 6 Desember 2011, Benarkah Pisau yang Dipakai Menusuk Raafi Dititipkan ke
Tentara.
8. Suara Karya, 6 Desember 2011, Tersangka Gunakan Mobil Dinas Lemhannas.
9. Kompas. Com., 11 November 2011, LPSK Akan Proaktif Lindungi Saksi Kasus
Pembunuhan Raafi.
10. Tempo.Co.Id., 16 November 2011, Polisi Diminta Segera Ungkap Pembunuh Raafi
11. Tempo.Co.Id., 21 November 2011, Tiga Vonis Pembunuh Raafi.
12. Majalah Tempo, 21 November 2011, Siapa Pembunuh Raafi.









Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 187