Anda di halaman 1dari 20

Makalah Kelompok III

COVER
POLA PEMIKIRAN DAN SISTEMATIKA SUMBER
HUKUM ULAMA MAZHAB
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah : Perbandingan Mazhab Fikih
DOSEN : Dr. Sadiani MH.









Disusun Oleh
Dwi Nur Rochman
1302120234
Ana Khairiati
1302120237
Iis Sekarimah
1302120228


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
JURUSAN SYARIAH
PRODI EKONOMI SYARIAH
TAHUN 2014 M / 1435 H

ii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Rasa syukur yang dalam saya sampaikan ke hadirat Allah Yang Maha Pemurah,
karena berkat kemurahanNya makalah sederhana ini dapat saya selesaikan sesuai
yang diharapkan. Dalam makalah ini membahas Pola Pemikiran dan
Sistematika Sumber Hukum Ulama Mazhab.
Makalah ini dibuat dalam rangka memahamkan pembaca akan makna dari
perbedaan, dan diharapkan makalah ini dapat menambahkan semangat persatuan
bangsa, dan memberikan pemahaman akan indahnya hidup di dalam berbagai
perbedaan yang ada.
Dan pada akhirnya saya meminta maaf yang sebesar-besarnya bila terdapat
kesalahan, baik dalam penulisan maupun penyampaian materi, yang pada
hakikatnya memang kesalahan itu pasti diperbuat oleh manusia, sekalipun
manusia tersuci sepanjang masa Rasulullah SAW. Demikian makalah ini kami
buat semoga bermanfaat. Aamiin ya Rabbalalamin.
Wassalamualaikum wr.wb.






Palangka Raya, Oktober 2014

Penyusun

iii

DAFTAR ISI


COVER .................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I ....................................................................................................................... 1
A. Latar belakang masalah ....................................................................................... 1
B. Rumusan masalah ................................................................................................ 1
C. Tujuan penulisan ................................................................................................. 1
D. Metode penulisan ................................................................................................ 2
BAB II ...................................................................................................................... 3
A. Pola Pikir dan Faktor yang Mempengaruhi Imam Hanafi .................................. 3
B. Pola Pikir dan Faktor yang Mempengaruhi Imam Maliki ................................... 3
C. Pola Pikir dan Faktor yang Mempengaruhi Imam Syafii .................................. 5
D. Pola Pikir dan Faktor yang Mempengaruhi Imam Hanbali ................................. 5
E. Pola Pikir dan Faktor yang Mazhab Syiah dan Khawarij .................................. 6
F. Sistematika Sumber Hukum Abu Hanifah .......................................................... 6
G. Sistematika Sumber Hukum Imam Malik ........................................................... 8
H. Sistematika Sumber Hukum Imam Syafii .......................................................... 9
I. Sistematika Sumber Hukum Ahmad bin Hanbal .............................................. 10
J. Sistematika Sumber Hukum Mazhab Syiah ..................................................... 11
K. Sistematika Sumber Hukum Mazhab Khawarij ................................................ 13
BAB III .................................................................................................................. 15
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 17


1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah
Belakangan ini penelitian tentang sejarah fiqih Islam mulai dirasakan
penting. Paling tidak, karena pertumbuhan dan perkembangan fiqih
menunjukkan pada suatu dinamika pemikiran keagamaan itu sendiri. Hal
tersebut merupakan persoalan yang tidak pernah usai di manapun dan
kapanpun, terutama dalam masyarakat-masyarakat agama yang sedang
mengalami modernisasi. Di lain pihak, evolusi historikal dari
perkembangan fiqih secara sungguh-sungguh telah menyediakan frame
work bagi pemikiran Islam, atau lebih tepatnya actual working bagi
karakterisitik perkembangan Islam itu sendiri.
Kehadiran fiqih ternyata mengiringi pasang-surut perkembangan
Islam, dan bahkan secara amat dominan, fiqih -- terutama fiqih abad
pertengahan -- mewarnai dan memberi corak bagi perkembangan Islam
darimasa ke masa. Karena itulah, kajian-kajian mendalam tentang masalah
kesejahteraan fiqih tidak semata-mata bernilai historis, tetapi dengan
sendirinya menawarkan kemungkinan baru bagi perkembangan Islam
berikutnya.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana pola pemikiran Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii,
Ahmad bin Hanbal, Syiah dan Khawarij ?
2. Bagaimana sistematika hukum Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii,
Ahmad bin Hanbal, Syiah dan Khawarij ?

C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui pola pemikiran Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii,
Ahmad bin Hanbal, Syiah dan Khawarij.
2


2. Mengetahui sistematika hukum Abu Hanifah, Imam Malik, Imam
Syafii, Ahmad bin Hanbal, Syiah dan Khawarij.
D. Metode penulisan
Adapun metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah
sederhana ini yaitu:
1. Metode kepustakaan (Library Research),
2. Metode penelurusan internet (Web Search)

3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pola Pikir dan Faktor yang Mempengaruhi Imam Hanafi
Abu Haniifah hidup selam 52 tahun pada masa dinasti umayyah
dan 18 tahun pada masa dinasti Abbasiyyah. Alih kekuasaan dari bani
umayyah yang runtuh kepada bani Abbasiyah yang naik tahta, terjadi di
kufah sebagai ibu kota Abbasiyah sebelum pindah ke Baghdad. Kemudian
Baghdad di bangun oleh khalifahkedua bani Abbasiyah, Abu jafar al-
mansyur (754-775 M), sebagai ibu kota kerajaan pada tahun 762 M.
Dari perjalanan hidupnya ituu, Abu hanifah sempat menyaksikan
tragedi- tragedi besar di Kufah. Disatu sisi kota kufah member makna
dalam kehidupannya sehingga menjadi salah seorang ulama besar dan al-
imam al-Azham. Di sisi lain ia merasakan kota kufah sebaga kota terror
yang di warnai dengan pertentangan politik. Oleh karena itu pola
pemikiran Imam Abu Hanifah dalam menetapkan hokum, sudah tentu
sangat dipengaruhi latar belakang kehidupan serta pendidikannya, dan
juga tidak terlepas dari sumber hokum yang ada.
Abu hanifah dikenal sebagai ulama ahlu rayi. Dalam menetapkan
hokum islam, baik yang di istimbatkan dari Al-quran maupun hadist,
beliau banyak menggunakan nalar. Beliau mengutamakan rayi dari
khabar ahad. Apabila terdapat hadis yang bertentangan, beliau menetapkan
hokum dengan jalan qiyas dan istihsan.
1

B. Pola Pikir dan Faktor yang Mempengaruhi Imam Maliki
Imam malik terkenal dengan Ahlul Hadis karena dipengaruhi oleh
tempat tinggalnya yang berada di Madinah. dalam mengambil fatwa
hukumnya, dia bersandar kepada kitab Allah untuk pertama kalinya,
Kemudian Kepada Assunah. Dan beliau mendahulukan amalan penduduk
Madinah dari pada hadis ahad kalau terbukti bertentangan dengan tradisi
masyarakat Madinah. Sebab beliau berpendirian bahwa penduduk

1
Rouf Ibnu Mu'thi , Imam Abu Hanifah, http://roufibnumuthi.blogspot.com/2010/10/imam-
abu-hanifah.html
4


Madinah itu mewarisi apa yang mereka amalkan dari ulama salaf mereka,
dan ulama salafnya mewarisi dari sahabat, maka hal itu lebih kuat daripada
hadist ahad.
Berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, pemikiran hukum
islam Imam Malik cenderung mengutamakan riwayat, yakni
mengedepankan hadis dan fatwa sahabat. Pengaruh riwayat yang menonjol
adalah penerimaan tradisi masyarakat Madinah sebagai metode hukum.
Imam Malik juga termasuk ulama yang sangat teguh dalam membela
kebenaran, bahkan dia sangat berani dalam menyampaikan sesuatu yang
sudah diyakini kebenarannya, tidak peduli walaupun para penguasa marah
dengan ucapannya. Hal itu dapat dilihat ketika beliau menyampaikan
fatwa dan ternyata fatwanya bertentangan dengan khalifah Al Mansur dan
bani Abbasiyah di Baghdad, Malik pernah disiksa dan dihina.
Dan komentar para sejarawan berbeda-beda dalam hal ini yaitu
kenapa beliau dipukul, disiksa dan sebagainya. Sebagian pendapat ahli
sejarah beliau disiksa karena pendapatanya yang menyebutnya bahwa
tidak sah talak orang yang di paksa. Berdasarka hadis Rasulullah, artinya
: tidak sah talak orang yang dipaksa. Keteguhan Imam Malik terhadap
fatwa-fatwa yang telah beliau keluarkan, bukan berarti Imam Malik keras
kepala atau ceroboh dalam mengeluarkan fatwa dan hukum. dalam
memberikan fatwa, Imam malik hanya akan menjawab masalah yang
sudah terjadi dan tidak melayani masalah yang belum terjadi, meskipun
ada kemungkinan akan terjadi. Beliau pernah ditanya oleh seseorang
tentang masalah yang belum terjadi kemudian Imam Malik menjawab,
tanyakan yang sudah terjadi jangan bertanya yang belum terjadi. Imam
Malik sangat berhati-hati dalam memberi fatwa, tidak mau menjawab
pertanyaan yang beliau tidak tahu. Jika beliau tidak dapat memastikan
hukum suatu masalah, beliau kan mengatakan saya tidak tahu agar beliau
terlepas dari salah fatwa, tidak tergesa-gesa menjawab jika ditanya, dan
berkata si penanya, pergilah nanti saya lihat dahulu. Imam malik tidak
pernah menganggap remeh atau susah suatu masalah yang ditanyakan
5


kepadanya, tetapi semua dianggap berat apalagi ketika terkait halal dan
haram.
2

C. Pola Pikir dan Faktor yang Mempengaruhi Imam Syafii
Pola pikir dan Faktor yang mempengaruhi Imam As-Syafii. Pertama,
faktor keragaman pemikiran. Situasi dan kondisi saat Imam Asy -Syafii
(150-204 H) lahir dan hidup sangat jauh [karya ulama sudah banyak] berbeda
dengan kedua imam sebelumnya. Pada masa Imam Syafii hidup, sudah
banyak ahli fiqh, baik sebagai murid, Imam Abu Hanifah atau Imam Malik
sendiri masih hidup. Akumulasi berbagai pemikiran fiqh fuqaha, baik dari
Mekah, Madinah, Irak, Syam, dan Mesir menjadikan Asy-Syafii memilki
wawasan yang luas tentang berbagai aliran pemikiran fiqh. Faktor kedua,
geografis, faktor ini merupakan faktor secara alamiah negara Mesir tempat
Asy-SyafiI lahir. Mesir adalah daerah kaya dengan warisan budaya Yunani,
Persia, Romawi, dan Arab. Kondisi budaya yang kosmopolit ini tentu saja
memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir, Imam Asy-Syafii. Hal itu
terlihat dari kitabnya Ilmu Mantiq yang dipengaruhi, oleh aliran Aristoteles.
Faktor ketiga, adalah faktor sosial dan budaya ikut memengaruhi terhadap
pola pikir Imam, Syafii, dengan qaul qadim dan qaul jadid QauI qadim
diangun oleh Irak tahun 195 H. Karena perjalanan intelektualnya tersebut,
Imam Asy-Syafii mengubah beberapa pendapatnya yang kemudian disebut
qaul jadid.
3

D. Pola Pikir dan Faktor yang Mempengaruhi Imam Hanbali
Pesatnya perkembangan zaman tidak membuat Imam Hanbali (164-
241 H) berpikir rasional bahkan hasil rumusannya lebih ketat dan kaku
dibanding Imam Maliki yang tradisional. Paling tidak, ada dua faktor yang
menjadikan Imam Hanbali berpikir seperti itu;
Faktor politik dan budaya. Ahmad bin Hanbal hidup pada periode
pertengahan kekhalifahan Abasiyah, ketika unsur Persia mendominasi unsur
Arab. Pada periode ini sering kali timbul pergolakan, konflik, dan

2
http://kejora-coba-coba.blogspot.com/2012/01/imam-malik-nama-lengkap-malik-bin-
anas.html
3
Hasbiyallah, Perbandingan Mazhab, Jakarta Pusat: Subdit Kelembagaan Direktorat
Pendidikan Tinggi Islam, cet. Ke-2, Juli 2012, h. 85.
6


pertentangan yang berkisar pada soal kedudukan putra mahkota dan khilafat
antara anak-anak khalifah dan saudara-saudaranya. Saat itu, aliran
MutazilAh berkembang, bahkan menjadi madzhab resmi negara pada masa
pemerintahan Al- Makmun, Al-Mutashim, dan Al-Watsiq.
4

E. Pola Pikir dan Faktor yang Mazhab Syiah dan Khawarij
kedua madzhab ini disatukan dalam satu pembahasan karena pada
dasarnya, keduanya memiliki kesamaan dalam perkembangan inazhabnya, di
samping asal muasal madzhab ini satu, yakni dari madzhab Syiah. Begitu
juga madzhab, Syiah sendiri Zaidiyah, Abu jafar Ash-Shadiq dan Ismaili
bermuara kepada Ali bin Abi Thalib. Hampir dapat dikatakan bahwa faktor
utama yang memengaruhi kedua madzhab ini adalah faktor politik. Karena
kemunculan dua aliran ini pun tidak lepas dari nuansa politis yakni tahkim. Di
samping faktor teologis. Kedua faktor inilah yang memberikan pengaruh
besar terhadap pola pikir kedua madzhab tersebut.
5

Faktor utama yang memengaruhi kedua madzhab ini adalah faktor
politik. Karena kemunculan dua aliran ini pun tidak lepas dari politis yakni
tahkim Di samping faktor teologis. Kedua faktor yang memberikan pengaruh
besar terhadap pola pikir kedua madzhab tersebut. Dalam peranannya,
Khawarberubah menjadi kalam dan fiqh, Madzhab fiqh Khawardiwakili
oleh Madzhab Ibadi. Adapun Syiah memperkuat eksistensinya dalam aliran
politik dengan membangun berbagai doktrin, dan ajarannya, termasuk aspek
fiqh yang diwakili oleh Madzhab jafari [imami], Zaidiyah, dan Ismaili.
Faktor politik amat kental dalam Madzhab Syiah, terutama Imamiyah jafari
yang diakui sebagai madzhab resmi negara sampai sekarang. Pola pikir
Madzhab jafari bersifat otoritas Imam dalam proses penetapan hukum pun,
madzhab ini memiliki beberapa otoritas atau yang disebut wilayah.
6

F. Sistematika Sumber Hukum Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah dikenal sebagai ulama Ahli Rayi. Meskipun Abu
Hanifah pernah bermukim di Mekkah dan mempelajari hadis-hadis nabi, serta

4
Ibid., h. 79.
5
Ibid.
6
Ibid., h. 85.
7


ilmu-ilmu lain dari para tokoh yang beliau jumpai, akan tetapi pengalaman
yang beliau peroleh dari luar kufah digunakan untuk memperkaya koleksi
hadis-hadisnya, sementara metodologi kajian fiqhnya mencerminkan aliran
Ahli Rayi yang beliau pelajari dari Imam Hammad, dengan al-Quran dan
as-Sunnah sebagai sumber pertama dan kedua.
Apabila beliau tidak menemukan ketentuan yang tegas tentang hukum
persoalan yang dikajinya dalam al-Quran dan as-Sunnah, maka beliau
mempelajarinya dari perkataan sahabat baik dalam bentuk ijma maupun
fatwa. Kalau ketiganya tidak menyatakan secara eksplisit tentang persoalan-
persoalan tersebut, maka beliau mengkajinya melalui qiyas dan istihsan, atau
melihat tradisi-tradisi yang berkembang dalam masyarakat yang ditaati secara
bersama-sama.
Imam Abu Hanifah pernah berkata: Aku mengambil hukum
berdasarkan al-Quran, apabila tidak saya jumpai dalam al-Quran, maka aku
gunakan as-Sunnah dan jika tidak ada dalam kedua-duanya (al-Quran dan as-
Sunnah), maka aku dasarkan pada pendapat para sahabat dan aku tinggalkan
apa saja yang tidak kusukai dan tetap berpegang kepada pendapat satu saja.
Beliau juga berkata: Aku berijtihad sebagaimana mereka berijtihad dan
berpegang kepada kebenaran yang didapat seperti mereka juga.
Untuk lebih jelasnya, dasar-dasar yang digunakan oleh madzhab Hanafi
dalam menetapkan suatu hukum berdasarkan urutannya, yaitu:
1. Al-Quran
2. As-Sunnah. Kualifikasi as-Sunnah ini harus shahih, mutawatir dan juga
dikenal secara luas (masyhur). Madzhab Hanafi menolak menggunakan
hadis uang diriwayatkan oleh satu orang saja yang disebut hadis ahad.
3. Perkataan sahabat
4. Al-Qiyas
5. Al-Istihsan, yaitu berpaling dari kehendak qiyas kepada qiyas yang lebih
kuat atau pengkhususan qiyas berdasarkan dalil yang lebih kuat.
6. Al-Urf, yaitu tradisi masyarakat baik berupa perkataan maupun
perbuatan. Atau dengan perkataan lain adalah adat kebiasaan. Tentu saja
8


urf ini harus sejalan dengan semangat syariah, sedangkan urf yang
bertentangan dengan jelas ditolak oleh madzhab Hanafi.
7

G. Sistematika Sumber Hukum Imam Malik
Imam Malik sendiri sebenarnya belum menuliskan dasar-dasar
fiqhiyah yang menjadi pijakan dalam berijtihad, tetapi pemuka-pemuka
madzhab ini, murid-murid Imam Malik dan generasi yang muncul sesudah itu
menyimpulkan dasar-dasar fiqhiyah Malik kemudian menuliskannya. Dalam
Muwattha, Malik secara jelas menerangkan bahwa dia mengambil tradisi
orang-orang Madinah sebagai salah satu sumber hukum setelah al-Quran
dan as-Sunnah. Ia juga mengambil hadis munqathi dan mursal sepanjang
tidak bertentangan dengan tradisi orang-orang Madinah itu.
Secara lebih jelas dasar-dasar yang digunakan oleh madzhab Maliki
adalah sebagai berikut:
1. Al-Quran
2. As-Sunnah. Berbeda dengan Abu Hanifah yang mensyaratkan dengan
kualifikasi tertentu, Imam Malik meski mengutamakan hadis mutawatir
dan masyhur, juga menerima hadis ahad asalkan tidak bertentangan
dengan amal (praktik) ahli Madinah.
3. Amal ahli Madinah (praktik masyarakat Madinah). Imam Malik
berpendapat bahwa Madinah merupakan tempat Rasulullah menghabiskan
10 tahun terakhir hidupnya, maka praktik yang dilakukan oleh masyarakat
Madinah mesti diperbolehkan, atau bahkan dianjurkan oleh Nabi Saw.
Oleh karena itu, Imam Malik beranggapan bahwa praktik masyarakat
Madinah merupakan bentuk as-Sunnah yang sangat otentik yang
diriwayatkan dalam bentuk tindakan.
4. Fatwa Sahabat.
5. Qiyas
6. Al-Mashlahah Al-Mursalah, yakni menetapkan hukum atas berbagai
persoalan yang tidak ada petunjuk nyata dalam nash, dengan

7
Lovely, Pola Pemikiran Imam Madzhab, http://ainirzone.blogspot.com/2011/04/pola-
pemikiran-imam-madzhab.html
9


pertimbangan kemaslahatan, yang proses analisisnya lebih banyak
ditentukan oleh nalar mujtahidnya.
7. Al-Istihsan
8. Adz-Dzariah. yakni Imam Malik menetapkan hukum dengan
mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul dari
suatu perbuatan. Jika perbuatan itu akan menimbulkan mafsadah meski
hukum asalnya boleh, maka hukum perbuatan tadi adalah haram.
Sebaliknya, jika akan menimbulkan maslahah, maka hukum perbuatan
tadi tetap boleh atau bahkan dianjurkan atau meningkat menjadi wajib.
Penganut madzhab Maliki ini sampai sekarang banyak pengikutnya dan
mereka tersebar di negara-negara, antara lain: Mesir, Sudan, Kuwait, Bahrain,
Maroko dan Afrika.
8

H. Sistematika Sumber Hukum Imam Syafii
Imam syafii terkenal sebagai seorang yang membela mazhab Maliki
dan mempertahankan mazhab ulama Madinah hingga terkenallah beliau
dengan sebutan Nasyirus Sunnah (penyebar Sunnah).
As-Syafii telah dapat mengumpulkan antara thariqat ahlur rayi
dengan thariqat ahlul hadits. Oleh karena itu mazhabnya tidak terlalu condong
kepada ahlul hadits.
9

Thaha jabir, dalam bukunya, Adab Al-IkhtilaffiAl-Riam, menjelaskan
metode istinbath al-ahkamImam Syafii sebagai berikut:
...pertama (ashal), yakni Al-Quran dan Al-Hadis, dan apabila tidak
ditemukan dalam keduanya, qiyas berlaku kepadanya, dan apabila hadis itu
sampai sanadnya kepada Rasulullah, itulah Yang dituju ma sebab lebih baik
dariipada hadis ahad jika zhahir hadis mencakup beberapa pengertian,
zhahir dan pernyataan yang menyerupainya harus lebih diutamakan.
Kemudian, tatkala beberapa hadis saling menclukung, untuk menentukan
tingkatan kesahihannya ditinjau dari segi sanad hadis-hadis tersebut. Satu
hadis yang dipandang sebagai hadis munqathi, misalnya bukan hanya yang

8
Lovely, Pola Pemikiran Imam Madzhab, http://ainirzone.blogspot.com/2011/04/pola-
pemikiran-imam-madzhab.html
9
M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002, h.165.
10


bersumber dari Ibnu Musayyab. Selanjutnya, bahwa ashal (dalam pengertian
lawan dari furm pada lapangan qivas) itu tidak bisa diqiyaskan dengan
ashal yang lain juga bahwa tidak ada kata kenapa dan bagaimana
untuk ashal. Kata kenapa hanya dipakai untuk furu. Dengan demikian,
jika qiyasnya benar dan berdasar pada asbat Yang benar, benarlah
argumen tersebut.
Dari kutipan di atas, tampaknya Al-Quran, hadis, ma, dan qiyas
menjadi faktor utama dalam landasan madzhab Imam Syafii. sementara
metode lainnya seperti: istinbath, istihsan, sadu dzariah dan lainnya hanyalah
merupakan suatu metode dalam merumuskan menyimpulkan hukum-hukum
dari sumber utamanya (Al-Quran Al-Hadis).
10

I. Sistematika Sumber Hukum Ahmad bin Hanbal
Thaha jabir, dalam kitabnya Adab Al-lkhtilaf dan Abu Zahrah, dalam
kitabnya Tarikh Madzhabib al-Fiqhyah, menjelaskan bahwa cara tihad Imam
Ahmad Ibn Hanbal sangat dekat dengan cara tihad Asy-Syafii. Ibn Qayyim
Al-jauziyyah menjelaskan bahwa pendapat-pendapat Ahmad Ibn Hanbal
dibangun atas lima dasar, yaitu:
1. An-nushnush dari Al-Quran dan As-Sunnah. Apabila telah terdapat
ketentuannya dalam nash tersebut, ia berfatwa dan tidak mengambil
yang lainnya; karena itu nash didahulukan atas fatwa sahabat;
2. Ahmad Ibn Hanbal berfatwa dengan fatwa sahabat, ia memilih
pendapat sahabat yang tidak menyalahinya (ikhtilaf) (sudah sepakat);
3. Apabila fatwa sahabat berbeda-beda, Ahmad Ibn Hanbal memilih
salah satu pendapat mereka yang lebih dekat kepada Al-Quran dan As-
Sunnah;
4. Ahmad Ibn Hanbal menggunakan hadis mursal dan dhaif apabila tidak
ada atsar, qaul sahabat, atau ma yang menyalahinya;
5. Apabila tidak ada dalam nash, As-Sunnah, qaul sahabat, riwayat
masyhur, hadis mursal dan dhaif, Ahmad Ibn Hanbal menganalogikan

10
Hasbiyallah, Perbandingan Mazhab,....., h. 99.
11


(menggunakan qiyas) dan qiyas baginya adalah dalil yang dipakai
dalam keadaan terpaksa.
Dengan demikian, sistematika sumber hukum dan istidlal Madzhab
Hanbali [Imam Ahmad], sebagaimana diringkas oleh, Salim Ali Ats-Tsaqafi,
terdiri dari:
1. nushus[AI-Quran, As-Sunnah dan nash mal]
2. fatwa-fatwa sahabat;
3. hadis-hadis mursal dan dhaif,
4. qiyas;
5. istihsan;
6. sadd adz-dzirai;
7. istishab; dan
8. al-mashlahat al-mursalat.
11

J. Sistematika Sumber Hukum Mazhab Syiah
Adapun sistematika sumber hukum dalam madzhab Syiah pada aliran
Zaidiyah, dapat ditelusuri dari pemikiran Imam Zaid. Secara manhaji, ia tidak
jauh berbeda dengan madzhab Ahlu As-Sunnah, seperti Abu Hanifah, Abd
Ar-Rahman ibn Abi Laila, Utsman Al- Biti dan madzhab lainnya. Hal itu
diungkapkan oleh Abu Zahrah, sebagai berikut:
Ia [Imam Zaid] menggunakan Kitabullah, As-Sunnah, dan dia
bertihad dengan rayu, jika tidak ditemukan dalam Kitabullah dan As-
Sunnah, ia memerhatikan kata-kata Ali ibn Abi Thalib, r.a., atau istihsan
[qiyas], mashlahat mursalah, dan akal [tujuan baik]
Secara rinci langkah-langkah tihad Zaidiyah, pada dasarnya
mengulang-ulang manhaj para imam madzhab empat Ahlu al- Sunnah,
sebagai berikut: (1) Al-Quran, (2) As-Sunnah-, (3) Ijma, (4) fatwa sahabat
[terutama fatwa Ali bin Abi Thalib], (5) Qiyas, (6) istihsan [dimasukkan ke
dalam qiyas terdiri dari istihsan qiyas istihsan sunnah, istihsan ina dan
istihsan dharurat, (7) mashlahat mursalah, (8) istihsab, (istishabul baraati

11
Ibid., h. 102-103.
12


ashliyah, istishab milki, istishab hukum, istishab haali [istishabul washfy],
dan (9) dalil aqli.
Adapun sistematika hukum madzhab Syiah Ismailiyah secara manhaj
fiqh, kurang perhatiannya terhadap aspek fiqh. Mereka lebih cenderung ke
arah gerakan politik dengan membawa misi imam mereka. Namun
demikian, sistematika ini dapat ditemukan pada pengembang madzhab ini,
bukan kepada Ismail ibn Abu jafar Ash-Shacliq [gaib, riwayat hidupnya].
Atau dapat ditelusuri dari kitab induknya al-iqtisad atau daaimul Islam, yang
secara esensi, tidak jauh berbeda dengan Imam Syafii dan Maliki. Akan
tetapi, ciri khas madzhab ini pada dasarnya tidak jauh berbecla dengan
madzhab Syiah lainnya, yakni otoritas imam sangat mutlak untuk
menentukan hukum. Di samping madzhab, ini terkenal dengan aliran
Bathiniyah. Pemahaman ajaran, Islam secara batin hanya dapat diperoleh dari
para imam/ulama mereka secara rahasia.
Ringkasnya, sistematikanya sebagai berikut: (1) Al-Quran baik
pemahaman zhahir maupun batin; (2) As-Sunnah [terutama riwayat dan Ali
bin Abi Thalib], (3) tihad [akal], (4) ma [khususnya ma para imam Ahlu
Al-Bait.
Secara umum, sistematika hukum madzhab Syiah, dapat dilihat
sebagai berikut: pertama, Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun bagi Syiah,
sunnah dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:
1. Hadis sahih (tradisi yang otentik), yaitu hadis yang kebenarannya
dapat diusut kembali sampai kepada imam (aimmah mashum) yang
diceritakan oleh seorang imam adil atau bias dipercaya;
2. Hadis hasan (tradisi yang baik), yaitu hadis yang kebenarannya seperti
hadis sahih, yakni dapat dikembalikan kepada mashum, tetapi
diceritakan oleh seorang imam yang terhormat Ahli-ahli hadis tidak
menyebutnya tsiqah, adil, dan dapat dipercaya, namun ia dipuji oleh
ahli hadis dengan kata-kata lain;
3. Hadis musak (kuat), yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang
yang dikenal tsiqat, adil, benar, dan jujur oleh ahli sejarah, sekalipun
beberapa atau semua perawinya bukan pengikut Ali
13


4. Hadis dhaif (lemah), yaitu hadis yang tidak mencapai atau, memenuhi
syarat-syarat hadis mmsak- Hanya tiga macam hadis pertama Yang
diterima oleh kaum Ushuli Syiah.
Syiah menerima hadis dan pendapat dari imam Syiah dan ulama
Syiah. Mereka menolak riwayat selain imam mereka. Dalam mengambil
tafsir, mereka hanya mengambil tafsir Syiah; dan dalam mengambil hadis,
mereka hanya mcngambil hadis riwayat Syiah. Syiah menolak ma umum
sebab dengan mengakui ma umum berarti mengambil pendapat selain
pendapat imam-imam Syiah; begitu juga mereka menolak al-qiyas sebagai
bagian dari ar-rayu karena agama bukan diambil dengan ray.
12

K. Sistematika Sumber Hukum Mazhab Khawarij
Mazhab Khawar, terutama madzhab fiqhnya diwakili oleh aliran
Ibadi (Abdullah ibn lbadh At-Tamimi (w. 93 /712 ?). Tokoh sentral madzhab
ini pun sultan seorang Ahlu fiqh, tetapi mujahid murni sebagai penentang
terhadap kekejaman khalifah Bani Umayah. Namun demikian, manhaj fiqh
lbadi ini dapat ditemukan dari Para penerusnya seperti Abu Syatsa, Jabir bin
Zaid, dan Abu Ubaidah Muslim bin Abi Karimak dan para muridnya.
Sistematika sumber hukum yang digunakan Madzhab Ibadi,
sebagaimana diungkapkan oleh Mustofa Muhammad Asy-Syakh,ah sebagai
berikut:
...Rujukan yang dadikan dasar pembinaan madzhab Ibadiyyah
adalah Al-Quran, Al-Hadis, Ijtihad dan Ijma, Hadis yang mereka terima
hanyalah yang berderajat sahih dan hasan atau tidak terlalu lemah
maksudnya, hadis dhaif pun diterima asal tidak terlalu lemah. Kelompok
Ibadiyah sangat cenderung pada pendapat atau hasil pemikiran mereka, dan
menganggapnya sebagai tihad ulama. Bahkan, mereka mengafirkan, orang
yang mengingakari hasil penelaahan akal Pikiran itu...Ibadiyah merupakan
madzhab yang paling dekat dengan Ahlus As -Sunnah. Kesamaannya
pandangannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan perbedaannya.

12
Ibid., h. 106-107.
14


Yang menarik dari manhaj ini adalah adanya tihad meskipun
secara eksklusif dari golongan mereka sendiri. Dalam hal ini, Muhammad
Salam Madkur mengomentari bahwa Madzhab Ibadi berpendapat, tihad
adalah unsur dharuriyat yang mencari kesesuaian tasyri di setiap zaman dan
tempat Ijtihad bertingkattingkat dan madzhab ini mensyaratkan amal
sebagai penyempurna Islam. Pemikiran lain dari madzhab ini bahwa Segala
sesuatu itu adalah perintah Allah, petintah ini Am (umum) bukan khas
(khusus) dan tidak ada kekhususan dalam Al-Quran; madzhab ini tidak
menggunakan rayu, qiyas, kecuali ketika tidak ada atsar sahabat. Sebagian
besar madzhab ini tidak menjauhi madzhab Ahlu As-Sunnah.
Madzhab ini dikenal pula sebagai madzhab yang bergolongan paling
moderat di antara aliran Khawar. Hal itu dapat dilihat dari pemahaman lbadi
akan fiqhnya sebagai berikut:
1. Orang-orang Islam yang menyembah satu arah ke Kabah, tetapi
menolak kami adalah kafir bukan politeisme. Dengan orang Islam
boleh diadakan hubungan perkawinan dan warisan. Syahadat mereka
dapat diterima dan membunuh mereka adalah haram;
2. Dibolehkan merampas dalam perang hanyalah kuda dan senjata. Emas
dan perak harus dikembalikan kepada pemiliknya;
3. Tidak boleh membunuh mereka. Hal itu dilakukan kalau mereka telah
menyatakan dan terbukti kekafirannya.
4. Mereka membolehkan kesaksian terhadap orang luar Ibadi yang
melawan Madzhab lbadi.
13

13
Ibid., h. 108.

15

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pola pikir dan faktor yang memengaruhi Imam Hanafi. Secara geografis,
Imam Abu Hanifah (80-150 H) lahir di Kufah [Irak] yang penduduknya
merupakan masyarakat yang sudah banyak mengenal kebudayaan dan peradaban.
Pola pikir dan factor yang memengaruhi Imam Maliki. Berbeda dengan Imam
Abu Hanifah, Imam Malik (93-179 H) lahir di Madinah yang dikenal sebagai
Daerah Hadis dan tempat tinggal para sahabat Nabi.
Pola pikir dan Faktor yang mempengaruhi Imam As-Syafii. Pertama, faktor
keragaman pemikiran. Situasi dan kondisi saat Imam Asy -Syafii (150-204 H)
lahir dan hidup sangat jauh [karya ulama sudah banyak] berbeda dengan kedua
imam sebelumnya.
Pola pikir dan faktor yang mempengaruhi Imam Hanbali. Faktor politik dan
budaya Ahmad bin Hanbal hidup pada periode pertengahan kekhalifahan
Abbasiyah, ketika unsur Persia mendominasi unsur Arab. Pada periode ini sering
kali timbul pergolakan, konflik, dan pertentangan yang berkisar pada soal
kedudukan putra mahkota dan khilafat antara anak-anak khalifah dan saudara-
saudaranya.
Pola pikir dan faktor yang mempengarubi Madzhab Syiah dan Khawar.
Faktor utama yang memengaruhi kedua madzhab ini adalah faktor politik. Karena
kemunculan dua aliran ini pun tidak lepas dari politis yakni tahkim Di samping
faktor teologis. Kedua faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap pola
pikir kedua madzhab tersebut.
Madzhab Hanafi memiliki dasar-dasar dalam bertihad, sebagai berikut: (1)
Kitab Allah (Al-Quran), (2) As-Sunnah Rasulullah dan atsar-atsar yang sahih
serta telah masyhur di antara para ulama yang ahli, (3) fatwa-fatwa dari sahabat,
(4) ma, (5) al-qiyas, (6) al- istihsan, (7) al-urf.
16


Madzhab Maliki. Sistematika sumber hukum atau istinbath Imam Maliki pada
dasarnya, ia tidak menuliskan secara sistematis, para muridnya ia mengambil As-
Sunnah, (kategori As-Sunnah menurutnya, hadis-hadis Nabi dan fatwa sababat),
amal Alhu Al-Madmah, al-qiyas, al-mashlahah al-mursalah, sadd al-dzarai, al-
urf, dan al-adat.
Madzhab Syafii. Imam Asy-Syafii Pola pikir Imam Asy-SyafiI secara garis
besar dapat dilihat dari kitab Al-Um, sebagai berikut Al-Quran, Al-Hadis, ma
dan qiyas.
Madzhab Hanbali. Imam Hanbal Madzhab ini dibangun atas delapan dasar,
yaitu: (1). nushus [Al-Quran], As-Sunnah dan [nash ma], (2) fatwa-fatwa
sahabat, (3) hadis-hadis mursal dan dhaif, (4) qiyas; (5) istihsan; (6) sadd adz-
dzarai:, (7) istishab; dan (8) al-mashlahat al-murshalat.
Perbedaan dengan madzhab Sunni adalah bahwa Syiah menerima hadis dan
pendapat dari imam syiah dan ulama Syiah. Mereka menolak riwayat selain
imam mereka. Dalam mengambil tafsir, mereka hanya mengambil tafsir Syiah;
dan dalam mengambil hadis, mereka hanya mengambil hadis riwayat Syiah.
Madzhab Khawar [Ibadi]. Madzhab fiqhnya diwakili oleh aliran Ibadi
Abdullah ibn Ibadh At-Tamimi (w. 93/712?). Tokoh sentral madzhab ini pun
bukan seorang ahlu fiqh, tetapi mnujahid murni sebagai penentang terhadap
kekejaman khalifah Bani Umayah.



17

DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Hasan, M. Ali, Perbandingan Mazhab, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2002.
Hasbiyallah, Perbandingan Mazhab, Jakarta Pusat: Subdit Kelembagaan
Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, cet. Ke-2, Juli 2012.
Imam Asy-Syafii Madzhahib Al-Qadim wa Al-Jadid kaya Ahmad
Nahrawi Abd As-Salam.
Jaih Mubarok, Modifikasi Hukum Islam Studi tentang Qawl Qadimdan
Qawul Jadid, Rajawali Press, Jakarta, 2002.
Moenawar Cholil, Empat BiografiImam Madzhab, Bulan Bintang, Jakarta,
1995.
Internet:
Rouf Ibnu Mu'thi , Imam Abu Hanifah,
http://roufibnumuthi.blogspot.com/2010/10/imam-abu-hanifah.html.
http://kejora-coba-coba.blogspot.com/2012/01/imam-malik-nama-lengkap-
malik-bin-anas.html.
Lovely, Pola Pemikiran Imam Madzhab,
http://ainirzone.blogspot.com/2011/04/pola-pemikiran-imam-
madzhab.html.