Anda di halaman 1dari 6

nikahni.

kah
[n] ikatan (akad) perkawinan yg dilakukan sesuai dng ketentuan hukum dan ajaran agama:
hidup sbg suami istri tanpa -- merupakan pelanggaran thd agama

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/nikah/mirip#ixzz2Mf85qxGR
Perkawinan Beda Agama
di Indonesia

Perkawinan di Indonesia diatur oleh UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Berdasarkan
UU tersebut perkawinan di definisikan sebagaiikatan lahir batin antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Oleh karenanya dalam UU yang sama diatur bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu serta telah dicatat menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Namun bagaimana dengan perkawinan beda agama. Perkawinan beda agama bukanlah
perkawinan campuran dalam pengertian hukum nasional kita karena perkawinan campuran
menurut UU Perkawinan disebut sebagai perkawinan yang terjadi antara WNI dengan WNA.
Akan tetapi perkawinan beda agama di masyarakat sering pula disebut sebagai perkawinan
campuran. Untuk memudahkan, tulisan ini hanya akan menggunakan istilah perkawinan beda
agama
UU Perkawinan sendiri penafsiran resminya hanya mengakui perkawinan yang dilangsungkan
berdasarkan agama dan kepercayaan yang sama dari dua orang yang berlainan jenis yang
hendak melangsungkan perkawinan. Dalam masyarakat yang pluralistik seperti di Indonesia,
sangat mungkin terjadi perkawinan diantara dua orang pemeluk agama yang berlainan.
Beberapa diantara mereka yang mempunyai kelimpahan materi mungkin tidak terlampau
pusing karena bisa menikah di negara lain, namun bagaimana yang kondisi ekonominya serba
pas-pasan. Tentu ini menimbulkan suatu masalah hukum
Ada dua cara dalam menyikapi perkawinan beda agama ini:
Pertama: Salah satu pihak dapat melakukan perpindahan agama, namun ini dapat berarti
penyelundupan hukum, karena sesungguhnya yang terjadi adalah hanya menyiasati secara
hukum ketentuan dalam UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Namun setelah
perkawinan berlangsung masing-masing pihak kembali memeluk agamanya masing-masing.
Cara ini sangat tidak disarankan.
Kedua: Berdasarkan Putusan MA No 1400 K/Pdt/1986 Kantor Catatan Sipil diperkenankan
untuk melangsungkan perkawinan beda agama. Kasus ini bermula dari perkawinan yang
hendak dicatatkan oleh Ani Vonny Gani P (perempuan/Islam) dengan Petrus Hendrik Nelwan
(laki-laki/Kristen).
Dalam putusannya MA menyatakan bahwa dengan pengajuan pencatatan pernikahan di KCS
maka Vonny telah tidak menghiraukan peraturan agama Islam tentang Perkawinan dan
karenanya harus dianggap bahwa ia menginginkan agar perkawinannya tidak dilangsungkan
menurut agama Islam. Dengan demikian, mereka berstatus tidak beragama Islam, maka KCS
harus melangsungkan perkawinan tersebut.
Nah putusan ini, secara sekilas hanya berlaku bila perempuan yang beragama Islam dan Laki-
laki yang beragama Nasrani hendak melangsungkan perkawinan. Lalu bagaimana dengan bila
sebaliknya? Secara argumentum a contrario maka KUA wajib melangsungkan perkawinannya,
karena perempuan yang beragama Nasrani tidak lagi menghiraukan statusnya yang beragama
Nasrani. Oleh karena itu melakukan penundukkan hukum secara jelas kepada seluruh Hukum
Islam yang terkait dengan perkawinan.
Dengan ini, dari semula pasangan yang berbeda agama tidak perlu melakukan penyelundupan
hukum dengan mengganti agama untuk sementara, namun bisa melangsungkan perkawinan
tanpa berpindah agama.

PERKAWINAN BEDA AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional VII MUI, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426H. /
26-29 Juli 2005M., setelah
MENIMBANG :
1. Bahwa belakangan ini disinyalir banyak terjadi perkawinan beda agama;
2. Bahwa perkawinan beda agama ini bukan saja mengundang perdebatan di antara sesama umat Islam,
akan tetapi juga sering mengundang keresahan di tengah-tengah masyarakat;
3. Bahwa di tengah-tengah masyarakat telah muncul pemikiran yang membenarkan perkawinan beda
agama dengan dalih hak asasi manusia dan kemaslahatan;
4. Bahwa untuk mewujudkan dan memelihara ketentraman kehidupan berumah tangga, MUI memandang
perlu menetapkan fatwa tentang perkawinan beda agama untuk dijadikan pedoman.
MENGINGAT :
1. Firman Allah SWT :
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana
kamu mengawini-nya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-
budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. al-
Nisa [4] : 3);
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum
yang berpikir. (QS. al-Rum [3] : 21);
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperlihatkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan. (QS. al-Tahrim [66]:6 );
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al
Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini)
wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita
yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah
membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak
(pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima
hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.
(QS. al-Maidah [5] : 5);
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita
budak yang mukmin lebih baik dari wanita yang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan
janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun ia menarik
hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya .
Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka
mengambil pelajaran. (QS. al-Baqarah [2] : 221)
Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang
beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Alllah lebih mengetahui tentang keimanan
mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka jangalah kamu
kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-
orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-
suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila
kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan)
dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan
hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang
ditetapkan-Nya diantara kamu. Dan Allah maha mengetahui dan maha bijaksana (QS. al-Mumtahianah
[60] : 10).
Dan barang siapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini
wanita merdeka lagi beriman, Ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu
miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu
kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah mas kawin mereka menurut yang patut,
sedang mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri bukan pezina dan bukan (pula) wanita-wanita
yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan
kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separuh hukuman
dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi
orang-orang yang takut pada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) diantaramu, dan kesabaran itu
lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengamun dan Maha Penyayang (QS. al-Nisa [4] : 25).
2. Hadis-hadis Rasulullah s.a.w :
Wanita itu (boleh) dinikahi karena empat hal : (i) karena hartanya; (ii) karena (asal-usul) keturunannya;
(iii) karena kecantikannya; (iv) karena agama. Maka hendaklah kamu berpegang teguh (dengan
perempuan) yang menurut agama Islam; (jika tidak) akan binasalah kedua tangan-mu (Hadis riwayat
muttafaq alaih dari Abi Hurairah r.a);
3. Qaidah Fiqh :
Mencegah kemafsadatan lebih didahulukan (diutamakan) dari pada menarik kemaslahatan.

MEMPERHATIKAN :
1. Keputusan Fatwa MUI dalam Munas II tahun 1400/1980 tentang Perkawinan Campuran.
2. Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005 :

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : FATWA TENTANG PERKAWINAN BEDA AGAMA
1. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah.
2. Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita Ahlu Kitab, menurut qaul mutamad, adalah haram dan
tidak sah.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal : 22 Jumadil Akhir 1426 H.
29 Juli 2005 M.

MUSYAWARAH NASIOANAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA,
Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

Ketua, Sekretaris,


K. H. MARUF AMIN HASANUDIN
Diposkan oleh Excellent Lawyer di 03.47
Label: Keluarga
Pernikahan Beda Agama
Ternyata, Masih Saja Marak-
Saat makan siang tadi, tiba-tiba terdengar Potongan lagu di atas, Los Bilblicos(the nightingales),
yang memang aku setting sebagai nada dering panggilan masuk HP-ku. Buru-buru aku periksa HP
dan ternyata Ronald (nama samaran)yang menghubungiku. Ronald ini adalah kawan dari salah
satu klienku di kantor. Sudah hampir sebulan sejak pertama kali kenal, ia rajin menelpon dan
mengajakku bertemu untuk mendiskusikan masalah yang dihadapinya. Ronald berkeinginan
melangsungkan pernikahan beda agama. Ronald seorang Katolik dan pacarnya, Sari (juga nama
samaran), seorang muslimah.
Seingatku, sejak awal tahun 2007 saja, ada sekitar 9 pasangan berbeda agama yang konsultasi
kepadaku dan berangkat dari latar belakang yang beragam. 2 Pasangan baru saja menyelesaikan
studi mereka di Perguruan Tinggi Katolik di Bandung, sepasang kekasih berasal dari Solo,
Sepasang lagi, si perempuan seorang pengasuh panti asuhan di Yogyakarta dan calon suaminya
seorang guru besar salah satu perguruan tinggi di Amerika, dan sisanya berasal dari sekitar
Jabotabek. Ada yang bekerja di salah satu TV swasta, BUMN, dan anak Pengusaha di Depok. Itu
baru yang berkonsultasi kepadaku, belum lagi yang berkonsultasi ke Pakar Pernikahan Beda
Agama di Indonesia, Pak Kautsar Azhari Noer dan Pak Zainun Kamal, atau ke 2 orang kawanku
yang memang aktifitasnya membantu teknis pencatatan dan pelaksanaan prosesi pernikahan beda
agama. Setidaknya, setiap Tahun ada sekitar 30 s.d. 50 pasangan yang kami bantu untuk
dinikahkan secara beda agama, Ujar Pak Kautsar dalam satu kesempatan. Data itu belum
termasuk pasangan-pasangan yang sudah berkonsultasi namun sampai saat ini belum juga
melangsungkan pernikahan beda agama atau mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ke
jenjang pernikahan. Artinya, terlepas dari jadi menikah atau tidak, kita tidak dapat menyangkal
bahwa keinginan melangsungkan pernikahan beda agama masih saja marak meskipun Negara dan
Mayoritas Ulama Indonesia jelas-jelas melarang jenis pernikahan ini.
Sampai detik ini, aku memang hanya menyediakan diri untuk memberikan konsultasi hukum Islam
dan pertimbangan-pertimbangan lainnya saja. Sementara untuk membantu secara teknis proses
pernikahan beda agama aku memilih tidak, meskipun aku cukup mengerti dan memiliki akses
untuk melakukannya. Keterlibatanku jelas hanya sebatas itu, karena mungkin aku merasa sampai
disitu tanggungjawabku sebagai sarjana Hukum Islam yang mengambil tugas akhir melakukan
penelitian seputar perkawinan beda agama baik dari segi hukum Islam dan prakteknya di
Paramadina.
Pandanganku sekarang memang berbeda jika dibandingkan empat tahun lalu saat aku masih
hangat-hangatnya menjadi orang yang memilih posisi di garis liberal dalam pemikiran Islam. Dulu,
jika ada orang yang datang berkonsultasi ingin melakukan pernikahan beda agama, dengan
berapi-api aku akan langsung mendukung rencana itu dan lantas memberikan dasar argumentasi
yang kuat secara syari dan historis. Sehingga orang itu menjadi yakin dan pada akhirnya
melangsungkan pernikahan beda agama. Tapi kini, aku berpandangan sedikit berbeda. Aku tetap
yakin bahwa dalam hukum Islam, perkawinan beda agama itu sama sahnya dengan perkawinan
seagama. Begitu menurutku jika kita ingin berargumentasi di atas kontruksi hukum Islam an-sich.
Akupun tetap tidak setuju dengan alur berpikir yang mengatakan bahwa pernikahan seagama saja
banyak yang tidak langgeng apalagi pernikahan beda agama. Pergeseranku bukan terletak disana,
tapi lebih pada pandangan bahwa persoalan pernikahan beda agama tidak dapat diselesaikan
hanya dengan melihat boleh atau tidaknya dalam hukum Islam.
Sekarang, ketika didatangi orang yang berniat melakukan pernikahan beda agama, secara tegas
aku akan mengatakan dua pandangan yang bersebrangan dalam hukum Islam. Pandangan yang
membolehkan dan pandangan yang mengharamkan berikut dalil syari dan dinamika praktek
pernikahan beda agama dalam panggung sejarah Islam. Tidak perlu berpanjang lebar mengulas
perdebatan teologis dalam masalah ini. Cukup sampai disitu dan terserah mereka mau memilih
maju atau mundur. Tapi, setelah itu, aku akan lebih banyak mengajak mereka berpikir menatap
persoalan-persoalan lain yang selanjutnya satu persatu akan mereka hadapi jika mereka ingin
tetap melangsungkan pernikahan beda agama.
Aku akan mengajak mereka merenungi beberapa hal, mulai dari kemungkinan terjadinya konflik di
keluarga masing-masing jika keluarga menentang rencana mereka, sanksi sosial yang akan
mereka terima di tengah masyarakat yang cenderung menolak pernikahan beda agama,
bagaimana mendidik agama bagi anak-anak mereka, bagaimana anak mereka juga harus siap
menerima sanksi sosial di mana sebagian orang yang beranggapan anak yang lahir dari
pernikahan beda agama adalah anak hasil zina (meskipun istilah ini sangat tidak manusiawi),
hingga hal yang paling berat, meskipun mereka hidup bersama, namun harus mengalami
kesendirian dan kesepian sepanjang hidup dalam menjalani dan menghayati keberagamaan.
Untuk masalah terakhir tadi memang sangat pelik, misalnya jika suaminya seorang muslim,
setulus apapun sang suami menghayati perayaan natal sang istri yang beragama kristen, tetap
saja sang suami berada diluar dan tidak pernah bisa masuk secara total seperti apa yang dialami
dan dirasakan sang istri dalam memaknai natal. Kecuali sang suami memiliki keberanian dan
kemampuan melintas ke spiritualitas agama istrinya. Dan itupun bukan perkara mudah. Padahal,
jelas-jelas bahwa hakikat pernikahan adalah menyatukan dua jiwa menjadi satu kesatuan utuh
dalam bingkai spiritualitas sehingga mampu menghadirkan Tuhan dalam setiap gerak langkah
mereka agar manusia tidak lagi merasa hampa dalam menjalani peran kemanusiaannya di dunia.
Pernikahan bukan sekedar legalisasi syahwat, regenerasi, menjalankan sunnah nabi, atau
mengikuti tradisi saja. Tapi Pernikahan harus bisa dijadikan jalan menempuh hakikat kebenaran
dimana sepasang manusia saling mengisi, membimbing, dan menemani agar satu sama lain
secara bersamaan sampai kepada-Nya bukan saja secara syari, tapi jauh lebih dari itu sangat
jauh.. hingga menembus sidratul Muntaha yang syari pun tidak mampu menjelaskannya..
Mengapa kemudian Nabi Muhammad betapa menempatkan pernikahan sebagai hal yang sangat
penting. Sesungguhnya, pernikahan atau jalan cinta, jika dimaknai lebih dalam lagi tidak hanya
perspektif syari, adalah jalan setapak yang akan mengantarkan kita mencapai Tuhan. Maka
menurutku, apakah pernikahan itu dilakukan oleh pasangan laki-laki dan perempuan yang
seagama atau berbeda agama itu tidak menjadi penting selama bisa mencapai tingkatan ini.
Wallahu alam..

keyword: tempat nikah beda agama, nikah beda agama di bali, tempat pernikahan beda
agama, tempat menikah beda agama, tempat pernikahan beda agama di indonesia, pernikahan
beda agama di bali, tempat nikah beda agama di jakarta, tempat menikah beda agama di jakarta,
tempat nikah beda agama di bali, biaya nikah beda agama di bali, panti asuhan katolik di
bandung, kawin campur di bali, tempat menikah beda agama di indonesia, contoh skripsi
perkawinan beda agama, bali alamat nya nika laen agama, biaya pernikahan beda agama, lokasi
pernikahan beda agama di bali, maraknya pernikahan beda agama, skripsi desain panti asuhan
katolik, contoh skripsi pernikahan beda agama menurut pandangan islam, panti asuhan katolik di
bali, contoh skripsi tentang nikah beda agama, biaya pernikahan beda agama di perth, tempat
pernikahan beda agama di bali, panti asuhan muslim dibali, Panti asyhan katolik terbaik di yogya,
panti asuhan katolik di yogyakarta, pasangan kekasih islam dengan katolik, tempat pernikahan
beda agama di jakarta, tempat pernikahan beda agama di bandung
This entry was posted on Saturday, March 29th, 2008 at 13:35 and is