Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR ISI

Kata pengantar …………………………………………………………………………… i


Daftar isi …………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar belakang ……………………………………………..…………………… 1
2. Rumusan malah …………………………………………………………………. 1
3. Tujuan masalah………………………………………………………………….. 2
4. Kajian pustaka…………………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah lahirnya pancasila ………………………………………………………. 3
B. Kedudukan dan fungsi pancasila di negara indonesia ………………………….. 4
C. Isi pancasila……………………………………………………………………… 6
D. Bagai mana pengertian ideologi …………………………………………………. 6
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………………….. 7
B. Saran ………………………………………………………………………………. 8
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
Dengan segala fuji dan syukur kami panjatkan kahadirot ilahi robbi azza wajalla atas
segala nikmat dan taufiqnya saya bisa menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul “pancasila
sebagai ideologi bangsa”, yang penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, meski demikian penulis mengharap bisa memberi manfaat bagi para pembaca
Sekian, kurang lebihnya kami sampaikan banyak – banyak terima kasih

Penulis

Ttd

SARKAWI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pancasila merupakan dasar dari negara kita, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pancasila diartikan sebagai lima dasar yang dijadikan dasar terbentuknya Negara dan pandangan
hidup bangsa Suatu bangsa tidak akan dapat berdiri dengan kokoh tanpa adanya dasar Negara
yang kuat dan tidak akan dapat mengetahui dengan jelas kemana arah dan tujuan yang akan
dicapai tanpa pandangan hidup.
Pada prinsipnya terdapat tiga arti utama dari kata ideologi, yaitu (1) ideologi sebagai
kesadaran palsu; (2) ideologi dalam arti netral; dan (3) ideologi dalam arti keyakinan yang tidak
ilmiah. Ideologi dalam arti yang pertama, yaitu sebagai kesadaran palsu biasanya dipergunakan
oleh kalangan filosof dan ilmuwan sosial. Ideologi adalah teori-teori yang tidak berorientasi pada
kebenaran, melainkan pada kepentingan pihak yang mempropagandakannya. Ideologi juga dilihat
sebagai sarana kelas atau kelompok sosial tertentu yang berkuasa untuk melegitimasikan
kekuasaannya.

Dengan adanya dasar Negara, suatu bangsa tidak akan terombang ambing dalam menghadapi
berbagai permasalahan, baik yang datang dari dalam maupun luar. Kalau kita dapat umpamakan,
Negara tanpa dasar Negara bagaikan sebuah bangunan yang tanpa dasar dan bangunan tersebut
akan cepat roboh.
Sebagai warga Negara yang baik,hendaknya kita lebih mengenal dasar Negara
kita(Pancasila) secara lebih dalam dan menyeluruh, agar kita dapat lebih menghargai dan
menjunjung tinggi dasar Negara kita tersebut.

B. Permasalahan

Karena keterbatasan ilmu serta keterbatasan waktu yang penyusun miliki, maka penyusun
hanya mengangkat beberapa hal yang akan dijadikan sebagai permasalahan dalam makalah
ini, yaitu:
1. Bagaimanakah sejarah lahirnya Pancasila?
2. Bagaimana pengertian pancasila ?
3. Apakah kedudukan dan fungsi Pancasila di Indonesia?
4. Apasajakah isi dari Pancasila?
5. Bagaimana pengertian ideologi?
C. Tujuan Penulisan

Makalah ini kami susun dengan tujuan,yaitu:


1. Untuk mengetahui sejarah lahirnya Pancasila.
2. Untuk mengetahui kedudukan dan fungsi Pancasila di Indonesia.
3. Untuk mengetahui isi dari Pancasila.

D. Kajian Pustaka

* Pancasila secara bulat dan utuh diungkapkan ke dalam bentuk rupa bentuk dasar (perisai)
seperti bentuk dasar segi-lima beraturan , bentuk dasar bersudut lima dan beberapa bentuk dasar
yang hanya mempunyai pengertian simbolisme. (Ibid, Hal. 109)

Pancasila dianggap sebagai sesuatu yang keramat, dan ada kecenderungan untuk
mengkultuskan angka 5, yang apabila kaitannya di cari-cari atau dikaitkan dengan kepercayaan
atau agama, memang banyak hal-hal yang berkaitan dengan angka 5, yang paling dekat adalah
jumlah jari pada tangan manusia normal adalah 5.
Pancasila pada pada suatu periode pemerintahan pernah dianggap sebagai suatu kebenaran yang
mutlak, suatu azas tunggal dan bahkan dapat mengalahkan azas agama, karena agama hanya
merupakan salah satu unsur yang diwakili dengan lambang bintang dalam Pancasila, maka
dengan kemutlakan ini Pancasila telah berkembang dari ideologi menjadi Hegemoni.
Ideologi adalah lebih dari sekedar sistem dari idea atau nilai. Ia memerlukan hubungan
antara arti tekstual dan bermacam-macam kelompok yang terlibat dalam membuat dan menerima
teks. Ideologi sangat dipengaruhi oleh politik dari kehidupan sehari-hari : hubungan kekuasaan,
yang didefinisikan dengan kepentingan kelompok dan kelas tertentu, dimana untuk setiap pribadi
menjadi suatu kebiasaan dalam berhubungan satu dengan yang lain.
Dalam pengertian ini ideologi dapat juga diartikan sebagai relasi antara makna suatu tanda
dengan kelompok yang membuat dan membaca tanda tersebut, dimana ideologi yang diciptakan
dan di sisipkan pada tanda-tanda secara tidak sadar menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam hal ini pada suatu periode pemerintahan, dimana pemerintah
memasyarakatkan ideologi segi-lima melalui berbagai hal, diantaranya Penataran, kampanye
disemua lini pendidikan nasional, sehingga pada waktu itu terbentuk suatu badan kampanye,
yang khusus dibentuk untuk membina pemasyarakatan ideologi segi-lima dan didanai secara
khusus. Selain melalui penataran dan kampanye menyeluruh yang terprogram dan
berkesinambungan, ada salahsatu diantaranya yaitu penetapan ideologi segi-lima ini pada unsur
lambang.
Sehingga timbul suatu anggapan bahwa yang bernama lambang, harus mengandung unsur
segi-lima, dan yang tidak mengandung unsur segi-lima tidak mencerminkan lambang yang
resmi, bahkan tidak hanya institusi negara, institusi swasta pun bila ingin tampil seolah-olah
resmi akan menggunakan unsur segi-lima pada lambangnya.
Ideologi dalam arti netral. Dalam hal ini ideologi adalah keseluruhan sistem berpikir,
nilai-nilai, dan sikap dasar suatu kelompok sosial atau kebudayaan tertentu. Arti kedua ini
terutama ditemukan dalam negara-negara yang menganggap penting adanya suatu “ideologi
negara”. Disebut dalam arti netral karena baik buruknya tergantung kepada isi ideologi tersebut.
Ideologi sebagai keyakinan yang tidak ilmiah, biasanya digunakan dalam filsafat dan
ilmu-ilmu sosial yang positivistik. Segala pemikiran yang tidak dapat dibuktikan secara logis-
matematis atau empiris adalah suatu ideologi. Segala masalah etis dan moral, asumsi-asumsi
normatif, dan pemikiran-pemikiran metafisis termasuk dalam wilayah ideologi.
Dari tiga arti kata ideologi tersebut, yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah
ideologi dalam arti netral, yaitu sebagai sistem berpikir dan tata nilai dari suatu kelompok.
Ideologi dalam arti netral tersebut ditemukan wujudnya dalam ideologi negara atau ideologi
bangsa. Hal ini sesuai dengan pembahasan Pancasila sebagai ideologi negara Republik Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Lahirnya Pancasila


Pembahasan mengenai Dasar Negara dilakukan pertamakali pada saat sidang Badan
Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia(BPUPKI) yang berlangsung pada
tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Pada sidang tersebut terdapat usulan-usulan tentang
Dasar Negara, usulan-usulan yang dikemukakan adalah :
a. Prof. Mr. Muhammad Yamin
Mengusulkan Dasar Negara dalam pidatonya tidak tertulis pada tanggal 29 Mei 1945
dalam sidang BPUPKI, yaitu:
1. Peri Kebangsaan.
2. Peri Kemanusiaan.
3. Peri Ketuhanan.
4. Peri Kerakyatan.
5. Kesejahteraan Rakyat.

Setelah selesai berpidato, Beliau menyampaikan pula usulan-sulan tertulis naskah


rancangan UUD RI. Dalam pembukaan itu tercantum rumusan 5 dasar, yaitu :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kebangsaan Persatuan Indonesia.
3. Rasa Kemanusian yang Adil dan Beradab.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

a. Prof.Mr.Dr.R Soepomo (31 Mei 1945)


1. Paham Persatuan.
2. Perhubungan Negara dan Agama.
3. Sistem Badan Permusyawaratan.
4. Sosialisasi Negara.
5. Hubungan antar Bangsa yang Besifat Asia Timar Raya.

b. Ir. Soekarno (1 Juni 1945)


1. Kebangsaan Indonesia.
2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan.
3. Mufakat atau Demokrasi.
4. Kesejahteraan Sosial.
5. Ketuhanan yang Berkebudayaan.
Oleh karena pada sidang pertama belum dicapai kata mufakat, maka dibentuklah sebuah
panitia kecil yang membahas usulan-uslan yang diajukan dalam sidang BPUPKI baik lisan
maupun tulisan yang disebut Panitia Sembilan yang diketuai oleh Ir.Soekarno. Anggota
Panitia Sembilan sendiri terdiri dari tokoh Nasional yang mewakili golongan Nasioanalis dan
Islam, yaitu : Drs. Moh.Hatta, Mr.A.A Maramis, Mr.Muh Yamin, Mr.Ahmad Soebardjo,
Abdul Kahar Muzakar, KH.Wahid Hasyim, Abi Kusno, Tjokrosoejoso dan Haji Agus Salim.
Panitia Sembilan pada tanggal 22 Juni 1945 berhasil menyusun suatu naskah yang
kemudian disebut Piagam Jakarta, yang di dalamnya tercantum rumusan Dasar Negara
sebagai berikut :
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lalu dengan beberapa pertimbangan dan pembahasan ulang,maka sila pertama pada
Piagam Jakarta diubah menjadi Ketuhanan yang maha esa. Dengan demikian lahirlah
Pancasila yang menjadi dasar Negara Indonesia hingga saat ini.

B. Kedudukan dan Fungsi Pancasila di Negara Indonesia

Fungsi pokok Pancasila adalah sebagai Dasar Negara. Selain fungsi pokok tersebut,
Pancasila mempunyai beberapa fungsi lagi, yaitu :
1. Pandangan hidup bangsa Indonesia
Yaitu yang dijadikan pedoman hidup bangsa Indonesia dalam mencapai kesejahteraan
lahir dan batin dalam masayarakat yang heterogen(beraneka ragam)
2. Jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia
Artinya Pancasila lahir bersama dengan lahirnya bangsa Indonesia dan merupakan ciri
khas Bangsa Indonesia dalam sikap mental maupun tingkah lakunya sehingga dapat
membedakan dengan bangsa lain.
3. Perjanjian Luhur
Artinya Pancasila telah disepakati secara Nasional sebagai dasar Negara tanggal 18
Agustus 1945 melalui sidang PPKI(Panitia Perseapan Kemerdekaan Indonesia).
4. Sumber dari segala sumber tertib hukum
Artinya bahwa segala peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia harus
bersumberkan Pancasila atau tidak bertentangan dengan Pancasila.
5. Cita-cita dan tujuan yang akan dicapai bangsa Indonesia.
Yaitu masayarakat adil dan makmur secara merata materiil dan spiritual yang berdasarkan
Pancasila.
6. Sebagai Ideologi terbuka.
Pancasila sebagai suatu ideologi tidak bersifat kaku dan tertutup, namun bersifat terbuka.
Hal ini dimaksudkan bahwa ideologi Pancasila adalah bersifat aktual, dinamis, antisipatif,
dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Keterbukaan ideologi
Pancasila bukan berarti mengubah nilai-nilai dasar Pancasila namun mengeksplisitkan
wawasannya secara lebih kongkrit, sehingga memiliki kemampuan yang labih tajam
untuk memecahkan masalah- masalah baru dan aktual. Sebagai sautu ideologi yang
bersifat terbuka maka Pancasila memeiliki dimensi sebagai berikut :
a. Dimensi Idealistis, yaitu nilai- nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila
yang bersifat sistematis dan rasional yaitu hakikat nlai- nilai yang terkandung
dalam lima sila pancasila : ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan,
dan keadilan. Maka dimensi idealistis Pancasila bersumber pada niali- nilai
filosofis yaitu filsafat Pancasila.
b. Dimensi Normatif, yaitu nilai- nilai yang terkandung dalam Pancasila perlu
dijabarkan dalam suatu sistem normatif, sebagaimana terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945 yang memiliki kedudukan tertinggi dalam tertib
hukum Indonesia. Dalam pengertian inilah maka Pembukaan yang di
dalamnya memuat Pancasila dalam alinea IV, berkedudukan sebagai
’staatsfundamentalnorm’(pokok kaidah negara yang fundamental).
c. Dimensi Realistis, suatu ideologi harus mampu mencerminkan realitas yang
hidup dan berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu Pancasila selalu
memiliki dimensi nilai- nilai ideal serta normaf maka Pancasila harus mampu
dijabarkan dalam kehidupan nyata sehari-hari, baik dalam kaitannya
bermasayarakat maupun dalam segala aspek penyelenggaraan negara.
Berdasarkan hakikat ideologi Pancasila yang bersifast terbuka yang memiliki tiga dimensi
tersebut maka ideologi Pancasila tidak bersifat ’utopis’ yang hanya merupakan sistem ide-
ide belaka yang jauh dari kenyataan hidup sehari- hari. Selain itu ideologi Pancasila
bukan merupakan doktrin belaka karena doktrin hanya dimiliki pada ideologi yang hanya
bersifat normatif dan tertutup, demikian pula ideologi Pancasila bukanlah merupakan
ideologi pragmatis yang hanya menekankan segi praktis dan realistis belaka tanpa
idelaisme yang rasional. Maka Ideologi Pancasila yang bersifat terbuka pada hakikatnya,
nilai- nilai dasar(hakikat) sila- sila Pancasila yang bersifat tetap adapun penjabaran dan
realisasinya senantiasa dieksplisitkan secara dinamis terbuka dan senantiasa mengikuti
perkembangan zaman.
Menurut BP-7 Pusat, bahwa nilai- nilai yang terkandung dalam ideologi terbuka
tediri atas 2 jenis nilai yaitu,
Pertama : nilai dasar,yaitu nilai- nilai yang terkandung dalam ideologi yang berupa cita-
cita, tujuan, serta alat- alat perkembangan negara yang utama, sendi- sendi mutlak negara
terutama nilai- nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, serta Keadilan, ini
bersifat tetap.
Kedua : nilai-nilai Instrumental, yaitu niali- nilai yang berupa arahan, kebijakan, strategi,
sasaran serta lembaga pelaksanaannya, ini yang bersifat dinamis dan terbuka yang
senantiasa disesuaikan dengan perkembangan zaman. Maka realisasi nilai- nilai
instrumental inilah yang merupakan pragsis dari ideologi. Berdasakan uraian di muka
maka Pancasila sebagai nilai dasar Ideologi negara adalah yang bersifat tetap, adapun
nilai- nilai instrumental yang merupakan pengamalan, pengembangan dan pengayaan
nilai- nilai dasar.

C. Isi Pancasila
Pancasila juga merupakan sarana atau wadah yang dapat mempersatukan bangsa
Indonesia, sebab Pancasila adalah falsafah, jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia yang
mengandung nilai- nilai dan norma- norma yang luhur. Norma- norma tersebut yaitu :
1. Norma Agama, bersumber dari Tuhan melalui utusannya yang bersisikan peraturan
hidup yang diterima sebagai perintah-perintah,larangan-larangan dan anjuran-anjuran
yang berasl dari Tuhan.Sebagian norma agama bersifat umum,jadi berlaku bagi seluruh
golongan manusia di dunia terlepas dari agama yang dianut.
2. Norma Kesusilaan yang dianggap sebagai aturan yang datang dari suara hati sanubari
manusia,dari bisikan kalbu atau suara batin yang diinsyafi oleh setiap orang sebagai
pedoman dalam sikap dan perbuatannya.
3. Norma Kesopanan merupakan peraturan hidup yang timbul dari pergaulan segolongan
mansia dan dianggap sebagai tuntutan pergaulan sehari-hari sekelompok masyarakat.
4. Norma Hukum adalah aturan tertiulis maupun tidak tertulis yang berisikan perintah atau
larangan yang memaksa dan akan menimbilkan sanksi yang tegas bagi setiap orang yang
melanggarnya.

Keempat norma ini berlaku dan terdapat pada masyarakat Indonesia yang masing-masing
norma mempunyai perbedaan satu sama lain.Khusus Norma Hukum yang dibuat oleh
lembaga yang berwenang,untuk membuatnya (negara) dan dari segi sanksinya lebih tegas dan
jelas serta dapat dipaksakan dalam pelaksanaannya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pancasila diartikan sebagai lima dasar yang dijadikan sebagai Dasar Negara dan
Pandangan Hidup Bangsa.
Suatu bangsa tidak akan berdiri kokoh tanpa Dasar Negara yang kuat.Dengan Dasar
Negara suatu bangsa tidak akan terombang-ambingkan dalam menghadapi berbagai
permasalahan baik dari dalam maupun luar.
2. Fungsi Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa: yang dijadikan pedoman hidup bagi
bangsa Indonesia dalam mencapai kesejahteraan lahir batin dalam masyarakat yang
beraneka ragam.
3. Fungsi Pancasila sebagai Sumber dari segala sumber tertib hukum: segala peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku di Indonesia harus bersumber kepada Pancasila atau
tidak bertentangan dengan Pancasila.
4. Norma yang berlaku pada masyarakat Indonesia:
a. Norma Agama
b. Norma Kesusilaan
c. Norma Kesopanan
d. Norma Hukum
5. Nilai-nilai tersebut adalah:
a. Pandangan Hidup
b. Kesadaran dan cita hukum
c. Cita-cita mengenai kemerdekaan
d. Keadilan Sosial,Politik,Ekonomi
e. Keagamaan dan lain sebagainya.

6. Lahirnya Pancasila digali dari bumi Indonesia sendiri yang telah berurat berakar dalam
sifat dan tingkah laku manusia.Bangsa Indonesia lahir dari kepribadiannya sendiri yang
bersamaan dengan lahirnya bangsa dan negara itu,dan kepribadian itu ditetapkan sebagai
Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar Negara
7. a. Secara lisan:
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Peri Kesejahteraan Rakyat
b. Secara tertulis:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kebangsaaan Persatuan Indonesia.
3. Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijkasanaan dalam
Permusayawaratan/Perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

B. Saran

1. Bangsa Indonesia harus memantapkan kesetiaannya kepada Pancasila dengan cara


menghayati dan mengamalkannya dalam segala bidang kehidupannya.
2. Sila- sila yang terkandung di dalam Pancasila hendaknya tidak dirubah, baik itu secara
isi,kedudukan maupun fungsinya.
3. Bangsa Indonesia harus bangga mempunyai Dasar Negara Pancasila dan harus menjaga
keutuhan Pancasila.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaelan.1996. Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan.Yogyakarta : Sosial Agency.


2. Mulyawati,2004. Cinta Tanah Air. Tersedia on line: www.Google.co.id/pancasila.
3. Magnis-Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Jakarta: Kanisius, 1992.
4. Mannheim, Karl. Ideologi dan Utopia: Menyingkap Kaitan Pikiran dan Politik. Judul Asli:
Ideology and Utopia, An Introduction to the Sociology of Knowledge. Penerjemah: F. Budi
Hardiman. Jakarta: Penerbit Kanisius, 1998.
5. Notonagoro. Pancasila Dasar Falsafah Negara. Cetakan keempat. Jakarta: Pantjuran Tudjuh,
tanpa tahun.
MAKALAH
PANCASILA SEBAGAI EDIOLOGI BANGSA

Di Ajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Pancasila Dan Kewarganegaraan

OLEH: SARKAWI
NPM : 707.2.1.0785
UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP
2009