Anda di halaman 1dari 2

Kewenangan MK Menguji Ketetapan MPR

MEI 22, 2012 TINGGALKAN KOMENTAR


Pro
1. Terjadinya kekosongan kewenangan atas pengujian dan pengawasan terhdap TAP MPR.
2. Jika MK tidak berwenang, lalu lembaga mana yang akan menguji Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat (TAP MPR)?
3. Sistimatika peraturan perundang-undangan yang diatur UU No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan, ternyata masih menyisakan persoalan. UU ini dikeluarkan untuk
memperbaiki regulasi sebelumnya yang salah satunya adalah kewenangan MK menguji Perpu. Tetapi
bukannya menyediakanproblem solving atas permasalahan yang lama. Tetapi kehadiran UU No 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan melahirkan masalah baru yaitu kewengan MK
menguji TAP MPR.
4. Kasubdit Pembinaan dan pengembangan Perancangan Peraturan Perundang-Undangan Kementerian
Hukum dan HAM, Ratna Indah Cahyaningsih, mengatakan masuknya TAP MPR ke dalam tata urusan
merupakan konsekuensi hukum dari masih berlakunya sejumlah TAP MPR/MPRS. Antara lain TAP
XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran PKI dan TAP No. V/MPR/1999 tentang Penentuan Pendapat di Timor
Timur.
5. Karena eksistensi TAP MPR sudah menjadi materi muatan undang-undang, maka cukup mengajukan
pengujian undang-undang terkait. Pasal 7 UU No 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan bisa diajukan judicial review. Karena sudah bertentangan UUD NRI 1945 sesuai Pasal
9 ayat (1) UU No 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Dalam hal suatu
Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi.
6. Belum tentu semua warga negara Indonesia menerima keberlakuan TAP MPR yang masih ada. Misalnya,
TAP MPR tentang Pembubaran PKI belum tentu diterima seluruh warga negara Indonesia saat ini. Sehingga,
tetap ada potensi untuk mempersoalkan TAP MPR.
7. Permasalahan pengujian Perpu sebelumnya juga mengundang pro dan kontra. Dimana tidak ada ketentuan
perundang-undangan yang menyebutkan secara ekslpisit bahwa MK berwenang menguji Perpu. Tetapi
karena keadaan yang mendesak dan kekosongan kewenangan MK menguji Perpu.

Kontra
1. Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD NRI 1945) bahwa
Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat
finaluntuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutuskan sengketa
kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutuskan
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum
2. Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang No. 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK) Mahkamah
Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat
final untuk:
a. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
b. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. memutus pembubaran partai politik; dan
d. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
3. Pasal 7 ayat (1) UU No. 12 tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan bahwa
Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
4. Kekuatan hukum Tap MPR berada diatas UU yang merupakan diluar kewenangan MK sesuai Pasal 7 ayat
(2) UU No. 12 tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan bahwa Kekuatan hukum
Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
5. Meskipun masih ada TAP MPR yang berlaku, bukan berarti MPR bisa menerbitkan TAP lagi. Secara
konstitusional, MPR tidak bisa lagi menerbitkan TAP. MPR secara konstitusional tidak lagi memiliki
kewenangan untuk membuat instrumen hukum yang bersifat mengatur (regelling).
6. TAP MPR yang masih ada harus dipandang sebagai arahan kebijakan yang mengingatkan pengambil
keputusan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Masalahnya, Pasal 9 UU No 12 Tahun
2011 hanya mengatur pengujian Undang-Undang terhadap UUD yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi,
dan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang yang menjadi kewenangan
Mahkamah Agung.
7. Secara yuridis-formal tidak terdapat ketentuan yang mengatur untuk pengujian TAP MPR atau Perppu tidak
terdapat dasar hukum lembaga mana yang berwenang melakukan pengujian.