Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PROTOZOOLOGI

Disusun untuk melengkapi tugas Semester Pendek


Bioscience 2

OLEH
KELOMPOK 3
ISTY OCTAVIA
YEPY HESTI RIANI
DWI AKNES
SHINDY WULANDARI
DANNIAL BAGUS
AHMAD ALFIAN ZEIN MUTTAQIN
AMAR YUSNI YUNJI
ASIH HUTAMI RUDY ARSINTA
WIWID SURYADI
JULIATUSHOLIHAH
SHELLY LEONIA SISCA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Protozoa adalah jasad renik hewani yang terdiri satu sel, hidup sendiri-
sendiri atau berkelompok membentuk koloni (protos=pertama, zoon=hewani).
Protozoa banyak terdapat di alam antara lain di dalam air lau, air tawar, tanah dan
di dalam tubuh organisme lain. Pada umumnya berukuran mikroskopis, meskipun
hanya terdiri dari satu sel dengan satu atau lebih inti, terapi memiliki susunan,
fisiologi dan tingkah laku yang sangat kompleks. Berhubung dengan
kompleksitasnya, kadang-kadang disebut aseluler,
Protozoa dapat diklasifikasikan berdasarkan habitat, struktur dan alat
geraknya. Berdasarkan karakter tersebut protozoa terdiri dari beberapa kelas
yaitu rhizopoda/sarcodino, ciliata/infusoria,f lagellata/masthigopora dan
sporozoa. (Satino.2004) Protozoa umumnya bersifat aerobik nonfotosintetik,
tetapi beberapa protozoa dapat hidup pada lingkung ananaerobik misalnya pada
saluran pencernaan manusia atau hewan ruminansia. Protozoa aerobik
mempunyai mitokondria yang mengandung enzim untuk metabolisme aerobik,
dan untuk menghasilkan ATP melalui proses transfer elektron dan atom hidrogen
ke oksigen. Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil. Vakuola dapat
berperan sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk
mengatur tekanan osmosis. Jumlah dan letak vakuola kontraktil berbeda pada
setiap spesies. Protozoa dapat berada dalam bentuk vegetatif (trophozoite), atau
bentuk istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang tidak
menguntungkan dapat membentuk kista untuk mempertahankan hidupnya
sehingga dapat menyebakkan munculnya berbagai penyakit akibat ifeksi rotozoa
dalam tubuh manusia seperti, Malaria, Amebiasis ( disentri amuba), Toksop
lasmosis dsb.


B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan protozoa ?
2. Apa saja klasifikasi protozoa ?
3. Bagaimana morfologi protozoa ?
4. Bagaimana fisiologi protozoa ?
5. Apa saja reproduksi dalam protozoa ?
6. Penyakit apa saja yang muncul dari infeksi protozoa ?

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui definisi protozoa
2. Dapat mengetahui klasifikasi protozoa
3. Dapat mengetahui morfologi protozoa
4. Dapat mengetahui siklus Hidup protozoa
5. Dapat mengetahui fisiologi protozoa
6. Dapat mengetahui reproduksi protozoa
7. Dapat mengetahui beberapa jenis penyakit yang timbul dari infeksi
protozoa
















BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi protozoa
Protozoologi merupakan cabang biologi (dan mikrobiologi) yang
mengkhususkan diri dalam mempelajari kehidupan dan klasifikasi protozoa.
Secara klasik dan sebagai objek pengkajian tentang hewan bersel satu yang
hidup sebagai parasit pada manusia.
Sedangkan protozoa adalah jasad renik hewani yang terdiri satu sel,
hidup sendiri-sendiri atau berkelompok membentuk koloni (protos=pertama,
zoon=hewani). Protozoa banyak terdapat di alam antara lain di dalam air lau,
air tawar, tanah dan di dalam tubuh organisme lain. Pada umumnya
berukuran mikroskopis, meskipun hanya terdiri dari satu sel dengan satu atau
lebih inti, terapi memiliki susunan, fisiologi dan tingkah laku yang sangat
kompleks. Berhubung dengan kompleksitasnya, kadang-kadang disebut
aseluler, untuk membedakan dengan sel sel individual yang menyusun
tubuh binatang metazoa atau tumbuh-tumbuhan. Meskipun beberapa protozoa
kadang kadang mengelompok bersama dalam satu koloni, namun tiap tiap sel
mengelola fungsinya sendiri. Hanya sebagian kecil protozoa yang hidup
sebagai parasit pada binatang atau pada manusia. Beberapa protozoa yang
hidup bebas di alam mengandung butir kromatin sehingga beda antara hewan
dan tumbuhan menjadi samar.
Pengelompokan dan pemberian Definisi yang dipergunakan dalam
buku Parasitologi Kedokteran:ditinjau dari organ tubuh yang diserang ini
didasarkan Perkumpulan Ahli Protozoa (the Society of Protozoologists)
pada Committee on Systematics and Evolution. Dalam klasifikasi modern,
makhluk hidup dibagi dalam 5 kingdom, yaitu Monera, Protista, Plantas,
Fungi, dan Animalia. Protozoa dibagi ke dalam 7 phyla dan 4 phyla yang
penting, yaitu Sarcomastigophora, Apicomplexa, Ciliophora, dan
Microsporida. Masing-masing phylum dibagi ke dalam Subphylum,
Superkelas, atau Kelas. Tingkatan-tingkatan ini telah banyak berubah sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, akan tetapi nama dasar dengan
akhiran takson umumnya tetap sama seperti pada daftar phyla, kelas dan ordo
seperti yang telah ditetapkan oleh bagian Zoologi pada Amerikan
Association for the Advancement of Science.
B. Klasifikasi protozoa
Kingdom : Protista
Phylum: Protozoa
Kelas protozoa terdiri dari:
1. Kelas Rhizopoda atau Sarcodina
Semua yang termasuk di dalam kelas ini hidup parasit. Memiliki satu
atau dua pseudopia, sebagian besar daur hidupnya amoeboid, reproduksi
dilakukan secara aseksual dengan cara membelah. Reproduksi seksual
dengan gamet-gamet berflagel ataupun amoeboid, tidak membentuk
spora dan tidak melakukan konjugasi. Kelas sarcodina terdiri dari 5 ordo
yaitu: Lobosa, Proteomyxa, Foraminifera, Heliozoa dan Radiolaria.
a. Ordo Lobosa terdiri dari dua sub ordo yaitu Gymnamoeba dengan
contoh spesiesnya adalah amoeba dubia, amoeba proteus, dan
entamoeba histolytica. Sub ordo kedua adalah thecamoeba, contoh
arcella dentalis, difugia corona, dan euglipha alveolata. Ordo
Proteomyxa, memiliki benang pada pseudopodia merupakan ciri
khusus dari ordo ini, contoh pseudospera volvocalis (parasit pada
volvox).
b. Ordo Foraminifera, merupakan protozoa bercangkok yang sebagian
besar hidup di lautan, kumpulan cangkoknya membentuk endapan
kapur yang tebal di dasar laut, contoh dari spesiesnya adalah
globigerina ooze.
c. Ordo Heliozoa memiliki ciri khas yaitu tubuhnya terdiri dari dua
bagian atau lapisan yang disebut lapisan cortex dan lapisan medula
yang berisikan nukleus, vakuola makanan dan organel lain. Helizoa
memiliki cangkok yang sederhana atau kompleks, contohnya adalah
actinophrys sol dan actinosphaerium eichhorni yang ditemukan hidup
dalam tumbuh-tumbuhan air tawar.
d. Ordo Radiolaria hidup di laut, contohnya acantometra sp.
2. Kelas Ciliata atau Infusoria
Disebut sebagai infusoria karena organisme ini ditemukan pada saat
seorang zoolog meneliti air tuangan dari jerami, sehingga disebut hewan
tuangan atau infusoria. Kelas ini disebut ciliata karena semua hewan
yang masuk kelas ini memiliki alat gerak berupa silia atau rambut getar.
Contoh dari spesies yang terkenal adalah paramecium caudatum.
Reproduksi Ciliata:
Ciliata dapat bereproduksi secara aseksual maupun secara seksual.
Reproduksi aseksual terjadi dengan cara pembelahan biner. Pembelahan
biner diawali dengan pembelahan makronukleus. Makronukleus
memanjang, kemudian membelah menjadi dua. Pada pembelahan biner
tidak terjadi pembelahan secara mitosis. Selanjutnya, sitoplasma
membelah secara transversal (membujur) sehingga dihasilkan dua sel
anakan. Reproduksi seksual terjadi dengan cara konjugasi. Reproduksi
secara konjugasi ini menghasilkan Ciliata dengan sifat kombinasi baru
(rekombinasi genetik).

3. Kelas Flagellata atau Mastigophora
Terdiri dari dua subkelas yaitu Phytomastigina dan Zoomastigina. Sub
kelas Phytomastigina terdiri dari beberapa ordo, antara lain:
a. Ordo Chrysomonadiada
Memiliki 1 atau 2 kromatophora cokelat dan mempunyai flagella yang
satu pendek dan yang satu panjang. Bentuk tubuh amoeboid contoh
dinobryon sertularia.
b. Ordo Chryptomanadida
Contoh: chilomonas paramecium.
c. Ordo Dinoflagellida
Contoh: peridinium tabulatum, noctiluca scintilan.
d. Ordo Phytomonadida
Contoh: haematococcus lacustris, volvox globator, chlamidomonal sp.
Sub kelas kedua adalah Zoomastiginia yang terdiri dari beberapa ordo. Ordo
ordo yang memiliki peranan langsung dan penting antara lain:
a. Ordo Protomonadida
Anggota ordo ini pada umumnya merupakan mikroskopis
berflagelata yang sebagian besar hidup parasit kecuali oikomonas
termo yang hidup bebas di air tawar atau permukaan tanah. Genus
yang hidup parasit antara lain: trypanosoma (parasit pada mamalia,
aves, reptil, amphibi, dan pisces. Genus Leismania, Chritidia (parasit
pada arthropoda dan invertebrata lain), Herpetomonas, Phytomonas.
b. Ordo Polymastigida
Anggota ordo ini memiliki 3-8 flagel, hidup pada alat pencernaan
hewan atau pada usus manusia. Contoh giardia lambia (hidup pada
usus manusia, anjing, kucing atau pada kelinci) dan tricomonas
buccalis (pada mulut vertebrata dan tricomonas vaginalis.
c. Ordo Hypermastidida
Anggota dalam ordo ini hidup dalam saluran percernaan organisme
lainnya, diantaranya trichonympha campanula hidup dalam usus
rayap. Protozoa ini bersimbiose dengan hospesnya untuk memecah
cellulose menjadi monosakarida.

4. Kelas Sporozoa
Bersifat parasit. Bentuk tubuhya sederhana berbentuk bulat panjang
dengan sebuah nukleus. Tidak mempunyai alat gerak dan vakuola
kontraktil. Beberapa spesies bergerak dengan mengubah bentuk sel,
cara memperoleh makanan dengan merayap dari hospes secara
saprozoik. Spesies yang paling banyak dikenal adalah genus
Plasmodium.
Sementara di dalam buku Parasitologi Kedokteran Natadisastra dan
Agoes (2009) dituliskan bahwa protozoa dapat diklasifikasikan
berdasarkan habitatnya. Berdasarkan habitatnya protozoa dibagi
menjadi :
a. Protozoa usus dan rongga tubuh (rongga atrial)
Ordo Amoebida. Genus Entamoeba, Iodamoba dan Endolimax;
Ciliata dari phylum Ciliophora, Balantidium coli; Flagelata dari ordo
Kinetoplastida, Giardia lamblia, Dienamoeba fragilis, Trichomonas
sp.; Sporozoa, Genus Eimeria, dan Isospora.
b. Protozoa darah dan jaringan (termasuk juga ameba jaringan otak
primer)
Flagelata, famili Trypanosomatidae, Genus Leishmania dan
Trypanosomatidae, Genus Leishmania dan Trypanosoma; Sporozoa,
subkelas Coccidia, Subordo EIMERIINA, Genus Isospora,
Sarocystis, dan Toxoplasma; Subordo HAEMOSPORINA, Genus
Plasmodium. Sementara ameba jaringan otak primer termasuk
kelompok protozoa darah dan jaringan. Sebelumnya telah diketahui
sebagai ameba yang hidup bebas di alam. Namun, akhir-akhir ini
diketahui jika masuk ke dalam tubuh manusia dapat menimbulkan
serangan pada otak dan dapat menimbulkan kematian dalam 1-2 hari
setelah serangan. Terdapat 2 genus, yaitu Genus Naegleria dan
Genus Acanthamoeba.

C. Morfologi dan Struktur umum protozoa
Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil. Vakuola
dapat berperan sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air
dari sel, atau untuk mengatur tekanan osmosis. Jumlah dan letak
vakuola kontraktil berbeda pada setiap spesies. Mitokondria terdapat
pada protozoa pada bagian yang melakukan pernafasan secara
aerobik. Pada sebagian besar mitokondria mempunyai tubulus pada
bagian dalamnya. Mitokondria erat hubungannya dengan
penggunaan energi untuk alat gerak, dan vakuola kontraktil.
Protozoa dapat berada dalam bentuk vegetatif (trophozoite), atau
bentuk istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang
tidak menguntungkan dapat membentuk kista untuk
mempertahankan hidupnya. Saat kista berada pada keadaan yang
menguntungkan, maka akan berkecambah menjadi sel vegetatifnya.
Sitoplasma protozoa sebagian besar tidak berwarna, tetapi
beberapa spesies kecil, misalnya Stentor coeruleus berwarna biru,dan
Blepharia laterilia berwarna merah atau merah muda. Sitoplasma
terdiri atas dua bagian, yaitu ektoplasma (bagian pinggiran) dan
endoplasma (bagian sentral yang lebih padat dan bergranula). Tidak
memiliki klorofil, kecuali Euglena. Nukleus protozoa umumnya
hanya sebuah, tetapi ada juga yang lebih, misalnya Arcella vulgaris
atau Opalina ranarum. Struktur nukleus pada prinsipnya ada yang
vasikular dan granular. Pada nukleus vasikuler, kromatin
terkonsentrasi dalam sebuah massa atau butir (Arcella), sedang yang
granular berkhromatin tersebar secara merata dalam butir melalui
seluruh nukleus (Amoeba).
Protozoa tidak mempunyai dinding sel, dan tidak mengandung
selulosa atau khitin seperti pada jamur dan algae. Kebanyakan
protozoa mempunyai bentuk spesifik, yang ditandai dengan
fleksibilitas ektoplasma yang ada dalam membran sel. Protozoa
tersusun oleh membran sel yang tipis, elastis, permeable, yang
tersusun dari bahan lipoprotein, sehingga bentuknya mudah berubah-
ubah. Beberapa jenis protozoa seperti Foraminifera mempunyai
kerangka luar sangat keras yang tersusun dari Si dan Ca. Beberapa
protozoa seperti Difflugia, dapat mengikat partikel mineral untuk
membentuk kerangka luar yang keras. Radiolarian dan Heliozoan
dapat menghasilkan skeleton. Kerangka luar yang keras ini sering
ditemukan dalam bentuk fosil. Kerangka luar Foraminifera tersusun
dari CaO2 sehingga koloninya dalam waktu jutaan tahun dapat
membentuk batuan kapur.
Protozoa merupakan sel tunggal, yang dapat bergerak secara
khas menggunakan pseudopodia (kaki palsu), flagela atau silia,
namun ada yang tidak dapat bergerak aktif. Berdasarkan alat gerak
yang dipunyai dan mekanisme gerakan inilah protozoa
dikelompokkan ke dalam 4 kelas.
Protozoa yang bergerak secara amoeboid dikelompokkan ke
dalam Sarcodina, yang bergerak dengan flagela dimasukkan ke
dalam Mastigophora, yang bergerak dengan silia dikelompokkan ke
dalam Ciliophora, dan yang tidak dapat bergerak serat merupakan
parasit hewan maupun manusia dikelompokkan ke dalam Sporozoa.

D. Siklus Hidup Protozoa
Selama siklus hidupnya, protozoa biasanya melewati beberapa tahap
atau fase yang memiliki struktur dan aktivitas berbeda. Trofozoit merupakan
terminologi untuk struktur aktif dan mencerna makanan merupakan fase
perbanyakan pada sebagian besar protozoa. Pada protozoa parasit, struktur
trofozoit memiliki sifat patogenesis. Pada homoflagelata terminologi
amastigot, promastigot, epistomastigot, dan tripomastigot merupakan bagian
dari fase trofozoit. Variasi terminologi diterapkan pada apicomplexa, seperti
takizoit dan bradizoit untuk membedakan struktur organisme dalah siklus
hidupnya. Fase lainnya adalah kompleks aseksual seperti merozoit yang
merupakan hasil fisi schizont multinukleat, dan siklus seksual seperti
gametosit dan gamet. Beberapa protozoa membentuk kista yang bersifat
infektif. Perbanyakan dapat terjadi di dalam kista, sehingga menghasilkan sel-
sel anakan baru. Trofozoit Entamoeba histolitica lebih dulu berubah bentuk
menjadi kista bernukleus tunggal. Setelah dewasa, nukleus dalam kista
mengalami pembelahan menjadi 4 nukleus dan keluar menjadi 4 sel ameba
baru. Kista Giardia lambia mampu menghasilkan hanya 2 sel anakan. Kista
memiliki dinding protektif yang membuat parasit bertahan di lingkungan luar
selama periode lama, bahkan sampai beberapa tahun. Kista dalam jaringan
inang tidak memilik dinding protektif kuat dan bergantung pada
carnovorisme untuk penyebarannya. Oosit merupakan fase hasil reproduksi
seksual pada apicomplexa. Oosit apicomplexa biasanya keluar bersama feces
inang, tetapi oosit Plasmodium (agen malaria) berkembang dalah rongga
tubuh vektor nyamuk.

E. Fisiologi Protozoa
Protozoa umumnya bersifat aerobik nonfotosintetik, tetapi beberapa
protozoa dapat hidup pada lingkung ananaerobik misalnya pada saluran
pencernaan manusia atau hewan ruminansia. Protozoa aerobik mempunyai
mitokondria yang mengandung enzim untuk metabolisme aerobik, dan untuk
menghasilkan ATP melalui proses transfer elektron dan atom hidrogen ke
oksigen. Protozoa umumnya mendapatkan makanan dengan memangsa
organisme lain (bakteri) atau partikel organik, baik secara fagositosis maupun
pinositosis. Protozoa yang hidup di lingkungan air, maka oksideng dan air
maupun molekul-molekul kecil dapat berdifusi melalui membran sel.
Senyawa makromolekul yang tidak dapat berdifusi melalui membran, dapat
masuk sel secara pinositosis. Tetesan cairan masuk melalui saluran pada
membran sel, saat saluran penuh kemudian masuk ke dalam membrane yang
berikatan denga vakuola. Vakuola kecil terbentuk, kemudian dibawa ke
bagian dalam sel, selanjutnya molekul dalam vakuola dipindahkan ke
sitoplasma. Partikel makanan yang lebih besar dimakan secara fagositosis
oleh sel yang bersifat amoeboid dan anggota lain dari kelompok Sarcodina.
Partikel dikelilingi oleh bagian membran sel yang fleksibel untuk ditangkap
kemudian dimasukkan ke dalam sel oleh vakuola besar (vakuola makanan).
Ukuran vakuola mengecil kemudian mengalami pengasaman. Lisosom
memberikan enzim ke dalam vakuola makanan tersebut untuk mencernakan
makanan, kemudian vakuola membesar kembali. Hasil pencernaan makanan
didispersikan ke dalam sitoplasma secara pinositosis, dan sisa yang tidak
tercerna dikeluarkan dari sel. Cara inilah yang digunakan protozoa untuk
memangsa bakteri. Pada kelompok Ciliata, ada organ mirip mulut di
permukaan sel yang disebut sitosom. Sitosom dapat digunakan menangkap
makanan dengan dibantu silia. Setelah makanan masuk ke dalam vakuola
makanan kemudian dicernakan, sisanya dikeluarkan dari sel melalui sitopig
yang terletak disamping sitosom.



F. Reproduksi protozoa
Protozoa mempunyai dua cara reproduksi yaitu:
1. Cara aseksual,
2. Cara seksual.
Cara aseksual (berkembang biak tanpa perkawinan)
Apabila keadaan lingkungan baik, maka Protozoa akan mengadakan
pembelahan diri yang dimulai dari kariosom, nukleus dan seterusnya
sitoplasma. Biasanya dari satu parasit menjadi dua dan seterusnya. Cara ini
disebut pembelahan biner (binary fission) dan cara ini hanya terjadi pada
bentuk Trofozoit (vegetatif).
Cara perkembang biakan satu sel menjadi dua ini disebut juga sebagai
endodiogenik, yaitu satu inti akan membelah menjadi dua, lalu diikuti oleh
sitoplasma.
Ada lagi perkembangbiakan yang disebut dengan endopoligenik, yaitu
inti membelah menjadi banyak, lalu diikuti oleh sitoplasma. Dalam hal ini,
salah satu sel akan berkembangbiak menjadi beberapa sel baru. Pembelahan
ini teratur dan sitoplasma juga mengikuti pembelahan ini secara teratur. Pada
pembelahan inti menjadi banyak tapi tidak teratur tiap belahan akan diikuti
oleh sitoplasma dan terjadi beberapa sel baru yang bentuknya kurang teratur,
maka pembelahan ini disebut splitting. Hal ini biasanya terjadi pada proses
infeksi yang sangat akut. Perkembangbiakan dimana satu ini membelah
menjadi banyak dan diikuti pembelahan sitoplasma, hingga terbentuk
merozoit yang banyak, perkembangbiakan ini disebut skizogoni.
Cara seksual
Pada pembiakan secara seksual berupa perkawinan antara mikrogamet dan
makrogamet. Setelah terjadi perkawinan akan menhasilkan zigot (zygosis =
menjadi satu), lalu terbentuk ookinet lalu menjadi ookista yang di dalamnya
terbentuk sporozoit, proses ini disebut sporogoni.

G. Penyakit yang timbul dari infeksi protozoa
1. Amebiasis ( disentri amuba)
Penyakit ini merupakan penyakit perut yang banyak dialami orang di
indonesia. Amebiasis adalah penyakit infeksi yang terjadi terutama pada usus
besar, dalam keadaan tertentu infeksi dapat menyebar ke hati, otak dan paru.
Penyebab penyakit ini adalah sejenis protozoa dari kelas Rhizopoda, yaitu
Entamoeba histolytica. Bentuk kista infektif masuk kedalam mulut bersama
dengan makanan atau minuman yang tercemar. Setelah melewati lambung
dinding kista akan pecah. Selanjutnya didalam jaringan submukosa usus
besar bentuknya berkembang menjadi tropozoit. Salah satu gejala amebiasis
adalah adanya darah dan lender pada tinja penderita. Penderita akan
merasakan sembelit, dalam keadaan akut akan timbul nyeri di perut yang
hebat. Penderita biasanya buang air besar sebanyak 68 kali sehari. Tinja
penderita berbau menyengat, berwarna merah tua, berlendir dan ada darah.
Usaha-usaha pencegahan dapat dilakukan oleh individu maupun
masyarakat. Dan memasak air minum dan makanan secara baik dan benar,
mencegah pencemaran makanan dan minuman oleh lalat, lipas atau tikus,
menjaga kebersihan diri dan alat-alat makan. Pencegahan yang dilakukan
oleh masyarakat adalah mengadakan sistem pembuangan tinja dengan
baik.

2. Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh sejenis
protozoa dari kelas sporozoa, genus Plasmodium. Ada 4 spesies Plasmodium
yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia, yaitu Plasmodium vivax,
Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, plasmodium ovale.
Penularan penyakit melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang
membawa sporozoid infektif. Penularan lainnya adalah melalui trarisfusi
darah, plasenta ibu atau jarum suntik. Penularan yang bukan melalui gigitan
nyamuk, protozoa menginfeksi penderita bukan dalam bentuk sporozoid,
tetapi dalam bentuk tropozoid. Setelah sporozoid masuk tubuh calon
penderita, 5 sampai 7 hari kemudian, parasit berkembang biak di dalam sel-
sel epitel hati dan kemudia akan memasuki sel darah merah.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
Mengobati penderita dan orang yang dalam tubuhnya mengandung
parasit malaria, Memberantas sarang nyamuk, Memberantas nyamuk,
Dan mencegah gigitan nyamuk.

3. Toksop lasmosis
Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit
sejenis protozoa, subfilum Sporozoa, kelas Toxoplasmea, yaitu Toxoplasma
gondii. Infeksi parasit ini menimbulkan radang pada kulit, kelenjar getah
bening, jantung, paru, mata,otak,dan selaput otak. Kucing merupakan sumber
perantara infeksi bagi manusia. Kucing yang terinfeksi akan mengeluarkan
tinja yang mengandung ookista toxoplasma. Ookista ini dapat menginfeksi
manusia melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja kucing tersebut
yang mengandung ookista.
Penularan dapat juga terjadi dengan adanya kontak antara kulit
dengan jaringan ekskreta binatang yang sakit. Penularan lain dapat pula
terjadi pada pada bayi/janin yang didapat dari ibu selama bayi tersebut dalam
kandungan atau melalui air susu.
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan cara :
Memasak makanan dan minuman dengan sempurna
Mengobati hewan perantara, terutama kucing yang sakit
Menjaga kebersihan individu dan lingkungan.
4. Trypanosoma brucei, penyebab penyakit tidur di Afrika.
- Penyakit ini ditimbulkan oleh gigitan lalat, yang dinamakan lalat tse-tse.
- Gejala : pertama yaitu adanya suatu benjolan kecil yang berwarna
merah. Apabila penyakit itu akan berkembang, tanda-tanda dan gejala-gejala
akan nampak lebih lanjut dalam waktu dua atau tiga minggu. Kebanyakan
dirasakan sakit kepala, nyeri urat syaraf, tidak dapat tidur (insomnia),
kehilangan kesanggupan untuk mempersatukan pikiran dan denyut nadi yang
cepat. Petak-petak yang berwarna merah muda atau kemerah-merahan
mungkin nampak, kadang-kadang pada kulit badan, paha, dan keadaan ini
akan berjalan terus hingga beberapa hari lamanya. Kelenjar getah bening
dimana saja dalam badan akan membengkak tetapi kejadian ini terutama
terdapat pada kelenjar-kelenjar yang berada di belakang dan di bawah telinga.

Dalam keadaan akut, kejang gagau dan semacam pitam atau sawan
dapat terjadi sewaktu-waktu. Itulah suatu tanda yang membahayakan bagi si
penderita. Dalam keadaan biasa penderita akan bertambah kehilangan tenaga
dengan perlahan-lahan, badan lemah, otak hampir tak dapat dipakai, lidah, jari,
dan lengannya gemetar, lalu datang rasa mengantuk yang amat sangat dan tak
peduli dimana dan keadaan sekitarnya, sehingga penyakit ini dinamai penyakit
mengantuk. Ketagihan tidur ini terjadi demikian keras sehingga penderita tidak
dapat mengendalikan pribadinya sama sekali.
5. Trichomonas vaginalis, parasit pada alat kelamin wanita dan saluran kelamin laki-
laki.
- Trichomonas vaginalis merupakan penyakit menular lewat hubungan
seksual (PMS), seseorang beresiko terkena PMS apabila melakukan hubungan
seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal,
bila tidak diobati dengan benar penyakit ini dapat berakibat serius bagi
kesehatan reproduksi, seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang
baru lahir bahkan kematian.
- Pada wanita : gejalanya Rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau
hubungan seksual, rasa nyeri pada perut bagian bawah, pengeluaran lendir
pada vagina atau alat kelamin, keputihan berwarna putih susu bergumpal
disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin dan sekitarnya, keputihan
yang berbusa, kehijauan, berbau busuk dan gatal, timbul bercak-bercak darah
setelah berhubungan seksual, bintil-bintil berisi cairan, lecet atau borok pada
alat kelamin.
- Pada laki-laki : gejalanya Berupa bintil-bintil berisi cairan, lecet atau borok
pada penis atau alat kelamin, luka tidak sakit, keras dan berwarna merah pada
alat kelamin, rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin, rasa sakit yang
hebat pada saat kencing, bengkak, panas dan nyeri pada pangkal paha yang
kemudian berubah menjadi borok.




















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas, dapat kita tarik
kesimpulan bahwa protozo merupakan adalah jasad renik hewani yang terdiri
satu sel, hidup sendiri-sendiri atau berkelompok membentuk koloni
(protos=pertama, zoon=hewani) dan berdasarkan struktur alat geraknya,
filum protozoa dibedakan menjadi empat, yaitu kelas Rhizopoda, kelas
Ciliata, kelas Flagellata dan kelas Sporozoa..Protozoa umumnya bersifat
aerobik nonfotosintetik, tetapi beberapa protozoa dapat hidup pada lingkung
ananaerobik. Protozoa bereproduksi dengan cara aseksual (berkembang biak
tanpa perkawinan) atau disebut pembelahan biner dan secara seksual berupa
perkawinan antara mikrogamet dan makrogamet. Setelah terjadi perkawinan
akan menhasilkan zigot.












DAFTAR PUSTAKA
Natadisastra, Djaenudin, Agoes, Ridad. 2009. Parasitologi Kedokteran: Ditinjau
Dari Organ Tubuh yang Diserang.
http://books.google.co.id/books?id=CTSg_1JsvwC&printsec=frontcover&hl=id
#v=onepage&q&f=false. Diakses pada 8 Juli 2014 pukul 10.00
Satino. 2004. Pengantar Praktikum Taksonomi Avertebrata
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Praktikum%20Avert.pdf. Diakses pada 8
Juli 2014 pukul 10.30
Fitria, S. 2014. Ciri-ciri Ciliata
http://www.sridianti.com/ciri-ciri-ciliata.html
Saputra, A. 2013. Pengertian Protozoologi
http://fourseasonnews.blogspot.com/2013/01/pengertian-protozoologi.html
Dwi, C. F. 2013. Peranan Protozoa
http://protozoabiologi.blogspot.com/p/peranan-protozoa.html
Anonymous. 2014. Protozoa
http://staff.unila.ac.id/hasti/files/2011/11/PROTOZOA.pdf diakses tanggal 9 juli
2014 pukul 22.10 wib
Anonymous. 2011. Flagellata
http://biologi.um.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/bab-iv1.pdf diakses tanggal
10 juli 2014 pukul 9.31 wib
Perwira, Ima Y. 2013. Protozoa
http://imayudhaperwira.files.wordpress.com/2013/10/3-protozoa.pdf diakses
pada 10 juli 2014 jam 18.45 WIB
Anonymous. 2008. Pengantar Protozoologi
http://cahscient.files.wordpress.com/2008/08/textbook-mikrobiologi17.doc.
diakses pada 10 juli 2014 jam 20.05 WIB

Anda mungkin juga menyukai