Anda di halaman 1dari 63

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Unit Pembangkit Listrik Paiton merupakan salah satu
perusahaan yang bergerak dibidang produksi listrik. Pembangkit
Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dikelola oleh PT Pembangkitan
Jawa-Bali berada di kompleks pembangkit listrik di Kecamatan
Paiton, Kabupaten Probolinggo. Tepatnya berada di posisi paling
timur kompleks yang berada di tepi jalur pantura Surabaya-
Banyuwangi. Pembangkit ini mengoperasikan 2 PLTU dengan
total kapasitas 1242 MW dengan masing-masing PLTU
menghasilkan 621 MW.
Energi listrik ini kemudian didistribusikan melalui SUTET
500 kV Sistem Interkoneksi Jawa-Bali. Pada kompleks
pembangkit listrik Paiton, terdapat 2 Pembangkit Listrik Swasta
dengan kontribusi kapasitas sebesar 2500 MW. Pembangkit
Listrik Swasta I yang dimiliki oleh PT. Paiton Energy Company
dan dioperasikan oleh PT. International Power Mitsui Operation
& Maintenance Indonesia (IPMOMI). Total kapasitas 1230 MW.
Pembangkit Listrik Swasta II yang dimiliki oleh PT. Jawa Power
dan dioperasikan oleh PT YTL Jawa Timur.
Komponen utama dalam PLTU adalah komponen yang pokok
dan sangat diperlukan dalam pembangkit listrik. Komponen
utama dalam PLTU diantarnya adalah Boiler, Turbin, Generator
dan Condenser. Komponen yang yang baik adalah komponen
yang memiliki efisiensi kerja yang tinggi. Heat losses merupakan
salah satu bagian penting yang harus diminimalkan dalam proses
produksi listrik. Ada beberapa metode yang diterapkan dalam
meminimalkan Heat Losses, yaitu: Input-Output, Audit Energy,
dan Pre Elementary.
Pada kerja praktek ini akan dilakukan pembelajaran
mengenai Input-Output. Pembelajaran ini mengacu pada
perpindahan panas dan massa yang terjadi pada sistem (Frank
Incropera, 1999)
[1]
, serta kenyamanan Thernal yang harus
diciptakan dalam pembangkit listrik agar tidak temperature




ruangan berada dalam kondisi nyaman (Thomas H
Kuehn,1998)
[2]
. Serta jurnal tentang optimum performance pada
turbin gas (Maher M Abou Al-Sood,2013)
[3]
.
Dari kegiatan kerja praktek yang akan dilakukan oleh
peserta didik, maka diharapkan akan bermanfaat:
1. Bagi peserta didik, yaitu melakukan pembelajaran tentang
heat losses pada Turbin Uap (tujuan mahasiswa 1) dan Boiler
(tujuan mahasiswa 2) di PT. Jawa Power Unit 5 Dan 6.
2. Bagi PT. Jawa Power Unit 5 dan 6, mampu mengkaji kembali
mengenai sistem performansi dan sistem kontrol pada Turbin
Uap dan Boiler di PT. Jawa Power Unit 5 dan 6.
3. Bagi program studi Teknik Fisika, mampu memberikan
referensi mengenai metode Input-Output untuk kerja praktek
dan tugas akhir untuk pengukuran heat losses yang telah
diajarkan pada mata kuliah termodinamika di Jurusan Teknik
Fisika ITS.

1.2 Tujuan dan Materi
Kegiatan kerja praktek merupakan salah satu kegiatan
mahasiswa khususnya peserta didik teknik untuk meningkatkan
kualitas dan kemampuan hard skill dan soft skill-nya dalam dunia
industri. Serta, melaksanakan studi banding antara teori yang
diperoleh dengan aplikasi di dunia kerja. Berdasarkan pada hal
tersebut, maka tujuan peserta didik melaksanakan kerja praktek di
PT. Jawa Power Unit 5 dan 6 adalah sebagai berikut:
1. Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam
hal manajerial di bidang prosedur penanganan sisa
pembakaran (bottom ash).
2. Untuk melakukan pembelajaran tentang heat and mass
balance untuk menghitung heat losses pada turbin uap di
PT Jawa Power Unit 5 dan 6.

Materi pada kerja praktek ini didasarkan pada kurikulum
yang ada pada Jurusan Teknik Fisika ITS, dan yang diharapkan
mampu dikuasai oleh peserta didik dari adanya kerja praktek ini
adalah:
3



Materi I :
Materi I ini merupakan materi untuk menjalankan tujuan
pertama, yaitu mengenai administrasi kerja di bidang prosedur
penanganan sisa pembakaran (bottom ash) di PT. Jawa Power
Unit 5 dan 6. Materi yang akan dipelajari antara lain:
1. Struktur Organisasi
Pengenalan dan pemahaman mengenai struktur organisasi
pengurus dan karyawan PT. Jawa Power Unit 5 dan 6, serta
sistem kerja yang diterapkan dalam perusahaan tersebut.
2. Pemahaman Sistem
Pemahaman mengenai sisa pembakaran (bottom ash) di PT.
Jawa Power Unit 5 dan 6 dalam penggunaan teknologinya,
serta mengenal orang-orang yang bertanggung jawab di
dalam penanganan tersebut.
3. Diagram Alir
Pemahaman alur pelaporan yang harus dilakukan dalam
penanganan hasil sisa pembakaran batu bara supaya tidak
terjadi pencemaran udara saat bekerja pada PT. Jawa Power
Unit 5 dan 6.
Materi II :
Materi II ini merupakan materi utama untuk menyelesaikan
tujuan kedua, yaitu melakukan pembelajaran tentang heat losess
pada turbin uap di PT. Jawa Power Unit 5 dan 6. Adapun materi
dari kerja praktek ini lebih ditekankan pada kemampuan
mahasiswa dalam memahami permasalahan dan memecahkan
permasalahan yang ada, yaitu :
1. Prinsip Kerja Turbin Uap dan Boiler
Turbin uap merupakan sebuah komponen utama dalam
proses merubah energi mekanik yang berasal dari steam yang
kemudian menggerakan generator untuk menghasilkan listrik.
Sedangkan boiler adalah komponen utama yang diperlukan dalam
proses energi panas pembakaran bahan bakar menjadi energi
kinetik uap yang mempunyai tekanan dan temperatur yang
tertentu. Selain itu, meliputi pemahaman bagaimana turbin uap
bekerja di PT. Jawa Power Unit 5 dan 6.

4


2. Pengumpulan Data
Pada saat turbin uap berjalan, mulai dari mengamati
kondisinya (mengamati laju aliran steam , mengamati
temperature, mengukur tekanan). Langkah langkah pengambilan
data yaitu :
a. Menentukan lokasi aman untuk mengukur laju aliran
massa dan temperature pada turbin uap.
b. Melakukan pengambilan data laju aliran massa dan
temperature pada turbin uap.
3. Pengolahan Data
Hasil yang diperoleh dari pengukuran di lapangan
selanjutnya dilakukan pengolahan, dengan langkah-langkah
seperti berikut ini :
a. Hasil dari data masih dalam bentuk nilai besaran laju
aliran massa dan temperature.
b. Dari hasil tersebut dilakukan sebuah perhitungan dengan
model matematis dengan menggunakan pembelajaran
heat and mass balance.
c. Penentuan heat losses yang didapat dari perhitungan
dengan pembelajaran heat and mass balance dan
membandingkan dengan metode yang sudah ada.

1.3 Realisasi Kegiatan Kerja Praktek
Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan di Main Plant
Operation Section PT JAWA POWER UNIT 5 & 6. Waktu
pelaksanaan Kerja Praktek dimulai dari tanggal 26 Juni s/d
25 Juli 2014. Dengan jam kerja sebagai berikut :
Hari kerja : Senin Jumat
Jam Masuk : 07.00 WIB
Jam Pulang : 16.00 WIB.
Untuk jadwal kegiatan yang lebih detail, dapat dilihat
pada tabel berikut.



Tabel 1.1 Realisasi Jadwal Kegiatan Kerja Praktek
5




No
.
Bentuk kegiatan
Minggu ke
I II III IV
1.
Penyesuaian Program PT.
Jawa Power Unit 5 dan 6

2.
Materi I:
Struktur
Organisasi
Pemahaman
Sistem
Diagram Alir

3.
Materi II :
Pengenalan Prinsip
Kerja Turbin Uap
dan Boiler
Pengumpulan Data
Pengolahan Data

4. Penyusunan laporan KP

5.
Penyerahan draft laporan
KP








6










Halaman ini memang dikosongkan



















7

BAB II
PT JAWA POWER UNIT 5 DAN 6
2.1 Sejarah Dan Struktur Organisasi Perusahaan
Paiton Private Power Project Phase II merupakan sebuah
proyek untuk mendukung PLN dalam pengadaan supply listrik
negara dengan membangun 2 buah unit baru (5 & 6) disamping
unit 1 dan 2 yang telah dibangun oleh PJB (Pembangkit Jawa
Bali) sebelumnya. Sedangkan Paiton Private Power Project
Phase I dibangun untuk unit 7 dan 8 yang dioperasikan oleh
IPMOMI.
Awal mulanya, Paiton Private Power Project Phase II
merupakan sebuah konsorsium yang terdiri atas Siemens SPV
(Siemens Project Venture) yang berasal dari Jerman, PowerGen
yang berasal dari Inggris, dan PT. Bumi Pertiwi yang berasal dari
Indonesia.Ketiganya memiliki jumlah saham yang berbeda atas
kepemilikan unit 5 dan 6, yaitu :

Siemens SPV 50 %
Powergen 35 %
PT. Bumi Pertiwi 15 %

Ketiga pemegang saham tersebut membentuk PT. Jawa
Power sebagai pemilik unit 5 dan 6.Sedangkan PT. PowerGen
Jawa Timur berlaku sebagai anak perusahaan dari PowerGen
International yang mengoperasikan dan memelihara (Operation
and Maintenance / O & M) berdasarkan O & M Agreement :
- Merekrut dan melatih team Indonesia
- Mengembangkan kebijakan, prosedur, strategi
- Melakukan business management systems
- Mengembangkan health and safety culture
- Mematuhi hukum Indonesia
- Membantu commissioning plant
Pada tanggal 4 Desember 2004, saham yang dimiliki oleh
PowerGen atas kepemilikan unit 5 dan 6 (sebesar 35%),diakuisisi
8


seluruhnya oleh YTL Power Service.YTL Power Service sendiri
merupakan anak perusahaan dari YTL Corporation Berhad yang
berasal dari Malaysia.Selanjutnya YTL Power Service membuat
anak perusahaan baru yakni PT. YTL JAWA TIMUR yang
bertugas sebagai Operation and Maintenance Company bagi unit
5 dan 6 menggantikan posisi PT. PowerGen Jawa Timur.
Untuk saat ini, pengoperasian fasilitas pembangkit listrik
tenaga uap di Paiton meliputi Paiton Unit 1 dan 2 (milik PJB),
Unit 7 dan 8 (milik IPMOMI), serta Unit 5 dan 6 (milik PT. YTL
JAWA TIMUR).Semua unit ini menggunakan batubara sebagai
bahan bakar dan air laut sebagai media pendingin sistem.























Gambar 2. 1 Tampak Atas Lokasi PT JAWA POWER Unit 5
dan 6
9


2.2. Lokasi Perusahaan
PT. YTL JAWA TIMUR merupakan anak perusahaan dari
YTL Power Services, sebuah perusahaan multinasional Malaysia
dimana kantor pusatnya beralamat di :
8
th
Floor, Menara ING
84 Jalan Raja Chuln
50200 Kuala Lumpur
Malaysia
Tel : 60 (03) 27320551 Fax : 60 (03) 27320561
Sedangkan PT. YTL JAWA TIMUR sendiri mempunyai
Main Office yang beralamat di :
Jl. Raya Surabaya Situbondo km 141 PO Box 36 Paiton-
Probolinggo
Jawa Timur Indonesia
Tel : (62335) 773100 Fax : (62335) 773161
2.3. Profil Perusahaan
YTL Power Services merupakan sebuah perusahaan jasa
multi-disiplin yang didirikan di Malaysia pada bulan Oktober,
1993, dimana ruang lingkup kerjanya dikhususkan pada operasi
dan perawatan pusat pembangkit daya.
Kerjasama dimiliki oleh YTL Corporation dengan Siemens
AG of Germany sampai akhir tahun 2001.Sejak bulan Desember
2001, kepemilikan YTL Power Services dikuasai 100% oleh YTL
Corporation.
Perusahaan menangani aktivitas Operation & Maintenance
(O&M) dari kedua pembangkit daya nya di Malaysia, dimana
keduanya menghasilkan daya sekitar 12 % dari konsumsi listrik di
Peninsular, Malaysia.
YTL Power Services juga menyediakan pengarahan teknik
untuk proyek - proyek pembangkitan daya di Malaysia dan daerah
Asia, meliputi :
- Commissioning Personnel
- Operation Personnel
- Maintenance Personnel
10


- Turbine Overhaul Services
- Conditioning Monitoring
- Training
YTL Power Services adalah perusahaan modern yang
bergerak dalam lingkungan teknologi tinggi dimana penggunaan
peralatan yang uptodate serta teknik untuk perawatan dan
pengoperasian system pembangkit daya siklus gabungan gas
turbin merupakan integral dari organisasi perusahaan.
Saat ini, perusahaan mempekerjakan sekitar 200 personil
yang sebagian besar berada di kedua stasiun pembangkit daya di
Malaysia,sedangkan sebagian kecil adalah staf kantor pusat di
Kuala Lumpur.Sebagian besar staf adalah warga Negara Malaysia
dengan dibantu beberapa ekspatriat yang menyediakan bimbingan
teknis dan manajemen.
Pada tanggal 4 Desember 2004, YTL Power Services
mengakuisisi saham PT. Powergen Jawa Timur sehingga secara
otomatis, Stasiun Pembangkit Daya Unit 5 dan 6 Paiton di Jawa
Timur-Indonesia, ikut menjadi milik YTL Power Services dan
anak perusahan yang menangani pengoperasian dan pemeliharaan
( O & M) pembangkit unit 5 & 6 Paiton tersebut adalah PT.YTL
JAWA TIMUR.Sampai sekarang, ada sekitar 310 personil yang
dipekerjakan di sana.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan jasa
penerangan, maka PT. YTL JAWA TIMUR berusaha untuk
meningkatkan mutu pelayanan bagi masyarakat dengan tetap
melakukan aktivitas aktivitas dalam proses produksi daya listrik
yang untuk selanjutnya akan disuplai kepada PLN sebagai
distributor listrik di Indonesia.
Untuk meningkatkan mutu layanan sebagai produsen listrik,
PT. YTL JAWA TIMUR juga harus mampu untuk
mengendalikan pengoperasian dari perlengkapan perlengkapan
yang menuntut pengoperasian yang baik agar tujuan utama
sebagai penyuplai listrik kepada PLN terus berjalan secara
kontinyu dalam jangka waktu yang lama sesuai dengan kontrak
proyek yaitu selama 30 tahun, dalam artian bahwa proses
produksi listrik khususnya untuk unit 5 dan 6 dapat terus berjalan
11


tanpa ada hambatan yang berarti.PT. YTL JAWA TIMUR sampai
saat ini telah mampu melayani fasilitas penerangan listrik di
wilayah Jawa dan Bali.
Sebagai perusahaan pembangkit listrik tenaga uap, PT. YTL
JAWA TIMUR dalam operasionalnya menekankan pada tiga
faktor penting, yaitu :
1. Keselamatan (Safety)
Perhatian perusahaan pada faktor ini sangat besar.
PT. YTL JAWA TIMUR selalu berusaha agar menjadi
perusahaan dengan tingkat kecelakaan kerja nol (zero
accident).Komitmen perusahaan ini terhadap
keselamatan kerja diwujudkan dalam bentuk peraturan
tentang standar keselamatan kerja yang ketat yaitu
K3.Arti penting K3 yaitu :
Tanggung jawa moral :
1. Karyawan adalah aset PT. YTL JAWA TIMUR
yang terbesar
2. Semua cedera dan penyakit dapat dicegah
3. Duty of care
Penghematan/cost benefit :
1. Ongkos sendiri / Personal Cost pada individu
- Rasa sakit dan penderitaan
- Kehilangan suatu kualitas kehidupan
- Kehilangan pendapatan
- Kehilangan kenikmatan hidup (sementara dan
permanen)
- Ongkos tambahan (perjalanan, obat, dll.)
- Kekhawatiran / kepedulian keluarga
2. Ongkos langsung (cedera, penyakit, dan
kerusakan pada plant / produk)
3. Ongkos tak langsung
- Kerusakan produk atau material
- Penundaan produksi
- Pengerjaan lembur
- Waktu bagi investasi
- Waktu bagi administrasi
12


- Kehilangan kemampuan
Menurut UU No. 1 tahun 1970 keselamatan kerja bagi
seluruh karyawan dari PT. YTL JAWA TIMUR sangat
diperhatikan sekali, adapun caranya dengan melalui berbagai
pelatihan keselamatan (safety training) dan dengan memasukkan
prosedur keselamatan kerja pertama kali dalam setiap pekerjaan.
Misalnya dalam sistem pelaksanaan maintenance harus melewati
prosedur keselamatan yang sangat ketat dengan kendali
keselamatan kerja langsung di bawah Presiden Direktur.Dengan
komitmen ini diharapkan akan tercipta kondisi kerja yang aman
sehingga kinerja masing masing personel aman.
2. Berwawasan Lingkungan Hidup
Sebagai salah satu bentuk perhatian PT. YTL JAWA
TIMUR terhadap lingkungan, perusahaan mengeluarkan
Pernyataan Kebijakan Lingkungan seperti yang tertera di
bawah ini :
Sebagai pengakuan dari PT. Jawa Power ( Pemilik )
dan YTL Power dalam Pernyataan Kebijakannya, PT.
YTL JAWA TIMUR (Operator) mendukung pandangan
bahwa lingkungan adalah bagian integral dan
fundamental dari strategi dan tujuan bisnis Stasiun
Pembangkit Paiton II.
Sebagai Operator dari Stasiun Pembangkit Paiton
Tahap II, kami mengakui bahwa kegiatan kami mungkin
berdampak pada lingkungan dank arena itu kami bertekad
untuk menerapkan perlindungan lingkungan berstandar
tinggi dan meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan
secara berkesinambungan.
Di Paiton, kami bertekad untuk meningkatkan
kinerja pengelolaan lingkungan dengan :
Mematuhi peraturan perundang-undangan dan bila
mungkin mencapai unjuk kerja yang lebih baik dari
apa yang dipersyaratkan peraturan perundang
undangan.
Mempertahankan Sistem Pengelolaan Lingkungan
yang efektif dan efisien.
13


Meminimalkan resiko lingkungan dan mencegah
polusi.
Mengurangi dampak visual dari operasi kami.
Mendorong penggunaan transportasi yang efisien
pada semua kegiatan kami.
Mengelola tanah dengan penuh kehati hatian serta
mengembangkan konservasi alam.
Kami juga mengakui bahwa para pemilik saham
kami berperan dalam dan bertekad untuk :
Mendidik dan melatih staf kami untuk menjalankan
kegiatan mereka secara bertanggung jawab pada
lingkungan.
Memberi informasi para pemasok dan kontraktor
kami tentang standar lingkungan kami yang tinggi
Mendorong standar yang tinggi di sepanjang rantai
pasokan kami.
Mendorong semua pemilik saham kami untuk
menggunakan energi dan sumber daya secara efisien.
Untuk mencapai tujuan tersebut kami kan
merumuskan tujuan dan target serta laporan tahunan atas
perkembangan kami.
Sebagai perwujudan dari pernyataan tersebut di
atas, perusahaan membuktikannya dengan
dioperasikannya berbagai fasilitas dalam plant yang
bertujuan untuk mengolah setiap hasil buangan sehingga
benar benar ramah lingkungan.Contohnya adalah
penggunaan fasilitas ElectroStatic Prescipitator (ESP),
Flue Gas Desulphurisation (FGD), dan Waste Water
Treatment Plant (WWTP).
3. Lingkungan Sosial
PT. YTL JAWA TIMUR juga menaruh perhatian
yang besar pada kehidupan sosial di luar lingkungan
perusahaan.Pihak perusahaan menyadari pentingnya
hubungan sosial dalam rangka menciptakan kehidupan
yang serasi, selaras, dan seimbang dengan masyarakat
sekitar.Bentuk nyata kepeduliannya dalam bidang
14


pendidikan berupa bantuan ke sekolah sekolah sekitar,
pondok pesantren, dan sumbangan sosial lainnya.
2.4. Visi dan Misi PT.YTL Jawa Timur
Visi :
Menjadi perusahaan utama di bidang
pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit listrik
yang memberikan pelayanan kelas dunia kepada
PT.Jawa Power di Indonesia.
Menjadi dikenal di Indonesia sebagai
perusahaan yang paling maju dan terkemuka.

Misi :
Berkomitmen untuk terus menerus memberikan
pelayanan sempuran yang menguntungkan dalam
sasaran bisnis dengan melampaui harapan para
pemilik dan para pemegang saham serta peduli
terhadap karyawan.
Menjadi terkemuka dan unggul dalam
manajemen kualitas, operasional, keselamatan kerja,
kesahatan dan lingkungan.
2.5. Struktur Organisasi
Struktur organisasi perusahaan adalah kerangka yang
menunjukkan segenap fungsi dan pekerjaan. Hubungan antara
fungsi-fungsi yang ada beserta wewenang dan tanggung jawab
dari masing-masing komponen dalam organisasi tersebut.
Dengan adanya struktur organisasi di suatu perusahaan,
maka akan terlihat adanya pembagian pekerjaan secara tegas dan
formal, diantara bagian-bagian dalam perusahaan dan juga
diperoleh gambaran yang jelas antara wewenang dan tanggung
jawab dalam kerja perusahaan.
15



Adapun struktur organisasi perusahaan PT. YTL JAWA
TIMUR adalah sebagai berikut :

















Gambar 2. 2 Struktur Organisasi PT JAWA POWER UNIT 5
dan 6
16











Halaman ini sengaja dikosongkan












17

BAB III
DESKRIPSI UMUM

3.1 PROSES DASAR PRODUKSI LISTRIK
Di dalam prinsip kerja PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga
Uap) Paiton unit 5 dan 6 secara umum yaitu adanya pembakaran
dengan bahan bakar batubara pada boiler untuk memanaskan air
dan kemudian mengubah air tersebut menjadi uap yang sangat
panas, kemudian uap tersebut menggerakan turbin uap, ketika
turbin uap berputar maka generator akan bekerja sehingga energi
listrik dapat dihasilkan.
Dalam proses produksi listrik, terdapat berbagai komponen-
komponen utama seperti boiler, turbin, pompa,dan kondensor.
Selain itu, juga terdapat komponen pendukung seperti deaerator,
stack, PA Fan, FD Fan, ID Fan, Absorber, GGH, LP WP Heater,
Feedwater Storage Tank, steam drum, economizer, dan valve.
Pada bahan utama yang dibutuhkan dalam proses produksi listrik
yaitu air, udara, solar (pada saat Start Up dan Shut Down) dan
batubara (pada saat running).
Proses produksi listrik yang ada pada unit 5 dan 6
membutuhkan beberapa proses mulai dari pengangkutan batubara
dari kapal sampai pembuangan sisa batubara (Ash), proses
pertama setelah batubara turun dari kapal, batubara sementara
akan ditampung di penampungan batubara. Selanjutnya, dari
penampungan batubara dipindahkan ke silo dengan bantuan
konveyor, tetapi sebelum dipindahkan batubara tersebut akan di
spray menggunakan air supaya tidak terlalu berdebu dan
kemudian batubara dilewatkan ke sensor logam supaya tidak ada
logam yang ikut terbawa dalam konveyor.
Pada saat berada di Silo, batubara dimasukkan kedalam
pulverizer atau mill melalui pengumpan batubara (coal feeder)
yang dilengkapi alat pengatur aliran. Di dalam pulverizer
batubara akan dihancurkan menjadi butiran yang sangat halus
seperti powder, kemudian powder batubara akan naik karena
dorongan udara panas dari PA Fan (Primary Air) Fan dan dibawa
18



ke pembakar batubara dengan cara di injeksikan ke ruang bakar
boiler (furnace). Di sini powder batubara yang keluar dari corner
(sudut sudut boiler) dibakar bersama- sama dengan udara panas
yang berasal dari FD Fan (Forced Draft Fan) dan api yang
diinjeksikan ke ruang bakar secara bersamaan.
Proses pembakaran yang ada didalam furnace diawali
dengan bahan bakar solar, karena solar mudah terbakar serta
harganya murah dibandingkan bahan bakar minyak yang lain.
Kemudian, solar masuk melalui setiap corner dan pematik api
(ignitor) di setiap corner akan menyala sehingga terjadi
pembakaran, setelah terjadi proses pembakaran perlahan-lahan
solar akan digantikan dengan bahan bakar batubara.
Panas yang di hasilkan dari proses pembakaran ini melalui
proses perpindahan panas secara konveksi Uap panas ini
kemudian di panaskan lebih lanjut oleh super heater sampai
menjadi uap panas kering (dry super heated steam), setelah itu
uap panas kering akan disalurkan ke turbin bertekanan tinggi (HP
Turbine) dengan bantuan pipa pipa tebal bertekanan tinggi
dimana steam itu dikeluarkan lewat nozzle nozzle mengenai
blade turbin. Saat mengenai blade, energi kalor yang dimiliki
steam akan berubah menjadi energi kinetik dan menggerakkan
blade turbin, uap yang keluar dari High Pressure (HP) Turbine
akan dilakukan pemanasan ulang (Reheat) di dalam boiler dengan
tujuan supaya dapat meningkatkan efisiensi boiler, selanjutnya
steam dari reheat akan masuk kedalam IP Turbine, setelah dari IP
(Intermediate Pressure) Turbine steam akan masuk kedalam Low
Pressure (LP) Turbine dan shaft turbin yang disambungkan
dengan generator ikut berputar.
Shaft yang disambungkan dengan generator berupa silinder
elektromagnetik besar sehingga ketika turbin berputar generator
ikut berputar, yaitu bagian rotor. Rotor generator tergabung
dengan stator. Stator adalah bagian generator yang tidak ikut
berputar, berupa gulungan yang menggunakan batang tembaga
sebagai pendingin internal. Listrik dihasilkan dalam batang
batang tembaga stator dengan elektostatik di dalam rotor melalui
putaran magnet. Listrik yang dihasilkan bertegangan 21 kV dan
19


dengan trafo step up dinaikkan menjadi 500 kV, sesuai tegangan
yang diminta PLN .
3.2 Siklus Rankine
Proses yang terjadi dalam sistem pembangkit listrik tenaga
uap menggunakan analisa siklus rankine. Siklus yang terjadi
adalah siklus tertutup karena fluida kerja yang digunakan secara
terus menerus. Sedangkan pada pembangkit tenaga gas siklus
yang terjadi adalah siklus terbuka. Dalam penerapannya siklus
rankine dibagi menjadi dua yaitu siklus rankine sederhana (tanpa
reheater) dan siklus rankine dengan reheater.

A. Siklus rankine sederhana (tanpa reheater).
Berikut adalah gambar skema siklus rankine sederhana
dengan menggunakan fluida ideal.












Gambar 3. 1 Skema Prinsip Kerja Dan Perpindahan Panas Dari
Sistem Uap Sederhana
Pada siklus Rankine sederhana (tanpa reheater) peralatan
utama yang digunakan adalah pompa, boiler, turbin uap serta
kondensor. Pada gambar di bawah ini merupakan diagram T S
dari siklus Rankine yang ideal.


20












Gambar 3. 2 Diagram T S Dari Siklus Rankine Ideal

Proses siklus Rankine sederhana yang dapat dilihat dari
diagram diatas adalah sebagai berikut :
1 2 : Proses ekspansi isentropik di dalam turbin uap.
2 3 : Proses pengeluaran kalor atau pengembunan pada
tekanan konstan, di dalam kondensor.
3 4 : Proses pemompaan isentropik, di dalam pompa.
4 a 1 : Pada proses ini tekanan fluida konstan dan terjadi
transfer panas fluida di boiler untuk mendapatkan
steam.
Sesuai dengan diagram di atas setelah fluida dipompa dan
masuk ke boiler, maka fluida dipanaskan di boiler dengan tekanan
tetap hingga menghasilkan uap bertekanan yang kemudian
digunakan untuk memutar turbin uap. Selanjutnya udara
keluarannya melewati kondensor dan berubah kembali menjadi
bentuk cair dan kemudian dipompa kembali ke boiler, demikian
proses berlangsung terus menerus.

B. Siklus rankine dengan reheater
Dalam rangka meningkatkan efisiensi dalam proses maka
muncul alat yang disebut dengan reheater. Penggunaan reheater
ini didasari pertimbangan pemanfaatan uap keluaran dari turbin
masih memiliki temperatur yang relatif cukup tinggi. Bila uap ini
langsung ditampung di kondensor akan menghasilkan kerugian
yang besar bagi PLTU. Berikut gambar sederhana siklus Rankine
dengan menggunakan reheater :
21













Gambar 3. 3 Siklus Pemanasan Ulang Ideal
Pada gambar di bawah ini akan terlihat grafik T S yang
sederhana dari siklus pemanasan ulang ideal.
Gambar 3. 4 Diagram T S Siklus Pemanasan Ulang Ideal
Pada sistem ini prinsip kerjanya hampir sama seperti pada
sistem tanpa reheater. Pada sistem ini, menggunakan turbin
bertingkat dua. Uap berekspansi melaui turbin tingkat pertama
(proses 1- 2) ke suatu nilai tekanan diantara turbin uap dan
kondenser. Uap kemudian dipanaskan kembali di dalam turbin
uap (proses 2 3).
Idealnya, tidak terjadi penurunan tekanan ketika uap
dipanaskan ulang. Setelah pemanasan ulang, uap berekspansi di
dalam turbin tingkat dua hingga mencapai tekanan kondenser
(proses 3 - 4). Selanjutnya pada proses 4 5 terjadi kondensasi
22



dan hasil kondensasi berupa air akan dipompa (proses 5 6)
menuju ke boiler dan di dalam boiler air akan dipanaskan menjadi
uap kering supaya dapat diproses pada turbin uap (proses 6 1).
Proses ini berlangsung secara terus menerus.
3.3 Komponen Utama Pembangkitan Listrik Tenaga
Uap (PLTU)
3.3.1 Boiler
Boiler merupakan suatu bejana tertutup yang secara
efisien dapat merubah air menjadi steam dengan bahan bakar
batubara, yang mana steam ini digunakan sebagai penggerak
turbin. Steam yang dihasilkan berasal dari air dalam pipa-pipa
boiler yang dipanaskan menggunakan panas yang dihasilkan pada
ruang pembakaran. Jika dioperasikan dengan benar, boiler secara
efisien dapat mengubah air dalam volume yang besar menjadi
steam yang sangat panas dalam volume yang lebih besar lagi.
Jenis boiler yang digunakan pada unit 5 dan 6 adalah tipe
menggantung dengan pengontrol sirkulasi (controlled circulation)
yaitu sirkulasi air dan uap pada boiler tidak terjadi secara natural
tapi dipaksa dengan pompa BWCP ( Boiler water Circulating
Pump) , hal ini memudahkan dalam pengoperasian boiler untuk
menyesuaikan dengan kebutuhan air dan uap agar sesuai dengan
beban yang diinginkan.






23












Gambar 3.5 Konstruksi Komponen Sistem Pembakaran (Abb
Handbook)
3.3.2 Conveyor
Berfungsi sebagai pemindah batubara dari Stock Pile ke
Coal Bunker.





Gambar 3. 6 Conveyor Tampak Depan
24



3.3.3 Coal Bunker (Coal Silo)
Berfungsi sebagai tempat untuk menampung batubara
dari Stock Pile sebelum dihaluskan di Mill.
Spesifikasi Teknik Coal Bunker Unit 5 dan 6 PLTU
Paiton :
Jumlah tiap unit : 6 unit
Kapasitas / unit : 500 Ton






Gambar 3. 7 Coal Silo Tampak Depan
3.3.4 Coal Feeder ( pengumpan )
Berfungsi untuk menimbang dan mengatur mass flow rate
batubara yang akan masuk ke Mill sekaligus sebagai penyalur
batubara ke Mill. Jika putaran pulley atau conveyor feeder makin
cepat maka batubara yang diumpankan juga makin banyak.
Spesifikasi Teknik Coal Feeder Unit 5 dan 6 PLTU
Paiton :
Jumlah / unit : 6
Kapasitas / unit : 89 Ton/jam
Putaran : 1440 rpm
Daya / Tegangan : 2,2 kW / 10,4 kV


25







Gambar 3. 8 Desain Coal Feeder
3.3.5 Mill (Pulverizer)
Mill merupakan mesin yang berfungsi untuk
menghaluskan batubara sampai dengan mesh yang diinginkan
sebelum diumpan ke furnace.
Cara kerja mill yaitu dengan menggerus batubara yang
disupply oleh feeder, di dalam mill terdapat dua buah silinder
pejal yang sangat besar. Silinder berputar statis menggilas
batubara yang berada pada lempengan dibawahnya , lempengan
tersebut juga berputar namun putarannya pada arah horizontal.
Batubara yang sudah hancur akan diterbangkan ke atas menuju
furnace oleh udara yang berasal dari PA Fan, tetapi apabila ada
ukuran yang tidak sesuai maka akan kembali jatuh pada tempat
pengilingan dan akan dihancurkan lagi. Sedangkan apabila ada
batubara atau benda lain yang benar-benar tidak bisa hancur akan
bergerak kesamping karenaadanya gaya radial dari putaran
lempeng yang kemudian akan ditampung dalam sebuah tempat
yang dinamakan pyret shopper.
Mill juga memiliki sistem proteksi untuk mencegah agar
batubara tidak menempel pada dinding-dinding mill. Proteksi
yang digunakan yaitu proteksi dari seal air, yaitu dengan
menyemprotkan udara ke mill agar batubara yang menempel pada
mill dapat terlepas. Proteksi yang lain yaitu mencegah kebakaran,
yaitu dengan menyeimbangkan kadar oksigen yang ada pada mill,
karena apabila kadar oksigen terlalu banyak maka dapat mudah
26



terbakar. Untuk menyeimbangkan udara agar tidak terlalu banyak
oksigen maka dibuat jalur inert steam yang berfungsi menyuplay
inert steam. Inert steam bekerja secara otomatis bila kandungan
oksigen di dalam mill terlalu besar.







Gambar 3. 9 Pulverizer
3.3.6 Coal Nozzle
Berfungsi untuk mengatur semburan batubara yang telah
dihaluskan di Pulverizer sehingga dapat mengarah ke setiap sudut
furnace secara merata.






Gambar 3. 10 Coal Nozzle
27


3.3.7 Furnace
Furnace merupakan tempat terjadi pembakaran yang pada
dindingnya tersusun pipa pipa. Proses pembakaran dimulai
dengan bahan bakar solar kemudian perlahan-lahan akan diganti
dengan bahan bakar batubara. Pada saat start Up dan Shut Down
bahan bakar solar dimasukkan kedalam furnace dari setiap corner,
selanjutnya bahan bakar solar perlahan-lahan akan dihentikan
dan akan digantikan dengan batubara apabila api yang dihasilkan
sudah besar dan temperature sudah panas dalam hal ini proses
sudah running.
Batubara yang diterbangkan dari mill akan masuk
kedalam furnace dari setiap corner, yang mana setiap elevasi
ketinggian tertentu terdapat sebuah pipa batubara yang berfungsi
agar pembakaran batubara berjalan seimbang sehingga api tepat
berada di tengah furnace.
Api yang dihasilkan seperti bola yang berputar-putar,
karena bahan bakar yang dimasukkan diarahkan ke samping -
samping furnace sehingga api yang dihasilkan akan terlihat
mengelilingi furnace, sehingga panas yang dihasilkan akan
berkumpul di tengah furnace dan membentuk bola api yang
sangat besar.





Gambar 3. 11 Bola Api Dalam Furnace
Batubara yang masuk akan diatur sudut masuknya dengan
CCFOA (Close Coupled Overfire Air Compartment), yang mana
CCFOA berfungsi mengatur sudut masuk batubara agar api yang
dihasilkan tepat pada posisi yang diinginkan, CCFOA
ditempatkan pada masing-masing elevasi pada setiap corner.
28



Selain CCFOA juga terdapat SOFA (Separated Overfire
Air Register). SOFA berfungsi sebagai pengatur sudut elevasi
udara masuk sehingga api yang dihasilkan dapat dinaikkan dan di
turunkan. Udara yang masuk di furnace berasal dari FD Fan
(Forced Difuse Fan)














Gambar 3. 12 Susunan Elevasi Coal Burner pada Corner Furnace
(ABB Handbook)
29


3.3.8 I gnitor
Ignitor merupakan sebuah peralatan yang berfungsi untuk
memicu terjadi pembakaran didalam furnace, pada saat memulai
Start Up, udara akan masuk kedalam furnace kemudian Ignitor
melakukan kerja, dan bahan bakar solar masuk ke furnace secara
perlahan-lahan dan terjadi pembakaran, setelah terjadi
pembakaran maka ignitor dapat dimatikan.
3.3.9 Primary Air Fan (PA Fan)
Primary Air Fan (PA Fan) merupakan sebuah fan
sentrifugal yang berfungsi untuk menyuplai udara ke dalam Mill,
kemudian mendorong batubara yang berbentuk serbuk ke
furnace, udara yang masuk ke Mill sudah mengalami pemanasan
di Air Heater. PA Fan juga menyuplai udara dingin yang berguna
untuk mengatur suhu dalam Mill jika suhu dalam mill terlalu
tinggi, sehingga tidak terjadi trip. Udara yang digunakan oleh PA
Fan berasal dari atmosphere. Karakter PA Fan ini adalah
menghasilkan tekanan yang tinggi dan kecepatan aliran kecil
sehingga mampu mendorong batubara masuk ke furnace, selain
itu PA FAN sendiri jumlahnya ada dua dalam setiap unit
pembangkit.






Gambar 3. 13 Primary Air Fan
30



3.3.10 Force Draft Fan (FD Fan)
Force Draft Fan (FD Fan) Merupakan fan aksial yang
berfungsi untuk menyuplai udara ke dalam furnace melalui
windbox yang ada di sisi-sisi furnace sebagai udara pembakaran
setelah sebelumnya dipanaskan di Air Heater, udara yang
dihasilkan oleh FD Fan memang digunakan khusus untuk
pembakaran sehingga udara langsung menuju ke tempat
pembakaran batubara.
Untuk mengatur banyak sedikitnya udara yang disuplai ke
boiler digunakan blade-blade yang mempunyai sudut elevasi
tertentu. Sudut bukaan blade diatur menjadi lebih besar atau lebih
kecil. Jika lebih besar maka kapasitas udara yang dihisap dari
udara bebas lebih banyak dengan tekanan rendah ,demikian juga
sebaliknya. Blade-blade tersebut akan menyesuaikan sudut
kemiringan tertentu (tilting) dengan kebutuhan udara pada ruang
pembakaran. Gerakan blade ini diatur oleh system hidrolik yang
bergabung dengan sistem pelumas motor Fan, sehingga selain
sebagai pelumas pada motor juga dapat berfungsi sebagai pengisi
mesin hidrolik.
3.3.11 I nduced Draft Fan (I D Fan)
Induced Draft Fan (ID Fan) merupakan fan aksial yang
paling besar jika dibandingkan dengan fan yang lain. ID Fan
berfungsi untuk mengambil sisa sisa pembakaran di dalam
furnace, berupa abu dan flue gas (gas buang), kemudian
disalurkan ke ESP (Electro Static Precipitator), selanjutnya ke
Flue Gas Desulphurization System untuk di-treatment, sehingga
flue gas sudah ramah lingkungan pada saat dibuang ke udara
bebas.



31







Gambar 3. 14 ID Fan tampak samping
3.3.12 Air Heater
Air Heater merupakan sebuah pengering udara yang
berfungsi untuk memanaskan udara melalui sebuah elemen yang
berputar atau dengan memanfaatkan panas udara yang berasal
dari furnace, Sehingga secara tak langsung alat ini meningkatkan
efisiensi boiler dengan memanaskan udara yang masuk ke boiler,
sekaligus meningkatkan efisiensi pengolahan gas buang dengan
menurunkan suhu flue gas saat gas buang ini dialirkan gas air
heater sehingga terjadi heat transfer. Dari tiga saluran yang
dimiliki air heater salah satunya berasal dari saluran udara panas
dari furnace, sedangkan dua saluran yang lain berasal dari PA Fan
dan FD Fan. Udara yang dipanaskan melewati gas air heater ini
akan ditansfer ke PA fan dan FD fan.





Gambar 3. 15 Gas Air Heater Motor
32



Pengeringan pertama kali terjadi adalah udara yang
berasal dari PA Fan karena udara dari PA Fan digunakan untuk
mendorong sekaligus mengeringkan batubara sebelum masuk
kedalam furnace, sedangkan udara yang digunakan dalam proses
pembakaran dalam furnace (udara dari FD Fan) dikeringkan juga
di air heater, tetapi pengeringannya bukan yang pertama karena
udara untuk pembakaran tidak membutuhkan terlalu banyak
panas






Gambar 3. 16 Perpindahan Panas Air Heater
3.3.13 Pompa
Pompa berfungsi sebagai alat untuk memberikan energi
ke aliran fluida yang melewatinya sehingga head-nya bertambah
sehingga bisa dialirkan ke tempat lainnya yang diinginkan
melalui pipa.
Unit 5 dan 6 PLTU Paiton memakai berbagai jenis pompa
yang disesuaikan dengan jenis fluida dan tujuannya, diantaranya
adalah :
a) Demin Water Pump (DWP)
Berfungsi untuk memompa air dari Demin Storage
Tank menuju kondenser apabila kondenser
membutuhkan air.Jumlah pompa 2 buah.

33


b) Condenser Extraction Pump (CEP)
Berfungsi untuk memompa air dari kondenser
menuju Deaerator setelah melalui proses
pemanasan di heater.Jumlah pompa ada 3, dikontrol
secara otomatis untuk bekerja secara bergantian,
dua pompa berjalan dan satu pompa standby.
c) Feedwater Pump (FWP)
Berfungsi untuk memompa air dari Feedwater
Storage Tank menuju Economizer.
d) Boiler Water Circulating Pump (BWCP)
Berfungsi untuk memompa dan mensirkulasi air
dari Steam Drum menuju Wall Tubes atau
Evaporator yang disalurkan melalui Down Comer
dan ditampung di Lowering Header





Gambar 3. 17 Boiler Water Circulating Pump (BWCP)
e) Turbin Feed water pump
Uap yang digunakan boiler diperoleh dengan
memanaskan air yang dialirkan oleh Boiler Feed
water Pump (BFP) dengan menggunakan bahan
bakar batubara. Pada setiap unit terdapat 3 buah
BFP, dengan kondisi 1 BFP digerakkan oleh motor
listrik yang digunakan pada waktu start up dan 2
lainnya digerakkan dengan menggunakan turbin
yang disebut dengan Turbine Feed Water Pump
(TFWP).
34



f) Turbine Feed Water Pump (TFWP)
digunakan untuk menggerakkan Boiler Feed water
Pump (BFP) yang berfungsi untuk memindahkan air
dari Feed Water Storage Tank ke Boiler
Economizer melalui 3 Feed Water Heater A6, A7
dan A8. Turbine Feed Water Pump (TFWP) yang
berfungsi untuk untuk menggerakkan Boiler Feed
water Pump (BFP) ini tidak digerakkan
menggunakan motor listrik tapi digerakkan
menggunakan uap atau steam






Gambar 3. 18 Diagram Turbine Feed Water Pump ( TFWP )
3.3.14 Economizer
Economizer digunakan untuk memanaskan air yang telah
melewati High PressureHeater.Pemanasan dilakukan dengan
memanfaatkan panas dari flue gas yang merupakan sisa dari
pembakaran dalam furnace.
Temperatur air yang keluar dari Economizer harus
dibawah temperatur jenuhnya untuk mencegah terjadinya boiling
dalam Economizer.Karena perpindahan panas yang terjadi dalam
Economizeradalah konveksi, maka menaikkan luas permukaan
akan mempermudah perpindahan panas ke air.Inilah sebabnya
mengapa desain pipa Economizer dibuat bertingkat .


35


Keuntungan:
Meningkatkan efisiensi unit karena dengan memanfaatkan
kalor dari flue gas untuk memanaskan air, dapat mengurangi
kebutuhan kalor yang besar untuk pemanasan air sampai
terbentuk uap kering pada Superheater.
Biaya Operasi lebih ekonomis karena jumlah bahan bakar
untuk pemanasan pada Superheater menjadi lebih sedikit.
Maintenance Cost dapat dihemat karena dengan adanya
Economizer, thermal shock pada pipa boiler dapat dihindari.
Kerugian :
Desain pipa yang bertingkat akan menimbulkan masalah abu,
terutama bila batubara yang digunakan kadar abunya tinggi.
3.3.15 Steam Drum
Fungsi utamanya adalah untuk memisahkan fasa
campuran dari air dan uap. Fasa cair atau air akan berasa di
bagian bawah dari steamdrum sedangkan gas atau uap akan
berada di atas dari air.Selain itu juga berfungsi untuk
mendistribusikan feedwater,membuang kontaminan dari air
boiler, menambahkan bahan kimia, dan mengeringkan uap setelah
dipisahkan dari air.Air dari Steam Drum disalurkan ke
Evaporator dengan cara dipompa oleh BWCP (Boiler Water
Circulating Pump).






Gambar 3. 19 Tampak Depan Main Steam Drum
36



Uap dan air dalam steam drum dipisahkan dengan tiga
tahap,primary, secondary dan drying. Tahap primary dan
secondary dilakukan oleh turbo separator dan plat yang
berombak ombak melakukan tahap drying.Fungsi utama
dari alat pemisah ini adalah untuk memindahkan uap dari air
boiler dan untuk mengurangi campuran yang terdapat dalam
uap sebelum meninggalkan steam drum.

3.3.16 Reheater
Reheater berfungsi untuk memanaskan kembali steam
(uap kering) yang keluar dari HP (High Pressure) Turbin, karena
steam telah mengalami penurunan suhu dan tekanan akibat dari
proses kerja yang terjadi pada HP. Steam keluaran HP turbin
berupa cold steam sehingga perlu dipanaskan kembali dan
dimasukkan kembali ke dalam Boiler. Reheater kemudian
memasuki Front Reheater dan keluar melalui Reheater Vertical
Spaced Front Outlet Header menuju IP (Intermediet
Pressure)Turbine.

3.3.17 Turbin
Dalam proses yang terjadi pada boiler master system
telah disinggung tentang aliran uap kering yang dihasilkan
boiler. Lebih detail, setelah uap kering mengalami proses
ekspansi dalam HP Turbine, maka tekanan dan temperatur uap
akan menurun sehingga uap keluaran turbin berupa uap jenuh.
Uap ini memiliki efek negatif yang dapat menimbulkan
erosi pada sudu sudu turbin dan juga bersifat korosif. Oleh
karena itu, uap keluaran HP Turbine tidak langsung disalurkan
ke IP Turbine, melainkan dipanaskan ulang di Reheater sampai
menjadi uap kering lagi, setelah itu baru disalurkan ke First LP
Turbine. Dari First LP Turbine, uap disalurkan ke Secondary LP
Turbine.Uap panas keluaran Secondary LP Turbine akan masuk
ke kondenser untuk dikondensasikan menjadi wujud cair lagi
37


sehingga air hasil proses kondensasi ini akan menjadi air untuk
siklus berikutnya.
Komponen komponen dari turbine master sistem
Turbin yang dipakai pada unit ini merupakan turbin satu
poros dengan bagian High Pressure (HP),Intermediate Pressure
(IP)dan Low Pressure(LP)yang terpisah.masing-Masing
memiliki spesifikasi sesuai kegunaan dari turbin itu sendiri.
High Pressure turbine
High Pressure turbine atau HP turbin adalah turbin dengan
aliran silinder tunggal.Uap yang masuk ke HP turbin ini adalah
initial steam, uap yang pertama kali keluar dari boiler. Uap ini
mengenai sudu-sudu turbin dengan diatur oleh main stop dan
control valves.
Casing terluar dari turbin ini berbentuk seperti tong (barrel
type) tanpa flens aksial.Simetri melingkar yang hampir sempurna
memungkinkan keseragaman tebal dinding casing pada semua
bagian.Casing bagian dalam terpisah secara aksial dan ditutup
rapi sehingga mudah bergerak untuk merespon ekpansi
thermal.Casing tipe barrel atau tong in memungkinkan
fleksibilitas dalam operasionalnya baik ketika start up dalam
waktu yang singkat maupun perubahan beban yang besar
walaupun pada initial condition yang sedang tinggi.
Uap yang masuk ke HP turbin akan menggerakkan sudu-sudu
dan sebagian lagi untuk memanasakn high pressure heater.Lalu
uap akan masuk reheater untuk dipanaskan kembali.Karena
setelah melewati HP turbin,uap mengalami ekpansi temperatur
yang cukup besar. Untuk itu, dalam instalasinya,pada jalur utama
exhaust HP turbin ke reheater dipasang swing check valve agar
uap tidak mengalir masuk kembali ke HP turbin.


38












Gambar 3. 20 Tampak Depan High Pressure Turbin

Intermediate Pressure Turbine
Intermediate Pressure turbine atau IP turbine adalah turbin
yang terdiri casing terpisah dengan aliran aksial ganda. Antara
casing bagian dalam (inner casing) dan luarnya harus ada jarak
agar pergerakan inner casing yang terjadi karena panas dapat
terakomodasi.,dimana pada inner casing ini terdapat sudu-sudu
tetap. Uap yang masuk ke IP turbin ini adalah uap yang keluar
dari reheater dan masuk melalui kedua sisi samping.Konstruksi
Inner casing harus mampu mengatasi inlet uap yang mempunyai
suhu dan tekanan tinggi sedangkan casing dan sambungan
flensnya cukup mampu mengatasi exhaust IP turbine yang
mempunyai suhu dan tekanan rendah.Uap yang masuk ke IP
turbin ini sebagian besar digunakan untuk memutar poros
generator dan sebagian lagi untuk memanaskan air yang akan
masuk boiler melalui low pressure heater 4.

39








Gambar 3. 21 Tampak Depan Intermediate Pressure Turbin
Low Pressure Turbine
Low Pressure turbine atau LP turbine adalah turbin yang
terdiri dari dua rumah turbin dengan aliran ganda. Casing bagian
luarnya terhubung dengan kondensor sedangkan inner casing
didukung oleh lengan penyangga yang terletak pada bracket pada
bantalan pedestal. Uap yang masuk ke LP turbin ini berasal dari
LP turbin dan sebagian besar digunakan untuk memutar poros
generator,sebagian lagi untuk memanaskan air yang akan masuk
boiler melalui low pressure heater (LP heater).Karena ada dua
LP turbin ,masing- masing uap turbin masuk ke low pressure
heateryang berbeda, LP turbin satu (MAC 1) memanaskan LP
heater 1. dan LP turbin dua (MAC 2) memanaskan LP heater 2
dan 3.





Gambar 3. 22 Tampak Depan Low Pressure Turbin
40



3.3.18 Generator
Generator adalah alat untuk membangkitkan
listrik,generator sendiri terdiri dari stator dan rotor.Rotor
dihubungkan dengan shaft turbin sehingga berputar bersama-
sama.Stator didalam generator membawa arus hubungan output
pembangkit.Arus DC dialirkan melalui brush gear yang
langsung bersentujhan dengan slip ring yang dipasang jadi satu
dengnan rotor sehingga timbul medan magnet.Jika rotor berputar
medan magnet tersebut memotong kumparan di stator sehingga
pada ujung-ujung kumparan stator timbul tegangan listrik.
Untuk penyediaan arus listrik generator diambilkan arus
DC dari luar.setelah sesaat generator timbul tegangan,sehingga
melalui excitasi tansformer arus AC akan diserahkan oleh
rectifier dan arus DC akan kembali ke generator,proses ini disebut
self excitation.Dalam sistem tenaga,generator disamping
menyuplai listrik ke jaringan ekstra tinggi 500 kV,sehingga untuk
itu perlu trafo step-up untuk menaikkan tegangan yang dihasilkan
generator (21 kV) menjadi 500 kV.Selain itu juga dipakai untuk
pemakaian sendiri dimana tegangan output generator diturunkan
melalui transformer sesuai kebutuhan yaitu dari 21 kV mebjadi 10
kV dengan trafo step down.






Gambar 3. 23 Tampak Depan Generator
41


3.3.19 Kondensor
Setelah LP turbine diputar oleh uap,maka uap akan
mengalir masuk melewati kondenser.Saat melewati kondenser
ini uap akan mengalami perpindahan panas sehingga berubah
menjadi air.Ada dua kondenser untuk tiap unit A dab B yang
letaknya dibawah LP turbin A dan B.Energi pendinginan uap
didapat dari air laut yang masuk ke pipa pipa kondenser.Uap
yang sudah terkondensasi menjadi air kemudian ditampung di
condensate hot well. Untuk menjaga volume air siklus
boiler,maka pada condenser dilengkapi make up water yang
berfungsi menambahkan air pada air siklus yang berkurang
karena blowdown, bocor dan sebagainya.Air yang ditambahkan
ini adalah demin water yang diambil dari water treatment
plant.Untuk dapat bekerja kondenser bekerja pada kondisi
vacuum, dan jika sewaktu-waktu terjadi trip (plant mati) maka
untuk keamanan,keadaan hampa udara kondenser dibuat jadi
tidak hampa dengan membuka vacuum breaker.

3.3.20 Polisher
Condensate water dari condensate how well akan
dipompa oelh condensate pump menuju polisher. Pada PLTU
Paiton Unit 5 dan Unit 6 memiliki masing- masing 3 pompa, dan
dua dalam keadaan akrif dan satu digunakan dalam stand by
dengan kapasitas pada setiap pompa adalah sebesar 50%.
Pada polisher terdapat resin kation dan anion, resin ini berfungsi
sebagai :
1. Resin kation : mengikat ion negatif penyebab korosi.
2. Resin anion : mengikat ion positif penyebab kerak atau
scale.
Ion ion tersebut diikat oleh resin dalam polisher untuk
memurnikan kembali air yang masuk ke boiler. Parameter ion
teresebut dapat diukur dengan melihat nilai konduktivitasnya,
jika kondukvitasnya bernilai tinggi maka dapat berarti dua hal,
yaitu :
42



1. Terdapat kebocoran air laut di dalam polisher, terdeteksi
dengan leak detektor.
2. Resin jenuh dan harus diregenerasi. Regenerasi resin
kation dilakukan dengan menambahkan asam kuat
(H2SO4) dan resin anion menggunakan basa (NaOH).
Dari polisher, air dipanaskan di feed water heater 2, 3,dan 4 yang
sebelumnya diinjeksi dengan amonia untuk meningkatkan kadar
pH (pH ideal = 9 9,5) agar sodium yang terkandung di dalam air
hilang sebab sodium dapat menyebabkan kerusakan pada material
penyusun boiler. Kemudian air menuju ke feed water heater 5
yang ada di deaerator.





Gambar 3. 24 Tampak Depan Polisher
3.3.21 Feed water heater
Feed water heater adalah tempat pemanasan awal dari
kondenser yang akan digunakan kembali untuk bahan baku
pembentukan steam boiler.
Terdapat 8 feed water heater pada masing- masing unit :
a. Feed water heater 1
Terletak di bagian bawah kondenser, fungsinya untuk
memanaskan air yang keluar dari kondenser. Panas yang
digunakan berasal dari ektrasi LP turbin.
b. Feed water heater 2, 3, dan 4
Fungsinya untuk memanaskan air sebelum memasuki
deaerator. Panas yang digunakan berasal dari ekstraksi
LP turbin.
43


c. Feed water heater 5
Terletak di atas deaerator. Panas yang digunakan berasal
dari ekstraksi IP turbin.
d. Feed water heater 6 A-B, 7 A-B, dan 8 A-B
Fungsinya untuk memanaskan air yang akan masuk ke
ekonomizer. Panas yang diperoleh berasal dari IP turbin
pada feed water heater 6 A-B dan 7 A-B sedangkan feed
water heater 8 A-B panas diperoleh dari ekstraksion HP
turbin.









Gambar 3. 25 Tampak Depan HP Feed Water Heater
3.3.22 Deaerator
Deaerator berkerja untuk membuang gas yang tak
terkondensasi dalam air pengisi boiler,terutama gas O
2
karena
gas ini akan menimbulkan korosi.Deaerator juga memiliki
fungsi sebagai pemanas air umpan terbuka (opendea) sehingga
dapat memanaskan air sampai sekitar 162C. Penempatan
Deaerator yang tinggi memungkinkan pemberian suction head
yang cukup untuk Feed Water Pump.
Prinsip kerjanya air yang masih mengandung O
2
dan CO
2
disemprotkan ke steam deaerator,sehingga gas tersebut diserap
secara thermis dan dikeluarkan melalui valve pelepas udara.





44








Gambar 3. 26 Deaerator
Pada proses kerja PLTU Paiton unit 5 dan 6 memerlukan
air yang diperoleh dari air laut. Sebelum dimasukkan ke boiler
air terlebih dahulu dioleh melalui water treatment. Pada tahap ini
air mengalami mekanisme fisis antara lain :
a. Pre treatment
b. Air diendapkan melalui proses fisika dengan bantuan
endapan coral, pasir, dan bebatuan.
c. SWRO (Sea Water Reverse Osmosis)
Pada kondisi ini air mengalami pemalik osmosis atau
yang disebut reverse osmosis. Air dilewatkan pada
membran semipermeabel yang terbuat dari polyamiteide
acid. Tekanan yang ada pada SWRO adalah 4200 Kpa.
Air dinetralisir hingga 25 %. Dengan TDS (Total Disilve
Solid) sebesar 200 ppm.
d. DWRO
Proses yang terjadi pada tahap ini hampir sama dengan
SWRO. Tekanan pada DWRO ini adalah 1500 Kpa
dengan TDS sebesar 200 ppm.
e. Mix Bed
Pada tahap ini terjadi reaksi kimia. Air dilewatkan dalam
sebuah filter dengan 2 buah resin yaitu resin kation dan
resin anion. Resin ini berfungsi untuk pertukatan ion (ion
exchange) untuk mengikat kation dan anion sehingga
diperoleh atom H
+
dan OH
-
dan didapatkan H
2
O murni
45


dengan TDS < 0,01 ppm. Setelah itu akan disimpan
dalam kondensif tank.
3.3.23 Elektrostatik Precipitator (ESP)
ESP berfungsi untuk memisahkan fly ash dari gas panas
sampai 97% yaitu dengan bantuan sistem elektroda tegangan
langsung yang sangat tinggi. Debu atau abu yang ditangkap ESP
akan dikumpulkan pada penampung debu ESP (ESP hopper)
yang kemudian oleh kompresor akan dorong ke silo tertutup
yang selanjutnya dibuang ke ash lagoon melalui sistem
perpipaan yang menghubungkan plant dengan area pembuangan
limbah.

Gambar 3. 27 Tampak Depan ESP pada unit 5
Cara kerja dari ESP adalah dengan pemberian muatan
listrik negatif sehingga gas buang bermuatan listrik positif yang
melewati alat ini akan menempel pada dinding elektrode di
ESP.Untuk membersihkannya dengan cara menghentikan aliran
listrik kemudian diketok dengan palu secara periodik sehingga
abu (ash) akan jatuh dan ditampung Ash Collecting
Hopper.Metode pembersihan ini berjalan secara otomatis.
ESP diperkirakan bisa menangkap 97% debu yang
terbawa oleh flue gas.Hal ini bertujuan agar gas yang dibuang
keluar stack dalam keadaan bersih sehingga tidak mencemari
46



lingkungan.Untuk mendukung proses pembuangan flue gas ini,
digunakan Induced DraftFan (ID Fan) yang berfungsi menarik
gas hasil pembakaran dari furnace, melalui permukaan penukar
panas di dalam pemanas lanjut, pemanas ulang, ekonomisator
dan sisi gas pemanas awal udara, dan pada akhirnya ke stack.

Gambar 3. 28 Struktur Dalam ESP Pada YTL
3.3.24 FGD, GGH, and Absorber
Dalam proses produksi energi listrik ini ada produk lain
yang dihasilkan yaitu terjadi saat proses pengubahan air menjadi
uap panas di boiler , produk itu adalah batubara yang tidak ikut
terbakar saat pembakaran (firing) dan gas panas yang
mengandung debu batubara hasil pembakaran (fly ash) . Batubara
yang tidak ikut terbakar ini akan jatuh ke SSCC atau Submerged
Scraper Chain Conveyor dan disebut sebagai bottom ash. Bottom
ash yang terkumpul di SSCC akan ditampung pada sebuah bak
dan jika sudah penuh akan dibuang oleh dump truck ke ash
lagoon.Sedangkan fly ash akan ditangani oleh ESP (Electrostatic
Precipitator) yaitu dengan menangkap debu batubara. Sisa gas
yang keluar kemudian dikeluarkan lewat cerobong ( stack )
setelah terlebih dulu diproses atau di desulphurisasi agar ramah
lingkungan. Lebih detail tentang pengolahan limbah di unit 5 dan
6 adalah sebagai berikut.
47




Gambar 3. 29 Tampak Depan Absorber
Dari ID Fan, flue gas mengalir menuju Flue Gas
Desulphurization (FGD) System.Pada sistem ini, flue gas
dialirkan melalui Absorber untuk diserap kandungan gas
gas yang berbahaya seperti SO
x
(Sulfur), dan selanjutnya
masuk ke dalam Gas Gas Heater untuk dipanaskan sebelum
keluar dari stack.
Adapun prinsip kerja dari Absorber dan Gas Gas
Heater adalah sebagai berikut :
1. Dalam Absorber terdapat nozzle yang berfungsi untuk
menyemprotkan air ke arah flue gas yang masuk ke
dalam Absorber.Air tersebut merupakan air laut yang
dipompa oleh sea water feed pump.Air laut yang
merupakan senyawa NaCl akan berikatan dengan Flue
Gas sehingga terbentuk flue gas basah yang kandungan
SO
x
nya sudah terserap/hilang.
2. Flue gas basah yang keluar dari Absorber masuk Gas
Gas Heater untuk dipanaskan sehingga sifat basahnya
menjadi kering.Proses perpindahan panas dalam Gas Gas
Heater ini merupakan proses Regenerative Heat Transfer
.Fungsi gas-gas heater disini mirip dengan air gas heater
hanya saja media pemanas maupun yang dipanaskan
adalah sama sama gas panas.Dengan adanya komponen
48



ini dalam sistem pengolahan gas buang ,gas yang keluar
dari dalam stack atau cerobong akan tetap dalam bentuk
uap panas ( gas dengan suhu tinggi ) sehingga gas lebih
cepat keluar keluar dari stack..Skema kerja adsorber
dapat dilihat pada gambar 30 lampiran






Gambar 3. 30 Skema proses pada Flue Gas Deshulprization
3.3.25 Stack
Stack (cerobong) gas ini merupakan sebuah komponen
yang berfungsi sebagai saluran pembuangan gas hasil
pembakaran yang telah di proses di FGD. Di dalam stack
terdapat sebuah alat ukur yang berfungsi mengukur kandungan-
kandungan gas buang sehingga gas yang akan dibuang akan
aman.





Gambar 3. 31 Tampak Depan Stack
49


BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Penanganan Abu (Ash)
Sistem penangannan abu pada PLTU Piton unit 5 dan unit 6
terdiri dari beberapa proses utama, diantara proses tersebut adalah
sebagai berikut :

a. Pengumpul Abu Dari Ekonomiser Dan Sistem Conveyor
Abu sisa pembakaran dari ekonomiser akan jatuh menuju
hopper. Prinsip kerjanya abu sisa pembakaran tersebut jatuh
karena adanya gravitasi bumi. Dari hopper abu menuju ke
intermediet bin. Intermediet bin adalah alat pemisah antara debu
dan gas gas buang.

b. Pengumpul Abu Dari Electrostatic Precipitator (Esp)
Dalam Electostatic Precipitator (ESP) terjadi proses
pemisahan antara flue gas atau gas buang dengan debu yang
terkandung di dalamnnya. ESP dapat memisahkan udara dengan
debu hingga mencapai 97%. Maka udara yang dikeluarkan
melalui stack tidak mencemari udara lingkungan. Debu yang
terperangkap oleh ESP akan dikumpulkan juga oleh Ash
Collecting Hopper. Kemudian mejuju ke tempat penimbunan
sementara yaitu blow tank. Dari blow tank ash akan dipindahkan
menuju ke fly ash silo. Proses pemindahannya ada beberapa
tahapan, tahap tahapnya adalah sebagai berikut :

1.) Filing Cycle
Proses pengisingan blow tank oleh ash hingga mencapai level
yang telah ditentukan atau pengisian dalam waktu yang telah
ditetapkan. Jika proses pengisian telah tercapai maka katup
masuk dan katup filing vent akan tertutup.

50



2.) Fluidising And Presssurising Cycle
Setelah katup masuk tertutup maka proses fluidisasi dimulai
terjadi penambahan tekanan supaya ash dapat berpindah dari
blow tank menuju ash silo.
3.) Discharge And Conveying Cycle
Proses berikutnya yaitu ash akan meleeati pipa yang akan
menuju ke ash silo.
4.) De-Pressurising Vent And Filing
Setelah ash menuju ke ash silo maka katup ditutup supaya
tidak kembali lagi ke blow tank. Sedangkan blow tank kembali
diisi oleh ash dari ESP.
5.) Purge Cycle
Proses pembersiha pipa. Dan dari semua tahap yan ada terus
berkesinambungan kerjanya tidak berhenti sehingga
membentuk siklus.
c. Fly Ash Silo
Fly ash silo digunakan untuk menampung ash yang berada di
blow tank. Tempat ini memiliki daya tampung yang lebih besar
yaitu 1.500 m
3
. Ash yang dikumpulkan bisa dibuang langsung ke
ash lagoon dan bisa digunakan untuk bahan tambahan pada
pembuatan semen. Sekarang ash yang ada dimanfaatkan semua
oleh perusahaaan semen sebagai bahan tambahan.

d. Pembuangan Fly Ash
Pembuangan fly ash berasal dari ESP. Dalam ESP yang terjadi
proses pemisahan antara gas buang dengan material yang tidak
bisa di buang ke udara bebas. Karena material tersebut dapat
mencemari udara. Maka material tersebut (ash) akan dibuang ke
ash lagoon. Sebelum dilakukan pembuangan ke ash lagoon ash
akan ditampung di tempat yang disebut ash silo. Dalam ash silo
51


ash akan dicampur dengan air terlebih dahulu supaya ketika
dibuang ke ash lagoon tidak menyebar ke udara.
Tetapi sekarang fly ash tidak dibuang ke ash lagoon tetapi
dimanfaatkan oleh perusahaan pembuatan semen untuk bahan
tambahan.
e. Bottom Ash

Bottom ash (abu dasar) merupakan sebuah abu dari hasil
sisa pembakaran batubara yang terdapat didalam boiler.
Bottom ash yang dihasilkan berupa butiran - butiran halus
atau bongkahan - bongkahan kecil yang keluar seperti pasir
dan berwarna hitam. Bottom ash yang tidak terbakar akan
langsung jatuh kebawah dengan percepatan gravitasi. Selain
Bottom ash, juga ada slag (abu batubara yang menggumpal
di pipa boiler) yang juga ikut jatuh karena adanya bantuan
dari sootblower.








Gambar 4. 1 Proses Bottom Ash
Bottom ash yang jatuh akan di terima oleh Sub Merged
Scraper Conveyor (SMCC), kemudian SMCC akan bergerak dan
membuang Bottom ash jatuh kedalam kontainer berwarna biru
yang mempunyai kapasitas pembuangan sebesar 7 Ton, kemudian
kontainer yang sudah full akan diangkut oleh truk dan akan
52



dibuang ke Ash Lagoon (Tempat Pembuangan Bottom ash). Truk
yang membawa kontainer akan membuang bottom ash sebanyak
4 jam sekali.










Gambar 4. 2 Tempat Pembuangan Bottom ash
(Ash Lagoon)

f. Data ash handling
Berdasarkan Tecnical Specification jumlah ash yang
diproduksi adalah sebagai berikut :

Tabel 4. 1 Jumlah Produksi Ash Setiap Jam

Rata rata
produksi
Kapasitas
Desain
Total ash 6,81 t/h 21,81t/h
Bottom Ash (20%) 1,36 t/h 4,4 t/h
Fly Ash (80%) 5,45 t/h 17,45 t/h

53


4.2 Perhitungan Effisiensi Turbin Uap
Menghitung Effisiensi Turbin Uap () menggunakan metode
Input-Output dengan 2 parameter yaitu pressure dan temperature
kemudian didapatkan nilai enthalpy:
Digram T-S sebagai siklus rankine pemanasan ulang







Gambar 4. 3 Diagram T-S
Tabel 4. 2 Data Pressure 100% Full Load
P11 P12 P21 P22 P31 P32
167 42.71 38.83 5.63 5.63 2.97

Keterangan

P11 = Pressure Inlet High Pressure Turbin (bar)
P12 = Pressure outlet High Pressure Turbin (bar)
P21 = Pressure Inlet Intermediate Pressure Turbin (bar)
P22 = Pressure outlet Intermediate Pressure Turbin (bar)
P31 = Pressure Inlet Low Pressure Turbin (bar)
P32 = Pressure outlet Low Pressure Turbin (bar)














54



Tabel 4. 3 Data Temperature 100% Full Load
T11 T12 T21 T22 T31 T32
538 332.2 538 267.1 267.1 190
Keterangan

T11 = Temperature Inlet High Pressure Turbin (C)
T12 = Temperature outlet High Pressure Turbin (C)
T21 = Temperature Inlet Intermediate Pressure Turbin (C)
T22 = Temperature outlet Intermediate Pressure Turbin (C)
T31 = Temperature Inlet Low Pressure Turbin (C)
T32 = Temperature outlet Low Pressure Turbin (C)

Berdasarkan data Pressure dan Temperature kemudian
didapatkan data Enthalpi (Table Thermodynamics)
Tabel 4. 4 Data Enthalpy 100% Full Load
H 11 H 21 H 22 H 31 H 41 H 42 H 51 H 52
3396,
9
3000,
2
3042,
5
3532,
5
2924,
7
2994,
7
2814,9
6
2851,
9

Keterangan

H11 = Enthalpy Inlet High Pressure Turbin(Kj/Kg)
H21 = Enthalpy outlet Ideal High Pressure Turbin (Kj/Kg)
H22 = Enthalpy Inlet Intermediate Pressure Turbin (Kj/Kg)
H31 = Enthalpy outlet Ideal Intermediate Pressure Turbin (Kj/Kg)
H41 = Enthalpy Inlet Ideal Low Pressure Turbin (Kj/Kg)
H42 = Enthalpy outlet Low Pressure Turbin (Kj/Kg)
H51 = Enthalpy outlet Ideal Low Pressure Turbin (Kj/Kg)
H52 = Enthalpy outlet Low Pressure Turbin (Kj/Kg)

55


High Pressure Turbin (HP) =










Intermediate Pressure Turbin (IP) =










Low Pressure Turbin (LP) =










56



Total = High Pressure Turbin * Intermediate Pressure
Turbin * Low Pressure Turbin
Total = 89,34 % * 88,49 % * 66,36 %
Total = 52,46 %
4.3 Perhitungan Efisiensi Boiler
Analisis ultimate batubara
Kandugan abu : 24,6 %
Kandugan kadar air : 3,25 %
Kandungan Carbon : 52.6 %
Kandungan Hidrogen : 3,69 %
Kandungan Oksigen : 14,68 %

Kandungan Nitrogen : 0,93 %
Kandungan Sulfur : 0,29 %
GCV (Gross Calorific Value) : 5022 kkal/kg
Lain lain
Kadar CO
2
pada gas buang : 10,61 %
Kelembapan udara : 55 %
Suhu lingkungan (Tf) : 32, 2
o
C
Suhu gas keluar (Ta) : 142,017
o
C
Radiasi : 0,18 %
Perhitungan
1. Kebutuhan udara teoritis


57



2. Udara berlebih yang dipasok (EA)








3. Massa udara sebenarnya yang dipasok / kg bahan bakar
(AAS)




58



4. Seluruh kehilangan panas
i. Persentase kehilangan panas karena gas kering cerobong





ii. Kehilangan panas karenapenguapan kadar air karena
adanya H
2
dalam bahan bakar



iii. Kehilangan panas karena kadarair dalam udara

59




iv. Kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan lain
yang tidak terhitung

Maka nilai efisiensi boiler () adalah :



Pada desain boiler yang ada memiliki efisiensi 92,5% tetapi pada
aktualnya setelah dilakukan perhitungan efisiensi mengalami
penurunan sebanyak 5,21%.









60












Halaman ini sengaja dikosongkan


















61

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Selama pelaksanaan kerja praktek di PT YTL Jawa Timur
maka peserta KP dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai
berikut :
1. Pada proses pembuangan sisa pembakaran yang berupa
fly ash dapat dimanfaatkan untuk bahan tambahan
pembuatan semen.
2. Efisiensi turbin uap dengan perhitungan menggunakan
metode input output adalah 52,46 %.
3. Efisiensi boiler dengan perhitungan menggunakan metode
heat loss adalah 86,29 %.
5.2 Saran
Dari kerja praktek yang telah dilakukan oleh peserta KP
berikut saran yang dapat diberikan kepada pihak perusahaan.
1. Sebagai pembanding efisiensi boiler perlu dibandingkan
dengan metode langsung (input output) sebagai koreksi
antara aktual dengan desain alat.
2. Sebaiknya perlu diterapkan sistem pengambilan data
secara terintegrasi supaya lebih efektif dalam pengukuran
yang dilakukan secara manual.


62



DAFTAR PUSTAKA

] Incropera, Frank (1999). Fundamentals Of Heat and Mass
Transfer. Dept. Of Mechanical Engineering University of
Minnesota.USA
[2] Kuehn,Thomas H (1998). Thermal Environmental
Engineering. Dept. Of Mechanical Engineering University of
Minnesota.USA
[3] Al-Sood, Maher M Abou (2013). Optimum parametric
performance characterization of an irreversible gas turbine
Brayton cycle. Dept. Of Mechanical Engineering University
Assiut. Egypt

63


Lampiran