Anda di halaman 1dari 98

NAMA : LALU SABARDI.

PENDIDIKAN : S-1 FH UNRAM, S-2 FH UNAIR,


S-3 FH BRAWIJAYA, SUDAH BERHAJI.
LAHIR TANGGAL 4 MARET 1955
TEMPAT LAHIR : DESA BUNGTIANG LOMBOK TIMUR
DOSEN FH UNRAM SEJAK TAHUN 1982.
ALAMAT RUMAH : JLN SERAYU III/4 MATARAM 83127
TLP. RUMAH (0370)-633852 FAX- (370)634344
HP. 087865855525-08123775702.
Email : sabardilalu@yahoo.co.id
Apakah hukum itu?
PENDAHULUAN
MANUSIA, MASYARAKAT DAN KAIDAH SOSIAL
Hubungan antara manusia, masyarakat dan kaidah sosial.
Manusia sebagai makhluk monodualistik :
Artinya adalah manusia selain sbg makhluk individu (perseorangan)
mempunyai kehidupan jiwa yg menyendiri namun manusia juga sebagai
makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Manusia lahir, hidup
dan berkembang dan meninggal dunia di dalam masyarakat.
Menurut Aristoteles (Yunani, 384-322 SM), bahwa manusia itu adalah ZOON
POLITICON artinya bahwa manusia itu sbg makhluk pada dasarnya selalu
ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya, jadi makhluk
yg suka bermasyarakat. Dan oleh karena sifatnya suka bergaul satu sama lain,
maka manusia disebut makhluk sosial.
Terjadilah hubungan satu sama lain yang didasari adanya kepentingan,
dimana kepentingan tsb satu sama lain saling berhadapan atau berlawanan
dan ini tidak menutup kemungkinan timbul kericuhan. Kepentingan adalah
suatu tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi.
Disinilah peran hukum mengatur kepetingan2 tersebut agar kepentingan
masing-masing terlindungi, sehingga masing-masing mengetahui hak dan
kewajiban. Pada akhirnya dengan adanya hukum masyarakat akan hidup
aman, tentram, damai, adil dan makmur.
Kesimpulan : dimana ada masyarakat disitu ada hukum (ubi societes ibi ius).
Hukum ada sejak masyarakat ada. Dapat dipahami disini bahwa hukum itu
sesungguhnya adalah produk otentik dari masyarakat itu sendiri yang
merupakan kristalisasi dari naluri, perasaan, kesadaran, sikap, perilaku,
kebiasaan, adat, nilai, atau budaya yang hidup di masyarakat.


A. Jika ada pertanyaan, apakah hukum itu?
difinisi.setiap difinisi tentang hukum
setidak-tidaknya dapat memberikan gambaran
tentang salah satu sisi dari hukum.
B. Dari salah satu ciri2nya hukum akan terlihat
sebagai peraturan tingkah laku, peraturan
tingkah laku yang ditetapkan pemerintah, ada
peraturan tingkah laku yang ditetapkan oleh
masyarakat.
C. Ada hukum dari pemerintah (satatute Law), ada
hukum dimasyarakat (common Law).
D.Jika kemudian dikatakan, hukum itu tak dapat dilihat
dan tak dapat diraba, maka pernyataan itu akan
disalahkan oleh orang yang tidak belajar hukum, karena
hukum dapat dilihat, dalam wujud nyata seperti : Polisi,
Jaksa, Hakim, kepala Desa bahkan dalam wujud lampu
lalu-lintas dan bahkan dalam wujud tabrakan. Oleh
karena itu hukum ada dalam wujudnya yang hidup dan
bergerak (konkrit, Visual).
E.Hukum mencampuri urusan manusia dari sejak dalam
kandungan sampai kedalam kubur. Manusia adalah
pendukung hak dan kewajiban
F.Hukum dilihat dari sudut pandang Ilmu-pengetahuan
merupakan sebahagian dari kebudayaan.
PERMASALAHAN HUKUM MUNCUL SEJAK
ADANYA PERADABAN MANUSIA (ADAM &
HAWA = PUTRA MEREKA HABEL DIBUNUH
KAKAKNYA)
M.T. CICERO (106-45 SM): UBI SOCIETAS IBI
IUS (DIMANA ADA MASYARAKAT, DI SITU
ADA HUKUM)
TUJUAN HUKUM: KEADILAN, KEPASTIAN
HUKUM, MANFAAT


TANPA HUKUM PERADABAN MANUSIA TELAH
LAMA MUSNAH
WHAT WILL HAPPEN TO THE LAW WITHOUT
JURISPRUDENCE? (McCOUBREY & WHITE)



BERDASAR SUBSTANSINYA, HUKUM ITU
DIBEDAKAN ANTARA ILMU FORMAL DAN
ILMU EMPIRIS.
1. ILMU FORMAL MENUNJUK PADA ILMU
YANG TIDAK BERTUMPU PADA
PENGALAMAN ATAU EMPIRIK (LOGIKA,
MATEMATIKA, TEORI SISTEM)
2. ILMU EMPIRIS DITUJUKAN UNTUK
MEMPEROLEH PENGETAHUAN FAKTUAL
TENTANG KENYATAAN AKTUAL, DAN
KARENA ITU BERSUMBER PADA EMPIRIK
ATAU PENGALAMAN (ILMU ALAM & ILMU-
ILMU ILMU MANUSIA/ILMU BUDAYA = ILMU
SEJARAH & ILMU SOSIAL).
ILMU MENYANDANG DUA MAKNA:
1. SEBAGAI PRODUK: ILMU ADALAH
PENGETAHUAN YANG SUDAH TERKAJI
KEBENARANNYA DALAM BIDANG
TERTENTU DAN TERSUSUN DALAM SUATU
SISTEM.
2. SEBAGAI SUATU PROSES: MENUNJUK PADA
KEGIATAN AKAL BUDI MANUSIA UNTUK
MEMPEROLEH PENGETAHUAN DLM BIDANG
TERTENTU SECARA SISTEMATIS.
3. OBYEKTIF-
EMPERIK,MENERANGKAN/MENJELASKAN
ILMU TEORITIS & ILMU PRAKTIS
1. I.T: ILMU YANG DITUJUKAN UNTUK MEMPEROLEH
& MENGUBAH PENGETAHUAN. PRODUKNYA,
DIGUNAKAN UNTUK MEMBANTU MEMECAHKAN
MASALAH DAN MENINGKATKAN
KESEJAHTERAAN. (PENERAPAPAN ILMU
TEORETIS= TEKNOLOGI)
2. I.P: ILMU YANG MEMPELAJARI AKTIVITAS
PENERAPAN ITU SENDIRI SEBAGAI OBYEKNYA
(PENERAPAN IP=ART). TUJUANNYA UNTUK
MENGUBAH KEADAAN, ATAU MENAWARKAN
PENYELESAIAN THD MASALAH KONKRET. (ETIKA,
TEOLOGI, ILMU TEKNIK, ILMU KEDOKTERAN, ILMU
HUKUM, ILMU MANAGEMEN, ILMU KOMUNIKASI)
Dalam BHS Inggris pengertian Law:
1. Merupakan sekumpulan preskripsi
mengenai apa yg seharusnya dilakukan
dalam mencari keadilan (hukum, ius,
Code,droit, Recht)
2. Merupakan aturan perilaku yang ditujukan
untuk menciptakan ketertiban masyarakat
(undang-undang,lex, loi, wet)

HUKUM
PERATURAN TERTULIS MAUPUN TIDAK
TERTULIS YANG MERUPAKAN KRISTALISASI
NILAI-NILAI YANG DISEPAKATI MASYARAKAT
DAN DIUNDANGKAN DAN DITEGAKKAN OLEH
INSTITUSI YANG BERWENANG, DIJADIKAN
PEDOMAN ATAU PEMANDU DALAM
MENJALANKAN KEWAJIBAN ATAU UNTUK
MENCAPAI TUJUAN TERTENTU, DAN
DIGUNAKAN UNTUK MENEGAKKAN HAK ATAU
MENJATUHKAN SANKSI.
(ADI SULISTIYONO)
ARTI ILMU HUKUM
SATJIPTO RAHARDJO:
ILMU YANG MENCAKUP DAN MEMBICARAKAN
SEGALA HAL YANG BERHUBUNGAN
DENGAN HUKUM UNTUK MEMPEROLEH
PENGETAHUAN TENTANG SEGALA HAL DAN
SEMUA SELUK BELUK MENGENAI HUKUM.
GIJSSELS DAN VAN HOECKE:
YURISPRUDENCE SEBAGAI SUATU
PENGETAHUAN YANG SISTEMATIS DAN
TERORGANISASIKAN TENTANG GEJALA
HUKUM, STRUKTUR KEKUASAAN, NORMA-
NORMA, HAK2 DAN KEWAJIBAN

RADBRUCH:
ILMU YANG MEMPELAJARI MAKNA OBYEKTIF TATA HUKUM POSITIF,
YANG DISEBUTNYA JUGA DOGMATIK HUKUM
PAUL SHOLTEN:
ILMU HUKUM ADALAH BIDANG STUDI YANG MENELAAH HUKUM YANG
BERLAKU SEBAGAI SUATU BESARAN
MOCHTAR KUSUMAATMADJA:
ILMU HUKUM POSITIF (DOGMATIKA HUKUM/LEGAL DOCMATICS) ADALAH
ILMU TENTANG HUKUM YANG BERLAKU DI SUATU NEGARA ATAU
MASYARAKAT TERTENTU PADA SUATU SAAT TERTENTU. TUJUANNYA
UNTUK MEMAHAMI DAN MENGUASAI PENGETAHUAN TENTANG KAIDAH
DAN ASAS-ASAS UNTUK DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR MENGAMBIL
KEPUTUSAN.
SUNARYATI HARTONO:
ILMU HUKUM ADALAH ILMU NORMATIF. METODE PENELITIAN YANG KHAS
UNTUK ILMU HUKUM ADALAH METODE PENELITIAN HUKUM NORMATIF,
SEDANGKAN METODE PENELITIAN ILMU SOSIAL MERUPAKAN
PENUNJANGNYA YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBERIKAN DIAGNOSE
TENTANG KEPINCANGAN YANG TERDAPAT ANTARA HUKUM YANG
TERTULIS DAN RASA KEADILAN DAN KEPATUTAN YANG DIANUT OLEH
MASYARAKAT.
SEGALA HAL YANG BERKAITAN DENGAN
HUKUM, DIMULAI TEKS OTORITATIF
BERMUATAN ATURAN-ATURAN HUKUM
YANG TERDIRI ATAS PRODUK PER-
UNDANG2AN, PUTUSAN-PUTUSAN HAKIM,
HUKUM TIDAK TERTULIS, KARYA ILMUWAN
HUKUM YANG BERWIBAWA DALAM
BIDANGNYA (DOKTRIN), DAN BERLAKUNYA
HUKUM DI MASYARAKAT SAMPAI
PENGARUH ILMU-ILMU LAIN PADA ILMU
HUKUM

Mhs Kedokteran, mempelajari anatomi manusia
dan semua bagian tubuh dalam struktur,
hubungan, dan fungsinya.
Mhs hukum, mempelajari substansi hukum
harus belajar konsep hukum, kaidah-kaidah
hukum, struktur, dan fungsi hukum.
Mhs Kedokteran, juga mempelajari faktor eksternal
yg mempengaruhi tubuh, mis. Panas, dingin,
kuman , virus, dll.
Mhs Hukum, juga mempelajari faktor-faktor sosial,
politik, budaya, ekonomi, dan nilai-nilai. Namun
demikian mhs hukum tidak akan mampu
menelaah permasalahan hukum tanpa mempunyai
standar, nilai-nilai, teknik dan ketrampilan hukum,
dan metode yang disediakan ilmu hukum.


Pengantar Ilmu Hukum (PIH) kerapkali oleh
dunia studi hukum dinamakan Encyclopaedia
Hukum, yaitu mata kuliah dasar yang
merupakan pengantar (introduction atau
inleiding) dalam mempelajari ilmu hukum.
Dapat pula dikatakan bahwa PIH merupakan
dasar untuk pelajaran lebih lanjut dalam studi
hukum yang mempelajari pengertian-
pengertian dasar, gambaran dasar tentang
sendi-sendi utama ilmu hukum.
Tujuan dan Kegunaan Pengantar Ilmu Hukum

Tujuan Pengantar Imu Hukum adalah menjelaskan tentang
keadaan, inti dan maksud tujuan dari bagian-bagian penting
dari hukum, serta pertalian antara berbagai bagian tersebut
dengan ilmu pengetahuan hukum. Adapun kegunaannya
adalah untuk dapat memahami bagian-bagian atau jenis-
jenis ilmu hukum lainnya.

Kedudukan dan Fungsi Pengantar Ilmu Hukum

Kedudukan Pengantar Ilmu Hukum merupakan dasar bagi
pelajaran lanjutan tentang ilmu pengetahuan dari berbagai
bidang hukum. Sedangkan kedudukan dalam kurikulum
adalah sebagai mata kuliah keahlian dan keilmuan. Oleh
karena itu pengantar ilmu hukum berfungsi memberikan
pengertian-pengertian dasar baik secara garis besar maupun
secara mendalam mengenai segala sesuatu yang berkaitan
dengan hukum. Selain itu juga pengantar ilmu hukum juga
berfungsi pedagogis yakni menumbuhkan sikap adil dan
membangkitkan minat untuk dengan penuh kesungguhan
mempelajari hukum.

Ilmu Bantu Pengantar Ilmu Hukum
Sejarah hukum, yaitu suatu disiplin hukum yang mempelajari asal
usul terbentuknya dan perkembangan suatu sistem hukum dalam
suatu masyarakat tertentu dan memperbanding antara hukum yang
berbeda karena dibatasi oleh perbedaan waktu
Sosiologi hukum, yaitu suatu cabang ilmu pengetahuan yang secara
empiris dan analitis mempelajari hubungan timbal balik antara
hukum sebagai gejala sosial dengan gejala sosial lain (Soerjono
Soekanto)
Antropologi hukum, yakni suatu cabang ilmu pengetahuan yang
mempelajari pola-pola sengketa dan penyelesaiannya pada
masyarakat sederhana, maupun masyarakat yang sedang mengalami
proses perkembangan dan pembangunan/proses modernisasi
(Charles Winick).
Perbandingan hukum, yakni suatu metode studi hukum yang
mempelajari perbedaan sistem hukum antara negara yang satu
dengan yang lain. Atau membanding-bandingkan sistem hukum
positif dari bangsa yang satu dengan bangsa yang lain
Psikologi hukum, yakni suatu cabang pengetahuan yang
mempelajari hukum sebagai suatu perwujudan perkembangan jiwa
manusia (Purnadi Purbacaraka).
Metode Pendekatan Mempelajari Hukum
Metode Idealis ; bertitik tolak dari pandangan bahwa hukum sebagai
perwujudan dari nilai-nilai tertentu dalam masyarakat
Metode Normatif Analitis ; metode yg melihat hukum sebagai aturan
yg abstrak. Metode ini melihat hukum sebagai lembaga otonom dan
dapat dibicarakan sebagai subjek tersendiri terlepas dari hal2 lain
yang berkaitan dengan peraturan2. Bersifat abstrak artinya kata-
kata yang digunakan di dalam setiap kalimat tidak mudah dipahami
dan untuk dapat mengetahuinya perlu peraturan-peraturan hukum
itu diwujudkan. Perwujudan ini dapat berupa perbuatan-perbuatan
atau tulisan. Apabila ditulis, maka sangat penting adalah pilihan dan
susunan kata-kata.
Metode Sosiologis; metode yang bertitik tolak dari pandangan
bahwa hukum sebagai alat untuk mengatur masyarakat.
Metode Historis ; metode yang mempelajari hukum dengan melihat
sejarah hukumnya.
Metode sistematis; metode yang melihat hukum sebagai suatu
sistem
Metode Komparatif; metode yang mempelajari hukum dengan
membandingkan tata hukum dalam berbagai sistem hukum dan
perbandingan hukum di berbagai negara.
Manusia sebagai makhluk monodualistik :
Artinya adalah manusia selain sbg makhluk individu (perseorangan)
mempunyai kehidupan jiwa yg menyendiri namun manusia juga sebagai
makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Manusia lahir, hidup
dan berkembang dan meninggal dunia di dalam masyarakat.
Menurut Aristoteles (Yunani, 384-322 SM), bahwa manusia itu adalah ZOON
POLITICON artinya bahwa manusia itu sbg makhluk pada dasarnya selalu
ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya, jadi makhluk
yg suka bermasyarakat. Dan oleh karena sifatnya suka bergaul satu sama
lain, maka manusia disebut makhluk sosial.
Terjadilah hubungan satu sama lain yang didasari adanya kepentingan,
dimana kepentingan tsb satu sama lain saling berhadapan atau berlawanan
dan ini tidak menutup kemungkinan timbul kericuhan. Kepentingan adalah
suatu tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi.
Disinilah peran hukum mengatur kepetingan2 tersebut agar kepentingan
masing-masing terlindungi, sehingga masing-masing mengetahui hak dan
kewajiban. Pada akhirnya dengan adanya hukum masyarakat akan hidup
aman, tentram, damai, adil dan makmur.
Kesimpulan : dimana ada masyarakat disitu ada hukum (ubi societes ibi ius).
Hukum ada sejak masyarakat ada. Dapat dipahami disini bahwa hukum itu
sesungguhnya adalah produk otentik dari masyarakat itu sendiri yang
merupakan kristalisasi dari naluri, perasaan, kesadaran, sikap, perilaku,
kebiasaan, adat, nilai, atau budaya yang hidup di masyarakat.


Bagaimana corak dan warna hukum yang dikehendaki
untuk mengatur seluk beluk kehidupan masyarakat
yang bersangkutanlah yang menentukan sendiri.
A. Suatu masyarakat yang menetapkan tata hukumnya
sendiri dan tunduk pada tata hukum itu disebut
masyarakat hukum.
B. Mengapa masyarakat mentaati hukum karena
bermacam-macam sebab (Menurut Utrecht) :
a. Karena orang merasakan bahwa peraturan2 itu sebagai
hukum. Mereka benar-benar berkepentingan akan
berlakunya peraturan tersebut
b. Karena rasa ketentraman. Ia menganggap peraturan
hukum secara rasional (rationeele aanvaarding).
Penerimaan rasional ini sebagai akibat adanya sanksi
hukum. Agar tidak mendapatkan kesukaran2 orang
memilih untuk taat saja pada peraturan hukum karena
melanggar hukum mendapat sanksi hukum.

Definisi masyarakat :
Menurut Ralph Linton, masyarakat merupakan setiap kelompok
manusia yang hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga
mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka
sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang
dirumuskan dengan jelas.
Menurut Selo Soemarjan, masyarakat adalah orang yang hidup
bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
Menurut CST. Kansil, SH, masyarakat adalah persatuan manusia
yang timbul dari kodrat yang sama. Jadi masyarakat itu terbentuk
apabila ada dua orang atau lebih hidup bersama sehingga dalam
pergaulan hidup timbul berbagai hubungan yang mengakibatkan
seorang dan orang lain saling kenal mengenal dan pengaruh
mempengaruhi.

UNSUR MASYARAKAT :


manusia yang hidup bersama
berkumpul dan bekerja sama untuk waktu
lama
merupakan satu kesatuan
merupakan suatu sistem hidup bersama
mengatur kehidupan pribadi
Kaidah kepercayaan/agama, yang bertujuan untuk mencapai
suatu kehidupan yang beriman (Purnadi Purbacaraka). Kaidah ini
ditujukan terhadap kewajiban manusia kepada Tuhan. Sumbernya
adalah ajaran-ajaran kepercayaan/agama yang oleh pengikut-
pengikutnya dianggap sebagai perintah Tuhan, misalnya :
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah
suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Al Isra :
32).
Hormatilah orang tuamu agar supaya engkau selamat (Kitab Injil
Perjanjian Lama : Hukum yang ke V).
Kaidah kesusilaan, yang bertujuan agar manusia hidup
berakhlak atau mempunyai hati nurani. Kaidah ini
merupakan peraturan hidup yang dianggap sebagai suara
hati nurani manusia (insan kamil). Sumber kaidah ini adalah
dari manusia sendiri, jadi bersifat otonom dan tidak
ditujukan kepada sikap lahir tetapi ditujukan kepada sikap
batin manusia juga, misalnya :
Hendaklah engkau berlaku jujur.
Hendaklah engkau berbuat baik terhadap sesama manusia.

Kaidah yang mengatur kehidupan manusia
Kaidah yang mengatur kehidupan antara manusia atau pribadi
yang dibagi lebih lanjut menjadi :
Kaidah kesopanan, bertujuan agar pergaulan hidup
berlangsung dengan menyenangkan. Kaidah ini merupakan
peraturan hidup yang timbul dari pergaulan segolongan
manusia, misalnya :
Orang muda harus menghormati orang yang lebih tua
Janganlah meludah dilantai atau disembarang tempat.
Berilah tempat terlebih dahulu kepada wanita di dalam
kereta api, bis dll (terutama wanita tua, hamil atau
membawa bayi)
Kaidah hukum, bertujuan untuk mencapai kedamaian
dalam pergaulan hidup antar manusia. Kaidah ini adalah
peraturan-peraturan yang timbul dari norma hukum, dibuat
oleh penguasa negara. Isinya mengikat setiap orang dan
pelaksanaannya dapat dipertahankan dengan segala
paksaan oleh alat-alat negara misalnya.
Dilarang mengambil milik orang lain tanpa seizin yang
punya.

Perbedaan antara kaidah hukum dengan kaidah sosial lainnya :

Perbedaan antara kaidah hukum dan kaidah agama dan kesusilaan dapat dilihat dari berbagai segi
sbb :
Ditinjau dari tujuannya, kaidah hukum bertujuan untuk menciptakan tata tertib masyarakat dan
melindungi manusia beserta kepentingannya. Sedangkan kaidah agama dan kesusilaan bertujuan
untuk memperbaiki pribadi agar menjadi manusia ideal.

Ditinjau dari sasarannya : kaidah hukum mengatur tingkah laku manusia dan diberi sanksi bagi
setiap pelanggarnya, sedangkan kaidah agama dan kaidah kesusilaan mengatur sikap batin
manusia sebagai pribadi. Kaidah hukum menghendaki tingkah laku manusia sesuai dengan aturan
sedangkan kaidah agama dan kaidah kesusilaan menghendaki sikap batin setia pribadi itu baik.

Ditinjau dari sumber sanksinya, kaidah hukum dan kaidah agama sumber sanksinya berasal
dari luar dan dipaksakan oleh kekuasaan dari luar diri manusia (heteronom), sedangkan kaidah
kesusilaan sanksinya berasal dan dipaksakan oleh suara hati masing2 pelanggarnya (otonom).

Ditinjau dari kekuatan mengikatnya, pelaksanaan kaidah hukum dipaksakan secara nyata oleh
kekuasaan dari luar, sedangkan pelaksanaan kaidah agama dan kesusilaan(sekarang ada komisi
etika masing-masing profesi) pada asasnya tergantung pada yang bersangkutan.

Ditinjau dari isinya kaidah hukum memberikan hak dan kewajiban (atribut dan normatif) sedang
kaidah agama dan kaidah kesusilaan hanya memberikan kewajiban saja (normatif).
Perbedaan antara kaidah hukum dengan kaidah kesopanan
Kaidah hukum memberi hak dan kewajiban, kaidah
kesopanan hanya memberikan kewajiban saja.
Sanksi kaidah hukum dipaksakan dari masyarakat secara
resmi (negara), sanksi kaidah kesopanan dipaksakan oleh
masyarakat secara tidak resmi.
Perbedaan antara kaidah kesopanan dengan kaidah agama
dan kaidah kesusilaan
Asal kaidah kesopanan dari luar diri manusia, kaidah
agama dan kaidah kesusilaan berasal dari pribadi manusia
Kaidah kesopanan berisi aturan yang ditujukan kepada
sikap lahir manusia, kaidah agama dan kaidah kesusilaan
berisi aturan yang ditujukan kepada sikap batin manusia
Tujuan kaidah kesopanan menertibkan masyarakat agar
tidak ada korban, kaidah agama dan kaidah kesusilaan
bertujuan menyempurnakan manusia agar tidak menjadi
manusia jahat.
Hukum bertujuan untuk menciptakan
keseimbangan antara kepentingan
Hukum mengatur perbuatan manusia yang bersifat
lahiriah
Hukum dijalankan oleh badan-badan yang diakui
oleh masyarakat
Hukum mempunyai berbagai jenis sanksi yang
tegas dan bertingkat
Hukum bertujuan untuk mencapai kedamaian
(ketertiban dan ketentraman)
Isi kaidah hukum,
Ditinjau dari segi isinya kaidah hukum dapat dibagi menjadi
tiga :
Berisi tentang perintah, artinya kaidah hukum tersebut mau
tidak mau harus dijalankan atau ditaati, misalnya ketentuan
syarat sahnya suatu perkawinan, ketentuan wajib pajak dsb.
Berisi larangan, yaitu ketentuan yang menghendaki suatu
perbuatan tidak boleh dilakukan misalnya dilarang
mengambil barang milik orang lain, dilarang bersetubuh
dengan wanita yang belum dinikahi secara sah dsb.
Berisi perkenan, yaitu ketentuan yang tidak mengandung
perintah dan larangan melainkan suatu pilihan boleh
digunakan atau tidak, namun bila digunakan akan mengikat
bagi yang menggunakannya, misalnya mengenai perjanjian
perkawinan, pada waktu atau sebelum perkawinan
dilangsungkan kedua belah pihak atas persetujuan bersama
dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh
pegawai pencatat perkawinan. Ketentuan ini boleh dilakukan
boleh juga tidak dilaksanakan.

Dari beberapa perumusan tentang hukum yang
diberikan para sarjana hukum Indonesia diatas,
dapatlah disimpulkan bahwa kaidah hukum itu
meliputi beberapa unsur yaitu :

a. Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam
pergaulan masyarakat
b. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang
berwajib
c. Peraturan itu bersifat memaksa
d. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah
tegas
Mengapa kaidah hukum masih diperlukan, sementara
dalam kehidupan masyarakat sudah ada kaidah yang
mengatur tingkah laku manusia dalam pergaulan
hidupnya ?
Hal ini karena :
Masih banyak kepentingan-kepentingan lain dari
manusia dalam pergaulan hidup yang memerlukan
perlindungan karena belum mendapat perlindungan
yang sepenuhnya dari kaidah agama, kesusilaan dan
kaidah sopan santun, kebiasaan maupun adat

Kepentingan-kepentingan manusia yang telah mendapat
perlindungan dari kaidah-kaidah tersebut diatas, dirasa
belum cukup terlindungi karena apabila terjadi
pelanggaran terhadap kaidah tersebut akibat atau
ancamannya dipandang belum cukup kuat.
1. tata kaedah dengan aspek kehidupan
pribadi (sollen) yang terdiri dari :
a. kaidah kepercayaan dan keagamaan
b. kaidah kesusilaan
2. tata kaidah dengan aspek kehidupan antar
pribadi (sein) terdiri dari,
a. kaidah sopan santun atau adat
b. kaidah hukum
Kaedah-kaidah ini dapat dibedakan, tetapi tak
dapat dipisahkan.
Tentang Disiplin Hukum & Ilmu Hukum
Suatu disiplin adalah sistem ajaran mengenai
kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi.
Disiplin hukum adalah:
ajaran yang menentukan apakah yang
seyogyanya atau seharusnya dilakukan
(preskriptif); dan yang senyatanya dilakukan
(deskriptif) dalam hidup



Bagian batang dari Pohon Ilmu Hukum:
1. Dogmatik Hukum
a. Ilmu tentang Kaidah (normwissenschaft atau
sollenwissenschaft)
b. Ilmu tentang Pengertian
2. Ilmu tentang Kenyataan (tatschenwissenschaft atau
seinwissenschaft)
Bagian akar dari pohon ilmu hukum
Sejarah Hukum
Perbandingan Hukum
Filsafat Hukum
Sosiologi hukum
Antropologi hukum
Psikologi hukum


Bagian leherdari Pohon Ilmu Hukum: PolitikHukum
Bagian cabang Pohon Ilmu Hukum:
Hukum Administrasi Negara
HukumAcara
Hukum Tata Negara

Hukum Pidana
HukumAcara
Hukum Perdata
HukumAcara
Hukum Internasional
HukumAcara

1.Prof. Soebekti : dalam bukunya Dasar-dasar Hukum
dan Pengadilan : bahwa hukum itu mengabdi pada
tujuan negara, yaitu mendatangkan kemakmuran dan
kebahagiaan pada rakyatnya. Untuk itu hukum harus
menyelenggarakan ketertiban dan keadilan
(keseimbangan dilambangkan dengan neraca).
Keadilan itu berasal dari Tuhan, tetapi manusia diberi
kecakapan kecakapan atau kemampuan untuk
meraba adau keadaan yang disebut adil.
Keseimbangan tersebut harus seimbang antara
ketertiban dan kepastian.
2.Prof. Mr. Dr. L.J. van Aveldoorn : dalam bukunya
Inleiding tot de studie het Nederlandse recht,
mengemukakan bahwa tujuan hukum ialah mengatur
pergaulan hidup manusia secara damai, hukum
menghendaki perdamaian. Perdamaian dipertahankan
oleh hukum dengan melindungi kepentingan-
kepentingan hukum tertentu seperti : kehormatan,
kemerdekaan, jiwa, harta benda.
hukum akan mencapai tujuan jika menuju pada
peraturan yang adil.
Keadilan distributuf adalah keadilan yang memberikan
kepada setiap orang menurut jasanya (hak masing-
masing.
Keadilan komulatif adalah keadilan yang memberikan
pada setiap orang sama banyaknya dengan tidak
mengingat-ingat jasa perorangan.

3. Menurut teori etis : teori ini mengajarkan
bahwa hukum hanya menghendaki keadilan.
Isi hukum semata-mata ditentukan oleh
kesadaran etis mengenai apa yang adil dan
tidak adil.
4. Geny : dalam Science et technigue en droit
prive positif, mengajarkan bahwa hukum
bertujuan semata-mata untuk mencapai
keadilan, sebagai unsur keadilan
disebutkannya adalah kepentingan, daya
guna dan kemanfaatan.
5. Jeremy Betham : Introduction to the morals
and legislation berpendapat, bahwa hukum
bertujuan untuk mewujudkan semata-mata
apa yang berfaedah bagi orang. Karena apa
yang berfaedah bagi tiap-tiap orang dapat
berbeda-beda, maka tujuan hukum menurut
teori utilitis adalah menjamin adanya
kebahagiaan sebanyak-banyaknya orang.
Dalam hal ini berham menentukan tujuan
hukum adalah hal-hal yang berfaedah dan
bersifat umum.
6. Prof. Mr. van Kan, dalam bukujnya Inleiding tot de
Rechtswetenschap, mengemukakan, terdapat haidah-
kaidah agama, kesopanan dan kesusilaan ikut
berusaha dalam menyelenggarakan perlindungan
kepentingan orang dalam masyarakat. Dan kaedah
tersebut tidak cukup untuk mengatur kepentingan
orang dalam masyarakat disebabkan karena :
a. terdapat kepentingan yang tidak diatur 3 kaidah
tersebut, tetapi memerlukan perlindungan
b. sudah diatur oleh oleh ke3 kaidah tersebut, tetapi
tidak cukup terlidungi sehingga perlindungan
tersebut diberikan kepada hukum.
Dengen demikian hukum bertujuan untuk melindungi
dan menjaga kepentingan tiap orang.
Peristiwa hukum adalah peristiwa dalam kehidupan
sehari-hari yang membawa akibat yang diatur oleh
hukum atau peristiwa yang berdasarkan hukum ,
menimbulkan hak atau menghapuskannya.
Contohnya jual-beli.
Sifat peristiwa Hukum:
a. Bersahaja-sederhana bersegi satu, apabila akibat
hukumnya ditimbulkan oleh kehendak sepihak saja
(membuat wasiat)
b. Tidak sederhana- bersegi dua apabila merukan
gabungan atau rentetan kejadian atau apabila
akibat hukumnya ditimbulkan oleh kehandak 2
orang atau lebih. (perjanjian)
Peristiwa hukum dapat dibedakan sebagai
berikut :
a. Tindakan manusia, yang terdiri atas 2
macam
1. Yang tidak dilarang : perbuatan hukum
2. yang dilarang (bukan perbuatan hukum)
b. Tindakan manusia dapat berupa :
1. menyatakan keadaan : gila, lewat waktu
(daluarsa
2.Perkembangan fisik dalam kehidupan
manusia, kelahiran-dewasa-kematian.


Akibat hukum adalah akibat suatu tindakan hukum,
tindakan hukum adalah tindakan yang dilakukan
guna memperoleh suatu akibat yang dikehandaki
dan yang diatur oleh hukum. Contoh : membuat
wasiat, pernayaan pemutusan berhenti menyewa.
Akbat hukum dapat berupa :
a. lahir- berubah dan lenyapnya sesuatu keadaan.
Contoh : menjadi cakap berbuat hukum
b. Lahir-berubah dan lenyapnya suatu hubungan
hukum (lahirnya hak dan kewajiban hukum)
c. Sanksi : apabila melakukan tindakan melawan
hukum
Hubungan hukum adalah hubungan antara
dua subyek hukum atau lebih di mana hak
dan kewajiban disatu pihak berhadapan
dengan hak dan kewajiban dipihak lain.
Hubungan hukum memiliki 3 unsur
a. orang yang hak dan kewajibannya saling
berhadapan . Contohnya : jual beli
b.Obyeknya (jual beli, tanah-rumah dsb)
c. Hubungan terhadap obyek yang
bersangkutan (pembeli-penjual)

Subyek hukum yaitu segala sesuatu yang
dapat mempunyai hak dan kewajiban
menurut hukum
Satu pendukung hak dan kewajiban, jadi
memiliki wewenang hukum
Subyek hukum ada dua macam
a. Manusia
b. Badan hukum.
KEKUATAN BERLAKUNYA HUKUM KEKUATAN BERLAKUNYA HUKUM
Sebelum Sebelum membahas membahas Sumber Sumber- -sumber sumber hukum hukum, , ada ada
baiknya baiknya perlu perlu memahami memahami bahwa bahwa ada ada tiga tiga dasar dasar
kekuatan berlakunya hukum (peraturan perundang kekuatan berlakunya hukum (peraturan perundang
undangan undangan), ), yaitu yaitu
1. 1. Kekuatan Kekuatan berlaku berlaku yuridis yuridis
2. 2. Kekuatan Kekuatan berlaku berlaku sosiologis sosiologis; ;
3. 3. Kekuatan Kekuatan berlaku berlaku filosofis filosofis. .
Ketiganya Ketiganya merupakan merupakan syarat syarat kekuatan kekuatan berlakunya berlakunya
suatu suatu peraturan peraturan perundang perundang- -undangan undangan yg yg
diharapkan diharapkan memberikan memberikan dampak dampak positif positif bagi bagi
pencapaian pencapaian efektifitas efektifitas hukum itu sendiri. hukum itu sendiri.
1. Dasar kekuatan berlaku yuridis
Harus menunjukkan :
Keharusan adanya kewenangan dari pembuat peraturan
perundang-undangan, dalam arti harus dibuat oleh badan atau
pejabat yg berwenang;
Keharusan adanya kesesuaian bentuk atau jenis
peraturanperundang-undangan dengan materi yg diatur, terutama
kalaudiperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yg
lebihtinggi atau sederajat;
Keharusan mengikuti tatacara tertentu, seperti pengudangan atau
pengumuman setiap undang-undang harus dalam Lembaran
Negara, atau peraturan daerah harus mendapat persetujuan dari
DPRD bersangkutan.
Keharusan bahwa tidak bertentangan dengan peraturanperundang-
undangan yg lebih tinggi tingkatannya.
Dasar kekuatan berlaku sosiologis harus mencerminkan kenyataan
penerimaan dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto dan
Purnadi Purbacaraka bahwa landasan teoritis sebagai dasar
sosiologis berlakunya suatu kaidah Hukum didasarkan pada dua
teori yaitu
Teori kekuasaan bahwa secara sosiologis kaidah hukum berlaku
karena paksaan penguasa, terlepas diterima atau tidak diterima
oleh masyarakat;
Teori Pengakuan bahwa kaidah hukum berlaku berdasarkan
penerimaan dari masyarakat tempat hukum itu berlaku
D. DASAR BERLAKU FILOSOPIS
Dasar kekuatan berlaku filosofis,
menyangkut Pandangan mengenai inti
atau hakikat dari kaidah Hukum itu, yaitu
apa yg menjadi cita hukum (rechtsidee)
yaitu apa yg mereka harapkan dari
Hukum, misalnya untuk menjamin
keadilan,Ketertiban, kesejahteraan, dan
sebagainya.
Bersifat Terbuka
Memberitahu terlebih dahulu
Tujuannya jelas
Mengatasi goncangan
SUMBER HUKUM
1. Istilah sumber hukum menurut SudiknoMertokusumo, sering
digunakan dalam beberapa arti
2. Sebagai asas hukum, yaitu sesuatu yg merupakan
permulaan hukum, misalnya Kehendak Tuhan, Akal
Manusia, Jiwa Bangsa, dsb.
3. Menunjukkan sumber hukum terdahulu yg memberi
bahan-bahan yg sekarang berlaku.
4. Sebagai sumber berlakunya yg memberi kekuatan berlaku
secara formal kepada peraturan hukum, misalnya
penguasa dan masyarakat.
5. Sebagai Sumber darimana hukum itu dapat
diketahui,misalnya dokumen-dokumen, undang-undang,
batu bertulis, daun lontar,dsb.
6. Sebagai sumber terbentuknya hukum atau sumber yg
menimbulkan hukum.
Ada dua jenis sumber hukum yaitu:
1. Sumber Hukum Materiil yaitu sumber hukum yg
menentukan isi suatu peraturan atau kaidah
hukum yg mengikat setiap orang. Sumber hukum
materiil berasal dari perasaan hukum masyarakat
pendapat umum, kondisi sosial-ekonomi, hasil
penelitian ilmiah, tradisi, agama,
moral,perkembangan internasional, geografis dan
politik hukum.
2. Sumber Hukum Formil
Sumber hukum formil yang dikenal dalam ilmu
hukum berasal dari 6 Jenis, yaitu

UU;
kebiasaan;
traktat;
yurisprudensi;
Doktrin; dan
Hukum agama.
a. Undang-undang
yaitu peraturan-peraturan tertulis yang dibuat oleh
alat perlengkapan negara yang berwenang dan
mengikat setiap orang selaku warga negara. UU
dapat berlaku dalam masyarakat, apabila telah
memenuhi persyaratan tertentu.
Dalam istilah ilmu hukum, UU dibedakan atas 2 jenis,
yaitu:
UU dalam arti materil, setiap keputusan pemerintah yg
dilihat dari isinya disebut UU dan mengikat setiap orang
secara umum. Namun tdk semua UU dapat disebut UU
dalam arti materil karena ada UU yang hanya khusus
berlaku bagi sekelompok orang tertentu sehingga
disebut UU dalam arti formal saja, mis. UU No. 62/1958
ttg Naturalisasi.
UU dalam arti formil, setiap keputusan pemerintah yg
dilihat dari segi bentuk dan cara terjadinya dilakukan
menurut/secara prosedur dan formal.
Asas hukum ttg berlakunya UU, yaituUU tdk
berlaku surut;
Asas lex superior derogat legi inferiors;(aturan
yang lebih tinggi menyampingkan yang lbh
rendah)
Asas lex posteriori derogat legi priori,(yang baru
menyampingkan yang lama)
Asas lex specialis derogat legi general (yang
khusus menyampingkan yang umum)

Dalam hukum terdapat azas perundang-undangan, antara lain :

1. Azas legalitas, berisikan "nullum delictum nula poena sine praevia lege poenali",
yang artinya tidak ada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali telah ada ketentuan
atau undang-undangnya. Hal ini dapat dipahami bahwa segala perbuatan
pelanggaran atau kejahatan apapun tidak dapat dipidana atau diberi hukuman bila
tidak ada undang-undang yang mengaturnya.

2. "Lex specialis derogat legi generali", artinya hukum yang khusus
mengesampingkan hukum yang umum. Atau segala undang-undang ataupun
peraturan yang khusus mengabaikan atau mengesampingkan undang-undang yang
umum. Contoh : Apabila terdapat kekerasan dalam rumah tangga, maka pelaku
dapat dikenai UU KDRT, bukan KUHPidana. Pemakaian hukum yang khusus ini
antara lain karena hukumannya yang lebih berat dibandingkan dengan KUHPidana.

3. "Lex posteriori derogat legi priori", artinya hukum yang baru mengesampingkan
hukum yang lama. Maksudnya ialah, UU yang baru mengabakan atau
mengesampingkan UU yang lama dalam hal yang sama. Dengan kata lain UU yang
baru ini dibuat untuk melengkapi dan menyempurnakan serta mengoreksi UU yang
lama. Sehingga UU yang lama sudah tidak berlaku lagi.

4. "Lex superior derogat legi inferiori", artinya hukum yang urutan atau tingkatnya
lebih tinggi mengesampingkan atau mengabaikan hukum yang lebih rendah. Bila
terdapat kasus yang sama, akan tetapi ketentuan undang-undangnya berbeda, maka
ketentuan undang-undang yang dipakai adalah UU yang tingkatnya lebih tinggi.
Contoh : UU lebih tinggi dari PP, maka PP diabaikan dan harus berpatokan pada UU.
b. Kebiasaan
Merupakan sumber hukum yg ada dalam
kehidupan sosial masyarakat dan dipatuhi
sebagai nilai2 hidup yang positif. Namun tdk
semua kebiasaan itu mengandung hukum yg
adil dan mengatur tata kehidupan masyarakat
sehingga tdk semua kebiasaan dijadikan
sumber hukum. Selain kebiasaan dikenal pula
adat istiadat yaitu himpunan kaidah sosial
berupa tradisi yg umumnya bersifat sakral yg
mengatur tata kehidupan sosial masyarakat
tertentu.
C. Traktat
Atau perjanjian antar negara merupakan suatu
perjanjian internasional antar 2 negara atau
lebih.
Traktat dapat dijadikan sumber hukum formal jika
memenuhi syarat formal tertentu, mis. dgn proses
ratifikasi. Traktat dlm hukum internasional
dibedakan
atas 2 jenis: (i) perjanjian yg harus disampaikan
kepada DPR utk disetujui sebelum diratifikasi
kepala
negara; (2) agreement, perjanjian yg
dilaksanakan terlebih dahulu baru diratifikasi
oleh kepala negara baru disampaikan
kepadaDPR utk diketahui.
D. Kebiasaan
Suatu adat istiadat dan kebiasaan dapat menjadi hukum kebiasaan
atau hukum tdk tertulis apabila telah memenuhisyarat2 yaitu
1) syarat materil, yaitu kebiasaan itu berlangsungterns menerus dan
dilakukan dgn tetap;
2) syarat psikologis,yaitu ada keyakinan warga masyarakat bhw
perbuatan atau kebiasaan itu masuk akal sebagai suatu kewajiban;
3) syarat sanksi, yaitu ada sanksi apabila kebiasaan itu dilanggar atau tdk
ditaati oleh warga masyarakat.

Perbedaan prinsipil antara hukum kebiasaan dan hukum adat yaitu :
1) hukum kebiasaan seluruhnya tdk tertulis sedangkan hukum adat ada
yg tertulis atau chtuhskan;
2) hukum kebiasaan berasal dan kontrak Emsosial, sedangkan hukum
adat berasal dan kehendak nenek moyang, agama dan tradisi
masyarakat.
E. yurispruedensi
Putusan hakim yg memuat pertauran tersendiri
dan telah berkekuatan hukum tetap kemudian
diikuti oleh hakim lain dalam peristiwa yg sama
yang terjadi kemudian. Yurisprudensi biasa juga
disebut judgemade law (hukum yg dibuat
pengadilan)sedangkan yurisprudenc di negara2
anglo saxon atau common law diartikan sebagai
ilmu hukum.
F. Doktrin
Pendapat atau ajaran para ahli hukum (juris) yg
berkembang dan mendapat pengakuan dari
masyarakat misalnya hakim dalam memeriksa
perkara atau pertimbangan putusannya dapat
menyebut doktrin dari ahli hukum tertentu dengan
demikian hakim diangap telah menemukan
hukumn.
Sumber hukum abnormal
Revolosi:terjadi perubahan pemerintahan secara
tiba-tiba.
Cup detat (penggulingan pemerintahan kemudian
pembentukan pemerintahan baru).

Penafsiran gramatikal, adalah penafsiran menurut tata bahasa atau kata kata di dalam
undang-undang tersebut.
Penafsiran historis atau sejarah adalah meneliti sejarah dari undang-undang yang
bersangkutan, dengan demikian hakim mengetahui maksud pembuatannya.
Penafsiran historis dibedakan menjadi penafsiran menurut sejarah undang-
undang (wet historische interpretatie) dan penafsiran menurut sejarah hukum
(rechts historische interpretatie).
Penafsiran sistematis yaitu penafsiran yang menghubungkan pasal satu dengang pasal
yang lain dalam suatu perundang-undangan yang bersangkakutan atau
perundang-undangan lain atau membaca penjelasan undang-undang sehingga
mengerti maksudya.
Penafsiran sosiologis adalah penafsiran yang disesuaikan dengan keadaan sosial
dalam masyarakat agar penerapan hukum sesuai dengan tujuannya yaitu
kepastian hukum berdasarkan asas keadilan masarakat.
penafsiran otentik atau penafsian secara resmi yaitu penafsiran yang dilakukan oleh
pembuat undang-undang itu sendiri, tidak boleh oleh siapapun, hakim juga tidak
boleh menafsirkan,
Penafsiran analogis yaitu penafsiran dengan memberi ibarat/kias, sesuai dengan azas
hukumnya sehingga suatu peristiwa yang tidak cocok dengan peraturannya
dianggap sesuai dengan bunyi peraturan itu.
Penafsiran a contratrio yaitu penafsiran dengan cara melawankan pengertian antara
soal yang dihadapi dengan masalah yang diatur dalam suatu pasal undang-
undang.
Penafsiran ekstensif yaitu penafsiran dengan memperluas arti kata-kata dalam
peraturan sehingga suatu peristiwa dapat dimasukan.
Penafsiran restriktif yaitu penafsiran dengan membatasi arti kata-kata dalam
peraturan.
Penafsiran perbandingan yaitu penafsiran komparatif dengan cara membandingkan
penjelasan-penjelasan agar ditemukan kejelasan suatu ketentuan undang-
undang.
SISTEM HUKUM DUNIA

Sistem hukum Eropa Kontinental
Sistem hukum Anglo Saxon
Sistem hukum Adat
Sistem hukum Islam
SISTEM HUKUM:
SUBSTANSI, STRUKTUR, BUDAYA
HUKUM
EROPA KONTINENTAL
Sering dikenal juga sebagai sistem hukum CIVIL LAW.
Sebagian besar negara-negara Eropa daratan dan daerah bekas
jajahan / koloni nya; ex: Jerman, Belanda, Perancis, Italia,
negara2 Amerika Latin dan Asia.

ANGLO SAXON
Mulai berkembang di Inggris pada abad 16
Sering disebut sebagai COMMON LAW
Berkembang diluar Inggris di Kanada, USA, dan bekas koloni
Inggris (negara persemakmuran/ common wealth); spt: Australia,
Malaysia, Singapore, India, dll.
HUKUM ADAT

Seperangkat aturan tidak tertulis yang merupakan
kristalisasi nilai2 yg hidup di masyarakat yang dijadikan
pedoman masyarakat untuk menjalankan aktifitas nya,
dan ditegakkan oleh organisasi adat yang mendapatkan
mandat.

Hanya terdapat dalam kehidupan sosial di Indonesia dan
beberapa negara-negara Asia lainnya; seperti Cina, India
Jepang, dll.

Bersumber kepada peraturan-peraturan hukum tidak
tertulis yang tumbuh berkembang dan dipertahankan
dengan kesadaran hukum masyarakatnya

HUKUM ISLAM (HUKUM AGAMA)
SUATU SISTEM HUKUM YANG MENDASARKAN
KETENTUAN-KETENTUAN YANG TELAH
DITETAPKAN OLEH ALLAH (KITAB AL-QURAN)
DAN RASUL-NYA (KITAB HADIS) KEMUDIAN
DISEBUT DENGAN SYARIAT ATAU HASIL
PEMAHAMAN ULAMA TERHADAP KETENTUAN DI
ATAS (KITAB FIQIH) KEMUDIAN DISEBUT
DENGAN IJTIHAD YANG MENATA HUBUNGAN
MANUSIA DENGAN ALLAH, MANUSIA DENGAN
MANUSIA DAN MANUSIA DENGAN BENDA.
PENGEMBANGAN HUKUM TEORETIKAL










FILSAFAT HUKUM
TEORI HUKUM
ILMU HUKUM
PENGEMBANGAN HUKUM PRAKTIKAL
LOGIKA
SEJARAH HUKUM
SOSILOGI HK
ANTROPOLOGI HK
PSIKOLOGI HK
EMPERIKAL
1.MASALAH FUNDAMENTAL:
2.APA LANDASAN MENGIKAT HK
3.APA KRITERIA KEADILAN
1.MEMPERSOALKAN AJARAN ILMU DAN AJARAN
METODE DR DH
2. MENELAAH PENGERTIAN HK, PENGERTIAN2 DLM HK,
METODOLOGI PEMBENTUKAN HK & PENERAPAN HK
MENETAPKAN APA HKNYA BG SITUASI KONGKRIT
PEMBENTUKAN HUKUM (PROSES POLITIK &KARYA YURIDIK
PENERAPAN HUKUM & PENEGAKAN HUKUM; PENEMUAN HUKUM & INTERPRETASI HK
NORMATIF
DOGMATIK &
PERB.HK
ILMU HUKUM
Jurisprudence: Ilmu pengetahuan yg
mempelajari hukum
jus, juris: Hukum atau Hak.
Prudentia: Pengetahuan ( melihat ke depan
atau melihat keahlian)
1. Dalam arti sempit IH = Rechtsdomatiek
=Dogmatika hukum
2. Dalam arti luas IH = Sosiologi Hk; Sejarah Hk;
Antropologi Hk; Psikologo Hk

UNESCO (1980) mengklasifikasi ilmu ke dalam
Ilmu Eksakta, Ilmu Sosial, Humaniora
ILMU HUKUM DOGMATIK
DOKMATIKA HUKUM UNTUK MENUNJUK
PADA KEGIATAN ILMIAH YG MELAKUKAN
INVENTARISASI, INTERPRETASI,
SISTEMATISASI DAN EVALUASI PRODUK
PERUU; PUTUSAN HAKIM; HK TIDAK
TERTULIS; DOKTRIN ILMU HK YG
BERWIBAWA. DLM UPAYA UNTUK
MENEMUKAN & MENAWARKAN
ALTERNATIF PENYELESAIAN YURIDIKAL
BG MASALAH2 KEMASYARAKATAN
TEORI HUKUM
Disiplin hukum yang dlm perspektif
interdisipliner dan eksternal secara kritis
menganalisis berbagai aspek gejala hukum,
baik tersendiri maupun dalam kaitan
keseluruhan, baik dalam konsepsi teoritisnya
maupun dalam kaitan keseluruhan, baik dalam
konsepsi teoretisnya maupun dalam
pengejawantahan praktisnya, dg tujuan untuk
memperoleh pemahaman yg lebih baik dan
memberikan penjelasan sejernih mungkin
tentang bahan hukum yang tersaji dan kegiatan
yuridis dalam kenyataan kemasyarakatan.
(TIH: Teori Hukum, Hukum dan Logika,
Metodologi)
BERASAL DARI ISTILAH LEGAL THEORY, YURISPRUDENCE,
RECHTS THEORY. (ABAD 19). DIAWALI MINAT FH MENGALAMI
KELESUAN KRN TERLALU ABSTRAK & SPEKULATIF. DH
TERLALU KONGKRET DAN TERIKAT RUANG DAN WAKTU.
DILATARI DG KEBERADAAN DISIPLIN ILMIAH TTG HUKUM
MEMUNCULKAN THE CHALLENGE OF SYNTHESIS (SELZNICK-
NONET) = SISTEMATIKAL-METODIKAL-
RASIONAL=INTERDISIPLINER
POKOK TELAAH: A) ANALISIS PENGERTIAN HUKUM,
PENGERTIAN & STRUKTUR SISTEM HUKUM, SIFAT DAN
STRUKTUR KAIDAH HUKUM ATAU ASAS HUKUM; B) METODE
PENERAPAN HUKUM; C)EPISTOMOLOGI HK; D) KRITIK THD
KAIDAH HUKUM POSITIF
TUGAS TEORI HUKUM (RADBRUCH): MEMBIKIN JELAS NILAI-
NILAI SERTA POSTULAT-POSTULAT HUKUM SAMPAI KEPADA
LANDASAN FILOSIFISNYA YANG TERTINGGI.
FILSAFAT HUKUM
1. Sebagai suatu disiplin spekulatif yg berkenaan dg
penalaran2 nya tdk dpt diuji secara rasional
(Tammelo).
2. Sebagai disiplin yg mencari pengetahuan tentang
hukum yg benar, hukum yg adil (H.Kelsen).
3. Sbg refleksi atas dasar2 dr kenyataan, suatu bentuk dr
berfikir sistematis yg hanya merasa puas dg hasil2
yang timbul dr pemikiran itu sendiri dan yg mencari
hubungan teorikal terefleksi, yg di dlmnya gejal hukum
dpt dimengerti dan dpt dipikirkan (D. Meuwissen)
4. Sebagai disiplin yg mencari pengetahun ttg hakikat
(sifat)dr keadilan; ttg bentuk keberadaan transenden
dan imanen dr hukum; ttg nilai2 yg di dlmnya hk
berperan ttg hubungan antara hk dg keadilan; ttg
struktur dr pengetahuan ttg moral dan dr ilmu hukum;
ttg hubungan antara hukum dan moral (Darbellay)
FILSAFAT HUKUM DEWASA INI
MEMUSAKAN PADA PENGKAJIAN DWI
TUNGGAL PERTANYAAN INTI

1. APA LANDASAN MENGIKAT HUKUM.
2. APA KRITERIA KEADILAN DR KAIDAH
HUKUM POSITIF SERTA SISTEM
HUKUM SEC.KESELURUHAN

TUJUAN ILMU HK:
REFLEKSI TEORITIS INTELEKTUAL
UNTUK MENEMUKAN HAKIKAT DARI
ASAS-ASAS HUKUM YANG LAHIR DARI
SUATU ATURAN HUKUM.
Will Durant (The Story of Philosophy):
Filsafat diibaratkan sbg marinir yg merebut pantai
untuk pendaratan pasukan infantri. Setelah itu PI
(Ilmu) membelah gunung dan merambah hutan
menyempurnakan kemenangan itu menjadi
pengetahuan.
Semua Ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial
bermula sebagai filsafat (Filsafat Alam = Fisika;
Filsafat moral = Ekonomi.
PEMBIDANGAN ILMU HUKUM

1. TERTULIS DAN TDK TERTULIS
2. HUKUM PRIVAT DAN PUBLIK
3. Hukum lokal- HUKUM NASIONAL DAN
INTERNASIONAL
4. HUKUM MATERIIL DAN FORMIL
HUKUM TATA NEGARA
CABANG ILMU HUKUM YANG MEMPELAJARI
PRINSIP-PRINSIP DAN NORMA-NORMA HUKUM
YANG TERTUANG TERTULIS MAUPUN YANG
HIDUP DALAM KENYATAAN PRAKTIK
KENEGARAAN BERKENAAN DG: 1) KONSTITUSI;
2) INSTITUSI-INSTITUSI KEKUASAAN NEGARA
BESERTA FUNGSI2NYA;3) MEKANISME
HUBUNGAN ANTAR INSTITUSI; 4) PRINSIP2
HUBUNGAN ANTARA INSTITUSI KEKUASAAN
NEGARA DENGAN WARGA NEGARA
HUKUM INDONESIA
1. HUKUM EKONOMI (HUKUM PERDATA &
DAGANG)
2. HUKUM PIDANA;
3. HUKUM TATA NEGARA;
4. HUKUM ADMINISTRASI NEGARA;
5. HUKUM ISLAM;
6. HUKUM ADAT;
7. HUKUM INTERNASIONAL;
8. HUKUM ACARA (PERDATA; PIDANA; AGAMA;
TUN; MILITER; NIAGA; MK)
9. SISTEM PERADILAN.


HUKUM DAN PERATURAN-PERATURAN YANG
BERKENAAN DENGAN PEMERINTAH DALAM
ARTI SEMPIT ATAU ADMINISTRASI NEGARA,
PERATURAN-PERATURAN TERSEBUT
DIBENTUK OLEH LEMBAGA LEGISLATIF
UNTUK MENGATUR TINDAKAN
PEMERINTAHAN DALAM HUBUNGANNYA
DENGAN WARGA NEGARA, DAN SEBAGIAN
PERATURAN2 ITU DIBENTUK PULA OLEH
ADMINISTRASI NEGARA
BAGIR MANAN
KEILMUAN YANG MENGATUR TINGKAH LAKU
NEGARA (ALAT PERLENGKAPAN NEGARA)
DIMASUKKAN DALAM KELOMPOK HUKUM
TATA NEGARA; SEDANGKAN HUKUM YANG
MENGATUR TINGKAH LAKU PEMERINTAH
(DALAM ARTI ADMINISTRASI NEGARA) MASUK
DALAM KELOMPOK HUKUM ADMINISTRASI
NEGARA
HUKUM PIDANA

SEJUMLAH PERATURAN YANG
MENGANDUNG LARANGAN2 ATAU
KEHARUSAN2 DIMANA TERHADAP
PELANGGARNYA DIANCAM DENGAN
HUKUMAN

1. HUKUM PIDANA MATERIIL :
BERISI PERATURAN2 TENTANG : PERBUATAN YG DIANCAM
DG HUKUMAN; PERTANGGUNGJAWABAN THD HUKUM
PIDANA; HUKUMAN YANG DIJATUHKAN TERHADAP
SUBYEK HUKUM YANG MELAKUKAN PERBUATAN YANG
BERTENTANGAN DENGAN HUKUM (MISAL: KUHP ATAU
WET BOEK VAN STRAFRECHT; UU. ANTI TERORIS;
UU.KDRT)

2.HUKUM PIDANA FORMIL :
SEJUMLAH PERATURAN YANG MENGANDUNG CARA2 NEGARA
MEMPERGUNAKAN HAKNYA UNTUK MENGADILI SERTA
MEMBERIKAN PUTUSAN THD SUBYEK HUKUM YANG
DIDUGA MELAKUKAN TINDAK PIDANA (UU NO.8 TH 1981
TENTANG HUKUM ACARA PIDANA)

HUKUM PERDATA
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG
YANG MENGATUR HUBUNGAN HUKUM
PRIVAT ANTARA SUBYEK HUKUM YANG
DIANTARANYA MENCAKUP HUKUM BADAN
PRIBADI, HUKUM KELUARGA, HUKUM BENDA,
HUKUM PERIKATAN, HUKUM WARIS.

KUHPER (KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM
PERDATA-BURGERLIJK WETBOEK- 1 MEI
1848: 1) ORANG, II) BENDA, III) PERIKATAN,
IV) PEMBUKTIAN DAN DALUWARSA)
HUKUM DAGANG
PURWOSUTJIPTO:
HD: hukum perikatan yang timbul khusus dari
lapangan Perusahaan

Rochmat Soemitro
HE: Keseluruhan norma-norma yang dibuat oleh
pemerintah atau penguasa sebagai suatu
personifikasi dari masyarakat yang mengatur
kehidupan ekonomi dimana kepentingan individu dan
kepentingan masyarakat saling berhadapan.

Adi Sulistiyono
HE: Peraturan peruu-an yang dibuat oleh lembaga
atau pejabat yang mempunyai legalitas, untuk
mengatur aktifitas, perilaku pelaku ekonomi dan
pertumbuhan sektor ekonomi serta mekansime
penyelesaian sengketanya, yang substansinya
dipengaruhi oleh sistem ekonomi yang terdapat
dalam konstitusi negara tsb.


DASAR HUKUM

KUHD(WETBOEK VAN KOPHANDHEL)1848-Ind).
Peraturan Peruu-an bidang Perdagangan di
Luar Kodifikasi.
HUBUNGAN KUHD DAN KUHPER
KUHPER (BW) Merupakan hk perdata umum,
sedangkan KUHD mrp hukum perdata khusus.
(LS deogat LG).
Pasal 1 KUHD: KUHPer, seberapa jauh dalam
KUHD tidak khusus diadakan penyimpangan2,
berlaku juga thd hal2 yang disinggung dalam
KUHD.

ATURAN YANG MEMBERI LANDASAN HUKUM
KEBERADAAN LEMBAGA-LEMBAGA YANG MEWADAHI
PARA PELAKU BISNIS DLM MENJALANKAN
AKTIFITASNYA.

UU NO.25 TAHUN 1992 Tentang PERKOPERASIAN
UU No.2 Tahun 1992 Tentang USAHA PERASURANSIAN
UU N0.40 TAHUN 2008 Tentang PERSEROAN TERBATAS
UU No 10 Tahun 1998 Tentang PERBANKAN
UU No. 3 Tahun 2004 Tentang BANK INDONESIA
UU No.16 Tahun 2001 Tentang YAYASAN (diperbarui UU
No.28 Th 2004)
UU No. 19 Tahun 2003 Tentang BUMN (BADAN USAHA MILIK
NEGARA)
UU. No.21 Tahun 2008 Tentang PERBANKAN SYARIAH

ATURAN YANG MEMBERI LANDASAN HUKUM DALAM MENGATUR PERILAKU
PELAKU BISNIS DALAM MENJALANKAN AKTIFITAS

UU No.3 Tahun 1982 Tentang WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN
UU No. 5 Tahun 1984 Tentang PERINDUSTRIAN
UU NO. Tahun 1992 Tentang PENERBANGAN
UU.No.8 Tahun 1995 Tentang PASAR MODAL
UU No. 23 Tahun 1997 Tentang PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
UU No. 24 Tahun 1997 Tentang PENYIARAN
UU No.32 Tahun 1997 Tentang PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI
UU No. 5 Tahun 1999 Tentang LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN
PERSAINGAN TIDAK SEHAT.
UU No.8 Tahun 1999 Tentang PERLINDUNGAN KONSUMEN
UU No.24 Tahun 1999 Tentang LALU LINTAS DEVISA DAN SISTEM NILAI
TUKAR
UU No.18 Tahun 1999 Tentang JASA KONSTRUKSI
UU No.9 Tahun 1999 Tentang PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN
BERJANGKA KOMODITI.
UU No. 36 Tahun 1999 Tentang TELEKOMUNIKASI



UU No.29 Tahun 2000 Tentang PERLINDUNGAN
VARIETAS TANAMAN
UU No. 30 Tahun 2000 Tentang RAHASIA DAGANG
UU No. 31 Tahun 2000 Tentang DESAIN INDUSTRI
UU No.32 Tahun 2000 Tentang DESAIN TATA LETAK
SIRKUIT TERPADU.
UU No. 14 Tahun 2001 Tentang PATEN
UU No. 15 tahun 2001 Tentang MEREK
UU No.19 Tahun2002 Tentang HAK CIPTA
UU No. 22 Tahun 2001 Tentang MINYAK DAN GAS
BUMI
UU No.15 Tahun 2002 Tentang TINDAK PIDANA
PENCUCIAN UANG
UU No. 17 Tahun 2003 Tentang KEUANGAN NEGARA
UU No.21 Tahun 2003 Tentang PENGESAHAN
KONVENSI ILO NO.81 MENGENAI PENGAWASAN
KETENAGAKERJAAN DLM INDUSTRI DAN
PERDAGANGAN


UU No.19 Tahun 2004 Tentang KEHUTANAN (UU
No.41/1999-Perpu No.1/2004-judicial review di MK larangan
penambangan di hutan lindung tdk dikabulkan)
UU No. 24 Tahun 2004 Tentang LEMBAGA PENJAMIN
SIMPANAN
UU No.37 Tahun 2004 Tentang KEPAILITAN DAN
PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG (No. 4
Tahun 1998)
UU No. 17 Tahun 2006 Tentang KEPABEANAN
UU No. 25 Tahun 2007 Tentang PENANAMAN MODAL
UU No. 39 Tahun 2007 Tentang CUKAI
UU NO..19 Tahun 2008 Tentang SURAT BERHARGA
SYARIAH NEGARA
UU. No.1 TH 2009 Tentang Penerbangan
UU.No.4 TH 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara
UU.No.5 TH 2009 Tentang Pengesahan United Nations
Convention Againts Transnational Organized Crime
UU.No.9 TH 2009 Tentang BHP
ATURAN YANG MENGATUR KEBERADAAN
MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA.

UU No. 5 Tahun 2004 Tentang MAHKAMAH AGUNG
UU No. 4 Tahun 2004 KEKUASAAN KEHAKIMAN
UU No.30 Tahun 1999 Tentang ARBITRASE DAN
ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA
UU No.2 Tahun 2004 Tentang PENYELESAIAN
PERSELISIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
UU No.14 Tahun 2002 Tentang PENGADILAN
PAJAK
UU No 3 Tahun 2009 tentang PERUBAHAN KEDUA
UU.NO.14 TH 1985 TENTANG MAHKAMAH
AGUNG
HUKUM ISLAM
SUATU SISTEM HUKUM YANG MENDASARKAN
KETENTUAN-KETENTUAN YANG TELAH
DITETAPKAN OLEH ALLAH (KITAB AL-QURAN)
DAN RASUL-NYA (KITAB HADIS) KEMUDIAN
DISEBUT DENGAN SYARIAT ATAU HASIL
PEMAHAMAN ULAMA TERHADAP KETENTUAN DI
ATAS (KITAB FIQIH) KEMUDIAN DISEBUT
DENGAN IJTIHAD YANG MENATA HUBUNGAN
MANUSIA DENGAN ALLAH, MANUSIA DENGAN
MANUSIA DAN MANUSIA DENGAN BENDA.
1. UU PERADILAN AGAMA
2. UU PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI
(UU.NO.17 TH 1999)
3. UU PENGELOLAAN ZAKAT (UU.NO.36
TAHUN 1999)
4. UU PERBANKAN SYARIAH
5. UU OTONOMI KHUSUS PROPINSI
DAERAH ISTIMEWA ACEH ( UU NO.18
TH 2001)
6. UU ANTI-PORNOGRAFI

HUKUM INTERNASIONAL

Seperangkat aturan hukum yang dijadikan
pedoman untuk mengatur aktifitas
hubungan internasional subyek hukum
baik dalam lapangan hukum privat
maupun hukum publik.
KEKUASAAN KEHAKIMAN

KEKUASAAN KEHAKIMAN ADALAH
KEKUASAAN NEGARA YANG MERDEKA
UNTUK MENYELENGGARAKAN PERADILAN
GUNA MENEGAKKAN HUKUM DAN
KEADILAN BERDASAR PANCASILA, DEMI
TERSELENGGARANYA NEGARA REPUBLIK
INDONESIA


KEKUASAAN KEHAKIMAN DI INDONESIA
MENGANUT SISTEM BIFURKASI
(BIFUCARTION SYSTEM)

PASAL 24 AYAT (2) UUD 1945:
KEKUASAAN KEHAKIMAN DILAKUKAN
OLEH SUATU MAHKAMAH AGUNG DAN
BADAN PERADILAN YANG BERADA
DIBAWAHNYA DALAM LINGKUNGAN
PERADILAN UMUM, LINGKUNGAN
PERADILAN AGAMA, LINGKUNGAN
PERADILAN MILITER, LINGKUNGAN
PERADILAN TATA USAHA NEGARA,
DAN OLEH SEBUAH MAHKAMAH
KONSTITUSI

HAROLD J. LASKI A GRAMMAR OF POLITICS
(DALAM GEORGE ALLEN & UNWIN)
1. CARA PARA AHLI HUKUMNYA MEMPEROLEH PENDIDIKAN DAN
PELATIHANNYA;
2. CARA BAGAIMANA PARA PENGEMBAN PROFESI HUKUM DIORGANISASI;
3. ADANYA KOMISI PARA AHLI YANG BERTUGAS UNTUK MELAKUKAN
PENELITIAN TENTANG CARA CARA UPAYA PERBAIKAN HUKUM, INVESTIGASI
THD KELUHAN 2 , MENGABSORBSI PELAJARAN DARI PENGALAMAN
INTERNASIONAL, PENGEMBANGAN PROFESI HUKUM MELALUI DORONGAN
KREATIVITAS;
4. MEMPERTIMBANGKAN SECARA LAYAK PENGALAMAN AWAM TENTANG
HUKUM;
5. PEMANFAATAN PENGALAMAN JUDISIAL DALAM MENGAMANDEMEN HUKUM
(PERUNDANG2AN)
Hukum Progresif
Pemikiran Hukum Progresif (HYP) dimunculkan
Satjipto Rahardjo sejak tahun 2002 yang merasa
prihatin terhadap keterpurukan hukum di
Indonesia yang dianggap gagal mengantarkan
manusia kepada kehidupam yang adil, sejahtera
dan membuat manusia bahagia. Bahkkan hukum
di Indonesia telah mendapat predikat salah satu
sistem hukum yang terburuk di dunia.
Feminis Jurisprudence

Ahli-ahli hukum feminist kritis telah menemukan bahwa
hukum menghadirkan sejumlah keterbatasan terhadap
realitas nilai-nilai sosial.
Pertama, karena ketergantungan pada preseden
(staredecisis), feminis telah menyatakan bahwa badan
hukum yang ditetapkan sangat bersifat phallocentris
(didominasi laki-laki) dan semua masalah yang diselesaikan
di pengadilan yang secara substansial menyimpang dari
badan pengetahuan ini kurang cenderung mendapatkan
perhatian dan penyelesaian yang diinginkan. Jadi status quo
lebih cenderung mendominasi.
Kedua, konteks ke dalam struktur hukum yang
menggambarkan masalah bagi feminist mencoba untuk
membela klien, dan secara bersaman memberikan
sumbangan terhadap pergerakan feminis yang lebih besar.
Ketiga, memberi perhatian pada fokus pengadilan yang
rasional dan koheren.