Anda di halaman 1dari 7

Cara Memulai Investasi

May 12th, 2013



Tulisan ini dibuat karena banyaknya pertanyaan yang sama ditanyakan berulang-ulang. Saking seringnya
mendapat pertanyaan ini, saya bahkan sampai menyiapkan piring cantik buat penanya yang beruntung.
(halah) Jadilah saya susun tulisan panjang ini sebagai referensi untuk Anda yang ingin tahu atau baru
ingin memulai berinvestasi.
Ada dua poin penting yang menjadi dasar tulisan ini. Pertama: bahwa investasi itu adalah pengorbanan di
masa sekarang untuk memperoleh hasil yang lebih baik di masa depan. Seperti kata pepatah, berakit-
rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Dan kedua: investasi adalah bagaimana membuat money work
harder than you, bukan bagaimana Anda bekerja untuk uang.
So, lets get stuck in.
Before We Get Started
Sebelum memulai, ada baiknya Anda lihat diri Anda sekarang. Berapa uang dingin yang Anda miliki
saat ini? Jangan gunakan uang yang dijatah untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Berapa banyak Anda
mau berkomitmen untuk menyisihkan dana setiap bulan atau setiap tahunnya? Tiap orang punya latar
belakang dan preferensi masing-masing yang berbeda satu sama lain.
Kalau sudah melihat sikon diri sendiri, sekarang tentukan tujuan investasi Anda. Berapa besar target
yang ingin Anda capai? Berapa lama jangka waktu yang Anda miliki? Apakah mau menyisihkan dana
untuk pensiun? Ingin naik haji lima tahun lagi? Menabung untuk pendidikan anak Anda kelak? Sekedar
ingin terlihat keren menyandang status sebagai investor? Atau ingin diam-diam kawin lagi dan butuh
dana untuk menghidupi istri muda? (eh)
Kalau sudah, pertanyaannya sekarang, seberapa kuat Anda berkomitmen untuk beneran berinvestasi?
Secara psikologis, manusia lebih suka bersenang-senang hari ini (instant gratification) daripada menunda
demi kesenangan yang lebih besar di masa depan. Nah, bisakah Anda melawan godaan ini? Bayangkan,
teman Anda punya iPhone 5 terbaru dan Anda masih menggunakan handphone yang Anda beli tiga
tahun lalu. Teman Anda mencicil mobil baru tiap bulannya, sementara Anda mencicil saham dan
reksadana. Teman Anda bisa mengelus-elus mobil barunya yang masih mulus. Anda bisa mengelus-elus
apa? Im not saying its going to be easy, but Im telling you its probably going to be worth it.
Tapi di sisi lain, jangan pula bersikap terlalu impulsif. Berinvestasi karena produk X atau bank Y
menawarkan Samsung S4 baru atau mobil Avanza? Tertarik membeli reksadana atau saham karena
harganya belakangan naik? Anda sih bisa saja keluar dari rumah dan naik angkutan apapun seadanya
(ojek, angkot, bus, taksi), dan tiba di tempat yang dituju. Tapi perjalanan investasi tidak sama dengan
perjalanan ke Kelapa Gading atau ke Pasar Minggu.
Tabungan/Deposito vs. Inflasi
Pada poin kedua yang sudah saya singgung di atas, tujuan investasi adalah to make money work harder
than you, sedemikian hingga Anda tidak perlu bekerja susah payah lagi di kemudian hari. Anda bisa
menikmati kerja keras investasi Anda sementara Anda tak perlu bekerja dan bebas melakukan sesuatu
yang menjadi hobi, passion, atau cita-cita Anda.
Nah, untuk mencapai itu semua, diperlukan instrumen investasi yang (1) bisa mengalahkan inflasi, dan
(2) pada akhirnya kelak bisa menutup biaya hidup Anda tanpa Anda harus bekerja. Inflasi adalah ilusi
yang mematikan karena menggerus kekayaan Anda tanpa Anda sadari. Lima tahun lalu, Rp 10.000 bisa
buat makan bakso berdua. Tapi sekarang, dengan nominal yang sama cuma dapat satu porsi saja. Lima
tahun lagi mungkin cuma bisa dapat kerupuknya saja.
Saya tidak menyebut tabungan dan deposito sebagai instrumen investasi karena untuk mengalahkan
inflasi saja ia gagal. Misalnya, suku bunga deposito di BCA untuk nominal di bawah Rp 2 miliar bunganya
hanya 4,5%. Tabungan (Tahapan BCA) di bawah Rp 1 miliar cuma dapat bunga 1,3%. Bandingkan
dengan inflasi kita yang ada di kisaran 6%. Kalau cuma ditabung, kekayaan Anda akan tergerus 4,7%
tiap tahunnya, sementara kalau didepositokan, akan tergerus 1,5% per tahun.
Beberapa bank (juga BPR) memang ada yang menawarkan rate lebih tinggi. Tapi perlu dicatat bahwa
LPS hanya menjamin simpanan pada nominal dan ratetertentu. Kalau lebih dari itu, LPS tak mau
tanggung jawab. Satu-satunya keuntungan deposito menurut saya adalah bilyet depositonya bisa
digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan kredit di bank yang bersangkutan, walaupun hanya 80-
90% dari dana yang Anda depositokan dengan bunga sekitar 3-4% dari bunga deposito yang Anda
peroleh.
Alternatif yang lebih menarik mungkin Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang ditawarkan hampir tiap tahun
sejak 2006 lalu. Pertama kali diluncurkan, suku bunga ORI001 besarnya 12,05%, tapi belakangan suku
bunganya makin menurunmungkin karena peminatnya makin banyak. ORI007 dan ORI008 misalnya
cuma dipatok 7,95% dan 7,3% saja. ORI009 bahkan cuma ditawarkan di 6,25% (jatuh tempo 15 Oktober
2015).
Investasi Reksadana
Saya pernah menulis buku tentang reksadana beberapa tahun lalu. Bagi para pemula, saya memang
sering menyarankan reksadana untuk test the water, sebagai wahana untuk menguji dan melatih Anda
dalam berinvestasi. Reksadana relatif mudah dilakukan, bisa memperkenalkan Anda terhadap dunia
investasi dan pasar modal, serta relatif bisa dimulai dengan modal yang kecil.
Cara memulai investasi di reksadana juga gampang. Anda cukup mencari produk reksadana yang
sesuai, pilih manajer investasinya, baca prospektusnya, lalu lakukan pembelian (subscription) dan
transfer dananya. Anda bisa membeli langsung melalui manajer investasi atau membelinya lewat agen
(bank) yang ditunjuk. Pilihan produknya juga beragam, mulai dari reksadana pasar uang, reksadana
pendapatan tetap, reksadana saham, reksadana campuran, reksadana ETF, dan reksadana indeks.
Daftar lengkapnya bisa Anda lihat di sini.
Membuka rekening reksadana tak beda jauh seperti membuka rekening bank. Anda akan diminta untuk
mengisi formulir, menyiapkan fotokopi identitas, dan tentu saja menyiapkan dana yang hendak Anda
investasikan. Satuan reksadana dihitung berdasar unit penyertaan (UP) dan nilai aktiva bersih (NAB).
Semisal hari ini reksadana X harga NAB-nya Rp 1.300. Anda berencana membeli 1.000 unit penyertaan.
Maka Anda membutuhkan dana Rp. 1,3 juta (plus komisi/fee).
Seandainya akhir tahun nanti harga NAB-nya Rp 1.500 dan Anda hendak mencairkan reksadana Anda,
maka keuntungan Anda sebesar Rp 200 ribu (minus komisi/fee/pajak). Sebaliknya, andaikata harga NAB-
nya turun jadi Rp 1.000, maka kerugian Anda jadi Rp 300 ribu (plus komisi/fee). Tiap tahun (atau tengah
tahun), manajer investasi akan mengirimkan Anda laporan investasi reksadana Anda. Laporan inilah
yang menjadi bukti/konfirmasi atas kepemilikan reksadana Anda.
Kalau mau ingin serius terjun ke dunia investasi, saya sebenarnya tidak terlalu menyarankan reksadana
sebagai komponen utama untuk investasi. Alasan pertama, faktor biaya yang tinggi membuat kinerjanya
jadi kurang optimal (saya pernah menulisnya di sini). Sebenarnya ada alternatif yang bagus, yaitu
reksadana indeks, namun pilihannya masih terbatas dan faktor biayanya masih dipertanyakan. Alasan
kedua, silakan Anda lihat daftar orang terkaya di Indonesia (atau di dunia). Anda akan menemukan
nama-nama orang kaya berkat saham, properti, atau bisnistapi tidak dari reksadana.
Investasi Saham
Banyak orang membahasakan investasi saham sebagai trading sahamyang tak jarang hanya
mengandalkan rumor dan menggunakan margin yang tinggi. Tentu investasi model semacam itu jelas
tidak disarankan. Selain berisiko tinggi, bisa bikin jantungan dan mengancam keharmonisan rumah
tangga. Investasi saham yang dimaksud adalah investasi yang dilakukan dengan terukur, dihitung
berdasar valuasi yang baik, dan direncanakan dengan matang. Saya lebih menyarankan pendekatan
fundamental dan jangka panjang, bukan short-term trading dan spekulasi.
Memulai investasi saham mirip dengan memulai investasi reksadana. Anda harus membuka rekening di
sekuritas terlebih dahulu sebelum bisa bertransaksi (lengkapnya bisa dilihat di sini). Yang membedakan
antara broker/sekuritas yang satu dengan yang lain biasanya pada jenis layanan yang diberikan, biaya
yang dibebankan kepada investor, dan pada kekuatan modal (MKBD) yang dimiliki. Mirip seperti
membuka rekening reksadana, Anda akan diminta untuk mengisi formulir, membuka rekening dana
investor (RDI), menyiapkan fotokopi identitas, NPWP, dan berkas-berkas lainnya. Setelah rekening
saham Anda aktif, biasanya 324 jam, barulah Anda bisa menyetor dana (deposit) dan mulai melakukan
transaksi saham.
Belakangan ini, banyak broker/sekuritas memberikan layanan online trading yang murah dan mudah
diakses dari manapun. Anda juga bisa memulai investasi dengan modal awal yang cukup rendah, mulai
dari Rp 5-10 jutawalaupun pilihannya jadi lebih terbatas. Bagi pemula, biasanya saya sarankan untuk
memilih saham-saham blue chip (LQ45) yang solid. Kalau masih bingung, Anda bisa meniru (mirroring)
dari reksadana saham. Ambil salah satu reksadana saham yang kinerjanya
bagus, download prospektusnya, lihat komposisi isi perutnya, lalu belilah saham-saham itu sesuai
preferensi dan sikon Anda. Walaupun isinya lebih berbasis historical data dan hanya meng-cover top
holding saja, tapi setidaknya informasi ini bisa memberikan Anda sedikit clue.
Berdasar pengalaman dari beberapa klien saya, selama Anda tidak memilih saham abal-abal maka
kinerja investasi Anda akan cukup memuaskanjauh di atas bunga deposito. Bagi mereka yang
lebih advanced, saya biasanya menyarankan metode valuasi yang lebih kompleks untuk melihat
(spotting) saham-saham yang masih murah dan punya upside potential bagus.
Investasi Emas
Saya pernah menulis buku tentang investasi emas beberapa tahun lalu tepat pada saat terjadi krisis
finansial 2008. Buku tersebut adalah salah satu buku pertama yang membahas tentang emasjauh
sebelum hingar bingar soal kebun emas dan dinar emas. Di buku itu, saya tidak menyarankan emas
sebagai investasi per se, tetapi lebih sebagai diversifikasi dan hedging risiko.
Saya bukan penggemar emas. Biasanya saya tidak menyarankan komposisi emas yang terlalu besar
dalam portofolio Andatak lebih dari 10-15%. Alasan pertama, emas hanya naik bila didorong oleh faktor
krisis, perang, bencana, dan catastrophelainnya. Kedua, hasil trace back ke belakang juga membuktikan
bahwa emas masih kalah dari saham, reksadana, dan properti. Dan terakhir, yang menurut saya paling
penting, emas tidak memberikan cashflow seperti halnya instrumen investasi yang lain. Anda hanya bisa
merealisasikan profit investasi emas Anda ketika Anda menjualnya lagi.
Bagi Anda yang tertarik berinvestasi emas, saya menyarankan untuk berinvestasi dalam bentuk fisik.
Anda bisa membelinya dari toko-toko emas atau dari Logam Mulia (PT Antam). Beli emas secara legal
dan lengkapi dengan dokumen (sertifikat) yang resmi. Simpanlah dalam tempat yang aman atau
sewa safe deposit box di bank. Saya tidak menyarankan membeli emas dalam bentuk surat/sertifikat
(buat apa?). Saya juga tidak menyarankan membeli emas dengan mencicil/berhutangkarena emas
bisa turun harganya. Saya juga tidak menyarankan membeli lewat pihak ketiga semisal lewat MLM/arisan
yang dibungkus investasi emas.
Secara hitung-hitungan, lebih menguntungkan membeli dalam bentuk batangan/lantakan. Pecahan yang
kecil (50 gram atau yang lebih kecil) biasanya lebih mahal daripada pecahan yang besar (di atas 50
gram), tetapi lebih mudah diperjualbelikan kembali karena pasarnya lebih luas. Kalau Anda punya uang
nganggur dan mau menabung emas tapi dana terbatas, Anda bisa membeli dari pecahan terkecil 5
gram (sekitar Rp 3 juta). Ketika hendak menjual kembali, akan lebih menguntungkan kalau Anda
ketemu buyer langsung, seperti famili atau teman kantor, daripada menjualnya ke toko emas.
Investasi Properti
Strategi berinvestasi di properti bisa dimulai dengan mencari rumah seken yang ada di kisaran harga Rp
500 juta ke bawah (tergantung lokasi). Rumah di atas Rp 500 juta pasarnya cenderung menyempit dan
spesifik. Selain itu, rumah kelas Rp 500 juta ke bawah lebih pas untuk disewakan bagi PNS atau pegawai
kantoran yang baru menikah (keluarga muda). Kalaupun Anda ingin menjualnya kembali, dengan harga
segitu relatif tidak sulit bagi Anda untuk menemukan pembeli.
Usahakan Anda bisa mematok biaya sewa 3-7% dari harga properti. Tergantung pada wilayahnya,
potensi naiknya harga properti (capital gain) berkisar antara 10-20% per tahun. Kalau Anda
menggunakan pembiayaan dari KPR untuk mendapatkan rumah tersebut, buat perhitungan dan
perencanaan yang matang. Hitung juga nilai dari bangunan rumah tersebut. Harga tanah memang
cenderung selalu naik, tapi nilai bangunan akan turun karena termakan usia dan cuaca. Salah satu risiko
yang harus diwaspadai ketika menyewakan rumah adalah rumah menjadi tidak terurus dan banyak timbul
kerusakan.
Ketika Anda hendak membeli rumah untuk disewakan, perhatikan bahwa harga yang diminta penjual
tidak selalu mencerminkan nilai sebuah rumah. Pintar-pintarlah menemukan barang bagus dimana
penjualnya sedang butuh uang (BU). Kalau untuk disewakan, usahakan membeli properti yang harganya
70-80% dari harga pasar. Dalam membeli rumah untuk disewakan, gunakan pertimbangan obyektifitas,
jangan gunakan faktor like-dislike, karena toh rumah tersebut tidak untuk Anda tinggali sendiri.
Faktor lokasi jelas sangat mempengaruhi sukses tidaknya berinvestasi di properti. Pastikan Anda memilih
kawasan yang sudah hidup dan ditinggali, bukan rumah kosong yang dibeli spekulan. Pilih juga
kawasan dengan fasilitas perbelanjaan, transportasi, dan sekolah/kampus yang memadai. Kalau Anda
membeli dari developer, pastikan juga track record developer tersebut bisa dipercaya.
Oke, Selanjutnya Bagaimana?
Seperti slogan Nike, just do it! Mulailah segera. Tak usah terlalu banyak membuat perhitungan yang
terlalu njlimet di tahap-tahap awal. Sisihkan uang dingin yang Anda punya, pilih salah satu instrumen
yang Anda suka, lalu mulailah berinvestasi. Jangan takut rugi. Mulailah dengan investasi yang bisa
dilakukan dengan modal yang relatif kecil terlebih dahulu. Anggaplah ini sebagai ongkos belajar.
Daripada Anda bayar jutaan rupiah untuk seminar yang tak jelas, lebih baik untuk belajar investasi
langsung.
Jangan berharap return tinggi dalam waktu singkat, terutama di masa-masa awal Anda berinvestasi.
Kalau Anda mengharapkan return yang menakjubkan dalam tempo sekejap, lebih baik Anda masuk ke
partai dan melamar jadi bendahara umum atau makelar proyek. Fokuslah pada proses pembelajaran,
mengumpulkan pengetahuan serta pengalaman, dan profit akan datang dengan sendirinya. Your purpose
is to make mistakes, but in the right direction.
Top-up investasi Anda agar terus bertumbuh, atau biasa juga disebut cost averaging, yaitu secara
periodik melakukan penambahan pada investasi Anda. Anggaplah seperti menabung. Ada dua hal yang
bisa dilakukan: (1) increase your income, dan/atau (2) live below your means. Keduanya memiliki tujuan
yang sama, yakni mendapatkan tambahan dana untuk bisa diinvestasikan. Bedanya, live below your
means punya limit bawah (pengeluaran Anda tak mungkin nol, bukan?), sementara increase your
income secara teknis tak punya limit maksimal (Anda bisa punya penghasilan tak terbatas).
Lakukan fine tuning sambil jalan. Dalam perjalanannya, Anda akan ketemu denganreturn, fee, komisi,
pajak, dan hal-hal menarik lainnya. Kalau dirasa kurang pas, Anda bisa melakukan adjustment. Semisal
komposisi reksadana Anda terlalu besar, maka Anda bisa mencairkan sebagian untuk dipindahkan ke
yang lain. Atau, semisal Anda terlalu banyak komposisi di saham tertentu, Anda bisa memindahkan
sebagian ke saham yang lain. Kalau ada yang menawar properti Anda dengan harga tinggi, Anda bisa
menjualnya untuk dipindahkan ke instrumen lainatau, lebih baik lagi, ditransfer ke rekening saya. :)
Bila Anda merasa terbantu dengan tulisan ini, silakan share via Twiter, Facebook, atau media lainnya.
Jangan lupa berlangganan untuk mendapatkan kiriman artikel via email. Bila ada pertanyaan/komentar,
jangan segan untuk hubungi saya.