Anda di halaman 1dari 3

Evolusi Filosofi

March 25th, 2013


Atas permintaan beberapa penggemar (duh!) di Twitter, saya ingin bercerita sedikit soal filosofi investasi
saya. Saya sudah memulai investasi reksadana sejak masih kuliah, dengan modal dana dan
pengetahuan ala kadarnya. Dulu saya adalah pendukung investasi reksadana karena relatif mudah bagi
pemula. Reksadana juga bagus sebagai batu loncatan sebelum mencoba instrumen investasi lain yang
lebih canggih. Di tahun 2008 saya bahkan menulis buku tentang investasi di instrumen ini.
Tapi dalam perjalanannya saya menemukan kelemahan dari reksadana, yaituhidden fee. Fee yang
dimaksud bukanlah fee beli/jual (subscription/redemption), melainkan management fee reksadana
tersebut. Saya menemui sejumlah reksadana tidak terlalu transparan dalam
memaparkan fee pengelolaan reksadana mereka. Mereka juga tidak menyebutkan secara jelas
komposisi fee pengelolaan (oleh manajer investasi) dan fee marketing (yang di-share ke agen
penjual/bank). Biarpun persentasenya tak seberapa, fee ini cukup mempengaruhi net return yang
diperoleh investor.
Sebetulnya ada alternatif lain, yaitu reksadana indeks. Mereka dikelola secara pasif, dengan mengacu
pada benchmark (biasanya IHSG atau LQ45), sehingga risiko kesalahan (tracking error) lebih kecil dan
biaya pengelolaannya lebih murah daripada reksadana saham. Masalahnya, pada saat itu reksadana
indeks belum ada. Seingat saya, cuma ada satu reksadana indeks yang mengacu pada Jakarta Islamic
Indextapi tidak saya pilih karena mereka tidak berinvestasi pada sektor yang cukup bagus: bank dan
rokok.
Berangkat dari situ, saya mengubah filosofi investasi saya dari reksadana menuju investasi langsung di
saham. Pada saat itu saya berpikiran bahwa saya bisa meniru (mirroring) dari reksadana terbaik yang
ada, tetapi saya kelola sendiri untuk meminimumkan hidden fee seperti yang ada pada reksadana.
Sebagai langkah awal, saya fokus pada saham-saham blue chip atau saham-saham LQ45. Alasannya,
mereka adalah perusahaan yang solid, mudah dijumpai, dan kebanyakan isi perut reksadana yang saya
tiru adalah saham-saham blue chip dan LQ45.
Lagi-lagi, dalam perjalanannya saya menemui kelemahan kembali. Saham-sahamblue chip dan LQ45
rata-rata sudah berharga tinggi. Saya baru bisa mendapatkan harga murah ketika ada isu tertentu (misal
masalah pembayaran royalti Unilever beberapa waktu lalu) atau ketika harga produknya di pasaran
sedang anjlok (misal saham-saham tambang dan komoditi). Masalah kedua, saham-saham tersebut
umumnya tidak mempunyai upside potential yang besar, karena harga di pasar sudah already priced-in.
Sangat jarang Anda jumpai saham dengan fair value Rp 10.000 yang dihargai Rp 5.000-7.000 di pasar.
Yang ada, harga mereka di pasar sudah berkisar Rp 9.000-11.000.
Memang benar, dalam satu tahun kenaikan harga saham-saham tersebut bisa mencapai 15%-20%
masih jauh di atas deposito. Kelemahan tersebut juga tidak menjadi masalah bila investasi Anda
hendak berorientasi long-term (lebih dari 10 tahun), toh Anda juga mendapatkan income dari dividen
yang periodik. Tapi saya ingin lebih dari itu. Sama halnya seperti anak muda (halah) pada umumnya,
saya ingin fast track yang bisa memberi saya hasil lebih baik karena modal saya terbatas.
Akhirnya, saya mencoba small-but-solid companies. Ada ratusan perusahaan yang belum ter-
capture oleh investor institusional. Sebagian dari mereka masih dihargai sangat murah dan punya
potensi upside yang besar. Tahun 2011 misalnya, saya mencoba (dan Alhamdulillah berhasil) di AMFG
dan AUTO. Tahun berikutnya saya ketiban berkah di ARNA, JTPE, dan LPCK. Mereka bisa
memberikan return di atas 50%. Dan tahun ini saya coba lagi di antaranya lewat BJTM, PNLF, dan
WINS. Tidak mudah memang spotting saham-saham seperti ini. Sama halnya seperti spotting Anisa
Chibi atau Nabilah JKT48 3-4 tahun lalu (ehm!).
Tentu saja metode ini masih ada kelemahannya. Pertama, karena saham-saham ini tidak terjangkau
radar orang kebanyakan, kita tidak akan pernah tahu kapan mereka akan unlock fair value mereka. Kita
tahu saham X seharusnya dihargai di Rp 1.000, tetapi harganya saat ini masih Rp 300-400. Sayangnya
kita tak tahu berapa lama yang dibutuhkan hingga saham X tersebut menembus Rp 1.000. Yang bisa kita
lakukan hanya mencari dan menduga katalis yang bisa mengangkat saham tersebut (misal akan ada
merger/akuisisi, ada rencana stock split, ataucorporate action lainnya).
Kelemahan kedua, kalaupun kita tahu fair value saham X adalah Rp 1.000 dan kita tahu ada katalis di
bulan depan, kita tidak bisa 100% yakin seberapa besar saham tersebut akan unlock value-nya. Bisa
saja saham X hanya terdongkrak dari Rp 300-400 ke Rp 800 saja. Tapi ada kalanya saham tersebut
malah terbang menuju Rp 1.300. Kita tidak akan pernah tahu seberapa aktif pasar akan bereaksi
terhadapvalue stocks semacam ini. Tapi toh kedua kekurangan tersebut masih tak seberapa daripada
kelebihannya.
Harus diakui, untuk saat ini metode tersebut boleh dibilang yang terbaik bagi saya. Sebagian portofolio
saya memang masih di blue chip dan LQ45 yang akan dikekep sampai diwariskan untuk anak-cucu
kelak. Saya masih menyimpan AKRA, ASRI, BBRI, KLBF, SMGR, dan UNVR yang dibeli entah sejak
kapan tahun dan tidak ada niat untuk menjualnya. Tapi sebagian portofolio saya mulai banyak disisihkan
untuk betting di value stocks seperti yang saya sebut di atas.
Nah, kalau ditarik benang merahnya, filosofi investasi saya memang selalu berubah dan berkembang dari
waktu ke waktu. I dont have all the answers. My method isnt perfect. Metode yang saat ini cukup bagus,
belum tentu akan sukses juga di masa depan. It just takes trial and error learning investments lessons.
Thats where I gain more experience, wisdom, and better rate of return.
Yang saya pelajari dari perjalanan investasi tersebut adalah bahwa hidup itu sesungguhnya adalah
sebuah eksperimen. Kita tidak akan tahu kalau kita tidak pernah mencoba. Percobaan itu bisa salah, bisa
saja benar. Bukankah hidup itu tentang bagaimana kita mengambil risiko dan bertanggung jawab atas
konsekuensi dari risiko tersebut? Tapi dari percobaan itulah kita bisa mendapatkanfeedback yang bisa
digunakan untuk improvement di masa depan. Yang menarik,berdiam diri tidak melakukan perubahan
seringkali jauh lebih berisiko daripada nekat melakukan sesuatu yang baru.
Evolusi semacam ini tak cuma saya terapkan dalam hal investasi saja. Saya juga coba
mengaplikasikannya dalam hal pilihan hidup, pekerjaan, menulis, hobi, golf, dan masih banyak lagi.
Terkadang memang kita membuat kesalahan walaupun asumsi yang kita ambil saat itu sudah tepat.
Terkadang kita bahkan terlalu banyak membuat kesalahan sehingga merasa terintimidasi
atau insecure terhadap orang lain. Tapi sesungguhnya dari perubahan itulah kita mendapatkan
pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga. You can read all the motivators tweet, but nothing
compares to the experience you gain from good old trial and error.
Tak mudah memang mengubah filosofi hidup seseorang, boro-boro membuatnya berevolusi dari waktu
ke waktu. Sudah nyaman, buat apa mencari ketidaknyamanan lain? Most people hesitate to change and
adapt, because it painful and make them feel uncomfortable. Kita dihadapkan pada musuh besar, dan
musuh besar itu adalah diri kita sendiri. We have found the enemy and s/he are us.
Di jaman yang serba cepat seperti sekarang ini, yang bisa kita lakukan adalah membuka diri terhadap
perubahan. Perubahan itu bisa langsung berhasil, bisa juga gagal. God wants to pull us from
complacency and explore new opportunities. Surely, everything will not go as planned but what is
important is that we learn from the experiences, both good and bad. Thus, try to get comfortable with
failure, because there is no way you are get it right every time.
Life is merely trial and error, until our final day is among us. So, how comfortable are you with
failure? How would you change to a growth and evolutionary mindset?
Related Posts