Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Dewasa ini kita sering mendengar istilah pembangunan nasional baik
dalam mata kuliah atau media. Kita juga mengetahui bahwa pembangunan
tersebut pastilah memerlukan dana yang tidak sedikit. Dalam bab ini kita
akan mempelajari salah satu sumber pemasukan negara bagi pembangunan,
yakni pajak. Secara umum persepsi kita mengenai pajak adalah wujud dari
seorang warga negara untuk memberikan kontribusi dalam membangun
negara dengan mendapat imbalan tidak langsung.

Dalam bab ini kita akan mempelajari sebagian hal yang berkaitan dengan
pajak, mulai dari pengertian, jenis,fungsi,asas, serta besaran tarif penarikan.
Semua ini akan kita pelajari sebagai pengantar dalam mata kuliah ini ,
karena matri yang lebih lanjut akan dipelajari dalam bab-bab selanjutnya.

B. TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan kami menulis makalah dan mengangkat Tema mengenai
PENGERTIAN DASAR PERPAJAKAN ini adalah guna memenuhi tugas
mata kuliah Perpajakan.

Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memperluas wawasan kami dan
pembaca tentang masalah Perpajakan. Selain itu supaya ada kesadaran pada
diri kami dan pembaca untuk tertib membayar pajak.

C. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengertian pajak ?
Bagaimana peran serta fungsi pajak dalam pembangunan ?
Perbedaan antara pajak, retribusi, dan sumbangan ?
Apa saja asas-asas pajak itu ?
Bagaimana pajak dalam pancasila ?
Apakah stelsel pemungutan pajak itu ?
Apa falsafah, dasar hukum dalam pemungutan pajak ?
Apa saja jenis pajak itu ?
Bagaimana penetapantarif pajak ?
Bagaimana UU perpajakan itu ?
Apa pengertian dari hukum pajak internasional itu ?

BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN DASAR PERPAJAKAN

A. PENGERTIAN PAJAK
Menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani :
Pajak adalah iuran kepada Negara yang terhutang oleh yang wajib
membayarnya menurut peraturan peraturan,dengan tidak dapat
prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjk dan gunanya untuk
membiayai pengeluaran pengeluaran umum berhubung dengan tugas
Negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S. H :
Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas Negara
untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk
public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public
investment.

Menurut UU No. 28 Tahun 2007 :
Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang
undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung.

B. PERANAN DAN FUNGSI PAJAK
1. Peranan Pajak dalam Pembangunan
Pajak sangat erat hubungannya dalam pembangunan nasional
baik disektor public maupun disektor swasta. Dengan uang
pajak, pemerintah dapat melaksanakan pembangunan,
memperlancar roda pemerintahan, menyiapkan lapngan
pekerjaan serta meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat.
2. Fungsi Pajak
a. Fungsi Budgetair : pajak merupakan suatu alat untuk
memasukan uang sebanyak banyaknya ke kas Negara
yang pada waktunya nanti akan digunakan untuk
membiayai pengeluaran pengeluaran Negara.
b. Fungsi Regulasi : pajak digunakan sebgai alat untuk
mencapai tujuan tertentu di luar bidang keuangan.
3. Pajak, Retribusi dan Sumbangan


I. Pajak
Ciri ciri pajak :
a) Pajak dipungut oleh Negara
b) Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya
kontra prestasi individual dari pemerintah
c) Digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah
d) Dipungut disebabkan suatu keadaan, kejadian dan
perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu pada
seseorang.

II. Retribusi
Menurut Undang Undang No. 34 Tahun 2000, retribusi dibagi
atas 3 golongan yaitu :
1. Retribusi Jasa Umum,terdiri dari:
a) Retribusi pelayanan kesehatan
b) Retribusi pelayanan kebersihan
c) Retribusi pelayanan pasar
d) Retribusi pelyanan pemakaman
e) Retribusi pelayanan parker ditempat umum
2. Retribusi Jasa Usaha, terdiri dari:
a) Retribusi pemakaian kekayaan daerah
a) Retribusi pasar grosir
b) Retribusi terminal
c) Retribusi tempat pelelangan
d) Retribusi tempat rekreasi dan olahraga
3. Retribusi Perizinan Tertentu, terdiri dari:
a) Retribusi izin mendirikan bangunan
b) Retribusi tempat penjualan minuman beralkohol
c) Retribusi izin gangguan
d) Retibusi izin trayek

III. Sumbangan
Adalah iuran untuk orang orang atau badan tertentu yang
pembayarnya tidak dapat ditunjuk atau ditentukan besarnya.






C. ASASASAS PEMUNGUTAN PAJAK
Asas pungutan pajak dibagi dalam :
1. Asas Falsafah Hukum
Teori teori pembenaran pungutan pajak :
1. Teori Asuransi, teori ini mengtakan bahwa pajak iti
diibaratkan sebagai premi yang harus dibayar oleh setiap
orang
2. Teori Kepentingan, teori ini mengatakan bahwa pembagian
beban pajak harus didasarkan atas masing masing
kepentingan orangdalam tugas pemerintah.
3. Teori gaya pikul, teori ini mengatakan bahwa setiap orang
wajib membayar pajak sesuia daya pikul masing masing.
4. Teori Bhakti, teori ini disebut juga teori kewajiban pajak
mutlak mengatakan bahwa pembayaran pajak merupakan
tanda bhakti seseorang kepada Negara.
5. Teori Asas Gaya Beli, menurut teori ini pajak diibaratkan
sebagai pompa yang menyedot daya beli seseorang yang
kemudian dikembalikan pada masyarakat melalui saluran
lain.
6. Pungutan Pajak Menurut Pancasila, menurut teori ini
pungutan pajak dibenarkan. Pembayaran pajak adalah
pengorbanan setiap anggota keluarga untuk kepentingan
keluarga tanpa mendapat imbalan.

2. Asas yuridis
Menurut ini pungutan pajak harus didasarkan pada undang
undang. Landasan hukum pemungutan pajak di Indonesia adalah
pasal 23 ayat (2)UUD 1945.

3. Asas Ekonomis
Asas ini menekankan pada pemikiran bahwa Negara menghendaki
agar kehidupan ekonomi terus meningkat.

4. Asas Finansial
Sesuai dengan fungsi budgetair maka sudah barang tentu bahwa
biaya pengenaan pajak harus sekecil kecilnya,dibandingkan
dengan pendapatan.



D. STELSEL PEMUNGUTAN PAJAK
1. Stelsel Nyata (Rill Stelsel)
Ini mendasarkan pengenaan pajak pada penghasilan yang benar
benar diperoleh dalam setiap tahun pajak. Kelebihan system ini
adalah pajak yang dikenakan lebih realistis. Sedangkan
kelemahannya adalah pajak baru akan dikenakan pada akhir
periode, yaitu setelah riil diketahui.
2. Stelsel anggapan (Fictieve Stelsel)
Stelsel ini bekerja dengan suatu anggapan yang bermacam
macam tergantung dari undang undang yang mengaturnya.
Kelebihannya adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan
tanpa harus menunggu pada akhir tahun, sedangkan kelemahannya
adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang
sebenarnya.
3. Stelsel Campuran
Stelsel ini merupakan kombinasi kedua stelsel diatas. Pada awal
tahun besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu
anggapan,kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan
dengan keadaan yang sebenarnya.

E. FALSAFAH DAN DASAR HUKUM PEMUNGUTAN PAJAK
1. Falsafah Pajak
Falsafah pajak sesuai dengan falsafah bangsa dan Negara itu
,karena falsafah bangsa Indonesia adalah pancasila maka falsafah
pajak di Indonesia tidak boleh bertentangan dari pancasila dan
berstandar pada pancasila.
2. Dasar Hukum Pemungutan Pajak
Dasar hokum pemungutan pajak di Indonesia adalah pasal 23 ayat
(2) UUD1945 yaitu Segala pajak untuk keperluan Negara
berdasarkan undang undang . Jadi, setiap pajak yang dipungut
pemerintah harus berdasarkan undang undang dan undang
undang tersebut harus disetujui DPR.

F. HAMBATAN PEMUNGUTAN PAJAK
Sudah menjadi kewajiban masyarakat di bidang perpajakan, yaitu
membayar pajak dengan benar dan sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Namun dalam kenyataannya banyak hambatan yang dihadapi,
yaitu perlawanan terhadap pajak yang dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Perlawanan Pasif
Perlawanan pasif terdiri dari hambatan-hanbatan yang mempersulit
pemungutan pajak yang erat hubungannya dengan struktur
ekonomi, perkembangan intelektual dan sistem pemungutan pajak
itu sendiri. Walaupun perlawanan pajak ini tidak secara nyata dari
masyarakat, namun akibatnya masyarakat tidak mau membayar
pajak.
2. Perlawanan aktif
Perlawanan aktif meliputi semua usahadan perbuatan yang secara
langsung ditujukan terhadap focus dan bertujuan untuk
menghindari pajak. Usaha tersebut dapat berupa pengelakan atau
penyelundupan pajak, pembuatan faktur pajak fiktif, memanipulasi
data, melalaikan pajak,dan sebagainya.

G. PENGGOLONGAN ATAU PEMBEDAAN PAJAK
Para ahli mengadakan penggolongan pembedaan pajak menurut susut
pandang masing-masing, yang pada umumnya adalah sebagai berikut:
1. Pajak langsung dan pajak tidak langsung
a) Pajak langsung
Pajak langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak
dapat dilimpahkan/ digeserkan kepada pihak lain, tetapi
harus menjadi beban langsung wajib pajakyang
bersangkutan. Contoh: pajak penghasilan dan pajak bumi
dan bangunan.
b) Pajak tidak langsung
Pajak tidak langsung adalah pajak yang pembebanannya
dapat dilimpahkan/ digeserkan kepada pihak lain. Contoh:
pajak hotel dan restoran, PPN dan PPn-PM, Bea materai,
cukai, dsb.

2. Pajak objektif dan pajak subjektif
a) Pajak objektif
Pajak objektif adalah pajak yang dalam pengenaannya
hanya memperhatikan sifat objek pajaknya saja, tanpa
memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh: pajak
hotel dan restoran, PPN dan PPn-PM, Bea materai, cukai,
pajak kendaraan bermotor, pajak radio, dan pajak bumi dan
bangunan.



b) Pajak subjektif
Pajak subjektif adalah pajak yang dalam pengenaannya
memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh: pajak
penghasilan.

Dalam pemungutan pajak atas pendapatan (penghasilan), dikenal
adanya 3 asas, yaitu:
a) Asas tempat tinggal
Menurut asas ini, wajib pajak yang bertempat tinggal
berhak mengenakan pajak terhadap waajib pajak tersebut
atas semua penghasilan darimana saja diperoleh.
b) Asas sumber
Menurut asas ini, Negara dimana sumber penghasilan itu
berada, adalah yang berhak memungut pajak dengan tidak
memperhatikan diamana wajib pajak tersebut berada.
c) Asas kebangsaan (nationaliteit)
Asas kebangsaan ini menghubungkan pengenaan pajak
dengan kebangsaan dari suatu Negara.

3. Pajak pusat dan pajak daerah
a) Pajak pusat
Pajak pusat atau pajak umum atau pajak Negara adalah
pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan hasilnya
digunakan untuk keperluan rumah tangga Negara pada
umumnya. Contoh: pajak penghasilan, PPN dan PPn-BM,
Bea materai, pajak Bumi dan Bangunan.

Pajak pusat administrasinya dikelola oleh direktorat jendral
pajakdengan kantor-kantor operasional di daerah, yaitu:
1) Kantor pelayanan pajak
2) Kantor pelayanan pajak bumi dan bangunan

b) Pajak daerah
Pajak daerah atau pajak local adalah pajak yang dipungut
oleh pemerintah daerah (propinsi, kota madya, kabupaten),
dan hasilnya digunakan untuk membiayai keperluan ruamh
tangga daerah pada umumnya.pajak daerah ditingkat
propinsi dikelola oleh dinas pendapatan daerah Tk. I,
sedangkan ditingkat kabupaten atau kota madya dikelola
oleh dinas pendapatan daerah tingkat II. Menurut UU. No.
18 tahun 1997, tentang pajak daerah dan retribusi Daerah,
sebagaimana telah diubah dengan UU no. 34 tahun 2000,
jenis-jenis pajak daerah adalah:

1) Pajak daerah tingkat I/ propinsi terdiri dari
Pajak kendaraan bermotor dan kendaraan
diatas air, tarifnya 5%
Bea balik nama kendaraan bermotor dan
kendaraan diatas air, tarifnya 10%
Pajak bahan bakar kendaraan bermotor,
tarinya 5%
Pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan air
permukaan, tarifnya 20%
2) Pajak daerah tingkat II/ kabupaten atau kotamadya,
terdiri dari:
Pajak hotel, tarinya 10%
Pajak restoran, tarifnya 10%
Pajak hiburan, tarifnya 35%
Pajak reklame, tarifnya 25%
Pajak penerangan jalan, tarifnya 10%
Pajak pengambilan bahan galian golongan C,
tarifnya 10%
Pajak parkir, tarifnya 20%

H. TARIF DAN DASAR PENGENAAN PAJAK
1. Dasar pengenaan pajak
asar pengenaan pajak (tax rate) atau objek pajak adalah keadaan,
perbuatan, dan peristiwa-peristiwa hukum yang harus dikenakan
pajak (taatsbestand).
2. Tarif pajak
1) Tarif pajak proporsional atau sepadan
Yaitu tariff pemungutan pajak dengan menggunakan presentase
yang tetap beberapapunjumlah yang digunakan sebagai dasar
pengenaan pajak.
2) Tarif pajak degresif atau menurun
Yaitu tariff pemungutan pajak dengan menggunakan presentase
yang semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar
pengenaan pajak.


Contoh:
Jumalah yang
kena pajak
Persentase
Pemungutan
Besarnya Pajak
Terhutang
Rp. 10.000.000 10% Rp. 1.000.000
Rp. 30.000.000 9% Rp. 2.700.000
Rp. 50.000.000 8% Rp. 4.000.000
Rp. 70.000.000 7% Rp. 4.900.000

3) Tarif pajak progresif/meningkat
Yaitu tarif pemungutan pajak yang menggunakan prosentase
yang semakin naik dengan semakin besarnya jumlah yang
digunakan sebagai dasar pengenaan pajak. Menurut pasal 17 UU
no. 36 tahun 2008 tarif pajak yang diterapkan atas penghasilan
kena pajak bagi:
a) Wajib pajak orang pribadi dalam negeri adalah sebagai
berikut:
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Tariff
Pajak
..s/d Rp. 50.000.000 5%
Diatas Rp.50.000.000 s/d Rp. 250.000.000 15%
Diatas Rp. 250.000.000 s/d Rp. 500.000.000 25%
Diatas Rp. 500.000.000 30%

b) Wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap
adalah 28%.
Baik tariff pajak degresif maupun tariff pajak progresif
dapat dibedakan lagi menjadi tiga macam, yaitu:
Tarif pajak degresif
a. Degresif proporsional
b. Degresif prigresif
c. Degresif degresif
Tarif Pajak depresif atau menutun
Yaitu tarif pemungutan pajak dengan menggunakan
prosentase yang semakin menurun dengan semakin
besarnya jumlah yang digunakan debagai dasar
pengenaan pajak.



Tarif pajak progresif
a. Progresif proporsional
b. Progresif progresif
c. Progresif regresif
Tarif pajak konstan atau tetap
Yaitu tarif pemungutan pajak dengan jumlah yang
sama untuk setiap jumlah, sehingga besarnya pajak
terhutang tidak tergantung pada suatu jumlah (nilai
objek) yang dikenakan pajak.

I. SYSTEM PEMUNGUTAN PAJAK
1. Office Assessment System
Adalah sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk
menentukan besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak
berada pada aparat pemungutan pajak. Sistem ini sering disebut
sistem SKP dan pada umumnya diterapkan pada pengenaan pajak
langsung.
2. Self Assessment System
Yaitu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk
menghitung besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak
berada pada wajib pajak tersebut.
3. With Holding System
Yaitu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk
menentukan besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak
tidak berada pada aparat pemungutan pajak maupun oleh wajib
pajak, melainkan pihak ketiga yang ditunjuk oleh menteri keuangan.

J. TIMBUL DAN HAPUSNYA HUTANG PAJAK
1. Timbulnya Hutang Pajak
Menurut ajaran formal, Hutang pajak timbul karena adanya Surat
Ketetapan Pajak (SKP). Sedangkan berdasarkan ajaran material,
hutang pajak timbul karena undang-undang.
2. Hapusnya Hutang Pajak
a) Pembayaran
Hutang pajak yang melekat pada wajib pajak akan hapus
karena pembayaran yang dilakukan ke kas negara atau
tempat lain yang ditunjuk pemerintah



b) Kompensasi
Terjadi apabila wajib pajak mempunyai kelebihan
pembayaran pajak. Kelebihan pembayaran tersebut dapat
dikompensasi sebagai pajak terutang.
c) Daluwarsa Artinya sebagai daluwarsa penagihan.
d) Pembebasan Artinya hutang pajak tidak berakhir dalam arti
yang semestinya, tetapi karena ditiadakan.
e) Penghapusan Artinya Penghapusan hutang pajak ini sama
sifatnya dengan pembebasan, tetapi diberikannya karena
keadaan keuangan wajib pajak.

K. REFORMASI DI BIDANG PERPAJAKAN
1. Latar Belakang
Yang mendasari adanya reformasi dalam undang-undang perpajakan
ialah sudah tidak sesuainya undang-undang yang ada dengan
kepribadian bangsa Indonesia karena undang-undang tersebut dibuat
oleh colonial.

2. Undang-undang Perpajakan Nasional
Reformasi ada sejak tahun 1983, yaitu dengan disahkannya 5
undang-undang pajak, atau yang lebih dikenal dengan undang-
undang perpajakan nasional. Kelima UU tesebut adalah:
a) UU No. 6 tahun 1983, tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan
b) UU No. 7 tahun 1983, tentang Pajak Penghasilan
c) UU No. 8 tahun 1983, tantang Pajak Pertambahan Nilai
d) UU No. 12 tahun 1985, tentang Pajak Bumi dan Bangunan
e) UU No. 13 rahun 1985, tentang Bea Materai

3. Perbedaan antara UU Lama dengan UU Baru
a) Ciri dan corak perpajakan lama:
Tanggung jawab pemungutan terletak pada pemerintah
System administrasi tergantung pada aparat perpajakan
b) Ciri dan corak system perpajakan nasional:
Merupakan wujud peran serta wapa dalam pembangunan
nasional tanggung jawab pelaksanaan pajak ada pada
masyarakat sendiri wp (wajib pajak) diberi kepercayaan
dalam penetapan pajaknya sendiri penyempurnaan UU
perpajakan ini mengacu pada kebijakan pemerintah.

4. Modernisasi dan reformasi Pelayanan Perpajakan
Modernisasi dilakukan dirjen pajak sejak 2002, srbagai langkah
dalam penerapan good governance. Sebagai implikasi maka dibentuk
Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar sebagai pilot project.
Setelah itu dibentuk Kantor Pelayanan Pajak Madya dan Kantor
Pelayanan Pajak Pratama.

L. HUKUM PAJAK INTERNASIONAL
1. Pengertian
a) Prof. Dr. Ottman Buhler, membedakan dalam arti luas dan
sempit. Dalam arti sempit adalah norma hokum perselisihan
yang didasarkan pada hukum antar bangsa , sedang dalam
arti luas hokum antar bangsa ditambah obyek hokum
perselisihan.
b) Dr. P. Verloren van Thermat, mendefinisikan hokum pajak
internasional sebagai keseluruhan norma (kebiasaan dan
traktat internasional) yang membatasi kedaulatan suatu
Negara dalam memungut pajak.

Di Negara Anglo Saxon pengertian hukum pajak internasional
dibedakan atas:
a) Nasional External Tax Law
b) Foreign tax law
c) Internasional Tax Law

2. Sumber-sumber hukum pajak internasional:
a) Hukum pajak nasional, yaitu peraturan pajak
b) Traktat, yaitu perjanjian pajak dengan negara lain
c) Putusan hakim

3. Tujuan Hukum Pajak Internasional
Adalah bertujuan untuk menghindari gejala pajak ganda.

Cara yang dapat dilakukan adalah :
a) Unilateral, dimana negara mengatur pencegahan pajak ganda
dalam uu pajaknya:
Exemption, didasarkan pada pure territorial principle atau
restricted territorial principle
Tax credit, (direct tax credit, indirect tax credit, fiction tax
credit)
b) Bilateral , dikenal dengan tax treaty
c) Multilateral, missal general agreement on tariffs and trade

4. Subyek Pajak dan Obyek Pajak dalam Pajak Internasional
Subyek dapat dibedakan menjadi 2 : Pajak Dalam Negeri dan
Subyek Pajak Luar Negeri. Jenis obyek pajak : obyek pajak dengan
sumber di dalam negeri, dan dengan sumber di luar negeri.

5. Pajak Ganda
Dapat dibedakan atas pajak ganda nasional dan internasional. Untuk
menghindari pajak ganda internasional maka dibuat perjanjian yang
lazim disebut tax treaty. Tax treaty tersebut dapat dikelompokkan
menjadi :
a) menyebutkan jenis pajak tapi tidak mendefinisikannya,
karena sering menimbulkan salah tafsir.
b) mencantumkan definisi pajak serta nama pajak-pajaknya
c) menyebutkan nama pajak yang juga berlakui untuk pajak-
pajak yang memiliki kesamaan

Obyek pajak dalam tax treaty :
a) Penghasilan dari barang tetap atau barang tak bergerak
b) Penghasilan dari usaha
c) Penghasilan dari usaha perkapalan atau angkutan udara
d) Deviden
e) Bunga
f) Royalty
g) Keuntungan dari penjualan harta
h) Penghasilan dari pekerjaan bebas
i) Penghasilan dari pekerjaan
j) Gaji untuk direktur
k) Penghasilan seniman, artis, atlet
l) Uang pension dan jaminan social tenaga kerja
m) Penghasilan pegawai negeri
n) Penghasilan pelajar atau mahasiswa
o) Penghasilan lain-lain





BAB III
PENUTUP


A. KESIMPULAN
Dari penjelasan materi di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa
pajak adalah pembayaran yang dilakukan rakyat, dan merupakan
sumber dana untuk pembangunan. Selain itu pajak berbeda dengan
retribusi dan sumbangan. Dalam penetapan besaran pajak harus sesuai
dengan pancasila. Pajak sendiri memiliki banyak jenis dan asas yang
digunakan pun beraneka ragam. Tarif pajak berbeda tergantung dasar
yang digunakan. Selain itu pemerintah telah memberikan batasan segala
hal yang berkaitan dengan pajak di dalam UU perpajakan nasional yang
merupakan modernisasi dari UU pajak jaman kolonial. Untuk menarik
pajak yang ada di luar negeri pemerintah melakukan kerja sama dengan
negara lain dalam perpajakan yang lazim diebut perjanjian traktat, yang
hal tersebut diatur dalam HUKUM PAJAK INTERNASIONAL.

B. SARAN
Setelah mempelajari materi ini hendaklah kita sadar akan kewajiban
kita untuk membayar pajak, agar pembangunan dapat terus berjalan.





















http://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/20/
pengertian-dasar-perpajakan-makalah-sederhana-
perpajakan/