Anda di halaman 1dari 4

2.

6 Tikus Putih (Rattus norvegicus)


Ukuran tubuh tikus lebih besar dari pada mencit, sehingga membuat tikus lebih disukai
untuk berbagai penelitian, disamping itu tikus tidak pernah muntah dan tikus tidak memiliki
kelenjar empedu (Kusumawati, 2004), tikus memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi, murah
serta mudah untuk mendapatkannya (Ballenger, 2000). Tikus yang sering digunakan sebagai
hewan percobaan merupakan starin albino dari Rattus norvegicus (Putra, 2009).
Sifat dari tikus rattus norvegicus ukurannya lebih besar dari mencit, lebih cerdas, tenang,
mudah dikerjakan dengan perlakuan yang wajar, kurang suka berkumpul. Bobot dewasa untuk
betina dapat mencapai 2500-300 g. Tipe siklus estrus (menstruasi) pada tikus adalah poliestrus,
lama siklus estrus adalah 4-6 hari, lama estrus adalah 9-20 jam dan mekanisme ovulasi secara
spontan. Vagina tikus membuka pada umur 34-109 hari, kopulasi biasanya pada malam hari
(Kusumawati, 2004; Syamsudin dan Darmono, 2011).

2.6.1 Sistem Reproduksi Tikus Putih (Rattus novergicus.)
Ovarium tikus berbentuk bulat dengan permukaan yang berbenjol-benjol karena adanya
sel-sel folikel dan korpus luteum. Ovarium tersusun atas bagian kortek dan medulla (Irnidayanti,
2012). Kortek terdiri atas stroma yang bersifat seluler dan mengandung folikel ovarium, korpus
luteum dan sel interstitial serta pembuluh darah. Folikel terdiri atas oosit yang diselubungi oleh
sel folikel yang merupakan diferensiasi dari epitel germinaticum. Pada medulla terdiri atas
jaringan ikat fibroelastik yang penuh jaringan saraf, pembuluh darah dan limfe. Tahap
perkembangan folikel disebut fase folikuler. Fase ini dimulai dari folikel primer (folikel
primordial). Selanjutnya sel folikel akan membelah diri untuk membentuk dinding berlapis yang
mengelilingi sel telur dan disebut folikel sekunder. Apabila sudah membentuk rongga (antrum)
di dalam sel folikel dengan sel telur, maka folikel dikatakan sudah matang dan disebut folikel De
Graaf (Musahilah, 2010).



2.6.2 Siklus Reproduksi Tikus
Tikus merupakan hewan poliestrus yaitu hewan yang memiliki siklus birahi lebih dari dua
kali dalam satu tahun. Siklus reproduksi tikus betina disebut siklus estrus. Siklus estrus terbagi
atas empat periode, yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus. Ovulasi terjadi pada fase
awal proestrus sampai akhir estrus. Selama siklus estrus hormon prolaktin, FSH dan LH tetap
rendah dan sore hari terjadi peningkatan pada fase proestrus. Selama metestrus dan diestrus
Sekresi progesteron meningkat setelah itu terjadi penurunan. Kemudian nilai progesteron
meningkat lagi hingga mencapai puncaknya yang kedua yakni menjelang akhir proestrus
(Markondes, et al., 2002), kopulasi biasanya pada malam hari (Kusumawati, 2004).
Lama siklus estrus (menstruasi) adalah 4-5 hari (Syamsudin dan Darmono, 2011), siklus
pertama timbul setelah 1-2 hari dari mulainya pembukaan vagina yang terjadi pada umur 28-29
hari. Periode proestrus berlangsung selama 12 jam, estrus 9-15 jam, metestrus 14-18 jam dan
diestrus selama 60-70 jam (Goethema, et al., 2012). Apabila terjadi kehamilan, siklus akan
terganggu selama masa kebuntingan. Hewan menjadi estrus pada akhir kebuntingan namun
siklusnya sekali lagi tertunda sampai akhir laktasi (Musahilah, 2010).
Pada fase estrus, permukaan vagina berlendir, terjadi penurunan ketinggian epitel, dan
pecahan sisa sel ada di dalam lumen. Fase ini diakhir dengan terlepasnya epitel bertanduk.
Ulasan vagina menunjukkan sel bertanduk tidak berinti yang mulai berkurang, terjadi
keratinisasi sel epithel (epithel berdegenerasi) ketika leukosit muncul serta sel basophil epitel
yang besar, seperti tampak pada gambar 2.7 di bawah ini.

Gambar 2.7. Hapusan Vagina Tikus Pada Fase Estrus (Westwood, 2008)
Fase proestrus ditandai dengan terjadinya pembentukan stratum granulosum atas
stratum germinativum dari epitel vagina yang terdiri dari sel epitel gepeng yang mengandung
banyak butiran keratohyalin. Epitel vagina menunjukkan mitosis.Terjadi multipikasi sel epitel.
Setelah pembentukan awal stratum granulosum terdapat perkembangan progresif dari lapisan
berlendir (strata mucification) dengan ciri lapisan cuboidal berbetuk bulat seperti telur dengan
vakuola sitoplsama sel, pembentukan strata korneum yang padat. Hapusan vagina
menunjukkan sel epitel berinti dengan leukosit yang sedikit seperti tampak pada gambar 2.8.

Gambar 2.8. Hapusan Vagina Tikus Pada Fase Proestrus (Westwood, 2008)
Pada fase diestrus epitel vagina berada pada tingkat titik terendah yang terdiri dari
hanya stratum germinativum. Stratum germinativum terdiri dari lapisan basal sebagai satu
lapisan sel epitel kolumnardan lapisan spinosum. Pada akhir fase diestrus terjadi penurunan
infiltrasi leukosit dan proliferasi sel epitel dengan adanya penebalan pada epitel, tetapi tidak ada
strata granulosum yang jelas. Hapusan vagina ditandai dengan adanya lendir sedikit dengan
beberapa leukosit, sel basophil yang berinti, dan sel vacuola seperti tampak pada gambar 2.9.

Gambar 2.9. Hapusan Vagina Tikus Pada Fase Diestrus(Westwood, 2008)
Fase metestrus ditandai daerah pertengahan vagina menunjukkan detasemen epitel
bertanduklengkap, umumnya sisa squames ada pada lumen. Epitel bertanduk berdekatan
dengan lubang vagina dan menghilangnya stratum granulosum dengan progresif. Akhir fase ini
ditandai epitel mencapai level terendah. Hapusan vagina menunjukkan beberapa sel bertanduk,
leukosit, dan sel basophil (Westwood, 2008), seperti tampak pada gambar 2.10.

Gambar 2.10. Hapusan Vagina Tikus Pada Fase Metestrus(Westwood, 2008)