Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Persoalan kenakalan yang dilakukan oleh geng motor merupakan
persoalan yang cukup serius. Hal ini dianggap serius karena menggangu
ketertiban umum dan mengarah kepada tindakan krimninal. Belakangan tindakan
yang dilakukan geng motor selalu berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-
norma yang berlaku di masyarakat. Berdasarkan data dari artikel terkait
teridentifikasi beberapa kasus kenakalan yang dilakukan oleh geng motor seperti
balap liar di jalan umum, tawuran antargeng, mencuri, menjarah, perusakan
fasilitas umum, dan penyerangan terhadap kantor kepolisian. Geng motor yang
menjadi pelakunya, antara lain, geng BRIGEZ, GBR, XTC, MOONRAKER yang
berasal dari Kota Bandung.
No Nama Kelompok Bentuk Kenakalan
1 BRIGEZ Tawuran antar geng motor
Balap liar
Mencuri
Menjarah
Perusakan fasilitas umum
2 GBR Tawuran antar geng motor
Penjambretan
3 XTC Perang besar antar geng motor
menyerang kantor kepolisian
4 MOONRAKER Perampokan minimarket
Tawuran antar geng motor
penjambretan
(sumber : http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/06/09/polisiburu-geng-
motor-bunuh-takmirmesjid,http://www.jpnn.com/read/2014/04/02/225764/Empat-
Anggota-Geng-Motor-di-Bandung-Diciduk-)

Dari data tersebut persoalan kenakalan geng motor nampaknya telah
mengarah kepada tindakan melanggar hukum atau kegiatan kriminal sebagai
masalah sosial yang terjadi di kalangan generasi muda. Sebagaimana dijelaskan
oleh Soekanto, masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang
berlawanan, yakni keinginan untuk melawan dan sikap apatis. Beberapa sikap
melawan, misalnya, dalam bentuk radikalisme dan delinkuensi. Sedangkan sikap
apatis seperti penyesuaian yang membabibuta terhadap ukuran moral. Persoalan
ini dialami oleh kelompok usia remaja, yakni suatu kelompok yang jika dilihat
secara fisik bisa disebut telah matang, tetapi belum bisa disebut matang bila
dilihat secara sosial. Kelompok ini perlu banyak belajar mengenai nilai dan
norma-norma masyarakatnya. (Soerjono Sukanto, 1999)
Sesuai dengan pemaparan Dariyo, remaja (adolescence) memiliki makna
tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan. Kata tersebut berasal dari
bahasa Latin adolescere. Dengan kata lain, Dariyo menyatakan bahwa remaja
(adolescence) adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju
masa dewasa. Masa remaja ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis,
dan psikososial. Dengan mengutip Thornburg, ia menggolongkan remaja kedalam
tiga tahap, yaitu remaja awal (usia 13-14 tahun), remaja tengah (usia 15-17 tahun),
remaja akhir (18-21 tahun). Remaja tidak memiliki tempat yang jelas, mereka
tidak termasuk dalam kategori anak-anak dan tidak juga dikatakan dalamkategori
dewasa. (Agoes Dariyo, 2004 : 13-14)
Geng motor merupakan salah satu fenomena masalah sosial yang
berhubungan erat dengan persoalan kesulitan remaja dalam melakukan adaptasi
dengan modernisasi baik dari aspek kemunculannya, karakter anggotanya,
maupun dari jenis kegiatannya. Derasnya arus modernisasi mempengaruhi semua
aspek yang ada di remaja, baik itu karakter, perkembangan prilaku, sifat, dan
lingkungan pergaulannya.
Dari aspek kemunculannya geng motor berawal dari rasa kesetiakawanan
yang tinggi antar sesama anggota yang sebagian besar adalah remaja, yang
disayangkan kesetiakawanan yang berkembangan pada komunitas geng motor
adalah mengarah pada kegiatan dan tindakan negatif para anggotanya. Adapun
karakter anggotanya bahwa mayoritas dari anggota geng motor adalah remaja
laki-laki. Para remaja ini tertarik untu masuk geng motor karena beberapa faktor
seperti: keinginan untuk diakui oleh teman-teman sebayanya, terutama oleh teman
dalam satu geng motor. Geng motor kemudian berkembang untuk menjadi jagoan
yang diakui oleh geng lainnya, geng motor merupakan sarana dalam penyaluran
ekspresi para remaja, geng motor juga merupakan sarana menampilkan eksistensi
diri atau kelompoknya. Geng motor juga membuat remaja merasa aman dan
nyaman bergaul.
Masyarakat yang telah dibuat resah oleh keberadaan geng motor sangat
mendukung tindakan polisi kepada anggota geng motor tersebut, mereka
menyambut baik aksi pembubaran geng motor meskipun masih menyangsikan
akan kebenaran bubarnya geng motor ini. Masyarakat di beberapa kawasan kota
dan kabupaten Bandung juga membuat spanduk yang inti pesannya menentang
kegiatan kekerasan geng motor. Ada juga beberapa anggota masyarakat yang
menginginkan jika ada anggota geng motor yang terbukti melakukan tindak
kriminal agar langsung ditembak di tempat saja untuk membuat jera remaja yang
menjadi anggota geng motor tersebut.
Upaya-upaya yang dilakukan pihak kepolisian dan warga masyarakat
memang membuat masyarakat merasa lebih aman tetapi bagi para anggota geng
motor yang merupakan remaja yang perlu bimbingan dan pendekatan khusus tentu
merupakan masalah baru, karena menjadi anggota geng motor merupakan salah
satu bentuk pelarian dari masalah mereka. Upaya-upaya yang dilakukan untuk
mengamankan keadaan perlu dibuat tidak hanya berpihak kepada kepentingan
masyarakat saja tetapi anggota geng motor juga harus diperhatikan mengingat
mereka masih remaja. Penanganan yang tepat yaitu sesuai dengan tingkat
kejahatan dan mempertimbangkan umur sangat diperlukan untuk kepentingan
masa depan mereka.

1.2 Identifikasi Masalah
Realitas saat ini hampir seluruh anggota geng motor merupakan remaja
awal sampai remaja akhir yaitu sekitar usia 12-22 tahun yang dapat dengan
mudah melakukan tindakan kriminal yang meresahkan masyarakat.
Alasan dari para remaja ini mengikuti geng motor antara lain karena
senang dengan kebut-kebutan, mengikuti idolanya, ajakan teman, tidak
percaya diri, ingin berkuasa dan terkenal diantara teman-temannya,
hubungan keluarga yang memiliki masalah, serta keingintahuan yang besar
mengenai gangster.
Penyebab dari keberadaan geng motor awalnya hanya beberapa
perkumpulan anak remaja yang berteman satu sama lain dan memiliki
kesenangan yang sama yaitu kebut-kebutan namun dalam
perkembangannya banyak remaja yang bergabung karena anggota geng
motor dianggap eksis dan disegani oleh teman-temannya
Akibat yang terjadi dari keberadaan geng motor adalah ketika mulai
adanya selisih paham diantara geng motor tersebut, mereka mulai bersaing
menjadi geng nomor satu dengan berbagai cara seperti tawuran,
mengintimidasi dan mengeroyok anggota geng lain, menandai daerah
kekuasaannya dengan mencorat-coret tembok sehingga membuat resah
masyarakat, sehingga masyarakat takut menjadi korban dan takut pula jika
anak-anak mereka menjadi salah satu anggota geng motor tersebut.
Pihak kepolisian terus melakukan upaya untuk mengamankan geng motor
karena dianggap telah merugikan dan menindak tegas mereka jika
tindakan mereka termasuk dalam tindakan kriminal dengan cara memberi
hukuman yang sama dengan penjahat dewasa agar mereka jera.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak terhadap keberadaan
geng motor ini dianggap tidak benar-benar berpengaruh bagi generasi
selanjutnya dan tidak terlalu diperhatikan oleh remaja. Perlu adanya upaya
persuasi lain dengan media yang dekat dengan lingkungan dan mendapat
perhatian dari mereka.

1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran umum kenakalan remaja dalam komuitas geng
motor?
2. Apa saja faktor penyebab terjadinya kenakalan yang dilakukan remaja
geng motor?
3. Apa saja dampak dari kenakalan dan aktifitas yang dilakukan para remaja
geng motor bagi remaja, keluarga, dan masyarakat sekitar?

1.4 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana gambaran kenakalan remaja dalam
komunitas geng motor.
2. Untuk menjelaskan apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan
yang dilakukan oleh para remaja geng motor.
3. Untuk mengetahui apa saja dampak dari kenakalan dan aktifitas yang
dilakukan oleh para pelaku geng motor.









BAB II
LANDASAN TEORI

Ada dua konsep utama yang akan digunakan dalam skripsi ini yaitu geng
motor dan kenakalan remaja. Selain itu teori yang berkaitan dengan fenomena
geng motor dan kenakalan remaja teori anomi dan tindakan non-konformitas dari
Robert K Merton. Berikut ini adalah konsep yang digunakan:
A. Geng Motor
Istilah gangs (geng) ini sejak lama telah digunakan untuk merujuk pada
kelompok-kelompok berkisar dari play group(kelompok bermain di masa
kanak-kanak dan remaja) hingga kelompok kejahatan terorganisasikan. Geng
menjadi perhatian umum karena secara awam istilah tersebut merujuk pada
komunitas perusuh yang biasanya terdiri dari anak-anak muda. Beranjak pada
pengertian yang lebih sederhana, geng adalah kelompok perkoncoan remaja,
bukan kelompok pemuda yang didukung orang dewasa. Ini merupakan kelompok
yang anggotanya selalu bersama-sama secara teratur, dan mereka menentukan
sendiri kriteria keanggotaannya. (Adam Kuper dan Jessica Kuper, 2000 : 389)
Menurut Kartini Kartono, geng banyak tumbuh dan berkembang di kota-
kota besar. Geng juga identik dengan berbagai bentuk kenakalan yang mengarah
pada tindak kriminalitas. Meskipun sebenarnya, gerombolan anak laki dari suatu
geng terdiri dari anak-anak normal, namun oleh satu atau beberapa bentuk
pengabaian, dan upaya mereka mencari kompensasi bagi segala kekurangannya,
menyebabkan anak-anak muda ini kemudian menjadi jahat. Anak-anak menjadi
jahat dan berusaha mendapatkan segala sesuatu yang membahagiakan dan
memuaskan mereka, anak remaja menganggap apa yang diberikan oleh orang tua,
keluarga, dan masyarakat sekitarnya tidak cukup. Hal-hal yang tidak ditemukan di
tengah-tengah keluarga dan lingkungan sendiri, kemudian justru mereka dapatkan
di dalam sebuah geng motor, seperti kesetiakawanan dan kebersamaan. (Kartini
Kartono, 1989 : 13)
Geng motor menjadi tempat untuk mendapatkan sesuatu kebahagiaan
maupun kepuasan diri bagi para remaja, kebahagiaan yang tidak mereka dapatkan
dari lingkungan keluarga dan sosial lainnya, di dalam geng motor mereka
mendapatkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan antar remaja yang membuat
mereka merasa nyaman.
Beberapa hal yang biasanya terdapat dalam geng motor menurut Katini
Kartono adalah: pertama, kepemimpinan; kedua istilah-istilah tertentu yang hanya
dimiliki dan dimengerti oleh geng motor tersebut; ketiga, ada aturan khusus yang
apabila dilanggar akan dikenakan sanksi. (Kartini Kartono, 1986 : 13)
Dengan kata lain, di dalam sebuah geng motor ada seorang pemimpin
yang
memimpin segala aktifitas dalam sebuah geng motor, salah satu
wewenang pemimpin adalah menentukan wilayah untuk melakukan aktifitas
dalam geng motor. Dari segala aktifitas yang mereka lakukan bertujuan untuk
memperkuat dan menumbuhkan loyalitas bagi setiap anggotanya.
Untuk itu syarat pemimpin dalam sebuah geng adalah memiliki kekuatan,
keterampilan, dan nyali yang besar, jika dibandingkan dengan para anggota
lainnya. Hal tersebut menjadikan si pemimpin mendapatkan respek dan menjadi
panutan dari anggota lainnya. Figur kepemimpinan dalam geng motor harus
dimiliki oleh seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat kuat, seperti
memiliki kekuatan untuk memimpin para anggotanya, memiliki keberanian dalam
mengambil suatu tindakan, dan disegani oleh para anggota maupun orang lain.
Di dalam kelompok geng motor tadi kemudian muncul bahasa sendiri
dengan penggunaan kata dan istilah khusus yang hanya dapat dimengerti oleh para
anggota geng itu sendiri. Timbul pula ungkapan bahasa, gerak tubuh dan isyarat
sandi tertentu. Dari seluruh kelompok itu selanjutnya muncul satu tekanan kepada
semua anggota kelompok, agar setiap individu mau menghormati dan mematuhi
segala aturan yang sudah ditentukan.
Berkaitan dengan sanksi sebagaiman yang dikatakan oleh Kartono, maka
segala sesuatu yang dianggap melanggar ketentuan dalam geng, maka individu
tersebut akan dikenakan sanksi berupa kekerasan, dikucilkan, dan ejekan yang
diterima dari anggota lainnya sampai dikeluarkan dari keanggotaan geng.
Beberapa ciri geng tadi dapat disebutkan di bawah ini:
1) Jumlah anggotanya berkisar antara 3-40 anak remaja. Jarang beranggotakan
lebih dari 50 anak remaja.
2) Anggota geng lebih banyak terdiri dari anak laki ketimbang anak perempuan,
walaupun ada juga anak perempuan yang ikut di dalamnya. Didalam geng
tersebut umum terjadi relasi heteroseksual bebas antara hakiki dan perempuan
3) (yang merasa dirinya maju dan modern), Sering pula berlangsung
perkawinan di antara mereka, sungguhpun pada umumnya anak laki lebih
suka kawin dengan perempuan luar, dan bukan dengan anggota gang sendiri.
4) Kepemimpinan ada di tangan seorang anak muda yang dianggap paling
banyak berprestasi, dan memiliki lebih banyak keunggulan atau kelebihan
daripada anak-anak remaja lainnya.
5) Umur anggotanya berkisar 7-25 tahun. Pada umumnya semua anggota berusia
sebaya; berupa per-group atau kawan-kawan sebaya, yang memiliki semangat
dan ambisi yang kurang lebih sama.
6) Anggota geng biasanya bersikap konvensional bahkan sering fanatik dalam
mematuhi nilai-nilai dan norma geng sendiri. Pada umumnya mereka sangat
setia dan loyal terhadap sesama. Di dalam geng sendiri anak-anak itu
mendapatkan status sosial dan peranan tertentu sebagai imbalan
partisipasinya. Mereka harus mampu menjunjung tinggi nama kelompok
sendiri. Semakin kasar, kejam, sadistis dan berandalan tingkah-laku mereka,
semakin "tenarlah" nama gengnya, dan semakin banggalah hati mereka.
Nama pribadi dan gengnya menjadi mencuat dan banyak ditiru oleh
kelompok berandalan remaja lainnya. (Kartini Kartono, 1986 : 16 -18)

B. Kenakalan Remaja
Masa Remaja, menurut Mappiare, berlangsung antara umur 12 tahun
sampai 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.
Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang
ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikososial.
(Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, 2010 : 9)
Kenakalan yang terjadi pada masyarakat sangat berkaitan atau identik
dengan para remaja, oleh karena itu perlu kita ketahui jenjang dimana para remaja
banyak melakukan aksi kenakalan yang dapat meresahkan lingkungan dimana
remaja berada dan tinggal. Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal-
hal yang negatif dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik
lingkungan dengan teman- temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia
di rumah. Hal-hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negatif yang sering kita
sebut dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan
perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial.
Adapun pengertian kenakalan remaja antara lain :
a) Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi
anakanak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana,
seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
b) Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk
menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
c) Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.

Kenakalan remaja menurut Kartini Kartono, ialah perilaku jahat atau
kenakalan anak-anak muda yang merupakan gejala sakit (Patologis) secara sosial
pada anak remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga
mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Pada
umumnya anak remaja ini mempunyai kebiasaan yang aneh dan ciri khas tertentu,
seperti cara berpakaian yang mencolok, mengeluarkan perkataan-perkataan yang
buruk dan kasar, kemudian para remaja ini juga memiliki tingkah laku yang selalu
mengikuti trend remaja pada saat ini. (Kartini Kartono, 1986 : 8)
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke
dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah
sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan
sosial ataupun dariilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat
dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem
sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung
makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui
jalur tesebut berarti telah menyimpang.
Perilaku menyimpang merupakan perilaku yang keluar dari norma-norma
atau aturan-aturan sosial yang telah ada dalam tatanan kehidupan masyarakat.
Kenakalan yang dilakukan oleh kalangan remaja, para remaja dianggap telah
melakukan suatu pelanggaran terhadap norma-norma yang ada di masyarakat.
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa juvenile
delinquency adalah segala perbuatan yang dilakukan oleh anak-anak remaja
dengan
melanggar setiap norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat sehingga
dapat menimbulkan keresahan bagi masyarakat.
1. Bentuk kenakalan remaja
a. Ngebut, yaitu mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang
melampaui kecepatan maksimum yang ditetapkan, sehingga dapat
mengganggu dan membahayakan pemakai jalan yang lain (kecepatan
maksimum di dalam kota adalah 25 sampai 40 kilometer per jam).
b. Peredaran pornografi di kalangan pelajar, baik dalam bentuk gambar-
gambar cabul, majalah, dan cerita porno yang dapat merusak moral
anak, sampai peredaran obat-obat perangsang nafsu seksual,
kontrasepsi, dan sebagainya.
c. Membentuk kelompok atau gang dengan norma yang menyeramkan,
seperti
kelompok bertato, kelompok berpakaian acak-acakan, dan sebagainya.
d. Berpakaian dengan mode yang tidak selaras dengan selera lingkungan,
sehingga dipandang kurang atau tidak sopan di mata lingkungannya.

Dari beberapa bentuk kenakalan remaja yang telah disebutkan di atas,
ada
beberapa bentuk kenakalan lainnya seperti, perusakan fasilitas umum, membolos
sekolah, mencorat- coret dinding sekolah dan tawuran antar pelajar.

2. Teori sebab kenakalan remaja
Kejahatan remaja menurut Kartini Kartono, merupakan gejala
penyimpangan dan patologis secara sosial itu juga dapat dikelompokkan, dan
mempunyai sebabmusabab yang majemuk. Dengan menggunakan pemikiran para
sarjana yangmenekuni topik ini, maka ia menggolongkannya dalam empat teori
yaitu biologis, psikogenis, sosiogenis, dan teori sub-kultur. Menurut penulis dari
keempat teori tersebut, maka yang paling relevan adalah teori sosiogenis dan sub-
kultur.
a) Teori Sosiogenesis
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Kartini Kartono, para sosiolog
berpendapat penyebab tingkah-laku kenakalan pada anak-anak remaja ini adalah
murni sosiologis atau sosial-psikologis sifatnya. Misalnya disebabkan oleh,
tekanan kelompok, peranan sosial, status sosial yang keliru. Maka faktor-faktor
kultural dan sosial itu sangat mempengaruhi, bahkan mendominasi peranan sosial
setiap individu di tengah masyarakat, status individu di tengah kelompoknya,
partisipasi sosial, dan pendefinisiandiri atau konsep dirinya.
Proses simbolisasi diri ini berlangsung tidak sadar dan berangsur-angsur
untukkemudian menjadi bentuk kenakalan pada diri seorang remaja. Menurut
Kartini Kartonohal ini berlangsung sejak usia sangat muda, dimulai dari keluarga
sendiri yang berantakan, sampai pada masa remaja dan masa dewasa di tengah
masyarakat.Terbentuknya pola tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma
umum, sehinggamenimbulkan kenakalan yang dilakukan remaja secara terus
menerus. (Kartini Kartono, 1986 : 28 - 29)

b) Teori subkultur delinkuensi
Menurut Kartini Kartono "Kultur" atau "kebudayaan" dalam hal ini
menyangkut satu kumpulan nilai dan norma yang menuntut bentuk tingkah-laku
responsif sendiri yang khas pada anggota-anggota kelompok geng tadi. Sedang
istilah "sub" mengindikasikan bahwa bentuk "budaya" tadi bisa muncul di tengah
suatu sistem yang lebih inklusif sifatnya. Teori Subkultur mengaitkan
kepercayaan atau keyakinan, ambisi-ambisi tertentu (misal-nya ambisi materiil,
hidup santai, pola kriminal, relasi heteroseksual bebas, dan lain-lain) yang
memotivasi timbulnya kelompok-kelompok remaja brandalan dan kriminal,
dikarenakan mereka ingin mencapai suatu status sosial yang tinggi dan prestise di
kelompoknya. (Kartini Kartono, 1986 : 31)
Menurut teori subkultur ini, sumber kenakalan remaja ialah; sifat-sifat
suatu struktur sosial dengan pola budaya (subkultur) yang khas dari lingkungan
familial, tetangga dan masyarakat yang didiami oleh para remaja nakal tersebut.


Sifat-sifat masyarakat tersebut antara lain ialah:
(1) punya populasi yang padat,
(2) status sosial-ekonomis penghuninya rendah,
(3) kondisi fisik perkampungan yang sangat buruk,
(4) banyak disorganisasi familial dan sosial bertingkat tinggi.
Salah satu hal yang dianggap sebagai faktor yang sangat penting bagi
munculnya sub kultur kenakalan remaja adalah karena besarnya ambisi materil,
dan kecilny kesempatan untuk meraih sukses, memudahkan pemunculan
kebiasaan hidup yan menyimpang dari norma hidup wajar, sehingga banyak anak
remaja menjad menyimpang dan kriminal. (Kartini Kartono, 1986 : 31)
Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa kenakalan yang terjadi
dikalangan remaja, baik dari sub kultur kalangan kelas ekonomi atas, sub kultural
menengah, maupun kultur ekonomi bawah memiliki potensi yang sama untuk
berkembangnya perilaku menyimpang atau kenakalan pada remaja. Dengan kata
lain fenomena kenakalan remaja tidak hanya terjadi pada kalangan bawah saja.

3. Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja
Adapun menurut Agoes Dariyo gejala kenakalan timbul dalam masa
pubertas, di mana jiwa dalam keadaan labil, sehingga mudah terseret oleh
lingkungan. Seorang anak tidak tiba-tiba menjadi nakal, tetapi menjadi nakal
karena beberapa saat setelah dibentuk oleh lingkungannya (keluarga, sekolah,
masyarakat), termasuk kesempatan yang di luar kontrol yaitu:
a. Kondisi keluarga yang berantakan(Broken Home), kondisi keluarga yang
berantakan merupakan cerminan adanya ketidakharmonisan antar
individu(suami-istri dan orang tua anak) dalam lembaga rumah tanngga.
Hubungan suami-istri yang tidak sejalan yakni ditandai dengan
pertengkaran, percekcokan, maupun konflik terus menerus. Selama konflik
itu berlangsung dalam keluarga , anak-anak akan mengamati dan
memahami tidak adanya kedamaian dan kenyamanan dalam keluarganya.
Kondisi ini membuat anak tidak merasakan perhatian, dan kasi saying dari
orang tua mereka. Akibatnya mereka melarikan diri untuk mencari kasih
sayang dan perhtian dari pihak lain, dengan cara melakukan kenakalan-
kenakalan diluar rumah.
b. Situasi (rumah tangga, sekolah, lingkungan) yang menjemukan dan
membosankan, padahal tempat-tempat tersebut mestinya dapat merupakan
faktor penting untuk mencegah kenakalan bagi anak-anak (termasuk
lingkungan yang kurang rekreatif).
c. Lingkungan masyarakat yang tidak atau kurang menentu bagi prospek
kehidupan masa mendatang, seperti masyarakat yang penuh spekulasi,
korupsi, manipulasi, gosip, isu-isu negative atau destruktif, perbedaan
terlalu mencolok antara si kaya dan si miskin, dan sebagainya.






BAB III
PEMBAHASAN

Berita tentang perilaku geng motor akhir-akhir ini bisa dianggap sudah
sangat meresahkan masyarakat, sehingga dapat dikategorikan sebagai kondisi
patologi sosial, penyakit masyarakat yang perlu segera diobati. Lembaga
kepolisian sampai mempermaklumkan akan menembak di tempat anggota geng
motor yang melakukan kebrutalan.
Perang antar geng kerap menimbulkan korban luka hingga korban jiwa.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, saat ini aksi tawuran antar geng motor
melibatkan masyaratakat umum.
Subkultur geng anak muda, kata kriminolog Cloward dan Ohlin, akan
tumbuh subur tergantung pada tipe atau cara pertentangan di mana mereka
tinggal. Ada tiga tipe geng:
Pertama, geng pencurian (thief gangs), mereka berkelompok melakukan
pencurian yang mula-mula hanya untuk menguji keberanian anggota
kelompok.
Kedua, geng konflik (conflict-gangs) kelompok ini suka sekali
mengekpresikan dirinya melalui perkelahian berkelompok supaya tampak
gagah dan pemberani.
Ketiga, geng pengasingan (retreats gangs), kelompok geng ini sengaja
mengasingkan dirinya dengan kegiatan minum minuman keras, atau napza
yang kerap dianggap sebagai suatu cara pelarian dari alam nyata. Tetapi
bisa saja sebuah geng memiliki lebih dari satu macam tipe.
Dalam geng acapkali tumbuh subkultur kekerasan (subculture of
violence). Munculnya subkultur itu disebabkan oleh adanya sekelompok orang
yang memiliki sistem nilai yang berbeda dengan kultur dominan. Masing-masing
subkultur memiliki nilai dan peraturan berbeda-beda yang kemudian mengatur
anggota kelompoknya. Nilai-nilai itu terus berlanjut karena adanya perpindahan
nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Berlatar belakang pengetahuan tentang berbagai jenis geng, kini perlu
diteliti secara objektif keberadaan komunitas geng motor di Indonesia. Dari hasil
penelitian geng motor dapat diidentifikasi bercirikan: punya identitas (nama,
ornamen pembeda, lambang, dsb). Kelompok ini identik dengan minuman keras,
obat-obatan terlarang (ganja, sabu-sabu, ektasi, dan lain-lain), free sexs,
berkendaraan, bergerombol, dengan penampilan khasnya yang terlihat urak-
urakan; dan memiliki semacam daerah kekuasaan, dan musuh berupa geng motor
lainnya.

1. Karakteristik Keanggotaan
Karakteristik anggota geng motor adalah sebagai berikut: usia antara 14-
32 tahun; kebanyakan berjenis kelamin laki-laki; sangat bangga dengan statusnya
sebagai salah satu anggota geng motor; agresif dan menantang bahaya; tingkat
pendidikan antara SMP sampai dengan perguruan tinggi; menjadi anggota geng
motor atas ajakan rekan sekolah maupun lingkungan.
Apabila geng mereka diekspos di media massa, mereka merasa sangat
bangga, sehingga semakin berlomba-lomba untuk lebih banyak melakukan
perilaku yang mereka anggap menimbulkan sensasi yang akan dipublikasikan oleh
media. Kadang-kadang mereka tidak menyadari bahwa perbuatan tersebut dapat
dikategorikan sebagai perbuatan kriminal. Misalnya merampas milik orang lain,
melakukan tindak kekerasan, tawuran antargeng, dan melakukan pembunuhan
terhadap anggota geng lain . Karena tujuan utama pendirian kelompok tersebut
merupakan upaya (expresi) penolakan terhadap benyaknya peraturan-paraturan
dalam masyarakat yang banyak membatasi kegiatan (aktivitas) mereka.
Menurut hasil analisis, hal ini terjadi karena mereka tidak sadar bahwa
ada kemungkinan terbuka peluang bagi para penjahat yang menyusup ke dalam
geng motor, sehingga masyarakat menganggap perilaku kriminal tersebut
dilakukan oleh para remaja yang sebenarnya tidak berniat untuk melakukan tindak
kriminal. Penyusupan tersebut sulit untuk diidentifikasikan, karena jumlah geng
motor di kota-kota sangat banyak. Dan ketika melakukan operasi, mereka
menggunakan penutup yang menutupi seluruh wajah. Jadi sulit sekali
mengidentifikasi pelaku.
Inilah yang membuat polisi melakukan tindakan represif dan
mempermaklumkan tindakan tembak di tempat untuk para pelaku kekerasan dari
geng motor. Namun demikian, polisi harus berhati-hati menumpas perilaku
kriminal tersebut, sehingga masyarakat tidak resah, terutama bagi para orang tua
yang kebetulan anak remajanya terlibat dalam Punkkers maupun geng motor.
Polisi harus benar-benar bekerja keras untuk menyisir mana remaja yang
delinquent dan mana para kriminal yang berkedok geng motor atupun punkkers
juga provokator.
Membubarkan atau melarang tumbuhnya geng motor bukan merupakan
jalan keluar yang baik, bahkan akan jadi bumerang bagi penegakan hukum.
Karena akan melahirkan masalah sosial yang baru; remaja akan kehilangan ruang
publik untuk berekspresi diri, dan mencari kegiatan lain yang boleh jadi lebih
patologis wujudnya, misalnya kebut-kebutan di jalan.
2. Faktor Kenakalan Remaja
Berdasarkan perkembangan zaman saat ini adapun yang menjadi faktor-
faktor penyebab kenakalan remaja saat ini adalah:
1. Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang datangnya dari dalam tubuh remaja
sendiri. Faktor intern ini jika mendapatkan contoh-contoh yang kurang mendidik
dari tayangan televisi akan menimbulkan niat remaja untuk meniru adegan-adegan
yang disaksikan pada isi program televisi tersebut. Khususnya menyangkut
masalah pergaulan remaja di zaman sekarang yang makin berani mengedepankan
nilai-nilai budaya luar yang tidak sesuai dengan adat budaya bangsa. Akhirnya
keinginan meniru tersebut dilakukan hanya sekedar rasa iseng untuk mencari
sensasi dalam lingkungan pergaulan dimana mereka bergaul tanpa batas dan
norma agar dipandang oleh teman-temannya dan masyarakat sebagai remaja yang
gaul dan tidak ketinggalan zaman.
Timbulnya minat atau kesenangan remaja yang memang gemar
menonton acara televisi tersebut dikarenakan kondisi remaja yang masih dalam
tahap pubertas. Sehingga rasa ingin tahu untuk mencontoh berbagai tayangan
tersebutyang dinilai kurang memberikan nilai moral bagi perkembangan remaja
membuat mereka tertarik. Dan keinginan untuk mencari sensasipun timbul dengan
meniru tayangan-tayangan tesebut, akibat dari kurangnya pengontrolan diri yang
dikarenakan emosi jiwa remaja yang masih labil.



2. Faktor ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang datangnya dari luar tubuh remaja.
Faktor ini dapat disebut sebagai faktor lingkungan yang memberikan contoh atau
teladan negatif serta didukung pula oleh lingkungan yang memberikan
kesempatan.
Hal ini disebabkan karena pengaruh trend media televisi saat ini yang
banyak menampilkan edegan-adegan yang bersifat pornografi, kekerasan,
hedonisme dan hal-hal yang menyimpang dari nilai moral dan etika bangsa saat
ini. sepertinya media televisi telah memaksa remaja untuk larut dalam cerita-cerita
yang mereka tampilkan seolah-olah memang begitulah pergaulan remaja
seharusnya saat ini. Yang telah banyak teradopsi oleh nilai-nilai budaya luar yang
kurang dapat mereka seleksi mana yang layak dan yang tidak layak untuk ditiru.

3. Minimnya perhatian dari Orang Tua dan Lingkungan
Hal tersebut memberikan dampak buruk pula bagi remaja untuk mudah
larut dalam hal-hal negatif. Baik dari tayangan televisi maupun dari pergaulan
teman-temannya. Kurangnya perhatian orang tua banyak para remaja mencari
perhatian didunia luar. Mereka cenderung melakukan atau mencari kesenangan di
lingkungan pergaulannya. Ikut-ikutan dan tak lagi dapat membedakan yang mana
baik dan buruk. Rasa takut hilang karena menganggap banyak temannya yang
melakukan hal keliru tersebut. Hingga akhirnya ketergantungan dan mereka terus
melakukannya berulang kali seperti halnya biasa dan membentuk sebuah budaya
yang tak bisa lepas dari hidup mereka. Seperti mengkonsumsi minuman keras,
narkoba dan kegiatan lain yang dinilai dapat memberikan kesenangan sesaat. Dan
dampak dari kegiatan tersebut akan menciptakan orang-orang yang hedonis.
Faktor lain yang juga ikut berperan menjadi alasan mengapa remaja saat ini
memilih bergabung dengan geng motor adalah kurangnya sarana atau media bagi
mereka untuk mengaktualisasikan dirinya secara positif. Begitu juga dengan
keterlibatannya menjadi anak-anak punk.
Remaja pada umumnya, lebih suka memacu kendaraan dengan kecepatan
tinggi. Namun, ajang-ajang lomba balap yang legal sangat jarang digelar. Padahal,
ajang-ajang seperti ini sangat besar manfaatnya, selain dapat memotivasi untuk
berprestasi, juga sebagai ajang aktualisasi diri. Karena sarana aktualisasi diri yang
positif ini sulit mereka dapatkan, akhirnya mereka melampiaskannya dengan aksi
ugal-ugalan di jalan umum yang berpotensi mencelakakan dirinya dan orang lain.

4. Pengendalian
Dalam literatur sosiologi (Paul B Horton dan Chester L Hunt, 1964: 140-
146, dan Alex Thio, 1989: 176-182), ada tiga cara yang dapat dikerahkan untuk
mengatasi deviasi sosial.yaitu:
Pertama, Internalisasi atau penanaman nilai-nilai sosial melalui kelompok
informal atau formal. Lembaga-lembaga sosial, seperti keluarga dan
sekolah, adalah kekuatan yang dapat membatasi meluasnya punkkers
ataupun geng motor. Mekanisme pengendalian itu lazim disebut sebagai
sosialisasi. Dalam proses sosialisasi itu, setiap unit keluarga dan sekolah
memiliki tanggung jawab membentuk, menanamkan, dan
mengorientasikan harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, serta tradisi-
tradisi yang berisi norma-norma sosial kepada remaja. Bahkan, hal yang
harus ditegaskan adalah sosialisasi yang bersifat informal dalam lingkup
keluarga jauh lebih efektif. Sebab, dalam domain sosial terkecil itu
terdapat jalinan yang akrab antara orang tua dengan remaja.

Kedua, penerapan hukum pidana yang dilakukan secara formal oleh pihak
negara. Dalam kaitan itu, aparat penegak hukum, seperti kepolisian,
pengadilan, dan lembaga pemenjaraan, digunakan untuk mengatasi geng
motor.Keuntungannya adalah penangkapan dan pemberian hukuman
kepada anggota-anggota geng yang melakukan tindakan kriminal mampu
memberikan efek jera bagi anggota-anggota atau remaja lain.
Kerugiannya, aplikasi hukum pidana membatasi kebebasan pihak lain
yang tidak berbuat serupa. Bukankah dalam masyarakat ada kelompok-
kelompok pengendara sepeda motor yang memiliki tujuan-tujuan baik,
misalnya untuk menyalurkan hobi automotif? Selain itu bukankah ada juga
pembentukan kelompok-kelompok yang bertujuan untuk positif? Seperti
kelompok peduli lingkungan dan hutan Indonesia, etc.

Ketiga, dekriminalisasi yang berarti bahwa eksistensi geng-geng motor
ataupun punkkers justru diakui secara hukum oleh negara. Tentu saja,
dekriminalisasi bukan bermaksud untuk melegalisasi kejahatan, kekerasan,
dan berbagai pelanggaran norma-norma sosial yang dilakukan remaja.
Dekriminalisasi memiliki pengertian sebagai kejahatan yang tidak
memiliki korban. Prosedur yang dapat ditempuh adalah pihak pemerintah
dan masyarakat membuka berbagai jenis ruang publik yang dapat
digunakan kaum remaja untuk mengekspresikan keinginannya, terutama
dalam menggunakan kendaraan bermotor. Lapangan terbuka atau arena
balap bisa jadi merupakan jalan keluar terbaik. Kehadiran geng motor
merupakan fenomena sosial yang harus direspons secara proporsional.
Menanggapi kemunculan mereka dengan lagak sok moralistis atau
menunjukkan sikap sebagai aparat negara dan orang tua yang sedemikian
histeris, justru dengan mudah memancing kaum remaja menjadi semakin
sinis.

5. Penanaman Nilai-nilai Agama
sebagai upaya preventif terhadap peningkatan jumlah anggota geng
motor di kemudian hari, perlu dilakukan penanaman nilai-nilai agama sejak dini.
terutama tentang akhlaq (moral dan etika). Dengan begitu anak akan mengetahui
mana yang layak dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sehingga pada
saat mereka sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat mereka tahu batasan-
batasan dan aturan yang harus dipatuhi.
Salah satu solusi yang bisa memperbaiki keadaan mereka secara efektif
adalah peran; kepedulian; dan kasih sayang orang tua mereka sendiri.
Solusi ini akan lebih efektif, mengingat penyebab utama mereka memilih
geng motor dan punkkers sebagai bagian kehidupannya adalah karena mereka
merasa jauh dari kasih sayang orang tua. Dalam menterapi anaknya yang sudah
terlanjur terlibat anggota geng motor, orang tua bisa bekerja sama dengan
psikolog yang mereka percayai. Sehingga secara pasikologis sedikit demi sedikit
anak akan mendapatkan kembali kenyamanan berada dalam kasih sayang orang
tua selain itu kita sebagai mahluk Allah swt juga berkewajiban memasukkan
nilai-nilai religius kepada para anak didik kita. Karena bagaimanapun kita harus
mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetepkan oleh sang pencipta, selain itu
yang menjadi benteng paling efektif untuk mencegah nilai-nilai negatif yang
sudah dijelaskan diatas hanyalah agama.


















BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kelompok anak muda yang tergabung dalam geng motor merupakan
salah
satu wujud dari kehidupan geng di mana terjadi kenakalan remaja. Sebagaimana
dinyatakan Kartono (1986) geng identik dengan berbagai bentuk kenakalan yang
mengarah pada tindak kriminalitas.
Pembahasan ini memperkuat teori tentang geng dan kenakalan remaja
sebagaimana dinyatakan oleh Kartono (1986), bisa disimpulkan bahwa penyebab
sekelompok remaja yang tergabung dalam geng motor adalah upaya mereka
untuk mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan. Mereka menganggap apa yang
diberikan oleh orang tua, keluarga, dan masyarakat sekitarnya tidak cukup.
Mereka mendapatkan hal-hal seperti rasa kesetiakawanan dan kebersamaan
melalui geng motor.
Dengan kata lain faktor-faktor penyebab kenakalan remaja yang terjadi
dalam komunitas geng motor :
1. Adanya persoalan ketidakpuasan terhadap keluarga dan
ketidakharmonosan antara orangtua dan anak, yang tidak baik
dikarenakan hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak.
Kurangnya kasih sayang dan pengawasan pada anak remaja
menyebabkan remaja ini melakukan tindak kenakalan.
2. Pencarian jati diri, menemukan arti pershabatan dan rasa
kesetiakawanan, melalui tindakan-tindakan bersama kearah negatif.
3. Kondisi hubungan sosial dengan masyarakat sekitar, dimana remaja P-
dox tinggal cendrung pasif. Meskipun terdapat kesan yang negatif
tetapi tidak ada sanksi sosial yang tegas ataupun menghukum untuk
remaja yang melakukan tindaka kenakalan.

4.2 Saran
Kenakalan-kenakalan yang terjadi dalam komunitas geng motor
adalah bagian dari masalah social. Tidak seharusnya cara-cara non-
konformitas menjadi pilihan remaja dalam menjalani hidup. Semua pihak
terkait seharusnya melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
4. Orang tua seharusnya lebih memahami anak-anak mereka,
menjadi pelindung dan teman yang bisa menegerti kesulitan
anak. Agar anak tidak merasa diabaikan, maka diperlukan
komunikasi yang intensif sehingga anak-anak remaja tidak
menjadikan kehidupan geng sebagai pilihan.
5. Mengarahkan para remaja geng motor ini untuk mengikuti
balapan resmi yang diadakan oleh pihak swasta dan
meninggalkan balap liar yang selama ini mereka lakukan, dengan
memberitahukan keuntungan dan kerugian yang mereka terima.
Dengan begitu mereka bisa menyalurkan hobi tanpa ada resiko
buruk yang akan menimpa para remaja ini.
6. Memberikan bimbingan tentang dampak buruk dari setiap
kenakalan yang mereka lakukan. Hal lainnya adalah dengan
membawa para remaja ini kearah yang bersifat positif, seperti
mengikuti olahraga futsal, biliyar, dengan adanya kegiatan
tersebut setidaknya mengurangi kenakalan yang biasa dilakukan
oleh komunitas geng motor.
7. Perlunya peranan masyarakat dan pemerintah sekitar untuk
berani memberantas kenakalan yang terjadi dengan memberikan
sanksi ataupun hukuman yang tegas agar memberikan efek jera
pada setiap anggota geng motor.














DAFTAR PUSTAKA

Adam Kuper dan Jessica Kuper, Ensiklopedi ilmu-ilmu sosial, (Jakarta:
Raja
Agoes dariyo, Psikologi Perkembangan Remaja, (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 2004) Grafindo Persada,2000),
Kartini Kartono, Patologi Sosiologi 2 Kenakalan Remaja, (Jakarta:
Rajawali, 1986)
Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja, ( Jakarta:
2006)
Soerjono Sukanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada 1999)