Anda di halaman 1dari 6

1

EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI FITOREMEDIASI ORTHOFOSFAT


PADA DETERGEN DENGAN MENGGUNAKAN ECENG GONDOK
(Eichhornia crassipes)

Fitoremediation Effectivity and Efficiency of Water Hyacinth (Eichhornia
crassipes) for Detergent Orthophosphate

Meta Yuliana
1)
, Tengku Said Razai
2)
, Andi Zulfikar
2)


Programme Study Management of Aquatic Resources Faculty of Marine Science and Fisheries
Maritim Raja Ali Haji of University
Email : fikp@umrah.ac.id

Abstrak
Peningkatan penggunaan detergen di masyarakat berdampak terhadap tingginya kadar fosfat di
perairan, karena pada detergen terdapat kadar fosfat yang apabila masuk kedalam perairan dalam jumlah
yang besar dapat menyebabkan eutrofikasi. Untuk mengurangi kandungan orthofosfat, dapat dilakukan
dengan proses fitoremediasi. Fitoremediasi merupakan salah satu metode untuk mengurangi kandungan
orthofosfat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase (%) tingkat penyerapan yang efektif dari
berbagai konsentrasi orthofosfat detergen dengan detensi (lamanya) waktu fitoremediasi tersingkat/efisien
dalam menyerap kandungan orthofosfat dengan menggunakan Eceng gondok (Eichhornia crassipes).
Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan konsentrasi orthofosfat
pada detergen 0,05 mg/l, 0,08 mg/l, dan 0,13 mg/l dan detensi waktu fitoremediasi (hari ke-2, hari ke-4, dan
hari ke-6). Efektifitas fitoremediasi penyerapan orthofosfat detergen dengan waktu tersingkat yang optimal
(efisien) bagi proses fitoremediasi yaitu fitoremediasi pada perlakuan konsentrasi 0,05 mg/l dihari ke-2 (b
1
t
2
)
sebesar 17,00 % atau senilai dengan 0,009 mg/l penyerapan orthofosfat perharinya.

Kata Kunci : Fitoremediasi, Eceng Gondok (Eichhornia crassipes), Orthofosfat, Detergen.

Abstract
The increasing of detergent using from households and from small laundry home industries, positively
will ignite eutrofication process at natural water because the waste which rich with phosphat was disposed
directly to natural water resources. Fitoremediation using Water hyacinth (Eichhornia crassipes) is one of
solution to at least reducing orthophosphat concentration from natural water. This study was conducted to
investigate persen effectivity and the most efficient treatment which reduce orthophosphat from water.
Factorial in completely randomized design (CRD) with two variables (orthoposfat concentration and time
detention) was used. Orthophosphat concentrations were 0.05 mg/L, 0.08 mg/L, 0.13 mg/L and time
detentions were 2, 4 and 6 days, with independent variable was effectivity and efficiency of Water hyacinth
(Eichhornia crassipes) to eliminate orthophosphat based on interaction of initial orthophosphat
concentrations and time detentions. The most effective and efficient for absorbing orthophosphat from water
was treatment with initial concentration at 0.05 mg/l for 2 days with 17.00% (0.009 mg/L) orthophosphat
absorbing per day.


Keywords : Pytoremediation, Water Hyacinth (Eichhornia crassipes), Orthophosphate, Detergents.




1
Student of Aquatic Resource Management Programme Study
2
Lecture of Aquatic Resource Management Programme Study
2

I. PENDAHULUAN

Dewasa ini pencemaran air menjadi suatu
permasalahan yang cukup serius. Aktivitas
manusia dalam pemenuhan kegiatan sehari-hari,
secara tidak sengaja telah menambah jumlah
bahan organik maupun anorganik pada perairan
dan mencemari air. Kegiatan domestik atau rumah
tangga menghasilkan air limbah, sehingga apabila
langsung dibuang ke perairan (tanpa diolah
terlebih dahulu) berpotensi menimbulkan
pencemaran serta membahayakan kelangsungan
hidup biota akuatik di dalamnya. Sejalan dengan
peningkatan populasi penduduk dan
perkembangan industri, pemakaian detergen
akhir-akhir ini semakin meningkat. Limbah rumah
tangga yang berasal dari penggunaan detergen
menjadi salah satu penyebab pencemaran air
karena dalam limbah tersebut mengandung fosfat
yang tinggi.
Menurut Hera (2003) dalam Hardyanti dan
Rahayu (2007) fosfat ini berasal dari Sodium
Tripolyphosphate (STPP) yang merupakan salah
satu bahan yang kadarnya besar dalam detergen.
Detergen sebagai sumber polutan tersebut
termasuk dalam kategori sumber tidak tentu (non
point source), yaitu sumber pencemaran yang
tidak dapat diketahui secara pasti keberadaannya
misalnya buangan yang berasal dari rumah
tangga, pertanian, sedimentasi dan bahan
pencemar lain yang sulit dilacak sumbernya
(Arms, 1990 dalam Susana dan Suyarso, 2008).
Orthofosfat yang berlebih di dalam badan
air akan mengakibatkan terjadinya eutrofikasi.
Eutrofikasi adalah pencemaran air yang
disebabkan oleh munculnya nutrient yang
berlebihan ke dalam ekosistem perairan. Hal ini
merupakan masalah lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh kelebihan kadar fosfat khususnya
dalam ekosistem air tawar. Vollenweider dalam
Effendi (2003) menyatakan bahwa tingkat
kesuburan suatu perairan tawar dikategorikan
kepada tingkat/level eutrof apabila kandungan
fosfat sebagai orthofosfat pada perairan tersebut
berkisar antara 0,031-0,1 mg/l.
Upaya untuk mengurangi kandungan fosfat
dalam detergen dapat dilakukan antara lain secara
proses biologi dengan menggunakan tanaman
yang dikenal sebagai proses phytoremediation.
Fitoremediasi sebagai salah satu upaya
penggunaan tanaman dan bagian - bagiannya
untuk mengurangi pencemaran lingkungan,
dewasa ini semakin banyak dipakai, baik
untuk limbah organik maupun limbah anorganik.
Eceng Gondok (Eichhornia crassipes)
adalah tanaman air yang hidup di perairan tawar
yang menyerap nutrien untuk pertumbuhannya.
Penyerapan nutrien dalam jumlah besar
mengakibatkan Eceng Gondok tersebut menyerap
limbah cair, N-nitrat, logam-logam peneliti
mencoba melakukan studi terhadap tanaman
tersebut dalam upaya mengkaji kemampuan dan
limbah organik lainnya atau bahkan senyawa
racun di dalam limbah tersebut (Nefridia, 2004
dalam Djenar dan Budiastuti, 2008).
Seperti telah dibuktikan oleh Xia H dan Ma
X (1996) dalam Hardyanti dan Rahayu (2007)
bahwa tanaman ini mampu mereduksi pestisida
Phospor. Selain itu Sheffield (1997) dalam
Hardyanti dan Rahayu (2007) melaporkan bahwa
tanaman ini mampu menurunkan konsentrasi
ammonia sebesar 81 % dalam waktu 10 hari.
Kemudian Hardyanti dan Rahayu (2007) juga
menyebutkan bahwa Eceng Gondok mampu
menyisihkan kandungan fosfat hingga 24% dalam
waktu 5 hari pada limbah laundry.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
persentase (%) penyerapan yang efektif dari
berbagai konsentrasi yang ditentukan dan tingkat
yang paling efektif dengan detensi (lamanya)
waktu fitoremediasi tersingkat/efisien dalam
menyerap kandungan orthofosfat detergen
menggunakan tanaman Eceng Gondok
(Eichhornia crassipes).
Manfaat dari penelitian ini diharapkan
dapat memberikan informasi mengenai usaha
mengatasi pencemaran lingkungan dengan cara
fitoremediasi menggunakan tanaman Eceng
Gondok (Eichhornia crassipes) terhadap
orthofosfat yang terkandung dalam detergen serta
pengelolaan terhadap perairan yang mengalami
eutrofikasi akibat pengkayaan unsur fosfat
(terkhusus orthofosfat) terutama yang berasal dari
detergen rumah tangga.

II. METODE PENELITIAN
2.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan
terhitung sejak bulan Januari hingga Mei 2013.
Untuk design experiment dilakukan di ruangan
yang telah disediakan peneliti yaitu Jln. Maharani
km 5 atas Tanjungpinang. Sedangkan untuk uji
analisis kandungan orthofosfat menggunakan jasa
analis di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan
Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL PPM)
Kelas I Pulau Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

2.2. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan selama penelitian
adalah wadah plastik bervolume 10 liter,
timbangan, neraca analitik, ice box, gelas ukur,
pipet suntik, thermometer, pH meter, DO meter,
turbidy meter dan botol sampel. Adapun bahan
yag digunakan adalah detergen merk Rinso Anti
3

Noda, tanaman Eceng Gondok (Eichhornia
crassipes), air tawar, dan larutan asam sulfat
(H
2
SO
4
).

2.3. Rancangan Penelitian
Percobaan dilakukan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial 3x3
dengan 3 ulangan. Total keseluruhan rancangan
penelitian dengan 9 kombinasi dan 3 kali
pengulangan berjumlah 27 petak bak penelitian.
Variabel penelitian meliputi variabel bebas yaitu
faktor pertama adalah konsentrasi orthofosfat
pada detergen dengan menggunakan 3 taraf, yaitu
0.05 mg/l, 0.08 mg/l dan 0.13 mg/l, faktor kedua
adalah lamanya hari (detensi waktu) yakni selama
6 hari dengan pengukuran 3 taraf yaitu hari ke-2,
hari ke-4 dan hari ke-6. Variabel terikatnya adalah
penyerapan orthofosfat setelah fitoremediasi.

2.4. Aklimatisasi Eceng Gondok
Aklimatisasi merupakan upaya
penyesuaian fisiologis Eceng Gondok terhadap
perubahan beberapa faktor lingkungan. Tanaman
Eceng Gondok yang didapat kemudian
dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel
untuk selanjutnya diaklimatisasi sebelum
penelitian. Aklimatisasi Eceng Gondok dilakukan
dengan menumbuhkan tanaman dalam bak
terkontrol yang berisikan air setempat selama 1
minggu sebelum dipindahkan ke bak uji
sesungguhnya, kemudian setelah 1 minggu
aklimatisasi maka dilakukan penyortiran.

2.5. Penyortiran Tanaman Eceng Gondok
Tanaman Eceng Gondok yang telah
diaklimatisasi selama 1 minggu kemudian
ditimbang dengan berat 100 gram dan dipilih
dengan kriteria tanaman berdaun segar berwarna
hijau, sedangkan tinggi, akar, dan jumlah daun
masing-masing individu tanaman Eceng Gondok
di anggap homogen. Tanaman yang telah disortir
kemudian dipindahkan kedalam bak-bak plastik
yang telah berisi pengenceran deterjen (kondisi
eutrofikasi dengan dasar konsentrasi berada pada
rentang 0,031-0,1 mg/l orthofosfat) sesuai dengan
masing-masing konsentrasi orthofosfat yang telah
ditentukan.

2.6. Penentuan Konsentrasi
Konsentrasi fosfat detergen sebagai
orthofosfat yang merupakan bahan uji bervariasi
ditentukan sesuai dengan rumus penentuan dosis
menggunakan persamaan perhitungan logaritma
sebagai berikut.


Maka,
Log N Log n = k log a k log n

Dimana :
N = konsentrasi ambang atas
n = konsentrasi ambang bawah
a = konsentrasi terkecil dalam deret
konsentrasi yang ditentukan
k = jumlah konsentrasi yang diujikan

Konsentrasi fosfat deterjen sebagai bahan
uji yang digunakan didasarkan dari kadar
orthofosfat di perairan yang dapat menyebabkan
eutrofikasi (0,031-0,1 mg/l) dimana nilai ambang
bawah didasarkan pada 0,031 mg/l sebagai (n)
sedangkan nilai ambang atas adalah 0,1 mg/l
sebagai (N).

2.7. Pembuatan Larutan Stok
Pada penelitian ini detergen yang
digunakan sebagai bahan uji merupakan detergen
merk Rinso Anti Noda. Pembuatan larutan stok
dilakukan dengan menimbang 1 gr detergen dan
dilarutkan dalam 1 liter air, dari cara ini diperoleh
larutan stok dengan konsentrasi 1.000 mg/l
deterjen. Larutan stok ini kemudian diencerkan
sesuai dengan konsentrasi perlakuan fosfat yang
diinginkan untuk uji sesungguhnya dengan
menggunakan formula :

V
1
x N
1
= V
2
x N
2


Dimana :
V
1
= volume larutan stok (ml)
N
1
= konsentrasi larutan stok (24,36 mg/l)
V
2
= volume larutan yang diinginkan (5000 ml)
N
2
= konsentrasi perlakuan (mg/l)

2.8. Perlakuan
Tanaman yang telah di aklimatisasi
dipindahkan ke wadah uji yang berisi larutan
detergen dengan konsentrasi orthofosfat 0.05
mg/l, 0.08 mg/l, dan 0.13 mg/l. Selama
pengamatan perlakuan juga dilakukan pengamatan
terhadap kondisi fisik tanaman, pengecekan
parameter fisik dan kimia yang mendukung
meliputi suhu (
o
C), kekeruhan (NTU), pH,
oksigen terlarut/DO (mg/l) dan kebutuhan oksigen
kimiawi/COD (mg/l).

2.9. Analisa Data
Perhitungan efektivitas dalam penelitian ini
didasarkan pada penurunan konsentrasi
orthofosfat pada detergen (mg/l) selama 6 hari
perlakuan. Rumus yang digunakan adalah :

4


Keterangan :
Ef = Nilai Efektivitas
AC = Kandungan Orthofosfat Awal pada
Detergen
AB = Kandungan Orthofosfat Akhir pada
Detergen

Sedangkan, model linier aditif untuk
rancangan faktorial dua faktor dengan rancangan
lingkungannya RAL adalah sebagai berikut :

Y
ijk
= +
1
+
j
+ ()
ij
+
ijk

Data hasil penelitian dianalisa statistik
dengan menggunakan SPSS Ver.17. Analisis
Sidik Ragam (ANOVA) mensyaratkan data harus
terdistribusi normal dengan keragaman yang
homogen yang meliputi Uji Homogenitas Data
dan Uji Lanjut Tukey. Tujuannya untuk
mengetahui pengaruh konsentrasi dan detensi
waktu terhadap perbedaan penyerapan konsentrasi
orthofosfat detergen dengan menggunakan Eceng
Gondok (Eichhornia crassipes).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengujian orthofosfat dengan
konsentrasi awal 0.05 mg/l, 0.08 mg/l, dan 0.13
mg/l dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rata-rata Kandungan Orthoposfat
dalam Air Wadah Percobaan
No Perlakuan
Ulangan
Rata-
rata
(mg/l) 1 2 3
1. b
1
t
2
0,04 0,03 0,03 0,033
2. b
1
t
4
0,02 0,02 0,02 0,020
3. b
1
t
6
0,04 0,04 0,03 0,037
4. b
2
t
2
0,06 0,06 0,07 0,063
5. b
2
t
4
0,04 0,04 0,04 0,040
6. b
2
t
6
0,04 0,04 0,05 0,043
7. b
3
t
2
0,10 0,10 0,11 0,103
8. b
3
t
4
0,10 0,10 0,09 0,097
9. b
3
t
6
0,09 0,09 0,10 0,093

Keseluruhan perlakuan fitoremediasi
orthofosfat pada air wadah percobaan
menunjukkan adanya penurunan konsentrasi
orthofosfat dalam setiap wadah perlakuan, rata-
rata tertinggi kandungan orthofosfat pada
konsentrasi 0,05 mg/l terdapat pada perlakuan b
1
t
6

(0,037 mg/l), pada konsentrasi 0,08 mg/l terdapat
pada perlakuan b
2
t
2
(0,063 mg/l), dan pada
konsentrasi 0,13 mg/l terdapat pada perlakuan b
3
t
2

(0,103 mg/l). Hasil konsentrasi akhir orthofosfat
disetiap perlakuan fitoremediasi detergen
mengasumsikan jika orthofosfat awal pada
detergen telah terserap oleh Eceng Gondok
(Eichhornia crassipes).
Data hasil perhitungan kandungan akhir
orthofosfat pada tiap perlakuan kemudian
digunakan untuk perhitungan lanjutan tingkat
rata-rata penyerapan orthofosfat oleh Eceng
Gondok (Eicchornia crassipes), adapun rata-rata
penyerapan orthofosfat oleh Eceng Gondok
disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata Penyerapan Orthoposfat
oleh Eceng Gondok
No Perlakuan
Ulangan
Rata-
rata
(mg/l) 1 2 3
1. b
1
t
2
0,01 0,02 0,02 0,017
2. b
1
t
4
0,03 0,03 0,03 0,030
3. b
1
t
6
0,01 0,01 0,02 0,013
4. b
2
t
2
0,02 0,02 0,01 0,017
5. b
2
t
4
0,04 0,04 0,04 0,040
6. b
2
t
6
0,04 0,04 0,03 0,037
7. b
3
t
2
0,03 0,03 0,02 0,027
8. b
3
t
4
0,03 0,03 0,04 0,033
9. b
3
t
6
0,04 0,04 0,03 0,037

Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa
keseluruhan perlakuan fitoremediasi orthofosfat
pada detergen menunjukkan adanya penurunan
konsentrasi orthofosfat, dimana pada perlakuan
konsentrasi 0,05 mg/l mengalami penurunan
signifikan di hari ke-4 (b
1
t
4
) menjadi 0,030 mg/l,
perlakuan konsentrasi 0,08 mg/l mengalami
penurunan signifikan di hari ke-4 (b
2
t
4
) menjadi
0,040 mg/l, dan untuk perlakuan konsentrasi 0,13
mg/l terjadi penurunan signifikan di hari ke-6
(b
3
t
6
) menjadi 0,037 mg/l.
Efektivitas penyerapan orthofosfat mengacu
pada kemampuan tanaman Eceng Gondok
(Eichhornia crassipes) dalam menyerap
kandungan orthofosfat pada berbagai konsentrasi
orthofosfat detergen. Hal ini bertujuan untuk
melihat seberapa efektif tanaman Eceng Gondok
dengan berat 100 gram mampu menyerap
orthofosfat detergen sehingga dapat
meminimalkan proses eutrofikasi perairan.
Tingkat efisiensi penyerapan orthofosfat lebih
menitikberatkan pada penerapan konsep
fitoremediasi orthofosfat dengan
memperhitungkan penyerapan orthofosfat terbaik
dalam jangka waktu fitoremediasi yang lebih
singkat.
Tingkat efektivitas penyerapan orthofosfat
terbaik adalah pada konsentrasi 0,05 sebesar 60,00
% di hari keempat fitoremediasi atau mengalami
penyerapan sebesar 0,030 mg/l. Sedangkan
perlakuan yang memberikan hasil penyerapan
orthofosfat yang paling efisien terdapat pada
konsentrasi 0,05 mg/l sebesar 17,00% di hari ke-2
5

atau mengalami penyerapan sebesar 0,009 mg/l
perharinya.

3.1. Uji Statistik RAL Faktorial
Uji statistik menggunakan Software SPSS
ver 17. Uji kesesuaian asumsi/uji homogenitas
untuk uji faktorial dilakukan menggunakan
Levenes Test of Equality of Error Variances.
Keragaman variabel antar tiap kelompok yang
homogen (nilai uji > 0.05) menandakan
terpenuhinya kriteria untuk melakukan uji
faktorial pada efek interaksi antara konsentrasi
orthofosfat dan hari terhadap tingkat penyerapan
orthofosfat oleh Eceng Gondok.
Hasil uji faktorial memperlihatkan baik dari
segi faktor konsentrasi awal orthofosfat dan
jumlah hari fitoremediasi menunjukkan bahwa
adanya interaksi efek yang signifikan terhadap
penyerapan orthofosfat oleh eceng Gondok
dengan nilai signifikan < 0.05.
Uji lanjut Tukey (Beda Nyata Jujur) faktor
konsentrasi menunjukkan tingkat penyeraan
Eceng Gondok pada konsentrasi awal orthofosfat
0.05 mg/l memiliki perbedaan yang nyata
terhadap konsentrasi awal orthofosfat 0.08 mg/l
dan 0.13 mg/l. Tingkat penyerapan orthofosfat
menggunakan Eceng Gondok ditinjau dari
lamanya hari fitoremediasi berbeda nyata pada
perlakuan hari ke-2 terhadap hari ke-4 dan hari
ke-6 fitoremediasi.

3.2. Parameter Pendukung dalam
Fitoremediasi
Selama pengamatan suhu lingkungan
berkisar antara 26,6
0
C 27,2
0
C, masih dalam
kondisi yang baik untuk mendukung proses
fotosintesis bagi tanaman sehingga
memungkinkan penyerapan orthofosfat yang baik
dalam keberlangsungan proses fitoremediasi.
Selama 6 hari pengukuran kondisi suhu
lingkungan tidak terlalu terjadi peningkatan suhu,
tanaman Eceng Gondok tidak mengalami
kematian hanya sebatas warna kekuningan pada
beberapa perlakuan sehingga masih ternaungi oleh
Eceng Gondok dari sinar matahari yang masuk ke
permukaan wadah. Hal ini terlihat dari tingkat
penyerapan pada perlakuan b
1
t
4
dengan suhu rata-
rata 26.7
0
C mampu menyerap 0,03 mg/l
orthofosfat.
Pengukuran pH lingkungan Eceng Gondok
selama pengamatan berkisar antara 6,0 6,5,
masih memenuhi kisaran pH yang baik untuk
pertumbuhan tanaman Eceng Gondok, sehingga
menyebabkan Eceng Gondok mampu untuk
menyerap kadar orthofosfat. Perlakuan b
1
t
6

memiliki pH lebih tinggi dibandingkan dengan
perlakuan lain, diasumsikan karena pada
perlakuan b
1
t
6
memiliki konsentrasi orrthofosfat
tinggi sehingga mempengaruhi nilai pH air.
Kandungan oksigen terlarut (Dissolved
Oxygen/DO) selama pengamatan berkisar antara
6,17 8,90 mg/l. Kadar oksigen dapat berkurang
dengan semakain meningkatnya suhu seperti pada
perlakuan b
3
t
6
dengan suhu 27.06
o
C memiliki
kadar oksigen terlarut 7.04 mg/l.
Pengukuran kandungan COD (Chemical
Oxygen Demand) selama pengamatan berkisar
antara 7,92 39,60 mg/l. Hasil pengukuran
kandungan COD pada beberapa perlakuan ini
memenuhi kriteria penetapan kandungan COD,
kecuali ada beberapa perlakuan yang kandungan
COD tinggi sesuai pernyataan
UNESCO/WHO/UNEP (1992) dalam Effendi
(2003) bahwa nilai COD pad perairan yang tidak
tercemar biasanya kurang dari 20 mg/l, sedangkan
menurut PP RI No. 82 Tahun 2001 bahwa batas
maksimal COD yang diperkenankan untuk
kegiatan perikanan adalah 50,00 mg/l, dalam hal
ini kisaran hasil pengukuran COD pada tiap
perlakuan masih dapat membuat Eceng Gondok
menyerap kandungan orthofosfat sebagai bahan
nutrien untuk keberlangsungan hidupnya.
Sehingga diasumsikan aman dan layak untuk
selanjutnya dibuang ke perairan alam.
Pengukuran tingkat kekeruhan air selama
pengamatan berkisar antara 0,10 2,80 NTU.
Berdasarkan hasil pengukuran kekeruhan,
diketahui bahwa semakin lama waktu yang
digunakan dalam penyerapan orthofosfat, maka
semakin rendah tingkat kekeruhannya.

IV. KESIMPULAN
Tingkat efektivitas penyerapan orthofosfat
total selama pengamatan terdapat pada
konsentrasi 0,05 mg/l selama 4 hari sebesar 60,00
% atau mengalami penurunan sebesar 0,030 mg/l.
Sedangkan tingkat efisiensi penyerapan terbaik
terjadi pada perlakuan konsentrasi 0,05 pada hari
ke-2 sebesar 17,00 % atau mengalami penurnan
sebesar 0,009 mg/l. Dapat diketahui bahwa
detensi waktu dan konsentrasi perlakuan memiliki
perbedaan yang nyata terhadap penyerapan
orthofosfat. Hal ini dibuktikan dengan
perhitungan Uji Analisis Sidik Ragam (ANOVA)
dengan selang kepercayaan 0,05.

V. SARAN
Dengan adanya penelitian ini diharapkan
dapat menerapkan aplikasi fitoremediasi guna
mengurangi kadar pencemar akibat pembuangan
air detergen yang pada akhirnya dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan. Hasil
penelitian ini sekiranya dapat menjadi suatu bahan
pendukung bagi adanya penelitian lanjutan
6

menggunakan jenis tanaman air lainnya yang
berkaitan dengan fitoremediasi deterjen guna
mendapatkan nilai efektivitas penyerapan dan
efisiensi waktu yang lebih baik. Berdasarkan hasil
yang diperoleh, perlu kiranya ditinjaklanjuti
penelitian tentang penyerapan orthofosfat pada
akar, batang, dan daun Eceng Gondok.

VI. UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan, dukungan serta bimbingan kepada
penulis diantaranya kepada:
1. Tengku Said Razai, S.Pi, M.P dan Andi
Zulfikar, S.Pi, M.P selaku dosen
pembimbing.
2. Laboratorium Ilmu Kelautan dan Perikanan,
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan,
Universitas Maritim Raja Ali Haji.
3. Laboratorium Balai Teknik Kesehatan
Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit
Menular (BTKL PPM) Kelas 1 Pulau
Batam, Kepulauan Riau.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Djenar, NS dan Budiastuti, H. 2008. Absorpsi
Polutan Amoniak Di Dalam Air Tanah
Dengan Memanfaatkan Tanaman Eceng
Gondok (Eichhornia crassipes). Jurnal
Spektrum Teknologi Vol. 15 No. 2
Oktober 2008.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Kanisius : Yogjakarta.
Hardyanti, N dan Rahayu, SS. 2007.
Fitoremediasi Phosphat Dengan
Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichhornia
crassipes) Studi Kasus Pada Limbah Cair
Industri Kecil Laundry. Jurnal Presipitasi
Vol. 2 No. 1 Maret 2007. ISSN 1907-
187X.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air.
Susana, T dan Suyarso. 2008. Penyebaran Fosfat
Dan Detergen Di Perairan Pesisir dan
Laut Sekitar Cirebon, Jawa Barat. Jurnal
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia
34: 117-131. ISSN 0125-9830.