Anda di halaman 1dari 25

PEDOMAN PELAKSANAAN

SEKOLAH LAPANGAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU


(SLPHT) TANAMAN SAYURAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam upaya peningkatan agribisnis tanaman sayuran masalah kualitas dan produktifitas
menjadi faktor penyebab lemahnya posisi tawar petani. Masalah tersebut di atas salah satu
penyebab adalah adanya gangguan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Gangguan
OPT merupakan salah satu resiko yang perlu diperhitungkan dan harus di antisipasi keberadaannya
dalam budidaya tanaman sayuran. Keberadaan OPT dapat menimbulkan kerugian baik secara
kualitatif maupun kuantitatif sejak pembibitan sampai dengan paskapanen.
Penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) telah menjadi kebijakan pemerintah dalam
pengendalian OPT, seperti yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang
Sistem Budidaya Tanaman. Oleh karena itu, agar penerapan PHT dapat berjalan dengan baik perlu
diupayakan peningkatan pengetahuan sikap dan keterampilan pelaku usaha tani (petani) sehingga
dapat memahami dan menerapkan prinsip-prinsip PHT di tingkat lapangan.
Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) adalah salah satu metode
penyuluhan dalam penerapan PHT untuk peningkatan pengetahuan keterampilan dan sikap petani
dalam pengelolaan OPT khususnya pada tanaman sayuran. SLPHT dipilih sebagai metode
pemberdayaan petani karena memiliki kelebihan-kelebihan di antaranya: berprinsip pendidikan orang
dewasa, cara belajar lewat pengalaman, perencanaan dan pengambilan keputusan secara
partisipatoris dalam kelompok, petani sebagai manajer usahataninya, materi pelatihan berdasarkan
kebutuhan lapangan/kurikulum yang disusun secara rinci dan terpadu, pelatihan selama satu siklus
perkembangan tanaman/satu musim tanam.
Pedoman pelaksanaan SLPHT sayuran disusun sebagai acuan pelaksanaan SLPHT
sehingga berjalan sesuai dengan harapan serta untuk meningkatkan apresiasi petugas dan
stakeholder tentang PHT tanaman sayuran.
B. Tujuan
1. Meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap, keterampilan petani dan petugas dalam
penerapan pengendalian OPT sayuran.
2. Meningkatkan kualitas agroekosistem khususnya pada pertanaman sayuran.
3. Pengamanan produksi baik kuantitas maupun kualitas.
C. Sasaran
1. Petugas pelaksana.
2. Petani yang belum pernah mengikuti SLPHT sayuran komoditas yang sama.
3. Hamparan pertanaman sayuran.
D. Masukan
1. Data dan potensi wilayah.
2. Petugas dan petani sayuran.
3. Pendanaan.
E. Keluaran
1. Peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan petugas dan petani tentang PHT sayuran.
2. Terlaksananya kegiatan SLPHT sayuran.
F. Hasil
1. Alumni SLPHT.
2. Petugas dan petani ahli PHT.
3. Agroekosistem seimbang/sehat.
G. Manfaat
1. Petani mampu menerapkan prinsip-prinsip PHT.
2. Kesehatan produsen dan konsumen .
H. Dampak
1. Produk sayuran berkualitas dan bersaing (aman dikonsumsi).
2. Terciptanya kestabilan agroekosistem.
II. PELAKSANAAN UMUM
A. Koordinasi Tingkat Provinsi
Kegiatan ini dilaksanakan di tingkat provinsi dalam rangka penyamaan persepsi tentang
pelaksanaan SLPHT sayuran, diikuti oleh petugas tingkat Provinsi dan Kabupaten. Materi yang
dibahas adalah pedoman pelaksanaan SLPHT sayuran dan pengorganisasiannya.
B. Survey Dasar dan Penentuan Lokasi
Kegiatan ini dilaksanakan di tingkat wilayah (Kabupaten) sentra produksi sayuran untuk
memperoleh data dasar tentang budidaya dan OPT tanaman sayuran dan kelembagaan kelompok
tani. Survey dan penentuan lokasi dilakukan oleh Provinsi/ BPTPH / LPHP.
C. Koordinasi Tingkat Kelompok Tani dan Pertemuan Persiapan
1. Pertemuan koordinasi
Pertemuan koordinasi dilaksanakan di wilayah / lokasi kegiatan diikuti oleh : aparat desa,
petani, petugas lapangan (PPL,PHP/ POPT, KCD), Dinas Pertanian Kabupaten, Laboratorium
PHP, BPTPH, LSM dan stakeholder lainnya. Materi yang dibahas tentang penyamaan persepsi
tentang SLPHT sayuran dan kelembagaanya.
2. Pertemuan perencanaan tingkat kelompok tani
Pertemuan perencanaan dilaksanakan di tingkat desa dengan peserta antara lain petani
peserta, perangkat desa, PPL, KCD, PHP, Laboratorium, Dinas Pertanian. Materi membahas
tentang pelaksanaan SLPHT sayuran dan perencanaan.

D. Pertemuan TOT bagi Petugas dan Pemandu
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan
petugas (BPTPH, Diperta, PHP, PPL, KCD) dan petani pemandu pelaksanaan Sekolah Lapangan
PHT sayuran. Pada kesempatan ini juga disepakati tugas dan fungsi masing- masing pemandu
dalam pelaksanaan SLPHT, yaitu :
1. Tugas dan Fungsi PHP
a. Manajemen kepemanduan dan proses SLPHT.
b. Memandu persiapan meliputi pemetaan dan perencanaan.
c. Memandu pelaksanaan bersama kelompok menentukan topik khusus, studi petani, temu
lapangan dan tindak lanjut/lanjutan.
d. Pengorganisasian proses SLPHT.
e. Motivator, dinamisator dan bersama pemandu lain memilih dan menentukan peserta dan
kelompok tani.
2. Tugas dan Fungsi PPL
a. Manajemen personal/personal approach.
b. Memandu proses SLPHT.
c. Menggerakkan kelompok dan petani dalam kehadiran, keterlibatan dan gerakan
pengendalian.
d. Bersama pemandu lain memilih peserta dan kelompok tani.
3. Tugas dan Fungsi Petani Pemandu
a. Bersama sama dengan pemandu lain secara aktif dalam proses SLPHT dan sebagai
subyek dalam SLPHT.
b. Mengkoordinasikan petani penggerak dan petani peserta.
4. Tugas dan Fungsi Petani Penggerak
a. Secara aktif mengkoordinasikan aksi dan implementasi penerapan PHT (gerakan).
b. Aktif mengikuti SLPHT dan sebagai subyek dalam SLPHT.
c. Bersama sama pemandu membantu memilih peserta SLPHT.
5. Tugas dan Fungsi Koordinator PHP
a. Sebagai pelaksana kegiatan SLPHT tingkat Kabupaten.
b. Membantu pelaksana utama.
c. Menjaga kualitas proses belajar dan kepemanduan.
d. Menjaga kualitas implementasi gerakan PHT (operasional gerakan pengendalian).
e. Membantu kelancaran administrasi.
III. PELAKSANAAN SLPHT
A. Waktu Pelaksanaan
SLPHT dilaksanakan dalam 1 siklus periode tanaman (misalnya dari persiapan pembungaan
sampai dengan panen) dan frekuensi pertemuan 12 16 kali pertemuan dengan interval antara
pertemuan 1 2 minggu sekali.
B. Peserta
Persyaratan peserta di antaranya bisa membaca dan menulis, belum pernah mengikuti
SLPHT komoditas yang sama, pemilik dan penggarap, umur 18 -50 tahun, sanggup mengikuti dari
awal sampai akhir.
C. Pemandu
Pemandu kegiatan ini adalah POPT terlatih tentang kepemanduan, Petani Pemandu dan
PPL/Petugas lain yang memahami kepemanduan. Persyaratan Pemandu adalah : telah mengikuti
Latihan Kepemanduan minimal satu musim tanam/fenologi tanaman, menguasai teknologi
pendidikan orang dewasa (POD) dan menguasai prinsip prinsip partisipatoris.
D. Materi
Materi yang dibahas pada kegiatan SLPHT sayuran
1. Materi pokok (Nasional)
a. Analisa agroekosistem dan pembahasannya.
b. Topik khusus diantaranya : Apa ini, budidaya tanaman sayuran, pengairan,
pemeliharaan, pemupukan, OPT/gulma dan pengendaliannya, panen / pascapanen,
sarana pengendalian, agens hayati dan ekologi OPT.
c. Dinamika kelompok: Ice breaker, Kelembagaan, Kerjasama dan lain-lain.
2. Materi tambahan (Muatan Lokal)
Materi yang dibahas disesuaikan dengan kebutuhan kelompok dalam rangka pemecahan
permasalahan yang dihadapi petani pada saat pelaksanaan kegiatan dan materi disusun
berdasarkan hasil perencanaan awal.
E. Studi
Studi sebagai sarana belajar PHT mencakup tiga kesatuan kegiatan antara lain :
1. Kebun PHT
Kebun PHT seluas 500 m
2
diperlakukan dengan penerapan prinsip-prinsip PHT (buku pedoman
studi lapangan sayuran).
2. Kebun Konvensional
Kebun konvensional seluas 500 m
2
, dimana kebun ini diambil dari kebun perlakuan petani dan
diperlakukan sebagai pembanding kebun PHT.
3. Studi Petani
Studi petani/pendukung dilaksanakan dalam rangka membantu memecahkan
permasalahan dan diharapkan dapat membantu dalam pengambilan keputusan atau
rekomendasi spesifik lokasi.
Pelaksanaan studi PHT, konvensional dan studi pendukung diterapkan pada kebun
dengan varietas dan umur tanaman sama, kecuali studi varietas.
F. Jadwal Pelaksanaan
1. Pelaksanaan kegiatan SLPHT 6 8 bulan (16 hari pertemuan),
terdiri dari:
a. Tiga kali pertemuan pesiapan.
b. Dua belas kali pertemuan pelaksanaan SLPHT dan gerakan pengendalian dengan interval
sesuai dengan fase tanaman/ fenologi.
c. Satu kali temu lapangan (Field day).
Dari tiga kali pertemuan persiapan dilaksanakan kegiatan perencanaan partisipatoris
berbasis hamparan. Hasil pertemuan ini diharapkan akan diperoleh data-data atau rencana-
rencana atau kegiatan-kegiatan yang akan menjadi acuan perumusan studi pendukung dan
materi-materi lokal (muatan lokal) untuk melengkapi materi pokok (nasional) yang akan
diaplikasikan dalam pelaksanaan kegiatan selama 12 kali pertemuan.
2. Jadwal harian (minimal 5 jam efektif), terinci sebagai berikut :
a. Kontrak belajar : 15 menit.
b. Pengamatan agroekosistem 75 menit.
c. Analisa, diskusi dan presentasi agroekosistem 75 menit.
d. Dinamika kelompok (sesuai topik) 30 menit.
e. Topik khusus dengan petunjuk lapangan : 90 menit.
f. Refleksi atau kilas balik dan rencana pertemuan berikut : 15 menit.
3. Pengamatan OPT
Dalam analisa agroekosistem dilakukan pengamatan OPT. Parameter yang diamati
adalah: intensitas kerusakan, populasi hama, populasi musuh alami. Pengambilan contoh
tanaman setiap hamparan ditentukan 10 unit contoh secara diagonal atau model U, masing-
masing contoh diamati 1 tanaman atau 1 rumpun tanaman. Perhitungan kerusakan tanaman
disesuaikan dengan petunjuk pengamatan yang ada.
G. Gerakan Pengendalian
Gerakan pengendalian dilakukan berdasarkan keputusan analisa agroekosistem dan
dilaksanakan di luar hari pertemuan yang telah ditentukan. Pelaksanaan gerakan pengendalian harus
direncanakan dengan matang sehingga pelaksanaan gerakan pengendalian berjalan sesuai dengan
yang diharapkan. Gerakan pengendalian dilakukan melibatkan pertani non peserta pada hamparan
petanaman sayuran yang sama (sehamparan dengan kegiatan SLPHT).
H. Refleksi dan Rencana Tindak Lanjut
1. Dilakukan oleh petani peserta secara partisipatoris.
2. Kegiatan bertujuan menilai keberhasilan kegiatan dan menemukan kekurangan-kekurangannya.
3. Diharapkan muncul rencana tindak lanjut kegiatan / RTL dalam rangka memperkuat pelaksanaan
dan munculnya kegiatan lanjutan pasca SLPHT.
I. Temu Lapangan
Peserta temu lapangan terdiri dari petani peserta, petani undangan, para stakeholder dan
dinas terkait. Tujuan dari temu lapangan petani adalah
1. Sebagai ajang komunikasi horisontal bagi petani.
2. Sosialisasi kegiatan SLPHT.
3. Mengekspresikan hasil kegiatan.
Hasil kegiatan temu lapangan diharapkan adanya dukungan dari tokoh masyarakat dan
pemerintah setempat dalam rangka kelanjutan kegiatan pemasyarakatan PHT.

IV. ANALISIS AGROEKOSISTEM I
(Rantai Makanan)

A. Latar Belakang

Pada lahan pertanaman sayuran terdapat berbagai unsur yang saling terkait satu dengan
yang lainnya, diantaranya adalah tanah, air, udara, sinar matahari, gulma, binatang pengganggu,
musuh alami dan lain lain. Seringkali tidak kita sadari bahwa hubungan antar unsur- unsur tersebut
merupakan jaringan makanan alami. Adakalanya hubungan tersebut bermanfaat dan ada kalanya
merugikan.
B. Tujuan
Tujuan kegiatan ini adalah untuk mngenal apa itu tanah, tanaman, Organisme Pengganggu
Tumbuhan (OPT), musuh alami dan hubungan diantara masing-masing unsur tersebut pada lahan
sayuran.
C. Bahan dan Alat
1. Kantong plastik
2. Jaring serangga
3. Kertas plano
4. Spidol
5. Krayon
D. Langkah Kerja

1. Pergilah ke lahan sayuran dan ambilah apa saja yang ada di lahan tanah, tanaman, serangga,
bagian tanaman yang rusak, binatang lain dan sebagainya.
2. Gambar tanaman utama dan apa saja yang mempengaruhi pertumbuhannya.
E. Bahan Diskusi
1. Apa saja yang membantu pertumbuhan tanaman yang anda amati?
2. Apa saja yang menganggu pertumbuhan tanaman tersebut?
3. Apa saja yang menanggulangi pengganggu tanaman tersebut?
4. Apa arti hubungan antara unsur-unsur di Agroekosistem tersebut?

V. ANALISIS AGROEKOSISTEM II
(Pengambilan Keputusan)
A. Latar Belakang
Lahan tempat menanam sayuran terdiri atas banyak unsur (bagian), yaitu tanah, air,
tanaman, udara, pengganggu tumbuhan (OPT), musuh alami dan lain-lain.
Kita mengharapkan bahwa tanaman yang kita usahakan sehat dan tidak terganggu oleh
OPT. Namun demikian, sering kali kita menemukan daun rusak dimakan serangga hama atau busuk
diserang jamur dan bakteri.
B. Tujuan
Diharapkan peserta dapat mengambil keputusan dan tindakan lanjutan untuk tanaman
sayuran yang dibudidayakan.
C. Bahan dan Alat
1. Kantong plastik
2. Ajir
3. Jaring serangga
4. Pensil
5. Kertas plano
6. Spidol
7. Krayon
D. Langkah Kerja
1. Peserta pergi ke lahan sayuran.
2. Ambil 10 contoh tanaman secara acak (lihat cara pengambilan contoh).
3. Amati tanaman mulai bagain atas, bawah, kemudian bagian tengah.
4. Catat semua yang ditemukan baik jumlah serangga dan musuh alami maupun kerusakan daun
dan bagian tanaman lainnya.
5. Ambil serangga dan musuh alami yang belum diketahui jenisnya dan masukkan ke dalam plastik
untuk bahan diskusi di dalam kelas. Gunakan jaring serangga atau ambil langsung dengan
tangan, kemudian kembalilah ke kelas atau tempat teduh untuk menggambar dan
mendiskusikan apa yang ditemukan di lapangan. Presentasikan hasil diskusi kelompok kecil
kepada kelompok besar. Lakukan kegiatan ini setiap seminggu sekali.
E. Bahan Diskusi
1. Apakah tanaman sudah mulai tumbuh dan berkembang?
2. Apakah kebutuhan pupuk/ unsur hara untuk tanaman tersebut sudah tercukupi?
3. Apakah kebutuhan air cukup? Apa yang harus dilakukan untuk pengelolaan air?
4. Tindakan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk tanaman pada minggu berikutnya?

VI. FOTOSINTESIS

A. Latar Belakang
Fotosintesis adalah suatu proses yang sangat penting bagi kehidupan di alam semesta yang
berlangsung di dalam tumbuhan berhijau daun (klorofil).
Daun merupakan organ tanaman yang mengubah air dan CO
2
dengan bantuan sinar
matahari menjadi zat tepung (karbohidrat) melalui proses fotosintesis. Selanjutnya gula (karbohidrat)
digunakan untuk memproduksi komponen- komponen yang lebih kompleks untuk membangun
jaringan- jaringan tanaman dan memberi energi pada tanaman.
Daun akan lebih aktif bila mendapat sinar matahari penuh dan kurang aktif bila ternaungi.
Jika daun atas rusak, maka daun bawah akan menerima sinar matahari yang lebih banyak dan
menjadi lebih aktif. Daun bagian bawah kemudian memproduksi energi dan gula seperti yang
diproduksi daun bagian atas.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui produksi karbohidrat di dalam daun.
2. Untuk mengukur dan memperkirakan defoliasi pada daun sayuran.
C. Bahan dan Alat
1. Cutter/ Gunting
2. Daun tanaman sayuran
3. Alkohol 90%, larutan Yodium
4. Panci
5. Alat tulis menulis
6. Kertas grafik
D. Langkah Kerja
1. Ambil beberapa daun tanaman sayuran (daun bagian atas, tengah, bawah dan tandai masing-
masing daun tersebut). Kumpulkan juga beberapa helai daun yang mempunyai bagian warna
hijau yang tidak merata, misalnya telah terinfeksi oleh virus.
2. Tempatkan daun di dalam panci yang di dalamnya terdapat alkohol. Letakkan panci ini di dalam
panci lain yang di dalamnya terdapat air.
3. Masak sampai warna hijau pada daun hilang.
4. Ambil daun dan keringkan dengan kertas. Teteskan larutan Yodium di atas daun.
E. Pengukuran Defoliasi
1. Kumpulkan daun yang berlubang. Jika daun tidak berlubang, lubang dapat dibuat dengan cutter
atau gunting.
2. Tempatkan daun pada kertas grafik dan gambar daun tersebut. Hitung jumlah kotak pada bagian
berlubang.
3. Hitung kotak untuk semua bagian daun yang tidak rusak untuk mendapatkan luas daun yang asli.
4. Hitung % defoliasi dengan rumus di bawah ini :

Defoliasi (%) = Luas area yang rusak X 100
Total luas area

F. Bahan Diskusi
1. Dengan pewarnaan tersebut, kesimpulan apa yang Anda tarik tentang amilum (zat tepung) di
dalam tanaman?
2. Bagaimana seandainya daun atas rusak (banyak berlubang)?
3. Dapatkan Anda memperkirakan luas kerusakan daun? Berapa % tingkat kerusakan daunnya?
4. Apa akibatnya dari pekiraan yang lebih tinggi terhadap hasil maupun penggunaan pestisida?

VII. AMBANG EKONOMI I

A. Pengertian Ambang Ekonomi
Ambang Ekonomi (AE) adalah kepadatan populasi hama yang mengakibatkan kerugian
konomi yang besarnya sama dengan biaya pengendalian populasi hama tersebut.
Ambang Ekonomi sebagaimana didefinisikan di atas tergantung pada 3 parameter yaitu :
1. Biaya penyemprotan atau biaya pengendalian
2. Nilai komoditi
3. Nilai kehilangan hasil panen
Ketiga parameter tersebut dengan mudah berubah-ubah dalam satu musim, dalam beberapa
tahun dan dari suatu tempat ke tempat lain serta harga yang berlaku saat itu. Dalam prakteknya,
penerapan Ambang Ekonomi lebih rumit. Oleh karena itu untuk lebih menyederhanakan dalam
pengambilan keputusan pengendalian OPT digunakan dengan pendekatan Ambang Pengendalian
(AP).
B. Ambang Pengendalian
Ambang Pengendalian (AP) dapat didefinisikan sebagai batas toleransi kepadatan populasi
atau kerusakan yang ditimbulkan oleh OPT. Nilai batas toleransi tersebut dapat dijadikan pedoman
tindakan pengendalian, baik secara mekanik maupun secara kimiawi. Kelebihan Ambang
pengendalian dibandingkan dengan Ambang Ekonomi adalah sebagai berikut :
1. Dapat digunakan sebagai acuan pengendalian OPT pada komoditi yang sama walaupun
tempatnya berbeda dengan syarat : tipe iklim sama, praktek agronomi dan permasalahan OPT
serupa.
2. Untuk komoditi sejenis yang nilai Ambang pengendalian (AP) OPT- nya belum diketahui,
sementara waktu dapat menggunakan AP OPT yang sudah diketahui bagian acuan
pengendalian.

VIII. AMBANG EKONOMI II
Perhitungan : Teori dan Praktek

A. Latar Belakang

Ambang Ekonomi dihitung dengan menggunakan tiga parameter: biaya penyemprotan atau
biya pengendalian (Rp/ha); nilai komoditi (Rp/kg) dan hubungan antara hasil panen yang hilang
dengan kepadatan populasi serangga hama atau kerusakan yang ditimbulkannya.
Nilai untuk biaya penyemprotan atau biaya pengendalian akan berbeda tergantung pada
harga pestisida, tenaga kerja, perlengkapan, bunga pinjaman, dan lain-lain. Harga komoditi akan
berbeda pada bulan yang berbeda pula. Hal ini disebabkan karena fluktuasi (turun-naiknya) harga
pasar.
Dalam latihan ini, peserta akan menghitung Ambang Ekonomi untuk beberapa komoditi,
dengan menggunakan harga beberapa pestisida yang berbeda dan nilai kehilangan hasil yang
berbeda pula. Harga komoditi diperoleh dari Pusat Informasi Pasar. Penghitungan dilakukan pada
lembar kerja terlampir. Grafik Ambang Ekonomi sangat berguna untuk mengetahui bagaimana
perubahan harga dalam mengubah ambang tersebut.
Perlu diingat, bahwa dengan adanya perubahan Ambang Ekonomi pada setiap minggu,
petani harus hanya menggunakan Ambang Ekonomi yang ditentukan pada bulan itu saat tanaman
dipanen. Ini berarti bahwa jika petani melakukan pemanenan pada bulan Juli, Ambang Ekonomi yang
digunakan dari saat mulai menanam hingga panen harus menggunakan nilai AE pada bulan Juli.

B. Tujuan
Untuk menghitung dan membuat grafik Ambang Ekonomi bulanan.
C. Bahan dan Alat
Pensil, kertas, grafik dan kalkulator.
D. Langkah Kerja
1. Lengkapilah lembar kerja terlampir pada buku ini. Mulailah dengan biaya penyemprotan.
Selanjutnya isilah harga komoditi bulanan. Kemudian hitunglah nilai bulanan untuk ambang
ekonomi tersebut.
2. Buatlah grafik Ambang Ekonomi untuk tiap bulan
3. Apa yang terjadi dengan Ambang Ekonomi jika biaya penyemprotan meningkat?
4. Apa yang terjadi apabila harga komoditi merosot?. Ambang Ekonomi apakah yang harus
digunakan selama musim tanam apabila panenan dilakukan pada bulan November?
5. Jika musuh alami dihitung dalam istilah uang (Rp/ha), bagaimanakah Anda akan
menggunakan nilai ini untuk mengubah Ambang Ekonomi?. Ingat bahwa musuh alami
mengurangi serangan hama yang mungkin dapat merusak tanaman, sehingga musuh alami
merupakan nilai kerusakan yang dicegah.
E. Lembar Kerja Perhitungan Ambang Ekonomi

Nilai Ambang
Ekonomi (Persentase
kerusakan tanaman
contoh)
Kehilangan hasil
panen oleh hama
(ton/ha)
Kehilngan uang karena
serangan hama
(Rp/ha)
Biaya pengendalian
(satu kali
penyemprotan)
(Rp./ha)
50% 14,00
45% 12,00
40% 9,00
35% 6,60
30% 4,90
25% 3,50
20% 3,00
15% 2,90
10% 2,40
5% 2,25
0% 0,00

IX. VIRUS DAN VEKTOR

A. Latar Belakang
Diantara masalah teknis yang harus mendapat perhatian, virus adalah kendala produksi
penting pada budidaya kentang. Virus ini dapat ditularkan dan disebarkan dari musim ke musim oleh
vektornya dan umbi bibit kentang yang terkena infeksi. Umbi bibit yang terinfeksi merupakan sumber
virus yang penting. Tanaman yang sakit pada akhir musim akan menghasilkan bibit yang sakit pula.
Penyebaran virus melalui umbi bibit merupakan masalah pada produksi bibit kentang di Indonesia.
Umbi-umbi yang terinfeksi virus sering lolos dari seleksi karena umumnya pada umbi, virus tidak
menimbulkan gejala. Disamping itu tanaman yang terserang virus kebanyakan menghasilkan umbi
yang kecil-kecil yang ukurannya sama dengan umbi bibit.
Penurunan produksi kentang akibat virus bervariasi, tergantung pada jenis virus yang
menyerang, kultivar kentang yang ditanam dan keadaan lingkungan. Menurut penelitian di luar negeri
kehilangan hasil akibat virus berkisar antara 5 90%. Virus-virus penting pada kentang adalah virus
daun penggulung kentang ( Potato Leaf Roll Virus = PLRV), virus Y kentang (Potato Virus Y = PVY)
dan virus- virus lainnya dikelompokkan pada virus yang kurang penting.
Aphid atau kutu daun, kutu kebul, wereng dan thrips adalah serangga yang dapat
menularkan virus dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Serangga- serangga tersebut dapat
menularkan virus atau berfungsi sebagai vektor karena mempunyai alat mulut untuk menghisap.
Beberapa virus dapat ditularkan dalam waktu hanya beberapa detik saja setelah vektor
makan (non-persisten). Bila serangga yang sedang menularkan virus disemprot, maka serangga
tersebut akan bergerak lebih cepat dari satu tanaman ke tanaman lainnya, sehingga tanaman yang
terserang menjadi lebih banyak bila dibandingkan dengan pertanaman yang tidak disemprot. Namun
demikian virus yang non-persisten tidak menempel lama tidak menempel lama pada alat mulut
(stylet) vektornya, dan mudah tercuci dengan beberapa kali penusukan alat mulut tersebut.
Jenis yang memerlukan waktu lama untuk dapat ditularkan disebut persisten. Biasanya
sebelum ditularkan perlu waktu dahulu (latent period) antara beberapa puluh menit sampai beberapa
jam untuk memperbanyak virus di dalam tubuh serangga. Serangga biasanya memasukkan air
liurnya ke dalam jaringan tanaman pada waktu menusukan alat mulutnya untuk makan. Pada waktu
air liurnya masuk, virus yang ada pada kantong ludah (saliva) serangga ikut masuk ke dalam jaringan
tanaman dan ini sudah cukup untuk menulari tanaman sehat dengan penyakit virus. Virus yang
persisten dapat ditularkan oleh serangga selama waktu hidupnya dan disebarkan ke tempat lain yang
jauh.
Virus yang semi-persisten adalah virus yang waktu penularannya terletak antara non
persisten dan persisten. Virus inipun dapat disebarkan pada jarak jauh, tetapi keberadaanya dalam
tubuh vektor terbatas sampai beberapa hari saja, sehingga tidak dapat ditularkan sepanjang hidup
vektor.
Pengendalian virus sulit dilakukan, tindakan yang paling baik untuk menghindari serangan
virus adalah (1) menggunakan bibit yang sehat; (2) menggunakan varietas yang tahan; (3)
menghindarkan sumber infeksi lainnya (gulma sebagai inang alternatif virus) dan (4) mengendalikan
vektornya.
Pengendalian vektor virus sebaiknya hanya dilakukan apabila sumber infeksi tidak mungkin
dihilangkan (sumber infeksi adalah kebun tetangga). Dalam pengendalian harus dipahami cara
penyemprotan yang benar, misalnya (1) penyemprotan harus tepat sasaran, khususnya bagi vektor
yang hidup dan makannya pada permukaan daun bagian bawah, atau pada lipatan- lipatan daun; (2)
jenis insektisida yang digunakan harus tepat. Untuk mengendalikan kutu daun tidak digunakan
Carbaryl, karena insektisida tersebut akan membunuh musuh alami, sedangkan kutu daun itu sendiri
tidak mati.
Selain serangga, vektor lain adalah nematoda ektoparasit Ongiderus spp. dan Xiphinema
spp. Pada kegiatan ini kita akan mengumpulkan serangga yang merupakan vektor virus dan
mencirikan fisiknya agar mudah dikenal, mempelajari alat mulutnya serta memperagakan bagaimana
virus ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lainnya dengan menggunakan alat mulut (stylet).
B. Tujuan
Mengenal berbagai serangga vektor, mengamati alat mulutnya dan memahami mekanisme
penularan virus oleh serangga.
C. Bahan dan Alat
Gliserin, alkohol, jarum jara, cawan Petri, mikroskop, pewarna makanan, minyak kelapa,
aspirator, kuas gambar halus, botol vial atau plastik bekas film, kapas gelas plastik, lampu spiritus
dan lilin.
D. Langkah Kerja
1. Mengenal berbagai jenis vektor serangga
a. Kumpulan nimfa kutu daun dan serangga dewasa, kutu kebul, thrips dari lahan pertanaman
sayuran. Kemudian masukkan ke dalam botol vial yang berisi alkohol 70%.
b. Cawan Petri ditetesi dengan gliserin. Letakkan serangga yang dikumpulkan pada tiap tetesan
gliserin. Posisi serangga diatur dalam beberapa pandangan (arah).
c. Amati serangga-serangga tersebut di bawah mikroskop. Kemudian gambarkan tipe bagian
serangga yang Anda lihat pada kerta gambar.
2. Mengamati bagian mulut
a. Letakkan serangga pada cawan petri yang telah ditetesi gliserin berdasarkan jenisnya dalam
posisi terbaik dan miring.
b. Amati bagian mulut serangga di bawah mikroskop, kemudian gambarkan alat mulut tersebut
pada kertas gambar secara rinci.
c. Apakah ada perbedaan alat mulut serangga ?
3. Cara penularan virus
a. Siapkan bahan sebagai berikut :
1). Gelas kaca yang berisi air berwarna sebanyak setengah gelas dan di atasnya lapisan
minyak kelapa setinggi 2 cm.
2). Pipet sedotan yang terdiri atas:
- dua buah yang ujungnya ditutup lilin
- dua buah tanpa perlakuan
- dua buah yang telah diisi gan kapas di bagian dalamnya.
3). Gelas atau tabung reaksi yang berisi air berih sebanyak 18 buah.
b. Dua buah pipet yang ditutup dengan lilin dicelupkan ke dalam lapisan minyak. Sebuah
pipet langsung dicelupkan ke dalam 13 atau tabung reaksi yang berisi air bersih secara
berturut-turut. Pipet yang satu lagi dibiarkan di udara terbuka sampai 1 2 jam,
kemudian celupkan ke dalam 3 gelas air secara berturut-turut. Penularan macam
apakah yang Anda peragakan?.
c. Dua buah pipet tanpa perlakuan dimasukan ke dalam lapisan air yang berwarna, lalu
cairan tersebut disedot. Pipet tarik kembali ke larutan air. Sebuah pipet langsung
dicelupkan ke dalam 3 gelas atau tabung yang berisi air bersih. Penularan macam
apakah yang sedang Anda peragakan?.
d. Dua buah pipet yang telah berisi kapas dicelupkan pada air berwarna, lalu cairan
tersebut disedot. Pipet ditarik kembali dari larutan air. Pipet pertama langsung
dimasukkan ke dalam 3 gelas/ tabung yang berisi air bersih secara berturut-turut. Pipet
kedua biarkan di udara terbuka selama 1 2 jam, lalu celupkan seperti pipet yang
pertama. Penularan macam apakah yang Anda peragakan?
e. Catat semua kejadian pada gelas/ tabung yang berisi air.

E. Bahan Diskusi
1. Mengapa pada satu tanaman sering terinfeksi oleh beberapa jenis virus?
2. Apa sebabnya pengendalian vektor hanya dilakukan kalau ada sumber infeksi? Apa alasan
ekonomi dari tindakan tersebut?
3. Untuk mengatasi masalah virus pada pembuatan bibit sayuran, faktor-faktor apakah yang harus
diperhatikan? Bagaimana cara terbaik untuk mengurangi serangan virus?

X. PENGENALAN PENYAKIT LAYU BAKTERI

A. Latar Belakang
Tanaman-tanaman yang sudah terserang bakteri (Pseudomonas solanacearum) sulit disembuhkan.
Selain akan menjadi sumber infeksi bagi tanaman-tanaman di sekitarnya, juga akan menambah sumber
infeksi di dalam tanah. Oleh karena itu perlu diketahui tanda-tanda bakteri patogen untuk tujuan
penanggulangannya.
B. Tujuan
Untuk lebih mengenal tanda-tanda tanaman sayuran terserang bakteri patogen.
C. Bahan dan Alat
1. Tanaman-tanaman yang diduga terserang bakteri
2. Kantong plastik
3. Air bersih
4. Pisau tajam
5. Kawat atau peniti
6. Gelas bening dan bersih
7. Koran bekas

D. Langkah Kerja
1. Ambil tanaman sayuran yang diuga terserang bakteri (layu, menguning).
2. Masukkan ke dalam kantong plastik dan bawa ke laboratorium atau rumah.
3. Taruhlah tanaman sayuran beserta (umbi, buah, daun) yang dicabut tadi di atas koran.
4. Amati pada bagian pangkal umbi (tempat melekatnya tangkai umbi untuk tanaman yang berumbi)
5. Belah umbi dengan pisau mulai dari pangkalnya, lalu pinggiran umbi ditekan kiri-kanan dengan
jari sampai keluar cairan dari bagian pangkatnya. Amati warna cairan tersebut.
6. Siapkan gelas kering berisi air yang bersih.
7. Potonglah batang tanaman sayuran lalu masukkan ke dalam gelas berisi air bersih. Kedudukan
potongan batang mengantung pada bibir gelas dengan pertolongan sepotong kawat atau peniti.
8. Biarkan beberapa menit. Amati perubahan warna air sekitar potongan batang tadi. Bila terserang
bakteri, dari pangkal batang kentang akan keluar cairan berwarna putih seperti susu. Pada
tanaman sayuran, terlihat cincin berwarna kuning/coklat pada batang bagian dalam.

E. Bahan Diskusi
1. Mengapa batang/umbi tanaman sayuran atau buah yang diduga terserang bakteri mengeluarkan
cairan berwarna putih susu.
2. Mengapa bakteri sering menyerang akar yang terluka? Apa saja yang dapat menyebabkan luka
pada akar?
3. Apa yang harus dilakukan agar serangan bakteri dapat dicegah atau serangannya ditekan
serendah mungkin?






XI. PHT PADA TANAMAN BAWANG MERAH
Penerapan PHT pada Tanaman Bawang Merah

A. Latar Belakang
Teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada tanaman bawang merah yang akan
diterapkan ini, didasarkan pada hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang
dan pengalaman pelaksanaan Sekolah Lapangan PHT (SL-PHT) serta PHT Rintisan bawang merah
pada tahun 1992 dan 1993 di daerah Jawa Tengah. Petak percobaan seluas 1000 m
2
(dipilih lahan
yang kesuburannya merata) dibagi menjadi dua bagian yang sama luasnya, yaitu : petak A perlakuan
PHT dan petak B perlakuan lokal, masimg masing seluas 500 m
2
.
Pada petak A diterapkan cara budidaya tanaman dan komponen teknologi pengendalian
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berdasarkan konsepsi PHT yang sesuai dengan fase
pertumbuhan tanaman bawang merah. Pada petak B dilakukan cara budidaya tanaman dan cara
pengendalian OPT, khususnya cara penggunaan pestisida yang sesuai dengan kebiasaan petani
setempat. Tujuannya adalah untuk membandingkan keuntungan atau kelebihan perlakuan PHT
dengan perlakuan Lokal.

B. Persiapan tanam
1. Bibit
a. Varietas atau kultivar bawang merah yang digunakan adalah yang paling umum ditanam di
daerah tesebut. Contoh : Kuning Sidapurna, Sumenep, Bima Brebes atau Maja Cipanas.
b. Umbi bibit yang digunakan adalah yang telah disimpan selama 2-3 bulan, bernas (padat
atau kompak), kulit umbinya tidak luka dan warnanya berkilau.
c. Ukuran umbi bibit 3-4 g.
Catatan : Varietas atau kultivar yang ditanam pada petak PHT dan petak lokal harus
sama.
2. Persiapan Lahan
a. Dipilih lahan yang mempunyai aerasi dan drainase yang baik, bukan bekas tanaman
bawang-bawangan. Sisa-sisa tanaman dikumpulkan lalu dikubur.
b. Lahan percobaan dibagi dua ;
b.1 Petak perlakuan PHT, luasnya 500 m
2
.
b.1.1 Pada lahan bekas sawah (khususnya di dataran rendah) yang beririgasi teknis,
dibuat bedengan-bedengan pertanaman dengan lebar 1.5 atau 1.8 m (panjang
disesuaikan dengan keadaan lahan).
Antar bedengan dibuat parit dengan lebar 50 cm dan kedalaman 50 cm.
- Tanah galian dari parit di sekitar bedengan diangkat ke atas bedengan
dan dibiarkan terjemur sinar matahari + 7 hari. Diberi pupuk kandang
(kompos) dengan dosis sesuai dengan pengalaman petani setempat.
- Bongkahan tanah di atas bedengan dibalikkan dan dihancurkan sampai
halus.
- Kemasaman tanah diukur dengan kertas lakmus. Jika pH tanah kurang
dari 5.5 pada perak PHT digunakan kapur pertanian atau Dolomit (20
ton/ha) 3-4 minggu sebelum tanam. Kapur disebar rata, lalu dicangkul dan
diaduk rata sedalam lapisan olah supaya pH tanah menjadi + 6.0.
- Dibuat garitan atau lubang tanam dengan jarak 15 cm x 15 cm
(pada musim kemarau) dan 15 cm x 20 cm pada musim penghujan.
b.1.2 Pada tanah tegalan (khususnya di dataran medium atau dataran tinggi) tanah
diolah sampai halus dan matang, kemudian dibuat bedengan pertanaman
dengan lebar 1.0 sampai 1.2 m (panjang disesuaikan dengan keadaan lahan).
Jarak antar bedengan 30 cm.
- Keasaman tanah diukur dengan kertas lakmus. Jika pH tanah kurang dari
5.5 pada perak PHT digunakan kapur pertanian atau Dolomit (2 ton/ha)
3-4 minggu sebelum tanam. Kapur disebar rata, lalu dicangkul dan
diaduk rata sedalam lapisan olah supaya pH tanah menjadi + 6.0. Diberi
pupuk kandang/ kompos.
- Dibuat garitan atau lubang tanam dengan jarak 15 cm x 15 cm (pada
musim kemarau) dan 15 cm x 20 cm pada musim penghujan.
b.2 Petak perlakuan Lokal, luasnya 500 m
2
.
Pengolahan tanah dan jarak tanam sesuai dengan kebiasaan setempat berdasarkan hasil
survai dari 25 orang responden. Antara petak A dan B diberi jarak + 2 m.
3. Pemberian pupuk
a. Petak perlakuan PHT
Pupuk dasar terdiri atas 10-20 ton/ha pupuk kandang atau 2.5-5.0 ton/ha kompos
dan pupuk TSP (150-200 kg/ha). Pupuk dasar diberikan pada 7-10 hari sebelum
tanam, disebar rata di atas bedengan pertanaman, kemudian dicangkul dan diaduk
sedalam lapisan olah.
Pupuk susulan terdiri atas pupuk Urea (150-200 kg/ha), pupuk ZA (300-500 kg/ha)
dan KCL (150-200 kg/ha). Pupuk susulan diberikan pada saat tanaman berumur 7-10
hari dan 25-35 hari setelah tanam, masing-masing setengah dosis. Pupuk susulan
diberikan pada garitan disekitar tanaman.
3.2 Petak Perlakuan Lokal :
Pengunaan pupuk baik jenis, dosis, waktu maupun frekuensi pemberiannya sesuai
dengan kebiasaan setempat berdasarkan hasil survai dari 25 orang responden.

C. Pelaksanaan
1. Tanam dan pemeliharaan
a. Pada Petak Perlakuan PHT :
Bibit bawang merah ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi.
Pengairan atau penyiraman dilakukan sesuai dengan umur tanaman, yaitu :
- Umur 0-10 hari, 2 kali per hari (pagi dan sore hari).
- Umur 11-35 hari, 1 kali per hari (pagi hari).
- Umur 36-50 hari, 1 kali per hari (sore hari).
- Umur 51 hari sampai panen, 1 kali per hari (pagi atau sore hari).
Penyiangan dan pendangiran (menggemburkan tanah di sekitar pertanaman)
dilakukan dua kali, yaitu sebelum pemupukan susulan pertama dan sebelum pemupukan
susulan kedua.
Pada waktu dilakukan penyiangan, telur Spodoptera spp. Atau ulat yang ditemukan
pada tanaman dimusnahkan. Tanaman yang terserang layu fusarium dicabut lalu
dimusnahkan.
Setelah tanaman bawang merah ditanam, dipasang perangkap Feromonoid Seks
ngengat S. exigua sebanyak 40 buah/ha.
b. Pada Petak Perlakuan Lokal :
Tanam dan pemeliharaan dilakukan sesuai dengan kebiasaan petani setempat
berdasarkan hasil survai dari 25 orang responden.

2. Pengamatan
Ditentukan 10 tanaman (rumpun) contoh/petak secara sistematis dengan menggunakan
metode penarikan contoh bentuk-U atau sistem diagonal.

3. Tindakan Pengendalian
a. Ambang pengendalian (AP) :
Hama ulat bawang
AP hama ulat bawang atau ulat pemakan daun lainnya pada tanaman bawang merah
pada musim kemarau adalah 5% kerusakan daun/tanaman contoh atau 1 (satu) paket
telur/10 tanaman contoh. Pada musim penghujan adalah 10% kerusakan
daun/tanaman atau 3 (tiga) paket telur/10 tanaman contoh.
Penyakit bercak ungu atau trotol (A. porrii)
Ambang pengendalian (AP) penyakit bercak ungu atau trotol adalah > 10% luas
kerusakan daun atau pada nilai scoring 1 (satu).
4. Keputusan Pengendalian
a. Hama
a.1 Pada Petak Perlakuan PHT
Jika telah ditemukan paket telur atau gejala serangan hama ulat bawang, dilakukan
eradikasi paket telur dan daun-daun bawang yang menujukkan gejala serangan. Jika
diperlukan penggunaan insektisida harus berdasarkan ambang pengendalian.
- Nilai ambang pengendalian pada musim kemarau, jika kerusakan tanaman
bawang merah yang disebabkan oleh hama ulat bawang atau hama pemakan
daun lainnya > AP (5% tanaman) atau telah ditemukan satu paket telur/10
tanaman contoh, pertanaman disemprot dengan pestisida yang efektif.
- Nilai ambang pengendalian pada musim penghujan, jika kerusakan tanaman
bawang merah yang disebabkan oleh hama ulat bawang atau hama pemakan daun
lainnya > AP (10% tanaman) atau telah ditemukan tiga paket telur/10 tanaman contoh,
pertanaman disemprot dengan pestisida/agens hayati yang efektif.
a.2 Pada Petak Perlakuan Lokal
Jenis insektisida, cara penggunaan dan alat semprot yang digunakan mengikuti kebiasaan
setempat berdasarkan hasil survai dari 25 orang responden.
b. Penyakit
b.1 Pada Petak Perlakuan PHT
Penyakit bercak ungu atau trotol (Alternaria porrii)
- Dilakukan penyiraman setelah turun hujan pada siang hari.
- Jika intensitas kerusakan tanaman yang disebabkan oleh penyakit
bercak ungu atau trotol > AP (10% / tanaman atau scoring satu), pertanaman
disemprot dengan fungisida yang efektif, misalnya : fungisida berbahan aktif
Klorotalonil, Difenokonazol atau Propineb.
Penyakit layu fusarium / Penyakit Moler
Dilakukan eradikasi selektif terhadap tanaman yang terserang, yaitu dengan cara
mencabut dan memusnahkannya.

Penyakit otomatis (Brebes), Tires (DIY) / Antraknosa ( Colletroticum sp.)
Jika serangan ringan (< 10%), dilakukan eradikasi selektif terhadap tanaman yang
terserang, yaitu dengan cara mencabut dan memusnahkannya. Jika serangan
lebih dari 10%, dilakukan penyemprotan dengan fungisida yang efektif antara lain,
Klorotalonil, Maneb atau Propineb. Pada penyemprotan fungisida digunakan nozel
kipas.
b.2 Pada Petak Perlakuan Lokal
Jenis fungisida, cara penggunaan dan alat semprot yang digunakan mengikuti
kebiasaan setempat berdasarkan hasil survai dari 25 orang responden.

D. Bahan Penyusunan Laporan dan Diskusi
1. Laporan hasil percobaan
a. Dibuat tabel hasil pengamatan sebagai berikut :
- Jumlah thrip.
- Jumlah paket telur Spodoptera spp.
- Jumlah ulat bawang dan ulat pemakan daun lainnya.
- Jumlah musuh-musuh alami hama.
- Tingkat kerusakan tanaman oleh ulat pemakan daun.
- Tingkat serangan penyakit trotol, pengorok daun (Lyriomyza sp.), layu fusarium,
otomatis dan penyakit lainnya yang terpantau.
- Hasil panen per 10 tanaman contoh, ubinan (1.5 m
2
), per petak studi (500 m
2
) dan per
hektar.
b. Hitung jumlah penyemprotan pestisida pada petak perlakuan PHT dan Lokal per musim.
c. Hitung jumlah penggunaan pestisida pada petak perlakuan PHT dan Lokal per musim.
d. Hitung jumlah penggunaan volume semprot pada petak perlakuan PHT dan Lokal per
musim.
e. Hitung analisis ekonomi parsial (sederhana) pada petak perlakuan PHT dan Lokal.

2. Diskusi
Bahaslah perbedaan antara penerapan perlakuan PHT dan perlakuan Lokal sebagai berikut :
Jumlah OPT dan intensitas kerusakan tanaman.
Jumlah musuh-musuh alami hama.
Efisiensi pengunaan pestisida (insektisida dan fungisida).
Hasil panen bersih per hektar.
Analisis ekonomi sederhana (parsial) dan keuntungan penerapan perlakuan PHT.

3. Kesimpulan
Apa kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil studi ini?

XII.FASE PERTUMBUHAN TANAMAN BAWANG MERAH

A. Latar Belakang

Tanaman bawang merah mengalami beberapa fase pertumbuhan yang penting. Pertumbuhan
bawang merah dimulai dengan fase awal pertumbuhan, fase pertumbuhan vegetatif, fase
pertumbuhan umbi dan fase pematangan umbi.
Fase awal pertumbuan dimulai sejak umbi ditanam sampai semua umbi tumbuh seragam.
Pada fase ini bawang merah relatif banyak memerlukan air, yang berguna untuk mempercepat
pertumbuhan yang serempak. Fase pertumbuhan vegetatif berlangsung selama tanaman
membentuk tunas dan daun, energi/unsur hara yang tersedia digunakan untuk membentuk tunas dan
daun. Pada fase pembentukan dan pematangan umbi, pola pertumbuhannya berupa energi/unsur hara
yang tersedia dialihkan untuk pembentukan umbi.
Pemeliharaan tanaman bawang merah, seperti penyiraman, penyiangan, pemupukan, dan lain-
lain hendaknya disesuaikan dengan fase pertumbuhan yang sedang berlangsung. Dengan demikian
pemeliharaan tanaman yang telah dilakukan akan tepat guna sehingga akan diperoleh hasil yang
optimal.

B. Tujuan
1. Untuk menentukan fase-fase pertumbuhan tanaman bawang merah dan mengetahui ciri-cirinya.
2. Untuk mengetahui secara sistematis pemeliharaan tanaman bawang merah sesuai dengan
pertumbuhan tanaman.

C. Bahan dan alat
1. Tanaman bawang merah yang sejenis dengan umur 0 hst (bibit/benih), 7, 24, 45, 55 hst dan saat
tanaman.
2. Pisau, pensil, mistar, dan kertas koran.

D. Langkah kerja
1. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok kecil.
2. Pergi ke lahan pertanaman bawang merah. Tiap kelompok kecil mengambil 1 rumpun tanaman
sehat sejenis dengan umur 0 hst (bibit/benih), 7, 24, 45, 55 hst dan saat tanaman.
3. Cuci dan bersihkan tanaman dari kotoran yang menempel baik pada daun, umbi, maupun pada
akar.
4. Amati secara teliti, mulai dari pangkal tanaman sampai ujung daun. Catat jumlah yang tumbuh,
jumlah dan ukuran umbi serta panjang akar.
5. Gambar secara sederhana bentuk tanaman tersebut.
6. Ulangi langkah no 1 5 pada tanaman bawang merah di petak PHT dan konvensional sesuai
dengan kondisi umur tanaman (7, 24, 45, 55 hst).

E. Bahan Diskusi
1. Bagaimana keadaan tanaman pada masing-masing umur? Apakah ada perbedaan? Tentukan
fase-fase pertumbuhan tanaman bawang merah tersebut!
2. Apa dapat dijadikan pedoman untuk menentukan fase-fase pertumbuhan tanaman bawang
merah?
3. Bentuk-bentuk pemeliharaan apa saja yang sesuai dengan fase-fase pertumbuhan tanaman
bawang merah?
4. Presentasikan hasil pengamatan anda pada kelompok lain?

XIII. PEMILIHAN BIBIT BAWANG MERAH
A. Latar Belakang
Upaya penciptaan pertanian yang tanggung khususnya pada budidaya tanaman bawang
merah antara lain adalah dengan penggunaan bibit yang bermutu. Bibit yang bermutu merupakan
salah satu factor penentu hasil akhir usaha tani bawang merah.
Pada umumnya bibit yang digunakan para petani bawang merah tidak memenuhi persyaratan
bibit yang bermutu. Karena itu tidak sedikit para petani bawang merah yang menanam umbi berasal
dari bawang konsumsi yang telah disimpan sampai pecah masa dormansinya.
Pemilihan umbi bibit bawang merah yng optimal dan dengan daya tumbuh yang tinggi dapat
dilakukan berdasarkan ciri-ciri tertentu.

B. Tujuan
1. mengetahui ciri- ciri umbi bibit bawang merah yang baik untuk ditanam di lapang
2. mengetahui daya tumbuh bibit bawang merah

C. Bahan dan Alat
1. Umbi bibit bawang merah yang baru dipanen serta telah disimpan selama 1 bulan, 2 bulan dan 3
bulan.
2. Pisau tipis/ cutter
3. Media tumbuh (bak plstik, tanah pasir, air)
4. Penggaris dan alat-alat tulis

D. Langkah Kerja
Ambil 15 umbi bawang merah dengan berat seragam ( 3-4 gram/umbi) yang berasal dari
hasil panen (0 hari/ bulan) serta dari penyimpanan bawang merah 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan.
Usahakan tiap umur simpan umbi diperoleh dari 1 ikatan.
1. Ciri- ciri Umbi bibit bawang merah
Ambil 5 umbi bawang merah untuk setiap umur penyimpanan.
Ambil dan catat keadaan umbi tersebut mengenai : bentuk umbi, warna (kulit), umbi dan
kenampaan umbi, ukuran umbi.
Lakukan langkah langkah berikut ( untuk tiap umur simpan) :
- Ambil 2 umbi, dipotong ujungnya, kemudian amati getah umbi yang keluar. Bagaimana
kekentalan getah, warna getah dan baunya. Catatlah hasilnya.
- Ambil 3 umbi belah secara membujur, amati dan catat warna umbi bagin dalam serta
keadaan calon tunas (warna dan ukuran)
Catat seluruh hasil pengamatan anda dalam tabel berikut ini :

Tabel Hasil pengamatan Ciri-ciri Umbi Bawang Merah

No

Hal yang diamati
Umur umbi bibit (bulan)
1 2 3 4
1.
2.
3.
4
5.
6.
7.
8.
Bentuk umbi
Warna kulit umbi
Kenampaan umbi
Ukuran umbi
Kekentalan getah umbi
Warna getah umbi
Warna getah umbi (belah)
Bau umbi (belah)

9.
10.
11.
Warna umbi bagian dalam
Panjang calon tunas
Lain-lain

2. Daya tumbuh umbi bawang merah

a. Siapkan media tumbuh pada bak plastik.
b. Tanam umbi bawang merah masing-masing 10 umbi untuk tiap umur simpan.
c. Simpan pada tempat yang aman dan selalu terkena sinar matahari. Laku penyiraman setiap
pagi dan sore.
d. Pada hari ke-3 setelah tanam, amati jumlah umbi yang telah tumbuh untuk tiap-tiap umur
penyimpanan. Ukurlah dan catat panjang serta jumlah daun.
e. Cabut 5 umbi secara pelan pelan untuk tiap tiap umur penyimpanan. Amati dan ukur panjang
tunas, panjang akar dan jumlah akar yang tumbuh. Amati pula hal hal lain yang perlu.
Misalnya terdapatnya pathogen penyakit dan lain lain.
f. Ulangi langkah 4 dan 5 pada saat umbi telah berumur 7 hari setelah tanam.
g. Catat hasil pengamatan dalam tabel berikut :

Tabel Daya Tumbuh Bawang Merah

No Hal yang diamati Pada 3 HST* Pada 7 HST*
0 1 2 3 0 1 2 3
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Umbi yang ditanam
Umbi yang tumbuh
Panjang tunas
Panjang akar
Jumlah akar
Jumlah daun
Serangan penyakit


*HST : hari setelah tanam

E. Bahan Diskusi
1. Bagaimana ciri-ciri umbi bawang merah untuk tiap tiap umur penyimpanan ? Adakah
perbedaanya? Apa sebabnya?
2. Bagaimana daya tumbuh umbi bawang merah pada umur 3 HST dan 7 HST?Apakah ada
perbedanya? Apa sebabnya?
3. Menurut anda, apa saja ciri ciri umbi bawang yang bermutu baik? Mengapa demikian?
4. Kesimpulan apa yang dapat diambil dari kegiatan ini?
5. Presentasikan hasil pengamatan kelompok Anda kepada kelompok lain!


















XIV. FASE PESEMAIAN BIBIT CABAI

A. Latar Belakang

Ada dua macam cara menanam cabai yaitu menam langsung benih di lapangan, dan
menanam dengan melakukan penyemaian benih terlebih dulu
Umumnya cabai ditanam dari bibit yaitu benih yang telah disemaikan terlebih dahulu. Dengan
mengguanakan pesemaian, pemeliharaan bibit ( tanaman muda) lebih mudah.

B. Tujuan
1. Mengetahui perkembangan tanaman cabai di pesemaian
2. Dapat menentukan waktu yang baik untuk memindahkan tanaman cabai ke lapangan

C. Bahan dan Alat
Bibit cabai umur 2-4 minggu setelah sebar (semai), lup, spidol, pensil, dan buku gambar.

D. Langkah Kerja
1. Amati bibit cabai umur 2, 3, 4 mss.
2. Amati bagian daun, batang dan akarnya.
3. Belah bagian pucuk dan amati dengan lup.
4. Gambarlah semua fase umur bibit tersebut.

E. Bahan Diskusi
1. Mengapa cabai disemaikan terlebih dahulu?
2. Mengapa cabai dipindahkan pada umur 4 mss ?
3. Apa keuntungan dan kerugian dengan sebar?
4. OPT apa yang ditemuakan pada fase ini?, perawatan apa yang perlu dilakukan?

XV. FASE VEGETATIF TANAMAN CABAI

A. Latar Belakang

Fase vegetatif merupakan masa pertumbuhan tanaman sebelum masa berbunga atau masa
berbuah. Fase vegetatif akan menentukan baik dan tidaknya mutu hasil panen. Tanaman cabai pada
fase vegetatif memerlukan perawatan yang intensif sehingga tercita tanaman yang sehat dan
diperoleh hasil panen yang sesuai dengan keinginan.

B. Tujuan
Untuk mengetahui perkembangan tanaman cabai pada fase vegetatif baik jumlah cabang
maupun daun.

C. Bahan dan Alat
Tanaman cabai fase vegetatif, penggaris, buku tulis, pencil, pisau lipat, lup, spidol, krayon, dan
buku gambar.

D. Langkah Kerja
1. Ambil tanaman cabai dari lapangan
2. Amati bentuk (morfologi) tanaman, bentuk dan jumlah daun, cabang dan tunas.
3. Ukur tinggi tanaman dan diameter batang.
4. Gambarkan pada buku yang disediakan
5. Lakukan kegiatan ini setiap minggu

E. Bahan Diskusi
1. Mengapa dan bagaimana terjadi pembentukan batang dan tunas serta dimana letaknya?
2. Kapan pembentukan cabang dan tunas berhenti?
3. Bila percabangan tidak/kurang terbentuk, tindakan apa yang harus dilakukan?

XVI. FASE PRA TUMBUH TANAMAN KENTANG

A. Latar Belakang

Kentang ditanam dengan bibit yang telah muncul tunasnya sepanjang 1 cm. Pada saat awal
tnam, tunas masih belum muncul ke atas permukaan tanah, namun demikian bibit sudah dalam
keadaan aktif. Pada saat ini tanaman sangat mudah terganggu. Gangguan yang terjadi pada fase ini,
baik berupa fisik maupun gangguan organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) akan menyebabkan
kerusakan yang fatal dan apat menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman sehingga pada
akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil panen.

B. Tujuan
Mengetahui fase pra tumbuh tanaman kentang
C. Bahan dan Alat
Kentang berumur 3 hst, alat tulis, penggaris, loupe dan pisau.
D. Langkah Kerja
1. Ambil tanaman kentang berumur 3 5 hst.
2. Hitung jumlah tunas.
3. Amati OPTnya.
4. Belah kentang tepat pada tunasnya dan gambarlah.
E. Bahan Diskusi
1. Mengapa pada fase ini tanaman sangat mudah terganggu dan bagaimana pengaruhnya jika
tunas terganggu?
2. OPT apa yang dominan pada fase ini dan bagaimana cara pengendaliannya?

XVII. FASE PRA PEMBENTUKAN UMBI TANAMAN KENTANG
A. Latar Belakang
Masa vegetatif adalah masa pertumbuhan tanaman kentang mulai pertunasan hingga
menjelang terbentuknya umbi. Masa tersebut ditandai dengan pertambahan berat, tinggi dan
bertambahnya jumlah tunas.
Masa vegetatif tanaman kentang dipengaruhi oleh :
a. Jumlah mata tunas pada umbi
Jumlah mata tunas yang sedikit menyebabkan jumlah tunas ang tumbuh juga sedikit. Hal
ini akan mempengaruhi hasil panen umbi kentang. Bila hanya ada satu mata tunas maka
tunas yang tumbuh juga hanya satu sehingga tanaman ini hanya menghasilkan satu atau
dua umbi kentang saja yang besar. Bila terdapt banyak mata tunas, maka jumlah tunas
yang tumbuh menjadi tanaman juga banyak dan masing-masing menghasilkan jumlah
umbi yang banyak namun berukuran relatif kecil.
b. Pengolahan tanah an pemupukan
Pengolahan tanah yang gembur, halus dan bersih dari rerumputan akan membantu
pertumbuhan vegetatif. Apalagi ditambah dengan pemupukan yang tepat, baik jenis,
ukuran, waktu maupun caranya.
c. Pemeliharaan
Dalam pemeliharaan pertumbuhan tanaman kentang an pembubunan merupakan hal
yang penting dalam msa pertumbuhan vegetatif.

B. Tujuan
Memahami pertumbuhan tanaman kentang yang normal, pertunasan sampai menjelang
terbentuknya umbi.

C. Bahan dan Alat
1. Bibit kentang yang sudah bertunas
2. Tanaman kentang umur 1 dan 1,5 bulan
3. Krayon dan buku gambar
4. Meteran atau alat ukur panjang lainnya

D. Langkah Kerja
1. Ambil tanaman kentang yang sudah bertunas yang berumur 1 dan 1,5 bulan dari pertanaman
kentang.
2. Amati bentuk dan ukuran tanaman tersebut di atas.
3. Kegiatan selanjutnya setiap minggu amati dan gambar tanman kentang

E. Bahan Diskusi
1. Mengapa tanaman kentang brtambah tingi? Berapa jumlah dan luas daun serta jumlah
percabangannya?
2. Megapa pada masa pra pembenukan umbi perkembangan daun cepat? Apa hubungannya
dengan masa selanjutnya? Apa hubungannya dengan kerusakan daun?

XVIII. FASE PEMBENTUKAN UMBI KENTANG
A. Latar Belakang
Umbi adalah hasil akhir yang diharapkan dari tanaman kentang. Umbi entang merupakan
bagian batang (stolon) yang berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan cadangan makanan.
Pembentukan umbi dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain pengolahan tanah dan air yang baik,
pembubunan dan pengendalian terhadap serangan OPT.
Pembentukan umbi terjadi pada saat tanaman berumur 1-1,5 bulan. Pemeliharaan yang baik
pada fase ini akan sangat berpengaruh terhadap hasil umbi tanaman kentang.

B. Tujuan
Mengetahui kapan terjadinya pembentukan umbi dan factor yang harus diperhatikan untuk
pembentukan umbi yang baik.

C. Bahan dan Alat
1. Skop kecil
2. Tanaman kentang berumur 1-1,5 bulan
3. Alat tulis menulis

D. Langkah Kerja
1. Cabut dan amati tanaman kentang yang sudah berumur 1 -1,5 bulan
2. Hitung jumlah tunas/ batang
3. Ukur tinggi tanaman.
4. Hitung jumlah umbi yang sudah terbentuk dan jumlah stolon yang akan membentuk umbi.
5. Gambarlah apa yang terjadi?
E. Bahan Diskusi
1. Bagian mana yang membentuk umbi terlebih dahulu? Mengapa demikian?
2. Berapa perbandingan jumlah tunas dengan jumlah akar yang akan membentuk umbi?
3. Apakah Anda melihat umbi di atas permukaan tanah?
4. Apa tindakan yang akan kita lakukan bila ditemukan bakal umbi yang muncul di atas permukaan
tanah?

XIX. FASE PENUAAN TANAMAN KENTANG
A. Latar Belakang
Umbi kentang akan mencapai ukuran maksimum apabila suplai karbohidrat ke dalam umbi
telah berhenti. Setelah umbi penuh oleh karbohidrat umbi tidak langsung dipanen, karena karbohidrat
masih berupa cairan. Perubahan dari karbohidrat yang cair menjadi padat pada umbi kentang disebut
penuaan.

B. Tujuan
Untuk mengetahui fase penuaan pada tanaman kentang.

C. Bahan dan Alat
1. Tanaman kentang berumur 12 minggu
2. Kantong plastik
3. Cutter
4. Spidol, krayon, buku gambar dan penggaris
5. Timbangan
6. Cangkul/sekop

D. Langkah Kerja
1. Ambil tanaman kentang yang telah berumur 12 minggu setelah tanam.
2. Amati umbi kentang, tekan kulit umbi dengan jari.
3. Timbang dan hitung jumlah umbi masing-masing tanaman.
4. Belah secara vertical masing-masing umbi dan ukur garis tengahnya.
5. Gambarkan pada buku gambar.
E. Bahan Diskusi
1. Apakah fase ini perlu dilakukan penyiangan atau pemupukan ?
2. Apakah fase ini masih perlu dilakukan pengendalian OPT ?
3. Kesimpulan apa yang dapat ditarik dari kegiatan ini ?

XX. PENGUKURAN HABITAT MIKRO

A. Latar Belakang

Pertumbuhan dan hasil tanaman sangat dipengaruhi oleh habitat mikro, seperti temperatur,
intensitas sinar matahari dan kelembapan tanah. Demikian pula perkembangan OPT sangat
dipengaruhi habitat mikro.
Habitat mikro sangat bergam dan berbeda setiap lokasi pada setiap saat pada akhirnya
perbedaan habitat mikro akan berpengaruh terhadap perkembangan OPT .

B. Tujuan
Mengetahui habitat mikro diberbagai lokasi

C. Bahan dan alat

Kertas HVS, pensil, termometer, kantong plastik, timbangan

D. Langkah Kerja

1. Pilihlah lokasi dengan kriteria sebagai berikut
a. Tempat kemiringan dengan kemiringan tinggi yang tidak ternaungi
b. Tempat kemiringan dengan kemiringan tinggi yang ternaungi
c. Tempat kemiringan dengan kemiringan rendah dan tidak ternaungi
d. Tempat kemiringan dengan kemiringan rendah dan ternaungi
2. Mengukur kelembaban tanah
Ambil sampel tanah sebanyak 1 genggam pada setiap tempat dan masukan ke dalam kantong
plastik dan tutup rapat-rapat (supaya air tidak menguap). Setelah kembali ke tempat pertemuan,
timbanglah tanah tersebut beserta kantongnya (berat basah). Setelah itu keringkan tanah
tersebut sampai benar-benar kering dan timbanglah kembali dengan kantong plastiknya (berat
kering). Selisih berat tanah basah dan berat tanah kering merupakan jumlah air yang ada dalam
tanah. Tingkat kelembaban tanah yang sebenarnya (%) yaitu
Tingkat kelembaban tanah (%) = Berat air x 100 %
Berat basah

3. Mengukur suhu
Gunakan termometer untuk mengukur suhu :
a. Suhu tanah
b. Suhu udara di atas tanaman
c. Suhu udara di bawah tanaman
4. Buatlah tabel data suhu dan kelembaban tanah setiap tempat. Amati pula OPT yang ada.

E. Bahan Diskusi
1. Dapatkah anda menjelaskan mengapa ada perbedaan kelembaban tanah disetiap tempat?
Kalau hujan baru turun atau adanya pengairan apakah berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan serangga dan penyakit?
2. Kelembaban tanah yang bagaimana yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan serangga dan penyakit?
3. Bagaimana perubahan suhu pada setiap tempat yang Anda ukur? Apa pendapat Anda apabila
perubahan ini terjadi setiap beberapa hari sekali? Buatlah grafik hipotesis perubahan suhu ini!
Apakah perbedaan suhu pada setiap tempat penting bagi perkembangan serangga dan
penyakit?
4. Adakah interaksi antara suhu dan kelembaban tanah pada setiap tempat? Bagaimana
interaksinya?
5. Menurut Anda, populasi hama dan serangan penyakit lebih banyak pada tempat-tempat yang
bagaimana? Mengapa demikian?