Anda di halaman 1dari 32

JURNAL FARMAKOLOGI

KONTRASEPSI HORMONAL














DI SUSUN OLEH :
RIYANDA SFarm, Apt .
(21121083)






SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG
JALAN SOEKARNO-HATTA NO.754
CIBIRU-BANDUNG
2014

















KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang maha kuasa,karena atas
berkat dan rahmat-Nya, sehigga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Makalah ini merupakan perwujudan dari tugas kelompok yang di berikan
oleh dosen mata kuliah MATERNITAS III.
Makalah ini berisikan tentang materi yang berhubungan dengan mata kuliah
MATERNITAS III yaitu FUNGSI HORMON SEBAGAI ALAT KONTRASEPSI.
Apabila ada kekurangan dari penulisan makalah ini mohon kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna
bagi kita semua.


Makassar, Mei 2012


Penyusun


DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan...1
A. Latar Belakang...1
B. Tujuan..1
Bab II Tinjauan Pustaka...2
A. Definisi ...2
B. Teknik-teknik kontrasepsi.....3.
C. Mekanisme kerja....7
D. Macam-macam kontrasepsi hormonal...10
Bab III Penutup ....26
A. Kesimpulan ....26
B.Saran....26
Daftar Pustaka...27


BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kehamilan, upaya tersebut dpat
bersifat sementara dan dapat pula bersifat permanen.Yang bersifat permanen pada
wanita dinamakan tubektomi dan pada pria vasektomi. Sedang yang bersifat sementara
dapat menggunakan obat peroral, suntikan, intravaginal, atau dengan obat topikal
intravaginal yang bersifat spermisid. Selanjutnya disini hanya akan dibahas mengenai
kontrasepsi hormonal yang umumnya digunakan secara peroral, suntikan atau
implantasi subkutan.
Sampai sekarang cara kontrasepsi yang ideal belum ada. Kontrasepsi ideal itu
harus memenuhi syarat sebagai berikut, dapat dipercaya, tidak menimbulkan efek yang
mengganggu kesehatan, daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan, tidak
menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus, tidak memerlukan motivasi terus-
menerus, mudah pelaksanaan, murah harganya, dan dapat diterima penggunaannya
oleh pasangan yang bersangkutan.

B.Tujuan
Mahasiswa dapat mengenal berbagai macam alat kontrasepsi
Mahasiswa dapat menerapkan pelajaran ini pada pelayanan kesehatan
terkususnya pada keluarga berencana(KB)
BAB II
TINJAU PUSTAKA

A.PENGERTIAN
Kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi)
atau pencegahan menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim. Terdapat
beberapa metode yang digunakan dalam kontrasepsi. Metode dalam kontrasepsi tidak
ada satupun yang efektif secara menyeluruh. Meskipun begitu, beberapa metode dapat
lebih efektif dibandingkan metode lainnya. Efektivitas metode kontrasepsi yang
digunakan bergantung pada kesesuaian pengguna dengan instruksi. Perbedaan
keberhasilan metode juga tergantung pada tipikal penggunaan (yang terkadang tidak
konsisten) dan penggunaan sempurna (mengikuti semua instruksi dengan benar dan
tepat). Perbedaan efektivitas antara penggunaan tipikal dan penggunaan sempurna
menjadi sangat bervariasi antara suatu metode kontrasepsi dengan metode kontrasepsi
yang lain. Sebagai contoh: kontrasepsi oral sangat efektif bila digunakan secara tepat,
tetapi banyak wanita yang sering kali lupa untuk meminum pilnya secara teratur.
Sehingga penggunaan kontrasepsi oral secara tipikal kurang efektif dibandingkan
penggunaan sempurna.

Kontrasepsi adalah berbagai cara untuk mencegah kehamilan. Obat kontrasepsi
mempengaruhi pada 3 bagian proses reproduksi pria yang yaitu proses
spermatogenesis, proses maturasi sperma, dan transportasi sperma. Sedang pengaruh
kontrasepsi pada proses reproduksi wanita antara lain menghambat ovulasi,
menghambat penetrasi sperma, menghambat fertilisasi, dan menghambat implantasi.
B.TEKNIK-TEKNIK KONTRASEPSI BEKERJA DENGAN MENGHAMBAT
TRASPORTASI SPERMA, OVULASI, ATAU IMPLEMENTASI.
Pasangan suami istri yang ingion berhubungan kelamin tetapi menghindari kehamilan
memiliki sejumlah pilihan metode kontrasepsi (melawan kontrasepsi). Metode-metode
tersebut,yang evektivitas bervariasi dan mudah penggunaannya,bekerja dengan
menghambat dari salah satu dari tiga langkah utama proses reprodusi, transportasi
sperma ke ovum,ovulasi,atau implamentasi.

1.Penghambat Transportasi Sperma ke Ovum
Kontrol kehamilan dengan kontrasepsi alamiah atau metode iaram (rhythm method)
mengandalkan abstinensia hubungan kelamin selama masa subur wanita. Wanita dapat
memperkirakan kapan ovulasi tejadi berdasarkan catatan daur haidnya. Evektivitas
teknik ini hanya sebagian karena daur haid bervariasi. Waktu ovulasi dapat ditentukan
secara lebih pasti dengan mencacat suhu tubuh setiap pagi sebelum bangun dari
tempat tidur. Suhu tubuh sedikit meninggi sekitar satu hari setelah ovulasi berlangsung.
Metode suhu irama tidak bemanfaat untuk menentukan kapan waktu yang aman untuk
berhubungan kelamin sebelum ovulasi,tetapi dapat bermanfaat untuk menentukan
kapan waktu yang aman untuk kembali berhubungan kelamin setelah ovulasi. Teknik ini
juga diterapkan oleh pasangan sebagai metode fertilitas. Peningkatan suhu tubuh
terjadi selama periode sewaktu ovum yang dilepaskan mungkin masihg hidup dan
dapat dibuahi
Sekelompok ilmuwan sedang mengembangkan suatu uji yang peka,cepat, dan dapat
dikerjakan di rumah dengan menggunakan beberapa tetes urin untuk mendeteksi:
1) Peningkatan estrogen, suatu sinyal lampu merah bahwa ovulasi akan terjadi dalam
empat hari dan hubungan kelamin harus dihindari (jika kontrasepsi adalah tujuannya)
2) Peningkatan progesterone, suatu sinyal lampu hijau bahwa ovulasi sudah lewat dan
aktivitas seksual dapat dimulai kembali.

Koitus interuptus adalah penarikan keluar penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi.
Namun,evektivitas metode ini hanya moderat karena penentuan waktu sulit dilakukan
dan sebagian sperma mungkin sudah keluar dari uretra sebelu ejakulasi.
Kontrasepsi kimiawi,misalnya gel, busa, krim, dan supositoria spermisida(pembunuh
sperma), apabila dimasukan ke dalam vagina bersifat toksis bagi sperma selama
sekitar satu jam setelah pemakaian.
Metode sawar secara mekanis mencegah pengangkutan sperma ke oviduktus. Bagi
pria,kondom adalah selaput lateks atau karet yang tipis dan kuat , yang di bungkuskan
ke penis yg sedang ereksi sebelum ejakulasi untuk mencegah sperma masuk ke vagina
. bagi wanita diafragma adalah kubah karet lentur yang di masukan didalam vagina dan
di tempatkan menutupi serviks untuk menghambat masuknya sperma ke dalam kanalis
sevikalis .diafragma tetap berada di tempatnya karena menekan dinding vagina .
Diafragma harus dicocokan oleh petugas terlati dan harus dibiarkan di tempat selama
paling sedikit enam jam tetapi jangan lebih dari dua puluh empat jam setelah hubungan
kelamin . metode sawar sering digunakan bersama dengan bahan spermisidauntuk
meningkatkan efektifitas. Cervical cap , adalah alternative baru yang dikembangkan
untuk diafragma. Cervical cap , yang berukuran lebih kecil dari pada diafragma, dilapisi
oleh selapus tipis spermisida dan di pasang menjutupi serviks . alat ini berada di
tempatnya karena adanya pengisapan .
Spons kontrasepsi , satu alat poliuretan yang dapat di beli tanpa resep
jika ditaruh di vagina dekat serviks , bekerja sebagai penghalang fisik transportasi
sperma dan juga mengeluarkan bahan spermisidal sampai 24 jam .spons ini di duga
dapat menimbulkan sindrom syokm septic pada sejumlah kecil pemakaian .
yang paling terakir di kembangkan adalah suatu alat kontrasepsi mirip kondom
bagi wanita. Alat ini adalah kantong poliuretan (plastic jernih) silindris yang terbuka di
salah satu ujungnya . dengan cincin lentur di kedua ujungnya . cincin di ujung tertutup di
masukan ke dalam vagina dan menujtupi serviks , serupa dengan diafragma .cincin di
ujung terbuka di taruh di luar vagina menutupi genitalia eksternal .
Sterilisasi , yaitu pemotongan secara bedah , duktus deferens (vasektomi ) pada pria atau
oviduktus (ligasi )pada wanita ,di anggap sebagai metode permanen untuk mencegah
penyetuan sperma dan ovum .

2.Pencegahan ovulasi
Kontrasepsi oral atau pil anti hamil mencegah ovulasi dengan menekan sekresi
gonadotropin . pil- pil ini mengandung steroid sintetik mirip estrogen dan mirip
progesterone , di minum selama tiga minggu , baik dalam kombinasi atau berurutan
dan kemudian di hentikan selama satu minggu . steroid steroid ini seperti steroid
alamiah yang di hasilkan selama siklus ovarium, menghambat sekresi GnRHdan ,
dengan denikian , FSH dan LH . akibat pematangan fotikel dan ovulasi tidak terjadi
sehingga tidak mungkin terjadi konsepsi . endrometrium berespon terhadap steroid
oksigen tersebut dengan menebal dan mengembangkan kapasitas sekretoriknya ,
seperti responnya terhadap hormonnya lamiah . apabila steroid sintetik di hentikan
setelah tiga minggu , lapisan endrometrium akan terlepas dan terjadi haid , seperti yang
terjadi dalam keadaan normal saat korpus luteum mengalami degenerasi . selain
menghambat ovulasi , kontrasepsi oral juga dapat mencegah kehamilan dengan
meningkatkan kekentalan mucus serviks , sehingga penetrasi sperma menjadi lebih
sulit , dan dengan menurunkan kontraksi otot-otot di saluran reproduksi wanita ,
sehingga transportasi sperma ke oviduktus berkurang .
Kontrasepsi oral hanya dapat di berikan dengan resep dokter. Obat obat ini dapat di
ketahui dapat meningkatkan risiko pembekuan intravaskuler , terutama pada wanita
yang juga merokok .
Suatu pendekatan baru dalam bidang kontrasepsi adalah implamasi subkutis (di bawah
kulit ) progesterone sintetik yang bekerja lama , yang berfungsi seperti kontrasepsi oral
dengan menghambat ovulasi dan mengentalkan mucus serviks untuk mencegah
lewatnya sperma. Namun tidak seperti kontrasepsi oral , yang harus di telan secara
teratur , kontrasepsi baru ini , setelah di tanam (diimplamsikan )efektif selama lima
tahun . enam kapsul berbentuk korak api dan mengandung steroid di masukan ke
bawah kulit di lengan atas di bagian dalam di atas siku .kapsul kapsul tersebut secara
perlahan secara perlahan mengeluarkan progesterone sintetik dengan kecepatan yang
hamper stabil selama lima tahun , sehingga efek kontrasepsi dapat bertahan cukup
lama .
3.Penghambatan implantasi
Penghambatan implantasi umumnya dilakukan dengan memasukan suatu alat
intauterus(intra-utrine device,IUD atau alat kontrasepsi dalam rahim,AKDR) kecilke
dalam uterus oleh seorang dokter.Mekanisme kerja IUD belum sepenuhnya
dipahami,walaupun sebagian besar bukti menunjukan bahwa adnya benda asing di
uterus memicu respon peradangan lokal yang memecah implantasi ovum yang
dibuahi.walaupun merupakan suatu metode pengatur kehamilan yang mudah
penggunaannya karena tidak memerlukan perhatian terus menerus dari pemakai,alat ini
tidak lagi sepopuler dahulu karena adanya laporan penyulit yang dikaitkan dengan
pemakainnya.komplikasi yang paling serius adalah penyakit radang panggul,infertilisasi
permanen,dan perforsi uterus.
Implantasi juga dapat dihambat oleh apa yang disebut sebagai morning-aftertpill
yaitu:jenis kontrasepsi oral yang berbeda dari pil anti-hamil biasa. Morning-aftertpill
dengan kandungan estrogen yang tinggi diminum selama fase luteal dini dalam
beberapa hari setelah kemungkinan terjadinya konsepsi.obat ini memecah
implementasi denagn menimbulkan degenerasi prematur korpus leteum,sehingga
hormon yang menunjang pertumbuhan endometrium menghilang.karena efek
sampingnya,misalnya mual dan muntah,dan karena peningkatan risiko penyakit
kardivaskuler yang berkaitan dengan estrogen dosis tinggi ,metode kontrasepsi ini
tidak digunakan secara rutin.namun,pil ini dapat digunakan pada keadaan
tertentu(darurat),misalnya untuk korban perkosaan yang mungkin mengalami
pembuahan.

Kemungkinan di masa mendatang
Suatu teknik pengatuaran kehamilan yang sedang diteliti adalah pembentukan vaksin
yang memicu pembentukan antibodi terhadap human chorionic gonadotropin,sehingga
hormon penunjang korpus leteum ini tidak efektif seandainya terjadi kehamilan.
Peneliti-peneliti lain sedang mengkaji suatu vaksin terhadap ptotein di kepala sperma
yang dalam keadaan normal berkaitan denagn reseptor di zona pelusida yang
mengelilingi telur.
Kemungkinan lain yang sedang diselidiki adalah manipulasi sekresi FSH dan LH dari
hipofisis anterior oleh obat yang mitip-GnRH.
Apabilah metode-metode kontrasepsi gagal atau tidak digunakan ,wanita kadang-
kadang memilih aborsi untuk menghentikan kehamilan.walaupun pengeluaran
mudigah/janin dipenuhi oleh kontraversi emosional,etis,dan politis.yang menambah
keruwetan hal tersebut adalah penemuaan oleh sebuah perusahan obat perancis pada
tahun 1980,suatupil aborsi,RU 486,yang mengakhiri hehamilan dini melalui interfensi
kimiawi tanpa melalui tindakan bedah.RU 486 (diberi nama berdasarkan Roussel-
Uclaf,perusahan yang menciptakan obat tersebut)adalah suatu antagonis progesteron
di sel sasaran tetapi tidak menimbulkan efek progesteron yang bisa dan mencegah
pregosteron melekat dan enimblkan efeknya.karena tidak mendapatkan rangsangan
progesteron,jaringan endometrium terlepas disertai oleh mudigah yang tertanam di
dalamnya.RU 486 biasanya diberikan bersama dengan prostaglandin yang memicu
kontraksi uterus untuk membantu mengeluarkan endometrium dan mudigahnya.sampai
saat ini,pembuat RU 486 enggan memasarkan obat ini di Amerika Serikant,terutama
karena kontraversi seputar isu aborsi.



C.MEKANISME KERJA
Mekanisme kerja kontrasepsi hormon steroid antara lain akan mempengaruhi:
1. Ovulasi dan Implantasi
2. Transpor gamet
3. Fungsi corpus luteum
4. Lendir serviks

a.Mekanisme kerja Estrogen :
Estrogen disintesa dari kolesterol terutama di ovarium, dan kelenjar lain misalnya kortek
adrenal, testis dan plasenta. Estrogen endogen pada manusia terdiri dari estriol,
estradiol, dan estron.


Mekanisme kerja estrogen dalam kontrasepsi adalah sebagai berikut :
1. Ovulasi
a. Estrogen menghambat ovulasi melalui efek pada hipotalamus, yang kemudian
mengakibatkan supresi pada FSH dan LH kelenjar hipofise/
b. Penghambatan tersebut tampak dari tidak adanya estrogen pada pertengahan siklus,
tidak adanya puncak-puncak FSH dan LH pada pertengahan siklus dan supresi post-
ovulasi peninggian progesteron dalam serum dan pregnandiol dalam urine yang terjadi
dalam keadaan normal.
c. Ovulasi pun tidak selalu dihambat oleh estrogen dalam pil oral kombinasi (yang berisi
estrogen 50 mcg atau kurang), karena estrogen mungkin hanya efektif 95-98% dalam
menghambat ovulasi. Ovulasi juga bisa terhambat karena efek progesteron pada lendir
cervix dan lingkungan endometrium serta tuba.
d. Produksi hormon-endogenous memang dihambat, tetapi tidak seluruhnya. Masih ada
sedikit estrogen yang dihasilkan ovarium seperti pada fase folikuler dini siklus haid.
2. Implantasi
a. Implantasi dari blastocyst yang sedang berkembang terjadi 6 hari setelah fertilisasi,
dan ini dapat dihambat bila lingkungan endometrium tidak berada dalam keadaan
optimal. Kadar estrogen atau progesteron yang berlebihan atau kurang/ inadekuat atau
keseimbangan estrogen-progesteron yang tidak tepat, menyebabkan pola endometrium
yang abnormal sehingga tidak baik untuk implantasi.
b. Implantasi dari ovum yang telah dibuahi juga dapat dihambat dengan estrogen dosis
tinggi (diethylstilbestrol, ethinylestradiol) yang diberikan sekitar pertengahan siklus pada
sanggama yang tidak dilindungi, dan ini disebabkan karena terganggunya
perkembangan endometrium yang normal. Efek inilah rupanya yang menjadi dasar bagi
metode kontrasepsi pasca sanggama atau post-coital.
3. Transpor gamet/ovum
Pada percobaan binatang, transpor gamet/ovum dipercepat oleh estrogen dan ini
disebabkan karena efek hormonal pada sekresi dan peristaltik tuba serta kontraktilitas
uterus.

4. Luteolisis
a. Yaitu degenerasi dari corpus luteum, yang menyebabkan penurunan yang cepat dari
produksi estrogen dan progesteron oleh ovarium, yang selanjutnya menyebabkan
dibuangnya jaringan endometrium. Untuk kelangsungan kehamilan yang baik
diperlukan fungsi corpus luteum yang baik.
b. Degenerasi dari corpus luteum menyebabkan penurunan kadar progesteron serum
dan selanjutnya mencegah implantasi yang normal, merupakan efek yang mungkin
disebabkan oleh pemberian estrogen dosis tinggi pasca sanggama.



b.Mekanisme Kerja Progesterone :
Gestagen atau progesteron adalah hormone steroid yang meny
ebabkan terjadinya transformasi sekretorik pada endometrium dan yang juga sekaligus
dapat mempertahankan kehamilan.

Mekanisme kerja progesterone dalam kontrasepsi
adalah sebagai berikut :
1. Ovulasi
Ovulasi sendiri mungkin dapat dihambat karena terganggunya fungsi poros
hipotalamus-hipofisis-ovarium dan karena modifikasi dari FSH dan LH pada
pertengahan siklus yang disebabkan oleh progesteron.
2. Implantasi
a. Implantasi mungkin dapat dicegah bila diberikan progesteron pra-ovulasi. Ini yang
menjadi dasar untuk membuat IUD yang mengandung progesteron.
b. Pemberian progesteron-eksogenous dapat mengganggu kadar puncak FSH dan LH,
sehingga meskipun terjadi ovulasi produksi progesterone yang berkurang dari corpus
luteum menyebabkan penghambatan dari implantasi.
c. Pemberian progesterone secara sistemik dan untuk jangka waktu yang lama
menyebabkan endometrium mengalami keadaan istirahat dan atropi.
3. Transpor Gamet atau Ovum
Pengangkutan ovum dapat diperlambat bila diberikan progesterone sebelum terjadi
fertilisasi.
4. Luteolisis
Pemberian jangka lama progesteron saja mungkin menyebabkan fungsi corpus luteum
yang tidak adekuat pada siklus haid sehingga menghambat folikulogenesis.
5. Lendir serviks yang kental
a. Dalam 48 jam setelah pemberian progesteron, sudah tampak lendir serviks yang
kental, sehingga motilitas dan daya penetrasi dari spermatozoa sangat terhambat.
b. Lendir serviks yang tidak cocok dengan sperma adalah lendir yang jumlahnya sedikit,
kental dan seluler serta kurang menunjukkan ferning dan spinnbarkeit.

D. MACAM-MACAM KONTRASEPSI HORMONAL
1. Pil / Tablet
a. Pil Oral Kombinasi (POK)
Adalah pil kontrasepsi berisi estrogen maupun progesterone (progestagen, gestagen).
Dosis estrogen ada yang 0,05; 0,08; dan 0,1 mg pertablet. Sedangkan dosis dan jenis
progesteronnya bervariasi dari masing-masing pabrik pembuatnya.
Pil Oral Kombinasi (POK):
a. Mengandung estrogen dan progesterone
b. Terdapat beberapa macam POK :
-Monophasic:
Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet, mengandung hormon aktif
estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
-Multiphasic:
Contoh : Pil Biphasic : Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet, mengandung hormon
aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa
hormon aktif.
Pil Triphasic : Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet, mengandung hormon aktif
estrogen/progestin (E/P) dalam tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon
aktif.
Cara kerja:
Pil kombinasi akan
(a) Menghalangi produksi gonadotropin dan hipofise secara terus-menerus, sehingga
tidak terjadi ovulasi;
(b) Merubah konsistensi lendir serviks menjadi tebal dan kental, sehingga penetrasi dan
transportasi sperma akan terhalang, sulit, atau tidak mungkin sama sekali;
(c) Merubah peristaltic tuba dan rahim, sehingga mengganggu transportasi sperma
maupun sel telur;
(d) Menimbulkan perubahan pada endometrium, sehingga tidak memungkinkan
terjadinya nidasi;
(e) Merubah kepekaan indung telur terhadap rangsangan-rangsangan gonadotropin.
Efektivitas:
Secara teoritis hampir 100, dengan angka kegagalan 0,1-0,7.
Kelebihan:
1. Efektivitasnya tinggi, dapat dipercaya jika dimakan sesuai aturan pakainya.
2. Pemakai pil dapat hamil lagi, bilamana dikehendaki kesuburan dapat kembali dengan
cepat.
3. Tidak mengganggu kegiatan seksual suami istri
4. Siklus haid menjadi teratur
5. Dapat menghilangkan keluhan nyeri haid (dismenorea).
6. Untuk pengobatan kemandulan, kadang-kadang dapat dipakai untuk memancing
kesuburan
7. Untuk mengobati perdarahan haid pada wanita usia muda (Juvenile bleeding)
8. Dapat memperbaiki perdarahan tidak teratur yang disebabkan pemberian kontrasepsi
hormonal lainnya.
9. Dikatakan dapat mengurangi kejadian kanker ovarium.
10. Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause.
11. Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakan
untuk mencegah kehamilan.
12. Dapat dihentikan setiap saat.


Kekurangan:
1. Pil harus dimakan setiap hari, kurang cocok bagi wanita yang pelupa.
2. Motivasi harus diberikan secara lebih intensif
Efek samping :
-Ringan:
Berupa mual muntah, pertambahan berat badan, perdarahan tidak teratur,
meningkatkan tekanan darah, retensi cairan, edema, sakit kepala, timbulnya jerawat,
alopesia, dan keluhan ringan lainnya. Keluhan ini berlangsung pada bulan-bulan
pertama pemakaian pil. Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi
dan perubahan suasana hati, sehingga keinginan untuk melakukan hubungan seks
berkurang.
- Berat:
Dapat terjadi trombo-embolisme, mungkin karena terjadi peningkatan aktivitas karena
factor-faktor pembekuan atau karena pengaruh vaskuler secara langsung. Angka
kejadian trombo-embolisme ini dilaporkan 4-9 kali lebih tinggi dari wanita bukan
pemakai pil dari golongan umur yang sama. Namun angka kematian yang terjadi amat
rendah, yaitu 3 per 100.000 wanita pemakai pil, hal ini diamati pada wanita-wanita di
negara barat.
4

Mengenai kemungkinan timbulnya karsinoma serviks uteri, menurut penelitian-
penelitian yang dipercaya diluar negeri, dikatakan bahwa tidak diperoleh hubungan
yang bermakna antara pemakai pil dengan kanker serviks maupun dengan displasia
serviks.
Kontra indikasi absolute:
Adanya gangguan fungsi hati,
tromboflebitis atau riwayat tromboflebitis,
kelainan serebro-vaskuler,
keganasan pada kelenjar mamma dan alat reproduksi,
adanya varises yang berat.
Kontra indikasi Relatif:
-Hipertensi
-Diabetes mellitus
-Penyakit tiroid
-Perdarahan abnormal pervaginam yang tidak jelas penyebabnya
-Penyakit jantung dan penyakit ginjal
-Serangan asma bronchial
-Eksema luas
-Migraine yang hebat
-Sering dapat serangan epilepsy
- Mioma uteri.



Waktu mulai menggunakan pil kombinasi
-Setiap saat selagi haid, untuk meyakinkan kalau perempuan tersebut tidak hamil,
-Hari pertama sampai hari ke- 7 siklus haid,
-Boleh menggunakan pada hari ke-8, tetapi perlu menggunakan metode kontrasepsi
yang lain (kondom) mulai hari ke-8 sampai hari ke-14 atau tidak melakukan hubungan
seksual sampai telah menghabiskan paket pil tersebut.
- Setelah melahirkan :
o Setelah 6 bulan pemberian asi eksklusif
o Setelah 3 bulan dan tidak menyusui
o Pasca keguguran ( segera dalam waktu 7 hari).
-Bila berhenti menggunakan kontrasepsi injeksi, dan ingin menggantikan dengan pil
kombinasi, pil dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid.

b. Pil sequential
Cara ini banyak dipakai pada tahun enam puluhan, sedangkan dewasa ini nampaknya
kurang populer.
Pil sequensial :
a. Terdiri dari estrogen saja untuk 14-15 hari.
b. Disusul tablet kombinasi untuk 5-7 hari.
Cara pemakaian
Mula-mula makanlah pil yang berisi estrogen selama 2 minggu, diteruskan dengan
memakai pil kombinasi selama 1 minggu, lalu selama 1 minggu tidak makan pil apapun.
Pada akhir minggu keempat akan terjadi perdarahan haid (withdrawal bleed
ing).

Cara kerja
Khasiat utama pil sekuensial adalah menghambat ovulasi. Dosis estrogen yang ada
lebih tinggi daripada dosis estrogen dalam pil kombinasi. Berhubung tidak adanya
progesterone pada 2 minggu pertama, maka kelupaan makan pil hanya 1 hari saja akan
menyebabkan terjadinya ovulasi, sehingga masih mungkin terjadi kehamilan.
Indikasi
Pada wanita hipoestrogenik, haid tidak teratur, hipofertil, haid yang sering terlambat,
dan wanita dengan jerawat.
Efek samping
Sama dengan pil kombinasi.
Efektivitas
Pil sekuensial sekarang ini kurang populer dibandingkan pil kombinasi. Angka
kegagalan lebih tinggi dibandingkan pil kombinasi, yaitu 0,5-1,4. Ini disebabkan karena
bila makan pil sekuensial ini tidak boleh lupa, dapat terjadi kehamilan.

c. Mini pill
Dewasa ini mini pill mengandung gestagen turunan nortestosteron. Meskipun efek
sampingnya rendah, penggunaan mini pill sebagai kontrasepsi sangat rendah.
Rendahnya penggunaan mini pill karena mini pill tidak dapat menjamin berlangsungnya
suatu siklus haid yang normal.
Jenis Minipil
Kemasan dengan isi 35 pil : 300 g levonorgestrel atau 350 g noretindron.
Kemasan dengan isi 28 pil : 75 g norgestrel.
Cara Kerja
Cara kerja mini pill sangat kompleks dan hingga kini belum diketahui secara pasti.
Beberapa cara kerja yang telah diketahui diantaranya adalah :
menekan sekresi gonadotropin dan produksi steroid di ovarium.
Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit.
Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma.
Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu.
Efektivitas:
Keefektifan mini pill sangat bergantung pada jenis gestagen yang terkandung dalam
mini pill tesebut. Pada penggunaan mini pill jangan sampai kelupaan satu-dua tablet,
atau jangan sampai terjadi gangguan gastrointestinal (muntah, diare), karena akibatnya
kemungkinan kehamilan sangat besar. Penggunaan obat mukolitik asetil sistein dapat
meningkatkan permeabilitas sperma, sehingga kemampuan kontraseptif mini pill dapat
terganggu. Agar didapatkan kehandalan yang cukup tinggi, maka jangan sampai ada
tablet yang terlupa, tablet digunakan pada jam yang sama (malam hari), dan senggama
sebaiknya dilakukan 3-20 jam setelah penggunaan mini pill. Perlu hati-hati pemberian
mini pill pada wanita gemuk karena kegagalannya akan lebih tinggi. Estrogen dalam
lemak wanita gemuk sangat tinggi. Estrogen tersebut memiliki efek positif terhadap
lendir serviks.
5

Cara Pemakaian
Mini pill digunakan setiap hari dan apabila lupa tidak usah dirangkap.
Kelebihan
Kelebihan kontrasepsi :
-Sangat efektif bila digunakan secara benar.
- Tidak mengganggu hubungan seksual.
-Tidak mempengaruhi asi.
-Kesuburan cepat kembali.
-Nyaman dan mudah digunakan.
-Dapat dihentikan setiap saat.
Kelebihan nonkontrasepsi :
-Mengurangi nyeri haid
-Mengurangi jumlah darah haid
-Menurunkan tingkat anemia
-Mencegah kanker endometrium
-Melindungi dari penyakit radang panggul
-Tidak meningkatkan pembekuan darah
-Dapat diberikan pada penderita endometriosis
-Kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala dan depresi
-Dapat mengurangi keluhan premenstrual sindrom ( sakit kepala, perut kembung, nyeri
payudara, lekas marah)
-Sedikit sekali mengganggu metabolisme karbohidrat sehingga relatif aman diberikan
pada perempuan pengidap kencing manis yang belum mengalami komplikasi.
Kekurangan:
-Hampir 30 60 % mengalami gangguan haid ( perdarahan sela, spotting, amenorhea)
-Peningkatan/penurunan berat badan.
-Harus digunakan setiap hari dan waktu yang sama.
-Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar.
-Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatitis, atau jerawat.
-Risiko kehamilan ektopik cukup tinggi ( 4 dari 100 kehamilan), tetapi risiko ini lebih
rendah jika dibandingkan dengan perempuan yang tidak menggunakan minipil.
-Efektifitasnya menjadi lebih rendah bila digunakan bersamaan dengan obat
tuberkulosis atau obat epilepsi.
-Tidak melindungi diri dari infeksi menular seksual.
-Hirsutisme ( tumbuh rambut/bulu berlebihan didaerah muka), tetapi sangat jarang
terjadi.
Efek samping
Gangguan metabolisme lemak maupun gangguan faktor pembekuan darah dijumpai
jauh lebih sedikit pada penggunaan mini pill, dibandingkan bila menggunakan pil
kombinasi. Kejadian kanker payudara juga jauh lebih rendah pada pemakai mini pill,
sedangkan penggunaan pil kombinasi jangka panjang dijumpai angka kejadian kanker
payudara yang sedikit meningkat. Karena mini pill mengandung gestagen saja,
kemungkinan terjadi kanker endometrium jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan
pil yang mengandung estrogen. Terjadi sedikit peningkatan gula darah pada
penggunaan mini pill. Namun, pada uji oral glukosa dijumpai kadar yang normal
sehingga mini pill bukan merupakan kontraindikasi absolut bagi penderita kencing
manis yang ringan maupun kencing manis yang laten.
Waktu mulai menggunakan minipil
-Mulai hari pertama sampai hari ke-5 siklus haid. Tidak diperlukan pencegahan dengan
kontrasepsi lain.
-Dapat digunakan setiap saat, asal saja tidak terjadi kehamilan. Bila menggunakannya
setelah hari ke-5 siklus haid, jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau
menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 2 hari saja.
-Bila pasien tidak haid, minipil dapat digunakan setiap saat, asal saja diyakini tidak
hamil. jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan metode
kontrasepsi lain untuk 2 hari saja.
-Bila menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan tidak haid, minipil
dapat dimulai setiap saat. Bila menyusui penuh, tidak memerlukan metode kontrasepsi
tambahan.
-Bila lebih dari 6 minggu pasca persalinan dan pasien telah mendapat haid, minipil
dapat dimulai pada hari ke 1-5 siklus haid.


d. Morning after pill
Banyak istilah yang dipakai untuk menamakan kontrasepsi ini. Morning after pill
menerangkan bahwa pil atau obat tersebut harus dimulai dalam waktu beberapa jam
atau diberikan esok paginya. Karena Morning after pill ini digunakan setelah senggama,
kontrasepsi ini bertujuan bukan mencegah konsepsi, melainkan untuk mencegah nidasi.
Morning after pill ini berisi kombinasi estrogen dan progesteron.
Cara Pemakaian
Pil atau obat ini diminum setelah senggama pada keesokan harinya paling lambat 48
jam pascasenggama. Misalnya dengan pemberian 2 tablet pil kombinasi, 2 kali/hari,
dalam waktu 12 jam pascasenggama.
Cara Kerja
Pemberian pil ini dapat mencegah terjadinya nidasi dan meningkatkan motilitas tuba
sehingga transfor ovum tidak berjalan secara fisiologis. Untuk nidasi endometrium
memproduksi enzim karbonhidrase. Pemberian estrogen dan progesteron dosis tinggi
akan mengurangi pembentukan enzim tersebut, sehingga endometrium tidak fisiologis
lagi.
Indikasi
Hanya diindikasikan bagi wanita yang tidak menggunakan jenis kontrasepsi apapun,
dan yang melakukan senggama pada pertengahan siklus. Kontrasepsi pascasenggama
ini bukan merupakan suatu alternatif untuk kontrasepsi, melainkan pencegahan
kehamilan secara darurat saja.
Efek samping
Kemungkinan terjadinya kelainan bawaan major sangat kecil, seperti kanker genita
lia. Perlu hati-hati dalam menggunakan dietilstilbestrol (DES) kerena pernah dilaporkan
menimbulkan kanker vulva. Obat kontrasepsi pascasenggama dapat menimbulkan sakit
kepala, mual, daan muntah, sehingga perlu kadang-kadang diberikan tambahan obat
antimuntah.



2. Kontrasepsi suntikan
Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan di Indonesia semakin banyak dipakai karena
kerjanya yang efektif, pemakaiannya praktis, harganya relatif murah dan aman. Cara ini
mulai disukai masyarakat kita dan diperkirakan setengah juta pasangan memakai
kontrasepsi suntikan untuk mencegah kehamilan (1983). Penelitian lapangan
kontrasepsi suntikan dimulai tahun 1965, dan sekarang di seluruh dunia diperkirakan
berjuta-juta wanita memakai cara ini untuk tujuan kontrasepsi. Progestin atau
medroxyprogesterone diinjeksikan oleh tenaga kesehatan setiap tiga bulan sekali.
Tersedia 2 tipe injeksi. Tipe yang pertama adalah yang disuntikkan ke jaringan otot di
lengan maupun bokong, dan tipe kedua yaitu disuntikkan di bawah kulit. Masing-masing
tipe sangat efektif.
Macam kontrasepsi suntikan antara lain Depo-Provera dan Noristrat (Norigest).
Depo-Provera
Adalah Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) yang diproduksi oleh Upjohn,
Amerika Serikat. Kemasan satu botol berisi 3 ml @ 50 mg/ml.
Cara kerja:
1. Obat ini menghalangi terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan
Releasing factor dari hipotalamus.
2. Lendir serviks bertambah kental, sehingga menghambat penetrasi sperma melalui
serviks uteri.
3. Implantasi ovum dalam endometrium dihalangi
4. Kecepatan transpor ovum melalui tuba berubah.
Keuntungan:
Keuntungannya adalah efektivitas tinggi, sederhana pemakaiannya, cukup
menyenangkan bagi akseptor (injeksi hanya 4x setahun), reversible, cocok untuk ibu-
ibu yang menyusui anak.
Waktu pemberian dan dosis:
Depo Provera sangat cocok untuk program post partum karena tidak mengganggu
laktasi, dan terjadinya amenorea setelah suntikan-suntikan Depo Provera tidak akan
mengganggu ibu-ibu yang menyusui anaknya dalam masa postpartum, karena masa ini
terjadi amenorea laktasi. Untuk program postpartum, Depo Provera disuntikkan
sebelum ibu meninggalkan rumah sakit; sebaiknya sesudah air susu ibu terbentuk, yaitu
kira-kira hari ke 3 sampai ke 5. Depo Provera disuntikkan dalam dosis 150 mcg/cc
sekali 3 bulan. Suntikan harus intramuskulus dalam.
Efek samping:
Sering menimbulkan perdarahan yang tidak teratur (spotting, breakthrough bleeding)
amenorea, menoragia, metrorrhagia. Seperti halnya dengan kontrasepsi hormonal
lainnya, maka dijumpai pula keluhan mual, pusing, menggigil, mastalgia dan berat
badan bertambah.

3.IMPLANT/ NORPLANT
Sinonim : Alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK), implant, KB susuk. Norplant adalah
suatu alat kontrasepsi yang mengandung levonorgestrel yang dibungkus dalam kapsul
silastic-silicone dan disusukkan di bawah kulit. Jumlah kapsul yang disusukkan di
bawah kulit adalah sebanyak 6 kapsul dan masing-masing kapsul panjangnya 34 mm
dan berisi 36 mg levonorgestrel.
Kerepotan untuk datang ke klinik dan ketergantungan pada suntikan dapat diatasi
dengan inplant subdermal long acting (3-5 tahun). Sistem Norplant, yang memberikan
progestin levonorgestrel dalam sebuah wadah silastik yang ditanamkan intradermal.
Implant
Norplant I berisi 6 kapsul silastik (polydimethyl silaxone) masing-masing berisi 36 mg.
Levonorgestrol suatu sintetik progestin dalam bentuk kristal kering dimana ujung-
ujungnya ditutup dengan silastic medical grade adhesive dengan diameter 2,4 mm dan
panjang 3,4 cm. Melepaskan 85 g per hari selama 3 bulan, 50 g tiap hari sampai 18
bulan dan setelah itu sampai tingkat akhir 30 g. Implant ini efektif untuk 5 tahun.
Norplant II memiliki 2 tangkai mengandung masing-masing 70 mg levonorgestrel. Tiap
tangkai melepaskan 50 g hormon tiap hari dan memberikan proteksi untuk 3 sampai 5
tahun.




Mekanisme kerja
1. Menghentikan lendir serviks uteri sehingga menyulitkan penetrasi sperma.
2. Menimbulkan perubahan-perubahan pada endometrium sehingga tidak cocok untuk
implantasi zygote.
3. Pada sebagian kasus dapat pula menghalangi terjadinya ovulasi.
Kelebihan Norplant:
Cara ini cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan obat yang mengandung
estrogen, perdarahan yang terjadi lebih ringan, tidak menaikkan tekanan darah, risiko
terjadinya kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan dengan pemakaian alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Selain itu cara Norplant ini dapat digunakan untuk
jangka panjang (5 tahun) dan bersifat reversible.

Efek samping Norplant:
Gangguan pola haid seperti terjadinya spotting, perdarahan haid memanjang atau lebih
sering berdarah (metrorrhagia), amenorea, mual-mual, anoreksi, pening, sakit kepala,
kadang-kadang terjadi perubahan pada libido dan berat badan, timbul akne. Oleh
karena jumlah progestin yang dikeluarkan ke dalam darah sangat kecil, maka efek
samping yang terjadi tidak sesering pada penggunaan pil KB.
Indikasi:
Wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka waktu yang lama tetapi tidak
bersedia menjalani kontrasepsi mantap atau menggunakan AKDR. Wanita-wanita yang
tidak boleh menggunakan pil KB yang mengandung estrogen.
Kontraindikasi:
1. Kehamilan atau disangka hamil.
2. Penderita penyakit hati.
3. Kanker payudara.
4. Kelainan jiwa
5. Varikosis.
6. Riwayat kehamilan ektopik.
7. Diabetes mellitus.
8. Kelainan kardiovaskular.
Waktu Pemasangan:
Waktu yang paling baik untuk pemasangan norplant adalah sewaktu haid berlangsung
atau masa pra ovulasi dari siklus haid, sehingga adanya kehamilan dapat disingkirkan.
Keenam kapsul yang masing-masing mengandung 36 mg levonorgestrel ditanamkan
pada lengan kiri atas (atau pada lengan kanan atas akseptor yang kidal) lebih kurang 6-
10 cm dari lipatan siku.

Pengangkatan atau Ekstraksi
Pengangkatan norplant dilakukan atas indikasi :
1. Atas permintaan akseptor.
2. Timbulnya efek samping yang sangat mengganggu dan tidak dapat diatasi dengan
pengobatan biasa.
3. Sudah habis masa pakainya.
4. Terjadi kehamilan.
4. ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM ( AKDR / IUD )
AKDR adalah alat yang terbuat dari polietilen dengan atau tanpa metal / steroid dan
ditempatkan dalam rongga rahim.
Dimasa lampau AKDR dibuat dalam berbagai bentuk dan bahan berbeda-beda, saat ini
AKDR yang tersedia di seluruh dunia hanya 3 tipe saja :
1. Inert, dibuat dari plastik (Lipppes Loop) atau baja anti karat (The Chinese Ring)
2. Mengandung tembaga, CuT 380 A, CuT 200 C, Multiload ( ML Cu 250 dan 375 )
dan Nova T
3. Mengandung hormon steroid : seperti progesteron dan levonorgetrel.
Salah satu AKDR yang saat ini beredar adalah yang berbentuk T, yang mengandung
progesteron atau levanorgestrel, AKDR yang mengandung 38 mg progesteron akan
melepaskan 65 mg prgesteron dan disimpan dalam endometrium. Kadar yang
dikeluarkan tersebut terlalu rendah sehingga tidak memiliki efek sistemik, dan fungsi
ovarium pun tidak terpengaruh sama sekali.
Mekanisme kerja untuk AKDR yang mengandung hormon progesteron :
1. Gangguan proses pematangan proliferasi-sekretoris sehingga timbul penekanan
terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi (
endometrium tetap dalam fase proliferasi )
2. Lendir serviks lebih kental / tebal karena pengaruh progestin.
3. Menekan ovulasi
Preparat levonogestrel (Mirena

). Preparat ini melepaskan levonogestrel ke dalam


uterus secara relatif 20 g per hari, dimana menurunkan efek sistemik dari progestin.
Terbuat dari T-shaped struktur polyethylene memiliki batang yang dibungkus dengan
silinder polydimetilsiloxane / levonogestrel campuran untuk mengatur kecepatan
pelepasan hormon. Dan dimasukkan seperti AKDR normal.
Indikasi
Menyukai metode kontrasepsi yang efektif, berjangka panjang, tetapi belum
menerima metode permanen saat ini.
Menyukai metode praktis (tidak perlu metode barrier atau menelan pil setiap
hari).
Punya anak satu atau lebih
Sedang menyusui dan ingin memakai kontrasepsi
Wanita perokok berat (? 15 batang rokok sehari), umur 35 tahun
Berisiko rendah mendapat PMS

Kontra Indikasi:
Dugaan hamil
Sedang atau sering terkena infeksi panggul (gonorea, chlamidia) atau servisitis
dengan cairan mukopurulen
Menderita keputihan berbau dari saluran serviks/gonorea atau servitis
chlamedia.
Perdarahan vagina yang tidak diketahui sebabnya
Kembalinya kesuburan dengan cepat setelah pencabutan AKDR adalah keuntungan
dari AKDR, selain itu AKDR efektif sampai 3 tahun. Angka kegagalan pengguan
Mirena

0,1 % dmana lebih rendah dibandingkan CuT 380 A.


BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Kontrasepsi adalah berbagai cara untuk mencegah kehamilan. Obat kontrasepsi
mempengaruhi pada 3 bagian proses reproduksi pria yang yaitu proses
spermatogenesis, proses maturasi sperma, dan transportasi sperma. Sedang pengaruh
kontrasepsi pada proses reproduksi wanita antara lain menghambat ovulasi,
menghambat penetrasi sperma, menghambat fertilisasi, dan menghambat implantasi.
Sebagai contoh: kontrasepsi oral sangat efektif bila digunakan secara tepat, tetapi
banyak wanita yang sering kali lupa untuk meminum pilnya secara teratur. Sehingga
penggunaan kontrasepsi oral secara tipikal kurang efektif dibandingkan penggunaan
sempurna.



B.Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama mahasiswa di bidang
kesehatan, agar dapat memahami materi ini dan dapat menerapkannya untuk
pelayanan di lapangan nantinya.
Sebagai pedoman calon ibu dan bapak maupun yang suda berkeluarga agar dapat
memahami materi ini, dan dapat menerapkan dalam kehidupan berkeluarga.






DAFTAR PUSTAKA
Affandi B, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2003
Albar E, Kontrasepsi, dalam Saifudin AS, Rachimhadi T (ed), Ilmu Kandungan,
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1999, hal. 535 572.
Baziad A, Kontrasepsi Hormonal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, 2002.
Hartanto H, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta, 2003, hal 46 50.
Hormon Implants. (cited 2008 Feb 28);2 screens. Available in
http://www.wramc.army.mil/Patients/diseases/wh/c6/Pages/s6.aspx
Mochtar M, Keluarga Berencana, dalam Lutan D (ed), Sinopsis Obstetri, Obstetri
Operatif-Obstetri Sosial, EGC, Jakarta, 1998, hal.249 254.
Perancangan Keluarga. (cited 2008 Mar 2008); 8 screens. Available in
http://www.metromaternity.com/contraceptive-m.html
Saifudin AS, Rachimhadi T, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, 1999, hal. 905 910.


Peran Hormon Sebagai Alat Kontrasepsi dan Terapi Hiper-Androgen Juli 26,
2008
Diarsipkan di bawah: Alat Kontrasepsi kamuskita @ 10:09 pm
Wanita yang mengalami ketidakseimbangan hormonal akan mengalami peningkatan androgen
atau disebut juga hiper-androgen. Keadaan ini akan menimbulkan masalah pada kulit dan sistem
reproduksi. Gejala yang tampak pada wanita yang mengalami hiper-androgen di antaranya
jerawat, hirsutisme, kebotakan, gangguan siklus menstruasi, dan obesitas. Untuk mencegah dan
mengobati hiper-androgenisme digunakan progesteron yang bersifat anti-androgen seperti CMA
(Chlormadione Asetat), DNG (D-norgestrel), dan CPA (Ciproterone Asetat). Setelah terapi
selama 312 bulan, akan terlihat perbaikan awal pada kulit dan rambut. Pada pemakaian jangka
panjang dapat mengatasi infertilitas primer yang disebabkan oleh PCOS hiper-androgenik.
Demikian dikatakan Prof. Dr. Biran Affandi, SpOG. dalam acara media workshop yang diadakan
oleh PT. Schering Indonesia, pada 23 Juli 2002, di Jakarta. Turut hadir sebagai pembicara Dr.
Tjut Nurul Alam Jacoeb, SpKK (K) dan bintang tamu yang juga presenter acara Obrolan Cantik
di sebuah stasiun televisi swasta Okky Asokawati.
Lebih lanjut dikatakan Prof. Biran bahwa hormon juga dapat digunakan untuk alat kontrasepsi.
Penggunaan alat kontrasepsi akan menghindarkan seorang perempuan dari kehamilan yang tidak
diinginkan, mengurangi kehamilan risiko tinggi, dan menurunkan mobiditas serta mortalitas
maternal. Alat kontrasepsi hormonal yang dapat digunakan perempuan di antaranya pil, suntikan,
susuk, dan AKDR yang mengandung hormon. Jenis hormon yang dapat digunakan sebagai alat
kontrasepsi adalah estrogen, progesteron, dan kombinasi estrogen dan progesteron.
Estrogen mencegah kehamilan dengan cara mencegah ovulasi, menghambat implantasi,
mempercepat perjalanan ovum ke rongga rahim, dan menyebabkan luteolisis. Sementara
progesteron mencegah terjadinya ovulasi dengan cara membuat lendir serviks menjadi lebih
kental sehingga menghambat penetrasi spermatozoa, menghambat pengaktifan sperma,
menghambat perjalanan ovum, dan menghambat implantasi. Sedangkan kombinasi kedua
hormon tersebut mencegah terjadinya ovulasi dengan membuat lendir serviks lebih sedikit dan
kental dan mempengaruhi perubahan motilitas uterus dan tuba falopii, demikian terang Prof.
Biran panjang lebar.
Namun demikian, alat kontrasepsi ini juga memiliki beberapa efek samping. Estrogen
menimbulkan beberapa efek samping di antaranya keputihan, nyeri kepala jenis vaskuler,
hipertensi, dan penekanan laktasi. Efek samping progesteron lebih cenderung kepada berat
badan, di antaranya nafsu makan meningkat sehingga berat badan bertambah, cepat lelah, dan
depresi. Di antara jenis kontrasepsi tersebut, yang paling banyak keuntungannya adalah
kombinasi estrogen dan progesteron. Alat kontrasepsi ini terbukti mengurangi risiko anemia
dengan perdarahan haid yang lebih ringan, menormalkan siklus haid yang tidak teratur,
mengurangi sindrom pre-menstruasi, mengurangi breast-tenderness, dan beberapa jenis alat
kontrasepsi dapat mengurangi jerawat.
Senada dengan pendapat tersebut, menurut Dr. Tjut Nurul, jerawat muncul karena peningkatan
sensitivitas androgen pada organ sehingga meningkatkan aktivitas kelenjar sebum. Selain itu,
penyumbatan lapisan tanduk di akar rambut, peranan bakteri yang memproduksi lemak, dan
kosmetik akan menyumbat aliran sebum sehingga membentuk komedo. Pada akhirnya,
terbentuklah jerawat.
Selain jerawat, kelainan akibat gangguan androgen adalah hirsutisme. Pada perempuan yang
memiliki kadar androgen yang relatif tinggi akan tumbuh jenggot dan kumis. Pada perempuan ini
akan terjadi peningkatan jumlah rambut di daerah dagu, dada, punggung, bagian dalam paha, dan
punggung kaki. Keadaan ini tentunya membuat perempuan merasa tidak nyaman. Oleh sebab itu,
diperlukan obat anti-androgen untuk menghambat pertumbuhan rambut tersebut. Anti-androgen
merupakan komponen pengganggu kerja androgen pada sel sasaran. Obat anti-androgen dapat
mengganggu siklus haid, namun kombinasi dengan estrogen terbukti tidak mengganggu siklus
haid. Obat ini meningkatkan reseptor pengikat hormon androgen sehingga kadar hormon
androgen bebas berkurang. Berkurangnya hormon androgen bebas tentu akan mengurangi
efeknya, demikian tutur spesialis kulit kelamin yang akrab dipanggil dokter Poppy.
Salah satu obat anti-androgen, menurut dokter Poppy, adalah Cyproterone , iniAcetate (CPA).
Obat yang merupakan salah satu komposisi Diane 35 bekerja dengan bertindak sebagai antagonis
kompetitor pada tempat dihidrotestosteron sehingga kinerja sel menjalankan efek hormon
androgen gagal. Artinya, CPA dapat menggagalkan aktivitas sebum yang berlebihan sehingga
kadar minyak dan komedo berkurang. Dengan kemampuan CPA menekan produksi androgen
berarti gangguan pertumbuhan rambut berlebih dan kebotakan dapat dicegah.(Hidayati W.B.)


Fungsi Hormon Pada Wanita
Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin yang mempunyai efek tertentu
pada aktifitas organ-organ lain dalam tubuh. Hormon seks merupakan zat yang dikeluarkan oleh
kelenjar seks dan kelenjar adrenalin langsung ke dalam aliran darah. Mereka (hormon) sebagian
bertanggungjawab dalam perkembangan organ seks yang normal. Hormon juga yang memulai
seseorang mengalami pubertas dan kemudian memainkan peran dalam pengaturan perilaku
seksual.

Efek hormon secara umum pada tubuh manusia:
1. Perubahan Fisik yang ditandai dengan tumbuhnya rambut di daerah tertentu dan bentuk tubuh
yang khas pada pria dan wanita (payudara membesar, lekuk tubuh feminin pada wanita dan
bentuk tubuh maskulin pada pria).
2. Perubahan Psikologis: Perilaku feminin dan maskulin, sensivitas, mood/suasana hati meski
ada faktor luar yang bisa menyebabkan hal ini.
3. Perubahan Sistem Reproduksi: Pematangan organ reproduksi, produksi organ seksual
(estrogen oleh ovarium dan testosteron oleh testis).

Pada wanita, dari sekian banyak hormon, yang memegang peranan penting adalah hormon
estrogen progesteron (khusus wanita) dan androgen. Dalam tubuh wanita, jumlah estrogen dan
progesteron lebih dominan dibanding jumlah androgen (hormon pria), sebaliknya untuk pria,
hormon andorgen (testosteron) lebih dominan dibanding hormon estrogen & progesteron.

Fungsi Estrogen (hormon seks wanita) yang umumnya diproduksi oleh rahim yakni :
1. merangsang pertumbuhan organ seks anak perempuan, seperti halnya payudara dan rambut
kelamin, dikenal sebagai karakteristik seks sekunder.
2. Estrogen juga mengatur siklus menstruasi.
3. Menjaga kondisi dinding vagina dan elastisitasnya, serta dalam memproduksi cairan yang
melembabkan vagina.
4. Mereka juga membantu untuk menjaga tekstur dan fungsi payudara wanita.
5. Mencegah gejala menopause seperti hot flushes (rasa panas didaerah tubuh bagian atas dan
gangguan mood)
6. Mempertahankan fungsi otak.
7. Mengatur pola distribusi lemak di bawah kulit sehingga membentuk tubuh wanita yang
feminine
8. Meningkatkan pertumbuhan dan elastisitas serta sebagai pelumas sel jaringan (kulit, saluran
kemih, vagina, dan pembuluh darah).
9. Estrogen juga mempengaruhi sirkulasi darah pada kulit, mempertahankan struktur normal
kulit agar tetap lentur, menjaga kolagen kulit agar terpelihara dan kencang serta mampu
menahan air.
10. Produksi sel pigmen kulit
11. Pada pria, estrogen tidak memiliki fungsi yang diketahui. Namun, kadar yang terlalu tinggi
dapat mengurangi selera seksual, menyebabkan kesulitan ereksi, pembesaran payudara, dan
kehilangan rambut tubuh pada beberapa pria.

Adapun fungsi dari hormon Progesteron:
1. Mengatur siklus haid.
2. Mengembangkan jaringan payudara.
3. Menyiapkan rahim pada waktu kehamilan.
4. Melindungi wanita pasca menopause terhadap kanker endometrium.

Fungsi Hormon Androgen (hormon cowo) didalam tubuh cewe:
1. Merangsang dorongan seksual.
2. Merangsang pembentukan otot, tulang, kulit, organ seksual dan sel darah merah.
Ketidak seimbangan hormon pada manusia dapat berakibat berbagai masalah, misalnya;
1. siklus haid yang tidak teratur.
2. Nyeri mestruasi yang berlebihan setiap hari
3. Keputihan terus menerus lebih dari 1 minggu
4. Obesitas atau terlalu kurus
5. Rambut mudah rontok
6. Tumor jinak dan tumor ganas payudara
7. Tumor di organ reproduksi (kista, kanker rahim)
8. Gangguan kesuburan
9. Jerawat yang tumbuh di wajah.
10. Hormon pula yang kadang membuat kita senang atau malah sedih tanpa sebab. Semua orang
pasti pernah mengalami hal ini, terutama saat pubertas.
11. Yang pasti, setiap hormon memiliki fungsi yang sangat spesifik pada masing-masing sel
sasarannya. Tak heran, satu macam hormon bisa memiliki aksi yang berbeda-beda sesuai sel
yang menerimanya saat dialirkan oleh darah.

Penyebab dari ketidakseimbangan hormon-hormon pada manusia sebagai berikut ;
1. Kebiasaan hidup pasif dan tidak banyak bergerak (sedentary life style)
2. gemar melahap banyak makanan yang sangat tidak menyehatkan, dengan sendirinya juga
membuat hormon tidak seimbang. Akumulasi lemak dalam tubuh menyebabkan hormon tidak
seimbang, sehingga membuat sulit untuk menyingkirkan semua ekstra lemak yang ada.
3. Hal yang sama juga berlaku bila Anda terlalu berlebih dalam bekerja dan kurang istirahat.
Kimia tubuh kita menjadi terganggu.
4. Management stres kurang baik.
5. Wanita yang mengonsumsi pil KB tanpa pengawasan medis paling rentan mengalami
ketidakseimbangan hormon. Ini karena tubuh dipaksa mengikuti siklus hormon yang sudah
diresepkan, dan bukannya membiarkan tubuh mengaturnya secara alami.
6. Demikian halnya dengan kehamilan, beberapa ketidakseimbangan hormon bisa jadi muncul,
termasuk hipertiroidisme dan diabetes gestasional.
7. Usia senja juga menjadi faktor terpenting kenapa hormon menjadi tidak seimbang, baik pada
wanita maupun pria.
Banyak gejala tidak menyenangkan yang terkait dengan menopause akibat "pensiunnya" fungsi
ovarium.

Apabila kamu mengalami hal-hal seperti diatas, kemungkinan terjadi ketidakseimbangan horon
yang bisa bersifat sementara bahkan terus menerus. Penanganannya adalah menerapkan Gaya
hidup seperti olahraga teratur, diet menu lengkap dan seimbang, serta pola tidur yang teratur dan
cukup. Semua itu akan membantu menyelesaikan masalah ketidakseimbangan hormon yang
nantinya akan sangat berperan dalam menentukan fisiologi tubuh, meskipun beberapa orang
secara genetik punya potensi mengalami ketidakseimbangan hormonal. Namun, jika keluhan
keluhan tadi tidak berkurang selama lebih dari 3 bulan secara terus menerus sedangkan kamu
sudah memperbaiki gaya hidup yang lebih baik, itu pertanda untuk kamu segera periksakan ke
dokter.